You are on page 1of 13

PENGERTIAN HERNIA

Hernia adalah penyakit yang terjadi ketika ada organ dalam tubuh yang menekan dan
mencuat melalui jaringan otot atau jaringan di sekitarnya yang lemah. Otot kita
biasanya cukup kuat untuk menahan organ-organ tubuh sehingga tetap di lokasinya
masing-masing. Melemahnya otot tersebut hingga tidak dapat menahan organ di
dekatnya akan mengakibatkan hernia.

Ada sejumlah faktor yang diduga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mengalami
hernia. Faktor-faktor pemicu tersebut meliputi:

Konstipasi yang menyebabkan pengidapnya harus mengejan.

Kehamilan yang akan meningkatkan tekanan dalam perut.

Kenaikan berat badan secara tiba-tiba.

Penumpukan cairan di dalam abdomen (rongga perut).

Mengangkat beban yang berat.

Kelebihan berat badan atau obesitas.


Batuk berkepanjangan.

Apa Sajakah Jenis-jenis Hernia?


Lokasi kemunculan hernia terdapat di seluruh abdomen. Jenis-jenis hernia juga umumnya terbagi
berdasarkan letaknya, yaitu:
Hernia inguinalis yang terjadi saat ada sebagian usus atau jaringan lemak di rongga perut yang
mencuat ke selangkangan. Ini merupakan jenis hernia yang paling sering terjadi dan pria
memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya.
Hernia femoralis yang terjadi saat ada jaringan lemak atau sebagian usus yang mencuat ke
bagian atas paha bagian dalam. Risiko wanita untuk terkena penyakit ini lebih tinggi daripada
pria.
Hernia umbilikus yang terjadi saat ada jaringan lemak atau sebagian usus mendorong dan
menonjol di dinding abdomen, dekat pusar. Jenis hernia ini bisa dialami oleh bayi akibat lubang
besar tali pusat yang tidak tertutup dengan sempurna setelah bayi lahir. Sedangkan pada orang
dewasa, pemicu hernia jenis ini adalah adanya tekanan berlebihan pada abdomen.
Hernia insisi yang terjadi saat ada jaringan yang mencuat lewat luka operasi yang belum
sembuh pada abdomen. Hernia ini termasuk salah satu risiko komplikasi pada operasi bagian
perut.
Hernia hiatus yang terjadi saat ada bagian lambung yang masuk lewat celah pada diafragma
(sekat antara rongga dada dan rongga perut) dan mencuat ke rongga dada. Meski terkadang tanpa
gejala, nyeri ulu hati (rasa sakit atau tidak nyaman pada dada yang biasanya muncul setelah
makan) merupakan indikasi yang mungkin terjadi jika mengalami hernia ini.
Hernia Spigelian yang terjadi saat ada sebagian usus mendorong jaringan ikat perut (Spigelian
fascia) dan menonjol di dinding perut depan kiri atau kanan bawah pusar.
Hernia diafragma yang terjadi saat ada organ perut yang berpindah ke rongga dada melalui
celah pada diafragma. Sama seperti hernia umbilikus, hernia ini juga bisa dialami oleh bayi
akibat pembentukan diafragma yang kurang sempurna.
Hernia epigastrik yang terjadi saat ada jaringan lemak yang mencuat keluar dan menonjol pada
dinding abdomen, di antara pusar dan tulang dada bagian bawah.
Hernia otot yang terjadi saat ada sebagian otot yang mencuat pada abdomen. Jenis hernia ini
juga dapat terjadi pada otot kaki akibat cedera berolahraga.
Segera periksakan diri Anda ke dokter, terutama jika Anda juga mengalami gejala-gejala seperti
rasa sakit yang parah dan muncul tiba-tiba, muntah, sulit buang air besar, serta hernia yang
mengeras atau sakit saat disentuh dan tidak bisa didorong masuk.

Bagaimana Cara Memeriksa dan Mengobati Hernia?


Pemeriksaan hernia umumnya menggunakan USG. Dalam proses USG, gelombang suara
berfrekuensi tinggi akan digunakan untuk menghasilkan gambar dari bagian dalam organ tubuh.
Penyakit melemahnya dinding perut ini sering dianggap sepele karena jarang memiliki gejala.
Tetapi, hernia juga dapat mengakibatkan gangguan usus atau terhambatnya aliran darah pada
jaringan hernia yang terjepit.

Kedua komplikasi di atas adalah kondisi gawat darurat. Anda dianjurkan untuk segera ke rumah
sakit jika mengalaminya. Risiko terjadinya komplikasi akibat hernia cenderung berbahaya.
Karena itu, dokter umumnya menganjurkan para penderita hernia untuk menjalani operasi.

Meski demikian, ada juga jenis hernia yang tidak membutuhkan operasi. contohnya Hernia
umbilikus yang biasanya dapat sembuh sendiri dan hernia hiatus yang terkadang dapat ditangani
dengan obat-obatan.

Proses Operasi
Prosedur operasi untuk menangani hernia terbagi dalam 2 jenis, yaitu operasi terbuka dan
laparaskopik. Terdapat sejumlah faktor pertimbangan yang akan memengaruhi keputusan dokter
dalam menentukan prosedur operasi, yaitu:
Kondisi kesehatan pasien. Operasi akan sulit dilakukan apabila kondisi kesehatan pasien buruk.
Isi hernia. Ada hernia yang berisi bagian usus, otot, atau jaringan lain.
Gejala yang dialami. Ada hernia yang tidak memiliki gejala dan ada yang menyebabkan rasa
sakit.
Lokasi hernia. Hernia femoralis dan hernia yang muncul di daerah selangkangan lebih
membutuhkan operasi dibandingkan hernia di daerah perut.
Semua operasi memiliki risiko tertentu. Karena itu, dokter spesialis bedah akan menjelaskan
semua manfaat serta risiko dari prosedur operasi yang akan Anda jalani.

Hernia, atau yang lebih dikenal dengan turun berok, adalah penyakit akibat turunnya buah zakar
seiring melemahnya lapisan otot dinding perut. Penderita hernia, memang kebanyakan laki-laki,
terutama anak-anak. Kebanyakan penderitanya akan merasakan nyeri, jika terjadi infeksi di
dalamnya, misalnya, jika anak-anak penderitanya terlalu aktif.
Berasal dari bahasa Latin, herniae, yaitu menonjolnya isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis
yang lemah pada dinding rongga. Dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan
pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa
bagian dari usus.
Hernia yang terjadi pada anak-anak, lebih disebabkan karena kurang sempurnanya procesus
vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Sementara pada orang
dewasa, karena adanya tekanan yang tinggi dalam rongga perut dan karena faktor usia yang
menyebabkan lemahnya otot dinding perut.
Penyakit hernia banyak diderita oleh orang yang tinggal didaerah perkotaan yang notabene yang
penuh dengan aktivitas maupun kesibukan dimana aktivitas tersebut membutuhkan stamina yang
tinggi. Jika stamina kurang bagus dan terus dipaksakan maka, penyakit hernia akan segera
menghinggapinya.
Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas :

hernia bawaan (kongenital)


hernia yang didapat (akuisita)
Berdasarkan letaknya, hernia dibagi menjadi

hernia diafragma yaitu menonjolnya organ perut kedalam rongga dada melalui lubang pada
diafragma (sekat yang membatasi rongga dada dan rongga perut).
inguinal
umbilical yaitu benjolan yang masuk melalui cincin umbilikus (pusar)
femoral yaitu benjolan di lipat paha melalui anulus femoralis.
Sedangkan menurut sifatnya, ada hernia

reponibel ; bila isi hernia dapat keluar masuk dalam waktu yang singkat.
hernia irreponibel ; bila isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga
strangulata : bila terdapat keluhan nyeri, biasanya karena terjepitnya pembuluh darah
incarserata : terdapat tanda obstruktif, sperti tidak bisa buang air besar, tidak bisa buang angin
dan terdapat nyeri
hernia akreta ; jika tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus akibat perlekatan
tersebut.
Semua Hernia perlu operasi, Hernia Reponible yang tergolong ringan juga harus dioperasi, tetapi
dapat dijadwalkan, sedangkan Hernia jenis lainnya harus segera dioperasi, karena dikhawatirkan
akan/sudah menekan pembuluh darah, syaraf atau jaringan lainnya, sehingga dapat mengakibatkan
matinya/terganggunya organ tertentu. Sekarang ini operasi banyak disertai pemasangan
Mesh/Jaring untuk memperkuat otot, walaupun demikian tidak ada jaminan bahwa Hernia tidak
muncul kembali terutama bila Faktor Penyebabnya tidak dihilangkan.

Tindakan Pencegahan[sunting | sunting sumber]


Langkah pertama untuk mencegah hernia adalah mengetahui penyebabnya. Hernia yang timbul
akibat kelainan bawaan dan efek penuaan tidak dapat dicegah. Hernia bisa muncul bila otot dinding
tipis yang menyekat/ membungkus organ mendapatkan tekanan melebihi kapasitasnya.

Gunakan teknik mengangkat yang benar. Selalu gunakan kaki Anda, bukan otot punggung
Anda, untuk mengangkat, jika perlu lutut ditekuk. Pakailah dukungan penahan ketika melakukan
kegiatan mengangkat berat.
Sampaikan kesulitan buang air kecil ke dokter Anda. Kesulitan buang air kronis dapat
menyebabkan hernia. Penyebab sulit buang air kecil perlu ditentukan dan diobati oleh dokter
Anda.
Turunkan berat badan jika Anda kelebihan berat badan.
Hindari sembelit dengan banyak makan serat, banyak minum, dan segera ke kamar kecil bila
kebelet.
Berolahragalah secara teratur.
Berhentilah merokok. Oksigenasi buruk akibat merokok dapat menyebabkan kerusakan otot dan
kelemahan otot yang menjadi sasaran utama perkembangan hernia.

Pneumonia atau infeksi paru-paru dapat menyebabkan kematian pada anak, terutama
yang berusia di bawah lima tahun. Kenali gejalanya dan cara mencegahnya.
Orang tua sebaiknya waspada bila anak mengalami batuk dan gangguan pernapasan karena bisa
saja menjadi tanda awal pneumonia.

Penyebab pneumonia cukup beragam, mulai dari bakteri, jamur, serta sejumlah virus. Bahkan
virus flu juga dapat memicu pneumonia pada anak.

Biasanya pneumonia terjadi setelah saluran pernapasan bagian atas yang mencakup hidung dan
tenggorokan terinfeksi, berupa pilek dan nyeri tenggorokan. Setelah dua hingga tiga hari, infeksi
dapat menjalar ke paru-paru. Sistem imun yang lemah atau belum terbentuk sempurna tidak
mampu membasmi infeksi awal yang ringan sehingga menyebar ke paru-paru dan menyebabkan
pneumonia. Dengan pneumonia, jalan udara ke paru-paru bisa terhambat, sehingga bernapas
menjadi sulit dan asupan oksigen berkurang.

Penyakit ini cenderung menyerang anak dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya
bayi yang tidak mendapat air susu ibu (ASI) atau anak yang kurang gizi, anak-anak dengan HIV,
bahkan anak yang terinfeksi campak juga berisiko terkena pneumonia. Sejumlah faktor
lingkungan juga dapat meningkatkan risiko anak terkena pneumonia, misalnya orang tua yang
merokok atau tinggal di pemukiman padat penduduk.

Waspadai Gejalanya
Selayaknya anak-anak, semangat mereka untuk bermain dan beraktivitas biasanya tinggi,
sehingga kurang waspada pada dirinya sendiri. Bahkan ketika sakit, anak ingin tetap terjaga dan
bermain.

Namun, orang tua sebaiknya jangan menunggu sampai anak terkulai lemas untuk memastikan
bahwa anak memang sakit. Ketika ritme napas anak menjadi cepat, orang tua sudah harus sigap
memeriksakan ke dokter. Ini bisa menjadi gejala pneumonia. Pneumonia pada anak bisa juga
disertai dengan beberapa gejala seperti berikut ini.

Batuk.

Hidung tersumbat.

Muntah.
Demam.

Napas diiringi suara mendenging.

Kesulitan untuk bernapas hingga terlihat dada dan perut yang menggembung.

Terasa nyeri di bagian dada.

Menggigil.

Terasa sakit pada bagian perut akibat batuk terus menerus.

Tidak nafsu makan, sehingga bisa memicu dehidrasi.

Pada kasus yang parah, bibir dan kuku jari bisa berubah warna menjadi kebiruan atau abu-abu.

Menangis lebih sering dari biasanya.

Sulit beristirahat.

Pucat dan lesu.

Segera periksakan ke dokter agar anak mendapat pertolongan medis yang sesuai. Dokter
biasanya akan mengecek pola pernapasan, denyut jantung, tekanan darah, suhu tubuh, dan
mendengarkan apakah ada suara napas abnormal dari paru-paru. Dalam pemeriksaan lanjutan,
mungkin diperlukan pencitraan dengan sinar X pada bagian dada anak serta tes darah, bahkan
pemeriksaan sampel dahak untuk memastikan jenis kumannya. Setelah itu, dokter biasanya akan
meresepkan antibiotik untuk anak.
Penyakit ini dapat menular melalui percikan ludah ketika penderita pneumonia batuk atau bersin,
termasuk menyentuh sapu tangan penderita. Selain itu dapat menular melalui berbagai peralatan
makan dan minum milik penderita.

Jika kondisi anak parah, daya tahan tubuh lemah, sering muntah sehingga tidak dapat meminum
obatnya, atau memerlukan terapi oksigen, anak disarankan untuk dirawat di rumah sakit.
Orang tua sebisa mungkin memberikan cairan yang cukup agar anak tidak dehidrasi dan
membantunya untuk mendapatkan istirahat yang cukup. Bila dokter meresepkan obat antibiotik,
pastikan anak minum sesuai jadwal. Hal ini penting untuk proses penyembuhannya.

Cara Mencegah
Berikut adalah beberapa langkah untuk mencegah pneumonia pada anak.

Gizi yang cukup, mencakup pemberian ASI pada bayi minimal selama enam bulan pertama. Ini
penting untuk menguatkan daya tahan tubuh anak secara alami dalam melawan penyakit. Cukupi
kebutuhan nutrisi anak dengan memberikannya buah, sayuran, dan makanan bergizi lainnya.
Imunisasi, seperti imunisasi Hib (haemophilus influenzae tipe b), vaksin campak, serta vaksin
pertusis atau batuk rejan yang dikenal dengan imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus).
Imunisasi tersebut merupakan cara paling efektif untuk mencegah pneumonia.
Perilaku hidup sehat dan bersih, meliputi kebersihan diri seperti mencuci tangan sebelum
makan, kebersihan lingkungan seperti menjauhkan anak dari asap rokokatau polusi udara,
kebersihan rumah dan ventilasi udara yang baik, serta mengolah makanan secara bersih.

Jangan biarkan penyakit merenggut keceriaan anak, jagalah kebersihan serta penuhi kebutuhan
nutrisi anak, dan jangan lupa untuk memberikan imunisasi untuk anak.

Apa itu pneumonia?


Pneumonia adalah kondisi di mana salah satu paru-paru Anda mengalami peradangan.
Penyebabnya dapat disebabkan oleh banyak hal seperti jamur, bakteri, dan virus. Namun
sebagian besar kasus pneumonia umumnya disebabkan oleh adanya infeksi bakteri pada paru-
paru Anda. Umumnya gejala pneumonia berkembang dalam waktu satu hingga dua hari, lalu
mengalami perlambatan setelah beberapa hari.

Infeksi ini diawali dengan mengganggu sistem pernapasan bagian atas (hidung dan
tenggorokan) Anda. Lalu infeksi tersebut akan berpindah menuju paru-paru, yang kemudian
menghambat pergerakan udara dalam paru-paru, sehingga Anda akan semakin mengalami
kesulitan dalam bernapas. Sebagian besar pneumonia dapat ditangani hingga sembuh dalam
waktu satu hingga dua minggu (pneumonia karena virus umumnya membutuhkan waktu yang
lebih lama). Namun kondisi Anda tentu akan lebih buruk bila pneumonia yang Anda alami
dibarengi dengan keberadaan penyakit lain dalam tubuh Anda.
Gejala pneumonia pada anak
Agak berbeda dengan pneumonia secara umum, pneumonia pada anak justru pada beberapa
kasus tidak ditandai dengan peningkatan tempo pernapasan, terutama bila pneumonia tersebut
menyerang paru-paru bagian bawah. Gejala yang terjadi umumnya justru demam, muntah-
muntah serta nyeri pada perut bagian bawah.

Beberapa gejala lain yang menandakan anak Anda diserang pneumonia antara lain:

Demam,
Batuk, yang mungkin kering dan mungkin juga berdahak diikuti dengan lendir atau mukus
berwarna hijau atau kuning.
Bernapas dengan nada yang tinggi,
Kesulitan bernapas. Umumnya anak Anda tetap akan merasakan kesulitan bernapas bahkan
saat ia tengah beristirahat.
Muntah-muntah,
Rasa nyeri pada bagian dada.
Nyeri pada perut yang bisa terjadi karena usaha anak Anda yang terlalu keras untuk bernapas
dengan normal.
Penurunan aktivitas.
Kehilangan nafsu makan.
Pada kondisi yang lebih parah warna bibir dan kuku anak Anda akan membiru.
Berkeringat

Bagaimana mencegah pneumonia pada anak?


Pada usia anak-anak, pneumonia dapat dicegah dengan rutin mendapatkan vaksin yang
biasanya akan diberikan sejak usianya kira-kira berusia dua bulan. Tapi seperti yang telah
disebutkan di atas, pneumonia akan berdampak lebih buruk saat serangannya datang
berbarengan dengan penyakit lain. Terlebih bila penyakit penyerta merupakan penyakit kronis
yang datangnya kambuhan seperti jantung atau asma.

Meskipun pneumonia bukan merupakan penyakit menular, namun mikroorganisme yang


menyebabkan penyakit ini mampu menyebar melalui tetesan air saat bersin maupun batuk.
Sehingga sebaiknya anak Anda:

Menutup mulut setiap kali seseorang dengan pneumonia batuk maupun bersin didekatnya
Mencuci tangan dengan sabun, untuk mencegah penyebaran bakteri maupun virus apapun.

Beberapa kondisi lain juga dapat meningkatkan peluang anak Anda terserang pneumonia.
Kondisi tersebut seperti tinggal pada wilayah dengan tingkat polusi yang tinggi dan padat serta
memiliki orangtua seorang perokok aktif.

Baca Juga:

Mencegah Kanker Paru Anak Kambuh Lagi


Efek Merokok Pada Anak-anak
Infeksi Dapat Meningkatkan Risiko Terserang Stroke
Pneumonia adalah istilah medis yang menggambarkan sebuah penyakit pada paru-paru yang
dapat terjadi ringan hingga serius dan mengancam nyawa. Pneumonia paling serius jika terjadi
pada bayi dan anak-anak, orang tua diatas usia 65 tahun, dan orang-orang dengan masalah
kesehatan yang mendasarinya atau sistem kekebalan tubuh yang lemah. Pengertian
Pneumonia Ditinjau dari definisi, Pneumonia adalah infeksi atau peradangan pada salah satu
atau kedua paru-paru, lebih tepatnya peradangan itu terjadi pada kantung udara (alveolus,
jamak: alveoli). Kantung udara akan terisi cairan atau nanah, sehingga menyebabkan sesak
nafas, batuk berdahak, demam, menggigil, dan kesulitan bernapas. Infeksi tersebut disebabkan
oleh berbagai organisme, termasuk bakteri, virus dan jamur.
Bersumber dari: Pneumonia Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan - Mediskus

Gejala Pneumonia Tanda-tanda dan gejala pneumonia bervariasi mulai dari yang ringan hingga
yang berat, tergantung pada faktor-faktor seperti jenis kuman penyebab, usia penderita dan
kondisi kesehatan secara keseluruhan. Tanda-tanda dan gejala pneumonia yang ringan sering
kali mirip dengan flu atau common cold (sakit demam, batuk-pilek), namun tak kunjung sembuh
atau bertahan lama. Ciri-ciri dan gejala pneumonia antara lain: Demam, berkeringat dan
menggigil Suhu tubuh lebih rendah dari normal pada orang di atas usia 65 tahun, dan pada
orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah Batuk berdahak tebal dan kentel (lengket)
Nyeri dada saat bernapas dalam atau ketika batuk Sesak napas (nafas cepat) Kelelahan dan
nyeri otot Mual, muntah atau diare Sakit kepala Penyebab pneumonia Ada banyak
kemungkinan penyebab pneumonia, yang paling sering adalah karena infeksi bakteri dan virus
dari udara yang kita hirup. Klasifikasi Pneumonia didasarkan pada jenis kuman penyebabnya
itu, dan di mana seseorang mendapatkannya. Berikut penyebab pneumonia beserta
klasifikasinya: Community-acquired pneumonia Pneumonia komunitas ini adalah jenis
pneumonia yang terbanyak. Terjadi di tengah-tengah masyarakat artinya di luar rumah sakit
dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, jenis pneumonia ini disebabkan oleh: Virus,
termasuk beberapa jenis virus yang juga menyebabkan pilek dan flu. Virus adalah penyebab
pneumonia pada anak yang paling sering terjadi yakni di bawah usia 2 tahun. Viral pneumonia
biasanya ringan. Akan tetapi radang paru-paru yang disebabkan oleh virus influenza tertentu
dapat menyebabkan sindrom pernafasan akut (SARS), bisa menjadi sangat serius. Bakteri,
seperti Streptococcus pneumoniae dapat terjadi dengan sendirinya (secara langsung) atau
setelah mengalami flu atau batuk pilek sebagai komplikasinya. Bakteri lain, seperti Mycoplasma
pneumoniae, biasanya menimbulkan gejala pneumonia yang lebih ringan dibanding jenis
lainnya. Jamur, biasanya dapat ditemukan di tanah dan kotoran burung. Ini merupakan Jenis
pneumonia yang paling sering terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah
seperti HIV-AIDS dan pada orang yang telah menghirup organisme penyebab dalam jumlah
yaang besar. Hospital-acquired pneumonia Pneumonia yang didapat di rumah sakit adalah
infeksi bakteri yang terjadi pada orang yang selama 48 jam atau lebih dirawat di rumah sakit
karena penyakit lainnya. Pneumonia ini bisa lebih serius karena biasanya bakteri penyebab
lebih resisten (kebal) terhadap antibiotik. Health care-acquired pneumonia Perawatan
kesehatan pneumonia adalah infeksi bakteri yang terjadi pada orang-orang yang tinggal di
fasilitas perawatan jangka panjang atau telah dirawat di klinik rawat jalan, termasuk pusat-pusat
dialisis ginjal. Seperti didapat di rumah sakit pneumonia. Pneumonia aspirasi Pneumonia
aspirasi terjadi ketika seseorang menghirup makanan, minuman, muntahan atau air liur masuk
ke dalam paru-paru. Pengobatan pneumonia Pengobatan utama pneumonia tergantung pada
jenis pneumonianya (penyebab) dan tingkat keparahannya, sehingga ada yang hanya perlu
rawat jalan, namun beberapa perlu perawatan inap di rumah sakit atau klinik. Mengobati
Pneumonia yang disebabkan infeksi bakteri Antibiotik digunakan untuk mengobati jenis
pneumonia ini. Antibiotik harus diberikan dengan pangarahan. Jika antibiotik berhenti sebelum
pengobatan selesai, pneumonia dapat kambuh kembali. Kebanyakan pasien akan membaik
setelah 1-3 hari pengobatan. Mengobati Pneumonia yang disebabkan infeksi virus Antibiotik
tidak berguna jika virus adalah penyebab pneumonia. Namun, obat antivirus dapat membantu
mengatasi kondisi tersebut. Gejala biasanya membaik dalam waktu satu sampai tiga minggu.
Pencegahan Pneumonia Untungnya pneumonia ini dapat dicegah yaitu dengan vaksinasi
terhadap bakteri penyebab pneumonia dan vaksin influenza. Hal ini penting bagi mereka yang
berisiko tinggi seperti orang dengan diabetes, asma, dan masalah kesehatan lainnya yang
parah atau kronis. Di samping itu juga harus menjaga kebersihan dengan rajin cuci tangan,
tidak merokok, serta istirahat cukup dan diet sehat untuk menjaga daya tahan tubuh.
Bersumber dari: Pneumonia Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan - Mediskus

Plasenta previa adalah perlekatan plasenta atau ari-ari yang berada di bagian bawah rahim
sehingga berpotensi menutupi jalan lahir, baik sebagian ataupun keseluruhan. Kondisi ini juga
berisiko menimbulkan pendarahan berulang saat hamil terutama mendekati waktu persalinan.
Plasenta merupakan organ yang terbentuk selama kehamilan. Plasenta terhubung dengan janin
melalui tali pusat. Organ ini berfungsi memberi nutrisi bagi janin, membuang sisa metabolisme
janin, dan memproduksi hormon untuk mempertahankan kehamilan. Untuk menjalankan
fungsinya plasenta memiliki banyak pembuluh darah. Di satu sisi plasenta, beredar darah ibu,
dan di sisi lain, beredar darah janin. darah ibu dan darah janin biasanya tidak bercampur di
dalam plasenta. Gambar letak plasenta normal vs plasenta previa Pada kondisi normal plasenta
biasanya melekat pada bagian atas rahim dan jauh dari leher rahim. Pada kondisi yang langka,
plasenta dapat melekat pada bagian bawah rahim. Karena letaknya ini plasenta dapat menutupi
sebagian atau keseluruhan jalan lahir yang disebut dengan plasenta previa. Berdasarkan
letaknya tersebut, maka kondisi ini dibagi menjadi tiga jenis, yaitu : Plasenta previa lateralis
yaitu plasenta yang melekat rendah di dekat leher rahim namun tidak menutupi jalan lahir
Plasenta previa parsialis yaitu plasenta yang melekat rendah di dekat leher rahim dan menutupi
sebagian jalan lahir Plasenta previa totalis yaitu plasenta yang melekat rendah di dekat leher
rahim dan menutupi keseluruhan jalan lahir Plasenta previa sudah bisa terlihat pada saat
kehamilan belum memasuki minggu ke-20. Pada kebanyakan kasus dapat sembuh sendiri dan
hanya sekitar sepuluh persen yang tetap bertahan selama kehamilan berlangsung. Seiring
dengan pembesaran rahim selama kehamilan, plasenta biasanya juga ikut bergerak lebih tinggi
dan menjauhi leher rahim. Apabila plasenta previa tetap bertahan hingga saat tanggal taksiran
persalinan, seperti yang terjadi pada 1 dari 200 kehamilan, anda berisiko untuk mengalami
perdarahan, terutama selama proses penipisan dan pembukaan leher rahim. Hal ini tentunya
akan menyebabkan ibu mengalami kehilangan darah yang banyak. Untuk alasan inilah, maka
wanita dengan plasenta previa biasanya melahirkan bayi mereka sebelum tanggal taksiran
persalinan dengan cara operasi sesar. Mengenal Plasenta Previa Lebih Dalam # Apa Penyebab
Plasenta Previa? Penyebab pasti plasenta previa belum diketahui. Namun kejadian plasenta
previa pada wanita hamil dapat meningkat pada beberapa keadaan berikut: Kehamilan pada
usia tua (usia 35 tahun atau lebih) Pernah mengalami kehamilan bayi kembar Pernah
mengalami plasenta previa pada kehamilan sebelumnya. Pernah menjalani operasi caesar atau
operasi lain pada rahim Wanita yang merokok Wanita yang menggunakan kokain # Apa Tanda
dan Gejala Plasenta Previa? Beberapa gejala yang dapat muncul ketika ibu hamil mengalami
plasenta previa antara lain: Dapat terjadi perdarahan namun tidak disertai rasa nyeri
Perdarahan yang timbul dapat terjadi berulang ulang Perdarahan timbulnya perlahan-lahan
Darah yang dikeluarkan masih bewarna merah segar Dapat terjadi anemia dan syok, sesuai
dengan jumlah perdarahan Pada saat perdarahan rahim biasanya tidak berkontraksi Pada
perabaan, rahim tidak tegang (biasa) Pemeriksaan denyut jantung janin biasanya normal
Presentasi janin dalam rahim mungkin tidak normal. Penurunan kepala masih tinggi atau belum
masuk pintu atas panggul # Pengobatan Plasenta Previa Hati-hati, ibu hamil yang dicurigai atau
diketahui mengalami plasenta previa tidak boleh dilakukan pemeriksaan dalam ataupun
pemasangan tampon vagina. Hal ini berisiko bagi ibu, karena dapat memperbanyak perdarahan
dan menimbulkan infeksi. Penatalaksaaan terhadap plasenta previa sangat tergantung pada
beberapa hal berikut, yaitu jumlah perdarahan yang terjadi, umur kehamilan, dan jenis plasenta
previa itu sendiri. Ibu harus segera dikirim ke rumah sakit yang memiliki fasilitas untuk
melakukan transfusi darah dan operasi. Untuk pencegahan terhadap syok hipovolemik dapat
dilakukan pemasangan infus dengan menggunakan jarum besar, lalu dilakukan pemberian
cairan NaCl/RL sebanyak 2 -3 kali jumlah perkiraan darah yang hilang. Secara umum terdapat
3 jenis penatalaksanaan plasenta previa, yaitu perawatan konservatif, persalinan pervaginam,
dan persalinan perabdominal. Perawatan Konservatif Perawatan konservatif adalah perawatan
yang bertujuan mempertahankan kehamilan sampai usia kehamilan maksimal. Syarat
Perawatan konservatif adalah : Kehamilan belum cukup bulan Perdarahan sedikit (Hb masih
normal) Tempat tinggal dekat dengan rumah sakit (perjalanan selama 15 menit). Perawatan
konservaitif dilakukan dilakukan dengan cara : Mengistirahatkan ibu Memberikan hematinik
untuk mengatasi anemia Memberikan tokolitik untuk mengurangi kontraksi uterus Memberikan
antibiotik bila ada indikasi infeksi Melakukan pemeriksaan USG melakukan pemeriksaan darah
Apabila selama 3 hari tidak terjadi perdarahan setelah melakukan perawatan konservatif maka
lakukan mobilisasi bertahap dan pasien dibolehkan pulang. Persalian Pervaginam persalinan
pervaginam adalah tindakan melahirkan janin dengan cara persalinan normal. Persalinan
pervaginam dilakukan pada plasenta previa marginalis, plasenta previa letak rendah, plasenta
previa lateralis dengan pembukaan 4 cm atau lebih. Syarat persalinan per vaginam adalah :
Kehamilan sudah cukup bulan Perdarahan banyak Janin yang dikandung mati Persalinan
Perabdominal persalinan perabdominal adalah tindakan melahirkan janin dengan cara operasi
sesar. Indikasi operasi sesar pada plasenta previa dilakukan pada beberapa kondisi berikut:
Plasenta previa totalis Plasenta previa lateralis dimana perbukaan masih kurang dari 4 cm
Perdarahan yang banyak dan tanpa henti Presentasi janin yang tidak normal Ibu hamil dengan
panggul sempit.
Bersumber dari: Plasenta Previa : Gejala, Penyebab, dan Pengobatan - Mediskus

Plasenta previa atau plasenta letak rendah adalah kondisi ketika sebagian atau seluruh plasenta
menutupi mulut rahim. Plasenta atau ari-ari akan terbentuk dan menempel pada dinding rahim saat
seorang wanita menjadi hamil. Organ ini terhubung dengan bayi melalui tali pusar yang berfungsi
untuk menyalurkan oksigen dan nutrisi untuk bayi, sekaligus untuk membuang zat-zat sisa dari
darah bayi.

Selama masa kehamilan, rahim seorang wanita akan berkembang dan plasenta dengan kondisi
normal akan melebar ke arah atas serta menjauhi leher rahim atau serviks. Apabila tetap berada di
bagian bawah rahim atau di dekat serviks, plasenta dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan
lahir sang bayi. Kondisi inilah yang disebut plasenta previa.
Gejala-gejala Plasenta Previa

Plasenta previa termasuk kondisi yang jarang dialami oleh ibu hamil. Tetapi risiko ini tetap harus
diwaspadai karena dapat membahayakan jiwa ibu dan bayi dalam kandungan.

Gejala utama plasenta previa adalah perdarahan tanpa disertai rasa sakit. Perdarahan tersebut
biasanya terjadi pada 3 bulan terakhir masa kehamilan.

Volume darah yang muncul juga bisa ringan hingga parah. Perdarahan ini umumnya akan berhenti
tanpa penanganan khusus sebelum kembali terjadi pada beberapa hari atau beberapa minggu
kemudian. Sebagian ibu hamil juga ada yang mengalami kontraksi dan nyeri di punggung atau perut
bagian bawah.

Memang tidak semua ibu hamil dengan kondisi ini akan mengalami perdarahan. Namun tindak
penanganan sederhana, seperti membatasi rutinitas agar tidak kelelahan, harus tetap dilakukan
guna mencegah komplikasi.

Jika mengalami perdarahan dalam trimester kedua atau ketiga, sebaiknya Anda segera
menghubungi dokter. Ibu hamil yang mengalami perdarahan hebat dianjurkan untuk segera ke
rumah sakit.

Apabila tidak ditangani, ibu hamil dengan plasenta previa terbukti memiliki risiko lebih tinggi untuk
mengalami perdarahan sebelum dan setelah kelahiran, kelahiran prematur, serta lepasnya plasenta
dari rahim.

Faktor Risiko Plasenta Previa

Penyebab pasti plasenta previa belum diketahui, tapi ada beberapa faktor yang diduga berpotensi
meningkatkan risikonya pada ibu hamil. Faktor-faktor risiko tersebut antara lain adalah:

Pernah menjalani operasi pada rahim, misalnya kuret atau pengangkatan miom.
Pernah mengalami plasenta previa.
Pernah menjalani operasi caesar.
Pernah mengalami keguguran.
Merokok.
Berusia 35 tahun atau lebih.
Pernah melahirkan.
Pernah menjalani operasi pada rahim.
Menggunakan kokain.

Proses Diagnosis Plasenta Previa

Plasenta previa umumnya terdeteksi melalui pemeriksaan USG pada trimester kedua (usia
kehamilan 18 hingga 21 minggu). Anda juga akan dianjurkan untuk menjalani USG
transvaginal yang akan memberikan pencitraan yang lebih mendetail. Kombinasi kedua jenis USG
inilah yang akan membantu dokter untuk memastikan diagnosis.

Jika Anda positif terdiagnosis mengalami plasenta previa, dokter akan menghindari pemeriksaan
fisik rutin melalui vagina selama kehamilan. Ini dilakukan guna mengurangi risiko perdarahan. Anda
juga biasanya akan kembali menjalani proses USG sebelum melahirkan untuk memeriksa lokasi
plasenta serta detak jantung bayi.

Jenis-jenis Plasenta Previa

Plasenta previa dapat dibagi dalam 2 kategori berdasarkan posisi plasenta, yaitu minor atau
sebagian dan mayor. Pada plasenta minor, sebagian plasenta menjulur ke rahim bagian bawah
tanpa menutupi lubang serviks. Sementara pada plasenta previa mayor, posisi plasenta menutupi
lubang serviks.

Ibu hamil yang mengalami plasenta previa minor biasanya masih diperbolehkan untuk melahirkan
secara normal. Sedangkan plasenta previa mayor akan membutuhkan prosedur caesar.

Langkah Penanganan Plasenta Previa

Penanganan untuk plasenta previa umumnya meliputi istirahat sebanyak mungkin, transfusi darah
jika dibutuhkan, serta operasi caesar. Langkah penanganan akan ditentukan berdasarkan pada
beberapa faktor, yaitu:

Apakah terjadi perdarahan atau tidak.


Tingkat keparahan perdarahan.
Apakah perdarahan berhenti atau tidak.
Kondisi kesehatan sang ibu dan bayi.
Usia kandungan.
Posisi plasenta dan bayi.

Ibu hamil yang tidak mengalami sedikit perdarahan biasanya tidak membutuhkan perawatan di
rumah sakit, tapi harus tetap waspada. Dokter umumnya akan menganjurkan istirahat di rumah,
bahkan ada ibu hamil yang dianjurkan untuk terus berbaring dan hanya boleh duduk atau berdiri jika
benar-benar diperlukan. Berhubungan seks juga sebaiknya dihindari yang berpotensi memicu
perdarahan pada penderita plasenta previa. Begitu juga dengan olahraga. Apabila terjadi
perdarahan, ibu hamil dihimbau untuk segera ke rumah sakit sebelum perdarahan bertambah parah.
Sementara ibu hamil yang pernah mengalami perdarahan selama masa kehamilan disarankan untuk
menjalani sisa masa kehamilan di rumah sakit dari minggu ke-34. Langkah ini dianjurkan agar
pertolongan darurat (seperti transfusi darah atau pencegahan kelahiran prematur) bisa segera
diberikan jika perdarahan kembali terjadi. Prosedur caesar juga akan dilakukan begitu kehamilan
mencapai batas usia yang cukup, yaitu minggu ke-36. Sebelum menjalaninya, sang ibu biasanya
akan diberi kortikosteroid guna mempercepat perkembangan paru-paru bayi dalam kandungannya.

Apabila tidak ditangani dengan cepat, perdarahan ini dapat menyebabkan suatu komplikasi yang
mengancam nyawa, yakni syok hipovolemik. Selain itu, komplikasi lain yang dapat ditimbulkan
akibat plasenta previa antara lain:

Tromboemboli vena, biasanya disebabkan oleh durasi rawat inap yang terlalu lama dan efek
samping dari penggunaan obat antikoagulan (obat anti pembekuan darah).
Kelahiran prematur, biasanya terjadi pada ibu hamil dengan perdarahan yang tidak kunjung
berhenti. Dokter mungkin akan menganjurkan prosedur caesar meski usia kandungan belum
cukup.
Asfiksia janin dalam kandungan.
Cedera pada bayi saat lahir.