You are on page 1of 245

Pura

dan
Vihara-Kongco

1
Pura Dalem Jagaraga - Buleleng

''Saksi'' Perang, Prosesi Religius
dan Keunikan Arsitekturnya

Belum ditemukan data pasti, entah tahun berapa
didirikan Pura Dalem Jagaraga. Pura Dalem -- yang dulu disebut
Pura Segara Madu -- ini, terletak di Desa Jagaraga, Kecamatan
Sawan, Kabupaten Buleleng. Berjarak sekitar 11 km dari kota
Singaraja. Pura ini merupakan Markas Komando laskar Bali dalam
Perang Jagaraga, silam.
-----------------------------------------------------------
DI Pura Dalem inilah Jero Jempiring-istri patih I Gusti
Ketut Jelantik-bertahan sebagai sentra perlawanan, menghadang
serangan musuh, tatkala benteng Jagaraga yang berjarak sekitar

2
200 meter dari pura ini diduduki Belanda. Jero Jempiring dikenal
luas lantaran berhasil mengatur jalannya pertempuran di sekitar
Pura Dalem Jagaraga pada 1848, selaku komando dan penyala
semangat laskar Bali saat menghadapi Belanda.
Konon wilayah Buleleng atau Bali utara kerap dikatakan
sebagai wilayah yang senantiasa bergolak sejak abad ke-17
hingga ke-20. Kehidupan masyarakatnya yang dinamis
menyentuh pergaulan multikultur. Saat itu kerajaan Buleleng
memiliki rakyat yang dalam komunitas kehidupannya sangat
heterogen dibanding wilayah-wilayah di kabupaten lain, misalnya
bisa disebutkan adanya etnis-etnis Bugis, Cina, Arab, Jawa,
Madura, dan Makassar di kawasan ini.
Akan halnya desa Jagaraga, dulu sempat kesohor
sebagai ajang proses pembinaan dan penciptaan kreasi tari dan
tabuh, di antaranya seperti terciptanya tarian "Teruna Jaya" dan
tabuh "Palawakya" oleh Gde Manik bersama Pan Wandres. Jauh
sebelumnya lagi merupakan sebagai tempat berdirinya benteng
Jagaraga yang dibangun oleh pahlawan Nasional, Patih I Gusti
Ketut Jelantik menjelang perang Jagaraga yang kedua. Mungkin
lantaran kondisi geografis yang strategis, Desa Jagaraga telah
berfungsi sebagai titik persinggahan pada akhir abad ke-18 bagi
laskar-laskar kerabat kerajaan dari Kabupaten lain yang bergerak
dari ibukota mereka ke Buleleng.
Desa yang diapit sungai (tukad) Gelung Sangsit di
sebelah barat dan Tukad Daya di sebelah timurnya ini, berada
pada ketinggian sekitar 100 meter dari permukaan laut dan

3
berjarak hampir 5 km dari pantai pesisir laut utara.Di sebelah
selatan desa ini -- yang kedudukan tanahnya kian meninggi --
terletak Desa Sawan, Menyali, Bebetin, Sekumpul dan Lemukih.
Selain adanya benteng pertahanan yang dibuat ketika itu,
sejatinya Desa Jagaraga sudah merupakan benteng alami,dikitari
banyak pebukitan kecil dan sungai.

Gambar 01. Kori Agung Pura ―Segara Madu‖
Jagaraga. (Foto: ING. Suardana)

Di zaman silam, untuk mencapai Jagaraga dari Singaraja
mesti melintasi empat sungai yang relatif besar dan
curam.Strategisnya desa ini juga lantaran gampangnya lintasan

4
ke daerah Batur ketika itu, baik melalui Desa Galungan dan
Lemukih maupun lewat jalan Pakisan. Desa ini pun merupakan
simpul pertemuan antara desa Bungkulan dan Menyali. Kini,
dengan adanya perkembangan prasarana dan sarana
transportasi, Jagaraga dapat dicapai dengan mudah dari segala
arah.

Religius-Spiritual
Tak kurang sejak 40 tahun sebelumnya, hingga pecah
Perang Buleleng 1846, proses penyatuan komunitas Jagaraga
berjalan damai dan lestari. Bisa jadi mayoritas tetua moyang
kalangan Bangsawan yang punya peran penting dalam Perang
Jagaraga telah berdomisili di desa ini sejak kekuasaan wangsa
Karangasem berjaya di Singaraja, di awal abad ke-19, yang
kemudian bersama-sama rakyat desa setempat berjuang
menentang penjajah.
Alkisah, di saat Singaraja jatuh pada pertengahan tahun
1846, tersebutlah patih I Gusti Ketut Jelantik memindahkan
markas perlawanannya ke Desa Jagaraga. Idenya muncul untuk
membangun benteng ala Barat nan canggih sebagai markas
pertahanannya. Benteng ini terletak hanya sekitar 200 meter dari
Pura Dalem Jagaraga. Kedekatannya dengan lokasi Pura Dalem
ini dapat disebut sebagai perwujudan sistem pertahanan
"duniawi-rohani" religius-spiritual. Dan, posisi benteng Jagaraga
dianggap sebagai lini terdepan dalam kawasan kekuasaan sakti
Dewa Siwa--sebagai manifestasi Tuhan-- yang melambangkan

5
kehancuran dan pralina bagi musuh atau Belanda yang berani
menyerbu desa ini. Sementara istana berada di pusat desa, di
muka Pura Desa.
Persiapan perang yang dilakukan laskar Bali di bawah
pimpinan Patih Jelantik kala itu dapat dikatakan sebagai upaya
membangun kekuatan melalui ranah religius spiritual
berlandaskan ajaran agama Hindu yang diyakininya. Dalam
kondisi genting seperti itu, keberadaan Pura Dalem memiliki
keterkaitan sangat erat dengan Pura Desa dan Merajan Agung
milik kalangan brahmana, komunitas Pande Besi di Banjar Pande
dan keberadaan Patih Jelantik di bilangan belakang Pura Desa
Jagaraga.
Prosesi itu bertujuan membangkitkan spirit perjuangan
dalam rangkaian upacara masupati (memberi kekuatan gaib dan
kesucian) yang dilakukan oleh Patih Jelantik bersama para
pejuang di Merajan Agung. Usai di-pasupati, senjata-senjata itu
konon secara magis "dihidupkan" kembali, serta siap digunakan.
Lantas, berbagai senjata itu - dari tempat penyimpanannya,
diarak menyeberang jalan di muka Pura Desa, melintasi Puri,
bergerak ke depan hingga tiba di wilayah belakang perbentengan
(dekat Pura Dalem Jagaraga), seterusnya menempati posisi
masing-masing memperkuat benteng Jagaraga.
Pasukan bersenjata yang sudah di-pasupati itu pun
bergerak melingkar ke arah kanan (searah putaran jarum jam).
Dalam mitologi Hindu kerap dinamakan gerakan pradaksina. Arah
gerakan ini bermakna membawa keberuntungan serta diyakini

6
Gambar 02: Deretan Pelinggih Prajapathi (kiri), Padmasana (tengah) dan
Gedong Ida Betara Dalem (kanan). (Foto: ING Suardana).

memiliki kekuatan-kekuatan magis-spiritual, menambah energi
dan daya keampuhan bagi senjata tersebut. Pola serangan
melingkar itulah diterapkan di medan pertahanan Jagaraga.
Singkat cerita, Perang Jagaraga berakhir menjelang
senja pada 16 April 1849, dengan menelan banyak korban di
kedua belah pihak. Menurut perkiraan, sekitar 2.700 orang laskar
Bali gugur dalam perang itu. Sementara korban di pihak Belanda
lebih dari 400 orang, termasuk beberapa perwira menengahnya.

Keunikan Pura.
Konon Raja Buleleng I Gusti Made Karangasem beserta
para pengikutnya juga bermarkas di Pura Dalem ini selama
terjadinya pertempuran. Solidnya pertahanan ketika itu juga
7
diperkuat oleh pasukan pecalang yang dikoordinir Jero Jempiring.
Seorang perempuan, istri patih yang patriotik, pejuang andal nan
gagah berani. Peran dan kontribusinya dalam kemenangan pihak
Bali pada Perang Jagaraga I sangat besar, menyebabkan strategi
perbentengan Patih Jelantik hidup dan berfungsi dengan baik
ketika itu.
Pura Dalem Jagaraga yang piodalan-nya jatuh setiap
Umanis Kuningan, wuku Langkir ini merupakan bagian dari Pura
Kahyangan Tiga yang ada di Desa Jagaraga. Tempatnya
berseberangan jalan dengan kuburan (setra). Pura ini
menghadap ke Barat. Tapak atau site-nya memanjang dari barat
ke timur. Pekarangan pura dibatasai tembok panyengker
sekelilingnya. Pada jaba sisi - sebelum memasuki jaba tengah -
terdapat candi kurung atau gelung kori yang khas bentuk
maupun ragam hiasnya. Relief atau pepatraan-nya sangat otentik
dan memiliki ciri tersendiri. Liang takikan ukiran tidak dalam, tapi
melebar dan cenderung meruncing.
Di kiri kanan dari gelung kori atau candi kurung ini
terdapat betelan (pintu samping kecil) yang bagian dalam
atasnya melengkung. Jarak antara gelung kori maupun betelan
terhadap tepi jalan amat dekat - kurang dari dua meter.
Memasuki jaba sisi, di dalam halamannya terdapat bangunan
bale gong yang berdenah segi empat panjang dan beratap seng,
serta bale pawaregan yang juga beratap seng. Uniknya, sebelum
memasuki halaman jeroan inilah baru bisa ditemui candi bentar.
Di kiri kanannya juga terdapat pintu betelan, bentuknya nyaris

8
serupa dengan
betelan di luar
yang membatasi
jaba sisi dengan
jaba tengah.
Lubang pintu
bagian atas
berbentuk

lengkung. Pada
Gambar 03: Candi Bentar (di antara Jaba Tengah &
halaman jeroan Jaba Sisi) Pura Dalem ‖Segara Madu‖ Jagaraga.

inilah berdiri antara lain palinggih Sapta Petala di area kelod
kangin, gedong Prajapathi, padmasana dan gedong Ida Betara
Dalem yang semuanya berjajar di timur. Di sebelah baratnya
masing-masing terdapat bale pengaruman dan bale piasan.
Keunikan yang dimiliki oleh arsitektur Pura Dalem
Jagaraga ini merupakan salah satu aset arsitektur yang
ornamentik atau dengan ragam hias yang unik dan otentik.
Begitu pula kehidupan sosio-religius masyarakatnya. Semua itu
sepatutnya senantiasa dinaungi oleh denyut-denyut pelestarian
tradisi yang dijiwai nilai-nilai patriotisme, kebersamaan dan
persatuan dalam berkehidupan atau bermasyarakat. Terlebih
keberadaan pura ini juga menyimpan nilai-nilai historis
perjuangan rakyat Buleleng melawan penjajah (Belanda) tempo
dulu. Pelestarian nilai-nilai dan tampilan wujud arsitekturnya
turut berperan di dalam menanamkan nilai-nilai moral yang arif
secara berkelanjutan.
9
Di Mana Benteng?
Sekarang, orang-orang yang berniat mengenang kisah
perjuangan rakyat Buleleng tersebut tidak bisa lagi menyaksikan
sisa-sisa peninggalan benteng Jagaraga yang sebelumnya
digunakan sebagai benteng pertahanan rakyat saat Perang
Jagaraga. Khususnya bagi orang-orang yang ingin menyaksikan
secara langsung tempat, site, atau tapak berdirinya benteng
tersebut. Titik lokasi benteng kini tak berbekas lagi, rata tanah,
ditumbuhi rumput, semak-semak dan pepohonan.
Guna lebih
mengenang peristiwa
bersejarah, sudahkah
ada upaya dari
pemerintah daerah
setempat maupun dari
masyarakat Buleleng

Gambar 04: Beberapa palinggih di Jeroan
untuk membangun
Pura Dalem Jagaraga. (Foto: ING Suardana).
sebuah "tanda" atau
monumen - kendati tak monumental - di area bekas benteng
Jagaraga ini? Sebuah tanda bermakna, tidakkah perlu diwariskan
pada generasi penerusnya?
Dari sisi yang lain, pelestarian arsitektur Buleleng pada
khususnya, selain tetap menyesuaikan dengan perkembangan
zaman di era informasi digital dan virtual dewasa ini, maka ada
baiknya untuk senantiasa menggali atau mengeksplorasi pola,

10
tatanan ruang-ruang arsitektural dan ornamen atau ragam hias
yang khas dimiliki.
Adanya pemukiman tradisional Desa Julah, Sembiran,
Sidatapa, Tigawasa dan lain-lain adalah beberapa di antara yang
memiliki kekhasan tersebut, bisa dipakai sebagai referensi kajian.
Begitu pula banyak pura yang dulu dibangun memiliki
karakter khas dalam tampilan bentuk maupun ornamen serta
ragam hiasnya. Bukankah
ini suatu aset yang bisa
dikaji kembali, atau
dikembangkan, tanpa
menyisihkan "roh" yang
terkandung di dalamnya?
Mungkinkah ciri-ciri spesifik
itu bisa diadopsi ke dalam
beberapa rancangan
arsitektur di kota Singaraja
khususnya atau Buleleng

umumnya, yang bisa Gambar 05: Pelinggih Sapta Petala di
Jeroan Pura Dalem Jagaraga.
memberi nuansa atau citra
lokal? Dapatkah Buleleng (atau Singaraja) dikatakan sebagai
salah satu kota di Nusantara yang banyak menyimpan bangunan
peninggalan bersejarah, atau yang beralkulturasi dengan budaya
berbagai etnis - Belanda, Cina, Arab, hingga Bugis?

11
Zaman terus bergulir, tapi kadang melalui kenangan pula
keberadaan wujud visual arsitektural turut memberi nilai-nilai
pencerahan moral manusia, menuju peradaban yang lebih bijak
dan mulia. Tempat di mana bercermin dan merefleksi diri,
merenung sesaat atau berkontemplasi.
Salah satunya, memberi makna akan keberadaan
peninggalan-peninggalan arsitektur yang bernilai historis-religius.
Penghargaan terhadap pelapisan makna yang tersingkap dan
kandungan nilai-nilainya, adalah pula suatu upaya
melanggengkan spirit patriotisme, kejujuran, kearifan pikir dan
tindakan, serta meluhurkan budi pekerti, menuju pada kualitas
moral manusia yang lebih baik.
17 April 2005

12
Pura Agung Besakih

Awalnya, Penamaman "Pancadatu"
Hindari Petaka

Pada Purnama Kadasa, Rabu (12/4) lalu, di Pura Agung
Besakih diselenggarakan piodalan atau upacara Betara Turun
Kabeh yang berlangsung (nyejer) selama sebelas hari.
Masyarakat umat Hindu berduyun-duyun pedek tangkil silih
berganti ke Pura terbesar di Bali yang dibangun di barat daya
lambung Gunung Agung itu. Apa saja yang bisa disimak dari Pura
Agung Besakih? Makna apa yang kira-kira bisa didapat dari
ungkapan arsitekturnya?
---------------------------------------------------------
PURA Agung Besakih berlokasi di Desa Besakih,
Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Mungkin sudah
ribuan cerita pernah diungkap dan ditulis tentang keagungan
pura terbesar di Bali ini. Namun sampai kini belum ditemui data
pasti mengenai kapan pura ini pertama kali didirikan. Informasi
berupa data yang bernilai historis maupun prasasti-prasasti yang
diperoleh hanya sebatas wujud pengembangan puranya. Hanya
sekilas, konon ada dimuat dalam lontar "Markandya Pura",
mengisahkan kedatangan Rsi Markandya bersama para
pengikutnya dari Jawa Timur ke pulau Bali. Namun ada sumber

13
lain yang menyebutkan bahwa Rsi Markandya datang ke Bali
sekitar abad ke-8.
Disebutkan, mereka datang merabas hutan guna
dijadikan lahan pertanian. Sebelum pekerjaan itu dilakukan,
dilangsungkan upacara penanaman pancadatu (lima jenis logam
mulia) seperti emas, perak, tembaga, timah, besi, dengan
maksud agar tak tertimpa petaka atau marabahaya. Penataannya
disesuaikan dengan tatanan kosmologis (pengider-ider) jagat.
Nah, tempat penanaman pancadatu itulah akhirnya dinamakan
Basuki, yang punya arti rahayu (diberi keselamatan). Lantas para
ahli memperkirakan tempat itu sebagai Pura Agung Besakih.

Gambar 06. Tampang depan Pura Agung Besakih. (Foto: ING Suardana).

14
Banyak pakar menilai, Pura Agung Besakih dalam
masyarakat Bali punya hubungan yang sangat erat antara adat-
istiadat dan kultur yang dilandasi oleh nilai-nilai ajaran agama
Hindu sebagai satu kesatuan sistem socioculture masyarakat Bali
yang bersifat sosial religius. Dengan kata lain sebagai wujud
cerminan nilai-nilai falsafah Hindu yang amat religius, indah,
menakjubkan dan bervibrasi spiritual.
Mpu Kuturan
Beberapa abad kemudian, Mpu Kuturan datang,
melakukan penataan kembali Pura Agung Besakih sekitar tahun
929 Saka (1007 M) semasa pemerintahan Raja Udayana. Ada
dikisahkan, penataan itu bertitik tolak dari Pura Paninjoan, yang
dalam mata batin beliau menghayati dan memahami secara
holistik tatanan itu sebagai satu kesatuan utuh (unity), untuk
mencermati dan menyempurnakan penataan pancadatu yang
dilakukan Rsi Markandya sebelumnya. Berangkat dari penataan
itulah mulai ada kejelasan adanya area pokok atau inti, area
penyangga (diwujudkan dalam konsep Catur Lawa, seperti Pura
Penyarikan, Pande, Ratu Pasek, Seganing), dan area penunjang.
Pada area inti antara lain terdapat candi bentar, bale
pegat, bale kulkul, bale pelegongan, bale pegambuhan, bale
ongkara, kori agung, bale pawedan, bale agung, bale pesamuan
agung, bale tengah, bale papelik, beberapa meru tumpang 11,
tumpang 9, tumpang 7, tumpang 5, tumpang 3, sanggar agung,
bale tengah, bale paruman alit, bebaturan, bale kembang sirang,
bale gong, gedong bale panggungan, dan bale kampuh. Area inti

15
Gambar 07 . Di Pura Penataran Agung Besakih. (Foto: ING Suardana).

disebut sebagai sapta petala (area tujuh lapis) atau kerap pula
disebut area luhuring ambal-ambal.
Pembagian ini bercermin dari adanya teori tujuh
pelapisan alam. Area ini juga dibagi berdasarkan konsep triloka --
alam bawah (bhur), tengah (bwah), atas (swah) yang dalam
bahasa keilmuan semesta disebut lapisan hidrosfer, litosfer dan
atmosfer. Konsep tersebut di ataslah kemudian melahirkan
konsep sapta mandala (dibagi tujuh ruang) dalam area inti, dari
hulu hingga jaba sisi.

Perhatian Raja
Periode berikutnya berlanjut pada zaman kerajaan
Gelgel, khususnya pada era pemerintahan Dalem Waturenggong.

16
Lontar Raja Purana "Pangandika ring Gunung Agung"
menyebutkan bahwa keberadaan Pura Besakih kian memperoleh
perhatian besar tatkala era keemasan kerajaan Gelgel di bawah
pemerintahan Dalem Waturenggong. Disebutkan pula, Pura
Besakih, selain berfungsi sebagai sthana Dewa Sambu di timur
laut pangider bhuwana, pun dalam ritualnya berfungsi sebagai
titik sentral. Lantas Besakih dinyatakan sebagai parahyangan
"Madyanikang Padma Bhuwana", berstatus sebagai Pura Sad
Kahyangan (Padma Bhuwana) dan Penyungsungan Jagat.
Dikisahkan, dalam masa kejayaan Dalem Waturenggong,
Raja dikenal sangat arif bijaksana dalam memimpin
pemerintahan. Pada saat inilah diperkirakan sejumlah padharman
tumbuh di Bali. Pada zaman ini pula diceritakan datang seorang
tokoh agama, Mpu Dwijendra pada 1489 M dari Jawa ke Bali
yang diangkat oleh Raja sebagai Bhagawanta Istana. Konon
salah satu muridnya yang terkenal pada waktu itu adalah
Rakryan Panulisan Dawuh Bale Agung yang berperan sebagai
Penyarikan Dalem, lantaran beliau memiliki keahlian di bidang
kesusastraan dan filsafat. Di era kedatangan Mpu Dwijendra
(Dang Hyang Nirartha) dari Majapahit inilah dibangun pula
Padmasana Tiga di Penataran Agung Besakih.

Kawasan Luas
Sesungguhnya, kawasan Pura Besakih memang sangat
luas. Terdapat tak kurang dari 18 Pura Pakideh (pura yang
tergolong pura umum), 13 pura pedharman dan lebih dari 15

17
pura paibon. Sebagaimana sudah disebut, ada area inti,
penyangga dan penunjang, maka memasuki kawasan Pura
Agung Besakih, dari bagian hilir/bawah (soring ambal-ambal)
hingga ke hulu, terdapat beberapa gugus pura.

Gambar 08. Jaba sisi Pura Agung Besakih. (Foto: ING Suardana).

Paling depan dari kompleks pura itu adalah Pura
Pasimpangan. Sesudahnya, ada Pura Tirta Sudamala. Berikutnya
Pura Dalem Puri, Pura Tirta Empul dan Pura Manik Mas --
terletak di seberang timur jalan dan sungai. Kelompok pura
selanjutnya yang tempatnya paling berdekatan adalah Pura
Bangun Sakti, Pura Tirta Tunggang, Pura Goa Raja, Pura Ulun
Kulkul (Catur Lokapala-Barat). Tak jauh dari situ, berdiri Pura
Merajan Selonding, Pura Merajan Kanginan dan Pura Banua

18
Kawan. Selain itu dapat dijumpai adanya wantilan, Pura
Mrajapati Hyangaluh dan Bancingah Agung.
Sebelum menapaki sejumlah tangga (undag-undag),
area terdepan dari kompleks Pura Penataran Agung, pemedek
akan melewati sisi kanan dari Pura Basukian. Usai melewatinya,
pemedek akan dapat melangkah di undag bagian tengah yang
hendak menuju Pura Penataran Agung Besakih (sebagai pusat
tengah) maupun melalui undag samping yang hendak menuju
Pura Pasimpenan Dukuh Sedaning, Pura Ratu Pasek, kompleks
pura pedharman, Pura Ratu Penyarikan, Pura Kiduling Kreteg,
hingga ke Pura Gelap (Catur Lokapala-Timur), Pura Pangubengan
dan Pura Tirta Pingit.
Di sayap kanan (sebelah barat laut) dari Pura Penataran
Agung terhadap Perantenan Suci. Tak jauh dari tempat ini
terdapat Pura Ratu Pande (Catur Lawa), Pura Batumadeg (Catur
Lokapala-Utara), Pura Tirta Sangku, Pura Paninjoan dan Pura
Dukuh Sedaning (Catur Lawa).

Jejak Historis sebagai Teks Arsitektur
Mengingat Pura Basakih merupakan pura terbesar dan
termegah di Bali serta sebagai jejak perjalanan sejarah panjang
peradaban spiritual Bali, maka pura ini merupakan salah satu
warisan budaya leluhur nan adiluhung. Keberadaannya perlu
terus dijaga dan dilestarikan untuk keberlanjutan kegiatan
spiritual masyarakat Hindu di Bali maupun yang berada di luar
Bali, dari generasi ke generasi kemudian.

19
Untuk itu perlu senantiasa didokumentasikan fisik
arsitekturnya maupun catatan-catatan tertulis yang bernilai
sejarah dan atau keagamaan.
Menurut Ir. Made Widnyana Sudibya, IAI, yang telah
melakukan survey (bekerjasama dengan Desa Adat Besakih) dan
pendokumentasian, seluruh kompleks pura pakideh di kawasan
Pura Besakih sesungguhnya diikat oleh satu rangkaian ritus
dalam hitungan rentang hari hingga ribuan tahun. Penetapan
status pura semisal Pura Catur Lawa, Catur Lokapala dan
Pakideh, sepantasnya dibarengi dengan langgam tata ruang dan
arsitektur yang memiliki ikatan gaya antara satu dengan yang
lain.
Diungkapkan pula, dalam bentangan waktu 40-an tahun
sejak pelaksanaan upacara Eka Dasa Rudra pada 1963, elemen
estetika dan penunjang bangunan bergerak makin mendesak
fungsi ruang dan arsitektur. Akibatnya, kendati pandangan mata
disuguhi keindahan, namun fungsi ruang dan hak publik
cenderung makin sesak dan sempit. Upaya pendokumentasian ini
memberi kontribusi signifikan terhadap pelestarian arsitektur
Pura Besakih lantaran dokumen itu kemudian merupakan
pegangan dan warisan pengetahuan serta budaya sangat
berharga bagi generasi penerus umat Hindu di Bali maupun yang
ada di luar Bali.
Namun, bagaimana kondisi penataan tapak ruang luar,
khususnya yang bisa terlihat pada sisi kiri dan kanan jalan
menuju pura? Pada saat masih berlangsungnya upacara terlihat

20
amat banyak warung menjamur di tepi jalan. Keadaan seperti itu
terasa mengurangi vibrasi kesucian pura. Selain itu, bukan hanya
dari segi visual (pandangan) saja yang mengganggu, juga
kebisingan dari suara tape atau radio, polusi udara dari asap
dapur warung, bau, dan sampah.
Nah, apakah tak ada alternatif lain untuk penataan para
pedagang yang ada di tepian jalan menuju Besakih itu? Misalnya
dengan menertibkan para pedagang untuk tidak berjualan di
jalur yang masih merupakan alur transisi atau peralihan menuju
Pura Besakih. Misalnya dengan memindahkan pedagang itu
khusus berjualan di bagian dalam ruang parkir. Sementara di
tepian jalan ditanam pepohonan dan tanaman hias Bali.
Sehingga, ketenangan suasana, udara yang besih dan aroma
kembang yang khas akan kita dapatkan.

Fungsi dan Makna
Beberapa jenis bangunan suci yang telah disebutkan tadi
secara garis besar memiliki fungsi dan makna spesifik. Misalnya
bangunan meru, menonjolkan keindahan dan keagungan atap
bertumpang berbahan ijuk dengan dinding-dinding dari papan di
belakang dan sisi-sisi samping. Jumlah tumpang yang selalu
ganjil pada meru memiliki makna kalepasan. Konstruksi rangka
atau kayu-kayunya tidak diperkenankan menggunakan kayu
sembarangan, tapi memiliki kelas khusus untuk bangunan-
bangunan pemujaan.

21
Fungsi meru sesungguhnya untuk tempat pemujaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa, Dewa-dewa dan leluhur. Sebutan
meru itu sendiri konon berasal dari nama gunung di surga yang
salah satu puncaknya disebut Kailasa. Jadi meru boleh dikata
sebagai replikasi Gunung Meru itu.
Bentuk lain seperti gedong punya kemiripan dengan
tugu. Bagian kepala gedong terbuat dari konstruksi kayu,
atapnya ijuk (untuk di pura) atau disesuaikan dengan fungsinya.
Denahnya bujur sangkar. Jika gedong itu atapnya bertumpang,
disebut Gedong Sari untuk tempat pemujaan di pura-pura
Kahyangan Jagat. Tentang dasar-dasar ukuran gedong, proporsi
bebaturan dan rangka ruangnya berpatokan pada ketentuan
tradisional Bali.
Ada bangunan lain yang dikategorikan sebagai bangunan
pelengkap atau runtutan, disebut papelik. Bentuk dan
konstruksinya mirip bangunan gedong, terbuka tiga sisi ke depan
dan sisi-sisi samping. Memiliki fungsi untuk penyajian sarana dan
perlengkapan upacara. Sementara bale pawedan menghadap ke
timur, atau sesuai dengan orientasi bangunan pemujaan. Adanya
bale kulkul, bale panggungan, bale gong, bale pegambuhan, dan
lain-lain turut melengkapi bangunan-bangunan sucinya.
Maka, bagi masyarakat Hindu di Bali maupun di luar Bali,
sejatinya keberadaan Pura Besakih memberi makna yang sangat
mulia, yakni sebagai lambang "pemersatu umat".'Di dalamnya
berbagai simbol kebudayaan religius berakar. Begitu pula
gubahan arsitektur puranya yang indah dan terstruktur, teguh

22
berdiri mengikuti kaidah ajaran agama Hindu, yang memiliki nilai
estetis religius.

Rangkaian Peristiwa
Jejak-jejak historis dan tampilan arsitektural Pura
Besakih sesungguhnya merupakan sebagai teks arsitektur. Di
dalamnya terceritakan rangkaian peristiwa bersejarah yang
bertalian dengan rasa takjub manusia akan kebesaran dan
keagungan Tuhan. Lantas diwujudkan secara arsitektural sesuai
fungsi dan maknanya. Teks arsitektur Pura Besakih boleh dikata
merupakan himpunan pengalaman arsitektur yang berintikan
spiritualitas.
Arsitektur Pura Beskih tak bisa dipisahkan dengan
peristiwa bersejarah yang terjadi sebelumnya. Peristiwa
senantiasa berhubungan dengan ruang dan waktu. Kedatangan
para Mpu ke Bali (Besakih) dalam periode waktu tertentu dulu,
membuktikan hal itu. Penataan secara arsitektural yang
berlandaskan pada nilai-nilai falsafah agama, etika dan ritual
adalah dalam upaya menuju "penyempurnaan" dari apa yang
telah dibuat sebelumnya.
Keberadan peristiwa arsitektur di dalam ruang bisa
diamati dengan indera dan referensi pemahaman kita terhadap
teks arsitekturnya. Di dalamnya, waktu turut serta menunjukkan
keberadaan atau eksistensinya. Dengan kata lain, ada hubungan
timbal balik. Waktu bisa diketahui eksistensinya dalam peristiwa

23
arsitektur, sebaliknya peristiwa arsitektur yang di dalamnya ada
tradisi akan menemukan maknanya secara utuh di dalam waktu.
Dalam hubungannya dengan tradisi, untuk dapat
menghayati dan memahami tradisi dengan baik, manusia harus
berada dalam kejernihan hati dan pikiran agar dapat
mendengarkan apa yang "dikatakan" oleh tradisi itu. Teks
arsitektur sebagai tradisi yang berhulu dari masa lalu merupakan
suatu kenyataan yang mesti dihayati dan dipahami, yang
senantiasa terkait dengan jiwa persembahan dan niat bakti tulus
manusia ke hadapan Tuhan. Kendati di sisi lain, tradisi arsitektur
Bali senantiasa berada dalam proses dihayati dan dipahami oleh
manusia Bali dari generasi ke generasi.
Sebagai salah satu jejak peradaban Bali, teks arsitektur
Pura Besakih tak dapat dipungkiri ada di belakang produk masa
lalu. Namun di satu sisi pemahaman manusia atas teks itu
senantiasa merupakan kemungkinan di masa depan. Sehingga
teks arsitekturnya boleh jadi merupakan roh penghubung
pertalian antara masa lalu dengan masa depannya yang
mewujud dalam karya agung arsitektur Pura Besakih masa kini.

30 April 2006

24
Pura Beji Sangsit
Unik dengan Ragam Hias khas Buleleng

Membangun kearifan local di suatu daerah tentunya
mesti berakar dari potensi alam dan budayanya. Semisal upaya
pelestarian pengembangan geliat khas ragam hia, nilai-nilai
histories, estetis religius pada banyak arsitektur pura di Buleleng.
Salah satu pura yang mewakili kekhasan tersebut adalah Pura
Beji, Sangsit, Buleleng. Apa saja yang bisa ditelusuri dari
keberadaan pura ini?

Pura Beji yang terletak di Desa Sangsit, Kecamatan
Sawan, Kabupaten Buleleng dan berada di sekitar 8 km di
sebelah timur kota Singaraja ini punya keunikan tersendiri. Pura
ini memiliki gugus-gugus massa bangunan suci sangat massif
dan sarat dengan ukiran khas gaya Buleleng.

Gambar 09&10. Kori Agung Pura Beji Sangsit (kiri) dan bebarapa pelinggih
yang ada di Jeroan Pura (kanan). (Foto: ING Suardana).

25
Konon dulu , sebelum era kedatangan Dang Hyang
Nirartha, kawasan Bali utara atau kabupaten Buleleng dikenal
sebagai wilayah Den Bukit. Pada awalnya kehidupan manusia di
Bali, keberadaan mereka bermula hidup di wilayah Buleleng
timur. Pada saat itulah diperkirakan awal kemunculan konsep
―Padma Bhuwana‖ dalam penataan pura-pura di Bali. Khususnya
di daerah Buleleng timur. Salah satu pura yang termasuk di
dalamnya adalah Pura Beji Sangsit.
Sebagaimana pernah diungkap oleh Ida Pandita Nabe Sri
Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi, pura-pura yang
disebutkan masuk dalam konsep penataan itu, yakni Pura Panegil
Dharma, pura-pura yang ada di Desa Bulian, Pura Meduwe
Karang, Pura Dalem Puri, Pura Gunung Sekar (Guruyang/Guru
Hyang), Pura Beji, Pura Pasupati, Pura Air Sanya (Air Sanih) dan
Pura Bukit Sinunggal.
Disebutkan pula, pada zaman Kesari Warmadewa, Pura
Besakih belum ada. Dalam perkembangannya setelah
kedatangan Mpu Kuturan, disusul kemudian dengan kedatangan
Dang Hyang Nirartha di era Dalem Waturenggong, keberadaan
pura-pura berkonsep ―Padma Bhuwana‖ ditata kembali lebih
dalam lingkup wilayah seluruh Bali. Seperti berkembangnya Pura
Besakih dan berdirinya pura-pura Kahyangan Jagat lain yang ada
sampai saat ini. Di antaranya yang termasuk pura Kahyangan
Jagat seperti Pura Luhur Batukaru, Tanah Lot, Uluwatu, sampai
Goa Lawah.

26
Dikisahkan pada zaman Waturenggong, wilayah Buleleng
timur dianggap daerah yang tidak patut dihuni. Bahkan ketika
itu menjadi tempat pembuangan, termasuk tempat pengasingan
Ki Anglurah Panji Sakti. Namun belum ada data pasti, kapan
tepatnya peristiwa itu terjadi. Terlepas dari itu lingkungan Pura
Beji yang dikenal sebagai pura subak untuk desa pakraman
Sangsit ini dikatakan sebagai lingkungan pura untuk memuja
Dewi Sri – dewi yang diyakini berhubungan dengan bidang
pertanian, menciptakan padi sebagai bahan makanan pokok, dan
pemberi kemakmuran.

Gambar 11. gedong agung (beratap ijuk, pada keempat bubungannya
terdapat relief naga) yang pada puncak atapnya berdiri patung (ukuran
kecil) bidadari bersayap. (Foto: ING Suardana).

27
Ihwal itu rupanya berhubungan dengan bentuk ragam
hias yang dimunculkan pada segenap bagian bangunan suci Pura
Beji. Motif bunga atau tetumbuhan rambat membungkus gugus-
gugus bangunan atau palinggih yang ada di situ. Di awal dari
candi bentar, kori agung, hingga seluruh bangunan pemujaan,
sarat ukuran motif bunga berciri khas style Buleleng: cukilan
lebar, dangkal tapi runcing.

Ajaran Filsafat
Tumbuh-tumbuhan atau bunga yang digunakan sebagai
motif ukiran di Pura Beji sesungguhnya merupakan sebagai salah
satu manifestasi ajaran filsafat (tatwa) agama Hindu, ditampilkan
melalui simbol-simbol relief yang sakral. Motif bunga berdigestilir
sulur-suluran tetumbuhan secara filosofis melambangkan
kesuburan dan kemakmuran.
Tatanan Pura Beji itu sendiri terdiri dari tiga area
(mandala) yakni jaba sisi, jaba tengah, dan jeroan. Pada jaba sisi
terdapat bale kukul yang sudah mengalami modifikasi style
ragam hiasnya. Antara jaba sisi dengan jaba tengah dihubungkan
oleh candi bentar yang masih tetap menunjukkan kekhasan
ragam hias Buleleng. Di halaman jaba tengah, di sisi utaranya
ada bale paebatan dan bale saka roras. Sementara di sisi
selatannya berdiri bale saka pat dan saka ulu. Semua bangunan
itu bertiang kayu, beratap seng.
Memasuki halaman jeroan, ada candi kurung (kori
agung) dengan bebetelan di kiri kanannya. Motif bunga pada

28
ukirannya juga sangat mendominasi seperti yang terdapat pada
candi bentar. Di bagian belakang kori agung ada aling-aling yang
pada bagian atasnya berbentuk lengkung. Di halaman jeroan itu
juga ada bale gong (saka kutus beratap seng), gedong simpen
(beratap seng), bale pesamuan atau disebut jajar samah (saka
roras beratap ijuk), dua bale piasan (saka nem, di kiri-kanan,
beratap sirap), gedong agung (beratap ijuk, pada keempat
bubungannya terdapat relief naga) yang pada puncak atapnya
berdiri patung (ukuran kecil) bidadari bersayap

Gambar 12&13. Suasana di halaman Jeroan Pura (kiri) dan aling-aling-yang
bagian atasnya berbentuk lengkung-di bagian belakang kori agung (kanan).

Di sisi kiri dari gedong agung terdapat palinggih gedong
Ida Batara Dewa Ayu Kesaren berdampingan dengan palinggih
padma Dewa Bagus Ngurah Pengastulan. Paling pojok timur laut
ada palinggih padma Dewa Bagus Ngurah Beraban (di dalamnya
terdapat jajaran/pasimpangan). Menurut salah satu pemangku
setempat, bahan yang digunakan untuk bangunan suci itu –
termasuk candi bentar, kori agung dan tembok panyengker
puranya-adalah paras asli (―paras Sangsit‖) dari Banjar Abasan.

29
Kegiatan Spiritual
Melalui keberadaan arsitektur Pura Beji yang ―spesifik‖,
boleh dikata itu merupakan media komunikasi bagi masyarakat.
Lewat makna yang tersirat melalui tampilan bentuk dan
ukirannya, arsitektur Pura Beji merupakan wadah kegiatan
spiritual, sebagai produk dari kebudayaan, pemberi kejelasan jati
diri atau identitas.
Pura Beji boleh jadi dibangun melalui proses
kesepakatan masyarakat Bali ketika itu dengan ar rancangan
yang holistic dari para undagi di zaman dulu. Mereka telah
melihat kebutuhan dasar spiritual komunitas masyarakat
setempat, perasaan teritorial, perasaan memiliki dan
penghormatan tulus pada semesta ciptaan Yang Esa.
Perwujudannya mewakili norma-norma dan ekspresi estetik
kecintaan manusianya pada isi alam semesta, pelengkap dan
pemberi kehidupan.
Melihat manusia ke dalam dimensi perilaku religiusnya,
merupakan sebagai salah satu elemen program rancangan para
undagi tempo dulu. Selain pandangan tentang hidup, hubungan
manusia dengan alam, pengalaman misteri, yang semua itu
sebagai bagian dari dasar-dasar sikap manusia dalam melakukan
aktivitasnya. Adanya sawah, hunian dan lain-lain, di satu sisi
merupakan bagian dari elemen fisik lingkungan yang
mempengaruhi terwujudnya arsitektur pura pada tempat
tersebut.

30
Maka sesungguhnya jati diri yang dimiliki Pura Beji ini
membawa misi bagi pelestarian warisan budaya Bali. Yang harus
dipelihara dengan senantiasa menerapkan konsep kesatuan
social yang mendukung upaya kemajuan peradaban Bali. Pada
akhirnya tentu mesti bermuara pada upaya konservasi terhadap
keberadaan Pura Beji, baik dilihat dalam lingkup konservasi
satuan fisik (kesatuan kelompok bangunan dengan identitas fisik)
yang mampu ―menjelaskan‖ secara rinci mengenai latar belakang
fisik bangunan Pura Beji maupun wilayahnya. Atau pun
termasuk dalam satuan pandangan visualnya, suatu identitas
visual dalam satu wilayah , yang menjadi citra dari wilayah itu.
Lingkungan Pura Beji sebagai salah satu karya arsitektur
bersejarah yang religius mesti tetap berada pada lokasi
historisnya, serta menjaga latar visual semula yang sudah
selaras, seperti pola, bentuk, skala, warna, tekstur, bahan dan
ragam hias bangunan suci atau bangunan pelengkapnya. Ragam
hias Pura Beji Sangsit memang punya ciri khas, pemberi jati diri
arsitektur puranya.

13 Mei 2007

31
Menelaah Kembali Rancangan Pura (1)

Dari Turus Lumbung Hingga
Kahyangan Jagat

PULAU Bali juga disebut sebagai ‗Pulau Seribu Pura‘.
Pura selain merupakan tempat suci Hindu, juga sebagai ―sentra
rohani‖. Apa saja yang melatarbelakangi perkembangannya dan
bagaimana sebaiknya konsep rancangan sebuah pura ke depan?

Sumber prasasti kerap menyebut gunung dan bukit
sebagai sthana para dewa. zaman dulu, tempat – tempat tinggi
di Bali, di hulu atau di tanah bervibrasi suci, orang-orang
membuat suatu bangunan peribadatan, meski sederhana dan
sifatnya sementara.
Ketika itu tiangnya dibuat dari turus pohon dapdap, dan
sebuah ruangan dengan balai-balai dirakit dari bambu untuk
tempat meletakkan sajian (sesajen). Bangunan suci jenis ini
disebut Turus Lumbung, bermakna kias ―melindungi dan
menghidupi pemujanya‖. Turus dapdap bermakna tameng atau
perisai-alat pelindung diri. Sementara ―lumbung‖ mengandung
makna: ranah penghidupan. Bangunan yang sifatnya sementara
itu lambat laun diganti menjadi bangunan yang lebih permanen.
Perkembangan teknologi, berimbas juga pada bangunan
Turus Lumbung, yang semula berbahan sederhana, lalu dibuat
dari kayu dan bambu serta memakai satu ruangan (me-rong
32
tunggal), digunakan untuk tempat sesajen. Dari rong tunggal
inilah muncul sebutan nama bangunan suci Kemulan yang dipuja
suatu keluarga sekelompok kecil. Jika belakangan kepala
keluarga kecil sudah berkembang menjadi beberapa keluarga,
mereka kemudian mendirikan beberapa buah palinggih.

Gambar 14 Pura Beji Hulun Danu Batur (Foto: ING Suardana).

Seiring perkembangan kultur manusia yang kian maju,
bangunan rong tunggal berkembang menjadi dua ruangan (me-
rong kalih). Lantas berkembang lagi menjadi tiga ruangan (rong
telu), untuk menghormati atau memuja para leluhur yang telah
disucikan. Palinggih-palinggih baru disejajarkan tempatnya
33
dengan bangunan Kemulan, sehingga keseluruhannya disebut
Sanggah atau Pamerajan. Bangunan-bangunan di dalamnya
sangat bervariasi, umumnya terdiri dari bangunan Menjangan
Saluang, Gedong, Sanggar Agung, Saka Ulu, dan Taksu.
Perkembangan bangunan rong telu lalu disesuaikan
dengan konsep Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa), bermanifestasi
selaku pencipta, pemelihara dan pelebur. Kesatuan ketiga dewa
inilah disebut dengan Sang Hyang Trimurti atau Tri Tunggal.
Dari pengaruh konsep ini bangunan rong telu berfungsi ganda,
selain untuk tempat memuja arwah leluhur yang telah suci, pun
untuk memuja Sang Hyang Tri Murti.

Kahyangan Tiga
Untuk tempat pertemuan Ida Bhatara-Bhatari yang
berlangsung pada setiap ada upacara di Sanggah Pamerajan
dibuat lagi bangunan balai-balai yang disebut Balai Piyasan
(balai untuk Bhatara-Bhatari berhias). Kendati sudah mendirikan
Sanggah Kemulan, mereka juga memuja dewa-dewa yang ada di
dalam tempat suci aslinya. Dengan demikian, tak bisa dipungkiri
jika palinggih-palinggih di dalam Sanggah Pamerajan relatif
jumlahnya dan bisa mencapai belasan buah, kadang bisa lebih.
Kemudian muncul palinggih-palinggih baru untuk memuja para
Dewa, seperti bangunan: Tumpang Salu, Sakapat, Tugu, Meru,
Bebaturan, dan Gedong Sari.

34
Gambar 15.Contoh Pamerajan salah satu rumah tinggal. Sumber: Pesta
Seni Bali. 1983.

Dalam suatu Desa yang terdiri dari beberapa klen atau warga
yang berbeda-beda leluhurnya, masyarakat membangun tempat
suci bersama, berupa tiga buah pura yang dikenal dengan
Kahyangan Tiga. Di dalam pura-pura itulah mereka berkumpul
menyama braya dan berbarengan memuja dewa-dewa yang
bersemayam di dalam pura tersebut. Ketiga pura yang dimaksud
adalah: Pura Puseh, Pura Desa/Bale Agung, dan Pura Dalem.
Kedatangan Mpu Kuturan, Rsi Markandya, dan Dang
Hyang Nirartha ke Bali beberapa abad lalu membawa perubahan
penting dalam tata keagamaan di Bali. Ketika itu Mpu Kuturan
menganjurkan beberapa perubahan dalam tata keagamaan di
Bali, seperti pembuatan Kahyangan Catur Lokapala, Sad
Kahyangan Jagat, selain mengajarkan membuat kahyangan
secara fisik dan spiritual, berupa ragam jenis upacara dan jenis-
jenis pedagingan. Penyempurnaan kehidupan agama Hindu

35
dilakukan pula oleh
Dang Hyang Nirartha
yang datang ke Bali
pada abad ke-15, di
era pemerintahan raja
Dalem Waturenggong
di Gelgel-Klungkung.

Karakteristik Pura
Beragam
profesi tumbuh di
masyarakat, berbagai
Gambar 16. Pura Taman Ayun, Mengwi, Bali.
tempat suci atau pura (Foto: ING Suardana)
pun bermunculan.
Para nelayan yang umumnya bermukim di pesisir, mencari
penghidupan di laut. Laut dianggap bisa memberi kehidupan,
lantas masyarakat nelayan mendirikanPuraSegara atau Pura
Pabean.
Yang memiliki profesi sebagai petani pengolah tanah
basah, mereka akan terikat kepada air yang dianggap sebagai
sumber kehidupannya. Mereka bersatu pula untuk mendirikan
pura-pura yang dekat dengan sumber air. Misalnya semacam
Pura : Ulun Danu, Pura Siwi, Pura Bedugul, Pura Masceti, yang
berfungsi sebagai pura kemakmuran. Profesi lain sebagai
pedagang memerlukan pula tempat pemujaan dalam wujud
pura, seperti Pura Melanting. Umumnya pura ini didirikan di

36
dalam suatu pasar, dipuja para pedagang dalam lingkungan
tersebut.
Sementara kalau berdasarkan karakteristiknya pura-pura
di Bali dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok. Pertama,
Pura Kahyangan Jagat, yakni pura umum tempat pemujaan
Tuhan dengan segala prabhawa-Nya serta roh suci leluhur,
termasuk di dalamnya Pura Sad Kahyangan dan Dang
Kahyangan. Yang disebut Pura Kahyangan Jagat ialah Pura-pura
Kahyangan Agung terutama yang terdapat di delapan penjuru
mata angin dan pusat pulau Bali.
Kedua, Pura Kahyangan Desa, Pura yang disungsung
oleh Desa adat berupa Kahyangan Tiga, yakni: Pura Desa atau
Bale Agung tempat memuja Tuhan dalam prabhawa-Nya sebagai
Dewa Brahma selaku pencipta (utpeti), Pura Puseh sebagai
tempat pemujaan Wisnu sebagai pemelihara (sthiti), dan Pura
Dalem, tempat memuja Siwa sebagai pelebur (pralina).
Ketiga, Pura Swagina, pura yang penyiwi-pemuja-nya
terikat oleh swagina atau yang punya keterlibatan sama dalam
sistem mata pencaharian hidupnya. Pura dimaksud adalah
seperti Pura : Subak, Dugul, Melanting, Ulun Suwi.
Keempat, Pura Kawitan, Pura yang penyiwi-nya
ditentukan oleh ikatan ―asal muasal‖ atau leluhur berdasarkan
garis keturunan geneologis, seperti: Sanggah / Pamerajan,
Paibon, Panti, Dadia, Dalem Dadia, Penataran Dadia, Pedarman.

17 Februari 2008

37
Menelaah Kembali Rancangan Pura (2)

Dari Turus Lumbung Hingga
Kahyangan Jagat

Di Bali khususnya dalam mendirikan suatu pura terlebih
pura Kahyangan Jagat senantiasa berlandaskan pada konsepsi
filosofis yang relevan dengan ajaran tatwa agama Hindu di Bali.
Dari uraian-uraian yang telah dijabarkan sebelumnya, ada tiga
landasan konsepsi filosofis.

Konsepsi Rwa Bhineda-kesatuan purusa dan pradana
melandasi pendirian Kahyangan Gunung Agung (Besakih sebagai
purusa) dan Kahyangan Batur selaku pradana. Sementara
konsepsi Catur Loka Pala, pengejawantahan daripada ―Cadu
Sakti‖ - empat aspek kemahakuasaan Tuhan, melandasi
pendirian Kahyangan Catur Loka Phala-Pura: Lempuyang di
timur, Andakasa di selatan,. Batu Karu di Barat dan Puncak
Mangu di utara). Konsepsi berikutnya, Sad Winayaka, secara
konsepsional terkait dengan Pura: Besakih, Lempuyang, Goa
Lawah, Hulu Watu, Batu Karu dan Pusering Jagat.
Ketiga landasan filosofis itu menjadi dasar pendirian
Kahyangan Jagat, sebagai Padma Bhuwana, sthana Tuhan dalam
berbagai manifestasinya. Sembilan Kahyangan Jagat itu meliputi
Pura Lempuyang di timur, Andakasa di selatan, Batu Karu di
barat, Batur di utara, Besakih di timur laut, Goa Lawah di
38
tenggara, Hulu Watu di barat daya, Puncak Mangu di barat laut,
dan Pusering Jagat di tengah.

Konsep Rancangan
Di era global kini, ada baiknya menerapkan konsepsi
secara holistik terkait dengan aspek-aspek lainnya dalam
merancang Pura. Perlu penyesuaian yang adaptatif dengan
kondisi dan situasi lingkungan di mana pura tersebut akan
dibangun atau didirikan.
Dalam melakukan
pendekatan konsep
rancangan juga perlu
dilakukan beberapa
dasar pertimbangan,
antara lain kegiatan
civitas (manusianya),
kebutuhan fasilitas,

Gambar 17. Merajan Agung di Puri anggaran yang tersedia,
Blahbatuh, Gianyar (Foto: ING Suardana).
kapasitas pamadek
umat Hindu yang tangkil, dan alur atau pola sirkulasi umum, alur
/ pola sirkulasi khusus ke tempat suci. Lalu dilakukan pendekatan
terhadap bentuk rancangan, semisal peletakan kompas yang
benar untuk ketepatan arah mata angin/orientasi, menerapkan
tata nilai ruang arsitektur Bali, menempatkan patung-patung
bermakna, menyediakan wadah aktivitas pejalan kaki dan
penyediaan tempat parkir.

39
Perhatikan pula bentuk pembangunan dan penataannya,
semisal posisi penempatan jalan setapaknya. Di sisi lain untuk
mengatasi terjadinya banjir (saat musim hujan) pada titik-titik
tertentu perlu dibuat sumur-sumur resapan air, selain banyak
ditanami pepohonan. Juga pada jalan dekat pura dilakukan
penataan saluran air yang ada. Ada baiknya pula jika dibangun
tempat untuk mebasuh (cuci) muka atau tangan di jaba sisi
selain disediakan tempat mandi dan toilet di area terluar (jaba
sisi pisan).

Gabar 18 &19. Pura Hulun Danu Batur (kiri) dan Pura Samuan Tiga, Gianyar
(kanan). (Foto: ING Suardana).

Lantas, bagaimana pendekatan sistem struktur dan
utilitasnya? Ihwal tersebut tentu bisa dipengaruhi oleh faktor
kondisi tanah, fleksibilitas ruang, perkembangan teknologi, fungsi
bangunan serta kekuatan dan kestabilan. Sementara pendekatan
sistem utilitasnya lebih melihat pada kondisi alam, persyaratan
fisik dan psikologis pengguna ruang atau fasilitas dan
kapasitasnya. Ada baiknya mengutamakan penggunaan bahan
lokal/alami, baik untuk struktur maupun finishing. Selain itu agar
dipakai bahan yang mampu bertahan lama, mudah dalam
40
pemeliharaan, selaras dan harmonis dengan lingkungan, serta
mendukung vibrasi kesucian pura.
Dalam menentukan Pengelompokan pengguna ruang
dan besaran ruangnya perlu dipertimbangkan penataan unit jalan
lingkungan menuju kawasan pura. Pun unit jalan menuju jaba
sisi, jaba tengah dan jeroan pura. Sementara penentuan besaran
ruang terkait dengan luas persil atau area, ukuran gerak aktivitas
manusia, efektifitas kegiatan, efisiensi penggunaan ruang,
efektivitas penataan, persyaratan fisik dan psikologis. Suasana
alami-religius hendaknya menunjang masing-masing kegiatan
dan sepatutnya tetap menerapkan sistem gegulak. Semua undag
(anak tangga) memakai sikut tapak berjumlah ganjil dan
ngandang ngurip.
Pura selain berarti sebagai tempat sujud atau tempat
persembahyangan, juga sebagai tempat memohon ampun atas
pikir, kata dan laku yang keliru dilaksanakan dalam kehidupan
sehari-hari, serta ucapan terima kasih kepada Hyang Pencipta
atas anugerah perlindungan-Nya. Maka, pura sebagai tempat
‗mengusung sembah tulus‘ patut dijaga kelestarian dan
kesuciannya serta dihormati oleh umatnya. Peranan pura sangat
penting sebagai ―sentra rohani‖, tempat memuja Tuhan dalam
berbagai manifestasinya, selain sebagai tempat untuk
melaksanakan Dharma Gita, Yatra, Wacana, Tula, Sedana,
Shanti.

24 Februar1 2008

41
Permandian dan Pura Tirta Empul

Ruang Sunyi Pemberi Inspirasi

Pura Tirta Empul dan permandiannya terletak di wilayah
desa Manukaya, kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.
Bagaimana sejarah dan nilai ruang arsitekturalnya? Dari kabar
yang berkembang belakangan ini, kawasan Tampaksiring hendak
ditata sebagai wilayah yang memiliki nilai histories.. Di kawasan
ini, selain terdapat Pura Tirta Empul, juga Istana Presiden RI
Pertama, dan Pura Gunung Kawi. Bagaimana asal usul, sejarah,
arsitektur dan daya pikat yang dimiliki kawasan ini?

Diperkirakan nama Tampaksiring berasal dari (bahasa
Bali) kata tampak yang berarti ―telapak‖, dan siring yang
bermakna ―miring‖. Makna dari kedua kata itu konon terkait
dengan sepotong legenda yang tersurat dan tersirat pada sebuah
daun lontar, yang menyebutkan bahwa nama itu berasal dari
bekas jejak telapak kaki seorang raja bernama Mayadenawa.
Menurut lontar ―Mayadanawantaka‖, raja ini merupakan
putra dari Bhagawan Kasyapa dengan Dewi Danu. Namun
sayang, raja yang pandai dan sakti ini memiliki sifat durjana,
berhasrat menguasai dunia dan mabuk akan kekuasaan. Terlebih
ia mengklaim dirinya sebagai Dewa yang mengharuskan rakyat
untuk menyembahnya.

42
Alkisah,
lantaran tabiat
buruk yang
dimilikinya itu,
lantas Batara
Indra marah,
kemudian
menyerbu dan
menggempurnya

Gambar 20. Pura Tirta Empul di Tampaksiring melalui bala
(Foto:ING Suardana). tentara yang
dikirim. Sembari
berlari masuk hutan, Mayadenawa berupaya mengecoh
pengejarnya dengan memiringkan telapak kakinya saat
melangkah. Sebuah tipuan yang ia coba tebar agar para
pengejar tak mengenali jejaknya. Konon dengan kesaktian yang
dimilikinya, ia bisa berubah-ubah wujud atau rupa.
Namun, sepandai-pandai ia menyelinap, tertangkap juga oleh
para pengejarnya, kendati – sebelumnya - ia sempat
menciptakan mata air beracun, yang menyebabkan banyak bala
tentara menemui ajal usai mandi dan meminum air tersebut.
Lantas sebagai tandingan, Batara Indra menciptakan mata air
penawar racun itu. Air penawar itulah yang kemudian disebut
dengan Tirta Empul (air suci). Sedangkan kawasan hutan yang
dilewati Mayadenawa - dengan berjalan memiringkan telapak
kakinya - dikenal dengan sebutan Tampaksiring.

43
Lalu, bagaimana dengan keberadaan arsitektur Pura
Tirta Empul beserta permandiannya itu?
Ktut Soebandi, dalam buku ―Sejarah Pembangunan Pura-
Pura di Bali‖ menyebutkan, Permandian Tirta Empul dibangun
pada zaman pemerintahan Raja Sri Candrabhaya Singha
Warmadewa, dan hal ini dapat diketahui dari adanya sebuah
piagam batu yang terdapat di desa Manukaya yang memuat
tulisan dan angka yang menyebutkan bahwa permandian Tirta
Empul dibangun pada Sasih Kapat tahun Icaka 884, sekitar
Oktober tahun 962 Masehi.
Lantas bagaimana pula dengan Pura Tirta Empulnya,
apakah dibangun bersamaan dengan permandiannya?
Ternyata (masih dalam buku tersebut) antara lain
dinyatakan, bahwa Pura Tirta Empul dibangun pada zaman
pemerintahan Raja Masula Masuli berkuasa dan memerintah di
Bali. Hal ini dapat diketahui dari bunyi lontar Usana Bali. Isi dari
lontar itu disebutkan artinya sebagai berikut: ―Tatkala itu senang
hatinya orang Bali semua, dipimpin oleh Baginda Raja Masula
Masuli, dan rakyat seluruhnya merasa gembira, semua rakyat
sama-sama mengeluarkan padas, serta bahan bangunan lainnya,
seperti dari Blahbatuh, Pejeng, Tampaksiring‖.
Dalam Prasasti Sading ada disebutkan, Raja Masula
Masuli bertahta di Bali mulai tahun icaka 1100 atau tahun 1178
M, yang memerintah selama 77 tahun. Berarti ada perbedaan
waktu 288 tahun antara pembangunan permandian Tirta Empul
dengan pembangunan puranya.

44
Gambar 21. Permandian di Pura Tirta Empul
Tampaksiring (Foto: ING Suardana)

Telah Mendahului
Jika dikaji dari perbedaan waktu dan fungsi dari ruang
arsitektural, menunjukkan bahwa ruang telah mendahuli
kesadaran visual manusianya. Dalam hal ini setiap objek
memiliki suatu hubungan dengan ruang. Objek selaku sumber
mata air berhubungan dengan ruang, yakni ruang untuk mandi,
citra ruang sebagai tempat –religius-untuk membersihkan diri,
baik secara alam sekala (nyata) maupun niskala (tak nyata).
Dalam suatu tatanan spasial, jika suatu obyek –tempat
mandi-berdaya guna secara optimal, terciptalah suatu tatanan
45
dari Ruang-Waktu. Permandian adalah ruang. Hubungan-
hubungan yang dibangun oleh bentuk dan ruang akan
menentukan ritme, nilai estetika dan religius dari bangunan itu.
Di mana ruang mandi ini bukan semata membersihkan badan-
ragawi, namun juga rohani, yang dalam bahasa spiritual-Bali
disebut juga ngelukat.
Dari keberadaan tempat permandian ini secara
eksistensial dapat dieksplorasi esensi penggabungan ‗tiga macam
ruang‘ yang disebut dengan tactile (rabaan), mobile (gerakan)
dan visual (pandangan); dalam hal ini terjadi penyatuan semua
indera manusia yang berhadapan dengan pengalaman-
pengalaman serentak maupun berurutan dalam ruang dan
waktu. Ornamen atau relief-relief mulut pancuran dan sekitarnya
merupakan ruang tactile-nya, ruang untuk bergerak sebagai
mobile aktivitas mandi dan pancaran estetik-religius dari
ornamen berhubungan dengan ruang visual-nya.
Hal lain bila lebih dicermati lagi dari nilai historisnya,
menurut Bernard M Feilden, dalam buku ―Conservation of
Historic Buildings‖, mengemukakan, bahwa ada beberapa nilai
pada prinsipnya terkandung dalam arsitektur yang bernilai
sejarah: 1) nilai-nilai emosional seperti keajaiban, identitas,
kontinyuitas, spiritual dan simbolis; 2) nilai-nilai kultural, yang
meliputi pendokumentasian, sejarah, arkeologi, usia dan
kelangkaan, estetika dan simbolis, arsitektural, tata kota,
pertamanan dan ekologikal; 3) nilai-nilai penggunaan, seperti
fungsional, ekonomi, sosial dan politik.

46
Bagaimana pemandangan di sekitar pura? Jika diamati
dari sisi tebing yang menghubungkan Istana Tampaksiring
dengan Tirta Empul dan permandiannya, di kejauhan utara
terlihat kebiruan Gunung Batur dan keelokan panorama Gunung
Agung di sebelah Timur. Di sekitarnya juga nampak permukiman
penduduk serta pemandangan persawahan berterassering di
kemiringan pebukitan. Di sela-sela bangunan terhampar lansekap
yang bernas oleh tanaman hias, dengan rerumputan hijau
berpaut pepohonan-pepohonan tua, menambah suasana
keteduhan dan ketenangan di kawasan pura ini.
Secara arsitektural Permandian dan Pura Tirta Empul ini
memiliki nilai sejarah, bervibrasi spiritual, berkarakter khas, serta
akrab dan ramah terhadap lingkungan. Tampilan arsitekturnya
bernafaskan tradisi, serta menyatu terhadap kondisi alam di
sekitarnya. Ruang-ruangnya pun menyiratkan makna yang
religius.

1 Juni 2008

47
Pura Agung Kentel Gumi, Klungkung

Tempat Memohon Kerahayuan Jagat

PURA Agung Kentel Gumi sebagai salah satu Triguna
Pura atau Kahyangan Tiga Bali, memiliki beberapa kelompok
pura. Pura yang sedang direhab dan berjarak sekitar 43 km dari
kota Denpasar ini, terletak di Desa Tusan, Banjarangkan,
Klungkung. Apa saja yang bisa disimak dari keberadaan pura
yang merupakan tempat nunas kerahayuan jagat serta kental
dengan makna simbolik ini? Bagaimana kelak tampilan
arsitekturalnya setelah dilakukan pemugaran?

Pada dasarnya, pura merupakan simbol gunung atau
alam semesta, tempat suci untuk menghubungkan diri dan
memuja kebesaran Hyang Maha Pencipta dengan berbagai
prabhawa-Nya. Di sini, Pura Agung Kentel Gumi (PAKG)
berfungsi sebagai tempat memuja Tuhan dalam manifestasi-Nya
selaku Sang Hyang Reka Bhuwana (pencipta alam semesta).
Berdasarkan lontar "Raja Purana Batur", PAKG
merupakan salah satu dari Tri Guna Pura atau Kahyangan Tiga
Bali, yakni sebagai Pura Puseh Bali, tempat mohon kedegdegan
dan kerahayuan jagat. Sementara Pura Batur sebagai Pura Desa-
nya, tempat mohon kesuburan, dan Pura Agung Besakih sebagai
Pura Dalem-nya, tempat memohon kesucian sekala-niskala. Jadi,
PAKG juga menjadi bagian amat penting sebagai Pura
Kahyangan Jagat yang di-sungsung seluruh umat Hindu.
48
Konon dulu, diawali tancapan sebuah tiang dari Mpu
Kuturan, sebagai pacek atau pasak, menjadikan suatu tempat
menjadi pancer jagat atau dasar bumi pemberi keajegan gumi
Bali yang sebelumnya sering gonjang ganjing oleh kerusuhan di
dalam kehidupan masyarakatnya. Dari keadaan yang kembali
pulih itulah konon nama Kentel Gumi bermula. Kentel artinya
kental atau padat, memiliki makna "akrab", sedangkan gumi
berarti bumi, dunia atau tanah.
Kira-kira, Kentel Gumi bermakna "terwujudnya persatuan
dan kesatuan yang kental dengan suasana keakraban dan
kedamaian hidup di bumi". Atau memiliki makna simbolik:
penegakan kembali eksistensi spiritualitas pulau Bali oleh Mpu
Kuturan yang luluh lantak sebelumnya akibat kekuasaan Raja
Maya Denawa yang memerintah pada 962 M-975 M. Mpu
Kuturan berhasil menertibkan dan menegakkan kembali
kemasyarakatan penduduk Bali yang sebelumnya dihancurkan
oleh pemberontakan Maya Denawa.

Tiga Kelompok
PAKG yang memiliki luas areal sekitar 50-an are ini pada
dasarnya merupakan sebuah kompleks pura. Memiliki tiga
kelompok: (1) Pura Agung Kentel Gumi, di dalamnya terdapat
sekitar 19 bangunan suci (palinggih); (2) Pura Maspahit dengan
lima palinggih; (3) Pura Masceti yang memiliki tujuh palinggih.
Ketiga kelompok pura ini terdapat di area jeroan atau hulu pura

49
(utama mandala), yang hanya dibatasi panyengker pura satu
sama lain.
Di sebelah barat dari ketiga kelompok pura tadi terdapat
Perantenan Suci, Bale Paebatan (berbatasan dengan jaba
tengah), dan Pura Bale Agung (berbatasan dengan jaba sisi).
Lantas, bagaimana dengan bangunan meru yang terdapat di
jeroan PAKG? Bagian pura mana direnovasi atau direstorasi?
Adakah pergeseran atau penambahan palinggih atau bangunan
pelengkap yang baru?

Gambar 22&23. Jeroan Pura Agung Kentel Gumi (kiri) dan Kori Agung (kanan).
(Foto: ING Suardana).

Meru perlambang Gunung Mahameru, stana Dewa-Dewi,
Bhatara-Bhatari leluhur berdasarkan lontar-lontar "Jaya Purana",
"Wariga Catur Winasa Sari", "Kesuma Dewa", "Widhi Sastra", dan
"Purana Dewa". Landasan filosofis meru berlatar belakang
kepercayaan terhadap gunung yang disucikan, stana para dewa
dan roh leluhur. Untuk kepentingan pemujaan, gunung suci itu
disimbolkan dengan replikasi wujud bangunan meru. Di pura ini,
meru tumpang 11 (sebelas) merupakan stana Batara Sakti. Meru
50
tumpang 9 sebagai linggih Batara Mahadewa, tumpang 7 stana
Batara Segara, tumpang 5 linggih Batara di Batur, dan tumpang
3 stana Batara Ulun Danu.

Punya Keyakinan
Kendati tak jelas kapan PAKG mulai dibangun, namun
menyitir suratan "Babad Bendesa Mas", pura ini dibangun oleh
Mpu Kuturan. Itupun -- konon -- setelah mengalami pemugaran,
karena disebutkan beberapa palinggih sudah ada sebelum Mpu
Kuturan datang. Sementara Raja yang memerintah (pada saat
Mpu Kuturan tiba dan membangun PAKG) adalah pada masa
pemerintahan Raja Sri Kresna Kepakisan yang memerintah Bali
pada 1350 Masehi, setelah Maha Patih Gajah Mada berhasil
menaklukkan kekuasaan Raja Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten.
Saat kekuasaan Raja Sri Kresna Kepakisan (di abad ke-14) itulah
keadaan raja, rakyat dan alam benar-benar stabil, manakala
perhatian difokuskan pada pembangunan dan pengembangan
PAKG.
Tuhan pada awal penciptaannya mewujudkan semesta
secara seimbang sebelum manusia ikut ambil bagian mencemari
dan merusak alam. Upaya manusia dan generasi penerusnya
adalah selain untuk senantiasa menjaga kerukunan hidup
bermasyarakat juga kelestarian alam semesta. Pada-Nya setiap
orang patut wajib melakukan doa persembahan atau
meningkatkan denyut spiritualitas pada Hyang Pencipta, agar

51
setiap insan senantiasa meningkatkan kebaikan perilakunya.
Tuhan dipuja juga sebagai pemberi stabilitas dalam arti luas.
Jadi, sejumlah palinggih yang dibuat boleh dikata
sebagai tempat stana Tuhan dengan segala manifestasi-Nya
yang dibuat sesuai lontar "Asta Dewa" dan "Asta Kosala-Kosali".
Di sisi lain, sebagai penghormatan spiritual terhadap Mpu
Kuturan, dibangun palinggih Manjangan Saluang. Ada pula
palinggih yang berfungsi sebagai tempat pemujaan Batara
Brahma, disebut palinggih Catur Muka. Tempat pemujaan Tuhan
sebagai Parama Siwa, Sadha Siwa dan Siwa (stana Mpu Tri
Bhuwana), dinamakan palinggih Sanggar Agung Rong Telu,
selain ada beraneka palinggih lain yang disebut pasimpangan.

17 Desember 2006

52
Pura Batu Bolong di Lombok :
Ruang Religi Pancarkan Kedamaian

DI sudut tikungan jalan menurun menuju Senggigi,
Lombok, di situlah Pura Batu Bolong berada. Sebuah pura yang
berdiri di atas batu karang yang bolong (berlubang) serta tetap
kokoh, tegar dan agung di bibir pantai Senggigi ini, menyimpan
aura religius yang kuat dengan keindahan pantainya. Buih-buih
ombak yang ramah seolah senantiasa merangkul dengan damai
areal pura dan pantainya.
Awal memasuki kawasan pura yang piodalan-nya jatuh
pada Purnamaning Kasa ini, umat Hindu atau pamedek yang
hendak tangkil (melakukan persembahyangan) bisa masuk
melalul Candi Bentar bertekstur pasir. Di kiri-kanan gerbang
utama ini ada pintu kecil (betelan) berterali besi sebagai 'side
entrance' atau pintu sampingnya.
Di sebelah kiri areal (dekat jalan raya), terdapat bukit
yang di atasnya berdiri Pura Pucaksari Melanting dengan
beberapa pelinggih dan bangunan pelengkap, seperti Palinggih
Pasimpangan Gunung Agung, Pasimpangan Gunung Rinjani,
Pasimpangan Ayu Mas Melanting dan Bale Pawedan. Di
sekeliling, selain pantai nan elok, juga beragam pepohonan
tumbuh di areal dekat pura. Seperti pohon beringin (di Jaba Sisi),
bunut, celagi (asem), waru (di tepi pantai), pule, dan lain-lain.

53
Memasuki areal pura, orang akan menuruni tangga
terlebih dulu, sebelum melewati beberapa pelinggih yang berdiri
di sekitar jalan setapak menuju puncak Pura Batu Bolong. Saat
pertama, di sisi kiri jalan yang dilalui, ada dua pelinggih (dalam
satu penyengker). Yang lebih dekat dengan pintu masuknya,
berdiri (menghadap ke selatan), palinggih Bagus Balian. Di sisi
kiri dari pelinggih itu (menghadap ke barat) ada pelinggih
Pengayengan Ratu Gde Mas Mecaling.
Pada sisi kirinya, berjejer Bale Pewaregan dan Bale
Pakemit.
Melewatinya, di
sebelah kanan
jalan setapak
terdapat Bale
Pawedan dan Bale
Pengodal.
Menyusul di

belakang Pelinggih
Gambar 24. Pura Batu Bolong di Lombok Barat.
(Foto: ING Suardana). Pangelukatan
(dasar palinggih-
nya bersentuhan dengan air laut). Seberang kanannya ada
Palinggih Pelawangan.
Setelah melewati bangunan-bangunan suci inilah, orang
bisa menyaksikan lebih dekat onggokan batu karang besar,
berlubang menjulang vertikal. Ibarat menganga, lidah dan suara
debur ombak terlihat menembus dan berkecipak dilubang batu
54
karang itu. Maka, suasana alam yang indah berpadu dengan
hamparan aura religi yang teduh memendarkan kekaguman.
Serta keindahan yang khusuk merasuki benak setiap orang.
Di sebelah batu berlubang/bolong itulah tersedia undag-
undag. Naik menuju hulu atau bagian atas batu karang. Tempat
di mana terdapat Padmasana, pelinggih Batara Ayu Mas Lingsir
Batu Bolong, palinggih Batara Bagus Lingsir Batu Bolong. Juga
pelinggih Batara Sakti Wawu Rauh dan (di atas tebing yang
paling ujung-menjorok ke laut) pesimpangan Petirthan. Beberapa
jenis patung yang ada di kompleks pura ini antara lain patung
Subali, Sugriwa, Rama, Laksmana, dan patung naga.

Berpindah-pindah
Menurut beberapa sumber, perjalanan Dang Hyang
Dwijendra hingga ke Pulau Lombok merupakan lanjutan dari
perjalanan beliau dari Jawa dan Bali. Beliau kerap berpindah-
pindah tempat. Di awali dari daerah Daha, kemudian ke
Pasuruan, Blambangan, terus ke kawasan Pulau Bali bagian
Barat-Jembrana (sekitar tahun Çaka 1411).
Pun, selain mengelilingi pantai selatan Pulau Bali, beliau
melanjutkan peralanan spiritual ke kawasan Bali Utara. Seperti
Pura Pulaki hingga ke Pura Ponjok Batu, sebelum melanjutkan
perjalanannya ke Pulau Lombok. Di tempat yang terakhir itulah
Dang Hyang Dwijendra disebutkan sempat menolong beberapa
orang bendega atau nelayan perahu yang karam dekat Ponjok

55
Batu. Para bendega asal Lombok yang diselamatkan beliau itu
konon turut mengantarkan Dang Hyang Dwijendra ke Lombok.

Gambar 25. Bagian atas batu karang, tempat di mana terdapat Padmasana,
pelinggih Batara Ayu Mas Lingsir Batu Bolong, palinggih Batara Bagus Lingsir
Batu Bolong. Juga pelinggih Batara Sakti Wawu Rauh (di atas tebing yang
paling ujung-menjorok ke laut). (Foto: ING Suardana).

Bapak Mangku Made Sada, salah satu pemangku yang
sehari-hari siap melayani umat tangkil ke pura itu,
mengungkapkan. Katanya, keberadaan pura itu memiliki nilai
sejarah dan spiritual sebagai bagian dari perjalanan suci Dang
Hyang Dwijendra, usai menyusuri pantai-pantai di Bali.
Dikatakannya, sebelum beliau - yang disebut pula sebagai Ida
Peranda Sakti Wawu Rauh — sampai di Batu Belong, pertama
kali memasuki kawasan Tanjung Bukur dan Pura Kapusan -

56
Lombok Barat. Selanjutnya, setelah tiba di Batu Bolong,
perjalanan beliau dilanjutkan ke Lingsar dan Suranadi.Pura Batu
Bolong yangberhadapan dengan Selat Lombok dan Gunung
Agung di Bali ini memiliki atmosfir spiritual yang mampu
memberikan kedamaian dan ketenangan bagi para pemedek
yang ngaturang bakti ke pura ini.
Ikhwal yang paling menonjol peran beliau dalam
penerapan konsep pembangunan pura di Bali maupun di Lombok
adalah tentang perlunya dibangun sebuah pelingggih dalam
bentuk Padmasana, sebagai sthana Ida Hyang Widhi Wasa
(Tuhan Yang Maha Pencipta). Dikatakan berbeda peruntukannya
dengan tempat pemujaan lain, yang umumnya berfungsi sebagai
tempat pemujaan roh suci leluhur dan para dewa.

Vibrasi Kesucian
Karya arsitektur Pura Batu Bolong-Lombok ini boleh
dikata muncul akibat kebutuhan manusia (umat Hindu) akan
ruang peribadatan yang dapat mewadahi seluruh aktivitas
spiritual-religiusnya. Dengan demikian, peran kreasi manusia di
tempat ini dan kondisi alam sekitar pantai Senggigi akan
senantiasa mewarnai dan membantu menambah vibrasi kesucian
pura itu sendiri.
Pura ini juga diyakini oleh masyarakat umat Hindu
setempat dapat memancarkan spirit atau getaran rohani yang
damai, teduh dan khusuk. ‖Mengalami‖ ruang dan massa
arsitektur pura ini mengantarkan orang lebih mamahami ―jarak‖,

57
―waktu‖ dan ―spirit‖. Kegiatan ―mengalami‖ yang dimaksud saat
berada didalam pura ini adalah di mana orang bersentuhan
langsung dengan realitas. Orang dapat merasakan ruang,
permukaan massa dan benda-benda alam pantai serta ―spirit‖
tempat dengan segenap indera yang dimiliki.
Bagaimana pun, Pura Batu Bolong yang terletak di
Lombok ini memiliki makna tradisi yang berkaitan dengan
kehidupan budaya masyarakat Hindu di Lombok yang
―diwariskan‖ oleh budaya Bali. Selain secara historis-geografis
punya kedekatan, masyarakat umat Hindu setempat tetap masih
kuat melekatkan makna tradisi didalamnya. Secara prinsip punya
kemiripan dengan makna tradisi yang ada Bali. Hal ini terlihat
dari jenis-jenis pelinggih yang dibangun di pura itu.
Dengan tetap berpijak pada desa-kala-patra dan aspek
ekologisnya, tentu ada bagian bagian yang mengalami
penyesuaian atau transformasi. Bentuk pintu gerbang yang tidak
terlalu besar dan tinggi, panggunaan bahan yang diperoleh dari
lingkungan atau alam setempat, bentuk pepalihan yang
dikembangkan serta penempatan dari jenis patung yang ada,
boleh dikata menunjukkan hal itu.

29 November 2009

58
Pura Kelasa dan Taman Narmada di Lombok Barat

Tempat Rekreasi yang Bervibrasi
Spiritual

Memasuki wilayah Lombok Barat khususnya, ada
kemiripan suasana dengan Bali. Objek-objek wisata dalam
bentuk taman atau peninggalan bekas puri zaman dulu dapat
ditemukan di situ. Salah satu objek wisata yang sekaligus
memiliki tempat peribadatan (pura) Hindu di dalamnya adalah
Taman Narmada. Penyimpan Kisah bersejarah, juga sebagai
tempat rekreasi yang memiliki vibrasi spiritual. Pura itu
dinamakan Pura Kelasa. Di sekitarnya ada pertamanan, mata air
dan telaga ageng. Nah, apa yang bisa disimak dari Pura Kelasa
dan Taman Narmada yang juga berada dalam satu area dengan
bekas puri peristirahatan raja Mataram ini?

NAMA Pura Kelasa konon berasal dari nama sebuah
gunung di India, Gunung Kelasa. Sementara nama Taman
Narmada diambil dari sebuah nama sungai suci yang juga
terdapat di India. Menurut catatan sejarah, pura, taman dan
puri itu dibangun pada akhir Abad ke-18 M oleh Raja Mataram
yang berkedudukan di Cakranegara, Lombok Barat. Pura Kelasa
didirikan di sekitar mata air, berkiblat ke arah puncak Gunung
Rinjani dengan danau Segara Anakan-nya.

59
Gambar 26.Bale Terang dari sebelah timur Telaga Padmawangi
(permandian selir raja). Foto: ING Suardana)

Lantas, apa maksud raja mendirikan semua itu? Konon
lantaran usia raja sudah uzur, tak kuasa mengikuti upacara
pakelem dan pujawali di danau Segara Anakan. Untuk itu, Raja
Mataram menganggap cukup bila dilakukan dengan menghadiri
atau mengikuti upacara pujawali di Pura Kelasa. Sementara
upacara pakelem yang diselenggarakan di Segara Anakan, secara
simbolis dilakukan di mata air Taman Narmada.

Beberapa Palinggih
Pura Kelasa yang pujawali-nya jatuh pada Purnama Sasih
Kalima ini memiliki tiga mandala, tapi terdiri dari lima transis,
yakni utama mandala (transis teratas), merupakan jeroan pura;
60
madya mandala (transis kedua) sebagai jaba tengahnya dan
kanista mandala (transis ketiga, keempat dan kelima) sebagai
jaba sisi-nya. Konon dulu-sebelum pura, taman dan puri
dibangun-di kawasan ini banyak ular berbisanya. Maka hutan
lebat yang ada pun dibabat, burung merak didatangkan dari
Sumatra untuk memangsa ular-ular itu. Usai diadakan upacara
ritual, ular-ular berbisa itu konon seketika lenyap.
Apa saja yang ada di jeroan pura? Beberapa palinggih
yang terdapat di
area utama
mandala-nya
antara lain
palinggih
Gunung Agung
(bangunan meru
tumpang satu),
palinggih

Gunung Semeru
Gambar 27. Salah satu suasana di Telaga Ageng Taman
Narmada (Foto: ING Suardana). (meru tumpang
tiga), palinggih Gunung Rinjani dan Ngerurah. Jeroan dari pura
ini dikelilingi tembok panyengker, berbahan bata merah dan
penempatan beberapa roster ―China‖ di beberapa sisi, dilengkapi
dua buah kori agung. Satu terletak di sebelah barat dan sebuah
lagi di selatan. Kedua kori ini ber-undag-undag, di sisi kiri
kanannya diapit patung naga. Sementara di setiap sudut

61
telajakan-nya terdapat masing-masing sebuah patung. Di jaba
tengah berdiri bale kembar (bale gong bertiang enam).

Gambar 28&29. Kori Agung Pura Kelasa dari arah barat (kiri) dan Pamedal Alit
(kiri). (Foto: ING Suardana).

Menurut Jero Gde Pasek Subratha, pemangku Pura
Kelasa Narmada, kondisi Pura Kelasa pada tahun 1954 masih
utuh seperti aslinya. Namun, antara tahun 1955-1956 mulai
dilakukan rehabilitasi hingga terwujud sebagai Pura Kelasa
seperti saat ini. Dikatakannya pula bahwa adanya perubahan
waktu pujawali-dari purnama kapitu menjadi purnama kalima-
dilakukan sekitar tahun 1958, yang ditetapkan berdasarkan hasil
paruman (pertemuan) para pandita Hindu di Lombok ketika itu.
Secara umum prinsip ritualnya, ngaturang pakelem di Gunung
Rinjani, ngayat dari Pura Kelasa.

Pemandian Selir Raja
Beragam jenis tanaman tumbuh menghiasi sekitar pura
seperti pohon cempaka, sawo tunjung, hingga beringin. Di
belakang pura ada sebuah bangunan Kemalik yang konon
62
merupakan tempat
mohon doa restu dan
sujud bakti bagi
beberapa kalangan
dari suku Sasak yang
punya ikatan tradisi
pada leluhurnya.

Tradisi ini boleh jadi
Gambar 30.Telaga Padmawangi (Foto ING
Suardana). lantaran adanya
afiliasi cultural (pertalian budaya) keyakinan kepercayaan etnis
Sasak di zaman itu, wujud cerminan kerukunan antar suku
maupun umat beragama.
Pura Kelasa Taman Narmada di-empon oleh tiga banjar
yakni Br. Gondawari, Br. Gandari (keduanya di Desa Lembuak,
Kecamatan Narmada) dan Br. Peresak, Desa Peresak. Jauh di
sebelah barat daya (di bagian bawah) pura ada kolam yang
dulunya merupakan tempat pemandian para selir Raja. Sang
Raja akan duduk menyaksikan mereka dari atas balkon bale
terang (sebuah bangunan berlantai dua, bagian dari kompleks
puri peristirahatan raja di zaman dulu) yang terletak di tanah
ketinggian bagian baratnya.
Di sebelah selatan pemandian terdapat kolam renang,
terdiri dari kolam renang dewasa dan anak-anak. Di sebelah
kolam renang ini ada kolam yang amat luas, disebut telaga
ageng. Semua bentuk kolam dan pertamanan itu bisa disaksikan
dan dinikmati keindahannya dari bale terang yang bangunan di
63
lantai atasnya terbuat dari kayu, baik dinding, lantai, railing
tangga dan rangka atapnya.
Dari area bale terang yang di zaman dulu berada di zona
pesarean ini banyak dijumpai jalan setapak dan puluhan anak
tangga (undag) menurun menuju tempat pemandian, kolam
renang dan telaga ageng. Rerimbunan pepohonan yang ada di
kawasan Taman Narmada ini sangat mendukung pelestarian
alamnya. Tepat di sebelah barat bale terang ada bale pertemuan
dengan 8 tiang besar, 15 tiang kecil. Kini, bangunan ini
ditambah emper di sayap utara dan selatannya dengan masing-
masing empat tiang pipa besi.
Jika digambarkan secara menyeluruh rancangan tapak
kawasan Taman Narmada, Pura Kelasa berada di sudut timur
laut. Sebelah barat pura-di area jaba sisi, di utara kolam
pemandian-ada bangunan bale petirtan (bale beji) dan bale
sakepat. Di dalam bangunan ini ada mata air (kelebutan) dan
pancuran kecil, yang pintunya dibuka untuk publik pada saat ada
upacara pujawali atau pada saat ada umat Hindu tangkil
sembahyang ke Pura Kelasa. Mata air yang bersumber di tempat
inilah oleh masyarakat dikatakan sebagai ―air awet muda.

Orientasi Sakral
Jika para pemedek hendak tangkil bersembahyang ke
Pura Kelasa, dari halaman bale Petirtan, mereka mesti melalui
banyak anak tangga (undag) di masing-masing terasering
mandala pura. Memasuki jeroan pura, para pamedek mesti

64
melalui kori agung yang ada dengan sejumlah anak tangga. Di
sini ada dua kori agung-di bagian depan (sebelah barat) dan di
selatannya.
Paling barat (di seberang tempat pemandian, kolam
renang dan telaga ageng) merupakan kompleks peninggalan puri
(peristirahatan dan persemayaman) keluarga Raja Karangasem
yang berkuasa di Lombok dulu, Raja Mataram, Cakranegara.
Bekas Puri itu, tapak atau site-nya memanang dari arah utara-
selatan. Pintu gerbang utamanya (dalam bentuk candi bentar)
menghadap ke
utara, terletak di
sisi jalan raya
Narmada,
Cakranegara.
Sepertinya
bentuk dan
pemakaian bahan
candi bentar (yang
Gambar 31. Beberapa Pelinggih di Jeroan Pura
ber-relief) ini sudah
Kelasa (Foto: ING Suardana).
mengalami
modifikasi dari aslinya. Namun masih banyak bangunan lain di
kompleks bekas puri ini masih asli dan lestari, seperti adanya dua
buah kolam yang saling bersebelahan (telaga kembar), kori
agung (penghubung area depan dengan tengahnya), bangunan
loji (dulu merupakan tempat menginap raja dan istrinya), serta
bale terang yang lantai atasnya memiliki tiga bilik, bagian

65
tengahnya terbuka, dihubungkan oleh masing-masing sebuah
pintu masuk ke bilik kiri dan kanannya.

Miniatur
Keberadaan Pura Kelasa agaknya berangkat dari konsep
kosmologi kehinduan, tatanan yang mengekspresikan
pemahaman makna spiritual yang direpresentasikan melalui
orientasi (kosmis) pada sesuatu yang sacral, seperti gunung dan
danau. Kiblatnya sebagai sumbu imajineradalah kea rah posisi
Gunung Rinjani,
gunung ketiga
tertinggi di
Indonesia-3.726
meter di atas
permukaan laut.
Pada
Gambar 32. Suasana (dari arah barat) Telaga rancangan tapak
Ageng (Foto: ING Suardana). Taman Narmada
yang memiliki luasan sekitar 6,2 hektar ini secara keseluruhan
mengadopsi pola konstruksi lansekap Gunung Rinjani dan Danau
Segara Anakan. Hal ini dapat ditunjukkan pada letak Pura Kelasa
yang dibangun di area transis paling tinggi, sebagai ―miniatur‖
Gunung Rinjani, tempat berstana para Dewata. Sementara yang
mencerminkan sebagai Danau Segara Anakan-nya adalah mata
air, tempat pemandian, kolam renang dan telaga ageng-nya,
terletak jauh di bawah, ibarat lembah, yang ada danaunya.

66
Pengolahan tapak secara keseluruhan : lahan untuk taman dan
kolam di bagian tengah jauh lebih rendah. Untuk mencapainya
mesti melewati atau menuruni puluhan anak tangga, dengan
pengolahan bentuk undag-undag yang sebagian besar linier.
Pura Kelasa dengan Taman Narmada-nya bermakna
kontekstualitas waktu, dalam artian tetap eksis sebagai lembaran
referensi nilai kesejarahan dan religi. Sebuah karya arsitektur
yang bermakna cultural nan kental, juga mampu membangkitkan
kenangan masyarakat tentang kisah masa lalu. Selain memiliki
kontekstualitas ruang yang adaptatif ekologis, keberadaan pura,
tempat pemandian, telaga ageng dan bekas puri di areal Taman
Narmada ini merupakan salah satu ikon arsitektur Nusantara
yang tetap lestari menyiratkan makna spiritual, rekreatif dan
historisnya.

12 Februari 2006

67
Pura Penataran Agung Gunung Rinjani

Dari Mitologi Menuju
Persatuan Umat

GUNUNG Rinjani di Lombok, selain tinggi, indah, dan
bervibrasi spiritual, juga banyak dikunjungi para pendaki, serta
sangat disucikan oleh masyarakat di sekitarnya. Umat Hindu,
begitu pula umat lain dari luar Pulau Lombok, tak sedikit yang
melakukan tirtayatra ke kawasan Gunung berketinggian 3.726
meter di atas permukaan laut itu. Lalu, apa saja yang bisa
disimak dari Pura Penataran Agung Gunung Rinjani?
……………………………………………………………………………………………
Jika ditelisik ke belakang, nama Pulau Lombok -- dari
babad Lombok -- disebutkan berasal dari nama raja yang pernah
berkuasa di Lombok di zaman dulu. Dalam kekawin Negara
Kertagama karya Prapanca disebutkan, Lombok Barat disebut
Lombok Mirah, sementara Lombok Timur dinamakan Sasak Adi --
lantaran di bagian timur ini ditumbuhi hutan belantara yang amat
lebat, sampai sesak atau seksek. Konon, dari kata itulah asal
nama Sasak, nama suku asli di Lombok.
Dalam babad Sangupati, Lombok disebut dengan
"meneng" (sepi). Dalam babad ini pula ada disebut Danghyang
Nirarta pernah datang ke Lombok pada 1530 M. Sebelumnya,
agama (Ciwa-Budha) dan kebudayaan yang ada di sana berada

68
di bawah pengaruh Majapahit, diawali kedatangan Patih Gajah
Mada ke Lombok pada 1345 M.
Gunung Rinjani itu sendiri dijadikan usungan orientasi
spiritual bagi tempat peribadatan atau pura-pura di pulau
Lombok, berpedoman pada arah terbit dan tenggelamnya
matahari. Bahkan Rinjani, sebagaimana disebutkan dalam Purana
Hyang Pasupati, memiliki hubungan erat dengan Gunung Semeru
di Jawa dan Gunung Agung di Bali. Gunung-gunung yang disebut
sebagai acala lingga (lingga yang tak bergerak) itu konon dari
mitologi yang ada diambil oleh Ida Hyang Pasupati dari Gunung
Maha Meru di India.

Kahyangan Jagat
Di kaki Gunung Rinjani, persisnya di Dusun Kebaloan,
Desa Senaru, Kecamatan Lombok Barat, akan dibangun dan
dilakukan perluasan Pura Penataran Agung Gunung Rinjani yang
telah ada sebelumnya. Mengingat status pura itu telah
ditetapkan sebagai salah satu Pura Kahyangan Jagat sejak 10
September 1995, berbarengan dengan acara melaspas dan
ngenteg linggih pada hari itu. Karenanya, dianggap perlu untuk
melakukan renovasi atau pembangunan Pura Penataran Agung
Gunung Rinjani. Hal ini dimaksud agar semuanya jadi lebih baik
atau sinkron dengan status dan fungsi pura itu sebagai salah
satu pura Kahyangan Jagat.
Selain itu, dirasakan perlu untuk melakukan perluasan
areal pura, sehingga dapat menampung lebih banyak jumlah

69
pamedek yang tangkil. Ihwalnya berangkat dari tujuan membina
kerukunan dan kebersamaan penganut agama Hindu, Budha
maupun kepercayaan masyarakat lokal. Artinya, untuk
mewujudkan kebersamaan, persatuan dan kesatuan intern umat
Hindu di seantero Nusantara khususnya dan dengan umat Budha
pada umumnya.
Sebagaimana dikatakan
Ir. I Dewa Gde Supartha, salah
satu anggota Seksi Perencanaan
pura, keberadaan Pura Penataran
ini dimaksudkan untuk (1)
Menyatukan umat sedharma di
Lombok bagian utara, yang
hingga kini belum punya Pura
Penataran Agung; (2) Pura
Penataran itu bukan untuk umat
Hindu semata, namun juga
dipergunakan sebagai tempat
berdoa suku Sasak yang masih

mengenal tradisi "Wetu Telu" yang Gambar 33.Denah Pura
Penataran Agung Gunung
secara historis masih terkait Rinjani
dengan tradisi Hindu di Lombok;
(3) Diharapkan pura itu merupakan awal persinggahan utama
memohon doa restu dan keselamatan sebelum mendaki Gunung
Rinjani.

70
Ditambahkan, Gunung Rinjani sebagai objek wisata
pernah memperoleh award di bidang pariwisata, lantaran
dikatakan sebagai pariwisata berbasis masyarakat. Masyarakat di
sekitarnya disebut memperoleh pendapatan dari membawa
potter para wisatawan domestik maupun mancanegara untuk
mendaki gunung. "Masyarakat ikut terlibat mendaki dan secara
tidak langsung terlibat secara aktif membantu wisatawan
mendaki Gunung Rinjani," tandasnya.

Catur Mandala
Berdasarkan data perencanaan yang diperoleh dari para
arsitek Pura Penataran Agung Gunung Rinjani (Ir. I W. Jandra
Budhiana, IAI, Ir. I Ketut Siandana dan Ir. I Ketut Adhimastra, M.
Erg.), pura yang akan dipugar menjadi Pura Penataran Agung
Gunung Rinjani itu di dalamnya telah terdapat beberapa
bangunan palinggih yang berdiri di atas tanah seluas 13 are.
Beberapa di antara palinggih itu yakni Padmasana, Palinggih
Ratu Anom, Gedong Tirtha, Bale Pawedan, dan Wantilan.
Bangunan Palinggih dan Wantilan itu rencananya akan direnovasi
total dari bentuk yang ada sekarang.
Pun tentang luas arealnya diperluas menjadi sekitar 3,2
hektar. Hal itu dilakukan mengingat status dan fungsi pura
Penataran Agung Gunung Rinjani sebagai Pura Kahyangan Jagat.
Arealnya Catur Mandala, dengan pembagian Utama Mandala
(Jeroan), Madya Mandala (Jaba Tengah), Nista Mandala (Jaba
Sisi) dan Bencingah (Jaba Pisan).

71
Disebutkan, pada area Utama Mandala akan dibangun
pula palinggih Kuil Budha (awatara ke-9 dari Dewa Wisnu),
dengan mengambil contoh di Pura besakih, Pura Ulun Danu dan
Pura Tanjung Sari/Silayukti Padangbai. Penganut agama Budha
banyak pula dianut oleh penduduk asli Lombok bagian utara.
Juga akan dibangun palinggih Ganesha, selaku manifestasi
Tuhan sebagai pelebur segala kejahatan.
Lalu, palinggih dan bangunan penunjang apa saja yang
akan dibangun di situ? Pada zona Utama Mandala akan dibangun
Padmasana, Meru Tumpang Solas, Pertiwi, Palinggih Budha,
Pengaruman, Palinggih Ganesha, Bale Pawedaan, Bale
Penganteb, Pesandekan, Bale Banten, PS. Sulinggih, Kori Agung,
Paletasan, Bale Paselang.
Di zona Madya Mandala akan dibangun Palingggih
Kemalik, Palinggih Penataran Ped, Palinggih Betara Sakti
(Barong), Pesandekan (bale gong), Kori Agung, dan Peletasan.
Sedangkan di area Nista Mandala didirikan Bale Kulkul,
Pesandekan, Wantilan dan Candi Bentar. Pada halaman
berikutnya ada disebut zona Bencingah yang terdiri dari tempat
parkir, pertamanan, pasraman dan toilet umum.
Area Pura Penataran Agung Gunung Rinjani ber-
panyengker (dari Jeroan hingga Jaba Sisi) berukuran 67,26 m x
155,84 m, dengan posisi memanjang arah kaja-kelod. Pada area
Bancingah (Jaba Pisan) yang tak memiliki sengker, terbuka
sebagai areal telajakan dan areal parkir, di antaranya terpisah
oleh pangkung yang dihubungkan sebuah jembatan. Di depan

72
areal parkir terbentang jalan utama memanjang arah utara-
selatan.

Kearifan Lokal
Kemungkinan lain yang bisa ditambahkan sebagai
pedoman di dalam pembangunan dan pengembangan arsitektrur
pura ke depan, pertama adalah adanya pemahaman terhadap
landasan filosofi pembangunan pura itu. Lantas, dicarikan
korelasinya dengan pertalian nilai-nilai historis yang ada, seperti
hubungan sejarah dan tatanan sosial kerajaan yang ada di
Karangasem dengan penerus Dinasti Karangasem yang
memerintah di Lombok. Hal ini akan memberi pengaruh terhadap
wujud bentuk arsitektur puranya, baik menyangkut pola
penataan, bahan bangunan yang dipergunakan hingga tipologi
ragam hiasnya.
Perbedaan fungsi serta makna antara bangunan sucinya
tentu ditampilkan dengan wujud bentuk yang tak sama satu
dengan yang lain. Kendati mesti memiliki nafas, karakter atau
jiwa arsitektur lokal yang sama, baik dari segi bahan, ornamen
atau ragam hiasnya. Misalnya, bentuk atau tampilan Palinggih
Kemalik, tentu – sepatutnya- berpenampilan beda dengan
Palinggih Penataran Ped. Katakanlah yang ber-stana di sana
berbeda. Pun umat yang beraktivitas spiritual-religius di
dalamnya - mungkin - memiliki sikap atau pola sujud serta
bentuk upakara yang lain pula.

73
Menyangkut prosesi pembangunannya, semua ketentuan
ada termuat dalam naskah-naskah klasik (lontar) arsitekturnya
yang memiliki nilai-nilai kebajikan universal namun bisa
dikondisikan sesuai dengan potensi alam lokal dan kehidupan
sosial budaya masyarakat setempat. Misalnya, bagaimana proses
membangun sebuah pura, pekerjaan konstruksi hingga ngurip
wewangunan, disesuaikan dengan "desa-kala-patra"-nya. Perihal
itu turut berperan memberi identitas atau jatidiri arsitektur
lokalnya.

4 Maret 2007

74
Griya Kongco Dwipayana

Bangunan Kongco dengan
Sejumlah Keunikan

Tradisi adalah sebuah perjalanan peradaban yang
senantiasa menyertai manusia dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Sebagaimana halnya perayaan Tahun Baru Imlek
2558 yang diperingati sejumlah besar kalangan etnis Tionghoa
pada Minggu (18/2/2007). Nah, adakah pertatutan antara tradisi
dan ritual merasuki tatanan arsitekturalnya? Berikut sekilas
ulasan sebuah Kongco atau Kelenteng di Tanah Kilap. Griya
Kongco Dwipayana, berada di Desa Suwung Kauh, Denpasar
Selatan. Bangunan Kongco yang berdiri di atas tanah seluas
sembilan are ini punya kekhasan. Lantas, apa dan bagaimana
keunikannya?
----------------------------------------------------------
Kisah perayaan Imlek konon bermula dari acara kumpul-
kumpul keluarga masyarakat etnis Tionghoa di negeri China
sejak beberapa abad lalu. Sebagai rasa syukur-para petani-dalam
menyambut musim semi tiba, menggantikan musim dingin
sebelumnya. Inti sesungguhnya, Imlek dikatakan sebagai upaya
membangun kerukunan keluarga menjadi sejahtera, diberkati
rezeki dan kedamaian hati.
Berkumpulnya para anggota keluarga disertai pula acara
pemberian angpao dari orang yang dipertua kepada sanak

75
keluarga. Termasuk pula adanya kue keranjang bentuk bundar-
rasa manis serta buah-buahan. Lambat laun perayaan itu
berlanjut, berkembang secara ritual dalam ranah tradisi kecinaan
di tempat ibadat yang di sebut Kongco atau Kelenteng. Di
tempat ini, diyakini para Dewa-dewi dan para leluhur berkumpul.
Kesenian barongsay pun kemudian menyusul muncul, kerap
menyemaraki kegiatan perayaan Imlek.
Nama Kongco boleh jadi berasal dari kata ―Konghucu‖
yang dalam perjalanan waktu panjang berubah jadi Kongco.
Sementara kata Kelenteng mengandung arti ―bangunan tempat
memuja (berdoa, bersembahyang) dan melakukan upacara-
upacara keagamaan bagi penganut Konghucu‖ sebagaimana
ditulis Kamus Besar Bahasa Indonesia , 1999.
Maka pada hari Imlek, selain melakukan perjumpaan
antar keluarga, mereka pun melakukan persembahyangan dan
pemujaan ke vihara-vihara Budha atau ke Kelenteng/ Kongco,
dengan menghaturkan ―sesajen‖ berupa buah-buahan, kue
bulan, dll. kepada para Dewa-Dewi yang dipuja di Kongco itu.
Lantas tradisi itu pun berlanjut dilaksanakan oleh generasi
penerusnya yang ―merantau‖ ke tempat-tempat lain.
Membangun Kongco, berangsur disesuaikan dengan kondisi
kultur lokal masing-masing wilayah. Perkembangan kemudian,
cukup banyak ditemukan Kongco yang memiliki ciri tanpa
meninggalkan unsur dasar estetik orientalnya, disesuaikan
dengan tempat, waktu dan keadaan/kondisi lokalnya.

76
Boleh
jadi sesuatu itu
akan terlihat
unik jika
disandingkan
dengan sesuatu
yang lazim di
tempat lain.

Tanpa
Gambar 34. Tampang Kongco dari arah barat laut
(Foto: ING Suardana). memperhatikan
itu tak akan bisa dilihat keunikannya. Perihal ini dapat disaksikan
pada sebuah arsitektur Kongco yang berada di Tanah Kilap.
Orang bisa melihat keunikannya jika dirujuk kembali bagaimana
tatanan maupun jenis dan bentuk bangunan yang ada di di
dalamnya. Tentang sejarah berdiri Griya Kongco Dwipayana itu
sendiri belum diketahui dengan pasti. Namun sebuah sumber
menyebutkan, direhabilitasi kembali pada tahun Masehi 1990-an
hingga selesai pada 1999.
Umumnya Kongco, di mana-mana memiliki bangunan
pokok seperti bangunan Kongco dan Gedong Budha atau hanya
ada salah satunya, disertai bangunan pelengkap seperti ruang
perpustakaan dan pasraman. Lantas, adakah sisi lain Konco
Dwipayana yang tampil beda dengan tampilan arsitektur Kongco
lainnya? Apakah dari segi tata letak/jumlah masa bangunan,
ornamen, warna, makna simbolik atau nilai historisnya?

77
Bangunan Pagoda
Yang pertama bisa disaksikan adalah pembagian
mandala (area) peruntukan menjadi 3 (tiga) bagian,
sebagaimana di Bali disebut dengan Tri Mandala. Juga antara
mandala satu dengan yang lain memiliki perbedaan ketinggian.
Area terluar beda tinggi dengan area tengah. Begitu pula antara
area tengah dengan
dalam.
Pintu masuk
utama (terluar)
menghadap ke
barat berupa
gerbang beratap
(bertumpang dua).
Pada bubungan
atapnya dipasang
berhadapan dua
patung naga
bermain bola api-
simbol

kemakmuran,
Gambar 35. Tampang Kori Agung Kongco
kebahagiaan dan Dwipayana di Tana Kilap. (Foto: ING Suardana).

kehidupan. Di sebelah kanan (utara)-nya terdapat pintu kecil
(semacam bebetelan). Tembok pagar keliling seluruhnya
berisikan patung naga, dengan ekor meliuk di atas tembok
panyengker-nya. Bentuk pintu masuk utama, kori agung, candi
78
bentar, gedong Pakua, dan lainnya, cukup adaptatif mengambil
bentuk-bentuk arsitektur Bali tradisional. Hanya, dari sisi warna
menggunakan warna merah dan kuning di sebagian besar
bangunan di Kongco ini.
Melewati pintu masuk utama, kemudian akan bisa
ditemukan bangunan Pagoda dengan beratap tumpang tujuh,
konon melambangkan tujuh lapisan alam semesta. Bangunan ini
berfungsi religi sebagai tempat ―pesamuan‖ para Dewa. Atap-
atap tumpangnya berbentuk segi delapan terpancung, semakin
ke atas kian mengecil dan menguncup. Ruang bawah tembus
pandang sampai ke puncak. Seluruh bangunan pagoda ini di cat
warna kuning keemasan, dari bagian dasar- yang bermotif
kembang teratai-hingga ke pucuk atapnya. Di sisi kanan halaman
terdapat gedung pasraman yang seluruh dinding bangunannya
bercat abu-abu.
Dari halaman ini bisa disaksikan dengan jelas pintu
masuk menuju area tengah, bentuknya serupa kori agung. Sisi
atas (kiri-kanan) dan bagian puncaknya dilengkapi stupa-stupa
Budha berjumlah lima. Di kiri kanan ‗kori agung‘ terdapat pintu
samping kecil, masing-masing dengan tiga stupa. Patung
Panglima Lan Im di sisi kiri kori, berwarna kulit hitam pekat
bersenjata tombak parang, ―didampingi‖ patung Panglima Tio Kei
di sisi kanannya yang juga memegang tombak serta berkulit
tubuh merah hati. Patung-patung ini memiliki makna sebagai
penjaga kori atau gerbang untuk mencegah segala sesuatu yang
―buruk‖ masuk ke halaman tengah. Lalu dua patung hewan

79
dalam rong sayap kiri dan
kanan kori, melengkapi
patung-patung tadi.
Tujuh Dewi
Memasuki halaman
tengah orang akan menjumpai
bangunan gedong Tujuh Dewi.
Konon jenis bangunan ini
hanya ada satu-satunya di
Indonesia. Atapnya terbuat
dari lengkungan pelat beton-
Gambar 36.Tampang bangunan
bertulang-bentuk teratai, Pagoda Kongco Dwipayana,
TanahKilap. (Foto: ING Suardana).
bertekstur dan dicat warna
hijau daun. Di sisi kirinya ada ―Ruang Tata Persembahan‖,
posisinya memanjang arah timur-barat. Ruang terbuka bertiang
enam ini sebagai tempat persiapan umat sebelum melakukan
persembahyangan ke gedong-gedong suci-Griya Kongco, Griya
Budha maupun ke Pamerajan.
Adanya ketiga gedong suci inilah-menurut seorang ―Atu
Mangku‖ Griya Kongco Dwipayana sebagai tempat ibadat ―Siwa-
Budha‖, atau menyediakan juga tempat bagi pemeluk Hindu,
selain Budha/Tao yang hendak melakukan persembahyangan
atau pemujaan di Griya Kongco ini. Di sebelah kanan gedong
Tujuh Dewi terdapat gedong Pakua sebagai tempat
diskusi/masilakrama. Di area utama (timur) ada Pamerajan-

80
terdiri dari Padmasana, Linggih Betara Lingsir dan Tajuk- Griya
Budha dan Griya Konco.

Menurut ―Atu Mangku‖ setempat, Griya Kongco Dwipayana ini
secara rutin banyak dikunjungi saat hari ―purnama‖ atau ―tilem‖.
Ada juga upacara khusus dilakukan Kongco ini, dikatakan
sebagai puncaknya, yakni: (1) Kegiatan ritual saat hari ulang
tahun Kongco, tanggal 9, bulan 9 Imlek; dan (2) hari ulang
tahun Tujuh Dewi yang berlangsung pada tanggal 7, bulan 7
Imlek.

Makna di Balik Wujud
Apa yang bisa diinterpretasikan adalah bahwa
keberadaan arsitektur Kongco Dwipayana Tanah Kilap ini
meramu konsep-konsep arsitektur peribadatan-tradisional- yang
tak hanya mengarah pada pemikiran dan pengetahuan arsitektur
semata, melainkan pula pada kedekatan kultural, berlandaskan
pada kemampuan ―merasakan‖ (sensibilitas) dan karakter isi
(content) yang berlangsung di dalamnya.
Manusia dalam struktur eksistensialnya patut
menemukan suatu bentuk ekspresi dalam memahami tradisi
dengan baik dalam kerangka historisnya. Hal ini berkaitan erat
dengan konsep ruang dan waktu. Penafsiran dan pemahaman
terhadap tradisi yang ―terbaca‖ dalam ruang dan massa
arsitekturalnya bisa dihayati, sepanjang orang-orang yang

81
beraktivitas di dalamnya ―mendengar‖ dan merasakan dengan
―khusuk‖ makna yang ada di balik wujud arsitekturnya.
Sebagaimana ornamen bentuk bulat maupun elemen-
elemen lingkaran lain sebagai komponen arsitektural yang
bermakna kesinambungan atau kebersambungan, begitu pula
banyak bentukan-bentukan arsitektural lainnya yang
mendenyutkan makna di balik itu. Atap gedong Tujuh Dewi
bentuk teratai, atau atap
pagoda bertumpang tujuh.
Juga ada patung-patung gajah
yang bernama Malikii dan Palii
di depan sisi kiri-kanan Candi
Bentar Griya Kongco serta
warna merah-kuning yang
menyelimuti-nyaris-di sekujur
bangunan dan tembok pagar
keliling merupakan siratan
simbol kemakmuran dan

kebahagiaan.
Gambar 37. Patung Kuan-Kong,
Selain ada dua buah Panglima Perang, (Foto: ING
Suardana).
patung singa (warna merah)
penjaga pintu utama Griya Kongco, dua patung singa penjaga
pintu samping, perahu naga di sebelah kanan depan pintu
samping (simbol sarana transportasi dan lambang ―kebesaran‖),
juga ada patung Panglima ―Kuan Kong‖ menunggangi kuda
putih. Tampilan semua ini menunjukkan penghargaan yang
82
tinggi tentang sejarah dan tradisi melalui pemaknaan-pemaknaan
yang dimunculkan. Bagi orang-orang yang paham, kiranya
arsitektur peribadatan bukan hanya sebatas ruang material yang
―beku‖ dengan aneka patung, relief dan lukiksan-lukisannya,
namun juga sebagai ruang ―hidup‖ yang etis, estetis dan
religius.

Berpotensi Besar
Namun, mungkin ada satu hal yang perlu diperhatikan,
khususnya menyangkut sisi rancangan tapak arsitekturnya.
Misalnya, kurang tersisanya ruang atau lahan resapan air.
Keadaan demikian tentu akan berpotensi membawa banjir.
Di seluruh area Griya Kongco Dwipayana ini, msalnya,
dari ruang terluar, ruang tengah hingga area dalam, nyaris
seluruhnya dilapisi perkerasan. Tak ada halaman atau ruang
terbukanya memakai rumput atau tanah. Ada baiknya halaman-
halaman itu tak sepenuhnya dilapisi beton atau perkerasan lain
(beton cetak, keramik, teraso dsb) sehingga bisa menyisakan
lebih banyak lahan terbuka ―berpori‖ sebagai tempat resapan
airnya.
Hal ini merupakan bagian dari rancangan tapak, yang
sepatutnya mempertimbangkan aspek ekologi ruang-ruang
luarnya. Bukan hanya di halaman dalam Griya Kongco ditemukan
keadaan seperti itu, namun bisa dilihat pula lingkungannya. Di
lapangan terbuka, samping kiri (selatan) Griya Kongco, hampir

83
sepenuhnya ditutupi perkerasan (beton), kendati di tepian
lapangan masih terlihat cukup pohon-pohon rindang.

18 Februari 2007

84
Melihat Lebih Dekat Vihara
Avalokitesvara di Cakranegara

Peringatan Tahun baru Tionghoa atau Imlek 2561 jatuh
pada Minggu (14/2) hari ini. Di setiap Vihara dan atau Klenteng
umumnya merupakan sebagai tempat pusat perayaaannya. Salah
satu yang bisa dijumpai adalah Vihara Avalokitesvara di
Cakranegara. Tepatnya berada di kawasan Sweta, Jalan A. Yani
Nomor 9, Cakranegara, Mataram, Lombok Barat. Mungkin ada
beberapa hal yang bisa disimak dari Vihara ini. Apa saja?
Vihara ini terletak tak jauh dari pusat kota Mataram.
Menujuke arah timur, belok ke utara dari simpang empat Sweta.
Di sisi timur jalan yang cukup lebar, orang akan bisa menemukan
Vihara Avalokiteswara ini. Terlihat punya ciri tersendiri di antara
bangunan-bangunan lain yang ada di sekitarnya. Seutuhnya-
secara keseluruhan- arsitektur Vihara ini didominasi oleh warna
merah dan kuning.
Awal memasuki Vihara yang sebagian besar halamannya
dipaving ini, memiliki bentuk bangunan yang secara keseluruhan
berorientasi ke arah barat. Pintu gerbang yang cukup lebar,
atapnya bertumpang, sedikit menyerupai bentuk-bentuk kori
yang ada di Bali. Namun, sudah mengalami modifikasi dari segi
bentuk, warna dan tumpang atapnya. Kolom-kolom (tiang-tiang)
beton bertulang berpenampang bundar yang digunakan juga
turut mendukung cerminannya sebagai bangunan Vihara.
85
Bangunan yang Ada
Bangunan-bangunan yang ada di Vihara ini antara lain
bangunan peribadatan (tempat berdoa), Ruang Pertemuan,
Ruang Kuti (Rumah Bhiksu), Ruang Sekretariat Yayasan Surya
Dharma, Dapur, Patung Dewi Kwan Im. Ada pula dua patung
singa di depan Canopy. Lampion-lampion berwarna merah pun
semarak menggantung dari beberapa bagian plafon selasar
maupun ruangan.
Terkait dengan patung singa yang terdapat di sisi kiri
dan kanan-depan
canopy-nya itu, konon
singa merupakan
binatang yang
memiliki arti penting
bagi masyarakat
Tionghoa. Di sebelah
kiri berdiri patung
singa jantan dengan
Gambar 38.Tampang Vihara Avalokitesvara di
cakar kanannya Cakranegara, Lombok.
berada di atas bola.
Sedangkan singa betina berdiri di sisi kanan canopy dengan
cakar kirinya membelai anak singa. Mengapa Singa? Karena
singa dianggap sebagai raja dari para binatang yang
melambangkan kekuatan dan pengaruh.
Menurut sumber: http//id.wilkipedia.org/, bola yang
berada pada patung singa jantan melambangkan kesatuan

86
seluruh negeri dan anak singa pada patung singa betina
merupakan sumber kebahagiaan. Saat memasuki lobby Vihara
orang akan bisa menemukan patung bunga teratai berwarna
pink, di dalam kolam. Di atas kolam inilah ada void (lubang
plafon) pelat beton. Sehingga selain bisa masuk sinar cahaya
matahari, juga air hujan bisa langsung jatuh di atas kolam hias
itu. Lantas ada hio (tempat dupa berbentuk cawan besar).
Kemudian ada meja panjang sebagai tempat lilin. Tempat Hio itu
sendiri disebut dengan Hiolo.
Gedung utama
sebagai tempat
peribadatan, memiliki
bentuk seperti aula,
atapnya bertumpang
dengan menempatkan
beberapa ventilasi di
antara atap induk

Gambar 39. Tampang depan Vihara dengan tumpangannya.
Avalokitesvara di Cakranegara, Lombok. Sehingga cahaya alami
bisa masuk sebagai penerang ruang dalamnya. Pintu masuk ke
gedung ini berdaun pintu empat, berlipat dua. Di kiri kanan pintu
utama itu terdapat ukiran dari kayu, ditutup kaca. Di salah satu
dinding luarnya ada spanduk bertuliskan ―Gong Xi Fa Cai‖, yang-
konon-memiliki arti ―Selamat dan semoga banyak rezeki‖.
. Di depan dari deretan patung-patung itu terdapat
patung Avalokitesvara Bodhisattva. Dan, ke depannya lagi

87
(menghadap ke
pengunjung) ada meja
sembahyang (Tian
Gong).

Tujuan
Persembahyangan
Merayakan
Gambar 40 Lobby Vihara Avalokitesvara di
Tahun Baru Tionghoa Cakranegara, Lombok.(Foto ING Suardana).
(Imlek) ini, pada Sabtu
malam kemarin diselenggarakan acara pembacaan Sutra-sutra
suci Mahayana (Liam Keng) sampai dengan selesai. Kemudian
pukul satu dini hari dengan merayakan Tahun Baru Imlek
bersama serta pembacaan Sutra-sutra suci Mahayana. Lantas
dilanjutkan dengan Puja Budda Zambala Dewa Kekayaan (Cai
Shen Ye) dan Pembagian Cai Shen Fu pada pukul dua dini hari.
Umumnya tujuan dari persembayangan yang dilakukan
di tahun baru Imlek adalah wujud syukur dan doa harapan agar
di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu
leluhur dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan para
tetangga. Yang jelas, hari raya Imlek merupakan momen
pertemuan seluruh anggota keluarga sekali dalam setahun.
Anggota keluarga akan berkumpul, saling berbagi cerita
pengalaman selama setahun.
Secara kebetulan pula pada hari ini (14/2/2010)
merupakan sebagai hari Valentine day (Hari Kasih Sayang),

88
Gambar 41. Canopy Vihara Avalokitesvara (Foto: ING Suardana).

perayaan Tahun Baru Imlek menjadi sangat berarti ketika setiap
anggota keluarga dan tetangga saling menjalin kasih, saling
mengayomi dan memulai lembaran baru (dengan pakaian baru).
Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang
Tionghoa. Perayaan tahun baru ini dimulai di hari pertama bulan
pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go
Meh di tanggal ke 15 (pada saat bulan purnama).
Malam tahun
baru Imlek dikenal dengan sebagai Chuxi, yang berarti ―Malam
Pergantian Tahun‖.
Menurut Ech Wan, yang dipetik dari
//nusantaranews.wordpress.com, kata Imlek berasal dari kata
―Im‖ = bulan, ―Lek‖= penanggalan, berasal dari dialek Hokkian
89
atau Mandarinnya, Yin Li yang berarti ―kalender bulan‖. Menurut
sumber ini pula, ciri khas perayaan Imlek adalah ornamen-
ornamen berwarna merah, kue keranjang, angpao, lentera,
petasan/mercon, tebu, barongsai. Makna simbolis dari warna
merah adalah ―kebahagiaan dan semangat hidup‖. Sedangkan
warna kuning melambangkan ―keagungan‖.

Persiapan Keluarga
Bagaimana dengan persiapan keluarga masing-masing di
rumah sebelum
merayakan Tahun
Baru Imlek? Menurut
Flyming Lika dalam
http://indonesia.siuta
o.com/, antara lain,
yaitu dengan
mempersiapkan buah-
buahan untuk meja
Gambar 42. Patung Dewi Kwan Im di Teras
sembahyangan Thian samping Vihara Avalokitesvara di Cakranegara,
Lombok.(Foto: ING Suardana).
Kung. Lantas hio
besar disesuaikan dengan kebutuhan (minimal dua batang), hio
kecil secukupnya, tergantung anggota keluarga yang ingin
sembahyang, masing-masing anggota 12 batang hio pada tiap
meja sembahyang. Lilin yang pantas, dua batang tiap meja dan
bunga segar untuk meja, bila mampu, sebagai pewangi. Selain

90
itu disediakan cangkir kecil (jiu jing) tempat teh sebanyak lima
buah untuk masing-masing meja sembahyang, dan lain-lain.
Itulah sekilas tentang Vihara Avalokitesvara di
Cakranegara-Lombok Barat yang resmi berdiri pada 10 Januari
2001. Wajah arsitekturnya cukup sederhana. Juga cukup efektif
dalam pemanfaatan lahan, pemakaian material/bahan bangunan.
Tanpa mengabaikan unsur kenyamanan, kebersihan, ketenangan
serta menjaga vibrasi religius-spiritualnya, arsitekturmya mampu
tampil mencerminkan citra sebagai tempat atau wadah kegiatan
beribadat dan menjalankan tradisinya. Khususnya dari kalangan
masyarakat etnis Tionghoa.

14 Februari 2010

91
92
Puri dan
Arsitektur Kota

93
Peninggalan Arsitektur
nan Adiluhung dari Klungkung

Ketika baru memasuki pusat Kota Semarapura, orang
tentu bakal dapat menyaksikan beberapa elemen kota yang
cukup unik dan menarik, seperti adanya patung ''Kanda Pat'' di
simpang empat, jajaran pertokoan, Monumen Puputan
Klungkung dan beberapa peninggalan seperti Bale Kertha Ghosa,
Bale Kambang, Pamedal Agung, hingga Museum Semarapura.
Kompleks ini terletak di seputar perempatan Jalan Untung
Surapati - Jalan Puputan. Mengenang Hari Puputan Klungkung
dan HUT Kota Semarapura, 28 April 2005 lalu, apa saja yang bisa
disimak dari tampilan beberapa peninggalan arsitekturnya?
----------------------------------------------------------
SEPERTINYA, pusat Kota Semarapura dan sekitarnya,
diperkaya pula oleh adanya sisa peninggalan arsitektur
bersejarah. Dari gambar ilustrasi yang diperoleh dari beberapa
94
sumber -- Ir. I Nengah Lanus (ilustrasi site plan), Adrian Vicker
(Kerta Ghosa) dan Ida Bagus Sidemen ("Puputan Klungkung
1908") -- terlihat gambar Puri Klungkung yang luas dan padat
massabangunan, sebelum dihancurkan oleh musuh kerajaan,
silam.
Di sebelah timur laut dan barat laut perempatan, dulu
merupakan alun-alun. Ketika itu, di tenggaranya ada wantilan,
pasar, Puri Delod Pasar. Dan, di barat dayanya ada Puri
Klungkung, lokasi tempat berdiri Kertha Ghosa, bale kambang,
pamedal agung dan museum sekarang. Kondisi semua yang
tergambarkan itu masih utuh sebelum terjadi Puputan
Klungkung.
Konon dulu, salah satu peninggalan historis seperti
Kertha Ghosa, merupakan tempat rapat, berembug atau ruang
musyawarah Raja Klungkung bersama para patih dan pemuka
kerajaan. Itu berlangsung tatkala kerajaan Klungkung belum
jatuh, atau saat bangunan puri belum "dibumihanguskan"
Belanda. Sementara bale kambang atau Taman Gili merupakan
sebagai balai sidang dan pengadilan, atau tempat memutuskan
hasil rapat. Pun ada bagian puri yang tak turut hancur, seperti
pamedal agung, masih kokoh berdiri dengan keaslian bentuk,
ornamen dan ragam hiasnya.
Ada keunikan lain, di antara dore dan penukub gelung
kori atau pamedal agung-nya menempel beberapa patung
manusia (orang Belanda?), bahkan ada duduk patung hewan di
bawahnya. Apa kira-kira makna keberadaan patung-patung itu?

95
Adakah itu
sebagai simbol
bahwa puri telah
diduduki dan
dikuasai
manakala
puputan
berakhir?
Mungkinkah
patung-patung
yang
"bertengger" di
atas itu dibuat
dan dipasang
orang Belanda
usai puputan --

Gambar 43: Tampang Pamedal Agung (Foto: sebagai
ING Suardana) kenangan dan
kemenangan kolonial di masa silam?
Konon di depanpamedal agung itulah Raja Klungkung, Ida Dewa
Agung Putera -- juga dikenal dengan nama Ida Dewa Agung
Jambe -- gugur setelah kena tembakan meriam Belanda, dari
jarak sekitar 200 meter. Tragedi berdarah Puputan Klungkung itu
terjadi pada 28 April 1908 (Ide Anak Agung Gde Agung, "Bali
pada Abad XIX", 1989). Para pembesar kerajaan yang setia
kepada raja, keluarga raja, perempuan dan anak-anak tewas
96
diberondong senapan pasukan altileri dan infanteri Belanda
ketika itu.
Di barat pamedal agung ada museum. Sepertinya
bangunan ini telah mengalami rehabilitasi usai puputan. Style
bangunan museum ini, sebagian mendapat pengaruh dari gaya
Belanda. Pilar tinggi besar, atap canopy bentuk pelana. Selasar
bangunan ditopang pula oleh pilar-pilarnya. Bagian luar bataran -
- di depan bawah pilar -- terdapat relief tapel barong dan
kekarangan di kiri-kanan bawahnya. Bataran itu sendiri cukup
tinggi, sekitar
1,5 meter dari
muka tanah.
Bentuk pae
masing-masing
pilar berlapis-
lapis, bagian
bawah pilar Gambar 44: Bangunan Kerta Ghosa. (Foto: ING
Suardana).
masih ada
pepalihan gelang lutung, baong capung, sesari, dan lain-lain.

Citra Kota
Warisan arsitektur peninggalan Puri Klungkung, di bawah
pemerintahan raja Ida Dewa Agung Jambe tempo dulu itu,
merupakan bagian dari "mutiara" arsitektur puri yang
diluluhlantakkan kolonial penjajah dan antek-anteknya, pada
1908. Untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, didirikan pula

97
Monumen Puputan Klungkung, rancangan arsitek Ir. Ida Ayu
Armely (pemenang sayembara monumen, 1982), yang peletakan
batu pertamanya dilakukan pada 28 April 1986 oleh Bupati
Kepala Daerah Tk. II Klungkung, dr. Tjokorde Gde Agung.
Wujud monumennya mengacu pada konsep filosofi
"lingga-yoni" (purusa-pradana).
Monumen itu memiliki ketinggian 28 meter dari
permukaan tanah, 4 pintu dan
8 anak tangga. Bilangan
tersebut memaknai monumen
dalam hubungannya dengan
peristiwa Puputan Klungkung,
yang terjadi pada 28 bulan 4
(April) tahun 1908. Di dalam
atau interiornya dipajang
patung Raja Klungkung, Ida
Dewa Agung Jambe bersama
pengikut setianya, dilengkapi
atau dikelilingi beberapa
diorama kisah perjuangan
Gambar 45: Monumen Puputan
Klungkung. (Foto: ING Suardana). rakyat Bali.
Bersamaan dengan
peresmian Monumen Puputan Klungkung ini, Kota Klungkung
pun diubah dan diresmikan namanya menjadi Kota Semarapura
pada 28 April 1992 oleh Menteri Dalam Negeri, Rudini,
berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.18 tahun 1992.

98
Selanjutnya, setiap 28 April ditetapkan sebagai Hari Puputan
Klungkung dan HUT Kota Semarapura.
Di titik perempatan Jl. Untung Surapati - Jl. Puputan, ada
Patung "Kanda Pat", karya arsitek Ida Bagus Tugur. Empat
patung yang mengambil filosofi "Catur Sanak" bersama-sama
memperoleh makna dari mitologi tentang air suci yangberasal
dari "Sindu Rahasia Muka".
Patung ini berlatar kisah tentang keempat "saudara"
manusia saat lahir yakni ari-ari (Sang Anta), tali pusar (Sang
Preta), darah (Sang
Kala) dan air nyom
(Sang Dengen), usai
mendapat anugerah,
berganti nama
menjadi Sang
Anggapati (Bhagawan
Penyarikan)
Gambar 46: Patung ―Kanda Pat‖ di
berkedudukan di perempatan kota Semara Pura. (Foto: ING
Suardana).
timur, Sang Prajapati
(Bhagawan Mrcukunda) di selatan, Sang Banaspati (Bhagawan
Sindu Pati) di barat dan Sang Banaspatiraja (Bhagawan Tatul) di
utara.
Adanya arsitektur bernilai sejarah, monumen puputan,
sampai patung religius-historis di pusat kota Semarapura
merupakan sebagai salah satu aspek yang berperan
mengaktualisasikan citra kota itu sendiri. Sebagaimana diungkap

99
Ir. Eko Budihardjo, M.Sc. (dalam "Arsitektur dan Kota di
Indonesia", 1983), ada beberapa tolok ukur yang sepantasnya
digunakan dalam penggalian, pelestarian dan pengembangan
identitas kota yakni (1) nilai kesejarahan, dalam arti sejarah
perjuangan nasional maupun sejarah perkembangan kota, (2)
nilai arsitektur lokal/tradisional, (3) nilai arkeologis (candi-candi,
benteng, gua), (4) nilai religiositas, (5) nilai kekhasan dan
keunikan setempat, baik dalam kegiatan sosial ekonomi maupun
sosial budaya, (6) nilai keselarasan antara lingkungan buatan
dengan potensi alam yang dimilikinya.
Kota Semarapura punya peninggalan arsitektur yang
memiliki beberapa nilai dari tolok ukur seperti itu lantaran punya
nilai historis, arkeologis, religiositas, arsitektur lokal, nilai
kekhasan, keunikan dan keselarasan. Kiranya, perihal yang bisa
diungkap itu merupakan sebagai "roh" yang menjiwai eksistensi
arsitekturnya.

Sendi Lempeh
Memasuki kompleks bekas puri, sekarang bisa ditemukan
tiga buah candi bentar pada tembok pembatas (panyengker)
luarnya. Sebuah terdapat di panyengker timur (pintu masuk
pengunjung/wisatawan) dan dua lagi di utara. Satu candi bentar
ada dalam halaman, sebagai gerbang masuk menuju bale
kambang atau Taman Gili, dihubungkan oleh jalan setapak ber-
panyengker.

100
Di atas panyengker itu berdiri patung-patung berbagai
jenis dan ukuran, di antaranya patung Semar, Petruk, patung
Dewa-Dewi dan lain-lain.
Bangunan Taman Gili memiliki dua lapis bataran, dicapai melalui
sekitar 10 anak tangga hingga lantai teratas.
Pada dasarnya, bangunan Gili ini memiliki tiga lapis
ketinggian. Lantai pertama, dikitari kolam, keliling tepinya
memiliki 27 jenis patung. Sementara tepi terluar kolam itu sendiri
memiliki 35 jenis patung (12 di sebelah barat, 12 di timur dan 11
di selatan).
Bangunan beratap dimulai dari lantai (bataran) kedua dengan 14
tiang atau saka. Separo bagian ke atas dari tiang-tiangnya
berukir dan memiliki canggah wang. Sendi yang ada pada setiap
saka berbentuk lempeh (ceper) bujur sangkar, khas dan unik
berukir, berukuran sekitar 50 x 50 cm berketinggian 25 cm.
Berlantai terakota berpola pasangan bata mendatar. Lantai ini
berfungsi sebagai selasar keliling dari bentuk denah segi empat
panjang -- memanjang arah utara-selatan).
Menginjak lantai tertinggi, ditemukan pula 14 saka,
namun di sini sepenuh tiang-tiangnya berukir. Tepi lantai
dikelilingi dengan railing kayu motif jaro, berketinggian sekitar 40
cm dari muka lantainya. Sendi-sendi di bawah tiang berukuran
jauh lebih kecil ketimbang sendi-sendi lantai sebelumnya. Namun
bahan lantainya serupa dengan material lantai selasar.
Konstruksi pertemuan bagian atas tiang dengan balok aslinya tak
memiliki canggah wang, kini -- untuk membantu kekuatan

101
konstruksi -- dipasang besi plat kecil (lebar 3 cm) menyangga
sineb dan lambang-nya.
Pada bagian kedua balok yang membentang di bawah atap
(ekspose) masing-masing duduk patung singa bersayap, dengan
corak dan warna sedikit berbeda. Lebih unik lagi, bidang langit-
langit bangunan bale kambang ini sepenuhnya bergambar gaya
Kamasan-Klungkung dengan narasi (cerita) Ramayana dan
Mahabharata. Warna putih gading kekuning-kuningan. Atap
sepenuhnya ditutupi ijuk.

Kertha Ghosa
Bagaimana dengan bangunan Kertha Ghosa itu sendiri?
Denah lantai bangunan ini bersegi empat bujur sangkar. Bataran
(lantai) pertama relatif tinggi, nyaris mencapai 2,5 meter dari
muka tanah. Untuk memasuki bangunan ini mesti melalui anak
tangga yang letaknya menyatu di sebelah barat bangunan
dengan railing bentuk naga. Lantai (bataran) pertama memiliki
10 tiang (saka) berukir. Setiap tiang ditumpu sendi bermotif
patung binatang, di antaranya ada patung gajah, domba, babi,
kucing, sapi, sampai macan. Tepi bataran dikelilingi railing kayu
berketinggian sekitar 60 cm dari muka lantai. Lantai di atasnya
(naik dua undag) terdapat pula 10 saka berukir.
Di ruangan ini masih dipajang satu set furniture (enam
kursi berukir dan sebuah meja) sebagai tempat rapat atau
bermusyawarah di zaman kerajaan dulu. Langit-langit
sepenuhnya dilapisi lukisan khas gaya Kamasan. Bagian

102
konstruksi kap yang tampak di atas hanya kayu pamucu dan
usuk pengapit. Bataran bangunan ini sengaja dibuat tinggi,
mungkin lantaran Sang Raja dan para patih serta pengikutnya
ingin bisa secara langsung mengamati aktivitas masyarakat yang
ada di luar, maupun pemandangan di halaman dalam. Dari sini
pula Taman Gili dapat dilihat dan dinikmati dengan jelas.
Bagian dari elemen kota yang dimiliki itu memberi
identitas pada kota itu sendiri. Maka, jati diri yang dipunyai kota
merupakan sebagai salah satu komponen yang memberi citra.
Kendati hanya beberapa massa bangunan bekas puri yang
tersisa. Bila disimak ke belakang, terbilang banyak gugus massa
bangunan lainnya telah dirobohkan Belanda kala itu. Sebut saja
kelompok bangunan puri berarsitektur Bali seperti kanya bawa,
saren gede, saren kangin, bale mas, petandakan, rangki,
siangan, raja dani, puri gunung, semarabawa, ruang tidur istri
raja, ruang tidur putri raja, pewaregan, hingga pamengkang.
Namun, semua itu telah lenyap, kini tinggal kenangan.
Apa yang bisa disaksikan sekarang, patutlah untuk tetap
dijaga dan dilestarikan. Pemeliharaan serta perawatan bangunan,
baik terhadap peninggalan bersejarah yang ada maupun yang
menyusul telah dibangun, seperti Monumen Puputan Klungkung,
patung "Kanda Pat" dan patung-patung lainnya, serta gedung
perkantoran baru bernuansa Bali, turut memberi kontribusi
perkuat identitas dan citra Kota Semarapura.

1 Mei 2005

103
Kesan Aneh "Panyengker" Puri

PURI sebagai karya arsitektur tempat persemayaman
dan tempat tinggal raja beserta keluarganya, memiliki aspek
struktur, makna simbolis dan fungsi sosial. Puri-puri di Bali
umumnya, selain memiliki petak-petak ruang yang disebut
palebahan, juga punya panyengker atau pagar keliling. Nah, ada
salah satu panyengker puri di Denpasar saat ini agak tampil
beda. Di mana, apa dan mengapa demikian, bagaimana
sepatutnya?

Kerajaan Badung tempo doeloe konon diperintah secara
kolektif oleh tiga raja -- Raja Kesiman, Raja Denpasar, dan Raja
Pamecutan. Raja Kesiman yang bergelar sama dengan ayahnya -
- I Gusti Gde Ngurah Kesiman, dikatakan berhasil memainkan
peranan yang menonjol dalam percaturan politik di kerajaan
Badung ketika itu, lantaran ia bertindak pula selaku Adipati
Agung Kerajaan Badung.
Sejak Raja Kesiman wafat, pengendali politik di kerajaan
Badung berpindah ke tangan Raja Denpasar, I Gusti Gede
Ngurah Denpasar. Saat itu Raja Pemecutan telah lanjut usia,
sehingga dianggap kurang sanggup secara aktif memainkan
peranan dalam pemerintahan sehari-hari kerajaan Badung.
Alkisah, pada 27 Mei 1904, saat gelombang laut amat
besar, sebuah perahu milik seorang warga Tionghoa (kapal

104
Tiongkok berbendera Belanda) bernama "Sri Kumala", kandas di
pantai Sanur, sebelah selatan kerajaan Badung.
Perahu itu mengangkut beberapa barang muatan seperti
gula pasir, minyak tanah, hingga puluhan ribu uang perak dan
uang kepeng. Pihak pemerintah Belanda kala itu menuduh
masyarakat setempat merusak, merampas dan melucuti isi
perahu dan menuntut kepada Badung atas segala kerusakan itu
sebesar lebih dari 5.000 ringgit.
Singkat cerita, penolakan Raja atas tuduhan dan
pembayaran
kompensasi yang
berlarut-larut itu,
dari bulan ke bulan
hingga hitungan
tahun, mendorong
pemerintah Belanda
mengirim ekspedisi
militernya ke Bali. Gambar 47.Tembok panyengker punya peran
Puncaknya pada 20 amat penting melindungi ataumengurung
(sengker = kurung) puri dan isinya. (Foto: ING
September 1906, Suardana).

berkekuatan beberapa batalyon infanteri, pasukan Belanda
mendarat melalui daerah Kesiman menggempur Badung, lantas
menyerbu pusat kota Denpasar.
Dalam perjalanan memasuki kota, pasukan Belanda
dihadang Raja Badung beserta laskarnya (para pengawal,
pendeta, keluarga raja, laki perempuan dan anak-anak)

105
bersenjatakan keris atau tombak panjang, melakukan puputan,
siap mati bertempur hingga denyut nadi berakhir. Dan puputan
itu konon berlangsung di tikungan jalan dekat Jero Taensiat.
Atau, kira-kira terjadi di sekitar atau luar tembok pagar
(panyengker) Puri Satria sekarang.

Bertutur Lain
Bicara soal puri, tak bisa terlepas dari sisi arsitekturnya.
Dalam konsep khusus pembangunan umumnya, puri dibagi
dalam sembilan petak tanah (karang) dibatasi tembok keliling
(panyengker). Konsep pembagian ini lebih umum dikenal dengan
Sanga Mandala. Setiap karang satu dengan lainnya dilengkapi
dengan kori atau angkul-angkul. Masing-masing karang
palebahan punya fungsi sendiri-sendiri, seperti ancak saji
(bancingah), sumanggen, rangki, pewaregan, lumbung, saren
kaja, saren kangin, paseban, dan pamerajan agung.
Lantas, tembok panyengker punya peran amat penting
melindungi atau mengurung (sengker = kurung) puri dan isinya.
Selain itu, ia berfungsi memberi rasa aman dan nyaman bagi
penghuni yang ada di dalamnya. Namun, keadaan telah bertutur
lain. Segenap penghuni puri -- lengkap dengan peralatan
perangnya -- ibarat menyibak gapura puri bergerak maju dalam
puputan di hari yang bersejarah itu.
Kini, mungkin orang-orang bisa mengenang atau
membayangkan kembali peristiwa heroik yang terjadi di (kini
bernama) Jalan Veteran, di luar panyengker Puri Satria,

106
Denpasar. Namun, bagaimana tampilan fasad arsitektur
panyengker-nya sekarang? Beberapa pelancong dan sejumlah
pihak berkomentar tentang pilar-pilar (lelengen) panyengker Puri
Satria yang tampil agak ganjil. Apanya? Sudahkah itu mengikuti
kaidah arsitektural menyangkut proporsi, skala, ketinggian,
ketebalan, atau komposisi ornamen yang harmonis dan selaras?
Atau mencoba mengangkat bentuk aslinya dulu, tanpa
mempertimbangkan aspek lingkungan kini?
Ada pengamat bilang, "bagian atas pilar-pilarnya kok
tampak lembo (besar kepala)?" Nah, mungkin tiap orang punya
hak untuk mereinterpretasi tampilan sosok atau wujud paduraksa
yang berdiri kekar di sisi jalan itu. Mungkin keganjilan
pemahamannya bisa diterima lantaran sang pengamat atau
penikmat berandai-andai atau beranalogi dengan proporsi tubuh
atau jasmani manusia.
Bahwa sejatinya ada keseimbangan anatomis tubuh
manusia yang proporsional antara bagian kepala, badan dan
kaki. Paling tidak, secara prinsip seperti itu. Selebihnya, ada juga
yang mengkaitkan hubungan antara fisik manusia dengan
karakternya. Misalnya -- secara berkias -- menyebutnya "besar
kepala". Entah ke mana arah kata kias ini diutarakannya.

Seputar Proporsi
Langgam "historis" ornamen dan sisi penempatannya
agaknya sudah benar, namun sudahkah dipertimbangkan

107
kemungkinan jarak dan sudut pandang lingkungan yang ada di
sekelilingnya? Baikkah proporsinya?
Dulu, di lingkungan sekitar puri tentu tak banyak berdiri
aneka jenis bangunan seperti saat ini; ada ruko (rumah toko),
pasar burung, warung, apotek, ruang praktik dokter, dll.
Sehingga, kendati jalan yang ada ketika itu kecil, tembok
jangkung dan besar boleh jadi nampak berdiri dengan anggun,
kiranya dengan proporsi yang memadai. Tak ada salahnya
membuka-buka kembali dokumentasi masa lalu yang tersimpan
sebagai referensi pemahaman, bagaimana bentuk, ketebalan,
ketinggian, proporsi panyengker (termasuk lelengen atau
paduraksa-nya).
Memang, arsitektur Bali senantiasa berkutat dengan
logika dan rasa. Melogikakan dan merasakan ruang, massa
bangunan, estetika atau keindahan, fungsi profan dan sakral,
hulu-teben, leteh-suci, hingga perihal yang kontemplatif,
menyangkut konsep, landasan falsafah dan terapan Tri Hita
Karana. Atau secara kosmologis, Bali mengenal pula pemahaman
yang disebut balance cosmology. Keseimbangan dari ikhwal yang
makro hingga ke mikro patut diwujudkan dalam alam, pun dalam
setiap karya arsitektur.
Lantaran dibangun dengan kondisi lingkungan seperti
yang ada sekarang, ada baiknya kalau perwujudan sebuah
tembok panyengker dengan elemen-elemen estetiknya didirikan
pula dengan mempertimbangkan aspek-aspek humanisnya.
Seperti psikologi arsitektur, kesan-kesan meruang, kenyamanan

108
pandang, serta dapat membangun interpretasi dan moral
personal setiap orang lebih arif dan harmonis.

17 September 2006

109
Tembok ''Panyengker''

Tak hanya Pembatas Lahiriah,
juga Spiritual

Tembok panyengker, agaknya, memiliki makna lebih,
ketimbang sekadar pagar pembatas. Lantaran panyengker
mengandung pengertian "mengurung" (kurung = sengker),
melindungi atau menjaga isi yang ada di dalam, memberikan
kesentosaan, ketentraman, dan kedamaian. Pelapisan makna apa
yang bisa disimak dari tembok panyengker?
-----------------------------------------------------------------------------
TEMBOKpanyengker merupakan bagian dari elemen
arsitektur. Keberadaannya sangat perlu, selain sebagai batas
lahiriah, juga batas aktivitas spiritual "isi" pekarangan, mengitari
pekarangan paumahan, zona parhyangan atau bangunan-
bangunan publik lainnya. Melindungi ragawi maupun batin,
memenuhi syarat kekokohan dan keamanan. Penghuni di
pekarangan dalam tembok panyengker diupayakan terlindung
dari gangguan binatang, cuaca, dan pun terhadap gangguan
lainnya.
Mewujudkan panyengker adalah dengan melakukan
pengukuran sebelumnya. Ukuran atau sikut memiliki pengertian
volume, bobot dan nilai dari satuan panjang, lebar, tebal, tinggi,
atau garis-garis ukur lainnya. Satuan ukuran dalam pengukuran
arsitektur Bali-tradisional diperoleh dari bagian-bagian tubuh
110
manusia selaku pemilik. Pada bangunan Bali tradisional,
mengukur panjang atau lebar pekarangan dengan ukuran depa
agung, depa madya dan depa alit.
Sudut-sudut pertemuan antara tembok panyengker
disebut padu raksa. Secara filosofis-etis, padu raksa tersebut
memiliki nama masing-masing berdasarkan titik sudut
peletakannya, seperti sari raksa (terletak di sudut timur laut), aji
raksa (di tenggara), rudra raksa (sudut barat daya) dan kala
raksa berkedudukan di barat laut. Padu raksa memiliki bagian-
bagian yang
diidentikkan
sebagai kepala,
badan dan kaki,
lengkap dengan
hiasan atau
pepalihan-nya.

Pengertian dan
Gambar 48: Tembopk Panyengker di Jl. Seiabudi.
(Foto: ING Suardana). Karakter
Menurut Ir.
I Wayan Gomudha, M.T., panyengker berasal dari kata sengker
yang artinya "kurung". Kurung itu sendiri memiliki pengertian (1)
sebagai tanda untuk mengumpulkan beberapa unsur menjadi
satu kelompok yang membentuk satu unit hunian; (2)
mengkonotasikan suatu keberadaan di dalam rumah,
kamar/bilik/sangkar; dan (3) melindungi dan mewadahi segala

111
sesuatu yang ada dalam kurungan. ("Pernik Manik Spasial
Hunian Arsitektur Tradisional Bali, 1999). Sementara dalam
"Kamus Bali Indonesia" (Ida Bagus Nyoman Jiwa, 1992),
panyengker disebut sebagai batas pekarangan pada keempat
sisi, bisa dengan pagar hidup atau tembok pasangan.
Dari sebidang tanah yang paling kecil sekalipun,
panyengker berperan sebagai batas wilayah, bukan sekadar
pagar biasa, namun sebagai tempat terakumulasinya unsur-
unsur fisik pembentuk hunian beserta aura psikologis-religiusitas
penghuninya.
Terlebih bila
panyengker tersebut
dilengkapi padu raksa
dan pintu gerbang
masuk (angkul-
angkul, kori

agung,candi bentar,
Gambar 49.Pagar pekarangan rumah di Jl. Gn.
dll). Hal itu Andakasa Denpasar. (Foto: ING Suardana).

menunjukkan adanya suatu kesatuan unit arsitektural (umah,
puri, pura). Kadang dari bentuk, ragam hias atau tampilannya
dapat menunjukkan status penghuninya.
Selain berfungsi sebagai pelindung dari pandangan
(penglihatan) atau privasi, panyengker punya karakter
melindungi dan mewadahi, dalam artian sebagai pelindung untuk

112
segenap isi dari kemungkinan yang membahayakan, baik secara
sekala (nyata) maupun niskala (tak nyata).
Keadaan ini menunjuk pada suatu upaya untuk memberi
batas secara visual (fisik) maupun imajiner (nonfisik) atas
perbedaan makna aktivitas, antara yang berada di dalam
pekarangan (milik penghuni) dengan kegiatan publik (di jalan) di
luar pekarangan (milik masyarakat keseluruhan). Demikian pula
sebagai segmen perlindungan diri dari privasi penghuni terhadap
"dunia luar".
Perlindungan dalam pengertian terhindar dari sesuatu
yang bersifat fisik -- karena berbatasan dengan jalan publik,
setelah telajakan -- dan privasi dalam pengertian agar kegiatan-
kegiatan yang bersifat intern (profan maupun sakral) tidak terlalu
vulgar nampak dari luar, mengingat pada norma-norma dan tata
krama yang berlaku di tempat atau lingkungan tersebut. Hal ini
dimaksud guna lebih bisa mewujudkan konsentrasi di dalam
melakukan kegiatan yang bersifat privat, sehingga tidak
terganggu pandangan publik dari luar (jalan). Naluri manusia
pada dasarnya menghendaki suatu tempat yang nyaman, nikmat
dan terlindung bagi dirinya serta lingkungan terdekatnya terlebih
dahulu, menuju terciptanya harmoni kehidupan yang damai dan
sejahtera.

Di Ruang Publik
Seperti yang disebutkan sebelumnya, panyengker juga
terdapat pada ruang publik seperti taman rekreasi, kebun

113
binatang, tempat peribadatan, pasar, taman budaya. Berbagai
style atau gaya dimiliki oleh masing-masing kabupaten di Bali.
Ada gaya Bebadungan, gaya Gianyar, Klungkung, Buleleng, dan
sebagainya. Bentuk maupun jenis material yang digunakan mesti
disesuaikan dengan karakter dari fungsi yang diwadahinya.
Dalam suatu tapak (site), kadang ada suatu ruang yang
sama (semisal halaman pasar), digunakan untuk kegiatan yang
berbeda pada waktu yang berbeda. Contohnya, pagi hari
digunakan untuk tempat berjualan atau parkir, namun pada
malam harinya digunakan oleh pedagang kaki lima sebagai
"pasar senggol". Sementara desain panyengker dibuat tinggi,
kurang komunikatif, malahan memberi kesan terkungkung dan
terkurung, sehingga para pedagang yang ada di dalam tembok
panyengker tidak terlihat sepenuhnya dari luar. Nah, sudah
sesuaikah itu dengan fungsinya dan bagaimana kesan psikologis
ruang yang diinginkan?
Oleh karena itu, panyengker bukan sakadar pagar
pembatas hanya untuk perlindungan dalam arti fisik semata,
namun lebih dari itu bisa memberikan nilai-nilai komunikatif,
"ramah" lingkungan -- sepadan fungsi ruang publik tersebut.
Untuk itu, keberadaan tembok panyengker bisa didesain dengan
mempertimbangkan faktor ketinggian, aspek transparansi
(perlubangan), etika, estetika.
Mengenai ketinggian tentu dengan memperhatikan
unsur-unsur kegiatan yang diwadahi, suasana yang diinginkan,
pertimbangan pengalaman psikologis pengguna ruang. Dalam

114
merancang tapak sebenarnya ada formulasi tertentu
menempatkan dan mengatur ketinggian panyengker, terutama
bila dibangun pada ruang-ruang yang bersifat publik. Ada yang
berketinggian sebatas lutut, berfungsi pula sebagai pola
pengarah, pembatas yang menunjukkan aktivitas di dalam yang
berbeda dengan aktivitas yang terdapat di luar, namun masih
ada view (pandangan) ke arah ruang sebelahnya, tidak ada
privasi yang disembunyikan serta memiliki nilai komunikatif.
Kemudian, ada pula setinggi di bawah pinggang manusia, di sini
sebagian aktivitas di dalamnya masih terlihat dari luar.

24 Juli 2005

115
Memaknai Peristiwa ''Puputan''
dari Alun-alun

Tanggal 20 September 2005 merupakan Hari Puputan
Badung. Ada salah satu "pengingat" sejarah dalam kisah heroik
perjuangan rakyat Badung melawan penjajah, yakni lapangan
Puputan-nya di tengah-tengah Kota Denpasar. Tragedi di tahun
1906 itu merenda makna historis yang patut dikenang, direnungi
dan dihayati spirit perjuangannya. Lantas, alun-alun itu sendiri
telah memberi makna atas kehadirannya, maupun pemaknaan
yang diberikan oleh publik sebagai pengguna ruang terbuka. Apa
saja yang bisa disimak dari keberadaan lapangan atau alun-alun
Puputan Badung?

DI hari libur atau minggu pagi, banyak orang jogging,
lari pagi atau sekadar menghirup udara segar mengelilingi
lapangan atau alun-alun Puputan Badung di tengah-tengah Kota
Denpasar. Dalam kondisi seperti itu, batin serasa segar, bebas,
lepas dan ringan dari beban keseharian. Sementara sore harinya,
masyarakat pun tumpah ruah di ruang terbuka ini. Orang tua
bersama anak-anak bersuka ria menikmati ruang yang lapang.
Ada yang bercanda, berlari-larian, atau anak-anak bermain sepak
bola.

116
Di sisi timur
para penghobi catur
tekun bermain.
Sementara di tepi
utara lapangan
berdiri Patung
Puputan Badung
(simbol ayah, ibu
dan anak -- satu Gambar 50.Salah satu suasana Alun-alun
Puputan Badung. (Foto: ING Suardana).
keluarga) dalam posisi
pekik "puputan", gagah berani, dikelilingi air mancur yang
muncul dari sisi-sisi kolam. Pada sudut timur laut dan barat laut,
terdapat bale bengong. Sementara di sudut tenggara ada dua
bale sakapat. Selain itu, ada dua gugus rumah kebun berdinding
transparan -- jejaring kawat, berangka pipa besi bercat hijau
daun -- di sisi selatan lapangan.
Dari catatan sejarah, alun-alun atau lapangan ini sudah
ada sebelum peristiwa puputan terjadi. Namun, seberapa jauh
makna alun-alun sesungguhnya masih bertahan? Adakah
bedanya, ruang terbuka umum kota dengan alun-alun Puputan
Badung? Sejauh mana kontribusinya sudah bisa dirasakan bagi
warga Kota Denpasar dan sekitarnya?

Asal Usul
Hingga sekarang masih belum diketahui dengan pasti
asal-usul alun-alun. Namun diperkirakan, konsep alun-alun itu

117
muncul di era kerajaan Hindu dulu. Lantaran keberadaan alun-
alun itu terkait dengan upacara-upacara kenegaraan Hindu ketika
itu, tatkala istana Raja membutuhkan ruang terbuka untuk
prosesi-prosesi ritual. Misalnya seperti penobatan Raja,
pernikahan keluarga Raja, penyambutan tamu kerajaan, atau
kegiatan ritual puri lainnya.Tulisan dalam kitab Negarakertagama
pun konon ada menyebutkan, bahwa keberadaan alun-alun telah
dimulai sejak abad ke-14 peradaban Majapahit. Sementara
Stutterheim (1948) pernah membuat suatu perkiraan
rekonstruksi dari kota Majapahit di Trowulan yang
memperlihatkan bahwa struktur kota Majapahit memiliki bentuk
yang tersusun oleh beberapa jalan dengan arah-arah sesuai
dengan mata angin.
Nah, menurut penafsirannya, struktur simpul kota
Majapahit serupa dengan pola perempatan Agung Hindu yang
ada di Bali. Dalam hal ini diketahui bahwa sumbu-sumbu mata
anginlah yang mengorganisir tata ruang dan bangunan secara
keseluruhan. Di sisi lain dapat dilihat adanya posisi sentral dari
puri dan alun-alun.
Kini di beberapa tempat lain -- ditengarai -- terdapat
adanya perubahan makna alun-alun yang semula punya konteks
ritual spiritual menjadi taman atau ruang terbuka umum kota.
Hal itu bisa terjadi bila konsep urban yang berkembang dalam
kehidupan bermukim modern yang ada menggeser konsep dan
makna alun-alun sesungguhnya. Bila demikian, kebutuhan
masyarakat kota akan upacara atau ritual lokal maupun nasional

118
cenderung tergusur oleh kebutuhan pragmatis ekonomis urban
modern itu. Nah, bagaimana dengan lapangan atau alun-alun
Puputan Badung yang memiliki makna historis tata ruang kota
dan perjuangan di zaman kerajaan? Apakah makna semula tetap
bisa terpelihara?
Alun-alun kini -- sebagai ruang terbuka kota --
berpeluang menjadi suatu fasilitas rekreasi publik yang lebih
dinamis, bisa dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas. Tak hanya
bersifat menanti pemaknaan dari luar, melainkan pula
memperoleh
makna dari dan di
dalam "diri"-nya.
Alhasil, alun-alun
memiliki kekuatan
yang memberi
makna kepada
realitas

penggunaan alun-
Gambar 51.Suasana di area Papan Catur, di Alun-
alun itu sendiri. alun Puputan, Badung. (Foto: ING Suardana).

Sebagai
suatu kekosongan ("teks" yang masih ditafsirkan kembali), alun-
alun Puputan Badung akan memperoleh makna dari
perkembangan kegunaannya di era saat ini. Sebagai sebuah
ruang terbuka, ia punya aneka kemungkinan aktivitas dan
peristiwa yang bisa terjadi di dalamnya. Dengan adanya

119
peristiwa-peristiwa itulah makna sebuah ruang terbuka menjadi
bervariasi penggunaannya.

Analogi Pemaknaan
Pelapisan makna tersebut bisa dianalogikan seperti teori
"penggunaan bahasa" dari Ludwig Wittgenstein yang
mengatakan, "jangan tanya makna sebuah kata, tapi lihatlah
bagaimana dia digunakan" (Linge, E. David, 1976). Jika
ditafsirkan lebih rinci, ia memiliki pengertian, "Makna sebuah
kata adalah tergantung penggunaannya dalam suatu kalimat,
makna kalimat tergantung pemakaiannya dalam bahasa,
sedangkan makna bahasa tergantung penggunaannya dalam
hidup" (Hidayat, Proseding Lingkung-Bina, 2001, Kaelan 1998:
149).

Gambar 52. &53. Suasana di sekitar Patung dari arah timur (kiri) dan dari arah
barat (kanan)

Ibarat sebuah kata, tak bisa dicari maknanya dengan
cara menanyakan apa makna menyeluruh dari kata itu sendiri.

120
Kadang ada
kesulitan semisal
mencari makna
yang luas dan
lengkap dari kata
"buah". Maknanya
bisa bermacam-
macam tergantung
dari kemungkinan
Gambar 54. Suasana panggung terbuka di
Alun-alun dengan pementasan tari Bali anak- jalinannya, apakah
anak. (Foto: ING Suardana)
sebagai buah
mangga, buah apel, buah hati, sampai buah bibir. Masing-masing
pertalian itu bisa beda maknanya bila digunakan dalam kalimat,
lantas beda pula maknanya dalam bahasa dan beda lagi
maknanya dalam kehidupan nyata.
Begitu juga jalinan makna sebuah alun-alun Puputan
Badung dengan peristiwa historis yang dikandungnya. Coba
disimak sekilas kisah di bulan September 1906: Belanda yang
telah menguasai Singaraja dan sekitarnya, meneruskan
penyerangannya ke wilayah Bali Selatan. Gempuran dari Belanda
tersebut mendapat perlawanan gigih dari rakyat dan Raja
Badung, Gusti Gde Ngurah Denpasar. Tiada rasa gentar sedikit
pun, Raja Badung beserta segenap keluarganya melawan hingga
titik darah terakhir. Singkat cerita, Raja Badung gugur bersama
seluruh keluarga dan rakyatnya, pada 20 September 1906, yang
dikenal dengan sebutan Puputan Badung.

121
Peristiwa heroik yang terjadi pada tanggal itu dan
keberadaan patung Puputan Badung, dengan dasar berbentuk
daun teratai dan spirit heroik puputan", lebih mengingatkan
jalinan itu ke dalam makna historikal ruang sebuah alun-alun.
Kemudian ada makna lain dalam keterjalinannya dengan
kegiatan upacara yang terjadi di dalam lapangan itu sendiri,
apakah untuk kegiatan upacara agama (keterkaitannya dengan
keberadaan Pura Jagatnatha) atau kegiatan ritual lainnya. Begitu
pula kegiatan upacara yang bersifat kedinasan formal atau
seremonial (berbagai peringatan yang melibatkan masyarakat),
hingga ajang berlangsungnya berbagai atraksi, hiburan,
bersantai, olahraga, senam dan rekreasi.

18 September 2005

122
Denpasar, Ketika Pertumbuhannya
tak Terkendali

Pada tahun 1970-an, Kota Denpasar tidaklah seramai
kini. Jalan-jalan yang ada masih lebih lengang. Selain berjalan
kali, orang-orang lebih banyak berkendara sepeda gayung. Di
setiap ruang sirkulasi public, dokar masih hilir mudik. Sepeda
motor tak seberapa jumlahnya. Terlebih mobil, amat jarang lalu
lalang, kecuali bemo roda tiga. Hampir semua jalan bisa dilalui
dua arah. Banjir dab tanah longsor jarang terjadi. Udara pun
nyaman dihirup, jauh dari polusi, tak banyak kebisingan. Lantas,
bagaimana kondisi dan situasi Kota Denpasar sekarang? Sejauh
mana perkembangan arsitektur kotanya?
----------------------------------------------------------
MENGAMATI perkembangan kota Denpasar khususnya,
tentu disertai pula dengan melihat beragam problema, peluang
dan tantangan serta langkah-langkah yang perlu dilakukan guna
meningkatkan peran Denpasar-sebagai kota berwawasan
budaya-dalam pembangunan wilayah. Untuk itu, perlu
dituangkan kebijaksanaan pembangunan kota Denpasar dan
aspek-aspek penting yang mesti diperhatikan
operasionalisasinya, dalam rangka mencapai tujuan
pembangunan yang dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat secara merata, seimbang, harmonis, serasi secara
berkesinambungan.
123
Sebagai pusat pengembangan wilayah, sejatinya
pembangunan daerah perkotaan tidak terlepas dari
pembangunan daerah pedesaan. Keterkaitan fungsional antara
keduanya kian tak terpisahkan, lantaran sarana dan prasarana
transportasi penghubungnya telah semakin maju dan gampang
dicapai. Karena itu pula, setiap aktivitas pembangunan di
perkotaan akan cenderung menjelmakan dampak besar bagi
pengembangan daerah pedesaan.
Mungkin sudah dimaklumi, daerah perkotaan di
Indonesia umumnya berkembang amat pesat. Begitu pula
halnya Kota Denpasar. Laju pertumbuhan penduduk perkotaan
ditengarai jauh lebih tinggi ketimbang laju pertumbuhan
penduduk pedesaan per tahunnya, dalam kurun waktu yang
sama.
Seperti diketahui, penduduk Kota Denpasar pada 2002
berjumlah 561.814 orang, meningkat menjadi 585.150 orang
pada 2003-kenaikan 4,2 % dari tahun 2002. Berdasarkan data di
buku ―Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota
Denpasar 2006‖, pertumbuhan penduduk yang terjadi 2003 ini
melampaui atau lebih besar dari pertumbuhan antar sensus
1990-2000 yang besarnya 3,2 %.
Beberapa fakta menunjukkan kota merupakan kota
merupakan pusat kegiatan teknologi, ekonomi, ekonomi,
informasi, dan inovasi. Itu sudah menjadi bagian dari sistem
kota-kota besar lantaran adanya jaringan transportasi dan
komunikasi yang sangat maju. Sistem produksi barang dan jasa

124
Gambar 55. Kepadatan di Jalan Gajah Mada, Denpasar. (Foto: ING.
Suardana).

juga telah kian terspesialisasi dan punya keterkaitan satu sama
lain. Lalu, sejauh manakah pengaruhnya terhadap pembentukan
tata ruang arsitektural Kota Denpasar?

Perlu Dicermati
Memang, di satu sisi fenomena ini nampak sebagai suatu
perkembangan yang ―menyejukkan‖ lantaran sebuah kota punya
peluang untuk terus meningkatkan kegiatannya dalam segmen
sosial dan ekonomi. Tetapi di sisi lain, perlu dicermati mengenai
dampak negatifnya, khususnya bila pola itu tak dikaitkan dengan
pelestarian nilai-nilai yang berlandaskan pada ajaran agama serta
keluhuran pakraman-nya.

125
Tak ayal, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat
Witoelar pernah menyatakan, ―masyarakat Bali sudah memiliki
modal dasar kecintaan terhadap alam dalam diri mereka masing-
masing. Mengapa penataan tata ruang di Bali seperti yang terjadi
di wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, terkesan
seperti tanpa dilandasi perencanaan dan pengembangan yang
konseptual?‖ (Tajuk Rencana Bali Post, 5 April 2005).
Memang tak dapat dipungkiri, dinamika perubahan
pembangunan perkotaan nampak begitu cepat. Sehingga,
sarana, prasarana dan pelayanan kota yang ada cenderung tak
dapat memenuhi kebutuhan. Tuntutan akan ruang kota kian
meningkat, baik oleh kebutuhan pemukiman maupun bangunan
penunjang lainnya. Pada akhirnya konsekuensi ke-ruang-an
(spasial) jelas akan menjadi sasaran, baik secara fisik maupun
yuridis administratif.
Sisi lain kesemrawutan dan kemacetan lalu lintas pun
kerap terlihat, sementara permukiman-permukiman kaum
pendatang cenderung bertambah. Begitu pula halnya dengan
dengan perangkat lunak, semisal peraturan perundangan yang
mengatur kegiatan pembangunan kota kadang gelagapan
mengikuti dinamika perkembangan daerah perkotaan. Adakah
hal ini disebabkan oleh sangat terbatasnya kemampuan
pemerintah kota dalam hal manajemen maupun pembiayaan
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang kian meningkat
itu?

126
Kiranya
beberapa hal
sudah mulai
disentuh, antara
lain upaya yang
dilakukan
penentu
kebijakan dalam
mengendalikan

Gambar 56. Suasana di Jalan Diponegoro (Foto: perkembangan
ING Suardana). pembangunan
fisik-arsitektur-
kota. Kecuali mungkin untuk pembangunan ruko yang kian
menjamur dengan ―gaya‖ yang campur-campur. Pun kualitas
lingkungan perumahan mesti lebih ditingkatkan, dan
memperketat perizinan pembangunannya, terutama untuk
rumah-rumah yang dibangun dekat sungai atau di daerah rawan
banjir. Termasuk pula upaya mencegah dan menanggulangi
terjadinya kebakaran.
Di sisi lain, kualitas kebersihan kota perlu ditigkatkan,
mengimbanginya dengan menjaga dan mengembangkan taman
sebagai unsur keindahan kota dan tempat rekreasi masyarakat.
Ikhwal ini tentunya baru merupakan salah satu bagian dari
penjabaran beberapa agenda prioritas pembangunan daerah di
Kota Denpasar.

127
Upaya Penertiban
Prioritas lain mungkin menyangkut penertiban terhadap
papan reklame dan pedagang kaki lima (PKL) yang punya relasi
dan dampak yang vital terhadap tampilan wajah arsitektur kota.
Bisa dilihat, betapa ―bidang-bidang‖ iklan mulai saling
berhimpitan di seputar Kota Denpasar, serta menjejali setiap sisi-
sisi ruang kegiatan usaha, pertokoan atau pusat perbelanjaan.
Demikian pula dengan merebaknya jumlah PKL, di berbagai
tempat.
Nah, akankah semakin menyebar dan melebar
keramaian keramaian iklan-iklan dan PKL itu? Kiranya
masyarakat juga akan merasa ―tidak nyaman‖ jika Kota Denpasar
kemudian disesaki ―hutan iklan‖ dan rubungan PKL, bukan hutan
kota. Padahal untuk terwujudnya keseimbangan ekologis,
estetika arsitektural, kenyamanan dan kenikmatan ruang kota,
hendaknya senantiasa mempertimbangkan keberadaan ruang
terbuka hijau kota atau taman-taman kotanya.
Ini sesungguhnya sebuah tantangan bagi masyarakat
dan para pengambil keputusan-secara personal maupun tim-
yang punya kemampuan atau potensi untuk ―menata‖ anasir
pembentuk ruang dan wajah arsitektur kota. Kiranya kesadaran
akan hal ini dapat membangkitkan tanggung jawab moral
bersama. Mungkin pula harapan bagi banyak orang, guna
senantiasa menggali dan melestarikan nilai-nilai kearifan yang
berlaku bagi publik, untuk siapa pun, atau setiap insan.

128
Pertumbuhan kota yang tak terkendali dan tidak
berencana konon akan dapat merugikan pembangunan dan
keberlanjutan kelangsungan hidup. Misalnya, yang mungkin
terjadi adalah tergerusnya lahan pertanian di daerah pinggiran
kota-kota di Bali. Untuk itulah pembangunan di perkotaan perlu
diselaraskan dengan konsep pembangunan berkelanjutan dengan
memperhatikan formulasi visi spasial (ke-ruang-an) tanpa
mengabaikan nilai-nilai histories pembentuk kotanya, serta sesuai
dengan latar belakang sosial, kultural, fisik kota maupun
ekonomi.
Memang kota cenderung bertumbuh ke arah yang lebih
kompleks. Tatkala pertumbuhan kota tak terkendali lagi,
manakala kompleksitasnya tak dapat lagi dipahami dan dimaknai,
kota akan cenderung mencuatkan beragam masalah kota, seperti
polusi udara, kemacetan kriminalitas, banjir, pencemaran limbah
atau sampah. Kita pun mesti menyadari kembali keadaan ini dan
mengharapkan agar kota tak menjadi ruang yang binger tak
tertata dan tanpa makna. Namun, ia nyaman dan nikmat dihuni
atau ditempati serta melakoni aktivitas keseharian sepenuh hati.

9 April 2006

129
Bagaimana Memaknai Pedestrian
Jalan Kamboja?

Jalan Kamboja-Denpasar yang dikenal juga sebagai
kawasan pendidikan memiliki pedestrian baru. Jika masih bisa
dikaitkan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei lalu
dan Hari Kebangkitan Nasional mendatang, apa yang bisa dilihat
dan dirasakan dari adanya pedestrian ini? Bagaimana langkah ke
depan guna lebih memaknainya?

Di kawasan jalan Kamboja-Denpasar banyak berdiri
gedung-gedung sekolah negeri mau pun swasta, berjejer di
sepanjang-sisi timur-jalan. Kelangsungan aktivitas di kompleks ini
umumnya dihidupkan oleh kegiatan akademik kesiswaan dan
kemahasiswaan. Adanya pedestrian menambah salah satu
elemen arsitektur kota yang boleh dikata sebagai bagian dari
proses functional zoning kota, khususnya menyangkut zoning
pendidikan di kota Denpasar.
Pedestrian di jalan Kamboja secara fungsional
sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai kegiatan penunjang
aktivitas belajar mengajar, intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.
Ruang publik pendidikan di sini perlu diupayakan kelak jadi ruang
komunikasi edukatif, bagi siswa, guru-guru di sekolah masing-
masing maupun siswa dan guru antar sekolah.

130
Terkait dengan alat transportasi siswa, mahasiswa, guru,
dosen serta pegawai sekolah setempat tentu memerlukan tempat
memadai buat parkir, serta mudah dicapai dari lokasi sekolah.
Pedestrian yang-semestinya-untuk pejalan kaki, sampai sekarang
–pada jam belajar siswa-selalu dipadati mobil, berderet di kiri
kanan jalan. Di manakah kelak akan dibangun tempat parkir?

Kantong Parkir
Kiranya-sebagai alternatif, bisa diatasi dengan membuat
―kantong-kantong‖ parkir di sekitar sekolah masing-masing
seperti di jalan Gadung, Angsoka, Jepun, jl. Mawar hingga sisi
timur stadion Ngurah Rai. Atau dengan membuat tempat parkir
induk di sekitar Gelanggang Olah Raga (GOR). Parkir ini bisa
dibuat dalam bentuk bertingkat atau di bawah tanah (basement).
Ruang publik pendidikan, jika difungsikan secara baik
dan benar akan bisa berdaya guna sebagai tempat diskusi di
ruang terbuka, antar siswa di satu sekolah atau antar siswa di
luar sekolahnya. Arus sirkulasi bisa diatur sesuai dengan kondisi
jalan yang ada di sekitar jalan Kamboja. Sesekali keberadaan
arsitektur ruang luar dalam bentuk pedestrian dan tatanan
lansekapnya bisa digunakan pula sebagai tempat refreshing
setelah berjam-jam mengikuti pelajaran di dalam ruangan.
Kemungkinan fasilitas lain bisa ditambahkan di
lingkungan ruang terbuka ini semisal toko buku/ alat-alat tulis
untuk keperluan siswa maupun mahasiswa. Pohon-pohon
peneduh bisa sebagai perindang dari terik matahari. Berbagai

131
aktivitas lain bisa digelar, dari kegiatan bazar sekolah hingga
pertunjukan kesenian. Pentas teater sekolah pun dapat dilakukan
di pedestrian ini. Ruang-ruang jadi multifungsi dan fleksibel
dalam penataannya. Termasuk untuk kegiatan beragam
pameran.
Seorang pakar arsitektur kota, Hamid Shirvani, pernah
memaparkan teori ''delapan elemen perancangan kota'' yang
meliputi: tata guna lahan, massa dan bentuk bangunan, sirkulasi
dan parkir, ruang terbuka publik, pedestrian ways, kegiatan
pendukung, penanda
dan preservation.
Maka pedestrian ways
di jalan Kamboja ini
jelas merupakan
bagian dari elemen
kota Denpasar,
sekaligus sebagai
ruang publik Gambar 57. Lebih jauh, pedestrian yang
sekaligus selaku ruang publik pendidikan bisa
pendidikan yang dijadikan sebagai ruang di mana berlangsung
―proses pembelajaran dan pencerahan‖.
memiliki kegiatan Lokasi: jalan Kamboja, Denpasar (dari arah
selatan). (Foto: ING Suardana).
pendukung dalam
proses belajar mengajar serta bisa pula selaku ‖penanda‖
kawasan pendidikan.
Rancangan ruang luar berkonsep dasar komunikatif,
edukatif dan rekreatif dapat dipakai sebagai landasan atau
pedoman dalam membuat konsep rancangannya. Desain yang

132
berdasarkan pada konsep komunikatif ditunjukkan oleh adanya
penataan yang terbuka atau transparan, tak ada sekat-sekat.
Bangku-bangku bentuk alami bisa pula ditempatkan pada posisi
yang memiliki pohon peneduh.
Lebih jauh, pedestrian yang sekaligus selaku ruang
publik pendidikan bisa dijadikan sebagai ruang di mana
berlangsung ―proses pembelajaran dan pencerahan‖. Dan,
aktivitas ekstrakurikuler atau yang masih terkait dengan
pendidikan adalah sebagian dari ―peristiwa‖ yang memaknai
ruang itu. Di sisi lain dapat dirujuk sebuah pandangan yang
menyatakan, bahwa ruang publik pendidikan juga turut
memaknai upaya peningkatan sumber daya manusia. Dengan
menggunakan area pedestrian sebagai bagian dari aktivitas
pendidikan, para siswa maupun mahasiswa telah menjabarkan
―teks‖ baru dalam memaknai pedestrian di jalan Kamboja ini.

Belum Sepenuhnya
Sebelum adanya pedestrian, ―ruang jalan‖ Kamboja bisa
dipandang sebatas wujud ―murni‖ untuk sirkulasi kendaraan
mobil, motor dan pejalan kaki yang memperoleh makna dari
―teks‖ di luarnya (sebatas ―membentang‖ di antara bangunan-
bangunan sekolah dan beberapa kantor). Di masa datang tentu
diharapkan ruang itu memiliki makna yang lebih independen,
lantaran menjadi ruang bersama.
Dalam konteks ruang publik pendidikan, para murid
bahkan mungkin pula guru-guru atau dosen bisa dikatakan

133
sebagai ―pengguna
utama‖ ruang publik
ini, lantaran
merekalah paling
dekat dan menjadi
realitas aktivitas
keseharian mereka.
Ruang publik

Gambar 58.Makna ruang publik pendidikan ini pendidikan bisa
kemudian akan menjadi lebih dinamis atau
memiliki sifat movable (Foto: ING Suardana).
menjadi representasi
dari aktivitas ilmiah,
semi ilmiah, hiburan atau yang bersifat rekreatif.
Hal ini tentu turut memberikan dampak positif terhadap
keseimbangan perkembangan intelektual, mental, emosional dan
sosial anak didik. Artinya, berpotensi membangun perkembangan
otak kiri dan otak kanannya. Jadi, dari sisi ―mem-budi
pekertikan‖ perilaku pengguna ‗ruang arsitektural‘ perlu
senantiasa menjadi perhatian, karena secara timbal balik ada
pengaruhnya.
Makna ruang publik pendidikan ini kemudian akan
menjadi lebih dinamis atau memiliki sifat movable. Misalnya bisa
digunakan untuk kegiatan baris-berbaris memperingati perayaan
nasional, pameran buku dan IT (sebagaimana yang berlangsung
saat ini), pentas teater, tari-tarian, ajang bazar, latihan
drumband hingga kegiatan lain yang bersifat sosial.

134
Kegiatan yang berjalan itu berkiprah dalam
menumbuhkan jalinan komunikasi yang lebih intens, tak lagi
sebatas realitas yang berdiri sendiri-sendiri. Dengan demikian
amat berpeluang terjalinnya beragam aktivitas dan identitas satu
sama lain. Ke depan boleh jadi akan menuai manfaat, bahwa
keberadaan ruang jalan sebelumnya yang - kemudian - dijadikan
ruang publik pendidikan akan bisa bersintesa sebagai wilayah
bercitra edukatif, komunikatif dan rekreatif.
Untuk saat ini, apa yang bisa kita lihat dan rasakan
ketika melewati kawasan ini? Secara struktural, fungsi maupun
estetika pedestrian agaknya belum sepenuhnya merupakan
terjemahan atau aplikasi dari konsep yang digulirkan
sebelumnya.

3 Juni 2007

135
Kuta Square
dalam Bingkai Arsitektur

Kuta Square, salah satu lokasi yang dikoyak bom pada 1
Okober 2005, selain Menega Cafe dan Nyoman Cafe di pantai
Jimbaran, dikatakan sebagai tragedi bom Bali kedua. Tragedi itu
menyisakan duka yang dalam. Korban berjatuhan, selain akibat
hantaman bom, juga lantaran tertimpa reruntuhan dan serpihan
bangunan yang mengalami kerusakan. Lantas, bila diteropong
dari sisi bangunannya, apa dan bagaimana ungkapan wujud
arsitektur Kuta Square? Elemen apakah yang mesti ditambahkan
pada bangunan publiknya untuk bisa mendeteksi adanya bom?
------------------------------------------------------------
KUTA, Bali, merupakan satu ikon pariwisata yang amat
dikenal di dunia. Orang yang berwisata ke Kuta pasti akan
mengenal kawasan Kuta Square yang letaknya sekitar 10 km dari
kota Denpasar, atau 3 km dari Bandara Ngurah Rai, Tuban, itu.
Tempat itu merupakan kawasan pertokoan atau pusat
perbelanjaan, tumbuh di kawasan pemukiman Desa Adat Kuta.
Jalan di depan pertokoan merupakan jalur dua arah. Arsitektur
pertokoannya sebagai gabungan dari beberapa buah bangunan
di sisi kiri-kanannya, terbagi dalam beberapa ruang (di lantai
atas) pada masing-masing toko.
Perkembangan pariwisata memberi tempat pada
perubahan pola hidup masyarakat. Perubahan itu secara
136
langsung berkorelasi dengan perkembangan bentuk dan fasad
(wajah) arsitekturnya. Sebagai zona perbelanjaan masa kini, pola
aktivitas, kebutuhan, fasilitas yang ada di Kuta Square tidak
banyak berkaitan dengan fungsi adat istiadat atau pakraman di
Bali. Mungkin karena itu pula, wajah arsitekturnya banyak
dikemas dengan polesan desain non-Bali.

Tidak Sepenuhnya
Besarnya kekuatan modernisasi terlihat merambah
kawasan ini,
khususnya yang
berhubungan
dengan pewajahan
arsitektur di Kuta
Square. Hal ini Gambar 19. Salah satu suasana di Kuta Square
menjadikan
kawasan ini

cenderung
Gambar 59. Salah satu suasana di Kuta Square.
"berwajah asing" (Foto: I N G Suardana).
di tempatnya
sendiri. Bentuk dan ornamen non-Bali merasuki. Kuta sebagai
sebuah daerah tujuan wisata menerima pengaruh yang cukup
kuat dari perkembangan arsitektur modern.
Dalam kenyataan, arsitektur Kuta Square sebenarnya
telah berupaya menampilkan wajah lokal dalam usaha
menunjukkan ke-Bali-an dengan berbagai cara melalui ragam
137
hias, bentuk, penampilan warna dan bahan serta langgam.
Namun, dalam tampilan masing-masing tidaklah sepenuhnya
memberi nuansa arsitektur lokal Bali.
Arsitektur Kuta Square sepertinya menyimpan power
yang menurut fungsinya digeluti geliat pergerakan ekonomi.
Sendi-sendi ekonomi era global yang terbangun itu turut
memberi wajah "internasional" pada gubahan arsitekturnya.
Untuk itu, guna lebih menyadarkan pengunjung di mana dia
berada, pertokoan Kuta Square mungkin bisa lebih di-Bali-kan
desainnya, agar tidak memiliki kesamaan "rupa" dan suasana
dengan pusat-pusat perbelanjaan di negara lain atau kota-kota
besar di luar Bali.
Tata ruang bangunan Kuta Square merupakan satu
kesatuan memanjang. Sirkulasi vertikal terletak di dalam
bangunan, sementara sirkulasi horizontal, bagian luar berupa
selasar, bagian dalamnya disesuaikan dengan penataan barang-
barangnya. Bentuk massa bangunan sebagian besar memanjang
(linier). Khusus gedung Matahari mendekati bentuk kubus.
Komposisi bukaan, semua unit pertokoan menghadap jalan dan
menempatkan bagian depan sebagai bukaan terluas. Berbeda
bagi Matahari, arah hadap utamanya berorientasi ke tempat
parkir, bukan ke jalan. Pintu-pintu utama/depan bagian dalam
bangunan pertokoan punya standarisasi bukaan pintu kaca dan
di depan. Sementara bagian terluar umumnya memakai pintu
falding door atau rolling door.

138
Hiasan dan Bahan
Pada ragam hias (ornamen dan dekorasi), Kuta Square
memiliki beberapa kelompok berornamen Bali (Bali kini) maupun
non-Bali. Kandungan ornamen Bali dapat ditemui pada konsol-
konsol yang mentransformasikan bentuk sunduk pada toko
Animale berbahan beton diprofil. Sementara ornamen non-Bali
terlihat pada entrance hall Matahari Shopping Centre, Atelier
Versage, Tourist Information H.I.S., toko Sol, Emporio Armani
Jean, Roxy, Noa-noa, dan Sonia.
Beberapa kelompok bangunan menggunakan dekorasi
Bali (bentuk lelengisan). Contohnya, toko Mayang Bali dan Polo
yang menerapkan dekorasi ukiran Bali, dibuat sangat detail
dengan bahan paras Silakarang. Tampilannya sebagai salah satu
dari beberapa unit pertokoan Kuta Square yang mencoba mem-
Bali-kan sebuah tampilan arsitektur modern. Bangunan yang
berdekorasi non-Bali dapat ditemui pada toko Volkom, KFC
Restaurant, dan Central Station.
Bagaimana mengenai bahan? Finishing dinding yang
menggunakan bahan lokal bata gosok (pripihan), yakni toko
Polo. Toko Rascels menggunakan paras Krobokan dan paras
Taro, serta toko Animale mengkombinasikan paras Krobokan dan
Silakarang. Toko Lotte menggunakan paras cetak batik
dikombinasi bata pripihan.
Bahan finishing dinding non-lokal seperti batu palimanan
terdapat pada toko Sonia, bahan glass block di toko Noa-noa.
Namun, seluruh struktur bangunan menggunakan bahan beton

139
bertulang, termasuk bangunan Raja's Bar & Restaurant, yang
terletak di timur jalan, tempat terjadinya ledakan bom. Banyak
bangunan berkaca pada bidang-bidang yang memerlukan
pencahayaan alami dan tembus pandang dari luar.
Lantas, dengan warna? Secara keseluruhan, banyak
warna yang ditampilkan secara mencolok, misalnya toko Central
Station, seluruh dindingnya dicat merah oranye. Toko Price Shop,
seluruh dindingnya ditutup billboard merah darah. Toko Volkom,
seluruh dindingnya dicat hitam, dan toko Roxy berwarna hijau.
Ada pula
dindingnya dicat
ungu muda
seperti toko
Everbest.
Namun,
beberapa
kelompok
bangunan lainnya
Gambar 60. Salah satu bangunan di ujung selatan
Kuta Square (Foto: I N G Suardana). menggunakan
warna-warni Bali -- natural, warna merah bata dan warna abu-
abu paras.

Elemen Pendeteksi
Selain arsitekturnya yang -- sepatutnya -- dibuat bercitra
Bali, toko-toko yang ada di situ agar tak berkesan asing di negeri
sendiri, juga perlu dipasang elemen pendeteksi. Ini untuk

140
memantau setiap gerak-gerik pengunjung maupun barang-
barang yang dibawanya. Misalnya dengan menempatkan kamera
pemantau CCTV (Close Circuit Television) pada gedung-gedung
publik di kawasan ini maupun untuk kawasan lainnya.
Seorang pengamat teknologi informasi, Roy Suryo
mengatakan, ruang umum publik seperti mal, restoran, rumah
sakit, stasiun, dan bandara wajib dipasangi kamera pengintai.
Rekaman gambarnya tak hanya menjadi bukti tindak kriminal,
juga bisa mencegah kejahatan. Dengan adanya CCTV, tingkah
laku orang yang mencurigakan bisa dideteksi lebih dini. Selain
CCTV, konon ada pula alat pengintai dan pemantau lain. Salah
satunya, "detektor radar". Konon Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi (BPPT) sudah mengembangkan alat itu.
Pada dasarnya, setiap objek atau benda memiliki
frekwensi khas. Maka, bom pun sudah pasti dapat diidentifikasi,
kendati ada di balik kerangka mobil atau disimpan dalam ransel.
Negara Belanda ditengarai sudah mengembangkan sistem radar
untuk mendeteksi ranjau. Sistem pendeteksi juga bisa dipasang
pada robot. Alat bersinyal dan berpemancar sinyal ini juga bisa
digerakkan (dengan remote control) untuk menyisir kawasan
yang dicurigai.
Alat-alat pendeteksi itu pun sepatutnya diletakkan pada
sudut-sudut atau bagian tersembunyi, namun punya radius
jangkauan luas untuk memantau wilayah yang harus
diamankan, Misalnya ditempatkan pada bagian ornamen
strukural arsitekturnya, atau pada sudut-sudut elemen arsitektur

141
lainnya. Tentu, selain alat-alat yang perlu disediakan itu,
hendaknya tak lupa pula menempatkan alat-alat pemadam
kebakaran di ruangan masing-masing.

16 Oktober 2005

142
Pasar Tradisional yang kian
Terpinggir

SEKARANG, "pasar swalayan modern" banyak dibangun
dalam bentuk mal, minimarket, supermarket atau hypermarket.
Kehadirannya seperti mulai kian berlebihan dan memberi dampak
pada wajah arsitektur kotanya. Terkendalikah pertumbuhannya?
Sudahkah bercitra Bali? Lantas, bagaimana peran, makna dan
fungsi keberadaan pasar tradisional ke depan?
-----------------------------------------------------------
Memang banyak faktor yang mempengaruhi makna
sebuah tempat (place) dan ruang (space) sebuah pasar secara
arsitektural. Eksistensi suatu ruang publik kiranya bisa dikaji dari
segi konteks, citra dan estetikanya. Dengan kata lain,
keberadaan sebuah pasar tradisional, serta kaitan antara tempat
lainnya masing-masing, tak boleh tercerabut dari pemahaman
manusia yang hidup dan bergerak di dalamnya. Lantaran dimensi
ruang publik bersifat sosio-spasial, maka makna keberadaan
sebuah pasar tradisional di dalam kota tak semata memberi nilai
bagi diri sendiri, melainkan juga untuk orang-orang yang hidup
dan beraktivitas di "ruang" kota setempat.
Di sisi lain, mal, minimarket, supermarket atau
semacamnya, boleh dikata sebagai wujud implementasi fisik

143
perdagangan dari sistem budaya asing (kapitalis?), sehingga nilai
keuntungan ekonomi jauh lebih banyak direguk pihak "luar".
Sekarang, "pasar swalayan modern", tumbuh secara
sporadis di kota-kota besar Indonesia, maupun di kota-kota
kabupaten di Bali. Bahkan ditengarai -- oleh banyak pengamat --
akan menyisihkan unit-unit usaha mikro dan menengah yang
umumnya dilakukan kalangan rakyat kecil atau pemodal pas-
pasan.
Sementara pasar tradisional memiliki nilai peradaban asal
muasal tempat tukar
menukar barang atau
jual beli bahan makanan,
pakaian, alat-alat rumah
tangga. Sekaligus
sebagai ajang berkumpul
(arti harafiahnya) yang di
dalamnya terjadi

Gambar 61.Salah satu Supermarket di akomodasi interaksi
Denpasar. (Foto: ING. Suardana)
sosial dan ekonomi.
Pasar itu sendiri dalam bahasa Bali atau Jawa, disebut dengan
peken, konon punya arti "kumpul" (mapeken = berkumpul?).
Pada ruang pasar atau peken tak ada manifestasi
kekuasaan atau semata unggulkan keuntungan besar. Namun,
arsitektur pasar lebih dipahami sebagai sebuah "wilayah", ranah
berkumpul, berperan selaku "media temu muka" saling
berinteraksi, tukar menukar barang, jual-beli atau tawar

144
menawar. Justru pemaknaan dan nilai-nilai inilah dianggap
sebagai sentralnya. Ihwal tersebut dapat diamati pada awal
adanya pasar tradisional di desa yang umumnya berlokasi di area
terbuka, di bawah pohon beringin besar atau pepohonan rindang
yang di dalamnya terjadi komunikasi antar-personal, interaksi
humanistik sosial ekonomi.

Gambar 62 &63. Pasar Tradisional di Padangsambian (kiri) dan Pasar Satria,
Denpasar (kanan). (Foto: ING Suardana).

Lantas, guna lebih menghidupkan dan mengembangkan
pasar tradisional, langkah-langkah apa yang mesti dilakukan?
Bagaimana wujud arsitektural sebuah pasar yang memenuhi
kebutuhan dan tuntutan ruang publik secara berkualitas? Sejauh
mana konsep yang baik dari sebuah pasar tradisional bisa
diterapkan?
Agaknya diperlukan sebuah konsep yang jelas dan utuh
dari sebuah pasar tradisional. Ditransformasikan berdasarkan
perkembangan teknologi masa kini. Misalnya, bagaimana
mewujudkan tampilan arsitekturalnya yang memenuhi fungsi,
kenyamanan dan kenikmatan. Juga sistem penghawaan,
145
drainase atau sanitasi yang hygienis, keamanan serta penyediaan
tempat parkir yang memadai. Selain hal-hal teknis juga ada
upaya melestarikan "budaya kumpul", interaksi sosial maupun
ekonomi. Bukankah itu sesungguhnya makna dari keberadaan
sebuah peken?

Lebih Humanis
Ada beberapa pendekatan yang mungkin perlu dilakukan
untuk memberi nilai-nilai yang lebih humanis dan bermakna.
Misalnya dari sisi pendekatan fungsi, teknis maupun estetikanya.
Jika pasar memiliki fungsi campuran dari beberapa jenis
pedagang yang berjualan hendaknya dilakukan pengelompokan
jenis komoditi, agar bisa ditata menurut nilai-nilai tata ruang
yang berkearifan lokal. Dengan lain kata, ada tatanan
penempatan. Bisa diawali dari hal makro hingga ke mikro. Dari
landasan falsafah dan konsep Tri Hita Karana, tatanan tri
mandala hingga hirarkhi hulu-teben.
Dari sisi pendekatan teknis secara umum, faktor
kekokohan sebuah arsitektur pasar dapat memberi jaminan
keamanan secara teknis dan diwujudkan dengan pengawasan
yang ketat. Aspek-aspek teknis konstruksinya diupayakan bisa
diterjemahkan ke prinsip-prinsip bentuk konstruksi arsitektur
Nusantara (Bali). Dengan demikian akan dapat menunjang
karakter kekokohan sebuah pasar tradisional, bercitra kearifan
lokal.

146
Bagaimana dengan pendekatan estetikanya? Ekspresi
arsitektural (termasuk pasar) memiliki unsur-unsur "isi" (content)
yang membentuk karakter arsitektur dan unsur "bentuk" (form)
yang menampilkan estetika.
Dalam unsur "isi" meliputi beberapa hal penting: (a) aktivitas,
civitas (orang-orang), falsafah hidup dan perilaku manusia yang
ada di dalamnya; (b) simbol fungsi dan makna, yang memberi
gambaran atau kesan kepada pengamat tentang fungsi dan
makna suatu bangunan; (c) ekspresi teknis, pemberi "karakter"
teknis konstruktif, baik secara struktural maupun ornamental.
Di sisi lain unsur "bentuk" yang merajut estetika
bangunan secara universal diwujudkan melalui suatu komposisi
elemen-elemen pembentuknya. Komposisi itu mengandung
prinsip penyusunan unsur-unsur yang terdiri dari titik, garis,
bidang, warna, tekstur, efek sinar/pencahayaan, skala, ruang,
massa, ornamen.

Konsep Rancangan
Dari paparan di atas, rancangan sebuah pasar tradisional
patut menganut kaidah-kaidah rancangan, dijiwai konsep
dasarnya sebagai landasan berpijak di dalam merancang sebuah
pasar.
Beberapa hal agaknya bisa digunakan sebagai acuan rancangan
sebuah pasar tradisional, antara lain: (1) sediakan ruang-ruang
kegiatan jual beli berdasarkan kelompok pedagang masing-
masing, semisal ada area penjualan yang sama jenis barang

147
dagangannya; (2) wujudkan ruang sirkulasi yang efektif di dalam
maupun di lingkungan pasar; (3) terlindung dari pengaruh cuaca,
hujan, panas mentari, bau; (4) sediakan ruang emergency bagi
publik bila mengalami situasi darurat, seperti terjadi kebakaran,
gempa bumi; (5) manfaatkan pemasukan cahaya alami; (6)
posisikan sirkulasi udara secara optimal; (7) bentuk massa
sederhana, struktur rangka ruang, bersifat fleksibel; (8) sediakan
ruang parkir yang cukup dan berpeluang untuk bisa
dikembangkan; (9) selesaikan secara teknis dan arsitektural
sanitasi lingkungannya; (10) wujudkan rancangan yang dapat
memberi rasa aman dan nyaman.
Dengan demikian, kultur lokal sebuah pasar tradisional
tetap bisa diangkat dan ditumbuhkembangkan sesuai dengan
perkembangan zaman. Tradisi kultural sebuah pasar berakar dari
pola kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya. Bahkan untuk di
Bali terkait dengan religiositas-spiritual manusianya selaku
pengguna pasar tradisional. Misalnya di area hulu di dirikan
tempat suci -- Pura Melanting, tempat para pedagang
bersembahyang (muspa) atau berdoa.
Kiranya semua itu ada tertuang di dalam Perda
(Peraturan Daerah). Tinggal bagaimana pengawasan atau kontrol
dilakukan di lapangan, agar tak terjadi penyimpangan, mulai dari
proses perizinan hingga pembangunan fisiknya. Terutama
terhadap seberapa jauh diperkenankan tumbuh dan
berkembangnya mal, minimarket, supermarket atau hypermarket
di daerah, disesuaikan dengan daya dukung lahan Bali. Tentu di

148
dalamnya ada pula diatur tentang peruntukan penggunaan lahan
atau ketentuan lain yang mesti dipatuhi.
Mengungkap konsep yang diuraikan di atas, agaknya hal
itu bisa diterapkan ke dalam rancangan sebuah pasar tradisional,
dengan segala pernik-pernik transformasinya. Kendati ada pihak-
pihak yang menghawatirkan pasar tradisional akan jadi redup ke
sisi marginal, atau tersingkirkan oleh merebaknya mal,
supermarket, hypermarket.
Kekhawatiran itu tentu akan sirna, bila (1) peran, makna
dan fungsi pasar tradisional dikembalikan pada hakikat dan
karakter pasar tradisional yang sebenarnya, dengan transformasi
yang disesuaikan dengan kondisi saat ini, (2) tegas dan konsisten
melaksanakan aturan atau ketentuan dalam Perda, utamanya
menyangkut tentang batasan jumlah "pasar swalayan modern"
yang diperkenankan berdiri di suatu kawasan, dan (3) konsep-
konsep arsitektural pasar tradisional yang telah dijabarkan bisa
diimplementasikan secara bijak.

22 Oktober 2006

149
150
Arsitektur
dan
Kearifan Lokal

151
Jangan Seragamkan Arsitektur
Lokal Bali

Mungkin suatu saat ke depan dibutuhkan sebuah
―ensiklopedi‖ yang merupakan himpunan kesatuan pemahaman
atau tafsir mengenai arsitektur Bali. Di dalamnya mungkin bisa
dimuat landasan fasafah, pemaknaan, dan perihal yang esensial
dalam keberagaman serta keunikan arsitektur Bali. Jelas hal ini
samasekali terlepas jauh dari substansi penyeragaman arsitektur
dalam cakupan fisik. Namun, justru lebih terkait dalam konteks
wilayah penyamaan pemahaman isi dan makna, atas realitas
152
ketidaksam
aan wujud
penampaka
n arsitektur
Bali di
masing-
masing
tempat.
Kesatuan
tafsir itu
tentu perlu
dipedomani
oleh hasil
penggalian
atau
penelitian
terhadap

saripati
Gambar 64.POLA KHAS: Inilah beberapa pola desa
berarsitektur khas (dari kolom atas ke bawah): Legian, arsitektur
Tihingan, Nyalian, Wongaya Gede, Timrah, Bugbug, julah,
Pengotan, Kekeran, Tenganan, Sidatapa, Bayung Gede, Bali klasik,
Jatiluwih, Sembiran dan Sukawana.
tradisional
atau vernakularnya. Selain berharap agar tidak ada persepsi
maupun penafsiran yang samar terhadap esensi arsitektur Bali.
Esensi yang diharapkan bisa ―ajeg‖ dengan masing-
masing kekhasan lokalnya karena arsitektur berdiri dan
beradaptasi dengan kondisi alam lingkungan dan nilai-nilai

153
cultural setempat. Untuk itu, pusaka kharismatik arsitektur Bali
yang religius dan estetik, kiranya perlu diberi ruang sebagai
dinamika denyut teks yang hidup. Lantas, bagaimana
menyikapinya agar perkembangan maupun transformasinya
senantiasa berasaskan pada akar local geniusnya?

Butir Tafsir
Manusia tentu tak pernah lepas dari prosesi beraktivitas
di era peradabannya. Ketidakpahaman akan nilai-nilai moral dan
makna dalam kandungan arsitektur agak berpeluang timbulkan
pergeseran tafsir. Arsitektur sebagai bagian dari
kebudayaan hendaknya bisa dipandang sebagai sesuatu
yang lebih dinamis, bukan kaku atau statis.
Agaknya perlu bercermin, dari kiprah para undagi tempo
dulu, dalam berkarya tak lepas dari penjiwaan akumulasi norma-
norma dan nilai-nilai kesepakatan moral yang berlaku di
masyarakat. Maka di dalamnya bersimpul pesan moral, etika,
tatakrama, religiositas dan ―penyucian‖ perilaku manusia
pengguna arsitekturnya. Pendek kata, unsure ―rasa‖ pun amat
berperan dominant menjiwai arsitektur Bali tradisionalnya.
Misalnya, bagaimana membangun pemahaman atau
penafsiran yang lebih mengena, benar dan baik tentang tata cara
membangun paumahan menurut smerti agama Hindu bagi para
pemeluknya di Bali. Seperti yang bisa ditemukan dalam lontar
―Keputusan Sang Hyang Anala‖ yang memuat secara rinci
mengenai cara memilih tanah, jenis tanah, tata ruang halaman,

154
prosedur
membangun
hingga upacara
yang berhubungan
dengan nyakap
palemahan dan
melaspas
bangunan.

Sejauh ini,
Gambar 65. (Foto: ING Suardana, lokasi: Puri
Blahbatuh, Gianyar). kiranya sudah ada
bergulir butir-butir tafsir berupa wacana tentang arsitektur Bali
menurut tatwa agama Hindu. Dalam pengertiannya ialah jika
segala hasil perwujudan manusia dalam bentuk bangunan,
mengandung keutuhan/kesatuan dengan agama (ritual) dan
kehidupan budaya masyarakat. Di mana yang tercakup dalam
bangunan itu meliputi kemampuan merancang dan membangun,
serta di dalam mewujudkan seni bangunannya mengikuti
berbagai prinsip, seperti bentuk, konstruksi, bahan, fungsi dan
keindahan. Hanya saja mungkin agak jarang atau tidak pernah
disosialisasikan maupun dilokakaryakan.
Para tetua atau undagi dulu menyebutkan, pada
dasarnya yang dimaksud bangunan Bali yakni setiap bangunan
yang berdasarkan tatwa (filsafat) agama Hindu. Dengan
pengelompokan bangunan Bali, meliputi bangunan suci
/keagamaan dan bangunan adat. Bangunan Bali itu memiliki
beberapa ketentuan, seperti tempat atau denahnya berlandaskan

155
pada lontar Asta Bumi,
pun bangunan atau
konstruksinya
berdasarkan lontar
Asta Dewa dan Asta
Kosala/Kosali, selain
bahan-bahan atau
ramuannya (seperti
kayu, ijuk, alang-alang, Gambar 66.pada dasarnya yang dimaksud
bangunan Bali yakni setiap bangunan yang
batu alam, bata, dll.) berdasarkan tatwa (filsafat) agama Hindu.
bedasarkan pula pada Dengan pengelompokan bangunan Bali,
meliputi bangunan suci /keagamaan dan
lontar-lontar tersebut. bangunan adat. (Foto: ING. Suardaa).

Lontar yang khusus mengulas tentang klasifikasi kayu yang
hendak digunakan untuk umah maupun bangunan-bangunan
suci seperti lontar Janantaka.
Kandungan cirri-ciri bangunan Bali disebutkan meliputi
pengider-ideran (catur loka atau asta dala), tri mandala / tri loka,
adanya upacara sangaskara (penyucian) serta mengandung
simbol-simbol sesuai dengan ajaran agama Hindu (seperti
padma, naga, Sanghyang Acintya, dll). Sementara bentuk dan
nama bangunan Bali senantiasa berdasarkan ketentuan-
ketentuan lontar Asta Dewa, Asta Kosala/Kosali, dan lontar
Wiswakarma yang mengulas tentang keprofesian undagi
Tata laksana dan penyucian bangunan Bali meliputi
ngeruak karang, nyukat karang, nasarin, memakuh dan ngurip-
urip. Selaras dengan ketentuan yang ada dalam lontar Asta

156
Dewa, Asta Kosala-Kosali, dan lontar Wiswakarma, yang
mengulas tentang keprofesian undagi.
Tata laksana dan penyucian bangunan Bali meliputi
ngeruak karang, nyukat karang, nasarin, memakuh dan ngurip-
urip. Selaras dengan ketentuan yang ada dalam lontar Asta
Dewa, Asta Kosala/Kosali dan lontar-lontar lainnya, ketertiban
fungsi dan penggunaannya dinyatakan, bahwa semua wujud
bangunan Bali hendaknya mengikuti ketentuan-ketentuan yang
disebutkan tadi, selain fungsi dan penggunaannya ditetapkan
pada proporsi yang baik dan benar.

Banyak Lontar
Arsitektur Bali sejatinya telah telah dibekali banyak lontar
yang berkaitan dengan arsitektur. Ada lontar Asta Patali yang
terkait dengan ukuran dan jarak tiang bangunan. Swakarma
perihal tata cara menebang kayu, Padmabhumi yang
menyangkut sejarah lokasi pura-pura di Bali berlandaskan
pengider-ideran pada bhuana agung. Janantaka tentang
klasifikasi kayu yang hendak digunakan untuk bangunan-
bangunan suci maupun umah.
Kemudian ada lontar tentang Sikuting Umah,
berhubungan dengan pengukuran bangunan perumahan.
Lainnya, ada Bhuana Kretih, terkait upacara-upacara dalam
proses mendirikan bangunan sejak awal hingga selesai. Ada pula
Dewa Tatwa yang mengulas jenis-jenis sesajen atau pedagingan
untuk masing-masing palinggih dan jenis-jenis upacara

157
pamelaspas. Intinya, semua itu boleh dikata sebagai ―tutur-
tutur‖ yang mengingatkan kembali, agar orang-orang senantiasa
mensyukuri, menghormati dan memberi keseimbangan pada
alam, tidak mengeksploitasi. Selain tetap eling dan bakti pada
Hyang Pencipta serta kasih sayang pada sesama makhluk
ciptaan-Nya.
Nah, adanya pemahaman dalam pemaknaan arsitektur
yang benar dan baik tentu nantinya akan dapat memberikan
pengaruh terhadap kesantunan berkarya arsitektur di Bali.
Kesantunan sebagai bingkai kejujuran, transparansi pengutaraan
dan penciptaan ruang-ruang yang beretika dalam format nalar
dan cita rasa yang kreatif hendaknya semakin mengakar dan
membumi. Boleh jadi, pemahaman itu akan bermuara pada
tafsir yang lebih bijak dan arif terhadap keberagaman arsitektur
Bali itu sendiri. Maka sepatutnya, jangan seragamkan kekhasan
arsitektur lokal yang satu dengan lainnya di tempat berbeda.
Keberagaman menunjukkan kekayaan local geniusnya.
Arsitektur hunian vernacular Bali maupun tempat peribadatan
(parhyangan) yang ditata dalam sebuah desa, masing-masing
wilayah memiliki pola-pola khas yang unik. Misalnya ada pola
desa-berarsitektur khas-Sembiran, Sukawana, Sidatapa, Julah,
Tenganan, Pengotan, Kekeran, Jatiluwih, Tengkudak, Wongaya
Gede, Bugbug, Tihingan, Nyalian, Legian, Bayung Gede, dan
masih banyak lagi. Begitu pula tatanan ruang dan masa
bangunannya, punya keunikan masing-masing. Bukankah
keberagaman itu indah? 27 Agustus 2006

158
Ajegkan Arsitektur Bali, Gali
Kearifan Lokal

Keunikan atau kekhasan arsitektur Bali pada hakikatnya
dilandasi oleh falsafah, etika, dan ritual Agama Hindu. Kini, di
antara semakin majemuknya pola aktivitas keseharian kehidupan
manusia Bali dan derasnya arus globalisasi, arsitektur lokalnya
turut mengalami perkembangan. Terkait dengan itu, tetap
ajegkah esensi yang menjiwai perwujudan arsitektur Bali?
Bagaimana upaya pelestarian dan pengembangannya? Perlukah
adanya kesatuan tafsir arsitektur Bali?
-------------------------------------------------------------
MENGGALI dan menjaga keajegan tradisi bukanlah
dalam arti sebatas membuat bentuk-bentuk arsitektur tradisional
yang stagnan, namun lebih pada intisari kandungan serapan
lokal nilai moral serta sikap religius manusia yang ada di
dalamnya.
Sebagaimana yang dikemukakan Prof. Dr. CA Van
Peursen dalam "Strategi Kebudayaan" (1970), tradisi dapat
diterjemahkan dengan pewarisan atau penerusan norma-norma,
adat istiadat, kaidah-kaidah, harta-harta. Tetapi tradisi tersebut
bukanlah sesuatu yang tak dapat diubah, tradisi justru
diperpadukan dengan aneka ragam perbuatan manusia dan
diangkat dalam keseluruhan.

159
Jadi, seiring perputaran zaman, tradisi juga mengalami
perkembangan.
Perkembangan itu dapat ditelusuri ciri-cirinya,
sebagaimana diungkap Mc Kean dalam "Pariwisata dan Dinamika
Kebudayaan Lokal, Nasional, Global" (1973), kehidupan
masyarakat Bali masa kini, secara keseluruhan menggambarkan
ciri-ciri yang dapat disifatkan sebagai tradisi kecil, tradisi besar
dan tradisi modern.
Dari sumber-sumber itu ada diungkap tentang tradisi
kecil yang terdiri atas
unsur-unsur kultur
Bali dalam kehidupan
masyarakat di
sejumlah desa Bali
Aga (desa kuno di
Bali pegunungan),
seperti yang ada di

Desa Sembiran
Gambar 67. Jeroan Pura Tirta Empul,
Tampaksiring. (Foto: ING Suardana). (Kabupaten
Buleleng, Trunyan
(Bangli), hingga Tenganan (Karangasem).
Sementara tradisi besar disebutkan meliputi unsur-unsur
kehidupan yang berkembang sejalan dengan perkembangan
Agama Hindu atau unsur-unsur yang bersumber dari Hindu-
Jawa. Ihwal pengaruhnya diperkirakan bermula dari abad ke-10.
Lantas pengaruh Hindu-Jawa itu kian berkembang di era
160
Kerajaan Singosari. Kemudian lebih pesat lagi berkembang pada
zaman kerajaan Majapahit di abad ke-14 dan 15. Namun, seiring
waktu, Kerajaan Majapahit akhirnya meredup, terpuruk, dan
runtuh. Di sisi lain, terjadi eksodus dari orang-orang yang
beragama Hindu menuju Pulau Bali.
Perkembangan berlanjut ke tradisi modern, mencakup
unsur-unsur yang berkembang sejak zaman penjajahan dan era
kemerdekaan. Disebut sebagai perkembangan terakhir, terjadi
sekitar medio abad ke-19, tepatnya ketika Buleleng jatuh lewat
"Perang Jagaraga" pada 16 April 1849, Badung ambruk dalam
"Puputan Badung" (20 September 1906), dan Klungkung runtuh
dalam "Puputan Klungkung" pada 28 April 1908. Lantas, sejak
kemerdekaan pada 1945, unsur-unsur tradisi modern kian
merasuki kehidupan masyarakat Bali.
***
SETELAH era kemerdekaan, terjadi perkembangan terus-
menerus dalam arsitektur Bali (tradisi modern). Sejalan dengan
perkembangan dunia industri, nilai-nilai dan fungsi dalam
arsitektur Bali tradisional mengalami transformasi. Terutama di
luar jenis bangunan hunian, seperti pertokoan, ruko (rumah
toko), pusat-pusat perbelanjaan, hingga perkantoran. Namun,
kadang tranformasi yang terjadi kerap mengabaikan akar tradisi
yang sejatinya memberi jiwa dan napas arsitektur lokalnya. Tidak
sedikit yang semata menempelkan sisi ornamental, sementara
tercerabut sisi falsafah dan ritualnya.

161
Kepemilikan motor dan mobil bagi penghuni rumah
tinggal telah mulai menyisihkan fungsi angkul-angkul dengan
gerbang yang lebih lebar serta penambahan ruang-ruang sesuai
dengan tuntutan fungsi baru. Ironisnya, pengadaan pintu
gerbang ukuran selebar mobil menggeser peran angkul-angkul
yang sebelumnya berfungsi sebagai pintu keluar masuk, kini
cenderung sebagai pajangan atau hiasan "pelengkap lansekap"
semata. Pergeseran fungsi dan makna itulah yang telah terjadi
kini.
Begitu pula penempatan bale kulkul, banyak bisa
ditemukan pada beberapa kantor atau bangunan publik lainnya,
yang fungsinya sebagai pelengkap desain rancangan arsitektural
keseluruhan. Tak ketinggalan bangunan jineng, telah mengalami
transformasi makna dan fungsi, dari tempat menyimpan padi
atau hasil bumi menjadi tempat tidur, tempat peristirahatan, dan
lain-lain. Tidakkah ini disebabkan pula oleh adanya perubahan
perilaku masyarakatnya dari budaya petani ke masyarakat
industri? Adakah ini juga satu transformasi nilai atau fungsi?
Kendati Bali belum mengalami keparahan ekletisme yang
tak "membumi" sebagaimana banyak ditemui di daerah lain
dalam bentuk arsitektur "jengki" (berlebihan mengadopsi bentuk
gewel, atap pelana, penempatan karawang/roster),
"mediterania", hingga "minimalis" (tanpa ornamen), tinggalan
pengaruh arsitektur "dari luar" itu boleh dikata masih ada
bermunculan di beberapa tempat di Bali. Sesuaikah itu dengan
kondisi alam dan budaya lokal Bali?

162
Nah, di sini, ketahanan akar, kearifan lokal arsitektur Bali
diharapkan berperan mampu memfilter gempuran arus budaya
global atau asing yang kerap mencoba menggerus denyut-
denyut kearifan lokal Bali. Di sisi lain, penggundulan hutan,
pengrusakan lingkungan (daratan, pesisir, dan lautan),
eksploitasi sumber daya alam atau semacamnya, yang telah
dialami Bali kini, mesti diakhiri. Salah satu sektor dalam
mengajegkan Bali adalah dengan menggali dan mengangkat
kembali kearifan lokal arsitektur Bali yang beragam dan unik
dengan nilai-nilai falsafah, etika, dan ritualnya.

27 Agustus 2006

163
Memaknai Arsitektur Bali

Kearifan Lokal di Era Global (1)

KEARIFAN lokal yang dimiliki Bali boleh jadi sebagai
sebuah keunikan yang holistik. Di setiap nafas ruang aktivitas
kehidupan dan lingkungannya senantiasa dijiwai oleh nilai-nilai
luhur tersebut. Begitu pula dalam ranah arsitektur-Bali.
Kesantunan kebijakan ini menyentuh mulai dari tatanan ruang
yang terkecil hingga alam jagat raya. Bahkan tak hanya merasuki
wujud yang kasat mata, melainkan juga pada hal-ihwal yang tak
kasat mata.
---------------------------------------------------------
Nilai-nilai mulia yang menjiwai kearifan lokal itu sejatinya
amat universal dan bisa diaplikasikan atau direvitalisasi kembali
dalam perkembangan peradaban manusia. Zaman terus bergulir
tapi tentu harus memerlukan keseimbangan dalam siklus
pertumbuhan dan perkembangannya. Maka dalam ranah
arsitektur, semua itu bisa dimulai dari komponen yang terkecil
hingga ke tatanan global.

Dalam membangun tempat hunian atau umah di Bali
misalnya. Sebagaimana masyarakat yang -- mayoritas --
beragama Hindu tentu dalam proses mewujudkan tempat
tinggalnya didasari dengan latar belakang agama yang
diyakininya. Di mana dalam proses itu senantiasa berpedoman

164
Gambar 68. Adanya hubungan yang sangat erat antara Bhuwana Alit
(mikrokosmos) dan Bhuwana Agung (makrokosmos), bertujuan untuk
tercapainya "Moksartham Jagadhita" -- kesejahteraan lahir batin. (Foto: ING
Suardana).

pada nilai filsafat (tatwa), etika (susila) dan ritual (upacara).
Nilai-nilai yang universal bisa dipetik dari kesadaran religius
manusia (Bali) atas keyakinannya terhadap adanya hubungan
yang sangat erat antara Bhuwana Alit (mikrokosmos) dan
Bhuwana Agung (makrokosmos). Itu semata bertujuan untuk
tercapainya "Moksartham Jagadhita" -- kesejahteraan lahir batin.
Maka, kesadaran itu tersirat dan tersurat melalui falsafah
"Tri Hita Karana" (THK) yang mewujud ke dalam tindakan
pencapaian keharmonisan hubungan antara manusia dengan
sesama mahluk hidup, manusia dengan lingkungan, dan manusia
dengan Tuhan. Falsafah yang universal ini bisa diaplikasikan di

165
mana pun juga disesuaikan dengan kondisi lokalnya. THK selain
sebagai landasan filosofis, bisa berlaku pula sebagai konsep.
Penjabaran itu bisa diadaptasikan dengan perilaku atau sikap
budaya masyarakatnya. Selanjutnya secara religius dalam

Gambar 69. DENAH – Suatu contoh denah ―umah‖ (rumah Bali) Nang
Mageh dan keluarga di Desa Tengkudak, Tabanan, Bali. (Sumber: I
Nyoman Gde Suardana dalam tesis: ―Makna dalam Arsitektur Umah
Bali‖, Kasus Desa Tengkudak- Bali, 2002; hlm. 79, Gambar 4.02).
166
konteks spriritual adalah sebagai upaya pemenuhan
keseimbangan antara hal-ihwal yang bersifat duniawi dan rohani.

Konsepsi
Dalam arsitektur Bali, proses pelaksanaan membangun
perumahan umat Hindu, etika/susila merupakan landasan paling
awal, dimulai dari merencanakan sebagai dasar berpikir manusia
dalam kehidupannya. Selanjutnya proses ritualisasi dari awal
hingga selesai pembangunannya. Dari kedua landasan itu
terwujud suatu wadah hunian manusia bernilai spiritual,
mengandung makna: arsitektur yang diwujudkan telah memiliki
keharmonisan, keseimbangan dan keserasian antara dunia nyata
(sekala) dan nir-nyata (niskala). Maka, ada beberapa konsepsi
ajaran agama Hindu yang mendasari pembangunan dalam
arsitektur Bali.
Pertama, Rwa Bhineda, konsep yang mengulas tentang
dua unsur yang berlawanan tapi tak dapat dipisah-pisahkan,
seperti baik-buruk, suka-duka, siang malam, cetana-acetana,
purusa-pradhana, hingga hulu-teben. Konsepsi ini terlihat pada
tata letak bangunan, seperti tata letak merajan/sanggah yang
dibangun di bagian hulu, sementara untuk tempat huni dan
lainnya diletakkan pada bagian belakang (teben).
Kedua, THK, konsep tentang hubungan yang harmonis
antara manusia dengan makhluk hidup, lingkungan dan Tuhan.
Atau disebut tiga penyebab terciptanya kesejahteraan,
merupakan landasan yang kuat dalam setiap pembangunan di

167
Bali, khususnya dalam menata letak dan ruang-ruang bangunan.
Ada tiga unsur dalam konsep ini, yakni parahyangan (tempat suci
di hulu), pawongan (fisik bangunan untuk manusia dan mahluk
hidup lainnya), palemahan (areal/alam untuk tempat hunian
manusia).
Ketiga, Desa Kala Patra (tergantung tempat, waktu dan
keadaan), artinya menyesuaikan dengan tempat dimana mereka
tinggal, kondisi pada saat itu, potensi yang dimiliki serta faktor
pendukung
keberadaan
hidupnya..
Keempat, Tri
Angga. Artinya tiga
bagian badan yang
masing-masing
memiliki tata nilai dan
hubungan Gambar 70. Sebuah Pura (unsur Parhyangan,
terletak di hulu desa) di Penglipuran. (Foto:
yang erat dalam pola ING Suardana).

pembangunan perumahan, terdiri dari kepala atau bagian atap
pada bangunan (utama angga), badan atau ruangan pada
bangunan (madya angga) dan kaki atau bagian dasar bangunan
(nista angga).
Kelima, Hirarki Tata Ruang atau kerap disebut juga Tri
Mandala dimaksud tiga wilayah dalam tata letak bangunan. Ada
wilayah untuk tempat bangunan suci bernilai utama (utama
mandala), untuk tempat tinggal, bekerja hingga menyimpan

168
barang (madya mandala), untuk menempatkan jenis bangunan
service (KM/WC) hingga kandang ternak (nista mandala).
Keenam, Catur Muka. Konsepsi ini bersumber dari
filosofis perpotongan antara sumbu spiritual/religi terbit
tenggelam matahari (kangin-kauh) dan sumbu natural/bumi,
arah gunung dan laut (kaja-kelod). Konsepsi ini dikatakan
sebagai perpaduan wujud antara konsepsi rwa bhineda, tri angga
dan tri mandala dalam pola pembangunan umah (rumah Bali-
tradisional) di mana konsepsi THK merupakan jiwa (atma)
fisik/badan (angga) dan tenaga (kaya) yang melebur menjadi
satu di dalamnya.
Ketujuh, Nawa Mandala. Konsep ini merupakan sebagai
perpaduan filosofis astadala (tiga lapis susunan daun bunga
teraratai yang masing-masing terdiri dari delapan helai daun
dengan sarinya di tengah) dan nawa sanga (konsepsi sembilan
Dewa yang menguasai sembilan arah). Aplikasinya di lapangan
terwujud menjadi 9 bagian dalam satu areal pekarangan.
Konsep ini berangkat dari pola pembangunan umah yang
bertitik tolak pada upaya pelestarian alam yang harmonis dalam
keseimbangannya. Konsep ini secara riil melukiskan 8 arah
terpenting dengan satu pusat di tengah-tengah.

9 Desember 2007

169
Memaknai Arsitektur Bali

Kearifan Lokal di Era Global (2)

MENURUT keyakinan manusia Bali (Hindu), tanah –
untuk tempat membangun umah –punya dampak sangat besar
dalam kehidupan manusia yang amat perlu dipilih dan diteliti
peruntukannya secara benar dan baik. Juga ada tata caranya
didalam memilih tanah pekarangan agar tak ditimpa kemalangan,
bahaya hingga bermacam jenis penyakit.
Dalam beberapa lontar ada disebutkan tempat
(palemahan) yang baik untuk membangun umah. Ada palemahan
yang disebut mambu lalah-sihingkanti, tanah yang berbau pedas,
amat baik dipakai mendirikan umah dan dapat menyebabkan
kebahagiaan bagi orang yang menempatinya. Pun tanah yang
disebut asah madya yang letaknya datar, baik untuk tempat
membangun umah.
Sedangkan tanah manemu labha yang bagian baratnya
lebih tinggi atau memiliki keadaan miring ke timur, sangat baik
lantaran banyak memperoleh sinar matahari pagi. Ada pula
palemahan wreddhi putra atau paribhoga wreddhi, tanah yang
tinggi di selatan (kelod), yang letaknya miring turun ke utara
(kaja). Tempat seperti ini baik untuk perumahan. Pun palemahan
inang-Dewa ngukuhi, tempat yang memberikan rasa nyaman dan
asri jika dimasuki, selain sangat baik untuk tempat membangun

170
rumah, juga memberi pengaruh: banyak rezeki dan berumur
panjang.

Baik dan Buruk

Lantas, adakah karang (tanah) yang buruk atau tidak
baik untuk membangun umah? Menurut beberapa lontar yang
ditemukan ada disebutkan, seperti (1) karang kalarahu/boros
wong, adalah karang paumahan yang punya dua pintu masuk
atau lebih; (2) kuta kabanda, karang paumahan yang diapit dua
jalan raya; (3) karang kalingkuhan, pekarangan rumah yang
dikelilingi tanah atau rumah milik dari satuo rang.
Ada pula (4) karang numbak rurung atau karang
kerubuhan, pekarangan yang berhadapan, berpapasan dengan
pertigaan/perempatan jalan; (5) karang nanggu, pekarangan
rumah yang berada paling pojok dan di depannya tidak ada
rumahlagi, (6) sandanglawe, karang yang punya pintu
masuk/angkul-angkul berpapasan dengan pintu masuk rumah
yang ada di seberang jalan; (7) karang kapurwan, tanahnya
tinggi di bagian timur; (8) kalingkuhin rurung atau sulan yupi,
pekarangan yang dilingkari jalan raya.
Kemudian, (9) teledu nginyah, jika karang rumah dikitari
jalan melingkar di sekelilingnya; (10) karang panes atau gerah,
berada di hulu, dekat pura Kahyangan Tiga, Sad Kahyangan atau
Dang Kahyangan; (11) manyeleking, pekarangan yang di
dalamnya ada dua jenis tempat merajan/sanggah dari dua jenis

171
keluarga yang berbeda; (12) karang mambu bengu alid, panes
mlekpek, ocem, mawarni ireng, adalah pekarangan yang
tanahnya berbau busuk, amis, kotor, berwarna hitam; (13) suduk
angga, pekarangan rumah yang posisinya tertusuk (katumbak)
jalan, gang, got dan tembok panyengker tanah orang lain; dan
(14) karang kabaya-baya.
Pekarangan yang khusus disebut karang kabaya-baya ini
memiliki ciri-ciri seperti: nemubaya (mendapat bahaya), toyabaya
(ada darah yang tiba-tiba muncul dipekarangan rumah), lulut
baya (ada banyak ulat yang muncul), tenget (bekas kuburan,
bekas sanggah/pura), kalebon amuk (bekas tempat terjadinya
pertumpahan darah), bhuta salah wetu (babi beranak seekor,
pohon pisang berbuah pada batangnya, pohon kelapa
bercabang), wongbaya (tumbuh cendawan padahal aman
pekarangan), bumi sayongan atau pancabaya (pekarangan yang
ditimpa petir, tiba-tiba muncul asap, dihuni tawon atau lebah
yang berdiam lama hingga beranak pinak).
Jika orang menemukan tanah yang kurang baik
sebagaimana disebutkan di atas, beragam ritual (upacara)
menurut agama Hindu bisa dilakukan untuk menangkal
timbulnya pengaruh buruk itu, disebut dengan upacara
pangupah ayu. Jadi berbagai upaya untuk terwujudnya
keseimbangan dan keselarasan secara lahir (fisik) maupun batin
(nonfisik) bisa dilakukan dengan mencermati kondisi yang ada
dan mengangkat kearifan lokalnya.

172
Tak Terbilang
Memang,
tak terbilang dalam
hitungan jumlah
petunjuk atau
pedoman yang ada
sebagai kearifan
lokal maupun
kearifan lingkungan Gambar 71. Jika ingin mengetahui tentang
sejarah lokasi pura-pura di Bali berdasarkan
yang dimiliki Bali.
pangider-ideran pada Makrokosmos (Bhuwana
Semua itu bisa di Agung) terdapat di dalam naskah Padma Bhumi.
(Lokasi di Pura Keen, Bangli, Foto: ING
gali, diaplikasi dan Suardana).

diadaptasi di setiap tempat. Sebagaimana juga dalam mengukur
tata letak bangunan dalam arsitektur Bali ada ketentuannya.
Semua itu bertujuan mewujudkan keharmonisan dan
keselarasan.
Tentang tata cara mengukur pekarangan/halaman
perumahan dan pondok-pondok, diatur dalam naskah Asta
Kosala. Sementara untuk menentukan dimensi ideal pada
bangunan, baik proses tata cara membangun, ritual hingga pada
fisik bangunannya berpedoman pada naskah Asta Kosali. Disis
ilain tentang aturan tata letak, struktur dan denah bangunan
berpedoman pada Asta Bumi.
Perihal yang berhubungan dengan pendidikan ke-undagi-
an (kearsitekturan) pun ada pegangannya sebagaimana yang
ada dalam naskah Wiswakarma. Sementara yang mengulas

173
tentang tata cara mengatur ukuran dan jarak tiang bernama Asta
Patali. Sedangkan jika ingin mengetahui tentang sejarah lokasi
pura-pura di Bali berdasarkan pangider-ideran pada
Makrokosmos (Bhuwana Agung) terdapat di dalam naskah
Padma Bhumi. Ada pula tata cara menebang kayu, tertuang
dalam naskah Swakarma. Selain itu, pengukuran bangunan
perumahan ada tertulis dalam Sikuting Umah. Pun ada
Janantaka, mengulas tentang klasifikasi kayu yang boleh dipakai
untuk bangunan-bangunan suci maupun umah.
Sebelum rumah dihuni, usai dibangun, diberi "jiwa"
terlebih dulu dengan upacara melaspas yang ada diatur dalam
naskah Pamelaspas Wewangunan. Selain itu ada tertulis dalam
Bhama Kretih yang menjelaskan tentang upacara-upacara dalam
proses mendirikan bangunan sejak awal hingga selesai.
Masih banyak lagi sesungguhnya kearifan lokal yang
dimiliki Bali, bisa ditelusuri, digali, dan dicermati serta dipublikasi
lebih luas kepada masyarakat generasi kini. Ini boleh dikata
sebagai warisan moyang tetua dulu dalam upaya menjaga,
memelihara alam semesta beserta isinya. Adakah kesadaran
untuk melestarikan setiap kearifan lokal yang dimiliki
mengakardan tumbuh suburdisetiap permukaanbumiini?

16 Desember 2007

174
Menimang Kontribusi Arsitektur
Bali Sikapi Globalisasi

Wujud ruang arsitektural pada dasarnya punya
keterkaitan erat terhadap perkembangan berbagai aspek
kehidupan di zamannya. Kini, kemajuan sains dan teknologi telah
merasuki sendi-sendi di berbagai lini tatanan pergaulan manusia.
Menyangkut gaya hidup, pola pikir, gerak dan perilaku. Secara
global manusia kini tengah berada dalam era informasi digital
dan virtual. Keadaan ini memiliki konsekuensi logis terhadap
bentukan ruang yang divisualisasikan oleh arsitektur. Sejauh
mana kontribusi arsitektur Bali ke depan menyikapi dan
mewadahi perkembangan ini?
----------------------------------------------------------
PENEMUAN dan perkembangan teknologi mutakhir kini,
terutama teknologi transportasi, telekomunikasi dan informasi
memberi isyarat akan kemungkinan terwujudnya jarak ruang
semakin kecil. Lantas, ada kecenderungan kian sedikitnya waktu
yang diperlukan dalam pergerakan di dalamnya. Percakapan
bisa dilakukan dalam ruang berbeda, namun pada waktu yang
sama. Peranti elektronik baru deras bermunculan. Semakin mini
tapi dengan kapasitas kian besar.
Contoh lain, remote control, telah mengurangi mobilisasi
gerak fisik manusia, demi efisiensi waktu dan tenaga. Ukuran
atau dimensi barang elektronik dan computer cenderung
175
mengecil dan tipis, tapi punya potensi produksi tinggi. Sistem
pemantauan jarak jauh melalui kamera mini dan layar monitor
pun akan mempengaruhi berkurangnya pergerakan manusia di
antara ruang-ruang. Semua ini merupakan dampak
perkembangan tersebut, sebagai sebuah proses dan kondisi yang
demikian kompleks, bersifat multibentuk dan multidimensi.
Peringkasan jarak ruang telah mengubah persepsi dan
pandangan manusia terhadap ruang dan waktu itu sendiri.
Persepsi tentang jauh dekat, luar-dalam, cepat-lambat sekarang
telah mengalami perubahan. Orang-orang bepergian telah

Gambar 72 & 73. JATI DIRI – Dalam perkembangan arsitektur Bali, yang
perlu dipegang sejatinya adalah mempertahankan identitas. Menyimpan
―roh‖ jati diri ke-Bali-annya, sehingga esensi bentukan arsitektur Bali
tradisional itu merasuki gubahan arsitekturnya. Sebagaimana tampak
dalam gambar, bentuk ―angkul-angkul‖ dan ruang sirkulasi di sebuah resort
di Buleleng, serta sebuah bangunan kantor di kawasan Renon, Denpasar.

menggunakan alat-alat transportasi yang canggih sesuai
pilihannya. Berkomunikasi jarak jauh atau antar ruang bisa lewat
handphone, CCTV, computer genggam, dll., sebagai wujud
komunikasi dalam ruang virtual (ruang maya). Kini sifat dan
kondisi tubuh manusia, cara mobilitas, berkomunikasi, dan alur
yang dilaluinya di dalam siklus kegiatan, umumnya juga
176
mempengaruhi pola kehidupan social dimasyarakat. Tentu pada
akhirnya terkait dengan bentukan ruang-ruang privat maupun
ruang-ruang publiknya. Keadaan tersebut berhubungan dengan
dengan tindakan, relasi, struktur dan system social yang
berlangsung di dalam ruang-waktu. Perihal inilah yang sudah
mulai merambah pelosok negeri, termasuk Bali, terutama di
kawasan perkotaan.
*****
BEBERAPA waktu lalu sempat merebak wacana tentang
usulan rencana apa yang
ideal dibangun dan
dilaksanakan serta
dilakukan dalam
pembangunan daerah Bali.
Hingga sempat muncul
ketika itu statemen

mengenai arsitektur Gambar 74.Betapa pun luas
jangkauan perkembangan itu, tentu
gedung, yakni tentang harus dikorelasi lagi dengan konsepsi
perlunya zone gedung filosofis Tri Hita Karana, Rwa Bhineda,
hulu-teben, nilai-nilai dan pemaknaan
tinggi. Ketika itu terkuak arsitektural.

usul atau keinginan untuk memperbolehkan membangun gedung
tinggi di atas 15 meter.
Berbicara tentang bangunan gedung tentu tak dapat
dipisahkan dengan ruang arsitektural, termasuk wujud atau
wajah asitekturnya. Utamanya kota-kota besar di Indonesia.
Makna ruang rupanya mengalami pergeseran persepsi, sejalan
177
dengan pemampatan, peringkasan ruang waktu dan pemadatan
tindakan setiap kegiatan yang dijalani banyak orang. Nyaris
semua aktivitas dijejali oleh tuntutan kecepatan waktu, efisiensi,
dan ketergesaan. Kecenderungannya, di zaman informasi dan
virtual kini ada upaya manusia untuk memiminimalisasi dimensi
fasilitas dan ukuran ruang-ruang geraknya.
Perubahan pola hidup dengan sendirinya turut
mempengaruhi pola ruang, waktu, fasilitas dan lingkungannya.
Kenyataan kini, terutama di kota-kota besar, banyak kegiatan
social tidak memerlukan lagi perpindahan fisik seseorang.
Seperti belanja (teleshoping), rapat (teleconference), menonton
(telecinema), belajar (telelearning), dan sebagainya. Lantas,
orang-orang pun kini sudah bisa mengakses bahan-bahan
kepustakaan melalui internet, membuka situs-situs pilihannya.
Pun penyimpanan arsip mendatang sepertinya, bukan lagi
mengarah pada penumpukan berkas di rak-rak almari. Tapi
sudah menuju pada compact flash sampai secure digital yang
mampu menyimpan amat banyak data, baik berupa naskah, foto,
musik, atau video player lainnya.
******
Melihat keadaan seperti ini, perlukah di masa datang
disediakan atau ditambah lagi ruang-ruang publik (gedung) yang
besar berlantai banyak? Guna memperoleh solusi, semua itu
tentu perlu dianalisis secara komprehensif atau menyeluruh,
untuk kesinambungan konsep yang bisa diterima oleh
masyarakat secara berkelanjutan.

178
Pembentukan ruang sangat bergantung pada berbagai
kondisi tempat yang membentuknya: alat untuk mobilitas, media
untuk komunikasi, fisik/badan, sifat-sifat fisik lingkungan atau
atmosfir di sekitar, bahkan (sangat penting) kultur lokal
setempat. Ruang tersebut dapat saja berupa sebuah ruang
perkantoran, pabrik, kamar di dalam suatu rumah, sampai pada
wilayah yang dibatasi secara territorial oleh batas-batas desa
atau kota. Semua itu senantiasa meruang dan bersifat fisik.
Dalam ruang-ruang inilah berbagai rutinitas aktivitas
berlangsung.
Dalam konteks
pembutuhan ruang di era
informasi kini, sudah
relevankah di Bali dibangun
gedung-gedung
berketinggian lebih dari

pohon kelapa? Sementara
Gambar 75. Sebagai suatu tampilan
di sisi lain, dunia kini yang ―mampu berkolaborasi‖ dengan
lingkungan sekitarnya. (Foto: ING
tampak mulai mengalihkan Suardana).
perhatiannya pada upaya
untuk meminimalisasi besaran gedung-gedung publiknya.
Adakah itu akibat pemampatan ruang waktu dan tindakan setiap
aktivitas di era informasi digital dan virtual kini?
*****
SEKARANG, sudah mulai ada berbagai model aktivitas
sosial, yang di dalamnya tidak diperlukan lagi perpindahan fisik,
179
namun bisa dilakukan model perpindahan virtual, yakni
perpindahan informasi. Melalui internet, handphone,
teleconference, berlangsung suatu pergerakan yang sebenarnya
berdiam diri di tempat. Fenomena ini semakin memberi
kecenderungan, di dalam melakukan berbagai kegiatan, pola
kehidupan sosial si pelaku aktivitas.hanya berdiam diri di tempat,
lantaran di sisi lain informasiakan bergerak mendatanginya.
Boleh jadi, keberadaan dunia virtual, selain merupakan
perpanjangan hampir setiap aspek kehidupan manusia-tindakan,
aksi, reaksi, komunikasi, juga dimaknai sebagai ―penyambung
lidah‖ dalam sistem komunikasi antarmanusia. Nah, di era
informasi digital sekarang ini--terutama di kota-kota besar—
orang telah mulai dapat melakukan aktivitas sosial, politik,
ekonomi, dan lain-lain dalam jarak jauh (telepresence) tanpa
harus melakukan proses perpindahan di dalam ruang waktu.
Dengan kata lain, orang tidak akan melihat suatu
bentukan arsitektur itu sebagai suatu yang ―berdiri sendiri‖.
Namun sebagai suatu tampilan yang ―mampu berkolaborasi‖
dengan lingkungan sekitarnya.
Betapa pun luas jangkauan perkembangan itu, tentu
harus dikorelasi lagi dengan konsepsi filosofis Tri Hita Karana,
Rwa Bhineda, hulu-teben, nilai-nilai dan pemaknaan arsitektural,
yang selama ini diejawantahkan di tengah komunitas arsitektur
Bali tradisional, yang kini kian didekati sergapan arus globalisasi.
Ihwal tersebut tentu perlu disikapi secara arif dalam bentuk

180
penataan tata ruang arsitektural, wajah arsitektur kota dan
bentukan arsitektur lainnya, dari makro, meso, hingga mikro.
Maka dalam hal ini, yang perlu dipegang sejatinya adalah
mempertahankan identitas. Menyimpan ―ruh‖ jati diri ke-Bali-
annya, sehingga esensi bentukan arsitektur Bali Tradisional itu
merasuki gubahan arsitekturnya. Kendati di satu sisi konsepsi
maupun visualisasi bentuknya senantiasa leluasa ―menyesuaikan
diri‖ dengan perkembangan zaman, di era informasi digital dan
virtual saat ini.

12 Juni 2005

181
Melacak ''Hong Sui'' dalam
Arsitektur Bali

Dalam minggu-minggu ini, umat Hindu kembali
memasuki hari-hari suci, seperti Galungan dan Kuningan. Hari
Raya ''kemenangan'' dharma melawan adharma, sekaligus hari
''perenungan'', kontemplasi atau refleksi diri. Dalam konteks
arsitektur, mungkin ada baiknya melakukan ''instrospeksi'' ke
dalam. Menyingkap ''tirai'' esensi dan substansi kearifan lokal
arsitektur Bali. Di antaranya, bagaimana mengangkat nilai-nilai
dan makna tatanan arsitektur Bali yang salah satunya ada
memiliki kemiripan dengan hong sui. Semisal yang berhubungan
dengan tata letak tanah dan bangunan serta pengaruhnya
terhadap penghuninya.
----------------------------------------------------------
SELINTAS, jika merunut perjalanan popularitas hong sui,
mungkin dapat disimak dari fungsi dan manfaatnya dalam
kehidupan serta orang-orang yang mempublikasikan tentang
keunikan yang ada di dalamnya. Sehingga, hong sui
memasyarakat hingga ke negeri Eropa selain ke negara-negara
Asia.
Hong sui berasal dari kata hong yang berarti "angin" dan
sui berarti "air". Makna lain hong sui itu lebih menekankan pada
tata letak bangunan yang memiliki potensi chi (hawa) sejati.

182
Punya kemiripan dengan ketentuan yang dituangkan dalam
aturan tata letak tanah dan bangunan dalam arsitektur Bali.
Seperti disebutkan dalam sastra Hindu, bangunan yang didirikan
akan memacarkan vibrasi (getaran). Vibrasi itu dapat bersifat
baik (positif) atau tidak baik (negatif), tergantung benar-
salahnya seseorang meletakkan suatu bangunan.
Asal hong sui dari Tiongkok, lantas berkembang ke
Jepang, diakui dan dipergunakan sebagai pedoman untuk
pembangunan istana-istana raja. Dalam tradisi Tiongkok,
pemahaman tata letak dari gedung dan tempat bermukim punya
arti yang sangat penting. Mesti ada penentuan letak gedung,
luas dan pedoman kota maupun tempat hunian itu sendiri secara
komprehensif (utuh dan menyeluruh). Hong sui dibagi dalam
yang che (rumah yang) sebagai bangunan yang dihuni oleh
manusia, dan yin she (rumah yin) atau tempat pemakaman.
Sementara dalam asitektur Bali, bentuk dan tata letak
tanah atau pekarangan (beberapa ketentuan tentang baik
buruknya) untuk tempat tinggal atau perumahan, diupayakan
sesuai dengan petunjuk yang ada dalam lontar "Tutur Bhagawan
Wiswakarma", "Bhamakretih", "Japakala" dan "Asta Bhumi"
sebagai acuannya. Misalnya, kalau tanah pekarangan pada sisi
baratnya agak tinggi (menggik kauh), baik untuk tempat tinggal,
yang menempatinya menemukan kebahagiaan.
Contoh lain, pekarangan yang pintu masuknya tepat
berhadapan dengan pintu masuk pekarangan orang lain yang
berada di depannya, disebut karang nyeleking, pengaruhnya

183
tidak baik. Suatu pekarangan yang berpintu masuk lebih dari
satu, disebut karang boros, pun tidak baik. Atau jika tanah/
pekarangan itu merupakan karang bekas pura, paibon, merajan,
orang mati gantung diri, peyadnyan sulinggih atau pandita, tak
boleh dipakai sebagai tempat tinggal atau perumahan.
Namun, mengapa ketentuan-ketentuan yang ada dalam
lontar-lontar sejak dulu itu tak sepopuler hong sui? Apa lantaran
ihwal tersebut kurang diaktualisasikan dengan perkembangan
zamannya? Atau karena tidak/belum punya "istilah" khusus untuk
menamai
ketentuan (seperti
hong sui) yang
tersebut dalam
lontar-lontar itu?

Sekala-Niskala
Bila dikaji
lebih jauh,
Gambar 76.Pola Rumah Tradisional Bali. (dalam
pengaruh baik- Gomudha, Pustaka Bali, 2008, hlm. 88).

baiknya maupun upaya yang dilakukan untuk menghindari atau
menetralisir pengaruh tersebut, senantiasa mempertautkannya
dengan hal-hal yang bersifat fisik, tangible, nyata (sekala)
maupun prihal yang intangible, tak kasat mata (niskala). Dengan
kata lain ''berkorelasi'' horizontal maupun transendental
(vertikal). Ada religiosistas dan proses ritual di dalamnya. Suatu
totalitais kearifan dan harmonisasi kehidupan.

184
Penelusuran dan eksplorasi nilai dan makna yang
terkandung dalam ketentuan tata letak tanah dan bangunan
bercitra kearifan lokal Bali, kiranya lebih memberi peluang, untuk
lebih membuka pemahaman atau penafsiran yang benar tentang
tata cara membangun paumahan menurut tafsir (smerti) agama
Hindu. Seperti yang ada tertuang dalam lontar-lontar, membuat
secara rinci mengenai cara memilih tanah, jenis tanah, tata
ruang (spasial) halaman, prosedur membangun hingga upacara
yang berhubungan dengan nyakap palemahan dan melaspas
bangunan.
Juga ada petunjuk atau ketentuan tentang bagaimana
memiliki letak tanah, merujuk pada letak yang baik atau
sebaliknya. Semisal, ada tanah yang disebut dewa ngukuhi,
tanah atau pekarangan yang dapat memberi rasa damai dan
tentram. Jika di sekeliling tak ada tanah yang lebih tinggi sebagai
penyandingnya, tanah itu dinamakan asah madya. Hal lain, ada
letak tanah yang dianggap tak baik, seperti disebut dengan
sandang lawe atau karang negen, yakni tanah yang letaknya
tepat berhadap-hadapan di antara dua sisi jalan atau gang,
dimiliki oleh satu orang atau satu keluarga purusa (garis
keturunan ayah/laki-laki).
Pun ada yang disebut karang suduk angga, tanah atau
pekarangan yang letak atau posisinya tertusuk (katumbak) jalan,
gang, sungai, got dan tembok panyengker tanah orang lain.
Tanah ini tidak baik untuk tempat tinggal, disebut karang panes
atau nyakitin. Konon orang yang menempati atau menghuninya

185
akan kerap kena bencana, acap bertengkar lantaran hal-hal
sepele, sering kecurian, kena fitnah, diganggu mahluk halus.
Sementara tanah yang berada pada sudut pertigaan jalan/gang,
atau setengah dari sisi tanah pekarangannya dilingkari oleh jalan,
gang, got atau sungai, disebut karang sulanupi.
Jika tanah itu diapit atau dikelilingi jalan raya, gang atau
got dinamakan karang kuta kubhanda. Ada pula karang teledu
nginyah, bila rumah dikitari oleh jalan melingkar di sekelilingnya.
Karang grah, andai pekarangan itu bersebelahan dengan Pura
Kahyangan Tiga, Sad
Kahyangan dan Dang
Kahyangan. Lainnya,
karang tan maren
mahyus grah, menunjuk
pada tanah yang serasa
panas atau pengap

lantaran tak ada udara Gambar 77. Rumah di Desa Ayunan,
Kecamatan Mengwi, Badung. (Foto: I Ketut
segar. Adhimastra).
Ada lagi yang disebut manyeleking, apabila dalam satu
halaman ada beberapa rumah KK (kepala keluarga) yang
kawitan-nya berbeda. Jika tanah tempat dibangun rumah itu
berseberangan jalan dengan rumah saudara kandung, termasuk
tanah yang tak baik pula, disebut amada-mada Bhatara.
Begitulah apa yang tersirat dan tersurat, sebagai bagian dari tata
cara menata letak tanah dan bangunan.

186
Begitu pula aturan menempatkan pintu masuk dan
memiliki perhitungan tersendiri. Menempatkan pintu masuk ke
pekarangan tak boleh asal-asalan, lantaran pintu masuk pun
punya pengaruh pada kehidupan saban hari bagi penghuninya.
Dora artinya lawang (pintu), kala berarti waktu atau hari.
Membuat pintu masuk berdasarkan pada petunjuk lontar "Asta
Bhumi", yakni luas pekarangan dibagi sembilan, sesuai arah
pintu yang akan dibangun.
Misalnya, andai arah pintu masuk menghadap ke selatan,
cara menghitungnya adalah: luas pekarangan atau tembok di
sebelah selatan dibagi sembilan. Menghitungnya mulai dari timur
ke barat. Pada perhitungan 1, disebut bhaya agung (berbahaya),
tidak baik. Hitungan ke-2 berakibat tak bisa punya anak.
Hitungan ke-3 dinamakan sukha mageng (besar
kebahagiaannya). Titik ke-4, brahma sthana (pengaruhnya baik).
Di hitungan ke-5 disebut dewi wredhi (baik), ke-6 sugih rendah
(baik), ke-7 teka wredhi yang juga baik, ke-8 kepaten
(kematian), dan jika berada pada titik hitungan ke-9 berakibat
kageringan (sakit-sakitan).
Begitu pula dibagi 9 untuk tanah yang menghadap ke
barat, timur dan utara. Namun masing-masing titik pembagian
itu punya perbedaan arti atau makna, tergantung dari posisi
menghadapnya tanah atau pekarangan itu terhadap jalan
utamanya.

9 Oktober 2005

187
Mencermati Vibrasi Tanah Bali

Di berbagai tempat, banyak daerah pernah ditimpa
musibah yang menyengsarakan hingga tak sedikit menelan
korban jiwa. Ada tanah pulau menyemburkan lumpur panasnya,
bencana gempa bumi, tsunami, longsor, abrasi pantai dan lain-
lain. Adakah ini karena ulah dan kekhilafan manusia itu sendiri
terhadap alam? Bagaimana dengan ketersediaan dan peruntukan
tanah Bali kini?
-----------------------------------------------------------
Agaknya perlu segera dihentikan sikap mrncederai alam,
seperti penebangan pohon di daerah hulu, eksplorasi perut bumi,
hingga pengalihfungsian lahan produktif, terlebih tanah yang
memiliki vibrasi. Jika saja hati nurani manusia lebih terkendali
untuk tidak merusak, mengais atau menggerogoti
―keseimbangan ― alam, kiranya alam tak akan menjadi murka,
hingga ujung-ujungnya manusia jadi nemu baya atau
menemukan bahayanya.
Tanah, salah satu bagian dari Panca Maha Bhuta yang
juga unsur pembentuk tubuh manusia, patut dihormati dan diberi
tempat semestinya, dengan memerhatikan hukum-hukum
keseimbangan alam semesta. Upaya untuk tetap turut memberi
keseimbangan antara kosmos alit dengan kosmos agung (jagat
raya) merupakan upaya mulia sebagai ―warisan‖ panutan yang
bijak ke anak cucu. Tanah juga sebuah wilayah, di mana
manusia bisa menatanya sesuai kebutuhannya. Namun, kondisi
188
dan ―karakter‖ tanah di setiap tempat kadang berbeda baik dari
sisi fisik geologis, geografis, atau topografis tanah. Bahkan
secara spiritual tanah dikatakan memiliki aura masing-masing.
Benarkah?
Salah satu kearifan dalam arsitektur Bali, berdasar smerti
Agama Hindu disebutkan, dalam menata penggunaan tanah-
misalnya untuk membangun rumah-ada disinggung tentang tata
cara memilih jenis tanah, tata letak tanah, tata ruang halaman,
prosedur mendirikan bangunan, serta proses ritual yang
berhubungan dengan nyakap palemahan dan melaspas rumah.
Dalam sebuah lontar – Keputusan Sang Hyang Anala –
mengungkapkan, untuk letak tanah disarankan memilih tanah
menggik kauh (lebih tinggi di sebelah barat). Apa makna
tekstualnya? Dari lintasan matahari, arah terbit-tenggelamnya
jelas akan mempengaruhi tata letak yang ideal untuk sebuah
rumah. Ke arah mana rumah menghadap, itulah sasarannya.
Logikanya, dalam site (tapak) lahan tersebut akan cenderung
berorientasi ke tanah yang lebih rendah dan berupaya
menghindari terpaan sinar matahari yang sudah condong ke
barat. Maka tanah yang menggik kauh akan sangat efektif dan
menjadi pilihan. Untuk itu pula jika site itu kondisinya datar
(asah), diharapkan tanah penyandingnya tidak lebih tinggi.
Sehingga disarankan memilih tanah yang disebut asah madya,
lebih memberi perasaan tentram-damai (dewa ngukuhi).

189
Gambar 78. Tanah, salah satu bagian dari Panca Maha Bhuta yang juga unsur
pembentuk tubuh manusia, patut dihormati dan diberi tempat semestinya,
dengan memerhatikan hukum-hukum keseimbangan alam semesta. (Foto
BPM/eka).

Sementara tanah yang berhadapan dengan jalan lurus
dikatakan tidak baik. Tanah itu disebut sandang lawe. Hal ini
cukup beralasan, lantaran akses sirkulasi ruang publik secara
fisik-visual maupun dari sisi ketidakamanan dan
ketidaknyamanan akan mengarah secara frontal ke rumah yang
dibangun itu. Begitu pula jika ada tanah dikelilingi jalan raya
(sula nyupi) atau yang diapit jalan raya (kuta kabanda) dikatakan
tidak baik. Tentu semua paham kalau jalan raya boleh dikata
merupakan kumpulan keriuhan atau kebisingan, juga polusi
udara. Logis bila di kedudukan tanah seperti itu tak patut untuk
dibangun rumah. Apalagi jika ada jalan melingkar di sekitar

190
pekarangan rumah (karang teledu nginyah), sangat tak patut di
dalamnya didirikan rumah.
Bagaimana bila ada tanah untuk rumah yang letaknya
bersebelahan dengan Pura Dang Kahyangan, Sad Kahyangan
dan Kahyangan Tiga? Dalam lontar disebutkan, tanah itu disebut
karang grah, berakibat tidak baik bagi penghuni rumah yang
bertempat tinggal di dalamnya. Logikanya, pura merupakan
tempat suci, tempat persembahyangan umat Hindu. Dalam
radius tertentu diupayakan untuk bebas dari lingkungan yang
mencemari lingkungan pura, baik dari segi fisik, visual atau
pandangan, suara, polusi udara dan pencemaran aroma/bau.
Jika di sebelah tempat suci itu dibangun rumah, juga
berpengaruh tidak baik bagi penghuni rumah maupun terhadap
vibrasi kesucian pura. Misalnya, bagaimana bila ada kegiatan
ritual atau upacara di pura yang bersebelahan dengan rumah.
Begitu pula sebaliknya, segala aktivitas yang berlangsung
di dalam rumah, seperti memasak, membuang limbah, pekerjaan
yang menimbulkan kebisingan, dll. tentu akan mempengaruhi
suasana lingkungan pura. Ada pula letak tanah tidak baik, yang
disebut dengan amada-mada Bhatara, yakni tanah rumah yang
dimiliki berseberangan jalan dengan rumah saudara kandungnya.

Menerka Tanah
Keadaan tanah tidak sepenuhnya datar. Ada tanah
miring, berbukit atau curam. Bagaimana dengan tanah
pekarangan? Tanah pekarangan merupakan tanah untuk tempat

191
berdirinya umah. Kata pekarangan berasal dari kata karang (batu
karang). Tanah dan batu karang adalah sebagai benda mati
yang keduanya memiliki ‗habitat‘ yang sama dan tak dapat
dipisahkan satu sama lain.Perpaduan antara butiran-butiran kecil
(tanah) dengan bebatuan yang padat, di mana perpaduan
keduanya tepat sebagai tempat pijakan semua makhluk hidup di
bumi dan media penghidup di mana tanaman bisa tumbuh.
Tempo dulu garis batas sebelah menyebelah tanah
umumnya tidak menggunakan pembatas fisik (masif) seperti
tembok. Namun menggunakan beberapa jenis tumbuhan yang
ditanam pada garis batas itu, sehingga antara rumah-rumah dan
pekarangan yang satu dengan rumah-rumah yang lainnya hanya
dibatasi pepohonan. Tanah pekarangan (di Bali) yang pada
awalnya berasal tanah sawah maupun ladang diperlukan upacara
(ritual) yang disebut nyapuh.
Di masa lalu ada dikenal suatu ilmu yang disebut tarka,
yang diwariskan oleh generasi sebelumnya (para tetua). Isinya
mengulas tentang bagaimana menerka posisi dan peruntukan
tanah serta bangunan. Lontar Bhamakreti dan Astabumi ada
menyebutkan cara menerka tanah dan peruntukannya. Para
undagi (arsitek) umah Bali mesti tidak sembarangan dan sangat
hati-hati menerka tanah dan peruntukannya, mengikuti lontar
itu.
Menerka (narka) tanah cara Bali adalah dengan
kepekaan hidung. Bau tanah itu dijadikan sebagai alasan
menentukan peruntukan tanah. Caranya, tanah digali sekitar 30

192
cm (atumbegan tanah-sekali cangkul). Lantas diambil dan
dihirup aromanya. Jika bau tanah miik (harum) misalnya, sangat
bagus buat lokasi Pura Kahyangan. Baik pula sebagai tempat
mendirikan puri. Para tetua bilang, jika ingin mendirikan umah,
sedapat mungkin pilih tanah yang berbau lalah (pedas) seperti
cabai. Ini disebut dengan ―sihin kadang warga lan kanti‖.
Artinya, disayangi sahabat dan sanak keluarga. Sangat dihindari
tanah yang berbau bengu (busuk), tak baik untuk tempat
mendirikan umah. Konon mengandung petaka, bikin boros, kerap
bertengkar dan dapat memicu kericuhan penghuninya.
Menurut Ida Bujangga Rsi Somia dalam sebuah majalah
terbitan lokal, tanah di Bali tidak hanya dipandang sebagai
sumber hayati semata, namun juga diyakini sebagai himpunan
(pumpunan) segala filsafat (tatwa) dan ajaran kearifan hidup.
Tanah memiliki arti penting bagi manusia Bali, karena dari
tanahlah semua kebutuhan hidup manusia berasal, seperti
sandang, pangan dan papan. Berasal dan dihidupi dari tanah,
semua berasal dari tanah dan mengambil untuk kelangsungan
hidup dari tanah.
Saat pertama kali seorang bayi menginjak tanah (tuwun
ke tanah) saat bayi telah berusia tiga bulan, atau berusia enam
bulan (satu oton) keadaan itu memiliki makna pada tanah dan
manusianya, bahwa pada saat itulah seorang anak manusia
memohon berkah energi hidup secara langsung kepada Sang Ibu
Pertiwi (tanah).

193
Berstatus Pradana
Juga dalam sebuah majalah lokal (Hindu) Bali, Ida
Pedanda Gde Made Gunung pernah mengungkapkan, bahwa
manusia Bali punya pandangan hidup yang menganalogikan
bumi (tanah) sebagai Ibu, berstatus sebagai pradana, feminim,
juga berarti labil. Sementara langit berstatus purusa. Dari
pertemuan langsung energi bumi (pradana) dan energi langit
(purusa) berupa sinar matahari terjadilah penciptaan (prakerti).
Tanah dengan demikian menjadi tempat persemaian
pembenihan. Dari sinilah muncul tradisi upacara bhuta yadnya di
Bali, yang mesti digelar di ruang terbuka-yang disebut dengan
natah.
Boleh dikata natah bermakna sebagai medium, di mana
sinar matahari sebagai kekuatan sempurna. Natah dalam
pekarangan rumah, secara konseptual, menjadi sangat penting
keberadaannya. Natah menjadi sentrum atau pusat pekarangan,
sama dengan catus patha bagi wilayah desa pakraman, di mana
sinar matahari bebas hambatan menembus langsung bumi.
Tanah memang investasi yang amat berharga. Dan
natah, betapa penting keberadaannya. Natah ada baiknya tak
dibetonisasi agar menjadi area resapan air. Wilayah resapan air
tak mesti disediakan di zona natah semata, tetapi juga di
kawasan yang lebih luas, terlebih di daerah hulu (pebukitan)
yang pada dasarnya merupakan pemasok sumber air di kawasan
setempat, termasuk danau dan sungai. Sehingga sangat perlu
dihindari adanya penebangan pohon-pohon setempat.

194
Di sisi lain, kini di Bali, rupanya menunjukkan kian
banyaknya tanah orang Bali dibeli oleh orang asing di Bali.
Adakah ini lantaran pengawasan aparat lemah? Apakah mereka
tengah memanfaatkan kelemahan hukum dengan
mengatasnamakan Indonesia? Rupanya di negeri ini tidak ada
aturan yang jelas dan rinci tentang penguasaan tanah oleh orang
asing.
Mungkinkah kelemahan ini dengan sengaja dimanfaatkan
guna memperalat orang lokal untuk menguasai tanah-tanah Bali?
Bukankah ini semacam bentuk ―penjajahan‖ secara halus orang
asing terhadap orang lokal? Begitu pula ditengarai belakangan ini
banyak tanah desa (karang ayah) desa yang dijadikan agunan
Bank, selain tak sedikit pemohon HGB (Hak Guna Bangunan) di
atas tanah diajukan ke pemerintah. Bagaimana nasib tanah Bali
ke depan?
Jika demikian halnya, kepemilikan tanah Bali oleh orang-
orang Bali akan makin berkurang. Alhasil, akan semakin sulit
menemukan tanah yang baik untuk posisi tanah maupun
peruntukannya. Berbagai jenis tanah yang baik sebagaimana
disebutkan di muka tentu semakin langka diperoleh, karena alih
fungsi lahannya, atau jika kian lama makin banyak di atas tanah
dibangun untuk sesuatu yang kurang sesuai dengan kebutuhan
masyarakat Bali. Itukah yang terjadi kini?

22 Mei 2007

195
196
Monumen
dan
Taman

197
Patung I Gusti Ngurah Rai

Perjalanan Perjuangannya Perlu
Ditampilkan

Di sisi timur simpang tiga Jalan Raya Airport Ngurah Rai
Jl. I Gusti Ngurah Rai (by pass jurusan Nusa Dua) Bali, berdiri
patung diri I Gusti Ngurah Rai-sosok pahlawan nasional asal Bali
yang dikenal di seantero Nusantara. Spirit bergerilya dan niat
bakti yang tulus membela bangsa dan Negara, menyatakan ―api‖
keberanian yang tak tanggung-tanggung, ―Merdeka atau Mati‖.
Sehubungan dengan Hari Puputan Margarana 20 November
2005, ada baiknya sekilas diulas dan disimak kembali tentang
apa yang tersirat dan tersurat dari patung pahlawan ini.
-----------------------------------------------------------------------------
LANDASAN dari patung pahlawan I Gusti Ngurah Rai ini
dirancang oleh arsitek Ir. Robi Sularto (alm). Pada prinsipnya,
landasan patung itu terdiri dari tiga tipe atau kelompok anak
tangga (undag) dan satu bagian alas yang berada langsung di
198
Gambar 79. Patung I Gusti Ngurah Rai. (Foto: ING Suardana).

bawah patung. Ukuran ketinggian masing-masing anak tangga
berada di setiap kelompok anak tangga.
Tujuh anak tangga pada dasar paling nawah terdiri atas
8 (delapan) buah anak tangga, berbentuk setengah lingkaran.
Bagian lengkung mengelilingi sisi kiri, belakang dan sisi kanan.
Di lapisan landasan kedua, dimensi ketinggian masing-masing
anak tangga kelihatan lebih tipis (rendah), terdiri atas 7 (tujuh)
buah anak tangga. Kelompok anak tangga pada bagian ini
berpola lingkaran penuh.
Pada kelompok anak tangga di atasnya, undagnya
berjumlah 5 (lima) anak tangga, denahnya berpola segi empat
terpancung. Di atas kelompok anak tangga inilah berdiri
landasan yang tertinggi (tempat berdiri patung) berbahan
marmer warna abu-abu. Tampaknya beberapa bagian marmer
di permukaannya-saat ini-terlihat lepas atau mengelupas.

199
Bentuk dasarnya juga segi empat terpancung, semakin ke atas
kian menguncup.
Jika masing-masinganak tangga tersebut ditambahkan,
totalnya berjumlah 20 (dua puluh) anak tangga (8+7+5). Boleh
jadi angka 20 itu bermakna sebagai tanggal terjadinya peristiwa
histories ―Puputan‖ yakni pada 20 Nopember 1946.
Sementara patung yang terwujud dari buah tangan
pematung Surya Pranawa ini, mungkin dari bentuk fisik sudah
bisa dikatakan menyuratkan sosok pahlawannya. Namun
bagaimana mengenai spirit atau taksu (kharisma) patung yang
dipancarkannya?

Batas Tipis
Nah, dalam proses pembuatan patung yang dikerjakan di
Yogyakarta ini, tak kalah penting peranan dari I Gusti Ngurah
Pindha (alm), mantan anggota pasukan pimpinan I Gusti Ngurah
Rai, selaku nara sumber bagi pematung, pemberi gambaran
sosok dan tabiat mulia-berwibawa dari pahlawan I Gusti Ngurah
Rai.
Dari tatanan ruang (spasial), tampaknya patung ini
hanya memiliki batas yang amat tipis dengan jalan. Konsep
ruang lokal (di Bali), sudahkah menjadi acuan dalam rancangan
tapak yang tertuang dalam wujud fisik visual patung pahlawan
yang kita hormati ini?
Landasan patung, sedari atas hingga pada lapisan
terbawah, sepertinya, tak ada menampilkan ornamen atau ragam

200
hias bercitra Bali. Tak adakah upaya untuk menempatkan relief-
relief pada bidang-bidang vertical landasan patungnya?
Memvisualisasikan kisah perjalanan perjuangan pahlawan I Gusti
Ngurah Rai yang dikenal dengan ―Long March Gunung Agung‖
bersama anggota pasukan pejuang Bali tidakkah perlu?
Perjalanan panjang ―Junu-Juli‖ diawali dari pertemuan
yang terjadi di Sekumpul dan Pangkung Bangka (Buleleng),
penyerangan Pos NICA di Lampu (Bangli), Pertempuran di Bon
(Badung), pertempuran di Pemuteran, Pesagi dan Tanah Aron
(Karangasem) yang terjadi pada Juni dan Juli, hingga puputan
Margarana pada 20 Nopember 1946.
Perjalanan historis perjuangan itu mungkin perlu
―ditayangkan‖ dalam media rupa patung pahlawan I Gusti
Ngurah Rai.
Di antara perkembangan keramaian lalu lintas dan
bangunan-bangunan yang kian menjamur di sekitarnya,
keberadaan ―visual‖ patung I Gusti Ngurah Rai tampak makin
―tenggelam‖. Memang dimensi besar dan ketinggian patung
sepatutnya disesuaikan dengan skala jarak pandang. Namun
dalam kondisi seperti sekarang, sudah memadaikah? Atau
mungkin perlu lebih diangkat landasannya?
Hal ini semestinya sudah diprediksi sebelumnya saat
membuat konsep rancangan. Terlebih posisi berdiri patung ini
merupakan sebagai titik tangkap garis lurus dari pintu gerbang
Bandara Ngurah Rai. Guna lebih menghidupkan citra sebuah

201
patung pahlawan nasional asal Bali, yang dihormati dan dihargai
jasa-jasanya.

Nuansa Lokal
Selain itu, tampilan wujud patung beserta landasannya-
diharapkan-bernuansa lokal (Bali), mungkin perlu dilengkapi
fasilitas untuk aktivitas pengunjug. Semisal ada ruang duduk-
duduk, ruang diskusi, tempat beristirahat, atau semacamnya,
yang mungkin bisa ditempatkan di belakang lokasi patung.
Perihal itu bisa dilakukan tentunya, tanpa merusak lingkungan.
Bahkan dengan adanya fasilitas itu lebih mendorong masyarakat
untuk senantiasa merawat dan memelihara lingkungan di
sekitarnya, seperti adanya banyak pohon ketapang, mangrove,
dan sebagainya.
Mungkin, guna lebih mengangkat nilai-nilai magis,
spiritual religius, sebagai kearifan lokal yang berlaku di Bali, bisa
dilengkapi pula dengan palinggih pamacapa(penolak bala) di
depan posisi patung yang berhadapan dengan jalan lurus Airport
Ngurah Rai. Itu lantaran letak patung tersebut berada pada
posisi numbak rurung. Boleh jadi diperlukan, terutama bila
kemudian disediakan ruang-ruang untuk aktivitas-aktivitas di
sekitar atau dibelakangnya.
Nah, apa yang bisa dilestarikan dan dikembangkan ke
depan tak lain demi untuk lebih dapat dihayati pewarisan nilai
historis perjuangan pahlawan kepada generasi penerusnya.
Spirit perjuangan yang tak boleh redup, tak kunjung luntur.

202
Sesuai dengan swadharma masing-masing, hendaknya
senantiasa berjuang, bekerja dan berdoa menuju terwujudnya
peradaban yang lebih luhur.

20 November 2005

203
Rancangan Taman Bung Karno

Ruang Publik, Titisan Spirit Bali

Beberapa bulan lalu, telah diselenggarakan Sayembara
Perancangan Taman Bung Karno. Pesertanya, selain dari Bali
juga daerah lain. Lewat penilaian para juri, didapatlah hasil
beberapa desain terbaik. Lahan yang dilombakan sebagai lokasi
taman tersebut adalah bekas pusat pemerintahan Kabupaten
Badung di Jalan Gatot Subroto Denpasar. Apa saja yang bisa
disimak dari rancangan itu?
---------------------------------------------------------
TENTU sudah dimaklumi bersama, Kota Denpasar telah
dicanangkan sebagai kota berwawasan budaya. Ini suatu upaya
untuk mendukung identitas Kota Denpasar. Saat ini agaknya
ketersediaan ruang-ruang public ditengarai tak seimbang dengan
jumlah penduduk yang ada. Keterbatasan ruang terbuka hijau
sebagai ruang public kiranya dapat mengakibatkan lingkungan
fisik tak nyaman, selain secara psikologis berpengaruh juga
terhadap prilaku masyarakatnya.
Dipilihnya tempat tersebut lantaran lokasinya
diangnggap amat strategis sebagai ruang terbuka, tempat
rekreasi dan ajang bersosialisasi di antara dinamika kehiupan
masyarakat kota, dalam upaya menuju pola hidup yang nyaman,
nikmat, tentram, bahagia, serta memenuhi syarat kesehatan,
baik secara fisik maupun psikologis. Lahan yang disediakan pun
204
memiliki luasan 5,57 hektar, dengan persyaratan luas total
bangunan terhadap luas lahan (koefisien dasar bangunan) tak
boleh lebih dari 15%.

Lima Terbaik
Tim juri sayembara perancangan Taman Bung Karno
(TBK) dibentuk demikian selektif, terdiri dari tokoh sejarah,
budaya, ekonomi, pariwisata dan arsitektur. Dari hasil penilaian,
lahir lima karya
terbaik. Kelima
peserta yang
mengusung karya
terbaik tersebut
yakni Nyoman
Nuarta (Bandung),
Gusti Made Putra
(Denpasar), A.A.
Gd. B. Edyana, ST.

(Denpasar), CV. Gambar 80.Inilah salah satu desain rancangan
Taman Bung Karno (BK), salah satu dari lima
Cipta Mandala karya terbaik dalam sayembara, dengan
mengambil lahan lokasi bekas Pusat
(Denpasar) dan Pemerintahan Kabupaten Badung di Jalan Gatot
Subroto Denpasar.
Saraswati & Tekom
(Denpasar).
Pada dasarnya, para peserta tersebut dianggap telah
memenuhi lima aspek criteria penilaian yang dipakai acuan para

205
Dewan juri, antara lain mencakup: aspek kesejarahan, estetika,
simbolik, fisik dan ekonomi/pariwisata.
Rancangan Nuarta lebih menekankan TBK sebagai
landmark yang memiliki cirri sangat spesifik dan mengandung
daya pikat wisata. Dalam hal ini lebih difokuskan pada faktor
monumentalitasnya, yang dianggap sangat penting. Lantaran itu
pula pengolahan tapak patung utama Bung Karno (BK) dibuat
agar dapat terlihat dari berbagai arah. Alhasil, patung BK
diberdirikan di tengah, hingga menjadi aksen di tengah taman.
Sementara gugus bangunan yang didesain seperti amphiteater,
restaurant, hingga perpustakaan, menjadi pendukung tamannya.
Nuarta telah berupaya memadukan aspek sejarah dan
seni. Pengenalan Nuarta terhadap karakter BK (selain sebagai
Bapak Proklamator juga kolektor seni) membuat rancangan
taman yang ditampilkannya berkesan dinamis tanpa
mengabaikan konsep-konsep ruang Bali. Nampaknya
monumentalitas patungan sangat kuat mendominasi seluruh
rancangan.
Sementara karya Gusti Made Putra berpijak pada konsep
dasar monumental (agung, berwibawa, sederhana dan
menimbulkan kesan peringatan) dan rekreatif (menimbulkan
suasana indah, santai/rileks, menghibur, dan menyenangkan).
Perancangan arsitektur tamannya menggunakan pola penataan
perempatan agung (catus pata atau tampak dara) sebagaimana
pola penataan yang ada pada puri-puri di Bali.

206
Selain mempertimbangkan sumbu bumi (kaja-kelod dan
kangin kauh) pun mempertimbangkan sumbu mata angina dan
pola telajakannya. Di sisi laijn, ungkapan sosok BK dalam
perencanaan dituangkan dalam bentuk symbol-simbol pada
elemen bangunan maupun monument.

Zaman Kerajaan
Bagaimana dengan karya A A Gd. B. Edyana? Kajian
perencanaan (untuk fungsi-fungsi bangunan) nya bertitik tolak
dari konsep ruang Bali Tradisional. Sementara konsep
filosofisnya merupakan salah satu butir-butir pendekatan, seperti
Tat Twam Asi, tri loka, tri hita karana, bhuana agung, bhuana
alit, manik ring cucupu, desa kala patra, dan dewata nawa
sanga. Di sisi lain, dalam pembuatan rancangan tapak (site
plan), konsepnya mengacu pada tatanan hulu teben, tri mandala,
sanga mandala, swastikasana, tri angga, natah, ragam hias,
warna, fungsi, bahan lokal, ukuran bangunan, dan ketinggian.
Dari aspek rancangannya, konsep taman Edyana
terinspirasi oleh karya arsitektur pertamanan di zaman kerajaan
tempo doeloe yang memiliki fungsi rekreasi. Pusat perhatian
ditunjukkan dengan menempatkan figure BK sebagai
proklamator, penggerak semangat pembangunan mental bangsa.
Sementara symbol tamannya diangkat dari narasi ―Adi Parwa‖,
tentang kisah ―Pemutaran Mandhara Giri‖, secara simbolik
memanfaatkan unsur air, hard scape (unsur keras), soft scape

207
(unsur lunak), unsur estetika, religi, maupun bentuk-bentuk
bangunan yang mencerminkan semangat kehidupan.
Karya terbaik berikutnya dari CV Cipta Mandala, memiliki
usulan program penataan menyangkut program yang bersifat
fungsional maupun program arsitekturalnya. Program
fungsionalnya diterjemahkan secara luas dalam beberapa
aktivitas seperti fungsi rekreasi, belajar, ekologis, budaya dan
psikologis.
Fungsi rekreasi tercermin pada areal terbuka yang
dirancangnya, seperti Taman Lila Cita serta pada monument dan
bangunan museumnya. Sementara fungsi belajar ditunjukkan
dalam rancangan museum BK, area pengenalan dunia sains dan
teknologi modern, perpustakaan, aula diskusi, renungan dan
kajian adapt-budaya Bali dan agama Hindu serta Taman Taru
Pramana. Sedangkan fungsi ekologis desainnya memanfaatkan
penataan taman dan tanaman serta menjaga relasi yang
harmonis dengan sungai (tukad) dan lapangan olahraga yang
ada. Dari sisi fungsi sosial budaya, ungkapannya berupa areal
ruang terbuka guru terwujudnya interaksi social masyarakatnya.
Kemudian untuk menggelar aktivitas yang bernuansa adat, seni
dan budaya Bali direncanakan bangunan wantilan, pura dan
plaza.
Renungan yang juga memiliki fungsi secara psikologis
ini, gubahan yang diwujudkan diharapkan bias mengurangi
tekanan mental masyarakat mengingat padatnya aktivitas
kehidupan yang ada di perkotaan. Area ruang terbuka

208
dimanfaatkan melalui penataan melalui penataan lansekap
bercitra Bali, rekreasi di dalam museum atau hiburan kesenian
Bali yang berlangsung di wantilan pura. Kemudian TBK ini pun
diarahkan pula agar bisa menghasilkan keuntungan (profit),
dimaksud untuk pemanfaatan biaya perawatan taman dan
pemeliharaan gedung dan operasional aktivitas pengelolaan
secara keseluruhan.
Bagaimana dengan program arsitekturalnya? Beragam
aktivitas yang termunculkan melalui fungsi-fungsi yang akan
dikembangkan pada TBK memerlukan ruang sebagai wadahnya.
Program tersebut menyangkut pada kebuituhan jenis ruangnya-
kegiatan rekreasi, belajar, sosial budaya dan psikologi serta
kegiatan ekonomisnya. Lantas, pengelompokan ruangnya
meliputi adanya fasilitas utama (monumen BK), fasilitas
pendukung (ruang pengelola, museum, perpustakaan,
pengenalan teknologi, dll.), fasilitas pelengkap, taman parkir,
Taman Taru Pramana, Taman Lila Cita, pos keamanan, toilet
umum, pedestrian, terowongan penyebrangan, dan sculpture).
Usulan program penataan yang terakhir dari CV Cipta
Mandala ini menyangkut program tapak (site) nya, terdiri dari
beberapa komponen perencanaan seperti tat guna tanah dan
tata ruangnya. Begitu pula aspek sirkulasi dan pencapaiannya,
selain parkir, ruang terbuka, pedestrian ways, street furniture,
signage, activity support, jaringan utilitas kawasan dan
konservasi.

209
Sebagai karya terbaik kelima disandang oleh kelompok
Saraswati dan Tekom, Denpasar. Konsepnya lebih nyata melihat
dari sisi motivasi kedatangan masyarakat bagian barat dan utara
serta pemukiman di sekitarnya. Rancangannya lebih
mencerminkan penyediaan tempat bagi masyarakat agar dapat
menikmati udara segar sembari bersantai bersama keluarganya.
Untuk itu disediakan wadah untuk kegiatan-kegiatan
terjadwal yang dilaksanakan setiap tahunnya, baik berupa
program pemerintah atau pun kelompok-kelompok masyarakat.
Penataannya pun agaknya telah memperhatikan potensi-potensi
yang tersisa pada tapak. Lantaran sarana ruang terbuka kota
TBK ini merupakan fasilitas umum yang tidak komersial.
Kelompok Saraswati & Tekom ini dalam rancangan atau
penataannya, juga memperhatikan masalah perawatan dan
pemanfaatan ruang menjadi ruang-ruang multifungsi.

Belum Lepas
Dari konsep-konsep rancangan yang dibuat oleh kelima
peserta terbaik tersebut, agaknya belum bisa lepas dari
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ruang terbuka kota
TBK (RTKTBK) ini hendaknya menyediakan tempat kebebasan
berekspresi, beraktivitas dan memberikan makna lebih bagi
komunitas, hingga bisa memberi suasana hati yang nyaman,
damai dan tenteram. Dengan kata lain, ruang terbuka kota
merupakanm sebagai sarana aktivitas dan rekreasi yang optimal.

210
Beberapa catatan mungkin bisa dijadikan pertimbangan
dalam rancangan RTKTBK ini, antara lain (1) kelima karya terbaik
ini agaknya perlu memasukkan analisis yang mengaitkannya
dengan perkembangan arsitektur kota, (2) Belum terlihat adanya
konsep dan desain rancangan yang berupaya untuk
memperhatikan kalangan penyandang cacat, lanjut usia, bayi,
dll, dengan menyediakan sarana kemudahan dalam bersikulasi,
misalnya dengan mendesain jalan setapak berupa ramp untuk
orang-orang difabel, (3) Membuat suatu konsep yang memiliki
prospek untuk menjaga dan mengembangkan taman sebagai
unsure keindahan dan kenyamanan kota sebagai unsure
keindahan dan kenyamanan kota serta sebagai tempat rekreasi
masyarakat luas, (4) Diupayakan agar tampil dengan identitas
ke-Baliannya, berlandaskan falsafah Tri Hita Karana, dll., dengan
konsep rancangan yang senantiasa dijiwai oleh kearifan lokal
Bali.
Kiranya, dalam implementasi pembangunannya
didambakan agar merupakan penggabungan atau paduan dari
konsep dan rancangan lima karya terbaik tersebut. Karena
masing-masing peserta memiliki kekhasan dan keunikannya
sendiri-sendiri, atau –paling tidak-bisa mengeliminasi kelemahan
atau kekurangan yang ada. Diharapkan kemudian terwujud
RTKBK secara optimal rekreatif, yang bisa mengakomodasi
kearifan tatanan ruang arsitektural, yang lebih santun dan
manusiawi.
28 Agustus 2005

211
Jejak Historis Pancuran Jagaraga: Ruang
yang Mampu ”Diraba” Jiwa Raga

ARSITEKTUR pancuran sejatinya telah ada sejak awal
peradaban manusia, tatkala manusia mulai mengenal teknologi
yang paling sederhana. Terbawa oleh naluri kehidupan
berkomunitas dan atas kebutuhan bersama untuk mandi serta
keperluan lainnya. Ruang pancuran bukan sekadar bentuk visual
semata, namun adalah juga tempat terjadinya interaksi sosial.
Mengapa demikian? Apa dan bagaimana arsitektur pancuran di
desa Jagaraga yang terletak sekitar 11 km dari kota Singaraja
ini?
Adalah sebuah arsitektur pancuran bernilai historis yang
terletak di Desa Jagaraga. Desa yang di sebelah selatannya
terletak desa Menyali, Sawan, Bebetin dan Sekumpul ini
merupakan pula simpul pertemuan antara desa Menyali dan
Bungkulan.
Sebuah pancuran bukan sekadar pancuran untuk mandi
atau untuk membersihkan badan, tapi juga tempat untuk
bercengkerama, bersendagurau. Di tempat ini pula perbincangan
dan nilai-nilai keakraban terjalin. Dalam sebuah pancuran air
mengalir terus menerus. Setiap orang yang mandi di dalamnya
bisa sepuasnya mandi membersihkan diri. Maka dengan demikian

212
kelangsungan suatu tatanan sosial pergaulan yang baik dapat
terjadi.

Perang Jagaraga
Belum diketahui pasti sejak kapan dibangun pancuran
Jagaraga ini. Ada yang mengatakan pancuran ini sudah ada
ketika terjadi perang Jagaraga tempo dulu. Pancuran yang
berada dipojok depan jaba sisi / teben Pura Desa Jagaraga ini
boleh dikata sebagai salah satu saksi bisu menjelang terjadinya
puncak perang Jagaraga pada 16 April 1849.
Konon laskar perang di bawah pimpinan Patih Jelantik
dan Jero Jempiring melakukan pensucian dan pemberian
kekuatan gaib (pasupati) terhadap peralatan perang, perkakas
atau senjata sebelum berperang melawan musuh (Belanda)
ketika itu, serta melakukan arak-arakan keliling (pradaksina)
mengitari Pura Desa.
Pola berkeliling sebayak tiga kali ini bermakna membawa
keberuntungan serta diyakini memiliki kekuatan-kekuatan magis-
spiritual, sebelum menuju ke medan laga.
Sementara markas perangnya berpusat di Pura Dalem
Jagaraga, yang saat itu disebut pula dengan nama Pura Segara
Madu. Keberadaan Pura Desa juga memiliki keterkaitan erat
dengan Pura Dalem dan Merajan Agung milik kalangan
Brahmana, komunitas Pande Besi di Banjar Pande dan
keberadaan Patih Jelantik di bagian belakang Pura Desa
Jagaraga.

213
Prosesi
pradaksina itu
dimaksud untuk
membangkitkan
semangat perjuangan
rakyat
Buleleng.Rangkaian
upacara masupati
dilakukan Patih
Jelantik bersama para
pejuang diMerajan
Agung.Usai di-
pasupati, peralatan
perang itu secara

Gambar 81&82. Pancuran Jagaraga dari arah
magis "dihidupkan"
timur laut (atas) dan arah dari barat laut
kembali, serta siap
(bawah). (Foto: ING Suardana).
digunakan. Lantas,
berbagai senjata itu - dari tempat penyimpanannya - diarak
melewati depan pancuran Jagaraga, kemudian menyeberang
jalan di depan Pura Desa, melintasi Puri, bergerak ke depan
hingga tiba di bagian belakang benteng Jagaraga.
Ruang Pancuran adalah ruang arsitektural sebagai
‘arsitektur yang humanis‘. Didalamnya berkembang suatu
vocabulary ruang, di mana terjadi pembentukan ruang, peng-
gatra-an ruang, intuisi spasial, efek spasial, dan desain ruang. Air

214
pancuran yang mengucur dari mulut pancuran menciptakan efek
kontinyuitas yang mengalir.
Ruang mandi berupa pancuran boleh dikata sebagai ide
spiritual yang menjadi dorongan hakiki bagi ekspresi berinteraksi
antar orang-orang yang ada di dalamnya. Bisa pula disebut
sebagai ruang yang memiliki kekuatan ‘genetis‘ yang secara
naluriah dimiliki oleh setiap insan. Tempat mandi bersama,
bertukar cerita dan kisah, transparansi dan kejujuran adalah
cerminan dari ruang arsitektural sebuah pancuran.

Fungsi dan Bentuk
Air yang bersumber dari hulu desa Jagaraga, yang
berbatasan dengan desa Menyali ini mengalir ke arah utara,
lantas ditampung dalam sebuah bak besar di sudut depan
halaman jaba sisi pura desa Jagaraga.
Dari dalam bak itu dialirkan ke luar melalui empat
saluran yang keluarannya berupa pancuran, masing-masing
terdiri dari dua buah untuk pancuran laki-laki dan dua lagi untuk
pancuran perempuan. Kedua ruang pancuran itu hanya dibatasi
oleh tembok (sengker) pemisah. Pada setiap paduraksa tembok
panyengker keliling pancuran, di atasnya dipasang patung-
patung, keseluruhan patung menghadap ke utara..
Setiap mulut pancuran dihiasi dengan ornamen estetik
(khas ukiran gaya Buleleng) yang sedikit berbeda tampilan detil
moncong pada mulut pancuran bagian kanan dan kirinya. Ukiran

215
Boma bersayap merupakan ornaman yang spesifik pada
pancuran ini. Tampilan ornamennya ekspresif dan berkarakter.
Ruang pancuran seluruhnya hanya terbagi dalam dua
bilik. Setiap pintu masuk ke dalam pancuran berisi aling-aling.Di
bagian luar (posisi di tengah, di antara kedua pintu
masuk)terdapat sebuah pancuran bagi warga desa yang
memerlukan air

Gambar 83. Suasana di dalam ruang pancuran pria, Pancuran Jagaraga.

untuk keperluan rumah tangga. Bagian ini pun ber-ornamen
Boma bersayap yang mengucurkan air dari ‘mulut‘-nya.
Arsitektur pancuran merupakan pula sebagai salah satu
ekspresi ruang yang mampu ‖diraba‖ oleh jiwa dan raga
manusia. Sifat unik dari ruang arsitektonik pancuran

216
mengkondisikan efek-efeknya terhadap hubungan antar manusia.
Arsitektur sebuah pancuran bisa diartikulasikan sebagai
kombinasi ruang, bidang.massa, unsur garis dan air.
Selain itu pancuran ini menyimpan nilai-nilai bersejarah
dan berkontribusi memberikan kemudahan bagi warga setempat
dalam membutuhkan air. Secara mendasar, ruang arsitektural
sebuah pancuran menggabungkan tiga macam ruang - rabaan,
gerakan dan pandangan dan dengan demikian menyatukan
semua indera manusia yang berhadapan dengan pengalaman-
pengalaman hidup seseorang.

Sentra Permandian
Dulu, pancuran Jagaraga sesungguhnya merupakan
sentra permandian bagi masyarakat/warga desa Jagaraga,
kendati ada pula sebuah tukad (sungai) di sebelah timur desa
sebagai tempat mandi dengan suasana alami. Namun lantaran
tempatnya relatif jauh dari perumahan penduduk maka pancuran
di desa inilah yang ramai dikunjungi, baik tua, muda maupun
anak-anak. Ruang arsitektur pancuran benar-benar turut
memberi kontribusi dalam membentuk dan menumbuhkan
perilaku kebersamaan.
Kini, pola hidup orang-orang di desa sudah semakin
berubah dan berkembang diiringi oleh pembuatan kamar mandi
serta WC di setiap rumah tinggal. Keadaan ini kian menyurutkan
jumlah warga yang mandi di pancuran ini. Agaknya hal itu pula
yang menyebabkan pancuran Jagaraga terlihat kurang terawat

217
dan kurang terjaga kebersihannya. Sebagian lantai yang
berlumut-sehingga licin-bisa menyebabkan orang terpeleset saat
mandi. Dulu aktivitas di sini bukan sebatas mandi, namun
kadang ada juga yang memanfaatkan untuk mencuci pakaian.
Pada bagian ornamen di sekitar lubang pancuran pun tampak
berlumut dan ditumbuhi tanaman merambat.
Mengingat pancuran Jagaraga sangat strategis
tempatnya-di pusat desa atau di Jaba sisi Pura Desa, maka
memang sudah sepatutnya ini tetap dilestarikan dengan
merawatnya. Terlebih keberadaan pancuran ini sejak dulu
memiliki pertalian historis dengan desa Jagaraga itu sendiri. Air
adalah sumber kehidupan. Arsitektur pancuran sebagai wadah
beraktivitas mandi dan ajang ‖berkumpul‖, bersoaialisasi,
berbincang, sendagurau bersama, merupakan sebagai arsitektur
warisan tetua warga desa yang mesti dijaga dan dirawat agar tak
jadi kering dan kesepian.

2 November 2008

218
Pameran
Arsitektur
dan
Lain-lain

219
Pameran Arsitektur di PKB ke-27

Bale Dangin hingga Neo Vernakular

Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-27 bertema ''Sang Kala''
yang digelar di Taman Budaya Denpasar kali ini, selain mewadahi
berbagai kegiatan seni pertunjukan, seni rupa, kerajinan,
makanan khas tradisional, sastra, pameran fotografi, hingga
karikatur, juga ada pameran arsitektur. Pameran yang diikuti
para arsitek dari Bali ini mengambil tema ''Menuju Harmoni,
Arsitektur Hunian di Bali''. Apa saja yang bisa disimak dari
pameran arsitektur kali ini?
-------------------------------------------------------------
IKATAN Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Bali selaku
penyelenggara pameran arsitektur dalam PKB ke-27 ini
memperkenalkan wajah arsitektur hunian di Bali hasil karya para

220
arsitek Bali kini. Sekaligus memberikan gambaran pada
masyarakat tentang seberapa jauh sudah yang bisa dicapai
melalui karya-karya tersebut dan manfaatnya bagi masyarakat,
terutama arsitektur huniannya.
Pameran yang lebih menekankan pada arsitektur hunian
ini dilatarbelakangi oleh adanya isu-isu cukup menarik dewasa
ini, terutama pembangunan di bidang perumahan dan
permukimannya. Namun di sisi lain, arsitektur hunian di Bali --
konon -- tak sedikit berkembang di luar pakem-pakem dan nafas
arsitektur tradisionalnya. Benarkah? Bagaimana hal itu bisa
terjadi? Sejauh mana hal tersebut menjadi kenyataan di tengah
masyarakat?
Keadaan seperti ini tentu merupakan suatu tantangan
bagi arsitek Bali khususnya dan masyarakat Bali umumnya.
Sajian materi pameran berupa perkembangan hunian di Bali,
tidak saja dalam bentuk gambar desain maupun teks atau
konsep, pun dalam bentuk dokumentasi foto arsitektur
huniannya. Dengan demikian adanya pameran arsitektur ini
diharapkan akan mampu memberikan pencerahan ke dalam
karya-karya arsitektur hunian mendatang yang lebih arif dan
kreatif.
Dalam suatu kesempatan, Ketua Pameran Arsitektur, I
Nyoman Gede Maha Putra, ST., mengungkapkan, tujuan dari
penyelenggaraan pameran arsitektur ini adalah selain
memberikan gambaran perkembangan karya arsitek Bali di
bidang hunian melalui media pameran, juga sebagai sumbang

221
saran bagi
pengembangan
arsitektur Bali ke
depan. Sasaran
dalam pameran kali
ini adalah sebagai
media penyampaian
informasi karya
arsitek kepada
masyarakat luas.
Pun dalam artian
Gambar 84. SUASANA PAMERAN – Suasana
pengunjung pameran arsitektur dalam PKB ke- membangun iklim
27 di Taman Budaya, Denpasar.
diskusi yang intensif
di kalangan arsitek dalam rangka turut berperan aktif dalam
pengembangan arsitektur mendatang.
Sementara Ketua IAI Ir. Made Widnyana Sudibya, IAI,
juga selaku penanggung jawab pameran arsitektur di PKB kali ini
mengemukakan, adanya pameran ini adalah sebagai sosialisasi
profesi arsitek dan karya arsitektur kepada masyarakat luas.
Selain memberikan pengertian yang luas, secara pasti bersama-
sama bergerak menuju tertib membangun. Karena itu, tema
pameran setiap tahun harus berganti. Pameran kali ini terkait
dengan rumah tinggal, dengan menampilkan gambar atau foto-
foto hasil penelitian, pendidikan arsitektur dan karya desain
arsitektur dari kalangan praktisi profesi arsitektur, dengan
melihat terjemahannya dalam arsitektur di lapangan.

222
Para arsitek yang turut pameran dalam PKB ke-27 ini,
antara lain Grup Sian "D" sain (Ketut Siandana, ST, Eka Wijaya,
ST, Ngurah Wiranatha, ST. dan Yudhiarta, ST), Ir. IB Pt. Arga
Utama, I Kadek Pranajaya, ST., IAI., Ir. Nyoman Popo Priyatna
Danes, IAI (Popo Danes Architect), Balle Desain, I Made
Sukarmayasa, ST., Ir. A.A. Ayu Oka Saraswati, MT., IAI, I Ketut
Rana Wiarcha, ST, Arte Architect & Associates (Ir. Ketut Arthana,
IAI., dkk.), Candi Bali International, Ir. I Wayan Suantra, I
Nyoman Gede Maha Putra, ST., Gede Arista Gunawan, ST., MM.
dan Ir. I Ketut Sarjana, IAI. Sementara dari Perguruan Tinggi,
seperti Program Studi Arsitektur Universitas Dwijendra Denpasar
dan Himpunan Mahasiswa Arsitektur Universitas Udayana.

Sebagai Simbol
Masing-masing peserta mencoba menampilkan ciri khas
keunikan hasil penelitian atau pun karya-karyanya. Mulai dari
sajian tipologi bale daja dan bale dangin. Ini merupakan suatu
penelitian untuk dokumentasi arsitektur Bali tradisionalnya, yang
memiliki kontribusi terhadap pesatnya pembangunan di Bali kini.
Seperti contoh yang digelar oleh AAA Oka Saraswati, berupa bale
sakutus, bale sakutus mamben, sampai bale saka ulu. Menurut
Oka, bale daja dan bale dangin masih bertahan dalam
transformasi umah Bali. Kedua bale ini pun tidak mati dengan
bentuk awalnya, tetapi juga berkembang mengalami
transformasi.

223
Selain itu, Popo Danes menampilkan karyanya -- Vila
Tiara Nusa, Smara Bai, sampai Villa Cemara. Dari karya-karyanya
itu Popo senantiasa berupaya berpijak pada rancangan yang
simplistis dan sinkretis, di tengah atmosfer alam dan budaya Bali.
Dari sisi sketsa rancangan arsitektur hunian, ada ditampilkan
oleh Siandana dalam karyanya Dive Resort dan Thai Rest in
Millano. Tarikan garis artistiknya mampu membangkitkan
ekspresi rancangannya lewat sajian free hand.
Sementara I Ketut Rana Wiarcha dan I Wayan Suantra
menampilkan konsep sebuah rumah berjudul "Membangun
Rumah Menata Lingkungan". Menurut Rana, rumah sebagai
hunian adalah sebuah inventaris, menjadi investasi dan
simbolisasi. Ia menampilkan konsep dasar rumah, menyangkut
kenyamanan, luasan site, pola sirkulasi, sarana dan suasana
lingkungan. Di sisi lain, Suantra mendefinisikan sebuah rumah
sebagai tempat orang (civitas) tinggal, beraktivitas, mengabdi,
mendidik, sarana berintegrasi, berkomunikasi dan ber-rekreasi.
Dikemukakan, rumah merupakan salah satu tuntutan dalam
menjalani kehidupan.
Sajian lain, rumah Sederhana type 80/150 karya Ketut
Sarjana merupakan hasil transformasi rumah bercitra Bali dengan
bangunan gaya kolonial, sedikit mediterania atau style Art Deco.
Tritisannya yang relatif pendek dan bentuk atapnya tanpa
patahan, mengurangi kesan bangunannya sebagai arsitektur
tropis. Sepatutnya sebagai bangunan tropis, tritisan dibuat lebar,
untuk mengurangi tampyas air hujan dan panas matahari.

224
Kelompok "Candi Bali Internasional" menampilkan karya-
karyanya seperti Queen Villa dan The Asmara (keduanya
berlokasi di Sawangan-Nusa Dua) sampai Taman Wana Forest
Villa (Bali Barat) dan Blue Ocean Resort, Nusa Dua Bali.
Sementara "Balle Design" menyajikan rancangan Umah di Beji,
Seruni Recidence dan Tunjung Recidence. Pada bagian lain
Kadek Pranajaya menampilkan karya arsitektur The Ulin Villas &
Spa. Dan Arte Architect tak ketinggalan menggelar karya Uma
Alas (Krobokan) dan Mertasarino (Sanur). Dalam karya-karya ini
dapat dilihat cerahan kreativitas yang beranjak dari fungsi yang
mencoba tetap berakarkan nilai-nilai dan pemaknaan local genius
"atmosfer" Bali.

Rancang Apartemen
Di pameran ini, Program Studi Arsitektur Universitas
Dwijendra menampilkan semacam hasil penelitian pada suatu
tempat yang memiliki ciri khas masing-masing Kabupaten/Kota
dalam arsitekturnya. Gelaran style "Bebadungan" yang
memberikan nilai spesifik terhadap arsitektur yang ada di
Kabupaten Badung/kota Denpasar ini, beranjak dari topik yang
diusungnya, "Konservasi Arsitektur Bali Tradisional (Bebadungan
style) Menuju Kota Denpasar Berwawasan Budaya".
Dari Himpunan Mahasiswa Arsitektur "Wiswakarma"
Universitas Udayana ikut serta memamerkan hasil karya atau
gagasannya yang bertulis "D‖ Nature des Swamp Apartement",
berlokasi di Jl. Uluwatu, Bali, hasil karya I Made Gede

225
Suryanatha, "Lessk More Apartement" karya I Made Dedy
Suaryawan, "The Patra Apartement, Low Class Apartement" (AA
Ngurah K. Dwipayana), "High Class Apartement" ( I Made
Sujana) dan "International Apartement" karya AA Ngurah
Ardhyana.
Soal apartemen tersebut, itu berangkat dari konsep
dasar kenyamanan, keamanan dan ketenangan. Tampilan yang
diwujudkan merupakan suatu terobosan baru, yang oleh
arsiteknya disebut sebagai "Arsitektur Neo Vernakular". Menurut
mereka, gagasan desain bentuk gedung tinggi berlantai banyak
ini dirancang sebagai solusi untuk mengefisiensikan lahan
permukiman yang sangat terbatas di Bali. Neo Vernakular terlahir
lantaran adanya kecenderungan kalangan orang-orang yang
berekspatriasi ke Bali menyenangi etnik Bali, hingga segala
sesuatu yang ada di Bali secara kognitif bernuansa etnik Bali.
Nah, tak ketinggalan melengkapi pameran kali ini ada
"Dokumentasi Upacara dan Arsitektur" berupa rekaman foto-foto
delapan pura Kahyangan Jagat di Bali, seperti Pura Ulun Danu
Batur, Pura Besakih, Lempuyang Luhur, Luhur Andakasa, Goa
Lawah, Luhur Uluwatu, Luhur Watukaru dan Pucak Mangu. Foto-
foto itu merupakan hasil jepretan Ir. Made Widnyana Sudibya,
IAI dan Ir. Komang Prayatna Sudibya.

Akar Kultur
Tempat hunian boleh dikata cermin diri pemiliknya, yang
masih terikat dengan konsep berhuni, meliputi seperangkat

226
kegiatan rutin maupun ritualnya. Hal ini dapat dilihat pada umah
Bali tradisionalnya, yang sejatinya menggunakan unit-unit
pengukuran ragawi antropometrik, berpatokan pada elemen
tubuh pemilik rumah. Adanya aturan atau ketentuan-ketentuan
dalam arsitektur Bali tradisional, seperti Asta Kosala-kosali, Asta
Bumi, Brahmakretih, dll., mengindikasikan bahwa ruang yang
dihuni pada dasarnya adalah ekstensi tubuh pemiliknya, dan
pantulan dari kepribadiannya yang menyatu dengan
"kepribadian" komunitas masyarakatnya.
Kini di zaman kemajuan teknologi, telekomunikasi,
informasi digital dan virtual, pertumbuhan pariwisata dengan
segala kebutuhannya, serta beragam perkembangan yang
multidimensional, merupakan konsekwensi alkulturasi di era
global. Maka setiap rancangan arsitektur hunian atau rumah,
semestinya tetap berpijak pada akar kultur dan kondisi alam
tropis lokal, serta memahami denyut getaran hati nurani
pengguna arsitektur hunian itu sendiri, dengan kreasi ruang dan
bentukan fisik rancangan sang arsitek melalui karya
arsitekturnya.
Nah, bagaimana kira-kira wujud perkembangan
arsitektur hunian di Bali ke depan? Bagaimana pula
mengantisipasi dan menjawab tantangan arus globalisasi di
berbagai sisi kehidupan manusia Bali kini dan nanti? Kiranya,
saksi abadi "Sang Kala" akan turut membuktikan kemudian.

3 Juli 2005

227
Pameran Arsitektur PKB XXXI

Pameran Arsitektur kembali menyemaraki ajang Pesta
Kesenian Bali (PKB) XXXI. Pameran arsitektur tahun 2009 ini
adalah kesertaan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Bali ke-6
kembali, sejak tahun 2004. Sebelumnya pada 1970 hingga 1980-
an, IAI Daerah Bali cukup aktif menyelenggarakan Pameran
Arsitektur bersama beberapa Perguruan Tinggi di Bali di setiap
ajang PKB Bali. Bagaimana dan apa yang bisa disimak dalam
sajian pameran arsitektur di ajang PKB kali ini?
---------------------------------------------------------
Pada 2009 ini, pameran arsitektur menyajikan hasil karya
arsitektur yang diisi oleh para arsitek muda di Bali. Pun hasil
rekam visual yang dilakukan oleh IAI Bali, selain tentang
informasi pendidikan arsitektur dari beberapa perguruan tinggi di
Bali-yang memiliki jurusan atau program studi arsitektur, seperti
Universitas Udayana, Universitas Warmadewa dan Universitas
Dwijendra. Tak ketinggalan dari instansi pemerintah yang
kontekstual dengan ranah arsitektur ikut dalam ajang pameran,
seperti BPPPTP-PU.
Tema ―Mulat Sarira‖ sebagai tema sentral dari PKB XXXI,
untuk IAI Daerah Bali memberikan inspirasi dalam merekam
eksistensi pernak-pernik arsitektur yang mewarnai wajah Bali
sebagai wahana introspeksi diri atas identitas Bali dan
arsitekturnya.

228
Adapun maksud diselenggarakan pameran arsitektur
pada kesempatan PKB saat ini adalah:
(1) Merekam dan mewartakan keberadaan arsitektur di Bali saat
ini, sebagai wahana instrospeksi bagi semua insan yang terlibat
di dalam kehadiran arsitektur berkonteks perkembangan dan
makna arsitektur Bali serta arahnya menuju kehadiran arsitektur
yang laras harmoni; (2) Memberikan media kepada arsitek muda
anggota IAI Daerah Bali di dalam menampilkan karyanya, serta
ajang pengembangan wawasan dan pengalaman serta empati
terhadap arsitektur Bali dengan berbagai problematikanya, serta
melaksanakan profesi yang sejalan dengan kaidah tatalaku
profesi yang telah digariskan dalam kode etik berprofesi arsitek;
(3) Sebagai media informasi kepada masyarakat luas terhadap
proses pendidikan arsitektur, serta keterkaitan lintas institurional
dalam melangkah membentuk dan mewujudkan arsitek dan
arsitektur di Bali.
Substansi, peserta, materi dan media presentasi dalam
pameran arsitektur PKB XXXI adalah berupa: (a) Rekam visual
kondisi faktual arsitektur komersial di Bali-oleh IAI Daerah Bali,
yang dipresentasikan dalam media photographic, sketsa atau
media lainnya sebagai ―introspeksi‖ terhadap wajah arsitektur
Bali; (b) Arsitektur Kini Beragam Fungsi, karya arsitek muda (di
bawah usia 40 tahun) anggota IAI Bali, dalam beragam fungsi,
yang mewarnai perkembangan dan gerakan perubahan
arsitektur di Bali, dipresentasikan dalam media 3D Visualization,
photographic, sketsa maket, dsb.

229
Gambar 85. Suasana Pameran Arsitektur pada PKB ke-XXXI. (Foto: ING
Suardana).

Dari kalangan Perguruan Tinggi di Bali ( Universitas
Udayana, Warmadewa, dan Dwijendra ) juga turut serta
berpameran, mengungkapkan proses pendidikan arsitektur pada
tatanan ‗sumbang peran‘ dan ‗sumbang pikir‘ institusi ilmiah
terhadap Bali, yang dipresentasikan dalam media photographic,
skema pemikiran, dsb. yang dipamerkan dalam panel informasi.
Arsitektur Udayana menampilkan karya tugas mahasiswa
dalam Menggambar Arsitektur 2 dengan teknik titik dan garis,
Studio Perancangan Arsitektur 2 (Merancang Perumahan),
Pemodelan 3 D Arsitektur dengan judul tugas ‗Interior Sport

230
Arena‘, Studio Perancangan Arsitektur 3 (‗Rental Office‘) dan
Studio Perancangan Arsitektur 4 (Sport Arena). ;
Sementara Arsitektur Warmadewa menampilkan tugas
mahasiswa, Studio Perancangan Arsitektur 4 (Habitat of
Warmadewa) dalam konsep Green Architecture yang mengambil
lokasi di jln. Cok Agung Tresna. Baik Udayana maupun
Warmadewa menampilkan pula tugas mahasiswa dalam bentuk
maket.
Pada panil yang paling selatan, dipamerkan hasil studi
awal Morfologi arsitektur Candi Bentar di Pura Agung Gunung
Raung, Desa Taro Tegallalang-Ubud Gianyar, kajian arsitektur
yang disajikan oleh Program Studi Arsitektur Universitas
Dwijendra-Denpasar.
Bagaimana dengan Instansi Pemerintah. Pada ajang
pameran arsitektur kali ini Badan Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Pembangunan Tradisional (BPPTPT) Bali menyajikan
Bambu Laminasi pada Bangunan/ Rumah Tradisional. Baik
mengenai bahan bangunannya, komponen bangunan, tampilan
bangunan rumah tradisional serta sifat mekanis ba(d) Pranata
Arsitektur oleh Instansi Pemerintah di Bali (Bmbu dan bambu
laminasi. PPPTP.
Karya apa saja yang ditampilkan oleh kalangan arsitek
muda? I Gusti Lanang Wiantara menyajikan Konservasi Puri
Agung Blahbatuh. Anneke Prasyanti, ST menyajikan karya
arsitekturnya, seperti Villas Hotel, Residential, Health Facilities,
Office, dll. Pada panil yang lain, Nova Ktristina menampilkan

231
karyanya berupa Kreasi Rumah Indonesia. Lantas Kadek
Pranajaya dengan karyanya The Seiryu Villa-Seminyak.
Salah satu arsitek muda yang juga dosen arsitektur
Universitas Udayana, I Wayan Wiryawan, ST, MT, tampil sedikit
beda dengan menyajikan secara visual kajian akademis tentang
Proses Belajar Mahasiswa Studio Arsitektur. Gede Arista
Gunawan, ST, MM, IAI menyajikan karyanya yang apik ‗Private
Villa‘ di Kedungu-Tabanan.
Karya-karya berupa Villa juga ditampilkan oleh arsitek
muda dari ‗Crea Bali‘, I Gusti A. B. Arimbawa, ST, MT & A.A. Gde
Raka HS, ST. Karyanya Hard Rock Radio, Central Parking-Kuta,
Cascade Villa di jln. Saraswati Kuta dan Private House di jln.
Dewi Madri-Renon, Mr. Ron‘s Private House di jln. Bidadari-Kuta.
Agak berbeda dengan Akasa Bali Architect, karya-karya
arsitekturnya bukan villa, melainkan Desain Perencanaan:
Penataan Pura Pusering Tasik, Desa Bangbang-Tembuku-Bangli.
Selain itu ada karyanya berupa Kolam Renang di Singaraja. Pun
Perencanaan Monumen Perang Jagaraga di Desa Jagaraga-
Buleleng, Monumen Panji Landung di Buleleng, dan Perencanaan
Pura Desa Lan Puseh Desa Yeh Embang Kauh-Jembrana.
Dari Jeghier Architect Indonesia, bukan hanya villa saja
yang digelar dalam pameran kali ini, seperti villa Surgawi
Cemagi-Bali dan villa Frana, Sanur Bali, namun juga restoran,
seperti Verandah Restaurant di Kualalumpur-Malaysia.
Dari arsitek muda kalangan perempuan, seperti Komang
Sulastini, ST juga menampilkan karya kreatifnya, Hans Witt

232
Private Villa. Begitu pula arsitek perempuan Wara Urwasi
bersama Wibawa Patra, menyuguhkan karyanya 4 D Movie
Theatre, Akana Bar & Meeting Room serta Make Over Photo
Studio-Sunset Road, Kuta.
Ada karya kajian dari arsitek muda yang bertajuk
Arsitektur dalam Bingkai Proses. Kemudian karya-karya lainnya
seperti: Coconut Grove Estate-Sanur, Sakura House-Umalas,
Maira Bali-Padang Bai, Batavia Villa-Seminyak. Arsitek muda
lainnya menyajikan hasil rancangannya berupa Villa M Krobokan
dan Sentosa Type Breeze Block.

28 Juni 2009

233
Seberapa Kompleks Penataan
Arsitektur Bandara?

AWAL tahun ini, orang dikejutkan dengan lenyapnya
sebuah pesawat jenis Boeing 737-400 secara "misterius". Kian
padatnya layanan angkutan udara belakangan ini memerlukan
perhatian bersama. Pesawat beserta awak dan penumpang layak
memperoleh jaminan keamanan, kenyamanan dan keselamatan.
Bukan saja saat pesawat berada di udara, namun juga tatkala
mereka ada di darat, menjelang, sedang atau setelah
mengudara. Terkait dengan aktivitas angkutan udara dan
layanan itu, tentu tak bisa dipisahkan peran dan fungsi sebuah
bandar udara (bandara). Apa saja yang bisa disimak dari
arsitektur bandara? Demikian komplekskah rancangan sebuah
bandara?
----------------------------------------------------------
Berdasarkan data statistik yang ada, semisal "Bali dalam
Angka 2006" (Badan Pusat Statistik Propinsi Bali) yang
bersumber dari Administrator Pelabuhan Udara Ngurah Rai-Bali,
banyaknya pesawat terbang yang datang dan berangkat dari
bandara ini selama 2005 nyaris 30.000-an. Pesawat berangkat
sejumlah 29.721, meningkat 5,68% dari tahun 2004 dan
kedatangan 29.633 kali penerbangan, meningkat 5,47% dari
tahun 2004.

234
Sementara pada tahun yang sama jumlah penumpang
berangkat mencapai 3.191.695 orang (meningkat 7,14%). Yang
datang 3.162.426 (meningkat 7,58% dari tahun 2004), dan
transit 151.729 penumpang (meningkat 41,88% dari tahun
sebelumnya). Nah, bagaimana mengantisipasi perkembangan
tersebut ke depan, terutama menyangkut arsitektur bandaranya?
Bandar udara atau bandara memiliki pengertian yang
berasal dari kata "bandar" (tempat berlabuh) dan "udara".
Bandara dalam bahasa Inggris adalah airport, menurut G&G
Meriem Company (1959) memiliki pengertian "suatu tempat di
darat atau di air di mana pesawat udara dapat mendarat untuk
menurunkan atau mengangkut penumpang dan barang,
mengadakan perbaikan atau mengisi bahan bakar. Maka,
arsitektur bandara dapat diartikan sebagai suatu wadah yang
berfungsi menampung perpindahan orang atau barang dari suatu
mode angkutan ke kendaraan udara atau sebaliknya. Di
dalamnya menyangkut bangunan terminal (terminal building),
tempat parkir pesawat terbang (apron), parkir kendaraan darat,
jalan, jalur hijau.
Berdasarkan klasifikasi atau status bandara, menurut
pelayanannya -- sesuai dengan rute penerbangan dan peranan
pemerintah -- dapat dibedakan atas: bandara internasional,
bandara domestik, bandara internasional dan domestik. Status
bandara itu berpengaruh pula terhadap panjang landasannya
yang sesuai dengan jelajah pesawat terbangnya. Berdasarkan
sumber (Ditjen Perhubungan Udara), panjang landasan (minimal)

235
yang dimiliki bandara sesuai status/ klasifikasinya, yakni bandara
internasional 2.350 m, bandara pusat utama 1.850 m, bandara
propinsi 1.250 m, dan bandara perintis (750 m).

Unsur Pokok
Lalu, ada beberapa unsur pokok yang terkait di dalam
angkutan udara? Menurut Kewik Sugiana (dalam "Airport
Terminal Building", 1975) unsur-unsur itu menyangkut: pesawat
udara, terminal, en route (air way, navigation, meteorology
approach control dan radio monitoring). Masing-masing unsur ini
memiliki ketergantungan yang sangat erat satu sama lain,
sehingga jika satu berkembang maka yang lain akan berkembang
juga sejalan dengan urgensinya.

Gambar 86. Suasana di sekitar Bandara Ngurah Rai, Bali. (Foto: ING Suardana)

236
Kegiatan yang menunjang unsur-unsur pokok itu antara
lain, kegiatan (a) pelayanan penumpang dan barang secara
operasional maupun administratif, (b) pelayanan bagi keamanan
penerbangan pada waktu terbang, mendarat atau naik, (c)
pelayanan pesawat terbang dalam hal teknis dan operasional,
serta (d) yang sesuai dengan hukum-hukum internasional
maupun domestik, menyangkut peranan pemerintah dalam
transportasi udara.
Pemerintah sesungguhnya punya peran penting dalam
penanganan sistem angkutan udara. Pengaturan penerbangan
secara aktif menentukan policy angkutan udara, lantaran banyak
dikaitkan dengan masalah-masalah keimigrasian, bea cukai,
karantina hingga politik, selain perundang-undangan menjaga
keselamatan penumpang dan penduduk dari izin-izin
penerbangan.
Bandara berfungsi sebagai suatu tempat dengan segala
perlengkapan beserta gedungnya, dipakai untuk
pemberangkatan, pendaratan dan pelayanan bagi pesawat
terbang dengan segala muatannya, berupa penumpang dan
barang. Artinya, bandara merupakan tempat perpindahan dari
sub sistem angkutan udara ke udara, udara ke darat atau udara
ke air.
Wujud dasar (konfigurasi) suatu bandara umumnya
dikelompokkan menjadi dua bagian, sbb.:
1. Terminal Building yang di dalamnya terdapat (a)
bangunan terminal sebagai fasilitas wadah kegiatan penanganan

237
penumpang dan barang, kegiatan airlines, pengelolaan dan
kegiatan lain yang mendukungnya, (b) hanggar dari pesawat
sebagai wadah kegiatan pemeliharaan pesawat, (c) fasilitas
pemeliharaan bandara, termasuk pemadam kebakaran, (d)
apron, untuk fasilitas bongkar muat barang dan penumpang
serta juga wadah kegiatan pelayanan teknis pesawat.
2. Landasan pacu (runway) yang meliputi prinsip
pengaturan tata letak runway yang dapat dibagi jadi 3 bagian,
yakni: single runway, paralel runway dan divergent runway.
Pengaturan ini dapat dikembangkan lebih lanjut yang
dipengaruhi oleh kebutuhan panjangnya, jumlah dan arah
runway.
Yang penting, sebagai konsep dalam merancang bandara adalah
bagaimana memahami pola kegiatan utama dari bandara itu
sendiri, yang menyangkut kegiatan (1) processing penumpang
dan barang, (2) pelayanan terhadap pesawat udara saat berhenti
berupa penambahan bahan bakar, air, sampai makanan yang
dilakukan oleh perusahaan penerbangan; (3) keselamatan
penerbangan yang memberi petunjuk mengenai kecepatan angin
sampai kondisi cuaca, (4) pengelolaan bandara, administratif,
kegiatan operasional, (5) penunjang berupa pengaturan
kendaraan darat, dan (6) penunjang bandara meliputi
pemeliharaan dan perbaikan pesawat dan bahaya kebakaran.
Rancangan sebuah bandara tentu memerlukan
keterlibatan banyak disiplin ilmu, mulai dari arsitek planner,
arsitek bangunan gedung, desainer interior, sipil, mekanikal-

238
elektrikal, fisika bangunan, meteorologi dan geofisika, ahli
lingkungan, dan lainnya. Wujud yang dihasilkan diharapkan
mampu memberikan kenyamanan dan keselamatan yang optimal
bagi penumpang, pilot, barang, maupun orang-orang yang
terlibat dengan jasa angkutan udara di dalamnya.

Pola Pewadahan
Sebelum melahirkan macam ruang yang dibutuhkan,
tentu harus dianalisis pola pewadahannya sampai kegiatannya.
Macam kegiatan itu antara lain meliputi (1) airlines (agen
penerbangan, penjualan tiket, sampai administrasi dan
operasional), (2) pelayanan umum (kedatangan dan
keberangkatan penumpang, transit, istirahat makan/minum), (3)
persewaan (penjualan suvenir, jasa, surat menyurat,
perhubungan), (4) pengelola bandara (pimpinan, kepala bagian,
staf, dan pelaksana), (5) processing penumpang (pengawasan
atau kontrol), (6) sirkulasi dan utilitas (untuk penumpang
maupun petugas), (7) cargo, (8) pelayanan parkir, dan (9)
penunjang kegiatan (teknis dan jaga).
Beberapa hal lain yang juga sangat menunjang
kenyamanan dan kenikmatan orang-orang yang beraktivitas di
dalamnya adalah antara lain menyangkut penghawaan,
penerangan, akustik, komunikasi, bahaya kebakaran, security
(satpam). Dibutuhkan sistem penghawaan yang baik dan
memenuhi syarat dalam setiap ruangan yang ada. Pada ruang-
ruang yang langsung berhubungan dengan ruang luar seperti

239
lobby keberangkatan dan kedatangan ada baiknya
memanfaatkan penghawaan dan penerangan alam.
Lalu, bagaimana sepatutnya tampilan atau fasad
arsitektural secara keseluruhan? Karena Bandara merupakan
sebagai ‗pintu gerbang‘ utama keluar-masuknya orang-orang
melalui alat transportasi udara, terlebih (misalnya) itu sebagai
Bandara Internasional,
semestinyalah
mampu mengangkat
kearifan filosofi
arsitektur lokalnya.
Konsepsi yang holistik
antara fungsi, pola
aktivitas dan spirit
ataupun roh local
genius-nya akan
mampu melahirkan
harmoni yang estetik.
Sebuah
bandara hendaknya
tidak menjadi tempat Gambar 87. Suasana Ruang Kedatangan
Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali (Foto:
yang membingungkan ING Suardana).

bagi para penumpang.
Orientasi sirkulasi atau arah antara bagian darat (semisal chek-
in) dengan ruang tunggu mesti jelas untuk setiap orang. Begitu
pula sebaliknya, saat penumpang menuju pintu keluar. Memang,

240
untuk mewujudkan sebuah arsitektur bandara yang baik
memerlukan keterpaduan pemahaman konsep pewadahan yang
memberikan kenyamanan dan kenikmatan bagi kelangsungan
aktivitas orang-orang yang bergerak di dalamnya.

4 Februari 2007

241
242
Daftar Pustaka

Aryana, I.B. Putra, M. SS (2007) Indik Karang Panes
(Menyingkap Hunian Manusia yang Mendatangkan
Bahaya), Denpasar: Bali Aga.
Bonta, J P, 1979, Architecture and its interpretation, Rizzoli
International Publications, INC.
Bleicher, Josef, 2003, Hermeutika Kontemporer: Hermeneutika
sebagai Metode, Filsafatdan Kritik, Yogyakarta: Fajar
Pustaka Baru.
Bidja, I Made, 2000, Asta Kosala-Kosali, Asta Bumi, Denpasar:
BP.
Etlin, Richard A, 1994, Symbolic Space, London:The University
of Chicago Press, Ltd.
Gelebet, I Nyoman, Ir., 1981/1982, Arsitektur Tradisional Daerah
Bali, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek
Inventarisasi dan Dokumentasi.
Gadamer, Hans-Georg, 1975, Truth and Method, New York: The
Seabury Press.
Jiwa, Ida Bagus Nyoman, Drs, 1992, Kamus Bali Indonesia,
Bidang Istilah Arsitektur Tradisional Bali, Denpasar:
Upada Sastra.
Pesta Kesenian Bali XIX (Booklet Pameran Arsitektur), (1997),
Arsitektur Masyarakat Balidalam Berbhuana, Denpasar:
Sub. Sie Pameran Arsitektur.
Pesta Seni Bali, 1981, (booklet), KORI Arsitektur Tradisional Bali.
Pesta Seni Bali, 1983, (booklet), Pamerajan.
Suardana, I Nyoman Gde, 2002, Tesis S2, ITS, Makna dalam
Arsitektur ―Umah‖ Bali, Kasus Desa Tengkudak-Bali,Tidak
dipublikasikan.
Suardana, I Nyoman Gde. 2005, Arsitektur Bertutur, Denpasar:
Yayasan Pustaka Bali.

243
244
Tentang Penulis
I NYOMAN GDE SUARDANA lahir di
Desa Jagaraga, Buleleng, Bali, 21
September 1956. Anak ketiga
pasangan I Ketut Taram (alm) dan Ni
Nyoman Paitja (alm) ini memperoleh
gelar sarjana arsitektur (Ir) dari
Fakultas Teknik Universitas Udayana,
Bali, 1988 dan Magister Teknik (MT) Jurusan Arsitektur FTSP
Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS), 2002. Beberapa
karya arsitektur pernah dirancang seperti Matahari Beach Resort
& Spa di Pemuteran, Buleleng, Tarabunga Hotel (kini bernama
Vision Villas) di desa Medahan Gianyar, beberapa rumah tinggal,
ruko, dll. Hobi, selain melukis, main musik dan menulis puisi,
juga gemar menulis artikel di beberapa media cetak, terutama
yang berhubungan dengan arsitektur, seperti di surat kabar ―Bali
Post‖, ―Nusa Bali‖, Majalah ―INDONESIA design‖, Jurnal Ilmiah
FT Universitas Dwijendra ―Anala‖. Buku pertamanya bertajuk
―Arsitektur Bertutur‖ terbit pada 2005. Saat ini duduk sebagai
Anggota Badan Sistem Informasi Arsitektur (Sinfar) Ikatan
Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Bali, periode 2008-2011. Juga
Anggota Seksi Ilmiah Ikatan Alumni Arsitektur (IAA) Universitas
Udayana. Penulis yang beralamat e-mail: suar_bali@yahoo.com
ini, selain menjalankan profesinya selaku arsitek, juga sebagai
dosen tetap pada Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik
Universitas Dwijendra, Denpasar.
245