HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNAAN MASKER DENGAN

GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA MEBEL DI
KELURAHAN HARAPAN JAYA, BANDAR LAMPUNG
1)
Zamahsyari Sahli
1)
Raisa Lia Pratiwi
1)
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Mitra Lampung

Abstract: Relations With The Mask Of Use Behavior Disorders In Lung Function Furniture
Workers In Harapan Jaya Village, Bandar Lampung. Using masks in furniture industry may
hinder the dust which cause lung problems. The study objective was to determine the Correlation
of behavior of using masks against pulmonary function impairment in furniture workers in
Harapan Jaya Village. This study was an observational study with cross sectional approach.
Sample in this study 41 furniture workers in the Harapan Jaya as sampling. Data analysis using chi
square with Fisher test. The Result shows pulmonary function impairment has relation with pratice
of using mask (p = 0,013) and has no relation to knowledge of using mask (p=0.219) and so
attitude of using mask (p=0.084) with α=0,05.

Keywords: Behavior of using mask , pulmonary function impairment.

Abstrak: Hubungan Perilaku Penggunaan Masker Dengan Gangguan Fungsi Paru Pada
Pekerja Mebel Di Kelurahan Harapan Jaya, Bandar Lampung. Perilaku penggunaan masker
dalam industri mebel dapat menghalangi debu sehingga tidak menyebabkan gangguan fungsi paru.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan perilaku penggunaan masker terhadap gangguan
fungsi paru pada pekerja mebel di Keluharan Harapan Jaya. Penelitian ini merupakan penelitian
observasional dengan pendekatan cross sectional. Sample penelitian, pekerja mebel di Kelurahan
Harapan Jaya yang berjumlah 41 orang sebagai total sampling. Analisis data menggunakan chi
square dengan uji Fisher. Analisis menunjukkan gangguan fungsi paru berhubungan dengan
tindakan ( p=0.013) dan tidak berhubungan dengan pengetahuan (p=0,219) dan sikap (p=0,084)
dengan α=0,05.

Kata kunci : Perilaku penggunaan masker , gangguan fungsi paru.

Indonesia sebagai salah satu Negara berpotensi menimbulkan polusi udara di tempat
berkembang di dunia, mempunyai kepentingan kerja yang berupa debu kayu. Ukuran partikel
terhadap masalah Kesehatan dan Keselamatan debu kayu sekitar 10-13% yang digergaji dan
Kerja (K3) sesuai Undang-Undang Kesehatan dihaluskan akan berbentuk debu kayu yang
no.36 tahun 2009. Hal ini penting karena dapat berterbangan diudara (Khumaidah, 2009).
menimbulkan berbagai dampak positif dan Penelitian mengenai debu kayu yang
dampak negatif dari setiap pekerjaan. Salah satu ditimbulkan pengolahan kayu (wood working
dampak negatif adalah meningkatnya penyakit equipment ) telah dilakukan oleh Vanwiclen dan
akibat kerja (PAK), dengan program K3 Beard membuktikan bahwa persentase terbesar
diharapkan dapat mengurangi atau bebas dari dari debu kayu partikelnya berdiameter antara 1
kecelakaan dan penyakit akibat kerja, yang sampai 2 mikron, sedangkan persentase terbesar
dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kedua ditempati dengan diameter 0,5 sampai
kerja (Tresnaningsih, 2004 ). 0,7 mikron, hal ini akan membuat debu
Industri pengolahan kayu di Indonesia gampang masuk ke saluran pernafasan terutama
merupakan salah satu industri yang partum- alveoli dan akan menyebabkan gangguan fungsi
buhannya sangat pesat. Proses fisik pengolahan paru pada pekerja mebel.
bahan baku untuk dijadikan mebel dari Penegakkan diagnosis perlu dilakukan
penggergajian, perakitan, pembentukan, serta dengan tepat karena penyakit biasanya penyakit
pengamplasan cenderung menghasilkan polusi gangguan fungsi paru, baru timbul setelah
seperti partikel debu kayu. Industri mebel paparan debu dalam waktu yang cukup lama.

284

1 sebanyak 8 orang ( 19.5 4 30-33 7 17.4 yang tidak mengalami gangguan fungsi paru sebanyak 10 orang (24. pemeriksaan fisiologi Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa paru sebagai sarana membantu diagnosis dini pekerja mebel yang paling banyak adalah penyakit gangguan fungsi paru tidak dapat golongan umur 22 – 25 tahun yaitu sebesar 11 ditinggalkan (Khumaidah.4%).8%) sedangkan jumlah paling sedikit Menurut Triatmo (2006).4%). Berdasarkan kebiasaan merokok Perilaku pemakaian APD dipengaruhi Pekerja mebel pada penelitian ini dipengaruhi oleh pengetahuannya dan sikap sebagian besar merupakan perokok aktif.1 Dari hasil penelitian didapatkan banyak yang mengalami gangguan fungsi paru pada 5 34-37 7 17. Penelitian ini dengan pendekatan Pengetahuan tentang penggunaan masker cross sectional. orang (26.4%) yang mempunyai sikap kurang dan terdapat 15 orang ( 36. Dalam analisis bivariat Sikap terhadap penggunaan masker dilakukan uji statistik chisquare /Fischer-exact.5%) dan 6 38-40 1 2.1 pekerja mebel sekitar 31 orang (76. Total 41 100 . 15 pekerja Berdasarkan lama kerja mempunyai fungsi paru normal sedangkan Pekerja mebel bekerja pada sistem pada 40 pekerja lainnya fungsi paru mengalami informal dengan sistem kerja borongan yaitu gangguan baik obstruksi. dengan adalah golongan umur 38 – 40 tahun sebesar 1 menggunakan alat spirometer untuk melakukan orang (2. pemeriksaan gangguan fungsi paru terhadap 55 pekerja mebel menyatakan. Sahli.5% ).5%) dan yang menggunakan masker 1 18-21 7 17. semua pekerja mebel kategori kurang yaitu sebanyak 10 orang di Kelurahan Harapan Jaya yang memenuhi (24. dalam tempo waktu tidak tertentu.4 %). 2 22-25 11 26. Dari penelitian ini dapat diketahui rahan Harapan Jaya periode November– bahwa tingkat pengetahuan paling banyak Desember 2011. dilakukan di industri rumah tangga pembuatan mebel di Kelu. Populasi penelitian. Jadi setiap Menurut Ramadan (2009) sampai saat pekerja mempunyai lama paparan yang tidak ini masih ada tenaga yang menganggap sama.8 Gangguan Fungsi paru 3 26-29 8 19. semua berada pada kategori baik yaitu sebanyak 31 pekerja mebel di Kelurahan Harapan Jaya (51 orang ( 75. Didapatkan sebanyak 26 orang HASIL DAN PEMBAHASAN (63. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Para dari pekerja yang tercermin dari tindakannya. Hubungan Perilaku Penggunaan Masker dengan Gangguan Fungsi Paru 285 Oleh sebab itu. pemakaian APD mengganggu tenaga kerjannya dan efek perlindungannya kurang. pekerja mebel mengetahui dampak negatif merokok tapi tetap tidak mencegahnya untuk METODE berhenti merokok.6%) yang Hasil mempunyai sikap baik. Analisis Univariat Tindakan penggunaan masker Tabel 1: Karakteristik Responden Pada penelitin ini diperoleh hasil bahwa Berdasarkan umur tingkat paling tinggi adalah yang tidak menggunakan masker yaitu sebanyak 33 orang No Umur (tahun) Frekuensi (%) ( 80. Sebagai sampel. kriteria inklusi. restriksi maupun harus selesai sesuai permintaan pelanggan kombinasi (mixed).6%) dan paling sedikit berada pada orang). 2009 ).

hlm 284-289 Analisis Bivariat Hubungan tindakan pekerja mebel terhadap penggunaan masker terhadap Hubungan pengetahuan pekerja mebel gangguan fungsi paru tentang penggunaan masker dengan gangguan fungsi paru Tabel 4: Hubungan tindakan penggunaan masker dengan gangguan fungsi Tabel 2: Hubungan pengetahuan pekerja paru mebel tentang penggunaan masker dengan gangguan fungsi paru Gangguan Total F. bahwa yang paling banyak adalah responden .3%) Hasil uji Fisher diperoleh nilai p= 0.7%) dan yang mengalami gangguan fungsi yang menggunakan masker dan mengalami paru sebanyak 9 orang (22%). diterima sehingga dinyatakan ada hubungan Hubungan sikap pekerja mebel tentang yang signifikan antara tindakan penggunaan penggunaan masker dengan gangguan masker terhadap gangguan fungsi paru pada fungsi paru pekerja mebel .2%).4%). Dari 8 responden (53.3%) dan memiliki pengetahuan baik 31 orang. yang yang tidak mengalami gangguan fungsi paru mengalami gangguan fungsi paru 22 orang sebanyak 5 orang (12. Nomor 1. April 2013.084 yang berarti hipotesis ditolak kurang yaitu sebanyak 10 orang.219 dan yang tidak mengalami gangguan fungsi sehingga dinyatakan tidak ada hubungan paru sebanyak 5 orang (12. dan dengan nilai koefisien kontingensi 0.286 Jurnal Kesehatan. gangguan fungsi paru sebanyak 3 orang (7. signifikan antara pengetahuan penggunaan Berdasarkan hasil uji fisher diperoleh p masker terhadap gangguan fungsi paru pada sebesar 0. Responden fungsi paru sebanyak 28 orang (68.400 berarti variabel tindakan Tabel 3: Hubungan sikap pekerja mebel penggunaan masker berpengaruh sebesar 40% tentang penggunaan masker terhadap variabel gangguan fungsi paru. Volume IV.2%).013 ( < alpha ) yang berarti hipotesis pekerja mebel. dengan gangguan fungsi paru Pembahasan Gangguan Sikap Fungsi Paru Total Univariat Ya Tidak 22 4 26 Pengetahuan penggunaan masker pada Kurang Pekerja Mebel Baik 9 6 15 Total 31 10 41 Dalam penelitian ini. dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan paling banyak berada pada kategori baik yaitu sebanyak 31 Berdasarkan hasil uji fisher diperoleh p Orang dan paling sedikit berada pada kategori sebesar 0. sehingga tidak ada hubungan yang signifikan Hasil ini sesuai dengan penelitian pada antara sikap penggunaan masker terhadap pekerja mebel di Mulya Asri Tulangbawang gangguan fungsi paru pada pekerja mebel. paru Gangguan Tindakan Pengetahuan Total Ya Tidak Fungsi Paru Ya Tidak Tidak 28 5 33 Kurang 9 1 10 Menggunakan Baik 22 9 31 Menggunakan 3 5 8 Total 31 10 41 Total 31 10 41 Berdasarkan table-2 diketahui dari 10 responden yang memiliki pengetahuan kurang Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui yang mengalami gangguan fungsi paru 9 orang dari 33 responden yang tidak mengunakan (22%) dan yang tidak mengalami gangguan masker dengan yang mengalami gangguan fungsi paru 1 orang (2.

Perilaku kesehatan (Action masker paling banyak memiliki kategori ) akan berdampak pula dengan status kesehatan sedang yaitu sebanyak 11 orang (84. Hubungan Perilaku Penggunaan Masker dengan Gangguan Fungsi Paru 287 dengan pengetahuan yang baik yaitu sebanyak gangguan fungsi paru terhadap 55 pekerja 26 orang (65. di penelitian ini walaupun pekerja mempunyai pengetahuan yang baik tetapi terdapat 22 orang Gangguan Fungsi paru yang mengalami ganggguan fungsi paru. Debu kayu sebanyak 10 orang (67.8%).2%). sehingga akan mengakibatkan gangguan fungsi paru.1%). Hal ini sejalan penelitian pada pekerja berarti ada gangguan fungsi paru (Guyton.0%) dan pengetahuan kurang mebel adalah 15 (27. mebel 2009). mebel di Mulya Asri Tulangbawang bahwa 2008). Sahli.4%).3%) pekerja mempunyai sebanyak 14 orang (35%) dan penelitian fungsi paru normal sedangkan 40 (72.9%) dan kurang pada 3 tersebut dapat masuk kedalam pernafasan orang (23. sikap baik 15 Bivariat orang (37. fungsi paru mengalami gangguan. Hal ini sejalan dengan penelitian Iswadi (2005) Berdasarkan penelitian ini dapat bahwa tidak ada hubungan yang signifikan diketahui bahwa dari 41 responden ternyata antara pengetahuan dengan gangguan fungsi yang tidak menggunakan masker sebanyak 33 dengan p = 0. Faktor pemungkin disini 10 orang (24. Bila nilai hasil spirometri pada tabel 3. muatan karet kering Instalansi Belawan PTPN Para pekerja mebel sehari-hari berada di III bahwa pengetahuan pekerja tentang masker lingkungan yang udaranya tercemar oleh debu paling banyak memiliki kategori baik yaitu kayu akibat pembuatan mebel. Bila nilai hasil spirometri dengan sebanyak 26 orang dan terdapat 15 orang yang FEV1/FVC dibawah atau diatas 80% mempunyai sikap baik. orang (19.5 %). Hasil analisis bivariat didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara Tindakan penggunaan masker pada pekerja pengetahuan penggunaan masker terhadap mebel gangguan fungsi paru pada pekerja mebel. Dengan spirometri dapat diketahui ada tidaknya gangguan fungsi paru pada Berdasarkan penelitian yang terdapat pekerja mebel. Penelitian Ramadhan (2008) pada pekerja bagian bongkar muatan karet Hubungan pengetahuan pekerja mebel kering Instalansi Belawan PTPN III bahwa terhadap penggunaan masker terhadap sikap pekerja tentang masker paling banyak gangguan fungsi paru memiliki kategori sedang yaitu 9 orang (69.5%).7%) Ramadhan (2008) pada pekerja bagian bongkar pekerja.5 %) dan yang menggunakan 8 bawang di Pasar Johar Semarang.5%). baik 4 orang (20. sehingga pengukuran fungsi paru perlu Sikap penggunaan masker pada pekerja dilakukan sebagai diagnosis awal (Khumaidah. Menurut Notoatmodjo (2003) bahwa Hal ini sejalan dengan penelitian peningkatan pengetahuan tidak selalu Ramadhan (2008) pada pekerja bagian bongkar menyebabkan perubahan perilaku. paling banyak adalah responden dengan sikap kurang yaitu 25 orang (62.4%). Hasil penelitian didapatkan paling Menurut teori Green dalam banyak mengalami gangguan fungsi paru pada Notoatmodjo (2003) bahwa Pengetahuan pekerja mebel sebanyak 31 orang (76. Sehingga muatan karet kering Instalansi Belawan PTPN pengetahuan tidak mendasari perubahan III bahwa tindakan pekerja penggunaan perilaku kesehatan. dengan menggunakan alat pengawasan dari pemerintah maupun dari spirometer untuk melakukan pemeriksaan pemilik mebel tentang pemakaian masker. dapat diketahui bahwa dari 41 dengan rasio FEV1/FVC tepat 80% berarti responden memiliki tingkat sikap yang kurang normal. .290 pada pekerja pengupas orang ( 80. tersedianya fasilitas yaitu masker dan faktor Hal ini sejalan dengan penelitian penguat dimana adanya peraturan dan Triatmo (2006).6%) dan (dalam hal ini gangguan fungsi paru) sehingga baik sebanyak 2 orang (15.5%) dan merupakan faktor predisposisi selain sikap dan tidak adanya gangguan fungsi paru sebanyak pendidikan.

400 berarti variabel tindakan penggunaan gangguan fungsi paru pada pekerja mebel Kota masker berpengaruh sebesar 40% terhadap Jati Furniture Desa Suwawal Kecamatan variabel gangguan fungsi paru.288 Jurnal Kesehatan. Mlonggo Kabupaten Jepara menunjukkan ada hubungan antara tindakan dengan gangguan .4%).219).6%). Kemudian pekerja mebel menjadi sakit (gangguan fungsi paru). Nilai koefisien kontingensi hubungan penggunaan masker dengan 0. Hubungan pengetahuan penggunaan Dalam analisis bivariat didapatkan hasil masker terhadap gangguan fungsi paru bahwa ada hubungan signifikan antara tidak signifikan (p = 0. hlm 284-289 Walaupun faktor predisposisinya baik fungsi paru pekerja pengupas bawang putih di sedangkan kedua faktor lainnya kurang atau Pasar Johar Semarang. Dari penelitian didapatkan bahwa Dalam analisis bivariat didapatkan tindakan pemakaian masker mempunyai bahwa tidak ada hubungan yang signifikan hubungan yang signifikan dengan gangguan antara sikap penggunaan masker terhadap fungsi paru karena tindakan merupakan overt gangguan fungsi paru pada pekerja mebel. masker terhadap gangguan fungsi paru Hasil ini sejalan dengan penelitian mempunyai hubungan yang signifikan ( p Khumaidah (2009) menunjukkan ada = 0. Demikian tindakan penggunaan masker terhadap juga hubungan sikap penggunaan masker gangguan fungsi paru pada pekerja mebel. dapat diamati secara jelas oleh orang lain sedangkan tindakan merupakan overt behavior Hubungan sikap pekerja mebel yang sudah dapat dilihat jelas oleh orang lain terhadap penggunaan masker terhadap karena dilakukan dengan tindakan nyata bukan gangguan fungsi paru hanya sekedar ada di dalam diri seseorang. termasuk sedangkan pengetahuan dan sikap hanya ada penyakit).008). Ada gangguan fungsi terhadap penggunaan masker terhadap paru pada pekerja mebel sebanyak 31 gangguan fungsi paru orang (76. Hasil penelitian ini pengetahuan para pekerja yang baik akan membawa dia Pengetahuan penggunaan masker untuk berfikir dan berusaha agar tidak terjadi pada pekerja mebel sebagian besar berada gangguan fungsi paru dengan memakai masker pada kategori baik sebanyak 31 orang seharusnya sikap penggunaan masker baik pula (75. yang tidak menggunakan masker sebanyak Hubungan tindakan pekerja mebel 33 orang (80. objek kesehatan tersebut. variabel tindakan penggunaan masker Hubungan tindakan penggunaan berpengaruh sebesar 40% terhadap variabel gangguan fungsi paru. Sedangkan Sikap penggunaan tetapi dari hasil penelitian sikap penggunaan masker pada pekerja mebel sebagian besar masker kurang sehingga akan mengakibatkan berada pada kategori kurang sebanyak 26 perubahan status kesehatannya dari tidak sakit orang (63.5%). terhadap gangguan fungsi paru (p = Nilai koefisien kontingensi 0. proses selanjutnya akan langsung dalam pencegahan pencemaran menilai atau bersikap terhadap stimulus atau udara akibat debu.5%). April 2013. Tindakan pekerja dalam Menurut Notoatmodjo (2003) sikap menggunakan masker akan mencegahnya adalah penilaian (bisa berupa pendapat) langsung dari partikel debu yang akan seseorang terhadap stimulus atau objek (dalam mempengaruhi gangguan fungsi paru hal ini adalah masalah kesehatan . behavior. Volume IV. Setelah seseorang mengetahui difikiran belum terbentuk dalam praktek stimulus atau objek. Nomor 1.084).400 berarti 0. Oleh karena itu sikap kesehatan juga sejalan dengan pengetahuan SIMPULAN kesehatan. bahkan tidak maka akan menyebabkan suatu Pengetahuan dan sikap merupakan perilaku kesehatan yang tidak utuh sedangkan covert behavior dimana adalah faktor internal perilaku kesehatan itu yang akan berhubungan yang ada di dalam diri seseorang dan belum langsung dengan gangguan fungsi paru.

kesehatan. 2008. 2004. Kesehatan dan Semarang: Program Pascasarjana keselamatan kerja laboratorium Universitas Diponegoro. S. Arthur. Tresnaningsih.. Furnindo Desa Suwawal Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara. Kota Jati Medan: FKM USU. Ramadan. . 1st ed. Jakarta: Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI. 2007. Gambaran Perilaku Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. Tesis.. 2009. Pemakaian Masker dan Pengukuran Kadar Debu pada Pekerja Bagian Khumaidah.C. Alih bahasa Ken Ariata Tengadi Edisi 7. Hubungan Perilaku Penggunaan Masker dengan Gangguan Fungsi Paru 289 DAFTAR RUJUKAN Notoadmodjo. Fisiologi kedokteran. Promosi kesehatan dan Ilmu prilaku. Skripsi. Erna. paru pada pekerja mebel PT.2007. Jakarta: Rineka Cipta Guyton. . Analisis faktor-faktor yang Bongkar Muat Karet Kering Instalansi berhubungan dengan gangguan fungsi Begawan PTPN III tahun 2008. Sahli.

Related Interests