You are on page 1of 20

1.

Definisi Kehamilan Resiko Tinggi

Kehamilan risiko tinggi (KRT) adalah keadaan yang dapat mempengaruhi

keadaan optimalisasi ibu maupun janin pada kehamilan yang dihadapi

(Manuaba, 1998).

Menurut Rustam (1998) kehamilan risiko tinggi adalah beberapa situasi

dan kondisi serta keadaan umum seorang selama masa kehamilan,

persalinan, nifas akan memberikan ancaman pada kesehatan jiwa ibu

maupun janin yang dikandungnya. Sedangan menurut Depkes RI (1999)

yang dimaksud faktor risiko tinggi adalah keadaan pada ibu, baik berupa

faktor biologis maupun non-biologis, yang biasanya sudah dimiliki ibu sejak

sebelum hamil dan dalam kehamilan mungkin memudahkan timbulnya

gangguan lain.

2. Faktor Resiko

Secara garis besar, kelangsungan suatu kehamilan sangat bergantung pada

keadaan dan kesehatan ibu, plasenta dan keadaan janin. Jika ibu sehat dan

didalam darahnya terdapat zat-zat makanan dan bahan-bahan organis dalam

jumlah yang cukup, maka pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam

kandungan akan berjalan baik. Dalam kehamilan, plasenta akan befungsi

sebagai alat respiratorik, metabolik, nutrisi, endokrin, penyimpanan, transportasi

dan pengeluaran dari tubuh ibu ke tubuh janin atau sebaliknya.

Jika salah satu atau beberapa fungsi di atas terganggu, maka pertumbuhan

janin akan terganggu. Demikian juga bila ditemukan kelainan pertumbuhan janin

baik berupa kelainan bawaan ataupun kelainan karena pengaruh lingkungan,

maka pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan dapat

mengalami gangguan. Sebelum hamil, seorang wanita bisa memiliki suatu

keadaan yang menyebabkan meningkatnya resiko selama kehamilan. Selain itu,

jika seorang wanita mengalami masalah pada kehamilan yang lalu, maka

resikonya untuk mengalami hal yang sama pada kehamilan yang akan datang

adalah lebih besar. Untuk menentukan suatu kehamilan resiko tinggi, dilakukan

penilaian terhadap wanita hamil untuk menentukan apakah dia memiliki keadaan

yang menyebabkan dia ataupun janinnya lebih rentan terhadap penyakit atau

kematian.

Faktor itu bisa digolongkan menjadi dua faktor, yaitu faktor medis

dan faktor non medis. Faktor medis meliputi, usia, paritas, graviditas, jarak

kehamilan, riwayat kehamilan dan persalinan, dan faktor non medis adalah

pengawasan antenatal (Manuaba, 1998) . Menurut Rustam (1998) faktor non-

medis dan faktor medis yang dapat mempengaruhi kehamilan adalah :

a. Faktor non medis antara lain :

Status gizi buruk, sosial ekonomi yang rendah, kemiskinan,

ketidaktahuan, adat, tradisi, kepercayaan, kebersihan lingkungan, kesadaran

untuk memeriksakan kehamilan secara teratur, fasilitator dan sarana kesehatan

yang serba kekurangan merupakan faktor non medis yang banyak terjadi

terutama dinegara-negara berkembang yang berdasarkan penelitian ternyata

sangat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas.

b. Faktor medis antara lain :

Penyakit - penyakit ibu dan janin, kelainan obstetrik, gangguan plasenta,

gangguan tali pusat, komplikasi persalinan.

primi tua sekunder. 2005) Puji Rochjati (2005) mengemukakan batasan faktor risiko pada ibu hamil ada 3 kelompok yaitu : a. tinggi badan kurang dari 145 cm. Cara Menentukan Kehamilan Risiko Tinggi Cara menentukan pengelompokkan kehamilan resiko tinggi. hamil pertama umur 35 tahun atau lebih. Kelompok Faktor risiko I (ada potensi gawat obstetri). yaitu dengan menggunakan cara kriteria. kelainan medis. terkecil 10 tahun lebih. riwayat persalinan buruk. pre-eklamsia/eklamsia. hamil kembar atau gamelli. (Rochjati. kembar . pernah keguguran. perdarahan antepartum. riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu. terlalu lama punya anak lagi. Kriteria ini diperoleh dari anamnesa tentang umur. anak terkecil < 2 tahun. Kriteria kehamilan beresiko yaitu primi muda. riwayat persalinan dengan tindakan ( ekstraksi vakum. grandemulti. seperti primipara muda terlalu muda umur kurang dari 20 tahun. tinggi badan kurang dari 145 cm. Deteksi ibu hamil berisiko kelompok I ini dapat ditemukan dengan mudah oleh petugas kesehatan melalui pemeriksaan sederhana yaitu wawancara dan periksa pandang pada kehamilan muda atau pada saat kontak. Kelompok Faktor Risiko II ( ada gawat obstetri). grande multi. hamil serotinus. primi tua. ibu hamil dengan penyakit. riwayat persalinan yang buruk. operasi (seksio sesarea). ekstraksi forcep. 3. hamil umur 35 tahun atau lebih. bekas seksio sesarea. terlalu tua. pre-eklampsi. kelainan letak. b. paritas. primi tua. primi tua sekunder. pernah persalinaan premature. dan pemeriksaan lengkap kehamilan sekarang serta pemeriksaan laboratorium penunjang bila diperlukan.

diabetes melitus. perdarahan pasca persalinan. jarak kehamilan yang terdiri dari < 2 tahun dan > 4 tahun. air atau hidramnion. perdarahan sebelum bayi lahir. kematian janin dalam kandungan atau kematian perinatal. Kelompok Faktor Risiko III (ada gawat obstetri). Pada kelompok faktor resiko II ada kemungkinan masih membutuhkan pemeriksaan dengan alat yang lebih canggih (USG) oleh dokter Spesialis di Rumah Sakit. bayi mati dalam kandungan. 2 kali partus prematus atau lebih. riwayat persalinan yang lalu yang terdiri dari l kali abortus atau lebih. kehamilan dengan kelainan letak. hipertensi. persalinan terakhir 5 tahun atau lebih Komplikasi medis yaitu anemia. pernah ditolong secara obstetri operatif. serta hamil lewat bulan. kelainan letak pada hamil tua. c. kehamilan mola. perdarahan antepartum. ini harus segera di rujuk ke rumah sakit sebelum kondisi ibu dan janin bertambah buruk/jelek yang membutuhkan penanganan dan tindakan pada waktu itu juga dalam upaya menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya yang terancam. penyakit hati. Jadmika (1997) menggunakan kriteria yaitu komplikasi obstetric yaitu usia yang terdiri dari usia 19 tahun atau kurang dan usia 35 tahun keatas resiko tinggi. paritas yang terdiri dari primigravida dan grandemulti (para lebih dari 6). pernah operasi ginekologi. pernah inversio uteri : disproporsi sefalo- pelviks. kehamilan ganda. penyakit paru. penyakit saluran kencing. dismaturitas. penyakit-penyakit lain dalam kehamilan. obesitas. . hidramnion. pre-eklampsi dan eklamsi. penyakit jantung. pre eklamsia berat atau eklampsia. kehamilan pada infertilitas. Pada kelompok faktor risiko III.

toksemia. Walaupun wanita hamil dengan usia tua lebih matang dalam berfikir. Usia < 20 tahun (terlalu muda untuk hamil) Yang dimaksud dengan terlalu muda untuk hamil adalah hamil pada usia< 20 tahun.4.Tetapi ada . Seiring dengan semakin tua usia seorang wanita untuk hamil maka semakin tinggi pula terjadinya hipertensi. stres. a. 2005). dan hipertensi esensial. Dampak kehamilan resiko tinggi pada usia muda antara lain :  Keguguran Keguguran pada usia muda dapat terjadi secara tidak disengaja. Faktor Resiko Tinggi Yang Mempengaruhi Kehamilan 1. Sedangkan umur ibu yang kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun juga merupakan suatu faktor predisposisi terjadinya kelahiran prematur. tetapi penurunan kesehatan dan stamina secara alami mempengaruhi baik kehidupan janin maupun dalam proses persalinan (Rochjati. sehingga dapat mengakibatkan resiko kesakitan dan kematian pada kehamilan dan dapat menyebabkan pertumbuhan serta perkembangan fisik ibu terhambat karena apabila usia ibu hamil kurang dari 20 tahun atau terlalu muda dapat terjadi kompetisi makanan antara janin dan ibunya sendiri yang masih dalam masa pertumbuhan dan adanya perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan . cemas. Seperti karena terkejut. Pada usia < 20 tahun secara fisik kondisi rahim dan panggul belum berkembang optimal. Usia Bahaya dan risiko dalam kehamilan serta persalinan akan lebih besar pada wanita yang hamil usia terlalu muda atau terlalu tua.

Selain itu cacat bawaan juga di sebabkan karena keturunan (genetik) proses pengguguran sendiri yang gagal. Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi terutama rahim yang belum siap dalam suatu proses kehamilan. seperti dengan minum obat- obatan (gynecosit sytotec) atau dengan loncat-loncat dan memijat perutnya sendiri. berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelainan bawaan. pengetahuan akan asupan gizi rendah. Ibu yang hamil pada usia muda biasanya pengetahuannya akan gizi masih kurang. berat badan lahir rendah (BBLR) juga dipengaruhi gizi saat hamil kurang dan juga umur ibu yang belum menginjak 20 tahun. berat badan lahir rendah dan cacat bawaan. Cacat bawaan dipengaruhi kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan. sehingga akan berakibat kekurangan berbagai zat yang diperlukan saat pertumbuhan dengan demikian akan mengakibatkan makin tingginya kelahiran prematur.  Persalinan prematur. pemeriksaan kehamilan (ANC) kurang. juga keguguran yang sengaja dilakukan oleh tenaga non profesional sehingga dapat menimbulkan akibat efek samping yang serius seperti tingginya angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnyadapat menimbulkan kemandulan. keadaan psikologi ibu kurang stabil. .

 Mudah terjadi infeksi Keadaan gizi buruk. (Nurokhim. tingkat sosial ekonomi rendah.lama kelamaan seorang yang kehilangan sel darah merah akan menjadi anemis.  Anemia kehamilan/kekurangan zat besi.Selain itu angka kematian ibu karena gugur kandung juga cukup tinggi. membentuk sel darah merah janin dan plasenta.yang kebanyakan dilakukan oleh tenaga non profesional (dukun). 1997) Adapun akibat resiko tinggi kehamilan usia dibawah 20 tahun antara lain: a.  Kematian ibu yang tinggi.karena pada saat hamil mayoritas seorang ibu mengalami anemia. Penyebab anemia pada saat hamil di usia muda disebabkan kurang pengetahuan akan pentingnya gizi pada saat hamil di usia muda. dan stress memudahkan terjadi infeksi saat hamil terlebih pada kala nifas. Kematian ibu pada saat melahirkan banyak disebabkan karena perdarahan dan infeksi.Pre-eklampsia dan eklampsia memerlukan perhatian serius karena dapat menyebabkan kematian. Resiko bagi ibunya : .  Keracunan Kehamilan (Gestosis). tambahan zat besi dalam tubuh fungsinya untuk meningkatkan jumlah sel darah merah. Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia makin meningkatkan terjadinya keracunan hamil dalam bentuk pre-eklampsia atau eklampsia.

 Kematian ibu Kematian pada saat melahirkan yang disebabkan oleh perdarahan dan infeksi. Dari bayinya :  Kemungkinan lahir belum cukup usia kehamilan. b.penyebab dari persalinan lama sendiri dipengaruhi oleh kelainan letak janin. kelainan panggul. baik dengan obat-obatan maupun memakai alat.hal ini terjadi karena pada saat pertumbuhan janin zat yang diperlukan berkurang. Adalah kelahiran prematur yang kurang dari 37 minggu (259 hari). kelaina kekuatan his dan mengejan serta pimpinan persalinan yang salah. Mengalami perdarahan Perdarahan pada saat melahirkan antara lain disebabkan karena otot rahim yang terlalu lemah dalam proses involusi.kemudian proses pembekuan darah yang lambat dan juga dipengaruhi oleh adanya sobekan pada jalan lahir. selain itu juga disebabkan selaput ketuban stosel (bekuan darah yang tertinggal didalam rahim). .  Kemungkinan keguguran/abortus Pada saat hamil seorang ibu sangat memungkinkan terjadi keguguran.hal ini disebabkan oleh faktor-faktor alamiah dan juga abortus yang disengaja.  Persalinan yang lama dan sulit Adalah persalinan yang disertai komplikasi ibu maupun janin.

500 gram. Dalam kurun waktu reproduksi sehat diketahui bahwa usia yang aman untuk kehamilan dan persalinan adalah usia 20-35 tahun. kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari).hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.kematian bayi yang masih berumur 7 hari pertama hidupnya atau kematian perinatal.  Cacat bawaan Merupakan kelainan pertumbuhan struktur organ janin sejak saat pertumbuhan.  Kematian bayi.500 gram. 3. umur ibu saat hamil kurang dari 20 tahun. infeksi. dimana organ reproduksi sudah sempurna dalam menjalani fungsinya (BKKBN.kebanyakan hal ini dipengaruhi kurangnya gizi saat hamil. endokrin. Usia 20 – 35 tahun (usia reproduksi) Usia ibu sangat berpengaruh terhadap proses reproduksi. dapat juga dipengaruhi penyakit menahun yang diderita oleh ibu hamil. Usia > 35 tahun (terlalu tua untuk hamil) Yang dimaksud dengan terlalu tua adalah hamil diatas usia 35 tahun kondisi kesehatan ibu dan fungsi berbagai organ dan sistem tubuh diantaranya otot. Bila . diantaranya kelainan genetik dan kromosom.(Manuaba. kelahiran kongenital serta lahir dengan asfiksia. 1999).1998).  Berat badan lahir rendah (BBLR) Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan yang kurang dari 2. syaraf.yang disebabkan berat badan kurang dari 2. dan reproduksi mulai menurun. virus rubela serta faktor gizi dan kelainan hormon. 2.

Paritas tinggi juga berhubungan dengan makin sering timbulnya kelainan-kelainan ginekologis seperti prolapsus uteri. dan perdarahan. erosi cervix. eklamsia. Pada usia lebih dari 35 tahun terjadi penurunan curah jantung yang disebabkan kontraksi miokardium. 4. Klasifikasikan paritas adalah sebagai berikut : . frekuensi plasenta previa pada primigravida yang berumur lebih dari 35 tahun 10 kali lebih sering dibandingkan dengan primigravida yang berumur kurang dari 25 tahun. seorang wanita hamil setelah berumur 35 tahun ke atas. Ditambah lagi dengan tekanan darah dan penyakit lain yang melemahkan kondisi ibu. dan carcinoma cervix. Ibu hamil yang dicurigai mengalami perdarahan antenatal harus memeriksakan kehamilannya di Rumah Sakit (RS) yang memiliki fasilitas operatif dan transfusi darah dan bersalin di RS tersebut. et al (2007). Paritas Paritas merupakan faktor penting selama kehamilan. antara lain : keguguran. Angka kematian bayi dari ibu hamil ketiga meningkat bila dibandingkan dengan kehamilan kedua dan kemungkinan terjadi akan semakin meningkat pada kehamilan kelima. Demikian juga masalah kesehatan yang sifatnya non-obstetrik (Rochjati. kesehatan tubuh ibu sudah tidak sebaik pada umur 20-35 tahun dan kemungkinan memperoleh anak cacat lebih besar. Menurut Kloosterman (1973) dalam Wiknjosastro. sehingga dapat mengganggu sirkulasi darah kejanin yang berisiko meningkatkan komplikasi medis pada kehamilan. 2005). cervicitis.

Sering pula ditemukan inersia uteri (tidak cukupnya tenaga/HIS untuk mengeluarkan janin). kelainan plasenta.Kontraksi uterus diperlukan untuk menghentikan perdarahan sesudah persalinan. Primipara Adalah seorang yang telah melahirkan seorang anak matur atau premature  Multipara Adalah seorang wanita yang telah melahirkan lebih dari satu anak  Grandemulti Adalah seorang wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih. hal ini terjadi karena degenerasi dan nekrosis pada bekas luka implantasi plasenta pada kehamilan sebelumnya di dinding endometrium.Pada keadaan ini sering kali ditemukan perdarahan sesudah persalinan akibat dari kemunduran kemampuan kontraksi uterus. Adanya kemunduran fungsi dan berkurangnya vaskularisasi pada daerah endometrium menyebabkan daerah tersebut menjadi tidak subur dan tidak siap menerima hasil konsepsi. keadaan endometrium pada daerah korpus uteri sudah mengalami kemunduran dan berkurangnya vaskularisasi. sehingga pemberian nutrisi dan . Paritas merupakan salah satu faktor resiko tinggi pada kehamilan. serta kelainanan pada perlekatan plasenta pada dinding uterus. kehamilan resiko tinggi lebih banyak terjadi pada multipara dan grandemultipara.Penyulit lainnya yang juga sering ditemukan yaitu kecenderungan untuk terjadinya kelainan letak janin.

Jarak persalinan terakhir dengan awal kehamilan sekarang sebaiknya diatas 2 tahun karena bila kurang dari 2 tahun akan bepengaruh pada kehamilan dan persalinan (Depkes RI. ruang antara dua objek bagian. Jarak Kehamilan Dalam pemanfaatan layanan antenatal. jumlah anak hidup berhubungan dengan beban pengasuhan anak. perubahan ini berkaitan dengan persalinan sebelumnya yaitu timbulnya trombosis. a. Jarak adalah selang waktu antara dua peristiwa. 2005). Kehamilan adalah keadaan dimana terjadi proses pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam rahim mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan. Jarak dua kehamilan yang terlalu dekat juga menjadi faktor predisposisi terjadinya kelahiran prematur. oksigenisasi kepada hasil konsepsi kurang maksimal dan mengganggu sirkulasi darah ke janin. diasumsikan bahwa semakin banyak anak maka akan semakin sedikit kesempatan ibu untuk meningggalkan rumah dan memeriksakan kehamilannya (Rochjati. dan hipertensi (Wiknjosastro. 2007). Kehamilan dengan jarak < 3 tahun Pada kehamilan dengan jarak< 3 tahun keadaan endometrium mengalami perubahan. Hal ini akan beresiko pada kehamilan dan persalinan. degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta. Jarak adalah masa antara dua kejadian yang berkaitan. 2001:28). 5. Adanya kemunduran fungsi dan berkurangnya vaskularisasi pada daerah endometrium pada bagian korpus uteri mengakibatkan daerah tersebut kurang subur sehingga kehamilan . perdarahan antepartum.

saat persalinan pun beresiko terjadi perdarahan post partum. hingga saat harus mengkerut kembali bisa terjadi gangguan yang beresiko terjadi hemoragic post partum (HPP). Hal ini disebabkan otot-otot rahim tidak selentur dulu. Definisi ini diperkenalkan oleh World Health Organization (WHO). Dinding-dinding endometrium mulai regenerasi dan sel epitel kelenjar-kelenjar endometrium mulai berkembang. bila pada saat ini terjadi kehamilan endometrium telah siap menerima sel-sel memberikan nutrisi bagi pertumbuhan sel telur. KEK ( Kekurangan Energi Kronik) Istilah KEK atau kurang energi kronik merupakan istilah lain dari Kurang Energi Protein (KEP) yang diperuntukkan untuk wanita yang kurus dan lemah akibat kurang energi yang kronis. Kehamilan dengan jarak > 3 tahun Pada kehamilan dengan jarak> 3 tahun keadaan endometrium yang semula mengalami trombosis dan nekrosis karena pelepasan plasenta dari dinding endometrium (Korpus uteri) telah mengalami pertumbuhan dan kemajuan endometrium.5 cm. (Rochjati. b. Kehamilan dengan jarak > 4 tahun Pada kehamilan dengan jarak> 4 tahun sel telur yang dihasilkan sudah tidak baik.Seseorang dikatakan menderita risiko KEK bilamana LILA (Lingkar Lengan Atas) <23. resiko terjadi pre-eklampsia dan eklampsi juga sangat besar karena terjadi kerusakan sel-sel endotel. c. dengan jarak< 3 tahun dapat menimbulkan kelainan yang berhubungan dengan letak dan keadaan plasenta.kelainan bawaan seperti sindrom down. Gizi kurang pada ibu hamil dapat . sehingga bisa menimbulkan kelainan. 2005) 6.

( Lubis. Termasuk di dalamnya pemberian penyuluhan kesehatan untuk ibu hamil serta program Desa Siaga. persalinan sebelum waktunya (premature). 2003). anemia pada bayi. b. lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). dengan atau tanpa tindakan kerokan/kuretase).menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu antara lain: anemia. dan gangguan perkembangan anak. pendarahan. serta persalinan dengan operasi cenderung meningkat. dengan didukung oleh dana besar pemerintah lewat paket Pemberian makanan tambahan / PMT pemulihan Bumil KEK.( Lubis. adalah program nasional yang membutuhkan peran serta masyarakat untuk menyukseskannya. berat badan ibu tidak bertambah secara normal. ataupun jalan lahir yang ditimbulkan oleh persalinan terdahulu akan memberikan akibat buruk pada pada kehamilan sekarang. kematian neonatal. Riwayat obstetric a. pendarahan setelah persalinan.Bila BBLR bayi mempunyai resiko kematian. Jejas atau bekas luka dalam pada alat-alat kandungan. asfiksia intra partum (mati dalam kandungan). 2003) Kekurangan gizi kronis pada ibu hamil juga dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan kegururan . Pernah mengalami abortus (sengaja atau tidak. bayi lahir mati. cacat bawaan. 7. gangguan pertumbuhan. makin besar kemungkinan terjadi pada kehamilan berikut dan kemungkinan perdarahan. . dan terkena penyakit infeksi. Program Puskesmas dalam penanggulangan KEK pada ibu hamil merupakan kunci utama untuk menurunkan angka kelahiran bayi BBLR. Pengaruh KEK terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama. gizi kurang. abortus. terlebih lagi bila mengalami abortus ulangan.

Juga hiduplah dengan cara yang sehat (hindari rokok. penyakit hati. seksio sesar. kematian janin. tumor ataupun kista. f. Pernah mengalami persalinan dengan tindakan seperti ekstraksi forcep ataupun vakum. TBC). bakteri maupun parasit. hyperthyroid). kelainan letak janin. penyakit paru (asthma. Penatalaksanaan Kehamilan Risiko Tinggi Semakin dini masalah dideteksi.serta makan makanan yang bergizi sesuai kebutuhan anda selama kehamilan. penyakit jantung. preeklampsia-eklampsia. e. 5. c. sendi dan penyakit kelamin seperti siphilis serta infeksi lainnya baik oleh virus. Pernah mengalami gangguan organik daerah panggul seperti adanya peradangan.Juga harus diperhatikan bahwa pada beberapa kehamilan dapat mulai dengan normal. Pernah mengalami penyulit kehamilan seperti hyperemesis gravidarum. sehingga bila terdapat permasalahan dapat diketahui secepatnya dan diatasi sedini mungkin. tetapi mendapatkan masalah kemudian.Oleh karenanya sangat penting bagi setiap ibu hamil untuk melakukan ANC atau pemeriksaan kehamilan secara teratur. dll). penyakit ginjal. Kehamilan risiko tinggi dapat dicegah dengan pemeriksaan dan pengawasan kehamilan yaitu deteksi dini ibu hamil risiko tinggi atau komplikasi kebidanan yang lebih . janin kembar (gemelli). kelainan janin bawaan. Pernah mengalami penyakit seperti gangguan endokrin (diabetes melitus. pengeluaran plasenta dengan tangan (manual plasenta). semakin baik penanganan yang dapat diberikan bagi kesehatan ibu hamil maupun bayi. d. hidramnion. alcohol. yang bermanfaat untuk memonitor kesehatan ibu hamil dan bayinya.

sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah dalam persiapan persalinan. Kunjungan II (24-28 minggu ) dan kunjungan III (32 minggu) dilakukan untuk : 1. Melakukan rujukan untuk mendapatkan tindakan yang adekuat 4.Diketahui bahwa janin dalam rahim dan ibunya merupakan satu kesatuan yang saling mengerti. Mengulang perencanaan persalinan . infeksi alat reproduksi dan saluran perkemihan 3. Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya 2. Penapisan pre-eklampsi. 1998) Tujuan Kunjungan Ulang : a. Kunjungan 1. hingga usia kehamilan 16 minggu dilakukan untuk : 1. Oleh WHO dianjurkan pemeriksaan antenatal minimal 4 kali dengan 1 kali pada trimester I. Memberikan pengobatan sehingga risikonya dapat dikendalikan 3.Pengawasan antenatal sebaiknya dilakukan secara teratur selama hamil. Melakukan pengawasan yang lebih intesif 2.difokuskan pada keadaan yang menyebabkan kematian ibu. sehingga dapat : 1. Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya b. (Manuaba.Pengawasan antenatal menyertai kehamilan secara dini.l. 3-2) Adapun tujuan pengawasan antenatal adalah diketahuinya secara dini. Perencanaan persalinan 3. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu. keadaan risiko tinggi ibu dan janin. gemelli. 1 kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester III (Rumus l. 2-l. Penapisan dan pengobatan anemia 2.

Memantapkan rencana persalinan 4. Disamping itu keadaan sosial ekonomi yang rendah juga akan megakibatkangizi ibu dan perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan yang jelek. dan ketidaktahuan sehingga mempunyai kecenderungan untuk menikah pada usia muda dan tidak berpartisipasi dalam keluarga berencana. Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi 3. Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III 2. Karena pada umumnya seseorang dengan keadaan sosial ekonomi rendah tidak akan terlepas dari kemiskinan. Transportasi yang baik disertai dengan ketersediaannya pusat-pusat pelayanan yang bermutu akan dapat melayani ibu hamil untuk mendapatkan asuhan anenatal yang baik. . Di negara maju setiap wanita hamil memeriksakan diri sekitar 15 kali selama kehamilannya. Jadi secara garis besar dapat disimpulkan bahwa usaha yang dapat dilakukan untuk pencegahan penyulit pada kehamilan dan persalinan adalah: 1. Asuhan antenatal yang baik dan bermutu bagi setiap wanita hamil. Peningkatan pelayanan. Peningkatan pelayanan gawat darurat sampai ke lini terdepan. Sedangkan di Indonesia pada kehamilan resiko rendah dianggapcukup bila memeriksakan diri 4-5 kali. jaringan pelayanan dan sistem rujukan kesehatan.Faktor sosial ekonomi juga sangat berpengaruh. cakupannya luas. c. Upaya Pencegahan Usaha untuk pencegahan penyakit kehamilan dan persalinan tergantung pada berbagai faktor dan tidak semata-mata tergantung dari sudut medis atau kesehatan saja. 2. Kunjungan IV (36 minggu sampai lahir) 1. Mengenali tanda-tanda persalinan 6. 3. dan jumlah pemeriksaan yang cukup.

Faktor tesebut (4T dan 3T) merupakan masalah sosial yang turut menentukan kesehatan dan .4. gizi. tanpa memperhatikan lama dan tempat terjadinya kehamilan. persalinan dan nifas yang disebabkan oleh intervensi. kegagalan. masalah kesehatan wanita dan reproduksi dan peningkatan status sosial ekonominya. terlalu sering (dekat) dan terlalu banyak. Kondisi ini kemudian didukung oleh adanya tiga Terlamabat (3T) yaitu terlambat mengenali tanda. terlalu tua. Peningkatan status wanita baik dalam pendidikan. penanganan yang tidak tepat atau rangkaian semua peristiwa tersebut. Menurunkan tingkat fertilitas yang tinggi melalui program keluarga berencana. Seringnya terjadi kematian pada saat persalinan. 2005). yaitu:  Penyebab langsung Kematian yang terjadi akibat komplikasi kehamilan. 6.. selain itu penyebab lain yang bisa menimbulkan kematian pada ibu hamil yaitu terjadinya empat terlalu (4T) yaitu terlalu muda. lebih banyak disebabkan karena perdarahan. Edition (ICD-X). akan tetapi diperburuk oleh kehamilan yang fisiologis. terlambat mencapai tempat pelayanan dan terlambat mendapat pertolongan. adalah kematian seorang wanita yang terjadi selama kehamilan sampai dengan 42 hari setelah berakhirnya kehamilan. yang disebabkan oleh atau dipicu oleh kehamilan atau penanganan persalinan.  Penyebab tidak langsung Kematian yang terjadi oleh karena penyakit yang timbul sebelum atau selama kehamilan dan tidak disebabkan langsung oleh penyebab kebidanan. Injuries and Causes of Death.tanda. Program Pemerintah Kematian Ibu menurut International Statistical Classification of Deseases. Penyebab kematian ibu secara umum dibagi menjadi dua kelompok (Depkes RI.

Pencapaian ini tidak dapat terealisasi dengan baik karena sebagian besar masyarakat di beberapa daerah berpendapat bahwa kematian ibu saat persalinan bukanlah menjadi suatu masalah.2005). (Depkes RI. setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih. Program “Making Pregnancy safer” di Indonesia Dalam upaya menurunkan angka kematian ibu di Indonesia dengan bantuan negara donor. sikap inilah yang menjadi suatu tantangan dalam menurunkan angka kematian ibu di Indonesia sehingga AKI masih tetap tinggi. Making Pragnancy Safer (MPS) adalah strategi sektor kesehatan yang merupakan kelanjutan dari program “Safe Motherhood” dengan tiga pesan kuncinya yaitu.Pemerintah mengupayakan dengan memberikan penekanan semua persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih. setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat . karena kematian ibu pada saat persalinan merupakan takdir yang harus bisa diterima dengan ikhlas. Dalam Renstra ini difokuskan padakegiatan yang dibangun atas dasar sistem kesehatan yang mantap untuk menjamin pelaksanaan intervensi dengan biaya yang efektif berdasarkan bukti ilmiah yang dikenal dengan sebutan "Making Pregnancy Safer (MPS)" yang pada dasarnya menekankan seluruh persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan. pada Oktober Tahun 2000 Departemen Kesehatan telah menyusun Rencana Strategis (Renstra) jangka panjang dalam upaya penurunan angka kematian ibu dan kematian bayi baru lahir.keselamatan proses persalinan. bukan disebabkan karena penolong persalinan. Untuk menekan angka kematian ibu saat persalinan perlu seorang penolong persalinan yang mampu mengenal dan menangani secara cepat dan tepat kpmplikasi persalinan.

dan bayi dilahirkan hidup dan sehat. keluarga dan masyarakat dan mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir sebagai suatu prioritas dalam pembangunan nasional. Sedangkan misi adalah menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir melalui pemantapan sistem kesehatan untuk menjamin akses terhadap intervensi yang cost-efektive berdasarkan bukti ilmiah yang berkualitas. membangun kemitraan yang efektif. serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjamin penyediaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir (Depkes RI. memberdayakan wanita. 2001) . mendorong pemberdayaan wanita dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan untuk menjamin perilakusehat dan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Untuk mencapai target tersebut maka ditetapkan empat strategi utama meningkatkan akses dan cakupan pelayanan kesehtan ibu dan bayi baru lahir berkualitas. angka kematian neonatal menjadi 15 per 1000 kelahiran hidup. Target dan dampak MPS adalah menurunkan angka kematian ibu menjadi 125 per kelahiran hidup.dan setiap Wanita Usia Subur (WUS) mempunyai akses terhadap pencegahan akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran. Visi MPS adalah setiap perempuan di Indonesia dapat menjalani kehamilan dan persalinan dengan aman.