REFERAT

HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV) PADA
ANAK

Disusun Oleh :
Marlin Feriani Sormin
(161 0221 061)

Pembimbing :
dr. Tundjungsari Ratna, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH AMBARAWA
FK UPN “Veteran” Jakarta
2016

LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT
HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS PADA ANAK

Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik di bagian

Ilmu KesehatanAnak Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

Telah dipresentasikan pada tanggal 5 September 2016

Disusun oleh :
Marlin Feriani Sormin 161 0221 061

Ambarawa, 5 September 2016
Pembimbing

dr. Tundjungsari Ratna, Sp. A

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan
referat dengan judul “Human Immunodeficiency Virus Pada Anak”. Referat ini
merupakan salah satu syarat dalam mengikuti ujian kepaniteraan klinik
Pendidikan Profesi Dokter di Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum
Daerah Ambarawa.
Referat ini sedikit banyak membahas mengenai penyakit yang menjadi
masalah-masalah di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia. Hanya
sebagian masalah kecil yang penulis bahas, namun diharapkan referat ini bisa
memberikan sedikit pengetahuan kepada para pembaca mengenai penyakit ini.
Dalam menyelesaikan tugas ini penulis mengucapkan rasa terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada dr. Tundjung Sari, Sp.A selaku dokter pembimbing
dan teman-teman Co-Ass yang telah membantu dalam proses pembuatan laporan
kasus ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan kasus ini banyak
terdapat kekurangan dan juga masih jauh dari kesempurnaan, sehingga penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca. Semoga
laporan kasus ini dapat bermanfaat bagi teman-teman dan semua pihak yang
berkepentingan bagi pengembangan ilmu kedokteran. Amin.

Jakarta, 5 September 2016

Penulis

Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus.4%). presentase kasus AIDS tahun 2015 tertinggi pada usia 20-29 tahun (32%). tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS². dan berkembang dengan cepat serta sangat berbahaya. dan frekuensi penyakit pada anak yang menderita AIDS berbeda dengan anak yang mempunyai sistem imun normal³. kasus AIDS hingga September 2015 sejumlah 68. yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh. merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama CD4 positive T-sel dan makrofag komponen-komponen utama sistem kekebalan sel). Jumlah kasus HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (38.929 yang didapat dari laporan layanan konseling dan tes HIV.267 kasus). 40-49 tahun (11. Sementara. Perjalanan alami. Jawa Barat (17. angka kesakitan dan angka kematian.075 kasus) dan Jawa Tengah (12. Secara global kasus HIV sejak tahun 2005 hingga September 2015.8%). Infeksi HIV pada anak masih menjadi masalah kesehatan yang sangat besar di dunia. BAB I PENDAHULUAN I.9%) kemudian 15-19 tahun (3%)¹.464 kasus). Pada tahun 2001 United Nations General Assembly Special Session (UNGASS) menargetkan penurunan hingga 50% infeksi HIV pada bayi tahun 2010.147 kasus). beratnya. diikuti Jawa Timur (24. Papua (20. Berdasarkan kelompok umur. dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Human Immunodeficiency Virus (HIV).104 kasus). Infeksi HIV telah ditetapkan sebagai penyebab AIDS. terdapat 184. Sebagian besar kasus infeksi . 30-39 tahun (29. Sedangkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh.1 Latar Belakang HIV dan AIDS merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia yaitu masih tingginya transmisi infeksi.917 kasus. 50-59 tahun (3.

Distribusi kasus kasus HIV di Indonesia mayoritas berusia reproduktif aktif usia 15-49 tahun dan sebanyak 28% adalah perempuan. sebanyak 370. Sejak pertama kali dilaporkan oleh Oleske. Sehingga. Seiring dengan meningkatnya jumlah kasus HIV-AIDS pada perempuan yang diperkirakan 50% dari kasus HIV/AIDS⁶. Angka penularan vertikal berkisar antara 14-39% dan bahkan risiko penularan pada anak diperkirakan 29-47%. HIV pada anak didapatkan melalui penularan dari ibu terinfeksi HIV ke anaknya.000 anak-anak terinfeksi baru HIV di seluruh dunia dan diperkirakan 42. melahirkan atau pada saat menyusui⁴. Ibu rumah tangga tersebut berpeluang hamil dan melahirkan. Sejalan dengan itu maka diperkirakan jumlah kehamilan dengan HIV akan meningkat.000 wanita hamil meninggal karena HIV. . terus terjadi peningkatan. Secara nasional. Tanpa intervensi. selama persalinan sebesar 10- 20% dan melalui menyusui 10-15% keseluruhan risiko penularan sekitar 20-40%⁵. Diperkirakan pada waktu mendatang akan terdapat peningkatan jumlah infeksi baru HIV pada perempuan.200 ibu rumah tangga pengidap HIV di Indonesia. diantaranya risiko selama hamil sebesar 5-10%. Selain itu. terdapat 1.800 infeksi baru pada anak umur kurang dari 15 tahun.200 ibu hamil yang dinyatakan positif mengidap HIV. Kasus HIV pada bayi yang lahir dari ibu pengidap HIV merupakan masalah besar di negara- negara berkembang dan diperkirakan setiap hari terjadi 1. Penularan infeksi HIV dari ibu ke bayi merupakan penyebab utama infeksi HIV pada bayi usia di bawah 15 tahun. risiko penularan HIV dari ibu kepada bayinya sejak kehamilan sampai periode menyusui adalah 25-45%. Rubinstein dan Amman pada tahun 1983 di Amerika Serikat. Pada tahun 2009. sebaliknya di negara berpendapatan tinggi jumlah infeksi HIV baru di kalangan ibu dan anak yang meninggal karena HIV adalah hampir nol.000-60. risiko penularan dari ibu ke bayi berpotensi meningkat karena terdapat 3. kemungkinan akan menularkan infeksi pada anaknya. yang terjadi pada saat kehamilan. Hal ini dikarenakan perempuan atau anak-anak mereka di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. terlalu sedikit menerima pencegahan HIV dan layanan pengobatan untuk melindungi diri dan hal ini masih merupakan masalah besar⁷. karena lebih banyak perempuan hamil yang terinfeksi. kemudian ditambah banyak pengidap yang belum ditemukan.

Mengetahui epidemiologi HIV terutama pada anak. Hasil referat ini diharapkan dapat memberikan referensi dalam meningkatkan ilmu pengetahuan khususnya di bidang ilmu kesehatan anak. I.Dampaknya adalah bayi tumbuh menjadi anak yang mewarisi HIV positif akan lebih sering mengalami penyakit infeksi dan sering mengalami gangguan tumbuh kembang bahkan sampai menyebabkan kematian⁸. 3. . 5. I. Mengetahui perjalanan penyakit HIV pada anak. 2.2 Tujuan 1. Mengetahui apa itu HIV. Hasil referat ini diharapkan memberikan pengetahuan tentang HIV pada anak 2. Mengetahui aspek penanganan HIV pada anak. Mengetahui aspek pencegahan HIV pada anak.3 Manfaat 1. 4.

II. dengan 305 di antaranya berasal dari Jawa Barat. pada tahun 2005 terdapat 4. Paris 1983). yang mengisolasi virus dari seorang penderita dengan gejala limfadenopati.9 juta orang. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan . sehingga pada waktu itu dinamakan Lymphadenopathy Associated Virus (LAV). Jumlah pasien di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara sendiri diperkirakan berjumlah sekitar 7. adalah virus yang menyerang system kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Dan di setiap propinsi ditemukan adanya ibu hamil dengan HIV dan anak yang HIV atau AIDS. BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.3 juta orang dan yang terinfeksi HIV sebesar 4. USA 1984) menemukan Virus HTLV-III (Human T Lymphotropic Virus) yang juga adalah penyebab AIDS. jumlah ODHA di seluruh dunia diperkirakan sekitar 40.4 juta pada tahun 2005. II. Gallo (national Institute of Health. dan setiap hari minimal 1 pasien meninggal karena AIDS di Rumah Sakit Ketergantungan Obat dan di Rumah Tahanan.186 kasus AIDS. seorang ilmuwan Perancis (Institute Pasteur. Pada penelitian lebih lanjut dibuktikan bahwa kedua virus ini sama. Saat ini.1 Definisi HIV atau Human Immunodeficiency Virus. AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV. AIDS dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akubat infeksi HIV.2 Epidemiologi Pada tahun 2005.000 pasien per hari. Jumlah ini terus bertambah dengan kecepatan 15. sehingga berdasarkan hasil pertemuan International Committee on Taxonomy of Viruses (1986) WHO memberi nama resmi HIV. dilaporkan adanya pertambahan kasus baru setiap 2 jam. Menurut catatan Departemen Kesehatan.3 Etiologi Virus HIV yang termasuk dalam famili retrovirus genus lentivirus diketemukan oleh Luc Montagnier.

virus ini berikatan dengan receptor (CD4) yang ada di permukaan sel. Artinya.virus lain yang dapat pula menyebabkan AIDS.4 Patogenesis HIV adalah retrovirus yang menggunakan RNA sebagai genom. Karena biasanya yang diserang adalah sel T lymphosit (sel yang berperan dalam sistem imun tubuh). kedua virus itu disebut sebagai HIV saja. maka sel yang diinfeksi . Untuk masuk ke dalam sel. Untuk memudahkan. disebut HIV-2. II. virus ini hanya akan menginfeksi sel yang memiliki receptor CD4 pada permukaannya. dan berbeda dengan HIV-1 secara genetic maupun antigenic. HIV-2 dianggap kurang patogen dibandingkan dengan HIV-1.

Limfosit CD4+ merupakan target utama infeksi HIV karena virus mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4. DNA virus yang terintegrasi ke dalam genom sel dinamakan provirus. Limfosit CD4+ berfungsi mengkoordinasikan sejumlah fungsi imunologis yang penting. Proses ini dinamakan integrasi (integration). yaitu proses perubahan RNA menjadi DNA. Proses ini dilakukan oleh enzim reverse transcriptase. Proses sampai step ini hampir sama dengan beberapa virus RNA lainnya. setiap DNA sel menjalankan proses replikasi secara otomatis genom virus akan ikut bereplikasi. Dalam kondisi ini virus bisa memproteksi diri dari serangan sistem imun tubuh dan sekaligus memungkinkan manusia terinfeksi virus seumur hidup (a life long infection). genom virus akan stabil dan mengalami proses replikasi sebagaimana DNA sel itu sendiri. RNA mengalami proses reverse transcription. Hilangnya fungsi tersebut menyebabkan gangguan respon imun yang progresif. Yang menjadi ciri khas dari retrovirus ini adalah DNA yang terbentuk kemudian bergabung dengan DNA genom dari sel yang diinfeksinya.oleh HIV adalah sel T yang mengekspresikan CD4 di permukaannya (CD4+ T cell). Di dalam sel. Akibatnya. Spesifikasi HIV terhadap CD4+ T cell ini membuat virus ini bisa digunakan sebagai vektor untuk pengobatan gen (gene therapy) yang efisien bagi pasien HIV/AIDS karena vektor HIV yang membawa gen anti-HIV hanya akan masuk ke dalam sel yang sudah dan akan diinfeksi oleh virus HIV itu sendiri. . SIV dapat menginfeksi limfosit CD4+ dan monosit pada mukosa vagina. Dalam kondisi provirus. Setelah berikatan dengan receptor. Kejadian infeksi HIV primer dapat dipelajari pada model infeksi akut Simian Immunodeficiency Virus ( SIV ). virus berfusi dengan sel (fusion) dan kemudian melepaskan genomnya ke dalam sel. Proses ini dilakukan oleh enzim integrase yang dimiliki oleh virus itu sendiri.

Pada model ini. Sel individual di kelenjar getah bening yang mengekspresikan SIV dapat di deteksi dengan hibridisasi in situ dalam 7. Koinsiden dengan menghilangnya viremia adalah peningkatan sel limfosit CD8. Viremia SIV dideteksi 7-21 hari setelah infeksi . virus dideteksi pada kelenjar getah bening dalam 5 hari setelah inokulasi. Puncak jumlah sel yang mengekspresikan SIV di kelenjar getah bening berhubungan dengan puncak antigenemia p26 SIV. Jumlah sel yang mengekspresikan virus di jaringan limfoid kemudian menurun secara cepat dan di hubungkan sementara dengan pembentukan respon imun spesifik.14 hari setelah inokulasi. Walaupun demikian tidak dapat dikatakan bahwa respon sel limfosit CD8+ menyebabkan kontrol optimal terhadap replikasi . Virus dibawa oleh antigen presenting cells ke kelenjar getah bening regional.

diare. sehingga satu kali seseorang terinfeksi HIV.HIV. namun lamanya sangat bervariasi. seumur hidup ia akan tetap terinfeksi. ruam. dapat hanya sekitar 2 tahun. Gejala yang terjadi adalah demam. tuberculosis. pembesaran kelenjar getah bening. Masa tanpa gejala ini umumnya berlangsung selama 8-10 tahun. Dari semua orang yang terinfeksi HIV sebagian berkembang masuk tahap AIDS pada 3 tahun pertama. dan sesudah 13 tahun hampir semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS. . di mulailah infeksi HIV asimptomatik (tanpa gejala). 3-6 minggu setelah terinfeksi. infeksi jamur. Tetapi ada sekelompok kecil orang yang perjalanan penyakitnya amat cepat. Walaupun antibodi ini umumnya memiliki aktifitas netralisasi yang kuat melawan infeksi virus. dll. dan ada pula yang perjalanannya lambat (non-pogresor). namun ternyata tidak dapat mematikan virus. adalah heterogeneitas kapasitas replikatif virus dan heterogeneitas intrinsik pejamu. dan kemudian meninggal. herpes. Infeksi HIV tidak akan langsung memperlihatkan tanda atau gejala tertentu. Antibodi muncul di sirkulasi dalam beberapa minggu setelah infeksi. nyeri menelan. odha mulai menampakkan gejala-gejala akibat infeksi oportunistik seperti berat badan menurun. Faktor yang mempengaruhi tingkat replikasi HIV tersebut. Seiring dengan makin memburuknya kekebalan tubuh. II. demam lama. pembengkakan kelenjar getah bening. Sebagian memperlihatkan gejala tidak khas pada infeksi HIV akut. dengan demikian juga perjalanan kekebalan tubuh pejamu. 50% berkembang menjadi pasien AIDS sesudah 10 tahun. diare.5 Patofisiologi Dalam tubuh odha. rasa lemah. atau batuk. Replikasi HIV berada pada keadaan ‘ steady-state ‘ beberapa bulan setelah infeksi . Setelah infeksi akut. namun secara umum dapat dideteksi pertama kali setelah replikasi virus telah menurun sampai ke level ‘steady state’. Perjalanan penyakit tersebut menunjukkan gambaran penyakit yang kronis. Kondisi ini bertahan relatif stabil selama beberapa tahun. sesuai dengan kerusakan sistem kekebalan tubuh yang juga bertahap. partikel virus bergabung dengan DNA sel pasien.

muncul HIV yang resisten. Infeksi pada katup jantung juga adalah penyakit yang dijumpai pada odha pengguna narkotika dan biasanya tidak ditemukan pada odha yang tertular dengan cara lain. secara bertahap sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi HIV akan memburuk. dan akhirnya pasien menunjukkan gejala klinik yang makin berat.6 Manifestasi Klinis Gejala infeksi HIV pada awalnya sulit dikenali karena seringkali mirip penyakit ringan sehari-hari seperti flu dan diare sehingga penderita tampak sehat. Replikasi yang cepat ini disertai dengan mutasi HIV dan seleksi. Jadi yang disebut laten secara klinik (tanpa gejala). II. pada waktu itu terjadi replikasi HIV yang tinggi. Selain itu juga dapat menyebabkan reaktivasi virus di dalam limfosit T. terjadi kehancuran limfosit CD4 yang tinggi. Akibatnya perjalanan penyakitnya biasanya lebih progresif. makin mudah terkena pneumonia dan tuberkulosis. bukan di peredaran darah tepi. 10 partikel setiap hari. Sebagian besar replikasi HIV terjadi di kelenjar getah bening. walaupun selama beberapa tahun tidak menunjukkan gejala. Perjalanan penyakit lebih progresif pada pengguna narkotika. Bersamaan dengan replikasi HIV. klinis tidak menunjukkan gejala. Lamanya penggunaan jarum suntik berbanding lurus dengan infeksi pneumonia dan tuberkulosis. yang dapat dilihat dengan pemeriksaan hibridisasi in situ. Kadang-kadang dalam 6 minggu pertama setelah kontak penularan timbul gejala . Infeksi oleh kuman penyakit lain akan menyebabkan virus HIV membelah dengan lebih cepat sehingga jumlahnya akan meningkat pesat. Infeksi secara bersamaan ini akan menimbulkan efek yang buruk. Lebih dari 80% pengguna narkotika terinfeksi virus hepatitis C. Tanpa pengobatan ARV. untungnya tubuh masih bias mengkompensasi dengan memproduksi limfosit CD4 sekitar 109 sel setiap hari. Makin lama seseorang menggunakan narkotika suntik . pasien masuk tahap AIDS. sebetulnya bukan laten bila ditinjau dari sudut penyakit HIV. Pada waktu orang dengan infeksi HIV masih merasa sehat. Manifetasi dari awal dari kerusakan sistem kekebalan tubuh adalah kerusakan mikro arsitektur folikel kelenjar getah bening dan infeksi HIV yang luas di jaringan limfoid.

Gejala ini biasanya sembuh sendiri dan sampai 4-5 tahun mungkin tidak muncul gejala. Dalam masa ini . sakit menelan dan pembengkakan kelenjar getah bening di bawah telinga. Tanda-tanda seorang tertular HIV Sebenarnya tidak ada tanda-tanda khusus yang bisa menandai apakah seseorang telah tertular HIV. penurunan berat badan secara mendadak. sering sariawan di mulut dan pembengkakan di daerah kelenjar getah bening. ia sudah bisa menularkan HIV melalui perilaku yang disebutkan di atas tadi. Adanya HIV di dalam darah bisa terjadi tanpa seseorang menunjukan gejala penyakit tertentu dan ini disebut masa HIV positif. Kemudian tahap lebih lanjut akan terjadi penurunan berat badan secara cepat (> 10%). Pada tahun ke 5 atau 6 tergantung masing-masing penderita. bila orang tersebut ternyata sudah mempunyai virus HIV di dalam tubuhnya (walau pun belum bisa di deteksi melalui tes darah). Bila seseorang terinfeksi HIV untuk pertama kali dan kemudian memeriksakan diri dengan menjalani tes darah. diare terus-menerus lebih dari 1 bulan disertai panas badan yang hilang timbul atau terus menerus. sakit sendi.tidak khas berupa demam. maka dalam tes pertama tersebut belum tentu dapat dideteksi adanya virus HIV di dalam darah. karena keberadaan virus HIV sendiri membutuhkan waktu yang cukup panjang (5 sampai 10 tahun hingga mencapai masa yang disebut fullblown AIDS). mulai timbul diare berulang. tanda-tanda utama yang terlihat pada seseorang yang sudah sampai pada tahapan AIDS adalah:  Berat badan menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat  Demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu bulan)  Diare berkepanjangan (lebih dari satu bulan) . Secara umum. ketiak dan selangkangan. Masa ini disebut window period (periode jendela) . rasa letih. Hal ini disebabkan karena tubuh kita membutuhkan waktu sekitar 3 – 6 bulan untuk membentuk antibodi yang nantinya akan dideteksi oleh tes darah tersebut.

 Setiap orang dapat tertular HIV/AIDS. yaitu waktu (5 . atau dia tampak sehat. suatu virus yang menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan/ daya tahan tubuh. ketiak dan lipatan paha.10 tahun terinfeksi HIV. Perbedaan antara HIV dan AIDS.  Pada masa tanpa gejala sangat mungkin menularkan kepada orang lain. namun pada masa ini tidak timbul gejala yang menunjukkan orang tersebut menderita AIDS. Masa 3 bulan ini sering disebut dengan masa jendela  Masa tanpa gejala. sehingga mudah terserang infeksi/penyakit sedangkan AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome.oleh karena adanya virus HIV di dalam darah 2. artinya positif HIV. karena telah banyak pengidap HIV/AIDS yang meninggal  Gejala muncul setelah 2 . Infeksi HIV/AIDS berbahaya. yaitu: 1. HIV adalah Human Immuno Deficiency Virus. leher. . seperti di bawah telinga.Sedangkan gejala-gejala tambahan berupa :  Batuk berkepanjagan (lebih dari satu bulan)  Kelainan kulit dan iritasi (gatal)  Infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan  Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh. tubuh belum membentuk antibodi secara sempurna. yaitu timbulnya sekumpulan gejala penyakit yang terjadi karena kekebalan tubuh menurun.7 tahun) dimana tes darah sudah menunjukkan adanya anti bodi HIV dalam darah.  Belum ada vaksin dan obat penyembuhnya. Perjalanan Penyakit dan Gejala yang Timbul  Dalam masa sekitar 3 bulan setelah tertular. sehingga tes darah tidak memperlihatkan bahwa orang tersebut telah tertular HIV.

sering kali tanpa persetujuan dari yang bersangkutan. Bulgaria (45 persen dites) dan bekas Uni Soviet (30 persen). Di negara lain. secara ilmiah tidak dapat dibenarkan. Gejala AIDS sudah timbul dan biasanya penderita dapat bertahan 6 bulan sampai 2 tahun dan kemudian meninggal II. Karena HIV tidak ditularkan melalui hubungan biasa sehari-hari (yaitu. Kelompok ini mencakup narapidana.3 Tiga negara yang mewajibkan tes adalah Kuba (75 persen warga dites). dan wanita hamil. Umumnya. dan orang yang memakai narkoba bersamanya. Sebaliknya. Untuk mereka yang HIV-negatif. pengguna narkoba dalam tempat pemulihan. pekerja seks. orang dapat dibagi dalam dua kubu: mereka yang setuju dengan tes secara sukarela dan mereka yang mengusulkan tes wajib. orang dengan HIV akan menerapkan penggunaan narkoba atau hubungan seks yang lebih aman untuk melindungi pasangannya. terlepas . akan mendorong perubahan perilaku agar meyakinkan bahwa mereka tidak tertular HIV di masa yang akan datang. Orang yang mengusulkan tes sukarela secara luas menganggap bahwa jika seseorang mengetahui apakah ia terinfeksi HIV atau tidak akan menjadi unsure penting dalam mendorong terjadinya perubahan. ada yang menganggap bahwa setiap orang yang menggunakan narkoba dengan jarum suntik dan melakukan seks yang tidak aman harus mengubah perilakunya. Berarti. Baru setelah tes dapat diperoleh. dan dapat menimbulkan perlakuan tidak adil.  Masa dengan gejala. Penolakan terhadap tes HIV berarti program harus mengembangkan strategi untuk membujuk orang yang berisiko terinfeksi HIV untuk melakukan tes HIV karena akan bermanfaat untuk mereka. muncul berbagai pertanyaan tentang bagaimana cara memakai tes tersebut. Gagasan wajib melakukan tes ditolak oleh sebagian besar negara akibat biaya dan masalah logistik yang terkait. tes wajib untuk seluruh penduduk dilihat sangat mahal. bukan virus yang diangkut udara) tetapi melalui perilaku tertentu. ini sering disebut masa sebagai penderita AIDS.7 Pemeriksaan Penunjang Tes darah Tes untuk mengetahui antibodi HIV pertama tersedia pada 1985. kelompok tertentu dijadikan sasaran.

pengobatan untuk infeksi oportunistik seperti TB.8. saat melahirkan atau ketika menyusui. Tes seperti ini harus mencakup konseling prates dan pascates (untuk informasi lebih lanjut lihat ini). tes sukarela dan surveilans sentinel. II. untuk meyakinkan mereka supaya tidak tertular virus ini di masa mendatang. Ini dapat dilakukan dengan mengadakan skrining HIV pada perempuan hamil atau pasien IMS. tes tidak dibutuhkan dan dapat meningkatkan perlakuan tidak adil. Karena pesannya sama. Surveilans masyarakat biasanya dilakukan dengan melakukan tes intensif (skrining) terhadap kelompok kunci dalam masyarakat agar mengetahui luasnya penyebaran infeksi HIV. Umumnya tes HIV dipakai dalam dua cara: untuk surveilans masyarakat (surveilans sentinel) dan untuk diagnosis perorangan. Melakukan tes memungkinkan orang untuk mengubah perilakunya sehingga mereka tidak menularkan virus itu (jika hasil tesnya positif) atau. Daripada melakukan tes secara massal. Ada dua hal yang perlu diperhatikan: . mereka mengusulkan program pendidikan massal sebagai gantinya. Tes perorangan adalah untuk mereka yang merasa mungkin telah terpajan oleh HIV melalui praktek penyuntikan. jika hasil tes mereka negatif. atau dari transfusi darah. Banyak negara di Asia melakukan gabungan antara tes wajib. seks yang berisiko. Orang yang dites dengan cara ini tidak diberitahukan hasil tesnya dan hasilnya juga anonim (tanpa nama). agar mengetahui berapa yang terinfeksi HIV pada waktu tertentu: skrining ulangan di kemudian hari dapat menunjukkan cepatnya HIV menyebar dalam masyarakat tertentu itu. Tes juga bisa berarti bahwa orang mungkin mendapatkan saran-saran berkaitan dengan kesehatan mereka. dan informasi tentang bagaimana mengurangi kemungkinan menularkan virus pada bayinya yang belum lahir.8 Pencegahan 2.1 Penularan dengan jarum suntik Gunakan selalu jarum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan penyuntikan atau proses lain yang mengakibatkan terjadinya luka.apakah mereka HIV-positif atau tidak. stigmatisasi dan pengucilan.

Semua alat yang menembus kulit dan darah (jarum suntik. Pemberian dukugan psikologis.3 Penularan melalui ASI Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif sebaiknya diberitahu tentang semua resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada diri sendiri dan bayinya. . 2. Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang dikandungnya. 2.8. 4. atau pisau cukur) harus disterilisasi dengan benar 2.8. Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif 3. Jangan memakai jarum suntik atau alat yang menembus kulit bergantian dengan orang lain. social dan perawatan kepada ibu HIV positif berserta bayi dan keluarganya. sehingga keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI sendiri bisa dipertimbangkan. Penggunaan terapi ARV pada ibu dan bayi. Strategi yang digunakan untuk mencegah penularan disaat kehamilan. Untuk yang melakukan hubungan seksual yang mengandung risiko. 1. jarum tato. karena hal ini memungkinkan penularan HIV). Melakukan prinsip monogami yaitu tidak berganti-ganti pasangan dan saling setia kepada pasangannya 3.8.4 Penularan dari Ibu ke Bayi 1. Pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi 2. Ada tiga cara: 1. dianjurkan melakukan seks aman termasuk menggunakan kondom 2. Abstinensi (atau puasa. persalinan dan penyusuan adalah.2 Penularan dengan hubungan seks Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman (artinya : hubungan seks yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin. tidak melakukan hubungan seks) 2. 1.

Yang banyak dipraktikkan sampai saat ini adalah pengobatan dengan obat kimia . Pemberian susu formula II.9 Penatalaksanaan Pemberian terapi arv pada bayi yang lahir dengan ibu HIV AZT 2X/hari sejak lahir hingga usia 4-6 minggu dosis 4 mg/kgBB/kali Pemberian ARV Profilaksis Pada Bayi yang Lahir dari Ibu HIV Status HIV dari wanita hamil Sudah didiagnosis HIV Tes HIV (-) sebelumnya dan sudah Tes HIV (+) mendapatkan terapi ARV AZT + 3TC + NVP atau TDF + 3TC (atau FTC) + NVP ANTENATAL Atau AZT + 3TC + EFV atau --------------------------------------------------------------------------------------------------- TDF + 3TC (atau FTC) + EFV ----------- PERSALINAN Lanjutkan terapi ARV --------------------------------------------------------------------------------------------------- ------------ POSTPARTUM ASI eksklusif atau susu formula Ibu:lanjutkan ARV Bayi: AZT. 2x/hari. 3. dari lahir hingga usia 4-6 minggu (tidak melihat cara pemberian makanan pada bayi) Pengobatan Antiretroviral Berbagai pengobatan telah diterapkan untuk penyembuhan AIDS. Seksio sesaria sebelum terjadinya pecah selaput ketuban. 2.

2x/hari (profilaksis)  4 minggu – 13 tahun: 180- 240mg/m2/dosis. 300 mg/dosis. Nama Formulasi Data Dosis menurut umur. ritonavir. Lamivudin Tablet: Semua umur  < 30 hari 2 (NRTIs) 150 mg mg/kg/dosis. pemakaian obat-obat ini adalah dengan kombinasi satu sama lainnya karena pemakaian obat tunggal tidak menyembuhkan dan bisa memicu munculnya virus yang resisten terhadap obat tersebut. yang disebut highly active antiretroviral threrapy (HAART). Setelah itu dikembangkan inhibitor protease seperti indinavir. Zinovudin Tablet: Semua umur  < 4 minggu: 4 (NRTIs) 300mg mg/kg/dosis. Pada umumnya. seperti inhibitor reverse transcriptase dan protease. Pemakaian obat kombinasi menjadi standar pengobatan AIDS saat ini. 2x/hari  dosis maksimal: >13 tahun.(chemotherapy). cara ini juga masih belum efektif. Zidovudin-lebih dikenal dengan AZT-adalah obat AIDS yang pertama kali digunakan. Walaupun demikian. Lini Pertama No. Sampai saat ini Food and Drug Administration (FDA) Amerika telah mengizinkan penggunaan sekitar 20 jenis obat-obatan. Obat-obat ini biasanya adalah inhibitor enzim yang diperlukan untuk replikasi virus. dan nelfinavir. 2x/hari. 2x/hari (profilaksis)  > 30 hari atau <60kg: 4 . Obat yang merupakan inhibitor enzim reverse transciptase ini mulai digunakan sejak tahun 1987. 2. generik farmakokinetik 1.

<33 kg: 350 mg 1x/hari  33 .<20 kg: 250 mg 1x/sehari. Selanjutnya 2x/hari. 1x/hari Selanjutnya 2x/hari.  > 8 tahun: 120-150 mg/m2.  20 . Nevirapin Tablet: Semua umur  < 8 tahun: 200 (NNRTIs) 200 mg mg/m2 Dua minggu pertama 1x/hari.<25 kg: 300 mg 1x/hari  25 . berat >10 kg  15 .  Dosis maksimal: 150 mg/dosis. 3. Kombinasi Tablet: Remaja dan Dosis maksimal: < tetap 300 mg dewasa 13 tahun atau > 60 Zinovudin (AZT) kg: 1 tablet/dosis. 5. plus plus 150 2x/hari (tidak untuk Lamivudin mg (3TC) berat badan 30 kg) 4. 2x/hari.<40 kg: 400 mg 1x/hari  Dosis maksimal: > 40 kg: 600 mg 1x/hari . Efavirenz 600mg Hanya untuk anak  10-15 kg: 200 mg (NNRTIs) >3 tahun dan 1x/sehari. mg/kg/dosis. Dua minggu pertama. 2x/hari.

9. Interaksi obat fumarat dengan ddl. Tenofovir + tablet 200 emtricitabin mg/ 300 mg Lini Kedua No Nama Formulasi Data Dosis . 30 mg Semua umur  < 30 kg: 1 d4T (NRTIs) mg/kg/dosis.5 kg: 8 mg/kg. 2x/hari 8. 200 mg setiap 12 jam Lopinavir + 50 untuk pasien mg ritonavir naïf baik dengan atau tanpa kombinasi EFV atau NVP. Lopinavir/ Tablet tahan suhu 6 bulan  400 mg/100 mg ritonavir (PI) panas. 2x/hari  30 kg atau lebih : 30 mg/dosis. 2x/hari 7. 2x/hari  Dosis maksimal: >16 tahun atau > 37.5 kg 300 mg/dosis.  600 mg/ 150 mg . Tenofovir Tablet: Diberikan setiap 24 disoproxil 300 mg jam. Abacavir 300 mg Umur > 3 bulan  < 16 tahun atau < (NRTIs) 37.dosis. generik farmakokinetik 1. tidak (NRTIs) lagi dipadukan dengan ddl.6 Stavudin.

setiap 12 jam bila dikombinasi dengan EFV atau NVP untum pasien yag pernah mendapat terapi ARV  2 minggu.6 bulan: 16 mg/4 mg/kg BB. Regimen ARV Kombinasi Untuk Anak Singkatan FDC Stavudinr (D4T) Lamivudine(3TC) Nevirapine (NVP) menurut WHO Dosis/tablet (mg) Dosis/tablet (mg) Dosis/tablet (mg) Paediatric FDC 12 60 - 12 dual Paediatric FDC 12 60 100 12 tripel . tidak lagi (NRTIs) dipadukan dengan ddl. Tenofovir Tablet: 300 mg Diberikan setiap 24 jam disoproxil interaksi obat dengan fumarat ddl. 2x/hari  6 bulan – 18 bulan: 10 mg/lgBB/dosis lopinavir 2.

5 kg 9-12 kg 1 0.9 0.9 1.5 1.5 1 0.5 1 200 mg kg plus 50 mg 17-19.5 1.5 0.5 200 mg 12-13.5 200 mg kg plus 2x50 mg 25-29.9 2 2 2 2 2 2 200 mg kg plus 3x50 mg .5 1.9 1.5 1 1.Dosis Kombinasi ARV untuk Anak REGIMEN d4T 3TC NVP REGIMEN d4T 3TC EFV BB Pengobatan inisial Dosis rumatan D4T 3TC EFV hari ke 1-14 setelah 2 minggu pengobatan inisial Tab Tab Tab Tab Tabl Tab Kapsul tripel dual pm tripel tripel dual dual efavirens am am pm am pm pm 6–8.5 1.9 1 1 1 1 1 1 200 mg kg 14-16.5 0.5 1 1.9 1.5 1 200 mg kg plu 50 mg 20-24.5 1 1.5 1 1.5 1 0.5 0.5 1.

mulai terapi ARV dengan NVP + 2 NRTI. 3. Pada bayi sudah terpapar NVP atau NNTRI lain pada saat dikandungan atau pada saat bayi untuk pengobatan ibu atau PMTCT. 2. Untuk anak berumur antara 12-24 bulan yang belu terpapar NNRTI. Selain itu regimen lini pertama yang digunakan pada bayi dan anak adalah sebagai berilut. Untuk anak yang berumur lebih 24 bulan dan kurang 3 tahun mulai terapi ARV dengan NVP + 2 NRTI. mulai terapi ARV dengan regimen NVP atau EFV + 2 NRTI. Untuk anak yang berusia 3 tahun atau lebih. 4. Anak : 1. Untuk bayi yang terpapar terhadap terapi ARV tidak diketahui mulai dengan NVP + 2NRTI. Bayi: 1. Pada bayi yang belum terpapar terapi ARV.Rekomendasi Waktu Memulai ARV Untuk Anak Jangka waktu Stadium klinis Status imunologis <24 bulan Semua diobati >24 bulan Stadium 4 (setelah stabilisasi IO) Stadium 3 (setelah stabilisai (OI) Stadium 2 Yang diobati adalah CD4 kurang Stadium 1 dari ambang batas menurut umur. 3. mulai ARV dengan LPV/r + 2NRTI. mulai terapi dengan NVP + 2 NRTI 2. Untuk anak yang berumur antara 12-24 bulan yang susah terpapar NVP atau NNRTI lain pada saat di kandungan atau pada saat bayi untuk pengobatan ibu atau PMCTC. . bila tidak ada pemeriksaan CD4 tidak usah diobati.

Terapi untuk hepatitis C ini sebaiknya diberikan pada saat CD4+ sudah tinggi. 5. lebih dari 350 sel/mm3 untuk mendapatkan respon pengobatan yang lebih baik. ARV Pada Koinfeksi HCV Terapi infeksi hep C pada koinfeksi dengan HIV tidak berbeda dengan monoinfeksi hep C. Terapi tb dooberikan terlebih dahulu. dengan perhatian khusus pada interaksi antara obat ARV dan ribaviri atau interferon sebagai berikut. Hanya saja pemberian obat ini harganya masih cukup mahal. ARV Untuk Koinfeksi HIV/Tuberkulosis Semua ODHA dengan tbc aktif merupakan indikasi memulai terapi ARV berapapun jumlah CD4. Interferon dan EFV Kombinasi kedua obat ini dapat menyebabkan depresi berat sehingga dalam penggunaannya perlu pengawasan ketat. EFV . 2. Regimen terapi yang mengandungi aktivitas terhadap HBV. yaitu TDF + 3TC atau FTC digunakan untuk peningkatan respoon VL HBV dan penurunan perkembangan HBV yang resistensi obat. 1. yaitu menggunakan kombinasi pegylated interferon alpha dan ribaviri (rbv). Regimen ART pada keadaan koinfeksi HIV/HCV seperti biasa. ARV Pada Koinfeksi HIV/HBV Semua individu dengan koinfeksi HIV/HBV yang memerlukan terapi untuk infeksi HBVnya (kepatitis kronik aktif0 terlepas dari jumlah CD4 atau stadium klinis WHO harus memulai terapi ARV. Ribaviri dan AZT Kombinasi obat ini dapat menyebabkan anemia sehingga dalam penggunaan keduanya perlu pengawasan ketat. kemudian diikuti dengan terapi ARV sesegera setelahnya (dalam delapan minggu pertama). Untuk bayi dan anak dasar nukleosida untuk regimen art harus satu diantara berikut ini (tersusun menurut pilihan yang disarankan) 3TC + AZT atau 3TC + ABC atau 3TC + d4T.

untuk menentukan gagal terap menggunakan criteria imunologis untuk memastikan gagal klinis. Gagal Terapi ARV Kriteria gagal terapi adalah menggunakan 3 kriteria yaitu criteria klinis. Bila pemeriksaan VL tidak tersedia. Lini Regimen Pilihan Lini 2 NRTI + EFV Lanjutkan dengan 2 NNRTI + EFV pertama 2 NRTI + NVP Ganti NVP ke EFV atau Ganti ke regimen 3 NRTI atau Lanjutkan dengan 2NNRTI + NVP Lini 2 NRTI + PI Ganti kea tau lanjutkan (bila sudah mulai kedua )regimen yang berisi LPV/r dengan dosis ganda. Imunologis Penurunan CD4 kembali seperti Tanpa infeksi penyerta awal sebelum pengobatan (atau lain yang menyebabkan lebih rendah) atau penurunan CD4 Penurunan sebesar 50% dari nilai sementara. infeksi bacteria berat) dapat merupakan tanda kegagalan pengobatan. imunologis dan virologist. Kriteria Gagal Terapi Kegagalan Komentar Gagal klinis Kondisi stadium 4 WHO baru atau Kondisi harus dibedakan berulang dari SPI Kondisi WHO stadium 3 tertentu (TB paru.merupakan NNRTI pilihan pada pasien yang akan memulai terpai ARV selama dalam terapi TB. . Viral load yang menetap di atas 5000 kopi/ml mengkonfirmasi gagal terapi.

tertinggi CD4 yang pernah dicapai ketika pengobatan atau Jumlah CD4 tetap < 100 sel/m3 Virologis Viral load plasma > 5000 kopi/ml Ambang batas viral load optimal untuk mendefinisikan kegagalan virologist belum ditentukan VL>5000 kopi/ml berhubungan dengan perkembangan klinis dan penurunan CD4 Alur pemindahan lini pertama ke lini kedua Dicurigai kegagalan klinis atau imunologis Pemeriksaan viral load VL > 5000 kopi/ml Penatalaksanaan kepatuhan Pemeriksaan ulang VL VL <5000 kopi/ml VL <5000 kopi/ml Jangan pindah ke lini Pindah ke lini kedua kedua .

Regimen lini kedua direkomendasikan dan disediakan secara gratis oleh pemerintah dalah TDF/AZT + 3TC + lopinavir/ritonavir (LPV/RTV). Evaluasi klinis meliputi parameter seperti pada evaluasi awal termasuk pemantauan berat badan dan munculnya tanda dan gejala klinis perkembangan infeksi HIV. Parameter klinis dan CD4 ini digunakan untuk mencatat perkembangan stadium klinis WHO pada setiap kunjungan dan menentukan apakah pasien mulai memenuhi syarat untuk terapi profilaksis kotrimoksasol atau terapi ARV. Evaluasi klinis dan jumlah CD4 perlu dilakukan lebih ketat ketika mulai mendekati ambang dan syarat memulai terapi ARV. . Apabila pada lini pertama menggunakan TDF makan gunakan AZT + 3TC sebagai dasar NRTI pada regimen lini kedua.PI (Bpi). Apabila padalini pertama menggunakan d4T atau AZT maka gunakan TDF + (3TC atau FTC) sebagai dasar NRTI pada regimen lini kedua.Regimen Terapi ARV Lini Kedua Rekomendasi regimen lini kedua adalah 2NRTI + boosted. Panduan penggunaan regimen lini-2 Regimen lini 1 Regimen lini 2 Berbasis AZT/d4T AZT/d4T + 3TC + TDF +3TC/FTC + LPV/r NVP/EFV Berbasis TDF TDF + 3TC/FTV + AZT + 3TC + LPV/r NVP/EFV Hepatitis B TDF + 3TC/FTC + AZT + TDF + 3TC/FTC NVP/EFV + LPV/r Monitoring Pasien Pasien yang belum memenuhi syarat terapi antiretroviral Pasien yang belum memenuhi syarat terapi ARV perlu dimonitor perjalanan klinis penyakit dan jumlah CD4 nya setiap 6 bulan seklai.

Pasien dalam terapi ARV Monitoring klinis. kreatinin klirens untuk TDF. Monitoring klinis perlu dilakukan pada minggu 2. SGPT untuk NVP Pada saat menjalani CD4 Hb untuk AZT. kandidiansis dan atau infeksi oportunistik lainya) ditambah konseling untuk membantu pasien memahami terapi ARV dan dukungan kepatuhannya.8. keratinin ARV klirens untuk TDF. SGPT untuk NVP Pada saat kegagalan CD4 Viral load klinis Pada saat kegagalan Viral load imunologis Wanita yang menjalani Viral load enam bulan PMTCT dengan NVP setelah memulai terapi dosis tunggal dengan ARV lanjutan dalam 12 bulan . Rekomendasi pemeriksaan laboratoriun untuk memonitor pasien dalam terapi ARV. Frekuensi monitoring klinis tergantung dari respons dari terapi ARV. Tahap terapi ARV Tes yang Tes yang dianjurkan direkomendasikan Pada saat diagnosis HIV CD4 HbsAG Sebelum memulai ARV CD4 Pada saat memulai ARV CD4 Hb untuk AZT. Setiap kunjungan dilakukan penilaian klinis termasuk tanda dan gejala efek samping obat atau gagal terapi dan frekunsi ( infeksi bacterial.3.24 minggu sejak memulai terapi ARV.12.

Angka limfosit total (TLC = total lymphocyte count) tidak direkomendasikan untuk digunakan memonitor terapi karena perubahan nilai TLC tidak dapat digunakan untuk memprediksi keberhasilan terapi. asidosis laktat denga steatosis hepatitis (jarang). TDF (atau d4T jika tidak neutropenia ada pilihan lain) Intoleransi gastrointertinal. neuropati AZT dan TDF perifer. Jika digunakan pada terapi lini sakit kepala. Enam bulan sejak memulai terapi ARV merupakan masa yang kritis dan penting. insomnia. . lipotrofi Lamivudin Toksisitas renda _ Asidosis laktat dengan steatoses hepatitis (jarang) Abacavir Reaksi hipersensitivitas AZT atau TDF (dapat fatal). akan tetapi hal tersebut tidak terjadi dan atau terjadi toksisitas obat. kedua.Monitoring lain Monitoring jumlah CD4+ secara rutin setiap 6 bulan atau lebih sering bila ada indikasi klinis. Diharapkan dalam masa tersebut akan terjadi perkembangan klinis dan imonologi kearah yang lebih baik. Selain itu bisa juga terjadi suatu sindrom pulih imun dimana pasien sepertinya mengalami perburukan klinis yang sebetulnya merupakan suatu keadaan pemulihan respon imunitas (yang kadang sampai menimbulkan gejala peradangan/inflamasi berlebihan) Efek Samping Terapi ARV Obat Efek samping Substitusi Zidovudin Supressi sumsum tulang Jika digunakan pada terapi lini Anemia makrositik atau pertama. d4T asthenia Pigmentasi kulit dan kuku Asidosis laktat Stavudin Pancreatitis.

Jika digunakna pada lini kedua. batuk) Asidosis laktat dengan steatosis hepatitis (jarang) Tenofovir Asthenia. mual. sakit kepala. Emtricitabine Ditoleransi dengan baik - Nevarapin Reaksi hipersensitivitas EFV Sindroma steven-johnson Bpi jika tidak toleransi terhadap Ruam kedua NNRTI Toksisitas hepar Tiga NNRTI jika tidak ada pilihan hiperlipidemia lain. sindroma fanconi Secara pendekatan kesehatan Osteomalasia masyarakat. Demam. insufisiensi ginjal. hiperglikemial. pemindahan lemak dan abnormalitas lipid Efavirenz Reaksi hipersensitivitas NVP sindroma steven-johnson Bpi jika tidak toleran terhadap Ruam kedia NRTI . Ritonavir Hiperlipidemia Jika digunakan pada lini kedua. berat pada pasein HIV Jika kemungkinan dengan koinfeksi dipertimbangkan merujik ke Hepatitis B yang tingkat perawatan yang lebih menghentikan TDF tinggi dimana terapi individual tersedia. ruam kelelahan. sering buang AZR (atau d4t jika tiada pilihan) angin. pancreatitis. mul muntah. Lopinavir Intoleransi gastrointertinal. tidak napsu makan Gangguan pernapasan (sakit tenggorok. Jika digunakan pada lini kedua. Jika digunakan pada lini pertama mual muntah. makan tidak ada Penurunan densittas tulang pilihan lain jika pasien telah gagal Hepatitis eksaserbasi akut AZT/d4t pada terapi lini pertama. diare.

Keadaan ini memerlukan pengobatan yang rumit. Zidovudin (ZDV) Pada stadium lanjut. Dosis dan pemberian belum ada kesepakatan. Umumnya pada stadium yang lebih lanjut lanjut. Bila sudah timbul keadaan yang demikian maka sebaiknya penanganan penderita dilakukan oleh sebuah tim. konselor dan kelompok-kelompok pendukung lainnya. diberikan ZDV 1000mg. tetapi sebagai dosis awal pada penderita dengan berat badan 70 Kg. bila sekali muncul infeksi maka jarang bersifat tunggal tetapi beberapa macam infeksi bersamaan. ZDV juga cukup banyak memberikan manfaat. agar dapat menembus ke susunan syaraf pusat (SSP). yang berat dan persisten (depresi dan pusing) Hiperlipidemia Ginekomastia (pada laki- laki) Kemungkinan efek teratogenik (pada kehamilan trimester pertama atau wanita yang tidak mengganggu kontrasepsi yang adekuat) Penatalaksanaan Stadium Lanjut Pada stadium lanjut. Toksisitas hepar Tiga NRTI jika tidak ada pilihan Toksisitas sisterm saraf pusat lain. dalam 4-5 kali pemberian. . umunya berupa infeksi oportunistik yang mengancam jiwa penderita. tingkat imunitas penderita sudah sangat menurun dan banyak komplikasi dapat terjadi. para spesialis. Pada keadaan penyakit yang berat dosis ZDV diperlukan lebih tinggi. Pengobatan infeksi oportunistik Infeksi HIV merupakan infeksi kronis yang kompleks sehingga memerlukan perawatan multidisipliner.

sesak.Perawatan Fase Terminal Sampai saat ini dapat dinyatakan bahwa AIDS adalah penyakit fatal. belum dapat disembuhkan. pengobatan yang diberikan hanyalah bersifat simptomatik dengan tujuan agar penderita merasa cukup enak. bebas dari rasa mual. Oleh karena itu penderita yang kita rawat akhirnya akan sampai pada fase terminal sebelum datangnya kematian. Pada fase terminal. dimana penyakit sudah tak teratasi. mengatasi infeksi yang ada dan mengurangi rasa cemas .

namun dengan perjalanan dari waktu ke waktu HIV akan menimbulkan penurunan jumlah sel limfosit CD4. timbulnya reaksi autoimun. disamping secara spesifik membunuh sel yang dibungkus oleh antibody melalui mekanisme antibody dependant cell mediated cytotoxic (ADCC). seperti Limfoma Non Hodgkin. sehingga fungsi imunitas seluler terganggu. Disamping itu penurunan jumlah dan fungsi sel T CD4 ini mengakibatkan terganggunya homeostasis dan fungsi sel lainnya dalam system imun humoreal. Fungsi ini dilakukan oleh sel makrofag dan CTLs (sitotoksi T limfosit atau TC). Infeksi HIV mempunyai target utama sel limfosit CD4 yang berfungsi sentral dalam system imun. Pemberian obat retroviral dapat meningkatkan CD4 sehingga risiko infeksi opprtunistik menurun. Pada mulanya system imun dapat mengendalikan infeksi HIV. Terganggunya fungsi limfosit B karena regulasi oleh sel limfosit CD4 akan menimbulkan respon imun humoreal yang tidak relevan dan terbentuknya hipergammaglobulinemia. Mekanis ini tidak berjalan seperti biasa akibat HIV. Demikian juga sel NK (Natural Killer). Oleh karena itu. yang teraktivasi oleh sitokin yang dilepaskan oleh limfosit CD4. yaitu sel limfosit B yang berperan dalam imunitas hummoral. Sarkoma Kaposi dan karsinoma serviks. BAB III KESIMPULAN Berdasarkan berbagai aspek immunodefisiensi pada infeksi HIV. yang berfungsi membunuh sel yang terinfeksi virus atau sel Ganas secara direk nonspesifik. defiseinsi imun akibat HIV dapat mengakibatkan terjadimya infeksi oportunistik. . perbaikan klinik tidak diserta dengan peningkatan CD4 secara nyata. Namun pemulihan system imu juga dapat menimbulkan sindrom rekonstitusi imun. Sedangkan pada disfungi imun. mudah terjadi reaksi hipersensitivitas terhadap obat-obat yang sering dipakai dan pertumbuhan tumor ganas sekunder.

Patofisiologi: Konsep Klinis Proses- Proses Penyakit.com/doc/40951928/Hiv. Current Medical Diagnosis dan Treatment. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jilid III. http://mlengsee. HIV Infection and Aids. Edisi IV. 5. Kurniati et all. Kuspuji T. Edisi IV. 2006. Penanganan Pajanan HIV Bagi Petugas Kesehatan. 6. 2009. 2010. Hal 47-67. Hal 162-163 8. Infeksi Tropical. Respon Imun Infeksi HIV. McGaw Hill. Kapita Selekta Kedokteran. 1176-1205.Infected Mother with Prophylactic Therapy: Preliminary Report of Hospital Birth Cohort Study. 2006. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI: Hal 545-6 10. 2000. 4. HIV Discussion. 7.edu/hivaids/initial/case1/discussion. http://depts. HIV AIDS. Incidence of HIV-Infected Infant Born to HIV. HIV webstudy. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Zolopa AR. VM. See ML. Edisi 48.html.washington. 2. HIV. Hal. 1803-1807. Quinn TC. 9. Jakarta: Media Aesculapius FKUI. . TP. 3. Lan. Buku Ajar Ilmu Penyalit Dalam. Djoerban Z.scribd. Edisi 6. Jakarta: ECG. Sewankambo N. Hal. Wawer MJ. DAFTAR PUSTAKA 1. 2006. Djauri S. Tatalaksana HIV/AIDS. Antiretroviral. Ismael S. 224. Edisi III. Hal. Katz MH. http://www. Merati. 2011. Kesehatan kedokteran. Human Immunodeficiency Virus (HIV) and Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).com/2010/12/02/penanganan-pajanan- hiv-bagi-petugas-kesehatan/.wordpress.

Related Interests