FAUNA

Jenis-jenis Fauna yang Dilindungi di Indonesia:
1. Komodo

Komodo merupakan salah satu hewan purba yang masih bertahan hidup sampai sekarang. Hewan ini
dipercaya hidup sejak zaman dinosaurus dan awal generasi manusia purba. Komodo berbentuk seperti
kadal dengan tubuh raksasa, berkaki empat dengan mulut yang terus menjulurkan lidahnya. Itulah
sebabnya orang barat menjulukinya komodo dragon, karena mirip naga yang menyemburkan lidah
apinya. Jumlah komodo terus merosot, bahkan diprediksi 20 tahun lagi komodo akan punah. Hewan yang
dilindungi di Indonesia ini endemik dan bertahan hidup di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur.

2. Orang Utan

Orang utan merupakan hewan dari jenis kera yang juga merupakan hewan endemik Indonesia. Dimana
orang utan hanya dapat dijumpai di kawasan hutan hujan tropis Kalimantan dan Sumatera. Namun
kondisi dari orang utan saat ini cukup memprihatinkan, maraknya perburuan liar terhadap hewan yang
dilindungi ini membuat populasinya nyaris terancam punah. Orang utan di buru untuk dijual sebagai
hewan peliharaan, diambil dagignya, atau sekedar dibunuh karena merusak kebun warga. Padahal
seharusnya orang utan wajib dilindungi dan dijaga kelestariannya.
3. Badak Bercula Satu

Badak bercula satu atau biasa disebut badak jawa juga tidak luput dari ancaman kepunahan. Hewan
endemik Indonesia ini hanya tersisa puluhan ekor saja yang di lindungi di taman nasional Ujung Kulon,
Banten. Semenjak beberapa tahun belakangan ini pengendalian terhadap perburuan badak bercula satu
dapat ditangani. Sehingga upaya pelestariannya bisa tetap di jaga, meski kematian masih teta bisa
mengancam populasinya. Sehingga pemerintah dan dinas terkait melakukan kampanye perlindungan
hewan langka yang cukup genncar pada masyarakat. Tujuannya agar kelak anak cucu kita dapat melihat
langsung keberadaan dari fauna yang dlindungi ini di habitat aslinya.

4. Gajah Sumatera

Gajah mungkin identik dengan Thailand yang berjuluk negeri gajah putih. Namun di Indonesia juga
terdapat spesies gajah endemik yang berada di Sumatera. Seperti halnya hewan lainnya, jumlahnya terus
berkurang akibat perburuan liar. Mereka mengeksploitasi kulit, daging serta gading gajah untuk dijual ke
luar negeri. Sehingga pemerintah bergera cepat dengan mendaftarkan gajah ke dalam daftar fauna yang
dilindungi dalam PP No. 7 tahun 1999. Tidak hanya itu saja, di habitat asli gajah sumatera juga didirikan
taman nasional Way Kambas yang berlokasi di Lampung. Disana juga dilakukan upaya pelestarian dan
juga pelatihan gajah sumatera.
5. Harimau Sumatera

Hariamau Sumatera merupakan salah satu hewan endemik Sumatera yang terancam punah. Jumlah
populasi dari fauna yang dilindungi ini hanya tersisa puluhan saja di habitat aslinya di hutan Sumatera.
Sebagian besar dari harimau sumatera diburu untuk diambil kulitnya dan kepalanya. Kulitnya dijual untuk
bahan baku aksesoris seperti tas, jaket, karpet dll. Sedangkan kepalanya dijadikan pajangan dinding. Agar
keberadaan harimau sumatera tetap lestari, pemerintah bekerjasama dengan suaka margasatwa dan kebun
binatang untuk menangkarkan harimau sumatera.

6. Anoa

Hewan unik endemik Sulawesi ini belakangan mengalami penyusustan populasi yang sangat signifikan.
Meski jumlahnya masih sekitar seratusan, namun jika diiarkan dengan kondisi seperti ini anoa akan cepat
punah. Hewan yang sekilas mirip kerbau ini mulai dimasukkan dalam fauna yang dilindungi sejak awal
tahun dua ribuan. Dimana saat itu banyak terjadi kerusakan habitat anoa dan juga perburuan liar.
Sehingga pemerintah dan dinas terkait mendirikan taman nasional Lore Lindu di Sulawesi untuk
meestarikan anoa sekaligus menjaga habitat aslinya.
7. Bekantan

Bekantan atau kera hidung panjang ini dulunya banyak dijumpai di hutan Kalimantan. Namun seiring
dengan pembukaan lahan, habitat asli bekantan menjadi rusak. Akibatnya jumlah populasi bekantan
menurun cukup drastis. Kekurangan sumber makanan dan tempat tinggal merupakan faktor utama hewan
ini terancam punah. Jika terus dibiarkan, jumlah populasi fauna yang dilindungi ini akan habis sekitar 15-
20 tahun mendatang.

8. Tarsius / Singapuar

Tarsius merupakan primata terkecil di dunia, ukuannya hanya sekepalan tangan anak kecil. Bahkan yang
paling kecil hanya berukuran sebesar tangan bayi. Hewan mungil ini berhabitat asli di hutan Kalimantan,
Riau dan Sumatera Selatan. Tarius masuk dalam kategori fauna yang dilindungi dan terancam punah
sejak beberapa tahun belakangan. Habitat alaminya yang rusak adalah penyebab hewan mungil ini
terancam punah. Sampai sekarang belum ada upaya penangkaran tarsius secara terorganisir, baik dari
pemeritah daerah maupun pemerintah pusat.
9. Elang Jawa

Pernahkah kalian melihat garuda yang merupakan lambang negara kita? Jika belum maka sebenarnya
elang jawa adalah sosok lambang negara kita. Sebab elang ini memiliki jambul dibagian kepalanya yang
mirip dengan garuda. Dibalik kebanggan itu, keberadaan elang jawa nyaris diambang keunahan. Faktor
penyebabnya adalah perburuan liar dan perusakan habitat alaminya. Fauna yang dilindungi di Indonesia
ini dulunya sangat mudah dijumpai di sekitar hutan pegunugan di Jawa. Namu sekarang hanya bisa
ditemui di beberapa tempat saja, seperti hutan Gunung Slamet, Gunung Kawi, Taman Nasional Gunung
Gede dan Taman Nasional Muara Betiri.

10. Burung Cenderawasih

Burung ini dahulunya banyak dijumpai di kepulauan Papua, khususnya bagian barat, Papua Nugini, dan
Sebagian Australia. Namun setelah banyak terjadi perburuan liar yang masif, jumlah cenderawasih terus
mengkhawatirkan. Tak kurang dari beberapa ratus saja yang masih bertahan hidup di habitat aslinya.
Kurangnya kesadaran masyarakat tentang fauna yang dilindungi merupakan pekerjaan rumah yang harus
segera ditangani. Bila tidak, maka beberapa tahun kedepan cenderawasih akan benar-benar punah.
11. Jalak Bali

Sejak beberapa tahun belakangan jumlah jalak bali terus menurun. Sehingga dengan sangat terpaksa, jalak
bali kemudian dimasukkan dalam fauna yang dilindungi di Indonesia. Pemerintah dan dinas terkait
melakukan upaya penangkaran jalak bali dengan dua sistem. Sistem penangkaran alami dan
penangkarang buatan. Penangkaran alami dilakukan di habitat aslinya di Bali melalui suaka margasatwa.
Sedangkan penangkaran buatan dipasrahkan pada peternak burung dengan bantuan dan pengawasan
pemerintah.

12. Kakak Tua Raja

Burung yang akrab kita nyayikan dengan riang sewaktu kecil sekarang nyaris terancam punah. Burung
yang berhabitat asli di Kepulauan Papua ini mengalami penyusutan populasi yang cukup besar. Baik
karena perburuan liar, perusakan habitat, maupun kondisi alam. Secara statistik, fauna yang dilindungi ini
hanya tersisa puluhan saja. Itu pun masih merupakan angka perkiraan saja. Sebab fakta di lapangan
menunjukkan bahwa populasi dalam kawanan Kakak Tua Raja terus menurun.
13. Burung Merak

Burung yang dijuluki poenix ini sudah masuk kedalam fauna yang dilindungi sejak tahun sembilan
puluhan. Eksploitasi besar-besaran terhadap merak menjadikan burung berbulu indah ini terancam punah.
Sehingga pemerintah berupaya melestarikan burung ini melalui suaka marga satwa dan juga kebun
binatang. Harapannya tentu agar merak tetap lestari meski bukan di habitat aslinya. Sedangkan sanksi
tegas telah disiapkan pada siapa saja yang melakukan perburuan atau eksploitasi terhadap merak.

14. Babirusa

Hewan ini mungkin kurang familiar di kalangan masyarakat, namun aslinya merupakan hewan endemik
Sulawesi. Babirusa adalah babi dengan tanduk dan siung gigi yang sangat keras dan kuat. Tanduk dan
siungnya itulah yang digunakan untuk senjata melawan predator dan menarik betina. Bentuk badannya
tidak terlalu tambun seperti babi biasa, cenderung kokoh dan kuat. Karena ancaman kepunahan yang
semakin memperihatinkan, maka fauna yang dilindungi UU No. 7 tahun 1999 ini di pindahkan ke Taman
Nasional Lore Lindu. Di sanalah babirusa ditangkarkan di habitat alam terbuka.
15. Trenggiling

Binatang mirip musang berkulit keras ini masuk dalam kategori mamalia liar. Habitat aslinnya berada di
pulau Jawa dan sebagian Sumatera. Dulunya trenggiling masih sering dijumpai secara tidak sengaja,
namun sekarang susah meski dicari sampai ke sarangnya. Sebab belakangan mulai marak ernburuan dan
perdagangan trenggiling ke Cina. Katanya daging trenggiling nantinya diakai sebagai obat tradisional.
Itulah kenapa jumlah trenggiling terus menyusut, bahkan nyaris punah. Maka mulai beberapa tahu
belakangan ini, pemeritah memasukkan trenggiling sebagai fauna yang dilindungi di Indonesia.
FLORA
Jenis-jenis Fauna yang Dilindungi di Indonesia :
1. Bunga Raflesia Arnoldi / Bunga Bangkai

Bunga ini merupakan bunga langka yang hanya terdapat di Indonesia. Itu sebabnya bunga ini
dimasukkan dalam kategori flora yang dilindungi. Baunya yang semerbak seperti bangkai
membuat bunga ini mudah dikenali. Bentuknya yang unik dan ukurannya yang besar juga
menjadi daya tariknya. Bunga ini banyak tersebar di hutan Jawa barat, Jawa Tengah, Sumatera
dan Taman Nasional Meru Betiri dan Taman Nasional bogor.

2. Anggrek Hitam

Anggrek hitam mempunyai warna kuning dan bintik hitam di bagian bunganya. Karena
keindahan warna dan coraknya inilah, bunga ini sangat diburu para kolektor. Bahkan mereka
tidak segan-segan untuk menebusnya dengan harga selangit. Akibatnya, banyak terjadi
penjarahan dan peruskan terhadap habitat bunga anggrek hitam. Bunga ini tumbuh dan tersebar
di hutan Kalimantan, Sumatera, Tanjung Malaya, dan Pulau selatan Filipina.
3. Bunga Anggrek Larat

Sama seperti anggrek hitam, anggrek larat juga semakin langka. Jumlahnya terus berkurang
karena perusakan yang terjadi di habitat aslinya. Bunga ini dapat dijumpai di wilayah Indonesia
tengah seperti pulau Tanimbar, pulau Larat dan Maluku. Di sana bunga anggrek larat tumbuh
alami di pohon-pohon besar atau celah tebing kapur. Setiap tahun bunga ini terus mengalami
penurunan jumlah di habitat aslinya. Jika tidak ada penanganan lanjut, flora yang dilindungi ini
akan punah dalam 5-10 tahun kedepan.

4. Bunga Kantong Semar

Kantong semar juga merupakan salah satu flora yang dilindungi dari kategori bunga. Jumlahnya
yang terus berkuran membuatnya masuk dalam kategori langka dan terancam punah. Bunga yang
bersifat karnivora ini tersebar di daerah hutan hujan tropis alami seperti di Sumatera dan sebaian
Kalimantan. Namun keberadaan kantong semar juga bisa dilihat di beberapa taman nasional dan
juga cagar alam. Beberapa juga ada yang dikembangkan di taman botani beberapa kampus di
Indonesia.
5. Bunga Anggrek Tebu / Anggrek Macan

Bunga anggrek yang satu ini sangatlah unik dan bisa dibilang terbesar diantara jenisnya. Bunga
anggrek tebu/anggrek macan mempunyai bentuk mirip tebu, berbatang panjang, tumbuh
bergerombol. Satu gerombol anggrek tebu dewasa bisa mencapai berat satu ton. Batangnya juga
mampu tumbuh sepanjang 3 meter. Bunganya yang berwarna kecoklatan dan bertotol mirip
macan juga menjadi daya tarik alami anggrek ini. Namun sayang, flora yang dilindungi di
Indonesia ini masuk dalam kategori langka dan nyaris punah.

6. Tanaman Mimba

Pohon ini dulunya banyak dijumpai di hutan Kalimantan dan juga semenanjung malaya. Namun
sekarang jumlah mimba di habitat aslinya jauh berkurang. Faktor penyebabnya adalah perluasan
lahan perkebunan dan pemukiman. Jika tidak segera dilakukan tindakan pelestarian, maka
tanaman pestisida alami ini akan punah. Mengingat lamanya regenerasi yang ada, besar
kemungkinan dalam 10-20 tahun pohomn mimba sudah tidak bisa dijumpai lagi.
7. Tanaman Enau / Aren

Jika dilihat secara sekilas, enau/aren mirip dengan pohon kelapa. Namun sebenarnya berbeda,
karena batang enau lebih banyak ditutupi serabut. Buahnya juga tidak sebesar buah kelapa, lebih
cenderung seperti buah pada palem yang kecil bergerombol. Nah, nektar dari bunga buahnya
itulah yang bisa dijadikan sebagai gula. Hanya saja saat ini enau juga sangat terancam
keberadaannya karena pembukaan lahan huta. Hingga saat ini populasinya di hutan Kalimantan
dan Sumatera semakin berkurang.

8. Pohon Tembesu

Tembesu berbeda dengan Trembesi, jadi jangan sampai salah. Tembesu memiliki kulit kasar
yang keras dengan dalaman kayu yang keras pula. Biasanya kayunya digunakan untuk keperluan
papan seperti mebel, rumah, atau kapal tradisional. Karena eksploitasi tersebut tembesu mulai
terancam punah sejak beberapa tahun belakangan ini. Oleh sebab itu, tembesu dimasukkan dalam
daftar flora yang dilindungi. Saat ini beberapa tembesu masih bisa dijumpai di daerah Jawa,
Sulawesi, Kalimantan dan Papua.
9. Pohon Jeluntung

Pohon ini dulunya masih banyak ditemukan di Kalimantan, Sumatera dan semenanjung malaya.
Namun sekarang ini jeluntung mulai jarang ditemukan. Ekploitasi lahan dan penebangan liar
menjadi dalang dari langkanya tanaman ini. Meski sudah dimasukkan dalam flora yang
dlindungi dan disahkan melalui PP, nyatanya perusakan tetap saja dilakukan. Jika tidak ada
kesadaran dari masyarakat, maka 20 tahun dari sekarang, cucu kita tidak akan bisa melihat
jeluntung lagi.

10. Pohon Eboni

Pohon eboni saat ini masuk dalam kategori tanaman langka yang dilindungi di Indonesia.
Pasalnya tanaman kayu ini mengalami pengurangan jumlah di habitat aslinya secara masif.
Pembalakan liar adalah faktor penyebab utamanya. Para pembalak memang mengincar kayu
hitamnya karena memiliki kualitas yang bagus. Biasanya kayu hitam dari pohon eboni digunakan
sebagai bahan baku mebel dan furnitur. Harga kayu hitam eboni bahkan lebih mahal dari harga
kayu jati.
11. Pohon Ulin

Pohon ulin bisa dibilang adalah pohon terbesar di Indonesia. Ulin yang sudah berumur ratusan
tahun bisa memiliki diameter 1,5 meter dan lingkar batang 8-10 meter. Tingginya bahkan bisa
mencapai 30 meter lebih dengan akar yang tertancap sangat kuat. Kayu dari pohon ulin terkenal
sangat keras dan kuat, sehingga sering disebut kayu besi. Karena kulaitas kayunya itulah, pohon
ulin di hutan Kalimantan sering dijarah secara liar. Meski telah dimasukkan dalam kategori
pohon yang dilindungi, sampai sekarang masih saja terjadi praktek pembalakan liar dan ilegal.

12. Pohon Cendana

Pohon ini mungkin identik dengan sosok keluarga mantan presiden RI ke-2. Ya, karena
kebetulan saat itu keluarga beliau berada di jalan cendana. Namun sejarahnya berbeda, pohon ini
sekarang tak seabadi namanya. Pohon yang mempunyai aroma khas ini dieksploitasi sebagai
campuran parfum, aroma terapi dan bahan pembuatan dupa. Karena tidak seimbang maka
kondisinya makin memprihatinkan. Apalagi tanaman ini tergolong tanaman parasit, yang hanya
bisa hidup dengan menempel pada tanaman lainnya. Sehingga flora yang dilindungi ini sulit
dikembangbiakkan dan sangat terancam punah.
13. Pohon Damar

Eksploitasi dan pembalakan juga menjadi penyebab pohon damar terancam punah. Di habitat
aslinya di Papua, damar hanya tinggal beberapa persen saja. Tanaman yang dilindungi ini
mampu tumbuh setinggi 60 meter dan diameter 2 meter. Damar juga mempunyai kualitas kayu
yang bagus dan kualitas yang super. Sehingga damar banyak ditebang untuk dijadikan bahan
baku mebel dan furnitur. Karena tumbuhnya yang lambat, maka upaya pelestarian damar juga
sulit mencapai target tahunan. Sedangkan pembalakan liar diluar sana terus saja terjadi.

14. Tanaman Bayur

Bayur yang juga mempunyai kualitas kayu yang unggul juga tak luput dari eksploitasi.
Jumlahnya makin hari makin berkurang, bahkan sampai-sampai dimasukkan sebagai flora yang
dilindungi karena terancam punah. Bayur sendiri sebearnya mempunyai daya tumbuh yang
sedang, tidak selambat pohon langka lainnya. Namun bayur sudah bisa diambil kayunya sejak
usia beberapa tahun sampai puluhan tahun. Sehingga penebangan jauh lebih besar daripada
upaya pelestariannya. Dibutuhkan kesadaran lebih dari masyarakat untuk mengurangi
penebangan dan ikut berperan dalam upaya pelestarian bayur.
15. Bunga Edelweis

Bunga yang satu ini lebih dikenal dengan sebutan bunga abadi. Sebab edelweis tidak layu meski
sudah lama dipetik dan disimpan. Bunga ini biasanya tumbuh di sekitar puncak gunug berapi.
Persebarannya paling banyak di pulau jawa khusunya di sekitar Merapi dan gunug berapi
lainnya. Namun saat ini populasinya sudah mulai menipis akibat penjarahan liar. Banyak dari
pendaki yang memetik edelweis dan membawa pulang sebagai oleh-oleh. Tindakan tersebutlah
yang membuat edelweis menjadi bunga yang dilindungi keberadaannya.