You are on page 1of 17

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR HUMERUS

A. Konsep Dasar
1. Anatomi Fisiologi Humerus
Humerus atau tulang lengan atas adalah tulang terpanjang dari anggota atas.
Memperlihatkan sebuah batang dan dua ujung.
a. Ujung atas Humerus. Sepertiga dari atas ujung humerus terdiri atas sebuah
kepala, yang membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapula dan
merupakan bagian dari bangunan sendi bahu. Segera di bawah leher ada
bagian yang sedikit lebih rampng yang disebut leher anatomik. Di seblah
luar ujung atas di bawah leher anatomi terdapat sebuah benjolan yaitu
tuberositas mayor dan di sebelah depan ada benjolan lebih kecil yaitu
tuberositas minor. Antar kedua tuberositas ini terdapat sebuah celah, celah
bisipital atau sulkus intertuberkularis, yang memuat tendon dari otot bisep.
Tulang menjadi lebih sempit di bawah tuberositas dan tempat ini disebut
leher cirurgis sebab mudahnya kena fraktur di tempat itu.
b. Batang hymerus sebelah atas bundar, tetapi semakin ke bawah menjadi
lebih pipih. Sebuah tuberkel di sebelah lateral batang, tepat di atas
pertengahan disebut tuberosistas deltoideus. Tuberositas ini menerima
insersi atau kaitan otot deltoid. Sebuah celah berjalan oblik melintasi
sebelah belakang batang, dari sebelah emdial ke sebelah lateral. Karena
memberi jalan kepada saraf radikal atau saraf muskulo-spiralis maka celah
itu disebut celah spiralis atau celah radialis.
c. Ujung bawah humerus lebar dan agak pipih. Pada bagian paling bawah
terdapat permukaan sendi yang dibentuk bersama tulang lengan bawah.
d. Trokhlea yang terletak di sisi sebelah dalam berbentuk gelendong benang
tempat persendian dengan ulna dan di sebelah luar terdapat kapitulum yang
bersendi dengan radius.

2. Pengertian
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, kedaan tulang itu sendiri
dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang
terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Price, Wilson, 2003).
Fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh trauma
atau tenaga fisik (Brunner & Suddarth, 2000).

2007) Umumya fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang. Sedangkan pada orang tua. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpukan bahwa fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang dapat disebabkan oleh trauma. Fraktur Patologis Dalam hal ini kerusakan tulang terjadi akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur. Fraktur Fisiologis Suatu kerusakan jaringan tulang yang diakibatkan dari kecelakaan. perempuan lebih sering mengalami fraktur dari pada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon pada menopause. Etiologi Penyebab fraktur diantaranya: a. b. pekerjaan. Fraktur adalah terputusnya kontuinitast ulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.misalnya jatuh dengan tangan terjulur menyebabkan fraktur klavikula. Dapat terjadi pada berbagai keadaan berikut: 1) Tumor tulang. 2) Cidera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan. . fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya (Smeltzer dan Bare. biasanya fraktur terjadi pada umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga. dan trauma dapat disebabkan oleh: 1) Cidera langsung berarti pukulan lansung terhadap tulang sehingga tulang patah secara spontan. atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. olahraga. Fraktur cenderung terjadi pada laki-laki. terbagi menjadi jinak dan ganas 2) Infeksi seperti Osteomielitis 3) Scurvy (penyakit gusi berdarah) 4) Osteomalasia 5) Rakhitis 6) Osteoporosis ( Rasjad. tenaga fisik. 3.2002).rudapaksa atau oleh penyebab patologis yang dapat digolongkan sesuai dengan jenis dan kontinuitasnya. atau orang tua yang terjatuh mengenai bokong dan berakibat fraktur kolom femur.

Hal ini menyebabkan terjadinya edema. tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cedera. Patofisiologi Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Klasifikasi a. Terjadinya respon inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik ditandai dengan fase vasodilatasi dari plasma dan leukosit. Edema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf. kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Fraktur terbuka Fraktur terbuka atau patah tulang terbuka adalah hilangnya kontinuitas tulang disertai kerusakan jaringan lunak (otot. Fraktur merangsang merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah . pembuluh darah. yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan syndrom comportement. kulit. Akibat dari hal tersebut terjadi perdarahan. Hematom yang terbentuk biasa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. terjadi kerusakan di korteks. Tulang bergenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. sehingga meningkatkan tekanan kapiler.4. sehingga meningkatkan tekanan kapiler di otot. jaringan saraf. b. Farktur tertutup Fraktur tertutup atau patah tulang tertutup adalah hilangnya kontinitas tulang tanpa disertai kerusakan jaringan kulit yang dapat disebabkan oleh trauma langsung atau kodisi tertentu. tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. dan pembuluh darah) yang dapat disebabkan oleh trauma langsung pada area yang terkena. maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medul antara tepi tulang bawah periostrium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. ketika terjadi kerusakan tulang. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang. seperti degenerasi tulang (osteoporosis) 5. Ketika patah tulang. sumsum tulang dan jaringan lunak. Hematom menyebabkan dilatasi kapiler di otot. kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya.

Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Setelah terjadi fraktur. a. 7. terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur. .bengkak. seperti : fungsi berubah. Manisfestasi Klinis Manisfestasi klinis fraktur adalah nyeri. 2002 ). Pada stadium poliferasi sel menjadi fibrokartilago. pemendekan ekstremitas. c. deformitas. Saat eksremitas diperiksa dengan tangan. Pada fraktur panjang. Nyeri hebat di tempat fraktur b. Sel-sel yangberkembang memiliki potensi yang kardiogenik 6. Tanda Dan Gejala a. Tak mampu menggerakkan ekstremitas c. sepsis pada fraktur terbuka. Fragmen sering saling melingkapi satu sama lain 2. Ekstremitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya otot. hilangnya fungsi deformitas.5 – 5 cm (1 – 2 inci). Sel yang mengalami poliferasi terus masuk kedalam lapisan yang lebih dalam dan bergenerasi sehingga terjadi osteogenesis. dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang-tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel. bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti nomalnya. b. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang. krepitus. pembekakan lokal. e. Diikuti tanda gejala fraktur secara umum. d. dan perubahan warna. kripitasi. teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya ( uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cidera ( Brunner & Suddarth. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.

Tidak ada penyatuan terjadi karena kegagalan penyatuan ujung-ujung patahan tulang. luasnya fraktur. tranfusi mulpel atau cidera hati. c. CT scan/MRI :memperlihatkan tingkat keparahan fraktur. Faktor yang ikut berperan dalam masalah penyatuan meliputi infeksi pada tempat fraktur. d. kontak tulang yang terbatas dan gangguan asupan darah yang mengakibatkan nekrosis avaskuler (Brunner & suddarth. Arteriogram : dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler. emboli lemak. Penyatuan lambat terjadi bila penyembuhan tidak terjadi dengan kecepatan normal untuk jenis dan tempat fraktur tertentu. interposisi jaringan diantara ujung- ujung tulang. juga dan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. Pasien mengeluh tidak nyaman dan gerakan yang menetap pada tempat fraktur. Scan tulang. Komplikasi lambat Penyatuan terlambat atau tidak ada penyatuan. Komplikasi awal Komplikasi awal setelah fraktur adalah syok yang bisa berakibat fatal dalam beberapa jam setelah cidera. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah. trauma. 2002). Komplikasi a. Pemeriksaan Diagnostik a. Hitung darah lengkap : Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada multipel trauma) peningkatan jumlah SDP adalah proses stres normal setelah trauma. e. b. yang dapat terjadi dalam 48 jam atau lebih dan sindrom kompartemen. 9. Penyatuan terlambat mungkin berhubungan dengan infeksi sistemik dan distaksi ( tarikan jauh ) fragmen tulang. Pemeriksaan rontgen : menetukan lokasi. dan jenis fraktur. temogram. imobilisasi dan manipulasi yang tidak memadai. . tromboemboli (emboli paru) yang dapat menyebabkan kematian beberapa minggu setelah cidera dan koagulopati intravaskuler diseminata (KID). f. yang berakibat kehilangan fungsi ekstremitas permanen jika tidak ditangani segera. Kretinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk pasien ginjal. Komplikasi awal lainnya yang berhubungan dengan fraktur adalah infeksi. jarak yang terlalu antara fragmen. b. yang menghentikan pembentukan kalus.8.

pin atau sekrup dapat dipasang untuk mempertahankan sambungan. 2008) . Imobilisasi jangka panjang biasanya dilakukan dengan pemasangan gips atau penggunaan bidai. (Elizabeth J. Apabila diperlukan pembedahan untuk fiksasi (reduksi terbuka/ORIF). maupun memasang gips. Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan fraktur mengacu kepada empat tujuan utama yaitu: 1. 2. Untuk mengurangi nyeri dapat diberi obat penghilang rasa nyeri. Sebagian besar reduksi dapat dilakukan tanpa intervensi bedah (reduksi tertutup/OREF). Penyambungan kembali tulang (reduksi) penting dilakukan agar terjadi pemulihan posisi yang normal dan rentang gerak. misalnya dengan pemasangan gips. 339) 3.10. yaitu pemasangan bidai / spalk. Mengembalikan fungsi seperti semula Imobilisasi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan atrofi otot dan kekakuan pada sendi. Maka untuk mencegah hal tersebut diperlukan upaya mobilisasi. Mengurangi rasa nyeri. skin traksi maupun bandaging. serta dengan teknik imobilisasi. Fraktur harus segera diimobilisasi untuk memungkinkan pembentukan hematoma fraktur dan meminimalkan kerusakan. Mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur. Membuat tulang kembali menyatu Imobilisasi jangka panjang setelah reduksi penting dilakukan agar terjadi pembentukan kalus dan tulang baru. Corwin. 4. Trauma pada jaringan disekitar fraktur menimbulkan rasa nyeri yang hebat bahkan sampai menimbulkan syok. (Anonim. 2009.

alasan masuk RS. agama. tidak bisa melakukan banyak aktifitas. penanggung jawab. . mual. No MR. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Riwayat kesehatan 1) Riwayat kesehatan dahulu Tanyakan juga penyakit yang pernah dialami pasien sebelumnya. kondisi fisik yang lemah. alamat. nama (inisial). biasanya pasien mengalami nyeri pada daerah fraktur. cara masuk RS. tanggal masuk RS. Pengkajian a. 2) Riwayat kesehatan sekarang Tanyakan pada pasien dan atau keluarga tentang keluhan pasien saat ini. dan nafsu makan menurun. umur. jenis kelamin. Identitas pasien Meliputi tanggal pengkajian.B. muntah. pekerjaan. Dan ada tidaknya riwayat DM pada masa lalu yang akan mempengaruhi proses perawatan post operasi. b. ruangan. riwayat penyakit pasien yang pernah dirawat dirumah sakit serta pengobatan yang pernah didapatkan dan hasilnya.

Data pola kebiasaan sehari-hari 1) Nutrisi a) Makanan Catat pola kebiasaan makan saat sehat dan sakit. adanya jahitan. konsistensi dan bau serta temuan lainnya) serta keluhan yang dirasakan selama BAB dan kemandirian dalam melaksanakannya. catat porsi makan yang dihabiskan. perlukaan (rinci keadaan luka. bandingkan pada keadaan sakit dengan sehat serta catat karakteristik feses(warna. luas luka. . Tanyakan konsumsi diit atau makanan sehari-hari lainnya pada waktu sakit dan bandingkan pada waktu sehat. b) Defekasi Tanyakan frekuensi buang air besar. bandingkan pada keadaan sakit dengan sehat serta catat karakteristik urine (warna. 2) Eliminasi a) Miksi Tanyakan frekuensi buang air kecil dan perkiraan jumlahnya. c. keluhan saat makan serta kemandirian dalam pelaksanannya. bandingkan jumlahnya pada saat sakit dengan sehat. Catat keluhan yang dirasakan pasien dan kemandirian dalam melaksanakannya. Catat diit yang diberikan rumah sakit pada pasien dan jumlahnya. konsistensi dan bau serta temuan lain) serta keluhan yang dirasakan selama BAK dan kemandirian dalam melaksanakannya serta alat bantu yang dipakai. d. kondisi luka). Pemeriksaan Fisik 1) Keadaan umum pasien a) Tingkat kesadaran b) Berat badan c) Tinggi badan 2) Kepala Amati bentuk kepala. 3) Riwayat kesehatan keluarga Tanyakan pada pasien dan atau keluarga mengenai penyakit yang berhubungan dengan yang diderita pasien saat ini dan penyakit herediter/keturunan lainnya (anggota keluarga dengan riwayat penyakit yang sama). adanya hematom/oedema. b) Minuman Tanyakan jumlah cairan yang diminum dan ragamnya.

e) Bibir : Amati adanya oedema. laserasi. atau lensa. f) Gigi : Amati kelengkapan gigi. keadaanseptum. kondisi luka). reflek cahaya. b) Wajah: Amati adanya oedema/hematom. tuliskan lengkap dengan satuannya. warna. . kondisi gigi dan kebersihanserta temuan lain saat melakukan inspeksi. a) Rambut : Amati keadaan kulit kepala dan rambut sertakebersihannya dan temuan lain saat melakukan inspeksi. lepas dan sampai batas mana daerah yang sakit biasanya terdapat nyeri tekan pada area fraktur dan didaerah luka insisi. warna bibir dan kondisi mukosa bibir serta temuan lain saat melakukan inspeksi. pemasangan drain serta temuan lain saat melakukan inspeksi. diameterpupil. adanya pernafasan cuping hidung dan temuan lain saat melakukan inspeksi (rinci keadaan luka. d. kornea. warna kulit pucat. adanya jahitan. kondisi luka) dan temuan lain saat melakukan inspeksi. 3) Leher Amati adanya pembesaran kelenjar thyroid. kondisi luka). adanya jahitan. c.) Palpasi : Pemeriksaan dengan cara perabaan. dll) keadaan kelopak mata dan konjungtiva serta temuan lainya. g) Lidah : Amati letak lidah. adanya perlukaan. b. luas luka. luas luka. kondisi bola mata (sklera. permukaan (rinci keadaanluka. Ukur jugularis vena pressure (JVP). adanya luka operasi. Lakukan auskultasi pada kelenjar thyroid jika ditemukan pembesaran.) Perkusi : Perkusi biasanya jarang dilakukan pada kasusfraktur. yaitu penolakanotot oleh sentuhan kita adalah nyeri tekan. perlukaan disekitarwajah (rinci keadaan luka.) Inspeksi : Pengamatan terhadap lokasi pembengkakan. adanya sekret pada lubang hidung. kondisi dan kebersihanlidah serta temuan lain saat melakukan inspeksi. c) Mata : Amati kesimetrisan kedua mata.) Auskultasi : Periksaan dengan cara mendengarkan gerakanudara melalui struktur merongga atau cairan yang mengakibatkan struktur sulit bergerak. kemerahan mungkin timbul pada area terjadinya fraktur adanya spasme otot dan keadaan kulit. luas luka. adanya jahitan. Pada pasian fraktur pemeriksaan ini pada area yang sakit jarang dilakukan. kelenjar getah bening dileher serta deviasi trakea. darah atau obstruksi). d) Hidung : Amati keadaan hidung. 4) Dada/thorak a.

adanya luka serta temuan lain saat pemeriksaan. 10) Sistem neurologi (diperiksa lebih rinci jika pasien mengalami penyakit yang berhubungan dengan sistem neurologis) a.) Refleks fisiologis d.) Palpasi : Raba lokasi dirasakan ictus cordis dan kekuatanangkanya. keteraturandan adanya bunyi tambahan. keadaan turgor kulit. c. oedema.) Perkusi : Tentukan batas-batas jantung. d. dan pengisian kapiler.) Reflek patologis e.) Perkusi : Dengarkan bunyi yang dihasikan dari ketukandirongga abdomen bandingkan dengan bunyi normal. suhu bagian akral serta temuan lain saat pemeriksaan. 6) Perut/abdomen a.) Auskultasi : Dengarkan bunyi bising usus dan catatfrekuensinya dalam 1 menit. kebersihan dan pemasangan kateter serta temuan lain saat melakukan inspeksi.) Inspeksi : Amati ictus cordis. adanya massa atau cairan. rasakan suhu kulit.) Glascow Come score b.) Nervus cranial I – XII . adanya luka (rinci keadaan luka). 9) Sistem integumen Amati warna kulit.keadaan kulit.) Tingkat kesadaran c. adanya kemungkinan pembesaran hepar. d. luka bekas operasi pemasangan drain dan temuan lain saat melakukan inspeksi.) Auskultasi : Dengarkan irama denyutan jantung. c. 8) Ekstremitas Amati adanya bentuk.) Palpasi : Raba ketegangan kulit perut. b.5) Jantung a. b. 7) Genitourinaria Amati keadaan genetalia.) Inspeks : Amati adanya pembesaran rongga abdomen.

Rasional: Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan membantu . e. dan cedera pada pembuluh darah. batasi pengunjung. Klen melaporkan nyeri biasanya diatas tingkat cidera. c. skala nyeri 0-1 atau teradaptasi. saraf. apakah disertai pembengkakan. Kerusakan integritas jaringan yang berhubungan dengan cidera jaringan lunak sekuderakibat fraktur terbuka. 2) Pantau keluhan nyeri lokal. Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan port de entree luka fraktur terbuka. Diagnosa Keperawatan a. 3. kerusakan neuromuskuloskeletal. Intervensi: 1) Kaji nyeri dengan skala 0 – 4 Rasional: Nyeri merupakan respon subjektif yang dapat dikaji dengan menggunakan skala nyeri. Resiko tinggi syok hipovolemik yang berhubungan dengan hilangnya darah dari luka terbuka. Resiko tinggi sindrom komparteman yang berhubungan dengan terjebaknya pembuluh darah. Tujuan: Dalamwaktu 3x24 jam. kerusakan vaskuler. d. dapat mengindentifikasikan aktifitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri. b. 3) Lakukan manajemen nyeri keperawatan : a) Atur posisi imobilisasi. Nyeri yang berhubungan dengan kompresi saraf.2. Rasional: Mobilisasi yang adekuat dapat mengurangi pergerakan fragmen tulang yang menjadi unsur utama penyebab nyeri b) Manajemen lingkungan :Lingkungan yang tenang. kerusakan neuromuskuloskeletal. Rasional: Deteksi dini untuk mengetahui adanya tanda sindrom kompartemen.pasien tidak gelisah. nyeri berkurang atau teradaptasi. Rencana Asuhan Keperawatan a. Kriteria hasil: Secara subjektif. luka pasca-bedah. dan jaringan lunak lainnya akibat pembengkakan. Nyeri yang berhubungan dengan kompresi saraf. pasien melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi. pergerakan fragmen tulang. pergerakan fragmen tulang. dan istirahatkan pasien.

membran mukosa. membran mukosa lembab. pemantauan yang ketat pada produksi urine < 600 ml/ . 4) Kolaborasi : a) Pemberian analgesik Rasional: Analgesik memblok lintasan nyeri sehingga nyeriakan berkurang. TTV dalam batas nomal. meningkatkan kondisi oksigen ruangan yang akan berkurang apa bila banyak pengunjung yang berada diruangan. c) Ajarkan teknik relaksasi pernafasan dalam ketika nyeri muncul. Rasional: Distraksi (pengalihan perhatian) dapat menurunkan stimulus internal dengan mekanisme peningkatan produksi endorfin dan enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri agar tidak dikimkan ke korteks serebri sehingga menurunkan presepsi nyeri. Tujuan: dalam waktu 3x24 jam. Masase ringan dapat meningkatkan aliran darah dan membantu suplai darah dan oksigen ke area nyeri. resiko syok hipovolemik tidak terjadi. d) Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri. Rasional: Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa sentuhan dukungan psikologis dapat membantu menurunkan nyeri. Penurunan volume cairan mengakibatkan menurunnya produksi urine. CRT <3 detik. Rasional: Meningkatkan asupan oksigen sehingga akan menurunkan nyeri sekunder akibat iskemia. e) Lakukan menajemen sentuhan. Rasional: Penarikan dengan traksi skeletal dapat mengurangi pergerakan fragmen tulang yang dapat menekan jaringan saraf sehingga dapat menurunkan respon nyeri. Kriteria hasil: Pasien tidak mengeluh pusing. Intervensi : 1) Pantau status cairan (turgor kulit. turgor kulit normal. dan cidera pada pembuluh darah. haluaran urine). b. urine >600 ml/hari. kerusakan vaskuler. Rasional: Jumlah dan tipe cairan pengganti ditentukan oleh keadaan status cairan. b) Pemasangan traksi skeletal. Resiko tinggi syok hipovolemik yang berhubungan dengan hilangnya darah dari luka terbuka. Istirahat akan menurunkan kebutuhan oksigen jaringan perifer.

dan meningkatnya CRT pada sisi lesi menunjukkan tanda awal tidak baiknya sistem vaskuler akibat bembengkakan. Kriteria hasil : Pasien tidak mengeluh nyeri lokal hebat. perfusi. 5) Pantau frekuensi dan irama jantung. Rasional: Perubahan frekuensi dan irama jantung menunjukankomplikasi disritmia. nadi pada sisi lesi sama dengan sisi yang sehat. Rasional: Kehilangan cairan dapat berasal dari faktor ginjal dan diluar ginjal. Resiko tinggi sindrom komparteman yang berhubungan dengan terjebaknya bembuluh darah. suhu. Bandingkan kedua lengan. Penyakit yang mendasari terjadinya kekurangan volume cairan ini juga haris diarasi. hari merupakan tanda-tanda terjadinya syok kardiogenik. perfusi perifer. sianosis. c. resiko sindrom kompartemen tidak terjadi. Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam. Perdarahan harus dikendalikan. dan jaringan lunak lainnya akibat pembengkakan. nadi perifer. 6) Kolaborasi :Pertahankan pemberian cairan melalui intravena. 2) Kaji sumber kehilangan cairan. skala nyeri 0-1. CRT <3 detik. Rasional: Jalur yang paten penting untuk pemberian cairan cepat dan memudahkan perawat dalam melakukan kontrol asupan dan haluaran cairan. Rasional: keluhan nyeri lokal hebat pada pasien fraktur disertai pembengkakan merupakan peringatan pada perawat tentang gejala sindrom kompartemen.\ Rasional: hipotensi dapat terjadi pada hipovolemia yang menunjukkan terlibatnya sistem kardiovaskuler untuk melakukan kompensasi mempertahankan tekanan darah. Rasional: perubahan nadi. . dan CRT pada sisi lesi setiap jam. 4) Kaji warna kulit. Intervensi : 1) Pantau pulsasi nadi. 3) Auskultasi tekanan darah. akral pada sisi lesi hangat. dan diaforesis secara teratur. Rasional: Mengetahui adanya pengaruh peningkatan tahanan perifer. 2) Pantau status nyeri setiap jam. saraf.

Rasional: perawatam luka steril dilakukan idealnya pada hari ke 2 dan perawatan selanjutnya tidak setiap hari. luka pasca-bedah. sisi luka dari staksi tulang. d. . setiap sisi besi pada fiksasi eksterna. Rasional: teknik swabbing secara steril dapat membersihkan sisa nekrotik. Rasional: desinfeksi dengan iodin providun dapatmenghilangkan kuman pada sekitar logam yang masuk kekulit pada fiksasi eksterna. 2) Lakukan menajemen keperawatan : a) Lakukan perawatan luka steril pada hari ke 2 pasca-bedah ORIF atau apabila kasa terlihat kotor. dan dapat mengurangi kontaminasi kuman. Biasanya dilakukan setiap dua hari sekali atau apabila kasa terlihat kotor. Intervensi : 1) Kaji faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya infeksi yang masuk ke port de entree. resiko infeksi tidak terjadi. dapat dilakukan setiap hari. 3) Kaji dan bebaskan apa bila ada bagian pembebatan yang kuat pada bagian proksimal. 4) Kolaborasi :Debridemen dan fasiotomi. Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam. luka pasca-bedah. debris. Rasional: faktor port de entree fraktur femur adalah luka terbuka dari fraktur. Kriteria hasil : Tidak ada tanda dan gejala infeksi. c) Desinfeksi daerah pemasangan fiksasi eksterna dengan iodin providum dan dibilas dengan alkohol 70%. Rasional: Intervensi untuk menurunkan dan menghilangkan respon penjepitan pada bagian proksimal. b) Lakukan perawatan luka secara steril pada luka pasca-bedah ORIF dengan iodin providum dan dibersihkan dengan alkohol 70% dengan teknik swabbing dari arah dalam keluar. pengangkatan jahitan pasca bedah ORIF dapat dilakukan pada hari ke-10. Faktor-faktor ini harus dipantau oleh perawat dan dilakukan perawatan luka steril. Rasional: pembebatan merupakan stimulus yang dapat meningkatkan respon penjepitan pada pembulur darah dan jaringan lunak lainnya sehingga harus dibebaskan. Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan port de entree luka fraktur terbuka.

diguyur dengan NaCl. 3) Evaluasi kerusakan jaringan dan perkembangan pertumbuhan jaringan. 2) Lakukan perawatan luka : a) Lakukan perawatan luka dengan teknik steril. alat apa yang akan dipakai. e. sebaiknya perlu dikaji ulang faktor-faktor apa yang menghambat pertumbuhan jaringan luka. . Kerusakan integritas jaringan yang berhubungan dengan cidera jaringan lunak sekuderakibat fraktur terbuka. Jika perban melekat kuat. 4) Kolaborasi :Beri antibiotik sesuai indikasi. luka menutup. pengeluaran pus pada luka tidak ada lagi. Rasional: perawatan luka dengan teknik steril dapat mengurangi kontaminasi kuman langsung kearea luka b) Kaji keadaan luka dengan teknik membuka balutan. integritas jaringan membaik secara optimal. dan jenis larutan apa yang akam dilakukan. 4) Kolaborasi:Kolaborasi dengan tim bedah untuk dilakukan bedah perbaikan pada kerusakan jaringan agar tingkat kesembuhan dapat dipercepat. Kriteria hasil : Pertumbuhan jaringan meningkat. 3) Tingkatkan asupan nutrisi tinggi kalori dan tinggi protein. Rasional: manajemen membuka luka dengan mengguyur larutan NaCl ke kasa dapat mengurangi stimulus nyeri dan padat menghindari terjadinya perdarahan pada luka osteomielitis kronis akibat kasa yang kering karena ikut mengering bersama pus. Tujuan : Dalam waktu 7 x 24 jam. Rasional: Satu atau beberapa agens diberikan yang bergantung pada sifat patogen dan infeksi yang terjadi. Rasional: menjadi data dasar untuk memberikan informasi intervensi perawatan luka. Rasional: Bedah perbaikan dilakukan terutama pada pasien fraktur terbuka dengan luka yang luas yang dapat menjadi pintu masuk kuman yang ideal. Rasional: apa bila masih belum tercapai kriteria evaluasi. Intervensi : 1) Kaji kerusakan jaringan lunak yang terjadi pada pasien. mengurangi stimulus nyeri. keadaan luka membaik. Rasional: meningkatkan imunitas tubuh secara umum dan membantu menurunkan resiko infeksi.

Brunner & Suddarth. Rasjad Chairuddin. Alih bahasa. Smeltzer C. DAFTAR PUSTAKA Anonim.. EGC.Yarsif Watampone (Anggota IKAPI). Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi edisi ketiga. Elizabeth J. EGC : Jakarta . Fraktur (patah tulang). Vol 2. Brahm U. (online: http://nursingbegin. C. Jakarta: PT. Sylvia Anderson dan Wilson. Edisi 6. 2006. Price. Jakarta: Aditya Media. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Corwin. Pendit. akses tanggal 9 januari 2012) Brunner & Suddarth. Buku ajar keperawatan medikal bedah. (2002). Lorraine M. 2007. Buku Saku Patofisiologi Corwin. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. Jakarta: EGC. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. (2009).com/fraktur- patah-tulang/. Suzanne. 2008.

Maret 2017 Preseptor Klinik Preseptor Akademik ( ) ( ) . Banjarmasin.