You are on page 1of 7

Niji No

Megami...
Cinta dan sayangku akan kusembunyikan
dibalik ketegaranku,
Takkan pernah kuizinkan selubung senyummu
membukanya,...
agar akhirnya aku dapat berdiri tegak,
berbinar di bawah ketegaranmu, dan
memandang dirimu dalam jubah
kebesaran
_Ayah
Piiiippp... piiipp...
Bunyi klakson memekakkan telinga menyelimuti soreku. Begitu ramainya jalanan kota
hingga aku tidak mampu sedetik saja berdiam. Dengan ransel di pundakku, aku mempercepat
langkah di antara ramainya pejalan kaki sepanjang jalanan kota.
Aku melambatkan langkah saat mendekati jalanan setapak sepanjang Taman 1Ueno. Akh,
sakura yang mulai bersemi mengigatkanku akan rumah. Begitu tenangnya sampai aku terhanyut
dalam nostalgia yang dirangkai sarafku.
***
Hmmm... aroma pisang goreng buatan ibu selalu mengalihkan pandanganku dari semua
tugas yang membuat mumet pikiranku.
Yuk, santai dulu, Run. Nanti baru diteruskan belajarnya...
Wohow, akhirnya datang jugaaa... Ibu tahu aja Arun lagi lapar.
Yaaah, namanya juga Ibu, tahulah kalo perut keronconganmu udah bunyi...
Hahaha.... bisa aja, Bu. Oh iya Bu, bapak kok belum balik dari semalam? Apa mungkin bapak
mabuk lagi?. Aku membuka percakapan serius ini dengan hati gusar. Sejenak ibu terdiam.
Hhh... jangan gitu dong, Run. Yaah, moga saja tidak. Kemarin pak Sudir ngontak bapakmu
untuk menemaninya ke Surabaya. Ada acara keluarga katanya. Tahu sendiri kan , Pak Sudir nggak
bisa nyetir.

1
Taman Sakura, tempat dilaksanakannya tradisi melihat sakura di Jepang
Ooo... gitu, Bu? Trus acaranya seharian ya, Bu? aku bertanya lagi sambil melahap gorengan
lezat di hadapanku.
Yah, kata pak Sudir kemarin sih sampe pagi ini,
Lho, tapi kok Bapak belum balik? jangan- jangan ada apa- apa sama bapak.
Huss, jangan gitu ngomongnya. Paling bapakmu belum pulang karena acara Pak Sudir
belum kelar. Udah, jangan ngomong yang aneh- aneh.
Lantai kayu teras rumahku tiba- tiba berdebum, terdengar langkah kaki seseorang. Aku
melongok ke arah jendela.
Oh, bapak ternyata...
Kreeekk....
Pintu yang hendak kubuka berderak duluan sebelum aku melangkah kearahnya. Bapak
muncul dengan wajah kuyu dan lesu. Jalannya sempoyongan seperti hendak terjatuh. Dengan sigap
aku dan ibu merangkul lengan bapak yang rupanya setengah berdebu.
Bapak dari mana saja, toh?ibu bertanya perlahan. Bapak hanya terdiam dengan wajah
kuyu tertunduk. Aku tidak berani bertanya.
Kemarin acaranya gimana kok nggak kabar- kabari rumah sih, Pak?
Akh, aku sibuk! nada tegas dan singkat itu keluar dari mulut ayah, beriringan dengan
aroma alkohol yang tajam.
Bapak minum lagi ya? tanya ibu memastikan.
Duh... Insaf, Pak. Anak- anakmu sekarang butuh banyak duit, Arun mau lanjutin kuliah, kok
duit malah dihabis-habisin buat minum. Ibu melanjutkan dengan nada suara yang agaknya
meninggi. Diam beberapa saat, tiba- tiba gerakan tangan ayah mengagetkan aku dan ibu. Begitu
cepatnya kejadian itu, sampai aku yang terjatuh dekat sudut meja hanya mampu menangkap
bayang-bayang saja. Tamparan keras melayang di pipi ibu. Aku bisa mendengar jeritan ibu waktu
itu, juga suara bapak yang sesungguhnya tidak ingin aku dengar.
Ingat ya, Bu... aku juga susah mencari uang. Kamu pikir aku hidup untuk apa? Seharusnya
kamu bisa lebih mengerti itu!
Tapi bukan untuk minum, Pak
Diam!!! Jangan sok tahu kamu dengan urusanku. Urus saja sendiri anak anakmu.
Merepotkan!teriak bapak. Sekejap, pintu berdebum dan ayah beranjak pergi. Begitu sakitnya
perasaanku, terlebih saat melihat ibu jatuh tersudut dengan air mata tak henti. Aku begitu
membenci bapak. Bukan kali ini saja aku mencicip semburan amarahnya. Yah, aku begitu
membencinya.
****
Tanpa sadar, derap langkah pelan mengantarkanku ke depan pintu rumah tinggalku yang
bisa dikatakan kuno,... menurutku. Yah, sebuah tempat berlindung dengan gerbang papan kayu
tebal dan taman sempit dengan beberapa bonsai dan kerikil-kerikil yang tersusun rapi di dalamnya.
Inilah hadiah rumah tinggalku sementara di Jepang. Hadiah dari beasiswa yang kuusahakan sejak
dulu.
Arun, kemana saja kamu? Bukankah kuliahmu seharusnya selesai jam 9 tadi? seseorang
tiba- tiba menyapaku dari balik pintu kertas. Aku yang masih melepaskan sepatu mendongak ke
arahnya. Enomoto Tashikura, sahabatku selama tinggal di Jepang. Sejak awal aku kemari, aku selalu
saja bersama dengan dia... Simple, dan... Yah, bisa dibilang ia berdarah-campuran karena ayahnya
yang adalah keturunan asli dari raja- raja Keraton Solo... katanya...
Oh, Eno... maaf, aku baru dari perpustakaan...
Okaasan menelepon ke sini tadi menanyakanmu, karena ponselmu kamu matikan.
Hah benarkah? Ibu? Ada apa? Apa yang dikatakan ibu?
Okaasan hanya bilang akan menelepon lagi nanti. Aku tidak bisa bertanya banyak pada
ibumu. Kata Eno lagi. Yah, aku mengerti... dia hanya mampu memahami bahasa Indonesia
sepersekian dari yang kupahami. Aku segera bergegas masuk ke dalam rumah. Eno hanya
menatapku heran. Entah apa yang dipikirkannya.
Arun! Aku lupa menanyakan. Kamu ingin makan apa malam ini? Akan kumasakkan
untukmu. Kebetulan aku tidak ada kuliah besok. Suaranya masih sayup sayup kudengar dari balik
dinding.
Mmm... entahlah. Aku masih belum lapar. Terserah saja, apa masakanmu.
Ok... akan kubuatkan 2onigiri kalau begitu... bagaimana? Ia melanjutkan. Hhh... astaga...
seharusnya dia tahu aku membenci 3nori. Aku bergumam.
eehhh, tidak perlu, No... aku akan mencari ramen saja di kedai depan nanti. Aku tahu ia
akan kecewa. Tapi itu lebih baik dibandingkan aku harus muntah di hadapannya ketika mengunyah
satu gigitan onigiri buatannya. Yaa.. begitulah... Beberapa saat, tidak terdengar suara.
Mmm, baiklaah... tapi kalau kamu butuh sesuatu, bilang ya... tiba- tiba ia mengatakan itu
dengan tulus... yah, sepertinya.
Oh ya No , bisa ambilkan aku secangkir kopi dari pantry? pintaku.
Ok... siap... tak lama kemudian secangkir esspreso hangat menebarkan aroma nikmatnya
mengisi ruanganku yang sempit itu. Hhh... nikmatnyaa...
4Tasida teiyo, arigatou gozaimas, Eno-kun...
Hai... sama- sama.... Aitekimas...Selamat mengerjakan thesismu ya...Fighting! Ganbatte...
ia kemudian berlalu pergi, dengan senyum lebar yang membuat bola matanya semakin tak terlihat.
Aku kembali ke esspreso yang masih di hadapanku... aromanya memutar memoriku hingga waktu
itu...
Pak, aku ikut Japan Foundation untuk lanjut ke luar negeri. Akhirnya aku bisa mengatakan
hal ini di depan bapak, meskipun dengan nada datar dan rendah. Bapak masih berkutat dengan
kegiatannya membaca koran yang sedari tadi hanya dibolak- balik hingga kusut. Ia tak menggubris.
Pak, aku jadi mengikuti 5PAT di Jakarta minggu ini... aku melanjutkan. Bapak masih diam.
Aku tahu ia tidak mengiginkannya.
Pak, tidak usah khawatir. Aku tidak akan menyusahkan. Ini beasiswa penuh, dan semuanya
akan ditanggung oleh Japan Foundation. Aku tegas mengatakannya. Bapak melipat korannya,
melepaskan kacamata dan meneguk secangkir kopi yang sedari tadi menguapkan aroma yang
membuatku semakin gusar.
Entahlah. Bapak tidak yakin. Jawabnya singkat. Aku terdiam sesaat.
Tapi, Pak. Aku tidak akan menggunakan uang Bapak. Lagian aku masih punya tabungan
cukup untuk mengurus berkas berkasnya. Kataku kemudian. Bapak menghentikan aktivitasnya
dan menatapku dalam. Aku tertunduk. Sayup sayup masih terdengar kicauan burung pipit yang
meramaikan pagi diantara kami.
Hhh... pikirkan lagi niatmu. Bapak berkata pelan namun tegas sembari melangkah ke
dalam rumah dengan gumaman yang sayup tak dapat kudengar. Aku terdiam dengan amarah

2
Makanan jepang yang terbuat dari nasi seukuran kepalan tangan berbentuk segitiga.
3
Lembaran hijau pembungkus onigiri yang merupakan rumput laut kering.
4
Terima kasih banyak, Eno..
5
PAT = Pre Academic Trainning
memanaskan sekujur tubuhku. Kecewanya hatiku ketika mendengarkan perkataan itu. Apa sih yang
dipikirkan orang tua itu? Gumamku dalam hati. Begitu skeptisnya ia menanggapi kelulusanku di
tahap pamungkas 6FE- IFP untuk mendapatkan beasiswa S2 ke luar negeri. Hhh.... ia sangat sulit
dipahami. Jelas sangat sulit, dan aku paham itu sejak pertama kali aku kuliah S1. Segala sesuatunya
bermodalkan usahaku sendiri mencari beasiswa. Aku membencinya setengah mati.
Hey, Run! Jangan banyak melamun... apa kau dengar perkataanku tadi? Eno membuyarkan
flashback memoriku. Aku menengok ke arahnya.
A.. apa? Maksudmu?
Astaga... kamu semakin ling lung sekarang... Kino dan Ichira barusan mengajak kita untuk
ke Ueno, besok. Bagaimana, kamu ikut kan?
Hah? Ueno? Maksudmu taman di blok selatan?
Iya... keluarga Ichira mengajak kita untuk ikut 7Hanami. Kalau kamu ikut, aku akan
menyiapkan bekal untuk kita besok...
Ya.. baiklah... aku ikut
*****
Taman Ueno...
Nama itu terpampang di sebuah papan coklat yang lumayan usang dengan sebaris hiragana
dan kanji dengan arti yang menurutku sama. Kata Ichira, taman ini seharusnya merupakan kuil besar
yang dibangun oleh Tokugawa Iemetsu, shogun ketiga pada Zaman Edo. Namun akibat Perang
Boshin, kuil tersebut terbakar tak tersisa, hingga akhirnya pemerintah memutuskan untuk
membangun sebuah taman. Akh, entahlah... aku tidak terlalu paham sejarah Jepang. Mungkin aku
akan menjelaskan lebih rinci kalau yang ditanyakan adalah Borobudur dan Prambanan.
Keramaian di sekelilingku dengan tawa dan percakapan yang tak habis habisnya kudengar
membawa pergi semua ketakutan dan kecemasanku. Hhh... begitu bebas rasanya hari hariku, dan
sayangnya, aku baru mennyadarinya detik itu. Tiupan angin lembut menyapu guguran kelopak
sakura yang berputar sekelilingku bagai menari nari lembut. Seperti salju, dalam dimensi lain...
pikirku.
Arun!!! Ayolah... jangan diam saja... Eno berlari menghampiriku dan menarikku ke antara
beberapa orang yang sudah siap di atas tikar berwarna coklat pucat dengan beraneka ragam
makanan di atasnya. Aku tersenyum memandang keenam orang di situ satu per satu. Hanya
beberapa orang yang tidak pernah kutemui selain Eno, Kino dan Ichira, juga Ooni-chan adik Ichira.
Mereka adalah tuan Ichira dan isterinya.
8Ohaiyoo gozaimas... tameno Haikal Arun-Kun... sapaku singkat dengan senyum lebar
sembari membungkuk dalam.
Ohaiyoo... keduanya membalasku dengan lembut sembari menunduk membalas
expresiku. Kami sama- sama tersenyum, kemudian duduk de atas tikar sambil bercakap- cakap
menikmati pemandangan sakura yang kuakui, kurang dari tiga kali aku melihatnya. Aku melahap
dengan puasnya mochi dengan aroma manis- dibungkus daun sakura yang disuguhkan oleh nyonya
Ichira kepadaku. Saking menikmatinya, Ooni-chan hanya menatapku keheranan. Semua tertawa.
Setelah kenyang, kami menyurup teh hijau yang beraroma segar dan hangat, masih di bawah
guguran bunga sakura. Kino dan Ichira berbaring di sampingku, bercerita tentang sakura dan semua
tentang sakura.

6
FE-IFP = Fellow Elect International Fellowship Program
7
Tradisi melihat bunga Sakura yang biasanya dilakukan setahun sekali pada awal bulan April
8
Selamat Pagi... Nama saya Haikal Arun
Sakura... Begitu beruntungnya bisa melihat keindahannya. Ia hanya mekar sebentar, tapi ia
tahu tentang totallitas. Bagaimana bertahan di waktu yang singkat, mekar, dan kemudian
menggugurkan kelopak bunganya agar orang lain tahu keindahan itu. Sayup kata- kata Kino
membuatku diam. Pikiranku menyusup membayangkan kelembutan sakura. Untuk sejenak, hanya
kata- kata Kino yang mempu aku dengar.
Kau lihat, Run... sudah berkali- kali aku melihat bunga Sakura, tapi tidak sekalipun aku jenuh
menatapnya. Ahhh.. begitu indahnya... Kino begitu menikmatinya,dengan tangan terlipat di bawah
kepalanya dan matanya yang perlahan menutup.
Sakura memberikan pesan tentang kehidupan yang tidak akan pernah abadi... lanjutnya.
Aku berbalik kearahnya keheranan, tapi ia masih menutup matanya dan menikmati desir angin yang
membawa kelopak sakura dengan seulas senyum.
Tiba- tiba ponselku berdering, dengan nada Home- Michael Buble. Aku terdiam. Kurogoh
saku jaketku.
<Ibu>Calling....
Aku sedikit kaget dengan panggilan itu. Ada sedikit rasa tidak nyaman di tengah orang
orang yang baru kukenal. Aku menyingkir ke arah lain untuk menjawab telepon ibu.
Hallo, Bu...
Hallo, Arun...
Iya.. apa kabar, Bu? Maaf kemarin Arun tidak bisa terima telepon Ibu. Ponsel Arun habis
batere soalnya.
Run... ibu tidak melanjutkan.
Iya, Bu. Ada apa ya? aku penasaran. Tidak biasanya ibu menghabiskan banyak pulsa hanya
untuk satu kata tak bermakna seperti ini.
Arun, bisa pulang sekarang, Nak? ibu bertanya dengan nada yang sayup sayup sedikit tak
terdengar. Aku sontak kaget.
Pulang, Bu? Maksudnya Arun kembali ke Sukabumi?
I..iya, Nak...
Lho, ada apa toh, Bu? Ini Arun belum selesai sekolahnya. Ibu kangen ya, sama Arun?
Hahaha... Nanti deh, selesai ujian thesis Arun bakal pulang. Bagaimana di rumah?
Run, Ibu nggak kuat... Ibu harus bilang ke kamu...
Mmm, y..yaa... bilang aja, Bu. Bilang apa toh?
Run, Bapak sudah meninggal kemarin sore. Isak tangis ibu akhirnya pecah. Aku kaget.
Masih tak percaya meski dunia sekelilingku serasa gelap dan berhenti.
Maksud Ibu apa? Bapak? Bapak benar benar meninggal?
Iya, Nak. Ibu minta sekali ini saja... pulanglah, Nak. Ini yang terakhir untuk Bapak. Suara Ibu
kian tidak terdengar. Aku tertunduk dan jatuh. Entah apa yang sedang aku pikirkan, semua gugusan
sarafku terhenti. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak ingat satupun rencana dan
mimpiku. Hanya derai air mata yang menggenangi pelupuk mataku. Sekeliling orang datang
mengerubungiku. Sayup-sayup suara Enomoto, Ichira dan Kino masih kudengar.
****
Dengan mata yang sembab kulangkahkan kaki turun dari sebuah taksi kuning tepat di depan
sebuah rumah dengan pagar kayu mahoni yang rapuh. Ada banyak orang datang dan pergi dari
tempat itu, sebagiannya pernah kukenal pada memoriku yang lalu, tapi sebagian besarnya baru
kulihat hari itu. Dengan ragu aku mengangkat tasku berjalan masuk. Kuharap takkan terjadi apa- apa.
Aku sadar semua mata orang- orang berpakaian hitam itu memandangku dengan ekspresi berbeda.
Serasa kaku.
Aku melangkah maju, tertunduk. Langkah kaki membawaku naik ke teras dan kemudian ke
ke arah pintu yang terbuka lebar. Sedikit buram mataku saat itu. Entahlah... perasaan ini begitu
menyiksa. Tiba- tiba seseorang bangun dan memelukku, ibu.... Badanku lemas. Mataku menangkap
buram seseorang yang terbaring kaku di hadapanku. Bapak....! Aku tertunduk dan jatuh di ujung
ranjang yang berhiaskan bunga- bunga berwarna ungu. Ini Bapak? Benakku mencoba memastikan.
Bayangan gelap kembali menghantuiku.
Ragaku ingin berteriak dan merontak saat itu. Detik serasa berlalu begitu lambat dari
pikirku. Bagaimana ini? Ibu masih dipenuhi isak dan air mata dalam pelukanku. Aku tahu, sebagai
laki- laki, aku harus tegar, tapi aku juga tahu, tidak pada saat ini. Remuk, hancur...
****
Sehari setelah pemakaman kupikir aku harus baik- baik saja, dan ternyata tidak demikian.
Seluruh isi rumah dipenuhi bayang- bayang rindu akan kehadiran Bapak. Termasuk aku yang 2 tahun
ini tak sekalipun melihat wajahnya, ataupun hanya berbicara dengannya lewat kabel telepon.
Entahlah... apa yang sudah aku pikirkan.
Tiba- tiba ibu menghampiriku, masih ada tangis berbekas di wajahnya. Di tangannya ia
menggenggam sebuah kantong kresek berwarna hitam. Aku jelas tak tahu apa itu.
Kangen ya... sama Bapak... gumamnya. Aku mengangguk. Tanpa berkata apa- apa, ibu
menyerahkan kantong kresek tadi kepadaku. Aku membukanya, masih dalam diam. Dan...
Deeegg....!
Di dalam kantong plastik itu kuamati begitu banyak gulungan uang kertas seribuan hingga
seratus ribu. Aku memandang ibu. Entahlah apa maksudnya ini, otot keningku berkontraksi, heran.
Run, maaf ibu baru bisa kasih ini sekarang. Ini semua uang dari Bapak, Run... kata- kata
Ibu terhenti disertai air mata mengalir dari matanya. Aku lebih kaget lagi dibuatnya.
Bapak ternyata sudah mengumpulkan ini, jauh sebelum kamu meminta untuk pergi ke luar
negeri. Dia bahkan tidak pernah memberi tahu Ibu tentang apa yang dilakukannya. Ibu
melanjutkan. Aku berbalik menatap Ibu yang masih bermain dalam memorinya sendiri.
Hahhh??? Bapaaak...? aku tidak melanjutkan. Lidahku kelu.
Waktu kamu sendirian ke Bandar udara 2 tahun lalu, Bapakmu sebenarnya ingin
mengantarmu. Tapi Bapak sedang memperbaiki taksinya di bengkel karena kecelakaan sehari
sebelumnya. Tapi kemudian bapak tidak sempat menemuimu untuk menyerahkan sekantong uang
ini karena kedatangannya terlambat. Entahlah, apakah kamu pernah merasakannya atau tidak,
semua yang terjadi pada Bapak itu demi kamu... Ibu menceritakan hal itu dengan pandangan
kosong, tertunduk, dan penuh derai air mata. Semakin terpojok aku. Kaget. Aku tidak pernah
menyadari perhatian bapak begitu besar terhadapku.
Ibu tidak pernah menyangka, Nak.... Bapak sudah mempersiapkan semuanya untuk
sekolahmu keluar. Dan ternyata, tidak satupun usahanya kamu pake untuk pendidikanmu mulai dari
kuliah S1mu sampai sekarang. Mungkin karena itulah bapak marah dan merasa bersalah kepadamu,
dan tidak memberitahu rasa sakitnya kepadamu,Run...
Bu... aku tidak pernah bermaksud demikian... kataku pelan dengan isak tangis.
Kami terdiam. Masih dalam tangis.
Sudahlah, Run... Bapak juga sudah tidak ada. Kamu jangan memberatkan dirimu, Nak.
Waktu hari- hari terakhir, Ibu sudah minta bapak telpon kamu, tapi bapak mengelak. Bapak Cuma
titip pesan sama ibu...Bapak minta maaf sama Arun. Bapak minta maaf sekali karena tidak bisa buat
banyak untuk kamu, dan sudah terlalu keras pada kamu selama ini. Bapak bilang, Bapak rindu sekali
dengan Arun.... ibu menutup kalimatnya. Aku tak berbahasa saat itu. Berdosanya aku pada cinta
Bapak yang tak terlihat namun begitu besarnya bagiku. Aku terlalu buta untuk melihat pelangi yang
dipancarkan Bapak.... Masih dalam isak tangis tak berhenti hanya mampu kusampaikan, Maafkan
aku, Pak....
Bapak seperti sakura yang diceritakan Kino. Dan semua cintanya seperti nyanyian pelangi,
mengalun namun hanya dapat aku rasakan lewat pantulan cermin rintikan hujan... Niji no megami....
Ya... nyanyian pelangi....

Sleman, April 2013

Penulis : Yustina Febri Salsinha, lahir 3 Februari 1994. Alumnus SMA Negeri 1 Atambua, sekarang tercatat sebagai mahasiswa
Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Penikmat sastra dan karya- karya motivasi hidup. Seperti Coronary aliran darah, biarkan
cita rasa sastra mengalir memenuhi dirimu, dan kembali pada degup jantung membawa kehidupan. ^^