GCG (good corporate governance

)
Pengertian dan Prinsip Dasar
Good Corporate Governance (GCG)

‘The proper governance of companies will become as crucial to the world economies as the
proper governing of countries.’
(James D. Wolfensohn, President of the World Bank, c. 1999)

Sulit dipungkiri, selama sepuluh tahun terakhir ini, istilah Good Corporate Governance (GCG)
kian populer. Tak hanya populer, tetapi istilah tersebut juga ditempatkan di posisi terhormat. Hal
itu, setidaknya terwujud dalam dua keyakinan. Pertama, GCG merupakan salah satu kunci sukses
perusahaan untuk tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan
persaingan bisnis global – terutama bagi perusahaan yang telah mampu berkembang sekaligus
menjadi terbuka.
Kedua, krisis ekonomi dunia, di kawasan Asia dan Amerika Latin yang diyakini muncul karena
kegagalan penerapan GCG. Di antaranya, Sistem Regulatory yang payah, Standar Akuntansi dan
Audit yang tidak konsisten, praktek perbankan yang lemah, serta pandangan Board of Directors
(BOD) yang kurang peduli terhadap hak-hak pemegang saham minoritas.
Berdasarkan keyakinan-keyakinan di atas itulah maka tidak mengherankan jika selama
dasawarsa 1990-an, tuntutan terhadap penerapan GCG secara konsisten dan komprehensif datang
secara beruntun. Mereka yang menyuarakan hal itu di antaranya adalah berbagai lembaga
investasi baik domestik maupun mancanegara, termasuk institusi sekaliber World Bank, IMF,
OECD, dan APEC. Dengan melontarkan beberapa prinsip umum dalam CG seperti fairness,
transparency, accountability, stakeholder concern, dapat disimpulkan bahwa penerapan GCG
diyakini akan menolong perusahaan dan perekonomian negara yang sedang tertimpa krisis
bangkit menuju ke arah yang lebih sehat, maju, mampu bersaing, dikelola secara dinamis serta
profesional. Ujungnya adalah daya saing yang tangguh, yang diikuti pulihnya kepercayaan
investor.
Tentunya, lembaga-lembaga besar itu tak asal bicara. Namun, apa sebetulnya GCG itu sendiri?
Apa prinsip-prinsip dasar yang dikandungnya? Lantas, apa manfaat menerapkan GCG?

Sangat jelas bahwa perhatian terhadap corporate governance belakangan ini terutama dipicu oleh
skandal spektakuler perusahaan-perusahaan publik di Amerika dan Eropa, seperti Enron,
Worldcom, Tyco, London & Commonwealth, Poly Peck, Maxwell, dan lain-lain.Cadbury Report
(UK) dan Treadway Report (US) secara mendasar menyebutkan bahwa keruntuhan perusahaan-
perusahaan publik tersebut dikarenakan oleh kegagalan strategi maupun praktik curang dari
manajemen puncak yang berlangsung tanpa terdeteksi dalam waktu yang cukup lama karena
lemahnya pengawasan yang independen oleh corporate boards.

Isu corporate governance itu sendiri muncul sejak diperkenalkannya pemisahan antara
kepemilikan dan pengelolaan perusahaan (Tri Gunarsih, 2003). Namun istilah corporate
governance itu sendiri secara eksplisit muncul pertama kali pada tahun 1984 dalam tulisan
Robert I. Tricker. Di dalam bukunya, Tricker memandang corporate governance memiliki empat
kegiatan utama sebagai berikut:

“managers could not be trusted to do their job – which of course is to maximize shareholder value’ (Tricker. bukan sebagai pihak yang arif dan bijaksana serta adil terhadap pemegang saham sebagaimana diasumsikan dalam stewardship model. Gower) Teori-teori Terkait Dua teori utama yang terkait dengan corporate governance adalah stewardship theory dan agency theory. mampu bertindak dengan penuh tanggung jawab memiliki. M. dan kejujuran terhadap pihak lain. and W.. Meckling (1986). pp. “ Journal of Financial Economics. Opcit). ‘Biaya’ yang harus dibayar tersebut. dalam konteks corporate governance. 3. No. Dengan demikian. Upaya ini menimbulkan apa yang disebut sebagai agency costs.C. adalah biaya untuk: “…control managerial ‘opportunism’ by having a board chair independent of the CEO and using incentives to bind CEO interests to those of shareholders (Jensen.H. stewardship theory memandang manajemen sebagai dapat dipercaya untuk bertindak dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan publik pada umumnya maupun shareholders pada khususnya. ‘Theory of the firm – managerial behaviour. agency theory memandang bahwa manajemen tidak dapat dipercaya untuk bertindak dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan publik pada umumnya maupun shareholders pada khususnya. and Accountability: Recognizing responsibilities to those making legitimate demand for accountability. Executive action: Involvement in crucial executive decisions. 305-60). agency theory mendapat respons lebih luas karena dipandang lebih mencerminkan kenyataan yang ada. agency theory yang dikembangkan oleh Michael Johnson. Corporate Governance – Practices. seorang professor dari Harvard.Direction: Formulating the strategic direction from the future of the enterprise in the long term. Sementara itu.. Bertentangan dengan stewardship theory. akan bertindak dengan penuh kesadaran bagi kepentingannya sendiri. termasuk biaya audit . Robert I. integritas. Supervision: Monitoring and oversight of management performance. 1984. yang menurut teori ini harus dikeluarkan sedemikian rupa sehingga biaya untuk mengurangi kerugian yang timbul karena ketidakpatuhan setara dengan peningkatan biaya enforcement-nya. Berbagai pemikiran mengenai corporate governance berkembang dengan bertumpu pada agency theory di mana pengelolaan perusahaan harus diawasi dan dikendalikan untuk memastikan bahwa pengelolaan dilakukan dengan penuh kepatuhan kepada berbagai peraturan dan ketentuan yang berlaku. Procedures. biaya yang dikeluarkan oleh manajemen untuk menghasilkan laporan yang transparan. (Tricker. memandang bahwa manajemen perusahaan sebagai ‘agents’ bagi para pemegang saham. Inilah yang tersirat dalam hubungan fidusia yang dikehendaki para pemegang saham. Stewardship theory dibangun di atas asumsi filosofis mengenai sifat manusia yakni bahwa manusia pada hakekatnya dapat dipercaya. Dalam perkembangan selanjutnya. agency costs and ownership structure. Agency costs ini mencakup biaya untuk pengawasan oleh pemegang saham. and Power in British Companies and Their Board of Directors. UK. Dengan kata lain.

Transparency. dan keputusan tersebut mampu memberikan nilai tambah bagi shareholders lainnya. Kelompok negara maju (OECD). GCG adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para shareholders khususnya. Predictability dan Participation. khususnya di perusahaan- perusahaan publik. serta pengendalian. baik yang ada di dalam maupun di luar manajemen perusahaan. Sebagai catatan. Proses. titik temu atau irisan antara keduanya dalam banyak hal terwujud dalam pengambilan keputusan-keputusan strategik perusahaan sebagaimana terlihat pada gambar berikut ini: Definisi Good Corporate Governance (GCG) Sebagai sebuah konsep. Karena itu fokus utama di sini terkait dengan proses pengambilan keputusan dari perusahaan yang mengandung nilai-nilai transparency. proses. Bagaimana perbandingan kegiatan antara corporate governance dan corporate management memperlihatkan bahwa corporate governance sangat terkait dengan aspek pengawasan dan akuntabilitas. bukan terbatas kepada shareholders saja. dan stakeholders pada umumnya. Sementara itu. GCG ternyata tak memiliki definisi tunggal. Menurut Komite Cadburry. Hak adalah berbagai kekuatan yang dimiliki stakeholders secara individual untuk mempengaruhi manajemen. Para pengambil keputusan di perusahaan haruslah dapat dipertanggungjawabkan. hak di sini adalah hak seluruh stakeholders.yang independen dan pengendalian internal. Sementara itu. Komite Cadburry. pada tahun 1992 – melalui apa yang dikenal dengan sebutan Cadburry Report – mengeluarkan definisi tersendiri tentang GCG. serta biaya yang disebabkan karena menurunnya nilai kepemilikan pemegang saham sebagai bentuk ‘bonding expenditures’ yang diberikan kepada manajemen dalam bentuk opsi dan berbagai manfaat untuk tujuan menyelaraskan kepentingan manajemen dengan pemegang saham. Adapun pengendalian merupakan mekanisme yang memungkinkan stakeholders menerima informasi yang diperlukan seputar aneka kegiatan perusahaan. Center for European Policy Studies (CEPS). pemegang saham. Menurut lembaga tersebut GCG merupakan suatu proses serta struktur yang digunakan untuk mengarahkan sekaligus mengelola bisnis dan urusan perusahaan ke arah peningkatan pertumbuhan bisnis dan . sementara corporate management terkait dengan keputusan-keputusan dan pengendalian eksekutif serta manajemen operasional. Beberapa negara mendefinisikannya dengan pengertian yang agak mirip walaupun ada sedikit perbedaan istilah. dan pihak lain yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu. GCG. punya formula lain. maksudnya adalah mekanisme dari hak-hak tersebut. dan tentu saja fairness. Meskipun demikian. Sejumlah negara juga mempunyai definisi tersendiri tentang GCG. Pengertian lain datang dari Finance Committee on Corporate Governance Malaysia. misalnya. accountability. umpamanya mendefinisikan GCG sebagai cara-cara manajemen perusahaan bertanggung jawab pada shareholder-nya. manajer. potensi untuk munculnya agency problem tetap ada karena adanya pemisahan antara kepengurusan dengan kepemilikan perusahaan. responsibility. ADB (Asian Development Bank) menjelaskan bahwa GCG mengandung empat nilai utama yaitu: Accountability. merupakan seluruh sistem yang dibentuk mulai dari hak (right). papar pusat studi ini. Tentu saja hal ini dimaksudkan pengaturan kewenangan Direktur.

bagi orang awam masih terdengar janggal di telinga. Namun tampaknya secara umum di kalangan pebisnis. secara harfiah. Di antaranya. tanggung jawab pengelola/pengurus perusahaan. sistem. Tanggung jawab ini meliputi hal-hal yang terkait dengan pengaturan hubungan antara perusahaan dengan stakeholders (keseimbangan eksternal). pencapaian. Dari pengertian di atas pula.  Adanya perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham.  Adanya keseimbangan hubungan antara organ-organ perusahaan di antaranya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). meskipun masih rancu dengan terminologi manajemen. Empat Prinsip Utama Corporate Governance Setelah definisi serta aspek penting GCG terpaparkan di atas. manajemen. BOC. dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya. Direksi. Maklum. tampak beberapa aspek penting dari GCG yang perlu dipahami beragam kalangan di dunia bisnis. berikut pengukuran kinerjanya. RUPS) guna memberikan nilai tambah kepada pemegang saham secara berkesinambungan dalam jangka panjang.  Adanya hak-hak pemegang saham untuk mendapat informasi yang tepat dan benar pada waktu yang diperlukan mengenai perusahaan. Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan. terutama pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing melalui keterbukaan informasi yang material dan relevan serta melarang penyampaian informasi untuk pihak sendiri yang bisa menguntungkan orang dalam (insider information for insider trading). Suatu sistem pengecekan dan perimbangan kewenangan atas pengendalian perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang: pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan aset perusahaan. governance kerap diterjemahkan sebagai “pengaturan. serta pertanggungjawaban kepada para pemegang saham dan stakeholders lainnya. Lantas bagaimana dengan definisi GCG di Indonesia? Di tanah air. Komisaris. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Good Corporate Governance merupakan: 1. Kemudian. governance sering juga disebut “tata pamong”. pengawasan. yakni. Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran dewan komisaris. Adapun tujuan akhirnya adalah menaikkan nilai saham dalam jangka panjang tetapi tetap memperhatikan berbagai kepentingan para stakeholder lainnya. Keseimbangan ini mencakup hal-hal yang berkaitan dengan struktur kelembagaan dan mekanisme operasional ketiga organ perusahaan tersebut (keseimbangan internal)  Adanya pemenuhan tanggung jawab perusahaan sebagai entitas bisnis dalam masyarakat kepada seluruh stakeholder. dan direksi. “GCG” ini didefinisikan sebagai suatu pola hubungan. Pemegang Saham dan Para Stakeholder lainnya. berlandaskan peraturan perundangan dan norma yang berlaku. dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan (BOD. maka berikut adalah prinsip yang . Masih diperlukan kajian untuk mencari istilah yang tepat dalam bahasan Indonesia yang benar. istilah GCG diartikan tata kelola perusahaan. istilah itu berasal dari Melayu.” Adapun dalam konteks GCG. 2. Kemudian hak berperan serta dalam pengambilan keputusan mengenai perkembangan strategis dan perubahan mendasar atas perusahaan serta ikut menikmati keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam pertumbuhannya. atau penadbiran – yang terakhir ini. 3.akuntabilitas perusahaan.

Transparency (Keterbukaan Informasi) Transparansi bisa diartikan sebagai keterbukaan informasi. atau yang mempengaruhi secara signifikan risiko serta prospek usaha perusahaan yang bersangkutan. Pasalnya. Fairness (Kewajaran) Secara sederhana kewajaran (fairness) bisa didefinisikan sebagai perlakuan yang adil dan setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku. lewat prinsip fairness. Hal ini dinilai penting karena akan menjadi penjamin adanya perlindungan atas hak-hak pemegang saham manapun. Mengingat definisi ini sangat normatif maka perlu ada penjelasan operasionalnya di tiap . Pendek kata. berasal dari benturan kepentingan. Wajarkah kekhawatiran seperti itu? Menurut peraturan di pasar modal Indonesia. maupun antara pemegang saham pengendali (pemegang saham pendiri. 1. yang dimaksud informasi material dan relevan adalah informasi yang dapat mempengaruhi naik turunnya harga saham perusahaan tersebut. Syarat itu berupa peraturan dan perundang-undangan yang jelas. sistem hukum dan penegakan peraturan untuk melindungi hak-hak investor – khususnya pemegang saham minoritas – dari berbagai bentuk kecurangan. akuisisi. Di tengah situasi seperti ini. isu yang sering mencuat adalah pertentangan dalam menjalankan prinsip ini. dilusi saham (nilai perusahaan berkurang). tanpa ada pengecualian. Namun seperti halnya sebuah prinsip. konsisten dan dapat ditegakkan secara baik serta efektif. fairness menjadi jiwa untuk memonitor dan menjamin perlakuan yang adil di antara beragam kepentingan dalam perusahaan. Perbincangan prinsip ini sendiri sangatlah menarik. Di antara (litigation abuse) ini adalah penyalahgunaan ketidakefisienan lembaga peradilan dalam mengambil keputusan sehingga pihak yang tidak beritikad baik mengulur-ngulur waktu kewajiban yang harus dibayarkannya atau bahkan dapat terbebas dari kewajiban yang harus dibayarkannya. Baik perbedaan kepentingan antara manajemen (Dewan Komisaris dan Direksi) dengan pemegang saham. 2. Apa saja manfaat itu? Fairness diharapkan membuat seluruh aset perusahaan dikelola secara baik dan prudent (hati- hati). merger. Fairness juga mencakup adanya kejelasan hak-hak pemodal. atau keputusan-keputusan yang dapat merugikan seperti pembelian kembali saham yang telah dikeluarkan. di Indonesia biasanya mayoritas) dengan pemegang saham minoritas (pada perusahaan publik biasanya pemegang saham publik). Bentuk kecurangan ini bisa berupa insider trading (transaksi yang melibatkan informasi orang dalam). fairness memerlukan syarat agar bisa diberlakukan secara efektif. maka strateginya dapat diketahui pesaing sehingga membahayakan kelangsungan usahanya. Peraturan perundang-undangan ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menghindari penyalahgunaan lembaga peradilan (litigation abuse). Di sini secara umum ada empat prinsip utama yaitu: fairness. penerbitan saham baru. ada beberapa manfaat yang diharapkan bisa dipetik.dikandung dalam GCG. fraud (penipuan). dan responsibility. Fairness juga diharapkan memberi perlindungan kepada perusahaan terhadap praktek korporasi yang merugikan seperti disebutkan di atas. accountability. baik dalam proses pengambilan keputusan maupun dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan. Semisal. adanya kekhawatiran perusahaan bahwa jika ia terlalu terbuka. KKN. atau pengambil-alihan perusahaan lain. sehingga muncul perlindungan kepentingan pemegang saham secara fair (jujur dan adil). transparency. tegas. penyakit yang timbul dalam praktek pengelolaan perusahaan. Biasanya.

Beberapa bentuk implementasi lain dari prinsip accountability antara lain:  Praktek Audit Internal yang Efektif. 4. merupakan salah implementasi prinsip ini. serta direksi. Beberapa contoh mengenai hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut : . wewenang. Kemudian. standar penggajian. kewajiban. jelas. jika prinsip transparansi dilaksanakan dengan baik dan tepat. Padahal. berupaya memberdayakan fungsi pengawasan Dewan Komisaris. hubungan industrial. Responsibility (Pertanggungjawaban) Pertanggungjawaban perusahaan adalah kesesuaian (patuh) di dalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku. Masalah yang sering ditemukan di perusahaan-perusahaan Indonesia adalah mandulnya fungsi pengawasan Dewan Komisaris. Peraturan yang berlaku di sini termasuk yang berkaitan dengan masalah pajak. akan dimungkinkan terhindarnya benturan kepentingan (conflict of interest) berbagai pihak dalam manajemen. dan persaingan yang sehat. diperlukan kejelasan tugas serta fungsi organ perusahaan agar tercipta suatu mekanisme pengecekan dan perimbangan dalam mengelola perusahaan. maka dimungkinkan terjadinya efisiensi pasar. para investor harus dapat mengakses informasi penting perusahaan secara mudah pada saat diperlukan. dan tepat waktu kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut. karena adanya informasi kinerja perusahaan yang diungkap secara akurat. struktur. perlindungan lingkungan hidup. Accountability (Dapat Dipertanggungjawabkan) Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi. Atau justru sebaliknya.perusahaan. kekhawatiran di atas. serta  Kejelasan fungsi. Setiap perusahaan. Tepatnya. stakeholder dapat mengetahui risiko yang mungkin terjadi dalam melakukan transaksi dengan perusahaan. konsisten. kewajiban. perusahaan harus menyediakan informasi yang cukup. Dalam mewujudkan transparansi ini sendiri. dan tanggung jawab antara pemegang saham. 3. dewan komisaris. Komisaris Utama mengambil peran berikut wewenang yang seharusnya dijalankan direksi. Kewajiban untuk memiliki Komisaris Independen dan Komite Audit sebagaimana yang ditetapkan oleh Bursa Efek Jakarta. maka ada kejelasan fungsi. Salah satunya. hak. sistem dan pertangungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif. akurat. Selanjutnya. tepat waktu. diharapkan pula dapat mempublikasikan informasi keuangan serta informasi lainnya yang material dan berdampak signifikan pada kinerja perusahaan secara akurat dan tepat waktu. hak. Ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari penerapan prinsip ini. Karenanya. wewenang dan tanggung jawab dalam anggaran dasar perusahaan dan Statement of Corporate Intent (Target Pencapaian Perusahaan di masa depan) Bila prinsip accountability ini diterapkan secara efektif. dan dapat diperbandingkan. kesehatan/ keselamatan kerja. sebetulnya tidak perlu muncul jika kita mampu menjabarkan kriteria informasi material secara spesifik bagi masing-masing perusahaan. Selain itu. Dengan adanya kejelasan inilah maka perusahaan akan terhindar dari kondisi agency problem (benturan kepentingan peran).

Teori ini didesain bagi para peneliti untuk menguji situasi dimana para eksekutif dalam perusahaan sebagai pelayan dapat termotivasi untuk bertindak dengan cara terbaik pada principalnya (Donaldson dan Davis. dari sisi konsumen. perusahaan memenuhi peraturan perundang-undangan lingkungan hidup. Teori yang mendasari GCG (Good corporate governace) Dua teori utama yang mendasari good corporate governance adalah stewardship theory dan agency theory STEWARDSHIP THEORY Teori Stewardship adalah teori yang menggambarkan situasi dimana para manajer tidaklah termotivasi oleh tujuan-tujuan individu tetapi lebih ditujukan pada sasaran hasil utama mereka untuk kepentingan organisasi. kebijakan ini menjamin mereka untuk hidup layak tanpa merasa terancam kesehatannya tercemar. Lewat sertifikat ini. sehingga teori ini mempunyai dasar psikologi dan sosiologi yang telah dirancang dimana para eksekutif sebagai steward termotivasi untuk bertindak sesuai keinginan prinsipal. Dari sisi masyarakat. yang pada akhirnya memberi manfaat maksimal bagi pemegang saham. Ini merupakan bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat. pertumbuhan.  Kebijakan perusahaan mengelola limbah sebelum dibuang ke tempat umum. perusahaan telah mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku (Peraturan Perlindungan Konsumen). 1991). AGENCY THEORY . dan kemampuan mencetak laba lebih terjamin. Dari sisi Pemerintah. 1989. kebijakan tersebut akan menjamin loyalitas konsumen sehingga kelangsungan usaha. Ini juga merupakan pertanggungjawaban kepada publik.  Kebijakan sebuah perusahaan makanan untuk mendapat sertifikat “HALAL”. mereka akan merasa yakin bahwa makanan yang dikonsumsinya itu halal dan tidak merasa dibohongi perusahaan. Sebaliknya dari sisi perusahaan. Dari sisi perusahaan. selain itu perilaku steward tidak akan meninggalkan organisasinya sebab steward berusaha mencapai sasaran organisasinya. Demikian pula dari sisi Pemerintah. kebijakan tersebut merupakan bentuk jaminan kelangsungan usaha karena akan mendapat dukungan pengamanan dari masyarakat sekitar lingkungan.

III. Alasan diperlukan GCG (Good corporate governance) 1. II. 1976). 4. merupakan individu yang memaksimalkan utilitasnya (Jensen & Meckling. Prinsipal mendelegasikan tanggung jawab pengambilan keputusan kepada agen dimana hak dan kewajiban kedua belah pihak diuraikan dalam suatu perjanjian kerja yang saling menguntungkan. dimana prinsipal adalah pihak yang memberikan mandat kepada pihak agen. Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap memperhatikan pemangku kepentingan lainnya. Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun internasional. Direksi dan Rapat Umum Pemegang Saham. Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan. Model “manusia” yang mendasari teori agensi adalah bahwa aktor rasional. responsibilitas. Manfaat GCG (Good coporate governance) . Agency theory menguraikan hubungan antara pihak prinsipal dan agen. independensi serta kesetaraan dan kewajaran. Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada asas transparansi. akuntabilitas. 6. 3. anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakannya dilandasi oleh nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. 5. yaitu Dewan Komisaris. 2. Mendorong pemegang saham. Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing organ perusahaan. sehingga meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat mendorong arus investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan.

2. GCG dapat membantu perusahaan dan perekonomian nasional. 4. Membangun manajemen dan Corporate Board dalam pemantauan penggunaan asset perusahaan. 3. dalam hal ini menarik modal investor dengan biaya yang lebih rendah melalui perbaikan kepercayaan investor dan kreditur domestik maupun internasional. Dengan melaksanakan Corporate Governance. antara lain : 1. serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholder. hukum. meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. 2010) ada lima manfaat yang dapat diperoleh perusahaan yang menerapkan Good Corporate Governance yaitu : 1. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik. . 5. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah dan tidak rigid (karena faktor kepercayaan) yang pada akhirnya akan meningkatkancorporate value. Mengurangi korupsi. 2. Membantu pengelolaan perusahaan dalam memastikan/menjamin bahwa perusahaan telah taat pada ketentuan. dan peraturan. menurut Forum of Corporate Governance in Indonesia (FCGI) ada beberapa manfaat yang diperoleh. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Menurut (Hery dalam Tadikapury. 4. yang pada gilirannya akan turut membantu terciptanya pertumbuhan atau perkembangan ekonomi nasional. GCG secara tidak langsung akan dapat mendorong pemanfaatan sumber daya perusahaan ke arah yang lebih efektif dan efisien. Pemegang saham akan puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan shareholder Value dan deviden. 3.

Related Interests