MIOMA UTERI

Pembimbing :
dr. Taufik Mahdi SpOG.

Penyusun:

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR
DEPARTEMEN OBSTETRIK DAN GINEKOLOGI
RUMAH SAKIT TINGKAT II
PUTRI HIJAU KESDAM I/BB
MEDAN
2017

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat TuhanYang Maha Esa

karena berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah

yang berjudul “MIOMA UTERI” Adapun makalah ini dibuat untuk

memenuhi syarat Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Fakultas

Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara dan Universitas Methodist

Indonesia yang dilaksanakan di RS Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada dr. Taufik Mahdi SpOG.

yang telah membimbing dalam penyelesaian makalah ini serta

pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu dalam penyusunan

makalah ini.

Akhir kata bila ada kekurangan dalam pembuatan makalah ini kami

mohon kritik dan saran yang bersifat membangun menuju kesempurnaan dengan

berharap makalah ini bermanfaat bagi pembacanya.

Medan, Juni 2017
Hormat Saya,

Penulis

i

i DAFTAR ISI ..................................................... 6 E..... 5 D...................................................................................................................................... Manifestasi Klinis ............ ii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................................................... 3 A............................................................................. 7 F......................................................................... 14 ii ..................... Komplikasi .................................................................................................... 7 G........................ DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....... 3 B............. Penatalaksanaan ............................................ Etiologi ........................ 2 BAB II PEMBAHASAN .................................................. 1 A................................. 11 BAB III PENUTUP ....... 12 DAFTAR PUSTAKA ............................................... 8 H............................................... Pathway .................................... Pemeriksaan Penunjang ........................................................................................................... Tujuan .......... Latar Belakang ............................................................................................. Rumusan Masalah .......................................................... 2 C...................................................................... Pengertian ............................................................................................... 1 B................................................ Patofisiologi .......................... 3 C..........

Mioma uteri belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarche.39%-11. dan nyeri akibat penekanan massa tumor. pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak.04% (Bagian Obgin RSUD Arifin Achmad. abortus berulang. Berdasarkan otopsi. 2005). 2004). 2005).7% pada semua penderita ginekologi yang dirawat (Saifuddin. 1 . Setelah menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih bertumbuh. mioma uteri ditemukan 2. Sampai saat ini penyebab pasti mioma uteri belum dapat diketahui secara pasti. Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma. 1999).39%-11. Di Indonesia mioma uteri ditemukan 2. Berdasarkan data dari ruang rawat inap Camar III (Penyakit Kandungan) RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau pada tahun 2004.30%. Latar Belakang Kasus mioma uteri sering terjadi di masyarakat. 2005). sebelumnya di tahun 1974 di Surabaya penelitian yang dilakukan oleh Susilo Raharjo angka kejadian mioma uteri sebesar 11. terutama perdarahan menstruasi yang berlebihan.70% pada semua penderita ginekologi yang dirawat (Joedosaputro. Diperkirakan hanya 20%-50% yang menimbulkan gejala klinik. Menurut penelitian yang di lakukan Karel Tangkudung (1977) di Surabaya angka kejadian mioma uteri adalah sebesar 10. namun dari hasil penelitian diketahui bahwa pertumbuhan dan perkembangan mioma uteri distimulasi oleh hormon esterogen dan siklus hormonal (Djuwantono. Penelitian Ran Ok et-al (2007) di Pusan Saint Benedict Hospital Korea menemukan 17% kasus mioma uteri dari 4784 kasus-kasus bedah ginekologi yang diteliti. Sebagian besar kasus mioma uteri adalah tanpa gejala. Di Indonesia. mioma uteri menempati urutan ke lima dari sepuluh penyakit Ginekologi terbanyak yaitu sebesar 7.87% dari semua penderita ginekologi yang dirawat (Yuad. BAB I PENDAHULUAN A. sehingga kebanyakan penderita tidak menyadari adanya kelainan pada uterusnya. infertilitas.

mioma uteri juga menempati urutan ke lima dari sepuluh penyakit ginekologi terbanyak yaitu sebesar 8. 2006). 2 .Sedangkan pada tahun 2005.03% (Bagian Obgin RSUD Arifin Achmad.

yaitu: 1. Selain itu memiliki kapsul. B. terbentuk dari otot polos yang imatur dan elemen jaringan penyambung fibrosa sehingga dapat disebut juga leiomioma. menurut Muzakir (2008) faktor risiko yang menyebabkan mioma uteri adalah: 3 . Selain teori tersebut. 2002). (Pierce. 2005). 2007). Mioma uteri biasanya mengalami atrofi sesudah menopause d. faktor-faktor penyebab mioma uteri belum diketahui. atau fibroid (Wiknjosastro. (Mansjoer. Teori Stimulasi Berpendapat bahwa estrogen sebagai faktor etiologi dengan alasan : a. Hiperplasia endometrium sering ditemukan bersama dengan mioma uteri 2. Etiologi Menurut Manuaba (2007). namun ada 2 teori yang menjelaskan faktor penyebab mioma uteri. BAB II PEMBAHASAN A. 2005). Saifuddin (1999). (Taber. Neoplasma ini tidak pernah ditemukan sebelum menarche c. Mioma uteri sering kali tumbuh lebih cepat pada masa hamil b. (Thomas. 1992). fibromioma. ( Manuaba. 1994). Teori Cell nest atau Genitoblas Terjadinya mioma uteri tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada cell nest yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh estrogen. Pengertian Mioma uteri adalah neoplasma yang berasal dari otot uterus (tumor jinak uterus yang berbatas tegas) dan jaringan ikat yang menumpangnya sehingga berbentuk padat karena jaringan ikatnya dominan dan lunak serta otot rahimnya dominan.

Usia penderita Mioma uteri ditemukan sekitar 20% pada wanita usia reproduksi dan sekitar 40%-50% pada wanita usia di atas 40 tahun. Sedangkan pada wanita menopause mioma uteri ditemukan sebesar 10%. 2005). 2007). diterangkan bahwa hormon esterogen endogen pada wanita-wanita menopause pada level yang rendah/sedikit (Parker. Mioma uteri jarang ditemukan sebelum menarche (sebelum mendapatkan haid). 4. Hormon endogen (Endogenous Hormonal) Mioma uteri sangat sedikit ditemukan pada spesimen yang diambil dari hasil histerektomi wanita yang telah menopause. 3. Indeks Massa Tubuh (IMT) Obesitas juga berperan dalam terjadinya mioma uteri. Hal ini mungkin berhubungan dengan konversi hormon androgen menjadi esterogen oleh enzim aromatease di jaringan lemak (Djuwantono.5 kali kemungkinan untuk menderita mioma dibandingkan dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri. 5. Hasilnya terjadi peningkatan jumlah esterogen tubuh yang mampu meningkatkan pprevalensi mioma uteri (Parker.1. Otubu et al menemukan bahwa konsentrasi estrogen pada jaringan mioma uteri lebih tinggi dibandingkan jaringan miometrium normal terutama pada fase proliferasi dari siklus menstruasi (Djuwantono. 2005). Riwayat Keluarga Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri mempunyai 2. 2. Dilaporkan bahwa daging sapi. daging setengah matang (red meat). Penderita mioma yang mempunyai riwayat keluarga penderita mioma mempunyai 2 (dua) kali lipat kekuatan ekspresi dari VEGF-α (a myoma- related growth factor) dibandingkan dengan penderita mioma yang tidak mempunyai riwayat keluarga penderita mioma uteri (Parker. Makanan Beberapa penelitian menerangkan hubungan antara makanan dengan prevalensi atau pertumbuhan mioma uteri. 2007). dan daging babi menigkatkan insiden mioma uteri. 2007). namun sayuran hijau menurunkan insiden mioma 4 .

intramural. Diterangkan dengan penurunan bioaviabilitas esterogen dan penurunan konversi androgen menjadi estrogen dengan penghambatan enzim aromatase oleh nikotin. 2. dapat terjadi jika : a. 2007). Manifestasi Klinis Faktor-faktor yang menimbulkan gejala klinis ada 3. 2. Rasa nyeri pada pinggang dan perut bagian bawah. Faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu telah meluasnya permukaan endometrium dan gangguan dalam kontraktibilitas miometrium (Manuaba. yaitu : 1. Gejala-gejala yang timbul tergantung dari lokasi mioma uteri (cervikal. menometroragia dan metroragia. Paritas Mioma uteri lebih banyak terjadi pada wanita dengan multipara dibandingkan dengan wanita yang mempunyai riwayat frekuensi melahirkan 1 (satu) atau 2 (dua) kali. submucous). Kebiasaan merokok Merokok dapat mengurangi insiden mioma uteri. C. 3. Mioma submukosum sedang dikeluarkan dari rongga rahim 5 . digolongkan sebagai berikut : 1. 8. 7. Perdarahan abnormal Perdarahan abnormal yaitu menoragia. 1998). serat atau phytoestrogen berhubungan dengan mioma uteri (Parker. Perdarahan sering bersifat hipermenore dan mekanisme perdarahan tidak diketahui benar. Lokalisasi mioma uteri. Besarnya mioma uteri. Kehamilan Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar esterogen dalam kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus kemungkinan dapat mempercepat terjadinya pembesaran mioma uteri (Manuaba. 2007). Mioma menyempitkan kanalis servikalis b. Tidak diketahui dengan pasti apakah vitamin. uteri. 6. Perubahan pada mioma uteri.

Tekanan bisa terjadi pada traktus urinarius. Terjadi degenerasi merah 3. Gejala sekunder Gejala sekunder yang muncul ialah anemia karena perdarahan. Tanda-tanda penekanan/pendesakan Terdapat tanda-tanda penekanan tergantung dari besar dan lokasi mioma uteri. Abortus Abortus menyebabkan terjadinya gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim melalui plasenta. D. dan pada pembuluh-pembuluh darah. c. Infertilitas Infertilitas bisa terajadi jika mioma intramural menutup atau menekan pors interstisialis tubae. uremia. 6. Patofisiologi Etiologi Teori Stimulasi Teori Cellnest Stimulasi Estroen sel-sel otot imatur proliferasi di uterus Pemberian estrogen Hiperplasia endometrium tumor fibromatosa Mioma Uteri Mioma Uteri 6 . ooforitis d. pada usus. Akibat tekanan terhadap kandung kencing ialah distorsi dengan gangguan miksi dan terhadap ureter bisa menyebabkan hidro uretre. seperti adneksitis. salpingitis. Adanya penyakit adneks. desakan ureter sehingga menimbulkan gangguan fungsi ginjal. 5. 4.

Mengurangi kemungkinan wanita menjadi hamil. Komplikasi Manuaba (2007) berpendapat bahwa mioma uteri dapat berdampak pada kehamilan dan persalinan. Pathway Mioma uteri Pre operasi Post operasi Peningkatan Perlawanan pd Puasa masa Luka neoplasma praoperasi pembedahan Pembesaran Pertahanan tubuh Membran uterus tidak adekuat mukosa kering perdarahan Penyempitan Risiko infeksi anorexia saraf simpatis Kerusakan Kurang jaringan s. 2. E. terutama pada mioma uteri submukosum. yaitu: 1. 7 . Kemungkinan abortus bertambah. saraf pengetahuan Intoleransi dampak operasi nyeri aktivitas nyeri Kerusakan Risiko Kekurangan sensorik & volume cairan kemumpuhan saraf Retensi urin F.

dan mudah terjadi gangguan sirkulasi di dalamnya. dan terbagi atas : 8 . terutama ditengah-tengah tumor. lokasi dan ukuran tumor Penanganan mioma uteri tergantung pada usia. Lebih sering lagi komplikasi ini terjadi dalam masa nifas karena sirkulasi dalam tumor mengurang akibat perubahan-perubahan sirkulasi yang dialami oleh wanita setelah bayi lahir. Inersia uteri dan atonia uteri. Kelainan letak janin dalam rahim. Menurut manuaba (2007). terutama pada mioma yang besar dan letak subserus. terutama pada mioma yang letaknya di serviks. Mioma uteri subserosum yang bertangkai dapat mengalami putaran tangkai akibat desakan uterus yang makin lama makin membesar. dapat berubah bentuk. walaupun dalam hal ini peradangan bersifat suci hama (sterile). G. 5. Penatalaksanaan  Penanganan mioma menurut usia. Menghalang-halangi lahirnya bayi. terutama pada mioma yang letaknya di dalam dinding rahim atau apabila terdapat banyak mioma. paritas. lokasi dan ukuran tumor. Tumor tampak merah (degenerasi merah) atau tampak seperti daging (degenerasio karnosa). yaitu: 1. Setelah kehamilan 4 bulan tumor tidak bertambah besar lagi. paritas. kehamilan dan persalinan juga dapat berdampak pada mioma uteri. 3. Mempersulit lepasnya plasenta. 6. mungkin karena pengaruh hormonal. Tumor bertumbuh lebih cepat dalam kehamilan akibat hipertrofi dan edema. terutama pada mioma yang submukus dan intramural. Perubahan ini menyebabkan rasa nyeri di perut yang disertai gejala-gejala rangsangan peritonium dan gejala-gejala peradangan. terutama dalam bulan-bulan pertama. 4. 2. 3. Torsi menyebabkan gangguan sirkulasi yang nekrosis yang menimbulkan gambaran klinik perut mendadak (acute abdomen). sehingga terjadi perdarahan dan nekrosis. Tumor menjadi lebih lunak dalam kehamilan.

Sebanyak 70% mioma mengalami reduksi dari ukuran uterus telah dilaporkan terjadi dengan cara ini. 6) Infertilitas. Miomektomi Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma tanpa pengangkatan rahim/uterus. Penanganan operatif Intervensi operasi atau pembedahan pada penderita mioma uteri adalah: 1) Perdarahan uterus abnormal yang menyebabkan penderita anemia. menyatakan kemungkinan manfaatnya pada pasien perimenopausal dengan menahan atau mengembalikan pertumbuhan mioma sampai menopause yang sesungguhnya mengambil alih. hal ini akan segera didapatkan dari pemeriksaan klinis yang dilakukan. 7) Meningkatnya pertumbuhan mioma. Suatu studi mendukung miomektomi 9 . 2) Monitor keadaan Hb. 3) Ketidakmampuan untuk mengevaluasi adneksa (biasanya karena mioma berukuran kehamilan 12 minggu atau sebesar tinju dewasa). Jenis operasi yang dilakukan pada mioma uteri dapat berupa : 1. 4) Penggunaan agonis GnRH.a. Akibatnya. Tidak terdapat resiko penggunaan agonis GnRH jangka panjang dan kemungkinan rekurensi mioma setelah terapi dihentikan tetapi. agonis GnRH bekerja dengan menurunkan regulasi gonadotropin yang dihasilkan oleh hipofisis anterior. b. Miomektomi lebih sering di lakukan pada penderita mioma uteri secara umum. fungsi ovarium menghilang dan diciptakan keadaan menopause yang reversibel. Penanganan konservatif. 2) Nyeri pelvis yang hebat. 4) Gangguan buang air kecil (retensi urin). 3) Pemberian zat besi. 5) Pertumbuhan mioma setelah menopause. yaitu dengan cara : 1) Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.

2. 10 . dan pada penderita yang memiliki mioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Penatalaksanaan konservatif selalu lebih disukai apabila janin imatur. Seksio sesarea merupakan indikasi untuk kelahiran apabila mioma uteri menimbulkan kelainan letak janin. Histerektomi dapat dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi. terapi awal yang memadai adalah tirah baring. meliputi perdarahan yang banyak dan bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih dari 8 hari dan anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis. Histerektomi Histerektomi adalah tindakan operatif yang dilakukan untuk mengangkat rahim. dapat dilakukan pada wanita yang masih ingin bereproduksi tetapi belum ada analisa pasti tentang teori ini tetapi penatalaksanaan ini paling disarankan kepada wanita yang belum memiliki keturunan setelah penyebab lain disingkirkan. inersia uteri atau obstruksi mekanik (Taber. 3) Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma uteri meliputi nyeri hebat dan akut.  Penatalaksanaan mioma uteri pada wanita hamil Selama kehamilan. rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis dan penekanan pada vesika urinaria mengakibatkan frekuensi miksi yang sering. 2) Perdarahan uterus berlebihan. analgesia dan observasi terhadap mioma. 1994). baik sebahagian (subtotal) tanpa serviks uteri ataupun seluruhnya (total) berikut serviks uteri. Kriteria menurut American College of Obstetricians Gynecologists (ACOG) dalam Chelmow (2005) untuk histerektomi adalah sebagai berikut : 1) Terdapatnya 1 sampai 3 mioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar dan dikeluhkan oleh pasien. Namun. pada torsi akut atau perdarahan intra abdomen memerlukan interfensi pembedahan.

Mioma uteri secara khas menghasilkan gambaran ultrasonografi yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun pembesaran uterus. yang dapat mempengaruhi tindakan operasi. Lekosit turun/meningkat. Eritrosit turun. Uterus atau massa yang paling besar paling baik diobservasi melalui ultrasonografi transabdominal. ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi. pemeriksaan yang dilakukan pada kasus mioma uteri adalah : 1. tetapi jarang diperlukan. Pada MRI. 6. 3. 5. jika tumornya kecil serta bertangkai. 9. mioma tampak sebagai massa gelap terbatas tegas dan dapat dibedakan dari miometrium yang normal. Albumin turun.ukuran dan lokasi mioma. teraba massa. Ultrasonografi Ultrasonografi transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam menetapkan adanya mioma uteri. termasuk mioma submukosa. Pemeriksaan Penunjang Menurut Mansjoer (2002). Histeroskopi Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat adanya mioma uteri submukosa. 8. Degenerasi kistik ditandai adanya daerah yang hipoekoik.H. USG : terlihat massa pada daerah uterus. konsistensi dan ukurannya. MRI dapat mendeteksi lesi sekecil 3 mm yang dapat dilokalisasi dengan jelas. 11 . 4. Tumor tersebut sekaligus dapat diangkat. Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam. Ultrasonografi transvaginal terutama bermanfaat pada uterus yng kecil. Adanya kalsifikasi ditandai oleh fokus-fokus hiperekoik dengan bayangan akustik. Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb turun. MRI dapat menjadi alternatif ultrasonografi pada kasus -kasus yang tidak dapat disimpulkan. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi. MRI (Magnetic Resonance Imaging) MRI sangat akurat dalam menggambarkan jumlah. 2. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut. 7.

Volume perdarahan 8-10 kali ganti doek per hari. Tahun 2013 Os berobat ke dokter dan di diagnose menderita mioma uteri serta di anjurkan untuk angkat rahim tetapi Os belum mau. Riwayat penyakit terdahulu : Tidak ada Riwayat penggunaan obat : Tidak ada Riwayat penggunaan alat kontrasepsi : Tidak ada Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada Riwayat penyakit alergi : Tidak ada 12 . Binjai KM 7. stole cell (+). pucat (+).5 Komplek Asrama Pamen Tanggal Masuk: 11-06-2017 Anamnese masuk Keluhan utama : Perdarahan pervaginam ± 2 minggu Telaah : Pasien datang dengan keluhan keluar darah dari kemaluan sudah ± 2 unaaminggu SMRS dan memberat dalam 3 hari terakhir. warna hitam seperti lengkong. Os tidak bisa membedakan hari haidnya. dengan perdarahan saat ini. Darah yang keluar bergumpal. yang lalu lemas (+). Sebelumnya Os sudah pernah mengalami keluhan yang sama pada tahun 2009. BAB III LAPORAN KASUS STATUS ORANG SAKIT Anamnesis pribadi Nama : Rumanja Umur : 43 Tahun Agama : Islam Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pendidikan : SMP Alamat : Jl. mioma uteri ± 2 tahun.

Anak 1 : perempuan. • Perkusi : Batas Jantung normal • Auskultasi : Bunyi Jantung normal 13 . Anak 2 : laki-laki. 3. 3 kg. Mata : pupil bulat isokor.2 kg. Thorax  Paru • Inspeksi : gerakan dada simetris • Palpasi : Stem Fremitus kanan = kiri. • Perkusi : sonor seluruh lapangan paru • Auskultasi : vesikuler (+/+). Menikah 1 kali pada usia 20 tahun Riwayat Persalinan : P2A0 . klinik. aterm. ikal . ronkhi (-/-). bidan . klinik. ikterik (-). Wheezing (-/-)  Jantung • Inspeksi : Ictus Cordis tidak terlihat • Palpasi : Ictus Cordis teraba. Mulut : dalam batas normal . normal . spontan. Telinga : tidak tampak kelainan . bidan Pemeriksaan fisik . spontan. anemis (+). rambut hitam.Riwayat Menstruasi  Haid Terakhir : Tidak jelas  Menarche : 12 tahun  Siklus : Teratur. kesan normal. Hidung : dalam batas normal . 28 hari  Lama haid : 5-7 hari  Nyeri haid : -  Menghabiskan pembalut : 3 kali per hari Riwayat Pernikahan : status menikah. Kepala : normocephalic. aterm.

Abdomen • Inspeksi : Peristaltik normal • Palpasi : soepel • Auskultasi : peristaltik (+). . oedem (-/-) • Inferior : Akral dingin (-/-). nyeri tekan (-) 14 . permukaan licin. bekas operasi (-) Palpasi : Teraba massa padat. oedem (-/-) Status present Keadaan umum : Baik Kesakitan anemis : (+) Kesadaran : Compos mentis Tekanan darah : 90/60 mmHg  Berat : 59 kg  Tinggi Badan : 147 cm Ikterik : (-) Dyspnoe : (-) Oedem: (-) Temp : 36.Ekstremitas • Superior : Akral dingin (-/-). mobile pada perut bagian bawah. kesan normal • Perkusi : thympani . kenyal.7° C Status Ginekologi : Abdomen: Inspeksi : Tidak ada tanda-tanda peradangan.

7 mg/dl Glukosa sewaktu 95 < 200 mg/dl Elektrolit : Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan Natrium 138 135 .5 mmol/L Klorida 111 96 – 106 mmol/L HBSAg rapid Non reaktif Non reaktif HIV Non reaktif Non reakrif 15 .5 <5.6 .3 mg/dl SGOT 11 < 31 U/L SGPT 7 < 34 U/L Ureum 16 <50 mg/dl Kreatinin 0.Pemeriksaan penunjang : Darah rutin : Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan Hemoglobin 8.1.14 gr/dl Hematokrit 24.10.7 0.000 150-400.5.5 .43% Leukosit 6.103 µl Kimia klinik: Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan Bilirubin total 0.100 5 .6 3.23 < 0.44 < 1 mg/dl Bilirubin direk 0.4 12 .103 µl Trombosit 235.3 37 .2 mg/dl Asam urat 5.145 mmol/L Kalium 3.

dengan infus dan kateter terpasang baik. Peritoneum di gunting ke atas dan ke bawah. Ligamentum rotundum di klem dan diinsisi dengan electrocauter dan evaluasi 16 . KK terisi baik. Tampak cavum abdomen. Uterus antefleksi Uk: 10. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik. tampak balon kateter. Di bawah spinal anestesi dinding abdomen di bersihkan dengan menggunakan povidon iodine. Fascia di gunting ke kanan dan kiri.1 X 8.9 cm. Di lakukan evaluasi uterus dan adnexa.3 X 8.00 pasien dibaringkan di meja operasi. . kemudian doek steril di pasang tanpa menutupi lapangan operasi. Kemudian dilakukan tindakan hysterectomy dan control perdarahan dengan electrocauter kemudian dilakukan salphingoopherectomy dextra dan salphingoopherectomy sinistra. tampak uterus lebih besar dari besar biasa sebesar tinju dewasa. Otot di kuakkan secara tumpul. Adnexa ka – ki DBN Kesimpulan : myoma uteri Laporan operasi : Operasi dilakukan pada tanggal 13-juni-2017 dan dimulai pada pukul 09.Pemeriksaan USG : . tampak massa hiperdan hipoekoik intrauterine . subkutis hingga fascia. Dilakukan insisi ptanensteil pada dinding perut mulai dari kutis.

Puncak vagina dijahit dengna vialy no. 15-juni. Ranitidin 50 mg / 12 jam / IV Follow up 11-juni-2017 12-juni. jaringan uterus dikirim untuk di PA kan.Inj. diinsisi dan dilihat. Ligamentum infundibulopelvikum di klem di dua tempat di insisi di antaranya dan diikat. Transamin 500 mg/ 8 jam / IV . Evaluasi perdarahan. 16-juni- 2017 2017 2017 2017 Keluhan Perdarahan Perdarah Perdarahan Demam dan Demam Tidak utama dari an dari dari kemaluan nyeri post dan nyeri ada kemaluan kemaluan operasi post keluhan operasi Keadaan Compos Compos Compos Compos Compos Compos umum mentis mentis mentis mentis mentis mentis 17 .o.1 dan evaluasi perdarahan : + a. Ligamentum cardinale diklem. Inj. perdarahan. Ligamentum sacrouterina diklem.Inj. diinsisi dan dilihat. Ketorolac 30 mg/ 8 jam / IV . Instruksi Awasi vital sign. Ceftriaxone 1 gr/ 13 jam / IV . 13-juni-2017 14-juni. Dilakukan pencucian cavum abdomen. KU ibu post operasi : stabil. Kedua arteri uterine diklem dan diinsisi dengan electrocauter kemudian diikat.IVFD RL 20 gtt/i . Inj. tanda-tanda perdarahan Puasa selama 4 jam kedepan Bed rest .

Tindakan . mg/ TAH + ketorolak ketorolak . IVFD RL .IVFD RL .Inj .Inj Ranitidine Ranitidine 50 mg/12 50 mg/12 jam jam 18 .7° C 37 ° C 37 ° C 38° C 37. Kateter .IVFD RL 20 .IVFD .ganti 20 gtt/i RL 20 gtt/i 20 gtt/i 20 gtt/i verban NaCL 20 gtt/i .Inj .Vital sign : Td 90/60 mmHg 120/70 120/70 130/80 120/70 120/70 mmHg mmHg mmHg mmHg mmHg Pols 60 x/i 80 x/i 80 x/i 80 x/i 80 x/i 80 x/i Rr 20 x/i 20 x/i 22 x/i 22x/i 22x/i 22x/i Temp 36. Transfusi salpingecto Ceftriakso Ceftriaks darah 1 my sinistra. Inj 8jam salphingoop 30 30 Dexamet erectomy mg/8jam mg/8jam hasone dextra + .Inj transamine transamine transamin pulang .8° C 37° C Terapi . Inj transa 500 500 e 500 transamin mine mg/8jam mg/8jam mg/8jam e 1000 500 .os gtt/i .Inj mg.Inj .s n 1 gr/12 on 1 bag PRC jam gr/12 jam .Inj .IVFD RL .Inj .Inj .Inj .

 Etiologi dari mioma uteri menurut Manuaba (2007). Kemungkinan aborrtus bertambah. makanan. terutama pada mioma yang letaknya di dalam dinding rahim atau apabila terdapat banyak mioma. Mengurangi kemungkinan wanita menjadi hamil. 6. terutama pada mioma yang submukus dan intramural. 2. Kelainan letak janin dalam rahim. fibromioma. paritas dan kebiasaan merokok. 3.  Komplikasi dari mioma uteri yaitu : 1. yaitu usia penderita. BAB IV PENUTUP A. tanda-tanda penekanan/pendesakan. 19 . Perubahan sekunder pada mioma uteri sebagian besar bersifaf degeneratif karena berkurangnya aliran darah ke mioma uteri. IMT. Mioma uteri terdiri dari otot polos dan jaringan yang tersusun seperti konde diliputi pseudokapsul. hormon endogen. Mempersulit lepasnya plasenta. 4. terutama pada mioma yang letaknya di serviks. abortus. infertilitas. terutama pada mioma yang besar dan letak subserus. Sedangkan menurut Muzakir (2008). ada 2 teori yaitu teori stimulus dan teori cellnest. Menghalang-halangi lahirnya bayi. Kesimpulan  Mioma uteri adalah neoplasma yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya sehingga dapat disebut juga leiomioma. rasa nyeri pada pinggang dan perut bagian bawah. Inersia uteri dan atonia uteri. terutama pada mioma uteri sub mukosum. atau fibroid. riwayat keluarga.  Patofisiologi dari mioma uteri yaitu reseptor estrogen yang lebih banyak sehingga menimbulkan tumor fibromatosa yang berasal dari sel imatur. 5. dan gejala sekunder. kehamilan.  Manifestasi dari mioma uteri yaitu perdarahan abnormal.

wanita yang sering melahirkan (multipara) tahun agar waspada dan selalu memeriksakan diri kepada tenaga ahli secara teratur. dan MRI. Lekosit. dan ukuran tubuh. Sedangkan pada wanita hamil adalah dengan tirah baring. USG. analgesia dan observasi terhadap mioma. 20 . Eritrosit). Jenis operasi yang bisa dilakukan adalah miomektomi dan histerektomi. ultrasonografi. Albumin. vaginal toucher. Saran  Pada wanita yang mulai haid (menarke) untuk memeriksakan alat reproduksinya apabila ada keluhan-keluhan haid/menstruasi untuk dapat menegakkan diagnosis dini adanya mioma uteri. ECG. B. rontgen. lokasi. sitologi.  Pemeriksaan penunjang dari mioma uteri yaitu pemeriksaan darah lengkap (Hb.  Penatalaksanaan dari mioma uteri yaitu kalau menurut usia. maka dengan penanganan konservatif dan operatif. histeroskopi.  Wanita yang mempunyai faktor-faktor risiko untuk terjadinya mioma uteri terutama wanita berusia 40-49.

DAFTAR PUSTAKA 1. Bandung. Jakarta. Prawiroharjo. Offset. 1999.Sarwono. 3. Elstar. Media Aesculapius. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. 21 . 2001. Bagian Obstetry Ginekologi FK Universitas Padjajaran Bandung. 2. Fakultas Kedokteran UI. Ilmu Kandungan Tridasa Printer: Jakarta.