1

BAB 1
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Konsep Dasar
1.1.1 Pengertian
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan suatu istilah yang sering
digunakan untuk sekelompok penyakit paru yang berlangsung lama dan ditandai
oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi
utamanya. Bronkitis kronik, emfisema paru, dan asma bronchial membentuk
kesatuan yang disebut PPOK (Price, 2012).
PPOK adalah keadaan penyakit yang ditandai oleh keterbatasan aliran udara
yang tidak sepenuhnya reversible (David, 2007).
Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah sebuah istilah keliru yang
sering dikenakan pada pasien yang menderita emfisema, bronchitis kronis, atau
campuran dari keduanya. Ada banyak pasien yang mengeluh bertambah sesak nafas
dalam beberapa tahun dan ditemukan mengalami batuk kronis, toleransi olahraga
yang buruk, adanya obstruksi jalan nafas, dan gangguan pertukaran gas (John B,
2010).
1.1.2 Klasifikasi
Penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit paru obstruksi kronik
adalah sebagai berikut:
1. Bronkitis kronik
Bronkitis merupakan definisi klinis batuk-batuk hampir setiap hari disertai
pengeluaran dahak, sekurang-kuranganya 3 bulan dalam satu tahun dan terjadi
paling sedikit selama 2 tahun berturut-turut.
2. Emfisema paru
Emfisema paru merupakan suatu definisi anatomic, yaitu suatu perubahan
anatomic paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran udara
bagian distal bronkusterminalis, yang disertai kerusakan dinding alveolus.

1

PPOK tampak timbul cukup dini dalam kehidupan dan merupakan kelainan yang mempunyai kemajuan lambat yang timbul bertahun-tahun sebelum awitan gejala-gejala klinis kerusakan fungsi paru (Smeltzer 2005). Kebiasaan merokok 2. kapas. Jenis kelamin 9. Prosesnya dapat terjadi dalam rentang lebih dari 20-30 tahunan. 6.1. Adapun faktor penyebabnya adalah: merokok. 2 3. Ras 10. padi-padian) merupakan faktor-faktor resiko penting yang menunjang pada terjadinya penyakit ini. dan pemajanan di tempat kerja (terhadap batu bara. (2009) faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko munculnya PPOK adalah: 1. Menurut Somantri. 5. Riwayat infeksi saluran nafas. Hiper-reaktivitas jalan napas (asma) 7. polusi udara. dan gas-gas kimiawi akibat kerja. asap. Defisiensi anti oksidan . Asma Asma merupakan suatu penyakit yang dicirikan oleh hipersensitivitas cabang- cabang trakea bronkial terhadap berbagai jenis rangsangan. Merokok diperkirakan menjadi penyebab timbulnya 80-90% kasus PPOK. 1. Keadaan ini bermanifestasi sebagai penyempitan saluran-saluran napas secara periodic dan reversibel akibat bronkospasme. 4. PPOK juga ditemukan terjadi pada individu yang tidak mempunyai enzim yang normal mencegah penghancuran jaringan paru oleh enzim tertentu. Bersifat genetik yaitu defisiensi -1 antitripsin. Yang sebagian besar bisa dicegah.3 Etiologi PPOK dianggap sebagai penyakit yang berhubungan dengan interaksi genetik dengan lingkungan. PPOK disebabkan oleh faktor lingkungan dan gaya hidup. Polusi udara 3. Infeksi peru berulang 8. Paparan debu.

3. Peningkatan resiko mortalitas akibat bronchitis hampir berbanding lurus dengan jumlah rokok yang dihisap setiap hari (peningkatan risiko = ½ x jumlah batang rokok yang dihisap perhari) (David. Laki-laki Pengaruh dari masing-masing factor risiko terhadap terjadinya PPOK adalah saling memperkuat dan faktor merokok dianggap yang paling dominan. 6. kronis pada bulan-bulan musim dingin. Mengi atau wheeze 11. Takikardia. Kadang ditemukan pernapasan paradoksal 16. Dispnea.5 Patofisiologi Bronkitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali sebagai eksaserbasi akut dari bronchitis kronis. Sesak napas saat aktivitas dan napas berbunyi 10. Penurunan berat badan dan kelemahan. Batuk produktif. Penggunaan otot bantu pernapasan 14. 5. Suara napas melemah 15.1. . 2. biasanya virus. 1. Batuk kronik dan pembentukan sputum purulen dalam jumlah yang sangat banyak. 7. 3 11. berkeringat. sesak dalam dada. 8. 4.4 Manifestasi Klinis Berdasarkan Brunner & Suddarth (2005) adalah sebagai berikut: 1.1. Hipoksia. asites dan jari tabuh 1. Anoreksia. seringkali merupakan awal dari serangan bronchitis akut. Pada infeksi saluran nafas bagian atas. Usia >50 tahun 12. 9.2007). Nafas pendek dan cepat (Takipnea). Edema kaki. Bentuk dada tong (Barrel Chest) pada penyakit lanjut 13. Ekspirasi yang memanjang 12.

. terutama selama ekspirasi. Mukus yang kental dan pembesaran bronchus akan mengobstruksi jalan nafas. Mukus lebih kental 3. 6. Bronchitis kronis mula-mula mempengaruhi hanya pada bronchus besar. ratio ventilasi perfusi abnormal timbul. tetapi biasanya seluruh saluran nafas akan terkena. Oleh karena itu. kongesti. Klien mengalami kekurangan oksigen jaringan. dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. edema mukosa dan bronchospasme. Bronkitis timbul sebagai akibat dari adanya paparan terhadap agent infeksi maupun non-infeksi (terutama rokok tembakau). Jalan nafas mengalami kollaps. Dinding bronchial meradang dan menebal (seringkali sampai dua kaliketebalan normal) dan mengganggu aliran udara. Mukus kental ini bersama-sama dengan produksi mukus yang banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar. Iritan akan menyebabkan timbulnya respon inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi. Kerusakan fungsi cilliary sehingga menurunkan mekanisme pembersihan mukus. 4. dimana terjadi penurunan PaO2 kerusakan ventilasi dapat juga meningkatkan nilai PaCO. Ketika infeksi timbul. 5. hipoksia dan asidosis. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronchi besar. yang mana akan meningkatkan produksi mukus. 2. "mucocilliary defence" dari paru mengalami kerusakan dan meningkatkan kecenderungan untuk terserang infeksi. Klien dengan bronchitis kronis akan mengalami: 1. kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan hyperplasia sehingga produksi mukus akan meningkat. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolar. 4 Dokter akan mendiagnosa bronchitis kronis jika klien mengalami batuk atau produksi sputum selama beberapa hari + 3 bulan dalam 1 tahun dan paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut.

5 .

tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini. 3. Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan bronchitis kronis. potensial mengancam kehidupan. dan menjadi pelupa. 5. pusing dan takipnea. Pada tahap lanjut akan timbul sianosis. Asidosis Respiratori Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnea). harus diobservasi terutama pada klien dengan dispnea berat. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan mood. 6. dan sering kali tidak berespons terhadap terapi yang biasa diberikan. penurunan konsentrasi. Penyakit ini sangat berat.1. Infeksi Respiratori Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus dan rangsangan otot polos bronchial serta edema mukosa. kelelahan. 6 1. dengan nilai nsaturasi oksigen <85%. 2. efek obat atau asidosis respiratori. Status Asmatikus Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asma bronchial. Hipoksemia Hipoksemia di definisikan sebagai penurunan nilai PaO2 < 55 mmHg. Kardiak Distritmia Timbul karena hipoksemia. . Gejala Jantung Terutama korpulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru). Penggunaan otot bantu pernapasan dan distensi vena leher sering kali terlihat pada klien dengan asma. Tanda yang muncul antara lain nyeri kepala. 4. penyakit jantung lain.6 Komplikasi Irman Somantri (2009: 50) menyebutkan komplikasi yang dapat terjadi sebagai berikut: 1. terbatasnya aliran udara akan menyebabkan peningkatan kerja napas dan timbulnya dispnea.

1. .1. 1.1. 7 1.7. peningkatan suara bronkovaskular (bronchitis).7.1. Pajanan terhadap polusi kerja dan atmosfer harus dikurangi sebanyak mungkin.5 FEV1/FVC: Rasio tekanan volume ekspirasi (FEV) terhadap tekanan kapasitas vital (FEC) menurun pada bronchitis dan asma.7. alkalosis respiratori ringan sekunder terhadap hiperventilasi (emfisema sedang atau asma).7.7. kolaps bronchial pada tekanan.1.1. menentukan abnormalitas fungsi tersebut apakah akibat obstruksi atau restriksi. 1. penurunan tanda vascular/bullae (emfisema).7 Bronkogram: Dapat menunujukkandilatasi dari bronki saat inspirasi.1.7Pemeriksaan Penunjang 1. normal ditemukan saat periode remisi (asma). ekspirasi (emfisema). 1. pH normal atau asidosis.7.1. dan juga dengan bronkodilator jika ada unsur yang reversibel. 1. peningkatan ruang udara retrosternal.8 Darah Lengkap: Terjadi peningkatan hemoglobin 1.7.2 Pemeriksaan Fungsi Paru: Dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea. misalnya bronkodilator. 1. dan mengevaluasi efek dari terapi. tetapi sering kali hal ini sulit dicapai. Bronchitis kronis harus diobati dengan antibiotic. tetapi sering kali menurun pada asma.1.3 Total Lung Capacity (TLC): Meningkatkan pada bronchitis berat dan biasanya pada asma.1.9 Penatalaksanaan Medis John B (2010) menyebutkan penatalaksanaan bagi pasien dengan penyakit paru obstruksi kronis yaitu dengan menghentikan pasien merokok sangat penting. memperkirakan tingkat disfungsi.1.7. flattened difragma.6 Arterial Blood Gases (ABGs): Menunujukan proses penyakit kronis. namun menurun pada emfisema. 1. sering kali PaO2 menurun dan PaCO2 normal atau meningkat (bronchitis kronis dan emfisema).4 Kapasitas Inspirasi: Menurun pada emfisema. pembesaran kelenjar mukus (bronchitis).1 Chest X-Ray: Dapat menunjukkan hiperinflation paru.

Oksigen harus diberikan dengan aliran lambat 1-2 liter/menit. 3. 3. . Penanganan terhadap komplikasi-komplikasi yang timbul. 3) Latihan dengan beban olahraga tertentu. 8. Tindakan rehabilitasi yang meliputi: 1) Fisioterapi. untuk melatih penderita agar bisa melakukan pernapasan yang paling efektif. Meniadakan faktor etiologi/presipitasi. Mengurangi laju progesivitas penyakit apabila penyakitnya dapat dideteksi lebih awal. 5. terutama ditujukan untuk penyesuaian diri penderita dengan penyakit yang dideritanya. Penggunaan kortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi (bronkospasme) masih controversial. 8 Tujuan penatalaksanaan PPOK adalah: 1. dengan tujuan untuk memulihkan kesegaran jasmani. Memperbaiki kemampuan penderita dalam melaksanakan aktivitas harian. Pengobatan simtomatik. yaitu usaha yang dilakukan terhadap penderita dapat kembali mengerjakan pekerjaan semula. Memberantas infeksi dengan antimikroba. Apabila tidak ada infeksi antimikroba tidak perlu diberikan. menghindari polusi udara. Membersihkan sekresi bronkus dengan pertolongan berbagai cara. 5) Pengelolaan psikosial. 2. 6. Pengobatan oksigen. tetapi juga fase kronik. Penatalaksanaan PPOK pada usia lanjut adalah sebagai berikut: 1. 7. bagi yang memerlukan. Memperbaiki kemampuan penderita mengatasi gejala tidak hanya pada fase akut. Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator. 4) Vocational guidance. 2) Latihan pernapasan. misalnya segera menghentikan merokok. 4. terutama bertujuan untuk membantu pengeluaran secret bronkus. 2. Pemberian antimikroba harus tepat sesuai dengan kuman penyebab infeksi yaitu sesuai hasil uji sensitivitas atau pengobatan empirik.

frekuensi tidak teratur distritmia.2. hipertensi atau hipotensi. 1. verifikasi dan komunikasi data tentang klien. kemungkinan menyebar ke leher.1. mual muntah. abdomen. 1. tajam dan nyeri menusuk yang diperberat oleh napas dalam.1. meningkat karena pernapasan.3 Auskultasi Orang dengan PPOK tandanya yaitu.2.1. dan perilaku distraksi dan mengkerutkan wajah. .4 Integritas Ego Orang dengan PPOK tandanya yaitu. batuk.2.2. 1.1. 2008) 1. kesulitan bernapas. riwayat bedah dada. 9 1. ketakutan dan gelisah.1. 2005).1. sering didapatkan adanya suara nafas ronkhi dan wheezing sesuai tingkat keparahan obstruktif pada bronkhiolus (Muttaqin.5 Makanan/cairan Orang dengan PPOK biasannya terjadi anoreksia. bahu.1. 1. S3 atau S4/irama jantung gallop. nyeri dada unilateral.1 Pengkajian Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan.2. takikardi.2 Sirkulasi Orang dengan PPOK tandanya yaitu.2. 1.1 Aktivitas/Istirahat Orang dengan PPOK memiliki gejala seperti dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat. timbul tiba-tiba gejala sementara batuk atau regangan (pneumotorak spontan). Fase proses keperawatan ini mencakup dua langkah pengumpulan data dari sumber primer (klien) (Potter & Perry.7 Pernapasan Orang dengan PPOK tanda dan gejalanya yaitu. penyakit pneumotorak sebelumnya.2 Manajemen Keperawatan 1. 1. pada palpasi gerakan dada tidak sama.2.6 Nyeri/kenyamanan Orang dengan PPOK gejalanya yaitu.2. batuk.

adanya bedah intrakoral/biopsy paru. 1. 2005).2.2. PO2 normal (80- 100 mmHg) PCO2 normal (35-45 mmHg) dan saturasi O2 normal (95-100%). tidak ada sianosis. anoreksia.9 Penyuluhan atau pembelajar Orang dengan PPOK gejalanya yaitu.8 Keamanan Orang dengan PPOK gejalanya yaitu.1.2. 1.4 Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan pertama (penurunan kerja silia.2.2.2.2. adanya trauma dada: kemotrapi untuk keganasan.3 Intervensi Intervensi keperawatan adalah semua tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini status kesehatan yang diuraikan dalam hasil yang diharapkan (Potter & Perry. 1.5 Kurang pengetahuan mengenai kondisi.2. 10 1. jebakan udara).2 Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan batuk.2.2. . Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan pertukaran gas kembali normal kriteria hasil: Bernapas dengan mudah. 1.3 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan memasukkan makanan.1. 1. spasme bronkus.2. riwayat faktor resiko keluarga. 1. mual. Diagnosa 1: Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan nafas oleh sekresi. 1.2 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menguraikan respon aktual atau potensial klien terhadap masalah kesehatan yang perawat mempunyai izin dan berkompeten untuk mengatasinya (Potter & Perry.2.1 Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan nafas oleh sekresi. spasme bronkus.2. 2005). menetapnya sekret). peningkatan produksi mukus/peningkatan sekresi lendir 1. tindakan berhubungan dengan kurangnya informasi/tidak mengenal sumber informasi.2. jebakan udara).

4. derajat distres pernapasan dan/atau kronisnya proses penyakit. Kaji kemampuan klien untuk 1. Gunakan suction (jika perlu untuk mengeluarkan sekret) c. Memantau tingkat kepatenan jalan memobilisasi sekresi. Awasi tanda vital dan irama 4. perubahan TD dapat menunjukkan efek hipoksia sistemik pada fungsi jantung. Lakukan fisioterapi dada 2. 2. Kolaborasi: Berikan oksigen 5. Sianosis mungkin perifer atau warna membran mukosa. peningkatan produksi mukus/peningkatan sekresi lendir Tujuan: Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat meningkatkan bersihan jalan napas. bernapas. cairan adekuat Intervensi Rasional 1. jika tidak nafas dan meningkatkan mampu : kemampuan klien merawat diri / a. 3. Kaji frekuensi. 5. 2. Tabel 1. kedalaman 1. Tinggikan kepala tempat tidur. Memantau kemajuan bersihan jalan auskultasi dada untuk mengetahui nafas . dan jantung. Dapat memperbaiki tambahan yang sesuai dengan ataumencegah memburuknya indikasi hipoksia. Berguna dalam evaluasi pernapasan. sentral. Kriteria hasil: Mampu mendemonstrasikan batuk terkontrol.1 Intervensi Dan Rasional Diagnosa Pertama Diagnosa 2: Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan batuk. Ajarkan metode batuk membersihkan/membebaskan jalan terkontrol nafas b. Keabu-abuan dan sianosis sentral mengidentifikasi beratnya hipoksia. Takikardia. Kaji/awasi secar rutin kulit dan 3. 11 Intervensi Rasional 1. Secara rutin tiap 8 jam lakukan 2. disritmia. Pengiriman oksigen dapat bantu pasien untuk memilih diperbaiki dengan posisi posisi yang mudah untuk duduk tinggi.

Kaji kebiasaan diet. Intervensi Rasional 1. nilai laboratorium normal. produksi sputum badan dan ukuran tubuh. Anjurkan klien mencegah infeksi/ 5. klien tidak mual lagi saat makan. mengencerkan sekret liter per hari bila tidak ada kontra indikasi 5. masukan 1. Mencegah iritasi : asap rokok Imunisasi : vaksinasi Influensa. mual. 2. utama terhadap nafsu makan dan dapat membuat mual dan muntah dengan peningkatan kesulitan napas. Berikan obat sesuai dengan resep. abdomen yang menggangu napas dan gerakan . dan obat. 3. Berikan perawatan oral sering. Dapat menghasilkan distensi dan minuman karbonat. Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan Kriteria hasil: Berat badan meningkat. Tabel 1. Hindari makanan penghasil gas 3. Rasa tak enak.2 Intervensi dan Rasional Diagnosa Kedua Diagnosa 3: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan memasukkan makanan. berikan wadah penampilan adalah pencegah khusus untuk sekali pakai dan tisu. Mengencerkan secret agar mudah mukolitik. bau dan buang sekret. Catat derajat akut sering anoreksia karena kesulitan makan. Anjurkan minum kurang lebih 2 4. 3. Pasien distres pernapasan makanan saat ini. Cegah ruangan yang ramai nafas pengunjung atau kontak dengan individu yang menderita influenza b. 3. ekspektorans dikeluarkan 4. Evaluasi berat dispnea. 12 kualitas suara nafas dan kemajuannya. 2. Menghindarkan bahan iritan yang stressor menyebabkan kerusakan jalan a. anoreksia. dan bebas tanda malnutrisi.

13 diafragma.3 Intervensi dan Rasional Diagnosa Ketiga Diagnosa 4: Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan pertama (penurunan kerja silia. 1. Tabel 1. hijauan menunjukkan adanya infeksi paru. karakter. tindakan berhubungan dengan kurangnya informasi/ tidak mengenal sumber informasi. dan dapat meningkatkan dispnea. menetapnyasekret). mencetuskan/meningkatkan spasme batuk. Kolaborasi: Berikan antimikrobial 1. Metode makan dan pendukung tim untuk memberikan kebutuhan kalori didasarkan makanan yang mudah di cerna. Observasi warna. kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi. 1.Diskusikan kebutuhan makan 3. Tabel 1. pada situasi/kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal. dan 2. khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitivitas. 5. kuning. Suhu ekstrem dapat sangat dingin. atau kehijau- bau sputum. suhu tubuh dalam batas normal. . Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan tidak terjadi infeksi dengan Kriteria hasil: Tidak terjadi demam. 4. Sekret berbau.4 Intervensi dan Rasional Diagnosa Keempat Diagnosa 5: Kurang pengetahuan mengenai kondisi. Kolaborasi: Konsul ahli gizi 5. Demam dapat terjadi karena infeksi dan/atau dehidrasi 2. Malnutrisi dapat mempengaruhi nutrisi adekuat. Dapat diberikan untuk organisme sesuai indikasi. Intervensi Rasional 1. Hindari makanan yang panas atau 4. Tujuan: Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan. 3. Awasi suhu. Kriteria hasil: Melakukan perilaku/perubahan pola hidup untuk memperbaiki kesehatan umum dan menurunkan resiko pengaktifan ulang tuberkulosis.

Tabel 1. 4. 3.5 Intervensi dan Rasional Diagnosa Kelima . cairan adekuat. Kaji potensial efek samping 6. tahapan individu. seberapa banyak isi. hambatan pasien untuk mengingat Berikan instruksi dan informasi sejumlah besar informasi. Belajar tegantung pada emosi dan contoh tingkat takut.Memenuhi kebutuhan metabolik mempertahankan protein tinggi dan membantu meminimalkan kelemahan diet karbohidratdan pemasukan dan meingkatkan penyembuhan. demam. 6. 1. kesiapan fisik dan ditingkatkan pada kelemahan. Intervensi Rasional 1. masalah. nyeri dada. dengan terapi dan meninggkatkan sakit kepala. Kaji penghentian obat sesuai perbaikan potensi interaksi dengan obat / kondisi pasien. media terbaik. Dapat menunjukkan kemajuan atau dilaporkan ke perawat. tingkat partisipasi. 14 mengidentifikasi gejala yang memerlukan evaluasi/intervensi. Mencegah atau menurunkan pengobatan (contoh mulut kering. siapa yang terlibat. Informasi tertulis dapat menurunkan mengencerkan/mengeluarkan secret. obat yang memerlukan evaluasi kesulitan bernafas. pendengaran. 2. 5. kerja yang diharapkan. kehilangan lanjut. contoh pengaktifan ulang penyakit atau efek hemoptisis. lingkungan terbaik dimana pasien dapat belajar. program pengobatan dan mencegah dan alasan pengobatan lama. subtansi lain. menggambarkan rencana untuk menerima perawatan kesehatan adekuat.Meningkatkan kerja sama dalam pemberian. frekuensi 5. gangguan penglihatan. Indentifikasi gejala yang harus 2. dan pemecahan masalah. hipertensi ortostatik) kerja sama dalam program. rujukan contoh jadwal obat.Kaji kemampuan pasien untuk belajar. vertigo. Cairan dapat 4. ketidaknyamanan sehubungan konstipasi. Tekankan pentingnya 3. tertulis khusus pada pasien untuk Pengulangan menguatkan belajar. Jelaskan dosis obat.

mengidentifikasi aspek hokum dan etik terhadap resiko dari potensial tindakan. adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan (Potter & Perry. rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. . yaitu suatu metode sistematik untuk mengorganisasi dan memberikan asuhan keperawatan (Potter & Perry. perencanaan.2. mengetahui komplikasi dan tindakan keperawatan yang mungkin timbul. Tahap awal tindakan keperawatan menunutut perawat mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam tindakan. melalui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor “kealpaan” yang terjadi selam tahap pengkajian. dan pelaksaan tindakan. 2. 2005). Evaluasi juga adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan. mempersiapkan lingkungan yang konduktif sesuai dengan yang akan dilaksanakan. analisa. menentukan dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan.4 Implementasi Implementasi merupakan komponen dari proses keperawatan.2. 15 2. 2005). Persiapan tersebut meliputi kegiatan-kegiatan: review tindakan keperawatan yang diidentifikasi pada tahap perencanaan.5 Evaluasi Evaluasi adalah langkah final dari proses keperawatan. menganalisa pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang diperlukan.