BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Kehamilan merupakan hal yang sangat diinginkan oleh suami istri
untuk melanjutkan keturunannya. Ibu hamil harus mendapatkan pelayanan
kesehatan yang baik dan teratur. Ibu hamil minimal memeriksakan
kehamilannya 4x pada pelayanan kesehatan. Pemeriksaan ini digunakan untuk
mengetahui keadaan janin.
Faktor yang mempengaruhi kehamilan yaitu: faktor fisik, faktor
psikologis dan faktor sosial budaya dan ekonomi. Yang harus diperhatikan
adalah bahwa kehamilan bukanlah suatu keadaan patologis yang berbahaya.
Kehamilan merupakan proses fisiologis yang akan dialami oleh wanita usia
subur yang telah berhubungan seksual. Dengan demikian kehamilan harus
disambut dan dipersiapkan sedemikian rupa agar dapat dilalui dengan aman.

2. TUJUAN
Agar setiap mahasiswa memahami pemeliharaan kesehatan pada ibu
hamil, sehingga bisa memperkecil angka kesakitan dan risiko penyakit yang
dapat mempengaruhi kehamilan.

3. RUMUSAN MASALAH
a. Untuk mengetahui penyakit yang berpengaruh terhadap kehamilan
b. Untuk mengetahui sikap dan prilaku pada masa kehamilan
c. Untuk mengetahui pemeliharaan kesehatan ibu hamil
d. Untuk mengetahui sistem rujukan dalam pelayan kebidanan
BAB II
ISI

2.1. PENYAKIT YANG BERPENGARUH TERHADAP KEHAMILAN
A. Penyakit jantung
Kehamilan dan penyakit jantung akan saling mempengaruhi pada
individu yang bersangkutan. Kehamilan akan memberatkan penyakit
jantung. Sebaliknya, penyakit jantung akan mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembanganjanin dalam kandungan, lain halnya pada kehamilan
dengan jantung yang normal. Tubuh dapat menyesuaikan diri terhadap
perubahan sistem jantung dan pembuluh darah.
Jika seorang wanita hamil mengidap penyakit jantung akan terjadi
perubahan-perubahan berikut:
1. Meningkatnya volume jantung, yang dimulai sejak kehamilan 8 minggu
dan mencapai puncaknya pada kehamilan 32 minggu, lain menetap.
Kondisi ini bertujuan untuk mencukupi kebutuhan tubuh ibu dan janin
yang dikandungnya.
2. Jantung dan diafragma (sekat rongga dada) terdorong ke atas karena
pembesaran rahim.Dengan demikian. cukup jelas bahwa kehamilan
dapat memperberat penyakit jantung. Kemungkinan timbulnya payah
jantung (dekompensasi cordis) pun dapat terjadi.
Keluhan-keluhan yang sering muncul adalah:
 cepat merasa lelah,
 jantung berdebar-debar
 sesak napas, kadang-kadang disertai kebiruan di sekitar mulut
(sionosis),serta
 bengkak pada tungkai atau terasa berat pada kehamilan muda.

B. Tekanan Darah Tinggi
Seorang wanita dapat mengidap tekanan darah tinggi sebelum
dirinya hamil atau muncul ketika hamil. Artinya, kehamilan dapat
menyebabkan tekanan darah tinggi, seperti munculnya kelainan
preeklampsia (keracunan kehamilan) yang dibarengi dengan edema
(bengkak), dan keruhnya air seni karena mengandung protein yang cukup
banyak. Penyebab utama tekanan darah tinggi saat hamil adalah tekanan
darah tinggi esensial dan penyakit ginjal. - Tekanan darah tinggi esensial
Tekanan darah tiggi esensial disebabkan faktor keturunan,
lingkungan, dan emosi yang labil. Biasanya pada kehamilan lebih dari 30
minggu, sekitar 30% ibu hamil akan mengalami kenaikan tekanan darah,
tetapi tanpa menunjukkan adanya gejala. Selain itu, sekitar 20% ibu hamil
mengalami kenaikan tekanan darah, bisa disertai dengan keruhnya air seni
(air seni mengandung protein) dan edema (bengkak). Kenaikan tekanan
darah ini dapat disertai dengan keluhan sakit kepala, nyeri ulu hati
(epigastrium), mual, muntah, dan gangguan penglihatan. - Tekanan darah
tinggi karena penyakit ginjal Penyakit ginjal dapat meningkatkan tekanan
darah. Hal ini disebabkan oleh adanya peradangan-peradangan pada
beberapa bagian ginjal yang akut atau kronis. Biasanya, peradangan ini
akan disertai dengan meningkatnya suhu badan dan gangguan buang air
kecil. Untuk mengatasinya, wanita hamil dianjurkan untuk istirahat yang
cukup, dapat mengendalikan emosi, dan jangan bekerja terlalu berat.
Konsumsilah makanan yang tinggi protein, rendah hidrat arang,
rendah lemak, dan rendah garam. Selain itu, lakukan perawatan yang
intensif selama kehamilan, persalinan atau setelah melahirkan. Lakukan
pengobatan terhadap penyakit tekanan darah tingginya sesuai dengan
anjuran dokter.

C. Penyakit Paru-Paru
Penyakit paru-paru pada kehamilan Umumnya, penyakit paru-paru
tidak mempengaruhi kehamilan, persalinan, juga setelah persalinan,
kecuali jika penyakit yang diderita tidak terkontrol, tambah berat, disertai
dengan sesak napas. Selama kehamilan fungsi paru-paru sangat penting
untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Dalam hal ini akan terjadi
proses pertukaran CO2 dan 02 antara ibu dan janinnya. Gangguan fungsi
paru-paru yang cukup berat akan mengakibatkan gangguan pada
pertumbuhan janin. Penyakit paru-paru yang harus diperhatikan adalah
TBC paru-paru pada fase aktif, asma yang berat, dan radang paru-paru.
- TBC paru-paru
TBC paru-paru sangat jarang diturunkan dari ibu kepada
anaknya. Yang harus diperhatikan adalah jika bayi telah lahir, ibu yang
mengidap TBC paru-paru yang aktif perlu diisolasi. Bayinya harus
segera diberi vaksin BCG dan dipisahkan selama 6-8 minggu. Setelah
hasil test mantoux positif (test kekebalan terhadap TBC), bayi boleh
didekatkan kepada ibunya. Hal ini untuk menghindari tertularnya
penyakit setelah melahirkan. Bayi yang baru dilahirkan sangat mudah
tertular oleh penyakit. - Asma bronchial Asma bronchial merupakan
penyakit keturunan. Selama kehamilan, penyakit ini bisa berkurang atau
bertambah. Untuk menghindari bertambah parahnya penyakit.
hindarilah kemungkinan terjadinya infeksi pernapasan dan upayakan
tekanan emosional tetap stabil.
- Radang paru-paru (pneumonia)
Radang paru-paru sering terjadi pada kasus-kasus berat seperti
eklampsia, proses persalinan lama, dan sesudah operasi. Penyakit ini
perlu diketahui dan diobati sedini mungkin karena kondisi penyakit
yang berat dapat membahayakan jiwa ibu dan janinnya.

C. Anemia
Wanita hamil dikatakan mengidap penyakit anemia jika kadar
hemoglobin (Hb) atau darah merahnya kurang dari 10 gram %. Penyakit
ini disebut anemia berat. Jika hemoglobinnya kurang dari 6 gram %
disebut anemia gravis. Jumlah normal hemoglobin wanita hamil adalah 12-
15 gram % dan hemotokritnya adalah 35-54 %. Sebaiknya, pengawasan
terhadap hemoglobin dan hematokrit dilakukan pada semester I dan
trimester III Pada trimester I dan III pengenceran darah sudah mencapai
puncaknya. Umumnya, penyebab anemia adalah kurang gizi (malnutrisi),
kurang zat besi dalam makanan yang dikonsumsi, penyerapan yang kurang
baik (malabsorpsi), kehilangan darah yang banyak (pada haid-haid
sebelumnya), serta penyakit-penyakit kronik (seperti TBC paru-paru,
cacing usus, dan malaria). Jika seorang wanita hamil mengidap anemia,
kemungkinan terjadinya keguguran (abortus), lahir prematur, proses
persalinan yang lama, dan lemasnya kondisi sang ibu dapat terjedi.
beberapa tipe penyakit anemia yang sering diderita selama
kehamilan:
- Anemia defisiensi besi, disebabkan oleh kurangnya mengkonsumsi
makanan yang mengandung zat besi.- Anemia megaloblastik,
disebabkan oleh kurangnya asupan asam folik. Anemia ini muncul
akibat dari malnutrisi dan infeksi yang menahun (kronik). Anemia
hipoplasti, disebabkan oleh menurunnya fungsi sumsum tulang dalam
membentuk sel darah merah baru.
- Anemia hemolitik, disebabkan proses pemecahan sel darah merah yang
lebih cepat dari pembentukkannya. Beberapa gejala yang timbul akibat
penyakit anemia adalah adanya kelainan-kelainan bentuk sel darah
merah, lelah, lemah, serta gejala kelainan pada organ-organ vital. Untuk
mengatasinya, ibu hamil dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang
mengandung zat besi dan protein, juga sayuran berwarna hijau yang
mengandung mineral dan vitamin.

D. HIV dan AIDS
Penularan HIV (Human Immun Deficiency Virus) bisa terjadi
akibat hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi HIV, tercemar oleh
darahnya, transfusi darah yang mengandung HIV atau memakai jarum
suntik bekas orang yang terinfeksi HIV. Adanya HIV dalam tubuh akan
menyebabkan berkurangnya kekebalan tubuh atau hilang sama sekali
sehingga akan mempermudah penyakit-penyakit lain menyerang tubuh
yang lemah. Kumpulan dari gejala-gejala penyakit itulah yang disebut
dengan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Selama
kehamilan, persalinan maupun menyusui, HIV dapat ditularkan oleh ibu
terhadap bayinya. Masuknya HIV ke dalam tubuh manusia melalui aliran
darah dan menyerang sistem kekebalan tubuh. Serangan pertama setelah
terinfeksi HIV adalah timbulnya gejala-gejala mirip flu, seperti lemas,
demam, sakit kepala, nyeri otot, napas makin memburuk, mual, kelenjar
membengkak, dan timbulnya bercak di kulit. Gejala ini akan hilang dalam
beberapa minggu.
Umumnya, orang yang tertular HIV akan bebas gejala selama
berbulan-bulan atau bertahun-tahun sehingga gejala ini dianggap flu biasa.
Beberapa bulan berikutnya gejala yang muncul akan bertambah dan tidak
hilang, seperti munculnya keringat di malam hari. demam dan diare yang
berkepanjangan, dan terjadinya penurunan berat badan yang tidak
diketahui penyebabnya. Jika hal ini terus berlangsung kesadaran penderita
akan menurun dan kematian pun tidak bisa dihindari. Orang yang tertular
HIV, tetapi tidak menunjukkan adanya gejala disebut carier HIV
(pembawa penyakit).

E. Typhus abdominalis
Penyakit ini akan memperburuk keadaan ibu saat hamil maupun
setelah melahirkan. Infeksi ini akan menyebabkan angka kematian janin
sebesar 75%. Penanganan kasus ini dapat dilakukan oleh ahli penyakit
dalam, misalnya dilakukan pencegahan dengan memberikan vaksinasi
terhadap ibu hamil. Selain itu, setelah melahirkan ibu tidak dianjurkan
menyusui bayinya jika sedang terinfeksi bakteri.
F. Malaria
Gejala penyakit ini berupa panas yang tinggi, disertai menggigil.
Penyakit sangat mempengaruhi kehamilan karena dapat menyebabkan hal-
hal berikut:• Pecahnya butir sel darah merah yang dapat mengakibatkan
terjadinya anemia dan mengganggu proses penyaluran dan pertukaran
nutrisi ke arah janin. Akibatnya, pertumbuhan dan perkembangan janin
terhambat• Infeksi plasenta, yang dapat menghalangi pertukaran dan
penyaluran nutrisi ke janin. • Panas badan tinggi, yang dapat merangsang
terjadi kontraksi otot rahim. Jika penyakit malaria tidak ditangani secara
intensif dapat mengakibatkan terjadinya abortus, bayi lahir prematur, bayi
lahir dengan berat badan lebih rendah dan tidak sesuai dengan usia
kehamilannya, serta kematian janin. Untuk mengatasinya, penyakit harus
diobati dengan segera agar prognosa (nilai kesembuhannya) lebih baik
bagi ibu dan janinnya. Pencegahan malaria pada bayi harus dilakukan
karena kekebalannya hanya berlangsung selama 3 bulan. Setelah itu, bayi
perlu diberi obat antimalana dalam bentuk sirup selama 6 bulan.

2.2. SIKAP DAN PRILAKU PADA MASA KEHAMILAN
Sikap adalah keadaan mental dan syaraf dari kesiapan yang diatur
melalui pengalaman yang yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah
terhadap respon individu dan semua objek dan situasi yang berkaitan
dengannya. Sikap itu dinamis /tidak statis.
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia,baik yang dapat
diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar. Setiap ibu
hamil pasti mengalami perubahan perilaku karena disebabkan oleh perubahan
hormonal. Saat memutuskan untuk hamil pasangan harus benar-benar siap
denagn segala perubahan yang akan terjadi nanti sama ibu, baik perubahan
fisik maupun perilaku. Pasangan harus siap dalam berbagai hal termasuk
menerima kehamilan,menjadi orang tua(ayah,ibu), dan mengalami perubahan
perilaku selama kehamilan.

A. Persiapan menerima kehamilan
Persiapan penerimaan terhadap kehamilan dapat dibagi terjadi
dalam 3 fase:
1) Fase I(fase adaptasi).
Pada fase ini ibu mencoba beradaptasi dengan menerima
kehamilannya dan mengasimilasikan status hamil kedalam gaya hidup.
Tingkat penerimaan dicerminkan dalam kesiapan wanita dan respon
emosionalnya terhadap kehamilan. Respon wanita dalam menyambut
kehamilan bervariasi, mulai dari perasaan gembira,tidak yakin,putus
asa,bahkan ada yang syok.
2) Fase II(fase penerimaan)
Pada fase ini siibu akan menerima tumbuhnya janin yang
merupakan mahluk hidup lain yang berada dalam kandungan. Si ibu
menyadari bahwa bayinya adalah mahluk yang terpisah dari
dirinya,terlibat dalam hubungan ibu-anak yang memerlukan
asuhan,serta membangun tanggung jawab dan kedekatan dengan janin.
Siibu yang menerima kehamilan dengan senang, merasa lekat dengan
bayinya dan menerima kenyataan. Ia merasa mendengar DJJ dan
merasakan pergerakan anak sehingga ia menjadi lebih tenang dan sudah
berfantasi tentang anaknya dan akan senang dengan anak kecil.
3) Fase III
Pada fase ini siibu sudah merasa realitstis,mempersiapkan
kelahiran,persiapan menjadi orang tua,berspekulasi mengenai jenis
kelamin anak, dan keluarga berinteraksi dengan menempelakn telinga
keperut ibu dan mengajak berbicara dengan janin.

B. Persiapan menjadi orang tua
Persiapan menjadi orang tua berarti menyiapakan untuk menjadi
ayah dan menjadi ibu,impian permainan peran atau antisipasi persiapan
emosional untuk bayi banyak terjadi pada minggu sebelum terjadi
kelahiran dan petugas kesehatan mendengarkan dengan aktif agar dapat
menentramkan hati ibu dan jika ada gangguan psikologis hebat rujuk
untuk pengobatan yang tepat.
Persiapan menjadi ibu terdiri dari tiga fase.
a) Fase I, Menerima kenyataan biologis bahwa dirinya hamil
b) Fase II, Menerima pertumbuhan janin sebagai suatu yang jelas dari
dirinya dan ia berkata saya akan memiliki bayi dengan realitas
penerimaan bayi(mendengar denyut jantung janin dan pergerakan
janin). Ibu akan berkhayal atau memimpikan anaknya menjadi orang
yang berharga dan menarik serta ia berusaha berkonsentrasi pada
bayinya.
c) Fase III, Persiapan realistis untuk kelahiran atau menjadi orang tua serta
mengekspresikannya lebih dulu.
Persiapan menjadi ayah terdiri dari tiga fase:
1) Fase I, Pemberitahuan terjadi beberapa jam/minnggu. Pada fase ini
calon ayah dapat menerima keadaan bayi sebagai factor biologis dari
kehamilan,ia membutuhkan dukungan bahwa ia akan menjadi ayah.
2) Fase II, Penerimaan, laki-laki meyadari bahwa ia akan mempunyai bayi,
laki-laki tampak sadar akan rencana hidup dan gaya hidup.
3) Fase III, perhatian, pada saat ini karakteristik ayah aktif terliabt dalam
kehamilan dan hubungan denag anak, ia membutuhkan kedudukan
bahwa ia tahu perannya selama persalinan dan ia menjadi kepala
keluarga. Pada fase ini berkonsentrasi pada penglaman yang dimiliki
pada wanita hamil dan dan meras hubungannya lebih baik dengan istri
karena ia akan menjadi ayah dan dunia sekelilingnya menentukan peran
bapak di masa datang.

C. Perubahan-Perubahan perilaku selama kehamilan
Adapun beberapa perubahan-perubahan perilaku ibu selama
kehamilan adlah sebafgai berikut:
1) Cenderung malas atau sebaliknya rajin bekerja dan suka bersih-bersih.
Sikap bermalasan bisa terjadi karena pada dasarnya ibu memang
pemalas sehingga saat hamil bertambah malas akibat adanya perubahan
hormonal. Pada ibu yang bekerja sikap bermasalah ini jarang terjadi dan
kalau pun ada disebabkan karena rasa bosan dan lebih mudah dialihkan
pada hal lain. Cenderung malas,para suami perlu memahami bahwa
kemalasan ini bukan timbul begitu saja,melainkan pengaruh perubahan
hormonal yang sedang dialami istrinya. Dengan demikian tidaka ada
alasan bila suami menggantikan peran istri untuk beberapa waktu.
Misalnya dengan menggantikannya membereskan tempat tidur atau
membuat kopi sendiri. Rajin bekerja/suka bersih-bersih, ada ibu yang
memang terbiasa bekerja, sehingga semasa hamil pun jadi lebih rajin.
Ini merupakan salah satu perilaku aneh yang positiif. Hanya perlu
diingat,saat bekerja perhatikan kondisi ibu.
2) Lebih sensitive, Biasanya wanita yang hamil juga berubah jadi lebih
sensiyif. Sedikit-sedikit tersinggung lalu marah. Apapun perilaku ibu
hamil yang dianggap kurang menyenangkan,hadapi saja dengan santai.
Ingatlah bahwa dampak perubahan psikis ini nantinya akan hilang.
Bukan apa-apa, bila suami membalas kembali dengan kemarahan, bisa-
bisa istri semakin tertekan sehingga mempengaruhi pertumbuhan
janinnya.
3) Cenderung minta perhatian lebih. Perilaku lain yang kerap mengganggu
adalah istri tiba-tiba lebih manja dan selalalu ingin diperhatikan.
Meskipun baru pulang kerja dan sangat letih,usahakan untuk
menanyakan untuk menanyakan keadaan nya saat ini. Perhatikan yang
diberikan suami walaupun sedikit bisa memicu tumbuhnya rasa aman
yang baik untuk pertumbuhan janin. Demikian pula ketika istri merasa
pegal-pegal dan linu pada tubuhnya. Istri sering meminta suami untuk
mengusap tubuhnya, Sebaiknya lakukan sambil memberikan perhatian
dengan mengatakan bahwa hal ini memang sering dialami oleh wanita
yang sedang hamil dan diperlukan kesabaran untuk menghadapinya
4) Mudah cemburu. Tidak jarang,sifat cemburu istri terhadap suami pun
muncul tanpa alasan. Pulang telat sedikit saja istri akan menanyakan hal
macam-macam, Mungkin selain perubahan hormonal,istri pun mulai
tidak percaya dengan penampilan fisiknya. Ia takut bila suaminya pergi
dengan wanita lain. Untuk menenangkannya suami perlu menjelaskan
dengan bijaksana bahwa keterlambatannya dikarenakan hal-hal yang
memang sangat penting dan bukan karena perselingguhan. Bila perlu
ceritakan ceritakan aktifitas denagn detail.
5) Hobi belanja. Kadang ibu yang sebelumnya tidak memiliki belanja
menjadi gemar berbelanja setelah hamil. Kegemaran baru ibu hamil ini
,dikhawatirkan bisa menimbulkan konflik denagn pasangan, karena ibu
dinilai egois dan boros membelanjakan keperluan yang tidak jelas.
6) Tidak mau dekat-dekat suami. Ada ibu hamil yang merasa mual bila
mencium bau suaminya. Dengan alsan itu,ia tidak mau tidur seranjang
atau kalaupun tidur berbalikan badan. Hal ini bisa disebabkan oleh
kominikasi antar pasangan yang terpendam. Dibawah sadar,mungkin
ada kebiasaan suami yang tidak ibu sukai, Misalnya suka mengorok
kalau tidur,pulang kantor tidak langsung bersih-bersih, dan sebagainya.
Tanpa disadari ketidaksukaan tersebut tercetus pada perilaku aneh pada
saat ibu hamil.
7) Merasa sebal dan tidak ingin bertemu orang tua. Jika ini terjadi pada
pasangan,maka pasangan perlu melihat kembali bagaimana hubungan
pasangan dengan mertuanya selama ini. Apakah ada ketidakcocokan
yang disebabkan mertua, seperti terlalu mengintervensi,terlalu
cerewet,dan sebaginya. Sikap mertua yang tidak berkenan dihati selama
ini bisa tercetus menjadi perilaku aneh saat hamil. Memang dapat
dipahami karena kondisi kehamilan yang cukup sensitive.
8) Marah-marah pada pasangan. Cenderung dipengaruhi temperemen ibu
serta bagaimana kelancaran komunikasi dengan pasangan, Akibatnya
sering kali hal sepele jadi menimbulkan konflik berkepanjangan.
9) Merasa cemburu atau curiga. Jika sekali mungkin wajar, Namun kerap
merasa curiga pada pasangan selagi ibu hamil tentu bukan hal yang
sehat. Penyebabnya bisa jadi berkaitan dengan masalah kepercayaan
diri. Perubahan fisik semasa hamil membuat ibu merasa tidak cantik
sehingga khawatir suami berpaling.
10) Jika suka merokok atau kebiasaan buruk lainnya. Perilaku ini bisa
karena keinginan ibu untuk coba-coba atau usaha mengatasi rasa tidak
enak dan tidak nyaman semasa hamil. Jelas ini amat beresiko pada
kehamilan dan juga janin.
 Penyebab perubahan prilaku pada ibu hamil
Perubahan perilaku pada ibu hamil merupakan hal yang wajar ,
karena produksi hormon estrogen nya sedang tinggi. Hal inilah yang
mempengaruhi banyak hal, termasuk psikis ibu. Perubahan hormon
yang terjadi pada ibu hamil sebenarnya sama persis dengan perubahan
hormon pada wanita yang sedang mengalami siklus haid, perubahan
hormonyang terjadi tidak selamanya akan mempengaruhi psikis ibu
hamil ,ada juga yang perilakunya tidak berubah, hal ini di sebabkan
kerentanan psikis setiap orang yang berbeda-beda, nah, daya tahan
psikis di pengarfuhi oleh kepribadian, pola asuh sewaktu kecil, atau
kemeuan ibu untuk belajar menyesuaikan diri dengan perubahan
tersebut.
Biasanya ibu yang menerima atau bahkan sangat
mengharapkan kehamilan akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan
berbagai perubahan. Sementara pada kehamilan yang tidak di
inginkan, biasanya ibu yang tidak siap akan merasa berat dengan
perubahan yang di alami selama kehamilan. Demikian pula dengan ibu
yang memperhatikan estetrika tubuh, dia akan merasa tergangggu
dengan perubahan fisik yang terjadi selama kehamilan
Seringkali ibu sangat gusar dengan perut,pinggul dan payudara
yang semangkin membesar, serta perubahan lain seperti rambut
menjadi kusam. Tentu hal ini akan semakin membuat psikis ibu
menjadi tidak stabil. Perubahan psikis umumnya terasa di trimester
pertama kehamilan. Kala itu pula ibu masih harus menyesuaikan
dirinya, maka psikis ibu akan mulai stabil pada trimester kedua.

 Penanganan terhadap adanya perubahan prilaku pada ibu hamil
Perubahan perilaku pada ibu hamil tidak akan mengganggu
proses tumbuh kembang janin jika masih dalam batas normal. Namun
ketika sudah melebihi batas kewajaran dapat mempengaruhi
perkembangan janin. Kriteria keterlaluan memang terkesan rancu tapi
yang pasti waspadai, seperti jika ibu terlihat di landa kecemasan
belebih atau stres tinggi sehingga dapat membahayakan janin. Contoh
lainya sikap masa bodoh dengan kehamilanya atau kemarahan yang
terjadi sering berubah menjadi amukan. Kondisi psikis yang terganggu
akan berdampak buruk pada aktivitas fisiolpogis dalam diri ibu.
Suasana hati yang kelam dan emosi yang meledak-ledak dapat
mempengaruhi detak jantung,tekanan darah, produksi adrenalin,
aktivitas kelenjer keringat dan sekresi asam lambung, di samping itu
dapat pula memunculkan gejala fisik seperti letihlesu,gelisah,pening
dan mual.
Semua dampak ini akhirnya akan merugikan pertmbuhan janin
karena si kecil sudah dapat merasakan dan menunjukan stimulasi yang
berasal dari luar dirinya,apalagi masa trimester pertama merupakan
masa kritis menyangkut pembentuksan organ janin. Jika perubahan ini
di tanggapi secara positif, kondisi ibu maupun janin akan lebih sehat.
Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi kemungkinan
munculnya dampak psikis yang negatif .
1. Selalu menjalin komunikasi. Di upayakan pada ibu hamil untuk
tidak menutupi perubahan psikologis yang terjadi. Upayakan selalu
mengomunikasikanya pada suami. Dengan begitu, diharapkan
suami dapat berempati dan mampu memberi dukungan psikologis
yang di butuhkan. Dukungan dari ,lingkungan sangat berpengaruh
terhadap kestabilan emosi ibu hamil, terutama dari suami
2. Menyimak seputar informasi kehamilan. Berbagai informasi
tentang kehamilan dapat di peroleh dari
koran,televisi,majalah/tabloid,buku,dan lai sabagainya. Dengan
mengetahui seputar kehamilan yang terjadi,ibu dapat lebih tenang
menghadapi kehamilan. Ibupun menjadi tahu yang boleh dan yang
tidak boleh dilakukan.sebaliknya, jika tidak berupaya mencari tahu
perubahan pada dirinya,tidak mustahil akan timbul berbagai
perasaan yang mungkin saja sangat mengganggu kondisi psikis.
3. Menlakukan kontrol secara teratur Menyimak seputar informasi
kehamilan.. Kontrol kehamilan dapat dilakukan pada petugas
kesehatan seperti dokter dan bidan. Saat melakukan konsultasi,ibu
dapat bertanya tentang perubahan psikis yang di alami. Biasanya,
jika ibu perlu penanganan lebih serius, dokter atau bidan akan
menganjurkan ibu konsultasi ke psikolog agar dapat membantu
kestabilan emosinya.
4. Suami lebih perhatian pada istri. Prhatian yang di berikan oleh
suami dapat membangun kestabila emosi ibu. Misalnya, ibu dapat
meminta suami untuk menemaninya berkonsultasi ke dokter atau
bidan agar merasa lebih nyaman karena ada perhatian dari
pasangan.
5. Perhatikan kesehatan. Tubuh yang sehat akan lebih kuat
mengahadapi berbagai perubahan, termasuk perubahan psikis.
Kondisi ini bisa berwujud dengan berolahraga ringan dsan
memperhatikan asuhan gizi. Hindari mengonsumsi makanan yang
dapat membahayakan janin sepetri makanan yang mengandung zat-
zat adiktif, alkohol,rokok atau obat-obatan yang tidak di anjurkan
bagi kehamilan.
6. Tetap melakukan aktivitas. Sangat di ankurkan agar ibu mencari
aktivitas yang dapat meredakan gejolak perubahan psikis. Aktivitas
yang dapat di pilih misalnya jalan-jalan pagi hari atau main musik.
Ibu yang aktif di luar rumah umumnya dapat mengatasi berbagai
perubahan psikisnya dengan lebih baik.
7. Relaksasi. Jika ingin mendapatkan perasaan yang lebih rileks, ibu
dapat mendengarkan musik, belajar memusatkan perhatian sambil
mengatur nafas, dan teknik relaksasi lain.

2.3. PEMELIHARAAN KESEHATAN IBU HAMIL
 Pemeliharaan kesehatan ibu hamil
Kehamilan merupakan hal yang sangat diinginkan oleh suami istri
untuk melanjutkan keturunannya.Kehamilan merupakan proses fisiologis
yang akan dialami oleh wanita usia subur yang telah berhubungan
seksual.Dengan demikian kehamilan harus disambut dan dipersiapkan
sedemikian rupa agar dapat dilalui dengan aman.
Pemeliharaan kesehatan ibu hamil sangat penting untuk
kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan janin.Untuk itu setiap ibu
hamil harus memperhatikan kesehatanya.pemberian konseling oleh
petugas kesehatan diharapkan member dampak pada perubahan perilaku
ibu dan keluarga tentang hal yang berkaitan dengan kehamilan ibu.Hal ini
dapat dilakukan saat ibu datng kefasilitas kesehatan untuk memeriksakan
kehamilannya (asuhan antenatal) dan saat kunjungan rumah atau dikenal
dengan strategi pendekatan individual. Pemeriksaan kehamilan dilakukan
untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan janin serta kondisi ibu
selama masa kehamilan .
Dengan pemeriksaan rutin, gangguan yang terjadi pada masa
kehamilan dapat dideteksi. Kunjungan antenatal untuk pemantauan dan
pengawasan kesejahteraan ibu dan anak dilakukan minimal 4 kali selama
kehamilan. Untuk itu beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam masa
kehamilan antara lain sebagai berikut :
a) Kebutuhan nutrisi. Pada trimester 1 (saat usia kehamilan 1-3 bulan), hal
yang sering terjadi adalah penurunan berat badan akibat gangguan
seperti mual,muntah, dan pusing. Oleh karena itu, ibu hamil biasanya
dianjurkan makan dengan porsi kecil tapi sering dan bentuk makanan
kering atau tidak berkuah. Pada trimester 2, nafsu makan mulai
membaik,mengkonsumsi makanan 3 kali sehari, ditambah satu kali
makanan selingan. Anjurkan hidangan lauk pauk hewani seperti
telur,ikan,daging,ikan teri,dan hati. Jenis makanan ini sangat baik dan
bermanfaat mencegah kekurangan darah.Trimester 3,makanan harus
disesuaikan dengan keadaan berat badan ibu,jika ibu hamil
memmpunyai berat badan berlebih,makanan pokok dan tepung –
tepungan dikurangi. Anjurkan memperbanyak konsumsi sayur dan buah
– buahan segar untuk menghindri sembelit. Jika terjadi keracunan
kehamilan atau edema pada kaki hindari garam dapur dalam masakan
sehari-hari.
b) Kenaikan atau peningkatan berat badan. Berat badan sangat
menentukan kelangsungan kehamilan.kenaikan berat badan minimal
adalah 9 kg.kenaikan berat badan yang optimal berdampak baik pada
kehamilan maupun proses persalinannya.dengan berat badan yang ideal
pada ibu hamil,pertumbuhan janin pada umumnya berlangsung normal.
Komplikasi timbulnya gangguan kesehatan dan penyakit lain juga dapat
dihindari.kenaikan berat badan ibu hamil bergantung pada berat badan
ibu sebelum hamil yang dapat diketahui dengan menilai indeks massa
tubuh (body mass indek-BMI)
c) Aktivitas. Selama hamil,ibu hamil di upayakan untuk tidak melakukan
pekerjaan berat karena akan mempengaruhi kehamilan. Dianjurkan
banyak beristirahat,tidur malam 7-8 jam dan siang 1-2 jam.
d) Kebutuhan kalsium. Janin membutuhkan kalsium untuk membentuk
tulang. Ibu hamil harus minum susu dan kalsium. Jika tidak terpenuhi
hal ersebut dapat menggerogoti zat inti pada tulang ibu hamil.
e) Perawatan payudara dan kulit. Bekas peregangan (striae) yang terdapat
pada payudara dan perut merupakan sesuatu yang tidak dapat dilalaikan
dan merupakan cirri kehamilan. Jika peregangan kulit terasa
mengganggu,ibu dapat membalurkan lanolin atau minyak kelapa untuk
mengurangi kenyamanan . untuk persiapan menyusui,jika putting susu
tenggelam atau posisi tidak benar,ibu hamil dapat dipijat setiap hari
pada bulan terakhir dengan cara yang tepat.
f) Senam hamil. Senam hamil bukan keharusan , tetapi dapat bermanfaat
dalam membantu kelancaran proses persalinan antara lain : melatih
pernapasan,relaksasi,menguatkan otot panggul dan perut,serta melatih
cara mengejan yang benar.senam ini bertujuan mendorong dan melatih
organ jasmani dan rohani ibu secara bertahap agar dapat menghadapi
persalinan dengan tenang sehingga proses persalinan berjalan lancer
dan mudah.

 Pemeriksaan Kesehatan Ibu Hamil
WHO sejak tahun 1990 elah meluncurkan strategi Making
Pregnency Safer (MPS), yang salah satu programnya adalah menempatkan
safe motherhood sebagai prioritas utama dalam rencana pembangunan
nasional dan internasional. Salah satu upaya untuk menurunkan AKI
adalah melalui empat pilar safe motherhood dengan intervensi sebagai
berikut :
1) Mengurangi kemungkinan seorang perempuan menjadi hamil dengan
upaya KB.
2) Mengurangi kemungkinan seorang perempuan hamil mengalami
komplikasi obstetrik dalam kehamilan dan memastikan bahwa
komplikasi dideteksi sedini mungkin serta ditandai secara memadai
melalui pelyanan antenatal.
3) Persalinan yang bersih dan aman : memastikan bahwa semua penolong
persalinan mempunyai pengetahuan, keterampilan, dan alat untuk
menolong persalinan yang aman dan bersih,serta memberiakan
pelayanan nifas bagu ibu dan bayi.
4) Mengurangi kemungkinan komplikasi persalinan yang berakhir dengan
kematian atau kesakitan melalui PONES dan PONEK.
Kebijakan program kunjungan pemeriksaan kehamilan
dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan, sesuai dengan anjuran
WHO, yakni :
1. Satu kali pada trimester pertama
2. Satu kali pada trimester kedua
3. Dua kali pada trimester ketiga
Pelayanan atau asuhan standart yang dilakukan pada
pemeriksaan kehamilan adalah 7 T yaitu :
1. Timbang berat badan
2. Ukur tekanan darah
3. Ukur tinggi fundus uteri
4. Pemberian imunisasi TT lengkap
5. Pemberian tablet Fe selama kehamilan
6. Tes terhadap penyakit menular seksual
7. Temu wicara dalam rangka rujukan
Dalam upaya mempercepat penurunan AKI dan AKN, pada
tanggal 26 Januari 2012 Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan dr.
Ratna Rosita, MPHM telah meluncurkan program Expanding Maternal
and Neonatal Survival (EMAS). Program EMAS merupakan program
hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan lembaga donor
USAID, yang bertujuan untuk menurunkan AKI dan AKN di Indonesia
sebesar 25%. Untuk mencapai target tersebut, program EMAS akan
dilaksanakan di provinsi dan kabupaten dengan jumlah kematian yang
besar, yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa
Timur, dan Sulawesi Selatan, dimana pada tahun pertama akan
dilaksanakan pada 10 kabupaten.
Upaya penurunan AKI dan AKN melalui program EMAS akan
dilakukan dengan cara:
1. Meningkatkan kualitas pelayanan emergensi obstetri dan bayi baru
lahir minimal di 150 Rumah Sakit (PONEK) dan 300
Puskesmas/Balkesmas (PONED).
2. Memperkuat sistem rujukan yang efisien dan efektif antar
Puskesmas dan Rumah Sakit.
Dalam pelaksanaannya di lapangan, upaya tersebut dilakukan
dengan pendekatan “Vanguard”, yaitu :
1. Memilih dan memantapkan sekitar 30 RS dan 60 Puskesmas yang
sudah cukup kuat agar berjejaring dan dapat membimbing
jaringan Kabupaten yang lain.
2. Melibatkan RS/RB swasta untuk memperkuat jejaring sistem
rujukan di daerah.
Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan mengharapkan
agar program ini dapat berjalan dengan sukses dan pada akhirnya
nanti benar-benar dapat memberi dampak positif secara nasional
dalam percepatan pencapaian target MDGs 4 dan 5.

 Upaya konseling bagi ibu hamil
1. Harus makan dan minum lebih banyak dibanding saat tidak hamil.untuk
mencegah kurang darah/anemia.ibu hamil harus banyak makan sumber
zat besi,misalnya sayuran hijau tua,tempe,tahu,kacang hijau,kacang
merah,telur,ikan dan daging.Kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil > 11
g/dl.Penyebab utama anemia yang paling sering adalah karena
kekurangan zat besi.Kondisi puncak anemia sering terjadi pada
trimester II dan III.Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh kekurangan
asupan zaT,adanya infeksi parasit,dan interval kehamilan yang
pendek.Keadaan anemia yang sering kali menyebabkan ibu jatuh dalam
kondisi mudah lelah,kekuatan fisik menurun,timbul gejala
kasdiovaskuler,predisposisi infeksi,risiko kehilangan darah
peripartum,dan risiko gangguan penyembuhan luka.Bagi janin,kondisi
kekurangan zat besi hingga < 9 g/dl meningkatkan risiko persalianan
prematur,intrauterine growth retardation (IUGR),dan intrauterine fetal
death (IUFD).Plasentapun terkena imbasnya,yaitu dapat mengalami
hipoksia kronis dan angiogenesis.
2. Minum tablet tambah darah sekali sehari.Untuk mencegah gigi rapuh
dan tulang keropos.Ibu hamil harus mengomsumsi sumber zat
kapur,misalnya:kacang-kacangan ,ikan teri/ikan kecil tang dimakan
dengan tulangnya,dan sayuran daun hijau.
3. Anjurkan mengonsumsi vitamin A,kalium,dan fosfat,serta asam
folat.Vitamin A,berguna untuk ibu dan bayi sebagai imunomodulator
bagi kekebalan mukosa.Namun,pengunaannya tidak boleh terlalu
banyak,tidak boleh melebihi dosis yang telah direkomentasikan
petunjuk diet,yaitu > 15.000 IU/hari sebab kelebihan dosis dapat
meningkatkan risiko cacat bawaan janin.Kebutuhan kalium dan
fosforpada ibu hamil biasanya tidak meningkat.Namun,kebenaran hal
ini masih pro dan kontra.Kebutuhan asam folat pada wanita tidak hamil
adalah 100 mg/hari,sedangkan untuk wanita hamil adalah 500-1000
mg/hari.Kekurangan asam folat kurang dari 0,24 mg/hari pada
kehamilan < 28 minggu akan meningkatkan risiko cacat pada
janin,persalinan kurang bulan (prematur),dan berat bayi lahir rendah
seperti meningokel.Defesiensi asam folat juga mengganggu
pertumbuhan sistem saraf pusat.Jika terjadi gangguan pada hari ke-16
pascafertilisasi,maka dapat berdampak pada pembentukan kepala yang
terjadi pada hari ke-22 hingga 26 sehingga dapat terjadi anensefali (bayi
tanpa tempurung kepala dan otak).Selain itu,dapat berdampak pula pada
gangguan pembentukan tulang belakang sehingga janin menderita spina
bifida.Ibu hamil yang pernah melahirkan bayi dengan kelainan saraf
pusat dianjurkan untuk mengonsumsi asam folat dengan dosis 4.000 mg
(4 mg/hari),mulai 1 bulan sebelum hamil sampai dengan usia kehamilan
3 bulan.Rekomendasi yang dianjurkan CDC 1992 terbagi dalam dosis
profilaksis berikut.Untuk wanita usia reproduksi 0,4 mg/hari,mulai 1
bulan sebelum rencana kehamilan sampai dengan trimester
pertama.Asam folat banyak terdapat pada kacang-kacangan dan buah-
buahan.Namun,dalam makanan ini asam folat terbentuk pliglutamat
bersifat tidak stabil.Suplemen asam folat terbentuk monoglutamat lebih
stabil.
4. Kenali gejala anemia (kurang darah) selama kehamilan,yaitu
pucat,pusing,lemah,dan pengelihatan berkunang-kunang.Selama
hamil,dianjurkan mengonsumsi beraneka ragam makanan dalam jumlah
cukup.Jika nafsu makan kurang,konsumsi makanan yang
menyegarkan,seperti buah-buahan,sari buah,dan sayur bening.
5. Hindari pantangan terhadap makanan.
6. Hindari merokok dan mengonsumsi minuman keras karena
membahayakan kesehatan atau keselamatan ibu dan janin.
Selain itu beberapa hal yang harus dihindari untuk menjaga
kesehatan janin pada ibu hamil.
1) Bekerja terlalu keras dan tidak cukup istirahat.
2) Minum obat sembarangan kecuali dengan resep dokter.
3) Pijat perut.
4) Berada disekitar anak-anak penderita cacar.
5) Bekerja dengan dan menghirup pestisida,herbisida,atau bahan kimia
lainnya.
6) Makan terlalu sedikit dengan menu tanpa variasi.
 Upaya awal yang dapat dilakukan,jika mengalami masalah ringan selama
kehamilan.
1. Mual atau muntah diatas dengan makan dalam porsi kecil tapi teratur
walaupun ibu merasa tidak nafsu makan.Jika masih berlanjut,bidan
mungkin bisa memberi obat.
2. Jika merasakan panas atau terbakar dilambung atau rongga dada (asam
lambung dan dada sesak),makanlah dalam porsi kecil sampai habis dan
banyak minum air.Bidan mungkin bisa memberi obat yang aman untuk
mengurangi gejala.
3. Istirahat dengan kaki diangkat selama beberapa kali dalam sehari unruk
mengatasi bengkak pada kaki.Makan secara teratur dan kurangi makanan
bergaram tinggi seperti mie instan.Jika kaki sangat bengkak,diikuti
pembengkakan tangan dan wajah,segera pergi berobat.
4. Sakit pnggung diatasi dengan olahraga serta sikap duduk dan berdiri
tegak.
5. Ibu yang terlalu kurus,pucat,dan lemah harus diupayakan makan lebih
banyak berserta lauk pauk seperti ercis,kacang-kacangan,daging
ayam,susu,telur,daging merah,ikan,dan sayuran warna hijau tua.Minum
kapsul zat besi setiap hari.
6. Jika mengalami sembelit,minum banyak air kurang lebih 6-8 gelas sehari
dan banyak makan buah,sayuran,dan ubi,serta banyak olahraga.

2.4 RUJUKAN
Rujukan dalam pelayanan kebidanan adalah sebagai tindakan
pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus atau masalah kebidanan
yang timbul baik secara vertikal (dari satu unit ke unit yang lebih lengkap
/Rumah Sakit) maupun horizontal (dari satu bagian ke bagian lain dalam satu
unit) (Muchtar, 1977).
Rujukan dapat dilakukan bidan ke Puskesmas dengan fasilitas riwayat
inap, rumah sakit bersalin, dan rumah sakit umum. Bidan harus mempunyai
informasi tentang pelayanan yang tersedia di tempat rujukan, ketersediaan
pelayanan purna waktu, biaya pelayanan dan waktu serta jarak tempuh ke
tempat rujukan. Salah satu hal faktor pendukung kematian ibu adalah adanya
3 keterlambatan yaitu keterlambatan memutuskan untuk merujuk, terlambat
sampai ke tempat rujukan, dan terlambat ditangani di tempat rujukan.
Tujuan rujukan antara lain :
1. Setiap penderita mendapat perawatan dan pertolongan yang sebaik-
baiknya.
2. Menjalin kerjasama dengan cara pengiriman penderita atau bahan
laboratorium dari unit yang kurang lengkap ke unit yang lengkap
fasilitasnya.
3. Menjalin pelimpahan pengetahuan dan keterampilan (transfer knowledge
and skill) melalui pendidikan dan latihan antara pusat pendidikan dan
daerah perifer (Muchtar, 1977).
4. Memberikan pelayanan kesehatan pada penderita dengan tepat dan cepat
5. Menggunakan fasilitas kesehatan seefisien mungkin
6. Mengadakan pembagian tugas pelayanan kesehatan pada unit-unit
kesehatan, sesuai dengan lokasi dan kemampuan unit-unit tersebut

A. Rujukan dan Pelayanan Kebidanan
Kegiatan ini antara lain berupa :
1) Pengiriman orang sakit dari unit kesehatan kurang lengkap ke unit yang
lebih lengkap.
2) Rujukan kasus-kasus patologik pada kehamilan, persalinan, dan nifas
3) Pengiriman kasus masalah reproduksi manusia lainnya, seperti kasus-
kasus ginekologi atau kontrasepsi yang memerlukan penanganan
spesialis.
4) Pengiriman bahan untuk pemeriksaan laboratorium dari unit kesehatan
yang kecil ke unit kesehatan yang lebih mampu dam pengiriman hasil
kembali kepada unit kesehatan yang mengiriminya.

B. Pelimpahan Pengetahuan dan Keterampilan
Kegiatan ini antara lain :
1. Pengiriman tenaga-tenaga ahli ke daerah perifer untuk memberikan
pengetahuan dan keterampilan melalui ceramah, konsultasi penderita,
diskusi kasus, dan demonstrasi.
2. Pengiriman petugas pelayanan kesehatan daerah ke rumah sakit yang
lebih lengkap dengan tujuan menambah pengetahuan dan keterampilan.

C. Rujukan Informasi Medis
Kegiatan ini antara lain berupa :
1. Membalas secara lengkap data-data medis penderita yang dikirim dan
advis rehabilitas kepada unit yang mengirim.
2. Menjalin kerjasama pelaporan data-data medis (Muchtar, 1977).
Dalam membina sistem rujukan ini, perlu ditentukan beberapa hal :
a. Regionalisasi adalah pembagian wilayah sistem rujukan. Pembagian
wilayah ini didasarkan atas pembagian wilayah secara administratif,
tetapi perlu didasarkan atas lokasi atau mudahnya sistem rujukan itu
dicapai. Hal itu menjaga agar pusat sistem rujukan mendapat arus
penderita secara merata.
b. Penyaringan (Screening) oleh tiap tingkat unit kesehatan. Tiap tingkat
unit kesehatan diharapkan melakukan penyaringan terhadap penderita
yang hendak dislaurkan ke dalam sistem rujukan. Penderita yang dapat
dilayani oleh unit kesehatan tersebut tidak perlu dikirim ke unit lain
yang lebih mampu.
c. Kemampuan unit kesehatan tergantung pada macam petugas dan
peralatannya. Walaupun demikian, diharapkan mereka dapat melakukan
keterampilan-keterampilan tertentu. Khususnya dalam perawatan ibu
dijabarkan keterampilan yang masing-masing diharapkan dari unit
kesehatan, beserta petugasnya.
Ketimpangan yang sering terjadi di masyarakat awam Indonesia
adalah pemahaman tentang alur rujukan ini sangat rendah sehingga
sebagian mereka tidak mendapatkan pelayanan yang sebagaimana
mestinya. Masyarakat kebanyakan cenderung mengakses pelayanan
kesehatant terdekat atau mungkin paling murah tanpa mempedulikan
kompetensi institusi ataupun operator yang memberikan pelayanan. Hal
ini merupakan salah satu akibat tidak berjalannya sistem kesehatan di
Indonesia.
Pelaksanaan sistem rujukan di Indonesia telah diatur dengan
bentuk bertingkat atau berjenjang, yaitu pelayanan kesehatan tingkat
pertama, kedua, dan ketiga, dimana dalam pelaksanaannya tidak berdiri
sendiri-sendiri, namun berada di suatu sistem dan saling berhubungan.
Apabila pelayanan kesehatan primer tidak dapat melakukan tindakan
medis tingkat primer, maka tanggung jawab diserahkan ke tingkat
pelayanan di atasnya, demikian seterusnya.
Apabila seluruh faktor pendukung (pemerintah, teknologi,
transportasi) terpenuhi maka proses ini akan berjalan dengan baik dan
masyarakat awam akan segera tertangani dengan tepat. Sebuah
penelitian yang meneliti tentang sistem rujukan menyatakan bahwa
beberapa hal yang dapat menyebabkan kegagalan proses rujukan adalah
tidak ada keterlibatan pihak tertentu yang seharusnya terkait,
keterbatasan sarana, tidak ada dukungan peraturan.
Hasil penelitian Murray dan Pearson bahwa penerapan sistem
rujukan merupakan elemen penting dalam menyukseskan program Safe
Motherhood di negara-negara berkembang. Sistem rujukan harus
dipertimbangkan sebagai komponen penting dari sistem kesehatan
secara keseluruhan. Dengan demikian, sistem rujukan obstetri dapat
digunakan sebagai tolok ukur dalam menilai sistem pelayanan
kesehatan ibu. Agar sistem rujukan maternal dapat berjalan dengan
baik, dibutuhkan penyusunan strategi rujukan sesuai dengan sistem
kesehatan dan kondisi masyarakat setempat.
Faktor-faktor penyebab rujukan antara lain :
a. Riwayat bedah sesar
b. Perdarahan pervaginam
c. Persalinan kurang bulan
d. Ketuban pecah disertai dengan mekonium yang pecah
e. Ketuban pecah lebih dari 24 jam
f. Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan
g. Ikterus
h. Anemia berat
i. Tanda /gejala infeksi
j. Pre-eklampsia /Hipertensi dalam kehamilan
k. Tinggi fundus 40 cm/lebih
l. Gawat janin
m. Primapara dalam fase aktif kala I persalinan dan kepala janin masuk
5/5
n. Presentasi bukan belakang kepala
o. Presentasi ganda (mejemuk)
p. Kehamilan ganda (gemelli)
q. Tali pusat menumbung
r. Syok
Persalinan Normal 2007

Related Interests