You are on page 1of 13

LAPORAN PENDAHULUAN

LEUKIMIA MIELOBLASTIK AKUT (LMA)

I. Konsep Penyakit Chronic Myeloid Leukemia
1.1 Definisi
Leukimia mieloblastik akut (LMA) adalah suatu penyakit yamg ditandai dengan
transformasi neoplastik dan gangguan diferensiasi sel-sel progenitor dari seri
mieloid. LMA merupakan jenis leukemia; dimana terjadi proliferasi neoplastik
dari sel mieloid (ditemukannnya sel mieloid : granulosit, monosit imatur yang
berlebihan).

1.2 Etiologi
Sebagian besar kasus, etiologi LMA tidak diketahui. Meskipun demikian ada
beberapa faktor yang diketahui dapat menyebabkan atau setidaknya menjadi
faktor predisposisi LMA, seperti:
 Benzena, yg merupakan zat leukomogenik untuk LMA
 Radiasi ionik juga dapat menyebabkan LMA
 Trisomi kromosom 21 yang dijumpai pada penyakit herediter sindrom Down
 Pengobatan kemoterapi, jenis kemoterapi yang paling sering memicu
timbulnya LMA adalah golongan alkylating agent dan topoisomerase II
inhibitor

I.3 Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala utama LMA, adalah:
 Rasa lelah, perdarahan, dan infeksi yang disebabkan oleh sindrom
kegagalan sumsum tulang
 Perdarahan biasanya dalam bentuk purpura/petekia yang sering dijumpai di
ekstremitas bawah, atau berupa epistaksis, perdarahan gusi dan retina
 Pada pasien dengan leukosit yang sangat tinggi (> 100.000/mm3), sering
terjadi leukostasis, yaitu terjadinya gumpalan leukosit yang menyumbat
aliran pembuluh darah vena maupun arteri
 Leukosit yang tinggi juga sering menimbulkan gangguan metabolisme,
seperti hiperurisemia dan hipoglikemia
 Infiltrasi sel-sel blast di kulit dapat menyebabkan: leukimia kutis (benjolan
yang tidak tidak berpigmen dan tanpa rasa sakit)
 Infiltrasi sel-sel blast di jaringan lunak akan menyebabkan nodul di bawah
kulit (kloroma)
 Infiltrasi sel-sel blast di dalam tulang akan menimbulkan nyeri tulang yang
spontan atau dengan stimulasi ringan
 Infiltrasi sel-sel blast ke gusi menyebabkan pembengkakan gusi

1.4 Patofisiologi LMA

Jaringan pembentuk darah ditandai oleh pergantian sel yang sangat cepat.
Normalnya, produksi sel darah tertentu dari prekusor sel stem diatur sesuai

maka akan terjadi proliferasi sel-sel darah putih yang berlebihan dan imatur. Seandainya struktur antigennya sesuai dengan struktur antigen manusia tersebut. monosit. Proliferasi sel leukemia dalam organ mengakibatkan gejala tambahan : nyeri akibat pembesaran limpa atau hati. Bila struktur antigen individu tidak sama dengan struktur antigen virus. Sel polimorfonuklear dan monosit normalnya dibentuk hanya dalam sumsum tulang. Beberapa sel darah putih yang dibentuk dalam sumsum tulang. sel akan membelah diri sampai ke tingkat sel yang membahayakan (proliferasi neoplastik). maka virus tersebut dengan mudah akan masuk ke dalam tubuh manusia dan merusak mekanisme proliferasi.5 Pemeriksaan Penunjang 1. sakit kepala atau muntah akibat leukemia meningeal. Sel-sel leukemia juga menginvasi tulang di sekelilingnya yang menyebabkan nyeri tulang dan cenderung mudah patah tulang. patogenesis leukemia dapat diterangkan sebagai berikut.1 ditemukan sel muda limfoblast 1. Akibat proliferasi mieloid yang neoplastik. hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut : oid (2n). 1. sehingga etiologi leukemia sangat erat kaitannya dengan faktor herediter.5. disimpan dalam sumsum tulang sampai mereka dibutuhkan dalam sirkulasi. atau lainnya) dalam sumsum tulang dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh sehingga sel-sel darah putih dibentuk pada banyak organ ekstra medula. limpa.1. Apabila mekanisme yang mengatur produksi sel tersebut terganggu.2 leukositosis (60%) 1. Bila terjadi kerusakan sumsum tulang. Pada kasus AML. Bila virus dianggap sebagai penyebabnya (virus onkogenik yang mempunyai struktur antigen tertentu). maka virus tersebut akan ditolaknya. Struktur antigen ini terbentuk dari struktur antigen dari berbagai alat tubuh. Sistem HL-A diturunkan menurut hukum genetik. maupun herediter. masalah kelenjar limfa. timus. maka produksi elemen darah yang lain tertekan karena terjadi kompetisi nutrisi untuk proses metabolisme (terjadi granulositopenia. terutama kulit dan selaput lendir yang terletak di permukaan tubuh atau HL-A (Human Leucocyte Locus A). kebutuhan tubuh. trombositopenia).3 jumlah leukosit neutrofil sering kali rendah .1 pemeriksaan darah tepi. maka virus mudah masuk. tonsil). khususnya granulosit. dimulai dengan pembentukan kanker pada sel mielogen muda (bentuk dini neutrofil. Proliferasi neoplastik dapat terjadi karena kerusakan sumsum tulang akibat radiasi.1. virus onkogenik. haploid (2n-a) dan hiperloid (2n+a) 1.5.5. misalnya akibat radiasi atau bahan kimia.5.1. Sedangkan secara imunologik. Sedangkan limfosit dan sel plasma dihasilkan dalam berbagai organ limfogen (kelenjar limfe.

4 Sitogenik : 50-60% dari pasien ALL dan AML mempunyai kelainan berupa: 1. Pada troombositopenia yang berat dan perdarahan massif. 1.1.3 sesudah pelaksanaan terapi antibiotic yang lama sehingga mempredisposisi pertumbuhan mikroorganisme yang resisten. biasanya menunjukkan sel blast yang dominan.4.6.2 perdarahan sebelum penggunaan terapi tranfusi trombosit. ginjsl.3 Sitostatika.3 Anemia Pada awalnya. selain sitostatika yang lama (6-merkatopurin atau 6-mp. 1.7.4.5.7 Penatalaksanaan Penatalaksanaan terapi : 1. limpa.6. perdarahan merupakan penyebab kematian yang utama pada pasien leukemia.1 infeksi. deksametason) setelah dicapai remisi dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan akhirnya dihentikan 1. (prednisone.5.2 bertambah atau hilangnya bagian kromosom 1. biasanya dilakukan jika kadar Hb -6g %. Tindakan kewaspadaan yang biasa dilakukan dalam perawatan anak yang menderita anemia harus dilaksanakan.6.4 kadar hemoglobin dan trombosit rendah 1. haploid (2n-a) dan hiperloid (2n+a) 1. rubidomisin (daunorubycine) dan .1 pada saat diagnosis ditegakkan dan saat relaps (kambuh) ketika proses leukemia telah menggantika leukosit normal 1.2 pemeriksaan sum-sum tulang.6 Komplikasi 1. Dapat diberikan tranfusi trombosit dan bila terdapat tanda-tanda DIC dapat diberikan heparin.3 Biopsi hati.4.6. komplikais ini yang sering ditemukan dalam terapi kanker masa anak-anak adalah infeksi berat sebagai akibat sekunder karena neutropenia. seperti diploid (2n). Selama terapi induksi.1.7.1 tranfusi darah. anemia dapat menjadi berat akibat penggantian total sumsum tulang oleh sel-sel leukemia. metotreksat atau MTX) pada waktu ini dipakai pula yang baru dan lebih poten seperti vinkristin (oncovin).5. kortison. Anak paling rentan terhadap infeksi berat selama tiga fase penyakit berikut : 1. 1.5.5. 1.1. 1.2 selama terapi imunosepresi 1.3 terdapat murker kromososm. yaitu elemen yang secara morfologis bukan komponen kromosom normal dari bentuk yang sangat kecil 1.1.6.7.6.5.5.2 Kortikostioid. 1. Kini sebagian besar episode perdarahan dapat dicegah atau dikendalikan dengan pemberian konsentrat trombosit atau plasma kaya trombosit. tulang untuk mengkaji keterlibatan / infiltrasi sel kanker ke organ tersebut 1.1 kelainan jumlah kromosom. tranfusi darah mungkin diperlukan.

11 dada dan abdomen 2.Sesak 4).Perdarahan membran mukosa e.5 Imunoterapi.1.1.Purpura 3).1.Pucat 2).Demam 2).1.1.7.9 hidung dan penciuman 2.10 telinga dan mulut 2.1.2 riwayat penyakit sekarang 1. merupakan cara pengobatan yang terbaru II. Umumnya sitostatika diberikan dalam kombinasi bersama-sama dengan prednisone.1.Infeksi d.Hepatomegali 3).1.1.1 keluhan utama 1.1.Hipertensi .Hematuria 2). Rencana asuhan klien LMA 1.4 riwayat penyakit keluarga 1.1 Riwayat keperawatan 1.Nafas cepat c.1.1.1.1.1.4 Infeksi sekunder dihindarkan (lebih baik pasien dirawat dikamar yang suci hama) 1.1.1.1.1.1.12 genitalia 2.1.Kelemahan 3). Kaji adanya : 1).1.5 keadaan umum 2.8 mata dan penglihatan 2.1.1.2 Pemeriksaan fisik : data focus 2. berbagai nama obat lainnya. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia : 1). Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola : 1).Splenomegali f.Limfadenopati 2). 1.6 kulit 2.Ptechiae 2).7.1.1.1 Pengkajian factor predisposisi 1.1. Riwayat penyakit b.3 riwayat penyakit dahulu 1. Kaji adanya pembesaran testis g. Kaji adanya tanda-tanda leucopenia 1).1.13 ekstremitas Pengkajian pada leukemia meliputi : a.7 kepala dan leher 2. Kaji adanya tanda-tanda anemia : 1).

Observasi demam sehubungan dengan tachicardi.Gagal ginjal 4). 2.3. Rencana tindakan : 1. Batasi pengunjung sesuai indikasi.Inflamasi disekitar rectal 5). 3).1.3. Awasi suhu.1 pemeriksaan darah tepi 2.3.1. 3. hiertensi.3 pemeriksaan sum-sum tulang 2. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan :  Tidak adekuatnya pertahanan sekunder  Gangguan kematangan sel darah putih  Peningkatan jumlah limfosit imatur  Imunosupresi  Penekanan sumsum tulang (efek kemoterapi) Hasil yang Diharapkan : Infeksi tidak terjadi.3 biopsi hati 2.R dan Rita Yuliani. Tempatkan anak pada ruang khusus. Perhatikan hubungan antara peningkatan suhu dan pengobatan chemoterapi.4 sitogenik 2. Berikan protocol untuk mencuci tangan yang baik untuk semua staf petugas.1 Diagnosa keperwatan yang mungkin muncul 1.1.2 Pemeriksaan penunjang 2. antara lain: 2. Rasional : Melindungi anak dari sumber potensial patogen / infeksi. .1.3.2 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada kasus LMA.2001 : 178) 1.Nyeri (Suriadi. Rasional : Mencegah kontaminasi silang / menurunkan risiko infeksi.

Gunakan sikat gigi halus untuk perawatan mulut. Rasional : Rongga mulut adalah medium yang baik untuk pertumbuhan organisme patogen. misalnya Antibiotik Rasional : Dapat diberikan secara profilaksis atau mengobati infeksi secara khusus. Bersihkan mulut secara periodic. Tempatkan pada posisi nyaman dan sokong sendi. batuk. ekstremitas denganan bantal. darah lengkap Rasional : Penurunan jumlah WBC normal / matur dapat diakibatkan oleh proses penyakit atau kemoterapi. 5. 1. gelisah. Berikan obat sesuai indikasi. Rasional : Aspirin dapat menyebabkan perdarahan lambung atau penurunan jumlah trombosit lanjut. 3.rewel. Rasional : Meingkatkan istirahat. 2. Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi rangsangan stress. cengeng. 4. sumsum tulang yang dikmas dengan sel leukaemia. Rasional : Mencegah statis secret pernapasan. Ubah posisi secara periodic dan berikan latihan rentang gerak lembut. napas dalam.  Agen kimia . Rencana Tindakan . Rasional : Menurunkan ketidak nyamanan tulang/ sensi. Hindari antipiretik yang mengandung aspirin. perhatikan petunjuk nonverbal. Rasional : Hipertermi lanjut terjadi pada beberapa tipe infeksi dan demam terjadi pada kebanyakan pasien leukaemia. pembesaran organ / nodus limfe. 2. menurunkan resiko atelektasisi/ pneumonia. Inspeksi membran mukosa mulut. 6. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan :  Agen fiscal . Dorong sering mengubah posisi. . 8. 7. Rasional : Dapat membantu mengevaluasi pernyatan verbal dan ketidakefektifan intervensi. 4. Awasi pemeriksaan laboratorium : WBC. pengobatan antileukemia. Awasi tanda-tanda vital.

7.Diare .Bising usus hiperaktif . 6. 5. Berikan perawatan daerah yang terjadi infiltrasi sesuai kebijakan RS. 3. 3. aminophiline. 4. Persipkan perlengkapan emergency (khususnya monitor tekanan darah. cortikosteroid dan vasopresor). 5. Rasional : Memperbaiki sirkulasi jaringan dan mobilisasi sendi. Rasional : Meminimalkan kebutuhan atau meningkatkan efek obat.Gangguan sensasi rasa . Rasionel : Mencegah terjadinya anaphylactic shock. Kaji riwayat alergi yang diketahui. epineprine. kemerahan dan rasa panas.Berat badan 20% atau lebih di bawah rentang berat badan ideal . Rasional : Sebagai pengobatan atas terjadinya infiltrasi. Intervensi : 1. Rasional Mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut. Berikan tindakan ketidaknyamanan. Batasan Karakteristik . Segera hentikan jika ditemui adanya tanda-tanda infiltrasi. 2. mis : pijatan. Berikan obat-obatan chemoterapi sesuai dengan petunjuk yang telah ditetapkan. Observasi tanda-tanda infiltrasi pada tempat penusukan IV : nyeri. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002) Definisi Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Berikan obat sesuai indikasi. 6.Cepat kenyang setelah makan . Tujuan : Resiko / komplikasi chemoterapi tidak terjadi. 4. Resiko tinggi terjadi injuri berhubungan dengan proses tindakan Chemoterapi. dan resusitasi manual : bag and mask) dan obat-obatan emergency (khususnya O2. kompres. Hentikan infus atau obat dan bila dengan normal saline jika terjadi reaksi.Pencegahan / persiapan jika terjadi komplikasi.

Ketidamampuan menelan makanan .Pemantau Nutrisi: mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk mencegah dan meminimalkan kurang gizi .Ketidakmampuan mencerna makanan .Bantuan Menaikan Berat badan: memfasilitasi pencapaian kenaikan berat badan.Manajemen Nutrisi: membantu atau menyediakan asupan makanan dan cairan diet seimbang .Pemantauan Cairan: Pengumpulan dan analisis data pasien untuk mengatur keseimbangan cairan . Membran mukosa pucat . Kehilangan rambut berlebihan .Pemantauan Elektrolit: mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk mengatur keseimbangan elektrolit . Kurang informasi . Tonus otot menurun Faktor yang berhubungan .Ketidakmampuan makan .Ketidakmampuan mengabsorpsi nutrien . Kerapuah kepiler .Manajemen Elektrolit: meningkatkan keseimbangan elektrolit dan pencegahan komplikasi akibat dari kadar elektrolit dan pencegahan komplikasi akibat dari kadar elektrolit serum yang tidak normal atau diluar harapan . .Kurang asupan makanan Intervensi keperawatan dan rasional Intervensi NIC . Kelemahan otot untuk menelan .Gangguan psikososial .Bantuan Perawatan-Diri: Makan: Membantu Individu untuk makan .Terapi Nutrisi: Pemberian makanan dan cairan untuk mendukung proses metabolik pasien yang malnutrisi atau berisiko tinggi terhadap malnutrisi . Nyeri abdomen . Sariawan rongga mulut . Kram abdomen .. Kurang minat pada makanan . Kelemahan otot penguyah .Faktor ekonomi . Kesalahan persepsi . Kesalahan informasi .Manajemen Gangguan Makan: Mencegah dan menangani pembatasan diet yang sangat ketat dan aktivitas yang berlebihan atau memasukan makanan dan minuman dalam jumlah banyak kemudian berusaha mengeluarkan semuanya . Penurunan berat badan dengan aspuan makanan adekuat .Manajemen Cairan/Elektrolit: Mengatur dan mencegah komplikasi akibat perubahan kadar cairan/elektrolit .Faktor biologis .

5. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen 4. . . tirah baring dan imobilitas 2. Status pernafasan: Kepatenan jalan nafas: jalur nafas trakeobronkial bersih dan terbuka untuk pertukaran gas . Ketidakefektifan pola nafas (00032) Itervensi NOC . gaya hidup kurang gerak Intervensi keperawatan dan rasional  evaluasi laporan kelemahan. Respons ventilasi mekanis: orang dewasa: pertukaran alveolar dan perfusi jaringan yang dibantu oleh ventilasi mekanisme . frekuensi jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respon terhadap aktifitas 2. Respons penyapihan ventilasi mekanis: orang dewasa: penyesuaian sistem pernafasan dan fisiologis terhadap proses pelepasan dari ventilasi mekanis secara bertahap. Status tanda vital: Tingkat suhu. perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi kala aktifitas sehari-hari R : menetukan derajat dan efek ketidakmampuan  berikan lingkungan tenang dan perlu istirahat tanpa gangguan R : menghemat energy untuk aktifitas dan regenerasi seluler atau penyambungan jaringan  kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan atau dibutuhkan R : mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu pemilihan intervensi  berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi R : memaksimalkan sediaan energy untuk tugas perawatan diri 6. Batasan karakteristik Subjektif : 1. perubahan EKG yang menunjukkan aritmia atau iskemia Faktor yang berhubungan 1. ketidaknyamanan atau dispnea saat beraktifitas 2. nadi. kelemahan umum 3. Status respirasi: Ventilasi: pergerakan udara kedalam dan keluar paru . Respons alergi: Sistemik: Tingkat keparahan respons imun hipersensitifitas sistemik terhadap antigen tertentu dari lingkungan (eksogen) . dan tekanan darah dalam rentang normal. pernafasan. Intoleransi aktifitas b.d kelemahan akibat anemia Definisi Ketidakcukupan energy fisiologis atau psikologis untuk melanjutkan atau menyelesaikanaktivitas sehari-hari yang ingin atau harus dilakukan. melaporkan keletihan atau kelemahan secara verbal Objektif : 1.

ketajaman. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral (NANDA.Kolaborasi pemberian terapi oksigen 8. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok c.Komunikasi jelas . trombo . Kolaborasi : pemeriksaan : HB.Menunjukan konsentrasi dan orientasi .Tinggikan kepala 0 – 45o tergantung pada kondisi pasien dan order medis .Pupil seimbang dan reaktif . Monitor keadaan umum pasien Raional .Monitor tonus otot pergerakan .Tekanan systol dan diastole dalam rentang yang diharapkan . Resiko Syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan.Tidak mengalami nyeri kepala Intervensi keperawatan : berdasarkan NIC . kesimetrisan dan reaksi .Monitor AGD. pandangan kabur dan nyeri kepala . Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal Intervensi : a.Catat perubahan pasien dalam merespon stimulus . 2012) Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteria) : berdasarkan NOC Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral teratasi dengan kriteria hasil : . dan segera laporkan jika terjadi perdarahan Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan. Perawat segera mengetahui tanda- tanda presyok / syok b. d.Bebas dari aktivitas kejang . ukuran pupil.Monitor adanya diplopia. Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan.Monitor TTV . Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan.Monitor status cairan . Kolaborasi : Pemberian cairan intravena Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat.7. e. PCV.

Barbara. Doenges. (1998). . Barbara C. Rencana Asuhan Keperawatan. (2000). Perawatan Medikal Bedah. (terjemahan). Edisi ke 2. (1999). Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. (1996). Penerbit buku Kedokteran EGC. Bandung. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Matondang. Lynda Juall. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Engram. Jakarta. Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut. Jakarta. Volume 2. Jakarta. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. (terjemahan). (2000) Diagnosis Fisis Pada Anak. (1999). Junadi. Penerbit buku Kedokteran EGC. Edisi 3. (terjemahan). Volume I. (2000. Long. Edisi 2. Purnawan. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Edisi 8. Lynda Juall. Mansjoer. Sagung Seto. Kapita Slekta Kedokteran Jilid II. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. (terjemahan). Jakarta. (1982). (terjemahan). Arif & Suprohaita. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan.). Corry S. Jakarta. Carpenito. PT. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius. Jakarata. Penerbit buku Kedokteran EGC. Marilynn E. Kapita Selekta Kedokteran.

Banjarmasin. Mei 2017 Presptor Akademik Preseptor Klinik ( ) ( ) Pathway .