You are on page 1of 14

LAPORAN PENDAHULUAN

PERITONITIS

I. Konsep Penyakit Peritonitis
1.1 Definisi/deskripsi penyakit Peritonitis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum yan merupakan komplikasi berbahaya
akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (apendiksitis, pankreatitis, dan
lain-lain) rupture saluran cerna dan luka tembus abdomen. (Padila, 2012).

Peritonitis adalah inflamasi peritoneum dan mungkin disebabkan oleh bakteri
(misalnya dari perforasi usus) atau akibat pelepasan iritan kimiawi, misalnya
empedu, asam lambung, atau enzim pancreas. (brooker, 2009).

Peritonitis adalah suatu keadaan yang mengancam jiwa yang sering bersamaan
dengan kondisi bacteremia dan sindroma sepsis.(Dahlan.M, 2004).

Klasifikasi
a. Peritonitis Primer
Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi dirongga peritoneum, kuman
masuk kedalam rongga peritoneum melalui aliran darah / pada pasien
perempuan melalui genital
b. Peritonitis Sekunder
Terjadi bila kuman kedalam rongga peritoneum dalam jumlah yang cukup
banyak
c. Peritonitis karena pemasangan benda asing kerongga peritoneum misalnya
pemasangan kateter.
- Kateter ventrikula – peritoneal
- Kateter peritoneal – jugular
- Continuos ambulatory peritoneal dyalisis. (Padila, 2012).

1.2 Etiologi Peritonitis
Penyebab peritonitis menurut Hughes, 2012 adalah :
a. Infeksi bakteri
1. Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal
2. Appendicitis yang meradang dan perforasi
3. Tukak peptic (lambung/duodenum)
4. Tukak thypoid
5. Tukak disentri amuba / colitis
6. Tukak pada tumor
7. Salpingitis
1

Operasi yang tidak steril 2. terbentuk pula peritonitis granulomatous. 8. trauma atau perforasi tumor. sel-sel yang rusak dan darah. Trauma pada kecelakaan seperti rupture limpa dan rupture hati 4. Bising usus menurun bahkan hilang e. di ikuti oleh ileus paralitik dengan penimbunan udara dan cairan didalam usus besar.4 Patofisiologi Peritonitis Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen kedalam rongga abdomen. Takikaridia h. sel-sel darah putih. iskemia. Takipnea 1.Cairan dalam rongga abdomen menjadi keruh dengan bertambahnya sejumlah protein. mastoiditis. sulfonamide. Diverticulitis (radang usus) Kuman yang paling sering ialah bakteri coli. 3. 1. Rigiditas abdomen c. penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokukus. Tercontaminasi talcum venetum. b. disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis local. terjadi peritonitis yang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing. infeksi. Melalu tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostrdiumwechii. Demam f. stapilokokus aurens. Awalnya mikroorganisme masuk kedalam rongga abdomen adalah steril tetapi dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri. biasanya diakibatkan dari inflamasi. Nyeri tekan pada abdomen d. glomerulonephritis. otitis media. Akibatnya timbul edema jaringan dan pertahanan eksudat. c.Respon yang segera dari saluran intestinal adalah hipermotilitas. lycopodium. streptokokus U dan B hemolitik. 2004). Distensi abdomen b. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas.3 Tanda gejala Peritonitis Menurut Kowalak dan Hughes (2010). tanda gejala yang sering muncul pada pasien peritonitis adalah : a. Secara langsung dari luar 1. Mual bahkan muntah g.(Dahlan. 2 .

Pemeriksaan Laboratorium . maka dapat menimbulkan kematian sel. gangguan sirkulasi dan oliguria. umumnya pasien dengan infeksi intra abdomen menunjukan adanya leukosittosis . 2012). Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. lebih lanjut meningkatkan tekanan intra abdomen. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal.Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. Complete Blood Count (CBC). tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. produk Bungan juga ikut menumpuk.Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus.Cairang dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. seperti misalnya interleukin. Jika deficit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif. Peritonitis adalah komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi. syok. serta muntah.Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi.Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Timbulnya peritonitis peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membrane mengalami kebocoran. masukan yang tidak ada.Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus.(Padila. dapat timbul peritonitis umum. aktifitas peristaltic berkurang sampai timbul ileus paralitik. sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. mengakibatkan dehidrasi.Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen- lumen usus serta oedem seluruh organ intraperitoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu.5 Pemeriksaan penunjang Peritonitis 1. 1. Urinalisis untuk mengetahui adanya penyakit pada saluran kemih 3 .Dengan perkembangan peritonitis umum. Pelepasan berbagai mediator. membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung.Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk diantara perlekatan fibrinosa yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Cairan peritoneal . dapat memulai respon hiperinflamatorius.

tanda-tanda peritonitis. pasien harus di observasi selama 24 – 48 jam. sesak napas akibat desakan distensi abdomen ke paru. Prolapse visera. koloid dan elektrolit adalah focus utama. Foto polos abdomen memperlihatkan distensi disertai edema dan pembentukan gas dalam usus . terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal. Foto rontgen toraks dapat memperlihatkan diafragma. Pemeriksaan Radiologi . 1. Bila tidak ada. tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa tanda-tanda sepsis dengan hemodinamik stabil.6 Komplikasi Peritonitis Komplikasi yang dapat terjadi dari peritonitis adalah : gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. pembentukan luka dan pembentukan abses.(Haryono. 1. Foto tersebut menunjukan udara bebas dibawah diafragma .Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparatomi. Terapi oksigen dengan kanul nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat.Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus di eksplorasi terlebih dahulu. Terapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotic. syok. 2012). 4 . 2. 2012). (Haryono. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. buli-buli dan rectum.7 Penatalaksanaan Peritonitis Pada penatalaksanaan pasien peritonitis penggantian cairan. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparatomi. Foto rontgen abdomen memperlihatkan distensi disertai edema dan pembentukan gas dalam usus halus dan usus besar atau pada kasus perforasi organ visceral. tetapi kadang-kadang intubasi jalan napas dan bentuk ventilasi diperlukan. USG . Analgetik diberikan untuk mengatasi nyeri antiemetic dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. Penatalaksanaan pasieb trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani eksplorasi bedah. hilangnya bising usus.Bila luka menembus peritoneum maka tindakan laparatomi diperlukan. terdapat darah dalam lambung.

bradikin. operasi yang tidak steril dan akibat pembedahan. apatis. 5 .2 Pemeriksaan fisik : data focus 1. 1. somnolen. tukak Inflamasi pada peptic.1. koma dan delirium. disentri. serotonin) di hipotalamus Menyebabkan edema pada dinding abdomen Memicu pengeluaran prostaglandin Gangguan pada lambung (meningkatkan HCI) Pengumpulan cairan di rongga peritoneum Memacu kerja thermostat hipotalamus Reaksi mual dan muntah Kehilangan sejumlah besar Merangsang saraf cairang perasa nyeri Suhu tubuh meningkat Ketidak seimbangan nutrisi Dehidrasi kurang dari kebutuhan tubuh Nyeri Hipertermi Kekurangan volume cairan (Padila. kesadaran yang dapat meliputi penilaian secara kualitas seperti kompas mentis. apendiksitis. Kesadaran dan keadaan umum klien Keadaan umum ini dapat meliputi kesan keadaan sakit termasuk ekspresi wajah dan posisi pasien.8 Pathway (harus sampai masalah keperawatan) Mikroorganisme. Pola persepsi kesehatan atau manajemen kesehatan Mengambarkan persepsi klien terhadap keluhan pada yang dialami klien. dan tindakan yang dilakukan sebelum masuk rumah sakit. GCS (Glasow Coma Skala).1 Riwayat keperawatan Seseorang dengan peritonitis pernah rupture saluran cerna. Rencana asuhan klien peritonitis 2. 2.1. Pemeriksaan fisik Kesadaran fisik yang dilakukan pada klien peritonitis . 2012) II.Spoor.1 Pengkajian 2. komplikasi post operasi. 2. dan status gizinya. Pada klien dengan peritonitis mengeluh nyeri berat dibagian perut sebelah kanan dan menjalar ke pinggang dan umumnya telah dilakukan tindakan dengan obat anti nyeri. divertilikus dan peritoneum operasi yang tidak steril Peritonitis Depolarisasi bakteri Pelepasan berbagai mediator kimiawi Perangsangan pirogen dan virus kesistem GE (histamine. trauma pada kecelakaan seperti limpa dan rupture hati.

kebutuhan jumlah zat gizinya. memori. kondisi kulit dan rambut. adanya nyeri tekan pada abdomen. 8. 4. cairan dan elektrolit. Diet yang diberikan berupa makanan cair seperti bubur saring dan di berikan melalui NGT. merasakan. kekeringan. akral : dingin. Pola Istirahat dan Tidur Pola istirahat tidur mengambarkan kemampuan pasien mempertahankan waktu istirahat tidur serta kesulitan yang dialami saat istirahat tidur. 7. Pola Eliminasi Pada pola eliminasi menggambarkan eliminasi pengeluaran system pencernaan. perkemihan. Pada klien dengan peritonitis didapati mengalami kesulitan tidur karena nyeri. ada tidaknya mual. fungsi respirasi dan fungsi sirkulasi Pada klien dengan peritonitis mengalami letih. integument dan pernapasan. bising usus menurun. meraba dan mencium. 5. instruksi diet sebelumnya. Pola nutrisi-metabolik Mengambarkan asupan nutrisi. dan kemampuan mendengar. selain itu. melihat. turgor kulit menurun akibat kekurangan volume cairan. basah dan pucat.3. Pada pasien peritonitis klien akan mengalami mual. muntah. klien mengalami takikardi. nafsu makan. Pola Nilai dan Kepercayaan Pola nilai dan kepercayaan mengambarkan pantangan dalam agama selama sakit serta kebutuhan adanya kerohanian dan lain-lain. Pola Kognitif Perseptual Mengambarkan kemampuan proses berpikir klien. 6. diet khusus/suplemen yang dikonsumsi. sulit berjalan. ketidakmampuan defekasi. dan gerkana peristaltic usus turun (<12x/menit). selain itu terjadi distensi abdomen. Pola Aktifitas / Latihan Mengambarkan tingkat kemampuan aktivitas dan latihan. jumlah makan atau minum serta cairan yang masuk. 6 . tingkat kesadaran.Kemampuan pergerakan sendi terbatas. Pola nafas ireguler (RR >20x/menit). Vomit dapat muncul akibat proses patologis organ visceral (seperti obstruksi) atau secara sekunder akibat iritasi peritoneal. takipnea. Pada klien dengan peritonitis terjadi penurunan produksi urin. serta sensori nyeri Pada klien dengan peritonitis tidak mengalami gangguan pada otak namun hanya mengalami penurunan kesadaran. kekuatan otot mengalami kelelahan. dan lain-lain.

Pola reproduksi dan seksual Pola reproduksi dan seksual mengambarkan periode menstruasi terakhir. masalah menstruasi. 10. pernah terjangkit penyakit menular sehingga menghindari aktifitas seksual. jumlah anak. Pola peran dan hubungan interpersonal Pola peran dan hubungan menggambarkan status pekerjaan. menstruasi. Pola koping / toleransi stress Pola koping / toleransi stress mengambarkan kemampuan untuk menangani stress dan penggunaan system pendukung Pada klien dengan peritonitis di dapati tingkat kecemasan pada tingkat berat 12. dan masalah seksual yang berhubungan dengan penaykit. kadang putih kecoklatan pernafasan kostal. Pada klien dengan peritonitis terjadi perubahan emosional 11.  Distensi perut 7 . Pada pasien yang telah atau sudah menikah terjadi perubahan Pemeriksaan focus pada peritonitis : 1. Adakah gangguan dalam pelaksanaan ibadah sehari-hari 9. masalah pap smear. konsep diri. Pola persepsi atau konsep diri Pola persepsi mengambarkan tentang dirinya dari masalah-masalah yang ada seperti perasaan kecemasan. Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal dan mengalami hambatan dalam menjalankan perannya selama sakit. mata cekung lidah sering tampak kotor tertutup kerak putih. dan gangguan terhadap peran yang dilakukan. gambaran diri. larangan agama mempengaruhi sikap tentang penyakit yang sedang dialaminya. Pengaruh latar belakang social. Pada pola ini. kemampuan bekerja. kekuatan atau penilaian terhadap diri mulai dari peran. Pernafasan abdominal tidak tampak karena dengan pernafasan abdominal akan terasa nyeri akibat perangsangan peritoneum. ideal diri. dan indentitas tentang dirinya. Inspeksi  pasien tampak dalam mimik menderita tulang pipi tampak menonjol dengan pipi yang cekung. cepat dan dangkal. factor budaya. pemeriksaan payudara/testis sendiri tiap bulan. hubungan dengan klien atau keluarga. pada wanita berhubungan dengan kehamilan.

Foto polos abdomen memperlihatkan distensi disertai edema dan pembentukan gas dalam usus . Urinalisis untuk mengetahui adanya penyakit pada saluran kemih 4.2. umumnya pasien dengan infeksi intra abdomen menunjukan adanya leukosittosis . akibat perforasi usus yang berisi udara sehingga udara akan mengisi rongga peritoneal. Perkusi . atau digambarkan dengan istilah seperti (International Association For the Study of Pain) . Foto tersebut menunjukan udara bebas dibawah diafragma .2 Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul Diagnose 1:Nyeri akut (00132) 2. nyeri lepas dan defense muskuler positif 3.1 Definisi Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang actual atau poyensial. Pemeriksaan Radiologi .2 Batasan karakteristik Subjektif Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan (nyeri) dengan isyarat Objektif 8 . Cairan peritoneal .hipertimpani akibat dari perut yang kembung . awitan yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan 2. Complete Blood Count (CBC). Pemeriksaan Laboratorium .3 Pemeriksaan penunjang 3. 2. Palpasi Nyeri tekan. Auskultasi Suara bising usus berkurang sampai hilang 4.2. 2.nyeri ketok positif . Foto rontgen toraks dapat memperlihatkan diafragma. USG .redup hepar hilang. Foto rontgen abdomen memperlihatkan distensi disertai edema dan pembentukan gas dalam usus halus dan usus besar atau pada kasus perforasi organ visceral.1. pada perkusi hepar terjadi perubahan suara redup menjadi timpani 2.

diaphoresis. 2.2. menangis. rasa tidaknyaman. interaksi dengan orang lain atau lingkungan menurun) Bukti nyeri yang dapat diamati Berfokus pada diri sendiri Gangguan tidur (mata terlihat kuyu. gangguan proses pikir. pernapasan atau nadi.2. mencari orang dan / atau aktifitas lain. dan menyeringai) BATASAN KARAKTERISTIK LAIN (non-NANDA international) Mengomunikasikan descriptor nyeri (misalnya. merintih. fisik. dan psikologis) Diagnosa 2 :Hipertemi (00007) 2. gangguan persepsi waktu.2. dilatasi pupil). mondar-mandir. Posisi untuk menghindari nyeri Perubahan tonus otot (dengan rentang dari lemas tidak bertenaga sampai kaku) Respons autonomic (misalnya. kewaspadaan berlebihan. Wajah topeng (nyeri) Perilaku menjaga atau sikap melindungi Focus menyempit (misalnya.4 Definisi Peningkaan suhu tubuh di atas rentang normal. gelisah. biologis. Perubahan selera makan Perilaku distraksi (misalnya. kram otot. kimia. gatal kulit. perubahan tekanan darah.3 Faktor yang berhubungan Agens-agens penyebab cedera (misalnya. berkeringat malam hari. mati rasa dan kesemutan pada ekstrimitas) Menyeringat Rentang perhatian terbatas Pucat Menarik diri 2. dan menghela napas panjang.5 Batasan karakteristik Kulit merah Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal (frekuensi napas meningkat) 9 . gerakan tidak teratur atau tidak menentu. mual. peka terhadap rangsang. aktifitas berulang Perilaku ekpresif (misalnya.

2.2. Kejang atau konvulsi (kulit) teraba hangat Takikardi Takipnea 2.7 Definisi Asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolic 2.2. informasi yang salah Kurangnya minat terhadap makanan Salah paham Membrane mukosa pucat Tonus otot buruk Rongga mulut terluka Kelemahan otot yang berfungsi untuk menelan atau mengunyah 10 .8 Batasan karakteristik Subjek : Kram abdomen Nyeri abdomen (dengan atau tanpa penyakit) Menolak makanan Persepsi ketidakmampuan untuk mencerna makanan Melaporkan perubahan sensasi rasa (melaporkan) kurangnya makanan Merasa cepat kenyang setelah mengonsumsi makanan Objektif : Pembuluh kapiler rapuh Diare atau steatore (adanya bukti) kekurangan makanan Kehilangan rambut yang berlebihan Bising usus hiperaktif Kurang informasi.6 Faktor yang berhubungan Dehidrasi Penyakit atau trauma Ketidakmampuan atau penurunan kemampuan untuk berkeringat Pakaian yang tidak tepat Peningkatan laju metabolism Obat atau anestesi Terpajan pada lingkungan yang panas (jangka panjang) Aktifitas yang berlebihan Diagnose 3 :Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan (actual/risiko)(00002) 2.

Kurang pengetahuan dasar tentang nutrisi .1 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteria) : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ……. Pengabaian oleh orang tua . Berikan tindakan kenyamanan. frekuensi. Penyakit kronis (sebutkan) . Reflex mengisap pada bayi tidak adekuat .2. contoh pijatan punggung.3 Perencanaan Diagnose 1 :Nyeri akut (00132) 2. Kesulitan mengunyah atau menelan . Factor ekonomi . 2. Gangguan psikologis (sebutkan) 2. durasi) : mengidentifikasi kebutuhan untuk intervensi dan tanda-tanda komplikasi . Akses terhadap makanan terbatas . Pertahankan posisi semi fowler sesuai indikasi : memudahkan drainase cairan / luka karena gravutasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan . Mual dan muntah . 2. Kebutuhan metabolic tinggi . skala nyeri (0-3). termasuk beberapa contoh non-NANDA berikut ini : .2 Intervensi keperawatan dan rasional : . atau ekonomi. 11 . Gunakan komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien : pengalaman nyeri akan menaikan resistensi terhadap nyeri .3. Intoleransi makanan . Observasi kualitas nyeri pasien (skala. latihan relaksasi atau visualisasi : meingkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian.3. psikologis.9 Faktor yang berhubungan Ketidakmampuan menelan atau mencerna makanan atau menyerap nutrient akibat faktor biologis. Maka klien mampu toleransi terhadap nyeri dan mengontrol nyeri dengan kriteria hasil : Data subjektif : klien mengatakan / melaporkan nyeri berkurang Data objektif : ekspresi wajah tampak rileks. napas dalam. Ketergantungan zat kimia (sebutkan) . Hilang nafsu makan .

3. dihidrasi dari proses diagnosis karena dapat menutupi gejala. Energy . Berikan cairan parental sesuai program medis : penggantian cairan akibat penguapan panas tubuh . turgor kulit baik 2. Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian tipis : untuk mengontrol panas . sehingga mempercepat penguapan tubuh. . Atur posisi semi fowler selama pemberian nutrisi : menghindari terjadinya muntah 12 . Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antipiretik : untuk menurunkan panas.3. Berat badan Data subjekti : klien mengatakan nafsu makan meingkat Data objektif : tidak terjadi mual dan muntah. Warna kulit normal . Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik : nyeri biasanya berat dan memerlukan pengontrol nyeri narkotik. .3. dan lipatan paha : kompres hangat memberikan efek vasodilatasi pembuluh darah. Kaji kebutuhan nutrisi pasien : sebagai informasi dasar untuk perencanaan awal dan palidasi data . ketiak. di harapkan kebutuhan nutrisi teratasi dengan kriteria hasil : . Suhu tubuh normal seperti semula Data subjektif : klien mengatakan tidak demam Data objektif : suhu tubuh normal (36-37oC) 2.6 Intervensi keperawatan dan rasional . Diagnose 2 :Hipertemi (00007) 2.3 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteria) : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …….3.4 Intervensi keperawatan dan rasional : . Monitor warna dan suhu kulit : tindakan ini sebagai dasar untuk menentukan intervensi .5 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteria) : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ……. Berikan kompres hangat pada dahi. Diagnose 3 :Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan (actual/risiko) (00002) 2. Intake makanan dan cairan . analgetik. Maka suhu tubuh klien mulai normal dengan kriteria hasil : .

S.M. Kalaborasi dengan ahli gizi dalam diet : agar dapat memberikan nutrisi yang tepat pada klien. D. Daftar pustaka Brooker. & Hughes. Ilmu Kedokteran Pencegahan dan Komunitas. Gawat Abdomen dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. A. .. Penyebab. Kriteria Hasil NOC. Jakarta:EGC Chandra. Intervensi NIC. Keperawatan Medikal Bedah. Judith. Tingkatkan intake nutrisi. Jakarta:EGC Haryono. Jakarta:EGC Padila. (2009). Tingkatkan intake pemberian nutrisi dan sajikan dalam kondisi hangat : untuk meningkatkan intake dan menghindari mual . (2010).Buku Saku Diagnosa Keperawatan : Diagnosa NANDA. (2000).. Sjamsuhidajat. sedikit tapi sering : meningkatkan intake makanan . R. (2009). Jusi. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antiemetic : menurunkan mual/muntah yang dapat meningkatkan tekanan / nyeri intra abdomen . Edisi Revisi. R. Jakarta:EGC Kowalak. (2012). J. III. Yogyakarta:Gosyen Publishing Dahlan.. Mei 2017 Preceptor akademik preceptor klinik 13 . Yogyakarta:Nuha Medika Wilkonson. Jakarta:ECG Banjarmasin. Tip Klinis. Ed 2. B. (2012). C. Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan. M. P.(2012).Ensiclopedia Keperawatan.Buku Saku Tanda dan Gejala : Pemeriksaan Fisik dan Anamnesis.

( ) ( ) 14 .