You are on page 1of 6

ANAFILAKTIK

No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit :
Halaman :
UPT PUSKESMAS dr. SUDARMI,MM
BENER
Ttd ka Puskesmas NIP. 196902202002122004

1. 1. Pengertian : Anafilaktik adalah reaksi hipersensitifitas


generalisata atau sistemik yang beronset
cepat, serius, dan mengancam. Jika reaksi
tersebut cukup hebat dapat menimbulkan
syok yang disebut sebagai syok anafilaktik
.Syok anafilaktik membutuhkan pertolongan
cepat dan tepat. Untuk itu diperlukan
pengetahuan serta keterampilan dalam
pengelolaan syok anafilaktik.

2. 2. Tujuan : Sebagai acuan petugas dalam menentukan


diagnosis dan penatalaksanaan kasus Reaksi
Anafilaktif
3. 3. Kebijakan : SK Kepala UPT Puskesmas Bener No
C/VII/SK/003/1/2017 Tentang penyusunan
rencana layanan klinis di UPT Puskesmas
Bener

4. 4. Referensi : KMK RI No HK.0202/MENKES/514/2015

5. 5. Prosedur : 1. Petugas mengarahkan pasien ke Ruang


Tindakan untuk mendapatkan prioritas
penanganan kegawatan.
2. Pemeriksa mendapatkan hasil anamnesis
berupa
a. Keluhan
Gambaran atau gejala klinik suatu
reaksi anafilakis berbeda-beda gradasinya
sesuai berat ringannya reaksi antigen-
antibodi atau tingkat sensitivitas
seseorang, namun pada tingkat yang berat
baru pasyokan afilaktik gejala yang
menonjol adalah gangguan sirkulasi
dangan gangguan respirasi. Gejala yang
muncul yaitu:
1. Gejala respirasi berupa bersin, hidung
tersumbat atau batuk saja yang
kemudian segera diikuti dengan sesak
napas.
2. Gejala pada kulit berupa gatal, kulit
kemerahan harus diwaspadai untuk
kemungkinan timbulnya gejala yang
lebih berat.
3. Manifestasi dari gangguan
gastrointestinal berupa perut
kram,mual,muntah sampai diare yang
juga dapat merupakan gejala prodromal
untuk timbulnya gejala gangguan nafas
dan sirkulasi.
b. Faktor Risiko
Riwayat alergi.

3. Pemeriksa mendapatkan hasil pemeriksaan


fisik (Objective)
Pasien tampak sesak, frekuensi napas
meningkat, sianosis karena edema laring dan
bronkospasme. Hipotensi merupakan gejala
yang menonjol pada syok anafilaktik .Adanya
takikardia, edema periorbital, mataberair,
hiperemi konjungtiva. Tanda prodromal pada
kulit berupa urtikaria dan eritema.
4. Pemeriksa melakukan Diagnosis Klinis dan
Diagnosis Banding
a. Diagnosis Klinis
Untuk membantu menegakkan
diagnosis maka World Allergy Organization
telah membuat beberapa kriteria di mana
reaksian afilaktik dinyatakan sangat
mungkin bila:
1) Onset gejala akut (beberapa menit
hingga beberapa jam) yang melibatkan
kulit, jaringan mukosa, atau
keduanya (misal: urtikaria generalisata,
pruritus dengan kemerahan,
pembengkakan bibir/lidah/uvula) dan
sedikitnya salah satu dari tanda
berikut ini:
a) Gangguan respirasi (misal: sesak
nafas, wheezing akibat
bronkospasme, stridor, penurunan
arus puncak ekspirasi/APE,
hipoksemia).
b) Penurunan tekanan darah atau
gejala yang berkaitan dengan
kegagalan organ target (misal:
hipotonia, kolapsvaskular, sinkop,
inkontinensia).
2) Atau, dua atau lebih tanda berikut
yang muncul segera (beberapa menit
hingga beberapa jam) setelah terpapar
alergen yang mungkin(likely allergen),
yaitu:
a) Keterlibatan jaringan mukosa dan
kulit.
b) Gangguan respirasi.
c) Penurunan tekanan darah atau
gejala yang berkaitan dengan
kegagalan organ target.
d) Gejala gastrointestinal yang persisten
(misal: nyerikram abdomen, muntah)
3) Atau, penurunan tekanan darah
segera( beberapa menit atau jam)
setelah terpapar allergen yang telah
diketahui (known allergen), sesuai
criteria berikut:
a) Bayi dan anak :Tekanan darah
sistolik rendah (menurut umur) atau
terjadi penurunan >30% dari
tekanan darah sistolik semula.
b) Dewasa: Tekanan darah sistolik <90
mmHg atau terjadi penurunan >30%
dari tekanan darah sistolik semula.
5. Pemeriksa melakukan penatalaksanaan
komprehensif (Plan) berupa:
a. Posisi trendelenburg atau berbaring
dengan kedua tungkai diangkat (diganjal
dengan kursi) akan membantu menaikkan
venous return sehingga tekanan darah ikut
meningkat.
b. Pemberian oksigen35liter /menit harus
dilakukan,pada keadaan yang sangat
ekstrim tindakan trakeostomi atau
krikotiroidektomi perlu dipertimbangkan.
c. Pemasangan infus, cairan plasma
expander (Dextran) merupakan pilihan
utama guna dapat mengisi volume
intravaskuler secepatnya. Jika cairan
tersebut tak tersedia, Ringer Laktat atau
NaCl fisiologis dapat dipakai sebagai
cairan pengganti. Pemberian cairan
infuse sebaiknya dipertahankan sampai
tekanan darah kembali optimal dan stabil.
d. Adrenalin0,30,5ml dari larutan 1:1000
diberikan secarain tramuskuler yang
dapat diulangi 510 menit. Dosis ulangan
umumnya diperlukan,mengingat lama
kerja adrenalin cukup singkat .Jika respon
pemberian secara intramuskuler kurang
efektif,dapat diberi secara intravenous
setelah0,1 0,2ml adrenalin dilarutkan
dalam spuit10 ml dengan NaCl fisiologis,
diberikan perlahan-lahan. Pemberian
subkutan, sebaiknya dihindari pada syok
anafilaktik karena efeknya lambat bahkan
mungkin tidak ada akibat vasokonstriksi
pada kulit, sehingga absorbs obat tidak
terjadi.
e. Aminofilin, dapat diberikan dengan
sangat hati-hati apabila bronkospasme
belumhilang dengan pemberian adrenalin.
250 mg aminofilin diberikan perlahan-
lahan selama 10 menit intravena. Dapat
dilanjutkan 250 mg lagi melalui drips
infuse bila dianggap perlu.
f. Antihistamin dan kortikosteroid
merupakan pilihan kedua setelah
adrenalin. Kedua obat tersebut kurang
manfaatnya pada tingkat syok
anafilaktik,dapat diberikan setelah gejala
klinik mulai membaik guna mencegah
komplikasi selanjutnya berupa serum
sickness atau prolonged effect.
Antihistamin yang biasa digunakan adalah
difenhidramin HCl 520 mg IV dan untuk
golongankortikosteroid dapat digunakan
deksametason 510mg IV atau
hidrokortison 100250 mg IV.
g. Resusitasi Kardio Pulmoner(RKP),
seandainya terjadi henti jantung
(cardiacarrest) maka prosedur resusitasi
kardiopulmoner segera harus dilakukan
sesuai dengan falsafah ABC dan
seterusnya. Mengingat kemungkinan
terjadinya henti jantung pada suatu syok
anafilaktik selalu ada, maka sewajarnya
disetiap ruang praktek seorang
doktertersediaselainobat-obatemergency,
perangkatinfusdancairannyajugaperangkat
resusitasi (Resuscitation kit)
untukmemudahkantindakansecepatnya.
6. Pemeriksa melakukan criteria rujukan.
Kegawatan pasien ditangani, apabila
dengan penanganan yang dilakukan tidak
terdapat perbaikan, pasien dirujuk
kelayanan sekunder.
7. Pemeriksa melakukan dokumentasi
Pemeriksa mendokumentasikan data hasil
anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang, kesimpulan diagnosa, rencana
terapi, serta konseling dan edukasi di dalam
rekam medis.

6. 6.Hal-hal yang perlu


diperhatikan
7. 7. Unit terkait : 1.Ruang tindakan/ugd
2.Ruang rawat inap
3.Ruang pemeriksaan gigi
4.Ruang bersalin
5.Ruang KB
8. 8. Dokumen Terkait : Rekam medis
9. 9.Rekanam historis Yang Isi Tgl. Mulai
perubahan No dirubah Perubaha Diberlakuk
n an