Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005

EVALUASI KEBIJAKAN IMPOR DAGING SAPI MELALUI
ANALISIS PENAWARAN DAN PERMINTAAN
(The Evaluation of Meat Importation Trough Supply and Demand Analysis)
DWI PRIYANTO

Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002

ABSTRACT

The increasing of human population and the consumers behaviour can alter the demand of beef meat. In
the case of meat importing policies, a time series (1980–2000) data, were analysed using econometric model,
as well as simulations equation using two stage least squares (2SLS) methode. The result showed that
artificial insemination program (AI) can’t improved the meat national production. Beef meat importation will
be influenced by tarrif import significancy (P<0.10), with the elasticity value -2.48, but not significant with
riel price of imported meat. The supply of meat domestic can improved the importation beef cattle, and the
price of domestic meat can’t improved the national cattle population. The prediction of 10 years with trend
population increase by 1.6% percent/year, will improved the national of meat consumptions of 65%,
increased importation the cattle by 67%, and only decreased the beef import by 22%. The policy of tarrif
impor can be effectively to regulate the beef import.
Key Words: Policy, Meat Cattle Imported

ABSTRAK

Laju peningkatan penduduk dan perubahan selera konsumen, akan menuntut perubahan pola konsumsi
termasuk permintaan daging sapi yang merupakan komoditas peternakan strategis. Kondisi tersebut
ditunjukkan laju peningkatan daging impor dan impor sapi bakalan. Hal tersebut diperlukan kebijakan yang
tepat dalam mengurangi ketergantungan impor daging. Penelitian kebijakan impor daging sapi, dilakukan
dengan menggunakan data sekunder tahun 1981-2001 (time series data). Analisis dilakukan dengan
pendekatan model ekonometrika, yang dirumuskan dalam bentuk persamaan simultan, dengan metode two
stage least squares (2 SLS ). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa teknologi Inseminasi Buatan (IB) belum
mampu memacu perkembangan produksi daging lokal, sedangkan impor daging sapi sangat nyata (P<0.10)
dipengaruhi oleh tarif daging impor (elastisitas -2.48), tetapi tidak nyata dipengaruhi oleh harga riel daging
impor. Peningkatan penawaran daging domestik nyata (P<0,05) meningkatkan jumlah sapi bakalan impor
(elastisitas 4,32). Faktor harga daging domestik tidak mampu merangsang kinerja usaha peternakan rakyat.
Hasil simulasi kebijakan menunjukkan bahwa, prediksi 10 tahun kedepan dalam antisipasi peningkatan
penduduk 1,6%/tahun, cenderung akan meningkatkan konsumsi daging sapi sebesar 65%, meningkatkan sapi
bakalan impor sebesar 67% dan hanya menurunkan impor daging 22%. Kebijakan pembebanan tarif impor
cukup efektif dalam pengendalian masuknya daging impor.
Kata Kunci: Kebijakan, Daging Sapi Impor

PENDAHULUAN pangan yang berprotein tinggi memiliki harga
yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan
Laju peningkatan populasi penduduk dan komoditas pangan lainnya (SOEDJANA, 1997).
perbaikan taraf hidup masyarakat Indonesia Konsumsi protein hewani asal ternak baru
akan mendorong peningkatan kebutuhan mencapai 13,41 kg/kapita/tahun (disuplai dari
pangan, dan konsumsi menu makanan rumah daging sebesar 6,71; telur 3,86 dan susu 2,84
tangga bertahap mengalami perubahan kearah kg/kapita/tahun), sedangkan standar angka
peningkatan konsumsi protein hewani kecukupan protein hewani sebesar 20.9
(termasuk produk peternakan). Komoditas kg/kapita/tahun (daging 10,1; telur 4,7 dan
daging, telur dan susu merupakan komoditas susu 6,1 kg/kapita/tahun) (SUDARDJAT, 1997).

275 275

inventarisasi data dari dari tahun ketahun. 2003) meliputi: upaya peningkatan efisiensi usaha ternak domestik adalah merupakan suatu keharusan Produksi daging sapi peternakan rakyat (necessary condition). diperlukan impor 303. Model yang akan terhadap perkembangan usaha peternakan sapi diformulasikan adalah merupakan model potong domestik. laju peningkatan produksi sapi potong sebesar 2. yang cenderung mengalami peningkatan Statistik. khususnya identifikasi analisis penawaran dan permintaan kebutuhan protein hewani (SIREGAR. Secara agregat Data deret waktu (time series data) selama 20 Indonesia adalah merupakan negara importir tahun (1981–2000) yang dikumpulkan dari produk peternakan termasuk produk daging berbagai sumber. melalui kajian analisis perngembangan usaha telah ditempuh oleh faktor-faktor yang dianggap berpengaruh pemerintah melalui beberapa kebijakan dalam dalam kebijakan impor daging sapi dan rangka mempertahankan penyediaan daging kaitannya dengan pemberdayaan peternak. total produksi sapi potong Model ekonometrika 1. yang terdiri dari 6 persamaan tahun 2003. 1998). Masuknya daging unsur stokastik (INTRILIGATOR. yang diambil 3 persamaan dari perdagangan internasional serta AFTA mulai 8 persamaan. Upaya diarahkan untuk mengkaji kebijakan impor dalam pengendalian populasi dan daging di Indonesia. disamping adanya dumping price kriteria ekonomi. Berdasarkan analisis sebagainya.571 ton dari merupakan suatu model matematika dan Australia/New Zealand/USA. maka dalam jangka panjang diperkirakan terjadi kekurangan produksi MATERI DAN METODE akibat adanya pengurasan ternak sapi yang berlebihan. 1978). dan impor karena harga daging impor yang relatif model yang baik seharusnya dapat memenuhi lebih rendah.000 ekor sapi dari Auastrallia/New Model ekonometrika yang dirumuskan Zealand dan daging beku 18. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005 Produk ternak sapi (daging dan susu) mengkaji kebijakan pemerintah kaitannya merupakan komoditas yang memberikan andil dengan program impor daging sapi dengan pada perbaikan gizi masyarakat. dibandingkan dengan antisipasi/proteksi peternak sapi potong. Penelitian untuk peternakan rakyat (ton) 276 276 . Maka dari itu (PRIYANTO.270 ton. dan disisi lain dampak TIBt+ a4 PDRTt-1 + E1t (1) kebijakan tersebut tidak merugikan usaha dimana: peternakan domestik. menunjukkan bahwa permintaan daging sapi sebesar 332. persamaan simultan yang bersifat dinamik Dengan adanya kesepakatan GATT dalam yang dirumuskan dalam bentuk persamaan era Pasar Bebas 2020 dalam kontek linear additive. disamping data kualitatif yang permintaan dan penawaran sebelum dikumpulkan dari berbagai pihak yang terkait berlangsungnya krisis moneter di Indonesia dengan kegiatan impor daging dan usaha (DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN. statistik dan ekonometrika policy oleh negara pengekspor.33%. sehingga masih disuplai dari impor Penelitian kebijakan impor daging sapi sebesar 8. berimplikasi adanya penurunan struktural dan 2 persamaan identitas dengan subsidi dan proteksi perdagangan komoditas jumlah 8 peubah current endogenous termasuk daging sapi impor. di Indonesia perlu dilakukan sebagai langkah Laju peningkatan konsumsi daging sapi masukan kebijakan dimasa mendatang dalam yang mencapai 4. sebagai akibat kurangnya Feedlother. ternak.912. 1999). FAO. karena statistika yang menghubungkan peubah-peubah ketidakseimbangan antara konsumsi dan dari suatu fenomena ekonomi yang mencakup produksi daging nasional. Statistik Peternakan dan lain pasokan daging nasional. akan berdampak (KOUTSOYIANNIS (1977)). melalui langkah proteksi dan pembinaan terhadap peternakan rakyat PDRTt = Penawaran daging sapi yang cukup dominant.9 juta ekor. sapi lokal secara kontinyu. Oleh karena itu kebijakan pemerintah yang tepat perlu dikaji PDRTt = ao + a1 HDDt + a2 PSNt + a3 secara cermat. diantaranya dari Biro Pusat sapi.43%.111 ton (tahun 2001). Untuk itu.

a3>0 0<a4<1 valid digunakan untuk simulasi kebijakan.5 KASPt = Dummy Kebijakan ASPIDI t-1 Tidak aktif =0 U= (6) [1/T ∑T (YS t – Ya t) 2 ]0. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005 HDDt = Harga riel daging sapi HDDt-1 = Peubah beda kala HDDt domestik (Rp/kg) E5t = Peubah pengganggu PSNt = Populasi sapi nasional (000 Tanda parameter dugaan yang diharapkan: ekor) e1>0 e2. 1995).5 + Aktif =1 [1/T ∑T (Ya t 2) ]0.c4. <0 0<c6<1 T = Jumlah periode simulasi Harga riel daging sapi domestik Konsep elastisitas HDDt = eo + e1 HDIt + e2 PDNt + e3 PSNt + e4 HDDt-1 + E5t (3) Dalam rangka untuk mendapatkan kuantitas respon suatu fungsi terhadap faktor-faktor lain dimana: yang mempengaruhinya. e3 <0 0<e4<1 TIBt = Teknologi inseminasi buatan (000 straw) PDRTt-1 = Peubah beda kala PDRTt Validasi model E1t = Peubah pengganggu Dalam rangka untuk mengetahui apakah Tanda parameter dugaan yang diharapkan model yang direkomendasikan tersebut cukup (hipotesis): a1. c5>0 c1. 1996): HDIt = Harga riel daging sapi impor (US $/kg) RMSE = [1/T ∑ T(YS t – Ya t2) ]0. stastistik yang digunakan untuk validasi model nilai pendugaan model ekonometrika adalah MDSt = co + c1 HDIt + c2 KDNt + c3 Root Mean Square Error (RMSE). $/kg) Elastisitas jangka pendek (E-sr) dan jangka PDNt = Penawaran daging sapi nasional panjang (E-lr) dapat dihitung dengan rumus (ton) sebagai berikut: PSNt = Populasi sapi nasional (000 ekor) E-sr = d Yt/dXt * Xt/Yt (7) 277 277 . Root Mean TIDSt + c4 NTt + c5 KASP + c6 Square Percent Error (RMSE) dan U-Theil’s MDSt-1+ E3t (2) inequality coefficient (U) (PYNDICK and RUBINFELD. maka perlu dilakukan validasi model. Kriteria Impor daging sap. Nilai statstistik tersebut dimana: dapat diperoleh dengan rumus berikut (THEIL. (Rp/kg) dapat diperhitungkan elastisitas jangka pendek HDIIt = Harga riel daging sapi impor (US dan jangka panjang (GUJARATI. digunakan konsep HDDt = Harga riel daging sapi domestik elastisitas. a2.5 MDSt-1 = Peubah beda kala MDSt t-1 dimana: E3t = Peubah pengganggu YS t = Nilai simulasi dasar Tanda parameter dugaan yang diharapkan: Ya t = Nilai pengamatan aktual c2. c3.5 (4) t-1 KDNt = Konsumsi daging sapi nasional (Ton) TIDSt = Tarif impor daging sapi RMSPE = [1/T ∑T {(YSt – Ya t2}]0. MDSt = Impor daging sapi (ton) 1965 dalam WACHJUTOMO. Dalam kondisi model yang dinamis.5 (5) (%) t-1 NTt = Nilai tukar (Rp thd US $) [1/T ∑T (YS t – Ya t 2) ]0. 1991).

Secara teori penghematan devisa negara. Hasil analisis makan merupakan langkah strategis dalam menunjukkan bahwa penawaran daging menghadapi tantangan yang ada (from farm to peternakan rakyat. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005 E-lr = E-sr/1-b (8) nyata terhadap peubah endogennya. kriteria statistik dan kriteria kebutuhan yang mendesak. SUDARDJAT (2000) pada Tabel 1. sehingga dihasilkan peningkatan produksi sehingga pengembangan sistem managemen daging yang berdampak terhadap peningkatan mutu sejak dari budidaya sampai ke meja penawaran daging domestik.15) berpengaruh positif terhadap menunjukkan bahwa secara bersama-sama penawaran daging sapi peternakan rakyat. Hasil analisis nilai koefisien usaha sebagai tabungan keluarga. terhadap (tidak menunjukkan serial korelasi yang perkembangan impor daging sapi dan dampak serius).44–0. Untuk mengetahui respon peubah terhadap peubah lainnya. Hal dimana: tersebut menunjukkan bahwa secara kriteria ekonomi persamaan yang dibentuk cukup b = koefisien dugaan peubah lag memenuhi syarat (cukup representatif). kriteria kedepan) dengan asumsi trend peningkatan statistik (akurat). tidak dipengaruhi oleh faktor harga daging yang berlaku.481 membuktikan bahwa persamaan Y = rataan peubah endogen yang dibentuk tidak terdapat korelasi serial yang cukup serius. 1992). memajukan subsektor peternakan adalah Meningkatnya harga riel daging domestik bagaimana meningkatkan ekspor atau cenderung akan menurunkan penawaran substitusi impor dalam rangka perolehan atau daging sapi peternakan rakyat. (P<0. sistem perkembangan usaha table). peubah penjelas memberikan pengaruh yang 278 278 . dan kriteria ekonometrik adalah konstan 1. karena sistem ekonometrika. memperlihatkan bahwa model persamaan simultan yang dibentuk dalam Model Ekonomi Analisis simulasi kebijakan dilakukan Daging Sapi di Indonesia dapat dinyatakan melalui skenario yakni simulasi prediksi akibat cukup baik. Harga riel daging domestik menyatakan bahwa ditingkat global dan (HDD) berpengaruh negatif terhadap regional tantangan yang harus dihadapi dalam penawaran daging peternakan rakyat.94.915–1. endogen terhadap peubah-peubah penjelasnya dapat dilihat dari besaran nilai elastisitas peubah-peubah yang berpengaruh nyata. maka tantangan tersebut tidak terlepas dari akan lebih memacu usaha peternakan rakyat. determinasi (R2) berkisar antara 0. Hal tersebut terjadi karena penawaran daging sapi peternakan rakyat Hasil pendugaan model adalah merupakan usaha peternakan tradisional dengan skala pemeliharaan yang relatif kecil Pendugaan model yang dilakukan (2–4 ekor) (SOEHADJI. Perilaku pola menunjukkan hasil yang cukup baik dilihat dari penjualan ternak sangat ditentukan adanya kriteria ekonomi. Hasil endogen nilai statistik Durbin-h didapatkan nilai sebesar X = rataan peubah eksogen –0.6%/tahun. karena telah memenuhi kriteria trend peningkatan penduduk (prediksi 10 tahun ekonomi (tanda yang relatif sama). peningkatan mutu dan keamanan pangan. Program Dalam persamaan penawaran daging sapi pengembangan sub sektor peternakan peternakan rakyat (PDRT). Maka dari itu dengan meningkatnya harga daging sapi. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam analisis kebijakan yang terkait Penawaran daging sapi peternakan rakyat dengan program kebijakan impor daging sapi.99. Populasi sapi nasional (PSN) nyata Nilai statistik F berkisar antara 1. (PDRT) tidak terlepas dari program pengembangan peternakan secara menyeluruh. Secara menyeluruh Analisis simulasi kebijakan. dimasukkan 3 mengalami beberapa tantangan yang harus peubah penjelas yang diduga berpengaruh dihadapi baik ditingkat global maupun terhadap peubah endogen yang dibentuk tertera ditingkat regional.

16940(tn) 0. . Hal tersebut menunjukkan bahwa daging sapi peternakan rakyat dengan hasil penawaran daging sapi peternakan rakyat tidak parameter dugaan negatif.1817 * = Berbeda nyata (P<0.8929 Tarif impor daging sapi TIDS 482.992 Harga riel daging sapi impor HDI 0. Hasil analisis memperbaiki kualitas performan sapi yang ada memberikan gambaran bahwa upaya melalui program persilangan dengan bibit meningkatkan produksi daging nasional salah (semen) sapi impor.436 Harga riel daging sapi domestik HDD -483059(tn) 0.15) 279 279 .8465 Lag penawaran daging sapi peternakan rakyat PDRTL 0.000000172(tn) 0.815 Konsumsi daging sapi nasional KDN 0. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005 Semakin meningkatnya populasi sapi nasional Teknologi inseminasi buatan (IB) akan berdampak meningkatnya penawaran merupakan salah satu program teknologi daging peternakan rakyat.7111 Intersep . *** = Berbeda nyata (P<0.2245 DW = 2.965097(***) 0. R2 = 0.6896 Lag impor daging sapi MDSL -0. ** = Berbeda nyata (P<0.788091(***) 0.390509(tn) 0.327360(tn) 0.10).000000128(tn) 0.788873(*) 0. R2 = 0. Nilai elastisitas jumlah semen beku yang direalisasikan/tahun.9114 Harga riel daging sapi domestik HDD .1124 Dh = 1.325 Penawaran daging sapi nasional PDN -0.66 dan Hasil analisis menunjukkan bahwa tehnologi 0.1315 Lag harga riel daging sapi domestik HDDL -0.000011090(***) 0. .74 (elastisitas jangka pendek dan jangka IB belum mampu meningkatkan penawaran panjang). responsif terhadap populasi sapi nasional.2244 F-hit = 4. belum sepenuhnya ada belum mencerminkan produksi daging tercapai.481446(tn) 0.451 Dh = -0.66 dan 0.1275 Nilai tukar NT 0.3721 DW = 2. Hasil pendugaan parameter dan uji statistik model ekonomi daging sapi di Indonesia Peubah Notasi Parameter Dugaan Prob>T Keterangan Penawaran daging sapi peternakan rakyat PDRT . R2 =0. belum mampu memperbaiki kualitas sapi secara umum. Teknologi IB yang direkomendasikan Meningkatnya populasi sapi sebesar 1% akan diharapkan mampu memperbaiki kualitas sapi meningkatkan penawaran daging sapi hanya dalam mendukung perkembangan produksi sebesar 0.007652(tn) 0.076 Populasi sapi nasional PSN 17.4437 Intersep .109906(tn) 0. tn = Tidak berbeda nyata (P>0.0001 F-hit=2. 27594081(tn) 0.5419 Intersep . yang dihasilkan relatif rendah hanya 0.6931 Impor daging sapi MDS . Teknologi IB yang satunya adalah rekomendasi pengembangan dimasukkan dalam peubah penjelas adalah kearah peningkatan populasi.2544 Dh = 1.3248 F-hit= 5.036840(tn) 0.5129 DW = 1. .426 Teknologi inseminasi buatan TIB -0.039099(tn) 0.15). Populasi sapi yang daging peternakan rakyat. 75.045913(tn) 0.74%. Tabel 1.334 Harga riel daging sapi impor HDI 0.05).481 Populasi sapi nasional POP 0.7542 Kebijakan ASPIDI KASP -2213. Hal tersebut menggambarkan bahwa secara umum karena memiliki performan bobot jumlah “semen beku” yang didistribusikan hidup yang rendah (kondisi sapi kecil).

serta kelembagaan pendukung Kondisi semakin besarnya masuknya daging (PRIYANTO et al. Depresiasi rupiah terhadap US $ cenderung Daging impor pada awalnya memiliki kualitas akan meningkatkan impor daging sapi. sehingga ada Indonesia (ASPIDI) dalam mendukung kecenderungan mengubah pola konsumsi program impor daging sapi sebagai peubah kearah kebutuhan protein hewani termasuk dummy. peternakan rakyat. Kualitas daging impor yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi lebih bagus dibandingkan dengan daging lokal. (1994). Perbedaan hasil tersebut sehingga diperlukan langkah proteksi dalam sebagai akibat perbedaan data realisasi “semen mempertahankan keberadaan usaha peternakan beku” yang dimasukkan dalam materi rakyat.. dan Dalam persamaan impor daging sapi. Harga riel peningkatan harga daging impor. tampak kurang berperan dalam daging sapi. tetapi sudah menjadi tuntutan konsumen. sehingga daging impor (HDI) yang meningkat. sesuai program permberdayaan penelitian. akan cenderung menekan impor daging sapi meningkatkan impor daging sapi.15) mampu impor sebesar 40% cukup besar mempengaruhi menurunkan impor daging sapi. dapat dipermainkan oleh negara eksportir. Penelitian sebelumnya peternak kecil. Secara teori (elastisitas –2. Hal tersebut secara berlebihan disamping dalam rangka menunjukkan bahwa impor daging sapi tidak menggali devisa negara. dan masih merupakan Keadaan tersebut menunjukkan bahwa harga komoditas “luks” sehingga belum semua daging impor merupakan harga yang masih masyarakat mampu mengkonsumsinya. berpendapatan tinggi. dalam menunjukkan bahwa dengan merosotnya nilai penelitiannya menunjukkan bahwa konsumen tukar rupiah ada kecenderungan harga daging daging sapi secara umum adalah masyarakat impor (dalam US $). sehingga peningkatan harga meningkatnya konsumsi daging sapi nasional (akibat depresiasi rupiah) tidak mampu (KDN) maka akan meningkatkan impor menurunkan jumlah impor daging masuk ke daging. IB di lapang).15) menurunkan impor daging sapi. akan tepat diberlakukan dengan tujuan untuk menurunkan volume impor daging sapi. SOEDJANA et. al.48). Tarif impor daging cukup meningkatnya harga daging sapi impor. Meningkatnya konsumsi daging sapi Indonesia. Impor daging sapi merupakan impor daging sapi yang masuk. 1999). hanya cenderung menurun dan pada tahun 2000 peubah penjelas tarif impor (TIDS) hanya mencapai 5%. hotel. pengadaan semen beku. inseminator (petugas mendorong meningkatnya daging sapi impor. Pada saat pengenaan tarif berpengaruh nyata (P<0. sapi impor. semakin menurun. Berdasarkan harga tidak banyak berpengaruh terhadap data harga daging sapi yang didapat volume impor. Proses 280 280 . ILHAM (1998). impor adalah merupakan kebijakan Departemen Keuangan yang disyahkan oleh keputusan Menteri Keuangan. menggunakan data realisasi triwulanan Pengenaan tarif impor (TIDS) nyata sedangkan pengamatan yang dilakukan saat ini (P<0. dan kondisi tuntutan yang harus dilakukan. Analisis parameter ditentukan oleh harga daging impor sendiri. yang cukup berimbang bila maka harga daging sapi impor cenderung dibandingkan dengan kualitas daging produksi meningkat yang berakibat menekan volume feedloter. sehingga faktor yang terjadi bahkan sebaliknya. Tarif adalah menggunakan realisasi tahunan. salah satunya akibat meningkatnya pendapatan Peranan Asosiasi Importir Daging per kapita masyarakat. dugaan nilai tukar rupiah (NT) bertanda positif. tetapi membatasi daging sapi impor yang masuk yang terjadi sebaliknya. termasuk impor jerohan diduga menyimpulkan bahwa teknologi IB akan mempengaruhi perkembangan usaha berpengaruh positif terhadap produksi peternakan rakyat akan semakin terdesak. Konsumen daging sapi masih pada aktivitas kegiatan impor daging sapi di golongan tingkat atas yang memilih daging Indonesia (parameter dugaan negatif). Tarif impor Impor daging sapi (MDS) daging sapi pada awalnya cukup tinggi yakni sebelum tahun 1989 mencapai 40%. Secara bagus yang dipersiapkan untuk kebutuhan teoritis dengan merosotnya nilai tukar rupiah. atau Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan faktor lainnya. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005 Keberhasilan teknologi IB banyak kualitas bagus.

Pada penelitian ini sulit Statistic U Theil pada semua peubah endogen untuk membedakan harga daging peternakan digunakan untuk mengevaluasi kemampuan rakyat dan harga daging sapi feedloter. nilai U Theil yang dihasilkan riel daging sapi domestik. - Populasi sapi nasional PSN 17.4855 -2. .15) meningkatkan harga bakalan akibat trend populasi penduduk riel daging sapi domestik. Tabel 2. sehingga permintaan daging Simulasi model dilakukan untuk melihat domestik meningkat dan akan direspon oleh keeratan dan keragaman antara nilai dugaan harga yang mengalami kenaikan. - Populasi sapi nasional PSN -0. - Tarif impor daging sapi TIDS -482.65% sebelum terjadinya krisis moneter. Hasil validasi Penawaran daging sapi nasional (PDN) model persamaan ekonomi daging sapi tertera yang meningkat. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005 kegiatan impor daging sapi pada umumnya dimana perubahan populasi tidak banyak dilakukan oleh pihak importir yang tergabung berpengaruh terhadap harga daging sapi.00001109 -0. Sementara itu. Harga daging impor meningkat.0019 -0. meningkatnya harga riel daging sapi impor Simulasi kebijakan impor daging dan sapi (HDI) cenderung (P>0.7474 Impor daging sapi MDS . Harga daging dengan nilai aktual peubah endogen diperlukan domestik yang dimasukkan dalam model validasi model (PINDYCK dan RUBINFELD.6653 0. analisis kebijakan melalui metode simulasi.15) menurunkan harga riel daging menunjukkan bahwa model yang dirumuskan domestik. dalam ASPIDI atas rekomendasi Departemen Perkembangan populasi sapi potong nasional Pertanian (Direktorat Jenderal Peternakan).788091 0. . maka ada kecenderungan pengaruh periode pengamatan dan seberapa jauh harga tersebut lebih berdampak terhadap harga penyimpangan dalam ukuran persen. tetapi sebaliknya trend populasi mengalami penurunan tajam setelah kasus krisis moneter Harga riel daging sapi domestik (HDD) (–1. tetapi tidak responsif (elastisitas – dinilai cukup baik untuk digunakan dalam 0. Secara spesifik Square Error (RMSE) dan Root Mean Square mengingat bahwa kualitas daging impor yang Percent Error (RMSPE) untuk mengukur cenderung setara dengan kualitas daging sapi seberapa dekat nilai data aktualnya selama feedloter.0019 dan –0.0015) tertera pada Tabel 2.965097 -2. Dari peubah harga daging sapi.0025 281 281 .3763 Harga riel daging sapi domestik HDD . adalah harga daging nasional yakni 1991). ke presentatif sehingga kriteria tersebut (P<0. tahunan mengalami trend peningkatan sebesar yang masih hanya terbatas dalam mencari 1. cenderung menurunkan harga pada Tabel 3. Nilai Elastisitas rata-rata permintaan dan penawaran daging sapi di Indonesia Parameter Elastisitas Persamaan/peubah Notasi estimasi Jangka pendek Jangka panjang Penawaran daging peternakan rakyat PDRT . cenderung konsumen beralih untuk Validasi model mengkonsumsi daging sapi dalam negeri (domestik). dan daging sapi feedloter. . cukup representatif dengan nilai yang relatif peubah populasi sapi nasional (PSN) nyata kecil. Kriteria validasi statistik yang mencerminkan harga daging peternakan rakyat digunakan dalam model ini adalah Root Mean dan daging sapi feedloter. keuntungan sepihak. 1991–2001).55%/tahun) (STATISTIK PETERNAKAN. model bagi analisis simulasi.

Kebijakan pembebanan tarif impor adalah Dilihat dari perkembangan usaha merupakan rekomendasi yang tepat dalam peternakan nasional menunjukkan bahwa usaha upaya menekan impor daging sapi dan sapi peternakan rakyat cenderung stabil (meningkat bakalan. perkembangan perkembangan usaha peternakan rakyat usaha feedloter cukup dominan dilihat dari (peternak domestik).0408 0. Tahun 1981–2000 Notasi Peubah endogen RMSE RMSPE (%) U PDRT Penawaran daging sapi peternakan rakyat 35.85% kedepan dengan peningkatan 1.01 -0. (STATISTIK INDONESIA.81% (−1.34% (6.989 56. Simulasi Peningkatan konsumsi daging sapi nasional tersebut sebagai langkah antisipasi program lebih berdampak terhadap penyediaan daging pengembangan peternakan kedepan. Hasil simulasi kebijakan trend populasi penduduk 10 tahun (16.0633 MDS Impor daging sapi 4.899 MDS Impor daging sapi Ton 5 654 4 364 -1 290 -22. Hasil sapi pada prediksi 10 tahun kedepan masih simulasi kebijakan. yang diharapkan mampu memacu sebesar 0. Validasi model ekonomi daging sapi di Indonesia.0002 Simulasi kebijakan trend populasi penduduk 67.61%/tahun (3.0232 0. 113.763 15.815 KDN Konsumsi daging sapi nasional Ton 172 495 286 272 113 777 65. sebesar 16.979 -0. dalam di tingkat feedloter dibandingkan dengan mengatasi peningkatan permintaan daging sapi kondisi usaha peternakan rakyat.859 PDRT Penawaran daging sapi peternakan rakyat Ton 274 107 274 130 23 0.1%) terhadap perubahan model ekonomi daging sapi di indonesia.008 PDF Penawaran daging sapi feedloter Ton 13 471 20 193 6 722 49.1007 282 282 .5522 0.2810 HDD Harga riil daging domestik 0.2153 0.745 ton).454 ton). walaupun cenderung mengalami dengan meningkatnya populasi penduduk penurunan sebesar 22.345 JSBI Jumlah sapi bakalan impor Ekor 80 684 134 823 54 139 67. Sementara itu. Impor daging akibat meningkatnya populasi penduduk. serta Simulasi trend populasi penduduk 10 tahun penawaran daging nasional mencapai 1. menunjukkan bahwa diperlukan. maka akan Dalam antisipasi permintaan daging sapi akibat berdampak langsung terhadap penyediaan peningkatan populasi penduduk diperlukan konsusmsi daging sapi yang meningkat sebesar terobosan teknologi dan strategi pengembangan 65.959 HDD Harga riel daging sapi domestik Rp/kg 56.95% tertera pada Gambar 1 atau harus usaha ternak sapi potong dalam mendukung disediakan tambahan produksi daging sebesar kebutuhan daging sapi yang relatif meningkat. tahun 1981–2000 Nilai Nilai Perubahan Notasi Peubah endogen Satuan dasar simulasi Unit % PDN Penawaran daging sapi nasional Ton 293 233 298 687 5 454 1. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005 Tabel 3.1% (10 tahun kedepan).10% (54.290 ton).139 ekor) yang secara komulatif 10 tahun kedepan berdampak meningkatnya penawaran daging domestik sebesar 2. 2003).0002 PDD Penawaran daging sapi domestik Ton 287 578 294 323 6 745 2.188 12.008%). peningkatan jumlah sapi bakalan impor sebesar Tabel 4.777 ton tertera pada Tabel 4.

Hasil simulasi kebijakan peningkatan penduduk 10 tahun terhadap penawaran dan permintaan daging sapi (tahun 1981–2000) KESIMPULAN perkembangan populasi sapi yang ada. Hal tersebut Peternakan dengan Asosiasi Obat Hewan. GUJARATI.1 0 0 7 % 150000 100000 -0 . Basic Econometrics. 3. Jakarta. peternakan rakyat (peternak domestik). disamping permainan harga oleh negara eksportir.139 ekor). akan menurunkan harga riel Institut Pertanian Bogor. Bogor.3 4 5 % 300000 250000 Volume (Ton/Ekor/Rp. Direktorat Jenderal masuk. sedangkan laju perkembangan usaha peternakan rakyat tidak banyak dipengaruhi oleh harga daging yang berlaku.. Third Edition. Buku masih belum mampu membendung Statistik Peternakan. 1998. N. nasional. Peranan tarif impor daging mampu DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN. Inc. dan cenderung trend populasi yang semakin Hasil analisis evaluasi kebijakan impor menurun. golongan elit. Meningkatnya harga daging impor akan IIHAM. Prediksi 10 tahun kedepan dengan adanya peternak domestik dapat disimpulkan bahwa: trend populasi penduduk 1. Program Pascasarjana. Buku menurunkan jumlah daging impor yang Statistik Peternakan. Sapi di Indonesia. sedangkan (elastisitas yang rendah). Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005 1 . karena konsumen daging sapi cenderung Jakarta. harga daging impor Peternakan dengan Asosiasi Obat Hewan. 1995.8 5 9 % 0 .. sedangkan meningkatnya produksi daging Tesis Magister Sains. Mc Graw-Hill.9 5 9 % 2 . sehingga peranan harga daging impor DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN 2001. 1998. New York.8 9 9 % -2 2 . Hasil parameter dugaan dilihat dari sisi menunjukkan bahwa konsumsi daging akan penawaran.10% (54.81%. DAFTAR PUSTAKA 2. sebesar 67. Populasi sapi impor daging hanya mengalami penurunan yang ada belum sepenuhnya mencerminkan sebesar 22. Suatu Analisis Simulasi.15) meningkatkan dan diikuti peningkatan impor sapi bakalan panawaran daging peternakan rakyat. Sementara itu.0 0 8 % 6 5 .0 0 0 2 % 50000 4 9 . daging sapi dalam upaya pengembangan 4. justru akan meningkatkan impor daging. D. nasional nyata (P<0.) 200000 6 7 . karena masuknya daging impor melalui performan (bobot hidup) yang rendah.N. daging domestik. bahwa peranan populasi sapi meningkat sebesar 65.6% per tahun 1.95% (113.1 8 5 % 0 PD PDR PD M D KD HD PD JSB I P eu bah endogen N ilai D a sa r N ilai S im u lasi G Gambar 1. Direktorat Jenderal masuknya daging impor.777 ton). Penawaran dan Permintaan Daging meningkatkan harga daging domestik. Meningkatnya harga riel daging domestik tidak mampu merangsang 283 283 . Kebijakan proteksi produksi daging sapi secara umum. pembebanan tarif impor dipandang mampu Program IB dalam analisis belum mampu memacu perkembangan sistem usaha memperbaiki kualitas sapi yang ada.

PURBA. Puslitbang Peternakan.. Techniques and Aplications. B. dan A. Penunjang Inseminasi Buatan. dengan P4N. Pengkajian Pemanfaatan Teknologi Inseminasi Buatan (IB) dalam Usaha KOUTSOYIANNIS. Laporan Hasil Oktober 1999. 2000. Bogor. T. Peternakan dan Veteriner. SUDARDJAT. 17–20. Penanganan Produksi Daging Sapi dan Susu di Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Konsumsi Protein Hewani Asal Ternak. Bogor. Indonesia. 1991.. Econometric Models and Economic Forecast. S. Puslitbang Peternakan bekerjasama 2: 599–610. 4–8.. Permintaan dan Bogor. KARTO. D. 284 284 . Bogor. Bogor. SUDARDJAT. Seminar Nasional SARAGIH. MULYADI. M. Puslitbang Peternakan. United Potong Nasional di Propinsi Sumatera Barat. Peternakan. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005 INTRILIGATOR. Institut Pertanian Bogor. SETIADI DAN SOEPENO. SIREGAR. 1999. WKPG. Mc Graw-Hill International. R. Pretice-Hall Inc. Bogor. 2003. Ketahanan Pangan Nasional Bidang Peternakan. Laporan Hasil Penelitian. Estimasi Parameter Sistem Permintaan Istimewa Yogyakarta. Bogor. Thirt Edition. 1977. Jakarta. S. Pros. 1997. P. 18–19 Kawasan Timur Indonesia.. BESTARI dan M. The Macmillan Press Ltd. Seminar Nasional Komoditas Ternak dan Hasil Ternak di Peternakan dan Veteriner. D. B. Makalah disampaikan pada Seminar Pra- PYNDICK. New Jersey. Wartazoa 8(2): 75–78. Studi Pembangunan.L. Bogor. PAMBUDI dan T. Kaji Ulang Pembangunan Peternakan di Indonesia. A. 1978. Puslitbang Peternakan. dan permintaan dalam proteksi peternak domestik. J. SOEPENO dan A. “Swastanisasi” Penyediaan Semen Beku SUBANDRIYO. 2000.D. USESE Foundation dan Pusat hlm. Peningkatan Populasi dan Produktivitas Sapi 2nd Ed. di Daerah 1994. S. 1999. 18–19 Kumpulan Pemikiran: Agribisnis Berbasis Oktober 2000. Analisis Kelembagaan dan Kelayakan SOEDJANA. Pros. Strategi Peningkatan Singapore. Institut Pertanian Bogor. Tesis. 1997. A. Evaluasi kebijakan impor daging STATISTIK INDONESIA. SUDARYANTO. Econometric Models. M. MUKTI. T. SITUMORANG. SAYUTI. Badan Pusat Statistik sapi melelui pendekatan analisis penawaran (BPS). RUBINFELD. Peranan Teknologi Peternakan dan Veteriner Dalam Rangka Memacu SIREGAR. Penelitian. 2002.R. Kingdom. Jakarta. 28 Oktober 1997 (unpublish).R. Bogor.. hlm. G. A. Theory of Econometrics. R. Pros. 2002.A. PRIYANTO. 30 September–1 Oktober 2002.S and D. Bogor. Penawaran. Peternakan bekerjasama dengan P4N. R. SUDARDJAT. BOER. Puslitbang PRIYANTO. SIPAYUNG.

Related Interests