PRESENTASI KASUS DIPERSIAPKAN

TRAUMA

Disusun oleh:
Hilmiana Putri
1112103000013

Pembimbing:
dr. Marwatal Hutadjulu, Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK NEUROLOGI
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016

KATA PENGANTAR

Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan berupa kesehatan dan
kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya.

Shalawat serta salam kita sampaikan kepada junjungan alam nabi
Muhammad SAW yang telah mengajarkan kita jalan menuju kebahagiaan dunia
dan akhirat atas izin Allah SWT. Dan semoga kita semua termasuk orang-orang
yang mendapat syafa’atnya di yaumil qiyamah kelak.

Proses penyelesaian makalah ini tidak akan dapat berjalan lancar tanpa
adanya dukungan, bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. dr. Marwatal Hutadjulu, Sp.S selaku pembimbing Presentasi Kasus
Dipersiapkan ini.
2. Semua dokter dan staf pengajar di SMF Neurologi Rumah Sakit Umum
Pusat Fatmawati Jakarta.
3. Rekan-rekan Kepaniteraan Klinik Neurologi Rumah Sakit Umum Pusat
Fatmawati Jakarta.

Dan akhirnya, penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna.
Penulis memohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan dalam makalah ini,
dan berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta, 14 April 2016

Hilmiana Putri

BAB I

STATUS PASIEN

1.1 IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. M
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 18 tahun
Pekerjaan : Mahasiswa
Agama : Islam
Status Pernikahan : Belum Menikah
Alamat : Tebet, Jakarta Selatan
Pendidikan : Tamat SMA
Masuk RS : 5 April 2016

1.2 ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis dan alloanamnesis dengan keluarga pasien pada
tanggal 10 April 2016.

1.2.1. KELUHAN UTAMA
Pingsan sejak ±1 jam SMRS.

1.2.2. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien dibawa ke RSUP Fatmawati karena penurunan kesadaran setelah
mengalami kecelakaan lalu lintas ±1 jam SMRS. Awalnya pasien sedang
mengendarai sepeda motor bersama keluarganya dengan kecepatan ± 40 Km/jam,
pasien saat itu dibonceng. Lalu tiba-tiba motor pasien tertabrak oleh sebuah mobil
yang melaju cepat dari arah kanan, sehingga motor pasien jatuh ke kiri dan pasien
terjatuh dari motor dengan kepala dan tubuh sebelah kiri terbentur aspal. Saat itu
pasien menggunakan helm, namun helm tidak diikat sehingga helm terlepas.
Pasien mengalami penurunan kesadaran saat itu, muntah dan kejang disangkal.
Saat sampai di IGD RSUP Fatmawati ±1 jam setelah kecelakaan pasien dalam
kondisi sadar. Pasien tidak ingat kejadian saat kecelakaan. Keluar darah ataupun
cairan dari hidung maupun telinga disangkal.

kolesterol tinggi. penyakit jantung.50C. TD 130/90 mmHg.1 STATUS GENERALIS A. reguler Suhu : 36. FN 90 x/menit. lagoftalmus -/-. Nyeri kepala dengan VAS 6. Saat di IGD: GCS E4M6V5.3. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Riwayat kejang. nistagmus -/-. mulut mencong. koleserol tinggi. stroke. Pasien mengeluhkan nyeri kepala kiri dan siku sebelah kiri. Mata  Inspeksi : Enoftalmus -/-. RIWAYAT SOSIAL DAN KEBIASAAN Riwayat konsumsi NAPZA ataupun alkohol disangkal.5. edema palpebra -/-. Status Generalis Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran : Compos Mentis B.2.3 PEMERIKSAAN FISIK 1. konjungtiva anemis - . RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Riwayat trauma sebelumnya disangkal. DM. regular. alergi di keluarga disangkal. T 36. maupun baal sesisi tubuh disangkal. cadel.2.2. Keluhan mual ataupun muntah. Riwayat darah tinggi kencing manis. stroke. ptosis -/-. eksoftalmus -/-. 1. isi cukup Napas : 18x/menit.3.4. Tanda Vital Tekanan darah : 120/800 mmHg Nadi : 82x/menit.7 oC Berat badan : 53 kg Tinggi badan : 155 cm BMI : 22 kg/m2 (normal) C. alegi. RR 18 x /menit. hipertensi. kejang. disangkal. 1. gangguan menelan. 1. 1. kelemahan sesisi tubuh. penglihatan ganda.

tumor -. massa -. post nasal drip - . plak - . Palatum : mole dan uvula simetris pada keadaan diam dan bergerak. abses -/-.Aurikuler : normotia. posisi trakea ditengah. racoon eyes -/-  Palpasi : Tekanan bola mata secara manual normal D. Leher  Inspeksi : Penonjolan vena jugularis -. rhinorrhea -/- Palpasi : nyeri tekan pada sinus maksilaris -/-. frontalis -/-  Tenggorokan dan Rongga mulut : Inspeksi : .Preaurikuler : hiperemis -/-. jejas -  Palpasi : Pulsasi arteri carotis normal. skar -/- . ulkus -. skar -/- . serumen -/-. ulkus kornea -/-. kripta -/-. massa -/-. Hidung. Dinding posterior faring: hiperemis -. Lidah : pergerakan simetris. Tonsil : T1/T1. sklera ikterik -/-. etmoidalis -/-. abses -/-. deviasi septum -/-.Postaurikuler : hiperemis -/-. Karies gigi -. arkus faring simetris . kandidosis oral - E. kekeruhan lensa -/-. massa -/-. perbesaran thyroid -. Telinga. tidak ada deviasi.Liang telinga : lapang.Battle sign -/-  Hidung : Inspeksi : deformitas -. Bucal : warna normal. retraksi suprasternal -. ottorhea -/- . ulkus - . tidak tampak pembesaran KGB. Tenggorokan  Telinga : Inspeksi : . sekret -/-. detritus -/-. sekret -/-. pterigium -/-. tampak berair. hiperemis -/-. KGB tidak teraba membesar  Auskultasi : Bruit –  JVP 5+2 . /-. pseudo membran -/- . pseudokista -/- .

Abbdomen  Inspeksi: Simetris. vocal fremitus sama di kedua lapang paru. Jantung  Inspeksi: Ictus cordis tidak terihat  Palpasi: Ictus cordis teraba di ICS V linea midklavikula sinistra  Perkusi: Batas jantung kanan ICS IV linea sternalis dextra. Paru  Inspeksi : Jejas -/-. kaput medusa -. skar -. Penggunaan otot bantuan nafas -/-. jejas -  Auskultasi: BU (+) normal  Palpasi: Supel. massa -. ronki-/- H. striae -. nyeri tekan epigastrium -. pergerakan kedua paru simetris saat statis dan dinamis. datar. pelebaran sela iga -/-  Perkusi : Sonor di kedua lapang paru. pelebaran sela iga -/-.F. batas jantung kiri ICS V linea midklavikula sinistra. bekas operasi -. shifting dullnes -. murmur -. gallop - G. tumor -/-. pola pernapasan normal  Palpasi : massa -/-. Batas paru lambung : pada garis aksilaris anterior kiri sela iga VI  Auskultasi : vesikuler +/+. fenomena papan catur– . hepar dan lien tidak teraba  Perkusi : Timpani. Batas paru hati : pada garis midklavikula kanan sela iga V. emfisema subkutis -/-. skar -. ekspansi dada simetris. undulasi -. wheezing -/-. peranjakan hati sebesar 2 jari. pinggang jantung ICS II linea parasternalis sinistra  Auskultasi: BJ I-II reguler normal. spider naevi -.

1. CRT < 3 detik. deformitas -/-. sianosis -. Rangsang Selaput Otak  Kaku kuduk : tidak dilakukan  Laseque : >700 / >700  Kernig : >1350 / >1350  Brudzinsky I :-/-  Brudzinsky II :-/- D.I (olfaktorius) : Normosmia / Normosmia  N. STATUS NEUROLOGIS A. Ekstremitas bawah: Akral hangat.III. Ekstremitas Ektremitas atas: Akral hangat.I. CRT < 3 detik.II Visus : > 1/60 / > 1/60 Melihat Warna : Baik / Baik Lapang pandang : Sama dengan pemeriksa / Sama dengan pemeriksa Funduskopi : Tidak dilakukan / Tidak dilakukan  N. pada lutut bagian lateral terdapat vulnus eskoriasi dengan ukuran 5x4 cm. fraktur -/-.Kedudukan bola mata : Ortopisisi / Ortoposisi . VI (Occulomotorius. deformitas -/-.Nistagmus : -/- .3. fraktur -/-. RCTL +/+ C. sianosis -. GCS : E4M6V5 B. RCL +/+.Pergerakkan bola mata : Baik ke segala arah / Baik ke segala arah . edema-/-. edema-/-. Trochlearis. pada siku kiri terdapat vulnus eskoriasi dengan ukuran 3x3 cm. Abducen) .2. IV. Pupil : Bulat isokor Ø 3 mm/3mm. Saraf-Saraf Kranialis:  N.Ptosis : -/- .

Posisi lidah : Letak di tengah saat di dalam mulut .Motorik orbikulari oris : Baik / Baik .Atrofi :- .Menoleh : Baik / Baik  N.VII (Fasialis) . Uvula : Letak di tengah .XI (Accesorius) .XII (Hypoglossus) .Mengangkat bahu : Baik / Baik .Koklearis Tes Rhinne : +/+ Tes Webber : Tidak ada lateralisasi Tes Swabach : Sama dengan pemeriksa  N. Reflex muntah : + / +  N.V (Trigeminus) . Vagus) . X (Glossopharyngeus. Refleks kornea : +/+  N.Buccinator : Baik / Baik . Arcus faring : Simetris .VIII (Vestibulocochlearis) .Motorik orbikularis orbita : Baik / Baik .IX.Pergerakkan lidah : Letak di tengah saat dijulurkan . N.Motorik orbitofrontalis : Baik / Baik .Cabang Motorik : Baik / Baik .Cabang sensorik : o Ophtalmikus : Baik / Baik o Maksilaris : Baik / Baik o Mandibularis : Baik / Baik .Pengecapan lidah : Baik / Baik  N.Vestibular Vertigo :- Nistagmus : -/- .M.

Sistem Motorik : Ekstremitas Atas Proksimal Distal : 5555 / 5555 Ekstremitas Bawah Proksimal Distal : 5555 / 5555 F.Tremor :- E. Gerakkan Involunter  Tremor :-/-  Chorea :-/-  Miokloni :-/- I. Refleks Fisiologis  Biceps : +2/+2  Triceps : +2/+2  Lutut : +2/+2  Tumit : +2/+2 G.Fasikulasi :- . . Refleks Patologis  Hoffman Tromer :-/-  Babinsky : -/ -  Chaddok :-/-  Gordon :-/-  Schaefer :-/- H. Fungsi Serebelar  Ataxia : Tidak dilakukan  Tes Romberg : Tidak dilakukan  Jari-jari : Baik  Jari-hidung : Baik  Tumit-lutut : Baik . Sistem Sensorik :  Propioseptif : Baik / Baik  Eksteroseptif : Baik / Baik J.

80-5.6 ribu u/l 5. Laboratorium Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan Hematologi Hemoglobin 13.20 FUNGSI HATI SGOT 25 u/l 0-34 SGPT 10 u/l 0-40 FUNGSI GINJAL Ureum 17 mg/dl 20-40 Kreatinin 0.5 Glukosa Darah Sewaktu 105 mg/dl 70-140 .7-15.5 Hematocrit 36 % 33-45 Leukosit 10.4.54 juta u/l 3. Keadaan Psikis  Intelegensia : Baik  Tanda regresi : Baik  Demensia : Baik 1.6-1. K.0-10. Fungsi Luhur  Astereognosia :-  Apraxia :-  Afasia :- L.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Fungsi Otonom  Miksi : Baik  Defekasi : Baik  Sekresi keringat : Baik M.0 Trombosit 305 ribu u/l 150-440 Eritrosit 4.5 g/dl 11.6 mg/dl 0.1.

10 – 5.2.108 SERO IMUNILOGI Golongan darah A/Rh (+) 1.4.10 Klorida (Darah) 107 mmol/l 95 . Tak tampak fraktur tulang calvaria . RADIOLOGI Foto Thoraks Kesan : jantung dan paru dalam batas normal CT-Scan kepala axial dan Coronal Kesan : . Hematom subgaleal di region temporoparietal kiri . Pendarahan subarakhnoid regio frontotemporoparietal kanan .57 mmol/l 3. ELEKTROLIT DARAH Natrium (Darah) 136 mmol/l 135 – 147 Kalium (Darah) 3.

helm terlepas. Saat jatuh pasien tidak sadar. baru sadar setelah berada di IGD. nyeri pada siku dan lutut kiri. pasien tertabrak mobil dari sebelah kanan dan jatuh kesebelah kiri dengan kepala dan badan terbentur aspal. 18 tahun. datang ke IGD Fatmawati karena penurunan kesadaran post KLL ±1 jam SMRS.5 RESUME Nn. Mekanisme trauma. 1. Nyeri kepala dengan VAS 6. M. .

6 DIAGNOSIS Diagnosis klinis : .Hematom subgaleal regio temporoparietal sinistra .Subarachnoid Hematoma . Vulnus excoriasi regio olecranon sinistra dan genu sinistra Diagnosis topis : Subarachnoid Diagnosis etiologis : Trauma Diagnosis kerja : . pada pemeriksaan status lokalis didapatkan pada regio temporal sinistra terdapat hematom subgaleal dengan ukuran 5x3x2 cm. regio olecranon sinistra terdapat vulnus eskoriasi dengan ukuran 3x3 cm. GCS : E4M6V5. Hematom subgaleal regio temporoparietal sinistra . Perawatan luka eskoriasi . dan regio genu lateral sinistra terdapat vulnus eskoriasi dengan ukuran 5x4 cm. Pada pemeriksaan fisik didapatkan . Tirah baring . 1. Elevasi kepala 300 .7 TATALAKSANA NON-MEDIKAMENTOSA . Asupan nutrisi cukup . CT-Scan ditemukan kesan pendarahan subarakhnoid regio frontotemporoparietal kanan dan hematom subgalelal di regio temporoparoetal kiri.Cedera Kepala Sedang .Vulnus excoriasi regio olecranon sinistra dan genu sinistra 1.

Paracetamol 3 x 500 mg PO . MEDIKAMENTOSA . Amoxicilin 4 x 500 mg PO 1.8 PROGNOSIS Quo ad vitam : Dubia ad bonam Quo ad functionam : Dubia ad bonam Quo ad sanationam : Dubia ad bonam . Citicolin 2 x 500 mg IV . IVFD NaCl 500cc /12 jam .

Rongga tengkorak dasar . Tulang tengkorak terdiri dari beberapa tulang yaitu frontal. Connective tissue atau jaringan penyambung. Kulit Kepala Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu. Aponeurosis atau galea aponeurotika. temporal dan oksipital.1 Anatomi Kepala 1. namun disini dilapisi oleh otot temporalis. Loose conective tissue atau jaringan penunjang longgar dan Pericranium. parietal. terutama pada bayi dan anak-anak. Basis cranii berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Kulit kepala memiliki banyak pembuluh darah sehingga perdarahan akibat laserasi kulit kepala akan menyebabkan banyak kehilangan darah. Gambar 1 : Anatomi kulit kepala 2. Tulang tengkorak Terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii. Skin atau kulit. Kalvaria khususnya diregio temporal adalah yang paling tipis.

menigen Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3 lapisan. Lapisan ini melekat langsung dengan tulang tengkorak. Rongga diantara trabekel disebut rongga subaraknoid. dimana sering dijumpai perdarahan subdural. Adanya fraktur dari tulang kepala dapat menyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dan menyebabkan perdarahan epidural. yaitu : a. Ruang subaraknoid berhubungan dengan ventrikel otak. Pada cedera otak. yang terisi cairan cerebrospinal dan terpisah sempurna dari ruang subdural. dapat mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural. . Ruang ini membentuk bantalan hidrolik yang melindungi SSP dari trauma. fosa media tempat temporalis dan fosa posterior ruang bagi bagian bawah batang otak dan serebelum. Ia memiliki dua komponen: lapisan yang berkontak dengan dura meter dan sebuah system trabekel yang menghubungkan lapisan itu dengan pia meter. pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior di garis tengah atau disebut Bridging Veins. b. Berfungsi untuk melindungi jaringan-jaringan yang halus dari otak dan medula spinalis.dibagi atas 3 fosa yaitu fosa anterior tempat lobus frontalis. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat mengakibatkan perdarahan hebat. Yang paling sering mengalami cedera adalah arteri meningea media yang terletak pada fosa temporalis (fosa media). Duramater lapisan yang terdapat di paling luar dari otak dan bersifat tidak kenyal. 3. Selaput Arakhnoid Diambil dari bahasa Yunani arachnoeides. maka terdapat suatu ruang potensial (ruang subdura) yang terletak antara dura mater dan arachnoid. seperti jaring laba-laba. Arteri-arteri meningea terletak antara dura mater dan permukaan dalam dari kranium (ruang epidural). Sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena ke sinus transversus dan sinus sigmoideus. Karena tidak melekat pada selaput arachnoid di bawahnya.

. medula oblongata dan serebellum. Lobus parietal berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang. Selaput ini dipisahkan dari dura mater oleh ruang potensial. mesensefalon (otak tengah) dan rhombensefalon (otak belakang) terdiri dari pons. 4. Lobus temporal mengatur fungsi memori tertentu. Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistem aktivasi retikular yang berfungsi dalam kesadaran dan kewaspadaan. Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang. Otak terdiri dari beberapa bagian yaitu. disebut spatium subdural dan dari pia mater oleh spatium subarakhnoid yang terisi oleh liquor serebrospinalis. Otak Otak merupakan suatu struktur gelatin yang mana berat pada orang dewasa sekitar 14 kg. Piamater lapisan yang terdapat paling dalam dari otak dan melekat langsung pada otak. c. fungsi motorik dan pusat ekspresi bicara. Lobus frontal berkaitan dengan fungsi emosi. Selaput arakhnoid terletak antara pia mater sebelah dalam dan dura mater sebelah luar yang meliputi otak. Berfungsi untuk melindungi otak secara langsung. Lapisan ini banyak memiliki pembuluh darah. Pada medula oblongata terdapat pusat kardiorespiratorik. Lobus oksipital bertanggungjawab dalam proses penglihatan. Perdarahan subarakhnoid umumnya disebabkan akibat cedera kepala. Cerebellum bertanggungjawab dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan. Proensefalon (otak depan) terdiri dari serebrum dan diensefalon. Fisura membagi otak menjadi beberapa lobus.

Angka rata-rata pada kelompok populasi dewasa volume CSS sekitar 150 ml dan dihasilkan sekitar 500 ml CSS per hari. akuaduktus dari sylvius menuju ventrikel IV. Cairan Serebrospinal (CSF) Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh plexus choroideus dengan kecepatan produksi sebanyak 20 ml/jam. Gambar. CSS mengalir dari dari ventrikel lateral melalui foramen monro menuju ventrikel III. Adanya darah dalam CSS dapat menyumbat granulasio arakhnoid sehingga mengganggu penyerapan CSS dan menyebabkan kenaikan takanan intrakranial. Gambar 3: aliran CSS . CSS akan direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoid yang terdapat pada sinus sagitalis superior.2 Anatomi Otak 5.

Keempat arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk circulus Willisi. Vena-vena otak tidak mempunyai jaringan otot didalam dindingnya yang sangat tipis dan tidak mempunyai katup. Tentorium Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang supratentorial (terdiri dari fosa kranii anterior dan fosa kranii media) dan ruang infratentorial (berisi fosa kranii posterior). Jadi kenaikan tekanan intrakranial (TIK) tidak hanya merupakan indikasi adanya masalah serius dalam otak. TIK normal pada saat istirahat kira-kira 10 mmHg (136mmH2O). 7.6. TIK . Gambar 4: sirkulus wilisi 2. Vena tersebut keluar dari otak dan bermuara ke dalam sinus venosus cranialis. tetapi justru merupakan masalah utamanya.2 Fisiologi Kepala Tekanan Intrakranial Berbagai proses patologis yang mengenai otak dapat mengakibatkan perubahan tekanan intrakranial yang selanjutnya akan mengganggu fungsi otak yang akhirnya berdampak buruk terhadap penderita. Tekanan intrakranial yang tinggi dapat menimbulkan gangguan fungsi otak dan mempengaruhi kesembuhan penderita. Vaskularisasi otak Otak disuplai oleh dua arteri carotis interna dan dua arteri vertebralis.

TIK yang normal tidak berarti tidak adanya lesi massa intrakranial. Semakin tinggi TIK setelah cedera kepala semakin buruk prognosisnya. segera terjadi massa seperti gumpalan darah dapat terus bertambah sementara TIK masih dalam keadaan normal. untuk menyuplai oksigen dan glukosa yang cukup.lebih tinggi dari 20 mmHg dianggap tidak normal dan TIK lebih dari 40mmHg termasuk ke dalam kenaikan TIK berat. tetapi pada penderita yang tetap koma ADO tetap di bawah normal sampai beberapa hari atau minggu setelah cedera. Pada anak. Pada saat cedera. karena TIK umumnya tetap dalam batas normal sampai kondisi penderita mencapai titik dekompensasi dan memasuki fase ekspansional kurva tekanan-volume. ADO dapat menurun 50% dalam 6-12 jam pertama sejak cedera pada keadaan cedera otak berat dan koma. karena rongga kranium pada dasarnya merupakan rongga yang tidak mungkin terekspansi. Mempertahankan tekanan perfusi otak/TPO (MAP-TIK) pada level 60-70 mmHg sangat di rekomendasikan untuk meningkatkan ADO. Otak memperoleh suplai darah yang besar yaitu sekitar 800ml/min atau 16% dari cardiac output. Saat pengaliran CSS dan darah intravaskuler mencapai titik dekompensasi maka TIK secara cepat akan meningkat. Aliran darah otak (ADO) normal ke dalam otak pada orang dewasa antara 50-55 ml per 100 gram jaringan otak per menit. Doktrin Monro-Kellie Konsep utama doktrin Monro-Kellie adalah bahwa volume intrakranial selalu konstan. Tekanan perfusi otak (TPO) Tekanan perfusi otak merupakan indikator yang sama penting dengan TIK. ADO bisa lebih besar tergantung pada usainya. TPO mempunyai formula sebagai berikut: TPO = MAP – TIK . ADO akan meningkat dalam 2-3 hari berikutnya.

2. Bila mekanisme kompensasi tidak bekerja dan terjadi kenaikan eksponensial TIK. Maka dari itu. 10 % dari penderita .1 Definisi Cidera otak traumatik atau yang lebih sering disebut sebagai trauma capitis adalah trauma mekanik terhadap kepala baik secara langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan gangguan fungsi neurologis yaitu gangguan fisik. harus dikeluarkan sedini mungkin dan tekanan darah yang adekuat tetap harus dipertahankan. 2. perfusi otak sangat berkurang. kognitif. sel-sel otak mengalami kematian dan terjadi kerusakan menetap. aktivitas EEG akan hilang dan pada ADO 5 ml/100 gr/menit. mempertahankan tekanan darah yang adekuat pada penderita cedera kepala adalah sangat penting.3. Bila ADO menurun sampai 20-25ml/100 gr/menit.3 Cidera Otak Traumatik 2.2 Epidemiologi Cedera kepala sangat sering dijumpai. Maka dari itu.000 kasus.3. dan bila MAP >160mmHg terjadi dilatasi pasif pembuluh darah otak dan ADO meningkat. psikososial baik temporer maupun permanen (PERDOSSI 2006). Bila MAP < 50mmHg ADO menurun curam. terutama pada keadaan TIK yang tinggi. bila terdapat TIK. fenomena autoregulasi akan mempertahankan ADO pada tingkat konstan apabila MAP 50-160 mmHg. Aliran darah ke otak (ADO) Aliran darah ke otak normal kira-kira 50 ml/100 gr jaringan otak/menit. Mekanisme autoregulasi sering mengalami gangguan pada penderita cedera kepala. Di Amerika setiap tahunnya kejadian cedera kepala diperkirakan mencapai 500. TPO kurang dari 70mmHg umunya berkaitan dengan prognosis yang buruk pada penderita cedera kepala. Pada penderita trauma. Akibatnya penderita tersebut sangat rentan terhadap cedera otak sekunder karena iskemi sebagai akibat hipotensi yang tiba-tiba. terutama pada penderita yang mengalami hipotensi.

. sepeda dan penyebrang jalan yang ditabrak. sehingga saat penderita terjatuh. yaitu: cidera primer dan cidera sekunder. Dari seluruh kasus cedera kepala. Sisanya disebabkan oleh jatuh dari ketinggian.3. batang kayu. olahraga. dsb). helm sudah terlepas sebelum kepala membentur lantai. Data-data yang didapat di USA dan mancanegara.4 Patofosiologi Pada cidera kepala. Labih dari 100. Cidera primer adalah cidera pada kepala sebagai akibat langsung dari suatu ruda paksa. tertimpa benda (misalnya ranting pohon. kayu. dan sebagian besar diantaranya tidak menggunakan helm atau menggunakan helm yang tidak memadai (>85%). Cidera ini dapat berakibat pada gangguan fisiologis dan metabolik. kecelakaan rumah tangga. 2. korban kekerasan baik benda tumpul maupun tajam (misalnya golok. kerusakan otak dapat terjadi dalam dua tahap. parang. Data menunjukkan cedera kepala masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kecacatan pada usia <35 tahun. seperti robekan maupun putusnya akson. kecelakaan kerja.cedera kepala meninggal sebelum datang ke Rumah sakit. dan abnormalitas elektrolit. palu. edem otak. iskemia. hanya 3-5% saja yang memerlukan tindakan operasi.000 penderita menderita berbagai tingkat kecacatan akibat cedera kepala.3. mobil. trauma tembak. dan lain-lain. dimana kecelakaan terjadi hampir 15 menit. dapat diakibatkan oleh benturan langsung kepala dengan suatu benda keras maupun oleh proses akselerasi – deselerasi gerakan kepala. kecelakaan olahraga. Dalam hal ini yang dimaksud dengan tidak memadai adalah helm yang terlalu tipis dan penggunaan helm tanpa ikatan yang memadai. Kontribusi paling banyak terhadap cedera kepala serius adalah kecelakaan sepeda motor. berupa tabrakan sepeda motor. Sekitar 60% diantaranya bersifat fatal akibat adanya cedera kepala.3 Etiologi Sebagian besar penderita cedera kepala disebabkan oleh kecelakaan lalu-lintas. dsb). 2.

dan sebagainya akan menyebabkan gaya akselerasi dan deselerasi dan rotasional. Kerusakan jaringan otak langsung oleh impresi atau depresi tulang tengkorak sehingga timbul lesi “ coup” (cedera di tempat benturan). Perbedaan massa dari jaringan otak dan dari tulang kepala menyebabkan perbedaan percepatan getaran berupa akselerasi. lesi fokal juga dapat diakibatkan oleh benda tumpul. sebagian tenaga benturan akan diserap atau dikurangi oleh unsur pelindung tersebut. deselerasi dan rotasi. Mekanisme kerusakan otak pada cedera otak dapat dijelaskan sebagai berikut : a. misalnya benturan saat kecelakaan. Fraktur tengkorak dapat berbentuk sebagai garis lurus. tinju. sehingga mengakibatkan laserasi parenkim otak. Kekuatan gerak ini dapat menimbulkan cedera otak berupa kompresi. Kerusakan jaringan otak akibat trauma langsung Kulit kepala dan tengkorak merupakan unsur pelindung bagi jaringan otak terhadap benturan pada kepala. Bila terjadi benturan. Bila lekukan melebihi batas toleransi jaringan tengkorak. peregangan dan pemotongan. Sebagian tenaga benturan dihantarkan ke tengkorak yang relatif memiliki elastisitas. diastase sutura atau fraktur multiple disertai fraktur dasar tengkorak. tengkorak akan mengalami fraktur. Tekanan maksimal terjadi pada saat benturan dan beberapa milidetik kemudian diikuti dengan getaran-getaran yang berangsur mengecil hingga reda. Selain itu. b. Pukulan yang lebih kuat akan menyebabkan terjadinya deformitas tengkorak dengan lekukan yang sesuai dengan arah datangnya benturan dimana besarnya lekukan sesuai dengan sudut datangnya arah benturan. impresi / depresi. Lesi otak yang terjadi pada cidera kepala primer dapat berupa lesi neurologis fokal amupun difus. Benturan dari arah samping akan mengakibatkan terjadinya gerakan atau gesekan antara massa jaringan otak dengan bagian tulang kepala yang menonjol atau bagian-bagian yang keras seperti falk dengan . yakni tengkorak mampu sedikit melekuk ke arah dalam. Lesi fokal dapat diakibatkan benda tajam yang memiliki daya tembus.

Perbedaan percepatan akan menimbulkan tekanan positif di tempat benturan dan tekanan negatif di tempat yang berlawanan pada saat terjadi benturan.3. otak bergerak dari arah postero-anterior sedangkan pukulan di daerah puncak kepala (vertex). otak bergerak secara vertikal. dan bila tekanan cukup besar akan menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan otak melalui proses pemotongan dan robekan.nilai Skala Koma Glasgow 14 atau .tidak ada amnesia b. Benturan pada bagian depan (frontal). akan timbul gelombang kejut (shock wave) yang akan diteruskan melalui massa jaringan otak dan tulang. yakni terjadi tekanan negatif di tempat benturan dan tekanan positif di tempat yang berlawanan dengan akibat timbulnya gelembung (kavitasi) yang menimbulkan kerusakan pada jaringan otak (lesi coup dan contra coup). d. otak akan bergerak dari arah antero-posterior. Kemudian disusul dengan proses kebalikannya. Gerakan-gerakan tersebut menyebabkan terjadinya coup dan contra coup. Minimal = Simple Head Injury (SHI) . Gelombang tersebut menimbulkan tekanan pada jaringan. contra coup.hilang kesadaran < 10 menit .kesadaran baik .nilai Skala Koma Glasgow 15 (normal) . Cedera Otak Ringan (COR) . cedera akson yang difus disertai perdarahan intraserebral. sebaliknya pada pukulan dari belakang (occipital). Kerusakan yang ditimbulkan dapat berupa : “Intermediate coup”. Berat ringannya cidera kepala yang terjadi: a. tentoriumnya maupun dasar tengkorak dan dapat timbul lesi baik coup maupun contra coup. atau .nilai Skala Koma Glasgow 15.5 Klasifikasi cidera kepala Klasifikasi cedera kepala berdasarkan: 1. Lesi coup berupa kerusakan berseberangan atau jauh dari tempat benturan misalnya di dasar tengkoran. dengan . Bila terjadi benturan.amnesia pasca cedera < 24 jam. 2. c.

amnesia pasca cedera > 7 hari e. sakit kepala atau vertigo c.hilang kesadaran > 6 jam . b.ditemukan defisit neurologist . . Cedera Otak Berat (COB) .ditemukan defisit neurologist 2. . Cedera Otak Sedang (COS) .dapat disertai gejala klinik lainnya. selain itu dapat ditemukan adanya defisit neurologis.hilang kesadaran > 6 jam .Patologi a. Komosio serebri Komosio cerebri adalah keadaan cedera dimana kesadaran tetap tidak terganggu namun terjadi disfungsi neurologis yang bersifat sementara dalam berbagai derajat. Kriteria untuk mendiagnosis kontusio serebri adalah adanya riwayat benturan kepala diserta pingsan yang cukup lama (> dari 10 menit).nilai Skala Koma Glasgow 3-4 . Kondisi Kritis . Bentuk yang paling ringan dari komosio ini adalah keadaan bingung dan disorientasi tanpa amnesia. muntah.amnesia pasca cedera selama kurang lebih 7 hari (bisa positif atau negatif) d. Kontusio serebri Pada kontusio serebri terjadi kerusakan jaringan otak berupa terputusnya kontinuitas jaringan.dapat atau tidak ditemukan adanya defisit neurologist . dapat pula terjadi kejang dan penurunan kesadaran.nilai Skala Koma Glasgow 9 – 13 .hilang kesadaran > 10 menit tetapi kurang dari 6 jam . misalnya : mual.nilai Skala Koma Glasgow 5-8 .

b. Laserasio serebri Gangguan fungsi neurologicdisertai kerusakan otak yang berat dengan fraktur tengkorak terbuka. Perdarahan ini dapat menghalangi reabsorbsi CSF. Kadang-kadang. Lokasi lesi a. melekat pada tabula interna dan mendesak ventrikel ke sisi kontralateral (tanda space occupying lesion). Lesi fokal . Paling sering terletak diregio temporal atau temporoparietal dan sering akibat robeknya pembuluh meningeal media.  Hematoma Subarachnoid Subarachoid hematoma (SAH) adalah sekuel trauma kapitis yang paling sering terjadi. Terjadi paling sering akibat robeknya vena bridging antara korteks serebral dan sinus draining. sehingga . hematoma epidural akibat robeknya sinus vena. 3. Perdarahan biasanya dianggap berasal dari arterial. Lesi difus Terjadi kerusakan baik pada pembuluh darah maupun pada parenkim otak. Penderita dengan pendarahan epidural dapat menunjukan adanya “lucid interval” yang klasik dimana penderita yang semula mampu bicara lalu tiba-tiba meninggal (talk and die).Hematoma intrakranial  Hematoma epidural Epidural hematom (EDH) adalah perdarahan yang terbentuk di ruang potensial antara tabula interna dan duramater dengan ciri berbentuk bikonvek atau menyerupai lensa cembung. Keadaan pasien umumnya parah. Dengan pemeriksaan CT Scan akan tampak area hiperdens yang tidak selalu homogeny. terutama diregio parietal-oksipital atau fossa posterior. bentuknya biconvex sampai planoconvex.  Hematoma subdural Hematoma subdural (SDH) adalah perdarahan yang terjadi di antara duramater dan arakhnoid. disertai edema. namun mungkin sekunder dari perdarahan vena pada sepertiga kasus. c.

Lesi perdarahan dapat terjadi pada sisi benturan (coup) atau pada sisi lainnya (countrecoup).  Hematoma intraparenkimal Hematoma intraserebri adalah perdarahan yang terjadi dalam jaringan (parenkim) otak. defisit neurologik Abnormal (+) . Perdarahan terjadi akibat adanya laserasi atau kontusio jaringan otak yang menyebabkan pecahnya pula pembuluh darah yang ada di dalam jaringan otak tersebut. Dapat ditemukan kaku kuduk. Lokasi yang paling sering adalah lobus frontalis dan temporalis. defisit Abnormal neurologik (+) Berat 3-8 Pingsan > 6 jam. Defisit neurologi yang didapatkan sangat bervariasi dan tergantung pada lokasi dan luas perdarahan. Derajat kesadaran berdasarkan GCS Kategori GCS Gambaran Klinik CT Scan otak Minimal 15 Pingsan (-). nyeri kepala dan gambaran hiperdens di ruang subarachnoid pada gamaran CT-Scan.sering dijumpai pengingkatan TIK. defisit neurologik (-) Normal Ringan 13-15 Pingsan < 10 menit. Penanganan SAH meliputi pemasangan drain ventrikel dan shunt jika terjadi hidrosefalus sekunder. defisit Normal neurologik (-) Sedang 9-12 Pingsan > 10 menit s/d 6 jam.

tidak ada reaksi 1 2. Buka mata bila dirangsang nyeri 2 . Adanya riwayat cedera yang berat . Semua pasien dengan GCS < 15 sebaiknya menjalani pemeriksaan CT scan.tanda fraktur basis kranii . Nyeri kepala hebat . menarik anggota badan 4 . CT Scan Kepala. CT scan dilakukan hanya dengan indikasi tertentu seperti: . CT scan kepala merupakan standar baku untuk mendeteksi perdarahan intracranial. Kata-kata tidak teratur 3 . dapat mengetahui tempat rangsangan 5 . Buka mata bila dipanggil/rangsangan suara 3 . Suara tidak jelas 2 . Dengan rangsangan nyeri. Adanya tanda. dan orang 4 .3. Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun 1 Respon verbal (V) . timbul reaksi ekstensi abnormal 2 . Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun 1 Respon motorik (M) . disorientasi waktu. Dengan rangsangan nyeri. jawaban tepat 5 . Komunikasi verbal baik.6 Pemeriksaan Penunjang a. Dengan rangsangan nyeri. tempat. timbul reaksi fleksi abnormal 3 . Bingung. Foto Polos Kepala b. Buka mata spontan 4 . Dengan rangsangan nyeri. Mengikuti perintah 6 . sedangkan pada pasien dengan GCS = 15. Dengan rangsangan nyeri. Glasgow Coma Scale nilai ai Respon membuka mata (E) .

. Rasa baal pada tubuh. gangguan orientasi. transfusi darah 10-15 ml/kgBB harus dipertimbangkan. o Defisit Neurologis. Memaksimalkan oksigenasi dan ventilsi.obat antikoagulan . MRI Kepala MRI adalah teknik pencitraan yang lebih sensitive dibandingkan dengan CT scan. dan menulis. seperti Ringer Laktat atau Normal Salin (20 ml/kgBB) jika pasien syok. Kejang . berbicara. PET dan SPECT Positron Emission Tomogrphy (SPECT) dapat memperlihatka abnormalitas pada fase akut dan kronis meskipun CT Scan atau MRI dan pemeriksaan neurologis tidak memperlihatkan kerusakan. c.3. . o Pernapasan o Sirkulasi. d. Resusitasi cairan intravena. . yaitu cairan isotonic. Penderita lansia (usia >65 tahun) dengan penurunan kesadaran atau amnesia. Status neurologis dinilai dengan menilai tingkat kesadaran. Riwayat gangguan vaskuler atau menggunakan obat. Dibutuhkan waktu lebih lama dibandingkan CT Scan sehingga tidak sesuai dalam situasi gawat darurat.7 Penatalaksanaan Survei Primer ( Primary Survey) o Jalan Napas. Muntah lebih dari kali . membaca. Amnesia. 2. Daerah tulang servikal harus dimobilisasi dalam posisi netral menggunakan stiffneck collar pada kecurigaan fraktur servikal. Gangguan keseimbangan atau berjalan. ukuran dan reaksi pupil. Tingkat kesadaan dapat . .

Bila telah dipastikan penderit CKR tidak memiliki masalah dengan jalan napas. Lanjutkan penanganan ABC . Trauma Kapitis Sedang dan Berat – GCS 5-12 1. Anak. Anak dengan kelainan neurologis yang berat.jam pertama sejak kejadian cedera. diklasifikasikan menggunakan GCS. A. Pasien dapat dihagatkan engan alat pemancar panas. maupun pemberian cairan intravena (yang telh dianatkan sampai 39 oC.GCS 3-4 Perawatan di Unit Intensif Neurologi (Neurological ICU)/ICU. Kritikal. Tujuan yang paling utama dari tata laksana trauma kapitis tertutup harus maksimal terhadap proses fisiologis dari perbaikan otak itu sendiri. refleks patologis)  Fraktur melalui foto kepala maupun CT scan  Abnormalitas anatomi Maka penderita dapat meninggalkan rumah sakit dan melanjutkan perawatannya di rumah. Semua pakaian harus dilepas sehingga semua luka dapat terlihat. selimut hangat. pernapasan dan sirkulasi darah.anak sering datag dengan keadaan hipotermi ringan karena permukaan tubuh mereka lebih luas. penderita harus dirawat di rumah sakit dan observasi ketat. bila tanda.tanda di atas ditemukan pada observasi 24 jam pertama. o Kontrol pemaparan/lingkungan. Bila setelah 24 jam tidak ditemukan kelainan neurologis berupa:  Penurunan kesadaran dari observasi awal  Gangguan daya ingat  Nyeri kepala hebat  Mual dan muntah  Kelainan neurologis fokal (pupil anisokor. seperti anak dengan nilai GCS< 8 harus diintubasi. Survei Sekunder Observasi ketat penting pada jam. maka tindakan selanjutnya adalah penanganan luka yang dialami akibat cedera disertai obervasi tanda vital dan defisit neurologis. B. Namun.

dengan cara: . Bila perlu dapat diberikan Manitol 20%. Posisi kepala ditinggikan 30 derajat . tekanan darah).3. berikan dalam waktu ½ -1 jam. Lebih dari 40 cc dengan midline shifting pada daerah temporal/ frontal/ parietal dengan fungsi batang otak masih baik . 2. dan bila perlu dapat diberikan sedasi jangka pendek 4. Infeksi akibat fraktur basis kranii/fraktur terbuka: profilaksis antibiotik selama 10-14 hari . ½ -1 jam. Cegah kemungkinan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial. ½-1 jam setelah 12 jam dan 24 jam pemberian pertama . Kejang: profilaksis OAE selama 7 hari untuk mencegah immediate dan early seizure pada kasus resiko tinggi . Tidur dengan posisi kepala ditinggikan 30 derajat 3. 2.7 Indikasi Operasi Penderita Trauma Kapitis 1. gerakan ekstremitas 3. Dosis awal 1 gr/kgBB. dilanjutkan pemberian dengan dosis 0. Trauma Kapitis Ringan (Komosio Serebri) 1. Obat. Epidural Hematom a. Berikan analgetika. antiemetic sesuai indikasi dan kebutuhan. Pantau tanda vital ( suhu.5 gr/kgBB drip cepat. GCS. Demam 5.obat simptomatis seperti analgesik. setelah 6 jam dari pemberian pertama dan 0. Neuroprotektan (citicolin) C. Rawat 2 x 24 jam 2. Atasi komplikasi . Pemberian cairan dan nutrisi adekuat 6. drip cepat. pernafasan.25 gr/kgBB drip cepat. pupil.

SDH dengan edema serebri/ kontusio serebri disertai midline shift dengan fungsi batang otak masih baik. Fraktur impresi melebihi 1 diploe 5. Perburukan defisit neurologi fokal 4. b. Subdural Hematom (SDH) a. Edema serebri berat yang disertai tanda peningkatan TIK.tanda gangguan nafas c. Epidural hematom progresif 2. Penurunan kesadaran progresif b. SDH luas (>40 cc/ 5 mm) dengan GCS > 6. Hipertensi dan bradikardi dan tanda. Perdarahan intraserebral pasca trauma a. 3. Fraktur kranii terbuka 7. b. . Lebih dari 30 cc pada daerah fossa posterior dengan tanda. fungsi batang otak masih baik.tanda penekanan batang otak atau hidrosefalus dengan fungsi batang otak masih baik c. Fraktur kranii dengan laserasi serebri 6.

Hotel Aston Atrium. Buku Ajar Ilmu Bedah: edisi kedua. DAFTAR PUSTAKA 1.Bab. 3.2006 2. Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal.com 4. Sumatra Utara: USU Press.Cetakan ke 9. FKUI. 5. Hal 248-63.D. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC . Penatalaksanaan Cedera Kepala secara Operatif. Hafid A. Dian Rakyat. Proceeding Updates In Neuroemergencies II. 2007. Head Injury. www. Jong W.e-medicine.2003. Hal 51-72. Penatalaksanaan kedaruratan cedera kranio serebral. Bernath David. 6.VIII Mekanisme trauma susunan saraf. Japardi iskandar. Perdossi. 28 Februari. Sidharta priguna. 2004. Neurologi Klinis Dasar. Mardjono mahar. 2009.