You are on page 1of 32

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Data hasil penelitian yang dilakukan di kelas XI IPA 2 terdiri atas tiga jenis

data utama meliputi analisis hasil observasi praktikum, deskripsi wawancara dan

analisis pemahaman konsep. Data digunakan untuk menyajikan dua pembahasan

sebagai berikut:

4.1.1 Hasil Observasi Praktikum

Data observasi praktikum yang dimaksud dalam penelitian ini adalah data

penilaian observer terhadap aspek psikomotorik. Aspek ini yang mencerminkan

pemahaman konsep siswa pada tiga level multi representasi. Data ini memberikan

informasi terkait pemahaman konsep siswa terhadap keterlaksanaan pembelajaran

inquiry berbasis multi representasi. Data hasil rekapitulasi skor praktikum siswa

dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil Rekapitulasi Skor Praktikum Siswa
Rentang Skor Bobot Jumlah Siswa
35,75 < 44 A 22
27,5 < 35,75 B 13
19,25 < 27,5 C 0
11 < 19,25 D 0
< 11 E 0

Penilaian hasil observasi dianalisis secara deskriptif. Hasil penilaian

observasi praktikum yang digambarkan dengan diagram dapat dilihat pada

Gambar 4.1.

58

59

25 22

Jumlah siswa
20
15 13

10
5
0
A B
Bobot Penilaian Observasi Praktikum

Gambar 4.1 Penilaian Observasi Praktikum
Keterangan:
A: Sangat Baik
B: Baik

Berdasarkan Gambar 4.1 penilaian kemampuan siswa dalam melaksanakan

praktikum melalui pembelajaran inquiry berbasis multi representasi sebagian

besar berkategori sangat baik. Data menunjukkan bahwa 22 siswa memiliki

kategori sangat baik (bobot nilai A) dan 13 siswa berkategori baik (bobot nilai B).

Hasil penilaian observasi menunjukkan bahwa siswa dapat memahami konsep

buffer dan hidrolisis melalui kegiatan praktikum.

Kegiatan praktikum yang yang menggambarkan kemampuan pemahaman

konsep siswa level makroskopik dapat dilihat pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2 Kemampuan Siswa pada Level Makroskopik

60

Berdasarkan Gambar 4.2 siswa mampu melakukan observasi secara

langsung menggunakan kemampuan indra penglihatan untuk mencari informasi

terkait sifat-sifat larutan buffer.

Level submikroskopik yang menggambarkan pemahaman konsep siswa

secara partikulat dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3 Kemampuan Siswa pada Level Submikroskopik
Berdasarkan Gambar 4.3 siswa dalam mengaplikasikan pemahaman di level

submikroskopik masih terbatas. Siswa menggambarkan bentuk molekul dalam

larutan sebagai titik-titik atau bulatan kecil dalam larutan.

Pemahaman konsep siswa pada level simbolik dapat dilihat pada Gambar

4.4.

Gambar 4.4 Kemampuan Siswa pada Level Simbolik

2. 4.2 Indikator larutan buffer dan hidrolisis No Indikator No Soal 1 Sifat larutan buffer 1. Pemahaman konsep siswa kelas XI IPA 2 dalam menyelesaikan soal larutan buffer dan hidrolisis untuk setiap indikator dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4.2. Deskripsi hasil penelitian pemahaman terdiri atas paham konsep (PK).1. kurang paham (KP) dan tidak paham (TP). 7 makhluk hidup 4 Reaksi pelarutan garam 11 5 Garam yang bersifat netral 10 6 Garam yang bersifat asam 12 7 Garam yang bersifat basa 13 8 pH larutan garam 14. 5. Soal tersebut sudah memenuhi setiap indikator yang mewakili setiap konsep.1. 61 4. 8 2 pH larutan buffer 2. 15 . miskonsepsi (Mi). Hasil analisis tersebut diperoleh dari data hasil posttest dan data uji coba soal yang menggambarkan pemahaman konsep multi representasi.2 Analisis Data Pemahaman Konsep Analisis data pemahaman konsep dilakukan dengan melihat kombinasi jawaban siswa pada setiap butir soal. untung- untungan (Un).1 Data Pemahaman Konsep Soal Posttest Soal posttest terdiri atas campuran soal larutan buffer dan hidrolisis. 3. 9 3 Peranan larutan buffer dalam tubuh 4. Pemahaman konsep siswa ditentukan dengan menggunakan tes three tier multiple choice diagnostic instrument yang sudah di uji coba. 6.

3. 4.1. 40 34 35 30 J 28 29 30 27 S u 25 PK i m 20 Mi s l w 15 Un a 8 a 10 7 h 4 KP 5 12 23 1 1 0 TP 2 3 5 6 9 Butir Soal Gambar 4. 6. dan 9.1.2 Analisis Data Indikator Perhitungan pH Larutan Buffer Instrumen tes yang mewakili indikator perhitungan pH larutan buffer adalah soal nomor 2.5 Identifikasi Pemahaman Konsep Indikator Sifat. Gambar identifikasi pemahaman konsep siswa untuk indikator perhitungan pH larutan buffer dapat dilihat pada Gambar 4.5 menunjukkan bahwa Sebanyak 32 siswa dari 35 siswa berkategori PK.5. 40 35 32 Jumlah Siswa 30 20 Soal No 1 10 Soal No 8 1 2 0 PK Mi Un Pemahaman Konsep Gambar 4.1 Analisis Data Indikator Sifat-sifat Larutan Buffer Identifikasi pemahaman konsep untuk indikator Sifat-sifat Larutan Buffer dapat dilihat pada Gambar 4.2. Siswa yang berkategori Mi sebanyak 1 siswa dan 2 siswa berkategori Un. 5. 62 4.1.sifat Larutan Buffer Berdasarkan Gambar 4.6 Identifikasi Pemahaman Konsep Indikator Perhitungan pH Larutan Buffer .6.2. Sebagian besar siswa telah berkategori PK.1.

2. Pemahaman konsep siswa soal nomor 4 meliputi 25 siswa . Hal tersebut terlihat dari kombinasi jawaban siswa yang menjawab dengan benar dan yakin soal-soal tersebut. 6 dan 9 memperoleh hasil masing-masing siswa yang berkategori PK sebanyak 34 siswa. 4. 5. 27 siswa.7.1. 28 siswa. Soal nomor 6 sebanyak 2 siswa berkategori Mi. Sebagian besar siswa dapat menjawab dengan tepat. Siswa lebih banyak yang berkategori PK. Kategori Mi yang paling banyak terjadi pada soal nomor 5 yaitu 8 siswa. 63 Data tersebut menunjukkan bahwa soal nomor 2.3 Analisis Data Indikator Peranan Larutan Buffer Identifikasi pemahaman konsep siswa untuk indikator peranan larutan buffer dapat dilihat pada Gambar 4. 3.7 Identifikasi Pemahaman Konsep Indikator Peranan Larutan Buffer Data tersebut menunjukkan bahwa siswa berkategori PK pada soal nomor 4 dan 7 berjumlah sama.1.6 kategori PK yang paling banyak pada soal nomor 2 yaitu 34. Soal nomor 5 yang berkategori Mi sebanyak 8 siswa. Berdasarkan Gambar 4. 29 siswa dan 30 siswa. 30 25 25 25 Jumlah Siswa 20 15 9 4 10 4 4 7 5 2 1 0 PK Mi Un KP Pemahaman Konsep Gambar 4. 3 siswa berkategori Un dan 1 siswa berkategori TP. Soal nomor 3 sebanyak 7 siswa berkategori Mi.

9 siswa berkategori Un dan 1 siswa berkategori KP.4 Analisis Data Indikator Reaksi Pelarutan Garam Indikator reaksi pelarutan garam diwakili oleh soal nomor 11.9. Soal nomor 7 menunjukkan bahwa 25 siswa berkategori PK.8. 4.8 Identifikasi Pemahaman Konsep Indikator Reaksi Pelarutan Garam Diagram tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 32 siswa berkategori PK. 4 siswa berkategori Mi. 4 siswa berkategori Un dan 2 siswa berkategori KP. Identifikasi pemahaman konsep siswa untuk indikator reaksi pelarutan garam dapat dilihat pada Gambar 4. Sebanyak 1 siswa berkategori Mi dan 2 siswa berkategori Un. .1.2. 35 32 30 Jumlah Siswa 25 20 PK 15 10 Mi 5 1 2 Un 0 PK Mi Un Soal Nomor 11 Gambar 4. Soal nomor 4 tidak ditemukan siswa yang berkategori Mi. 4.1.1.5 Analisis Data Indikator Garam yang Bersifat Netral Diagram identifikasi pemahaman konsep siswa untuk indikator garam yang bersifat netral dapat dilihat pada Gambar 4.1. Sebagian besar siswa telah berkategori PK. 64 berkategori PK.2.

4.2. 25 23 20 Jumlah Siswa 15 PK 10 Mi 5 6 Un 5 1 TP 0 PK Mi Un TP Soal Nomor 12 Gambar 4. 65 35 33 30 Jumlah Siswa 25 20 PK 15 10 Mi 5 1 1 Un 0 PK Mi Un Soal Nomor 10 Gambar 4.10 Identifikasi Pemahaman Konsep Indikator Garam Asam Berdasarkan data tersebut diperoleh hasil bahwa sebanyak 23 siswa berkategori PK.1. Sebanyak 5 siswa berkategori Mi. Siswa tidak ada yang berkategori KP dan TP.6 Analisis Data Indikator Garam yang Bersifat Asam Diagram identifikasi pemahaman konsep siswa untuk indikator garam yang bersifat asam dapat dilihat pada Gambar 4. dan 6 .10.9 Identifikasi Pemahaman Konsep Indikator Garam Netral Data tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 33 siswa berkategori PK.1. 1 siswa berkategori Un. 1 siswa berkategori Mi dan 1 siswa berkategori Un.

11 menunjukkan bahwa sebanyak 33 siswa berkategori PK dan 2 siswa berkategori Mi. 35 33 30 Jumlah Siswa 25 20 15 PK 10 Mi 5 2 0 PK Mi Soal Nomor 13 Gambar 4. Identifikasi pemahaman konsep siswa untuk indikator ph larutan garam dapat dilihat pada Gambar 4.2. Siswa masih ada yang tidak memahami konsep-konsep reaksi hidrolisis garam yang bersifat asam. 4.8 Analisis Data Indikator pH Larutan Garam Indikator pH larutan garam diwakili oleh soal nomor 14 dan 15. 66 siswa berkategori TP.11.1.7 Analisis Data Indikator Garam yang Bersifat Basa Identifikasi pemahaman konsep siswa untuk indikator garam yang bersifat asam dapat dilihat pada Gambar 4.1.11 Identifikasi Pemahaman Konsep Indikator Garam Basa Hasil analisis Gambar 4. .1.12.2. Data tersebut menunjukkan bahwa siswa yang berkategori PK lebih banyak daripada siswa yang berkategori Mi. 4.1.

Rekapitulasi kategori pemahaman konsep siswa dapat dilihat pada Tabel 4.3 Rekapitulas Kategori Pemahaman Konsep Siswa Kombinasi Jawaban Kategori Jumlah B B Y Paham Konsep (PK) 446 B S Y Miskonsepsi (Mi) 42 S B Y S S Y B B TY Untung-untungan 23 (Un) B S TY Kurang Paham (KP) 5 S B TY S S TY Tidak Paham (TP) 9 Jumlah 525 . 1 siswa KP dan 1 siswa TP. Sebagian besar siswa telah memahami konsep perhitungan pH garam.12 Identifikasi Pemahaman Konsep Indikator pH Larutan Garam Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa analisis pemahaman konsep siswa untuk soal nomor 14 adalah 33 siswa berkategori PK. Tabel 4.3. 67 35 33 30 27 Jumlah Siswa 25 Soal No 14 20 15 Soal No 15 10 6 5 1 1 1 1 0 PK Mi Un KP TP Pemahaman Konsep Gambar 4. 6 siswa Mi. 1 siswa berkategori Un dan 1 siswa berkategori TP. Analisis pemahaman konsep dilakukan dengan melihat kombinasi jawaban yang diberikan oleh siswa. Soal nomor 15 menunjukkan bahwa 27 siswa berkategori PK.

9 2 Level submikroskopik 1. 11. 12 3 Level simbolik 3.4. 100 84. Berikut adalah distribusi soal multi representasi yang diujikan kepada siswa dapat dilihat pada Tabel 4. 7.2 Analisis Data Pemahaman Konsep Multi Representasi Rekapitulasi menunjukkan bahwa soal-soal yang menggambarkan multi representasi sebanyak 15 butir soal. 4.95 1. 13. 14. 10. 8.13 Analisis Pemahaman Konsep Siswa Berdasarkan data pemahaman konsep tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah mencapai kategori PK yang sangat baik.1.95 80 Persentase 60 40 20 8 4.38 0. Persentase pemahaman konsep siswa dapat dilihat pada Gambar 4. 68 Data Tabel 4. 15 .71 0 PK Mi Un KP TP Pemahaman Konsep Gambar 4. Tabel 4.4 Distribusi soal multi representasi yang diujikan No Multi Representasi Diwakili oleh soal 1 Level makroskopik 6. Analisis jawaban bertujuan untuk mengetahui persentase pemahaman konsep siswa dalam menyelesaikan soal-soal pada level makroskopik.13. 5. level submikroskopik dan level simbolik. 5.2.3 digunakan untuk menghitung persentase pemahaman konsep siswa secara keseluruhan. 2. 4.

14 Diagram Pemahaman Konsep Level Makroskopik .2.1 Analisis Data Distribusi Soal Level Makroskopik Analisis pemahaman konsep pada Tabel 4. Data tersebut menunjukkan bahwa kombinasi jawaban siswa untuk setiap butir soal memiliki frekuensi jumlah siswa yang berbeda-beda dalam setiap kategori. Tabel 4.5 menunjukkan bahwa siswa tidak mengalami kesulitan dalam menjawab soal pada level makroskopik.14.1. 25 2223 20 Jumlah Siswa 20 15 Soal No 6 10 65 5 Soal No 7 4 5 1 121 Soal No 9 0 PK Mi Un KP TP Pemahaman Konsep Gambar 4. Diagram pemahaman konsep level makroskopik dapat dilihat pada Gambar 4.5 Analisis Kombinasi Jawaban Siswa Analisis data pemahaman konsep dilakukan secara berkelompok terhadap kombinasi jawaban 30 siswa.2. 4.5. 69 Analisis kombinasi jawaban siswa pada setiap butir dapat dilihat pada Tabel 4.

.15 18 17 17 17 16 14 14 13 Jumlah Siswa 12 11 PK 10 9 8 8 8 8 Mi 8 7 6 6 5 5 5 Un 4 4 3 3 2 22 2 2 KP 2 1 1 0 TP 1 2 4 8 10 12 Butir Soal 4.2. dan 12. Diagram pemahaman konsep level submikroskopik dapat dilihat pada Gambar 4.1. 70 Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa siswa tidak mengalami kesulitan dalam menjawab soal pada level makroskopik. 2.2. 4. Siswa yang termasuk dalam kategori KP dikatakan rendah karena tidak lebih dari 3 siswa. 4.2 Analisis Data Distribusi Soal Level Simbolik Distribusi soal level submikroskopik diwakili oleh soal nomor 1. Kategori Mi paling banyak terjadi pada nomor 10 yaitu 17 siswa. 10. Sebagian besar siswa berada pada kategori PK.15 Diagram pemahaman konsep level submikroskopik Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa siswa yang paling banyak berkategori PK terdapat pada soal nomor 4 yaitu 17 siswa. Siswa berkategori Un masih banyak terjadi pada soal nomor 1 yaitu 11 siswa. Siswa yang berkategori TP paling banyak pada soal nomor 12 yaitu 17 siswa. 8.

16. Pemahaman level simbolik menunjukkan bahwa siswa yang berkategori KP dan TP masih tergolong rendah yaitu kurang dari 5 siswa.2.6. Soal nomor 11 menunjukkan bahwa siswa yang berkategori Un sebanyak 11 siswa.16 Diagram pemahaman konsep level simbolik Berdasarkan data Gambar 4. 30 24 25 Jumlah Siswa 20 17 PK 16 15 13 Mi 10 11 9 Un 10 77 6 5 5 3 32 4 KP 5 2 1 12 11 TP 0 3 5 11 13 15 Butir Soal Gambar 4. Siswa berkategori Mi paling banyak terjadi pada nomor 13 yaitu 13 siswa. . Rekapitulasi jawaban siswa dilakukan untuk mengetahui persentase pemahaman konsep siswa menggunakan soal three tier multiple choice diagnostic instrument yang berbasis multi representasi.1.2.16 kategori PK yang paling banyak pada konsep nomor 15 yaitu 24 siswa. 71 4. Analaisis pemahaman konsep multi representasi dapat dilihat pada Tabel 4.3 Analisis Data Distribusi Soal Level Simbolik Diagram pemahaman konsep level simbolik dapat dilihat pada Gambar 4.

89%.22%.89 20 15. Mi sebesar 20. Persentase pemahaman konsep multi representasi hampir separuhnya (48.11%.22 50 Persentase (%) 40 30 20.78%. 72 Tabel 4.17.17 Persentase Pemahaman Konsep Multi Representasi Berdasarkan hasil pengelompokan kombinasi jawaban siswa pada Gambar 4. 60 48. diketahui bahwa siswa yang berkategori PK sebesar 48.78 10 6 0 PK Mi Un KP TP Pemahaman Konsep Gambar 4.22%) berkategori PK. .17.6 Analisis Pemahaman Konsep Multi Representasi Kombinasi Jawaban Kategori Jumlah B B Y Paham Konsep (PK) 217 B S Y Miskonsepsi (Mi) S B Y Miskonsepsi (Mi) 94 S S Y Miskonsepsi (Mi) B B TY Untung-untungan (Un) 68 B S TY Kurang Paham (KP) 27 S B TY S S TY Tidak Paham (TP) 44 450 Berdasarkan hasil pengelompokan kombinasi jawaban siswa pada Tabel 4. maka analisis persentase pemahaman konsep multi representasi dapat dilihat pada Gambar 4.11 9. kategori Un sebesar 15. KP sebesar 6% dan TP sebesar 9.6.

1 Karakter Pembelajaran Inquiry Berbasis Multi Representasi Pembelajaran inquiry dapat mengembangkan proses berpikir. bekerja. 73 4. LKS telah disusun dengan langkah-langkah inquiry. Siswa merumuskan masalah dan mengumpulkan data sesuai fenomena kimia yang disajikan dalam lembar kerja siswa (LKS). sehingga membantu siswa dalam memahami suatu konsep. Siswa juga melakukan aktivitas menganalisis data dan membuat kesimpulan terhadap hasil pengamatan yang sudah dilakukan. 4.2 Pembahasan Penelitian studi kasus terhadap analisis pemahaman konsep melalui pembelajaran inquiry berbasis multi representasi kelas XI IPA 2 SMA Negeri di Kota Semarang. 2016: 69). mengetahui besar persentase pemahaman konsep siswa melalui posttest dan uji coba soal multi representasi. Multi .2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter pembelajaran inquiry berbasis multi representasi terhadap pemahaman konsep siswa yang dianalisis secara deskriptif menggunakan data penilaian lembar observasi praktikum dan wawancara. sikap ilmiah dan berkomunikasi siswa untuk memenuhi kecakapan hidup (Prasetyowati. LKS tersebut dilengkapi dengan multi representasi yang dapat membantu siswa dalam memahami konsep larutan buffer dan hidrolisis. Guru membimbing siswa untuk memahami fenomena kimia yang berkaitan dengan materi larutan buffer dan hidrolisis. Hasil wawancara yang dilakukan dengan tiga siswa menunjukkan bahwa mereka mudah memahami konsep buffer-hidrolisis dengan melakukan praktik langsung dan mengerjakan latihan-latihan soal pada LKS.

Setiap level multi representasi dianalisis dengan melakukan kegiatan- kegiatan yang ilmiah. Penilaian observasi praktikum telah dilakukan dengan menggunakan lembar observasi dan rubrik penilaian oleh tiga rater. Berdasarkan analisis observasi praktikum diperoleh hasil bahwa 22 siswa memiliki kategori sangat baik (bobot nilai A) dan 13 siswa berkategori baik (bobot nilai B). Hasil penilaian menunjukkan bahwa siswa memiliki bobot nilai yang baik dan sangat baik. Level makroskopik ditunjukkan melalui kegiatan inquiry laboratorium. Guru menyediakan alat dan bahan untuk membuktikan konsep larutan buffer dari penjelasan guru dan lembar kerja siswa (LKS). Rizal (2014: 162) dalam penelitiannya menambahkan bahwa pembelajaran inquiry berbasis multi representasi lebih memberikan pemahaman kepada siswa terhadap konsep atau materi yang dipelajari karena siswa dapat menjelaskan dan mempresentasikan konsep dengan berbagai cara atau bentuk. Multi representasi tercermin dalam kegiatan praktikum dan soal-soal ujian (Tasker. Indah & Azizah (2014: 110) menyimpulkan bahwa penerapan pembelajaran inquiry dapat menyebabkan keterlaksanaan pembelajaran yang sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa siswa memiliki pemahaman konsep yang baik dengan melalukan pembelajaran inquiry berbasis multi representasi. 74 representasi dapat diterapkan dalam berbagai model pembelajaran. Guru melakukan demonstrasi untuk memberikan informasi kepada siswa sebelum . Penilaian paling tinggi sebesar 88 dan nilai terendah 74. Hasil ini didukung oleh penelitian terdahulu. Salah satunya adalah model pembelajaran inquiry. 2014:17). Rerata nilai praktikum siswa sebesar 82.

Siswa membandingkan perubahan warna indikator universal dengan warna standar. Suja (2014: 17) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pengembangan kemampuan level makroskopik siswa dilakukan dengan bimbingan guru agar siswa dapat mempresentasikan fenomena yang telah diamati. sehingga membutuhkan visualisasi khusus. Siswa diarahkan untuk fokus terhadap pengamatan yang mereka lakukan agar memperoleh pemahaman konsep yang benar. level multi representasi ini tidak dapat dipahami dengan pengamatan dan eksperimen di laboratorium (Eilks et al. Kemampuan siswa dalam memahami konsep ini didukung oleh keterampilan guru dalam membimbing siswa untuk memiliki kemampuan dalam representasi level makroskopik. Kegiatan praktikum yang dilakukan sudah dihubungkan dengan level makroskopik dan level submikroskopik. 2012). Berdasarkan hasil penilaian dan pengamatan pemahaman konsep siswa diketahui bahwa siswa mampu untuk mengetahui harga pH dengan mengamati perubahan warna indikator universal yang dicelupkan ke dalam larutan buffer. 75 melakukan praktikum. Pengamatan tersebut dilakukan secara langsung menggunakan kemampuan indra penglihatan siswa. Level ini sifatnya partikulat. Penelitian ini baru menerapkan level submikroskopik dengan . Proses pembelajaran level submikroskopik membutuhkan suatu model pembelajaran yang ilmiah. Level submikroskopik. Salah satunya adalah praktikum di laboratorium. Berdasarkan Gambar 4..3 siswa mampu menggambarkan dan menjelaskan level submikroskopik yang terjadi pada hasil pengamatan level makroskopik secara sederhana.

Visualisasi dinamis mampu mendukung pemahaman yang bersifat submikroskopik dengan menggunakan animasi yang bergerak. visualisasi statis lebih mudah untuk digunakan dan lebih banyak tersedia di lingkungan pendidikan. Suja (2014: 18) mengungkapkan bahwa “ Entitas submikroskopis tersebut nyata (real). antara lain: (1) . (2012: 130) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa penggunaan visualisasi dinamis lebih baik daripada visualisasi statis dalam menjelaskan sebuah konsep kimia. Namun. namun kecil untuk bisa diamati”. (2015: 105) mengungkapkan bahwa perubahan pada level submikroskopik dapat dijelaskan secara simbolis dengan dua cara. Sehingga memudahkan siswa untuk lebih memahami pergerakan partikel atau molekul yang terjadi dalam suatu larutan. Sunyono et al. Hal tersebut dipengaruhi oleh penggunaan media yang digunakan hanya terbatas pada visualisasi statis. Level submikroskopik juga menghubungkan konsep dengan level simbolik. Guru baru menyediakan visualisasi statis berupa lembar kerja siswa (LKS) sebagai penunjang proses pembelajaran. Mereka belum mampu membayangkan reaksi yang terjadi di dalam larutan buffer dan larutan garam secara submikroskopik. Hasil penilaian observasi menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan hasil pengamatan ke dalam bentuk gambar. Visualisasi objek secara submikroskopik membutuhkan keterampilan dalam menggunakan kata- kata (verbal) dan menggambar dalam bentuk partikulat. Eilks et al. 76 memberikan visualisasi partikulat pada LKS yang digunakan oleh siswa. Siswa kurang terampil dalam menjelaskan konsep secara submikroskopik.

2015: 394). (2014: 10) menyatakan bahwa ada beberapa siswa yang menuliskan persamaan .4. Pemahaman konsep siswa pada level simbolik terlihat pada Gambar 4. 77 kualitatif. Level simbolik. Hal ini menyebabkan siswa mengalami kesulitan saat menuliskan reaksi yang terjadi pada garam yang tidak terhidrolisis.. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Marsita et al. bahasa. gambar struktur molekul. Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa mampu menuliskan persamaan reaksi antara pencampuran larutan asam lemah dengan larutan basa kuat atau larutan basa lemah dengan larutan asam kuat. 2013: 121). menggunakan matematika seperti persamaan dan grafik. rumus. Siswa yang paham konsep dapat menerapkan jumlah mol basa dan asam konjugasi atau asam dan basa konjugasi ke dalam rumus perhitungan pH dengan menggunakan simbol. dan simbolis. Jefriadi et al. diagram. Hal ini didukung oleh penelitian terdahulu. Siswa tidak menuliskan reaksi tersebut dalam lembar jawaban diskusi. level ini meliputi penggunaan simbol kimia. (2010: 515). Konsep larutan buffer menuntut siswa untuk memahami konsep kesetimbangan kimia. Penerapan pemahaman konsep level simbolik terdapat pada reaksi hidrolisis. diagram. Perhitungan tersebut menggunakan rumus yang berupa simbolis. menggunakan notasi tertentu. Pemahaman level simbolik lebih mengaitkan pada simbol-simbol kimia secara kuantitatif (Hanif et al. diketahui bahwa sebagian siswa dapat mengerjakan soal-soal pada konsep perhitungan pH dan pOH dengan menggunakan prinsip kesetimbangan. persamaan. menunjukkan bahwa siswa mampu menuliskan persamaan reaksi pada hidrolisis parsial dan hidrolisis total. (2) kuantitatif. dan simbol untuk melambangkan suatu materi (Supasorn.

miskonsepsi (Mi). kurang paham (KP) dan tidak paham (TP). kurang paham konsep dan tidak paham konsep ketika menjawab soal-soal yang diujikan. sebagian besar siswa tidak menuliskan fase dari setiap senyawa pada persamaan reaksi hidrolisis garam. Indrayani (2013: 215) dalam penelitiannya menyatakan bahwa: “kesalahan pemahaman simbolik yang teridentifikasi adalah (i) siswa tidak dapat menuliskan reaksi ionisasi. Beberapa siswa juga masih salah dalam menggunakan rumus untuk menentukan pH larutan.1 Pemahaman Konsep Soal Posttest Pemahaman konsep dalam penelitian ini adalah setelah dilakukan proses pembelajaran inquiry berbasis multi representasi siswa akan dianalisis persentase pemahaman konsep menjadi lima kategori.2. Selain itu. Pemahaman konsep siswa dilihat dari . untung-untungan (Un). 4. Kesulitan tersebut menyebabkan siswa mengalami kesalahan-kesalahan dalam memahami suatu konsep. 78 reaksi kation dan anion yang mengalami hidrolisis garam dan kebanyakan siswa tidak lengkap dalam menuliskan persamaan reaksinya. (ii) siswa tidak dapat memilih rumus yang digunakan untuk menghitung pH larutan. Kesulitan tersebut sesuai dengan penemuan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.2 Pemahaman Konsep Pemahaman konsep siswa ditentukan dengan menggunakan tes three tier multiple choice diagnostic instrument yang sudah di uji coba. Pemahaman konsep yang dimaksud dalam penelitian ini adalah paham konsep (PK).2.2. Siswa masih ada yang mengalami miskonsepsi.” 4.

(2015: 8) bahwa sebagian besar siswa sudah mengetahui sudah mengetahui definisi larutan buffer. 6. Wawancara telah dilakukan dengan siswa mengenai . Sebagian besar siswa siswa menjawab benar pada tingkat 1. Sebanyak 1 siswa masih ada yang mengalami miskonsepsi dan 2 siswa menjawab dengan beruntung. 5. Berdasarkan hasil wawancara siswa yang mengalami miskonsepsi karena belum memahami definisi larutan buffer yang tepat. sebagian besar siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep pengertian larutan buffer yang mencakup pengertian. Soal tersebut sudah disusun berdasarkan indikator materi buffer dan hidrolisis. tingkat 2 dan menjawab yakin pada pilihan jawabannya di tingkat 3. 79 kombinasi jawaban siswa pada setiap butir soal. sifat-sifat dan sistem larutan buffer. Soal ini merupakan soal yang menuntut siswa untuk mengingat kembali sifat-sifat larutan buffer. dan 9. Hasil analisis secara umum jumlah siswa yang paham konsep lebih banyak daripada jumlah siswa pada kategori lainnya. Indikator sifat-sifat larutan buffer termasuk kategori paham konsep yang tinggi yaitu pada soal nomor 1 dan 8. Sehingga frekuensi jumlah siswa yang paham konsep lebih banyak. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Isnain et al. tetapi masih ada siswa yang belum dapat menentukkan alasan yang tepat. Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Marsita et al. Data menunjukkan bahwa sebagian besar siswa dapat menjawab dengan tepat. Hal tersebut terlihat dari kombinasi jawaban siswa yang menjawab dengan benar dan yakin soal-soal tersebut. (2010: 515). 3. Indikator perhitungan pH larutan buffer diwakili oleh 2.

tetapi beberapa siswa belum mampu menerapkan ke dalam perhitungan pH. Soal menanyakan sistem buffer dalam tubuh makhluk hidup yaitu di dalam darah dan sistem buffer karbonat. Beberapa siswa beranggapan bahwa perhitungan pH larutan buffer asam atau basa dengan prinsip kesetimbangan lebih sulit daripada menentukan pH dengan menerapkan rumus langsung. Sehingga siswa masih ada yang ragu dengan materi yang telah siswa hafalkan. Siswa menjawab benar pada kedua tingkat (tier). Isnain et al. (2013: 186) menambahkan bahwa siswa mengetahui bahwa larutan buffer memiliki sisa asam atau basa lemah dan garamnya. siswa menganggap bahwa yang membuat siswa bisa menjawab soal tersebut karena sering berlatih soal-soal yang ada di dalam LKS atau buku kimia lainnya. (2015: 9) beranggapan bahwa siswa menjawab hanya dengan terpaku pada hafalan contoh-contoh fungsi larutan buffer yang ada di buku. 80 konsep ini. Hasil analisis indikator peranan larutan buffer pada soal nomor 4 dan 7 menunjukkan hasil yang sama bahwa sebagian besar siswa telah paham konsep sebanyak 25 siswa. tetapi siswa tidak merasa yakin terhadap jawaban yang dipilih. Siswa masih ada yang mengalami miskonsepsi dan tidak paham terhadap konsep ini. . Hasil penelitian ini didukung oleh temuan Marsita (2010: 516) menyatakan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menerapkan rumus perhitungan pH dalam menerapkan jumlah mol basa dan asam konjugasinya. Yunitasari et al. Soal ini yang paling banyak siswa menjawab dengan cara menebak atau untung-untungan yaitu 9 siswa.

Soal berisi tentang pengetahuan garam yang tidak terhidrolisis. Siswa memahami bahwa garam yang mengalami hidrolisis sebagian dan mengubah lakmus merah menjadi biru adalah garam CH3COONa (level makroskopik) karena terbentuk dari asam lemah dan basa kuat. kecuali indikator pH larutan garam sebanyak dua butir soal. Hal ini menunjukkan bahwa 23 siswa telah memahami bahwa reaksi hidrolisis pada garam CuSO4 adalah Cu2+(aq) + H2O(l) Cu(OH)2(S) + 2H+(aq). Sebagian besar siswa telah paham konsep yaitu 32 siswa. Hal tersebut dipengaruhi oleh bentuk soal yang menggunakan taksonomi bloom tingkat C1 dan C2. Ranah C2 merupakan pemahaman untuk menginterpretasikan dan menyatakan kembali suatu konsep (Utari. tingkat 2 dan yakin terhadap jawaban yang dipilih. Siswa telah memahami reaksi hidrolisis garam CuSO4 sebagai berikut: . Hasil analisis menunjukkan bahwa sebanyak 23 siswa menjawab benar pada tingkat 1. Ranah C1 merupakan pengetahuan untuk menyebutkan atau menjelaskan kembali suatu konsep.). n. Instrumen soal nomor 10 merupakan soal yang mewakili indikator garam yang bersifat netral.d. Pilihan jawaban tersebut diperkuat dengan alasan yang benar bahwa ion Cu2+ berasal dari kation basa lemah yang mengalami hidrolisis. Indikator reaksi pelarutan garam diwakili oleh soal nomor 11. 81 Identifikasi pemahaman konsep siswa materi hidrolisis diwakili oleh satu nomor soal per indikator. Hasil analisis menunjukkan bahwa siswa lebih banyak paham konsep yaitu 33 siswa. Indikator garam yang bersifat asam diwakili oleh soal nomor 12.

Hal ini terlihat dari alasan jawaban yang dipilih oleh siswa. Hasil analisis indikator garam yang bersifat basa terdapat pada soal nomor 13. Soal ini menunjukkan paling banyak jumlah siswa yang tidak paham konsep dibandingkan dengan soal indikator yang lain. Siswa masih ada yang tidak memahami konsep-konsep reaksi hidrolisis garam yang bersifat asam. Jefriadi et al. tetapi tidak merasa yakin. Hal ini mempengaruhi siswa dalam memilih persamaan reaksi yang tepat dalam sebuah soal. Siswa telah memahami bahwa garam yang bersifat basa berasal dari basa kuat dan asam lemah. Konsep ini hanya mengidentifikasi siswa yang paham konsep dan miskonsepsi. Soal tersebut menanyakan campuran asam-basa yang menghasilkan garam terhidrolisis sebagian dan bersifat basa. Sebagian besar siswa telah paham konsep yaitu 33 siswa dan 2 siswa mengalami miskonsepsi. Sebanyak 6 siswa tidak paham konsep. 82 CuSO4 Cu2+ + SO42- + + H2O OH. Siswa tersebut menjawab benar pada kedua tingkat pemahamn konsep. Jawaban . (2014: 10) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa siswa dalam menuliskan persamaan reaksi senyawa garam yang terbentuk dari senyawa asam dan basa masih rendah. Siswa yang beruntung menjawab benar sebanyak 1 siswa. + H+ Cu(OH)2 H2SO4 Cu2+(aq) + H2O(l) Cu(OH)2(S) + 2H+(aq) Sebanyak 5 siswa mengalami miskonsepsi karena tidak dapat mengaitkan alasan dengan jawaban yang dipilih.

asam kuat dan basa lemah. Sebagian besar siswa telah memahami konsep perhitungan pH garam yaitu 33 siswa dan 27 siswa telah paham konsep. 83 siswa dipengaruhi oleh kebiasaan siswa dalam menghafal kelompok asam dan basa yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Miskonsepsi yang paling banyak terjadi pada soal nomor 5. Siswa masih ada yang salah dalam menghitung pH campuran pada senyawa bivalen. Siswa . Sebagian butir soal masih terdapat siswa yang mengalami miskonsepsi. al. kecuali butir soal nomor 8. Seharusnya konsentrasi kation dari garamnya dikalikan 2. Jumlah siswa tersebut lebih banyak daripada jumlah siswa pada kategori miskonsepsi. untung-untungan. dan asam lemah dan basa kuat.03%. kurang paham dan tidak paham konsep. Sebanyak 8 siswa dari 35 siswa mengalami miskonsepsi. Indikator pH larutan garam terdapat dalam soal nomor 14 dan 15. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa miskonsepsi terjadi karena siswa mengalami kesulitan dalam membedakan larutan buffer asam dan basa jika diketahui percampuran zat penyusunnya. (2010) bahwa siswa mengalami kesulitan dalam perhitungan pH dan pOH dengan menggunakan prinsip kesetimbangan sebesar 26. Miskonsepsi pada indikator ini paling banyak muncul pada soal nomor 15 yaitu 6 siswa. Dina et al. (2014: 10) menyatakan bahwa kesalahan dalam mencari harga pH senyawa bivalen karena siswa tidak tepat dalam menentukan molaritas dari ion yang mengalami reaksi hidrolisis. (2015: 135) mengatakan bahwa siswa mampu menjawab pertanyaan contoh senyawa garam dalam kehidupan sehari-hari antara lain garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat. Hal tersebut telah dijelaskan dalam penelitian Marsita et. Jefriadi et al.

95 % siswa telah paham konsep. Nasrudin (2014: 94) menyimpulkan bahwa persentase pemahaman konsep akhir siswa yang berkategori paham konsep sebesar 78.79% paham konsep. miskonsepsi sebesar 11. maka dapat diketahui persentase secara menyeluruh pemahaman konsep siswa. Persentase pemahaman konsep yang tinggi dipengaruhi oleh banyaknya latihan soal yang diberikan. 4. Gambar 4. Hal tersebut menyebabkan terjadinya miskonsepsi terhadap siswa. Indrayani (2013) menyatakan bahwa siswa yang paham konsep sebesar 84% pada level makroskopik. dan 54. Bertiec & Nasrudin (2013: 16) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pada hasil tes yang telah dilakukan sebesar 84.13 memberikan informasi bahwa 84. Hasil analisis tersebut hampir sama dengan penelitian yang pernah dilakukan.75%. A & H. Berdasarkan hasil analisis pemahaman konsep per butir pada setiap indikator. 22. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah mencapai kategori paham konsep yang sangat baik. 2016: 71).40 % pada level simbolik.46% dan tidak paham sebesar 9.3% miskonsepsi dan 10% tidak paham konsep. Rahayu. 84 juga kurang bisa mengaitkan antara jawaban dan alasan yang terdapat pada soal posttes.79%. Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil penelitian terhadap siswa kelas XI IPA 2 memiliki paham konsep yang sangat baik daripada penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya.90 % pada level submikroskopik. Pembahasan konsep-konsep yang penting dan . Pembelajaran inquiry yang diterapkan sangat efektif untuk meningkatkan persentase pemahaman konsep siswa (Prasetyowati & Suyatno.

(2) pemahaman (C2). antara lain (1) pengetahuan (C1). 85 penanaman konsep secara mendalam memudahkan siswa dalam mengatasi kesulitan memahami konsep (Marsita et al. . 4. Penelitian yang kembali dilakukan memperoleh hasil bahwa soal-soal yang menggambarkan multi representasi sebanyak 15 butir soal. level submikroskopik dan level simbolik.2 Pemahaman Konsep Multi Representasi Penelitian pemahaman Konsep ini menggunakan soal uji coba yang yang menggambarkan level multi representasi.2. (3) penerapan (C3) dan (4) analisis (C4). dilakukan peninjauan dan rekapitulasi ulang terhadap persentase pemahaman konsep siswa. Soal-soal yang menggambarkan multi representasi direkap dan dianalisis. 2010: 519). Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan persentase yang sangat tinggi. Soal belum sepenuhnya menerapkan multi representasi karena penerapan pada level submikroskopik masih sederhana. Penerapan soal yang hanya mencakup empat ranah kognitif dalam taksonomi Bloom mempengaruhi hasil persentase. Soal-soal uji coba yang valid belum menggambarkan multi representasi. Kombinasi jawaban siswa dianalisis untuk mengetahui persentase pemahaman konsep siswa dalam menyelesaikan soal-soal pada level makroskopik. Soal ini sebagian sama dengan soal posttest dan sebagian diambil dari 40 butir soal lain yang tidak digunakan dalam posttes..2. Ranah taksonomi bloom tersebut. Hal tersebut dipengaruhi oleh soal posttest yang hanya menyajikan soal pemahaman konsep biasa. Oleh karena itu. Penelitian ulang dilakukan dengan menggunakan data hasil uji coba soal.

Hal tersebut dipengaruhi oleh kegiatan praktikum siswa yang memberikan informasi melalui indra penglihatan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang ditemukan oleh Indrayani (2013: 214). Hasil analisis soal level makroskopik pada nomor 6. 86 Analisis data pemahaman konsep dilakukan secara berkelompok terhadap kombinasi jawaban 30 siswa. Soal tersebut menanyakan sistem buffer dalam tubuh makhluk hidup secara submikroskopik. Soal level submikroskopik diwakili oleh soal nomor 1. Hanif et al. 7. 2. 10. Secara umum siswa yang telah paham konsep pada butir soal level makroskopik tersebut memiliki frekuensi jumlah siswa yang hampir sama. 8. (2013: 119) bahwa persepsi siswa dalam proses pembelajaran level makroskopik melalui kegiatan praktikum menjadi aspek penting dalam penyerapan informasi. Penjelasan submikroskopik saat proses . dan 9 menunjukkan Sebagian besar siswa berada pada kategori paham konsep. serta pengamatan terhadap garam dapur. dan 12. Soal ini merupakan soal yang menanyakan perubahan warna yang terjadi pada lakmus yang dicelupkan ke dalam larutan buffer asam dan basa. pemberian pendekatan level submikroskopik mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu. Hasil tes menunjukkan bahwa kombinasi jawaban siswa untuk setiap butir soal memiliki frekuensi jumlah siswa yang berbeda-beda dalam setiap kategori. Berdasarkan hasil analisis penelitian siswa yang paling banyak paham konsep terdapat pada soal nomor 4. 4. Sebagian besar siswa telah paham konsep yaitu 17 siswa. Sehingga separuh lebih jumlah siswa berada pada kategori paham konsep.

walaupun siswa telah memilih alasan dengan benar. Pemahaman konsep siswa pada level simbolik diwakili oleh soal nomor 3. Sebanyak 13 siswa salah dalam memilih alasan yang benar. Miskonsepsi paling banyak terjadi pada nomor 10 yaitu 17 siswa. Sehingga sebagian siswa mampu memilih jawaban dan alasan yang benar pada butir soal level submikroskopik. Siswa masih belum mampu memberikan jawaban yang benar. Sebagian besar siswa memberikan alasan yang benar. 87 pembelajaran membantu siswa dalam menjelaskan level makroskopik yang terjadi. (2014: 8) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kemampuan submikroskopik siswa masih rendah dalam menggambarkan jenis partikulat yang terjadi dalam suatu larutan. Miskonsepsi ini karena siswa belum mampu menyerap . 11.(Jefriadi. Hal ini dipengaruhi oleh masih rendahnya kemampuan imajinasi siswa untuk menjelaskan reaksi yang bersifat partikulat. Siswa belum mampu menggambarkan letak atau susunan atom yang berikatan dalam larutan. Garam NH4Cl bersifat asam setelah mengalami reaksi hidrolisis setelah bereaksi dengan air. Frekuensi jumlah siswa yang paham konsep pada level submikroskopik lebih kecil dibandingkan level makroskopik. karena ion H+ lebih banyak dari ion OH. 13 dan 15. Jefriadi et al. tetapi salah dalam memilih konten jawaban soal (tingkat 1). Siswa yang paham konsep sebanyak 24 siswa. Siswa tidak mampu mengurutkan dengan benar proses hidrolisis pada larutan NH4Cl secara submikroskopik. 5. Miskonsepsi paling besar terjadi pada nomor 13. Berdasarkan hasil analisis paham konsep paling banyak pada konsep nomor 15. 2014: 9). Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan siswa level submikroskopik masih terbatas.

Persentase pemahaman konsep multi representasi hampir separuhnya (48. (2010: 516) melaporkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menghubungkan jumlah mol zat mula-mula dengan jumlah mol zat dalam keadaan setimbang.67% siswa telah paham .22%) telah paham konsep. diketahui bahwa siswa yang berkategori paham konsep sebesar 48. untung-untungan sebesar 15. Soal nomor 11 menunjukkan bahwa siswa menjawab dengan untung-untungan sebanyak 11 siswa.22%. Siswa mampu memilih alasan yang benar dan yakin terhadap jawaban yang dipilih. Hal tersebut mempengaruhi kemampuan siswa dalam menerapkan rumus perhitungan pH dalam soal yang diujikan. 2016:106).78%. Pemahaman konsep siswa dikategorikan baik. Berdasarkan hasil pengelompokan kombinasi jawaban siswa yang sudah diperoleh. miskonsepsi sebesar 20. Hasil temuan ini didukung oleh hasil penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Hasil wawancara dengan siswa menemukan bahwa siswa yang masih kurang paham atau tidak paham konsep dikarenakan siswa belum memahami materi prasyarat yaitu prinsip kesetimbangan. kurang paham konsep sebesar 6% dan tidak paham konsep sebesar 9. al. (2013) menyatakan bahwa hampir separuh siswa yaitu 46. tetapi menjawab salah pada konten soal (tier 1). sehingga pemahaman konsep siswa bercampur dengan pengalaman yang pernah dialami siswa (Mubarak.11%. Zidny et. 88 informasi yang baru secara utuh. Hasil persentase tersebut hampir sama dengan penelitian yang terdahulu. Marsita et al. Pemahaman level simbolik menunjukkan bahwa siswa yang berkategori kurang paham dan tidak paham soal masih tergolong rendah yaitu kurang dari 5 siswa.89%.

Hasil penelitian berbeda dengan Saricayir et al. (2016) yang menunjukkan bahwa analisis data sebanyak sebesar 19 % siswa telah paham konsep pada butir no 8. 89 konsep. Analisis data tersebut menunjukkan perbedaan persentase yang signifikan antara analisis pemahaman konsep menggunakan soal pemahaman konsep biasa dengan pemahaman konsep soal multi representasi. Berdasarkan analisis tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran inquiry berbasis multi representasi dapat membimbing siswa menjadi lebih paham konsep. Soal multi representasi tidak melihat kevalidan soal. Soal posttest lebih banyak menggunakan soal pemahaman konsep biasa karena mempertimbangkan kevalidan soal. . level submikroskopik dan level simbolik. Hal ini disebabkan karena perbedaan tipe soal yang diujikan. tetapi bentuk soal yang mewakili level makroskopik.