PERENCANAAN JIG AND FIXTURE

Disusun Oleh :

Noor Rochman

3.21.14.17

ME 3A

POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
PROGAM STUDI D3 TEKNIK MESIN
JURUSAN TEKNIK MESIN
2017

Sedangkan fixture adalah perkakas pemegang benda kerja yang terikat secara tetap pada mesin dimana alat tersebut berada. Selain itu jig and fixture juga dapat berfungsi agar kualitas produk dapat terjaga seperti kualitas yang telah ditentukan. dengan kata lain pengerjaan proses manufaktur akan lebih mudah untuk mendapatkan kualitas produk yang lebih tinggi ataupun laju produksi yang lebih tinggi pula. Dimana Jig adalah suatu alat penuntun dari pahat dan sebagai pemegang benda kerja yang tidak terikat secara tetap pada mesin tempat alat itu dipakai. Dengan demikian. Dengan menggunakan perkakas bantu ini diharapkan produk yang dihasilkan memiliki ketelitian yang tinggi. efisiensi proses manufaktur suatu produk dapat ditingkatkan melalui perancangan jig and fixture pada proses manufaktur sekelompok produk. kepresisian yang tepat. maka akan semakin rumit pula perkakas yang digunakan. tidak diperlukan lagi skill operator dalam melakukan operasi manufaktur. Penggunaan mesin ini tergantung kepada spesifikasi produk yang akan dibuat. Jenis perkakas bantu tersebut antara lain jig dan fixture.2 MANFAAT PENGGUNAAN JIG DAN FIXTURE Manfaat dari penggunaan Jig dan Fixture adalah:  Aspek Teknis / Fungsi:  Mendapatkan ketepatan ukuran . dan sesuai dengan bentuk produk yang diinginkan. Semakin komplek bentuk produk tersebut. Penggunaan jig dan fixture ini disesuaikan dengan fungsi dan karakteristiknya. tetapi tidak merubah geometris dari benda kerja. Jig and fixture merupakan perkakas bantu yang berfungsi untuk memegang dan atau mengarahkan benda kerja sehingga proses manufaktur suatu produk dapat lebih efisien. Mesin perkakas akan lebih berfungsi bila dilengkapi pula dengan perkakas bantu. Dan juga. BAB I DASAR TEORI 1. 1. akurasi. Jig dan fixture berfungsi membantu atau menolong pelaksanaan proses produksi.1 JIG DAN FIXTURE Hampir setiap proses produksi didukung oleh pemakaian mesin perkakas. Dengan adanya jig & fixtures.

3 PERTIMBANGAN UMUM PEMBUATAN JIG DAN FIXTURE Sebelum memutuskan penggunaan jig dan fixture pada suatu proses produksi. harus mempertimbangkan beberapa tuntutan – tuntutan di bawah ini: a) Tuntutan Fungsi  Tuntutan fungsi yang utama dalam penggunaan jig dan fixture adalah bentukan dan toleransi yang diharapkan dapat tercapai.  Waktu proses sebelum penggunaan jig dan fixture yang panjang akibat penyetingan dan penanganan benda kerja berkurang secara nyata.  Keseragaman ukuran pada produk masal dapat tercapai.  Mendapatkan keseragaman ukuran  Aspek Ekonomi:  Mengurangi ongkos produksi dengan memperpendek waktu proses  Menurunkan ongkos produksi dengan pemakaian bukan operator ahli / trampil  Meningkatkan efisiensi penggunaan alat atau mesin  Optimalisasi mesin yang kurang teliti  Mengurangi waktu inspeksi dan alat ukur  Meniadakan kesalahan pengerjaan (reject)  Aspek Sosial / Keamanan:  Mengurangi beban kerja fisik operator  Mengurangi resiko kecelakaan kerja Sebelum jig & fixture dibuat.  Pada penggunaan checking fixture. perlu sekali dilakukan kajian dari sisi ekonomi. 1. . karena hasil akhir dari penggunaan jig & fixture tidak lain adalah keuntungan secara ekonomi. ukuran atau bentukan yang diterima dan tidak dapat segera dikenali.

 Penggunaan aspek ergonomi diperhatikan.  Elemen operasi mudah dikenali dan dimengerti cara kerjanya.b) Tuntutan Penanganan/Pengoperasian  Jig dan fixture harus dapat dioperasikan dengan cepat dan mudah walaupun dengan operator awam sekalipun.  Target pencapaian BEP (Break Even Point) tercapai. d) Tuntutan Konstruksi  Optimalisasi penggunaan elemen standar.  Perlu mempertimbangkan aspek pengguna. c) Tuntutan Ekonomi  Biaya penggunaan jig dan fixture tidak terlampaui.  Penggunaan elemen yang mengunci sendiri (self locking) pada mesin yang memiliki getaran tinggi atau tergesernya benda kerja akibat kerusakan alat potong sangat perlu dipertimbangkan. e) Tuntutan Keamanan  Aspek umum keselamatan di tempat kerja diperhatikan.  Elemen yang lepas pasang harus diikat agar tidak jatuh atau hilang.  Penggunaan elemen yang lepas pasang mempertimbangkan waktu penanganan.  Jig dan fixture yang bergerak atau berputar harus diseimbangkan terlebih dahulu.  Rancangan hendaknya logis dan tidak berlebihan (over design). .

2) Pencekaman (Clamping) Penyusunan atau peletakan pencekam dan besarnya gaya pencekaman benar – benar meniadakan gaya reaksi akibat gaya – gaya luar akibat pemotongan benda kerja / proses. sangat perlu di pertimbangkan pemenuhan tuntutan – tuntutan di bawah ini: 1) Peletakan Benda Kerja (Location) Benda kerja memiliki ruang yang cukup pada peletakannya dan tidak memungkinkan benda terbalik atau salah pasang untuk menghindari kesalahan pengerjaan. mekanik. dan saat proses.  Pengamanan terhadap kegagalan sumber tenaga pencekaman. Titik peletakan cukup jelas terlihat oleh operator. dan tekanan yang berlebihan. 3) Penanganan (Handling) Komponen control dan jig dan fixture keseluruhan harus ringan dan mudah untuk dinaik-turunkan dari mesin. Pencekaman harus logis dan mudah.  Pengamanan pada saat proses pemesinan atau kegagalan pemesinan.  Pengamanan terhadap bahaya listrik.  Keamanan terhadap benda kerja akibat kesalahan peletakan. Untuk itu elemen untuk memegang dan memindahkan jig dan fixture harus tersedia. Gaya pencekaman tidak menyebabkan benda kerja terdeformasi atau merusak permukaannya. Tidak ada sisi tajam pada jig dan .4 PROSEDUR PERANCANGAN JIG DAN FIXTURE Sebelum memutuskan penggunaan jig dan fixture pada suatu proses produksi. Dalam hal benda kerja memiliki ukuran mentah seperti benda tuangan (casting) dimungkinkan peletakan yang dapat diatur (adjustable) untuk menjaga keausan locator atau variasi ukuran benda kerja. pencekaman. 1.

3 mm. Penggunaan material sisipan (insert) pada komponen yang bergesekan dimaksudkan untuk penggantian. 6) Bahan (Material) Komponen utama yang mendapatkan gesekan dan atau tumbukan gaya menggunakan material Tool Steel atau mendapatkan perlakuan pengerasan. Jika digunakan komponen yang di las. kestabilan juga sangat diperlukan. maka toleransi pada jignya untuk setting jarak antar pengarah (bush) adalah 0. Jika perlu di gunakan pengikatan baut – mur terhadap mesin. perlu dilakukan perlakuan stress relief setelah pengelasan atau sebelum pemesinan untuk menghindari tegangan dalam maupun pelentingan akibat las. Penggunaan celah untuk tangan operator / alat bantu yang dimaksudkan untuk mengeluarkan beram yang tersumbat sangat dimungkinkan. proporsional terhadap besar benda kerja dan gaya luar yang bekerja. Misalnya jarak lubang yang akan diproses pada benda kerja memiliki toleransi ± 0. 4) Kelonggaran (Clearance) Tersedia cukup ruang untuk pembuangan beram hasil pemotongan jika beram tidak diinginkan terbuang keluar melaui arah yang sama dengan pemotongan. . 7) Toleransi (Tolerance) Toleransi pengerjaan komponen jig dan fixture yang berhubungan dengan hasil proses adalah sepertiga dari toleransi benda kerja. Benda kerja yang kecil dan sulit dalam pemasangan / pelepasan. fixture.1 mm. di berikan kemudahan. 5) Kekakuan / Stabilitas (Rigidity / Stability) Meskipun jig dan fixture diharapkan seringan mungkin.

5 Rumus Perhitungan  Perencanaan Bushing Bushing ditempatkan dalam posisi yang tepat pada jig.1. supaya tidak goyang dan bergetar terlalu besar. karena dapat merubah hasil dari pengeboran tersebut. Pada waktu proses pengerjaan drilling berlangsung benda kerja harus diberi pencekaman. sehingga pelubangan pada benda kerja selalu sama dan presisi. Pada perencanaan jig ini direncanakan bushing : Bahan : FC 35 Kekuatan tarik ( Tb ) : 35 kg/mm2 Kekerasan ( Hb ) : 277 kg/mm2 Diameter dalam : 10 mm dan 30 mm Diameter luar : 20 mm dan 40 mm Tinggi : 18 mm Sudut chemper : 45° Pemasangan : Suaian pas ( Press fit )  Perencanaan Baut Agar banda kerja tidak goyang pada waktu proses pengeboran maka benda kerja tersebut di cekam oleh sebuah baut. Dalam jig drilling ini pencekaman dilakukan oleh baut yang menjepit benda kerja.  Beban rencana : W = fc x Wo dimana : W = Beban rencana Wo = Beban yang terjadi Fc = Faktor koreksi  Diameter inti yang diperlukan ( d1 ) 4 W d1 ≥   a .

84 dan j = 0. Keterangan : d1 = diameter inti ( mm ) σa = tegangan tarik yang diizinkan ( kg/mm2 ) W = beban rencana ( kg )  Jumlah ulir yang diperlukan ( z ) Jumlah ulir ( Z ) dapat dihitung dengan persamaan : W Z ≥   d 2  h  qa  Keterangan : Z = Jumlah ulir ( mm ) W = Beban rencana ( kg ) D2 = Diameter efektif ( mm ) H = Tinggi kaitan ( mm ) qa = Tekanan permukaan yang diizinkan ≈ 3 kg/mm2  Tinggi mur ( H ) H = ZxP  Jumlah ulir mur ( Z ) H Z= P Keterangan : H = Tinggi mur ( mm ) Z = Jumlah ulir ( mm ) P = Jarak bagi ( mm )  Tegangan geser Untuk ulir metris besarnya K = 0.75  Tegangan geser akar ulir baut ( τb ) W τb =   d1  k  P  Z  .

 Tegangan geser akar ulir mur ( τa ) W τb =   D  j  P  Z  .

BAB II ANALISA PERENCANAAN 2.1 Gambar benda kerja Keterangan benda kerja : Bahan benda kerja : FC 25 Kekerasan ( HB ) : 25 kg/mm2 Kekuatan tarik ( Tb ) : 24 kg/mm2 Diameter lubang : 10 mm dan 15 mm Jumlah lubang : 3 buah Tebal : 25 mm .1 Analisa Benda Kerja Direncanakan benda kerja akan dibuat lubang dengan memakai mesin bor / manual milling dengan ketentuan seerti pada gambar dibawah ini : Gambar 2.

2 supaya didapat beban rencana lebih besar dari pada beban yang terjadi. Faktor koreksi ( fc ) = 0. diasumsikan beban yang terjadi sebesar 300 kg.2 Diambil angka 1. Wo = 300 kg  Faktor koreksi ( fc ) Dalam merencanakan suatu alat produksi perlu dipertimbangkan berbagai macam facam faktor keamanan.8 – 1.  Beban yang terjadi ( Wo ) Untuk beban disini diambil beban maksimum.  Beban rencana ( W ) W = Wo x fc = 300 x 1. Sehingga koreksi pertama dapat diambil sebagai acuan. Dalam jig drilling ini pencekaman dilakukan oleh baut yang menjepit benda kerja.8 kg/mm2  Faktor keamanan ( Sf ) = 8  Diameter inti yang diperlukan ( d1 ) .2 = 360 kg  Bahan baut Bahan baut direncanakan dari besi cor jenis FC 25 dengan spesifikasi sebagi berikut :  Kekuatan tarik σb = 25 kg/mm2  Tegangan tarik yang diizinkan σa = 4. supaya tidak goyang dan bergetar terlalu besar karena dapat merubah hasil dari pengeboran tersebut.2 Perencanaan Baut Pada waktu proses pengerjaan drilling berlangsung benda kerja harus diberi pencekaman.2. sehingga keamanan lebih terjaga.

947 mm P = 1.8 d1 ≥ 9.75 mm Keterangan : D1 = Diameter inti ( mm ) D2 = Diameter efektif ( mm ) D = Diameter luar ( mm ) H = Tinggi kaitan ( mm ) P = Jarak bagi ( mm )  Bahan mur Bahan mur dari besi cor jenis FC 25 dengan spesifikasi sebagi berikut :  Kekuatan tarik σb = 25 kg/mm2  Tegangan geser yang diizinkan τa = 3 kg/mm2  Tekanan permukaan yang diizinkan qa = 3 kg/mm2  Jumlah ulir yang diperlukan ( z ) Jumlah ulir ( Z ) dapat dihitung dengan persamaan : .863 mm D = 12 mm H = 0. 4 W d1    a 4  360 d1    4.106 mm D2 = 10.77 mm ≈ jadi baut yang dipakai yaitu M 12  Dipilih ulir kasar metris M 12 D1 = 10.

947  3 360 Z ≥ 96.75  4 360 = 186.14  10.75 = 7 mm  Jumlah ulir mur ( Z ) H Z= P 7 Z= 1.106  0.955 Z ≥ 3.75  Tegangan geser akar ulir baut ( τb ) W τb =   d1  k  P  Z  360 = 3.863  0.84 dan j = 0.75 = 4 ( sama )  Tegangan geser Untuk ulir metris besarnya K = 0.683 = 1. W Z ≥   d 2  h  qa  360 Z ≥   10.93 kg/mm2  Tegangan geser akar ulir mur ( τa ) .71 ≈ 4  Tinggi mur ( H ) H = ZxP = 4 x 1.84  1.

75  1. W τb =   D  j  P  Z  360 = 3.2 Gambar V .82 = 1.3 Momen Inersia V.Block b h Gambar 2.82 kg/mm2 2.14  12  0.75  4 360 = 197.Block Momen inersia persegi dimana : b = 40 mm = 4 cm h = 60 mm = 6 cm maka : 1 I= x h x b3 2 1 = x 6 x 43 2 = 32 cm4 .

91 cm4  Jadi momen inersia V.09 cm4 Gambar 2.Momen inersia segitiga dimana : b = 25 mm = 2.Block : = momen inersia persegi – momen inersia segitiga = 32 cm4 – 3.3 Jig And Fixture .5 cm h = 30 mm = 3.91 cm4 = 28.53 2 = 3.0 cm maka : 1 I= x h x b3 2 1 = x 3 x 2.

Related Interests