BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan merupakan kebutuhan manusia dapat hidup layak dan

produktif, sehingga diperlukan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang

terkendali dalam biaya dan mutu pelayanan yang diberikan. Oleh karena itu

setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan

kesehatan dan negara bertanggung jawab mengatur agar hak hidup sehat bagi

seluruh rakyat dapat terpenuhi (Yuniarti, 2015).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2010), mendorong seluruh

Negara mengembangkan jaminan kesehatan untuk semua penduduknya

(Universal Health Coverage). Dengan jaminan kesehatan tersebut semua

penduduk di negara yang mengembangkan jaminan kesehatan ini termasuk

peserta jaminan kesehatan (Syaputra, 2015).

BPJS Kesehatan bisa menjembatani permasalahan medis yang

terhambat oleh uang. Seringkali pasien tidak dapat diberikan pelayanan

dengan lebih baik karena tidak memiliki uang. Hal ini lah yang dicegah

dengan munculnya BPJS esehatan. Sebelum ada BPJS Kesehatan sistem

pembayaran pasien ke dokter adalah out of pocket, jadi dokter menerima jasa

medis langsung dari pasien. Dengan adanya BPJS Kesehatan maka sistem

pembayaran berubah menjadi asuransi sehingga pasien tidak perlu

merogohkan uang untuk membayar jasa medis dokter (Bannu, 2015).

1

dimana terdapat permasalahan dalam pengaplikasiannya. belum lengkapnya peraturan pelaksanaan yang mengatur mekanisme pelayanan BPJS Kesehatan. sehingga banyak peserta BPJS Kesehatan yang mengeluhkan dengan sistem pelayanan rujukan berjenjang yang diterapkan BPJS Kesehatan (Syaputra. Pada hakekatnya rumah sakit berfungsi sebagai tempat penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. . 2015). 2014 program BPJS Kesehatan saat ini masih terkendala oleh persiapan dan infrastrukturnya itu masih kurangnya jumlah kamar rawat inap di rumah sakit. 2 Menurut Damasari. serta permasalahan dalam proses migrasi dari pengguna Askes menjadi pengguna BPJS Kesehatan (Bannu. dan belum sinkronnya aspek teknis dalam pelayanan di lapangan. banyak masyarakat yang belum tahu teknis mendapatkan pelayanan sesuai dengan aturan BPJS Kesehatan. Dengan banyaknya jumlah peserta BPJS Kesehatan secara nasional dan sebagai suatu sistem yang besar dan baru berlangsung dalam tempo yang relative singkat. 2015) Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan. 2007). Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelayanan BPJS Kesehatan. Fungsi dimaksud memiliki makna tanggung jawab yang seyogyanya merupakan tanggung jawab pemerintah dalam meningkatkan taraf kesehatan masyarakat (Depkes RI.

1 Tahun 2014 tentang penyelenggaraan jaminan kesehatan disebutkan bahwa jaminan kesehatan adalah jaminan yang berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh . 2007). (Assuari. Kemampuan rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan pasien dapat diukur dari tingkat kepuasan peserta. Dalam peraturan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan No. Komplain yang tidak segera ditangani akan mengakibatkan menurunnya kepuasan pasien terhadap kapabilitas pelayanan kesehatan dirumah sakit tersebut. maka pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan akses pada fasilitas kesehatan. Paradigma baru pelayanan kesehatan mengharuskan rumah sakit memberikan pelayanan berkualitas sesuai kebutuhan dan keinginan pasien dengan tetap mengacu pada kode etik profesi. 3 Rumah sakit memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat. 2003). Pada umumnya pasien merasa tidak puas dan akan mengajukan komplain pada pihak rumah sakit. Di antaranya adalah dengan menerbitkan undang-undang 40 tahun 2004 tentang sistem jaminan sosial nasional (UU SJSN) dan undang-undang 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (UU BPJS). maka rumah sakit melakukan peningkatan kualitas pelayanannya (Depkes RI. Kepuasan konsumen telah menjadi konsep sentral dalam wacana bisnis dan manajemen. Dengan mempertimbangkan tingkat urgensi dari kesehatan. Dalam perkembangannya teknologi yang pesat dan persaingan yang semakin ketat.

Rumah Sakit. Hal ini perlu dilakukan mengingat rumah sakit merupakan sarana pelayanan rujukan di wilayahnya. yang diharapkan dapat mengatasi masalah kesehatan setempat termasuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu (Depkes RI.000. Dalam visi Indonesia sehat 2010 terdapat 4 pilar gambaran masyarakat Indonseia dimasa depan. (Supranto. maupun balai pengobatan yang bekerja sama dengan program ini. salah satunya adalah masyarakat Indonesia mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata (Depkes RI. 2007). Dengan di berlakukannya program ini sejak januari 2014 diharapkan bahwa masyarakat dari berbagai lapisan semakin memanfaatkan pelayanan dan fasilitas kesehatan yang baik itu di puskesmas. 1999). (Depkes.000.000. Meskipun dari segi keterjangkauan pelayanan kesehatan sudah memadai namun mutu pelayanan kesehatan. 4 manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran di bayar oleh pemerintah.000.00 (dua triliun rupiah) yang bersumber dari Anggran Pendapatan dan Belanja Negara. pasal 42 adalah modal sebagai mana dimaksud dalam pasal 41 ayat (1) huruf a untuk BPJS kesehatan dan BPJS ketenaga kerjaan di tetapkan masing-masing paling banyak Rp 2. termasuk dirumah sakit perlu ditingkatkan seacara terus menerus agar dapat memenuhi tuntutan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang bermutu. 2002). 2011) .

96% menyatakan belum puas dengan kinerja pelayanan yang dirasakan. lebih rendah dari yang diharapkan (Kotler. Moch Ansari Saleh yang didirikan pada tahun 1950 (Dulunya RSJP Banjarmasin). Sebagian besar masyarakat baik di daerah perkotaan maupun di perdesaan kurang puas atas pelayanan rumah sakit pemerintah. 5 Mutu pelayanan dapat dipersiapkan baik dan memuaskan pasien. dan puskesmas pembantu. adalah jika jasa yang diterima sesuai atau melebihi dari yang diharapkan dan sebaliknya mutu pelayanan dipersepsikan jelek atau tidak memuaskan jika pelayanan yang diterima . Persepsi masyarakat terhadap ketidak puasan pelayanan tidak memenuhi standar (Siswono. Dari studi pendahuluan pada tanggal 21-26 November 2016 peneliti mendapatkan data dari 10 orang klien 4 diantaranya menjawab belum puas dengan alasan dokter yang datang tidak tepat waktu. 2001). Kepuasan peserta merupakan salah satu indikator mutu pelayanan kesehatan. Responden terbanyak mengomentari perawat yang tidak ramah dan judes. Di RSUD Dr. 84. sehingga mempengaruhi sikap dan keyakinan orang lain untuk tidak berkunjung ke sarana tersebut (Tjiptono & Diana. Kenyataan menunjukan bahwa peserta yang tidak puas akan memberikan rekomendasi dari mulut ke mulut. 2000 dalam Supranto 2012). puskesmas. H. dengan biaya perawatan tidak terjangkau. ruangan perawatan yang kurang bersih. Hasil survei kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan di RS Sanglah Denpasar yang dilakukan oleh Munijaya (2012). 2003). jadual kunjungan dokter tidak tepat waktu dan sarana parkir yang kurang memadai. Dan 7 diantaranya menjawab sangat .

dan penyakit tropik di provinsi Kalimantan Selatan. Sebagai rumah sakit rujukan Provinsi. Dalam rencana strategis (Renstra) RSUD Dr. klien Askes sosial dan klien lainnya. untuk BPJS di Ruangan Kumala pada tahun 2016 adalah sebanyak 61. Moch Ansari Saleh wajib memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. untuk mewujudkan visi tersebut maka di tetapkan pula misi sebagai berikut: Mengembangkan pusat rujukan pelayanan kesehatan dengan unggulan penyakit syaraf. Moch Ansari Saleh tahun 2015-2016 di tetapkan visi: Menjadi Rumah Sakit bagi masyarakat Banjarmasin dan sekitarnya pada tahun 2016. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. maka pelayanan yang diberikan belum memuaskan semua klien atau pelanggannya. klien BPJS. . Moch Ansari Saleh merupakan rumah sakit tipe B dengan kapasitas 270 tempat tidur sesuai dengan angka ideal BOR adalah antara 60-85% dan Tahun 2015 perhitungan BOR sebesar 86. H. 6 puas dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Mengembangkan Aspek pendidikan dan penelitian bagi tenaga medik dan tenaga kesehatan lainnya. penyakit infeksi. H.69% jumlah klien miskin yang menggunakan BPJS di Ruangaan Nilam pada Tahun 2016 adalah sebanyak 105. Umum sebanyak 62. adil dan tidak diskriminatif kepada seluruh klien baik klien umum. H. Umum sebanyak 51. RSUD Dr. RSUD Dr.

H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin 2. Mengetahui Tingkat Kepuasan Pelayanan Kesehatan Peserta Umum di Ruang Nilam dan Kumala RSUD Dr. Moch Ansari Saleh. Tujuan Umum Mengetahui Perbedaan Antara Tingkat Kepuasan Pelayanan Kesehatan terhadap Peserta Umum dengan Peserta BPJS di Ruangan Nilam dan Kumala RSUD Dr. Tujuan Penelitian 1. Manfaat Penelitian 1. H. c. Mengetahui Tingkat Kepuasan Pelayanan Kesehatan Peserta BPJS di Ruang Nilam dan Kumala RSUD Dr. 7 B. Moch Ansari Saleh. M. b.” C. D. Moch Ansari Saleh Banjarmasin. Tujuan Khusus a. Manfaat Teoritis Dari hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan keperawatan manajemen. Ansari Saleh Banjarmasin Tahun 2017. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah utama dalam penelitian yaitu: “Apakah ada Perbedaan Antara Tingkat Kepuasan Peserta yang menggunakan BPJS dan Umum di Ruang Nilam dan Kumala RSUD Dr. H. tentang Perbedaan tingkat . Perbandingan Tingkat Kepuasan Pelayanan Kesehatan terhadap Peserta Umum dengan Peserta BPJS di Ruang Nilam dan Kumala RSUD Dr. H. H.

dan praktek penelitian mengenai perbedaan tingkat kepuasan peserta Umum dan peserta BPJS di Ruang Nilam dan Kumala. c. memerikan informasi. Moch Ansari Saleh Banjarmasin. Perbedaan tingkat kepuasan pelayanan kesehatan di Ruangan Nilam dan Kumala RSUD Dr. Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan dengan dilakukan penelitian ini dapat sebagai sumber referensi termasuk data nyata bagi pendidikan dan ilmu pengetahuann yang berhubungan dengan. . Bagi Rumah sakit Dengan dilakukannya penelitian ini. Bagi Peneliti Diharapkan hasil penelitian ini bisa digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Moch Ansari Saleh d. Bagi Masyarakat Dengan dilakukannya penelitian ini. diharapkan dapat memberikan manfaat dalam upaya peningkatan mutu kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada peserta Umum dan BPJS di Ruang Nilam dan Kumala. H. b. H. 8 kepuasan pelayanan di Ruang Nilam dan Kumala RSUD Dr. di harapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di wilayah Banjarmasin khususnya pada pelayanan kesehatan. Manfaat Praktis a. 2.

Dengan judul analisis kepuasan pasien peserta BPJS kesehatan pada pelayanan rawat jalan tingkat pertama (RJTP) dikota Bandar Lampung.50 dan pasien Umum 50. Penelitian ini menggunakan studi deskritif dan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling dengan jumlah sampel BPJS yang rawat inap sebanyak 60 orang dan Umum 191 orang dan sampel 60 orang yang terdiri 30 klien BPJS dan 30 klien Umum Instrmen penelitian ini menggunakan kuesioner kepuasan yang telah baku sehingga tidak dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Penelitian ini menggunakan studi cross sectional dan teknik pengambilan sampel secara proportional stratified random sampling dengan jumlah sampel 105 responden teknik analisa data menggunakan imformance analiysis sedangkan pada peneliti menggunakan teknik accidental sampling dengan jumlah sampel 135 responden hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata pasien puas sebesar 32.5% . 2. Dengan judul penelitian Gambaran tingkat kepuasan pelayanan di ruang rawat inap RSUD Muara Teweh. Dony Chandra Kaharap. Ichas Eko Wilantara (2015).5%. 9 E.5% dan yang tidak puas sebesar 67. (2016). Sedangkan pada dokter praktik rata-rata pasien puas sebesar 55.00 Analisis Uji Mann-Whitney memperoleh nilai signifikan P=0.05.2% dan yang tidak puas sebesar 47. Keasliaan Penelitian 1. hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata BPJS di peroleh hasil 56.018<0.

Ennery Dewi Yanti (2011). Tempat penelitian di Puskesmas Panarung Palangkaraya. Jaminan (assurance). Empati . safe sebesar 93%. sedangkan pada dokter praktik dimensi tangibles sebesar 94%. safe sebesar 98%. accesible sebesar 97%. variabel yang berbeda. Keandalan (Responsiveness). perbedaannya adalah jumlah responden dan teknik sampling. Dengan judul perbandingan tingkat kepuasan pasien jamkesmas dan umum terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas Panarung Kecamatan Pahandut Palangkaraya untuk mengetahui perbandingan tingkat kepuasan pasien jamkesmas dan umum terhadap pelayanan kesehatan Puskesmas Panarung Palangkaraya. 3. tempat. berwujud ( Tangible). Alat ukur penelitian berupa kuesioner yang terdiri dari 13 item pertayaan yang memuat 5 dimensi mutu. penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dan populasi Peserta yang menggunnakan Jamkesmas dan Umum di Puskesmas Panarung Palangkaraya dengan sampel penelitian 34 Jamkesmas dan 34 Umum. emphaty sebesar 99%. variabel terikat (dependen) yaitu kepuasan pasien yang meliputi dimensi mutu. 10 dan beradasarkan tabel tingkat kesesuaian antara dimensi mutu pelayanan terhadap kepuasan pasien peserta BPJS Kesehatan secara keseluruhan tingkat kesesuaian pasien BPJS Kesehatan pada puskesmas mengenai dimensi tangibles mencapai 90%. waktu penelitian pada April –Mei 2011. responsiveness sebesar 81%. waktu yang berbeda persamaannya adalah desain penelitian menggunakan kuantitatif dan juga mengukur tingkat kepuasan pasien BPJS.

11 yang sebelumnya telah dilakukan uji validitas dan reliabelitas Analisa data menggunakan analisa uji satatistik Maan-Whiney U Tesi. dari hasil penelitian ini ada perbandingan tingkat kepuasan pasien Jamkesmas dan Umum terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas Panarung Palangkaraya dengan hasil Mann-Whitney U Test sebesar 2. .996 (Ho ditolak).

Related Interests