Pemeriksaan yang Berhubungan Dengan Paternitas

Tiffany Cindy Claudia Anatasia Paliama
102012197
F6
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

Skenario

Seorang perempuan A datang ke anda dan menceritakan keluhannya. Ia seorang
wanita karier dan telah bersuamikan S dengan dua anak. Perkawinan telah berlangsung 12
tahun. Pada dua bulan yang lalu A telah didatangi seorang perempuan muda B yang mengaku
sebagai istri gelap suaminya (S) dan ia mengatakan bahwa akibat hubungannya dengan S
telah lahir seorang anak laki-laki. B meminta kepada S agar mengawininya secara sah demi
kepentingan anak laki-lakinya, tetapi S tidak setuju. B meminta kepada A agar mau
menerimanya sebagai madunya atau setidaknya memberi nafkah kepada anak laki-lakinya

A kemudian berbicara secara baik-baik dengan S tentang hal ini. S mengakui bahwa 2
tahun yang lalu, sewaktu A sedang tugas keluar negeri selama 6 bulan, ia berkenalan seorang
wanita muda di café, yang dilanjutkan dengan pertemuan di hotel beberapa kali. S yakin
bahwa B bukanlah wanita baik-baik dan menganggap bahwa hubungan S dengan B adalah
hubungan yang short time saja.

A ingin memastikan apakah benar anak laki-laki B adalah benar berasal dari
hubungannya dengan suaminya. A juga meminta pendapat dokter, apa yang harus dilakukakn
agar dapat terlaksana permintaan tersebut.

Pendahuluan

Perkawinan adalah sesuatu hal yang sakral dan agung bagi kehidupan manusia di
Indonesia yang menginginkan agar perkawinan mereka sah menurut hukum agama dan sah
menurut hukum negara. Sistem hukum yang berlaku dalam masyarakat Indonesia yang masih
menjunjung tinggi nilai-nilai kesusilaan, perzinahan dipandang sebagai sebuah perbuatan
yang asusila. Menurut ketentuan yang diatur di dalam KUHP, perzinahan hanya dapat terjadi
jika ada persetubuhan yang dilakukan orang yang telah terikat dengan perkawinan.
Sedangkan orang yang belum menikah dalam perbuatan ini adalah termasuk orang yang turut

1

maka persetubuhan itu harus dilakukan atas dasar suka sama suka. prosedur ataupun tata cara yang dapat ditempuh adalah mengadukannya kepada kepolisian setempat karena tindak pidana perzinahan ini termasuk delik aduan (klacht delict) menurut Pasal 284 ayat 2 dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Prosedur Medikolegal Pertama kali calon pasien atau orang tua/walinya (jika masih di bawah umur) datang ke dokter untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai kasusnya. Konsultasi 2 . apabila seseorang istri mengadukan bahwa suaminya telah berzinah dengan perempuan lain. Pengaduan tentang perzinahan ini tidak boleh dibelah. Gendak/overspel atau yang disebut sebagai zinah adalah persetubuhan yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang telah kawin dengan perempuan atau laki-laki yang bukan isteri atau suaminya. tidak boleh ada paksaan dari salah satu pihak. kedua-duanya harus dituntut.2 Jika si suami (S) dibuktikan melakukan perzinahan/mukah/gendak. Peran dokter dalam suatu kasus pembuktian perzinahan ataupun pembuktian identitas seorang anak dalam suatu kasus adalah dengan melakukan pemeriksaan- pemeriksaan guna mendapatkan suatu bukti yang pasti tentang kasus tersebut. Dalam kasus ini dokter dituntut untuk membuktikan benar tidaknya anak si B merupakan anak dari si S. Aspek Hukum Jika si istri (A) yang tersebut memilih penyelesaian melalui jalur pidana. artinya tidak dapat dituntut apabila tidak ada pengaduan dari pihak suami atau isteri yang dirugikan (yang dimalukan). apa yang akan dilakukan setelah hasilnya diketahui.melakukan.1 Pihak yang melakukan pengaduan adalah suami/istri yang tercemar dan terhadap mereka dapat berlaku Pasal 27 dalam Burgerlijk Wetboek voor Indonesie (BW) atau yang disebut Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer) yang mengatakan bahwa dalam waktu yang sama seorang laki-laki hanya diperbolehkan mempunyai satu orang wanita sebagai istrinya dan demikian juga sebaliknya. maka suaminya maupun perempuan tersebut yang turut melakukan perzinahan. Pasal 284 ayat 2 KUHP ini merupakan suatu delik aduan yang absolut. dan bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW. dalam tenggang waktu tiga bulan diikuti dengan permintaan bercerai atau pisah-meja dan ranjang karena alasan itu juga. yaitu: Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar. Dalam konsultasi ini dokter akan mencari informasi mengenai apa yang ingin dibuktikan pada kasus ini. Untuk dapat dikenakan pasal ini. Sebagai contoh. dan kapan akan dilakukan pemeriksaan. ia diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan menurut Pasal 284 ayat 1 (1a) KUHP.

Untuk calon pasien yang masih berumur di bawah 21 tahun atau belum menikah. sebisanya dengan disertai saksi dari kedua belah pihak. Setiap orang dapat mengajukan permohonan tes paternitas langsung ke pihak rumah sakit. Namun. melainkan sesuai dengan perjanjian para pihak. Dalam skenario yang diberikan. kepada calon pasien atau walinya ditanyakan apakah di kemudian hari kasusnya akan atau direncanakan akan diproses secara hukum atau tidak. calon pasien yang akan diambil sampel daripadanya adalah anak laki-laki dari B yang didakwa anak hasil hubungan badan antara S dan B.3 3 . tetapi dapat juga dilakukan atas permintaan polisi (penyidik) atau Pengadilan jika kasusnya telah memasuki ranah hukum.3 Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan identifikasi dapat dilakukan dengan beberapa cara baik pemeriksaan fisik yang melihat ciri-ciri fisik dari orang tuanya. Pada kunjungan berikutnya semua pihak yang akan diperiksa datang menemui dokter. Setelah membuat surat perjanjian antar pihak yang akan melakukan tes. Setelah jelas dan tidak ada lagi yang ingin ditanyakan. Hal ini mengingat bahwa tes paternitas harus diketahui oleh para pihak dan tidak ada keterpaksaan antara satu dengan yang lain. Syarat Tes Paternitas Prosedur tes paternitas didahului dengan membuat surat perjanjian antar pihak. warna kornea. maka pihak-pihak yang akan diambil sampelnya menandatangani persetujuan (informed consent) untuk pengambilan sampel DNA. bentuk muka dan lainnya. Sebelumnya pada semua pihak diterangkan prosedur yang akan dilakukan. Dokter atau petugas laboratorium tidak boleh memaksa atau menentukan siapa saja yang akan melakukan tes paternitas. persetujuan ditandatangani orang tuanya atau walinya.awal ini merupakan konsultasi dokter dan pasien biasa. maka para pihak tersebut harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter di Instalasi Forensik dan Medikolegal untuk menjelaskan tahapan apa saja yang harus dilalui dan menerangkan masalah biaya. misalnya warna rambut. apabila kasus keayaahan ini telah masuk ranah hukum atau sudah di daftarkan ke Pengadilan maka harus disertai dengan surat permohonan dari pihak Penyidik/ JPU/ Hakim. Pada kasus yang belum melibatkan aparat penegak hukum. sedangkan persetujuan pemeriksaan tersebut ditandatangani oleh B. pada pemeriksaan fisik tidak dapat ditentukan secara pasti. Namun. Oleh karena itu diperlukan beberapa pemeriksaan laboratorium atau penunjang lainnya misalnya pemeriksaan paternitas (DNA).

3 Pada kasus paternitas. Perlu diingat bahwa hukum Mendel tetap berdasarkan kemungkinan (probabilitas). 2. hukum Mendel memainkan peranan penting. Haptoglobin (Hp). jika antigen tersebut tidak terdapat pada salah satu atau kedua orang tuanya. P. Antigen tidak mungkin muncul pada anak. Pada manusiadikenal bermacam-macam sistem golongan darah yang antigennya terletak di permukaan sel darah merah. glutamate piruvat transaminase (GPT). misalnya sistem ABO. Anak dengan golongan darah O tidak mungkin mempunyai orang tua yang bergolongan darah AB. pseudokholinesterase (PCE/PKE). Duffy. Semua sistem golongan darah diturunkan dari orang tua kepada anaknya sesuai hukum Mendel. Tabel 1. serta sistem enzim misalnya fosfoglukomutase (PGM). fosfatase asam eritrosit (EAP). antigen limfosit manusia (HLA) dan lain-lain. sehingga penentuan ke-ayah-an tidak dapat dipastikan. Orang tua yang homozigotik pasti meneruskan gen untuk antigen tersebut kepada anaknya. dikenal pula antigen-antigen yang terdapat di luar sel darah merah misalnyasistem Gm. glukosa-6-fosfatase dehidrogenase (G6PD). sekretor/nonskretor. adenosine deaminase (ADA). Contoh Hasil Pemeriksaan Golongan Darah Golongan Darah Kasus I Golongan Darah Kasus II 4 . MNS. adenilate kinase (AK). sedangkan bila semua sistem diperiksa maka kemungkinannya meningkat menjadi lebih daripada 90%. Kidd. yang terdapat dalam serum. Lutheran. bila hanya sistem ABO. penculikan anak. ragu ayah (disputed paternity) dan lain-lain. namun sebaliknya kita dapat memastikan seseorang adalan bukan ayah seorang anak (paternity exclusion). Gc. Kell. maka kemungkinannya adalah 50% hingga 60%.Prosedur Tes Paternitas 1. 6-fosfo glukonat dehidrogenase (6PGD). Pemeriksaan Darah Di antara berbagai cairan tubuh. Tujuan pemeriksaan darah bisa berguna untuk membantu menyelesaikan kasus- kasus bayi yang tertukar. MNS dan Rhesus yang diperiksa. Selain itu. Lewis. Rhesus. Hukum Mendel untuk sistem golongan darah adalah sebagai berikut: 1. 3. Dalam kasus yang ada kaitannya dengan faktor keturunan. darah merupakan yang paling penting karena merupakan cairan biologik dengan sifat-sifat potensial lebih spesifik untuk golongan manusia tertentu.

Pengambilan Sampel Tahapan pertama yang dilakukan dalam tes paternitas adalah pengambilan sampel. Setiap bagian tubuh manusia dapat diambil sebagai spesimen oleh karena setiap sel yang berinti dalam tubuh seseorang memiliki rangkaian DNA identik. Setiap melakukan tes paternitas. disesuaikan dengan sampel yang akan diambil. diperlukan sebuah sampel dari bagian tubuh calon pasien. Struktur kimiawi DNA dari setiap orang adalah sama. antara orang yang satu dengan yang lain sampelnya tidak harus sama. Apabila orang yang akan melakukan pemeriksaan adalah anak atau bayi karena kemungkinan untuk mengambil sampel darah terasa sakit maka dapat digunakan alternatif lain misalnya menggunakan rambut atau bercak keringat pada pakaian. Pihak yang diambil sampelnya dalam melakukan tes paternitas adalah seorang anak dan laki-laki yang diduga sebagai ayah biologisnya. Sehingga dapat dilihat 50% sisanya merupakan milik si ayah. Beberapa contoh bagian tubuh disebutkan di atas yang dapat digunakan sebagai sampel dalam melakukan tes paternitas. DNA inti (nDNA) pada anak didapat dari separuh nDNA ibu dan separuh nDNA ayah.Anak A MS Rhesus + B MNS Rhesus + Ibu O MNS Rhesus + A MNS Rhesus + Ayah B MS Rhesus + AB MNS Rhesus + Untuk kasus I di Tabel 1. 2. anak tersebut pasti bukan dari ayah tersebut karena antigen A yang muncul pada anak tidak terdapat pada kedua orang tuanya. Proses pengambilan setiap sampel berbeda. yang berbeda hanyalah urutan/susunan dari pasangan basa yang membentuk DNA tersebut.3 5 . dimana seorang anak pada dasarnya menerima jumlah material genetika yang sama dari ibu dan ayah kandungnya (sifat dari Mendel). Walau bagaimanapun pada kasus II. ayah tersebut tidak dapat disingkirkan kemungkinan menjadi ayah si anak karena antigen yang muncul pada anak terdapat pada ayahnya. maka sampel dimasukkan kedalam tabung atau kantong plastik dan diberi label yang berisikan tanggal dan identitas dari pemilik sampel. Namun. untuk memudahkan pemeriksaan biasanya ibu dari anak tersebut juga diambil sampel karena 50% dari genetik anak tersebut terkandung genetik si ibu. Setelah sampel diambil. Dokter atau petugas laboratorium harus menggunakan jas laboratorium. Pengambilan sampel harus dilakukan dengan steril. sarung tangan dan dan pelindung kepala yang bersih.

15 yang paling sering digunakan. Bagian DNA ini dimiliki oleh semua orang tetapi masing- masing individu mempunyai jumlah pengulangan yang berbeda-beda satu sama lain. maka DNA yang bermuatan negatif akan ditolak ke sisi lainnya dengan kecepatan yang berbanding terbalik dengan panjang fragmen DNA. anak maupun saudara kandungnya. Hasil pembakaran film oleh sinar radioaktif ini akan tampak pada film berupa pita-pita DNA (bands) yang membentuk gambaran serupa barcode. Seperti juga DNA pada umumnya. Pemeriksaan Sidik DNA (DNA Fingerprinting) Pemeriksaan ini didasarkan atas adanya bagian DNA manusia yang termasuk daerah non-coding atau intron (tak mengkode protein) yang ternyata merupakan urutan basa tertentu yang berulang sebanyak n kali. Fragmen DNA yang telah terpisah satu sama lain di dalam agar lalu diserap pada suatu membran nitroselulosa dengan suatu metode yang dinamakan metode Southern blot. lalu memotongnya dengan enzim restriksi Hinfl. Pemeriksaan sidik DNA diawali dengan melakukan ekstraksi DNA dari sel berinti. Potongan DNA ini dipisahkan satu sama lain berdasarkan berat molekulnya (panjang potongan) dengan melakukan elektroforesis pada gel agarose. Pelacak DNA (probe) multilokus temuannya ini dinamakan pelacar Jeffreys yang terdiri dari beberapa probe. Membran yang kini telah mengandung potongan DNA ini lalu diproses untuk membuat DNA-nya menjadi DNA untai tunggal (proses denaturasi). Bagian DNA ini dikenal dengan nama Variable Number of Tandem Repeats (VNTR) dan umumnya tersebar pada bagian ujung kromosom. Bagian DNA ini tersebar dalam seluruh genom manusia sehingga dinamakan multilokus.3-6 6 . Untuk menampilkan DNA yang telah berhibridisasi dengan pelacak berlabel ini. sehingga DNA menjadi potongan-potongan. sedemikian sehingga kemungkinan dua individu mempunyai fragmen DNA yang sama adalah sangat kecil sekali.6 dan 16. diantaranya 16. dipaparkanlah suatu film diatas membran sehingga film akan terbakar oleh adanya radioaktif tersebut (proses autoradiografi). baru kemudian dicampurkan dengan pelacak DNA yang telah dilabel dengan bahan radioaktif dalam proses yang dinamakan hibridisasi. Dengan menempatkan DNA pada sisi bermuatan negatif. Suatu fragmen DNA yang diisolasi dari DNA yang terletak dekat dengan gen globin manusia ternyata dapat melacak VNTR ini secara simultan. VNTR ini diturunkan dari kedua orangtua menurut hukum Mendel. Pada proses ini pelacak DNA akan bergabung dengan fragmen DNA yang merupakan basa komplemennya.2. sehingga keberadaannya dapat dilacak secara tidak langsung dari orangtua.

3. Pengambilan Kesimpulan Tahapan terakhir dalam tes paternitas adalah elektroforesis atau pengambilan kesimpulan. DNA hasil perbanyakan dapat langsung dianalisis dengan melakukan elektroforesis pada gel agarose atau gel poliakrilamid. Selanjutnya. Primer adalah fragmen DNA untai tunggal yang sengaja dibuat dan merupakan komplemen dari bagian ujung DNA yang akan diperbanyak. yang berkisar antara 90-95 derajat Celsius (fase denaturasi). Sitosin. Adanya mesin otomatis untuk proses ini membuat prosedurnya menjadi amat sederhana. yang akan membuat primer memperpanjang diri membentuk komplemen dari untai tunggal dengan menggunakan bahan dNTP (deoksiribonukleotida trifosfat). PCR (Polymerase Chain Reaction) Metode PCR (Polymerase Chain Reaction) adalah suatu metode untuk memperbanyak fragmen DNA tertentu secara in vitro dengan menggunakan enzim polimerase DNA.4. seperti DNA inti anak memiliki kesamaan 50% dengan DNA inti ibu dan 50% dengan DNA inti ayah. Adenin dan Timin pada primer yang digunakan.3 Interpretasi Hasil 7 . Siklus proses PCR diawali dengan pemanasan pada suhu tinggi. Hasil pemeriksaan dapat diambil setelah 10 hari kerja dari pengambilan sampel. sehingga dapat diibaratkan sebagai patok pembatas bagian DNA yang akan diperbanyak. Dalam tahap ini dapat diketahui apakah seorang anak mempunyai hubungan darah dengan laki-laki yang diduga sebagai ayah biologisnya atau tidak. Pada fase ini primer akan menempel pada basa komplemennya pada DNA untai tunggal tadi. G. A dan T adalah jumlah basa Guanin.6 4. Hasil tes paternitas berupa surat yang menyatakan ada atau tidaknya kecocokan antara DNA anak dan ayah. siklus diakhiri dengan pemansan kembali antara 70-75 derajat Celsius (fase ekstensi atau elongasi). Pada suhu ini DNA untai ganda (double-stranded) akan terlepas menjadi 2 potong DNA untai tunggal (single-stranded). Pemeriksaan dengan metode PCR hanya dimungkinkan jika bagian DNA yang ingin diperbanyak telah diketahui urutan basanya. C. Tahapan selanjutnya adalah menentukan dan menyiapkan primer yang merupakan komplemen dari basa pada ujung-ujung bagian yang akan diperbanyak. Proses ini dilanjutkan dengan pendinginan pada suhu tertentu (fase penempelan primer atau primer annealing) yang dihitung dengan rumus Thein dan Walace: Suhu = 4(G + C) + 2(A + T).

12 mungkin 04 TPOX 15 . 15. 18 mungkin 13 D21S11 14 . No Lokus Tn. 15 14 . Satu pita anak pasti ada padanannya (sama) dengan DNA ibunya (pita maternal). Tabel 1. 12 10 . 16 14 . anak 8 . 22 Mungkin 06 D3S1358 11 . 15 mungkin 11 D16S539 08 . 09 08 . setiap anak memiliki sepasang pita DNA. yang dinyatakan sebagai angka yang menunjukkan panjangnya DNA. Seorang pria dikatakan bukan ayah biologis dari seorang anak jika dua atau lebih lokus DNA yang diperiksa didapat ada ketidaksesuaian (eksklusi) DNA paternal anak dengan DNA pria tersebut. 21 19 . 12 11 . sedangkan satu pita lainnya pasti ada padanannya (sama) dengan DNA ayah kandungnya (pita paternal). Contoh hasil pemeriksaan paternitas yang menunjukkan bahwa tersangka pria adalah ayah biologis dari seorang anak. 11 11 . 15 15 . Sedangkan Pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan. 11 09 . 07 07 . Seorang pria dikatakan ayah biologis dari seorang anak. jika pita paternal anak sama dengan salah satu DNA pria tersebut pada setiap lokus DNA yang diperiksa. Eksklusi artinya terdapat ketidaksesuaian (tidak sama) DNA paternal anak dengan DNA tersangka ayah pada lokus tersebut. 18 mungkin 10 D13S317 12 . Pada setiap lokus (daerah) DNA yang diperiksa. 11 11 .11 mungkin 02 FGA 12 . 18 mungkin 03 TH01 08 . 22 mungkin 07 D5S818 08 . 15 15 . 12 08 . X Anak Z Ny. 08 mungkin 09 D8S1179 14 . dan ibu maka ketiga hasil pemeriksaan DNA tersebut dimasukkan dalam suatu tabel FCM (father child mother). 11 mungkin 08 D7S820 07 . 09 07 . 11 09 . 11 08 . 15 mungkin 05 VWA 19 . Setelah dilakukan pemeriksaan DNA pada tersangka ayah. 14 14 . anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Y kesimpulan 01 CSFIPO 11 . 14 13 . 16 16 . 18 15 . 15 15 . 22 20 . 09 mungkin 12 D18S51 14 . 18 17 . 12 10 . 14 13 . anak.2 mungkin Dampak Sosial Dalam Pasal 42 UU Perkawinan. 16 16 .

sehingga ayat tersebut harus dibaca. atau setidaknya mengandung pengertian bahwa anak diluar kawin tidak termasuk anak yang dilindungi oleh aturan-aturan di atas. tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sepanjang dimaknai menghilangkan hubungan perdata dengan laki-laki yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum ternyata mempunyai hubungan darah sebagai ayahnya. apalagi jika melihat fakta sosial di masyarakat. Lebih-lebih manakala berdasarkan perkembangan teknologi yang ada memungkinkan dapat dibuktikan bahwa seorang anak itu merupakan anak dari laki-laki tersebut. termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya”. tidaklah mungkin seorang perempuan hamil tanpa terjadinya pertemuan antara ovum dan spermatozoa baik melalui hubungan seksual (coitus) maupun melalui cara lain berdasarkan perkembangan teknologi yang menyebabkkan terjadinya pembuahan. sehingga ia juga tidak boleh menerima diskriminasi secara hukum. Oleh karena itu. anak yang dilahirkan tanpa memiliki kejelasan status ayahnya sering mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan stigma di masyarakat. Disimak dari bunyi pasal tersebut yang mengatur mengenai hak anak. “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah. Pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab orang tua untuk memberikan hak anak juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UU Perlindungan Anak). maka tidak disebutkan bahwa ketentuan tersebut hanya berlaku bagi anak yang sah atau anak yang dilahirkan dari perkawinan yang sah. Setiap anak tidak menanggung dosa atas kelahirannya. dampak negatifnya terhadap perkawinan amat besar dan berlangsung jangka panjang. Apapun jenis perselingkuhan yang dilakukan oleh suami. tidak tepat dan tidak adil manakala hukum menetapkan bahwa anak yang lahir dari suatu kehamilan karena hubungan seksual di luar perkawinan hanya memiliki hubungan dengan ibunya saja. Tidak tepat dan tidak adil jika hukum membebaskan laki-laki yang melakukan hubungan seksual yang menyebabkan terjadinya kehamilan dan kelahiran anak tersebut dari tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Perselingkuhan berarti pula penghianatan terhadap kesetiaan dan hadirnya wanita lain dalam perkawinan sehingga 9 . Pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan yang menyatakan bahwa “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya”.yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. Secara ilmiah.

Seorang pria dikatakan bukan ayah biologis dari seorang anak jika dua atau lebih lokus DNA yang diperiksa didapat ada ketidaksesuaian (eksklusi) DNA paternal anak dengan DNA pria tersebut. Bagi para suami tersebut perselingkuhan adalah puncak dari ketidakpuasan mereka selama ini. dalam memutus perkara perselisihan mengenai keayahan adalah melaui pemeriksaan dokter yang berkompeten di bidang Forensik dengan melakukan tes paternitas DNA yang memiliki keakuratan 99. dan kekecewaan yang amat mendalam. perasaan tidak berdaya. kemarahan (anger). Selain itu terjadi pula perubahan mood yang begitu cepat sehingga membuat para istri serasa terkuras tenaganya. murung (depression). yaitu penolakan (denial). kemarahan yang luar biasa. perceraian justru karena suami memutuskan untuk meninggalkan perkawinan yang dirasakannya sudah tidak lagi membahagiakan. Perselingkuhan yang dilakukan oleh suami memberikan dampak negatif yang luar biasa terhadap istri. Secara umum perselingkuhan menimbulkan masalah yang amat serius dalam perkawinan. Berbagai perasaan negatif yang amat intens dialami dalam waktu bersamaan. ulang tahun pasangan. Kondisi ini. yang bisa berlangsung selama berbulan-bulan. Kesedihan akibat perselingkuhan dapat dijelaskan melalui model “proses berduka” dari Kubler-Ross yang terdiri dari 5 tahapan.7 Kesimpulan Salah satu bentuk pembuktian yang dapat digunakan untuk meyakinkan hakim. Pada perkawinan lain. Tidak sedikit yang kemudian berakhir dengan perceraian karena istri merasa tidak sanggup lagi bertahan setelah mengetahui bahwa cinta mereka dikhianati dan suami telah berbagi keintiman dengan wanita. 10 . Sampel dari bagian tubuh bayi manusia yang memiliki sel inti dapat digunakan untuk melakukan tes paternitas DNA biasanya rambut dan bercak keringat. sama sekali tidak mudah untuk dilalui. kecemasan. dan tanggal pada saat terbukanya perselingkungan.99%. Identifikasi mengenai perselisihan paternitas dapat dibuktikan secara ilmiah dengan mengambil sampel dari bagian tubuh manusia yang mempunyai inti sel atau DNA inti (nDNA).menimbulkan perasaan sakit hati. Pada tes paternitas DNA menggunakan metode STR (Short Tandem Repeat). depresi. menawar-nawar (bargaining). Perasaan sedih semakin mendalam pada saat-saat menjelang ulang tahun pernikahan. dan penerimaan (acceptance). Salah satu perasaan yang secara intens dirasakan adalah kesedihan dan kehilangan.

General Store. Sutinah L. 297(7): 716-23. Yudianto. Budiyanto A. Ahmad dan Nabil A Bahasuan. Widiatmaka W. An empirical examination of the stage theory of grief. Rohot. Publisher Visimedia. Irfan Uli Manik. Surabaya: Program Penelitian Unit Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Maciejewski PK. 2007. Pratiwi F. Utami IN. 1-13. Juni 2009. 208-11. 2015. Ilmu kedokteran forensik. 1997. Jayanto AD. Semarang: Program Pendidikan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. 6. Zhang B. Universitas Negeri Surabaya. Prigerson HG. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2012. dkk. Implementasi pembuktian asal-usul anak luar kawin berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam putusan mahkamah konstitusi nomor 46/PUU- VIII/2010. Kitab undang-undang hukum pidana. 3. 2014. Fakultas Ilmu Sosial. 4. 5. 11 . Sex Determinant Pada Rambut Manusia Melalui Analisis DNA dengan Metode Polymerase Chain Reaction (PCR). 2. 7. dkk.Daftar Pustaka 1. Block S. Tes DNA dalam Ilmu Kedokteran Forensik. KUH perdata (Kitab undang-undang hukum acara perdata) & KUHA perdata (kitab undang-undang hukum acara perdata). Sudiono S. J Am Med Assoc.