Garis Cahaya Bulan...

Post: 01/12/2006 Disimak: 183 kali

Cerpen: Yanusa Nugroho

Sumber: Kompas, Edisi 01/08/2006

Sorga itu ada di sini. Kalau kau tak percaya, sesekali datanglah ke

mari. Kau akan melihat dan merasakannya sendiri. Aku yakin, kau akan

mengatakannya sebagaimana aku mengatakannya padamu.

Ya, sorga itu ada di sini. Di pinggiran kali berwarna cokelat, dengan

rumah rumah kardus atau tripleks, dihiasi jemuran pakaian lusuh di

sana sini, melambai lambai ditiup angin.

Aku sendiri tak mengerti, bagaimana mungkin bisa sampai di tempat

ini. Hampir tiga hari aku berjalan, mengendap endap, melirik kalau

kalau ada sepasang mata yang mengikutiku. Hampir tiga hari ini semua

kulakukan dan ... ya, sebagaimana yang kukatakan tadi, aku menemukan

sorga itu di sini.

Hidup inilah yang memilih kita. Jangan dibalik, kita tak pernah bisa

memilih hidup kita. Jangankan hidup, lahir di rahim siapa pun, kita

tak pernah bisa memilih. Kita ditentukan, dan manakala kau mengeluh,

atas apa yang kau dapatkan, itu pun tak sepenuhnya salah. Tapi,

siapakah yang akan membelamu jika kau mengeluh dan mempertanyakan

keadilan? Tidak ada. Tak seorang pun. Oleh karenanya, kawan, lebih
baik nikmati sebatang rokok kehidupan ini, tanpa mempersalahkan siapa

pun.

Hujan yang turun, di tengah panas terik, sudah biasa terjadi. Tak ada

yang aneh di sana. Mungkin dulu sebagai pertanda akan adanya musibah,

tetapi saat ini, apakah yang tak bisa kita sebut musibah?

Perintah itu datang begitu saja. Dan dengan enaknya, perintah itu

bertengger di pundakku. Begitu saja. Dialah yang memilihku. Apakah aku

bisa mengelak? Tidak. Aku tidak bisa mengelak, karena semua sudah ada

yang mengatur. Mengelak berarti melompat dari rel, dan melompat dari

rel berarti hancur. Aku tak mau hancur. Usiaku masih belum tiga puluh

tahun. Aku masih bisa membangun hidupku. Aku tak mau mati sia sia,

konyol dan tak sempat melakukan sesuatu; menziarahi kubur ibuku,

misalnya.

Aku harus menjalankan semua yang diperintahkan, persis sama dengan

instruksi yang tertulis di lembaran kertas bersegel itu. Jika tugasku

selesai, maka 50 persen fee yang disebutkan di kontrak itu langsung

diguyurkan ke rekeningku. Ah, mudah sekali mendapatkan uang banyak.

Ikuti perintah, dan semuanya beres.

Tunggu dulu, jangan kau pikir aku akan membunuh seseorang. Tidak. Itu

pekerjaan kotor. Aku tak akan membiarkan tanganku berlumuran darah.

Menjijikkan. Maaf, mungkin aku memang kau kenal sebagai bajingan,
tetapi... aku bukan pembunuh. Jangan salah, aku bisa membunuh, kalau

aku mau, tetapi, tidak kali ini.

Tugasku sederhana saja: mengikuti ke mana perginya seorang bayi.

Gampang, bukan? Ha ha ha... kau salah sama sekali. Sekali ini,

kukatakan padamu bahwa kau sedikit bodoh. Ah, maaf terlalu kasar

kalimatku. Begini saja, kau sedikit lebih pintar daripada keledai...

ha ha ha ha....

Bayi. Bayi merah. Bayi merah yang baru saja dilahirkan di rumah besar

itu (maaf, aku harus merahasiakan orang yang memberiku kehidupan).

Bayi itu, sebagaimana mungkin yang kau dugakali ini kau jeniusadalah

hasil madu gelap antara nyonya rumah dan kekasihnya. Jangan kau

tanyakan siapa merekatak penting, dan aku tak bernafsu menceritakan

aib orang lain.

Yang penting bayi itu lahir dan harus menyingkir, karena si tuan

rumah yang sudah lebih dari setahun tak pulang pulang itu, mendadak

akan pulang. Bayi yang cantik, bersih dan menawan hati, tetapi tak

diinginkan kehadirannya di rumah besar itu.

Beberapa orang kepercayaan si nyonya rumah yang umurnya baru 23 tahun

itu, menasihati agar anak itu diberikan pada orang lain saja. Tetapi

nyonya rumah hanya menggeleng. Tentu saja dia tak ingin aibnya

ketahuan suaminya, karena dia bisa saja dicerai dan kembali hidup
sebagai orang miskin. Hmm... pandangan yang wajar saja, kurasa.

Salah seorang, entah siapa, tiba tiba teringat akan kisah Musaah,

terlalu religius kurasa, dia. Belum selesai dia berkata, seorang yang

lain menyambungnya dengan kisah Karnaanak Kunti di Mahabarata itu.

Jujur saja, aku muak, tetapi bukan urusanku mempertimbangkan semua

itu.

Maka, demikianlah. Bayi itu kubungkus dengan kotak kayu yang lumayan

jelek, tentu saja aku selimuti, kuberikan sebotol susu, lalu aku

letakkan di sudut jalan. Dari jarak tertentu aku mengawasinya. Aku

khawatir bayi itu dimakan anjing. Kalau aku mau, bayi itu bisa saja

kulempar ke sungai dan mengatakan pada nyonya sialan itu bahwa anaknya

sudah dipungut orang, dan semoga saja dia berbahagia selamanya.

Tetapi, entah mengapa aku tidak bisa melakukan itu. Ada sesuatu yang

mencegahku melakukan pembunuhan. Sesaat sebelum kutinggalkan dia di

sudut jalan itu, aku sempat mengamati wajahnya yang jernih. Tidur

lelap tanpa perasaan apa apa.

Sepi sekali di sekitarku. Hening sekali perasaanku. Siapakah aku,

jika mau melakukan perbuatan sejahat itu pada bayi yang bahkan belum

bisa melihat apa apa itu?

Kau tentu berpikir, mengapa tak kupelihara saja bayi ituOoo...
tidak, tidak.. aku tak ingin menjadi juru rawat. Umurku masih belum

tiga puluh, bayangkan jika itu terjadi dan ... ah, sudahlah, jangan

pernah berpikir tentang itu padaku.

Begitulah, baru saja rokok hendak kunyalakan, ekor mataku menangkap

seseorang dengan keranjang di punggung, jongkok di kotak bayi itu.

Kuhentikan semua kegiatanku dan mulai menyimak apa yang akan terjadi.

Bisa jadi dia orang gila, yang akan membunuh bayi tak berdosa itu.

Bisa jadi dia merasa menemukan daging gratis dan akan membuat bayi itu

sepotong daging rebus untuk makan malam. Semua itu mungkin bagiku. Aku

tahu apa yang akan kuhadapi. Kalau itu yang akan terjadi, maka sebutir

timah panas ini akan membuatnya gelap selama lamanya.

Bayi itu dipungutnya. Digendongnya dengan sukacita. Dia menoleh ke

kanan ke kiri dan rupanya tak melihat siapa siapa, kecuali gelandangan

mabok yang bersandar di bangku taman. Dari sana, dibawanya bayi itu ke

sarangnya. Dan akumau tak mau, mengikutinya dari jarak tertentu.

Dengan pakaian kumuh dan wig sialan ini (bikin gatal kepalaku), juga

kantung kantung plastik yang kujadikan hiasan tubuhku ini, lengkaplah

kegilaanku mengikuti ke mana si bayi dibawa.

Si bodoh itu tak menyadari juga kehadiranku. Dia tiba di gubuknya, di

pinggiran kali ini, tepat ketika matahari tenggelam. Aku duduk di

antara sampah dan bau busuk, hanya untuk menyelidiki apa yang akan

terjadi di gubuk kardus dan tripleks itu.
Kubayangkan, besok pagi dia akan digendong oleh istri gembel busuk

itu, lalu dibawanya ke perempatan jalan untuk memeras belas kasihan

manusia manusia bermobil itu. Atau, lebih buruk lagi, bayi itu akan

disewakannya kepada perempuan lain, untuk pemerasan yang sama. Tidak,

sebaiknya mereka tidak merencanakan itu, karena jika sampai itu

terjadibila malam ini kudengar kata kata itu, akan kuhabisi mereka

semuanya.

Aku tersentak oleh gelak tawa dari gubuk itu. Tidak hanya laki laki,

tetapi juga perempuan... dan anak anak. Mereka gembira. Mereka

bahagia, bahkan kudengar mereka berebutan memberi nama pada si mungil.

Tangisan si kecil membuat mereka kian bahagia. Sempat kudengar ada

suara anak kecil, bahkan lidahnya belum fasih mengucapkan r , mencoba

menguasai keadaan dengan teriakannya yang lantang, bahwa dialah yang

paling berhak memberi nama si adik kecil.

Adik? Aku tersenyum di tengah sampah. Bulan di atas sana membulat

putih, bagai piring perak, membentuk garus garis cahaya di permukaan

daun, air, gedung, bahkan sampah. Sejenak terlintas ingin melongok ke

gubuk itu, penasaran apa yang terjadi di sana. Tetapi, tentu saja

kuurungkan, karena itu akan mengganggu kegembiraan mereka.

Pagi itu, aku duduk di ruang tunggu. Lantai marmer menelanku dalam

kesendirian. Kopi sudah separo kuhirup. Aku hanya melaporkan apa yang
terjadi dan selesailah semuanya.

Detak sepatu mengisi sunyiku. Asisten si nyonya datang. Tanpa bicara

dia menatapku. Aku pun tahu, lalu menyebut siapa dan di mana bayi itu

kini berada. Ada senyum tersudut di bibir. Begitu tajam rasanya di

mataku. Entah mengapa aku muak melihatnya begitu. Siapakah dia yang

mampu tersenyum setajam itu.

Aku beranjak, setelah menerima sesuatu.

... semoga sudah masuk hari ini, ucapnya dingin tentang sisa fee

yang akan kuterima. Aku tak peduli. Aku mulai gelisah karena amplop

itu berarti tugas lagi.

Malam ini, masih bisa kusaksikan bulan purnama. Bulat penuh.

Bercahaya penuh. Langit tanpa awan, bersih. Aku membayangkan bayi itu

tengah disusui ibu angkatnyaseorang perempuan yang mungkin sudah

punya anak tiga atau empat. Seorang perempuan yang bersuamikan

gelandangan. Seorang perempuan yang tak mampu menentukan nasib, dan

tergilas zaman, teronggok di balik gubuk tripleks di tengah sampah.

Tetapi, dengan semuanya, dia masih memiliki kasih sayang, yang saat

ini digelimangkan kepada si bayi merah itu.

Siapakah orang orang itu? Aku bahkan tak mengenalnya. Hidupku

membuatku harus tak mengenal wajah siapa pun, karena memang tak
penting. Hidupku membuatku harus terbebas dari segala ikatan.

Kubayangkan, betapa bahagianya si kecil itu. Dia memiliki keluarga.

Dia dilahirkan dari rahim yang tak menghendakinya, yang menganggapnya

ancaman, kesialan, namun dia akan dibesarkan oleh kegembiraan yang

tulus dari penghuni rumah tripleks itu.

Yang aneh, mengapa semuanya harus kusaksikan? Tak pernah terbayangkan

bahwa ini adalah sebuah kisah yang harus kujalani. Kujalani? Bukankah

ini sebetulnya kisah si bayi? Mengapa aku merasa terlibat? Mengapa dia

mampu membagi dan aku sanggup merasakan kebahagiaan bayi itu? Aku

belum pernah mengalami hal semacam ini.

Tidak. Tidak mungkin. Ruang apartemenku harum. Lampu penerangnya

kuatur dengan komputer. Aku mampu menikmati apa pun yang kuinginkan,

jadi tak mungkinseharusnyaaku menyisakan ruang untuk orang lain.

Tetapi, ah, wajahnya, tangisnya, dan tiba tiba aku menilai bahwa

nasibnya sunguh aneh.

Ini aneh, karena aku bisa menilai keanehan yang menimpa orang lain.

Aku terbangun oleh dering telepon. Kepalaku masih berat. Sekilas

kulihat beberapa botol minuman menganga, tergeletak di meja dan di

karpet. Alkohol menebar. Aku tak bisa melupakan hantu yang mulai

menerjang hidupku. Apalagi ketika pembicaraan dari telepon terdengar,
kepalaku rasanya mau pecah.

Aku banting telepon itu. Masih terngiang sisa ucapan seseorang dari

seberang sana. Dia tertawa penuh kemenangan, karena meskipun aku

menolaknyaini aneh sekali, aku bisa menolak permintaan, kali

iniorang lain tetap melakukan tugas itu. Dan sudah terlaksana.

Sudahlah, kau tak akan mengerti apa yang terjadi dengan hidupku.

Maafkan, mungkin aku memang tak bisa menguraikannya secara detail,

karena mungkin memang tak ada gunanya bagimu.

Aku duduk di tengah sampah ini, di pinggiran kali ini. Sunyi. Gelap.

Dan seperti kataku, ini adalah sorga. Di tempat ini melimpah

kebahagiaan. Di tempat ini, bergelimang kasih sayang dan gelak tawa

yang tulus. Aku pernah menyaksikannya, merasakannya dan karenanya aku

berani mengatakan padamu bahwa inilah sorga itu.

Kurebahkan diriku di sisa sampah yang harum ini. Aroma sangit

pembakaran. Kubayangkan bulan. Kutanyakan apa yang disaksikannya di

sini, kemarin malam. Kurasa dia tak akan sanggup menceritakannya. Ya,

kemarin malam, di sini, di pinggiran kali ini, semua penghuni gubuk

merayakan pesta. Mereka menyaksikan bunga api yang sangat besar,

menjilat dan menari nari di rumah rumah mereka. Bantaran kali ini akan

dijadikan taman rekreasi yang indah. Semua sampah harus dibersihkan.
Semua sampah harus dibersihkan, dan kini menyisakan kesepian yang

menusukku.

Kapan kapan, jika kau ada waktu, cobalah ke tempat ini.

Ini sorga, dulu.

Bukit Nusa Indah, 982

Related Interests