Teori memiliki fungsi untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala

spesifik atau proses tertentu terjadi,1 dan satu teori harus diuji dengan menghadapkannya

pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidak benarannya 2. Kerangka teori adalah

kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, thesis mengenai sesuatu kasus atau

permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis3. Kerangka

teori yang digunakan sebagai pisau analisis tesis ini ialah Teori Kepastian Hukum dan

Teori Pembuktian Alat Bukti Surat. Penjelasannya adalah sebagai berikut :

1.5.1. Teori Kepastian Hukum

Menurut Hans Kelsen, hukum adalah sebuah sistem norma. Norma adalah

pernyataan yang menekankan aspek “seharusnya” atau das sollen, dengan

menyertakan beberapa peraturan tentang perilaku atau tindakan yang harus

dilakukan. Norma-norma adalah produk dan aksi manusia yang deliberatif.

Undang-undang yang berisi aturan yang bersifat umum menjadi pedoman bagi

individu untuk bertingkal laku dalam masyarakat, baik dalam hubungan dengan

sesama individu maupun dalam hubungannya dengan masyarakat. Aturan-aturan

itu menjadi batasan bagi masyarakat dalam membebani atau melakukan tindakan

terhadap individu. Adanya aturan itu dan pelaksanaan aturan tersebut menimbulkan

kepastian hukum 4.

Menurut Gustav Radbruch yang dikutip oleh viktorianus dalam bukunya

mengemukakan, bahwa hukum harus mengandung 3 (tiga) nilai identitas, yaitu

sebagai berikut :

1. Asas kepastian hukum (rechtmatigheid). Asas ini meninjau dari sudut
yuridis.

1
M. Hisyam, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Jilid I, FE UI, Jakarta, 1996, hlm. 203.
2
Ibid., hlm. 203.
3
M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, 1994, hlm. 80.
4
Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana, Jakarta, 2008, hlm. 158.

1. maka secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa Indonesia menganut ajaran lebih mengutamakan terwujudnya kepastian hukum. melainkan semata-mata untuk kepastian7. Sifat umum dari aturan-aturan hukum membuktikan bahwa hukum tidak bertujuan untuk mewujudkan keadilan atau kemanfaatan. Rangkuman Intisari Ilmu Hukum. Asas ini meninjau dari sudut filosofis. 2002. Citra Aditya Bakti.5. dimana keadilan adalah kesamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. 2013. 2. Apabila dikaitkan dengan sistem hukum Indonesia yang menganut sistem hukum eropa kontinental (civil law). Toko Gunung Agung. Jakarta. Jakarta. 225. Sofmedia. Tujuan hukum yang mendekati realistis adalah kepastian hukum dan kemanfaatan hukum. 6 Riduan Syahrani. Randa Puang. yang cenderung melihat hukum sebagai sesuatu yang otonom. kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian. 3. Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis). 23.2. yaitu pertama adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan dan kedua berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap individu6. Bagi penganut aliran ini. karena bagi penganut pemikiran ini. Asas keadilan hukum (gerectigheid). Ajaran kepastian hukum berasal dari ajaran Yuridis Dogmatik yang didasarkan pada aliran pemikiran positivistis di dunia hukum. hlm. hlm. . 82-83. 7 Achmad Ali. Teori Pembuktian Alat Bukti Surat 5 Victorianus M. tujuan hukum tidak lain dari sekedar menjamin terwujudnya kepastian hukum.H. kepastian hukum itu diwujudkan oleh hukum dengan sifatnya yang hanya membuat suatu aturan hukum yang bersifat umum. Bandung. yang mandiri. hukum tak lain hanya kumpulan aturan. Asas kemanfaatan hukum (zwechmatigheid atau doelmatigheid atau utility)5. Menurut Utrecht. hlm. Filsafat Hukum sub-Cabang Filsafat Umum. 1999.

masih menggunakan ketentuan-ketentuan yang diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dari Pasal 1865-Pasal 1945. Pembuktian adalah proses penyajian alat-alat bukti yang sah menurut hukum oleh para pihak yang beperkara kepada hakim dalam suatu persidangan. dengan tujuan untuk memperkuat kebenaran dalil tentang fakta hukum yang menjadi pokok sengketa. .Chodari. 3) Membuktikan dalam arti yuridis (dalam hukum acara perdata). b. 127. yaitu:10 a.8 Menurut M. Sistem pembuktian hukum perdata di Indonesia.blogspot. Edisi enam (Yogyakarta: Liberty). hlm. Membuktikan dalam arti konvensional. pembuktian adalah kemampuan Penggugat atau Tergugat memanfaatkan hukum pembuktian untuk mendukung dan membenarkan hubungan hukum dan peristiwa-peristiwa yang didalilkan atau dibantahkan dalam hubungan hukum yang diperkarakan. 5 November 2012. dan A. Hukum Acara Perdata Indonesia. berarti memberi kepastian yang bersifat mutlak. 10 Sudikno Mertokusumo. sehingga disebut conviction raisonee. 9 Abd. 50. sehingga bersifat intuitif dan disebut conviction intime. Membuktikan dalam arti logis. http://fakultashukumdarussalam. tidak lain berarti memberi dasar-dasar yang cukup kepada hakim yang memeriksa perkara guna memberi kepastian tentang kebenaran peristiwa yang diajukan. 1999. dikutip pada 13 Desember 2013. Rasyid As’ad. 2) Kepastian yang didasarkan pada pertimbangan akal. karena berlaku bagi setiap orang dan tidak memungkinan adanya bukti lawan. hlm. membuktikan mengandung beberapa pengertian. berarti memberi kepastian tetapi bukan kepastian mutlak melainkan kepastian yang relatif sifatnya yang mempunyai tingkatan-tingkatan sebagai berikut: 1) Kepastian yang hanya didasarkan pada perasaan. Yahya Harahap. sehingga hakim memperoleh dasar kepastian untuk menjatuhkan keputusan. sedangkan dalam Herzine Indonesische Reglement (HIR) berlaku bagi golongan Bumi Putera untuk daerah Jawa dan Madura 8 Bahtiar Effendie. Surat Gugat Dan Hukum Pembuktian Dalam Perkara Perdata (Bandung: Citra Aditya Bakti).9 Menurut Sudikno Mertokusumo. 2002.com/2012/11/akta-elektronik-sebagai-alat-bukti. Masdari Tasmin. Akta Elektronik Sebagai Alat Bukti Dalam Perkara Perdata.html.

yaitu:12 a. maupun alat-alat bukti yang tidak disebutkan oleh Undang-Undang. misalnya keterangan saksi yang mempunyai kekuatan pembuktian yang bebas. Putusan yang dijatuhkan. Salah satu contohnya adalah alat bukti surat yang mempunyai kekuatan pembuktian mengikat bagi Hakim maupun para pihak. 40. dalam hal ini terdapat dua teori. Pasal 169-Pasal 177. yang berwenang untuk melakukan penilaian adalah Hakim dan Hakim bebas untuk menilai pembuktian. diatur dalam Pasal 162-Pasal 165. 12 ibid. 2013. 2) Teori Pembuktian Positif Hakim terikat dengan perintah Undang-Undang dalam melakukan penilaian terhadap suatu alat bukti tertentu. . harus selaras dengan alat-alat bukti yang diajukan dalam persidangan. dan dalam Rechtreglement Voor de Buitengewesten (RBg) berlaku bagi golongan Bumi Putera untuk daerah luar Jawa dan Madura diatur dalam Pasal 282-Pasal 314. 3) Teori Pembuktian Gabungan 11 Efa Laela Fakhriah. Cetakan ke-2 .11 Pada saat menilai alat bukti. Bukti Elektronik dalam Sistem Pembuktian Perdata. Pada umumnya. Teori Pembuktian Bebas Hakim bebas menilai alat-alat bukti yang diajukan oleh para pihak yang beperkara. Bandung: PT Alumni. hlm. Pasal 167. Teori Pembuktian Terikat Hakim terikat dengan alat pembuktian yang diajukan oleh para pihak yang beperkara. sepanjang undang- undang tidak mengatur sebaliknya. Hakim boleh terikat atau tidak pada keterangan yang diberikan oleh saksi. 53. hakim dapat bertindak bebas atau terikat oleh Undang-undang. Penilaian pembuktian alat bukti yang diajukan oleh pihak ke persidangan akan dilakukan penilaian. artinya diserahkan pada Hakim untuk menilai pembuktiannya. b. Lebih lanjut teori ini dibagi menjadi: 1) Teori Pembuktian Negatif Hakim terikat dengan larangan Undang-Undang dalam melakukan penilaian terhadap suatu alat bukti tertentu. baik alat-alat bukti yang sudah disebutkan oleh Undang-Undang. pembentuk undang-undang dapat menyerahkan dan memberi kebebasan pada Hakim dalam menilai pembuktian terhadap alat bukti. hlm. Sebaliknya.

yakni sebagai yang benar-benar berasal dari orang. dibedakan atas tiga kekuatan pembuktian. seorang hakim harus pula mengingat asas-asas yang penting dalam hukum pembuktian perdata. 14 Lumban Tobing. pada setiap akta autentik.S Lumban Tobing. 152. 1983). Kekuatan Pembuktian Lahiriah (Uitwendige Bewijsracht). Kemampuan ini menurut Pasal 1875 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) tidak dapat diberikan kepada akta yang dibuat di bawah tangan. Surat yang berbentuk akta juga dapat dibedakan menjadi akta autentik dan akta di bawah tangan. 55 . dengan demikian juga pada akta Notaris.H. akta yang dibuat di bawah tangan baru berlaku sah.cit. Dalam menilai pembuktian. Kekuatan pembuktian lahiriah dimaksudkan kemampuan dari akta itu sendiri untuk membuktikan dirinya sebagai akta autentik lazim disebut dalam bahasa latin : ”acta publica probant sese ipsa”. Yahya Harahap kekuatan pembuktian suatu akta dapat dibedakan menjadi:13 1) Kekuatan pembuktian luar 2) Kekuatan pembuktian formil 3) Kekuatan pembuktian materil Demikian pula dikemukakan oleh G. apabila yang menandatanganinya mengakui kebenaran dari tanda tangannya itu atau apabila itu dengan cara yang 13 M. hlm. Op. hlm. yakni :14 1. (Jakarta: Erlangga. Kekuatan pembuktian alat bukti surat dapat dibedakan antara yang berbentuk akta dengan bukan akta. Menurut M. Hakim bebas dan terikat dalam menilai hasil pembuktian. Yahya Harahap. Peraturan Jabatan Notaris. terhadap siapa akta itu dipergunakan.

Kekuatan Pembuktian Formal (Formele Bewijskracht) Dalam arti formal. 2. 1871. Tidak hanya kenyataan. akan tetapi juga isi dari akta itu dianggap dibuktikan sebagai yang benar terhadap setiap orang. demikian juga tempat di mana akta itu dibuat dan sepanjang mengenai akta partij. dalam bahasa Inggris disebut “act” atau “deed” menurut pendapat umum mempunyai dua arti. bahwa para pihak ada menerangkan seperti yang diuraikan dalam akta itu.3. kebenaran tanda tangan yang terdapat dalam akta itu. Akta Autentik Akta dalam bahasa Belanda disebut “acte” atau “akta” dan. dan 1875 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata).5. Perbuatan (handling) atau perbuatan hukum (rechtshandeling). terdapat perbedaan antara keterangan dari Notaris yang dicantumkan dalam akta itu dan keterangan dari para pihak yang tercantum di dalamnya. maka terjamin kebenaran atau kepastian tanggal dari akta itu. akta itu mempunyai kekuatan pembuktian material. sah menurut hukum dapat dianggap sebagai telah diakui oleh yang bersangkutan. yaitu: 1. yang menyuruh adakan/buatkan akta itu sebagai tanda bukti terhadap dirinya atau yang dinamakan ”preuve preconstituee”. bahwa adanya dinyatakan sesuatu yang dibuktikan oleh akta itu. c. 1. Kekuatan Pembuktian Material (Materiele Bewijskracht) Sepanjang yang menyangkut kekuatan pembuktian material dari suatu akta autentik. sedang kebenaran dari keterangan-keterangan itu sendiri hanya pasti antara pihak-pihak sendiri. identitas dari orang-orang yang hadir (comparanten). . Kekuatan pembuktian inilah yang dimaksud dalam Pasal 1870.

110. Jakarta. yang dikutip Suharjono mengemukakan bahwa akta adalah suatu surat yang ditandatangani. Tjitrosudibio.15 Menuut R. yang berasal dari bahasa latin yang berarti perbuatan-perbuatan. 16 R.16 A. Secara etimologi menurut S. yaitu pada akta harus berisi suatu keterangan yang dapat menjadi bukti yang diperlukan c. maka unsur penting suatu akta ialah kesengajaan untuk menciptakan suatu bukti tertulis dan penandatanganan tulisan itu. b. untuk keperluan siapa surat itu dibuat. Jadi tanda tangan berfungsi untuk memberikan ciri atau mengindividualisir sebuah akta . Fachema Andreae. Dalam Hukum Acara 15 Suharjono. 128. Hukum Acara Perdata Indonesia. “Varia Peradilan Tahun XI Nomor 123”. 18 Sudikno Mertokusumo.128. yang dibuat sejak semula dengan sengaja untuk pembuktian. suatu surat harus memenuhi syarat-syarat:19 a. Tjitro Sudibo. maksudnya dimana di dalam surat tersebut dimaksudkan untuk pembuktian suatu peristiwa hukum yang dapat menimbulkan hak atau perikatan. 2. Yogyakarta. 19 Suharjono. 1981. Surat tersebut sengaja dibuat sebagai alat bukti. Pitlo. Subekti dan R. kata “akta” berasal dari bahasa latin “acta” yang berarti “geschrift” atau surat. Suatu tulisan yang dibuat untuk dipakai atau untuk digunakan sebagai perbuatan hukum tertentu yaitu berupa tulisan yang ditunjukan pada pembuktian tertentu. op. 1980. dan untuk dipergunakan oleh orang lain. akta adalah surat yang diberi tanda tangan. hlm. . hlm. cit. (Desember 1995). diperbuat untuk dipakai sebagai bukti. hal ini untuk membedakan akta yang satu dengan akta yang lain atau dari akta yang dibuat oleh orang lain. Sekilas Tinjauan Akta Menurut Hukum (Desember 1995) hlm. 43. Surat harus memuat peristiwa yang menjadi dasar sesuatu hak atau peristiwa. “Varia Peradilan Tahun XI Nomor 123”. yang memuat peristiwa-peristiwa yang menjadi dasar dari pada suatu hak atau perikatan. Subekti dan R. kata-kata berasal dari kata “acta” yang merupakan bentuk jamak dari kata “actum”. Surat tersebut harus ditandatangani. Liberty. maka untuk dapat dikatakan sebagai akta. 9. Kamus Hukum.17 Menurut Sudikno Mertokusumo. 17 Suharjono. Dengan demikian. hlm.hlm. Pradnya Paramita. Sekilas Tinjauan Akta Menurut Hukum.18 Dari beberapa pengertian mengenai akta oleh para ahli.J.

2013. 21 Habib Adjie. Di dalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-Undang (bentuknya baku). bahwa tulisan-tulisan dibawah tangan atau tulisan-tulisan autentik memiliki status dan kekuatan pembuktian yang berbeda pula. Sumpah. Persangkaan-persangkaan. Kebatalan dan Pembatalan Akta Notaris. Apabila dilihat dari jenisnya terdapat dua macam akta yaitu akta autentik dan akta di bawah tangan. Pengakuan. daftar. bahwa syarat akta otentik yaitu:21 a. Bukti dengan saksi-saksi. Tjitrosidibio. Bandung. Perdata (Pasal 138. Menurut seorang sarjana yaitu Philipus M. Refika Aditama. hlm. Jakarta. Pradnya Paramita. Berkenaan dengan penandatangan akta diatur dalam Pasal 1874 KUHPerdata yaitu sebagai tulisan dibawah tangan adalah akta yang ditandatangani dibawah tangan. 2001. 20 R. KItab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek ).20 Dari ketentuan ini secara umum dapat dikatakan. hlm. 463. e. Rubekti dan R. d. Hadjon. 165. surat urusan rumah tangga dan tulisan-tulisan lain yang dibuat tanpa perantaraan seorang notaris sebagai pejabat umum atau pejabat lain yang di tunjuk oleh undang-undang. surat. Sementara yang dimaksud dengan akta autentik. . Karena jelas undang-undang membedakanya untuk itu. 9. b. alat bukti yang sah atau yang diakui oleh hukum terdiri atas: a. 167 HIR) dan Pasal 1866 KUH perdata. Bukti tulisan. c. yang menjadi dasar hukumnya adalah Pasal 1867 KUH Perdata yaitu pembuktian dengan tulisan dilakukan dengan tulisan-tulisan autentik maupun dengan tulisan-tulisan di bawah tangan. bersumber pada ketentuan pasal 1868 KUH Perdata yang menjadi syarat autentisitas suatu akta autentik yang menentukan “Suatu akta autentik ialah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang- undang. oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat.

2. Dibuat oleh dan di hadapan Pejabat Umum. 1. Dikemukakan pula oleh Irawan Surodjo. Di dalam bentuk yang ditentukan Undang-Undang 2. Akta Partij atau Akta Pihak 22 Ibid. yang dilihat dan disaksikan Pejabat itu sendiri atas permintaan para pihak. bahwa kata-kata yang tercantum dalam suatu akta autentik merupakan kata-kata yang berasal dari pejabat yang dimintakan oleh para pihak untuk di nyatakan atau dituangkan kedalam suatu akta autentik. yaitu:22 1. Dibuat oleh dan dihadapan Pejabat Umum 3. Akta yang dibuat oleh atau dihadapan Pejabat Umum yang berwenang untuk itu dan ditempat di mana akta itu dibuat. Akta Relaas atau Akta Berita Acara Akta relas atau akta berita acara ialah akta yang berisi berupa uraian dari Pejabat.5. agar tindakan atau perbuatan para pihak yang dilakukan dituangkan kedalam bentuk akta autentik. Akta autentik dan akta dibawah tangan secara hukum memiliki perbedaan baik itu dari segi pembuatan maupun undang-undang yang mengaturnya secara umum. b.1. . bahwa ada 3 (tiga) unsur esenselia agar terpenuhinya syarat formal suatu akta otentik.3. Jenis Akta Autentik Ada beberapa jenis akta autentik yang membedakan dari segi cara pembuatannya yaitu dibagi atas dua (2) yaitu: 1.

1.3.2. . Akta Partij atau Akta Pihak merupakan akta yang dibuat di hadapan Pejabat yang memiliki kewenangan untuk itu. baik akta relaas maupun akta pihak. Kekuatan Pembuktian Akta Autentik Ada beberapa alasan yang menunjang kekuatan hukum akta autentik yaitu Akta autentik dibuat di hadapan seorang pejabat umum atau pejabat lain yang di tunjuk oleh undang-undang sehingga legalitasnya dapat dipastikan. suatu akta autentik dari segi fungsinya dibedakan atas 2 (dua) yaitu : 1.5. Fungsi sebagai alat bukti (probationis casua) artinya akta autentik dibuat untuk dipergunakan sebagai alat bukti di kemudian hari tentang perbuatan hukum yang disebut dalam akta. Fungsi formal (formalitas causa) artinya suatu perbuatan hukum baru sah jika dibuat dengan akta autentik dan tidak dapat dibuktikan dengan bukti lain.3. 1.5. Pembuatan akta autentik. yang menjadi dasar utama atau inti dalam pembuatan akta autentik. Fungsi Akta Autentik Sebagai salah satu alat bukti yaitu bukti tulisan. yang oleh para pihak berkepentingan agar uraian atau keterangannya dituangkan ke dalam bentuk akta autentik. maka Pejabat tidak akan membuat akta yang dimaksud. pernyataan para pihak yang diberikan atau yang diceritakan di hadapan Pejabat. 2. yaitu harus ada keinginan atau kehendak (wilsvorming) dan permintaan dari para pihak. yang berisi uraian atau keterangan. jika keinginan dan permintaan para pihak tidak ada.3. ditambah lagi bahwa seorang pejabat umum tidak memiliki keberpihakan dalam pembuatan akta.

dengan permintaan agar keterangan-keterangan mereka itu dicantumkan dalam suatu akta dan menugaskan mereka untuk membuat akta mengenai itu. Kekuatan pembuktian akta autentik adalah akibat langsung yang merupakan keharusan dari ketentuan perundang-undangan. bahwa harus ada akta- akta autentik sebagai alat pembuktian dan dari tugas yang dibebankan oleh undang- undang kepada pejabat-pejabat atau orang-orang tertentu. maka akan mudah untuk diperiksa kebenarannya. Dalam pemberian tugas inilah terletak pemberian tanda kepercayaan kepada para pejabat itu dan pemberian kekuatan pembuktian kepada akta-akta yang mereka buat. 1. Dasar Hukum Risalah Lelang Peraturan Lelang Vendu Reglement Pasal 35 menentukan “Tiap penjualan dimuka umum oleh juru lelang atau kuasanya dibuat berita acara . Bukan hanya itu. Hal lain yang membuat akta autentik memiliki kekuatan hukum adalah akta autentik memiliki minuta akta yang disimpan oleh negara melalui pejabat salah satunya ialah Notaris.5.4. jika seorang menyangkal isi atau keberadaan akta autentik. Risalah Lelang Lelang adalah berita acara pelaksanaan lelang yang dibuat oleh Pejabat Lelang yang merupakan akta autentik dan mempunyai kekuatan pembuktian sempurna bagi para pihak (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 27/PMK. Sebab jika tidak demikian untuk apa menugaskan kepada mereka untuk ”memberikan keterangan dari semua apa yang mereka saksikan di dalam menjalankan jabatan mereka” atau untuk ”merelatir secara autentik semua apa yang diterangkan oleh para penghadap kepada Notaris.06/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan LelangRisalah). Akan sangat kecil kemungkinan akta autentik hilang. a.

Fungsi Risalah Lelang Suatu peristiwa penting yang mempunyai akibat hukum. Demikian fungsi dari pembuatan Risalah Lelang . b. Pejabat Penjual maupun Pembeli (vide Pasal 38 VR). Bahwa setiap Risalah Lelang harus ditanda-tangani oleh para pihak baik Pejabat Lelang. 3. yang terdiri dari: a. Bentuk Risalah Lelang Susunan Risalah Lelang telah ditentukan bentuknya seperti yang diatur dalam pasal 37. c. 2. Kepala Risalah Lelang Kepala Risalah Lelang mengandung arti yang luas bahwa yang menghadap itu mempunyai kecakapan untuk bertindak (recht bekwam) dan mempunyai kewenangan untuk melakukan tindakan hukum (rechtbevoeg). perlu adanya pembuktian. . misalnya transaksi atau suatu perikatan.189 Tahun 1908). Dengan demikian Akta Risalah Lelang mempunyai fungsi sebagai bukti adanya peristiwa hukum seperti tercantum dalam Risalah Lelang itu. Untuk pembuktian Risalah Lelang dibuat dari semula memang dimaksudkan sebagai bukti yang sah sesuai pengertian dari Risalah Lelang itu sendiri. Risalah Lelang adalah Berita Acara dari peristiwa atau apa yang terjadi dan dialami para pihak yaitu jual beli dimuka umum lelang. yaitu: 1. tersendiri yang bentuknya ditetapkan seperti dimaksud dalam Pasal 37. 38 dan 39 VR”. 38 dan 39 Vendu reglement (Staatsblad No.

waktu pelaksanaan lelang ditulis dengan huruf. 7. Identitas barang yang dilelang. Kecakapan dan kewenangan bertindak dari Penjual. pekerjaan. dan tempat tinggal atau kedudukan dari Vendumeester (Pejabat Lelang). Hari dan tanggal lelang. . Sifat barang yang dilelang dan alasan apa barang tersebut dilelangkan. 11. pekerjaan. 2. Dalam hal yang dilelang itu mengenai barang-barang tetap (tanah/persil) diperlukan menyebutkan secara lengkap. 12. Nama lengkap. Alasan dilaksanakan lelang perlu dijelaskan selengkapnya. 9. Tempat dimana lelang itu diadakan. terutama dalam lelang eksekusi. Judul dan nomor Risalah Lelang. Permintaan lelang itu dengan lisan atau dengan tulisan/tertulis. Nama lengkap. 10. 8. Dalam hal pelelangan diadakan tidak untuk peminta sendiri. Menurut Pasal 37 VR Kepala Risalah Lelang harus memuat: 1. 13. 14. dimuat pula keterangan apakah lelang itu dimintanya atau diadakannya. 5. Bagian Kepala Risalah Lelang menjadi sangat penting dikarenakan sah tidaknya akta atau Risalah Lelang bergantung pada bagian Kepala. 3. Cara bagaimana lelang tersebut diumumkan oleh Penjual. dan tempat tinggal dari peminta lelang (yang bertindak sebagai Penjual). Pendapat Pejabat Lelang yang bersangkutan dengan legalitas subyek dan objek dimuat dalam Risalah Lelang. 4. 6. Surat umum lelang yang bertalian dengan peraturan–peraturan lelangnya sendiri.

20. Bukti pengumuman dan surat-surat lainnya guna penyusunan badan Risalah Lelang ini diserahkan pemohon lelang ke Kantor Lelang selambat-lambatnya 3 hari kerja sebelum lelang (vide Pasal 20 VR). dan diketik sebelum lelang. 16. bagaimana ketentuan lelang tergambar jelas dalam bagian Kepala Risalah Lelang dan mudah dimengerti para peminat lelang sewaktu pembacaan Risalah Lelang. Pejabat Lelang tidak dapat membuat klausul-klausul sekehendaknya melainkan harus mengikuti ketentuan-ketentuan tentang penjualan dimuka umum/lelang. Identitas atau uraian barang yang dilelang 2. Uraian bagaimana duduk proses perkara. Kalau ia menyimpang maka sesuai ketentuan pasal 40 VR Pejabat Lelang harus bertanggung jawab atas kerugian-kerugian yang timbul. 19. Atas tanah yang dilelang dimintakan Surat Keterangan diri Kantor Pendaftaran Tanah/Agraria setempat (PP Nomor 10/1961). 17. Badan Risalah Lelang Badan Risalah Lelang harus memuat sekurang-kurangnya: 1. Pasal 21 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 mengenai keharusan meminta Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT) terhadap hak atas tanah yang akan dilelang. dibuat. Identitas Pembeli . b.. Klausul-klausul Tentang klausul-klausul dalam Risalah Lelang ini. 15.” 18. Bagian Kepala Risalah Lelang sampai dengan kata : ”.Penjualan ini dimulai.. Tentang pembacaan Risalah Lelang sebelum lelang dimulai dimuat dalam Risalah Lelang.

Masalah lelang mulai diatur secara yuridis formal pada tahun 1908 dengan dikeluarkannya berbagai peraturan yang berkaitan dengan lelang. 3. Harga Penawaran c. Penutup Risalah Lelang Penutup Risalah Lelang. Jumlah harga barang-barang yang terjual dengan angka dan huruf. meliputi : 1. Jumlah perubahan yang dilakukan maupun tidak adanya perubahan ditulis dengan angka dan huruf. Banyaknya barang-barang yang ditawarkan/dilelang dengan angka dan huruf. 6. Jumlah dari harga barang–barang yang ditahan dengan angka dan huruf. 3. 1908:189 (sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Staatsblad 1941:3) dan Vendu Instructie (Instruksi Lelang) Staatsblad 1908:l90 (sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Staatsblad 1930:85). . yaitu Vendu Reglement (Peraturan Lelang) Staatsblad . penjual atau kuasa penjual dan pembeli atau kuasa pembeli dalam hal lelang barang tidak bergerak. 5. 4. Tanda tangan Pejabat Lelang dan penjual atau kuasa penjual dalam hal lelang barang bergerak. 2. Banyaknya dokumen/surat-surat yang dilampirkan pada Risalah Lelang dengan angka dan huruf. 7. Tanda tangan Pejabat Lelang.

Related Interests