MAKALAH

PESAWAT CT - SCAN

Disusun Oleh :

- Lutvi Rizkilla Rohali
- Monica Olivia Christiandy
- Muhammad Faresi

DOSEN PENGAJAR :Agus Komarudin ST,.MT.

JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK
POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II
2017

1
Penyusun

Lutvi Rizkilla Rohali

Monica Olivia Christiandy

Muhammad Faresi

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah yang
berjudul “CT-SCAN” dengan baik dan tepat waktu.

Makalah ini berisikan tentang komponen pesawat sinar X atau lebih spesifiknya
CT-SCAN. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua
tentang CT-SCAN.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita.Amin.

Jakarta, 2 Mei 2017

Lutvi Rizkilla Rohali

3
DAFTAR ISI

JUDUL....................................................................................................................... 1

KATA PENGANTAR................................................................................................. 2

DAFTAR ISI.............................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... 4

1.1. LATAR BELAKANG............................................................................. 4
1.2. RUMUSAN MASALAH........................................................................ 4
1.3. TUJUAN................................................................................................. 5

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................... 6

2.1. Definisi CT – SCAN............................................................................... 6
2.2. Sejarah perkembangan CT – SCAN........................................................ 7
2.3. Perkembangan CT – SCAN dari Generasi ke Generasi.......................... 7
2.4. Tujuan...................................................................................................... 14
2.5. Prinsip Dasar........................................................................................... 15
2.6. Bagian – bagian CT – SCAN.................................................................. 16
2.7. Prinsip Kerja CT – SCAN....................................................................... 25
2.8. System CT – SCAN................................................................................ 26
2.9. Pemprosesan Data................................................................................... 28
2.10. Kegunaan CT – SCAN............................................................................ 29
2.11. Kekurangan CT – SCAN......................................................................... 33
2.12. Standar Operasional Prosedur................................................................. 34

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan.............................................................................................. 36
3.2. Saran........................................................................................................ 36

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 37

BAB I

4
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
CT ditemukan secara independen oleh seorang insinyur Inggris bernama Sir
Godfrey Hounsfield dan Dr Alan Cormack.Hal ini segera menjadi andalan untuk
mendiagnosis penyakit medis.Untuk pekerjaan besar ini mereka ini, Hounsfield dan
Cormack bersama-sama dianugerahi Hadiah Nobel pada tahun 1979. CT scanner
pertama mulai diinstal dan dioperasikan secara luas pada tahun 1974. Penggunaan zat-
zat radioaktif merupakan bagian dari teknologi nuklir yang relatif cepat dirasakan
manfaatnya oleh masyarakat. Hal ini disebabkan zat-zat radioaktif mempunyai sifat-
sifat yang spesifik, yang tidak dimiliki oleh unusr-unsur lain. Dengan memanfaatkan
sifat-sifat radioaktif tersebut, maka banyak persoalan yang rumit yang dapat
disederhanakan sehingga penyelesaiannya menjadi lebih mudah.
Salah satu sifat dari radiasi nuklir yaitu mampu untuk menembus benda padat. Sifat
ini banyak digunakan dalam teknik radiografi yaitu pemotretan bagian dalam suatu
benda dengan menggunakan radiasi nuklir seperti sinar-x, sinar gamma dan neutron.
Hasil pemotretan tersebut direkam dalam film sinar-x. Zat radioaktif banyak
digunakan dalam bidang industry dan kedokteran. Dalam bidang kedokteran, radiografi
digunakan untuk mengetahui bagian dalam dari organ tubuh seperti tulang, paru-paru
dan jantung. Dalam radiografi dengan menggunakan film sinar-x, maka obyek yang
diamati sering tertutup oleh jaringan struktur lainnya, sehingga didapatkan pola gambar
bayangan yang didominasi oleh struktur jaringan yang tidak diinginkan. Hal ini akan
membingungkan para dokter untuk mendiagnosa organ tubuh tersebut. Untuk
mengatasi hal ini maka dikembangkan teknologi yang lebih canggih yaitu CT-Scanner
(Computed Tomography Scanner) dengan menggunakan radiasi nuklir seperti neutron,
sinar gamma dan sinar-x.

1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian CT Scan ?
2. Bagaimana sejarah perkembangan CT Scan?
3. Apa tujuan dari CT Scan ?
4. Apa sajakah bagian-bagian dari CT Scan ?
5. Bagaimana prinsip dasar CT Scan?
6. Bagaimana prinsip kerja CT Scan
7. Apa saja kegunaan dari CT Scan ?

5
8. Apa kekurangan dari CT Scan ?
9. Bagaimana penatalaksanaan CT scan ?

1.3 TUJUAN
1. Menjelaskan tentang pengertian CT Scan
2. Mengetahui sejarah perkembangan CT Scan
3. Menjelaskan tentang tujuan dari CT Scan
4. Mengetahui tentang bagian-bagian dari CT Scan
5. Menjelaskan tentang prinsip kerja CT Scan
6. Mengetahui kegunaan dari CT Scan
7. Mengetahui kekurangan dari CT Scan
8. menjelaskan tentang penatalaksanaan CT scan

BAB II

6
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI CT – SCAN
Alat CT scan adalah generator pembangkit sinar-x yang bila dioperasikan oleh
operator akan mengeluarkan sinar-x dalam jumlah dan waktu tertentu. CT Scan adalah
suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan gambaran dalam dari berbagai
sudut kecil dari organ tulang tengkorak dan otak serta dapat juga untuk seluruh tubuh.
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memperjelas adanya dugaan yang kuat antara
suatu kelainan, yaitu :
a. Gambaran lesi dari tumor, hematoma dan abses.
b. Perubahan vaskuler : malformasi, naik turunnya vaskularisasi dan infark.
c. Brain contusion.
d. Brain atrofi.
e. Hydrocephalus
f. Inflamasi

Berat badan klien merupakan suatu hal yang harus dipertimbangkan. Berat badan
klien yang dapat dilakukan pemeriksaan CT Scan adalah klien dengan berat badan
dibawah 145 kg. Hal ini dipertimbangkan dengan tingkat kekuatan scanner. Sebelum
dilakukan pemeriksaan CT scan pada klien, harus dilakukan test apakah klien
mempunyai kesanggupan untuk diam tanpa mengadakan perubahan selama 20-25
menit, karena hal ini berhubungan dengan lamanya pemeriksaan yang dibutuhkan.

Harus dilakukan pengkajian terhadap klien sebelum dilakukan pemeriksaan untuk
menentukan apakah klien bebas dari alergi iodine, sebab pada klien yang akan
dilakukan pemeriksaan CT Scan disuntik dengan zat kontras berupa iodine based
kontras material sebanyak 30 ml. Bila klien ada riwayat alergi atau dalam
pemeriksaan ditemukan adanya alergi maka pemberian zat kontras iodine harus
distop pemberiannya. Karena eliminasi zat kontras sudah harus terjadi dalam 24 jam.
Maka ginjal klien harus dalam keadaan normal. Berikut ini merupakan istilah-istilah
lain dari CT-Scan yang biasa digunakan, di antaranya :

a. Computed / Computerized Tomography (CT)
b. Computed Axial Tomography (CAT)
c. Computerized Aided Tomography
d. Computerize Transverse Axial Tomography (CTAT)
e. Recontructive Tomography (RT)
f. Computed Transmission Tomography (CAT)

7
Pada akhirnya, ditetapkan oleh "Radiology and American Journal of
Roentgenology" dengan istilah Computed Tomography (CT)

2.2 SEJARAH PERKEMBANGAN CT – SCAN
a. Tahun 1917, J.H. Radon melakukan transformasi radon, gambar dari objek yang
tidak diketahui dapat digambarkan dari proyeksinya
b. Tahun 1963, A.M. Cormack mulai mengembangkan teknik untuk menentukan
distribusi penyerapan tubuh manusia
c. Tahun 1972, G.N. Hounsfield dan J. Ambrose menghasilkan gambaran CT pertama
kali untuk keperluan klinis
d. Tahun 1974, 60 unit CT terpasang untuk pemeriksaan kepala
e. Tahun 1975, First Whole Body scanner in clinical use. Untuk pertama kalinya CT-
Scan dapat digunakan untuk pemeriksaan seluruh tubuh
f. Tahun 1979, Hounsfield dan Cormack dianugerahi hadiah nobel
g. Tahun 1989, diperkenalkannya Spiral CT
h. Tahun 1998, diperkenalkannya Multislice CT
i. Tahun 2000, lebih dari 30000 clinical CT Installations

2.3 Perkembangan CT – SCAN dari generasi ke generasi

Perkembangan CT Scan sangat pesat.Dimulai dari generasi I yang hanya memiliki satu
detector dan menggunakan berkas Pencil Beam, sampai yang sekarang ini sudah
menggunakan Multi Slice Detector (MSCT) dan Dual Source CT (DSCT).

1. Generasi Pertama

8
 Perintis : EMI, London, 1977

 X-ray : pencil beam

 Gerakan : translate – rotate

 Detektor : single detector

 Rotasi : 180 derajat

 Waktu : 4,5 – 5,5 menit / scan slice

 Applikasi : head scan

Pada generasi pertama prinsip pergerakan tabung menggunakan prinsip yang dinamakan
translation-rotation. Dimana pada generasi ini hanya memiliki satu detektor dan untuk
menghasilkan satu scanning lengkap memerlukan waktu scanning 135-300s
Gambaran pergerakan tabung dan detektor pada generasi pertama :

2. Generasi Kedua

Merupakan pengembangan dari generasi ke satu.

 X-ray : narrow fan beam

 Gerakan : translate – rotate

 Detektor : multi detector ( 3-60)

9
 linier array detector

 Rotasi : 180 derajat

 Waktu : 20 detik - 2 menit / scan slice

 Aplikasi : head scanner

CT scan generasi kedua masih menggunakan prinsip translation-rotation tapi yang
membedakannya dengan generasi pertama pada generasi ini digunakan detektor berjenis
series.Pada generasi ini waktu yang diperlukan untuk satu kali scanning paling cepat
sebesar 5 – 150s.
Gambaran gerakan tabung dan detector pada alat CT Scan generasi kedua :

3. Generasi Ketiga

Pengembangan dari generasi kedua.

 X-ray : wide fan beam

 Gerakan : rotate – rotate

 Detektor : multi detector (10-280) curve array detector

 Rotasi : 360 derajat

10
 Waktu : 1,4-14 detik / scan slice

 App : whole body scanner

Generasi ketiga ini antara pergerakan tabung dan detektornya menggunakan prinsip
rotation. Dimana bentuk dari detektornya setengah lingkaran. Lamanya waktu yang
dibutuhkan untuk satu kali scanning pada generasi ini paling cepat sebesar 0,4 – 10s.
Gambaran gerakan tabung dan detector pada generasi ketiga :

4. Generasi Keempat

Pengembangan dari generasi III

 X-ray : wide fan beam

 Gerakan : stationary-rotate system

 Detektor : multi detector (424-2400)

 slip ring detector

 Rotasi : 360 derajat

 Waktu : 10 detik / scan slice

 App : whole body scanner

11
CT Scan generasi ini detektornya berbentuk seperti cincin yang dinamakan ring. Sehingga
hanya tabungnya saja yang berputar 360 derajat dan detektornya statis (diam). Waktu yang
diperlukan untuk satu kali scanning selama 1 – 5s
Gambaran pergerakan tabung sinar-x dan detector :

5. Generasi Kelima (Electron Beam Technique)

Konstrukti CT Scan generasi ke-lima ini dikenal juga sebagai Electron
BeamTechnique. Pada pemindai CT konvensional, tabung sinar-X bergerak
berputarmengelilingi tubuh pasien, berkas sinar dilemahkan oleh pasien dan perbedaan
dariberkas yang diperoleh akan dideteksi oleh sistem detektor. Informasi ini
didigitalkandan diubah menjadi gambar potongan melintang.Waktu pemaparan radiasi
untuksetiap irisan dibatasi oleh waktu yang dibutuhkan menggerakkan tabung sinar-
Xsecara fisik.Pemindai CT buatan pabrik Imatron tidak memiliki tabung sinar-X
tapimemiliki senapan elektron yang menghasilkan berkas elektron pada 130kV
yangdipercepat di sepanjang tabung.Sinar elektron difokuskan oleh
kumparanelektromagnet, ke sebuah titik fokus kecil pada sebuah cincin tungsten.
Daerahtarget ini kemudian bergerak sepanjang cincin.

Sinar-X yang dihasilkan oleh proses perlambatan dan kolimator membentukberkas
sinar-X ini menjadi berkas kipas yang akan “menyapu” pasien. Perbedaanintensitas sinar-
X akan dideteksi oleh bank detektor solid-state dan keluarannyaakan dibuah menjadi
sinyal digital oleh Sistem Akuisisi Data. Data disimpan dalammemori yang besar dan
dipindahkan ke penyimpanan cakram magnetik yangkemudian diubah menjadi gambar
irisan penampang melintang.Tidak ada bagianyang bergerak dalam sistem ini sehingga
waktu pemaparan dapat dikurangi menjadi50ms per irisan.Sampai dengan 17 irisan per

12
detik dapat diambil, memungkinkanunit pemindai CT ini untuk pencitraan obyek yang
bergerak seperti seperti jantung.

6. Generasi Keenam (Spiral / Helical CT)

Akuisisi data dilakukan dengan meja bergerak sementara tabung sinar-x berputar, sehingga
gerakan tabung sinar-x membentuk pola spiral terhadap pasien ketika dilakukan akuisisi
data.
Pola spiral ini diterapkan pada konfigurasi rancangan CT generasi ketiga dan keempat.
Pengembangan dari generasi III dan IV

 X-ray : wide fan beam

 Gerakan : stationary-rotate system

 Meja bergerak dalam terowongan gantry selama scanning (spiral CT)

 Detektor : multi detector (424-2400)

 slip ring detector

 Rotasi : 360 derajat

 Waktu : <10 detik / scan slice

 App : whole body scanner (multi slice, 3D, 4D)

Gambaran pergerakan tabung sinar-x, detector dan meja pasien :

13
7. Generasi Ketujuh (Multi Array Detector CT / Multi Slice CT)

Dengan menggunakan multi array detector, maka apabila kolimator dibuka lebih lebar
maka akan dapat diperoleh data proyeksi lebih banyak dan juga diperoleh irisan yang lebih
tebal sehingga penggunaan energy sinar-x menjadi lebih efisien.

14
8. Generasi Kedelapan (Dual Source CT)

Dual Source CT (DSCT) menggunakan dua buah tabung sinar-x dan terhubung pada dua
buah detector.Masing-masing tabung sinar-x menggunakan tegangan yang berbeda.Yang
satu menggunakan tegangan tinggi (biasanya sekitar 140 KV) dan tabung yang lainnya
menggunakan tegangan rendah (sekitar 80 KV). DSCT berguna untuk menentukan jenis
bahan atau zat.

15
Dari perkembangan teknologi CT Scan dapat diperoleh indicator perkembangannya
sebagai berikut :

 Makin compact / ringkas komponennya

 Makin cepat scanning time nya

 Makin halus resolusinya

 Makin banyak slice nya

 Makin luas dimensinya

 Makin banyak manfatnya

 Makin kecil radiasi yang diterima pasien

2.4 TUJUAN
Menemukan patologi otak dan medulla spinalis dengan teknik
scanning/pemeriksaan tanpa radioisotope. . Dengan demikian CT scan hampir dapat
digunakan untuk menilai semua organ dalam tubuh, bahkan di luar negeri sudah
digunakan sebagai alat skrining menggantikan foto rontgen dan ultrasonografi. Yang
penting pada pemeriksaan CT scan adalah pasien yang akan melakukan pemeriksaan

16
bersikap kooperatif artinya tenang dan tidak bergerak saat proses perekaman. CT scan
sebaiknya digunakan untuk :
 Menilai kondisi pembuluh darah misalnya pada penyakit jantung koroner, emboli
paru, aneurisma (pembesaran pembuluh darah) aorta dan berbagai kelainan
pembuluh darah lainnya.
 Menilai tumor atau kanker misalnya metastase (penyebaran kanker), letak kanker,
dan jenis kanker.
 Kasus trauma/cidera misalnya trauma kepala, trauma tulang belakang dan trauma
lainnya pada kecelakaan. Biasanya harus dilakukan bila timbul penurunan
kesadaran, muntah, pingsan ,atau timbulnya gejala gangguan saraf lainnya.
 Menilai organ dalam, misalnya pada stroke, gangguan organ pencernaan dll.
 Membantu proses biopsy jaringan atau proses drainase/pengeluaran cairan yang
menumpuk di tubuh. Disini CT scan berperan sebagai “mata” dokter untuk melihat
lokasi yang tepat untuk melakukan tindakan.
 Alat bantu pemeriksaan bila hasil yang dicapai dengan pemeriksaan radiologi
lainnya kurang memuaskan atau ada kondisi yang tidak memungkinkan anda
melakukan

2.5 PRINSIP DASAR
Prinsip dasar CT scan mirip dengan perangkat radiografi yang sudah lebih umum
dikenal.Kedua perangkat ini sama-sama memanfaatkan intensitas radiasi terusan
setelah melewati suatu obyek untuk membentuk citra/gambar.Perbedaan antara
keduanya adalah pada teknik yang digunakan untuk memperoleh citra dan pada citra
yang dihasilkan. Tidak seperti citra yang dihasilkan dari teknik radiografi, informasi
citra yang ditampilkan oleh CT scan tidak tumpang tindih (overlap) sehingga dapat
memperoleh citra yang dapat diamati tidak hanya pada bidang tegak lurus berkas sinar
(seperti pada foto rontgen), citra CT scan dapat menampilkan informasi tampang
lintang obyek yang diinspeksi. Oleh karena itu, citra ini dapat memberikan sebaran
kerapatan struktur internal obyek sehingga citra yang dihasilkan oleh CT scan lebih
mudah dianalisis daripada citra yang dihasilkan oleh teknik radiografi konvensional.
CT Scanner menggunakan penyinaran khusus yang dihubungkan dengan komputer
berdaya tinggi yang berfungsi memproses hasil scan untuk memperoleh gambaran
panampang-lintang dari badan. Pasien dibaringkan diatas suatu meja khusus yang
secara perlahan – lahan dipindahkan ke dalam cincin CT Scan. Scanner berputar

17
mengelilingi pasien pada saat pengambilan sinar rontgen. Waktu yang digunakan
sampai seluruh proses scanning ini selesai berkisar dari 45 menit sampai 1 jam,
tergantung pada jenis CT scan yang digunakan (waktu ini termasuk waktu check-in
nya). Proses scanning ini tidak menimbulkan rasa sakit. Sebelum dilakukan scanning
pada pasien, pasien disarankan tidak makan atau meminum cairan tertentu selama 4
jam sebelum proses scanning. Bagaimanapun, tergantung pada jenis prosedur, adapula
prosedur scanning yang mengharuskan pasien untuk meminum suatu material cairan
kontras yang mana digunakan untuk melakukan proses scanning khususnya untuk
daerah perut.

2.6BAGIAN – BAGIAN CT – SCAN

Sebuah sistem CT Scan terdiri dari beberapa komponen. Pada umumnya terdiri
dari:
• Unit pemindai, yang disebut dengan gantri. Didalamnya terdapat sumber sinar-X
dan
 unit detektor.
• Meja pasien.
• Unit komputer pengolah gambar.
• Konsol pengendali.

Bagian - bagian pesawat, meliputi :

18
a. Meja Pemeriksaan
Meja pemeriksaan merupakan tempat pasien diposisikan untuk dilakukannya
pemeriksaan CT-Scan.Bentuknya kurva dan terbuat dari Carbon Graphite Fiber. Setiap
scanning satu slice selesai, maka meja pemeriksaan akan bergeser sesuai ketebalan slice
( slice thickness ). Meja pemeriksaan terletak dipertengahan gantry dengan posisi
horizontal dan dapat digerakkan maju, mundur, naik dan turun dengan cara menekan
tombol yang melambangkannmaju, mundur, naik, san turun yang terdapat pada gantry.

b. Gantry

Gantry merupakan komponen pesawat CT-Scan yang didalamnya terdapat tabung
sinar-x, filter, detektor, DAS ( Data Acquisition System ).Serta lampu indikator untuk
sentrasi.Pada gantry ini juga dilengkapi denganindikator data digital yang memberi
informasi tentang ketinggian meja pemeriksaan, posisi objek dan kemiringan gantry.
Pada pertengahan gantry diletakkan pasien. Tabung sinar-x dan detektor yang
letaknya selalu berhadapan didalam gantry akan berputar mengelilingi objek yang akan
dilakukan scanning.

1). Tabung sinar-x

19
Berfungsi sebagai pembangkit sinar-X dengan sifat:
1. Bekerja pada tegangan tinggi diatas 100 kV
2. Ukuran focal spot kecil 10 – 1 mm
3. Tahan terhadap goncangan

2) Kolimator
Pada pesawat CT-Scan, umumnya terdapat dua buah kolimator, yaitu:
- Kolimator pada tabunng sinar-x
Fungsinya: untuk mengurangi dosis radiasi,
sebagai pembatas luas lapangan penyinaran dan
mengurangi bayangan penumbra dengan adanya
focal spot kecil.
- Kolimator pada detektor
Fungsinya: untuk pengarah radiasi menuju ke
detektor, pengontrol radiasi hambur dan
menentukan ketebalan lapisan ( slice thickness ).

3) Detektor dan DAS ( Data Acqusition system )

20
Setelah sinar-x menembus objek, maka akan diterima oleh detector yang selanjutnya dan
dilakukan proses pengolahan data oleh DAS. Adapun fungsi detector dan DAS secara garis
besar adalah: untuk menangkap sinar-x yang telah menembua objek, mengubah sinar-x
dalam bentuk cahaya tampak, kemudian mengubah cahaya tampak tersebut menjadi
sinyal-sinyal electron, lalu kemudian menguatkan sinyal-sinyal electron tersebut dan
mengubah sinyal electron tersebut kedalam bentuk data digital.
Terdapat dua macam detektor yang dapat digunakan pada CT Scan. Yangpertama
adalah Detektor Skintilasi (Scintillation Detector), yaitu detektor yangmenggunakan kristal
skintilasi (CSJ) yang memancarkan sinar biru jika terpapar olehsinar-X. Intensitas cahaya
yang dihasilkan oleh kristal skintilasi ini sebanding denganintensitas radiasi yang
mengenainya.
Terdapat dua macam unit detektor jenis ini (pada gambar di bawah).Padaunit yang
pertama, untuk urutan berikutnya dari aliran data, sinar diperkuatintensitasnya oleh
photomultiplier dan diubah menjadi arus yang ekivalen dengankuatnya.Pada unit yang
kedua, yang merupakan kombinasi yang lebih efektifdimana scintillation crystal (cessium
iodide, CSJ) berhubungan langsung denganphotodiode yang mengubah photon yang
dihasilkan menjadi arus yang ekivalen.

21
Prinsip detektor skintilasi.

Jenis detektor yang kedua adalah detektor gas (pada umumnya digunakangas
Xenon) dimana gas tersebut dimasukkan ke dalam suatu tabung bertekanandengan sekat
paralel yang menghasilkan tegangan tinggi. Bila sebuah foton sinar-Xjatuh mengenai
sebuah atom Xe, maka atom tersebut akan terionisasi karenaadanya elektron yang
meloncat. Elektron dan ion Xe yang bermuatan positif akandipercepat pada arah
berlawanan di sepanjang garis gaya listrik untuk kemudiandiserap oleh sekat-sekat.
Pergerakan elektron tersebut menghasilkan arus listrikyang sebanding dengan jumlah
foton.Karena arus ini kecil maka dipakai suatupenguat (amplifier) sebelum keluar dari
detektor.

Prinsip Detektor Gas (Detektor Xenon).

22
Dari arus listrik yang masih besaran analog tersebut diubah menjadi kodekodedigital
yang dibutuhkan oleh komputer untuk diolah sehingga menghasilkangambar pada layar
tampilan.
 Detektor Scintilation yang digabung dengan semikonduktor peka cahaya,
terdiriatas beberapa detektor elemen dilengkapi dengan scintillation kristal
yangtebalnya 5mm dan dipasang pada permukaan diode. Keseluruhan
detektorelemen ditempelkan pada sebuah PCB (Printed Circuit Board). Tidak
diperlukantegangan operasional tinggi untuk jenis ini karena sifatnya yang peka
sekaliterhadap tegangan.
 Detektor Gas terdiri atas tabung bertekanan tinggi dimana masing-masingelemen
elektroda dilekatkan. Gas di dalamnya (Xenon) diberi tekanan sebesar10-20 Bar.
Panjang tabung 10 cm dan detektor ini membutuhkan tegangantinggi tertentu untuk
operasinya karena sifatnya kurang peka terhadaptegangan listrik (500 - 1000 V).

Jenis detektormulti-row ini diperkenalkan pada pasar tahun 1988 untuk pesawat CT
scan4 irisan.Oleh karena pertimbangan biaya, masing-masing elemen detektor tidak
diberikankanal elektronik lengkap yang sepenuhnya terpisah untuk tiap elemen.

Bagaimanapun jugatebal irisan yang lebih besar dari lebar maising-masing elemen
detektor akan diperolehdengan penggabungan sinyal dari beberapa elemen sekaligus dalam
arah sumbu-z yangkemudian diperkuat dan diubah menjadi bentuk digital. Ini berdampak
pada kemampuanuntuk mendefinisikan lebar irisan dengan kombinasi sinyal secara
elektronik, dimana berkassinar-x dikolimasikan pada sisi sumber radiasi dengan cara yang
sudah umum.

23
Struktur rangakaian elektronik pada sistem pengukuran data.

Sebagai contoh dalam pesawat CT Scan dengan 64 irisan, elemen detektor
menggunakanbahan Ultra Fast Ceramic (UFC) yang disusun dan dirangkai dengan prinsip
banyak irisan(multi-slice). Detektor dengan 40 baris diposisikan dalam arah sumbu-
z.Secara keseluruhanada 672 kanal detektor dalam masing-masing baris.Dari total 672
kanal dikelompokkandalam 42 modul yang masing-masing terdiri dari 16 kanal elemen
detektor x 40 baris yangmasing-masing dihubungkan pada sebuah modul Front End
Electronic (FEE).Susunandetektor yang tiap modulnya terdiri dari 16 kanal x 10 baris
dihubungkan pada rangkaianSliceSelect MUX (multiplekser).Masing-masing 40 kanal
masukan dihubungkan ke 16 buahmultiplekser pemilihan irisan (SliceSelect MUX).Jadi
detektor 40 baris dikonversi menjadi 32irisan tergantung pada mode pemilihan irisan yang
dipilih saat akuisisi data.Penghitungannomor irisan dimulai dari baris detektor yang paling
belakang.Modul FEE berisi seluruhkomponen elektronik yang diperlukan untuk
memperkuat sinyal (integrator) dan komponenuntuk mengubah sinyal analog menjadi data
digital (ADC) serial.32 kanal keluaran dari unitmultiplekser pemilihan irisan masing-
masing dihubungkan pada 16 buah integrator.Dalamintegrator sinyal analog ini
diintegrasikan dan diubah menjadi sinya digital serial olehkonverter analog ke digital (A/D
converter).
Blok diagram dari modul detektor dan modul
FEE dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Multi Slice Computed Tomography (MSCT)

24
Multiplekser, Integrator, dan ADC pada modul detektor.

c. Komputer
Komputer merupakan pengendali dari semua instrument pada CT-Scan. Berfungsi
untuk melakukan proses scanning, rekonstruksi atau pengolahan data, menampilkan
( display ) gambar serta untuk menganalisa gambar.

Adapun elemen-elemen pada computer adalah sebagai berikut:
1) Input Device
Adalah unit yang menterjemahkan data-data dari luar kedalam bahasa computer
sehingga dapat menjalankan program atau instruksi.
2) CPU ( Central Procesing Unit )
Merupakan pusat pengolahan dan pengelolaan dari kesseluruhan system computer
yang sedang bekerja. Terdiri atas :
a. ALU ( Arithmetic Logic Unit )

25
b. Berfungsi untuk melaksanakan proses berupa arithmetic operation seperti
penambahan, pengurangan, pembagian, serta perkalian.
c. Control Unit
d. Berfungsi untuk mengontrol keseluruhan system computer dalam
melakukan pengolahandata.
e. Memory Unit
f. Berfungsi sebagai tempat penyimpanan data ataupun instruksi yang sedang
dikerjakan.

3) Output Device
Digunakan untuk menampilkan hasil program atau instruksi sehingga dapat dengan
mudah dilihat oleh personilyang mengoperasikannya, misalnya CRT (Cathoda Ray
Tube).

d. Layar TV Monitor
Berfungsi sebagai alat untuk menampilkan gambar dari objek yang diperiksa serta
menampilkan instruksi-instruksi atau program yang diberikan.

e. Image Recording
Berfungsi untuk menyimpan program hasil kerja dari computer ketika melakukan
scanning, rekonstruksi dan display gambar.digunakan:
1) Magnetik Disk
Digunakan untuk penyimpanan sementara dari data atau gambaran, apabila
gambaran akan ditampilkan dan diproses. Magnetic disk dapat menyimpan dan
mengirim data dengan cepat, bentuknya berupa piringan yang dilapisi bahan
ferromagnetic.Kapasitasnya sangat besar.
2) Floppy Disk
Biasa disebut dengan disket, merupakan modifikasi dari magnetic disk, bentuknya
kecil dan fleksibel atau lentur.Floppy disk mudah dibawa dan
disimpan.Kapaasitasnya relative kecil (sekarang sudah tidak digunakan lagi).

f. Operator Terminal
Merupakan pusat semua kegiatan scanning atau pengoperasian system secara umum serta
berfungsi untuk merekonstruksi hasil gambaran sesuai dengan kebutuhan.

26
g. Multiformat Kamera
Digunakan untuk memperoleh gambaran permanen pada film.Pada satu film dapat
dihasilkan beberapa irisan gambar tergantung jenis pesawat CT dan film yang digunakan.

2.7Prinsip Kerja CT Scan

Gambar 2. Bagan Prinsip Kerja CT Scanner

Dengan menggunakan tabung sinar-x sebagai sumber radiasi yang berkas sinarnya dibatasi
oleh kollimator, sinar x tersebut menembus tubuh dan diarahkan ke detektor. Intensitas
sinar-x yang diterima oleh detektor akan berubah sesuai dengan kepadatan tubuh sebagai
objek, dan detektor akan merubah berkas sinar-x yang diterima menjadi arus listrik, dan
kemudian diubah oleh integrator menjadi tegangan listrik analog. Tabung sinar-x tersebut
diputar dan sinarnya di proyeksikan dalam berbagai posisi, besar tegangan listrik yang
diterima diubah menjadi besaran digital oleh analog to digital Converter (A/D C) yang
kemudian dicatat oleh komputer. Selanjutnya diolah dengan menggunakan Image
Processor dan akhirnya dibentuk gambar yang ditampilkan ke layar monitor TV. Gambar
yang dihasilkan dapat dibuat ke dalam film dengan Multi Imager atau Laser Imager.
Berkas radiasi yang melalui suatu materi akan mengalami pengurangan intensitas
secara eksponensial terhadap tebal bahan yang dilaluinya. Pengurangan intensitas yang
terjadi disebabkan oleh proses interaksi radiasi-radiasi dalam bentuk hamburan dan
serapan yang probabilitas terjadinya ditentukan oleh jenis bahan dan energi radiasi yang
dipancarkan. Dalam CT scan, untuk menghasilkan citra obyek, berkas radiasi yang
dihasilkan sumber dilewatkan melalui suatu bidang obyek dari berbagai sudut. Radiasi
terusan ini dideteksi oleh detektor untuk kemudian dicatat dan dikumpulkan sebagai data

27
masukan yang kemudian diolah menggunakan komputer untuk menghasilkan citra dengan
suatu metode yang disebut sebagai rekonstruksi.

2.8 System CT Scanner

Peralatan CT Scanner terdiri atas tiga bagian yaitu system pemroses citra, sistem
komputer dan sistem kontrol.

a. Sistem Pemroses Citra

Sistem pemroses citra merupakan bagian yang secara langsung berhadapan dengan
obyek yang diamati (pasien). Bagian ini terdiri atas sumber sinar-x, sistem kontrol,
detektor dan akusisi data. Sinar-x merupakan radiasi yang merambat lurus, tidak
dipengaruhi oleh medan listrik dan medan magnet dan dapat mengakibatkan zat
fosforesensi dapat berpendar. Sinar-x dapat menembus zat padat dengan daya tembus yang
tinggi. Untuk mengetahui seberapa banyak sinar-x dipancarkan ke tubuh pasien, maka
dalam peralatan ini juga dilengkapi sistem kontrol yang mendapat input dari komputer.

Bagian keluaran dari sistem pemroses citra, adalah sekumpulan detektor yang
dilengkapi sistem akusisi data. Detektor adalah alat untuk mengubah besaran fisik-dalam
hal ini radiasi-menjadi besaran listrik. Detektor radiasi yang sering digunakan adalah
detektor ionisasi gas. Jika tabung pada detektor ini ditembus oleh radiasi maka akan terjadi
ionisasi. Hal ini akan menimbulkan arus listrik. Semakin besar interaksi radiasi, maka arus
listrik yang timbul juga semakn besar. Detektor lain yang sering digunakan adalah detektor
kristal zat padat. Susunan detektor yang dipasang tergantung pada tipe generasi CT
Scanner. Tetapi dalam hal fungsi semua detektor adalah sama yaitu mengindentifikasi
intensitas sinar-x setelah melewati obyek. Dengan membandingkan intensitas pada
sumbernya, maka atenuasi yang diakibatkan oleh propagasi pada obyek dapat ditentukan.
Dengan menggunakan sistem akusisi data maka data-data dari detektor dapat dimasukkan
dalam komputer. Sistem akusisi data terdiri atas sistem pengkondisi sinyal dan interfacae
(antarmuka ) analog ke komputer.

28
Gambar 5. Proses pembentukan citra

b. Sistem Komputer dan Sistem Kontrol

Bagian komputer bertanggung jawab atas keseluruhan sistem CT Scanner, yaitu
mengontrol sumber sinar-x, menyimpan data, dan mengkonstruksi gambar tomografi.
Komputer terdiri atas processor, array processor, harddisk dan sistem input-output.

Processor atau CPU (unit pemroses pusat) mempunyai fungsi untuk membaca dan
menginterprestasikan instruksi, melakukak eksekusi, dan menyimpan hasil-hasil dalam
memory. CPU yang digunakan mempunyai bus data 16,32 atau 64 bit. Tipe komputer yang
digunakan bisa mikro komputer dan bisa mini komputer, namun harus memenuhi unjuk
kerja dan kecepatan bai sistem CT Scanner. Harddisk mempunyai fungsi untuk menyimpan
data dan software.

CT Scanner pada umumnya dilengkapi dengan dua buah monitor dan keyboard.
Masing-masing sebagai operator station dan viewer station dan keduanya mempunyai
tugas yang berbeda. Operation Station mempunyai fungsi sebagai operator kontrol untuk
mengontrol beberapa parameter scan seperti tegangan anoda, waktu scan dan besarnya

29
arus filamen. Sedangkan viewer station mempunyai fungsi untuk memanipulasi sistem
pemroses citra. Bagian ini mempunyai sistem kontrol yang dihubungkan dengan sistem
keluaran seperti hard copy film, magnetic tape, dan paper print out. Dari bagian ini dapat
dilakukan pekerjaan untuk mendiagnosa hasil scanning.

2.9 Pemprosesan data
Suatu sinar sempit (narrow beam) yang dihasilkan oleh X-ray didadapatkan dari
perubahan posisi dari tabung X-ray, hal ini juga dipengaruhi oleh collimator dan detektor.
Secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 4. Collimator dan Detektor

Sinar X-ray yang telah dideteksi oleh detektor kemudian dikonversi menjadi arus listrik
yang kemudian ditransmisikan ke komputer dalam bentuk sinyal digital Setelah diperoleh
arus listrik dan sinyal aslinya, maka sinyal tadi dikonversi ke bentuk digital menggunakan
A/D Convertor agar sinyal digital ini dapat diolah oleh komputer sehingga membentuk
citra yang sebenarnya.
Hasilnya dapat dilihat langsung pada monitor komputer ataupun dicetak ke film.
Berikut contoh citra yang diperoleh dalam proses scanning menggunakan CT Scanner :

30
Gambar 6.Hasil whole body
scanning Gambar 7. Hasil
scanning pada kepala pasien

2.10 Kegunaan CT Scan

CT atau adalah tes x-ray
khusus yang dapat memproduksi
gambar penampang tubuh dengan teknik menggunakan x-ray dan bantuan komputer.
Gambar-gambar yang dihasilkan memungkinkan seorang ahli radiologi, untuk melihat
bagian dalam tubuh seperti Anda akan melihat bagian dalam roti dengan cara
mengirisnya . Jenis sinar-x khusus, mengambil “gambar” dari potongan tubuh sehingga
dokter Radiologi bisa melihat dengan detail pada daerah tertentu. CT scan sering
digunakan untuk mengevaluasi otak, leher, tulang belakang, dada, perut, panggul, dan
sinus.
1. CT-SCAN OTAK
Potongan axial dari OM Line/Reids base line sampai vertex, tebal potongan :4 – 5
mm infratentorial, 8-10mm supratentorial atau semua rata 7mm. Lesi dimidline
sebaiknya dibuat potongan coronal sebagai tambahan. Kondisi tulang pada kasus
trauma/ suspect fraktur tulang kepala. Indikasi kontras: tumor, infeksi, kelainan
vaskuler mencari AVM, aneurysma.

2. CT-SCAN HYPOFISE
Potongan coronal 1-5mm tanpa dan dengan bolus kontras, dilanjutkan dengan axial
scan 2-5mm dari OM Line sampai supraseller distren (2mm bila lesi kecil
/mikroadenoma atau kelenjar hipofise normal ; 5mm bila tumor besar/
makroadenoma) F.O.V kecil (160-200) mulai dari procesus clinoideus anterior
sampai dorsum sellae.

3. CT-SCAN TELINGA / os.PETROSUM
Teknik : High Resolusi CT / kondisi tulang
a. kasus non-tumor/trauma basis cranii: potongan axial dan coronal 2mm
sejajar dengan axis os.petrosum. mencakup seluruh tulang os.petrosum,
tanpa kontras, kondisi tulang (WW dan WL yang tinggi)

31
b. kasus tumor / infeksi (abses ) potongan axial 2-5mm mencakup seluruh
os.petrosum tanpa dan dengan kontras, kondisi tulang dan soft tissue.
Potongan coronal 2-5mm sebagai tambahan, dalam kondisi tulang dan
soft tissue. Mencakup seluruh os.petrosum dan proses abnormalnya.

4. CT-SCAN ORBITA
Tumor/ infeksi: Potongan axial 3-5mm dari dinding inferior sampai dinding
superior cavum orbita, sudut sejajar dengan N.opticus atau menggunakan garis
infraorbito meatal line, tanpa dan dengan kontras. Setelah itu dibuat potongan
coronal 3-5mm mencakup seluruh cavum orbita. Fractur orbita : potongan coronal
dan axial 2-4mm tanpa kontras, dicetak dalam kondisi soft tissue dan tulang pada
daerah fraktur. F.O.V. kecil (160-200).

5. CT-SCAN NASOPHARYNX, LIDAH
Nasopharynx: potongan axial 3-5mm, FOV 250mm, kondisi dengan filter agak
tinggi (lebih tinggi dari otak) dan pallatum sampai sinus frontalis, sudut sejajar
pallatum. Tanpa dan dengan kontras bolus, kemudian dilanjutkan dengan potongan
axial 5mm sejajar corpus vertebrae cervicalis dari C2 s/d C6 F.O.V 200mm untuk
mencari pembesaran kelenjar. Setelah itu dibuat potongan coronal 3-5mm,
tergantung besar –kecilnya kelainan dari choana sampai cervical vertebrae sejajar
dengan dinding posterior nasoprynx F.O.V. 250mm, potongan coronal kadang
perlu dibuat dalam kondisi tulang apabila ada destruksi basis cranii.
Oropharynx: sama dengan nasopharynx hanya mulainya agak rendah, garis axial
dimulai dari mandibula keatas.
Lidah: pasti harus diganjal gigi/rongga mulutnya dengan sepotong gabus,agar
pada potongan coronal lidah tidak menyatu dengan pallatum. Teknik hamper sama
dengan nasopharynx, hanya axial dan coronalnya harus mencakup seluruh daerah
lidah.Bila tumor diduga berada di 2/3 depan lidah lebih baik dibuat coronal dahulu
tanpa dan dengan bolus kontras, baru kemudian dibuat axialnya. Sedangkan untuk
tumor dipangkal lidah, sebaiknya dibuat axial dahulu baru cornal. Kontras
diberikan pada potongan yang diperkirakan akan memberi informasi baik.

6. CT-SCAN LARYNX / PITA SUARA
Potongan pre kontras : axial 5mm dari epiglottis sampai cincin trachea 1-2, sejajar
dengan pita suara.

32
Potongan dengan kontras : axial 2-3mm didaerah pita suara, mulai dari batas atas
sampai batas bawah lesi. Bila ada kelenjar membesar, dibuat potngan leher 5mm
post bolus kontras (delayed scan) F.O.V. 160-200mm, tanpa dan dengan bolus
kontras.

7. CT-SCAN THYROID
Potongan axial 3-5mm dari bagian atas kelenjar thyroid samapi bagian bawah
biasanya mulai setinggi C5-6 sampai thoracic inlet, tanpa dan dengan bolus
kontras, kemudian di ulang / delayed scan untuk mendapatkan batas lesi dan
tambahan informasi yang lebih baik setelah seluruh kelenjar mengalami
penyengatan merata, F.O.V. 160-200mm.
Catatan : untuk CT-Scan pita suara dan thyroid dapat dibuatkan teknik MPR
(Multiplanar Rekontruksi) untuk menghasilkan potongan coronalnya, untuk itu
harus dibuat potongan 1-2mm pada waktu bolus kontras sepanjang daerah yang
diperlukan untuk potongan coronalya.

8. CT-SCAN SINUS PARANASALIS
Teknik High Resolusi
Sinusitis: Potongan coronal 2mm di1/2 bagian depan dan 4mm 1/2 bagian
posterior, mulai dari os.nasale sampai dengan nasopharynx, potongan axial dari
dasar sinus maxillaries sampai sinus frontalis 3-5mm, tanpa bahan kontras, kondisi
soft tissue (WW diatas 2000, WL diatas 200) F.O.V 200-250mm
Tumor sinus : Potongan coronal 3-5mm dari dinding depan sinus sampai
nasopharynx / tumor habis tanpa dan dengan kontras, kemudian axial 3-5mm dari
dasar sinus sampai sinus frontalis / mencakup seluruh tumor, kondisi soft tissue /
tulang dan kondisi massa tumor dengan WW yang rendah.

9. CT-SCAN THORAX
(bila memungkinkan sebaiknya dipakai teknik high resolusi). Potongan axial
prekontras/ polos dari puncak paru sampai diafragma, tebal potongan 10, index 10-
15. Bolus kontras diberikan mulai dari arkus aortae samapi hilus inferior, tebal
potongan 5-8mm. Bila proses dibawah hilus potongan post kontras diteruskan
kebawah sampai mengenai seluruh proses terpotong. Kondisi dicetak dalam 2

33
macam: kondisi parenkim paru dan kondisi mediastinum. Permintaan khusus
untuk parenkim paru dapat dibuat sbb: biasanya pada indikasi parenchymal lung
disease / emphysema. Axial scan tanpa kontras filter high resolusi, tebal potongan
2mm dengan index potongan 8-10mm dari puncak paru sampai diafragma.
Tumor esophagus : pemeriksaan thorax scan sambil minum oral kontras sampai
didapatkan lumen tumor yang sempit / batas antara esophagus yang lebar dan yang
sempit sebagai batas atas tumor.Bolus kontras diberikan pada daerah tumor mulai
batas atas sampai batas bawah, dicetak dalam kondisi mediastinum. Potongan
coronal dan sagital dapat diperoleh melalui MPR (untuk itu perlu dibuat potongan
tipis 2-3mm sewaktu dibolus).

10. CT-SCAN ABDOMEN ATAS
Potongan Axial dari diafragma sampai ginjal. Prekontras: tebal potongan 10, index
10-15mm. Bolus kontras diberikan pada daerah yang menjadi tujuan
pemeriksaan. Organ / kelainannya yang diperiksa besar (hepar, lien): tebal
potongan 10mm, index 8-12mm. Organ / kelainannya sedang (ginjal, lambung,
usus) dipakai tebal potongan 5-8mm. Organ / kelainannya kecil (pancreas, kandung
empedu,……..) tebal potongan 2-5mm. Pada kasus tertentu seperti tumor yang
hipervaskuler/hemangioma khusus untuk hepar dan ginjal, perlu dibuat delayed
scan apbila dicurigai ada kelainan pada bolus kontras.Pada alat spiral / helical CI,
untuk hepar dan ginjal sebaiknya dipakai program volume/spiral scan untuk
mendapatkan dual phase(fase arterial dan portal pada hepar atau fase cortex dan
medulla pada ginjal), kemudian dibuat lagi delayed scan untuk mendapatkan fase
equilibrium(untuk hepar) dan fase excresi (untuk ginjal) dimana system
pelviocalycesnya terisi penuh. Untuk kasus CA pancreas pakai kontras negatife
(minum air saja).

11. CT-SCAN ABDOMEN BAWAH / PELVIC
Potongan axial dari lumbal 5 sampai buli-buli / kelenjar prostate.Prekontras : tebal
potongan 10mm. Bolus kontras didaerah yang ada kelainan, tebal potongan
tergantung besar kecilnya kelainan. Biasanya dipakai tebal potongan 5mm.
Persiapan pasien sering tidak sampai mengisi baik rectum-sigmoid, untuk itu perlu
dimasukkan kontras rectum. Khusus untuk Ca cervix yang masih stadium II-III,
dibuat potongan 3mm pada waktu bolus kontras. Delayed scan kadang diperlukan

34
bila: batas tumor tidak jelas. Potongan koronal dan sagital dapat diperoleh melalui
teknik MPR.

12. CT-SCAN SPINE
Potongan axial F.O.V. 160mm, tanpa kontras atau dengan kontras intrathecal,
disebut CT-Myelografi. Untuk kasus HNP: potongan hanya didaerah ruang discus,
sejajar dengan discus, tebal potongan 2-4mm. Kondisi soft tissue dan tulang bila
perlu. Untuk penilaian canal stenosis, dapat dibuat satu potongan tepat ditengah
korpus vertebrae, tegal lurus dengan axis corpus. Untuk kasus
tumor/spondylylitis/metastasis tulang: potongan sejajar dengan corpus vertebrae
didaerah yang ada kelainannya. Kondisi soft tissue dan tulang . Bila perlu
(umumnya harus) diberikan bolus kontras terutama pada kasus abses paravertebral
atau untuk melihat infiltrasi tumor kedalam canalis vertebralis.

2.11 Kekurangan dari CT Scan

Karena CT Scan menggunakan sinar x untuk menghasilkan gambar potongan
tubuh ,maka tentu saja pasien yang sedang dalam pemeriksaan CT Scan akan terpapar
dengan sinar x. CT Scan dengan teknologi saat ini hanya akan memaparkan 4% saja dari
radiasi sinar x yang dipaparkan oleh alat Rontgen sinar x biasa. Oleh karena itu ibu hamil
tak dapat melakukan pemeriksaan CT Scan , oleh karena itu ibu hamil wajib
memeberitahukan kondisi kehamilannya pada dokter sebelum dokter merekomendasikan
pemeriksaan CT Scan.
Munculnya gambaran artefak (gambaran yang seharusnya tidak ada tapi terekam).
Hal ini biasanya timbul karena pasien bergerak selama perekaman CT Scan berlangsung,
pasien yang menggunakan tambalan gigi amalgam atau sendi palsu dari logam, atau
kondisi jaringan tubuh tertentu yang mengakibatkan timbulnya gambaran
artefak. Demikian penggunakan CT Scan sejak awal sampai saat ini setelah banyak sekali
kemajuan teknologi yang dicapai ,kemajuan ini dapat sangat bermanfaat untuk dunia
kedokteran dan kesehatan.

2.12 Standar Operasional Prosedur
A. Persiapan Pasien

35
Pasien dan keluarga sebaiknya diberi penjelasan tentang prosedur yang akan
dilakukan. Pasien diberi gambaran tentang alat yang akan digunakan. Bila perlu
dengan menggunakan kaset video atau poster, hal ini dimaksudkan untuk
memberikan pengertian kepada pasien dengan demikian menguragi stress sebelum
waktu prosedur dilakukan.

Test awal yang dilakukan meliputi :
 Kekuatan untuk diam ditempat ( dimeja scanner ) selama 45 menit.
 Melakukan pernapasan dengan aba – aba ( untuk keperluan bila ada permintaan
untuk melakukannya ) saat dilakukan pemeriksaan.
 Mengikuti aturan untuk memudahkan injeksi zat kontras.
 Penjelasan kepada klien bahwa setelah melakukan injeksi zat kontaras maka
wajah akan nampak merah dan terasa agak panas pada seluruh badan, dan hal ini
merupakan hal yang normal dari reaksi obat tersebut. Perhatikan keadaan klinis
klien apakah pasien mengalami alergi terhadap iodine. Apabila pasien
merasakan adanya rasa sakit berikan analgetik dan bila pasien merasa cemas
dapat diberikan minor tranguilizer. Bersihkan rambut pasien dari jelly atau obat-
obatan. Rambut tidak boleh dikepang dan tidak boleh memakai wig.

B. Prosedur
a. Posisi terlentang dengan tangan terkendali.
b. Meja elektronik masuk ke dalam alat scanner.
c. Dilakukan pemantauan melalui komputer dan pengambilan gambar dari
beberapa sudut yang dicurigai adanya kelainan.
d. Selama prosedur berlangsung pasien harus diam absolut selama 20-45 menit.
e. Pengambilan gambar dilakukan dari berbagai posisi dengan pengaturan
komputer.
f. Selama prosedur berlangsung perawat harus menemani pasien dari luar dengan
memakai protektif lead approan.
g. Sesudah pengambilan gambar pasien dirapikan.

C. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan
a. Observasi keadaan alergiterhadap zat kontras yang disuntikan. Bila terjadi alergi
dapat diberikan deladryl 50 mg.
b. Mobilisasi secepatnya karena pasien mungkin kelelahan selama prosedur
berlangsung.

36
c. Ukur intake dan out put. Hal ini merupakan tindak lanjut setelah pemberian zat
kontras yang eliminasinya selama 24 jam. Oliguri merupakan gejala gangguan
fungsi ginjal, memerlukan koreksi yang cepat oleh seorang perawat dan dokter.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam bidang kedokteran, radiografi digunakan untuk mengetahui bagian dalam dari
organ tubuh seperti tulang, paru-paru dan jantung. Dalam radiografi dengan menggunakan
film sinar-x, maka obyek yang diamati sering tertutup oleh jaringan struktur lainnya,

37
sehingga didapatkan pola gambar bayangan yang didominasi oleh struktur jaringan yang
tidak diinginkan. Hal ini akan membingungkan para dokter untuk mendiagnosa organ
tubuh tersebut. Untuk mengatasi hal ini maka dikembangkan teknologi yang lebih canggih
yaitu CT-Scanner (Computed Tomography Scanner) dengan menggunakan radiasi nuklir
seperti neutron, sinar gamma dan sinar-x. Sehingga dokter Radiologi bisa melihat dengan
detail pada daerah tertentu.

3.2 Saran

Diharapkan dalam bidang kedokteran, CT-Scanner (Computed Tomography
Scanner) dengan menggunakan radiasi nuklir seperti neutron, sinar gamma dan sinar-x
untuk dapat mengetahui bagian dalam dari organ tubuh . CT scan sering digunakan untuk
mengevaluasi otak, leher, tulang belakang, dada, perut, panggul, dan sinus. Sehingga
dokter Radiologi bisa melihat dengan detail pada daerah tertentu.

Daftar Pustaka

1. http://www.primamedika.com/radiology.htm
2. http://www.elektroindonesia.com/elektro/no3d.html
3. http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/09/ct-scan/
4. http://en.wikipedia.org/wiki/Computed_tomography
5. NN, Alat Radiologi IV. Akademi Teknik Elektromedik
6. Hasan, Ir. Fakultas Teknik Universitas Pakuan, Bogor
7. Nugroho, Bintoro Siswo. Inspeksi Pemalsuan Produk dengan Teropong
8. Otak. http:\ www.fisik@net.htm. 2006x

38
9. http://www.MedistraHospital.htm. Helical CT Scan. 2004
10. http://swissradiology.com
11. Adisti Gusmavita. 2009. CT Scanner. www.kompas.co.id .update : 10 Juni 2010
pukul : 15.10 (acces online)
12. Harnawati . 2008. CT Scan. www.wordpass.com update : 10 Juni 2010
pukul:15.20 (acces online)
13. Putu Adi . 2009. Protocol pemeriksaan CT Scan . www.wordpress update : 10 Juni
2010 pukul : 15.35 (acces online)
14. Arie . 2010. CT Scan dan kegunaannya. www.wordpress . update : 10 Juni 2010
pukul : 15.40 (acces online)
15. Yanuar . 2010. Prinsip kerja CT Scan. www.wordpress . update : 10 Juni 2010
pukul : 16.00 (acces online)

39