BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Infeksi kronis telinga tengah atau Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) adalah
keluarnya sekret dari telinga tengah, menetap atau berulang dengan perforasi membrana timpani
dan biasanya diikuti oleh penurunan pendengaran dalam beberapa tingkatan.
Infeksi kronis telinga tengah cenderung disertai sekret purulen. Proses infeksi ini sering
disebabkan oleh campuran mikroorganisme aerobik dan anaerobik yang multiresisten terhadap
standar yang ada saat ini. Kuman penyebab yang sering dijumpai pada OMSK ialah
Pseudomonas aeruginosa sekitar 50%, Proteus sp. 20% dan Staphylococcus aureus 25%.
Penyakit ini sangat mengganggu dan sering menyulitkan baik dokter maupun pasiennya
sendiri. Perjalanan penyakit yang panjang, virulensi kuman yang tinggi terputusnya terapi,
terlambatnya pengobatan spesialis THT dan sosioekonomi yang rendah membuat
penatalaksanaan penyakit ini tetap menjadi problem di bidang THT.

1.2 Tujuan
Mempelajari dan mengetahui tentang gejala dan tanda, diagnosis serta penatalaksanaan
otitis media supuratif kronik.

I.3 Manfaat
Dengan adanya tutorial ini dapat menambah ilmu pengetahuan bagi siapa saja yang
membacanya, terutama para dokter muda yang sedang menjalani kepaniteraan klinik di bagian
THT. Selain itu dapat menangani kasus ini dimasa yang akan datang dengan baik.

BAB II

PEMBAHASAN

I. IDENTITAS
Nama : An. S
JK : Laki-laki
Umur : 8 tahun
Alamat : Ps. Awitali 01/01 Ciranjang, Cianjur
Pekerjaan : Pelajar

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama :
Keluar cairan dari telinga kiri sejak ± 3 hari SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang:
 Sejak 3 hari lalu, pasien merasa keluar cairan dari telinga kirinya, hal ini dirasakan
hilang timbul. Pasien juga mengeluhkan cairan tersebut berbau tidak sedap dan kental
berwarna kuning. Os juga merasakan pendengarannya agak berkurang dari biasanya,
sehingga sering meminta bantuan temannya untuk menjelaskan kembali apa yang
gurunya jelaskan di sekolah. Kadang2 os sering merasakan adanya dengungan pada
telinga kirinya, sehingga membuat perasaan tidak nyaman. Rasa gatal sering sekali
dirasakan, sehingga memungkinkan os untuk mengkorek-korek telinga kirinya karena
gatal yang dirasakan takkunjung hilang. Os juga mengeluhkan sering bersin-bersin,tetapi
tidak ada sekret yang dirasakan menetes dari hidung ke mulutnya.
Riwayat Penyakit Dahulu :
 Riwayat keluar cairan dari telinga waktu kecil saat usia ± 2 tahun
Riwayat Penyakit Keluarga :
 paman dan kakek os memiliki gejala infeksi pada telinga
Riwayat Pengobatan :
 Os selama ini sudah berobat dan minum obat tetapi gejala timbul kembali
Riwayat Alergi :
 Os mengaku tidak ada riwayat alergi terhadap makanan dan obat-obatan

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum : tampak sakit sedang Kesadaran : Compos mentis Tanda – tanda vital : TD = . kuat angkat Perkusi : batas jantung dalam batas normal Auskultasi : bunyi jantung I–II.III. Murmur (-).6 C STATUS GENERALIS Kepala Bentuk : normocephal Mata Konjungtiva anemis -/-. asites (-) Perkusi : timpani Auskultasi : bising usus (+) normal . rhonki -/-. THT Status lokalis Leher Pembesaran Thyroid (-). regular. wheezing -/- Jantung Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat Palpasi : iktus kordis teraba di ICS V sinistra. pembesaran KGB (-) Thoraks Paru Inspeksi : Pergerakan dada simetris dextra-sinistra Palpasi : fokal fremitus dextra-sinistra sama Perkusi : sonor diseluruh lapang paru Auskultasi : VBS dextra-sinistra. murni. Gallop (-) Abdomen Inspeksi : datar Palpasi : supel. P = 20x/mnt N = 88x/mnt S = 36. sklera ikterik -/-.

sianosis -/- Bawah : hangat +/+. - Aurikula Radang dan tumor . RCT < 2 det. - Kelainan kongenital . - Edema . Splen Splenomegali (-) Hepar Hepatomegali (-) Ekstremitas Atas : hangat +/+. edema -/-. - Retroaurikula Sikatriks . - Preaurikula Radang dan tumor . - Fluktuasi . - Trauma . - Trauma . - Hiperemis . RCT < 2 det. - Fistula . sianosis -/- Status Lokalis Telinga Auris Bagian Kelainan Dextra Sinistra Kelainan kongenital . - Nyeri tekan . - . edema -/-.

- Massa . - Membrana Perforasi . + Canalis Acustikus Serumen ± - Externa Edema . + Timpani Reflek cahaya . - Rinne + - Weber . Mukosa . - Sekret . lateralisasi Schwabach Sama dengan memanjang pemeriksa Hidung Bentuk dan Ukuran Dekstra Sinistra Mukosa H H Sekret (-) (-) Concha inferior Hipertrofi Hipertrofi Septum Tidak ada deviasi Polip/tumor Tidak ada Tidak ada Pasase udara + + .

3 mm/3mm. atrofi (-) . angkat alis (+/+) N VIII Tes keseimbangan (N) N IX Reflek menelan (+) NX Artikulasi suara (N) N XI Tahanan m. Palatum molle Tenang Mulut Gigi geligi Caries (+) 87654321 12345678 87654321 12345678 Uvula Simetris Halitosis - Mukosa Hiperemis Besar T2a/T1 Tonsil Kripta Normal Detritus -/- Maksilofasial Nyeri tekan sinus paranasal (-) NI N N II Pupil isokor. inferior. basah. medial + N IV Pergerakan bola mata ke medial bawah + NV Reflek menggigit + NVI Pergerakan bola mata ke lateral + N VII Senyum (+). fasikulasi (-). menggembung (+).sternokleidomastoideus (+/+) N XII Lidah deviasi (-). reflek cahaya +/+ N III Pergerakan bola mata ke superior.Mulut Dan Orofaring Bagian Kelainan Keterangan Mukosa mulut Tenang Lidah bersih.

Leher KGB tidak teraba membesar Diagnosis banding : Otitis media supuratif kronik benigna AS Otitis media supuratif kronik maligna AS Diagnosis kerja : Otitis media supuratif kronik benigna AS Terapi : Non farmakologis : Jaga kebersihan telinga Jangan terkena air Farmakologis : Cuci pakai H2O2 2% Antibiotik Steroid Dekongestan Rencana pemeriksaan selanjutnya : Kontrol 2 minggu .

kanalis fasialis. kanalis semi sirkularis horizontal. dan promontorium. Promontorium pada dinding medial meluas ke lateral ke arah umbo dari membran timpani sehingga kotak tersebut lebih sempit pada bagian tengah. . kanalis fasialis pars vertikalis Batas atas : tegmen timpani (meningen/ otak) Batas dalam : berturut-turut dari atas ke bawah. tingkap bundar (round window). Telinga tengah berbentuk kubus dengan: Batas luar : membran timpani Batas depan : tuba eustachius Batas bawah : vena jugularis (bulbus jugularis) Batas belakang : auditus ad antrum. BAB III TINJAUAN PUSTAKA 2. Dinding posteriornya lebih luas daripada dinding anterior sehingga kotak tersebut berbentuk baji. tingkap lonjong (oval window).1 Anatomi Telinga Tengah (Auris Media) Telinga tengah yang terisi udara dapat dibayangkan sebagai suatu kotak dengan enam isi.

Bangunan yang paling menonjol pada dinding medial adalah promontorium yang menutup lingkaran koklea yang pertama. Dinding superior telinga tengah berbatasan dengan lantai fossa kranii media. Tonjolan kanalis semi sirkularis lateralis menonjol ke dalam antrum. Dasar telinga tengah adalah atap bulbus jugularis yang berada di sebelah superolateral menjadi sinus sigmoideus dan lebih ke tengah menjadi sinus transversus. melingkari prosesus kokleariformis dan berinsersi pada leher maleus. Dinding medial adalah dinding lateral fossa kranii posterior. untuk keluar dari telinga tengah lewat sutura petrotimpanika. membrana timpani. dan dinding tulang hipotimpanum di bagian bawah. Atap mastoid adalah fossa kranii media. Otot stapedius timbul pada daerah saraf fasialis dan tendonnya menembus melalui suatu piramid tulang menuju ke leher stapes. Pada dinding bagian atas dinding posterior terdapat auditus ad antrum tulang mastoid dan dibawahnya adalah saraf fasialis. muara tuba eustakius dan otot tensor timpani yang menmpati daerah superior tuba kemudian membalik. Dinding lateral dari telinga tengah adalah tulang epitimpanum di bagian atas. Keduanya adalah aliran vena utama rongga tengkorak. Rongga mastoid berbentuk seperti piramid dengan puncak mengarah ke kaudal. Di atas kanalis tersebut. Saraf timpanikus berjalan melintas promontorium. Di bawah ke dua patokan ini berjalan saraf fasialis dalam kanalis tulangnya untuk keluar da ri tulang temporal melalui foramen stilomastoideus di ujung anterior krista yang dibentuk oleh insersio otot digastrikus. Sinus sigmoideus terletak di bawah dura mater pada daerah tersebut. Cabang aurikularis saraf vagus masuk ke telinga tengah dari dasarnya. Korda timpani kemudian bergabung dengan saraf lingualis dan menghantarkan serabut- serabut sekretomotorik ke ganglion submandibularis dan serabut-serabut pengecap dari duapertiga anterior lidah. Dinding lateral mastoid adalah tulang subkutan yang dengan mudah dapat dipalpasi di posterior aurikula . pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum. Bagian bawah dinding anterior adalah kanalis karotikus. Saraf korda timpani timbul dari saraf fasialis di bawah stapedius dan berjalan ke lateral depan menuju inkus tetapi di medial maleus. Kanalis falopii bertulang yang dilalui saraf fasialis terletak di atas fenestra ovalis mulai dari prosesus kokleariformis di anterior hingga piramid stapedius di posterior.

Bagian bertulang rawan berjalan melintasi dasar . mengarah ke medial. dan bahwa ada bagian hipo timpanum yang meluas melampaui batas bawah membrana timpani. Membrana timpani Tuba Eustakius Tuba eustakius menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring. Origo otot tensor timpani terletak di sebelah atas bagian bertulang. sementara kanalis karotikus terletak di bagian bawahnya. meluas melampaui batas atas membrana timpani. umbo. Penting untuk disadari bahwa bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanum yang mengandung korpus maleus dan inkus. Membrana timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis di bagian luar. Gambar. Membrana timpani umumnya bulat. lapisan fibrosa di bagian tengah di mana tangkai maleus dilekatkan dan lapisan mukosa bagian dalam lapisan fibrosa tidak terdapat diatas prosesus lateralis maleus dan ini menyebabkan bagian membrana timpani yang disebut membrana Shrapnell menjadi lemas (flaksid). Telinga tengah dengan batas-batasnya Membrana Timpani Membrana timpani adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya. Gambar. Bagian lateral tuba eustakius adalah bagian yang bertulang. Sementara duapertiga bagian medial bersifat kartilaginosa.

perforasi terdapat di pars tensa. Otitis Media Supuratif Kronik ialah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Perforasi Postero Superior/ Marginal . Pada perforasi sentral. 2. marginal atau atik. 2. bening atau berupa nanah. Perforasi atik ialah perforasi yang terletak di pars flaksida.tengkorak untuk masuk ke faring di atas otot levator palatinum dan tensor palatinum yang masing-masing disarafi pleksus faringeal dan saraf mandibularis. Perforasi Sentral kecil b. Perforasi membran timpani dapat ditemukan di daerah sentral. Sekret mungkin encer atau kental. Pada perforasi marginal sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sakulus timpanikum. Perforasi Sentral (Sub Total) c. Jenis-Jenis Perforasi dapat dibagi menjadi : a. Tuba eustakius berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membrana timpani.2 Definisi Otitis media supuratif kronik (OMSK) dahulu disebut Otitis Media Perforata (OMP) atau dalam sebutan sehari-hari adalah congek. sedangkan di seluruh tepi perforasi masih ada sisa membran timpani. Perforasi Atik d.3 Letak Perforasi Letak perforasi di membran timpani penting untuk menentukan tipe/ jenis OMSK.

apalagi insiden OMSK saja. . Umumnya OMSK tipe benigna jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. ekonomi. yaitu tipe benigna dan tipe maligna. atau setelah berenang dimana kuman masuk melalui liang telinga luar. hygiene dan nutrisi yang jelek. Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo. OMSK tipe Maligna Merupakan OMSK yang disertai dengan kolesteatoma. 2. tidak ada data yang tersedia. Perforasi pada OMSK tipe maligna letaknya di atik. merupakan OMSK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif. kadang-kadang terdapat juga kolesteatoma pada OMSK dengan perforasi yang berbahaya atau fatal timbul pada OMSK tipe maligna. Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu kongenital dan didapat. 1.2.5 Epidemiologi Prevalensi OMSK pada beberapa negara antara lain dipengaruhi. tempat tinggal yang padat. Pada OMSK tipe benigna tidak terdapat kolesteatoma. suku. Berdasarkan aktivitas sekret yang keluar terdiri dari OMSK aktif dan OMSK tenang. Biasanya didahului oleh perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan.4 Klasifikasi OMSK Jenis OMSK terbagi atas 2 jenis. a) OMSK aktif. Perforasi terletak di sentral. dan biasanya tidak mengenai tulang. kondisi sosial.atau suatu rasa penuh dalam telinga 2. tinitus. Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga tengah yang pucat. Sekret bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen b) OMSK tenang. OMSK tipe Benigna Proses peradangannya terbatas pada mukosa saja. ialah OMSK yang keadaan kavum timpaninya terlihat basah atau kering. Kebanyakan melaporkan prevalensi OMSK pada anak termasuk anak yang mempunyai kolesteatom. Kolesteatoma adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. OMSK tipe maligna dikenal juga dengan OMSK tipe berbahaya atau OMSK tipe tulang. tetapi tidak mempunyai data yang tepat.

alergi. autoimun. infeksi saluran nafas atas. tonsilitis.6 Etiologi Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak. . sinusitis). Obstruksi anatomik tuba Eustachius parsial atau total 2. antara lain : 1. menyebabkan refluk isi nasofaring yang merupakan faktor insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat.  Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. genetik. Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah supuratif menjadi kronis majemuk. otitis media sebelumnya. Infeksi hidung dan tenggorok yang kronis atau berulang b. 3. jarang dimulai setelah dewasa.  Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. 4. Obstruksi menetap terhadap aerasi telinga atau rongga mastoid. Gangguan fungsi tuba eustachius yang kronis atau berulang a. Kelainan humoral (seperti hipogammaglobulinemia) dan cell-mediated (seperti infeksi HIV. mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. rinitis. Penyebab OMSK antara lain lingkungan. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani menetap pada OMSK :  Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut.2. dan gangguan fungsi tuba eustachius.  Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi. Adanya tuba patulous. Perforasi membran timpani yang menetap. sindrom kemalasan leukosit) dapat manifest sebagai sekresi telinga kronis. Terjadinya metaplasia skumosa atau perubahan patologik menetap lainya pada telinga tengah. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis. Fungsi tuba Eustachius yang abnormal merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan Down’s syndrom.

2. maka penjelasan tentang patofisiologi OMSK.7 Patogenesis dan Patologi Karena OMSK didahului OMA. Faktor-faktor konstitusi dasar seperti alergi. lebih horizontal dan relatif lebih lebar daripada dewasa. fungsi silia tidak efektif untuk mencegah kuman dan sekret dari nasofaring ke kavum timpani dengan akumulasi sekret yang baik untuk pertumbuhan kuman. sehingga terjadi penumpukan sekret di telinga tengah. Sekret ini merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman. Tuba eustakius pada anak lebih pendek. Gangguan fungsi Ventilasi Normalnya tuba akan berusaha menjaga tekanan di telinga tengah dan udara luar stabil. 6. akan dijelaskan dengan patofisiologi terjadinya OMA. sedangkan secara fisiologis udara (Oksigen dan Nitrogen) akan diabsorbsi di telinga tengah 1 ml tiap hari pada orang dewasa. Edema ini akan menyebabkan oklusi tuba yang berakibat gangguan fungsi tuba eustakius yaitu fungsi ventilasi. Proses . Gangguan fungsi proteksi Tuba berperan dalam proteksi kuman dan sekret dari nasofaring masuk ke telinga tengah. Terdapat daerah-daerah dengan sekuester atau osteomielitis persisten di mastoid. keadaan vacum di telinga tengah menyebabkan transudasi cairan di telinga tengah. yang sangat berperan penting dalam patofiologi OMA pada anak berbeda dengan orang dewasa. kelemahan umum atau perubahan mekanisme pertahanan tubuh. umumnya terjadi pada anak karena keadaan tuba eustakius . Sehingga terjadi proses supurasi di telinga tengah. 5. maka udara tidak akan dapat masuk ke telinga tengah. Keadaan ini kan menyebabkan tekanan negatif pada telinga tengah. OMA biasanya disebabkan oleh Infeksi di Saluran Nafas Atas (ISPA). ketika terdapat oklusi tuba. drainase dan proteksi terhadap telinga tengah. Infeksi pada saluran nafas atas akan menyebabkan edema pada mukosa saluran nafas termasuk mukosa tuba eustakius dan nasofaring tempat muara tuba eustakius. Ketika terjadi oklusi tuba. Gangguan Fungsi drainase Dalam keadaan normal mukosa telinga tengah akan menghasilkan sekret yang akan di dorong oleh gerakan silia ke arah nasofaring. ketika terjadi oklusi tuba fungsi ini akan terganggu. diantaranya melalui kerja silia. Akumulasi cairan di telinga tengah akan lebih banyak dengan adanya transudasi akibat tekanan negatif.

tetapi dalam hal ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Pneumatisasi mastoid OMSK paling sering pada masa anak-anak. sehingga ukuran prosesus mastoid berkurang. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Perforasi sekunder pada OMA dapat terjadi kronis tanpa kejadian infeksi pada telinga tengah misal perforasi kering. OMSK lebih sering merupakan penyakit kambuhan dari pada menetap. Pada OMSK tipe jinak.8 Gejala Klinis Gejala klinis yang sering ditemukan pada otitis media supuratif kronis diantaranya 1. Proses pneumatisasi ini sering terhenti atau mundur oleh otitis media yang terjadi pada usia tersebut atau lebih muda. Mukosa bervariasi sesuai stadium penyakit 3. mastoid mengalami proses sklerotik. 2.supurasi akan berlanjut dengan peningkatan jumlah sekret purulen. Keadaan kronis ini lebih berdasarkan keseragaman waktu dan stadium dari pada keseragaman gambaran patologi. Telinga Berair (Otorrhoe) Sekret bersifat purulen atau mukoid tergantung stadium peradangan. Terdapat perforasi membrana timpani di bagian sentral. penekanan pada membran timpani oleh akumulasi sekret ini kan menyebabkan membran timpani (bagian sentral) mengalami iskemi dan akhirnya nekrosis. Tulang-tulang pendengaran dapat rusak atau tidak. tergantung pada beratnya infeksi sebelumnya. cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. 2. Secara umum gambaran yang ditemukan adalah: 1. Keluarnya sekret biasanya hilang timbul. dengan adnya tekanan akan menyebabkan perforasi dan sekret mukopurulen akan keluar dari telinga tengah ke liang telinga. 4. Pneumatisasi mastoid paling akhir terjadi antara 5-10 tahun. Pada OMSK . Patogensis OMSK belum diketahui secara lengkap. Beberapa penulis menyatakan keadaan ini sebagai keadaan inaktif dari otitis media kronis. Bila infeksi kronik terus berlanjut. Jika proses peradangan ini tidak mengalami resolusi dan penutupan membran timpani setelah 6 minggu maka OMA beralih menjadi OMSK.

Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis. Sedangkan pada kasus yang lanjut dapat terlihat adanya Abses atau fistel retroaurikular. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. . pus yang selalu aktif atau berbau busuk (aroma kolesteatom) dan foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom. Otalgia (Nyeri Telinga) Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. atau ancaman pembentukan abses otak. Vertigo Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis. subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis. 3. Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna yang perlu diperhatikan mengingat OMSK tipe ini seringkali menimbulkan komplikasi yang berbahaya.tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat. maka perlu ditegakkan diagnosis dini yang menjadi pedoman yaitu adanya perforasi pada marginal atau pada atik. jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis. 2. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo. Gangguan Pendengaran Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. 4.

2. sedangkan pada tipe atikoantral. tidak berbau busuk dan intermiten. Dari perforasi dapat dinilai kondisi mukosa telinga tengah. Pemeriksaan otoskopi Pemeriksaan otoskopi akan menunjukan adanya dan letak perforasi. sedangkan pemeriksaan CT scan dapat lebih efektif menunjukkan anatomi tulang temporal dan kolesteatoma. berbau busuk. 2. dapat dilakukan pemeriksaan klinik sebagai berikut : a. Pemeriksaan audiologi Evaluasi audiometri.8 Diagnosis OMSK Diagnosis OMSK ditegakan dengan cara: 1.2. penting untuk mengevaluasi tingkat penurunan pendengaran dan untuk menentukan gap udara dan tulang. Derajat ketulian nilai ambang pendengaran . maka sekret yang keluar dapat bercampur darah. Pemeriksaan Audiometri Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli konduktif. Audiometri tutur berguna untuk menilai ‘speech reception threshold’ pada kasus dengan tujuan untuk memperbaiki pendengaran. foto polos radiologi. Pemeriksaan radiologi Radiologi konvensional. Gejala yang paling sering dijumpai adalah telinga berair. posisi Schüller berguna untuk menilai kasus kolesteatoma. pembuatan audiogram nada murni untuk menilai hantaran tulang dan udara. adanya secret di liang telinga yang pada tipe tubotimpanal sekretnya lebih banyak dan seperti berbenang (mukous). Anamnesis (history-taking) Penyakit telinga kronis ini biasanya terjadi perlahan-lahan dan penderita seringkali datang dengan gejala-gejala penyakit yang sudah lengkap. Ada kalanya penderita datang dengan keluhan kurang pendengaran atau telinga keluar darah. 4. 3. sekretnya lebih sedikit. kadangkala disertai pembentukan jaringan granulasi atau polip.9 Pemeriksaan Klinik Untuk melengkapi pemeriksaan. Tapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensotineural. beratnya ketulian tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas.

menunjukan kerusakan kohlea parah. Proyeksi Schuller Memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah lateral dan atas. 4.  Normal : -10 dB sampai 26 dB  Tuli ringan : 27 dB sampai 40 dB  Tuli sedang : 41 dB sampai 55 dB  Tuli sedang berat : 56 dB sampai 70 dB  Tuli berat : 71 dB sampai 90 dB  Tuli total : lebih dari 90 dB. vestibulum dan kanalis semisirkularis. Untuk melakukan evaluasi ini. 3. 4. 3. Proyeksi Chause III Memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Foto ini berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen. Proyeksi ini menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat menunjukan adanya pembesaran akibat. b. Proyeksi Mayer atau Owen Diambil dari arah dan anterior telinga tengah. Proyeksi Stenver Memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosus dan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna. Perforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20 dB 2. 2. . Kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif 30-50 dB apabila disertai perforasi. observasi berikut bisa membantu : 1. Akan tampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur- struktur. Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatom. Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran dibelakang membran yang masih utuh menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB. tidak peduli bagaimanapun keadaan hantaran tulang. Pemeriksaan Radiologi 1. Kelemahan diskriminasi tutur yang rendah.

1. stafilokokus aureus dan Proteus sp. gizi dan higiene yang kurang. Karena semua obat tetes yang mengandung antibiotik bersifat ototoksik. Klebsiella. berupa larutan H2O2 3 % selama 3-5 hari. 2. Setelah sekret berkurang. maka terapi dilanjutkan dengan memeberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotika dan kortikosteroid. Tipe Benigna Prinsip terapi ialah konservatif atau dengan medikamentosa. maka diberikan obat pencuci telinga. Bakteriologi Bakteri yang sering dijumpai pada OMSK adalah Pseudomonas aeruginosa. nasofaring. Sedangkan Proteus mirabilis sensitif untuk antibiotik kecuali makrolid. influensa. karena sekret yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh lagi.c. terdapat sumber infeksi di faring. sudah terbentuk jaringan patologik yang ireversibel dalam rongga mastoid. Bila sekret telah . dan bakteri anaerob adalah Bacteriodes sp. Keadaan ini antara lain disebabkan oleh satu atau beberapa keadaan yaitu adanya perforasi membran timpani yang permanen sehingga telinga tengah berhubungan dengan dunia luar. hidung. Stafilokokus aureus dan Proteus. Antibiotik yang sensitif untuk Pseudomonas aeruginosa adalah ceftazidime dan ciprofloksasin. sefalosporin dan makrolid. Bila sekret yang keluar terus menerus. Bakteri spesifik Misalnya Tuberkulosis. Stafilokokus aureus resisten terhadap sulfonamid dan trimethoprim dan sensitif untuk sefalosforin generasi I dan gentamisin. Sedangkan bakteri pada OMSA Streptokokus pneumonie. Sehingga dianjurkan penggunaan obat tetes telinga jangan diberikan terus menerus lebih dari 1 atau 2 minggu atau pada OMSK yang sudah tenang. Coli. Otitis media tuberkulosa dapat terjadi pada anak yang relatif sehat sebagai akibat minum susu yang tidak dipateurisasi. dan sinus paranasal. Difteroid. dan resisten pada penisilin. Pada orang dewasa biasanya disebabkan oleh infeksi paru yang lanjut. H. 2. Infeksi ini masuk ke telinga tengah melalui tuba. Dimana Otitis tuberkulosa sangat jarang ( kurang dari 1% menurut Shambaugh). dan Morexella kataralis. Bakteri lain yang dijumpai pada OMSK E.10 Penatalaksanaan Terapi OMSK terkadang memerlukan waktu yang lama serta harus berulang-ulang. Bakteri non spesifik baik aerob dan anaerob Bakteri aerob yang sering dijumpai adalah Pseudomonas aeruginosa.

Pseudomonas. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. 2. mungkin juga perlu melakukan pembedahan. B. Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan sekret tetap ada. tetapi perforasi masih ada setelah observasi selama 2 bulan. Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah. misalnya adenoidektomi dan tonsilektomi. Proteus. Terramycin. Kloramfenikol Obat ini bersifat bakterisid . maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti. Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif. Proteus sp. Bubuk telinga yang digunakan seperti3 : a. maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Pemberian Antibiotik Topikal Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan dulu. E.kering. 3. Toksik terhadap ginjal dan telinga. adalah tidak efektif. misalnya : Stafilokokus aureus. mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat. fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf. tetapi resisten terhadap gram positif. memperbaiki membran timpani yang perforasi. Operasi ini bertujuan untuk menghentikan infeksi secara permanen. Enterobakter. serta memperbaiki pendengaran. Asidum borikum 2. Polimiksin B atau polimiksin E Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif. Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik adalah : 1. c. Koli Klebeilla. atau terjadinya infeksi berulang. maka sumber infeksi harus diobati terlebih dahulu. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b.5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMSK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas.

P. Antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMSK belum pasti cukup.Pseudomonas : Aminoglikosida ± karbenisilin . . Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. aminoglikosida . meskipun dapat mengatasi OMSK.Streptokokus : Penisilin.Pemberian Antibiotik Sistemik Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus. eritromisin. Aureus Anti-stafilikokus : penisilin.Klebsiella : Sefalosforin atau aminoglikosida . Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah : . Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. aminoglikosida . sefalosforin. dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 2-4 minggu. misalnya golongan beta laktam. eritromisin. sefalosforin. tetapi harus diberikan secara parenteral. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim. makin banyak kuman terbunuh. OMSK Maligna Pengobatan untuk OMSK maligna adalah operasi. Bila terjadi kegagalan pengobatan. seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. mirabilis : Ampisilin atau sefalosforin . Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini. Makin tinggi kadar obat. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. Bila terdapat abses subperiosteal. dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral.B. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik (sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif. maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. vulgaris : Aminoglikosida ± Karbenisilin . morganii. fragilis : Klindamisin Antibiotika golongan kuinolon (siprofloksasin.E. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob.S.P. perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. P. coli : Ampisilin atau sefalosforin .

Tujuannya adalah mencegah berulangnya infeksi telinga tengah pada OMSK tipe benigna dengan perforasi menetap. Timpanoplasti . mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat. Tujuan operasi adalah menghentikan infeksi secara permanen. Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. dan mempertahankan pendengaranyang masih ada. e. antara lain : a. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan. b. c. supaya tidak terjadi infeksi kembali. Tujuan operasi ini ialah membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intrakranial. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis. rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. Kerugian operasi ini ialah pasien tidak diperbolehkan berenang seumur hidupnya. memperbaiki membran timpani yang perforasi. serta memperbaiki pendengaran. Pasien harus datang dengan teratur untuk kontrol. baik tipe benigna atau maligna. Mastoidektomi radikal Dilakukan pada OMSK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas. Miringoplasti Merupakan jenis operasi timpanoplasti paling ringan. tetapi belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan. Dilakukan pada OMSK benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. Mastoidektomi sederhana Dilakukan pada OMSK tipe benigna yang dengan pengobatan konservatif tidak sembuh. Pada operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki. sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe I. Tujuannya supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Fungsi pendengaran tidak diperbaiki. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi Dilakukan pada OMSK dengan kolesteatom di daerah atik. d. Tujuan operasi ialah membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid. Dengan operasi ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik.

Tidak jarang pula operasi ini terpaksa dilakukan dua tahap dengan jarak waktu 6 sampai dengan 12 bulan. untuk membersihkan jaringan patologis. kadang-kadang dilakukan kombinasi dari jenis operasi tersebut atau modifikasinya. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani sering kali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Dilakukan pada OMSK benigna dengan kerusakan lebih berat atau OMSK benigna yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga). karena sering terjadi kekambuhan kolesteatom. lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum timpani dengan atau tanpa mastoidektomi. Sesuai dengan luasnya infeksi atau luasnya kerusakan yang sudah terjadi. Tendensi otitis media mendapat komplikasi tergantung pada kelainan patologik yang menyebabkan otore. tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut oleh kuman yang virulen pada OMSK tipe benigna pun dapat menyebabkan komplikasi. Membersihkan kolesteatoma dan jaringan granulasi di kavum timpani.11 KOMPLIKASI Otitis media supuratif mempunyai potensi untuk menjadi serius karena komplikasinya yang dapat mengancam kesehatan dan menyebabkan kematian. biasanya komplikasi didapatkan pada pasien OMSK tipe maligna. Sebelum rekonstruksi dikerjakan. III. sarana yag tersedia dan pengalaman operator. Tujuannya adalah menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang pendengaran yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II. V. IV. akan menimbulkan komplikasi. f. . dikerjakan melalui dua jalan (cobined approach). Walaupun demikian organisme yang resisten dan kurang efektifnya pengobatan. Jenis operasi mastoid yang dilakukan tergantung pada luasnya infeksi atau kolesteatom. Teknik operasi ini dilakukan pada OMSK maligna belum disepakati oleh para ahli. 2. Pendekatan ganda timpanoplasti (Combined approach tympanoplasty) Merupakan teknik operasi yang dilakukan pada kasus Maligna dan Benigna dengan jaringan granulasi yang luas. yaitu melalui liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior.

Erosi tulang pendengaran 2. Tuli saraf ( sensorineural) C. Komplikasi intra kranial yang serius lebih sering terlihat pada eksaserbasi akut dari OMSK berhubungan dengan kolesteatom. Abses otak 3. Fistel labirin 2. Labirinitis supuratif 3. Perforasi persisten membrane timpani 1. Petrositis D. Meningitis 2. Hindrosefalus otitis . A. Abses ekstradural 2. Trombosis sinus lateralis 3. Komplikasi ditelinga tengah : B. Komplikasi ekstradural 1. Paralisis nervus fasial 3. Komplikasi ke susunan saraf pusat 1. Komplikasi telinga dalam 1.

Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. 1997: 88-118 . ZA. Edisi kelima. Kelainan telinga tengah. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. DAFTAR PUSTAKA 1. Santoso K. 49-62 2. Ed. Penyakit telinga tengah dan mastoid. Komplikasi otitis media supuratif kronis dan mastoiditis. Dalam: Soepardi EA. BOIES buku ajar penyakit THT. Adams GL. Iskandar N. h. Helmi. Edisi kelima. Ed. Edisi 6. 2001. Jakarta: FKUI. Jakarta: EGC. 2001. h. Iskandar N. Dalam: Effendi H. Dalam: Soepardi EA. Paparella MM. Jakarta: FKUI. Ed. Levine SC. 63-73 3.