BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Stabilitas produk farmasi dapat didefinisikan sebagai kemampuan
s u a t u p r o d u k u n t u k b e r t a h a n d a l a m b a t a s ya n g d i t e t a p k a n s e p a n j a n g
p e r i o d e p e n yi m p a n a n d a n p e n g g u n a a n , s i f a t d a n k a r e k t e r i s t i k n ya s a m a
d e n g a n ya n g d i m i l i k i n ya p a d a s a a t d i b u a t ( V a d a s , 2 0 0 0 ) . B a n ya k f a k t o r
yang mempengaruhi stabilitas produk farmasi, seperti stabilitas dari
bahan aktif, interaksi antara bahan aktif dan bahan tambahan, proses
pembuatan, proses pengemasan dan kondisi lingkunganselama
pengangkutan, penyimpanan dan penanganan serta jangka waktu produk
antara pembuatan hingga pemakaian (Vadas, 2000). Stabilitas produk
obat dibagi menjadi stabilitas secara kimia dan stabilitas secara fisika
F a k t o r – f a k t o r f i s i k a s e p e r t i , p a n a s , c a h a ya , d a n k e l e m b a p a n , m u n g k i n
a k a n m e n ye b a b k a n a t a u m e m p e r c e p a t r e k a s i k i m i a , m a k a s e t i a p
menentukan stabilitas kimia, stabilitas fisika juga harus ditentukan
(Vadas 2000). Stabilitas produk farmasi tersebut meliputi serbuk, tablet,
k a p s u l , k r i m , s a l e p , s u p p o s i t o r i a , e m u l s i d a n s i r u p ya n g k e s t a b i l a n n ya
m e r u p a k a n f a k t o r p e n t i n g ya n g t i d a k d a p a t d i p i s a h k a n .

K a p s u l a d a l a h s e d i a a n p a d a t ya n g t e r d i r i d a r i o b a t d a l a m c a n g k a n g
k e r a s a t a u l u n a t ya n g d a p a t l a r u t . C a n g k a n g k a p s u l u m u n y a t e r b u a t d a r i
g e l a t i n , t e t a p i d a p a t j u g a t e r b u a t d a r i p a t i a t a u b a h a n l a i n ya n g s e s u a i .
( D e p k e s R I , 1 9 9 5 ) . K a p s u l d i g u n a k a n k a r e n a k e p r a k t i s a n n ya u n t u k
m e m b e r i k a n k e n ya m a n a n b a g i k o n s u m e n o b a t . O b a t ya n g m e m i l i k i r a s a
t i d a k e n a k s e p e r t i p a h i t , a n yi r , m a n i s , d a n b a u d a p a t d i t u t u p i j i k a d i b u a t
dalam bentuk kapsul. Selain itu cangkang kapsil juga berfungsi untuk
menjaga bahan aktif dari pengaruh lingkungan sehingga bisa menjaga
bahan aktif dari pengaruh lingkungan sehingga bisa menjaga
s t a b i l i t a s n ya . c a n g k a n g k a p s u l d a p a t m e w a d a h i b e r b a g a i o b a t m u a l l i d a r i
serbuk, granula, cair, dan semi padat.

Kapsul yang paling umum diproduksi di Indonesia adalah kapsul keras (hard capsules)
yang dibuat dari gelatin dengan tambahan pewarna, pengawet dan pelentur. Gelatin dapat
diproduksi dari kulit dan tulang babi dan sapi. Cangkang kapsul berbahan baku gelatin babi
memiliki harga jual yang jauh lebih murah dibandingkan cangkang kapsul dari gelatin sapi.

Perbedaan harga jual bahan baku gelatin inilah yang menjadikan alasan banyaknya produsen
obat yang lebih memilih menggunakan cangkang kapsul gelatin babi dibandingkan cangkang
kapsul gelatin sapi.
Konsumen obat di indonesia didominasi oleh umat Islam. Sebagai seorang muslim, ada
beberapa tuntutan yang harus diikuti dalam hal etika konsumsi obat. Salah satunya adalah
memperhatikan status kehalalan obat tersebut. Salah satu dasar hokum diharuskannya
pemakaian obat halal adalah hadits Rasullah SAW, dimana beliau bersabda: “Sesungguhnya
Allah SWT tidak membuat penyakit kecuali ada obatnya, dan Allah SWT membuat obat buat
setiap penyakit. Karena itu hendaklah kamu berobat dan jangan berobat dengan yang haram“
(Riwayat Abu Ad Darda). Obat-obatan yang haram dikonsumsi adalah produk dan turunan
produk yang berasal dari babi, binatang yang disembelih tidak atas nama Allah (tuhan),
khamr (minuman keras), bangkai (kecuali ikan) dan darah (AIFDC ICU, 2008). Hal ini
tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 168, 172-173, surat Al An’am ayat 145 serta surat Al
Maidah ayat 3, 90-91.
Berdasarkan tuntunan tersebut sudah menjadi keharusan untuk kita mengurangi atau
malah meniadakan penggunaan cangkang kapsul yang berbahan dasar gelatin babi karena
ketidaksesuaian dengan syariah islam. Harus digunakan bahan lain sebagai alternatif
penggunaan cangkang kapsul berbahan dasar gelatin.Sumber bahan baku lain yang sudah
dikembangkan sebagai bahan pembuat kapsul adalah HPMC (Hydroxy Propil Methyl
Cellulosa). Akan tetapi penggunaan cangkang kapsul non gelatin yang lebih terjamin
kehalalannya ini masih sangat sedikit. Hal ini disebabkan salah satunya oleh belum
lengkapnya data-data yang menunjukkan kesetaraan efektifitas dari cangkang kapsul gelatin
dan non gelatin. Program Studi Farmasi UNISBA sebagai salah satu institusi pendidikan dan
penelitian farmasi yang berlandaskan Islam, memiliki tanggung jawab untuk memberikan
informasi yang lengkap berdasarkan penelitian mengenai karakteristik dan efektifitas
penggunaan cangkang kapsul hewani maupun nabati dalam proses pengobatan.

1.2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian uju stabilitas sediaan obat dalam bentuk sedian tablet dan kapsul?
2. Faktor – faktor apa yang mempengaruhi kestabilan sediaan tablet dan kapsul?

cahaya. perubahan tekstur atau penampilan. dapat mempengaruhi satabilitas sediaan. tiap zat aktif mempertahankan keutuhan kimiawi dan potensiasi yang tertera pada etiket dalam batas yang dinyatakan dalam spesifikasi. sifat air dan pelarut yang di gunakan. sifat dan karakteristiknya sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat. 5. Stabilitas Fisika. 4. Evaluasi dari uji stabilitas fisika meliputi : pemeriksaan organoleptik. BAB II DASAR TEORI 2. Ada lima jenis stabilitas yang umum dikenal. sterilisasi atau resistensi terhadap pertumbuhan mikroba dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang tertera. disolusi. Stabilitas Mikrobiologi. homogenitas. yaitu : ukuran partikel. Definisi Stabilitas Stabilitas di definisikan sebagai kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan. mempertahankan sifat fisika awal.1 Macam-Macam Stabilitas A. termasuk penampilan. Stabilitas Toksikologi. . tidak terjadi peningkatan bermakna dalam toksisitas selama usia guna sediaan. perubahan bau. B. Stabilitas Kimia. dan kemampuan untuk disuspensikan. keseragaman. bobot jenis. Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi stabilitas. efek terapi tidak berubah selama usia guna sediaan. perubahan rasa. Zat antimikroba yang ada mempertahankan efektifitas dalam batas yang ditetapkan. sifat kemasan dan keberadaan bahan kimia lain yang merupakan kontaminan atau dari pencampuran produk berbeda yang secara sadar ditambahkan. kesesuaian. pH. 3. Faktor lingkungan seperti suhu (temperatur). yaitu : 1. 2. Stabilitas Fisika Stabilitas fisika adalah mengevaluasi perubahan sifat fisika dari suatu produk yang tergantung waktu (periode penyimpanan). karbondioksida dan uap air) dan kelembaban dapat mempengaruhi stabilitas. ph. udara (terutama oksigaen. radiasi. contoh dari perubahan fisika antara lain : migrasi (perubahan) warna. Stabilitas Farmakologi.

Suhu Kondisi penyimpanan yang dianjurkan ini ditentukan sebagai berikut :  Sejuk. . adalah suhu yang tidak lebih dari 8º C  Pendingin adalah tempat pendingin di mana suhu dipertahankan secara termostatik antara 8º dan 15º C.  Dingin didefinisian sebagai suhu antara 8 dan 15o C  Suhu kamar adalah suhu yang berlaku di area kerja. rasa. tekstur. bentuk sediaan  keseragaman bobot  keseragaman kandungan  suhu  disolusi  kekentalan  bobot jenis  visikositas Sifat fisik meliputi hubungan tertentu antara molekul dengan bentuk energi yang telah ditentukan dengan baik atau pengukuran perbandingan standar luar lainnya.  Hangat adalah suhu yang berkisar antara 30-40 C.10 Dengan menghubungkan sifat fisik tertentu dengan sifat kimia dari molekul-molekul yang hubungannya sangat dekat. Kestabilan Fisika 1.Kriteria stabilitas fisika:  penampilan fisika meliputi.  Tempat pembeku adalah ruang pendingin yang suhunya diatur antara -20 dan -10oC. warna. dan  Kelewat Panas adalah suhu di atas 40 C.  Suhu Kamar Terkendali adalah suhu yang dipertahankan secara termostatik antara 15- 30 C. kesimpulannya adalah :  menggambarkan susunan ruang dari molekul obat  memberikan keterangan untuk sifat kimia atau fisik relatif dari sebuah molekul  memberikan metode untuk analisis kualitatif dan kuantitatif untuk suatu zat farmasi tertentu. bau.

hingga saat dipakai dan digunakan. Bahan-bahan yang apabila dibekukan dapat kehilangan potensi atau mengalami degradasi secara fisik maka label yang disertakan pada kemasan harus memuat peringatan yang sesuai untuk mencegah produk tersebut dibekukan. Bau Tidak terjadi perubahan bau semenjak dari awal pembuatan. kestabilan fisika pada zat tidak berubah pada penyimpanan dalam jangka waktu tertentu. pembekuan dan lewat panas) sudah tercantumkan dengan sendirinya didalamnya. Visikositas Visikositas dalam zat tersebut tidak berubah sampai saat digunakan. bahwa persyaratan standar yang wajib (seperti terlindung dari lembab. Kemasan bulk tidak memerlukan persyaratan penyimpanan bila produk tersebut segera dipakai atau akan dikemas ulang untuk peracikan atau distribusi. Kekentalan Kekentalan dari zat tersebut tidak boleh berubah dari saat disimpan hingga digunakan. 5. 1. . Warna Dilihat dari warna. Apabila pada monografi tidak dicantumkan persyaratan penyimpanan secara khusus. 2. tidak berubah pada saat penyimpanan hingga saat pemakaian. 3. pada saat penyimpanan sampai zat tersebut digunakan. 4. Bobot jenis Bobot jenis zat tersebut harus tetap stabil dalam penyimpanan. Rasa Rasa dari zat tersebut sesuai dengan monografi zat tersebut. Seperti suspensi tidak terjadi pengentalan yang menyebabkan terlalu tinggi kekentalannya sehingga mudah dituang 6. hal tersebut seharusnya telah dipahami.

Ketidakstabilan Fisika Berikut ini akan diuraikan jenis ketidakstabilan yang paling penting. tanpa memperdulikan kesempurnaan prosesnya. namun dalam stadium lanjut dapat terlihat sebagai sedimentasi atau pengapungan. 4. 5. 3.7 C. yang tidak terdeteksi secara organoleptis. senyawa bioaktif harus mempunyai stuktur sterik dan distribusi muatan yang spesifi pula. Perubahan konsisitensi atau kondisi agregat Sediaan obat semi padat seperti salep atau pasta selama penyimpanan dapat mengalami pengerasan. Perubahan perbandingan hidratasi Melalui pengambilan atau pelepasan cairan dapat mempengaruhi perbandingan hidratasi senyawa sekaligus sifatnya secara nyata. 2. Stabilitas Farmakologi Aktivitas senyawa bioaktif disebabkan oleh interaksi antara molekul obat dengan bagian molekul dari obyek biologis yaitu resptor spesifik. Dasar dari aktivitas bioogis adalah proses-proses kimia yang kompleks mulai dari saat obat diberikan sampai terjadinya respons biologis. Perubahan perbandingan kelarutan Pada sistem dispersi molekular (misalnya larutan bahan obat) dapat terjadi pemisahan bahan terlarut (kristalisasi atau pengedapan) melalui perubahan konsentrasi akibat penguapan bahan pelarut. Perubahan kondisi distribusi Dengan aktifnya daya gravitasi akan terjadi fenomena pemisahan pada sistem cairan banyak fase. Perubahan struktur kristal Banyak bahan obat menunjkkan perilaku polomorfi. yang disebabkan oleh perubahan lingkungan. Akan tetapi umumnya menyebabkan terjadinya perubahan dalam perilaku pembebasan dan resorpsi bahan obat. . 1. Untuk dapat berinteraksi dengan reseptor spesifik dan menimbulkan aktivitas spesifik.

Skema aktivitas obat Fasa-fasa yang mempengaruhi aktivitas obat 1. yang menentukan . Pada fasa I selain sifat molekul obat. Fasa farmasetik Fasa ini menentukan ketersediaan farmasetik yaitu ketersediaan senyawa aktif untuk dapat diabsorpsi oleh sistem biologis. yaitu senyawa aktif dalam cairan darah (Ph = 7. Gambar 1. Fasa Farmakokinetik Meliputi proses fasa II dan fasa III. metabolisme dan ekresi obat. Fasa II adalah proses absorpsi molekul obat yang mengahasilkan ketersediaan biologis obat. Untuk dapat diabsorpsi senyawa obat harus dalam bentuk molekul dan mempunyai lipofilitas yang sesuai. Bentuk molekul senyawa dipengaruhi oleh nilai pKa dan pH lingkungan (lambung pH= 1-3 dan usus pH = 5-8). formulasi farmasetis dan bentuk sediaan yang digunakan juga penting untuk aktivitas obat. 2.4) yang akan didistribusikan ke jaringan atau organ tubuh. Fasa III adalah fasa yang melibatkan proses distribusi. seperti kestabilan terhadap asam lambung dan larutan dalam air.

kelembaban udara dan cahaya. Faktor kondisi lingkungan yang utama yang dapat mengurangi stabilitas termasuk di dalamnya Paparan temperatur yang ekstrim. kimia. Fasa V adalah induksi rangsangan. suhu. kimiafisik. Stabilitas Kimia Stabilitas kimia suatu obat adalah lamanya waktu suatu obat untuk mempertahanakan integritas kimia dan potensinya seperti yang tercantum pada etiket dalam batas waktu yang ditentukan6. D. Data yang harus dikumpulkan untuk jenis sediaan yang berbeda tidak sama. Jadi jelasnya faktor luar juga mempengaruhi ketidakstabilan kimia seperti. antara lain adalah 1. cahaya. cara pemberian. didukung sifat zat pembantu (data sekunder). menyebabkan terjadinya respons biologis. komposisi sistem pelarutan. Fasa IV adalah tahap interaksi molekul senyawa aktif dengan tempat aksi spesifik atau reseptor pada jaringan target. kadar senyawa aktif pada kompartemen tempat reseptor berbeda. Faktor utama dari bentuk sediaan yang dapat mempengaruhi stabilitas obat. Dalam berbagai bentuk sediaan reaksi-reaksi ini dapat mengakibatkan rusaknya kandungan zat aktif. stabilitas zat aktif dan lain-lain. pH. Fasa I. yang dipengaruhi oleh ikatan kimia yang terlibat. Secara reaksi kimia zat aktif dapat terurai karena beberapa faktor diantaranya ialah. 3. Pengumpulan dan pengolahan data merupakan langkah menentukan baik buruknya sediaan yang dihasilkan. cahaya (fotolisis). dengan melalui proses biokimia. karbondioksida (turunnya pH larutan). Data yang paling dibutuhkan adalah data sifat. sesepora ion logam sebagai katalisator reaksi oksidasi. kompatibilitas anion dan kation. suhu (oksidasi). bahan tambahan kimia yang spesifik dan ikatan kimia dan difusi dari obat dan bahan tambahan. Hidrolisis . Jadi sangat bervariasi tergantung pada jenis sediaan. dan kerja farmakologi zat aktif (data primer). kemasan primer. air (hidrolisa). termasuk ukuran partikel. oksigen (oksidasi). begitu juga untuk jenis sediaan sama tetapi cara pemberiannya lain. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Kimia Masing-masing bahan tambahan baik yang memiliki efek terapetik atau non terapetik dapat mempengaruhi stabilitas senyawa aktif dan sediaan. kekuatan larutan ionik. II dan III menentukan kadar obat aktif yang dapat mencapai jaringan target. Fasa Farmakodinamik Meliputi proses fasa IV dan fasa V. kelembaban dan CO2. meskipun tidak menutup kemungkinan adanya parameter lain yang harus diperhatikan.

Oksidasi Struktur molekular yang dapat mudah teroksidasi adalah gugus hidroksil yang terikat langsung pada cincin aromatik (contoh pd katekolamin dan morfin). Identifikasi secara visual bisa terlihat pada perubahan warna contohnya pada kasus efineprin. Dekomposisi fotokimia Paparan pada UV dapat menyebabkan oksidasi (foto oksidasi) dan fotolisis pada ikatan kovalen. Kekuatan Ion Efek dari jumlah elektrolit yang terlarut terhadap kecepatan hidrolisis dipengaruhi oleh kekuatan ion pada interaksi inter ionik. ribovlavin. Carbenicillin free acid. Produk urainya memiliki potensi farmakologi yang rendah. nitroprusin. Gugus laktam dan azometin (imine) dalam benzodiazepine juga dapat tehidrolisis. Bentuk epimer dari tetrasiklin seperti epitetrasiklin tidak memiliki aktifitas anti bakteri. Faktor kimia yang dapat menjadi katalis dalam reaksi hidrolisi adalah pH dan senyawa kimia tertentu (contohnya dextrose dan tembaga dalam kasus hidrolisa ampisilin) 2. paparan terhadap oksigen. 3. tetapi senyawa prokainamid tidak terhidrolisa. Dekarboksilasi akan terjadi pada beberapa antibiotik : Carbenicillin sodium. gugus dien terkonjugasi (vit A dan asam lemak tak jenuh). Beta-keto dekarboksilasi dpt terjadi pada beberapa antibiotik yg memiliki gugus karbonil pada beta karbon dari asam karboksilat atau anion karboksilat. Oksidasi dapat dikatalisa oleh pH ion logam contohnya tembaga dan besi. mengakibatkan terjadinya perubahan sterik pd gugus dimetilamin. Secara umum konstanta kecepatan . Nipedipin. dan fenotiazin sangat tidak stabil terhadap foto oksidasi. Ticarcillin free acid 4. Dehidrasi Dehidrasi yg dikatalisis oleh asam pd gol tetrasiklin menghasilkan senyawa epianhidrotetrasiklin. Epimerisasi Senyawa tetrasiklin paling umum mengalami epimerisasi. Dekarboksilasi Beberapa asam senyawa asam karboksilat terlarut seperti para-amini salisilic acid dapat kehilangan CO2dari gugus karboksil ketika dipanaskan. cicin heterosiklik aromatik. 7. senyawa yg tdk memiliki efek anti bakteri dan memiliki efek toksisitas 5. Reaksi terjadi dengan cepat ketika obat dilarutkan dan terpapar dg pH lebih dari 3. 6. Sebagai contoh prokain akan terhidrolisa apabila di autoklaf. gugus turunan nitroso dan nitrit dan aldehid (flavoring). Produk hasil oksidasi biasanya memiliki efek terapetik lebih rendah. Ikatan amida juga dpt terhidrolisa meskipun kecepatan hidrolisanya lebih lambat disbanding ester. Ticarcillin sodium. UV.

atau bertahun-tahun pada formulasi aslinya. Larutan obat atau suspensi obat dapat stabil dalam beberapa hari. hidrolisis berbanding tebalik dengan kekeuatan ion dan sebaliknya dengan muatan ion. 9. kecepatan dekomposisinya berubah sesuai dengan kecepatan kinetik orde nol. 10. Nilai pH yang di luar rentang dan paparan terhadap temperatur yang tinggi adalah faktor yang mudah mengkibatkan efek klinik dari obat secara signifikan. tetapi ketika dicampurkan dengan larutan lain yg dapat mempengaruhi nilai pH nya. Jadi inkompatibilitasnya lebih mudah terjadi dengan penambahan sejumlah besar ion dengan muatan yang berlawanan. sebagai contoh kestabilan emulsi intravena lemak dirusak oleh pH asam. Sistem pH dapar yang biasanya terdegradasi dari asam atau basa lemah dan garamnya biasanya ditambahkan ke dalam sediaan cair ditambahkan untuk mempertahankan pHnya pada rentang dimana terjadinya degradasi obat minimum. Pada kondisi kelembaban yang tinggi. Waktu simpan obat pd suhu ruang biasanya akan berkurang ¼ atau 1/25 dari waktu simpan di dalam refrigrator. Secara umum ion. Temperatur dingin .ion polivalen dengan muatan berlawanan bersifat inkompatibel. Temperatur Secara umum kecepatan reaksi kimia meningkat secara eksponensial setiap kenaikan 10 derajat suhu. 11. beberapa minggu. kecepatan degradasinya dikarakterisasi sesuai dengan kecepatan kinetik orde 1 atau sesuai dengan kurva signoid. Pengaruh pH pada kestabilan fisik sistem dua fase contohnya emulsi juga penting. Interionik Kelarutan dari muatan ion yg berlawanan tergantung pada jumlah muatan ionnya dan ukuran molekulnya. sebagai contoh obat-obat kation yang diformulasikan dengan bahan tambahan anion. Kestabilan bentuk padat Reaksi pada kondisi padat relatif bersifat lambat. akibat dari reaksi hidrolisis dan oksidasi. Perubahan Nilai pH Degradasi dari banyak senyawa obat dalam larutan dapat dipercepat atau diperlambat secara ekponensial oleh nilai pH yg naik atau turun dari rentang pH nya. karena kecepatan dekomposisinya diatur secara relatif oleh fraksi kecil dari obat yang muncul pada larutan jenuh yang letaknya pada permukaan atau atau di dalamnya. senyawa aktif dapat terdegradasi dalam hitungan menit. Sehingga obat-obat berbentuk padat dengan titik leleh yang rendah tidak boleh dikombinasikan dengan bahan kimia lain yang dapat membentuk campuran uetectic. 8. Faktor nyata yg mengakibatkan kenaikan kecepatan reaksi kimia ini adalah karena aktifasi energi.

Contohnya adalah alkohol dalam eliksir. Terdapat berbagai macam zat aktif obat. seperti sirup sederhana. Larutan-larutan dengan kandungan gula yang tinggi. dapat mendenaturasi protein atau pada kasus tertentu dapat menyebabkan kelarutan beberapa polimerik obat dapat berkurang. E. antara lain: 1. . cara pemberian dan bentuk sediaan memiliki karakteristik fisika-kimia tersendiri dan umumnya rentan terhadap kontaminasi mikroorganisme dan/atau memang sudah mengandung mikroorganisme yang dapat mempengaruhi mutu sediaan karena berpotensi menyebabkan penyakit. resisten terhadap pertumbuhan mikroorganisme. Hal ini berhubungan dengan adanya air yang merupakan media pertumbuhan bagi mikroorganisme. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Mikrobiologi Stabilitas mikrobiologi suatu sediaan dapat dipengaruhi oleh beberap factor. Faktor Sifat Fisika-Kimia Zat aktif dan Zat tambahan Sifat fisika kimia zat aktif maupun zat tambahan dapat mempengaruhi stabilitas mikrobiologi sediaan. Oleh karena itu farmakope telah mengatur ketentuan mengenai kandungan mikroorganisme pada sediaan obat maupun kosmetik dalam rangka memberikan hasil akhir berupa obat dan kosmetika yang efektif dan aman untuk digunakan atau dikonsumsi manusia. suatu sediaan yang mengandung bahan tersebut pada keadaan tertentu tidak memerlukan penambahan zat pengawet. efek yang tidak diharapkan pada terapi atau penggunaan obat dan kosmetik. zat tambahan serta berbagai bentuk sediaan dan cara pemberian obat. Zat yang bersifat higroskopik atau hidrofilik rentan terhadap kontaminasi mikroorganisme. dingin atau beku dapat merubah ukuran droplet pd emulsi. Sedangkan untuk zat yang secara alami bersifat sebagai antimikroba. Tiap zat. Stabilitas Mikrobiologi Stabilitas mikrobiologi suatu sediaan adalah keadaan di mana tetap sediaan bebas dari mikroorganisme atau memenuhi syarat batas miroorganisme hingga batas waktu tertentu. Sebagai contoh refrigerator dapat mengkibatkan kenaikan viskositas pada sediaan cair dan menyebabkan supersaturasi pada kasus lain. juga dapat mengakibatkan ketidakstabilan. Stabilitas mikrobiologi diperlukan oleh suatu sediaan farmasi untuk menjaga atau mempertahankan jumlah dan menekan pertumbuhan mikroorgansme yang terdapat dalam sediaan tersebut hingga jangka waktu tertentu yang diinginkan.

Analisa terhadap bahan-bahan ini dapat menunjukkan keberadaan bakteri. larutan sukrosa encer merupakan media makanan yang efisien untuk pertumbuhan bakteri dan jamur. Toksisitas jangka panjang. terakumulasi. kapang dan khusunya toksin fungi/jamur. mikrobiologi dan farmakologi yang tidak menyebabkan peningkatan toksisitas secara signifikan.. Bahan baku kosmetik dan obat memrlukan perlindungan dri kontaminasi mikroorganisme selama transportasi. zat toksik dalam jumlah kecil diabsorpsi sepanjang jangka waktu lama. efek toksik baru muncul setelah periode waktu laten yang lama sebagai contoh kerja karsinogenik dan mutagenik. virus atau pun toksin mikroba. fisika. disperse atau pun emulsi dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme Gram negative seperti Enterobacter spp. Bahan alami yang diekstrak. coli. E. diproduksi maupun disediakan dalam bantuk cair juga rentan terhadap kontaminasi mikroorganisme. 2. Kemungkinan keberadaan mereka mungkin sudah ada semenjak tahap persiapan produksi.. mempunyai korelasi langsung dengan absorpsi zat toksik 2. Penggolongan toksikologi dengan cara lain berdasarkan jenis zat dan keadaan yang mengakibatkan kerja toksik. Stabilitas Toksikologi Stabilitas toksikologi adalah ukuran yang menujukkan ketahanan suatu senyawa/bahan akan adanya pengaruh kimia. F. yaitu : kerja / efek . menjadi : 1. Citrobacter spp. Bahan baku yang terkontaminasi akan menginduksi mikroorganisme ke dalam proses sehingga produk dapat memiliki kandungan mikroorganisme yang berlebihan. Cara pengawetan yang tidak tepat ketiga digunakan utuk menghasilkan produk dalam bentuk larutan. mencapai konsentrasi toksik akhirnya timbul keracunan. Efek toksik akut. Efek toksik kronis. Sebaliknya. Pseudomonas spp dan lainnya. spora Clostridium. Efek toksik dapat dibedakan. Dengan demikian bahan pengawet yang ditambahkan ke dalam sediaan pun menjadi tidak efektif dan tidak memadai lagi sebagai antimikroba. Staphylococci. Faktor Kontaminasi dari Bahan Baku dan Proses Bahan baku alami dalam bantuk air yang bebas serbuk atau granula dapat menjadi tempat tumbuhnya mikroorganisme. penyimpanan dan produksi.

alat-alat dan bahan pengemas. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pengawet:  Koefisien distribusi liphoid-air : yang dipilih pengawet yang larut  Harga pH : karena pengawet yang dapat menimbulkan aktivitas adalah pengawet yang tidak terdisosiasi atau terdapat dalam bentuk molekul yang dapat menembus membran  Konsentrasi. Faktor bahan penyusun a) stabilitas bahan aktif b) bahan pembantu a). ada yang menghambat pertumbuhan dan juga mematikan sel .tidak diinginkan. dimana setiap zat kimia baru harus diteliti sifat-sifat toksiknya sebelum diperbolehkan penggunaannya secara luas. berasal dari manusia. tujuannya adalah untuk mempetahankan ph. penyimpanan dan penggunaan. meningkatkan stabilitas obat. efek terapetik. yaitu  dapar mempunyai kapasitas yang memadai dalam kisaran pH yang dinginkan (untuk mempertahankan stabilitas obat maka daparnya kecil)  dapar harus aman secara biologis  dapar tidak mempunyai efek merusak stabilitas produk  memperbaiki rasa dan warna yang dapat diterima b). Dapar Merupakan suatu campuran asam lemah dengan garamnya atau basa lemah dengan garamnya. termasuk air. 2. lingkungan. Pengawet Kemungkinan kontaminasi selama pembuatan. bahan obat. Faktor Yang Mempengaruhi Stabilitas Tosikologi Zat kimia disebut xenobiotik (xeno = asing). keracunan akut pada dosis berlebih. dapat ditentukan dosis kecil yang tidak berefek sama sekali atau dosis besar sekali yang dapat menimbulkan keracunan dan kematian. bahan tambahan.3 Adapun faktor- faktor yang menyebabkan toksisitas adalah : 1. Dosis Dosis menentukan apakah suatu zat kimia adalah racun. Sumber kontaminan. pengujian terhadap toksisitas dan toleransi pada fase praklinik. Kriteria pemilihan dapar. meningkatkan kelarutan obat. Untuk setiap zat kimia.

Cahaya : sebab cahaya mengandung energi oton yang dapat meningkatkan atau mempercepat proses oksidasi.  Suhu. Antioksidan Terjadinya oksidasi karena dipengaruhi oleh : 1. alergi dan sensibilisasi. Ion logam berat : berfungsi sebagai katalisator proses oksidasi Pertimbangan-pertimbangan dalam memilih antioksidan antara lain adalah harus efektif pada konsentrasi yang menurun. yaitu bahan pengemas primer yaitu bahan pengemas yang langsung bersentuhan atau kontak dengan sediaan (wadahnya). menarik . 3. tidak toksik. dan tidak menimbulkan OTT. tidak boleh memberikan rasa atau bau paa produk 4. fungiostatik atau fungisid serta cukup larut dalam pembawa hingga mencapai konsentarsi yang memadai. melindungi preparat dari keadaan lingkungan 2. larut dalam pembawa dan dapat bercampur dengan bahan lainnya. Faktor luar. bahan pengemas Terbagi atas 2. Syarat dalam pemilihan bahan pengemas antara lain adalah : 1. a. yaitu perlu dipilih bahan yang dapat tersatukan secara fisiologis. efektif sebagai bakteriostatik atau bakterisid. tidak berbau dan tidak berasa. cara pembuatan b. O2 atau kandungan O2 akan meningkatkan proses oksidasi 4. Harga pH : semakin tinggi harga pH semakin rendah potensial redoks sehingga oksidasinya semakin lancar 2. tidak merangsang. maka molekul-molekul obat semakin reaktif 3. dapat tercampur dengan bahan aktif dan bahan tambahan termasuk wadah dan tutup. tidak boleh bereaksi dengan produk 3. tidak toksik. yaitu bahan pengemas yang tidak bersentuhan langsung dengan sediaan. harus memenuhi tuntunan tahan banting yang sesuai 7. yang kesemuanya tergantunng dosis. mudah mengeluarkan isi 8. dengan kenaikan suhu berarti terjadi kenaikan aktivitas pengawet Syarat memilih bahan pengawet. tidak toksik 5. disetujui oleh lembaga kesehatan dunia 6. dan bahan pengemas sekunder. c).

pembekuan suatu sediaan (artikel) dapat menyebabkan kehilangan kekuatan / potensi. misalnya akar. Dingin adalah pada suhu tidak lebih dari 8°C. Hangat adalah penyimpanan pada suhu antara 30°C dan 40°C. Penyimpanan di bawah kondisi tidak khusus jika tidak ada petunjuk khusus penyimpanan atau pemabatasan dalam monografi. Suhu penyimpanan menurut farmakope indonesia terdiri dari: a.1. sebuah ruangan kecil yang diluncurkan ke luar angkasa Awalnya obat dibuat dari tumbuhan keras. Menurut farmakope Indonesia Edisi IV. d. Perlindungan dari pembekuan selain resiko kerusakan kemasan (wadah).000 μ. sediaan kapsul adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan. kapsul lalu digunakan untuk pemberian obat yang tidak larut. dari zat yang mudah larut di air (semacam agar-agar) yang mengandung serbuk obat. capsula. Panas berlebih adalah penyimpanan pada suhu di atas 40°C. . Kulit kayu. tekanan. e. kelembapan dan cahaya. garam bismuth. Setelah dikenal obat sintetik. melalui rongga tubuh) dan pemakaian Luar (ditaburkan dibagian luar tubuh). merkuri dan kapur. misalnya : kalomel. maka kondisi penyimpanan termasuk perlindungan terhadap kelembapan. Pengertian Umum Sediaan kapsul merupakan partikel zat padat yang mempunyai ukuran 0. kapsul adalah tabung kecil. atau merusak dan mengubah sifat sediaan. c. kondisi penyimpanan yang meliputi suhu. melalui hidung. Serbuk obat biasa dimasukkan kapsul karena lebih mudah ditelan dan menghindari rasa pahit. yang ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. Suhu Kamar adalah penyimpanan pada suhu ruang kerja. pembekuan dan panas berlebihan Kapsul. dan kayu yang diberikan dalam bentuk kapsul. Sejuk adalah penyimpanan pada suhu antara 8°C dan 15°C. sediaan kapsul dapat diartikan sebagai campuran homogen dua atau lebih bahan obat yang telah dihaluskan. dari bahasa Latin. “kotak kecil” memiliki banyak arti dalam bidang farmasi. Kapsul bisa ditambahkan bahan bioadesif sehingga bisa melekat dan member efek dalam waktu lama. Dalam ilmu farmasi. b.10. 4. Suhu penyimpanan sediaan harus dijelaskan karena menyangkut aspek stabilitas dan masa kadaluwarsa sediaan. Sediaan kapsul bisa digunakan untuk pemakaian dalam (secara oral. Pada etiket / label kemasan harus dicantumkan petunjuk untuk melindungi sediaan / artikel dari pembekuan. Suhu kamar terkendali adalah suhu yang diatur antara 15°C dan 30°C.

4.dan 5.Ed.IV) Kapsul memiliki nama lain :  Hard Capsule atau Kapsul Keras  Hard Gelatine Capsule atau Kapsul Lunak Adapun pemerian dari kapsul adalah sedian bahan aktifnya dapat berbentuk padat atau sediaan padat dengan atau tampa bahan tambahan dan terbungkus cangkang kapsul yang keras terbuat dari gelatin .Dalam pengobatan lazim digunakan adalah 0. Keuntungan/tujuan sediaan kapsul yaitu:  Menutupi bau dan rasa yang tidak enak  Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari  Lebih enak dipandang  Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis).IV) adalah sediaan Padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut . . Kapsul Berbentuk selindris dengan ukuran kapsul bermacam – macam mulai yang terbesar 000(Untuk Hewan).3.1.  Mudah ditelan.1.2. Kapsul (FI. Kapsul (FI. Kapasitas Kapsul kira – kira antara 30 mg – 600 mg dan tergantung berat jenis serbuknya.0.III) adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsulKeras dan lunak .3 dan 4 .2. Cangkang dibuat dari :  Gelatin  Pati  Bahan Lain yang cocok (FI. dengan pemisahan antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian dimasukkan bersama serbuk lain ke dalam kapsul yang lebih besar. Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut.00.

serta Kombinasi seperti stabilitas Therapeutic. 1.1000 g kapsul sebanyak 3 kali  @kapsul dengan 15 ml etanol 96% selama 1 jam  Absorbansinya diukur pada panjang gelombang 320. Stabilitas Kimia Berdasarkan dokumen Q1A yang ditetapkan ICH dalam menetapkan aturan uji stabilitas untuk bahan aktif atau sediaan farmasi baru. sedangkan untuk uji dipercepat dilakukan selama 6 bulan pada suhu (30±2) °C dan RH (60±5)% (ICH 2003) atau selama 3 bulan pada suhu (40±2) °C dan RH (75±5) % (Agoes 2001 & ICH 2003). Penentuan kadar bahan obat: Mengekstraksi 0. stabilitas Toxicological.4 nm dengan spektrofotometer UV . Cara uji stabilitas dipercepat sediaan solida (misalkan kapsul): Setiap formula sediaan yang sudah dikemas  dimasukkan ke dalam botol cokelat 100 ml  Setiap botol cokelat diisi 18 kapsul  @2 kapsul dari sembilan formula yang berbeda  pengamatan dilakukan setiap minggu sampai 12 minggu (3 bulan)  siapkan 12 botol  Botol yang berisi kapsul disimpan di dalam climatic chamber dengan suhu (40±2) °C dan RH (75±5)% selama 3 bulan (lihat criteria pada tabel)  Seminggu sekali mikrokapsul diukur kadar bahan obat dan kadar airnya termasuk pada minggu ke-0. Uji jangka panjang dilakukan selama 12 bulan pada suhu (30±2) °C dan RH (60±5)% atau (25±2) °C dan RH (65±5)%. tetapi perubahan fisik dapat saja terjadi A. BAB III PEMBAHASAN 1. yaitu bersamaan dengan dimasukkannya kapsul ke dalam climatic chamber. walaupun secara kimia suatu produk dapat stabilselama 3 tahun sebelum expired. dan Drug product stability. Umumnya uji stabilitas dilakukan secara kimia. Pengujian stabilitas Uji stabilitas yang biasa dilakukan terhadap sediaan farmasi adalah uji stabilitas Kimia. stabilitas Biologi (mikrobiologi). Kriteria untuk bahan aktif: kondisi antara 30oC+-2oC/60% RH+-5%. kriteria untuk sediaan : kondisi antara 30oC+-2oC/60% RH+-5%. stabilitas Fisika. dapat dilakukan dalam jangka panjang atau dipercepat.

maka reaksi berjalan pada orde tersebut:  Grafik orde nol : c vs t  Grafik orde-satu : log c vs t  Grafik orde-dua : 1/c vs t 3. Penentuan kadar air: diukur dengan moisture analyzer. Cara menentukan orde reaksi:  Dengan mensubstitusikan konsentrasi zat yang diperoleh ke dalam persamaan orde reaksi. Kondisi Penyimpanan. Molekularita : jumlah molekul yang terlibat dalam reaksi elementer.2. Orde Reaksi : jumlah atom atau molekul yang terlibat dalam reaksi yang konsentrasinya menentukan laju reaksi.  Dengan membuat grafik hubungan antara konsentrasi yang diperoleh terhadap t. Jika sesuai dengan salah satu grafik. c. meliputi:  Pengaruh suhu : persamaan Arrhenius  Pengaruh kelembaban  Pengaruh cahaya  Teori Tabrakan  Teori Keadaan Transisi  Pengaruh pelarut  Pengaruh kekuatan ion  Pengaruh Tetapan Dielektrik  Pengaruh katalitis :katalitis asam-basa spesifik. bila diperoleh harga k yang relative konstan berarti reaksi berjalan pada orde tersebut. Perhitungan: a. Laju Reaksi : dinyatakan dalam term pengurangan konsentrasi reaktan (. Dimensinya : mol liter-1 detik –1 b.dc/dt) atau penambahan konsentrasi produk (+dx/dt) per satuan waktu.katalitis asam-basa umum  Pengaruh zona iklim dunia Perubahan bermakna pada uji stabilitas dipercepat:  Kehilangan 5% potensi dari kadar awal suatu batch  Bila hasil urai>nilai batas spesifikasi  Produk melewati batas pHnya .

mungkin kandungan kimianya tetap tetapi untuk larutan parenteral jelas tidak dapat diterima.  Disolusi melewati batas spesifikasi untuk 12 tablet/kapsul  Gagal memenuhi spesifikasi penampilan dan sifat2 fisika seperti : warna. resuspensibilitas. Stabilitas Toksikologi Tidak terjadi peningkatan toksisitas yang bermakna selama waktu simpan. keseragaman. caking. larutan parenteral Ketidakstabilan secara fisika timbul endapan. Uji stabilitas sediaan padat: serbuk. pemisahan fasa. tablet. F. pengerasan dsb B. uji sensitivitas terhadap kelembaban dan kemungkinan hilangnya pelarut. (prosedur sama dengan uji batas mikroba) D. Pada sediaan cream/emulsi misalkan pecah yaitu sifat emolient tidak akan sama dengan produk seharusnya. 2. E. . mikro-kapsul. misalnya tidak terbentuk senyawa epi dan anhidro dalam suspensi tetrasiklin. kapsul. Zat antimikroba yang ada harus dapat mempertahankan efektifitas sediaan dalam batas yang ditetapkan. maka dosis dalam 1 sendok teh akan berubah. liposome. Uji stabilitas sistem dispersi: suspensi. Stabilitas Mikrobiologi Sterilitas atau resistensi terhadap pertumbuhan mikroba dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang dinyatakan (jumlah koloni dsb). Ketidakstabilan secara fisika pada suspensi misalkan caking. kemampuan disuspensikan (prosedur hampir sama dengan uji-uji selain stabilitas yang lain). Kondisi penyimpanan Sesuai dengan kondisi menunjang stabilitas sediaan dan pemasaran. yaitu uji stabilitas suhu. Stabilitas Fisika Mempertahankan sifat fisika awal dari suatu sediaan meliputi penampilan. kekerasan. Stabilitas Terapi Efek terapi tidak berubah selama waktu simpan (shelf Life) sediaan. demikian juga untuk larutan oral. 3. emulsi. disolusi. C. kesesuaian. Kondisi penyimpanan harus memberi perlingungan terhadap penyimpanan. sistem misel. Uji stabilitas sediaan larutan : larutan sirup. Klasifikasi uji stabilitas berdasarkan bentuk sediaan: 1. Ketidakstabilan secara fisika misalkan penurunan BA yang disebabkan oleh penurunan dissolusi tidak memenuhi syarat minimum untuk terapi. penghantaran per aktuasi. disintegrasi.

kondisi intermediet:dilakukan jika uji dipercepat menghasilkan perubahan signifikan. Hidrolisis 2. Cara Menentukan kadaluarsa obat Perusahaan biasanya mengukur ED atau T90. Dengan peningkatan suhu di atas suhu normal penyimpanan obat. Dipercepat: minimal 3 titik waktu. minimal 12 bulan. Obat melalui dua cara Kedua cara tersebut adalah : 1. sehingga kadarnya tersisa 90% dari semula. meliputi titik awal dan akhir pengujian. pengiriman dan penggunaan sesudahnya. Pengemasan K. Oksidasi 3. Evaluasi 2. G. Minimal 4 titik selama 12 bulan. minimal 6 bulan. Uji jangka panjang adalah uji T90. Uji dipercepat adalah Uji T90. Real time: 300C ±20C / 75% RH ± 5% RH. Kemudian dikalkulasikan dengan rumus sehingga dapat mengetahui lama waktu kadaluarsa/ED obat dalam waktu pengujian yang singkat. Fotolisis . 2. H. Jumlah batch J. Obat yang sudah ED berarti obat tersebut mengalami pengurangan kadar 10 %. per 6 bulan di tahun kedua. pada suhu penyimpanan obat yang normal sehingga perlu jangka waktu yang lama. Misalnya suatu obat menyebutkan ED pada waktu lima tahun. Ada beberapa mekanisme terjadinya degradasi kadar obat: 1. berarti obat tersebut sudah diuji selama itu juga (5 tahun). Frekuensi pengujian I.. tiap tahun pada tahun berikutnya hingga batas shelf life. Waktu pengujian Jangka panjang: cukup untuk menentukan profil stabilitas. Accelerated: 400C ± 20C / 75% RH ± 5 % RH. per 3 bulan di tahun pertama.

Stabilitas Fisika. Ada beberapa mekanisme terjadinya degradasi kadar obat: 1. tiap zat aktif mempertahankan keutuhan kimiawi dan potensiasi yang tertera pada etiket dalam batas yang dinyatakan dalam spesifikasi. kesesuaian. 4. keseragaman. Obat yang sudah ED berarti obat tersebut mengalami pengurangan kadar 10 %. Stabilitas Farmakologi. Stabilitas Kimia. efek terapi tidak berubah selama usia guna sediaan. Oksidasi 3. Uji dipercepat adalah Uji T90. BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 1. mempertahankan sifat fisika awal. Kesimpulan Dari makalah diatas dapat disimpulkan bahwa :  Ada lima jenis stabilitas yang umum dikenal. Fotolisis . Obat melalui dua cara kedua cara tersebut adalah : 1. 2. tidak terjadi peningkatan bermakna dalam toksisitas selama usia guna sediaan  Cara Menentukan kadaluarsa obat Perusahaan biasanya mengukur ED atau T90.. Uji jangka panjang adalah uji T90. Hidrolisis 2. 2. dan kemampuan untuk disuspensikan. Stabilitas Mikrobiologi. termasuk penampilan. Stabilitas Toksikologi. disolusi. sterilisasi atau resistensi terhadap pertumbuhan mikroba dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang tertera. yaitu : 1. 3. Zat antimikroba yang ada mempertahankan efektifitas dalam batas yang ditetapkan. sehingga kadarnya tersisa 90% dari semula.

 http://ritariata.inhalationmag.com/2010/01/capsulle-dosage-formsediaan-kapsul.comupdate revision 26 desember 2011. Farmakope Indonesia Edisi IV . – 442 Jakarta . M. J Pharm revision1  Pharmaceut Desember Ansel. Impact of capsule selection on formulation stability indry powder inhalers (DPIs). (2010). AIFDC ICU.. Penerbit Universitas  13(3) 428 Indonesia.(2011). pemerbit Universitas Indonesia . 2011 H. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Pengantar bentuk sediian farmasi.. 1995. (1989). Prospects. www.C.. H.. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta  Richardson.html  ANSEL. C. Matt. HPMC General Capsules: Guidelines of Current Status and Halal Assurance Future update System. Sci. (2008).(1989). Jakarta.   Al-Tabakha. DAFTAR PUSTAKA:  Anonim.blogspot.com/capsulae-kapsul.html  http://malugada.

Related Interests