BLOK MEDICAL EMERGENCY

SELF LEARNING REPORT
CASE STUDY 3
AVULSI DAN DISLOKASI TEMPOROMANDIBULAR JOINT (TMJ)

DOSEN PEMBIMBING:

DISUSUN OLEH:
CITRA VEONY FINASTIKA
G1G012034

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO

2016

Trauma dapat terjadi melalui beberapa hal antara lain kecelakaan lalu lintas. b. dan bagaimana riwayat terjadinya avulsi.. Kondisi ini dapat dilihat secara klinik dan foto rontgen. AVULSI 1. kelas II divisi 1 atau overjet lebih dari 3 mm. yaitu trauma langsung dan tidak langsung. seperti malokusi kelas I tipe 2. anak dengan cerebral palsy. mual atau muntah sejak cedera. kecelakaan kerja. kecelakaan olahraga. 2012). tindakan kriminal. 2. dan kekerasan terhadap anak Faktor predisposisi terjadinya fraktur dentoalveolar yang dapat menyebabkan avulsi pada gigi anterior yaitu posisi dan keadaan gigi. dimana. 2002. trauma didefinisikan sebagai kerusakan atau luka yang biasanya disebabkan oleh tindakan-tindakan fisik berupa berkontak dengan kerasnya terhadap suatu benda sehingga menyebabkan terputusnya kontinuitas normal suatu struktur. Menurut Riyanti (2010). Trauma langsung terjadi apabila benturan langsung mengenai gigi. hypoplasia email. dan evaluasi neurologis (neurological evaluation) (McCafferty dan O’Connell. terjatuh. tanda-tanda tetanus. trauma dapat terjadi saat bermain. riwayat kesehatan (medical history). parestesia. Pemeriksaan ekstraoral (extraoral examination) Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya memar. Definisi dan Etiologi Avulsi Avulsi adalah kondisi keluarnya gigi dari soket akibat trauma (Harty dan Ogston. dan perkelahian. adanya penyakit yang dapat mempengaruhi perawatan. AVULSI DAN DISLOKASI TEMPOROMANDIBULAR JOINT (TMJ) A. Pemeriksaan gigi (dental examination) Pemeriksaan ini untuk mengetahui kondisi perkembangan akar apakah sudah terbentuk sempurna. Riyanti (2010) menyatakan penyebab utama avulsi adalah adanya trauma dentoalveolar yang terdiri dua jenis. sedangkan trauma tidak langsung terjadi apabila benturan mengenai bagian rahang yang selanjutnya menyebabkan gigi pada rahang tersebut membentur gigi antagonisnya dan terjadi fraktur. sakit kepala. Apabila terdapat fraktur wajah dapat dilakukan rujukan untuk melakukan bedah maksilofasial (McCafferty dan O’Connell. dan media penyimpanan gigi 2 . dan anak dengan kebiasaan mengisap ibu jari (Cameron dan Widmer. Pada anak-anak. 2003). gigi yang berdekatan dengan gigi yang cedera. 2012). dan riwayat cedera pada rongga mulut. riwayat rawat inap. 2012). atau bengkak pada wajah yang mengindikasikan terjadinya fraktur wajah. Riwayat kejadian (history) mencakup kapan. Pemeriksaan avulsi meliputi (Trope. Riwayat kesehatan (medical history) mencakup adanya alergi terhadap obat- obatan. Pemeriksaan Avulsi Pemeriksaan avulsi terdiri dari beberapa aspek antara lain riwayat kejadian ( history). 2012): a. McCafferty dan O’Connell. Evaluasi neurologis (neurological evaluation) diperlukan segera apabila diketahui pasien hilang kesadaran.

2) Susu dapat digunakan untuk menjaga vitalitas ligamen periodontal selular manusia. 2002). yang avulsi apakah sudah disimpan dilarutan yang tepat atau belum (McCafferty dan O’Connell. 2002). Faktor pertimbangan lain meliputi alasan untuk mempertahankan ligamen periodontal berdasarkan kontaminasi permukaan gigi dan berapa lama waktu gigi di luar mulut yang akan menentukan prognosis (McCafferty dan O’Connell. namun tidak memiliki kandungan nutrisi seperti magnesium. Penggunaan lebih dari 1 jam dapat merusak sel-sel ligamen periodontal karena saliva normalnya mengandung mikroorganisme. Media penyimpanan Gigi avulsi sebaiknya dilakukan replantasi segera pada saat kejadian untuk meningkatkan penyembuhan. perlu diperiksa dinding soket untuk mengetahui kemungkinan terjadi abses atau kolaps (Trope. 2010). 2012). karena memliki pH dan osmolalitas yang kompatibel dengan sel dari ligamen periodontal. Pemeriksaan radiografis Pemeriksaan radiografis penting dilakukan untuk mengetahui adanya fraktur tulang alveolar ataupun rahang. selain itu untuk mengetahui adanya kondisi patologis jaringan lunak di sekitar soket atau tempat lainnya akibat trauma (Trope. 3 . Apabila gumpalan darah dan debris sudah hilang. Pertimbangan biologis dan pertimbangan lainnya Pertimbangan biologis meliputi kondisi ligamen periodontal dan jaringan pulpa yang dapat diketahui dari banyaknya paparan udara. Pemeriksaan soket dan tulang alveolar Pemeriksaan ini untuk mengetahui kondisi soket apakah masih memungkinkan untuk dilakukan replantasi atau tidak.4 pada suhu kamar. Beberapa media penyimpanan yang dapat digunakan diantaranya (Arrizza dan Ramadhan. kalsium dan glukosa yang diperlukan untuk oleh sel-sel ligamen periodontal 4) Saliva dapat digunakan dalam waktu singkat. d. e. f. 2012) c. Cara melakukan pemeriksaannya yaitu dengan menekan pada permukaan fasial dan palatal soket kemudian dibersihkan dengan larutan salin. dan iritan. 1) Viaspan yaitu cairan yang digunakan untuk mengawetkan organ-organ yang akan ditransplantasikan. bakteri. 3) Larutan salin yang memiliki osmolalitas 280 mOsm/kg bersifat kompatibel. Cairan ini memiliki osmolalitas 320 mOsm/kg yang memungkinkan pertumbuhan sel dengan baik memiliki pH sekitar 7.

terdapat fraktur akar. Keberhasilan dapat dicapai apabila reposisi dilakukan dalam waktu kurang dari 30 menit (golden time). dan gigi berada diluar soket dalam waktu kurang dari 2 jam saat dilakukan perawatan. Keberhasilan replantasi tergantung lamanya waktu gigi berada di luar mulut dan kondisi ekstraoral sebelum replantasi. riwayat penyakit sistemik (kelainan jantung. Oleh karena itu. dukungan tulang tidak adekuat. serta luka kompleks pada soket gigi yang memungkinkan terjadinya invasi bakteri dan menimbulkan infeksi akut apabila tidak dilakukan debridemen yang adekuat. mengikis atau menggosok akar gigi. serta reposisi yang dilakukan pada gigi yang berada diluar soket dalam waktu lebih dari 2 jam yang memungkinkan gigi telah mengalami resorpsi pada akar sehingga gigi menjadi non vital. immunokompresi). adanya resorpsi tulang alveolar. 4. Kegawatdaruratan Avulsi Avulsi dapat menyebabkan kondisi kegawatdaruratan antara lain adanya gigi yang tertelan yang dapat menyebabkan hambatan jalan nafas. terdapat soket alveolar sebagai tempat reposisi gigi. jumlah sel ligamen periodontal dapat bertahan selama 2 jam. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain apabila replantasi tidak dapat dilakukan segera maka gigi avulsi perlu disimpan dalam media penyimpanan untuk melindungi viabilitas sel-sel permukaan akar dan hindari untuk memegang. a. 5. gigi yang terlalu lama berada diluar soket. apabila gigi terkontaminasi dengan tanah atau kotoran maka cuci mahkota dan akar gigi menggunakan air kran yang mengalir atau salin dalam syringe. yaitu sebagai berikut. khususnya untuk mengurangi jumlah bakteri stafilokokus dan streptokokus yang bersifat patogen pada kulit atau mukosa daerah yang mengalami perlukaan (Pedersen. Indikasi Reposisi gigi diindikasikan apabila keadaan tulang alveolar baik. 2010). Perlakuan terhadap gigi yang avulsi yang benar yaitu gigi dipegang pada bagian mahkota dengan hati-hati. namun 4 .3. b. Kontra indikasi Kontra indikasi reposisi gigi yaitu pada gigi permanen dengan foramen apikal yang sudah menyempit. Indikasi dan Kontra Indikasi Reposisi Gigi Penatalaksanaan avulsi gigi yaitu dengan replantasi (reposisi) gigi (Arrizza dan Ramadhan. Menurut Arrizza dan Ramadhan (2010) apabila berada di luar soket gigi setelah terjadi trauma. 1996). Prosedur Reposisi Replantasi merupakan perawatan terbaik pada kasus gigi avulsi yaitu dengan memasukkan kembali gigi yang telah terlepas ke dalam soket gigi (replantasi) dengan segera setelah terjadinya cedera. media penyimpanan diperlukan untuk menjaga vitalitas sel ligamen periodontal sebelum dilakukan penanaman kembali pada soket gigi. diabetes melitus. Terdapat beberapa hal yang menjadi indikasi dan kontra indikasi reposisi gigi saat avulsi.

Instruksikan pasien untuk diet lunak sementara waktu. Instruksikan pasien melakukan rontgen untuk melihat kemungkinan adanya fraktur pada soket gigi b. j. Instruksikan pasien untuk menggigit kassa hingga gigi kembali pada oklusinya g. Pemberian suntikan tetanus dapat dilakukan apabila suntikan dilakukan lebih dari 5 tahun yang lalu. Bersihkan debris dan serpihan jaringan lunak yang menempel pada permukaan akar c. Gigi avulsi direndam dalam salin fisiologis b. Ambil gigi avulsi dengan tang cabut pada mahkotanya.tidak diperbolehkan pemberian medikamentosa dan disinfektan pada permukaan akar karena dapat menyebabkan kerusakan jaringan periodontal (Arrizza dan Ramadhan. Irigasi soket dengan salin e. Gigi dimasukkan kembali dalam soket menggunakan tang dan tekan dengan tekanan ringan menggunakan jari. Lakukan suturasi pada laserasi jaringan lunak terutama bagian servikal h. Apabila masuh terdapat debris dapat dibersihkan dengan kassa yang dibasahi salin f. Rendam gigi dalam larutan natrium fluoride 2. 1999) adalah sebagai berikut. Pemberian medikamentosa berupa antibiotik untuk infeksi mulut ringan hingga sedang dan analgesik ringan. Prosedur reposisi gigi avulsi yang berada di luar soket gigi dalam waktu 2 jam (Richard dan Mahmoud. 2010). yaitu: a. Periksa soket gigi serta angkat fragmen tulang bila aveolarnya menutup menggunakan instrumen dengan hati-hati d. 1999). a. Splinting gigi selama 1-2 minggu untuk stabilisasi i. Pasien diinstruksikan melakukan rontgen untuk mengetahui adanya fraktur alveolar c. Sedangkan prosedur reposisi gigi avulsi yang berada di luar soket gigi lebih dari 2 jam (Richard dan Mahmoud.4% pH hingga 5.5 selama 5-20 menit. apabila gigi telah disimpan dalam media fisiologis maka Perendaman tidak diperlukan 5 .

B. Hal ini yang membedakan dengan subluksasi dimana pasien dapat mengembalikan kondilus ke dalam fosa secara normal. Gigi dipegang dengan kain yang dibasahi cairan fluor. serta kronis yang bersifat rekuren yang dikenal dengan dislokasi habitual. dan superior. Masukkan gigi ke dalam soket dengan hati-hati pada letak dan oklusi yang tepat g. Definisi dan Etiologi Dislokasi TMJ Dislokasi didefinisikan sebagai pergerakan kondilus ke arah depan dari eminensia artikulare yang memerlukan beberapa bentuk manipulasi untuk mereduksinya. Instruksikan pasien untuk kontrol berkala setelah 2 minggu. posterior. 6 . Menurut Gazali dan Kasim (2004). Splinting gigi selama 3-6 minggu h. lateral. Dislokasi ke arah posterior terjadi apabila terdapat fraktur basis cranii atau di depan tulang meatus. Dislokasi ke arah superior merupakan dislokasi ke arah fosa kranialis bagian tengah yang biasanya berhubungan dengan fraktur pada fosa glenoidalis (Gazali dan Kasim. dibentuk lalu diisi e. d. merupakan bentuk dislokasi yang paling sering terjadi dan patologis. Dislokasi dapat terjadi satu sisi (unilateral) maupun dua sisi (bilateral) dan dapat bersifat akut atau emergency. etiologi dislokasi antara lain pasien yang memiliki fosa mandibular dangkal serta kondilus yang tidak berkembang dengan baik. Dislokasi ke arah lateral dibagi menjadi dua divisi yaitu divisi 1 yang merupakan subluksasi lateral dan divisi 2 yang merupakan keadaan dimana kondilus tertekan ke lateral dan masuk ke fosa temporal. dibersihan. Dislokasi mandibular dapat diklasifikasikan menjadi empat macam. tidak adanya keluhan spontan dari pasien. dan perkusi cenderung berkurang (Pedersen. Dislokasi mandibula merupakan suatu gangguan yang sering terjadi pada praktik kedokteran gigi (Gazali dan Kasim. 1996). kronis atau long standing. Dislokasi ke arah anterior terjadi apabila kondilus bergerak ke anterior dari eminensia artikulare. 2004). Hasil reposisi yang baik diindikasikan dengan hilangnya mobilitas gigi. Anastesi pada daerah soket lalu ambil bekuan darah dengan hati-hati dan diirigasi salin f. Lalu dilakukan tindakan ekstirpasi pulpa gigi. DISLOKASI TMJ 1. anatomi abnormal serta kerusakan stabilisasi ligamen yang akan memiliki kecenderungan rekuren. membuka mulut terlalu lebar atau lama. dan diskoordinasi otot-otot karena pemakaian obat-obatan atau gangguan neurologis. yaitu dislokasi ke arah anterior. riwayat trauma mandibular yang biasanya disertai multiple trauma. warna gingiva normal. kelemahan kapsuler yang berhubungan dengan subluksasi kronis. 2004).

dan dislokasi terjadi bilateral atau unilateral (Gazali dan Kasim. 2004). serta adanya spasme otot masseter.2. Pemeriksaan Obyektif Pemeriksaan fisik dilakukan tergantung pada lamanya dislokasi. 2004). Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk membantu penegakan diagnosa dislokasi TMJ. gigi-gigi tidak dapat dioklusikan secara aktif atau pasif. c. 2004): 1) Foto rontgen konvensional mandibula. lunak saat ditekan pada kedua sisi TMJ. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan subyektif. dan gigi-gigi tidak dapat dioklusikan baik secara aktif maupun pasif (Gazali dan Kasim. dan penunjang yang menunjukkan adanya dislokasi mandibular. Pada kondisi yang disertai fraktur basis kondilus. obyektif. Pemeriksaan penunjang dapat berupa (Gazali dan Kasim. 2) Foto rontgen panoramik. 2) Dislokasi Bilateral Ditandai dengan keterlibatan kedua kondilus mandibula. pasien terlihat prognati. dan penunjang (Gazali dan Kasim. lunak jika ditekan pada area di sekitar TMJ. 1) Dislokasi Unilateral Ditandai dengan mandibula miring dan pada bagian yang terkena mengalami perubahan posisi yaitu lebih ke bawah. Pemeriksaan Subyektif Anamnesa dilakukan untuk mengetahui adanya keluhan pada TMJ yang meliputi rasa ketidaknyamanan pasien saat membuka mulut yang lebar yang biasanya bersamaan dengan ketidakmampuan untuk menutup mulut dan adanya rasa sakit. bersamaan terjadinya dengan suatu fraktur atau tidak. dan menentukan apakah dislokasi ini merupakan jenis akut dan terjadi insidentil atau kronis yang terlambat dilakukan reposisi. 2004). Dari gambaran bilateral oblique dapat terlihat posisi kondilus berada di anterior eminensia artikulare. serta riwayat keluhan yang sama pada waktu sebelumnya yang mengindikasikan diskolasi rekuren (Gazali dan Kasim. terdapat pembengkakan bilateral. Dislokasi rekuren yang 7 . 2004). biasanya terjadi pembengkakan. MRI khusus digunakan untuk melihat kelainan struktur TMJ pada kasus adanya rasa sakit kronis pada rahang yang berkaitan dengan sindroma TMJ. Foto ini merupakan rontgen yang paling akurat dalam mendeteksi dan mengenali fraktur mandibula dan letak dislokasi 3) CT scan dan MRI. 2004). a. CT scan dan MRI dapat menunjukkan dislokasi. b. riwayat trauma atau benturan pada rahang yang bisa mengakibatkan perubahan posisi kondilus. namun tidak diindikasikan pada kasus dislokasi sederhana. Pemeriksaan Dislokasi TMJ Pemeriksaan pada kasus dislokasi TMJ terdiri dari pemeriksaan subyektif. akan menyebabkan mandibula meluncur ke depan dan menimbulkan rasa sakit yang lebih hebat dibanding pada dislokasi biasa (Gazali dan Kasim. obyektif.

Nyeri myofascial akut (acute myofasial pain) Ditandai dengan onset akut dengan rasa sakit yang menyebar di otot-otot wajah. dapat unilateral atau bilateral. nyeri menyebar. kemudian kompres hangat 6-8 kali perhari. kompres hangat 6-8 kali per hari. pemberian agen anti inflamasi. Penatalaksanaan dilakukan dengan reposisi mandibula. dan sering berhubungan dengan stres akut. dan observasi untuk perbaikan. Pada keadaan akut yang masih mungkin dilakukan reposisi secara manual sebaiknya 8 . Diagnosa dilakukan dengan mempertimbangkan adanya maloklusi berupa gigitan terbuka pada sisi yang terkena secara akut.seing terjadi dengan frekuensi cukup tinggi akan berbeda penatalaksanaanya dengan dislokasi akut atau kronis (long standing). Penatalaksanaan meliptui diet lunak. serta pertimbangan pemberian 1-1. Diagnosa dilakukan dengan memperhatikan tidak adanya bukti patologi pada pemeriksaan radiografi. Kegawatdaruratan Dislokasi TMJ Dislokasi TMJ dapat menimbulkan kondisi kegawatdaruratan (Greenwood dan Corbett. serta mungkin tidak menimbulkan rasa sakit. pengurangan stres. yaitu jenis akut atau kronis. dan tidak adanya fraktur pada radiografi. memiliki riwayat kekambuhan kronis. Penatalaksanaan dan Terapi Dislokasi TMJ Penatalaksanaan dislokasi TMJ tergantung pada kejadian dislokasi. Penatalaksaan dilakukan dengan pemberian agen anti inflamasi (misalnya ibuprofen 600 mg). nyeri sendi akut. Trauma Hemartrosis Ditandai dengan adanya keterbatasan pembukaan mandibular. pemberian muscle relaxan (misalnya diazepam 5 mg). diet lunak non kenyal. dan keluhan menggigit menjadi salah. Pemeriksaan dapat memperhatikan beberapa hal yaitu adanya gigitan terbuka pada anterior yang mungkin asimetris apabila terjadi unilateral dan pada radiodrafi panoramic atau obliq lateral mandibula menunjukkan kondilus secara signifikan terletak lebih anterior dan superior daripada eminensia artikulare. dan adanya deviasi mandibula pada saat pembukaan. nyeri pada palpasi otot mastikasi. Dislokasi kondilus akut (acute condylar dislocation) Ditandai dengan ketidakmampuan mendadak untuk menutup mulut akibat membuka mulut lebar. b.5 cc lidokain tanpa vasokonstriktor yang diinjeksikan pada daerah pemicu. 4. 2012) antara lain a. 3. leher dan kepala. terdapat peningkatan ruang artikular pada radiografi. gerakan mandibula terbatas. menguap atau trauma. pembengkakan di daerah sendi. c. kesulitan makan. kompres dengan es pada daerah selama 24 jam pertama.

Pada dislokasi kronis rekuren diperlukan prosedur pembedahan dan non bedah lainnya untuk menghindari redislokasi (Gazali dan Kasim. Muscle relaxan dapat diberikan dengan injeksi intra vena diazepam untuk merelaksasikan otot-otot yang spasme dan apabila diperlukan relaksasi yang luas maka dapat diberikan narkose umum (Gazali dan Kasim. 2004). lalu mandibula ditekan ke arah kaudal (bawah) dan biasanya akan tertarik dengan sendirinya ke posterior. Tahapan prosedur ini adalah sebagai berikut (Gazali dan Kasim. Berikan tekanan pada gigi molar rahang bawah untuk membebaskan kondilus dari posisi terkunci di depan eminensia artikulare d. Apabila reposisi terlambat dilakukan dan menyebabkan spasme otot bertambah kuat. Terapi pada kasus dislokasi rekuren dapat dilakukan secara konservatif yaitu dengan imobilisasi menggunakan interdental wiring selama 4-6 minggu atau menggunakan cairan sklerosing intra articular. Pengencangan mekanis dari kapsul 9 . 2004). Penatalaksanaan pembedahan pada kasus ini dilakukan dengan mengikuti metode dasar bedah yaitu. Teknik ini lebih efektif apabila disertai pemberian sedasi (Gazali dan Kasim. Reposisi berhasil apabila gigi-gigi dapat beroklusi dengan cepat f. Dorong mandibular ke belakang untuk mengembalikan ke posisi anatomisnya e. a. 1994 dalam (Gazali dan Kasim. a. serta rasa sakit pada daerah sekitar kapsula sendi. kemudian ibu jari diletakkan pada retromolar pad dan jari-jari lain memegang mandibular bagian depan.dilakukan sesegera mungkin sebelum spasme otot berkembang lebih berat. 2004). Pemasangan Barton head bandage untuk mencegah redislokasi dan membatasi pasien untuk tidak membuka mulut terlalu lebar dalam waktu 24-48 jam g. 2004). Operator berada di depan pasien b. 2004). Pemberian obat analgesik dan muscle relaxan apabila diperlukan. Letakkan ibu jari pada daerah retromolar pad (di belakang gigi molar terakhir) pada kedua sisi mandibula dan jari-jari yang lain memegang permukaan bawah dari mandibula c. Reduksi tidak langsung dengan penarikan melalui sudut. operator harus melindungi jari-jarinya dari gigitan pasien yang dapat terjadi secara tiba-tiba dengan cara membungkus kedua ibu jari dengan kasa. Saat melakukan reposisi. serta dengan penekanan kondilus c. apabila tidak dapat dilakukan penarikan ke arah posterior. sigmoid notch. a. Prosedur manual yang lain yaitu operator berdiri di belakang pasien. Terapi untuk kasus dislokasi lama ( long standing) atau terlambat penatalaksanaanya adalah sebagai berikut (Bradley dkk. Reduksi langsung melalui pembedahan sendi d. atau prosesus koronoideus. Reduksi manual b. Condylectomy dan osteotomy. dapat diberikan anastesi lokal pada daerah sendi untuk mengurangi spasme otot pterygoideus lateralis dan masseter. Prosedur manual reposisi yang dicetuskan oleh Hippocrates pada abad ke 5 SM masih digunakan hingga kini.

McCafferty.. Wiley Blackwell. EGC. 2002. dan Ogston. 2003. A. Kamus Kedokteran Gigi. G.W. F. 18: 1-11. 2010. Cameron. Edisi Khusus KOMIT KG: 119-124. Bandung. M. 2012. Widmer. Buku Ajar Praktis (Bedah Mulut).. Ramadhan. Jakarta. 2003. R. P.. 1999. Handbook of Pediatric Dentistry. M. J. Universitas Padjajaran. Clinical Management of The Avulsed Tooth: Present Strategies and Future Direction.W. Membuat hambatan mekanis pada jalur kondilus d. Jurnal Kedokteran Gigi. Trope. 17 (3) : 74-79. 57(6): 319-322. Coconut Water ( Cocos Nucifera) as Strorage Media for the Avulsed Tooth. DAFTAR PUSTAKA Arrizza. 2010.. A. 1995. Treatment of The Avulsed Anterior Tooth. Dental Emergencies. M. Gazali... Penatalaksanaan Trauma Gigi pada Anak . b. O’Connell.F.. Harty. Edisi 2. Riyanti. 10 . Richard. Mengurangi tekanan otot Jika dislokasi diakibatkan trauma maka reposisi harus diikuti dengan tindakan penatalaksanaan fraktur. dan Mahmoud.C. Mosby. A. A.. Philadelphia. Journal of The Irish Association. Jakarta. Jakarta. EGC. Mengurangi gangguan pada jalur kondilus e. Corbett. Pedersen. E. A. 1996. Semua tindakan bedah dan/ atau dengan adanya riwayat trauma sebaiknya dirujuk ke ahli bedah mulut.. EGC.. T. R. Journal of Dentistry Indonesia. M dan Kasim. Edisi 1. J. Journal Dental Traumatology.. Dislokasi Mandibula ke Arah Anterior. E. Mengikat bagian sendiri atau mandibula ke struktur yang terfiksasi c. 2nd edition ... 2012. I. Greenwood. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsi...

11 .