BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Batu Gamping

Batu gamping organik merupakan kumpulan dari sisa flora dan fauna yang telah mati (fosil)
dan terendapkan. Di masa hidupnya flora dan fauna memerlukan unsur-unsur Ca, Mg, O dan
C yang terdapat dalam air. Proses kimia yang terjadi pada flora dan fauna setelah mati
menjadi fosil dan terbentuklah sistem kristal mineral tanpa merubah bentuk fisik fosil. Secara
mineralogi fosil tersebut tersusun oleh mineral kalsit (CaCO3) dan dolomit [CaMg(CO3)2].
Pada umumnya fosil fauna mengandung kalsit bermagnesium dengan kadar 4% -16% mol
MgCO3, sedangkan fosil flora sekitar 7,7% ˗ 28,75% mol MgCO3. Mineral kalsit atau
dolomit sebagian besar berukuran kecil (±0,2 mikron atau lebih) disebut lumpur karbonat
(Harjanto, 2001). Karena berukuran kecil, maka sifat optik dan fisiknya relaif sama, sehingga
kedua mineral tersebut sulit dibedakan. Melalui proses geologi kumpulan fosil tersebut
menjadi batu gamping (Hiskia dan Tupamahu, 2001).

Batu gamping juga dikelompokkan berdasarkan kandungan senyawa karbonat dalam batuan
misalnya batugamping murni, batugamping napalan, batugamping tufan. Pengelompokkan
batugamping berdasarkan grade atau kandungan karbonatnya banyak digunakan dalam kajian
pedology dan edaphology.

Klasifikasi Batu Gamping (Dunham , 1962)

Batu gamping termasuk batuan sedimen. Batu gamping ini dapat diklasifikasikan salah
satunya adalah klasifikasi dunham yang membahas tentang pembagian batugamping.
Klasifikasi Dunham (1962) ini dilihat secara megaskopis yang mana dia mengamati indikasi
adanya pengendapan batugamping yang ditunjukkan oleh tekstur hasil pengendapan yaitu
limemud (nikrit) semakin sedikit nikrit semakin besar energi yang mempengaruhi
pengendapannya.
Menurut klasifikasi ini batugamping terbagi atas :

1) Mud Stone
Batuan ini termasuk dalam jenis batuan sedimen non klastik dengan warna segar putih abu –
abu dan warna lapuknya adalah putih kecoklatan.Batuan ini bertekstur Non klastik dengan
komposisi kimia karbonat dan strukturnyapun tidak berlapis. Salah satu contoh dari batuan
karbonat adalah kalsilutit ( Grabau ) atau Munstone ( Dunham ) , Batuan ini mempunyai
nama yang berbeda, karena dari klasifikasi yang digunakan dengan interprestasi yang
berbeda, batuan ini dinamakan kalsilutit, karena batuan ini merupakan batuan karbonat dan
menurut klasifikasi dunham nama dari batuan ini adalah mudstone, karena batuan ini
mempunyai kesan butiran kurang dari 10 % dan pada batuan ini tidak ditemukan adanya
fosil.

Tekstur dari batuan ini adalah non kristalin, karena mineralnya penyusunnya tidak berbentuk
Kristal, dengan memperhatikan tekstur batuan ini dapat disimpulkan bahwa batuan ini
terbentuk dari adanya pelarutan batuan asal yang merupakan material – material penyuplai
terbentuknya batuan ini adapun batuan asal dari batuan ini adalah seperti pelarutan terumbu
karang. Selain itu, proses keterbentukan batuan ini adalah pengerusan gamping yang telah
ada misalnya penghancuran terumbu karang,oleh gelombang, atau dari pengendapan
langsung secara kimia air laut yang kelewat jenuh akan CaCO3 . proses litifikasi dari batuan
ini melibatkan pelarutan mineral- mineral karbonat yang stabil maupun yangtidak stabil,

tingkatan tersebut adalah penyemenan. dimana allochems yang dimaksud adalah ooids dan peloids. bahkan dapat saling melingkup . perubahan mineralogy butir – butir dan rekristalisasi. Wackstone merupakan lumpur didukung batu kapur yang mengandung butiran karbonat lebih dari 10% (lebih besar dari 20 mikron) "mengambang" dalam matriks lumpur halus-halus kapur Gambar: wackstone . dimana batas antara antara tingkatan tidak jelas . Dalam klasifikasi banyak digunakan lain karena Folk .dalam pengertian luas diagnesa meliputi perubahan mineralogy. Keterdapatan batuan ini biasanya dapat ditemukan disekitar pinggiran pantai. Ini adalah bagian dari klasifikasi Dunham batuan karbonat. Gambar : Mudston 2) Wackestone Wackestone adalah matriks yang didukung batuan karbonat yang mengandung lebih dari 10% allochems dalam matriks lumpur karbonat. tekstur kemas dan geokimia sedimen dan temperature serta tekanan yang rendah. deskripsi yang setara akan. proses terbentuknya batuan in berlangsung perlahan – lahan dan bertingkat – tingkat . maupun yang masihberada didalam laut. misalnya. pelarutan pengendapan. oopelmicrite. Litifikasi sedimen karbonat dapat terjadi pada sedimen yang tersingkap . adapun asosiasi dari batuan ini adalah batupasir karbonatan dan packtone. Adapun kegunaan dari batuan ini adalah sebagai reservoir dalam pencarian minyak bumi.

Boundstone merupakan batu kapur yang terikat oleh ganggang. Embry dan Klovan (1972) lebih diperluas klasifikasi boundstone atas dasar kain dari boundstone tersebut. atau organisme uniseluler lainnya ketika dia terbentuk. Boundstone .3) Boundstone Merupakan hubungan antar komponen tertutup yang berhubungan dengan rapat (oolite). 1962). Karbonat batuan menunjukkan tanda-tanda terikat selama pengendapan (Dunham. karang .

dan kristal kalsit. atau bafflestone. biasanya dalam karang laut. yang terjadi berdekatan dengan spons ini terikat oleh kerak mikroba dan pasir yang mengeras. Stromatolit . Mereka memiliki tiga subdivisi: a. air surut dan struktur itu terus menerus terkena udara. Akibatnya. bindstone. dan penyemenan alami dari padat sedimen diawetkan sisa-sisa bahan organik sebagai fosil. Struktur unik dari bafflestone yaitu terbentuk pada dan di sekitar koloni-vertikal tumbuh karang. ditandai dengan adanya dispersi. tapi mungkin dikelilingi lahan kering. Gambar : Boundstone . komposisi bafflestone. Dan ruang antara bertahap diisi dengan pasir . boundstone dapat diklasifikasikan sebagai framestone. b. Bindstone: hasil organisme yang mengikat sedimen sehingga lepas bersama-sama. sedimen.ditemukan di daerah sekitar terumbu karang. sebagian besar pasir alami-semen dan lumpur. Dalam waktu yang lama. Tergantung pada cara bahan organik telah diatur dalam sedimen ketika batu itu terbentuk dan jenis bahan organik itu. Bindstone merupakan jenis yang paling banyak ditemukan dari boundstone. dan daerah yang terumbu karang 2. yang bentuk paling umum dari bindstone. c. selain karang fosil. yang bersama-sama dengan lapisan lumpur dan kalsit dengan besar pori-pori yang disebabkan oleh gelembung gas yang menjadi terperangkap dalam sedimen selama pembentukan. Framestone: Organisme dari organik fosil.5-3 juta tahun lalu. Bindstone kebanyakan berorientasi secara vertikal. dan karena itu terbatas pada individu kecil. Yang mengikat di bindstone pada umumnya adalah ganggang. Pasir ini terdiri dari kalsit homogen dan lumpur terdiri dari campuran residu tertinggal setelah lumpur karbonat yang disaring. bafflestone: terikat oleh sedimen berdinding tebal berupa karang berbentuk paralel sehingga hanya sedimen halus yang melewatinya.berupa gundukan fosil alga berlapis dan sedimen.

komponen tanpa lumpur sehingga sering disebut batuan karbonat bebas lumpur. yang didukung butir . Gambar: Grainstone 5) Packstone . batuan ini berasal : (1) Grainstone terbentuk pada kondisi energi yang tinggi. Dunham (1962) . (2) terdapat pada arus yang putus butir dan melewati lumpur pada lingkungan. Grainstones mempunyai tekstur berpori dan dikenal sebagai karbonat yang terdapat pada sekitar pantai. butiran-produktif lingkungan di mana lumpur tidak dapat terakumulasi.4) Grainstone Merupakan hubungan antar komponen.

Packstones menunjukkan berbagai sifat pengendapan." Gambar: Packston KLASIFIKASI FOLK (1959) Menurut Folk. Butir-bitirnya didukung batuan karbonat berlumpur (Dunham. . analog dengan butiran pasir atau gravel. Mycrocrystalline calcite ooze (micrite). Divisi ini adalah penting dalam memahami kualitas reservoir karena lumpur plugs ruang partikel pori. hasil presipitasi kimiawi atau biokimia yang telah mengalami transportasi (intrabasinal). Embry dan Klovan (1971) contohnya karbonat rudstones. Allochem. atau (4) hasil pencampuran dari berbagai lapisan sedimen. menurut Dunham (1962) asal packstones: (1) packstone berasal dari wackestones dipadatkan. tetapi yang banyak adalah betolit. Lumpur menunjukkan proses energi yang lebih rendah . Ada 4 macam : intraclast. Di mana butirnya yang sangat besar. sedangkan kelimpahan butir menunjukkan proses energi yang lebih tinggi . analog dengan lempung pada batulempung atau matrik lempung pada batupasir. b. 1962). dan fosil.Merupakan lumpur. (3) terbentuk dalam air yang tenang. ada 3 macam komponen utama penyusun batugamping : a. (2) berasal dari proses akibat dari infiltrasi lumpur awal atau akhir dari sebelumnya disimpan lumpur bebas sedimen. pellet. oolite. Lucia (1999) dibagi packstones ke dalam lumpur yang didominasi (ruang pori total dipenuhi lumpur) dan yang didominasi (beberapa ruang pori antar butir bebas dari lumpur) packstones.

2. atom atau molekul. 2.c.1 Partikel Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahwa partikel adalah unsur butir (dasar) yang sangat kecil atau bagian benda yang sangat kecil dan berdimensi materi yang sangat kecil. dan sparite serta jenis allochem yang dominan : a.2. Butir merupakan kumpulan partikel yang dibedakan berdasarkan diameter partikel tersebut. dan sangat penting untuk memproduksi ukuran partikel. Masalah penanganan sampel dan teknik dispersi dinaikkan dalam pedoman standar internasional. Sparry calcite (sparite).2. micrite. Butiran dapat disusun oleh lebih dari satu partikel membentuk satu kesatuan entity yang umumnya dapat menghasilkan sifat kimia dan atau fisika tertentu. butir umumnya dibagi menjadi butir kasar dan butir halus. Gambar 2. Pentingnya memastikan pendekatan yang konsisten untuk jenis sampel tertentu dan menggabungkan menjadi SOP. diterapkan untuk sampel setiap waktu. analog dengan semen pada clean sandstone. Berdasarkan perbandingan relatif antara allochem.2. Allochemical rock (allochem > 10%) 2. elektron.2 Butir Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) butir adalah barang yang kecil-kecil seperti intan beras dan lain-lain yang tersusun atas partikel-partikel.1.2 Partikel. seperti butir pasir.5 menunjukkan efek dari perubahan tekanan udara pada ukuran partikel susu bubuk. Pengendalian tekanan udara untuk memastikan tingkat yang sama dari dispersi. Partikel merupakan bagian dari butiran. dapat diilustrasikan dengan menggunakan analisis susu bubukkering sebagai contoh. Butir Dan Powder 2. Butir juga dapat dipengaruhi oleh jenis kemas yang dimilki partikel (kristal) hal ini juga dipengaruhi oleh proses kristalisasi mineral .1 Analisis Ukuran Partikel Kriteria yang paling penting untuk pemilihan teknik pengukuran yang cocok adalah ukuran partikel yang akan diukur. seperti butir halus.

........2009..............(8) 𝐷60 𝑥 𝐷10 Dimana : Cu = koefisien keseragaman Cc = koefisien gradasi D60 = diameter yang bersesuaian dengan 60% lolos ayakan D10 = diameter yang bersesuaian dengan 10% lolos ayakan D30 = diameter yang bersesuaian dengan 30% lolos ayakan Kumpulan dari semua material yang terdiri dari beberapa ukuran diklasifikasi oleh Filliponi and Sutherland (2013) menjadi 3..termasuk untuk pengembangan sebuah applikasi material (Bruus............... secara matemamatis dapat dihitung dengan rumus berikut : Persen koefisien keseragaman dinyatakan dengan persamaan berikut : 𝐷 Cu = 𝐷60 ............................... powder (material berukuran mikron)......... lebar dan bentuk tertentu......1 Distribusi Ukuran Butir Distribusi ukuran butir gilling adalah proporsi berat butir pada masing-masing ukuran lubang ayakan.. (7) 10 Persen koefisien gradasi dinyatakan dengan persamaan berikut : (𝐷30 )2 Cc = .pembentuknya (William.............................. 1982)...... 2015)...... 2013............. (2014)bahkan telah membuat perbedaan sifat antara material konvensional dengan material rekayasa melalui distribusi ukuran butirnya..... yaitu bulk... kecepatan reaksi........ Ramsden............2. dan nano .2........ Sedarta et al. kemampuan untuk dipisahkan ... Distribusi ukuran umunya diplot pada kertas semi-log dengan tujuan untuk mengetahui distribusi ukuran partikel yang dianalisa.............. 2.. Distrubusi ukuran dapat diketahui dengan banyak cara diantaranya adalah dengan mecari koefisien keseragaman dan koefisien gradasi........Suchetha et al........ Karakteristik dari sebaran sangat mempengaruhi sifat aliran... Filipponi& Sutherland.....Hampir semua powder terdiri atas sebaran partikel-partikel yang terdistribusi dalam sebuah rentang ukuran...... tendensi untuk menyatu.. 2004....... Dengan demikian butir dapat didefenisikan sebagai kumpulan partikel-partikel yang dapat dibedakan dari diameternya dan butir juga dipengaruhi oleh proses kristalisasi mineral..

2. Teknologi kaminusi dikembangkan untuk bekerja dalam beberapa tingkatan proses.3 Kominusi Kominusi merupakan suatu proses mereduksi ukuran bongkah menjadi lebih kecil dari ukuran semula. dan tahap penghalusan (pulverizing) digunakan untuk mereduksi butiran menjadi powder yang sangat halus.3. Menurut Maurice C. 2.2 Powder Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahwa powder merupakan barang yang lumat atau berbutir-buitr halus seperti tepung.2. Selain untuk merduksi ukuran. Feurstenau and Kenneth N. Dengan demikian powder dapat diartikan sebagai kumpulan materail lumat yang terbentuk dari partikel dan mempunyai ikatan antar partikel sehingga menghasilkan butir halus dengan diameter realtif berbeda. bentuk partikel hasil reduksi dapat . Tahap penggilingan (grinding) digunakan untuk mereduksi fragmen menjadi butiran. Kominusi merupakan suatu tahapan dalam proses pengolahan bahan galian yang dilakukan dengan mengurangi ukuran butir hingga sebagian besar mineral penggangu dan mineral berharga terpisah (Wills.1 Mekanisme pecahnya batuan Terdapat beberapa bentuk gaya yang dapat diberikan dalam pereduksian ukuran.material. Powder juga merupakan penyusun partikel yang mempunyai ikatan antara yang satu dengan yang lainnya sehingga menghasilkan ikatan membentuk partikel. 1997). 2003). Untuk mendapatkan bulk dalam ukuran dan sifat tertentu. 2.1 um (Granular powder – ultra-fine powder) (Nedderman. Powder mempunyai rentang ukuran antara 100 um – 0. Proses pereduksian dapat dilakukandengan penghancuran (crushing) dan penggerusan (grinding) (Gupta. Bulk adalah material yang butir penyusunnya masih dapat dibedakan secara visual. 1992). Tahap peremukan (crushing) digunakan untuk mereduksi batuan berukuran bongkah menjadi fragmen. Han (2003).2. Nano-material adalah kumpulan partikel sangat kecil yang telah menyatu membentuk satu kesatuan sifat yang sering dipelajari dalam bidang mekanika kuantum. disebut fragmen. Unsur penyusun butiran powder relatif tidak dapat dibedakan kecuali menggunakan peralatan dengan teknologi tertentu. berbagai parameter perlu dipahami dengan baik. kominusi juga bermaksud untuk meliberasi bijih yaitu proses melepas mineral bijih tersebut dari ikatan mineral sekitarnya.

Energi reduksi untuk tiap jumlah antar muka . Gambar 2. Gambar 2.4.3. Bentuk pecahan partikel akibat perbedaan gaya penghancur Gambar 2.berbeda tergantung bentuk gaya bekerja. Proses pecahnya batuan akibat perbedaan jumlah antar muka Disamping itu.2. jumlah antar muka yang bekerja juga dapat mempengaruhi besarnya energi yang dibutuhkan untuk mereduksi ukuran suatu partikel.

000 ft/menit (7. Besar benturan dapat disesuaikan dengan kecepatan putar hammer.5.4 Hammer Mill Menurut Greg Alles (2003) hammer mill digunakan untuk mereduksi ukuran (partikel) yang dimasukan kedalam ruang peremuk secara relative perlahan. (2010).000 ft/menit (4800 m/min) atau ada yang melampaui 23. butiran atau material keras lainnya yang dimasukkan ke dalam ruang remuk (crushing frame) akan direduksi hingga ukurannya dapat melewati lubang saringan yang diterapkan. Menurut Ebunilo P.6. O. Pada proses peremukan hampir atau tidak memiliki energi momentum melainkan energi kinetik bekerja relative intensif. Gambar 2. semakin cepat putaran hammer maka semakin kecil ukuran butir yang dihasilkan. Hammer mill konvensional . hammer mill konvensional terdiri atas sebuah sumbu berputar dilengkapi palu yang dapat berayun secara bebas (free-swing hammer). Di dalam ruang peremuk terdapat dua atau beberapa palu (hammer) yang bergerak (berputar) relative cepat. Gambar 2. Untuk ukuran umpan yang konstan. Batuan. Distribusi ukuran untuk tiap bentuk gaya 2. Kecepatan gerak hammer secara linier minimum 16.1). Alat ini dilengkapi dengan sebuah saringan yang terletak di bagian bawah rotary hammer (lihat Gambar 2.015 m/menit).

tajam menyerupai pisau). Hammer Dalam implementasinya. Kalaupun dipakai. Ada yang hanya dapat bergerak bebas searah.7 Berbagai bentuk hammer Gambar 2. ada pula yang dapat bergerak relatif bebas ke segala arah Sedarta. petak tumpul (90°). hammer terbuat dari baja dibuat dalam berbagai bentuk. Proses peremukan hanya mengandalkan pukulan dan benturan. pengoperasiannya jarang menggunakan saringan. digunakan untuk peremukan tahap pertama. Fragmen produk dapat berukuran 1 – 25 cm. distribusi ukuran butir giling pada hammer mill Gambar 2. dan instalasi Hammer besar padu. Ujung plat dapat berbentuk menyudut runcing (30°.1. atau tumpul terbelah.8 Kedudukan hammer pada rotor . Oleh karenanya. saringan yang digunakan berupa grizzly. Fragmen memiliki energi potensial relatif lebih tinggi dibanding energi kinetiknya. Hammer berbentuk persegi panjang (plat) ditemui dalam berbagai model dan ukuran.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi proses reduksi pada sebuah hammer mill Beberapa factor yang mempengaruhi proses reduksi adalah : 2.Untuk menganalisa Kristal dari bahan batu gamping maka dilakukanlah analisa dengan mengunakan defraksi sinar X.5. Cocok untuk bongkahan berukuran besar seperti batugamping dari hasil peledakan. biasanya diinstall dalam keadaan terikat kokoh pada poros. Hammer jenis ini umumnya terikat pada poros dan dapat bergerak. ukuran. 2.

Kecepatan putar rotor merupakan salah satu faktor penting di dalam mengendalikan distribusi ukuran dan sifat dari butir. kecepatan putar akan mempengaruhi .2. Hammer tumpul cenderung membutuhkan energi reduksi yang lebih banyak. Sumbu rotot terhubung ke motor listrik. menghasilkan fragmen lebih banyak berukuran halus sedangkan hammer tajam menghasilkan fragmen lebih banyak berukuran kasar (Alles. Pada kadar air umpan 10%.. menggunakan ketebalan hammer 5 mm dengan jarak jangkauan hammer terhadap saringan (concave clearance) 5 mm dapat menambah persen jagung giling halus.5. 2. Penggunaan hammer menyudut 30o dapat mengurangi energi spesifik reduksi (Bitra et al.. Fitz-Mill. Walau bagimanapun juga.5 mm mengurangi persen jagung giling halus dan menambah persen jagung giling berukuran sedang sampai kasar (Shal et al. sedangkan reduksi tumpul menghasilkan gesekan/attrition (Barbosa-Canovas et al. 2015). 2003.Hammer berbentuk tumpul (blunt) mereduksi fragmen dengan cara pukul (impact) hammer berbentuk tajam (knife) mereduksi fragmen dengan cara potong. persen butir kasar berjumlah sedikit. 2010). 2015). 2014). 2005) Gambar 2. 2008).. baik langsung maupun dengan bantuan sabuk.9 Perbedaan metode reduksi hammer tumpul dan tajam Penggunaan jenis-jenis hammer-hammer ini kebanyakan ditujukan untuk mendapatkan butir giling dalam karakteristik tertentu. Pada umpan kadar air 14%. 30% dari karakteristik produk umumnya dipengaruhi oleh metode reduksinya (Hofmeyr. Kecepatan putar rotor Rotor adalah sumbu putar dari palu-palu yang terikat dalam melakukan proses reduksi. menggunakan concave clearance 12 mm dengan ketebalan hammer 1. Pada kegiatan produksi pakan ternak. Berdasarkan proses reduksinya reduksi pisau mengahasilkan gaya regang/tensile (Metso.

Oleh karenanya kecepatan putar rendah cenderung menghasilkan distribusi menceng ke kanan yang mengindikasikan adanya butir berukuran yang relatif kasar. Penambahan kecepatan rotor akan lebih meningkatkan kapasitas dibanding meningkatkan energi rotornya.072 MJ/Mg dari kecepatan 2000 sampai 3600 rpm. Shal et al (2010) melaporkan bahwa kecepatan putar rotor dapat mengurangi energy reduksi dan meningkatkan kapasitas mesin.energi reduksi yang dimiliki oleh tiap hammer. energy specifik terendah dicapai pada kecepatan 2250 rpm Gambar 2. energi input mill naik secara linier ±0.11 Bentuk distribusi ukuran butir akibat putaran rotor Hal senada juga diungkapkan oleh Alles (2003) dan Anderson (2015) bahwa peningkatan kecepatan putar hammer akan meningkatkan persen butir halus oleh karena impact hammer. Alles (2003) tidak setuju jika pengingkatan kecepatan putar hammer ditujukan untuk meningkatkan effisiensi reduksi. Namun. Hal ini ternyata terbukti bahwa pada penggilingan gandum dan jagung. untuk berbagai bentuk hammer. Pendapat bahwa peningkatan kecepatan putar hammer dapat meningkatkan effisiensi hanya benar jika peningkatan kecepatan putar diikuti oleh penambahan ukuran hammer dan diameter dari kisaran hammer. Energi reduksi yang lebih rendah cenderung menyebabkan butiran terbelah sedangkan energi reduksi yang lebih tinggi cenderung menghasilkan butiran terpotong. 2015).10 Mekanisme hancuran akibat kecepatan rotor Gambar 2. Untuk umpan kadar air 10% dengan concave clearance 5 mm dan ketebalan hammer 5 mm. Kecepatan putar tinggi cenderung menghasilkan distribusi butir miring ke kiri yang mengindikasikan adanya butir berukuran halus (Fitz-Mill. Ketika bentuk .

2009).. karakteristik butiran 70%-nya ditentukan oleh karakteristik saringan yang digunakan (Hofmeyr.5. segai: 654 menjadi 602 ìm. 2013)..995.2 mm menghasilkan ratarata diameter butir giling 373 ìm (Anderson. Bentuk dan ukuran lubang-nya juga dapat berbeda sesuai permintaan pengguna (Fitz-Mill. Selain berguna untuk menyaring butiran hasil reduksi. Walau bagaimanapun juga selain bentuk lubang daat mempengaruhi sudut gaya reduksi hammer terhadap permukaan saringan (Fitz- Mill.. Gesekan ini. 2. Hal 2: 39 – 40 yang belum lolos akan digesek (attrition) oleh kisaran hammer. 2012. ia juga berguna sebagai media (shaft) penahan proses reduksi. 2014). Pengecilan ukuran lubang saringan dari 3 mm menjadi 2 mm menyebabkan rata-rata ukuran partikel dari 3 sampel (gandum: 639 menjadi 552 ìm. dan batang jagung menggunaan lubang saringan 3. sebuah saringan biasanya diinstall tepat dibagian bawah puataran hammer.3. tiap butiran juga didorong melewati lubang saringan. 2008) Ketika ukuran lubang saringan berbeda. 2015). Xuan et al.175 mm dengan hammer dalam berbagai bentuk dengan kecepatan putar 1500 – 3500 rpm menghasilkan butiran baik. sedangkan pada mill 54-inci dengan lubang saringan 3.. 2015). 2015). kurva simetris mesokurtik. Penggilingan rumput. Dalam prakteknya. Distribusi butir memenuhi persamaan Rosin-Rammler dengan R2 > 0. persen luas lubang terhadap total luas saringan juga dapat berbeda (Alles. distribusi ukuran butir giling pada hammer mill.4 mm menghasilkan rata-rata diameter butir giling 378 m. 2009). ukuran saringan biasanya dibuat paling tidak setengah dari ukuran kisaran hammer. Sedarta et al. Oleh karenanya. Butiran Sedarta. Tingkat keseragaman butir kurang dari atau mendekati 4. Persen luas lubang umumnya berkisar . Mill 44- inci dengan lubang saringan 2. sifat material baik kadar air maupun kegetasan antar material yang direduksi dapat saja berbeda (Hofmeyr.. Ukuran lubang yang sama dengan bentuk berbeda dapat menyebabkan butiran mengalami energi reduksi berbeda sehingga sifat butir giling dapat menjadi berbeda. rata-rata dari diameter butir giling selalu lebih kecil dari ukuran lubang saringan yang digunakan (Sedarta et al.0 (Bitra et al. 2015). barli: 676 menjadi 639 ìm) menurun dan sifat butir untuk campuran berbeda menghasilkan manfaat yang berbeda (Murphy et al. 2012. Lubang saringan Untuk membuat hammer mill menjadi multi guna.hammer tumul 90° energi reduksi naik 45% ketika kecepatan rotor ditingkatkan dari 2000 menjadi 3600 rpm (Bitra et al. Proses ini terjadi secara berulang dan dengan kecepatan tinggi sehingga temperatur pada permukaan butir menjadi meningkat (Rakic. selain menyebabkan butiran mengalami gaya tekan dan potong. 2014).. jerami. Berdasarkan hasil penelitian. 2003).

12 Pengembangan teknologi hammer mill (Xuan et al. 8. 12. dengan memanfaatkan aerodinamik ruang remuk. 7.Sedarta. Hal 2: 40 – 40 antara 30-70% (Haver & Boecker.0 mm (36 – 50%). 2003). Teknologi ini selain dapat mengurangi energi reduksi.0 mm (58 – 81 %). telah diusulkan oleh Xuan et al. Butiran ditaburkan ke permukaan saringan. sebuah design. . 10.7 X-ray diffraction (XRD) XRD merupakan salah satu metode karakterisasi material paling tua dan paling sering digunakan hingga sekarang teknik ini digunakan untuk mengidentifikasi struktur kristal dan mendapatkan ukuran partikelnya. Gambar 2. Oleh karena adanya gaya centrifugal hammer butiran hasil reduksi dialirkan mengikuti putaran udara. Permukaan saringan dibuat menghadap ke arah perputaran udara peremukan. 5.1 mm (61 – 70%).5 mm (51 – 79%). Saringan dipasang pada bagian atas ruang remuk. (2012). distribusi ukuran butir giling pada hammer mill. temperatur pada permukaan partikel juga relatif lebih rendah 2. Jika ukurannya belum mampu lolos maka akan kembali jatuh ke ruang remuk. 2012) Untuk menambah kapasitas mill.0 mm (51 – 67%). Persen luas lubang tersebut selain ditentukan oleh susunan lubang juga ditpengaruhi oleh diameter kawat yang digunakan..0 mm (62 – 79%). 3.

XRD dapat digunakan untuk menentukan struktur kristal menggunakan sinar-X. Pola difraksi yang dihasilkan sesuai dengan susunan atom pada kristal tersebut Karakterisasi menggunakan metode difraksi merupakan metode analisa yang penting untuk menganalisa suatu kristal. 2012). Tempat yang kosong ini segera diisi oleh elektron yang berada pada keadaan tenaga yang lebih tinggi. 2012). bila seberkas sinar-X ditembakkan pada suatu material kristalin maka sinar tersebut akan menghasilkan pola difraksi khas..2. Sinar-X merupakan gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang diantara 400-800 nm (Smallman & Bishop. Tetapi sinar-X memiliki kebolehjadian yang lebih besar berinteraksi dengan elektron di kulit K daripada dengan elektron di kulit atom yang lebih luar (Suharyana. Tenaga ionisasi elektron terluar hanyalah sekitar 100 eV dani tenaga ionisasi elektron dari kulit K sekitar 120 keV. Suatu kristal dapat digunakan untuk mendifraksi berkas sinar-X dikarenakan orde dari panjang gelombang sinar-X hampir sama atau lebih kecil dengan orde jarak antar atom dalam suatu kristal (Zulianingsih. Jika elektron pengisi kekosongan berasal dari kulit L maka sinar-X yang dihasilkan dinamakan sinar-x Ka.1 Sinar. Akibatnya. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan jenis struktur. dan bila berasal dari kulit M dinamakan sinar-X Kg(Suharyana. Menurut hokum bragg Suatu kristal memiliki susunan atom yang tersusun secara teratur dan berulang. misalnya elektron di kulit L atau M yang disertai dengan pancaran sebuah photon.7. memiliki jarak antar atom yang ordenya sama dengan panjang gelombang sinar-X.X Hamburan sinar-X dihasilkan jika suatu elektroda logam ditembakkan dengan elektron- elektron dengan kecepatan tinggi dalam tabung vakum. konstanta kisi. 2.7. Sedangkan jika berasal dari kulit L dinamakan sinar-X Kb. ukuran butir. 1999).2 Teknik Analisis XRD Beberapa teknik analisis metode XRD adalah sebagai berikut: . Misalkan sebuah elektron di kulit K terionisasi sehingga terdapat sebuah kekosongan elektron di kulit K. 2012).

Sedangkan data intensitas berasal dari intensitas difraksi sinar-X cuplikan zeolit.2.7.2.1 Analisis Rietveld Analisis penghalusan (refinement) dengan Program RIETAN dilakukan dengan cara memasukkan dua jenis data yakni data parameter struktur dan intensitas difraksi sinar-X. Kemudian kedua data parameter struktur dan intensitas difraksi sinar-X dari cuplikan tersebut dianalisis dengan metode Rietveld menggunakan Program RIETAN.Penghalusan dilakukan denganmenggunakan cara Nonlinear leastsquares fitting by the Maquardt method. Data parameter struktur adalahdata masukan model perhitungan yang diambil dari referensi sebagai acuan. .

yaitu ukuran grain >= 0. bindstone. 2. Sangat tepat untuk mempelajari fasies terumbu dan tingkat energi pengendapan . Orthochemical rock (allochem 10%) KLASIFIKASI Embry & Klovan (1971) Merupakan pengembangan dari klasifikasi Dunham (1962). dan framestone. Batugamping autochthon : bafflestone. wackestone. Embry & Klovan membagi batugamping menjadi 2 kelompok : 1. Batugamping allochthon : mudstone.b.03-2 mm dan ukuran lumpur karbonat < 0. Seluruhnya didasarkan pada tekstur pengendapan dan lebih tegas di dalam ukuran butir. Berdasarkan cara terjadinya.03 mm.