13

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 ANATOMI TONSIL

Tonsilla lingualis, tonsilla palatina, tonsilla faringeal dan tonsilla tubaria

membentuk cincin jaringan limfe pada pintu masuk saluran nafas dan saluran

pencernaan. Cincin ini dikenal dengan nama cincin Waldeyer. Kumpulan jaringan

ini melindungi anak terhadap infeksi melalui udara dan makanan. Jaringan limfe

pada cincin Waldeyer menjadi hipertrofi fisiologis pada masa kanak-kanak,

adenoid pada umur 3 tahun dan tonsil pada usia 5 tahun, dan kemudian menjadi

atrofi pada masa pubertas.6

Tonsil palatina dan adenoid (tonsil faringeal) merupakan bagian

terpenting dari cincin waldeyer.

Gambar 1 : Cincin Waldeyer

Jaringan limfoid lainnya yaitu tonsil lingual, pita lateral faring dan

kelenjar-kelenjar limfoid. Kelenjar ini tersebar dalam fossa Rossenmuler, dibawah

Permukaan lateral tonsilla ditutupi selapis jaringan fibrosa yang disebut Capsula tonsilla palatina.10 Tonsilla palatina adalah dua massa jaringan limfoid berbentuk ovoid yang terletak pada dinding lateral orofaring dalam fossa tonsillaris. Medial : ruang orofaring . 14 mukosa dinding faring posterior faring dan dekat orificium tuba eustachius (tonsil Gerlach’s). Gambar 2. Pada bagian atas permukaan medial tonsilla terdapat sebuah celah intratonsil dalam. Superior : palatum mole 4. 9. Tonsil Palatina Adapun struktur yang terdapat disekitar tonsilla palatina adalah6 : 1. Posterior : arcus palatopharyngeus 3. Tiap tonsilla ditutupi membran mukosa dan permukaan medialnya yang bebas menonjol kedalam faring. terletak berdekatan dengan tonsilla lingualis. Inferior : 1/3 posterior lidah 5. Permukaannya tampak berlubang-lubang kecil yang berjalan ke dalam “Cryptae Tonsillares” yang berjumlah 6-20 kripta. Anterior : arcus palatoglossus 2.

makanan dan iritasi lingkungan.telinga tengah.6 Terbentuk sejak bulan ketiga hingga ketujuh embriogenesis. bakteri. Adenoid berbatasan dengan kavum nasi dan sinus paranasalis pada bagian anterior. Ukuran adenoid beragam antara anak yang satu dengan yang lain. Adenoid akan terus bertumbuh hingga usia kurang lebih 6 tahun. constrictor pharyngis superior.kavum mastoid pada bagian lateral. Lateral : kapsul dipisahkan oleh m. setelah itu akan mengalami regresi. kompleks tuba eustachius.9 . Adenoid telah menjadi tempat kolonisasi kuman sejak lahir.5 cm dibelakang dan lateral tonsilla. 15 6. Anatomi normal Tonsil Palatina Adenoid atau tonsila faringeal adalah jaringan limfoepitelial berbentuk triangular yang terletak pada aspek posterior. Pembesaran yang terjadi selama usia kanak-kanak muncul sebagai respon multi antigen seperti virus. alergen. Gambar 3. A. Umumnya ukuran maximum adenoid tercapai pada usia antara 3-7 tahun. carotis interna terletak 2.

9 Pada bagian permukaan lateral dari tonsil tertutup oleh suatu membran jaringan ikat. tonsilaris . maksilaris eksterna (A. yaitu batas anterior adalah otot palatoglosus. Pada bagian atas fossa tonsil terdapat ruangan yang disebut fossa supratonsil. Kapsul tonsil terbentuk dari fasia faringobasilar yang kemudian membentuk septa. Ke arah bawah berpisah dan masuk ke jaringan di pangkal lidah dan dinding lateral faring. yang disebut kapsul. Komplikasi yang sering terjadi adalah terdapatnya sisa tonsil atau terpotongnya pangkal lidah. 16 Gambar 5. Serabut ini dapat menjadi penyebab kesukaran saat pengangkatan tonsil dengan jerat. 9 Plika anterior dan plika posterior bersatu di atas pada palatum mole. Plika triangularis atau plika retrotonsilaris atau plika transversalis terletak diantara pangkal lidah dengan bagian anterior kutub bawah tonsil dan merupakan serabut yang berasal dari otot palatofaringeus. Adenoid Fossa tonsil atau sinus tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring. batas lateral atau dinding luarnya adalah otot konstriktor faring superior. karotis eksterna yaitu A. fasialis) yang mempunyai cabang yaitu A.9 Vaskularisasi tonsil berasal dari cabang-cabang A. Ruangan ini terjadi karena tonsil tidak mengisi penuh fossa tonsil.

serta A.6 Arteri tonsilaris berjalan ke atas pada bagian luar m. lingualis dengan cabang A. Arteri lingualis dorsal naik ke pangkal lidah dan mengirim cabangnya ke tonsil. plika anterior dan plika posterior. A. konstriktor superior.10 Gambar 6. palatina posterior atau "lesser palatine artery" memberi vaskularisasi tonsil dan palatum mole dari atas dan membentuk anastomosis dengan a. Arteri palatina asenden. 9. maksilaris interna dengan cabang A. Arteri faringeal asenden juga memberikan cabangnya ke tonsil melalui bagian luar m. Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari faring. Aliran limfa dari daerah tonsil akan mengalir ke rangkaian getah . palatina asenden. dan A. konstriktor superior dan memberikan cabang untuk tonsil dan palatum mole. 17 dan A. lingualis dorsal. palatina desenden. faringeal asenden. Pendarahan Tonsil Infeksi dapat menuju ke semua bagian tubuh melalui perjalanan aliran getah bening. palatina asenden. Arteri palatina desenden atau a. mengirimkan cabang-cabangnya melalui m. konstriktor posterior menuju tonsil.

Pada usia lebih dari 60 tahun Ig-positif sel B dan sel T berkurang banyak sekali pada semua kompartemen tonsil. Pada respon imun tahap I terjadi ketika antigen memasuki orofaring mengenai epitel kripte yang merupakan kompartemen tonsil pertama sebagai barier imunologis.10 Gambar 7. Aktivitas imunologi terbesar dari tonsil ditemukan pada usia 3 – 10 tahun. 9. respon imun tahap II. Sistem Limfatik kepala dan leher Lokasi tonsil sangat memungkinkan mendapat paparan benda asing dan patogen. IX). dan migrasi limfosit. Secara sistematik proses imunologis di tonsil terbagi menjadi 3 kejadian yaitu respon imun tahap I.6 Innervasi tonsil bagian atas mendapat persarafan dari serabut saraf V melalui ganglion sphenopalatina dan bagian bawah tonsil berasal dari saraf glossofaringeus (N. selanjutnya membawa mentranspor ke sel limfoid. Sel M tidak hanya berperan mentranspor antigen melalui barier epitel tapi juga membentuk komparten mikro intraepitel spesifik yang membawa bersamaan . 18 bening servikal profunda atau disebut juga deep jugular node. Aliran getah bening selanjutnya menuju ke kelenjar toraks dan pada akhirnya ke duktus torasikus.

2 Definisi Tonsilitis Kronis adalah peradangan kronis Tonsil setelah serangan akut yang terjadi berulang-ulang atau infeksi subklinis.6 Respon imun tonsila palatina tahap kedua terjadi setelah antigen melalui epitel kripte dan mencapai daerah ekstrafolikular atau folikel limfoid. Tonsilitis . Adapun respon imun berikutnya berupa migrasi limfosit. 19 dalam konsentrasi tinggi material asing. 10 Gambar 8. Perjalanan limfosit dari penelitian didapat bahwa migrasi limfosit berlangsung terus menerus dari darah ke tonsil melalui HEV( high endothelial venules) dan kembali ke sirkulasi melalui limfe. Tonsilitis berulang terutama terjadi pada anak-anak dan diantara serangan tidak jarang tonsil tampak sehat. Tetapi tidak jarang keadaan tonsil diluar serangan terlihat membesar disertai dengan hiperemi ringan yang mengenai pilar anterior dan apabila tonsil ditekan keluar detritus.6 3. limfosit dan APC seperti makrofag dan sel dendritik.

kelelahan fisik)  Pengobatan Tonsilitis Akut yang tidak adekuat. .  25% disebabkan oleh Streptokokus golongan lain yang tidak menunjukkan kenaikan titer Streptokokus antibodi dalam serum penderita.ubah)  Alergi (iritasi kronis dari allergen)  Keadaan umum (kurang gizi. Sisanya adalah Pneumokokus. yaitu : 10  Rangsangan kronis (rokok.3 Etiologi Etiologi berdasarkan Morrison yang mengutip hasil penyelidikan dari Commission on Acute Respiration Disease bekerja sama dengan Surgeon General of the Army America dimana dari 169 kasus didapatkan data sebagai berikut :  25% disebabkan oleh Streptokokus β hemolitikus yang pada masa penyembuhan tampak adanya kenaikan titer Streptokokus antibodi dalam serum penderita. lembab. Stafilokokus. 20 3. suhu yang berubah. Hemofilus influenza. 2.4 Faktor Predisposisi Beberapa faktor predisposisi timbulnya kejadian Tonsilitis Kronis. makanan)  Higiene mulut yang buruk  Pengaruh cuaca (udara dingin.

6 Manifestasi Klinis Pada umumnya penderita sering mengeluh oleh karena serangan tonsilitis akut yang berulang ulang. Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan ke jaringan sekitar. Karena proses radang berulang. nyeri waktu menelan atau ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan bila menelan. 10 3. tonsil ditutupi oleh eksudat yang purulen atau seperti keju. kripta yang melebar dan ditutupi eksudat yang purulen. sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid akan diganti oleh jaringan parut. maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis. yakni 7. sel leukosit yang mati dan bakteri yang menutupi kripta berupa eksudat berwarna kekuning kuningan). . proses ini akan disertai dengan pembesaran kelenjar submandibula. Secara klinis kripta ini akan tampak diisi oleh Detritus (akumulasi epitel yang mati.5 Patologi Proses peradangan dimulai pada satu atau lebih kripta tonsil. adanya rasa sakit (nyeri) yang terus-menerus pada tenggorokan (odinofagi). Proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan sekitar fossa tonsilaris. Mungkin juga dijumpai tonsil tetap kecil. kripta yang melebar. kadang-kadang seperti terpendam di dalam tonsil bed dengan tepi yang hiperemis. 21 3. terdapat dua macam gambaran tonsil dari Tonsilitis Kronis yang mungkin tampak. terasa kering dan pernafasan berbau. Jaringan ini akan mengerut sehingga kripta akan melebar. Pada anak- anak. mengeriput. 2. Pada pemeriksaan.8: 1.

kripta membesar. sakit pada sendi. maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi : 10 T0 : Tonsil masuk di dalam fossa T1 : <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T2: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T4 : >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring 3. malaise. dan suatu bahan seperti keju atau dempul amat banyak terlihat . 2. dengan mengukur jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil.8 1. Pada beberapa kasus. Anamnesa Anamnesa ini merupakan hal yang sangat penting karena hampir 50% diagnosa dapat ditegakkan dari anamnesa saja. sakit waktu menelan. nafas bau busuk. Sebagian kripta mengalami stenosis. Pemeriksaan Fisik Tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut. Penderita sering datang dengan keluhan rasa sakit pada tenggorok yang terus menerus. kadang-kadang ada demam dan nyeri pada leher. tapi eksudat (purulen) dapat diperlihatkan dari kripta-kripta tersebut. 22 Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring.7 Diagnosis Adapun tahapan menuju diagnosis tonsilitis kronis adalah sebagai berikut7.

23 pada kripta. Stafilokokus. biasanya membuat lekukan. seperti Streptokokus hemolitikus. Infeksi berasal dari daerah tonsil. Biakan swab sering menghasilkan beberapa macam kuman dengan derajat keganasan yang rendah. 10 3. faring. Komplikasi sekitar tonsila  Peritonsilitis Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus dan abses. tepinya hiperemis dan sejumlah kecil sekret purulen yang tipis terlihat pada kripta. Gambaran klinis yang lain yang sering adalah dari tonsil yang kecil. 3. . Streptokokus viridans. menembus kapsul tonsil dan penjalaran dari infeksi gigi.  Abses Peritonsilar (Quinsy) Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Adapun berbagai komplikasi yang kerap ditemui adalah sebagai berikut : 10 1. Pemeriksaan Penunjang Dapat dilakukan kultur dan uji resistensi (sensitifitas) kuman dari sediaan apus tonsil. Sumber infeksi berasal dari penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi.8 Komplikasi Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke daerah sekitar atau secara hematogen atau limfogen ke organ yang jauh dari tonsil.  Abses Parafaringeal Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah bening atau pembuluh darah. atau Pneumokokus.

9 Penatalaksanaan Antibotika spektrum luas. 3. konjungtivitis berulang dan koroiditis  Psoriasiseritema multiforme. biasanya kecil dan multipel. 2. 24 sinus paranasal. Komplikasi Organ jauh  Demam rematik dan penyakit jantung rematik  Glomerulonefritis  Episkleritis. Pada keadaan . kronik urtikaria dan purpura  Artritis dan fibrositis.  Kista Tonsil Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan fibrosa dan ini menimbulkan kista berupa tonjolan pada tonsil berwarna putih dan berupa cekungan. adenoid.  Abses Retrofaring Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. antipiretik dan obat kumur yang mengandung desinfektan merupakan penatalaksaan pasien dengan tonsilitis. os mastoid dan os petrosus. kelenjar limfe faringeal. Biasanya terjadi pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih berisi kelenjar limfe.  Tonsilolith (Kalkulus dari tonsil) Terjadinya deposit kalsium fosfat dan kalsium karbonat dalam jaringan tonsil yang membentuk bahan keras seperti kapur.

gangguan tidur.7 The American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery (AAO-HNS) menjabarkan indikasi-indikasi klinis untuk prosedur tonsilektomi sebagai berikut9:  Indikasi Absolut . . atau komplikasi kardiopulmonal. kecuali prosedur dilakukan saat fase akut. dan bersifat bakterisidal. Abses peritonsilar yang tidak responsif terhadap medikamentosa dan prosedur drainase. . Contoh β-laktamase inhibitor adalah asam clavulanat. disfagia berat. .β-laktamase adalah enzim pada bakteri yang bekerja dengan cara menghidrolisis cincin β-laktam sehingga menghilangkan efek antimikroba.7 Pada tonsilitis kronis jenis antibiotika yang diberikan adalah golongan penisilin (amoxicilin) yang merupakan drug of choice. dan tazobactam. Tonslitis yang menyebabkan kejang demam. Pemberian amoxicilin dapat dikombinasikan dengan asam clavulanat yang merupakan suatu β-laktamase inhibitor. β-laktamase inhibitor mempunyai cara kerja yaitu dengan berikatan dengan β-laktamase. Pembesaran tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran pernafasan bagian atas.6. Golongan penisilin memiliki spektrum yang luas. sehingga melindungi antibiotik dari enzim tersebut. efek samping yang minimal. maka terapi pilihan adalah pengangkatan tonsil (tonsilektomi). 25 dimana tonsilitis sangat sering timbul dan pasien merasa sangat terganggu. sulbactam.6.

 Indikasi Relatif . hipertrofi tonsil unilateral yang memiliki kemungkinan Gambar 9: Tonsilektomi . 26 . . . Nafas berbau atau rasa tidak enak pada mulut yang persisten akibat tonsilitis kronis yang tidak responsif terhadap terapi. Tonsilitis kronis atau rekuren pada karier streptococus yang tidak responsif terhadap terapi. 3 atau lebih episode infeksi dalam 1 tahun walaupun dengan terapi yang adekuat. . Tonsil yang harus dibiopsi untuk melihat patologi jaringannya.

Related Interests