You are on page 1of 5

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005

DETEKSI FORMALIN DALAM AYAM BROILER


DI PASARAN
(Formalin Detectin of Broiler Chicckens from the Market)
ZAINAL ARIFIN, TRI BUDHI MURDIATI dan R. FIRMANSYAH

Balai Penelitian Veteriner, PO Box 151, Bogor 16114

ABSTRACT

Formalin is a commercial name of formaldehyde solution 3540% solution in water. Formalin is


classified as strong disinfectant, also is always used as cadaverous convervacy and has been used as food
preservative although formalin is not permitted used as food preservative or food additive, since formalin is
toxic for human consumption. A study was conducted to develop method to detect formalin contaminant in
chicken meat by distillation followed by detection with spectrophotometer at 415 nm. The study suggested
that the method was able to detect formalin in chicken with limit detection of 0,25 ppm. Recovery study
showed 99,46 1,72%, and standard curve gave R value 0,9962. Sampels of 46 chickens was collected from
traditional market and supermarket in Tangerang, Sukabumi, Cianjur, and Bogor was not detected in all
sampels collected. Formalin were detected in all sampels collected from South Jakarta, with concentration
range from 0.080.12 ppm.
Key Words: Formalin, Chicken Flesh, Analysis

ABSTRAK

Formalin adalah nama komersial sari senyawa formaldehida yang mengandung 3540% dalam air
Formalin termasuk kelompok srnyawa disinfektan kuat yang sering dipakai sebagai pengawet mayat tetapi
dapat juga digunalan pengawet makanan, walaupun formalin tidak diizinkan untuk bahan pengawet makanan
serta bahan tambahan. Tujuan penelitian ini adalah pengembangan metode deteksi formalin yang
terkontaminasi pada daging ayam dengan teknik destilasi uap dan kemudian diukur dengan
spektrophotometer pada panjang gelombang 415 nm. Hasil analisa formalin menunjukkan bahwa dari metode
ini limit deteksi sebesar 0,25 ppm. Nilai prolehan kembali 99,46 1,72% dan kurva kalibrasi standar sebesar
R = 0,9962. Hasil penerimaan terhadap 46 sampel daging ayam dari pasar tradisional dan swalayan sari
Tangerang, Sukabumi, Cianjur, Bogor tidak ditemukan adanya formalin. Namun sampel yang berasal dari
Jakarta selatan terdeteksi formalin antara 0,080,12 ppm.
Kata Kunci: Formalin, Daging Ayam, Analisis

PENDAHULUAN Formalin adalah nama dagang larutan


formaldehida dalam air dengan kadar 3540%.
Penggunaan bahan tambahan makanan di Formalin biasanya juga mengandung alkohol
Indonesia antara lain diatur dengan peratutan (metanol) sebanyak 1015% yang berfungsi
Mentri Kesehatan RI No 732/Men/Kes/PER/ sebagai stabilisator supaya formaldehidanya
IX/98. Pada keyataan di masyarakat sekarang tidak mengalami polimerisasi. Formaldehida
ini terjadi penyalahgunaan bahan-bahan mudah larut dalam air, sangat reaktif dalam
tambahan lainnya yang sebenarnya bukan suasana alkalis, serta bersifat sebagai perudiksi
untuk bahan tambahan makanan. Salah satu yang kuat. Secara alami formaldehida juga
contoh bahan tambahan yang digunakan adalah dapat ditemui dalam asap pada proses
formalin yang sering digunakan oleh pedagang pengasapan makanan, yang bercampur dengan
daging ayam. Formaldehida termasuk fenol, keton dan resin. Bila menguap diudara,
kelompok senyawa disinfektan kuat, yang berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau
dapat membasmi berbagai bakteri pembusuk. yang tajam menyengatkan. Formalin juga telah

1036
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005

dilaporkan dipergunakan sebagai pengawet Tangerang diambil di 2 pasar tradisional dan


pada berbagai jenis ikan yang dijual di daerah satu swalayan, untuk kabupaten Sukabumi,
Jakarta Utara dan juga pada beberapa ikan asin sampel diambil di 3 pasar tradisional dan satu
yang dijual di Sukabumi (RAMIDI, 2004; EVY, swalayan. Sementar itu di kabupaten Cianjur,
2004). sampel diambil di 3 pasar tradisional,
Formalin digunakan dalam perusahaan sedangkan swalayan didak ada. Di pasar ayar
makanan ternak, untuk memperbaiki Bogor diambil 6 sampel pasar tradisional dan
penyimpanan pakan tersebut. Formalin yang swalayan diambil sebanyak tiga sampel yang
dicampur atau ditambahkan pada pakan ternak berbeda, di Jakarta Selatan, sanpel diambil di
harus lebih kecil dari 1% karena ternak masih Pasar Ninggu sebanyak 10 sampel dan di Pasar
dapat menghirup sebesar 0,25% formalin pada Bogor diambil 6 sampel..
pakannya (SCEUPLEIN, 1988). FLORENCE dan Sampel daging ayam broiler yang diambil
MILMER (1981) melaporkan bahwa formalin diambil secara acak yang berupa masing-
yang ditambahkan pada susu skim untuk pakan masing setengah potong ayam, dimasukan ke
babi di Inggris maupun dalam cairan wey dalam kantong plastik, kemudian disimpan
untuk pakan ternak anak sapi dan sapi perah di ditempat dingin.
Kanada. Oleh karena itu maksimun konsentrasi
formalin pada susu untuk makanan sapi
ditentukan sebesar 0,15% naik 10 kali lipat bila Cara kerja
dibandingkan dengan susu tanpa formalin atau
kontrol (BUKLEY et al., 1986; 1988). Timbang kira-kira 10 g sampel masukkan
Konsentrasi formalin pada susu segar juga kedalam Erlenmeyer 500 ml, tambahkan 90 ml
ditemukan berkisar antara 0,0130,057 mg/kg, aquadest yang diasamkan dengan 10 ml H3PO3
pada susu olahan berkisar antara 0,0750,225 10%. Kemudian sampel didestilasi perlahan-
mg/kg (KAMINSKI et al., 1993). lahan dengan cara destilasi uap, hinga destilat
Formaldehida yang tercerna dapat diperoleh 90 ml yang ditampung erlenmeyer
mengakibatkan langsung terasa panas pada yang telah berisi 10 ml aquadest (ujung pipa
mulut, kerongkongan, isophagus dan lambung, destilat harus tercelup aqyadest) Ambil 1 ml
kemudian rasa sakit yang sangat dan pingsan destilat pada tabung gelas yang bertutup asah +
mendadak. Kemungkinan diare, tidak dapat 1 ml aquadest + 2 ml pereaksi Nash (150 g
kencing, kerusakan hati, korosi pada saluran NH4CH3COO + 3 ml CH3COOH+ 2 ml
pencernaan dan pernapasan. (COSSEL., 1994; acetylaceton dalam 1 liter aquadest), kemudian
FISHER, 1989). Konsumsi formalin pada dosis panaskan pada penanggas air pada suhu 37oC
sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi selama 30 menit, kemudian dianalisis dengan
(kejang-kejang), haematuri (kencing darah) spectrophotometer (JAOAC, 2000).
dan haematomesis (muntah darah) yang
berakhir dengan kematian dalam waktu 3 jam. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mempelajari kandungan formalin dalam daging Dengan modifikasi metode dari JOAC
ayam segar secara kuantitatif dengan cara (2000), ternyata pada uji perolehan kembali
destilasi uap yang dilanjutkan dengan dapat dipakai sebagai keakuratan dari metoda
menggunakan spektrophotometer. analisis yang digunakan. Uji perolehan kembali
terhadap sampel, juga untuk mengetahui
MATERI DAN METODE berapa banyak zat yang hilang selama proses
penetapan kadar dilakukan. Nilai perolehan
Sampel daging ayam broiler kembali dari sampel daging ayam adalah 99,46
1,72%. Hasil uji perolehan kembali ini
menunjukkan bahwa metoda analisis yang
Pengambilan sampel dilakukan pada tiga
kabupaten yang dikunjungi yaitu Tangerang, digunakan baik dalam hal ketepatan dan
Sukabumi dan Cianjur. Di Kabupaten ketelitian tertera pada Tabel 1.

1037
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005

Tabel 1. Nilai perolehan kembali formalin dalam sampel


Ditambahkan standart Konsentrasi diukur Rata-rata perolehan
(mg/kg) (mg/kg) Perolehan kembali kembali
2.00 1,97 98,50
2,06 103,0
1,95 97,50 99,67
4,00 3,95 98,75
3,98 99,50
3,98 99,50 99,25
Nilai perolehan kembali rata-rata adalah 99,46%

1
0.8
Absorban

0.6
0.4
Y = 0,0101+0,2187X
0.2
r = 0,9981
0
10

00

50

00
0.

1.

2.

4.
Konsentrasi (ppm)

Gambar 1. Kurva kalibrasi standar formalin

Uji kesesuaian sistem perlu dilakukan, Selanjutnya pada uji linieritas penentuan
untuk memastikan bahwa suatu sisitim metoda regresi dari standard kurva kalibrasi, diperroleh
analisis dapat digunakan dengan suatu larutan koefisien korelasi dan diketahui kondisi alat
baku formalin yang diperiksa dengan spektropothometer yang digunakan sudah
menggunakan alat spektropothometer dengan mewakili jumlah sampel.
lima kali pengulangan. Dalam uji kesesuaian Hasil dari kuva kalibrasi standar diperoleh
sistem diperoleh nilai simpangan baku relatif nilai korelasi R sebesar 0,9962, yang
1,67%. Dari hasil tersebut dapat dikatakan menunjukkan ada hubungan linier yang erat
bahwa system pada analisis formalin cukup antara konsentrasi yang diukur dengan
tepat, tertera pada Tabel. 2 absorban yang dihasilkan.

Tabel 2. Hasil uji kesesuaian sistem pada lima kali


ulangan standar formalin Sampel lapangan

Konsentrasi (ug/ml) Absorban Pada Tabel 3 terlihat bahwa formalin hanya


1,0 0,217 terdeteksi pada sampel yang dikumpulkan dari
1,0 0,219 pasar di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sampel
1,0 0,227 dari pasar Tangerang, Cianjur, Bogor dan
1,0 0,225
Sukabumi serta di swalayan semuanya negatif.
Kemungkinan besar sampel yang diambil dari
1,0 0,221
pasar swalayan memang tidak dicelup atau
Rata-rata absorban = 0,222 diberi formalin sebagai pengawet. Umumnya
Simpangan baku = 0,0037 pasar swalayan telah menerapkan kontrol
Simpangan baku relatif (SBR) = 1,67% cukup baik terhadap produk yang akan dijual.

1038
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005

Tabel 3. Hasil analisis formalin dalam sampel dilapangan

Daerah Pasar Kisaran


Tradisional Swalayan Tradisional (ppm) Swalayan (ppm)
Tangerang (6) (3) - -
Sukabumi (9) (3) - -
Cianjur (9) (0) -
Bogor (6) (0) -
Pasar Minggu (10) (0) 0,080,12

Pemasok pasar swalayan umumnya telah dipasar tradisional pada pagi hari yang
mempergunakan mobil dengan fasilitas kemungkinan belum dicelup formalin.
pendingin sehingga ayam dapat dijaga tetap
segar. Sementara itu, sampel yang diambil dari
DAFTAR PUSTAKA
pasar tradisioanl Tangerang negative karena
kemungkinan besar pasar yang letaknya tidak BARDANA, E.J. Jr. and MONTANARO. 1991. A
terlalu jauh dari tempat pemotongan ayam, Formaldehyde an analysis of its respiratory,
sehingga tidak terlalu lama daging ayam yang cutaneous, and immunologic effects. Ann.
tersisa ditempat pedagang eceran. Demikian Alergy. 66(8): 441458.
juga sampel yang Bogor atau Sukabumi dan
COSSEL, T.A. and J.D. BRICKERT. 1884, Principles of
Cianjur juga negatif karena kemungkinan
Chemical Tpxicology. 3rd Ed. Raven Press,
pengambilan sampel yang terlalu pagi dan New York. pp. 7596.
ayam yang dijual masih terlihat segar dan
belum dicelup dalam formalin. EVY. 2004. Ikan asin di Sukabumi mengandung
Walaupun hanya sampel dari Jakarta formalin. Kompas 20 Maret 2004.
Selatan yang menunjukkan adanya cemaran FISHER SCIENTIFFIC CHEMICAL DEVISION. 1989.
formalin, tidak berarti formalin tidak Formaldehyde solution; Material safety data
dipergunakan di Tangerang, Sukabumi, street. Fisher Scientiffic Chemical Devision.
Cianjur, dan Bogor. Perlu dilakukan analisa Fairlawn, NJ. pp. 17.
sampel lapangan yang lebih banyak untuk FLORENCE E. and MILNER DF, 1981. Determination
dapat menyatakan bahwa ayam tidak of free and loosey protein-bound formaldehide
diawetkan dengan formalin. Kecurigaan telah In the tissues of pigs formalin-treated skin
dilaporkan bahwa formalin telah dipergunakan milk as a protein supplement. J. Sci. Food
sebagai pengawet pada ayam untuk mengindari Agric. 32: 288292.
pembusukan yang disebabkan oleh mikroba GALI, C.L., C. RAGUSA, P. RESMINI and M.
sehingga ayam tetap kelihatan segar hingga MARINOWICH. 1983. Toxico-logical evaluation
sore hari atau dapat dijual keesokan harinya in rats and mice of the ingestion of a cheese
(SUDIN PETERNAKAN JAKARTA UTARA, 2004). made from milk with added formaldehyde.
Formalin sebagai desinfektan yang kuat Food Chem. Toxicol. 21(3): 313317.
mampu membunuh mikroba yang GAMBLE, J. 1983. Effects of formaldehyde on the
menyebabkan ayam cepat busuk atau bau. respiratory system. In. Formaldehyde toxicity.
GIBSON, J.E. (Ed.) Hemisphere Publishing
Wasington DC. pp. 175197.
KESIMPULAN DAN SARAN
JURNAL ASSOCIATION OF OFFICIAL ANALYTICAL
Dari hasil analisis sampel ayam yang CHEMESTS. 1964. 47: 548.
terdapat dari Jakarta Selatan menunjukan RAMIDI. 2004. Makanan mengandung pengawet
adanya terdeteksi formalin antara 0,080,12 mayat beredar di Jakarta. Koran Tempo. 3
ppm, sedangkan Tangerang, Sukabumi, April 2004.
Cianjur dan Bogor tidak terdeteksi formalin
(negatif). Sebaiknya pembelian daging ayam

1039
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005

SCHEUPLEIN, R.J. 1985. Formaldehyde, the Food and VON OETTINGEN, W.F. 1954. Poisoning A Gguide
Drug Administrations perpective In. Turoski to Clinical Diagnosis and Tretment. National
Ved Formaldehyde American Chemical Institutes of Health U.S. Pub. Health Service
Society. pp. 237245 (Advences in Chemistry Federal Scurity Agency.
Series 210).
WINARNO, F.G. 1997. Keamanan Pangan. Naskah
SUKU DINAS PETERNAKAN JAKARTA UTARA. 2004. Akademis. Institut Pertanian Bogor.
Teliti kasus ayam berformalin. Republika. 15
April 2004.

DISKUSI

Pertanyaan:

Apa ciri-ciri ayam yang terkontaminasi formalin, bagaimana cara menghilangkannya. Dari
daerah mana sampel ayam yang dipergunakan pada kegiatan ini? Bagaimana saran Bapak jika
daging ayam mengandung formalin dan berapa batas ambang kandungan formalin yang
diperbolehkan?

Jawaban:

Pada umumnya ayam yang terkontaminasi formalin, penampilannya kaku dan berwarna pucat.
Cara menghilangkan formalin tersebut adalah dengan cara perebusan, karena selama proses
perebusan, formalin menguap. Batas ambang yang diizinkan adalah 5,1 mg/kg/hari. Sampel yang
dipergunakan pada penelitian ini diambil secara acak, baik yang ada dalam pasar maupun dari
luar pasar/pinggir jalan.

1040