BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Batugamping adalah sedimen kimiawi yang umumnya terbentuk di laut dengan kandungan
kalsium karbonat (CaCO3) yang dihasilkan oleh organisme-organisme laut. Beberapa
batugamping juga bisa terbentuk di danau, air tawar atau pinggir sungai (biasa disebut travertin),
karena proses penguapan atas sedimen hasil pelarutan dari batuan-batuan karbonat tersebut
berasal dari areal sekitar sungai atau laut yang lebih tinggi (Premonowati, 2010).

Kalsium karbonat adalah mineral inorganik yang dikenal tersedia dengan harga murah secara komersial.
Sifat fisis kalsium karbonat seperti, morfologi, fase, ukuran dan distribusi ukuran harus dimodifikasi
menurut bidang pengaplikasiannya (Gusti, 2008). Kalsit (CaCO3) merupakan fase yang paling stabil dan
banyak digunakan dalam industri cat, kertas, magnetic recording, industri tekstil, detergen, plastik, dan
kosmetik (Lailiyah et al., 2012).

Pada sisi lainnya, mineral yang menarik (mineral of interest), secara alamiah ditemukan menyatu
dengan mineral pengotornya membentuk sebuah masa batuan (Drzymala, 2007).Maka dari itu
harus dilakukan kominusi (Pengecilan ukuran batuan dari ukuran semula).

Hammer mill adalah salah satu peralatan kominusi multi funsgi, dapat digunakan untuk berbagai
keperluan, memiliki palu-palu yang terikat pada rotor dan dapat bergerak bebas. Untuk
menambah unjuk kerja dan mengurangi tahapan proses, sebuah saringan biasanya dipasang tepat
dibawah hammer yang berputar dengan kecepatan tinggi. Energi reduksi dari hammer dilaporkan
bervariasi, tergantung kepada jenis material yang dilumat, dan juga kecepatan dari pengumpan
dalam kaitannya dengan kecepatan putar rotor dan berat hammer. (Bitra, et al., 2009).

Mempelajari mineralogi. maka material akan diamati menggunakan X-ray defraction (XRD). Apa yang mengdalikan perubahan fase mineral tersebut 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka proses komunisi akan menyebabkan mineral tidak saja terlepas dari ikatan antar mineralnya tetapi juga diduga mengalami perubahan di dalam ikatan atom-atom yang menyusunnya.3 Maksud dan Tujuan Maksud dari penelitian ini adalah: 1. Memperkirakan parameter operasi yang mengendalikan fase mineraloginya Sedangkan tujuannya adalah mendapatkan rekomendasi pengoperasian sebuah hammermill dalam memproduksi bubuk batugamping. Menganalisa fasa mineral batugamping melalui difraksi sinar-X 4. dan fasa mineral yang menyusun sebuah batugamping dalam kaitannya dengan proses kominusi 2. Melakukan percobaan penggilingan batugamping menggunakan sebuah hammer mill dengan ukuran saringan berbeda 3. Mineral apa saja yang megalami perubahan fase 3. Karbon juga memiliki sebuah siklus [misalnya grafit (C) – intan (C)] sesuai tingkat koordinasi elektron-elektronnya yang dipengaruhi ditentukan oleh tekanan dan temperatur yang memperngaruhinya (Oganov. . 2013). et al. Untuk melihat apakah terjadi perubahan struktur dan ukuran kristal.Kalsit-magnesit (MgCO3) dapat bertukar bentuk kristal ketika dikenai temperatur 500-800oC selama 1-120 jam (Bromiley. Apakah batugamping mengalami perubahan fase mineral ketika dikenai proses reduksi 2.. Permasalahan dari penelitian ini adalah: 1. 2004). 1. Sehubungan dengan penyataan di atas penelitian ini dilakukan untuk melihat struktur Kristal dari batugamping apakah terjadi perubahan dtruktur pada fase karbonat.

Pola difraksi sinar-X sampel hasil penghalusan Rietveld diasumsikan merupakan representase dari kandungan dan fase mineral sampel 3. Disamping itu. memungkinkan terjadinya perubahan tegangan input yang paa akhirnya merubah parameter operasi pereduksian. penelitian ini memiliki keterbatasan. hammer mill yang digerakkan oleh sebuah motor listrik yang sumber arusnya tidak dikontrol dengan baik. batugamping yang terbentuk oleh proses geologi memiliki tidak saja jenis mineral tetapi juga sifat fisik yang bervariasi yang dapat menyulitkan dalam proses analisa. Energi reduksi diasumsikan setara dengan energi yang dikenai terhadap permukaan mineral setelah dikali dengan sebuah faktor koreksi sesuai yang dilaporkan oleh Stamboliadis (2013) dan Ballantyne (2012).1. Perubahan komposisi dan fase mineral sampel diasumsikan sebagai akibat dari proses reduksi 2. . Sehubungan dengan hal tersebut. diantaranya: 1. Sampel berada dalam kedaan homogen.4 Batasan Masalah Walau bagaimanapun juga.