You are on page 1of 10

Batu tempatku berdiri ini masih sama seperti dulu, tak terkikis dengan hantaman

ombak yang berulang kali menerpa. Sama seperti ingatanku akan kenangan-kenangan
yang ada di pantai ini, di batu ini. Seperti dulu, suara ombak adalah favoritku,
aroma laut seperti mengantarku kembali ke masa lalu saat laut ini masih bersih
tanpa ada kapal-kapal pariwisata seperti sekarang. Kupejamkan mata dan kurasakan
angin menerpa lembut raga yang sudah mulai menua dimakan oleh waktu ini. Suaramu
sayup-sayup terdengar di telingaku, aku tau ini tidak nyata, hanya ilusi yang
sengaja laut berikan padaku untuk tetap mengenangmu meskipun telah empat puluh
tahun berlalu. Suaramu itulah yang membawaku kembali ke tempat ini, tempat kenangan
kita dulu.

�Hey, Agam! Ah payah kau, lari saja lama sekali,� Aling yang sudah berdiri dengan
gagahnya di atas batu tempat kita biasa menghabiskan sore, meneriakiku supaya
berlari lebih cepat. Aling memang seorang perempuan, tapi jangan diragukan lagi,
larinya bagaikan maling, gesit dan cepat sekali. �Cepatlah! Lihat, airnya jernih
sekali,� teriaknya sekali lagi. �Kamu kan tau, Ling, aku tidak bisa lari cepat,�
jawabku sambil terengah-engah. �Makanya olahraga dong, kamu di rumah saja sih
kerjaannya, jadi sekalinya lari langsung capek begini,� aku tidak sempat lagi
menanggapi komentar Aling. Aku langsung terduduk di atas batu yang besar ini.
Bentuknya hampir mirip karang, tidak banyak orang yang tau lokasi batu ini karena
tempatnya yang jauh dari keramaian pantai. Dari batu ini, aku dan Aling sering
menghabiskan sore sambil melihat matahari terbenam. Airnya yang jernih dan ombaknya
yang hangat membuat kami senang berlama-lama di sini meski hanya sekedar duduk
mengobrol atau memungut sampah yang mengambang di permukaan.

Entah aku sedang bermimpi atau tidak, yang jelas saat aku terbangun aku sudah
berada di ruangan yang asing, ini bukanlah kamarku. Ruangan ini sangat besar dengan
beberapa figura yang terpasang rapi di setiap dindingnya, membuat kamar mewah ini
semakin mempesona. Sebuah pintu kaca hitam yang mampu memantulkan bayangan diriku,
kuperhatikan diriku, sebuah gaun merah maron selutut telah melekat di tubuhku,
menggantikan pakaianku sebelumnya, tak lupa sebuah syal juga sudah terlilit di
leherku membuat udara dingin di luar sana sedikit tak terasakan.

Tiba tiba pintu itu mulai terbuka, sesosok laki laki dengan jubah hitamnya mulai
mendekatiku.
�Bagaimana keadaanmu via sayang?� Tanya laki laki itu seraya tersenyum padaku.
�Maaf, Apa kita sebelumnya saling kenal?� Kulontarkan sebuah pertanyaan yang sedari
tadi sudah kutahan namun akhirnya terucapkan juga. Ia nampak menautkan sebelas
alisnya dengan senyuman yang masih bertahan di bibir seksinya itu.
�aku tak mengenalnya jadi seharusnya ia juga tak mengenalku bukan?, tapi kenapa ia
tau namaku dan memanggilku dengan sebutan sayang?� Pikirku.
�Ternyata benar, kau melupakanku, tidak hanya itu kau juga melupakan kodratmu!�
Aku terbelalak dengan kalimatnya,
�Maksud kamu?�
�Aku adalah kekasihmu, namun kau mati saat pertempuran antara bangsa vampire dengan
drakula, dan itulah hari yang paling buruk bagiku, tapi kau akan terlahir kembali
setelah 100 tahun kematianmu, aku menunggu saat itu datang dimana kau akan terlahir
sebagai manusia, aku terus menjagamu hingga kekuatan kekuatan alami dalam dirimu
muncul seperti sekarang, dan setelah kemunculan kekuatanmu itu kau tidak bisa lagi
menjadi manusia sejati karena sebagian jiwamu adalah vampire, makanya aku membawamu
ke kastilku!� Jelasnya panjang lebar dengan mengenggam tanganku, aku tersontak
mendengar semua kalimat kalimat yang keluar dari mulutnya itu. Sungguh aku benar
benar tak percaya.
�Aku adalah manusia, tak ada sedikitpun jiwa vampire dalam diriku!� Elakku dengan
melepas genggamannya.

�Mengapa? Ceritakan padaku apa yang terjadi. semuanya menampakkan kebahagiaan yang berseri-seri. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata. Walau dia tidak ingin mencurahkan isi hatinya padaku. namun aku menganggapnya sebagai anak sendiri. Aku ingin gadis itu menceritakan kisah dari hidupnya yang menjadikan alasan sehingga wajahnya dapat redup seperti itu. jika hujan turun maka aku bisa menumpahkan semua isi hatiku tanpa ada yang melihat. berbeda dengan vampire jika ia terluka. Jika dia anakku. kupu-kupu terbang mengitari bunga beraroma harum dan berwarna indah. jika manusia biasa terluka. Hari ini. aku bisa memberi solusinya. ia terdiam memandang langit yang cerah. Dia juga tergolong gadis yang pandai dan tahu artinya malu. Berbeda 360 derajat dari cuaca hari ini. berusaha menjadi ayah dari gadis itu. aku tahu dia sedang mengalami masalah yang berat. awan menghiasi langit yang biru.� tuturku lemah lembut. gadis cantik?� tanyaku membelai rambutnya. Padang rumput yang luas. �Karena aku akan malu jika aku meneteskan air mata ditengah cuaca yang cerah ini. Aku kembali membelai rambutnya. gadis manis melangkah lunglai menuju arah yang tidak pasti. maka luka itu akan menimbulkan sakit dan juga bekas belum lagi penyembuhannya memakan waktu yang lama. Beralaskan tanah berwarna kecolekatan. Tidak ada rumput yang layu. kendaraan bersatu padu di jalan raya. matanya menunjukkan makna yang dalam. Aku tersenyum memandang gadis mungil yang tergolong cantik itu. Sejenak. Aku memperhatikan sekilas. Matahari bersinar terang. Gadis itu berambut panjang berwarna kecokelatan yang berkilau. matanya memerah. �Ulurkan tanganmu. masih seperti tadi wajahnya mendung.� aku menghela napas dan kembali melontarkan senyum. Jika dipandang. �Ada apa dengan dirimu. Mengapa gadis cantik itu tampak berbeda? Tampak berbeda dari makhluk hidup lainnya yang dengan riang bahagia menjalankan aktivitas biasa. Ia mulai menjentikkan jemarinya dan tak lama seorang wanita muncul entahh dari mana. Namun. maka luka itu akan sembuh dengan sendirinya tanpa berbekas atau menimbulkan rasa sakit dan luka itu menghilang sepenuhnya hanya dalam kedipan mata!� �Oke mari kita lakukan!� Suasana siang sangatlah bahagia. Aku terus mengikutinya. �Aku menanti datangnya hujan� ujarnya berusaha sedatar mungkin. jika disentuh pasti lembut. tidak ada sunggingan senyum yang menghiasi wajah mungilnya. aku bisa menunjukkannya padamu!!� �Oke kita buktikan semuanya!� Ucapku geram. Namun. aku akan bangga padanya. Jangan malu-malu. Aku menghentikan langkah kakiku tepat di sebelah gadis itu. Mereka akan memandangku. Wajahnya redup. apa kamu ingin membuktikannya?. sangatlah asri berwarna hijau muda. Gadis itu tidak banyak bicara. ia membawa sebuah pisau.�Percayalah via. sehingga aku tertarik untuk mengikutinya. wajahnya datar. cuaca cerah begitu pula suasana hati semua makhluk hidup. dia adalah gadis yang cantik. gadis kecil itu akan segera mengalirkan air mata dari pelupuk matanya. semua makhluk hidup menjalankan aktivitasnya dengan lancar. Kulitnya berwarna putih dan bersih. sayang. Walau aku tahu. Rambutnya acak-acakan. Burung berkicau merdu. Namun. bebannya tidak dia tumpahkan dari hati kecilnya saat semua riang bahagia. Mungkin. aku memandangnya kejauhan di sisi samping. sehingga ia berhenti di sebuah pohon beringin yang besar. .

maka dari itu setelah kekuatanmu muncul bau dari tubuhmu sangatlah khas dan berbeda dari vampire lain jadi aku membawamu kemari. �Minumlah ini!� Roy menyodarkan segelas air putih untukku �Aku pikir kau akan menyodorkanku darah. agar kau bisa menyamarkan baumu supaya bangsa vampire maupun serigala tidak memangsamu. kamu bilang kamu membuat ini untukku supaya bangsa vampire dan drakula tidak memangsaku. Aku mengucek kedua mataku. �Siapa bilang ini air putih. siapa yang sanggup seperti itu?. bagaimana tidak? Roy sudah menungguku 100 tahun lamanya. dan bangsa drakula ingin membunuhmu karena mereka takut akan punah jika ada vampire yang bisa menggigitmu. tapi aku tidak pernah meminumnya. �Aku khusus membuat ramuan ini untukmu sayang. Perlahan ia mulai menggores tanganku dengan pisau itu. dengan kata lain kamu adalah manusia setengah vampire dan tidak semua vampire yang mati akan hidup lagi. minumlah ini. Aku menepuk pundak mungilnya. Ia mulai memelukku sangat erat. Cerpen Karangan: Tita Larasati Tjoa Facebook: Tita Larasati Seorang gadis kelahiran tahun 2005. membuatku sedikit merinding dan menutup mataku. Perlahan. mungkin ia belum menggoresnya. Apa yang ia katakan benar. namun sebenarnya ia sedang asyik menumpahkan isi hatinya. doanya terkabul. bagiku itu wajar. dari situ aku mulai memberanikan diri membuka mataku. karena kamu adalah salah satu putri dari kerajaan vampire maka peraturan itu berlaku untukmu. Aku menatap langit yang kini mendung. tak kusangka ia mulai tertawa. namun aku mulai bertanya akan sesuatu. �Tunggu. ia juga harus menunggu 17 tahun hingga kekuatan vampireku muncul terlebih lagi memori tentangnya dalam ingatanku sama sekali tak ada. aku mulai memberanikan diri mengambil gelas itu. wajahnya tidak terlihat lagi setelah ia menutupi wajahnya dengan bantal kecil pemberianku. bagaimana bisa darah berwarna putih. aku memandang gadis itu.� bisikku memberi bantal kecil padanya. memangnya ada? �Darah kan warnanya merah tapi itu putih seperti layaknya air. bau amis dan lainnya sudah tak ada. memangnya kenapa mereka ingin memangsaku bahkan bangsaku sendiri? � �Kamu sepenuhnya bukanlah vaampire. matahari tidak berani menampakkan dirinya. namun dugaanku salah. ini adalah darah sama seperti dugaanmu!� Aku terbelalak dibuatnya.Selang berapa waktu kemudian. darahku telah menetes tak beraturan dan luka itu perlahan menghilang tak berbekas. apa vampire bisa buta warna?� Tanyaku padanya. rasanya sama seperti air. Mereka menganggap gadis kecil ini sedang tidur. �Aku akan meminumnya!� Aku tersenyum padanya dan mulai meminum cairan itu. Matanya berkaca-kaca. kenapa bisa? Dari situ aku mulai mempercayainya dan mempercayai kodratku. ini bewarna putih karena telah diolah secara khusus dan tak banyak vampire yang mengetahui cara mengolah darah supaya seperti ini!!� �Oh benarkah?. Tak ada rasa sakit sama sekali. dan kekuatan dari darahmu bisa membuat vampire lain berlipat bahkan sampai 10 kali. ia menangis dalam pelukanku. kau juga vampire!� Tegasnya dengan menggenggam tanganku. aku akan melindungimu sayang!!� Jelas sembari mengelus rambut panjang dengan lembut. �Kau bisa menangis sepuasnya. kau akan hidup kembali. aku takut!� Secara halus aku menolaknya. ternyata air putih!� Ucapku dengan tersenyum padanya. membuatnya semakin tampan. Saat aku selesai meminumnya tiba tiba segerombolan orang orang aneh mengepung . Angin mulai berhembus kencang. �Ini benar benar darah sayang. Ia terdiam tanpa menampakkan senyum. Dia bersembunyi di dalam awan hitam yang bertumpuk-tumpuk.

dadaku terasa sangat sesak. Aling adalah seorang gadis berdarah campuran Jepang-Indonesia. �Aku ingin bersamamu. namun aku tak tahu bayangan apa itu. �Siapa mereka?. salam. nantikan episode selanjutnya guys Cerpen Karangan: Aisyifive Facebook: Aisyah novi Maaf ya cerpennya tak beraturan begitu. Aiko justru senang-senang saja disebut seperti itu. keadaannya tak baik untukmu bersamaku sekarang!� Ucapnya dengan memenggangi pipiku dengan menghusapnya membuatku menatap kedua manik matanya. Sebenarnya. belum pernah melihat gadis cilik seperti Aling. Sebelum sosok roy menghilang dalam pandanganku. Cerpen Kekasih Yang Hilang (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Aisyifive. yang murni berdarah Jawa berkulit coklat. namanya adalah Aiko. kalaupun kita tidak bersama bukan berarti kita pisah. jangan khawatir. berikan komen ya guys agar bisa ngerti letak kesalahannya dan bisa update episode selanjutnya. kenapa mereka mengeluarkan taring dan mengendus?� �Mereka bangsa kita. �Aku akan selalu bersamamu. membuat sekelebat bayangan muncul dalam ingatanku. Sedangkan aku. jadi banyak teman-teman yang memanggilnya �Aling� alias �Aiko Maling�. dia akan melindungimu. Saat pertama kali Aling datang ke rumah. oke?�. namun sekelebat bayangan hitam mulai mengikuti kami� Bersambung. aku butuh bantuanmu!!�. �elang hitam kemarilah. Aku sempat khawatir padanya.kastil ini. sepertinya mereka sudah mengetahui keberadaanmu!� �Tapi aku sudah meminum cairan ini!� aku menunjuk gelas yang telah kosong. darahmu tercium oleh mereka. karena aku ada di hatimu!� Aku memeluknya. Tiba tiba seorang wanita datang dengan membawa selembar kain yang berlumuran darah. �Kamu harus pergi sekarang sayang. aku heran melihat pipinya yang bersemu merah dan kontras sekali dengan kulitnya yang putih pucat. . air mataku tumpah dalam dekapannya. entah kenapa aku takut kehilangannya. �Aku juga tidak tau kenapa mereka bisa tau!!� Dia terlihat sangat cemas sekarang. kupasrahkan hidupku padanya. kami sudah bersahabat karena kami adalah tetangga.� begitu katanya. Aku mengangguk pelan. tapi seperti yang sudah kukatakan tadi. �Maaf tuan. bawa aku pergi bersamamu di manapun itu!� Air mataku mulai menetes keluar. dia adalah gadisku!� �Baik tuan!� Ucap seseorang itu dengan berubah kembali menjadi elang �Naiklah. Dia mulai menjentikan jemarinya lagi. Entah elang ini akan membawaku kemana. ia membantuku menaiki elang tersebut dan elang itu mulai terbang meninggalkan kastil. Seperti boneka. Aku menurutinya. ia bisa berlari secepat maling. darah ini!� �Itu kan darahku!� Ucapku �Benar. �Bawa dan lindungi dia. aku janji aku akan menjemputmu. Bukannya tersinggung. dan pakai jubah ini!� ia memakaikanku sebuah jubah warna cokelat yang berbulu lebat. tak lama seekor elang hitam berubah menjadi sesosok pria. kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. Sejak kecil. �Oh iya. Dia mulai mengecup bibirku. �Justru dengan begitu teman-teman akan selalu ingat aku �kan. ia sempat berkelahi dengan bangsa vampire setelah penjagaan kastil itu berhasil ditembus oleh mereka. sepertinya mereka datang karena ini!� Wanita itu menyerahkan kain tadi pada roy. Gam.

Aling berdiri dan berjalan ke ujung batu. aku sering pergi sendiri ke tempat ini hanya untuk sekedar duduk-duduk menghabiskan sore sambil memejamkan mata dan mendengar deru ombak. kenapa dia bisa sampai di sini? Ah sudahlah. Aling berkata. Kehangatan Aling seperti penyakit yang menulari setiap orang yang ada di dekatnya. Tuhan bisa menciptakan sesuatu sesempurna ini. air mukanya bersemangat. siapa manusia yang sanggup merusak keindahan seperti ini. indah dan menenangkan. si Rino dan teman- temannya itu. Tak disangka-sangka. karena memang aku kalau lari seperti maling. lihat pemandangan di sini indah sekali. �Aku senang sekali tinggal di sini. Ling. Aku tidak bersuara.� Sesaat hanya terdengar sisa-sisa tangisku yang belum hilang. melamun saja kamu ini. kamu harus selalu datang kemari ya. aku segera terduduk dan memeluk lututku sambil menangis. Dia kemudian merentangkan tangannya. Karena sedih. Namun entah kenapa. sementara aku takut melihatnya jatuh. Apalagi. �Gam. Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundakku. dan justru dengan begitu teman-teman akan selalu ingat aku �kan. wajahnya mengulas senyum hangat sehangat matahari sore saat itu. Sambil berdiri. �Namaku Aiko.� Aling tertawa. Coba kalau kamu lihat terus-menerus. aku segera melesat pergi menuju ke batu tempat aku biasa menghabiskan soreku. �Sudahlah biarkan saja. tapi karena lariku kencang.� celoteh Aling. dalam hati aku bertanya-tanya. ombaknya hangat.� Aling diam sesaat. �Hey. �Ya. Aku hanya mengangguk. Ya. Gam?� Aling menoleh ke arahku. Sambil menangis. sayang kalau kamu ke sini hanya untuk menangis.batinku. ia menghirup udara dalam-dalam. siapa tau ada perubahan-perubahan yang tidak sempat aku lihat. Aku tidak marah sama Rino. tak sadar bahwa di belakangku ada mata penasaran yang mengikutiku dengan sepeda kecilnya. rambutnya yang halus tertiup angin laut. Aling adalah seorang pemberani. �Kamu kenapa menangis? Boleh aku duduk di sini?� katanya dengan setengah menunduk. dia sering berdiri di ujung batu. laut di daerah kami sangat indah.� begitu katanya dengan sedikit logat yang menurutku aneh. karena ada Aling aku merasa tenang. ternyata aku dan Aling sama-sama memiliki kekaguman khusus dengan laut. dengan perasaan kaget aku melihat ke atas. Lihat-lihat. Alamnya indah. �Sudahlah jangan menangis. kamu tau kan namaku Aiko. Namun sejak ada Aling.� Kemudian hening. aku berlari. laut itu seperti memberi pesan ketenangan kepada setiap penikmatnya. semuanya berbeda. aku dipanggilnya Aling alias Aiko Maling. lihat itu. Andaikan semua manusia seperti kita. tapi hangatnya pribadi Aling menghilangkan rasa canggung itu. Dulu. Airnya jernih. �kan. Pernah suatu sore sepulang sekolah. �Tahu siapa yang panggil aku begitu? Itu tuh. Aling justru tanpa malu-malu mengenalkan diri padaku. dan di sana aku lihat Aling berdiri. kata mama itu artinya kasih sayang. sangat berbeda dengan aku yang pendiam dan lebih suka tersenyum. Sejak saat itu setiap sore aku dan Aling selalu pergi ke pantai. Berada di sini membuatku sadar bahwa alam juga butuh dijaga. Mulanya aku merasa canggung karena terbiasa sendiri jika di pantai.� Aku hanya mengangguk sepintas kemudian berjalan pulang bersama Aling. Beda dengan diriku yang masih malu-malu saat disuruh berkenalan. Gam?� aku tahu Aling mengalihkan pandangannya ke laut. Gam. bayangkan. kemudian berhenti menangis. � . aku kembali memeluk lututku. setelah bel sekolah berbunyi. Sore itu sebelum kami pulang. lautnya indah sekali. sebab malu jika dilihat orang. Kebiasaan ini selalu dilakukan Aling sebelum kami beranjak pulang. Kulitnya yang pucat diterpa matahari. pasti alam akan selalu seperti ini. ombaknya hangat dan suasananya pun menenangkan. Aku selalu kagum melihat ini semua. Sesampainya aku di sana. Dia selalu tertawa. aku merasa frustasi karena banyak temanku yang mengejekku dengan sebutan �gendut�. apalagi pantainya. �Pasti kamu diejek sama Rino ya? Rino yang iseng itu loh. tangannya mengelus-elus pundakku dengan lembut.

Ada yang aneh hari ini. Aling tidak berkata apa-apa. Makin bingung aku menghadapinya. Dia tidak berdiri. suatu sore sepulang sekolah. Ling? Tidak biasanya kamu menangis seperti ini. suasananya yang tenang dan kamu. kapan-kapan datanglah ke rumahku dan kita bisa pergi ke batu ini seperti biasanya. Panik. Ling. Aku jadi ikut sedih. Awalnya aku ingin bertanya. Aku langsung duduk di sebelah Aling setelah memarkirkan sepeda. Tidak bisa lagi�� Aling menutup wajahnya dengan tangan dan kembali menangis tersedu-sedu. Ling. sahabatku satu-satunya. memeluk lutut. Tidak akan bisa lagi kunikmati sore-sore sepulang sekolah.� Aling menggeleng. �Papa akan pindah tugas. saat ayahnya bilang sepedanya akan dijual. �Ada apa sih. Ling. Aku segera menengok dan mendapati Aling sedang menyeka air mata di pipinya yang merah. Aku akan rindu sekali dengan alam ini. Jadi aku merangkul Aling dan berkata. Ada apa ini? Tidak biasanya Aling seperti ini. padahal biasanya Aling selalu mengajakku ngobrol atau bercanda. �Kenapa kamu. Dia hanya berdiri tanpa berkata apa-apa dan kemudian naik ke boncengan sepeda. Tak sadar. Tidak akan bisa lagi aku duduk di batu ini menikmati deburan ombak dan aroma laut yang sangat aku suka. Dan seluruh keluargaku pun akan pindah. Sore itu kami habiskan dengan diam dan sesekali suara isak tangis Aling terdengar. Ayo berdiri. Jika kamu pindah. melainkan jongkok di samping sepedanya. aku akan menemanimu. aku segera berlari menghampiri Aling. Gam. aku hanya bisa ikut jongkok di sebelah Aling dan diam sambil memegang tubuhnya yang bergetar. maka semuanya akan berbeda.� Hanya itu yang dapat kukatakan sembari merangkul Aling. aku dan Aling berjalan bersama menuju ke pantai. Tanpa sadar. seakan-akan hendak menangis. tapi jangan nangis di sini.� aku kaget. �Gam. aku masih diam. Ia hanya pernah murung sekali. tapi kuurungkan niatku. aku terus saja berjalan dan tidak menoleh ke belakang. berjalan menuntun sepeda ini di jalanan yang sejuk. Mungkin hari ini dia sedang ingin diam saja. kubonceng kamu sampai ke batu ya. Ling?� tanyaku panik. malah makin erat memeluk lututnya dan makin bergetar pula tubuhnya. �Kamu masih bisa ke sini. Tidak ada satu pun dari kami yang berkata-kata. murung pun jarang sekali. tanganku refleks menggapai pipinya dan mengusap air mata di sana. tapi kami berdua sama-sama menyadari. batinku. karena aku akan pindah ke kota. ingin meneteskan air mata tapi kumalu. ombaknya yang hangat. �Ya sudah. dipayungi oleh pohon-pohon rindang di sepanjang jalan. semuanya tidak akan sama lagi jika kami berpisah. Gam. Batu ini masih milik kita.� tiba-tiba terdengar suara lirih Aling. �Aling. namun tidak berkomentar apa-apa. �Jika aku pindah. Sesampainya di batu pun Aling tidak berkata apa-apa. seingatku. tidak berkata apapun. ia bisa bercerita kepadaku. Dari jauh dapat kulihat tubuhnya yang bergetar. baru jika ia bersedia menceritakan apa yang membuatnya menangis. tidak juga menatapku.� Aling menurut. �Sudah berapa lama kita bersahabat.Seperti biasa. Ia yang jalan di belakangku sambil menuntun sepedanya diam saja.� lanjut Aling. ada apa sih? Bicara padaku. Aling berubah pendiam. Saat menoleh kulihat Aling berhenti jauh di belakangku. Gam? Sepuluh tahun? Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan daerah ini. Sebagai seorang laki-laki yang belum pernah melihat seorang perempuan menangis.� Aling diam sejenak dan menarik nafas. dia hanya turun dan langsung duduk di atas batu sambil memeluk lututnya. Ling. lautnya yang indah. Aling diam saja. � . Tapi itu pun hanya sehari karena keesokannya ayahnya bilang sepeda Aling yang lama akan diganti dengan yang lebih baru. Gam. Aku belum pernah melihat Aling menangis. tidak apa-apa. Lebih baik Aling menangis dulu sampai lega. kalau kamu tidak mau kasih tau.

namun beginilah adanya. tapi aku tidak mungkin menunjukkannya di depan Aling karena itu hanya akan membuatnya makin sedih.� Lanjut Aling kemudian melepas pelukannya dan kembali menatap laut.� Aku mengangguk dan menggenggam tangan Aling erat. �Agam. melihat wajah Aling yang sedang memejamkan mata sipitnya dan menghirup udara dalam-dalam. Aling lebih banyak diam. ombak ini. Aling saat berlari tetaplah Aling yang dulu. Setelah itu waktu terasa cepat. �Kamu harus selalu kesini ya. sampai kapan kamu mau lari selama itu? Cepat sini waktu kita tidak banyak!� Teriak Aling dari atas batu. Gam. Membuat seorang laki-laki berumur 14 tahun sepertiku mengerti apa artinya rindu. kalau liat sampah pungut aja seperti biasanya kita lakukan. Batu. meskipun matanya bengkak dan aku tahu ia habis menangis semalaman. �Benar ya. Sore itu setelah pulang dari stasiun. Ling� secara samar-samar. aku tau Aling pasti mendengar perkataanku.� Kata Aling. laut ini. Gam. Bagiku Aling jadi pendiam. Meski begitu. suara burung-burung camar ini. �Semoga kamu tidak terkikis ombak-ombak ini ya. aku pasti akan rindu dengan alam ini. Aku yang bingung hanya bisa merangkul Aling dan berkata �Aku janji. Seminggu setelah Aling mengatakan akan pindah rumah. Lucu memang melihat sebegitu dekatnya aku. Aku menoleh. �Aku pasti kemari lagi laut!� teriak Aling berkali-kali. Aku terkejut dan tanpa disangka Aling berbalik dan memelukku. Aling yang mengajakku pulang. Untuk pertama kalinya aku berani berdiri di ujung batu ini sambil menggenggam tangan Aling. Sebelum pergi Aling memaksaku lari menuju ke batu untuk terakhir kalinya. �Agam. Memunculkan siluet bayangan Aling yang sedang tersenyum diterpa matahari sore muncul setiap kali aku memejamkan mata. meskipun sesekali mengajakku mengobrol atau sekedar bercanda. pelukan terakhir Aling sebelum kami berpisah. Gam�� Aling menangis di bahuku dan tanpa bisa kutahan lagi aku pun ikut menangis. aroma laut ini. bertepatan dengan hari ulang tahun Aling. tiba juga hari Aling harus pindah. suara deburan ombak. kami masih pergi ke batu sore hari sepulang sekolah. Keesokan harinya. meskipun keceriaannya tetap ada. Sedih rasanya. bunyi rem sepeda Aling dan tawa khas Aling bercampur jadi satu di dalam telingaku. Jangan buang sampah sembarangan. Tak disangka tiba-tiba sebutir air mata mengalir dari sudut matanya. Aling seperti menjadi orang lain. ombak hangat menyapu kaki kami hingga sebatas betis. Kemudian sekali lagi ia berdiri dan merentangkan tangan sambil menghirup udara laut dalam-dalam seperti biasanya sebelum kami beranjak pulang ke rumah. mengucapkan janji bahwa ia tidak akan melupakan laut ini apalagi membiarkan laut ini terbengkalai dan menjadikan aku sebagai jaminannya. Gam. jagain lautnya. dan semua ini. Sedih rasanya mengingat mungkin ini hari terakhir aku dan Aling berlari bersama menuju ke batu. Lautlah yang menjadi saksi bisu persahabatanku dengan Aling. kamu dan teman-teman. Ia sudah tidak terlihat sedih lagi. kamu akan selalu ke sini. kicauan burung camar. � Tiga puluh satu tahun kemudian� . Terakhir kali kami pergi ke batu di penghujung hari minggu sore itu Aling berkata padaku. Aku terngah-engah dan setengah menunduk bertumpu dengan lutut begitu sampai di atas sana. Seperti mengerti akan kepergian Aling. kamu antar aku ke sini kalau suatu saat aku pulang. Aling dan laut. aku bahkan memaksa ayah untuk mengantar Aling ke stasiun demi mengulur waktu tapi tetap saja terasa cepat. Agam. Dan janji sama aku ya.Hari-hari pun berjalan cepat. Aling jongkok dan memegang batu tampat kami biasa duduk-duduk. suka dan duka dan kecintaan kami pada alam. karena esok hari aku tidak akan bisa lagi melihat Aling bertingkah seperti ini. bibir mungil merah mudanya seperti berkata sesuatu dalam diam. cepat seperti maling. Wajahnya yang diterpa sinar matahari sore membuat pipinya bersemu merah. Sebisa mungkin aku melihat Aling lekat-lekat untuk terakhir kalinya. tapi melihat wajah Aling yang secerah ini membuatku tak kuasa memperlihatkan wajah sedihku dan membuatnya ikut sedih juga.

dari jauh aku lihat ada seorang laki-laki sebayaku mendekat. Aling kembali kepada tuhan meninggalkan suami dan ketiga putrinya. Mas. terakhir kudengar Aling pindah lagi ke Denmark 3 bulan setelah kepindahannya dari sini. berharap mungkin saat aku memejamkan mata. Entah mengapa aku masih setia menunggu Aling menepati janjinya untuk kembali lagi kemari dan duduk-duduk sore seperti yang dulu sering kami lakukan. Surat dengan perangko kira-kira dua puluh tahun yang lalu. tertera judul yang ditulis dengan huruf kapital berbunyi �AKU. Aling sendiri dan aku. bayangan Aling selalu muncul. Ia betul-betul mirip dengan Aling. Tiga puluh satu tahun sudah aku selalu bergegas pergi ke batu setiap hari ulang tahun Aling. Adry memutuskan untuk membongkar lemari lama berisi berkas- berkas milik Aling dan menemukan album foto yang sudah usang. kurasakan ada tangan kecil yang menarik-narik saku celanaku. aku pun membuka mata. dimana Aling? �Perkenalkan juga. Laki-laki itu kemudian mulai bercertita� Empat tahun yang lalu. Aling yang berumur empat belas tahun. sehari setelah Aimee lahir. tidak banyak yang berubah setelah tiga puluh satu tahun meskipun beberapa restoran banyak yang telah dibangun dan daerah pantai di sekitar laut yang mulai dikembangkan sebagai daerah pariwisata. Adry membuka-buka album itu dan isinya adalah foto laut. tidak pernah ada. Tetap saja. Setelah kepeninggalan Aling. Saat sedang mendengarkan deru ombak yang diiringi dengan kicau burung camar. matanya yang bulat polos menatapku. lima hari setelah kelahiran Aimee. hanya saja� ada apa dengan hidungnya? Ya. dan ternyata ada surat yang jatuh dari album itu. tiga puluh satu tahun pula aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya. burung camar. tertawa. Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga Aling tetap hidup tapi tuhan berkehendak lain. Tanpa sadar kebiasaan yang dulu sering Aling lakukan menjadi kebiasaanku juga. Aling mengalami komplikasi yang membuatnya koma selama empat hari. . ombak. setiap kali aku memejamkan mata dan menyatukan diriku dengan laut. Kupejamkan mata dan kudengarkan suara ombak. Hari ini aku kembali berdiri di atas bukit. Tiga puluh satu tahun berlalu sejak Aling pindah. �Perkenalkan nama saya Adry. Hari ini adalah hari ulang tahun Aling. mengulurkan tangannya. menengok ke bawah dan melihat seorang gadis cilik� wajahnya mirip Aling saat pertama kali ia datang ke rumahku. ARIA DAN LAUT� di sudut kanan bawah album itu ada tempelan cangkang kerang berwarna putih dan di atasnya ada gambar 3 burung camar dan gulungan ombak yang digambar dengan tangan. Om pasti Om Agam �kan? Temannya mama?� anak kecil itu berkata. suami Aiko. Temannya mama? Lalu siapa anak ini? Apakah dia� Anak kecil itu kembali menarik saku celanaku dan membuyarkan lamunanku. Cuaca laut saat ini sedang indah-indahnya. Tapi nihil. langit sore. sahabat Aiko?� jadi benar dugaanku. hidungnya sedikit berbeda dengan Aling. kemudian ia mendekapnya. ini Aimee putri kami. pantai.Sore hari aku bergegas menuju batu di pinggir laut itu. dengan rambut sebahunya. Mas?� tanyaku dengan sopan. Aku kenal betul dengan wajah ini. Sesekali Aling muncul dalam mimpiku. berlari dan merentangkan tangan di depanku. dan tiga puluh satu tahun sudah Aling yang kunanti-nanti tak pernah kembali. garis matanya menyiratkan segalanya. �Ada perlu apa datang kemari. Lalu. terkaget. tawa khasnya dan pipi merahnya mentapaku. berlari di depanku atau berdiri sambil merentangkan tangannya di atas batu ini. Ketika Adry membuka album itu. kicau burung camar dan kuhirup aroma laut dalam-dalam. yang sampai saat ini tidak pernah dibuka oleh Adry. kemudian berdiri berhadapan denganku. Aku hanya tersenyum melihat Aimee. Mas pasti Agam. Adry menangis melihat album itu. Aku yakin betul bahwa anak ini ada hubungan darah dengan Aling. �kan. merentangkan tangan. batu.� Lanjut laki-laki itu sembari menyuruh Aimee menyalamiku. ada tangan yang menepuk pundakku seperti dulu saat Aling menepuk pundakku ketika aku menangis. tepat tiga puluh satu tahun berlalu sejak kepindahan Aling. Laki-laki itu semakin mendekat. Apakah ini� �Om.

pada batu kita dan segalanya yang ada di sana. di usiaku yang sudah kepala empat ini aku masih bisa melihat bayangan wajah Aling setiap kali aku memejamkan mata diiringi dengan suara ombak. sembunyi-sembunyi saat Aling sedang tidak melihatnya. Sepertinya ini sebuah pesan dari Aiko. Foto itu aku sendiri yang mengambil. Semoga kau bahagia di sana dan selalu mengingatku. Memang alam adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. tak kusangka foto ini dicetak dan dialbumkan oleh Aling. � Sore itu hujan deras. Aku menangis hingga tertidur. Langit mendung. berwarna kelabu seperti akan hujan.�Karena itu aku datang kemari dan aku rasa surat dan album ini pantasnya disimpan olehmu. menyadari bahwa kami sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk bertemu lagi. dan ia ingin sekali berkenalan denganmu. Foto pertama kami saat aku tercebur ke laut.k. Ia juga mengenalmu. begitu juga dengan aku sambil memeluk album itu. Sampai di rumah. Agam. Gam. sukses dalam menjalani hidup dan selalu ingat padaku. sudah tentu aku mengingatmu dan selamat ulang tahun. jadi kuucapkan saja selamat ulang tahun. tapi katanya tak perlu. bukan olehku. �Indah �kan alamnya? Aku suka sekali di sana. sehingga saat aku ke sana nanti. Aria. namun setelah tiga puluh satu tahun berlalu. Mungkin surat ini sampai saat hari ulang tahunmu. Aku harap tidak ada yang merusak alam indah ciptaan Tuhan di sana. mengingat bahwa Aling sudah tiada dan tidak mungkin ada jumpa lagi. Aling a.a Aiko Maling. Bagaimana keadaan laut? Apakah masih sama seperti dulu? Apakah batu besar itu masih ada di sana? Apakah kamu masih selalu kesana setiap sore atau mungkin hanya sesekali? Aku harap kau masih ke sana dan jangan lupa beritahu aku jika ada perubahan ya! Aku rinduuuuuu� sekali padamu.� Ya. Setelah menikah nanti. Kupeluk album itu tanpa bisa berkata-kata lagi.� Begitu ujarnya menutup ceritanya sore itu. Aku sekarang ada di Denmark. Aling. Aku mengajak Adry untuk mampir ke rumahku. Aku bukanlah seorang bocah berumur empat belas tahun seperti dulu. semoga panjang umur dan sehat selalu. Tentu saja bersamamu dan bersama keluarga kecilku nantinya. hingga foto terakhir kami di stasiun yang diambil oleh ayahku dengan keterangan �SAMPAI JUMPA LAGI. Kupeluk album itu sesaat. pada laut kita. Di bawahnya ada tulisan. Sampai jumpa lagi! Dari sahabatmu. kicau burung camar dan hangat matahari sore. �Teruntuk sahabatku. tapi aku tidak bisa menahan air mata yang turun saat ini. Aku bukan bocah berumur empat belas tahun lagi. Gam. Gam! Sekian dulu surat dariku. wajah Aling selalu ceria. Hampir di setiap foto. lihat langitnya begitu biru. suara burung camar dan matahari sore yang hangat. Adry dan Aimee akhirnya bergegas pulang. tadi sudah mampir mencariku dan orang rumah bilang aku sedang pergi ke pantai. Tunggu aku ya. Ada satu foto saat Aling sedang berdiri merentangkan tangannya dan aku ingat betul siapa yang mengambil foto itu. menyusuri jalan dengan hujan gerimis dan angin laut yang dingin menusuk hingga ke tulang.� Tersenyum aku melihatnya. aku masih bisa menikmati deru ombak. doaku dalam hati. AGAM!� tanpa sadar air mata menetes dari pipiku. aku segera membuka album itu dan melihat wajahku dan Aling di sana. Ia orang Indonesia yang baik sekali. apa kabarmu di sana? Semoga baik-baik saja ya. aku sering menceritakanmu padanya. Hai. bukannya membantu. menikah! Dengan laki-laki bernama Adry. Semoga aku bisa kembali ke desa kota dan jalan-jalan ke pantai bersamamu ya. Aling malah mengarahkan kameranya berbalik dan jadilah foto kami berdua dengan mukaku yang kusut. kuharap kamu membaca dan membalasnya. Banyak sekali yang ingin aku tulis untukmu. mempikan Aling dengan pipi merah dan kulit . aku akan segera menikah! Iya. kami akan pulang ke Indonesia dan memulai hidup di sana. kemudian aku ambil surat di tengah halaman dan mulai membacanya. tapi pertama-tama aku akan memberi tahumu satu hal. Kabarku di sini baik-baik saja.

Aku masih ingat teriakannya menyuruhku lari lebih cepat. Tak peduli jika ada orang yang melihatku bagaikan banci atau orang gila. jadi mohon dimaklumi kesalahan-kesalahannya. dengan latar belakang laut biru kesayangan kami.putih pucatnya berlari sambil tertawa di depanku. � Aku membuka mataku yang basah oleh air mata. . batinku. kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. namun tak sedikit pun kenangan tentang Aling kabur dalam benakku. Pandanganku sudah kabur. Aku masih mengingatnya. Bersama dengan deru ombak. Bagaimana pun perubahannya. aku segera menyeka air mata dengan tanganku yang sudah keriput. Aling selalu hidup di tempat ini dan di hatiku. selamat membaca! ^^ Cerpen Aku dan Aling merupakan cerita pendek karangan Alya Khalishah. bunyi rem sepedanya dan sudah tentu tawanya yang khas. kicau burung camar dan hangatnya matahari sore. Aku selalu mengingatmu. Rambut di kepalaku sudah banyak yang memutih. Ling. Cerpen Karangan: Alya Khalishah Facebook: Alya Khalishah baru pertama kali mengirim cerita. Tempat ini selalu menjadi kenangan.