You are on page 1of 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Glaukoma adalah penyebab utama kebutaan dimasyarakat berat. Diperkirakan di Amerika
Serikat ada 2 juta orang menderita glaukoma. Di antara mereka, hampir setengahnya
mengalami gangguan penglihatan, dan hampir 70.000 benar – benar buta, bertambah
sebanyak 5500 orang buta tiap tahun.
Bila glaukoma di diagnosis lebih awal dan ditangani dengan benar, kebutaan hampir
selalu dapat dicegah. Namun kebanyakan kasus glauma tidak bergejala sampai sudah terjadi
kerusakan ekstensif dan ireversibel. Maka pemeriksaan rutin dan skrining mempunyai peran
penting dalam mendeteksi penyakit ini. Dianjurkan bagi semua yang memiliki faktor resiko
menderita glaukoma dan yang berusia diatas 35 tahun menjalani pemeriksaan berkala pada
oftalmologis untuk mengkaji TIO, lapang pandang, dan kaput nervi optisi.
Glaukoma mengenai semua usia namun lebih banyak sesuai bertambahnya usia,
mengenai sekitar 2% orang berusia di atas 35 tahun. Resiko lainya adalah diabetes, orang
Amerika keturunan Afrika, yang mempunyai riwayat keluarga menderita glaukoma, dan
mereka yang pernah mengalami trauma atau pembedahan mata, atau yang pernah mendapat
terapi kortikostreroid jangka panjang.
Meskipun tak ada penanganan untuk glaukoma, namun dapat dikontrol dengan obat..
kadang diperlukan pembedahan laser atau konvensional (insisional). Tujuan penanganan
adalah untuk menghentikan atau memperlambat perkembangan agar dapat mempertahankan
penglihatan yang baik sepanjang hidup. Dapat dilakukan dengan menurunkan TIO. (Suzanne
C. Smeltzer, 2001 : 2004-2005)
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa definisi dari glaucoma?
2. Apa penyebab dari glaucoma?
3. Apa saja tanda dan gejala glaucoma?
4. Bagaimana pencegahan dan penatalaksaaan glaucoma?
5. Bagimana konsep asuhan keperawatan dengan glaucoma?

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Sistem Persepsi Sensori dan
memberikan penjelasan tentang teori dan konsep Asuhan Keperawatan glaucoma.
2. Tujuan Khusus
a) Mengetahui definisi dari glaucoma
b) Mengetahui penyebab dari glaucoma
c) Mengetahui saja tanda dan gejala glaucoma
d) Mengetahui pencegahan dan penatalaksaaan glaucoma
e) Mengetahui konsep asuhan keperawatan dengan glaucoma

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI GLAUKOMA
Glaukoma adalah Sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan
intraokular.( Barbara C Long, 2000 : 262 )
Glaukoma merupakan sekelompok penyakit kerusakan saraf optik(neoropati optik) yang
biasanya disebabkan oleh efek peningkatan tekanan okular pada papil saraf optik. Yang
menyebabkan defek lapang pandang dan hilangnya tajam penglihatan jika lapang pandang
sentral terkena.. (Bruce James. et al , 2006 : 95)
Glaukoma adalah penyakit mata yang ditandai ekskavasi glaukomatosa, neuropati saraf
optik, serta kerusakan lapang pandang yang khas dan utamanya diakibatkan oleh tekanan
bola mata yang tidak normal. (Sidarta Ilyas, 2002 : 239)
Glaukoma adalah suatu keadaan dimana tekanan bola mata tidak normal (N = 15-
20mmHg). (Sidarta Ilyas, 2004 : 135)
Glaukoma adalah kondisi mata yang biasanya disebabkan oleh peningkatan abnormal
tekanan intraokular ( sampai lebih dari 20 mmHg). (Elizabeth J.Corwin, 2009 : 382)
Glaukoma adalah kelainan yang disebabkan oleh kenaikan tekanan didalam bola mata
sehingga lapang pandangan dan visus mengalami ganggauan secara progresif. (Vera H .
Darling, 1996 : 88 ).
B. KLASIFIKASI DAN ETIOLOGI GLAUKOMA
Glukoma diklasifikasikan dalam 2 kelompok sudut terbuka dan sudut tertutup. Pada
glaucoma sudut terbuka, humor aquos mempunyai akses bebas ke jaringan trabekula dan
ukuran sudut normal. Pada glaucoma sudut tertutup iris menutup jaringan trebekula dan
membatasi aliran humor aquos keluar kamera anterior. Kategori ini dibagi lebih lanjut
menjadi glaucoma primer (penyebab tak diketahui, biasanya bilateral dan mungkin
diturunkan) dan glaukoma sekunder (penyebab diketahui).
Klasifikasi glaucoma meliputi yang berikut:
1. Glaukoma Primer
a. Glaukoma Sudut Terbuka
Merupakan sebagian besar dari glaukoma ( 90-95% ) , yang meliputi kedua mata.
Timbulnya kejadian dan kelainan berkembang secara lambat. Disebut sudut terbuka
karena humor aqueous mempunyai pintu terbuka ke jaringan trabekular. Pengaliran
dihambat oleh perubahan degeneratif jaringan trabekular, saluran schleem, dan
saluran yg berdekatan. Perubahan saraf optik juga dapat terjadi. Glaukoma Sudut
terbuka primer ditandai dengan atrofi saraf optikus dan kavitasi mangkuk fisiologis
dan defek lapang pandang yang khas. Glaukoma sudut terbuka, tekanan normal
ditandai dengan adanya perubahan meskipun TIO masih dalam batas parameter
normal.

trauma.darah .pus atau bahan lainnya.darah atau pigmen.atau trauma. Glaucoma sudut tertutup Peningkatan tahanan aliran humor akuos disebabkan oleh penyumbatan jaring- jaring trabekula oleh iris perifer.peningkatan tahanan tersebut dapat diakibatkan oleh penggunaan kortikosteroid jangka lama. penambahan cairan di ruang posterior atau lensa yang mengeras karena usia tua.jugularis superior vena kava atau sumbatan vena pulmonal juga dapat mengakibatkan peningkatan TIO. penenang.kondisi ini biasanya disebabkan oleh perubahan aliran humor akuos setelah menderita penyakit atau pembedahan. Gejala yang timbul dari penutupan yang tiba.tumor retrobulber.tumor intra okuler uveitis akibat penyakit seperti herpes simplek atau herpes zoster. menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor aqueous mengalir ke saluran schlemm. Glaukoma Sudut Tertutup Disebut sudut tertutup karena ruang anterior secara anatomis menyempit sehingga iris terdorong ke depan.penyakit teroid.glaucoma sudut terbuka dapat terjadi setelah ekstraksi katarak. pencahayaan yang kurang terang. Dilatasi bias pula terjadi akibat rasa takut atau nyeri.tiba dan meningkatnya TIO.atau penyumbatan jarring-jaring trabekula oleh material lensa.dan penglihatan yang kabur.aniridia. Dilatasi pupil dapat terjadi saat berada diruangan gelap atau obat yang menyebabkan dilatasi akut pupil.bronkodilator. Penempelan iris menyebabkan dilatasi pupil. bila tidak segera ditangani akan terjadi kebutaan dan nyeri yang hebat.pori-pori trabekula dapat tersumbat oleh setiap jenis debri.kanalis schlemm.selain itu.kapsulotomi posterior.viterktomi.penyebab posterior terjadi pada penyumbatan pupil akibat lensa atau IQL menghambat aliran humor akuos ke kamera anterior.dan penyakit endotel. Glaukoma sudut terbuka Peningkatan TIO disebabkan oleh peningkatan tahanan aliran keluar humor akuos melalui jarring-jaring trabekuler. b. 2.bahan fispo elastis(digunakan pada pembedahan katarak).keterlibatan anterior terjadi setelah terbentuknya membrane pada glaucoma pada neuro vaskuler. dan system evissklerar.fistula arteriovenosa.pennggian tekanan vena episklelar akibat keadaan seperti luka bakar kimia. Berdasarkan lamanya : . Pergerakan iris ke depan dapat karena peningkatan tekanan vitreus. anti Parkinson). atau berbagai obat topical atau sistemik (vasokontriktor . Aktifitas seperti membaca yang memerlukan gerakan ensa kedepan dan terapi miosis juga dapat merupakan factor presipitasi.implantasi TIO (khususnya lensa kamera anterior. Glaukoma sekunder a. dapat berupa nyeri mata yang berat.)penguncia sclera. b.

9) Pemeriksaan funduskopi sukar dilakukan karena terdapat kekeruhan media penglihatan. ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaab gonoskopi setelah pengobatan medikamentosa. Glaukoma kronik . 7) Bilik mata depan sangat dangkal dengan efek tyndal yang positif. lakukan operasi segera. Glaukoma akut a. Dievaluasi tekanan intraokuler (TIO) dan keadaan mata. Perimetri. Bila TIO tetap tidak turun. Sebelumnya berikan infus manitol 20% 300-500 ml. Bentuk sekunder sering disebabkan hifema. menyerang pasien usia 40 tahun atau lebih. Faktor Predisposisi Pada bentuk primer. Penatalaksanaan Penderita dirawat dan dipersiapkan untuk operasi. 4) Terdapat halo atau pelangi di sekitar lampu yang dilihat. dan gangguan emosional. 3) Tajam penglihatan sangat menurun. 5) Konjungtiva bulbi kemotik atau edema dengan injeksi siliar. berdiam lama di tempat gelap. dan Tonografi dilakukan setelah edema kornea menghilang. c. Etiologi Dapat terjadi primer. iridektomi atau filtrasi. 10) Tekanan bola mata sangat tinggi. Gonioskopi. uveitis dengan suklusio/oklusio pupil dan iris bombe. Pemeriksaan Penunjang Pengukuran dengan tonometri Schiotz menunjukkan peningkatan tekanan. Rasa sakit ini mengenai sekitar mata dan daerah belakang kepala. Definisi Glaukoma akut adalah penyakit mata yang disebabkan oleh tekanan intraokuler yang meningkat mendadak sangat tinggi. 8) Pupil lebar dengan reaksi terhadap sinar yang lambat. akibat timbulnya reaksi radang uvea. kadang-kadang dapat mengaburkan gejala glaukoma akut. b. Jenis operasi. faktor predisposisinya berupa pemakaian obat-obatan midriatik.1. 2. atau secara sekunder sebagai akibat penyakit mata lain. 2) Akibat rasa sakit yang berat terdapat gejala gastrointestinal berupa mual dan muntah. atau pasca pembedahan intraokuler. e. f. 11) Tekanan bola mata antara dua serangan dapat sangat normal. d. yaitu timbul pada mata yang memiliki bakat bawaan berupa sudut bilik mata depan yang sempit pada kedua mata. katarak intumesen atau katarak hipermatur. luksasi/ subluksasi lensa. 60 tetes/menit. Manifestasi klinik 1) Mata terasa sangat sakit. 6) Edema kornea berat sehingga kornea terlihat keruh. Yang paling banyak dijumpai adalah bentuk primer.

B. Penampilan bola mata seperti normal dan sebagian tidak mempunyai keluhan pada stadium dini. Pada stadium lanjut keluhannya berupa pasien sering menabrak karena pandangan gelap. depresi bagian nasal. arteriosklerosis. Definisi Glaukoma kronik adalah penyakit mata dengan gejala peningkatan tekanan bola mata sehingga terjadi kerusakan anatomi dan fungsi mata yang permanen. hingga kebutaan permanen. terapi ditingkatkan. atau skotoma busur. lebih kabur. MANIFESTASI KLINIK GLAUKOMA 1. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan tekanan bola mata dengan palpasi dan tonometri menunjukkan peningkatan. Dianjurkan berolahraga dan minum harus sedikit-sedikit. Etiologi Keturunan dalam keluarga. Pemeriksaan lapang pandang menunjukkan lapang pandang menyempit. Penatalaksanaan Pasien diminta datang teratur 6 bulan sekali. miopia tinggi dan progresif. Penyakit berkembang secara lambat namun pasti.meskipun hasil pengukuran tekanan bola mata dalam batas normal. dinilai tekanan bola mata dan lapang pandang. Nilai dianggap abnormal 21-25 mmHg dan dianggap patologik diatas 25 mmHg. Pada funduskopi ditemukan cekungan papil menjadi lebih lebar dan dalam. lapang pandang sempit. Glaukoma Sudut Terbuka 1) Mata tampak normal 2) Penderita pun merasa matanya normal 3) Kecuali pada stadium lanjut à Lapang pandang sudah sangat sempit b. Bila lapang pandang semakin memburuk. dan terdapat perdarahan papil. Glaukoma Sudut Tertutup 1) Hiperemia silier + konjungtiva à mata merah ++ 2) Kornea suram à visus ¯¯ 3) Halo disekitar cahaya 4) Atrofi iris sekitar pupil à reflek pupil – 5) Pupil lebar (paralise otot sfingter pupil) . a. dinding cekungan bergaung. Glaukoma Primer a. warna memucat. e. Manifestasi klinik Gejala-gejala terjadi akibat peningkatan tekanan bola mata. b. c. diabetes melitus. tangga Ronne. d. pemakaian kortikosteroid jangka panjang.

saluran schleem. Disebut sudut terbuka karena humor aqueous mempunyai pintu terbuka ke jaringan trabekular. penambahan cairan di ruang posterior atau lensa yang mengeras karena usia tua. Glukoma Sekunder a. muntah 2. Pengaliran dihambat oleh perubahan degeneratif jaringan trabekular. Gejala yang timbul dari penutupan yang tiba. Gangguan lapang pandang c. Disebut sudut tertutup karena ruang anterior secara anatomis menyempit sehingga iris terdorong ke depan. Perubahan saraf optik juga dapat terjadi. menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor aqueous mengalir ke saluran schlemm. PATHWAY Usia > 40 th DM Kortikosteroid jangka panjang . Besarnya aliran keluar humor aquelus melalui sudut bilik mata depan juga bergantung pada keadaan kanal Schlemm dan keadaan tekanan episklera. Jika terjadi peningkatan tekanan intraokuli lebih dari 23 mmHg. diperlukan evaluasi lebih lanjut. Pembesaran bola mata b. Nyeri didalam mata C. Tekanan intraokular dianggap normal bila kurang dari 20 mmHg pada pemeriksaan dengan tonometer Schiotz (aplasti). Pergerakan iris ke depan dapat karena peningkatan tekanan vitreus. PATOFISIOLOGI Tingginya tekanan intraokular bergantung pada besarnya produksi humor aquelus oleh badan siliari dan mengalirkannya keluar.tiba dan meningkatnya TIO D. dan saluran yg berdekatan. 6) Nyeri mata dan sekitarnya 7) Mual.

Pemeriksaan tajam penglihatan Pemeriksaan tajam penglihatan bukan merupakan pemeriksaan khusus untuk glaukoma. Miopia Trauma mata Obstruksi jaringan peningkatan tekanan Trabekuler Vitreus Hambatan pengaliran pergerakan iris kedepan Cairan humor aqueous Nyeri TIO meningkat Glaukoma TIO Meningkat Resiko Gangguan saraf cidera optik Perubahan penglihatan perifer Anxietas Penurunan persepsi sensori penglihatan Kurang pengetahuan operatif Iridektomi Kebutaan Gangguan Perawatan nyeri diri E. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. .

Dpat digunakan dalam keadaan terpaksa dan tidak ada alat lain. Tonomerti Palpasi atau Digital Cara ini adalah yang paling mudah. a.5 – 7 mmHg 2. hingga apa yang kita palpasi adalah tarsus dan ini selalu memberi kesan perasaan keras. sebab menutup mata mengakibatkan tarsus kelopak mata yang keras pindah ke depan bola mata. jari lainnya menekan secara bergantian.5 + 2. Tinggi rendahnya tekanan dicatat sebagai berikut : N : normal N + 1 : agak tinggi N + 2 : untuk tekanan yang lebih tinggi N – 1 : lebih rendah dari normal N – 2 : lebih rendah lagi. sebab cara mengukurnya dengan perasaan jari telunjuk.5 – 20.75 mmHg TIO Tinggi 1) < 21 mmHg Hipotoni 1) < 6. Dikenal empat cara tonometri. GONIOSKOPI . tetapi juga yang paling tidak cermat. Dilakukan dengann palpasi : dimana satu jari menahan. untuk mengetahui tekanan intra ocular yaitu : 1) Palpasi atau digital dengan jari telunjuk 2) Indentasi dengan tonometer schiotz 3) Aplanasi dengan tonometer aplanasi goldmann a) Nonkontak pneumotonometri b) Portable electronic applanation (co: Tonopen) TIO Normal 1) Berkisar :10. Mata tidak boleh ditutup.5 mmHg 2) Rata-rata :15. dan seterusnya 3. Tonometri Tonometri diperlukan untuk mengukur tekanan bola mata. Caranya adalah dengan dua jari telunjuk diletakan diatas bola mata sambil pendertia disuruh melihat kebawah.

yang meliputi daerah luas 30 derajat. (Suddart & Brunner. Obat digunakan untuk mengurangi TIO sebelum iridektomi laser. (Sidarta Ilyas. PENATALAKSANAAN Tujuan penatalaksanaan glaucoma adalah menurunkan TIO ke tingkat yang konsisten dengan mempertahankan penglihatan.2002) 1. pilihan berikutnya pada kebanyakan pasien adalah trabekuloplasti laser dengan pemberian obat tetap dilanjutkan. terapi diteruskan seumur hidup. Gonioskopi adalah suatu cara untuk memeriksa sudut bilik mata depan dengan menggunakan lensa kontak khusus. 5. 4. pembedahan konvensional dapat dipergunakan untuk mengontrol kerusakan progresif yang diakibatka oleh glaucoma. Dalam hal glaukoma gonioskopi diperlukan untuk menilai lebar sempitnya sudut bilik mata depan. . Farmakoterapi Terapi obat merupakan penanganan awal dan utama untuk penanganan glaucoma sudut terbuka primer. Apakah suatu pengobatan berhasil atau tidak dapat dilihat dari ekskavasi yang luasnya tetap atau terus melebar. Terapi obat. khususnya untuk mempertahankan keadaan papil saraf optik. sangat penting dalam pengelolaan glaukoma yang kronik. Papil saraf optik yang dinilai adalah warna papil saraf optik dan lebarnya ekskavasi. Meskipun program ini dapat diganti. 2002 : 242-248) E. Bila terapi ini gagal menurunkan TIO dengan adekuat. Pemeriksaan lapang pandang sentral : mempergunakan tabir Bjerrum. karena dalam tahap lanjut kerusakan lapang pandang akan ditemukan di daerah tepi. OFTALMOSKOPI Pemeriksaan fundus mata. Pemeriksaan lapang pandang perifer :lebih berarti kalau glaukoma sudah lebih lanjut. Glaucoma sudut tertutup dengan sumbatan pupil biasanya jarang merupakan kegawatan bedah. b. Penatalaksanaan bias berbeda bergantung pada klasifikasi penyakit dan responnya terhadap terapi. pembedahan laser. yang kemudian meluas ke tengah. Kerusakan – kerusakan dini lapang pandang ditemukan para sentral yang dinamakan skotoma Bjerrum. PEMERIKSAAN LAPANG PANDANG a.

Dan iris perifer tertarik menjauhi jarring-jaring trabekula.1%) banyak digunakan untuk menangani glaucoma sudut terbuka. Sebagai akibatnya. Penggunanan obat dilator pupil (midriatikum) merupakan kontraindikasi pada pasien glaucoma. iris mengencang. Contoh bahan perangsang adrenerik adalah epinefrin dan fenileprin hidriklorida. Tetes mata epinefrin (larutan 0. defekasi tidak teratur. karbakol) digunakan dalam penanganan glaucoma jangka pendek dengan penyumbatan pupil akibat efek langsungnya pada resptor parasimpatis iris dan badan silier. Pasien harus diberitahu mengenai kemungkinan efek samping tersebut. Kadang-kadang frekuens denyut jantung dan respirasi juga terpengaruh. Efek samping yang biasa terdapat pada pemakaian obat topical adalah pandangan kabur. Misalnya glaucoma yang disebabkan oleh terapi kortikosteroid ditangani dengan menghentikan pengobatan kortikosteroid. Antagonis Beta adrenergic merupakan obat topical yang paling banyak digunakan karena efektifitasnya pada berbagai macam glaucoma dan tidak menyebabkan efek samping yang biasa disebabkan oleh obat lain. pusing. asetilkolin klorida. dan menyebabkan kontriksi pembluh darah konjungtiva. Fenileprin (1%. yang biasanya menghilang setelah satu sampai dua minggu. 1%-4%. Perubahan ini memungkinkan humour aquous mencapai saluran keluar dan akibatnya terjadi penurunan TIO. dan terkadang terjadi batu ginjal.2. kehilangan nafsu makan. pandangan meremang. Obat sistemik dapat menyebabkan rasa kesemutan pada jari dan jari kaki. Pada glaucoma sudut terbuka digunakan obat golongan agonis adrenergic topical yang berfungsi menurunkan IOP dengan meningkatkan aliran keluar humour aquous. Bahan kolinergik topical (missal pilokartin hidroklorida. volume jaringan irisan pada sudut akan berkurang. menurunkan produksi humour aquous. Uveitis dengan glaucoma diterapi dengan bahan anti inflamasi. khususnya menjelang malam dan kesulitan memfokuskan pandangan. Namun pada beberapa kasus obat perlu dihentikan karena pasien tidak dapat mentoleransinya. Penanganan glaucoma sekunder ditujukan untuk kondisi yang mendasarinya begitu pula untuk menurunkan. Antagonis Beta adrenergic menurunkan TIO dengan menguragi pembentukan humour aquous.5%) sering . sfingter pupil akan berkontriksi. Kebanyakan obat mempunyai efek samping. memperkuat dilatasi pupil.

seperti yang terjadi setelah tauma. (Suddart & Brunner.2002) 3. Laser dapat digunakan pada berbagai prosedur yang berhubungan dengan penanganan glaucoma. (Suddart & Brunner. Inhibitor anhydrase karbonat missal asetalzolamid (Diamox) diberikan secara sistemik untuk menurunkan IOP dengan menurunkan produksi humour aquos. Iridektomi perifer atau sektoral dilakukan untuk mengangkat sebagaian iris untuk memungkinkan aliran humor aqueus dari kamera prosterior ke kamera anterior di indikasikan pada penanganan glaucoma dengan penyumbatan pupil bila pembedahan laser tidak berhasil atau tidak tersedia. . Digunakan untuk menangani glaucoma sudut terbuka jangka panjang dan menangani glaucoma sudut tertutup jangka pendek dan glaucoma yang sembuh sendiri. Juga dibutuhkan setelah iridektomi untuk mengontrol glaucoma residual. Bahan osmotic oral (gliserol atau intravena) misal manitol dapat menurunkan TIO dengan meningkatkan osmolaritas plasma dan menarik air dari mata ke dalam pembuluh darah. atau tidak dapat menurunkan TIO dengan adekuat. Dapat diberikan secara oral atau intravena selama serangan akut glaucoma. Prosedur filtrasi rutin berhubungan dengan keberhasilan penurunan TIO pada 80-90% pasien. digunakan untuk mendilatasi mata sebelum pemerikasaan fundus ovuli dan menangani uveitis. Digunakan untuk menurunkan TIO preoperative sehingga pembedahan dapat dilakukan dengan tekanan mata yang lebih normal. atau bila pasien tidak cocok untuk dilakukan bedah laser (misal pasien yang tak dapat duduk diam atau mengikuti perintah). atau bias juga dipergunakan bila terapi obat tidak bisa ditoleransi. Juga dapat menghindari perlunya pembedahan pada glaucoma transien. Diuretika osmotic. Bedah Konvesional Prosedur bedah konvesional dilakukan bila teknik laser tidak berhasil atau peralatan laser tidak tersedia. Obat hiperosmotik sangan berguna penanganan jangka pendek glaucoma akut.2002) 2. Bedah Laser Pembedahan laser untuk memperbaiki aliran humour aquous dan menurunkan TIO dapat diindikasikan sebagai penanganan primer untuk glaucoma.

2002. flap sclera ditutup kembali. PENGKAJIAN 1. akan terbentuk bleb (gelembung). dan erosi alparatus. Kemungkinan komplikasi implant meliputi pembentukan katarak. Tabung terbuka diimplementasikan ke kamera anterior dan menhubungkan ke mean pengaliran episklera. BAB III PEMBAHASAN A. infeksi kegagalan filtrasi. Dapat diobservasi pada pemeriksaan konjungtiva. hipotoni. pada mereka yang prosedur filtrasi gagal. dan konjungtiva dijahit rapat untuk mencegah kebocoran cairan aqueus. Prosedur seton meliputi penggunaan berbagai alat pintasan aqueus sintesis untuk menjaga kepatenan fistula pengaliran. Satu sekmen jaringan trabekula diangkat. Identitas . hifema (darah dikamera anterior mata). Trabulectomi (prosedur filtrasi) dilakukan untuk menciptakan saluran pengaliran baru melalui sclera. Alat ini sering digunakan pada TIO tinggi. Dilakukan dengan melakukan diseksi flap ketebalan setengah (half-tickness) sclera dengan engsel di limbus. (Suddart & Brunner. Trabulectomi meningkatkan aliran keluar humor aqueus dengan memintas struktur pengaliran yang alamiah. Ketika cairan mengalir melalui saluran baru ini. Komplikasi ditengah prosedur filtrasi meliputi hipotoni (TIO rendah yang tidak normal). diskompensasi kornea.

Umur. kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/ merasa diruang gelap (katarak). fotfobia (galukoma akut) bahan kaca mata/ pengobatan tidak memperbaiki penglihatan. c. kehilangan penglihatan perifer. penyakit lain yang sedang diderita (DM. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menggunakan oftalmaskop untuk mengetahui adanya cupping dan atrofi diskus optikus. b. Riwayat Penyakit Keluarga kaji apakah ada kelurga yang menglami penyakit glaucoma sudut terbuka primer. 2004) B. peningkatan air mata. sinar terang dapat menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer. Miopia tinggi) 4. riwayat trauma (terutama yang mengenai mata). Diskus optikus menjadi lebih luas dan . Pemeriksaan Fisik 1. b. Ras. 5. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengatakan matanya kabur dan sering menabrak. Keluhan UtamA Pasien biasanya mengeluh berkurangnya lapang pandang dan mata menjadi kabur b. mudah berganti topik. 1998). riwayat penggunaan antihistamin (menyebabkan dilatasi pupil yang akhirnya dapat menyebabkan Angle Closume Glaucoma). glaukoma primer terjadi pada individu berumur > 40 tahun. tampak lingkaran cahaya/ pelangi sekitar sinar. 2. kulit hitam mengalami kebutaan akibat glaukoma paling sedikit 5 kali dari kulit putih (dewit. dan berduka karena kehilangan penglihatan. Neurosensori Gejala : Gangguan penglihatan (kabur/ tidak jelas). Istiqomah. gangguan saat membaca 3. Tanda : pupil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berawan. a. (Indriana N. terutama yang beresiko besar mengalami trauma mata. a. Riwayat Kesehatan a. Riwayat Psikososial Riwayat psikososial mencakup adanya ansietas yang ditandai dengan bicara cepat. Arterioscierosis. Riwayat Penyakit Dahulu Adanya masalah mata sebelumnya atau pada saat itu. sulit berkonsentrasi dan sensitif. Pekerjaan.

. makanan atau cairan 5. Nyeri atau kenyamanan Gejala: ketidaknyamanan ringan atau mata berair ( glaucoma kronis). Lapang penglihatan : Penurunan mungkin disebabkan CSV. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah lengkap. karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma. Aktivitas Gejala: perubahan aktivitas biasanya atau hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan. Pemeriksaan lapang pandang perifer. Pengukuran tonografi : Mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12-25 mmHg) 4. karena anterior dangkal. d. Kartu mata Snellen/mesin Telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan) : Mungkin terganggu dengan kerusakan kornea. lensa. sakit kepala (glaucoma akut) 3. dalampada glaukoma akut primer.2004) 2. 2. 5. pada keadaan akut lapang pandang cepat menurun secara signifikan dan keadaan kronik akan menurun secara bertahap. Istiqomah. sedang yang gagal bereaksi terhadap cahaya (Indriana N. kornea keruh. kesalahan refraksi. atau penyakit syaraf atau penglihatan ke retina atau jalan optic. 6. aquous atau vitreus humor. mencatat atrofi lempeng optik. Nyeri tiba-tiba atau berat menetap atau tekanan pada dan sekitar mata. untuk mengetahui adanya inflamasi mata. Tes Provokatif : digunakan dalam menentukan tipe glaukoma jika TIO normal atau hanya meningkat ringan. Pemeriksaan oftalmoskopi:Mengkaji struktur internal okuler. massa tumor pada hipofisis/otak. dan mikroaneurisma. papiledema. sklera kemerahan. 7. Aqueus humor keruh dan pembuluh darah menjalar keluar dari iris. Pengukuran gonioskopi: Membantu membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glaukoma. dilatasi pupil. c. LED : Menunjukkan anemia sistemik/infeksi. perdarahan retina. Pemeriksaan melalui inspeksi. 4. 3. Gejala:mual atau muntah C.

tempat) Tujuan : Klien melaporkan kemampuan yang lebih untuk proses rangsang penglihatan dan mengomunikasikan perubahan visual. orang. 8.Memberikan rangsang sensori. kehilangan vitreus 6. pembatasan E. mengurangi . D. b. Klien mengindentifikasi dan menunjukkan pola-pola alternatif untuk meningkatkan penerimaan rangsang penglihatan Intervensi Rasional 1. 1. 2. 2. dan pemeriksaan lipid: Memastikan aterosklerosisi. Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan prognosis. Nyeri yang berhubungan dengan peningkatan tekanan intra okular. Pemeriksaan lapang pandang menurun. Kaji ketajaman penglihatan klien. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. kolesterol serum. EKG. PAK. Kriteria Hasil : a. 2. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Dekati klien dari sisi yang sehat. b. Penurunan persepsi sensori : Penglihatan yang berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan dan kejelasan penglihatan. tidak jelas. Subyektif : Menyatakan penglihatan kabur. Klien mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi penglihatan. Tes Toleransi Glukosa : menentukan adanya DM. Nyeri yang berhubungan dengan luka pascaoperasi 7. perdarahan. Objektif : a. Mengidentifikasi kemampuan visual klien. penurunan area penglihatan. 9. 4. Resiko cedera yang berhubungan dengan peningkatan TIO. Gangguan perawatan diri yang berhubungan dengan penurunan penglihatan. 5. 3. Penurunan persepsi sensori : Penglihatan yang berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan dan kejelasan penglihatan. Penurunan kemampuan identifikasi lingkungan (benda. Ansietas yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang operasi.

b. Tingkat konsentrasi klien berkurang. Meningkatkan kemampuan persepsi . dan ketakutan klien akan dan ancaman aktual terhadap diri. Umumnya faktor yang menyebabkan menyebabkan kecemasan. Sesuaikan lingkungan untuk optimalisasi perawatannya. Klien berpartisipasi dalam kegiatan pengobatan. . rasa nyeri dan penurunan lapang pandang menimbulkan ketakutan . penglihatan : 4. b. Intervensi Rasional 1. Kriteria Hasil : a. 3. c. Tujuan : Tidak terjadi kecemasan. sumber rangsangan. Terdapat perubahan pada tanda vital. faktor yang 1.Letakkan alat yang sering digunakan di dekat 5. Klien mengungkapkan kecemasan berkurang atau hilang. Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan prognosis. . terhadap stimulus lingkungan. Klien terlihat kebingungan dan selalu bertanya perihal tindakan operasi. klien glaukoma. Subyektif : Klien mengatakan takut tidak akan dapa melihat lagi setelah dilakukan tindakan operasi. Anjurkan penggunaan alternatif rangsang lingkungan yang dapat diterima : auditorik.Letakkan alat ditempat yang tetap. Memberi keakuratan penglihatan dan 4. .Hindari cahaya menyilaukan. 3. tekanan darah meningkat.Orientasikan klien terhadap ruang rawat. . tingkat kecemasan adalah kurangnya pengetahuan pengetahuan. Obyektif : a. 5. Pada penyakit. taktil. Meningkatkan kemampuan respons klien atau pada sisi mata yang lebih sehat. Identifikasi alternatif untuk optimalisasi rasa isolasi/terasing. Kaji derajat kecemasan. 2. sensori.Berikan pencahayaan cukup.

Orientasikan tentang penyakit yang 2. Beri informasi tentang penyakit yang 7. 5. dan tahapan penyakit. dan orientasi pengobatan masa berikutnya. menangis menahan nyeri. Berikan kesempatan pada klien untuk 3. lebih sakit untuk melihat. Klien mampu melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri. diet. Klien menyebutkan faktor-faktor yang dapat meningkatkan nyeri. Kriteria Hasil : a. kecemasan yang terjadi. Bantu klien mengekspresikan kecemasan perasaan dan pendapat dan menurunkan dan ketakutan dengan mendengar aktif. bagi klien. Subyektif : Mengatakan mata tegang. peran serta aktif klien dalam perawatan maupun mengorientasikan bagaimana kondisi 5. seperti riwayat kesehatan. Terangkan setiap prosedur yang dilakukan penyakit yang sama menimpa klien yang dan jelaskan tahap perawatan yang akan lain. 4. 3. Nyeri yang berhubungan dengan peningkatan tekanan intra okular. Sering memegangi mata. prognosis. Intervensi Rasional 1. Nyeri glaukoma umumnya sangat parah . Memberi kesempatan klien untuk berbagi 6. ketegangan pikiran. Dukungan psikologis dapat berupa penguatan tentang kondisi klien. Kaji derajat nyeri setiap hari atau sesering 1. 2. b. Berikan dukungan psikologis. Mengorientasikan pada penyakit dan dialami oleh klien yang berhubungan kemungkinan realistik sebagai dengan kebutaan. Nyeri hebat. konsekuensi penyakit dan menunjukan realitas. b. Jangan memberikan keamanan perawatan yang akan dijalani klien. Meringis. palsu seperti mengatakan penglihatan akan pulih atau nyeri akan segera hilang. foto toraks. 3. Objektif : a. 7. 6. Klien dapat mengidentifikasi penyebab nyeri. c. Menimbulkan rasa aman dan perhatian bertanya dengan penyakitnya. 4. Meningkatkan pemahaman klien akan dialami klien. utama. EKG. dijalani. Tujuan : Nyeri berkurang. Mengurangi rasa ketidaktahuan dan pemeriksaan fisik. Gambarkan secara objektif tahap pengobatan harapan proses pengobatan. sedasi operasi dll. hilang atau terkontrol.

Mengangkat benda berat pada klien. tekanan darah. Perubahan tanda vital peningkatan nadi. Klien mengungkapkan kecemasan minimal atau hilang. . kopi. Klien berpartisipasi dalam kegiatan persiapan operasi Intervensi Rasional . Mengatakan takut dioperasi b. Biasanya analgetik yang diberikan adalah kelompok narkotik/ sedatif. Batuk 5. Untuk menurunkan sensasi nyeri dan memblokir sensasi nyeri menuju otak. yang 3. Terangkan penyebab nyeri dan faktor/ 2. . frekuensi pernapasan b. b. berikan obat analgetik. Teknik ini umumnya efektif saat nyeri tidak sangat mengganggu klien. mungkin. 4. Penggunaan kafein (rokok. Penyebab munculnya nyeri adalah tindakan yang dapat memicu nyeri. Untuk mencegah peningkatan TIO lebih lanjut. Anjurkan klien untuk menghindari dapat meningkat akibat dipicu oleh : perilaku yang dapat memprovokasi nyeri. . 2. 4. Ajarkan tindakan distraksi dan relaksasi . Tidur pada sisi yang sakit . Sering menanyakan tentang operasi Objektif : a. Hubungan seks . Gerakan kepala tiba-tiba . 3. teh) . terutama pada glaukoma sudut tertutup. Mengejan (valsalva maneuver) 4. Secara kolaboratif. Analgetik berfungsi untuk meningkatkan ambang nyeri. 5. Subyektif : a. Ansietas yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang operasi. peningkatan tekanan intraokular. jika diperlukan. Menunduk/ kepala lebih rendah dari pinggang . wajah murung. Tampak gelisah. Penggunaan obat kortikosteroid. sering melamun Tujuan : Tidak terjadi kecemasan Kriteria Hasil : a.

memerlukan waktu 6 bulan atau lebih. pembedahan. Klien tidak melakukan aktivitas yang meningkatkan resiko cedera Intervensi Rasional 1. kehilangan vitreus. Tempatkan klien pada tempat tidur yang 2. Perilaku tidak terkontrol b. Informasikan ketegangan. Informasi tentang perbaikan bahwa perbaikan penglihatan tidak terjadi penglihatan bertahap diperlukan untuk secara langsung. Meningkatkan pemahaman tentang pasca operasi. Keinginan untuk memegang mata b. Berikan waktu untuk Berbagi perasaan membantu menurunkan mengekspresikan perasaan. dan sikap gambaran operasi untuk menurunkan yang harus dilakukan klien selama masa ansietas. 1. Istirahat mutlak diberikan 12-24 jam pasca . Kecenderungan memegang darah operasi Tujuan : Tidak terjadi cedera mata pascaoperasi Kriteria Hasil : a. Subyektif : a. Manfaat operasi. Menyatakan nyeri sangat Obyektif : a. tetapi bertahap sesuai antisipasi depresi atau kekecewaan setelah penurunan bengkak pada mata dan fase operasi dan memberikan harapan akan perbaikan kornea.dan 1. perdarahan. Resiko cedera yang berhubungan dengan peningkatan TIO. 1. 2. Meningkatkan kerjasama dan pembatasan pembatasan aktifitas dan pembalutan yang diperlukan. Jawab pertanyaan khusus tentang 2. Diskusikan tentang rasa sakit. mata. Meningkatkan kepercayaan dan kerjasama. Perbaikan penglihatan hasil operasi. operasi. 2. Jelaskan gambaran kejadian pre. Klien menyebutkan faktor yang menyebabkan cedera b. Intervensi Pasca-Operatif 5.

hiperemia. Objektif : Gelisah. membatasi pergerakan mendadak/ tiba- tiba serta menggerakkan kepala berlebih. Klien mendemonstrasikan teknik penurunan nyeri b. Ajarkan klien untuk menghindari 4. 3. Normalnya. pasca operasi antara lain : . Bantu aktifitas selama fase istirahat. cedera. Mencegah/ menurunkan risiko komplikasi Ambulasi dilakukan dengan hati-hati. Intervensi Rasional 1. bilik mata depan menonjol. Berbagai kondisi seperti luka menonjol. 3. mual dan muntah. Anjurkan untuk melaporkan kurang dari 5 hari setelah operasi dan . Mengejan ( valsalva maneuver) . Kriteria hasil : a. Membungkuk terlalu lama . 6. nyeri yang tidak berkurang mungkan menunjukan cedera mata pasca dengan pengobatan. lebih rendah dan anjurkan untuk operasi. dan terkontrol. kecenderungan memegang daerah mata. serta hipopion mendadak. hilang. 4. Amati kondisi mata : luka menonjol. Kaji derajat nyeri setiap hari. 5. 1. Batuk 5. Menggerakan kepala mendadak . Dilakukan setiap 6 jam asca operasi atau seperlunya. Nyeri yang berhubungan dengan luka pascaoperasi Subyektif : Mengatakan nyeri/tegang. operasi. Klien melaporkan nyeri berkurang atau hilang. nyeri bilik mata depan menonjol. Tindakan yang dapat meningkatkan TIO tindakan yang dapat menyebabkan dan menimbulkan kerusakan struktur mata cedera. nyeri mendadak. nyeri terjadi dalam waktu 2. Tujuan : Nyeri berkurang.

mengurangi nyeri. 5. pembatasan aktivitas pascaoperasi. Gangguan perawatan diri yang berhubungan dengan penurunan penglihatan. melakukan gerakan tiba-tiba yang dapat 2. Lakukan tindakan kolaboratif dalam 3. batuk. Subyektif : Mengatakan takut melaukan aktivitas tertentu. memberikan memicu nyeri. membungkuk. Pergerakan terbatas. Objektif : a. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi. pasca operasi. Nyeri mendadak 3. Tujuan: Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi Kriteria hasil .Klien mendapatkan bantuan parsial dalam pememnuhan kebutuhan diri. bantuan total diperlukn bagi klien. Tubuh tidak terawat. Klien memeragakan perilaku perawatan diri secara bertahap Intervensi Rasional 1. a. mengucek mata. Klien dianjurkan untuk istiraht ditempat pembatasan aktivitas selama fase tidur pada 2-3 jam peratama pascaoperasi pascaoperasi atau 12 jam jika ada komplikasi. . b. hanya ditempat tidur. Selama 2. meningkatkan nyeri seperti gerakan tiba- tiba. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan fase ini. 5. Anjurkan pada klien untuk tidak menunjukan peningkatan TIO masif. Terangkan pentingnya perawatan diri dan 1. psikologis. perkembangan nyeri setiap hari atau berangsur menghilang. rasa aman untuk peningkatan dukungan 4. kotor. Beberapa kegiatan klien dapat pemberian analgesik topikal/ sistemik. b. 7. Mengurangi ketegangan. dan mengejan. Mengurangi nyeri dengan meningkatan ambang nyeri. Nyeri dapat segera saat terjadi peningkatan nyeri meningkat sebab peningkatan TIO 2-3 hari mendadak. 4. Meningkatkan kolaborasi .

Memberi asuhan keperawatan langsung 4. Tidak terjadi cedera mata pascaoperasi . IMPLEMENTASI Implementasi merupakan komponen dari proses asuhan keperawatan adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan. Nyeri berkurang. Implementasi dari rencana asuhan keperawatan mengikuti komponen perencanaan dari intervensi keperawatan. Memenuhi kebutuhan perawatan diri 3. Mengonsulnya dan memberikan penyuluhan kepada klien dan keluarga 3. Secara bertahap. 2010 : 77-86 ) F. Klien mendapatkan kemampuan yang lebih untuk proses rangsang penglihatan dan mengomunikasikan perubahan visual.2005) G. 3. Implementasi yang dilaksanakan meliputi : 1. libatkan klien dalam 3. kontrol klinis dilakukan dengan menggunakan indikator nyeri mata pada saat melakukan aktivitas ( Anas Tamsuri. Tidak terjadi kecemasan. perawatan diri 2. Melibatan klien dalam aktivitas perawatan memenuhi kebutuhan diri dirinya dilakukan bertahap dengan berpedoman pada prinsip bahwa aktivitas tersebut tidak memprovokasi peningkatan TIO dan menyebabkan cedera mata. Tidak terjadi kecemasan 5. Mengawasi dan mengevaluasi kerja anggota staf medis lain (Perry & Potter. 4. 2. hilang atau terkontrol. Membantu aktivitas klien sehari-hari 2. EVALUASI Berdasarkan intervensi keperawatan yang telah dibuat maka hasil yang diharapkan adalah : 1.

dll. sakit kepala . dan terkontrol. B. hilang. nyeri. Komplikasi dari glaucoma adalah kebutaan. yang secara bertahap menyebabkan penglihatan pandangan mata semakin lama akan semakin berkurang sehingga akhirnya mata akan menjadi buta. Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi. Penyebab tergantung dari klasifikasi glaucoma itu sendiri tetapi pada umumnya disebabkan k arena aliran aqueus humor terhambat yang bisa meningkatkan TIO. SARAN . 6. Penatalaksanaannya dapat dilakukan pembedahan dan obat-obatan. lapang pandang menurun. 7. Tanda dan gejalanya kornea suram. KESIMPULAN Glaukoma adalah salah satu jenis penyakit mata dengan gejala yang tidak langsung. Hal ini disebabkan karena saluran cairan yang keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan membesar dan bola mata akan menekan saraf mata yang berada di belakang bola mata yang akhirnya saraf mata tidak mendapatkan aliran darah sehingga saraf mata akan mati. BAB IV PENUTUP A. Nyeri berkurang. Glaucoma diklasifikasikan berdasarkan etiologi dan berdasarkan mekanisme peningkatan tekanan intra okuler.

Klasifikasi dan Diagnosis Banding Penyakit Mata. 2005. 2009. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.Prose. 2002. Bruce. 2004. 2000. Ilmu Perawatan Mata. Buku ajar Fundamental Keperawatan Konsep. tetapi hanya mempertahankan fungsi penglihatan yang masih ada. Yogyakarta : Yayasan Esentia Medika. Corwin..Jakarta : EGC Perry & Potter. Jakarta : CV. Kapita Selekta Kedokteran. Sagung Seto. Sidarta. Ilyas. Ilyas. Ed. Sidarta. Ed. Brunner & Suddarth. Mansjoer. 1991. dan Praktik Edisi 4. Klien yang mengalami glaukoma harus mendapatkan gambaran tentang penyakit serta penatalaksanaannya. Sidarta Ilyas. efek pengobatan. Sagung Seto. 1996. Jakarta : EGC. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan pendokumentasian perawatan pasien. 2006. Ramatjandra. Jakarta : EGC . Jakarta : Erlangga. Vera H. Darling. Jakarta : Media Arsculapiks. Pendidikan kesehatan yang diberikan harus menekankan bahwa pengobatan bukan untuk mengembalikan fungsi penglihatan . Buku saku Patofisiologi. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Ilmu Penyakit Mata. Ilyas. Jakarta : EGC. Ed 3. Jakarta : CV. 3. DAFTAR PUSTAKA Arief. Elizabeth J. James. marilyn E. Doungoes. dan tujuan akhir pengobatan itu. Lecture Notes : Oftalmologi. . Perawatan Mata. 1991. 2002. 2. 2000.

Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Diagnosa Medis Glaukoma.2012.com/2012/01/13/asuhan- keperawatan-pada-pasien-dengan-glaukoma/ di akses tanggal 16 Mei 2014 jam 11.00 WIB Lina Ayu Pramatasari.Frida Simanjutak.tr/2012/05/asuhan-keperawatan- pada-klien-dengan. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GLAUKOMA.00 WIB .(online) http://fridasimanjuntak.blogspot.html/ di akses tanggal 16 Mei 2014 jam 11. 2012. (online) http://linaayupramatasari.wordpress.com.