KATA SAMBUTAN

Rumah Sakit sebagai suatu tempat perawatan pasien dan wahana yang relatif terhadap
bahaya Infeksi Nosokomial.

Banyak pihak-pihak yang sehari-hari terlibat langsung dengan kegiatan operasional
Rumah Sakit dan tidak memiliki pengalaman serta pengetahuan yang cukup tentang pencegahan
dan pengendalian infeksi.

Buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit merupakan bukti
keseriusan Rumah Sakit Mediros dalam memandang masalah infeksi Nosokomial sebagai suatu
aspek penting keberhasilan pengelolaan dan mutu daripada suatu Rumah Sakit.

Semoga buku Pedoman dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit ini memberikan manfaat
bagi kita semua. Kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan buku ini kami atas nama
Manajemen Rumah Sakit Mediros mengucapkan terima kasih.

Ketua Komite PPIRS

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Kuasa, bilamana saat ini Komite Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Mediros telah dapat merampungkan Buku Pedoman
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit.

Tujuan pembuatan Buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit
adalah dalam rangka memenuhi salah satu tugas dan fungsi Komite Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Mediros sesuai ketetapan Surat Keputusan Direktur.

Pedoman Pencegahan dan Pengedalian Infeksi Rumah Sakit Mediros dibuat untuk
peningkatan mutu Rumah Sakit dan efisiensi pelayanan terhadap keamanan dan keselamatan
pasien sesuai dengan visi dan misi Rumah Sakit Mediros yang ingin menjadi terdepan dalam
memberikan pelayanan kesehatan dengan mengutamakan promosi kesehatan dan keamanan serta
keselamatan pasien.

Dengan terbitnya Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Mediros
diharapkan kegiatan-kegiatan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Mediros dapat
dilaksanakan serta lebih efektif dan efisien serta menjadi bagian yang terkait dengan unit-unit
kerja lain di lingkungan Rumah Sakit Mediros.

Akhir kata, kami Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Mediros
berharap Pedoman ini dapat berguna bagi seluruh petugas medis dan non medis yang bekerja di
lingkungan Rumah Sakit Mediros sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik
bagi pasien, pengunjung dan masyarakat sekitar Rumah Sakit Mediros. Kami menyadari
sepenuhnya bahwa Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Mediros masih
perlu penyempurnaan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
pengembangan fasilitas dan sarana kesehatan yang terdapat di Rumah Sakit Mediros, untuk itu
saran dan masukan yang membangun sangat kami harapkan.

Jakarta, ……………… 2015

Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

Rumah Sakit Mediros

TIM PENYUSUN

BUKU PEDOMAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI

RUMAH SAKIT MEDIROS

Penasehat : Direktur Rumah Sakit Mediros

Penanggung jawab : Ketua Komite PPIRS Mediros

Tim Penyusun : IPCN (Infection Prevention Control Nurse)

……/BP/DIR-RSM/…. SK Menkes No. Bahwa rumah sakit sebagai salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dan memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. 382/Menkes/SK/III/2007 tentang Pedoman Manajerial PPI di RS dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lainnya. SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR No.b dan c. 129/Menkes/SK/III/2008 tentang SPM RS . maka diperlukan Surat Keputusan Direktur diberlakukannya Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Mediros. d. b. b. TENTANG PEMBERLAKUAN BUKU PEDOMAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI RUMAH SAKIT MEDIROS DIREKTUR RUMAH SAKIT MEDIROS MENIMBANG : a.. Bahwa sehubungan dengan butir a. Bahwa untuk itu telah disusun buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Mediros sebagai Pedoman dalam pencegahan dan pengendalian infeksi dilingkungan Rumah Sakit Mediros. SK Menkes No. 270/Menkes/SK/III/2007 tentang Pedoman Manajerial PPI di RS dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan. c. MENGINGAT : a. SK Menkes No. khususnya pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan diperlukan suatu pedoman. c. Bahwa dalam rangka mendukung pelaksanaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan professional.

KEEMPAT : Surat Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan./Menkes/SK/X/2004 tentang KARS e. maka akan diperbaiki sebagaimana mestinya. Undang-Undang RI No. d. g. Undang-Undang RI No. SK Menkes 1165. f.03.01/III/3744/08 tentang Pembentukan Komite PPI RS dan Tim PPI RS.HK. Apabila dikemudian hari terdapat perubahan dalam keputusan ini. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.A. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. SE Dirjen Bina Yanmed No. KETIGA : Evaluasi Buku Pedoman ini harus dilakukan setiap 3 tahun sekali. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : ………………… 2015 Direktur . \ MEMUTUSKAN MENETAPKAN PERTAMA : Pemberlakuan Buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Mediros KEDUA : Seluruh kegiatan tentang pencegahan dan pengendalian infeksi di Rumah Sakit Mediros berpedoman kepada Buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Mediros.

 Kebersihan Tangan………………………………………………………………………. Pendahuluan……………………………………………………………………………………... Bab IV Kebersihan Tangan……………………………………………………………………... Bab I Struktur Organisasi……………………………………………………………………….. staf keperawatan dan penunjang medis dalam Pengendalian Infeksi Nosokomial………………………………………………………………………………  Pendidikan untuk Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial.  Uraian Tugas…………………………………………………………………………….. DAFTAR ISI Hal Kata Pengantar………………………………………………………………………………….. Bab V Pedoman Penggunaan Antibiotika……………………………………………………… .....  Ketentuan staf medis.... Bab II Penatalaksanaan Pengendalian Infeksi Nosokomial……………………………………. karyawan baru dan karyawan tetap tentang Pengendalian Infeksi Nosokomial……………………  Infeksi Nosokomial……………………………………………………………………. Daftar Isi……………………………………………………………………………………….......  Handrup Antiseptik berbasis Alkohol……………………………………………………  Upaya meningkatkan Kebersihan Tangan……………………………………………….  Tindakan-tindakan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi………………………………  Perawatan Isolasi…………………………………………………………………………  Prinsip Pencegahan Penularan Infeksi…………………………………………………..  Jenis-jenis Infeksi Nosokomial…………………………………………………………....  Pengorganisasian Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (KPPI)……………..  Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga Kebersihan Jari Tangan………………  Jenis-jenis Kebersihan Tangan…………………………………………………………..  Dasar Hukum……………………………………………………………………………....  Pengendalian Infeksi Nosokomial………………………………………………………. Bab III Prinsip dasar Pencegahan dan Pengendalian Infeksi…………………………………..

 Prinsip Penggunaan Antibiotika……………………………………………………….  Pedoman Cleaning Lingkungan…………………………………………………………… PENDAHULUAN I..  Sepsis……………………………………………………………………………………. Berdasarkan penyebabnya maka kejadian Infeksi Nosokomial secara potensial dapat dicegah atau diturunkan angka kejadiannya... Bab IX Kebersihan Ruang Perawatan…………………………………………………………….. Bab VI Surveilans………………………………………………………………………………. Bab VII Pengelolaan Sampah……………………………………………………………………  Pendahuluan………………………………………………………………………………  Pengelolaan dan Pembuangan Sampah……………………………………………………  Pembuangan Sampah Berbahaya………………………………………………………….  Metode Sterilisasi………………………………………………………………………….  Standar Pembersihan Ruangan Rawat………………………………………………….  Proses Dekontaminasi……………………………………………………………………..  Desinfeksi Alat-alat dan Perlengkapan Bedah……………………………………………. Gambaran Infeksi Nosokomial di Indonesia hingga saat ini belum . Bab VIII Pemrosesan Alat dan Linen……………………………………………………………..... Infeksi Nosokomial dapat disebabkan oleh bakteri yang berada dilingkungan Rumah Sakit atau oleh bakteri yang berasal dari pasien sendiri.  Pemberian Antibiotika…………………………………………………………………..  Pedoman Pemberian Antibiotika di unit Perawatan Intensif……………………………  Algoritme Pemberian Antibiotika pada HAP/VAP…………………………………….  Penanganan Linen…………………………………………………………………………. Latar Belakang HAIs ( Healthcare Association Infection ) atau lebih sering dikenal dengan Infeksi Nosokomial adalah infeksi yang didapat atau ditimbulkan pada waktu pasien dirawat.  Persiapan dan Penggunaan Desinfektan Kimia untuk Sterilisasi atau Desinfeksi Tingkat Tinggi (High Level Desinfectants/HLD)…………………………………………………...

maka perlu ditingkatkan Pengendalian Infeksi Nosokomial dan kesehatan lingkungan. Infeksi Aliran Darah Primer (IADP) 26. Setiap karyawan Rumah Sakit Mediros berhak mendapatkan perlindungan dan wajib ikut mencegah terjadinya Infeksi Nosokomial. Dr. Penyakit infeksi yang baru ini termasuk SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). 3. Falsafah. penyakit Meningokokus. Pnuemonia 24.9%.1% serta Infeksi lain 32. melalui persiapan menghadapi pandemik flu burung.4%. Dengan latar belakang tersebut.1%. Dunia telah menyepakati bahwa masalah-masalah kesehatan yang telah menjadi isu global seperti flu burung harus diatasi bersama. 2. pasien dan pengunjung. Kegiatan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit merupakan suatu kewajiban untuk dilaksanakan. Flu Burung dan lain-lainnya. Hal lain ini juga menjadi perhatian adalah isu mengenai munculnya penyakit infeksi yang baru atau Emergency Infectious Diseases yang timbul sejak beberapa tahun belakangan ini. II. Rumah Sakit perlu mempersiapkan diri menghadapi pandemik penyakit infeksi dengan meningkatkan upaya Pencegahan dan Pengendalian Infeksi sehingga dapat melindungi tenaga kesehatan. Sehubungan dengan besarnya masalah dan akibat Infeksi Nosokomial yang ditimbulkan.1%. begitu jelas karena penanganan secra nasional baru saja dimulai. Sulianti Saroso Jakarta tahun 2003 didapatkan angka Infeksi Nosokomial untuk Infeksi Luka Operasi (ILO) 18. Setiap pasien berhak mendapatkan perlindungan terhadap infeksi yang berada di lingkungan Rumah Sakit. Tujuan Visi dan Misi Karyawan Rumah Sakit Mediros berkeyakinan bahwa: 1.5% dan Infeksi Saluran Napas lain 15. Hasil survey point prevalensi dari 11 Rumah Sakit di DKI Jakarta yang dilakukan oleh Perdalin Jaya dan Rumah Sakit Penyakit Infeksi Ptof. Tujuan Umum : . Infeksi Saluran Kemih (ISK) 15. Sasaran yang ingin dicapai melalui Pengendalian Infeksi Nosokomial adalah peningkatan mutu Rumah Sakit dan efisiensi pelayanan terhadap keamanan dan keselamatan pasien.

Misi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi dilaksanakan secara konsekuen sesuai standar pedoman yang ditetapkan sehingga menunjang tercapainya visi Rumah Sakit Mediros.  Memperbaiki Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit Mediros berdasarkan hasil riset dan survey.  Melaksanakan Program Pengendalian Infeksi Nosokomial dan Pencegahan penyakit menular di lingkungan Rumah Sakit dan masyarakat sesuai Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit yang ditetapkan Rumah Sakit Mediros yang disusun berdasarkan Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit oleh Departemen Kesehatan RI.  Menciptakan kondisi lingkungan Rumah Sakit yang memenuhi persyaratan agar menjamin Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial sehingga dapat melindungi pasien dan pengunjung serta tenaga kesehatan dari penularan penyakit Infeksi Nosokomial atau penyakit menular yang mungkin timbul. III. Visi Seluruh karyawan Rumah Sakit Mediros yang terkait dengan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi diikutkan dalam proses dan harus menyadari pentingnya Pencegahan dan Pengendalian Infeksi sebagai salah satu langkah strategi untuk meningkatkan mutu pelayanan. Tujuan Khusus :  Mempunyai kebijakan yang mengatur tentang Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit Mediros. Kebijakan .

Membuat peraturan tentang: Ketentuan Sterilisasi. Pendidikan dan pelatihan. Menilai ulang prosedur yang terkait Pengendalian Infeksi. 10. V. 4. 3. 7. 11. Kesehatan Karyawan. Cakupan Kegiatan 1. 8. Penggunaan Antibiotika. Penanganan Paparan Benda Tajam. 2) Setiap karyawan baru wajib mendapat materi Pengendalian Infeksi dalam program orientasi. Dekubitus. pasien. 9. IV. Ruang Lingkup Semua karyawan tenaga kesehatan. pengunjung serta masyarakat sekitar Rumah Sakit Mediros. Survey Infeksi: Infeksi Luka Insisi (ILI) & Phelibitis. 2. 5. Penggunaan Desinfektan. 1) Setiap karyawan wajib melaksanakan upaya-upaya Pengendalian Infeksi Nosokomial sesuai prosedur dan Pedoman Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit Mediros. Berkoordinasi dengan unit terkait lainnya dalam upaya Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial. . 6. Menerima laporan dari Tim PPI dan membuat laporan kepada Direktur. Manajemen Kejadian Luar Biasa. Infeksi Daerah Operasi (IDO). Infeksi Saluran Kemih (ISK). Audit Pelaksanaan Pengendalian Infeksi di semua unit. Ventilator Acquired Pneumonia (VAP). Pola Kuman. Terlibat dalam proses pengadaan alat dan bahan yang sesuai dengan prinsip PPI dan dengan mengutamakan keamanan bagi penggunaannya.

Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi mempunyai tugas dan tanggung jawab yang pokok mengevaluasi dan menyetujui kelayakan dan kemampuan pelaksanaan semua kegiatan surveilens Infeksi Nosokomial. Pengorganisasian Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit (PPIRS) Dalam upaya menjalankan kegiatan Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit Mediros. b. c. BAB I STRUKTUR ORGANISASI A. maka perlu dibentuk satu Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi dengan ketentuan sebagai berikut: a. Konite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi mempunyai keanggotaan inti yang terdiri dari: 1) Dokter Pengendalian Infeksi Nosokomial (Ketua KPPI) 2) Perawat Pengendalian dan Pencegahan Infeksi Nosokomial (Ketua Tim Pelaksana PPI) . upaya Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Nosokomial serta prosedur-prosedur yang dibuat dan akan dilaksanakan. Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi berada di bawah Direktur Utama.

5) Pengembangan Prosedur Kerja dan Kebijakan yang mencakup semua kegiatan dlam Bidang Pengendalian Infeksi. petugas perawatan dan pengunjung. g. 2) Terlaksananya upaya Pencegahan Infeksi dengan Penerapan Kewaspadaan Universal. Dalam menjalankan kegiatan yang berkaitan dengan Pola Kuman Rumah Sakit. Tim PPI akan melakukan Pemantauan dan Koordinasi dengan Manager Bidang Keperawatan. 9) Pengelola Pusat Sterilisasi dan Desinfeksi (CSSD). Dalam menjalankan kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan. Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Alat Rumah Sakit. 4) Perwakilan Staf Medis (Ilmu Bedah atau Kebidanan atau Ilmu Penyakit Dalam) 5) Perwakilan Staf Perawatan. seorang Perawat IPCN (Koordinator Tim PPI) dibantu oleh IPCLN yaitu Petugas Pengendaluan Infeksi Nosokomial dengan Kualifikasi perawat tingkat D-3 h. Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi dibantu oleh Tim Pelaksana PPI (Tim PPI) yang bekerja langsung di tingkat ruangan dan berhadapan langsung dengan pasien. 7) Sanitasi. f. Tim PPI bertanggung jawab atas pelaksanaan sehari-hari Program Pengendalian Infeksi. B. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. petugas Pengendalian Infeksi Nosokomial berkoordinasi dengan Bagian Farmasi Rumah Sakit Mediros. 6) Farmasi. 3) Administrasi atau Sekretaris. Dalam penggunaan Antibiotika. 8) Tenaga Tehnis Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPSRS). petugas Pengendalian Infeksi berkoordinasi dengan Laboratorium Mikrobiologi Rumah Sakit Mediros. 4) Terlaksananya Pendidikan dan Pelatihan dalam Bidam Pengendalian Infeksi. 6) Pemilihan Pengendalian Infeksi Nosokomial. Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi bertanggung jawab atas: 1) Terlaksananya Surveilens Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial. petugas Pengendalian Infeksi berkoordinasi dengan Bagian Mutu. 10) Laboratorium Mikribiologi. d. Dasar Hukum . serta Gizi. 3) Terlaksananya Penanggulangan Infeksi dengan Investigasi bila ada kejadian luar biasa. e. j. Tim PPI terdiri dari seorang Dokter (Ketua Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial). i. k.

1333/MenKes/SK/Per/XII/1999 tentang standar Pelayanan Rumah Sakit. 2) Bertanggung jawab dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap penyelenggaraan upaya Pencegahan dan Pengendalian Infeksi. 4) Menyusun dan mengevaluasi pelaksanaa program PPI dan Program Pelatihan dan Pendidikan PPI. 2. 1. 986/MenKes/Per/XI/1992 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. 3495). Undang-undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2001 tentang Pedoman Kelembagaan dan Pengelolaan Rumah Sakit. Peraturan Materi Kesehatan Republik Indonesia No. 2) Melaksanakan sosialisasi kebijakan PPI agar kebijakan dapat dipahami dan dilaksanakan oleh Petugas Kesehatan Rumah Sakit. 5. Peraturan Materi Kesehatan Republik Indonesia No. 4) Menentukan dan memutuskan kebijakan-kebijakan yang diusulkan oleh Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Mediros. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara RI Tahun 2004 No. 7) Dapat menutup suatu unit perawatan atau instalasi yang dianggap potensial menularkan penyakit atau beberapa waktu sesuai kebutuhan berdasarkan saran dari Tim PPI. Komite PPIRS 1) Membuat dan mengevaluasi kebijakan PPI. 116. 6) Melaksanakan evaluasi Kebijakan Pemakaian Antibiotika yang Rasional dan Desinfektan di Rumah Sakit Mediros berdasarkan saran dari Tim PPI. 8) Mengesahkan Prosedur untuk Komite PPIRS. 4431). 2. 100. 3) Bertanggung jawab terhadap tersedianya fasilitas sarana dan prasarana termasuk anggaran yang dibutuhkan. 3) Membuat PROTAP PPI. Uraian Tugas 1. 7. C. Peraturan Materi Kesehatan Republik Indonesia No. 159/MenKes/SK/Per/II/1988 tentang Rumah Sakit. 4. Tambahan Lembaran Negara RI No. . Undang-undang Republik Indonesia No. 1575/MenKes/Per/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. Direktur 1) Membentuk Komite dan Tim PPI dengan Surat Keputusan. 3. 5) Mengadakan evaluasi kebijakan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi berdasarkan saran dari Tim PPI. Tambahan Lembaran Negara RI No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Ri Tahun 1992 No. Peraturan Materi Kesehatan Republik Indonesia No. 6. Keputusan Presiden Republik Indonesia No.

renovasi ruangan. 11) Menerima laporan dari Tim PPI dan membuat laporan kepada Direktur. 14) Memberikan usulan kepada Direktur untuk pemakaian Antibiotika yang rasional di Rumah Sakit berdasarkan pola kepekaan kuman terhadap antibiotika dan mensosialisasikan data resistensi antibiotika sesuai rekomendasi Komite Medis. 7) Menjadi narasumber dan memberikan konsultasi pada Petugas Kesehatan Rumah Sakit dan fasilitas pelayana kesehatan lainnya dalam PPI. 6) Member usulan untuk mengembangkan dan meningkatkan cara Pencegahan dan Pengendalian Infeksi. 18) Menentukan sikap penutupan ruangan rawat bila diperlukan karena potensial menyebarkan Infeksi. 1) Berkontribusi dalam Diagnosis dan terapi yang benar. . menerapkan dan melaksanakan penanggulangan infeksi bila ada KLB. penyimpanan alat dan linen sesuai prinsip PPI. 10) Melakukan pertemuan berkala sebulan sekali. 15) Turut menyusun kebijakan Patient Safety. 16) Mengembangkan. 5) Bekerja sama dengan Tim PPI dalam melakukan investigasi masalah atau KLB Infeksi Nosokomial. Ketua Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi. mengimplementasikan dan mengkaji kembali rencana manajemen PPI sesuai kebijakan manajemen Rumah Sakit. 19) Melakukan pengawasan terhadap tindakan-tindakan yang menyimpang dari standar prosedur. serta pemrosesan alat. 9) Mengidentifikasi temuan di lapangan dan mengusulkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) Rumah Sakit dalam PPI. 20) Melakukan investigasi. 17) Memberikan masukan yang menyangkut konstruksi bangunan dan pengadaan alat dan bahan kesehatan. 8) Mengusulkan pengadaan alat dan bahan yang sesuai dengan prinsip PPI dan aman bagi yang menggunakan. 3. termasuk evaluasi kebijakan. 12) Berkoordinasi dengan unit terkait lainnya. 13) Bersama dengan Perawat Pengendalian Infeksi Nosokomial (Infection Prevention Control Nurse atau IPCN) menganalisis data surveilens dan membuat rekomendasi sebagai tindak lanjutnya. 2) Turut serta dalam penyusunan Pedoman Penulisan resep Antibiotika dan Surveileins.

10) Investigasi dan penanggulangan KLB Infeksi Nosokomial. 6) Meneruskan kebijakan pengendalian Infeksi dengan melatih Staf Keperawatan. Sekretaris. 4. 2) Memonitor pelaksanaan PPI. 11) Membantu Penerapan dan Pemantauan Kebijakan Pengendalian Infeksi. 5) Melakukan investigasi terhadap Klb dan bersama-sama Komite PPI memperbaiki kesalahan yang terjadi. 12) Menyusun dan melaksanakan Program Pelatihan. 3) Mengidentifikasi dan melaporkan Bakteri Patogen dan Pola Kepekaan Bakteri. 5) Membimbing dan mengajarkan praktek dan prosedur PPI yang berhubungan dengan prosedur terapi. 1) Membantu ketua dalam memonitor pelaksanaan kegiatan Surveilens Infeksi dan mendeteksi KLB. 3) Turut membantu semua petugas kesehatan untuk memahami Pencegahan dan Pengendalian Infeksi. . 1) Membuat surat menyurat dan Administrasi yang dibutuhkan oleh Tim Pelaksana PPI. 4) Bekerja sama dengan perawat PPI memonitor kegiatan Surveilens Infeksi dan mendeteksi serta menyelidiki KLB. Perawat Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (Perawat PPI/ Infection Prevention and Control Nurse) 1) Mengunjungi ruangan setiap hari untuk memonitor kejadian infeksi yang terjadi di lingkungan kerja. 13) Melakukan pelatihan. 3) Melaksanakan surveilens infeksi dan melaporkan kepada Komite PPI 4) Bersama Komite PPI melakukan Pelatihan Petugas Kesehatan tentang PPI di Rumah Sakit Mediros. 5. 2) Membuat Notulen Rapat. 6. 4) Mengumpulkan dan membuat laporan insidiens kejadian Infeksi Nosokomial setiap bulan untuk dibahas dalam pertemuan berkala setiap bulannya. 9) Mengumpulkan data Surveilens. 7) Memberikan saran perbaikan perilaku perawat di ruangan untuk penerapan Kewaspadaan standar. 8) Mengidentifikasi kebutuhan bahan dan sarana. penerapan prosedur kewaspadaan isolasi. 2) Turut memonitor cara kerja tenaga kesehatan dalam merawat pasien. Wakil Ketua Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi. 3) Membantu menyusun dan meyimpan dokumen-dokumen Pengendalian Infeksi Nosokomial.

3) Membantu pelaksanaan survey Infeksi Nosokomial di unit rawat inap. penyuluhan bagi pengunjung di unit perawatan masing-masing. . 4) Membimbing dan mengajarkan praktek dan prosedur PPI yang berhubungan dengan prosedur terapi. 3) Memberitahukan kepada IPCN apabila ada kecurigaan adanya Infeksi Nosokomial pada pasien. 1) Menerima laporan kejadian Infeksi Nosokomial di ruang rawat inap. 8. IPCLN (Infection Prevention and Control Nurse) 1) Mengisi dan mengumpulkan formulir surveilens setiap pasien di unit rawat inap masing-masing dan menyerahkannya kepada IPCN ketika pasien pulang. 16) Sebagai coordinator antar departemen/unit dalam mendeteksi. 10. 3) Bekerja sama dengan kepala ruangan untuk memantau Pelaksanaan Pengendalian Infeksi. Penanggung Jawab Rawat Inap. Anggota Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial 1) Berkontribusi dalam diagnosis dan terapi infeksi yang benar. 3) Bekerja sama dengan perawat PPI memonitor kegiatan surveilens infeksi dan mendeteksi serta menyelidiki KLB. 5) Turut membantu semua petugas kesehatan untuk memahami Pencegahan dan Pengendalian Infeksi. 15) Memprakarsai penyuluhan bagi petugas kesehatan. 14) Meningkatkan kesadaran pasien dan pengunjung Rumah Sakit tentang PPI. 7. 2) Memberikan motivasi dan teguran tentang pelaksanaan kepatuhan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi pada setiap personil diruangan unit rawat masing-masing. pengunjung dan keluarga tentang topic Infeksi yang sedang berkembang di masyarakat atau Infeksi dengan insiden tinggi. 2) Turut serta dalam penyusunan pedoman penulisan setiap antibiotika dan surveilens. 4) Berkoordinasi dengan IPCN saat terjadi infeksi potensial KLB. mencegah dan mengendalikan Infeksi di Rumah Sakit. 2) Menerima laporan kejadian Infeksi Nosokomial di ruang rawat jalan. 2) Bekerja sama dengan kepala ruangan untuk memantau Pelaksanaan Pengendalian Infeksi. 5) Memonitor kepatuhan petugas kesehatan yang lain dalam menjalankan standar isolasi. Penanggung Jawab Rawat Jalan 1) Membantu pelaksanaan survey Infeksi Nosokomial di unit rawat jalan. 9.

Penanggung Jawab Laboratorium 1) Mengumpulkan data-data tentang pola kepekaan bakteri dan reaksi transfuse. Penanggung Jawab Ruang Operasi 1) Membantu pelaksanaan survey Infeksi di ruang operasi. 13. 2) Melaporkan hasil biakan bakteri-bakteri tertentu seperti Extented Spectrum Beta Lactamase (ESBL) dan Methicillin Resistance Staphylococcus Aureus (MRSA) kepada coordinator tim pelaksanaan PPI. 3) Bekerja sama dengan kepala ruangan kamar operasi untuk memantau Pelaksanaan Pengendalian Infeksi. 15. 2) Menerima laporan kejadian Infeksi di unit gawat darurat. 3) Bekerja sama dengan kepala ruangan untuk memantau Pelaksanaan Pengendalian Infeksi. 3) Bekerja sama dengan kepala ruangan untuk memantau Pelaksanaan Pengendalian Infeksi. Penanggung Jawab di UGD 1) Membantu pelaksanaan survey Infeksi di unit gawat darurat. 2) Menerima laporan kejadian Infeksi di ruang operasi. Penanggung Jawab Gizi 1) Memberikan laporan pada Koordinator PPI tentang kejadian Infeksi akibat penanganan makanan yang kurang baik. 3) Melaporkan kegiatan yang telah dilakukan kepada Manager Penunjang Medis. 3) Bekerja sama dengan Laboratorium Mikrobiologi untuk melakukan input data hasil biakan bakteri. 2) Melakukan evaluasi rutin proses pelaksanaan Dekontaminasi dan Sterilisasi serta penyimpanan alat dan bahan steril keperluan operasi dan unit perawatan lainnya. 12. Penanggung Jawab Farmasi 1) Memberikan laporan kepada ketua tim PPI tentang penggunaan antibiotika di masing-masing unit rawat pasien. 4) Memberikan laporan rekapitulasi data biakan bakteri dengan resistensinya kepada ketua komite PPI/Koordinator PPI. 11. 4) Memastikan terlaksananya Pengendalian Infeksi di ruang rawat jalan. 2) Bekerja sama dengan Koordinator Gizi untuk menyiapkan informasi atau data yang dibutuhkan dalam Pengendalian Infeksi seperti Materi Pelatihan . Penanggung Jawab CSSD 1) Membantu pelaksanaan survey Infeksi yang berkaitan dengan tindakan Dekontaminasi dan Sterilisasi alat di CSSD. 14. 2) Bekerja sama dengan Koordinator PPI dalam merumuskan kebijakan penggunaan antibiotika. 16.

PPI untuk petugas dapur. D. 17. Penanggung Jawab Rehabilitasi Medis 1) Menyiapkan data-data yang dibutuhkan dalam memonitor Pengendalian Infeksi di unit Fisioterapi. 2) Memastikan terlaksananya Program PPI di unit Radiologi. 20. semester. 3) Melaporkan kejadian atau masalah yang berkaitan dengan Infeksi Nosokomial kepada Manager Penunjang Medis. Mekanisme Monitoring. c) Pelaporan. Penanggung Jawab Pemeliharaan Sarana. 2) Memastikan terlaksananya Program PPI di unit Umum. 19. hasil kultur makanan (Random Sampling). desinfektan yang digunakan untuk pencucian alat makan. Evaluasi dan Pelaporan 1. b) Dilakukan setiap hari untuk pengumpulan data surveilens dengan mempergunakan check list. b) Evaluasi oleh Komite PPI setiap 3 bulan. mingguan. bulanan. d) Laporan dibuat secara rutin: harian. 2) Memastikan terlaksananya Program PPI di unit Rehabilitasi Medik. triwulan. Alat dan Gedung). 3) Melaporkan kejadian atau masalah yang berkaitan dengan Infeksi Nosokomial kepada Manager Bagian Umum (General Affairs). penanganan makanan yang mentah dan sudah masak. Evaluasi a) Dilakukan oleh Tim PPI dengan frekuensi setiap bulan. Monitoring a) Dilakukan oleh IPCN dan IPCLN. 18. hasil pemeriksaan kesehatan karyawan/penjamah makanan. Alat dan Gedung 1) Menyiapkan data-data yang dibutuhkan dalam memonitor Pengendalian Infeksi di unit Umum (Sarana. Penanggung Jawab Radiologi 1) Menyiapkan data-data yang dibutuhkan dalam memonitor Pengendalian Infeksi di unit Radiologi. dan setiap tahunnya maupun bila ada kejadian insidentil atau KLB. 2. 2) Memastikan terlaksananya Program PPI di unit House Keeping. Penanggung Jawab Sarana Laundry /Linen/House Keeping 1) Menyiapkan data-data yang dibutuhkan dalam memonitor Pengendalian Infeksi di unit House Keeping (Laundry dan Linen). 3) Melaporkan kejadian atau masalah yang berkaitan dengan Infeksi Nosokomial kepada Manager Bagian Umum (General Affairs). . 3) Melaporkan kejadian atau masalah yang berkaitan dengan Infeksi Nosokomial kepada Manager Penunjang Medis.

Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Spesialistik. Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit 2007. E. Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit 2001. Pedoman Manajerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya 2007. 2. Pengendalian Infeksi Nosokomial Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan. . Departemen Kesehatan RI. cakupan dan efisiensi Rumah Sakit. maka Rumah Sakit Mediros berupaya melindungi pasien. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Spesialistik. 3. e) Laporan tertulis kepada Direktur dan Manajer Pelayanan Medis setiap 6 bulan. 2) Rapat koordinasi Tim PPI diadakan setiap 1 bulan sekali yaitu di minggu ke-1 setiap bulannya. Departemen Kesehatan RI. BAB II PENATALAKSANAAN PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL A. surveilens dan pengobatan yang rasional. karyawan dan pengunjung Rumah Sakit dari resiko infeksi dalam bentuk upaya pencegahan. Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Spesialistik. Jadwal Rapat 1) Pertemua Komite PPI dengan Direksi setiap 6 bulan sekali yaitu bulan Juni dan bulan Desember. Referensi 1.

kegiatan Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit mengacu pada: 1) Buku Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI. 2) Pada saat masuk Rumah Sakit tidak terdapat tanda atau gelaja atau pasien tidak dalam masa inkubasi penyakit infeksi tersebut. 2001. b) Definisi Infeksi Nosokomial adalah infeksi yang terjadi atau didapat di Rumah Sakit dengan kriteria sebagai berikut: 1) Infeksi yang terjadi dalam waktu 2x24 jam setelah pasien dirawat di Rumah Sakit. pelaksanaan dan pengawasan serta pembinaan dalam upaya menurunkan angka kejadian Infeksi Nosokomial Rumah Sakit. petugas kesehatan dan pengunjung serta untuk memutus mata rantai terjadinya infeksi. h) Pada keadaan KLB. 2) Buku Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Spesialistik. 3) Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Infeksi Nosokomial. d) Tujuan utama dari Program Pengendalian Infeksi Nosokomial adalah mengurangi resiko terjadinya endemik dan epidemik nosokomial pada pasien yang dirawat. g) Program Pengendalian Infeksi yang dilaksanakan meliputi: 1) Pencegahan Infeksi Nosokomial. 2) Surveilens Infeksi Nosokomial. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Spesialistik. maka ditetapkan langkah-langkah penanggulangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2007. 5) Pendidikan dan Pelatihan. 3) Infeksi yang terjadi pada lokasi yang sama tetapi disebabkan oleh mikroorganisme yang berbeda dari mikroorganisme pada saat masuk Rumah Sakit atau mikroorganisme penyebab sama tetapi lokasi infeksi berbeda. 4) Pengembangan Kebijakan dan Prosedur Kerja Pengendalian Infeksi. e) Dalam pelaksanaannya. . Hal-hal yang ditetapkan berkaitan dengan upaya Pengendalian Infeksi Nosokomial adalah: a) Pembentukan Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit (PPIRS) dan uraian tugasnya yang ditetapkan oleh Direktur Rumah Sakit Mediros. f) Sasaran kegiatan Pengendalian Infeksi Nosokomial adalah seluruh unit pelayanan di Rumah Sakit Mediros mulai dari tingkat Pimpinan sampai dengan Pelaksana. c) Pengendalian Infeksi Nosokomial adalah kegiatan yang meliputi perencanaan.

2) Berkoordinasi dengan Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit bila terdapat kecurigaan terhadap terjadinya Infeksi Nosokomial. 4) Apabila mengetahui adanya kecurigaan terhadap terjadinya Infeksi Nosokomial diruangan/ bangsal maka harus berkoordinasi dengan Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit. 3) Apabila diperlukan. . 6) Harus melaksanakan semua ketentuan sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit seperti prosedur isolasi. Ketentuan Staf Medis. anjurkan pemeriksaan kultur atau resistensi untuk mendukung kegiatan Pengendalian Infeksi Nosokomial. sterilisasi. c. sterilisasi dan lain-lain. B. yang meliputi: 1) Kontrol mutu lingkungan 2) Kontrol mutu udara 3) Kontrol mutu kelembapan 4) Kontrol mutu suhu j) Pemantauan mutu hasil sterilisasi dilakukan secara rutin sekali dalam sebulan. Staf Paramedis Rumah Sakit Mediros 1) Memperhatikan aspek aseptik dan antiseptik seta prinsip “Standard Precaution”. maka ditetapkan hal-hal sebagai berikut: a. Staf Non Medis Rumah Sakit Mediros 1) Melakukan prinsip “Standard Precaution”. i) Pemantauan Mutu Lingkungan Rumah Sakit dilakukan setiap 6 bulan sekali. Staf Medis Rumah Sakit Mediros 1) Memperhatikan aspek Aseptik dan Antiseptik. 2) Melakukan prosedur dengan ketentuan yang terkait dengan kegiatan Pengendalian Infeksi Nosokomial. 4) Harus melaksanakan semua ketentuan sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit seperti prosedur isolasi. 2) Melakukan prinsip “Standar Precaution” 3) Pemberian antibiotika mengacu kepada pola kuman yang telah direkomendasikan oleh Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit dan Tim PPI. Staf Keperawatan dan Penunjang Medis dalam Pengendalian Infeksi Nosokomial Dalam upaya Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial Rumah Sakit Mediros. lain-lain. 5) Pada kasus kecurigaan Infeksi Nosokomial diharuskan pemeriksaan kultur dan risistensi untuk mendukung kegiatan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit. b.

2) Karyawan tetap (medis dan non medis) akan diberikan materi dasar tentang pengendalian infeksi nosokomial antara lain mengenai Kewaspadaan Isolasi (Kewaspadaan Standard dan Kewaspadaan berdasarkan transmisi). maka Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial mengikuti Pendidikan dan Pelatihan serta mengadakan pendidikan dan pelatihan untuk karyawan baru dan karyawan tetap baik karyawan medis maupun karyawan non medis. Guna meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit. linen. karyawan baru dan karyawan tetap tentang Pengendalian Infeksi Nosokomial. dan laundry serta standar prosedur yang berkaitan dengan pengendalian infeksi nosokomial dan . Karyawan Tetap 1) Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial bekerja sama dengan bagian Diklat Rumah Sakit Mediros mengadakan pendidikan dan pelatihan penyegaran tentang pengendalian infeksi nosokomial bagi karyawan tetap yang dilaksanakan setiap 6 bulan sekali. 2) Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit membuat laporan dan evaluasi hasil dari program pendidikan dan pelatihan atau kursus yang telah diikuti kepada Direktur Rumah Sakit Mediros. b. Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial 1) Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit mengikuti pendidikan dan pelatihan atau kursus baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit. dan laundry serta standar prosedur yang berkaitan dengan pengendalian infeksi nosokomial dan praktek lapangan ke instalasi keperawatan maupun unit-unit lain sesuai kebutuhan. Pendidikan untuk Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial. cara membersihkan tangan. linen.C. pengelolaan limbah benda tajam. Karyawan Baru 1) Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial bekerja sama dengan bagian Diklat Rumah Sakit Mediros memberikan pendidikan dan pelatihan bagi karyawan baru dalam program orientasi sebelum karyawan tersebut melaksanakan tugasnya. a. 2) Karyawan baru (medis dan non medis) akan diberi materi dasar tentang pengendalian infeksi nosokomial antara lain mengenai Kewaspadaan Isolasi (Kewaspadaan Standard dan Kewaspadaan berdasarkan transmisi). cara membersihkan tangan. pengelolaan limbah benda tajam. c.

3. Infeksi yang didapat di Rumah Sakit tetapi baru tampak setelah keluar dari Rumah Sakit dan infeksi pada neonates sebagai akibat keluarnya melewati jalan lahir. mukosa. Pemeriksaan klinis tanpa data pendukung harus disertai dengan pemberian antibiotika. 2. infeksi diketahui menular melalui plasenta seperti Toxoplasmosis.  Pada kasus anak. 5.  Bukti klinis berupa hasil observasi langsung pada lokasi infeksi atau dari status pasien. 4. Keadaan yang tidak termasuk kriteria infeksi adalah:  Kolonisasi yaitu adanya mikroorganisme pada kulit. Informasi yang digunakan untuk menentukan adanya infeksi dan klasifikasinya sebaiknya merupakan kombinasi hasil pemeriksaan klinis dan hasil tes laboratorium atau tes-tes lainnya. Cytomegalovirus. D. Biopsy atau Aspirasi Jarum. USG. E.  Bukti laboratorium berupa hasil mikroskopik. Endoskopi.  Inflamasi yaitu keadaan sebagai akibat reaksi jaringan terhadap luka cedera atau perangsangan oleh zat-zat non infeksius seperti bahan kimia. praktek lapangan ke instalasi keperawatan maupun unit-unit lain sesuai kebutuhan. pemeriksaan endoskopi. MRI. CT Scan. biakan. Infeksi Saluran Kemih (ISK) .  Data dari pemeriksaan diagnostic lainnya seperti sinar. Infeksi Nosokomial Beberapa prinsip dasar yang penting dalam menentukan suatu Infeksi Nosokomial atau buka adalah berdasarkan: 1. Diagnosis infeksi oleh Dokter atau Ahli Bedah berdasarkan observasi langsung waktu pembedahan. tes deteksi antigen atau antibodi. luka terbuka atau dan ekskresi atau sekresi yang tidak menimbulkan tanda-tanda klinis adanya infeksi. atau Sifilis dan timbul sebelum 48 jam setelah kelahiran. Rubella. atau pemeriksaan klinis lainnya. Jenis-jenis Infeksi Nosokomial 1. Infeksi tidak termasuk Infeksi Nosokomial bila:  Infeksi merupakan kelanjutan dari infeksi yang sudah ada pada waktu masuk Rumah Sakit terkecuali bila kuman atau gejala jelas merupakan infeksi yang baru.

 Hipotermia (37°C). Kriteria 2: Ditemukan paling sedikit dua dari tanda-tanda dan gejala-gejala berikut tanpa ada penyebab lainnya. .  Nikuria (anyang-anyangan).  Biakan urin porsi tengah >105 CFU/ml dengan jenis kuman tidak lebih dari 2 spesies. Kriteria 3: Pada pasien anak berumur ≤ 1 tahun ditemukan paling sedikit satu dari tanda-tanda gejala berikut tanpa ada penyebab yang lainnya:  Demam (>38°C).  Telah mendapat terapi antimikroba yang sesuai oleh dokter yang menangani.  Demam (>38°C).  Polakisuria.  Polakisuria.  Piura (terdapat ≥10 lekosit/ml atau ≥3 lekosit /LPB dari urin yang dipusing).  Ditemukan bakteri dengan pewarnaan Gram dari urin yang tidak dipusing.  Apnea.  Biarkan urin paling sedikit 2 kali berturut-turut menunjukkan jenis bakteri yang sama dengan jumlah >100 CFU/ml urin kateter. Salah satu dari gejala klinis berikut:  Demam (>38°C). Ditambah salah satu dari tanda-tanda berikut:  Tes carik celup positif untuk lekosit esterase dan atau nitrit.  Disuria.a.  Nikuria (anyang-anyangan).  Didiagnosis ISK oleh dokter yang menangani.  Disuria. Infeksi Saluran Kemih Simptomatik (Kode : UTI-SUTI) Harus memenuhi paling sedikit satu kriteria berikut ini: Kriteria 1: Didapatkan paling sedikit satu dari tanda-tanda dan gejala berikut tanpa ada penyebab lainnya.  Nyeri suprapubik.  Nyeri suprapubik.  Biarkan urin menunjukkan satu jenis uropatogen dengan jumlah >105 CFU/ml urin penderita yang telah mendapatkan pengobatan antimikroba yang sesuai.

 Bradikardia (<100/menit). Kriteria 2: Pasien tanpa kateter kandung kemih menetap dalam 7 hari sebelum biakan pertama positif. polakisuria.  Ditambah dengan hasil laboratorium hasil biakan urin 105 CFU/ml urin dengan tidak lebih dari 2 jenis bakteri.  Telah mendapat terapi antimikroba yang sesuai oleh dokter yang menangani.  Ditemukan bakteri dengan pewarnaan Gram dari urin yang tidak dipusing. Biarkan urin 2 kali berturut-turut ditemukan tidak lebih 2 jenis bakteri yang sama dengan jumlah < 105 CFU/ml . nikuria.  Muntah-muntah. Infeksi Saluran Kemih Asimptomatik (kode : UTI-ASB) Infeksi Saluran Kemih (ISK) Asimptomatik harus memenuhi paling sedikit satu kriteria berikut ini: Kriteria 1: Pasien pernah memakai kateter kandung kemih dalam waktu 7 hari sebelum biakan urin dan ditemukan dalam biakan urin > 105 CFU/ml urin dengan jenis bakteri maksimal 2 spesies dan tidak terdapat gejala- gejala/ keluhan demam.  Bradikardia (<100/menit). b. disuria dan nyeri suprapubik. Kriteria 4: Pada pasien anak berumur ≤ 1 tahun ditemukan paling sedikit satu dari tanda-tanda dan gejala berikut tanpa ada penyebab lainnya:  Demam (>38°C).  Biarkan urin paling sedikit 2 kali berturut-turut menunjukkan jenis bakteri yang sama dengan jumlah >100 CFU/ml urin kateter.  Piura (terdapat ≥10 lekosit/ml atau ≥3 lekosit /LPB dari urin yang dipusing).  Muntah-muntah.  Letargia.  Biarkan urin menunjukkan satu jenis uropatogen dengan jumlah >105 CFU/ml urin penderita yang telah mendapatkan pengobatan antimikroba yang sesuai.  Didiagnosis ISK oleh dokter yang menangani. Ditambah paling sedikit satu dari berikut:  Tes carik celup positif untuk lekosit esterase dan atau nitrit. suhu > 38°C.  Hipotermia (37°C).  Letargia.  Apnea.

 Apnea. Radiolabel Scan Abnormal.  Nyeri tekan pada daerah yang dicurigai terinfeksi Dan paling sedikit satu dari berikut:  Keluar pus atau aspirasi purulen dari tempat yang dicurigai terinfeksi. Tidak terdapat gejala-gejala/ keluhan demam. uretra. urin.  Letargia. CT-Scan.  Hipotermia (37°C). Kriteria 2: Ada abses atau tanda infeksi lain yang dapat dilihat. . jaringan sekitar retroperitoneal atau rongga peribefrik (kode: UTI-OUTI) Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang lain harus memenuhi paling sedikit satu kriteria berikut ini: Kriteria 1: Ditemukan bakteri yang tumbuh dari bakteri cairan bukan urin atau jaringan yang diambil dari lokasi yang dicurigai terinfeksi. Kriteria 4: Pada pasien berumur < 1 tahun ditemukan paling sedikit satu dari tanda-tanda dan gejala-gejala berikut tanpa ada penyebab yang lain:  Demam (>38°C).  Muntah-muntah. Infeksi Saluran Kemih Lain seperti infeksi pada ginjal. MRI.  Bradikardia (<100/menit). memperlihatkan gambaran infeksi. polakisuria.  Dokter yang menangani memberikan pengobat antimikroba yang sesuai.  Didiagnosis infeksi oleh dokter yang menangani. baik secara pemeriksaan langsung. c. Kriteria 3: Terdapat 2 dari tanda berikut seperti:  Demam (>38°C).  Ditemukan bakteri pada biakan darah yang sesuai dengan tempat yang dicurigai. disuria dan nyeri suprapubik. selama pembedahan atau melalui pemeriksaan histopatologis. suhu > 38°C.  Pemeriksaan radiologi missal USG. kandung kemih. nikuria. ureter.  Nyeri lokal.

4) Pemakaian drain harus dengan sistem tertutup. Perawatan Paska Operasi 1) Untuk luka kotor atau infeksi. dibuat pewarnaan gram dan kultur. 2) Perawat yang merawat pasien dengan kateter harus terlatih dalam hal prosedur pemasangan kateter dan pengetahuan tentang potensi komplikasi. 3) Pemasangan secara aseptik dengan menggunakan peralatan steril. 3) Kasa penutup luka diganti bila:  Basah  Menunjukkan tanda infeksi  Jika cairan keluar dari luka. Superficial Incisional Letak infeksi : Infeksi Daerah Operasi Superfical Kode : SSI-(SKIN) Surgical Site Infection Superticial Incisional Site Definisi : Infeksi Daerah Operasi Superticial harus memenuhi paling sedikit satu kriteria berikut ini: Kriteria : Infeksi yang terjadi pada daerah insisi dalam waktu 30 hari pasca bedah dan hanya meliputi kulit. Tenaga Pelaksana: 1) Harus terampil dan betul-betul memahami tehnik pemasangan kateter secara aseptic dan perawatan kateter. kulit tidak ditutup primer. b. 2) Pentugas harus mencuci tangan dengan standar cuci tangan yang baku sebelum dan sesudah merawat luka. 2) Gunakan dari yang terkecil tetapi aliran tetap lancar dan tidak menimbulkan kebocoran dari samping kateter.  Didiagnosis infeksi oleh dokter yang menangani. c. subkatan atau jaringan lain diatas fascia dan terdapat paling sedikit satu keadaan berikut: . Ditambah paling sedikit satu dari berikut:  Keluar pus atau aspirasi purulen dari tempat yang dicurigai terinfeksi. Infeksi Luka Operasi (IDO) a. Teknik Pemasangan Kateter 1) Pemasangan kateter dilakukan hanya bila perlu saja dan segera dilepas bila tidak diperlukan lagi. memperlihatkan gambaran infeksi.  Ditemukan bakteri pada biakan darah yang sesuai dengan tempat yang dicurigai. CT-Scan. Pencegahan Infeksi Saluran Kemih a. 2.  Pemeriksaan radiologi missal USG. MRI. Radiolabel Scan Abnormal.

 Sengaja dibuka oleh dokter karena terdapat tanda peradangan kecuali jika hasil biakan negative (paling sedikit terdapat satu dari tanda-tanda infeksi berikut: nyeri.  Pus keluar dari luka operasi atau drain yang dipasang diatas fascia. terkecuali biakan insisi negatif. Definisi : Infeksi Daerah Operasi Profunda harus memenuhi paling sedikit Satu kriteria berikut: Kriteria : Infeksi yang terjadi pada daerah insisi dalam waktu 30 hari pasca bedah atau sampai satu tahun pasca bedah (bila implant berupa non human derived implant yang dipasang permanen) dan meliputi jaringan lunak yang dalam (Mis Lapisan Fascia dan Otot) dari insisi dan terdapat paling sedikit satu keadaan berikut: 1) Pus keluar dari luka insisi dalam terapi bukan berasal dari komponen organ/rongga dari daerah pembedahan.  Biakan kuman positif dari cairan yang keluar dari luka atau jaringan yang diambil secara aseptic. waktu pembedahan ulang. b.  Dokter yang merawat menyatakan terjadi infeksi. 2) Insisi dalam secara spontan mengalami dehinsens atau dengan sengaja dibuka oleh ahli bedah bila pasien mempunyai paling sedikit satu dari tanda-tanda atau gejala-gejala berikut: demam (>38°C) atau nyeri lokal. bengkak lokal. 4) Dokter yang merawat menyatakan terjadi infeksi. 3) Ditemukan abses atau bukti lain adanya infeksi yang mengenal insisi dalam pada pemeriksaan langsung. dan hangat lokal). Petunjuk Pelaporan: . kemerahan. Operasi Profunda/Deep Insicional Letak infeksi : Infeksi Derah Operasi Profunda Kode : SSI-ST (soft tissue) diluar prosedur pembedahan NNIS berikut CBGB (Coronary Artery Bypass Graft termasuk irisan dada dan kaki). atau dengan pemeriksaan hispatologis atau radiologis.

atau lapisan-lapisan otot. atau dengan pemeriksaan hispatologis atau radiologis. Organ/Rongga Letak Infeksi : Luka Infeksi Operasi Organ/Rongga Kode : SSI-(letak spesifik pada organ/rongga) Definisi : Infeksi luka operasi organ/rongga mengenai bagian badan manapun kecuali insisi kulit. 4. Suatu IDO organ/rongga harus memenuhi paling sedikit kriteria berikut ini: Kriteria : Infeksi yang timbul dalam waktu 30 hari setelah prosedur pembedahan. kecuali insisi kulit. Tempat- tempat spesifik dinyatakan pada ILO organ/rongga untuk membedakan ILO organ/rongga sebagai contoh: Appensictomi yang diikuti dengan abses subdiafragmatika yang harus dilaporkan sebagai organ ILO organ/rongga pada tempat spesifik intrabdomen (SSI-IAB). Abses atau bukti lain adanya infeksi yang mengenai organ/rongga yang ditemukan pada pemeriksaan langsung waktu pembedahan ulang. bila tidak dipasang implant atau dalam waktu satu satu tahun bila dipasang implant dan infeksi tampaknya ada hubungannya dengan prosedur pembedahan dan infeksi mengenai bagian tubuh manapun. 3. o Masukan infeksi yang mengenal Superficial dan Profunda sebagai infeksi luka operasi profunda. fascia. fascia. 2. o Laporkan biaya specimen dari insisi superficial sebagai incisional drainage (ID). Petunjuk pelaporan : . atau lapisan- lapisan otot. Dokter menyatakan sebagai IDO organ/rongga. Diisolasi kuman dari biakan yang diambil secara aseptic dari cairan atau jaringan dari dalam organ atau ruangan. yang dibuka atau dimanipulasi selama prosedur pembedahan dan terdapat paling sedikit satu keadaan berikut: 1. Drainage purulen dari drain yang dipasang melalui luka tusuk kedalam organ/rongga. yang dibuka atau dimanipulasi selama pembedahan. c.

karena itu diklasifikasikan sebagai ILO profunda. c. Infeksi semacam ini umunya tidak berhubungan dengan pembedahan ulang dan dianggap sebagai penyakit dari insisi.  Obesitas. 2) Mandi dengan antiseptik dilakukan malam sebelum operasi. Kala sebelum masuk Rumah Sakit: 1) Semua pemeriksaan dan pengobatan utuk persiapan operasi dilakukan sebelum dirawat inap agar waktu prabedah menjadi lebih pendek (< 1 hari). 2) Perbaikan keadaan yang memperbesar kemungkinan terjadinya IDO antara lain:  Diabetes mellitus.  Infeksi. Kala Pra Operasi: 1) Perawatan pra operasi 1 hari untuk operasi berencana. b. 6) Antibiotika profilaksis diberikan secara:  Tepat dosis. atau operasi beresiko tinggi seperti bedah jantung atau vaskuler). 3) Penyukuran rambut pada daerah operasi dilakukan hanya bilamana perlu dilakukan segera sebelum pasien operasi 4) Daerah operasi harus dicuci dengan memakai antiseptik kulit dengan tehnik dari sentral ke arah luar. pemakaian implant dan potesis.  Tepat jenis (sesuai dengan mikroorganisme yang sering menyebabkan IDO).  Tepat indikasi (hanya untuk operasi bersih terkontaminasi. Kadang-kadang infeksi organ/rongga mengalir melalui insisi. Persiapan Tim Pembedahan 1) Setiap orang yang masuk kamar operasi harus: .  Malnutrisi. Apabila keadaan yang memperbesar terjadinya IDO tidak dapat dilakukan di luar Rumah Sakit (missal malnutrisi berat) pasien dirawat lebih awal.  Tepat cara pemberian (harus secara IV 2 jam sebelum operasi dan dilanjutkan tidak lebih dari 48 jam).  Pemakaian kortikosteroid. Pencegahan Infeksi Daerah Operasi (IDO) Tindakan pencegahan dikelompokkan dalam: a. 5) Dikamar operasi pasien harus ditutup dengan duk steril sehingga hanya daerah operasi yang terbuka.

kain kassa dan antiseptik untuk desinfeksi hanya untuk satu kali pemasangan. 4) Setelah membersihkan tangan.  Isolasi kuman positif pada biakan darah. d. 7) Untuk operasi tulang atau pemasangan implant harus memakai 2 lapis sarung tangan. seluruh anggota tim bedah harus membersihkan tangan dengan antiseptik selama 5 menit atau lebih dengan posisi jari-jari lebih tinggi dari siku. 3) Antiseptik yang digunakan untuk membersihkan tangan adalah mengandung Chlorhexidin. menghilangkan rongga. Intra Operasi 1) Tehnik operasi: Harus dilakukan dengan sempurna untuk menghindari kerusakan jaringan lunak yang berlebihan. 2) Sebelum operasi. konsolidasi. Pneumonia Pneumonia adalah Infeksi Saluran Napas Bagian Bawah (ISPB) Letak infeksi : Saluran Napas Bagian Bawah (Paru) Kode : PNEU-PNEU Definisi : Pneumonia harus memenuhi paling sedikit satu dari kriteria berikut: Kriteria : Pada pemeriksaan fisik terdapat ronkhi basah atau pekak pada perkusi dan salah satu diantara keadaan berikut:  Timbul perubahan baru berupa sputum purulen atau terjadi perubahan sifat sputum. 6) Pemakaian sarung tangan memakai metode tertutup. 2) Lama operasi: Operasi dilakukan secepat-cepatnya dalam batas yang aman. Kriteria 2 : Foto torak menunjukkan infiltrate. 5) Setiap anggota tim harus memakai sarung tangan steril apabila sarung tangan tersebut kotor harus diganti dengan yang baru. mengurangi pendarahan dan menghindari tertinggalnya benda asing yang tidak diperlukan. 3) Peralatan sarung tangan. 3. keringkan dengan handuk steril dan memakai jubah/jas steril.  Isolasi kuman pathogen positif dari aspirasi trakea. sikatan/cuci bronkus atau biopsy. kain penutup duk. kavitasi efusi pleura baru atau progerstif dan salah satu diantara keadaan berikut: .

Dan paling sedikit satu diantara keadaan berikut:  Produksi dan sekresi saluran pernapasan meningkat. sikatan/cuci bronkus atau biopsy.  Terdapat tanda-tanda pneumonia pada pemeriksaan histapologi.  Takikardia.  Terdapat tanda-tanda pneumonia pada pemeriksaan histapologi.  Timbul perubahan baru berupa sputum atau terjadi perubahan sifat sputum.  Batuk.  Titer IgM atau IgG spesifik meningkat 4 kali lipat dalam 2 kali pemeriksaan. Kriteria 4 : Gambaran radiologi torak serial pada penderita umur >1 tahun menunjukkan infiltrate baru atau progresif .  Isolasi kuman positif pada biakan darah. Kriteria 3 : Pasien berumur < 1 tahun didapatkan 2 diantara keadaan berikut:  Apnea.  Isolasi kuman pathogen positif dari aspirasi trakea.  Isolasi kuman positif pada biakan darah.  Brandikardia.  Ronkhi basah.  Virus dapat diisolasi atau terdapat antigen virus dalam sekresi saluran napas.  Timbul perubahan baru berupa sputum purulen atau terjadi perubahan sifat sputum.  Mengi.  Virus dapat diisolasi atau terdapat antigen virus dalam sekresi saluran napas.  Titer IgM atau IgG spesifik meningkat 4 kali lipat dalam 2 kali pemeriksaan.