BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah negara ke empat yang memiliki jumlah penduduk

terbesar di dunia. Hal ini terbukti dari data sensus tahun (2004),

Indonesia memiliki populasi 214.6 juta penduduk. Dari jumlah penduduk

tahun 2004 tersebut, 8.88% adalah anak-anak yang berumur 0 hingga

5 tahun (Atmaria, 2005). Pada tahun 2005 di Rumah Sakit Umum Dr.

Soetomo di Surabaya, dijumpai sebanyak 205 anak yang mengalami

gangguan perkembangan motorik halus.

Perkembangan motorik halus berasal dari perkembangan refleksi

dan kegiatan yang ada sejak lahir, gerak motorik halus akan mengalami

peningkatan yang besar pada anak berumur 5 tahun, sehingga

diharapkan pada umur 6 tahun anak sudah siap menyiapkan diri

dengan tuntutan sekolah (Hurlock, 2005 cit Muhmmad, 2006).

Terapi bermain yang digunakan dalam penelitian ini adalah bermain

puzzle. Anak-anak diberi puzzle, kegiatan ini dilakukan pada anak usia

2-4 tahun yang di Kelompok Bermain Aisyiyah Mutiara Ummi Kalasan

Yogyakarta. Untuk perlakuan anak-anak menyusun puzzel sesuai tema

gambar.

Puzzle merupakan salah satu alat permainan edukatif yang

merangsang perkembangan motorik halus dan melatih keterampilan

1

Kemudian observasi.3 tahun) berjumlah 10 orang . menarik sleting. menalikan tali sepatu. Untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal maka perlu kelompok bermain untuk memberikan stimulus yang terukur dan terencana pada anak. melihat absensi data jumlah murid yang masih aktif sekolah. 2006). memegang sendok dan garpu. merupakan bahaya yang serius karena berada dibawah keadaan normal (Hurlock. mengancingkan baju. Seorang yang mengalami hambatan dalam motorik halus. Anak yang mengalami kesulitan menguasai keterampilan motorik halus atau kekakuan. Kesulitan ini akan lebih nampak terutama pada mereka yang derajat gangguannya tergolong berat. Anak usia pra sekolah berada dalam tahap bermain dengan karakteristik bermain keterampilan dan asosiatik play. 2 anak. bermain menyusun puzzle. Anak yang di Kelompok Bermain Aisyiyah Mutiara Ummi Kalasan Yogyakarta berada dalam usia pra sekolah sehingga puzzle dipilih sebagai salah satu bentuk permainan yang sesuai dengan tingkat usia dan perkembangan motorik halus anak. seringkali menghadapi masalah ketika mereka belajar menulis atau menggambar dan ketika melakukan pekerjaan seperti. Hasil studi pendahuluan pada tanggal 15 Desember 2011 tempat penelitian di Kelompok Bermain Aisyiyah Mutiara Ummi Kalasan Yogyakarta. 2005 cit Al. Dilakukan wawancara dengan kepala sekolah dan guru. Murid berjumlah 54 orang anak yang terbagi dari dua kelas: Kelas Kepompong (anak usia 2.

. 3 anak. Berdasarkan uraian di atas serta wawancara dengan kepala sekolah dan guru di Kelompok Bermain Aisyiyah Mutiara Ummi Kalasan Yogyakarta. B. Penulis kemudian menjadikan salah satu gangguan perkembangan anak di atas sebagai judul penelitian yaitu” Pengaruh Terapi Bermain Puzzle terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 2-4 Tahun di Kelompok Bermain Aisyiyah Mutiara Ummi Kalasan Yogyakarta”. penulis mendapatkan ada beberapa anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan motorik halus. Tujuan Penelitian Tujuan penulisan penelitian ini terdiri dari dua tujuan. C. dan Kelas Kupu-kupu (anak usia 3-4 tahun) berjumlah 44 orang anak. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu “Apakah ada pengaruh terapi bermain puzzle terhadap perkembangan motorik halus anak usia 2-4 tahun di Kelompok Bermain Aisyiyah Mutiara Ummi Kalasan Yogyakarta”?. yaitu: 1. Tujuan umum Tujuan umum pada penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi bermain puzzle terhadap perkembangan motorik halus anak usia 2-4 tahun di Kelompok Bermain Aisyiyah Mutiara Ummi Kalasan Yogyakarta.

Untuk mengetahui anak yang mengalami masalah perkembangan motorik halus dengan terapi bermain puzzle sebelum dilaksanakan terapi bermain puzzle di Kelompok Bermain Aisyiyah Mutiara Ummi Kalasan Yogyakarta. Ruang Lingkup Penelitian 1. b.Juli 2012. 4 2. D. Ruang lingkup materi Materi dibatasi pada Keperawatan Anak khususnya tentang Pengaruh Terapi Bermain Puzzle terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 2-4 Tahun di Kelompok Bermain Mutiara Ummi Kalasan Yogyakarta. Ruang lingkup tempat penelitian Kelompok Bermain Aisyiyah Mutiara Ummi Kalasan Yogyakarta. 2. Tujuan khusus Tujuan khusus pada penelitian ini adalah: a. Ruang lingkup responden Responden penelitian ini dibagi ke dalam dua kategori usia yaitu: a. Anak usia 3-4 tahun 3. 4. Menganalisa seberapa besar pengaruh terapi bermain puzzle terhadap perkembangan motorik halus anak 2-4 tahun yang di Kelompok Bermain Aisyiyah Mutiara Ummi Kalasan Yogyakarta. Ruang lingkup waktu Penelitian dilaksanakan pada November 2011. . Anak usia 2-3 tahun b.

5 E. bagi para peneliti berikutnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah: 1. Dan sebagai bahan bacaan. b. c. Bagi mahasiswa STIKES Wira Husada Yogyakarta Sebagai ide masukan bagi rekan-rekan mahasiswa. Bagi di Kelompok Bermain Aisyiyah Mutiara Ummi Kalasan Yogyakarta Menberikan masukan kepada guru di tempat penelitian ini yang dapat digunakan sebagai upaya meningkatkan perkembangan motorik halus anak. Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan Ilmu Keperawatan khususnya dalam perkembangan anak. Praktis a. Bagi Ilmu Keperawatan Sebagai tambahan informasi mengenai pengaruh terapi bermain puzzle terhadap perkembagan motorik halus anak usia 2-4 tahun. 2. untuk menambah referensi di perpustakaan STIKES Wira Husada Yogyakarta. .

Perbedaannya terletak pada variabel bebas/independen yaitu pengaruh terapi bermain gambar pada anak prasekolah 4-5 tahun. Persamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah terletak pada variabel yang diteliti yaitu perkembangan motorik halus anak. tidak ada pemilihan kelompok secara acak. Penelitian ini adalah menggunakan pre test design. Manu (2011). Hasil penelitian terdapat peningkatan kemampuan keterampilan motorik halus anak prasekolah di TK Marsudi Siwi Sewon Bantul Yogyakarta. dan post test one group design dengan bentuk time series design. dan tanpa ada kontrol. . Muhammad (2006). tempat dan waktu. pernah diteliti adapun penelitian yang hampir sama sebagai berikut: 1. Pengaruh Terapi Bermain Gambar terhadap Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah yang Dihospitalisasi di RSUD Panembahan Senopati Bantul. 2. Pengaruh Terapi Bermain terhadap Perkembangan Motorik Halus Pada Anak Prasekolah (4-5) Tahun di TK Marsudi Siwi Sewon Bantul Yogyakarta. Keaslian Penelitian Penelitian tentang Pengaruh Terapi Bermain puzzel terhadap Perkembangan motorik halus Anak 2-4 tahun di Kelompok Bermain Aisyiyah Mutiara Ummi Kalasan Yogyakarta. 6 F.

Hasil ada pengaruh antara terapi bermain terhadap tingkat kooperatif. Penelitian ini termasuk jenis metode Kuasi Eksperimen yaitu mengetahui pengaruh perlakuan terhadap kelompok kontrol. Pengaruh Terapi Bermain terhadap Tingkat Kooperatif Pada Anak Usia Todler (1-3 Tahun) Selama Menjalani Perawatan di RSUD Kota Yogyakarta. Hasil adanya hubungan yang signifikan dari terapi bermain gambar terhadap tingkat kecemasan. Dengan menggunakan design one group pre test dan post test tanpa adanya kontrol. 7 Penelitian ini adalah menggunakan Rancangan percobaan semu dengan rancangan perbandingan kelompok stastik yaitu penelitian yang menyelidiki pengaruh terapi bermain gambar terhadap tingkat kecemasan anak usia prasekolah di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Perbedaan pada kedua variabel independen/bebas yaitu pengaruh terapi bermain dan pada variabel terikat yaitu tingkat kooperatif anak usia todler (1-3 tahun). Ida (2008). . 3. Perbedaan terletak pada kedua variabel yaitu variabel bebas/ independen pengaruh terapi bermain gambar dan variabel terikat yaitu tingkat kecemasan anak usia prasekolah.

Related Interests