You are on page 1of 10

EVIDENCE BASED MEDICINE

“Letrozole versus Clomiphene for Infertility
in the Polycystic Ovary Syndrome”

Disusun oleh :

AYUNINGTYAS TRI HANDINI

1102013050

Kelompok A10

Pembimbing : dr. Anna Luthfiana, Sp. S

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
JAKARTA
TAHUN AJARAN 2016/2017

Casson P... Snyder P. Usadi R... Ager J. Christman GM. Haisenleder D. Legro RS. Lucidi S. Pasien kemudian didiagnosa mengalami Polycystic Ovary Syndrome.Skenario: Wanita berusia 31 tahun datang bersama suaminya ke poliklinik dengan keluhan haid tidak teratur. Santoro N.. Bates GW.. Baker V.. and Zhang H. Barnhart K. Yan Q.. Trussell JC. Diamond MP.373:1230-40. or Clomiphene for Unexplained Infertility.. N Engl J Med. Krawetz SA... Pada pemeriksaan fisik didapatkan BB 88 kg TB 156 cm (obesitas) dan pada pemeriksaan gynecology teraba massa pada adneksa. Legro RS... Schlaff WD.org/ Limitation : By speciality: Obstetrics/Gynecology By Date: past 5 years (Desember 2011-Desember 2016) Result : 3 articles 1. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang berupa Ultrasonography (USG) dan tes darah. Ohl D. Hasilnya ditemukan banyak kista kecil pada ovarium dan kadar hormon testosteron yang tinggi. Alvero R. Huang H. . Jin Y. Trussell JC. Bates GW . kemudian dokter melakukan Evidence Based Medicine (EBM) untuk memilih terapi yang tepat untuk pasien.. Santoro N. Dokter mempertimbangkan untuk memberikan Letrozole. Alvero R... Casson P. Eisenberg E. Baker V. Haisenleder DJ. 2. Eisenberg E.. Pasien ingin sekali mempunyai anak namun belum juga mendapat momongan setelah empat tahun menikah. Coutifaris C. Coutifaris C. Gonadotropin. Krawetz SA. Pertanyaan: Manakah terapi yang lebih baik antara Letrozole dan Clomiphene dalam menangani infertilitas pada Polycystic Ovary Syndrome? Patient : Wanita infertil dengan sindrom ovarium polikistik Intervention : Letrozole Comparison : Clomiphene Outcome : Dapat melahirkan bayi hidup dan memiliki siklus ovulasi yang baik Keyword : woman AND infertility AND PCOS AND letrozole AND clomiphene Source : http://www.nejm. Hansen KR.. Letrozole. Seungdamrong A. Christman GM.. Dokter mengetahui ada beberapa terapi yang dapat diberikan seperti Clomiphene dan Letrozole. Ohl D. 2015. Usadi R.. Brzyski RG... Huang H.. Barnhart KT. Robinson RD.. Diamond MP.. Rosen RM. Suami pasien juga diperiksa konsentrasi spermanya dan didapatkan hasil yang normal...

and Zhang H. McCartney CR.371:119-29. Usadi R. Schlaff WD. Casson P. Eisenberg E.. Snyder P. Trussell JC. Letrozole versus Clomiphene for Infertility in the Polycystic Ovary Syndrome.371:119-29. Lampiran artikel yang dipilih: 11 halaman ... Krawetz SA.... 2014. Huang H. N Engl J Med. Barnhart KT.. 2014. Polycystic Ovary Syndrome.. Haisenleder DJ.. 2016.... N Engl J Med.. Bates GW . Diamond MP. Letrozole versus Clomiphene for Infertility in the Polycystic Ovary Syndrome. N Engl J Med 2014... Brzyski RG... 3. Artikel yang dipilih: Legro RS. Coutifaris C.. 375:54- 64. and Marshall JC. and Zhang H. Ohl D... Santoro N.. Baker V.. Yan Q. Lucidi S. Christman GM. Alvero R.

Apakah follow-up lengkap? Tidak. mempunyai suami dengan konsentrasi sperma setidaknya 14 juta per mililiter dan pasangan tersebut setuju untuk melakukan hubungan seksual secara rutin selama penelitian. Apakah semua pasien yang dimasukkan ke dalam penelitian dipertimbangkan dan disertakan dalam pembuatan kesimpulan? a. Sebanyak 750 wanita ditempatkan secara acak untuk mendapatkan terapi Clomiphene dan Letrozole dengan perbandingan rasio 1:1. Pasien yang diteliti ialah pasien yang diambil secara acak dan sudah termasuk kriteria inklusi yakni terdiagnosa Polycystic Ovary Syndrome. b. Apakah semua pasien dianalisis pada kelompok randomisasi semula? Ya. 2. memiliki tuba falopi yang paten dan rongga uterus yang normal. Karena sebanyak 158 orang dropped out dan tidak dilakukan analisis lebih lanjut. Apakah penempatan pasien ke dalam kelompok terapi dirandomisasi? Ya.I. . Apakah hasil penelitian ini valid? Petunjuk primer 1.

9 dan 17. Apakah pasien.0 dan seterusnya. hirsutism score 16.Petunjuk sekunder 1. .9 tahun. Apakah pada awal penelitian kedua kelompok sama? Ya. Kelompok yang diberikan terapi Clomiphene maupun Letrozole masing-masing berjumlah 376 dan 374 orang. petugas kesehatan dan staf peneliti dibutakan terhadap terapi? Ya.8 tahun dan 28. berusia rata-rata 28. 2. Clomiphene dan Letrozole dimasukkan ke dalam kapsul agar terlihat sama yang dikemas oleh perusahaan pemasok komersial.

.3. Disamping intervensi eksperimen. apakah kedua kelompok mendapat perlakuan yang sama? Ya. Dosis kedua obat masing-masing ditingkatkan pada siklus berikutnya dan setiap pasangan pada kedua kelompok tersebut diinstruksikan untuk melakukan hubungan seksual rutin dua sampai tiga kali seminggu.

namun angka kejadian keguguran hampir sama di antara keduanya. Efek samping lemas dan pusing banyak ditemukan pada terapi Letrozole sementara panas saat perimenopause lebih banyak terjadi pada terapi Clomiphene. . Berapa besar efek terapi? Efek terapi Letrozole lebih baik dalam menghasilkan bayi lahir hidup (27.1%).5%) dibandingkan Clomiphene (19.II. Apa hasilnya? 1. Angka kejadian ovulasi lebih tinggi secara signifikan pada pasien dengan terapi Letrozole dan kesempatan untuk mendapat bayi kembar lebih sedikit pada terapi Letrozole.

.

. Bagaimana presisi estimasi efek terapi? Efek terapi Letrozole lebih baik dari Clomiphene dalam menghasilkan bayi lahir hidup (p=0.007) dan juga memperbaiki ovulasi (0.2.001).

. Serta dengan mengetahui keefektivan Letrozole dalam memperbaiki ovulasi dan menghasilkan kehamilan maka pasien dapat diberikan Letrozole sehingga dapat memperoleh anak. 3. Apakah semua luaran yang penting sudah dipertimbangkan? Ya. Apakah hasil ini dapat diterapkan untuk pasien saya? Ya. dan manfaat terapi yang diberikan jelas lebih baik Letrozole dibandingkan dengan Clomiphene. keguguran.Apakah hasilnya akan membantu saya dalam merawat pasien? 1. luaran seperti ovulasi. terdiagnosa Polycystic Ovary Syndrome. Selain outcome primer. Letrozole (Femara) seharga 2 juta rupiah untuk tiga strip berisi 10 tablet. dan cacat kongenital pada bayi sudah dipertimbangkan dalam diskusi dan kesimpulan. Karena pasien memiliki karakteristik yang sama yakni berusia 31 tahun. memiliki tuba falopi yang paten dan rongga uterus yang normal. 2. dan mempunyai suami dengan konsentrasi sperma yang normal.III. Namun efek samping yang diberikan juga tidak berbeda jauh antara keduanya. Apakah manfaat terapi tersebut melebihi harm dan biayanya? Ya. memang lebih mahal dibandingkan dengan Clomiphene (Profertil) seharga 170 ribu per 10 tablet.