You are on page 1of 45

PEDOMAN

PELAYANAN
HIV-AIDS

TIM HIV-AIDS
RUMAH SAKIT CAHYA KAWALUYAN
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................3
BAB II LATAR BELAKANG..............................................................................................5
BAB IiI TUJUAN..............................................................................................................6
BAB IV PENGERTIAN…………..........................................................................................7
BAB V KEBIJAKAN......................................................................................................13
BAB VI STRUKTUR ORGANISASI..................................................................................14
BAB VII KEGIATAN.......................................................................................................15
BAB VIII METODA......................................................................................................... 18
BAB IX PENCATATAN DAN PELAPORAN........................................................................19
BAB X MONITORING DAN EVALUASI........................................................................... 20
BAB XI PENUTUP.........................................................................................................21
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang maha Esa karena atas kuasa-Nya
maka pedoman Tim HIV-AIDS di RS. Cahya Kawaluyan dapat disusun dengan baik.
Dalam rangka berperan aktif dalam program pencegahan dan penanggulangan penyakit
HIV-AIDS di Indonesia maka Rumah Sakit Cahya Kawaluyan membentuk tim khusus HIV-AIDS
yang nantinya berperan dalam pelayanan rawat jalan bagi pemeriksaan dan penanganan medis
pasien HIV-AIDS serta melakukan koordinasi/kerjasama dengan rumah sakit jejaring lainnya.
Tentunya akan ada pemasalahan, kendala dan kekurangan dalam pelayanan HIV-AIDS
nantinya, oleh karena itu kami mengharapkan saran dan perbaikan, sumbangan pemikiran,
masukan serta kritikan yang bersifat membangun.
Akhir kata kami mengharapkan semoga pedoman ini dapat bermanfaat untuk kemajuan
RS. Cahya Kawaluyan.

BAB I

PENDAHULUAN
HIV/AIDS telah menjadi pandemi yang mengkhawatirkan masyarakat dunia, karena
disamping belum ditemukan obat dan vaksin untuk pencegahan, penyakit ini juga memiliki
“window period” dan fase asimtomatik (tanpa gejala) yang relatif panjang dalam perjalanan
penyakitnya. Hal tersebut menyebabkan pola perkembangannya seperti fenomena gunung es.
Jumlah kasus HIV/AIDS dari tahun ke tahun di seluruh bagian dunia terus meningkat meskipun
berbagai upaya preventif terus dilaksanakan. Tidak ada negara yang tidak terkena dampak
penyakit ini.
Hingga saat ini HIV masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama
di Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan (1987) sampai dengan tahun 2011, kasus HIV
Teridentifikasi tersebar di 368 (73,9%) dari 498 kabupaten/kota di seluruh (33) provinsi di
Indonesia. Kasus AIDS terbanyak dilaporkan oleh DKI Jakarta disusul Papua. Namun jumlah
kumulatif kasus AIDS per 100.000 penduduk, terbanyak dilaporkan provinsi Papua baru disusul
DKI Jakarta.
Prevalensi HIV/AIDS di Indonesia secara umum memang masih rendah, tetapi Indonesia
telah digolongkan sebagai negara dengan tingkat epidemi yang terkonsentrasi yaitu adanya
prevalensi lebih dari 5% pada subpopulasi tertentu misalnya penjaja seks dan penyalahguna
NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan zat adiktif lainnya). Tingkat epidemi ini menunjukkan
tingkat perilaku berisiko yang cukup aktif menularkan penyakit di dalam suatu sub populasi
tertentu. Selanjutnya perjalanan epidemi akan ditentukan oleh jumlah dan sifat hubungan
antara kelompok berisiko tinggi dengan populasi umum.
Beberapa tahun terakhir pemakaian NAPZA melalui jarum suntik mulai menjadi pola
penyebab timbulnya HIV/AIDS, penularan secara cepat terjadi karena pemakaian jarum suntik
bersama. Para penyalahguna NAPZA suntik ini dapat pula menulari pasangan seksualnya. Di
kalangan pengguna NAPZA suntik, infeksi HIV berkisar antara 50-90%. Dengan demikian
dewasa ini masalah infeksi HIV tidak hanya berkaitan erat dengan hubungan seks yang tidak
aman tapi amat erat hubungannya dengan penggunaan NAPZA suntik. Apalagi penggunaan
NAPZA suntik biasanya dilakukan dengan cara tidak terbuka sehingga tidak mudah
memperkirakan penggunaan NAPZA suntik di Indonesia.
Meluasnya HIV/AIDS akan menimbulkan dampak buruk terhadap pembangunan nasional
secara keseluruhan. Tidak hanya berpengaruh terhadap bidang kesehatan tetapi juga
mempengaruhi bidang sosial ekonomi. Apalagi penyakit ini paling banyak terjadi pada kelompok
usia produktif. Oleh karena itu upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS perlu terus
dilakukan.
BAB II

LATAR BELAKANG
Berdasarkan laporan situasi perkembangan HIV/AIDS di Indonesia sampai dengan bulan
Juni 2010, Provinsi Jawa Barat menempati peringkat kedua dengan kasus AIDS terbanyak,
setelah Provinsi DKI Jakarta. Jumlah kumulatif kasus infeksi HIV/AIDS tersebut sebanyak 5.536
kasus yang terdiri dari 3.338 kasus AIDS dan 2.148 kasus infeksi HIV (sumber: Laporan
Surveilans AIDS Depkes RI tahun 1987 – Juni 2010). Case rate kumulatif HIV/AIDS di Jawa
Barat saat ini yaitu 9.44 per 100.000 penduduk, sama dengan case rate kumulatif nasional.
Namun demikian dalam kurun waktu 3 bulan, sejak Maret 2010 sampai dengan Juni 2010 telah
terjadi penambahan kasus AIDS di Jawa Barat sebanyak 111. Hal ini berarti diperkirakan telah
tertular sekitar 11.100 orang lainnya yang sebagian besar belum terdeteksi.

Jika melihat distribusi kasus AIDS di seluruh Kabupaten/Kota yang berada di Provinsi
Jawa Barat sampai dengan 30 Juni 2010, kasus AIDS terkonsentrasi di Kota Bandung, yaitu
sebanyak 1.385 kasus atau sekitar 41,5%, disusul oleh Kota Bekasi sebanyak 516 kasus
(15,5%) dan Kota Bogor sebanyak 251 kasus (7,5%). Sementara itu berdasarkan transmisi
atau cara penularannya, jumlah kasus AIDS kumulatif di Jawa Barat terbanyak melalui jarum
suntik(71,69%), sedangkan penularan secara seksual sekitar 22,19%(homoseksual 2,12% dan
heteroseksual 20,07%). Yang memprihatinkan adalah transmisi dari ibu ke anak yang secara
kumulatif mencapai 3,3% yang berarti sekitar 110 anak mengidap AIDS.

Berdasarkan kelompok umur, persentase kumulatif AIDS di Provinsi Jawa Barat sampai
dengan 30 Juni 2010, terutama ditemukan pada kelompok umur 20 ampai dengan 39 tahun,
yakni sebesar 88,63% [kelompok umur 20-29 tahun (57,58%) dan 30-39 tahun (31,05%)].
Ditambah dengan kelompok umur 40-49 tahun yakni 4,22%, sekitar 92,85% penderita AIDS di
Jawa Barat tergolong dalam usia produktif. Yang perlu diperhatikan disini adalah telah terjadi
peningkatan kasus AIDS pada kelompok umur di bawah 14 tahun dimana jumlah kasus
kumulatifnya telah melebihi 3% [kelompok umur<1 tahun (0,2%), 1-4 tahun (2,15%) dan 5-14
tahun (1,06%)].

Jika melihat data-data tersebut dan dengan membandingkannya dengan data-data
nasional dan dunia, infeksi HIV/AIDS telah menjadi masalah darurat global. Infeksi menjalar
secara cepat tanpa mengenal batas negara dan menyerang semua lapisan penduduk (pria dan
wanita dari semua kelompok umur, semua profesi, kaya atau miskin).

BAB III

TUJUAN

A. TUJUAN UMUM
Sebagai panduan dalam pelaksanaan pelayanan penanggulangan HIV/AIDS di
Rumah Sakit Cahya Kawaluyan

B. TUJUAN KHUSUS

1. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada penderita HIV/AIDS
2. Meningkatkan fungsi Rumah Sakit sebagai rujukan bagi penderita HIV/AIDS

BAB IV

PENGERTIAN

Virus HIV
Virus HIV merupakan retrovirus yang tergolong virus RNA yaitu virus yang
menggunakan RNA sebagai molekul pembawa informasi genetik. Sebagai retrovirus, HIV
memiliki sifat khas karena memiliki enzim reverse transcriptase, yaitu enzim yang
memungkinkan virus mengubah informasi genetiknya yang berada dalam bentuk RNA ke dalam
bentuk DNA yang kemudian diintegrasikan ke dalam informasi genetik sel limfosit yang
diserang. Sehingga HIV dapat memanfaatkan mekanisme sel limfosit untuk mengkopi dirinya
menjadi virus baru yang memiliki ciri-ciri HIV.
Virus ini dapat ditemukan dan diisolasi dari sel limfosit T, limfosit B, sel makrofag (di
otak dan paru) dan berbagai cairan tubuh. Akan tetapi sampai saat ini hanya darah, air mani
dan cairan vagina yang jelas terbukti sebagai sumber penularan.
Sistem imun manusia sangat kompleks dan memiliki kaitan yang rumit antara berbagai
jaringan dan sel dalam tubuh. Kerusakan pada salah satu komponen sistem imun akan
mempengaruhi sistem imun secara keseluruhan. Pada AIDS, komponen yang diserang adalah
limfosit T-helper yang memiliki reseptor CD4 di permukaaannya. Terdapat banyak fungsi
penting limfosit T helper antara lain menghasilkan zat kimia yang berperan sebagai perangsang
pertumbuhan dan pembentukan sel-sel lain dalam sistem imun dan pembentukan antibodi. Oleh
karena itu pada pasien AIDS terdapat kelainan, diantaranya pada fungsi limfosit T, limfosit B,
monosit dan makrofag.

Perjalanan penyakit HIV
Perjalanan alamiah infeksi HIV dapat dibagi dalam tahapan berikut:
1. Infeksi virus (2-3 minggu)
2. Sindrom retroviral akut (2-3minggu)
3. Gejala menghilang + serokonversi
4. Infeksi kronik HIV asimtomatik (rata-rata 8 tahun, di negara berkembang lebih pendek)
5. AIDS/HIV simtomatik (rata-rata 1-3 tahun)
6. Kematian

Klasifikasi Klinis
Terdapat berbagai klasifikasi klinis HIV/AIDS, diantaranya menurut CDC dan WHO adalah
sebagaimana tampak pada tabel berikut.
Tabel 1. Klasifikasi Klinis HIV dan CD4 pasien remaja dan dewasa menurut CDC
CD4 KATEGORI KLINIS

Total % A B C
(Asimtomatik, (Simtomatik) (AIDS)
Infeksi Akut)
≥ 500/ml  29% A1 B1 C1
200-499 15-28 % A2 B2 C2
< 200/ml < 14% A3 B3 C3

Kategori Klinis A meliputi infeksi HIV tanpa gejala (asimtomatik), limfadenopati generalisata
yang menetap (Persistent Generalized Lymphadenopathy/PGL) dan infeksi HIV akut primer
dengan penyakit penyerta atau adanya riwayat infeksi HIV akut.
Kategori klinis B terdiri atas kondisi dengan gejala (simtomatis) pada remaja atau orang dewasa
yang terinfeksi HIV yang tidak termasuk dalam kategori C dan memenuhi paling kurang satu
dari beberapa kriteria berikut:
Keadaan yang dihubungkan dengan infeksi HIV atau adanya kerusakan kekebalan yang
diperantara sel (Cell Mediated Immunity) atau kondisi yang dianggap oleh dokter telah
memerlukan penanganan klinis atau membutuhkan penatalaksanaan akibat komplikasi infeksi
HIV. Contoh berikut ini adalah termasuk dalam kategori tersebut akan tetapi tidak terbatas
pada contoh ini saja.
 Angiomatosis basilari
 Kandidiasis orofaringeal
 Kandidiasis vulvofaginal
 Displasia leher rahim
 Demam 38,50C atau diare lebih dari 1 bulan
 Oral Hairy Leukoplakia
 Herpes Zoster
 Idiopathic Thrombocytopenia Purpura (ITP)
 Listeriosis
 Penyakit Radang Panggul
 Neuropati perifer
Kategori klinis C meliputi gejala yang ditemukan pada pasien AIDS misalnya:
 Kandidiasis bronkhi, trakea dan paru
 Kandidiasis esophagus
 Kanker leher rahim invasif
 Coccidiomycosis menyebar atau di paru.
 Kriptokosis di luar paru
 Retinitis virus sitomegalo
 Ensefalopati yang berhubungan dengan HIV
 Herpes simpleks dan ulkus kronis lebih dari sebulan lamanya
 Bronkhitis, esofagitis atau pneumonia
 Histoplasmosis menyebar atau di luar paru
 Isosporiasi intestinal kronis lebih sebulan lamanya
 Sarkoma kaposi
 Limfoma Burkitt
 Limfoma imunoblastik
 Limfoma primer di otak
 Mycobacterium Avium Complex (MAC) atau M. Kansasii tersebar atau di luar paru
 M. Tuberculosis paru atau ekstra paru
 Pneumocystis jiroveci[i] Pneumonia
 Pneumonia yang berulang
 Leukoensefalopati Multifokal Progresif
 Septikemia Salmonella yang berulang
 Toksoplasmosis di otak

Tabel 2. Klasifikasi Klinis Infeksi HIV pada orang dewasa menurut WHO

STADIUM GAMBARAAN KLINIS SKALA AKTIFITAS
I  Asimtomatis Asimtomatik, aktifitas normal
 Limfadenopati generalisata
II  Berat badan menurun < 10% dari BB Simtomatik, aktifitas normal
semula
 Kelainan kulit dan mukosa yang ringan
seperti dermatitis seboroik, prurigo,
onikomikosis, ulkus oral yang rekuren,
cheilitis angularis
 Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
 Infeksi saluran nafas bagian atas
berulang seperti sinusitis bakterialis,
tonsilitis, faringitis, atau otitis media
III  Berat badan menurun > 10% dari BB Pada umumnya lemah,
semula aktifitas di tempat tidur
 Diare kronis yang tidak diketahui kurang dari 50%
penyebabnya yang berlangsung lebih
dari 1 bulan
 Demam persisten tanpa sebab yang
jelas (intermiten atau konstan >
37,50C) yang berlangsung lebih dari 1
bulan
 Kandidiasis orofaringeal persisten
(thrush)
 Oral Hairy Leukoplakia
 TB paru dalam 1 tahun terakhir
 Infeksi bakterial yang berat (Mis.
Pneumonia, empyema, pyomiositis,
infeksi tulang atau sendi, meningitis
atau bakteriemia)
 Stomatitis ulseratif necrotizing akut,
ginggivitis atau periodontitis
 Anemia (<8g/dl), neutropenia(<0,5x
109/L) dan atau trombositopenia
kronis yang tidak dapat diterangkan
sebabnya
IV  HIV wasting syndrome seperti yang Pada umumnya sangat
didefinisikan oleh CDC lemah, aktifitas di tempat
 Pneumocystis Pneumonia tidur lebih dari 50%
 Pneumonia bakteri berat yang
berulang
 Infeksi herpes simpleks kronis
(orolabial, genital atau anorektal > 1
bulan atau visceral)
 Kandidiasis
esofagus/trakea/bronkus/paru
 Toksoplasmosis otak/SSP
 Diare kriptosporidiosis lebih dari 1
bulan
 Kriptokosis ekstrapulmonal
 Infeksi Cytomegalo Virus
 Herpes simpleks mukokutan > 1bulan
 Progressive Multifocal
Leucoencephalopathy
 Cryptosporodiosis kronis
 Isosporiasis kronis
 Mikosis diseminata
 Septikemia berulang
 Karsinoma serviks invasif
 Sarkoma Kaposi
 Ensefalopati HIV
 Nefropati atau kardiomiopati terkait
HIV yang simtomatis
HIV wasting syndrome: berat badan turun lebih dari 10% ditambah diare kronik lebih dari 1
bulan atau demam lebih dari 1 bulan yang tidak disebabkan oleh penyakit lain
Ensefalopati HIV: gangguan kognitif dan atau disfungsi motorik yang mengganggu aktifitas
hidup sehari-hari dan bertambah buruk dalam beberapa minggu atau bulan yang tidak disertai
oleh penyakit penyerta lain selain HIV.
Untuk keperluan surveilans epidemiologi AIDS di Indonesia digunakan definisi kasus sebagai
berikut:
Seorang dewasa (>12 tahun) dianggap AIDS apabila menunjukkan tes HIV positif dengan
strategi pemeriksaan yang sesuai dengan sekurang-kurangnya didapatkan 2 gejala mayor yang
berkaitan dan 1 gejala minor, dan gejala ini bukan disebabkan oleh keadaan lain yang tidak
berkaitan dengan infeksi HIV.
Gejala Mayor:
 Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
 Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
 Demam berkepanjangan lebih dari 1bulan
 Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
 Demensia/HIV ensefalopati
Gejala Minor:
 Batuk menetap lebih dari 1 bulan
 Dermatitis generalisata
 Adanya herpes zoster multisegmental dan Herpes zoster berulang
 Kandidiasis orofaringeal
 Herpes simpleks kronis progresif
 Limfadenopati generalisata
 Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
 Retinitis virus sitomegalo

BAB V

KEBIJAKAN
 Rumah Sakit Cahya Kawaluyan bukan merupakan rumah sakit rujukan penanggulangan
HIV-AIDS yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan.
 Rumah Sakit Cahya Kawaluyan melaksanakan penanggulangan HIV-AIDS sesuai dengan
pedoman rujukan ODHA.
 Rumah Sakit mengikuti langkah pelaksanaan pelayanan HIV-AIDS sebagai berikut:
a. Meningkatkan fungsi pelayanan VCT (Voluntary Counselling and Testing)
b. Meningkatkan fungsi pelayanan PMTCT (Prevention Mother to Child Transmission)
c. Meningkatkan fungsi pelayanan Infeksi Oportunistik (IO)
d. Meningkatkan fungsi pelayanan penunjang yang meliputi pelayanan gizi, laboratorium
dan radiologi serta pencatatan/pelaporan.
 Proses penyusunan rencana Rumah Sakit untuk melaksanakan penanggulangan HIV-AIDS
melibatkan pimpinan Rumah Sakit. Direktur menetapkan keseluruhan lingkup pelayanan
HIV-AIDS yang dilaksanakan, strategi pelaksanaan, mekanisme monitoring dan evaluasi
serta sistem pelaporan.
 Penyusunan regulasi, penyediaan fasilitas dan dukungan pembiayaan untuk program
pelayanan HIV-AIDS difasilitasi dalam Rencana Kerja Anggaran Rumah Sakit dan direalisasi
sesuai ketentuan yang ditetapkan.
 Direktur membentuk Tim Penanggulangan Infeksi HIV-AIDS yang akan melaksanakan
pengorganisasian, pembuatan pedoman kerja, program kerja, monitoring dan evaluasi
pelaksanaan pelayanan HIV-AIDS di rumah sakit. Ketua Tim bertanggung jawab langsung
kepada Direktur.
 Pelatihan dilaksanakan untuk staf rumah sakit untuk meningkatkan pelayanan HIV-AIDS.
 Rumah Sakit Cahya Kawaluyan merujuk pasien HIV-AIDS yang memerlukan pengobatan
ART (Antiretroviral Therapy)
 Rumah Sakit Cahya Kawaluyan merujuk pasien ODHA dengan faktor risiko IDU ke
pelayanan kesehatan yang lebih memadai. Semua sistem rujukan penanggulangan HIV-
AIDS dilaksanakan oleh Rumah Sakit sesuai ketentuan yang berlaku.
 Rumah Sakit melaksanakan pelayanan VCT,PMTCT,IO dan Pelayanan Penunjang sesuai
ketentuan yang berlaku.

BAB VI

PENGORGANISASIAN

DIREKTUR

Drg. A. Friedrich John
KETUA TIM HIV-AIDS

Dr Hendra William Goey

SEKRETARIS

Devi Dara AMd. Keb

Pelayanan VCT Pelayanan PMTCT Pelayanan Penunjang Pencatatan dan Pelaporan

Konselor Devi Dara AMd. Keb Thomas Agus AMK.Ak Oki Marwan Aryath AMd

Dr Hendra William G Ria Hardianti AMd. Kep Agatha Evik Handayani
AMd
Wening Wicaksono

BAB VII

KEGIATAN

I. Penerimaan pasien HIV/AIDS
a. Poliklinik
Pasien dengan HIV/AIDS yang datang dengan/tanpa surat rujukan dapat diterima di
semua bidang pelayanan medik, sesuai dengan penyakit oportunistik yang dideritanya
seperti bagian penyakit dalam, saraf, kulit dan kelamin, kebidanan dan lain-lain. Apabila
pasien dinyatakan harus dirawat inap, pasien akan dirujuk ke rumah sakit rujukan.
b. Instalasi Gawat Darurat (IGD)
Pasien dengan HIV/AIDS yang datang ke bagian IGD dilayani sesuai prosedur standar
yang berlaku. Jika pasien harus dirawat inap dan kondisi pasien memungkinkan untuk
dirujuk, pasien akan dirujuk ke rumah sakit rujukan. Jika pasien tidak transportable atau
tidak dapat dirujuk maka pasien akan dirawat sesuai dengan keluhan utama pasien
berdasarkan standar perawatan pasien HIV/AIDS diruangan.
c. Kamar Jenasah
Penderita datang sudah dalam keadaan meninggal. Penanganan jenasah dapat dilihat
pada halaman 31.

II. Sikap dasar tenaga kesehatan
1. Bersikap tenang, wajar, tidak berlebihan dan mengacu pada sikap kewaspadaan
universal (universal precaution).
2. Menumbuhkan kepercayaan dan penghargaan pasien.
3. Berusaha untuk peka terhadap perasaan pasien yang labil dan tunjukkan sikap empati
4. Mengembangkan hubungan saling percaya dan menghargai hak pasien
5. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaannya
6. Mengerti, memahami dan memiliki keterampilan dalam memberikan asuhan
keperawatan pasien HIV/AIDS
7. Menciptakan hubungan suportif dan hindarkan perilaku yang diskriminatif
8. Membantu dengan memenuhi kebutuhan dasar
9. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk melakukan kegiatan yang berhubungan
dengan iman/kepercayaannya.

III. Hak dan Kewajiban Pasien
Pada dasarnya pasien HIV/AIDS mempunyai hak dan kewajiban sama dengan pasien lain di
rumah sakit
1. Hak Pasien
a. Pasien berhak mendapatkan pelayanan kesehatan, gawat darurat, operasi dan
persalinan
b. Pasien boleh menerima kunjungan dan ditemani selama dalam masa perawatan
kecuali pada kondisi infeksius berat
c. Apabila diijinkan dokter (terutama pasien infeksius/menular, seperti TBC), pasien
boleh mengunjungi fasilitas yang ada di rumah sakit seperti ruang TV, gereja, dll.
d. Pasien dengan diare berat sebaiknya diisolasikan
e. Pasien berhak menerima donor
2. Kewajiban pasien
a. Pasien mentaati peraturan dan tata tertib rumah sakit
b. Pasien memberikan informasi dengan jujur dan selengkapnya tentang penyakit yang
diderita kepada dokter yang merawat
c. Pasien mematuhi segala instruksi dokter dalam rangka pengobatannya
d. Pasien mematuhi hal-hal yang sudah disepakati/perjanjian yang telah dibuat.

IV. Konseling HIV/AIDS
A. Voluntary Counseling and Testing (VCT)
1. Pengertian
VCT merupakan kegiatan konseling bersifat sukarela dan rahasia yang dilakukan
sebelum dan sesudah tes anti HIV di laboratorium. Setiap pemeriksaan anti HIV harus
disertai informed consent
2. Tujuan Umum
a. Menyediakan dukungan psikologis
b. Mencegah penularan HIV dengan
- Menyediakan informasi tentang perilaku berisiko
- Membantu mengembangkan keahlian pribadi yang diperlukan untuk mendukung
perilaku hidup sehat
c. Memastikan pengobatan yang efektif sedini mungkin sesuai standar WHO termasuk
alternatif pemecahan berbagai masalah
3. Konseling Pra Tes
a. Tujuan
Membuat klien mampu memutuskan apakah dirinya perlu memeriksakan status HIV-
nya atau tidak, dengan segala konsekuensinya
b. Isi konseling
- Motif pemeriksaan sukarela
- Interpretasi hasil tes:
 Uji saring vs konfirmasi
 Tanpa gejala vs gejala nyata
 Pemahaman bahwa infeksi HIV dan dampaknya tidak dapat sembuh namun
ODHA dapat tetap produktif
 Infeksi oportunistik dapat diobati
- Estimasi hasil tes
 Kesiapan mental emosional penerimaan hasil tes
 Kajilah resiko yang tidak diharapkan atas hasil tes
 Periode jendela (window period)
- Membuat rencana atas hasil tes
 Apa yang harus dilakukan jika hasl positif atau negatif
 Memperkirakan dukungan dari orang dekat/sekitar pasien
 Membangun pemahaman hidup sehat dan mendorong perilaku sehat
- Membuat keputusan melaksananakan tes
4. Konseling Pasca Tes
a. Tujuan
Membuat klien mampu menerima hasil pemeriksaan status HIV-nya dan menyesuaikan diri
dengan konsekuensi dan risikonya, serta membuat perubahan perilaku menjadi perilaku
sehat.
b. Isi Konseling
 Menilai keadaan psikososial terkini, mendukung mental-emosional klien
 Menilai pemahaman klien
 Mendukung emosi klien dan mendorong klien berbicara lebih lanjut
 Manajemen pemecahan masalah: gali masalah, pahami dan pahamkan pada klien dan
bantulah susun rencana untuk perubahan ke perilaku sehat
 Bila ada masalah psikiatri, rujuk ke psikiater
B. Provider Initiated Testing and Counseling (PITC)
1. Pengertian
PITC adalah kegiatan pemeriksaan tes HIV dan konseling yang diprakarsai/disarankan oleh
petugas medis. Jadi pada kegiatan ini pasien sudah mengetahui dan menyetujui untuk
dilakukan tes terhadap dirinya. Hanya pada PITC tidak dilakukan konseling pra test.
2. Tujuan
Untuk memperluas jangkauan dan lebih mempermudah akses pelayanan.

C. Konseling pencegahan
1. Tujuan
Membuat klien memahami perlunya menghindari perilaku berisiko.
2. Isi Konseling
- Pemahaman HIV/AIDS dan dampak fisik serta psikososial
- Cara penularan dan pencegahannya
- Pemahaman perilaku hidup sehat
- Mendorong perubahan perilaku ke arah hidup sehat

D. Konseling Keluarga
1. Tujuan
Agar pasien dan keluarganya saling mendukung dalam menghadapi keadaan dan kondisi
psikologis, fisik dan sosialnya.
2. Isi konseling
- Pemahaman HIV/AIDS dan dampak fisik serta psikososial
- Cara penularan dan tidak menularkan, pencegahan
- Pemahaman perilaku hidup sehat
- Mendorong perubahan perilaku ke arah hidup sehat

E. Konseling berkelanjutan
1. Tujuan
Agar klien terbantu menghadapi keadaan dan kondisi psikologis yang terbebani masalah
gangguan kesehatan fisik dan jiwanya.
2. Isi Konseling
- Identifikasi berbagai masalah yang diajukan pasien.
- Prioritas pencegahan masalah
- Rencana ke depan yang rasional, perubahan persepsi yang lebih positif
- Kepatuhan berobat, cara penggunaan, resistensi dan efek samping
- Memberikan bantuan akses terhadap pencapaian obat
- Rencana menikah dan mendapatkan keturunan
- Cara hidup sehat termasuk gizi dan olahraga

F. Konseling Terminal State
1. Tujuan
Agar klien tenang dan berserah diri dalam menghadapi hari-hari akhir kehidupannya.
2. Isi Konseling
- Pemahaman akan makna hidup
- Pemahaman akan makna kematian
- Cita-cita yang sudah tercapai
- Cita-cita yang belum tercapai
- Kepada siapa dan bagaimana cita-cita yang belum tercapai disampaikan.
- Pelayanan kerohanian sesuai dengan iman/kepercayaan klien.

G. Konseling Masalah Psikiatris
1. Tujuan
Agar klien terbantu dalam menghadapi keadaan dan kondisi psikiatris yang ada.
2. Isi Konseling
- Identifikasi gangguan psikiatris
- Identifikasi masalah termasuk keinginan bunuh diri
- Rujukan ke psikiater
- Pemahaman perlunya kepatuhan berobat

V. Tatalaksana Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak / Prevention Mother To Child
Transmission (PMTCT)
Pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dilaksanakan melalui kegiatan komprehensif yang
meliputi empat pilar (4 prong), yaitu:
1. Pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi (15-49 tahun)
2. Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan HIV positif
3. Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya
4. Dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kesehatan selanjutnya kepada ibu yang
terinfeksi HIV dan bayi serta keluarganya

1. Pencegahan penularan HIV, pada perempuan usia reproduksi (15-49 tahun)

Pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi disebut juga sebagai pencegahan
primer yang bertujuan mencegah penularan HIV dari ibu ke anak secara dini. Dengan cara:
a. Melakukan edukasi Menghindari perilaku seksual berisiko dengan strategi ABCD:
A (Abstinence), artinya Absen seks atau tidak melakukan hubungan seks bagi orang
yang belum menikah; • B (Be Faithful), artinya Bersikap saling setia kepada satu
pasangan seks (tidak berganti-ganti pasangan); • C (Condom), artinya Cegah penularan
HIV melalui hubungan seksual dengan menggunakan kondom; • D (Drug No), artinya
Dilarang menggunakan narkoba.
b. Menjelaskan manfaat mengetahui status atau tes HIV sedini mungkin
c. Meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan tentang tatalaksana ODHA perempuan
d. Meningkatkan keterlibatan aktif keluarga dan komunitas untuk meningkatkan
pengetahuan komprehensif HIV dan IMS
e. Menjelaskan tentang cara pengurangan risiko penularan HIV dan IMS, termasuk melalui
penggunaan kondom dan alat suntik steril
f. Layanan VCT dengan memperhatikan 3 C yaitu Counselling, Confidentiality, dan
informed consent.
Jika status HIV ibu sudah diketahui,
 HIV positif: lakukan intervensi PPIA komprehensif agar ibu tidak menularkan HIV
kepada bayi yang dikandungnya
 HIV negatif: lakukan konseling tentang cara menjaga agar tetap HIV negatif

2. Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan HIV positif
a. Perempuan dengan HIV yang tidak ingin hamil dapat menggunakan kontrasepsi yang
sesuai dengan kondisinya dan disertai penggunaan kondom untuk mencegah penularan
HIV dan IMS.
b. Perempuan dengan HIV yang memutuskan untuk tidak mempunyai anak lagi disarankan
untuk menggunakan kontrasepsi mantap dan tetap menggunakan kondom.
c. Memberikan konseling dan memfasilitasi perempuan dengan HIV yang ingin
merencanakan kehamilan
3. Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya
a. Layanan ANC terpadu termasuk penawaran dan tes HIV
Pelayanan tes HIV merupakan upaya membuka akses bagi ibu hamil untuk
mengetahui status HIV, sehingga dapat melakukan upaya untuk mencegah penularan
HIV ke bayinya,memperoleh pengobatan ARV sedini mungkin, dukungan psikologis,
informasi dan pengetahuan tentang HIV-AIDS.
b. Diagnosis HIV
Pemeriksaan diagnostik infeksi HIV dapat dilakukan secara virologis (mendeteksi
antigen DNA atau RNA) dan serologis (mendeteksi antibodi HIV) pada spesimen darah.
Pemeriksaan diagnostik infeksi HIV yang dilakukan di Indonesia umumnya adalah
pemeriksaan serologis menggunakan tes cepat (Rapid Test HIV) atau ELISA.
c. Pemberian terapi antiretroviral
Pemberian ARV pada ibu hamil dengan HIV selain dapat mengurangi risiko
penularan HIV dari ibu ke anak, adalah untuk mengoptimalkan kondisi kesehatan ibu
dengan cara menurunkan kadar HIV serendah mungkin.
d. Persalinan yang aman
Pilihan persalinan meliputi persalinan per vaginam dan per abdominam (bedah
sesar atau seksio sesarea). Dengan terapi ARV yang sekurangnya dimulai pada minggu
ke-14 kehamilan, persalinan per vaginam merupakan persalinan yang aman.
Apabila tersedia fasilitas pemeriksaan viral load, dengan viral load < 1.000
kopi/µL, persalinan per vaginam aman untuk dilakukan.
Persalinan bedah sesar hanya boleh didasarkan atas indikasi obstetrik atau jika
pemberian ARV baru dimulai pada saat usia kehamilan 36 minggu atau lebih, sehingga
diperkirakan viral load > 1.000 kopi/µL.
e. Tatalaksana pemberian makanan bagi bayi dan anak
Ibu dengan HIV yang sudah dalam terapi ARV memiliki kadar HIV sangat rendah,
sehingga aman untuk menyusui bayinya. Dalam Pedoman HIV dan Infant Feeding
(2010), World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif
selama 6 bulan untuk bayi lahir dari ibu yang HIV dan sudah dalam terapi ARV untuk
kelangsungan hidup anak (HIV-free and child survival). Eksklusif artinya hanya diberikan
ASI saja, tidak boleh dicampur dengan susu lain (mixed feeding).
Setelah bayi berusia 6 bulan pemberian ASI dapat diteruskan hingga bayi berusia
12 bulan, disertai dengan pemberian makanan padat. Bila ibu tidak dapat memberikan
ASI eksklusif, maka ASI harus dihentikan dan digantikan dengan susu formula untuk
menghindari mixed feeding.
Sangat tidak dianjurkan menyusui campur (mixed feeding, artinya diberikan ASI
dan PASI bergantian). Pemberian susu formula yang bagi dinding usus bayi merupakan
benda asing dapat menimbulkan perubahan mukosa dinding usus, sehingga
mempermudah masuknya HIV yang ada di dalam ASI ke peredaran darah.
f. Menunda dan mengatur kehamilan
g. Pemberian profilaksis ARV dan kotrimoksazol pada anak
Pemberian profilaksis ARV dimulai hari pertama setelah lahir selama 6 minggu.
Obat ARV yang diberikan adalah zidovudine (AZT atau ZDV) 4 mg/kgBB diberikan 2 kali
sehari. Selanjutnya anak dapat diberikan kotrimoksazol profilaksis mulai usia 6 minggu
dengan dosis4-6 mg/kgbb, satu kali sehari, setiap hari sampai usia 1 tahun atau sampai
diagnosis HIV ditegakkan
h. Pemeriksaan diagnostik HIV pada anak.
Antibodi HIV dari ibu dapat berpindah ke bayi melalui plasenta selama kehamilan
berada pada darah bayi/anak hingga usia 18 bulan. Penentuan status HIV pada
bayi/anak (usia<18 bulan) dari ibu HIV tidak dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan
diagnosis HIV (tes antibodi) biasa. Pemeriksaan serologis anti-HIV dan pemeriksaan
virologis HIV RNA (PCR) dilakukan setelah usia 18 bulan atau dapat dilakukan lebih awal
pada usia 9-12 bulan, dengan catatan bila hasilnya positif, maka harus diulang setelah
usia 18 bulan.
Pemeriksaan virologis, seperti HIV DNA (PCR), saat ini sudah ada di Indonesia
dan dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis HIV pada anak usia di bawah 18
bulan. Pemeriksaan tersebut harus dilakukan minimal 2 kali dan dapat dimulai ketika
bayi berusia 4-6 minggu dan perlu diulang 4 minggu kemudian

4. Dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kesehatan selanjutnya kepada ibu yang
terinfeksi HIV dan bayi serta keluarganya.
Upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak tidak berhenti setelah ibu
melahirkan. Ibu akan hidup dengan HIV di tubuhnya. Ia membutuhkan dukungan psikologis,
sosial dan perawatan sepanjang waktu. Hal ini terutama karena si ibu akan menghadapi
masalah stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap ODHA. Faktor kerahasiaan status HIV
ibu sangat penting dijaga. Dukungan juga harus diberikan kepada anak dan keluarganya.
Beberapa hal yang mungkin dibutuhkan oleh ibu dengan HIV antara lain:
• Pengobatan ARV jangka panjang • Pengobatan gejala penyakitnya
• Pemeriksaan kondisi kesehatan dan pemantauan terapi ARV (termasuk CD4 dan viral
load)
• Konseling dan dukungan kontrasepsi dan pengaturan kehamilan
• Informasi dan edukasi pemberian makanan bayi
• Pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik untuk diri sendiri dan bayinya.
• Penyuluhan kepada anggota keluarga tentang cara penularan HIV dan pencegahannya
• Layanan klinik dan rumah sakit yang bersahabat • Kunjungan ke rumah (home visit)
• Dukungan teman-teman sesama HIV positif, terlebih sesama ibu dengan HIV
• Adanya pendamping saat sedang dirawat
• Dukungan dari pasangan
• Dukungan kegiatan peningkatan ekonomi keluarga
• Dukungan perawatan dan pendidikan bagi anak

VI. Perawatan Komprehensif Berkelanjutan
1. Prinsip Dasar asuhan Keperawatan
a. Perawatan dan pencegahan yang terpadu dengan memberikan layanan perawatan secara
lengkap dan menyeluruh
b. Perawatan yang tidak diskriminatif dan menghakimi
c. Menjaga kerahasiaan dan menghormati hak asasi manusia
d. Asuhan keperawatan untuk meringankan gejala penyakit terkait HIV serta pencegahan
terjadinya infeksi nosokomial
e. Secara empati mendengarkan keluhan ODHA dan keluarganya, serta memberdayakan
mereka agar dapat membuat rencana ke depan
f. Menyediakan akses dukungan bagi perawatan di rumah
g. Mobilisasi sumber daya di masyarakat untuk perawatan lengkap dan efisien
h. Dukungan berupa pendidikan dan pelatihan serta supervisi bagi pemberi layanan

2. Kewaspadaan Universal
Prinsip dari kewaspadaan universal adalah bahwa darah dan semua jenis cairan tubuh,
sekret, ekskreta, kulit yang tidak utuh dan selaput lendir penderita dianggap sebagai sumber
potensial untuk penularan infeksi termasuk HIV.
Asuhan keperawatan bagi ODHA sama saja dengan asuhan keperawatan bagi pasien dengan
penyakit lain. Semua prinsip asuhan keperawatan harus dijalankan secara bertanggungjawab,
termasuk penerapan kewaspadaan universal standar.
3. Peraturan Pokok Petugas
a. Petugas perawatan yang hamil, high risk infection dan mempunyai luka/dermatitis tidak
diperbolehkan merawat pasien HIV/AIDS.
b. Cuci tangan sebelum dan sesudah rawat pasien sekalipun sudah menggunakan sarung
tangan.
c. Memegang teguh rahasia jabatan
4. Ruang Perawatan
Pada prinsipnya pasien HIV/AIDS dapat dirawat di ruang infeksi biasa (tanpa isolasi). Pasien
diisolasi dengan pertimbangan:
a. Melindungi pasien HIV/AIDS dari infeksi lainnya
b. Pasien dengan infeksi oportunistik berat
c. Pasien dalam keadaan terminal
d. Pasien dengan manifestasi neurologis (mis. gaduh, gelisah)
5. Usaha Pencegahan Penularan
a. Cuci tangan sebelum dan sesudah asuh rawat
b. Sarung tangan (handschoen) dan schort khusus digunakan pada setiap melakukan
tindakan menolong buang air besar, buang air kecil dan memegang alat-alat yang
terkontaminasi.
c. Gunakan masker dan kacamata pelindung bila melakukan prosedur invasif.
d. Jarum suntik/benda tajam:
- Jarum suntik dan instrumen tajam harus digunakan hati-hati supaya petugas tidak
tertusuk/terluka.
- Jarum suntik ditutupkan, masukkan ke dalam container/kaleng bekas, dan diberi label
“SIDA” dengan menggunakan spidol warna merah, lalu dikirim ke tempat
pembakaran/incinerator.
e. Instrumen yang telah digunakan, direndam dalam air panas ditambah detergen sebanyak
1 sendok makan dalam 1 liter air, atau larutan klorin 0,5% selama 30 menit kemudian
dibilas, dimasukkan ke dalam kantong plastik berwarna merah lalu dikirim ke central
supply untuk disterilkan
f. Resusitasi pernafasan
Untuk menghindari kemungkinan paparan HIV sebaiknya tidak digunakan alat resusitasi.
Bila terpaksa digunakan, alat-alat tersebut harus dicuci bersih dan didisinfeksi setelah
digunakan.
g. Urinal dan pispot
Kotoran dibuang ke tempat pembuangan, urinal dan pispot dibilas dengan air panas,
kemudian direndam dalam air panans 1 liter ditambah 1 sendok makan detergen selama
30 menit dibilas lalu dikeringkan.
h. Sampah
Dimasukkan dalam kantong plastik tebal berwarna merah, tutup rapat. Beri label “SIDA”
dengan menggunakan spidol merah lalu dikirim ke tempat pembakaran/incinerator.
i. Alat tenun
Setelah dipakai dimasukkan dalam kantong plastik rangkap dua. Beri label “SIDA” dengan
menggunakan spidol merah kemudian dikirim ke tempat pencucian. Alat tenun direndam
dalam klorin 0,5% selama <10 menit, kemudian dicuci dengan air panas dan detergen.
Pada waktu menangani bahan tenun yang kotor, petugas harus memakai sarung tangan
dan baju pelindung.
j. Alat pecah belah
Setelah digunakan, rendam dalam air panas 1 liter dan larutan klorin 0,5% selama <10
menit, dibilas lalu dikeringkan
k. Spesimen
Harus hati-hati pada waktu pengambilan spesimen. Gunakan sarung tangan dan baju
pelindung. Beri label “SIDA” dengan menggunakan spidol merah, masukkan dalam tabung
lalu ditutup. Usahakan tidak mengotori bagian luar tempat spesimen.
i. Alat-alat non metal
Setelah digunakan, rendam dengan klorin 0,5% selama<10 menit.
l. Kamar mandi dan kloset
Siram dengan:
- Air kemudian dengan air panas/mendidih
- Terakhir, bersihkan dengan menggunakan cairan klorin 0,05%

VII. Standar Asuhan Keperawatan ODHA Dewasa
a. Definisi kasus dewasa
Seorang dewasa (>12tahun) dianggap AIDS apabila menunjukkan tes HIV + dengan strategi
pemeriksaan yang sesuai dengan sekurang-kurangnya didapatkan 2 gejala mayor yang
berkaitan dan 1 gejala minor, dan gejala ini bukan disebabkan oleh keadaan lain yang tidak
berkaitan dengan infeksi HIV.
b. Cemas sehubungan dengan adanya ancaman kematianyang ditandai dengan gampang
marah, putus asa dan mengeluh takut.
Intervensi keperawaan:
- Ciptakan hubungan saling percaya antara perawat dengan pasien, misalnya dengan
memperkenalkan diri pada pasien.
- Lakukan kontak sesering mungkin dengan pasien seperti dengan sentuhan, ajak bicara,
memberi
kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaannya sehingga pasien tidak
merasa
sendiri ataupun merasa ditolak.
- Jelaskan penyebab dan proses jalannya penyakit.
- Batasi penggunanan barak schort/masker untuk menghindari perasaan pasien dari rasa
ditolak.
- Observasi adanya tanda-tanda menarik diri atau keinginan untuk bunuh diri.
- Ijinkan pasien untuk marah dan jelaskan perasaan yang normal agar pasien dapat mengontrol
perasaannya dan menerima keadaan.
- Beri dukungan melalui bimbingan kerohanian untuk mengurangi kecemasan.
- Rujuk ke psikiater, psikolog, pembimbing rohani bila diperlukan.

c. Potensial infeksi sehubungan dengan daya tahan tubuh yang menurun, ditandai dengan
leukopenia, subfebris, gangguan integritas kulit.
Intervensi keperawatan:
- Cuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan pasien untuk mengurangi risiko kontaminasi
silang.
- Sediakan lingkungan yang bersih, ventilasi yang baik, melarang petugas/pengunjung yang
sedang
mengalami infeksi mengadakan kontak fisik dengan pasien.
- Lakukan isolasi bila leukopenia berat (granulosit < 500) dan jelaskan alasan diisolasi.
- Anjurkan pasien untuk tetap menjaga kebersihan kulit, mulut dan observasi keadaan kulit dan
mulut
dari adanya kandida.
- Monitor tanda-tanda vital.
- Observasi suara nafas dari adanya wheezing dan ronchi
- Monitor adanya rasa terbakar, dysphagia, retrosternal pain.
- Gunakan sarung tangan dan schort selama kontak langsung dengan sekresi/ekskresi tubuh
pasien
saat merawat luka.
- Gunaka disposable syringe dan setelah menyuntik jarum ditutup, kemudian langsung
masukkan ke
dalam kontainer yang tidak tembus jarum. Beri label “SIDA” dengan spidol merah.
- Gunakan label khusus pada tempat penyimpanan pemeriksaan darah atau kotoran.
- Monitor pemeriksaan laboratorium seperti leukosit, kadar Hb, jumlah limfosit, jumlah
trombosit dan
apus darahtepi.
- Beri antibiotik, anti jamur sesuai keadaan klinisnya.
d. Pola nafas tidak efektif sehubungan dengan berkurangnya ekspansi paru, obstruksi
tracheobronchial yang ditandai dengan adanya sesak nafas, sianosis, ronkhi, wheezing dan
krepitasi.
Intervensi keperawatan
- Observasi perubahan kesadaran pasien
- Observasi pernafasan: frekuensi, kedalamannya
- Auskultasi suara nafas dari menurunnya atau tidak adanya ventilasi, adanya krepitasi,
wheezing dan
ronkhi.
- Elevasikan bagian kepala, anjurkan nafas dalam untuk mengoptimalkan fungsi pulmonal untuk
mengurangi terjadinya aspirasi atau infeksi.
- Lakukan suction bila ada indikasi dengan memperhatikan teknik kesterilan. Petugas
menggunakan masker, kacamata, sarung tangan, schort untuk mencegah terkontaminasi
dengan cairan tubuh pasien.
- Anjurkan bedrest
- Monitor gas darah untuk mengetahui keadaan oksigenisasi dan status ventilasi.
- Lakukan foto x-ray ulang untuk mengetahui adanya infiltrasi.
- Beri O2 untuk mempertahankan ventilasi yang efektif.
- Beri antibiotik sesuai indikasi.
e. Gangguan nutrisi: berat badan menurun sehubungan dengan mual, ditandai dengan
penurunan berat badan 10%, nafsu makan menurun, kram perut.
Intervensi keperawatan
- Kaji penyebab menurunnya nafsu makan, seperti adanya luka pada mulut.
- Auskultasi bising usus. Hypermotility dari traktus intestinal ada hubungannya dengan muntah,
diare.
- Lakukan perawatan mulut, hindari pemakaian alkohol untuk memberikan rasa nyaman,
mengurangi rasa mual.
- Beri makan TKTP, porsi kecil tapi sering dan disajikan dalam bentuk menarik untuk
meningkatkan selera makan.
- Anjurkan istirahat sebelum makan untuk meminimalkan rasa lelah oleh karena pada saat
makan energi yang digunakan akan meningkat.
- Pertahankan lingkungan yang aman untuk mengurangi kemungkinan injuri.
- Monitor laboratorium: hemostasis, trombosit
- Beri transfusi bila ada indikasi
- Hindari penggunaan produk aspirin untuk mengurangi agregasi platelet.
VIII. Asuhan Keperawatan Anak dengan HIV/AIDS
a. Definisi kasus anak
- Anak umur lebih dari 18 bulan, menunjukkan tes HIV Positif, dan sekurang-kurangnya
didapatkan 2 gejala mayor dan 2 gejala minor dan gejala tersebut bukan disebabkan oleh
keadaan lain yang tidak berkaitan dengan infeksi HIV.
- Anak umur 18 bulan atau kurang, ditemukan 2 gejala mayor dan 2 gejala minor dengan ibu
yang HIV positif. Gejala ini bukan disebabkan oleh keadaan lain yang tidak berkaitan dengan
infeksi HIV.

Gejala Mayor:
- Berat badan menurun atau gagal tumbuh
- Diare terus-menerus atau berulang dalam waktu lebih dari 1 bulan
- Demam terus-menerus atau berulang dalam waktu lebih dari 1 bulan
- Infeksi saluran pernafasan bagian bawah yang parah atau menetap.

Gejala Minor:
- Limfadenopati generalisata atau hepatosplenomegali
- Kandidiasis oral
- Infeksi bakteri dan atau virus yang berulang
- Batuk kronis
- Dermatitis yang luas
- Ensefalitis

b. Asuhan keperawatan dasar pada anak HIV positif dengan infeksi oportunistik. Pada dasarnya
asuhan keperawatan anak HIV positif dengan infeksi oportunistik, sama saja dengan pasien
anak lainnya dengan tetap melakukan prinsip kewaspadaan universal.

c. Pemberian ASI pada bayi dari ibu HIV positif
- Menyusui bayinya secara ekslusif selama 6 bulan untuk semua ibu yang tidak terinfeksi atau
tidak diketahui status HIV-nya.
- Ibu dengan HIV positif dianjurkan untuk tidak memberikan ASI dan sebaiknya memberikan
susu formula (PASI) atau susu sapi atau kambing yang diencerkan.
- Bila PASI tidak memungkinkan disarankan pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan kemudian
segera dihentikan untuk diganti PASI. Pemberian ASI ini dengan cara diperas dan dihangatkan
dahulu pada suhu di atas 660C untuk membunuh virus HIV.

Perawatan Paliatif
a. Perawatan paliatif adalah perawatan untuk membantu meringankan penderitaan fisik
maupun psikologis pada penderita yang tidak dapat disembuhkan.
b. Berikan asuhan keperawatan demi kenyamanan penderita:
- Untuk nyeri kronis, berikan pengobatan dengan dosis regular, bukan secara periodik.
- Membantu untuk relaksasi seperti nafas panjang, gosokan di punggung, pijitan badan.
- Usahakan penderita tetap bersih dan kering
- Penggantian posisi secara teratur untuk kesehatan kulit dan mencegah kontraktur dan
dekubitus.
- Memberi toleransi maksimal kepada penderita, seperti tidak mau makan, menolak atau minta
dijenguk.
- Menghormati kebutuhan penderita untuk mandiri dengan memperbolehkan mereka
mengerjakan
apa yang dapat dikerjakan sendiri seperti membalik tubuh, berpindah posisi.
c. Penerimaan terhadap kehilangan dan perubahan
- Memberi dukungan dengan memperbolehkan penderita dan keluarganya membicarakan
perasaan mereka.
- Membangkitkan harga diri dengan melihat pada keberhasilan hidupnya dan mengenang masa
lalu.
- Memaklumi perasaan marah, sedih atau emosi dan reaksi lainnya penderita.
d. Persiapan kematian
- Bila pasien bertanya atau ditanya apa yang ingin mereka ketahui, jelaskan dengan baik bahwa
pasien sudah mendekati ajal untuk mengambil sikap berserah diri. Sedapat mungkin lakukan
sesuatu untuk meringankan rasa nyeri atau gejala sebagai akibat proses kematian.
- Panggilkan ulama sesuai dengan agama/kepercayaan pasien untuk mendapat bekal rohani
yang diperlukan (untuk pasien Katolik diupayakan untuk dapat menerima sakramen
perminyakan).
- Bantu pasien dan keluarganya untuk merencanakan wasiat terakhirnya dan mengatur
pemakamannya.
- Pada acara pemakaman, pengurusan jenasah, harus sesuai dengan budaya setempat tanpa
mengabaikan kaidah kewaspadaan universal.

Prosedur Desinfeksi dan Sterilisasi
Banyak prosedur lain telah dikenal saat ini seperti misalnya merebus dalam air mendidih
ternyata efektif bagi banyak organisme. Virus AIDS akan mati bila kontak selama 30 menit
dengan:
a. Alkohol 70%
b. Lisol 3%
c. Formalin 1% untuk jaringan sekreta (formalin 10%)
d. Glutaraldehide 2%
e. H2O2 3%

Tabel 5. Cara mensterilkan Peralatan

Teknik Suhu Waktu
Autoklaf (uap dengan tekanan tinggi 2 atm) 121 0C 20 menit
Oven kering 170 0C 2 jam
Merebus (air mendidih) 60-100 0C 20-30 menit
Merendam dengan klorin 0,5% - < 10 menit

Persiapan Pasien Pulang
Jelaskan kepada pasien dan keluarganya tentang:
a. Aturan dan kepatuhan makan obat: agar pasien minum obat secara teratur dan tepat
waktu
b. Tindak lanjut: agar pasien tahu kapan harus kontrol ke dokter
c. Pentingnya nutrisi: agar pasien makan makanan bergizi untuk mempertahankan daya
tahan tubuh
d. Personal higiene: agar dilakukan secara teratur setiap hari untuk mencegah infeksi
karena jamur
e. Aktifitas: agar pasien melakukan aktivitas seperti biasa, tetapi jangan melakukan sampai
menimbulkan kelelahan berlebihan.
f. Larangan menjadi donor dan penggunaan jarum suntik secara bergantian: agar tidak
terjadi penularan
g. Cara aman hubungan seksual: dengan menggunakan kondom secara benar dan dengan
pasangan setia
h. Cara penularan hanya melalui kontak langsung dengan darah, semen, sekret cairan
vagina, ASI dan feses.

Petugas Ambulans
a. Tidak ada prosedur khusus, tetapi tetap memperhatikan kewaspadaan universal.
b. Hanya perlu “mechanical ventilation” untuk resusitasi jantung paru untuk
menghindarkan kontak langsung mulut ke mulut.

Perawatan pasien HIV di rumah
a. Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak langsung dengan pasien.
b. Pakailah sarung tangan bila kontak dengan darah, cairan tubuh dan menangani alat-alat
serta pakaian yang terkontaminasi cairan tubuh, dan pada saat merawat luka.
c. Pakaian, sprei dan kain lainnya yang terkontaminasi cairan tubuh agar direndam dengan
cairan kaporit 0,1% selama 30 menit, kemudian dibilas dan keringkan di bawah panas
matahari.
d. Kamar mandi dan kloset dibersihkan dengan air panas dan detergen kemudian dilap
dengan cairan pemutih 0,05%; di kamar mandi harus ada cairan pemutih setiap hari.
e. Benda-benda tajam seperti pisau cukur setelah digunakan dibuang pada tempat khusus
(misalnya botol selai dari plastik) yang tidak mudah tertusuk lalu dibakar.
f. Barang-barang bekas yang terkontaminasi seperti tissue, pembalut luka, dimasukkan
dalam kantong plastik rangkap dua lalu dibakar.
g. Bantal dan kasur harus dilapisi plastik yang tebal agar mudah dibersihkan dengan air
panas dan detergen kemudian dilap dengan cairan pemutih 0,05% lalu dijemur di bawah
sinar matahari.
h. Alat-alat makan dapat dibersihkan dengan cara merendam di air panas dengan detergen
kemudian dibilas dan dikeringkan.

Penanganan Jenasah
Penanganan jenasah penderita penyakit menular dilaksanakan dengan selalu menerapkan
kewaspadaan universal tanpa mengabaikan tradisi budaya dan agama yang dianutnya.
Petugas harus dapat menasehati keluarga jenasah dan mengambil tindakan yang sesuai
agar penanganan jenasah tidak menambah risiko penularan penyakit.
a. Tindakan di ruang perawatan
- Mencuci tangan sebelum memakai sarung tangan
- Memakai pelindung wajah dan jubah
- Luruskan tubuh jenasah dan letakkan dalam posisi terlentang dengan tangan disisi
atau terlipat di dada.
- Tutup kelopak mata dan atau ditutup dengan kapas atau kasa; begitu pula mulut,
hidung dan telinga.
- Beri alas kepala dengan kain handuk untuk menampung bila ada rembesan darah
atau cairan tubuh lainnya.
- Tutup anus dengan kasa dan plester kedap air.
- Lepaskan semua alat kesehatan dan letakkan alat bekas tersebut dalam wadah yang
aman sesuai dengan kaidah kewaspadaan universal.
- Tutup setiap luka dengan plester kedap air.
- Bersihkan tubuh jenasah dan tutup dengan kain bersih untuk disaksikan oleh
keluarganya.
- Beritahu petugas kamar jenasah bahwa jenasah adalah penderita penyakit menular
- Tempatkan jenasah di atas brankar dan antarkan ke kamar jenasah.
- Cuci tangan setelah melepas sarung tangan.
b. Tindakan di kamar jenasah
- Lakukan prosedur baku kewaspadaan universal yaitu cuci tangan sebelum memakai
sarung tangan
- Jenasah dimandikan oleh petugas kamar jenasah yang memahami cara
membersihkan/memandikan jenasah penderita penyakit menular.
- Cuci tangan dengan sabun sebelum memakai sarung tangan dan sesudah melepas
sarung tangan.
- Petugas memakai alat pelindung:
 Sarung tangan karet yang panjang (sampai ke siku)
 Sebaiknya memakai sepatu bot sampai lutut.
 Pelindung wajah (masker dan kacamata)
 Jubah atau celemek, sebaiknya yang kedap air
- Bungkus jenasah dengan kain kafan atau pembungkus khusu jenasah lain sesuai
dengan agama dan kepercayaannya.
- Jenasah yang telah dibungkus tidak boleh dibuka lagi.
- Jenasah tidak boleh dibalsem atau disuntik untuk pengawetan kecuali oleh petugas
khusus yang telah mahir dalam hal tersebut
- Jenasah tidak boleh diotopsi. Dalam hal tertentu otopsi dapat dilakukan setelah
mendapat persetujuan dari pimpinan rumah sakit dan dilaksanakan oleh petugas
yang telah mahir dalam hal tersebut.
- Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan:
 Segera mencuci kulit dan permukaan lain dengan air mengalir bila terkena
darah atau cairan tubuh lain
 Setiap permukaan yang terkena percikan atau tumpahan darah dan atau
cairan tubuh lain segera dibersihkan dengan larutan klorin 0,5%
 Semua peralatan yang akan digunakan kembali harus diproses dengan
urutan: dekontaminasi, disinfeksi atau sterilisasi
 Sampah dan bahan terkontaminasi lainnya ditempatkan dalam kantong
plastik berwarna merah dan diberi label “SIDA”.
 Pembuangan sampah dan bahan yang tercemar sesuai cara pengelolaan
sampah medis.

Penanganan bila terjadi pajanan di Rumah sakit
1. Tindakan setelah terjadi pajanan
a. Luka tusukan jarum atau luka iris segera dicuci sabun dan air mengalir
b. Percikan pada mukosa hidung, mulut atau kulit segera dibilas dengan guyuran
air.
c. Mata diirigasi dengan air bersih, larutan garam fisiologis atau air steril
d. Jari yang tertusuk tidak boleh dihisap dengan mulut seperti kebanyakan tindakan
refleks untuk menghisap darah
2. Laporan Pajanan
a. Setiap pajanan harus dicatat dan dilaporkan kepada tim Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi (PPI) Rumah Sakit atau Tim Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3RS).
b. Laporan sangat diperlukan untuk pemberian profilaksis pasca pajanan dalam
waktu 24 jam.
c. Memulai pengobatan setelah 72 jam tidak dianjurkan karena semakin lama
tertunda semakin kecil arti profilaksis pasca pajanan.
3. Profilaksis Pajanan
a. Menentukan kode pajanan HIV (KP)
b. Menentukan kode status HIV (KS)
c. Menentukan pengobatan profilaksis pasca pajanan sesuai kategori pajanan dan
kode status HIV dari sumber.
d. Melakukan tes HIV segera setelah terpajan, 3 bulan dan 6 bulan selanjutnya.

Prosedur Penanganan Pada Tindakan Khusus
1. Tatalaksana di Kamar Tindakan Bedah
Pada prinsipnya bila kewaspadaan universal telah dilaksanakan dengan baik maka risiko
penularan sangat kecil.
a. Sebelum Tindakan Bedah
 Sedapat mungkin menyediakan alat-alat yang sekali pakai (disposable). Alat-alat yang
dapat digunakan kembali harus disuci-hamakan.
 Menyediakan wadah yang tidak mudah tembus dan telah diberi disinfektan (klorin 0,5%)
untuk benda tajam seperti pisau, jarum, dst.
 Menyediakan wadah plastik berwarna merah yang diberi label “SIDA” untuk kain kasa
bekas yang tercemar oleh cairan tubuh penderita.
 Menyediakan alat pelindung untuk operator/instrumentator/asisten berupa sarung
tangan, masker, kacamata, jubah plastik, topi bedah, sepatu karet.
 Menyediakan alat pelindung tubuh untuk petugas pembersih seperti: sarung tangan
rumah tangga, sepatu boot karet, jubah plastik, masker.
 Lapisi meja bedah dengan plastik transparan.
b. Pada saat tindakan bedah
 Semua petugas yang melakukan tindakan yang berhubungan dengan cairan tubuh
penderita harus memakai sarung tangan.
 Petugas yang mungkin terkena percikan cairan tubuh penderita harus memakai sarung
tangan, kacamata dan masker (operator, asisten operator, instrumentator, dll)
 Untuk menghindari luka tusuk maka bila instrumentator memberikan instrument tajam
kepada operator harus secara tidak langsung yaitu dengan menggunakan tempat
khusus. Begitu pula sebaliknya.
 Untuk mengantisipasi risiko kerusakan sarung tangan, operator menggunakan dua lapis
sarung tangan dan mengganti sarung tangan beberapa kali bila tindakan bedah
berlangsung lama.
 Berhati-hati kalau memasukkan tangan ke daerah tindakan bedah yang sukar dilihat,
untuk menghindari luka tusuk bila ada benda tajam.
 Cairan tubuh yang melekat di badan penderita harus dibersihkan agar tidak mengenai
orang lain.
 Bila diperlukan tindakan resusitasi, usahakan agar tidak melakukan resusitasi secara
langsung mulut ke mulut.
c. Sesudah tindakan bedah
 Alat yang sekali pakai setelah didisinfektan harus segera dimusnahkan.
 Alat yang akan dipakai kembali direndam dalam larutan klorin 0,5% selama kurang dari
10 menit sebelum dibersihkan dan kemudian disuci-hamakan.
 Baju operasi yang terpercik cairan tubuh direndam dengan disinfektan klorin 0,5%
selama <10 menit, kemudian dikirim ke bagian kamar cuci.

2. Pemeriksaan Laboratorium
a. Setiap pemeriksaan anti HIV harus disertai konseling pra tes dan pasca tes, serta informed
consent.
b. Prosedur pengambilan dan pengiriman sampel darah:
 Petugas menggunakan sarung tangan dan schort
 Pengambilan darah dengan spuit disposable
 Darah yang sudah diambil dimasukkan ke dalam tabung/tabung sentrifus yang sudah
ada tutupnya.
 Pengiriman darah harus menggunakan tabung yang dimasukkan ke dalam tempat yang
tertutup dan diberi label “SIDA” dengan menggunakan spidol warna merah.
 Meja yang tercemar specimen, dibersihkan dengan disinfektan klorin 0,5%.
c. Strategi pemeriksaan laboratorium
 Untuk pemeriksaan pertama biasanya digunakan rapid test untuk melakukan uji saring.
 Untuk hasil yang positif akan diperiksa ulang dengan menggunakan metoda yang
berbeda dan atau menggunakan preparasi antigen yang berbeda untuk meminimalkan
adanya hasil positif palsu yaitu dengan cara ELISA (Enzym-linked immunosorbent assay)
atau pemeriksaan sejenis yang mempunyai spesifitas lebih tinggi dari rapid test.
 Bila tersedia tes konfirmasi maka untuk pemeriksaan ke-3 dapat menggunakan WB
(Western Blot). Pemeriksaan anti HIV dinyatakan positif bila telah dilakukan 3x
pemeriksaan dengan metode yang berbeda.
 Untuk bayi dari ibu dengan HIV positif, maka hasil positif pada bayi umur kurang dari 18
bulan ada dua kemungkinan yakni bayi membawa antibodi HIV dari ibunya atau bayi
tersebut terinfeksi HIV dan akan tetap memberikan tes positif.
 Ulangi tes setiap 3 bulan sampai anak berumur 18 bulan.

3. Foto Rontgen dan USG
a. Gunakan plastik kedap air untuk alas tempat tidur pasien.
b. Setelah dipakai bersihkan dengan klorin 0,5%

4. Penanganan persalinan
a. Pasien dengan HIV/AIDS berhak mendapatkan pertolongan persalinan seperti pasien lainnya.
b. Persalinan tetap dilakukan di OK/VK sesuai indikasi.
c. Petugas yang menolong persalinan mengenakan sarung tangan, schort, masker, kacamata
dan sepatu boot.
d. Hindari partus lama dan tindakan invasif, amniotomi sebelum pembukaan lengkap,
episiotomi, ekstraksi cunam, dan analisa gas darah bayi.
5. Perawatan Gigi
a. Dapatkan riwayat penyakit dari tiap-tiap pasien, termasuk hal-hal mengenai obat-obatan,
penyakit yang baru dideritanya, penyakit berulang, berat badan yang menurun tanpa disengaja,
lymphadenopathy, lesi mukosa atau infeksi lain.
b. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan pemeriksaan oral, gunakan sarung tangan, dan
selesaikan pekerjaan pada satu pasien. Untuk pasien baru harus menggunakan sarung tangan
baru.
c. Gunakan masker dan kacamata pelindung sampai ke dagu bila di dagu akan terjadi percikan
cairan tubuh.
d. Lindungi alat-alat yang sulit/tidak mungkin didisinfektan (seperti pemegang lampu X-Ray unit
heads), memutarnya dengan plastik kedap air.
e. Kurangi sekecil mungkin akan terjadinya percikan, misalnya dengan menggunakan rubber
dam, high spect evacuation, posisi pasien yang tepat.
f. Pada beberapa prosedur tertentu memerlukan injeksi anestesi atau obat-obatan secar
berulang-ulang dari satu syringe, maka lebih bijaksana bila meletakan jarum telanjang tersebut
diatas sebuah tempat steril misal piala ginjal steril, doek steril. Syringe steril dan larutan yang
baru, digunakan untuk masing-masing pasien.
g. Alat-alat tenun dan instrumen yang digunakan harus langsung disterilkan setiap habis dipakai
dengan merendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Petugas yang
membersihkannya harus memakai sarung tangan. Kemudian alat tenun diserahkan untuk dicuci
di kamar cuci.
h. karena klep penyedot air dapat menghisap bahan infeksi kembali ke handpiece dan slang,
maka air klep pengaman (checkvalves) harus dipasang dalam dental unit untuk mengurangi
risiko pemindahan dari bahan-bahan infektif. Seberapa besar kemungkinan ini belum dapat
diketahui, sebab itu adalah bijaksana untuk menjalankan air dari unit selama 20-30 detik
setelah selesai digunakan untuk satu pasien. Proses ini diuylang untuk beberapa menit pada
saat klinik dimulai untuk mengeluarkan kumpulan bakteri semalam sebelumnya.

6. Perawatan Mata
a. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan pemeriksaan mata atau prosedur lain yang
terkontak dengan air mata.
b. Memakai sarung tangan disposable bila ada goresan, luka atau lesi pada kulit.
c. Petugas dengan dermatitis basah atau infeksi lain ditangan tidak boleh melakukan
pemeriksaan pasien HIV.
d. Alat-alat yang kontak dengan bagian luar mata harus digosok bersih dan didisinfeksi dengan
salah satu dari 5-10 menit H2O2 5%, fresh solution berisi 5.000 ppm(%mg/liter).

Prosedur Pelaporan Pasien HIV/AIDS
Keterangan:
1. Bila dokter utama mengetahui adanya gejala-gejala minor maupun mayor suspect HIV/AIDS
pada pasien dan menyarankan pemeriksaan anti HIV, segera menghubungi tim VCT RSCK
untuk diberikan konseling dan dukungan lanjutan pada pasien.
2. Baik pasien suspect HIV/AIDS maupun HIV+/AIDS, dokter utama memberikan tindakan
medis sesuai indikasi dan mengisi rekam medik secara rinci dan lengkap.
3. Bagian rekam medis mengisi formulir laporan kasus HIV/AIDS berdasarkan catatan rekam
medis yang ada.

Prosedur Rujukan
1. Dengan unit kesehatan lain di Indonesia
Persetujuan pengiriman penderita dapat melalui surat rujukan atau sarana telekomunikasi pada
saat pengiriman penderita harus disertai:
a. Dokumen/data penderita
b. Daftar petunjuk tindakan yang perlu dilakukan selam dalam perjalanan
c. Alat dan bahan yang diperlukan
d. Tenaga pengantar/pendamping
e. Transportasi yang diperlukan

2. Dengan unit kesehatan lain di luar negeri
a. Direktur rumah sakit/Tim HIV/AIDS mempersiapkan surat rujukan dan dokumen pasien.
b. Bagian rekam medis melaporkan kasus ini ke Departemen Kesehatan dengan mengisi dan
menyampaikan formulir laporan kasus AIDS.
c. Rekam medis memberi informasi tentang keadaan penderita, kepada perusahaan
penerbangan dengan mengisi formulir standar yang telah disediakan.
BAB VIII

METODA

1. Tim HIV-AIDS akan mengkoordinasikan pelayanan HIV-AIDS di Rumah Sakit Cahya
Kawaluyan
2. Semua pelaksanaan kegiatan pelayanan pasien HIV-AIDS di Rumah Sakit Cahya Kawaluyan
berdasarkan Standar Prosedur Operasional (SPO) yang berlaku di Rumah Sakit Cahya
Kawaluyan

3. Pencatatan dan pelaporan serta evaluasi pelayanan HIV-AIDS di Rumah Sakit Cahya
Kawaluyan dilakukan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan.

4. Pelaksanaan rujukan pasien HIV-AIDS ke Rumah Sakit rujukan sesuai dengan MOU yang
disepakati.

BAB IX

PENCATATAN DAN PELAPORAN

Alur pelaporan pelayanan adalah pelaporan yang dilakukan oleh tim pelayanan HIV-AIDS
kepada jajaran manajemen rumah sakit dan dinas kesehatan. Dengan tujuan untuk
mengidentifikasi pasien HIV-AIDS di Rumah Sakit Cahya Kawaluyan.
Prosedur pencatatan adalah sebagai berikut:
1. Konselor mendokumentasikan hasil konseling sesuai dengan format yang berlaku
2. Petugas laboratorium mendokumentasikan hasil pemeriksaan Rapid HIV/ELISA
3. Petugas Rekam Medik bertanggung jawab menyerahkan laporan pasien HIV-AIDS ke Dinas
Kesehatan Provinsi
4. Ketua HIV-AIDS membuat laporan kegiatan pelayanan HIV-AIDS tiap bulan yang ditujukan
kepada Manajemen Mutu dengan tembusan Direktur.

BAB X

MONITORING DAN EVALUASI

Monitoring dan evaluasi pelayanan HIV-AIDS oleh tim RS dilakukan 1x per tahun:

1. Mengadakan pertemuan tim HIV-AIDS

2. Melakukan survey dan evaluasi terhadap program yang telah dilaksanakan

3. Membuat pelaporan tentang pelaksanaan monitoring evaluasi pelayanan HIV-AIDS
4. Melaporkan hasil monitoring dan evaluasi pelayanan kepada Direktur Rumah Sakit
Cahya Kawaluyan.

BAB XI

PENUTUP

Tingginya tingkat penyebaran HIV dan AIDS pada kelompok manapun berarti bahwa
semakin banyak orang menjadi sakit, dan membutuhkan jasa pelayanan kesehatan.
Perkembangan penyakit yang lamban dari infeksi HIV berarti bahwa pasien sedikit demi sedikit
menjadi lebih sakit dalam jangka waktu yang panjang, membutuhkan semakin banyak
perawatan kesehatan. Waktu dan sumber daya yang diberikan untuk merawat pasien HIV dan
AIDS sedikit demi sedikit dapat menghabiskan sumber daya untuk aktivitas kesehatan lainnya.
Bila upaya penanggulangan tidak ditingkatkan maka akan menyebabkan permasalahan
kesehatan nasional.
Diharapkan dengan adanya pedoman pelayanan HIV-AIDS dapat membantu Rumah
Sakit Cahya Kawaluyan berperan serta dalam program nasional penanggulangan HIV-AIDS
khususnya di Bandung Barat.