EFEK GANGGUAN CEMAS PASIEN STROKE DALAM

MEMPENGARUHI PENGOBATAN PASCA STROKE DITINJAU DARI

KEDOKTERAN DAN ISLAM

Oleh :

Jelita Tri Lestari

NIM : 110.2010.135

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

dokter muslim pada

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

JAKARTA

2014

ABSTRAK

EFEK GANGGUAN CEMAS PASIEN STROKE DALAM

MEMPENGARUHI PENGOBATAN PASCA STROKE

DITINJAU DARI KEDOKTERAN DAN ISLAM

Stroke merupakan salah satu penyakit vaskular dengan angka kejadiannya yang besar di dunia. Se
bagian besar populasi pasien stroke berada di kisaran usia lanjut. Stroke merupakan penyebab kem
atian utama dan penyakit ini cukup banyak memberikan gejala sisa pada penderitanya. Sebagian su
rvival memiliki gejala sisa berupa hendaya fisik dan psikis, namun hendaya psikis seringkali terab
aikan. Hal ini dapat berpengaruh terhadap prognosis pengobatan yang sedang dijalini pasien. Pasie
n akan mengalami penurunan aktivitas fisik dan gangguan pada aktivitas sehari-harinya, hal inilah
yang menyebabkan seorang pasien post stroke akan merasa cemas akan keadaanya sehingga akan
menimbulkan gangguan cemas pada pasien post stroke .
Dari Segi Islam Pada pasien stroke kecemasan dapat timbul akibat kerusakan pada otak akibat ada
nya stroke itu sendiri, namun kecemasan dapat juga timbul akibat seseorang merasa takut atas pen
yakit yang dideritanya. Aspek psikospiritual sangat berperan penting dalam proses recovery stroke.
Seorang pencemas akan lebih mudah terkena gangguan cemas, hal ini terjadi karena seorang hamb
a kurang mengingat Allah dan cenderung khawatir dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.
Dari Segi Kedokteran dan Agama Islam, Gangguan cemas dapat timbul akibat suatu stressor yang
tidak dapat ditangani oleng seorang penderita, stressor yang dimaksud adalah dapat berupa ganggu
an pad lesi yang menyebabkan kerusakan pada fungsi emosional seseorang atau hendaya ang diala
mi pasien setelah mengalami stroke.
Rasa takut atau khawatir berlebihan yang tak dapat dikontrol oleh pasien dapat timbul akibat gejal
a sisa yang ditinggalkan pasca serangan stroke (sesorang dapat mengalami gangguan motorik (gan
gguan gerak) dimana sebagian pasien pada umumnya mengalami kelumpuhan, kesulitan berbicara,
tidak dapat menelan hingga gejala disabilitas lainnya), akibat gejala sisa inilah pasien mulai menga
lami krisis kepercayaan diri dan merasa dirinya tidak berarti lagi, faktor resiko selanjutnya adalah
kurangnya dukungan moril dari orang sekitar untuk memotivasi pasien untuk tidak merasa khawati
r tentang penyakitnya serta kurangnya pertahanan pasien dalam mengontrol emosinya. disarankan
kepada pasien stroke untuk tidak berputus asa dan teruslah mengingat Allah karena dengan mengin
gat Allah hati menjadi tenang. Karena disetiap kesulitan yang Allah berikan bersamanya selalu ada
kemudahan dan kepada para caregiver bahwa ketika sesorang mengalami stroke yang perlu diperh
atikan bukan hanya faktor fisik saja melainkan faktor psikologis yang penting untuk diperhatikan a
gar menunjang kesembuhan bagi pasien.

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah kami setujui untuk dipertahankan di hadapan Penguji Skri

psi, Fakultas Kedokteran UNIVERSITAS YARSI

Jakarta, April 2014

Pembimbing Medik Pembimbing Agama

(Dr.Bambang Poerwantoro, MH.Kes) (DR.H. Zuhroni, M.Ag)

M. sebagai wakil Dekan 2 Fakultas Kedokteran Universitas YARSI 3. Salmy Nazir. MH. Yurika Sandra. segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. KATA PENGANTAR Alhmdulillah.Kes. DR. SpPA. H. Hj.Biomed. 2. Bambang Poerwantoro. Artha Budi Susila Duarsa. M. Dr. Dr. Dr. 4.Kes. sebagai Dekan Fakultas Ked okteran Universitas YARSI. Terwujudnya skripsi ini adalah berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini nulis ingin menyampaikan ucapan terima kasi h yan g sebesar-besarnya kepada : 1. serta shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW karena dengan berkah. semoga Allah SWT selalu memberikan perlindu ngan dan kesehatan kepada beliau. Skripsi ini merupakan salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Dokter Muslim pada Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “PERBANDINGAN ASPEK HUKUM PADA PENGGUNAAN IMUNISASI/VAKSINASI ANTARA INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT DITINJAU DARI KEDOKTERAN DAN ISLAM”. selaku pembimbing medik yang melu . Dr.

C atur Puriningsih) yang telah memberikan dorongan materil. H Zuhroni. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Ny a. Kepala dan Staf perpustakaan Universitas YARSI yang telah membantu dalam mencari buku-buku refrensi dalam menyelesaikan skripsi ini. selaku pembimbing agama Islam yang telah meluangk an waktu dalam memberikan bimbingan dan masukan dengan sabar dan teliti. Akbar Wibriansyah ) yang membimbing dan memberikan dukungan sehingga penulis dapat menye lesaikan skripsi ini. Terimakasih. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu d engan tulus dan ikhlas untuk menyelesaikan skripsi ini Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. 8. Kedua orang tua penulis. angkan waktu memberi saran. 6. bapak (Wahyu Wisambada. MM) dan ibu (Dra. 7. Dr. M. Terimakasih. semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Ny a. 5. semoga Allah SWT selalu melimpah kan rahmat dan hidayah-Nya. penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun se hingga penyusunan skripsi ini dapat lebih baik lagi. Kakak penulis (Dr. Oleh karena itu. teliti dan sabar serta kemudahan da lam penyusunan skripsi ini.Ag. pengarahan. kasih sayang dan doa yang tiada hentinya. semangat. .

Jakarta. semoga Allah SWT selalu m eridhai kita semua. Akhir kata dengan mengucap Alhamdulillah. April 2014 Penulis . Amin.

...............1.............................2...........4........... iv DAFTAR ISI........................ Penggunaan Imunisasi di Indonesia dan Amerika Serikat............................... 26 .1... 6 2................................................................................. ii HALAMAN PERSETUJUAN.............................................................3.................. 5 BAB II PERBEDAAN ASPEK HUKUM PADA PENGGUNAAN IMUNI SASI/VAKSINASI ANTARA INDONESIA DAN AMERIKA SER IKAT DITINJAU DARI KEDOKTERAN...................... vii DAFTAR GAMBAR ……………........................................ 17 2.........................................................2....... 1 1.. PERMASALAHAN............................................1.... iii KATA PENGANTAR.............................................................. 9 2....................... 6 2............................................. 20 2............ Jenis Imunisasi...........................................1....3.................................................................................................................. 3 1...... LATAR BELAKANG...................................1.......... MANFAAT................3................................................4.............................. 24 2................................. Imunisasi di Amerika Serikat…................. Tata Cara Penggunaan Vaksin …………………................................ 4 1.. Jadwal Imunisasi di Indonesia................ TUJUAN............ 6 2......... Aspek Hukum Penggunaan Imunisasi/Vaksinasi di Indonesia dan Amerika Serikat…………………………........................................................... DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL........................................ i ABSTRAK............2....................................1.................... ix BAB I PENDAHULUAN...................................................... 1 1... Imunisasi di Indonesia........................................

2.4.1. Hukum Imunisasi di Indonesia………………………...... 26

2.4.2. Hukum Imunisasi di Amerika Serikat…………………... 30

BAB III. PERBANDINGAN ASPEK HUKUM PADA PENGGUNAAN I
MUNISASI/VAKSINASI ANTARA INDONESIA DAN AMER
IKA SERIKAT DITINJAU DARI ISLAM.................... 32

3.1. Penggunaan Imunisasi/Vaksinasi di Indonesia dan Amerika

Serikat Ditinjau dari Islam..................................................... 32

3.2. Pandangan Islam terhadap Imunisasi/Vaksinasi……................. 36

3.3. Pro dan Kontra Pemberian Imunisasi/Vaksinasi dari Segi Islam 38

3.4. Perbandingan Hukum Penggunaan Imunisasi/Vaksinasi di Indo

nesia dan Amerika Serikat dari segi Islam........................ 44

BAB IV. KAITAN PANDANGAN KEDOKTERAN DAN ISLAM TENT
ANG PENGGUNAAN IMUNISASI/VAKSINASI ANTARA IN
DONESIA DAN AMERIKA SERIKAT.................. 48

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN........................................................ 50

5.1. Kesimpulan................................................................................. 50

5.2. Saran........................................................................................... 51

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 53

DAFTAR GAMBAR

Gambar1. Jadwal Imunisasi…………................................................................... 9

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Betapa banyak penyakit infeksi yang berada di dunia yang menyebabkan

berbagai jenis penyakit. Berbagai jenis penyakit infeksi, seperti: polio, campak,

pertusis, tetanus, malaria, HIV/AIDS, tuberkulosis, influenza, demam tifoid,

meningitis, hepatitis virus A, B, dan C, gondongan, radang paru (pneumonia), dan

sebagainya, menjadi ancaman bagi setiap orang, yang tidak dapat diketahui kapan

menyerangnya. Para peneliti berjuang keras untuk menemukan berbagai vaksin.

Harus jujur diakui, tidak semua vaksin yang telah tersedia memberikan hasil yang

menggembirakan (Cahyono, 2010).

Tentu saja masing-masing negara mempunyai pola penyakit yang berbeda

sehingga jenis vaksin yang diberikan berbeda pula. Dengan demikian dapat

dipahami bahwa tidak semua vaksin yang tersedia saat ini harus diberikan kepada

siapa saja. Pemerintah Indonesia telah memiliki pedoman vaksinasi. Prinsipnya

vaksinasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu vaksinasi wajib – terutama yang

ditujukan bagi bayi dan anak (vaksinasi tuberkulosis, hepatitis B, difteri, tetanus,

pertusis, polio dan campak) serta vaksinasi yang dianjurkan (Mumps-Measles-

Rubella (selanjutnya disingkat MMR), demam tifoid, varisela, hepatitis A,

Haemofilus Influenza tipe B, rabies, influenza, pneumokokus, meningokokus,

rotavirus, kolera, yellow fever, Japanase enchepalitis, dan human

papillomavirus), yang diperuntukkan baik bagi anak maupun dewasa (Cahyono,

tidak semua orang tua yang menolak memberikan vaksin terhadap anaknya mendapatkan hukuman atas keputusan mereka (Gilmour et al. Memang ada Undang-Undang nomor 4 tahun 1894 tentang Wabah Penyakit Menular dan secara tidak langsung imunisasi masuk di sini karena salah satu peran imunisasi adalah memberantas wabah.2010). semua negara bagian mengizinkan pengecualian medis. bahwa sebagian besar prinsip tersebut berkenaan dengan bagaimana melakukan usaha-usaha pencegahan terhadap . dan pengecualian berdasarkan keyakinan adat istiadat. Dengan adanya pengecualian medis tersebut. berobatlah dan jangan berobat dengan hal yang haram”. Banyak prinsip kesehatan Islam. Ancaman bagi yang tidak mendukungnya. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW berikut: “Bahwa Allah lah yang menurunkan penyakit dan obatnya dan Dia menjadikan setiap penyakit ada obatnya. Namun pada 2010. 2011). Menurut perspektif Islam. 2011). 2010). diantaranya pengecualian agama. bisa dihukum penjara dan denda (Bahraen. (HR Abu Dawud). Vaksinasi wajib harus didukung penuh oleh seluruh masyarakat Indonesia. Di Amerika Serikat. Manusia harus mengobati penyakitnya dengan cara yang dihalalkan dan berobat ke ahlinya. segala penyakit yang diberikan merupakan ujian dari Allah SWT. semua negara bagian memiliki persyaratan imunisasi sebelum seorang anak akan masuk ke dunia pendidikan. Allah tidak akan menurunkan suatu penyakit tanpa menyiapkan obatnya (Zuhroni.

2. Dampaknya adalah keraguan. Berdasarkan hal tersebut maka penulis tertarik membahas tentang “Perbandingan aspek hukum pada penggunaan vaksinasi/imunisasi antara Indonesia dengan Amerika Serikat ditinjau dari kedokteran dan Islam” 1. Bahkan sebagian telah sampai pada kesimpulan bahwa imunisasi haram karena dapat menimbulkan bahaya dan tidak halal (as-Sidawi. Allah SWT senantiasa memberi kesehatan badan.2 Apa kekurangan dan kelebihan dari pemberian imunisasi/vaksinasi ? 1. Imunisasi adalah salah satu pilihannya. terdapat vaksin tertentu yang bercampur dengan bahan-bahan yang tidak halal dalam proses pembuatannya.2. terutama dari kalangan kaum muslimin untuk melakukan imunisasi.3 Bagaimana undang-undang mengatur penggunaan imunisasi/ vaksinasi di Indonesia ? 1. pendengaran dan penglihatan kita.2.1 Bagaimana metode pemberian imunisasi/vaksinasi yang baik dan benar ? 1. Sebab kesehatan adalah karunia yang sangat berarti bagi manusia. Upaya pencegahan penyakit seperti yang dianjurkan agama.4 Bagaimana pandangan Islam mengenai perbandingan aspek hukum pada penggunaan imunisasi/vaksinasi antara di Indonesia dan Amerika Serikat ? .timbulnya penyakit. 2008).2. Permasalahan 1. sesungguhnya membuka ruang yang sangat luas terhadap berbagai pilihan.2. Namun belakangan.

Memberikan informasi mengenai kekurangan dan kelebihan dari pemberian imunisasi/vaksinasi.2.3.2. Memberikan informasi mengenai metode pemberian imunisasi/ vaksinasi yang baik dan benar. 1.4. Memberikan informasi menurut pandangan Islam mengenai perbandingan aspek hukum pada penggunaan imunisasi/vaksinasi antara di Indonesia dengan Amerika Serikat.1.2.2 Tujuan Khusus 1. 1.2. Memberikan informasi mengenai undang-undang yang mengatur dalam penggunaan imunisasi/vaksinasi di Indonesia.3.2.3.1.3.1. Tujuan 1.1 Tujuan Umum Membahas tentang perbandingan aspek hukum pada penggunaan imunisasi/vaksinasi antara di Indonesia dengan Amerika Serikat ditinjau dari kedokteran dan Islam. 1.4.3. 1. Manfaat 1.3.4. 1. Bagi Penulis Skripsi ini diharapkan dapat membuat penulis lebih memahami mengenai perbandingan aspek hukum terhadap penggunaan imunisasi/vaksinasi antara di Indonesia dengan Amerika Serikat .3.3.

4. Bagi Masyarakat Penyusunan skripsi ini diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan masyarakat sehingga dapat memahami tentang perbandingan hukum terhadap penggunaan imunisasi/vaksinasi antara di Indonesia dengan Amerika Serikat ditinjau dari kedokteran dan Islam. Bagi Universitas YARSI Skripsi ini diharapkan dapat menambah sumber pengetahuan dalam kepustakaan Universitas YARSI khususnya mengenai perbandingan hukum terhadap penggunaan imunisasi/vaksinasi antara di Indonesia dengan Amerika Serikat ditinjau dari kedokteran dan Islam.4.3.2. ditinjau dari kedokteran dan Islam. 1. 1. .

yaitu kekebalan pasif dan kekebalan aktif.1. sedangkan istilah vaksinasi dimaksudkan sebagai pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem imun didalam tubuh (IDAI. sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa. Imunisasi di Indonesia Perlu diketahui bahwa istilah imunisasi dan vaksinasi seringkali diartikan sama.1. BAB II PERBANDINGAN ASPEK HUKUM PADA PENGGUNAAN IMUNISASI/VAKSINASI ANTARA INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT DITINJAU DARI KEDOKTERAN 2. Contohnya adalah kekebalan pada janin yang diperoleh dari ibu atau kekebalan yang diperoleh setelah pemberian suntikan imunogloblulin. tidak terjadi penyakit. 2011).1. Imunisasi adalah suatu pemindahan atau transfer antibodi secara pasif. bukan dibuat oleh individu itu sendiri. Penggunaan Imunisasi di Indonesia dan Amerika Serikat 2. Imunisasi merupakan suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen. Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh. Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen seperti pada . Dilihat dari cara timbulnya maka terdapat dua jenis kekebalan.

jauh lebih jarang daripada komplikasi yang timbul apabila terserang penyakit tersebut secara alami. yaitu (IDAI. . 2011) :  Pertahanan tubuh yang terbentuk akan dibawa seumur hidupnya  Vaksinasi adalah cost-effective karena murah dan efektif  Vaksinasi tidak berbahaya. atau terpajan secara alamiah (IDAI. Vaksinasi merupakan suatu tindakan yang dengan sengaja memberikan paparan dengan antigen yang berasal dari mikroorganisme patogen. Reaksi yang serius sangat jarang terjadi. Antigen yang diberikan telah dibuat demikian rupa sehingga tidak menimbulkan sakit namun mampu mengaktivasi limfosit menghasilkan antibodi dan sel memori. 2011) Tujuan pemberian imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Alimul. Tujuannya adalah memberikan “infeksi ringan” yang tidak berbahaya namun cukup untuk menyipakan respon imun sehingga apabila terjangkit penyakit yang sesungguhnya di kemudian hari anak tidak menjadi sakit karena tubuh dengan cepat membentuk antibodi dan mematikan antigen/penyakit yang masuk tersebut. Cara ini menirukan infeksi alamiah yang tidak menimbulkan sakit namun cukup memberikan kekebalan. 2009).imunisasi. Demikian pula vaksinasi mempunyai berbagai keuntungan.

Di Indonesia program imunisasi secara resmi dimulai di 55 Puskesmas pada tahun 1977 Beberapa antigen mulai menjadi program imunisasi nasional seperti BCG tahun 1973. Toksoid Tetanus (selanjutnya disingkat TT) Ibu Hamil tahun 1974. Campak tahun 1982. 2013). dan campak (Suryana. Kemudian kegiatan imunisasi ini dilaksanakan secara rutin di seluruh Indonesia sejak tahun 1956. WHO memulai pelaksanaan program imunisasi sebagai upaya global secara resmi dan disebut suatu Expanded Program on Immunization (selanjutnya disingkat EPI) yang dikenal di Indonesia sebagai Program Pengembangan Imunisasi (selanjutnya disingkat PPI). Difteri Pertusis Tetanus (selanjutnya disingkat DPT) tahun 1976. polio. difteria. Pelaksanaan Imunisasi di Indonesia telah dimulai sejak sebelum perang dunia ke dua dengan tujuan memberantas penyakit cacar. Pada tahun 1973 vaksinasi gabungan ini dilakukan seluruh Indonesia. Kemudian pada tahun 1977. dibuktikan dengan Indonesia dinyatakan bebas cacar oleh World Health Organization (Badan Kesehatan Dunia. Sejak tahun 1972 mulai dicoba vaksinasi gabungan cacar dan Bacillus Calmette-Guérin (selanjutnya disingkat BCG) oleh para ahli cacar. dan tahun Hepatitis . Kegiatan imunisasi ini telah berhasil membasmi penyakit cacar. Hasil pengamatan epidemiologis bahwa ada beberapa penyakit yang dapat menimbulkan masalah ialah tetanus neonatorum. pertusis. Polio tahun 1981. 1996). dan memberi kemungkinan untuk mengembangkan program imunisasi dengan menggunakan antigen-antigen yang lain. selanjutnya disingkat WHO) pada tahun 1974 (Kesmas.

1. Puskesmas Pembantu. 2011). dan pelayanan kesehatan swasta (IDAI. Poskesdes. Gambar 1. 2. Ingatlah.B tahun 1997. tergantung kepada lembaga kesehatan berwewenang yang mengeluarkannya. mencegah lebih baik daripada mengobati. Puskesmas. Imunisasi atau pemberian vaksin merupakan langkah pencegahan yang dilakukan orang tua . Jadwal imunisasi bervariasi antara negara yang satu dengan negara lainnya.2. 2013). Jadwal Imunisasi Setiap orang tua wajib mengupayakan imunisasi lengkap bagi anak- anaknya. Jadwal Imunisasi di Indonesia Jadwal imunisasi dapat berupa kartu informasi yang berisi jadwal mengenai kapan seharusnya jenis vaksinasi tertentu diberikan kepada anak. rumah sakit. Pada tahun 1990 secara nasional Indonesia mencapai status Universal Child Immunization (UCI) yaitu mencakup minimal 80% (campak) sebelum anak berusia satu tahun dan cakupan untuk DPT-3 minimal 90% (Kesmas. Vaksinasi di Indonesia biasanya diadakan di pos pelayanan imunisasi seperti Posyandu.

Bila vaksin BCG diberikan sesudah bayi berumur 3 bulan. perlu dilakukan uji tuberkulin.2011). Apabila terjadi reaksi lokal di tempat suntikan. Berikut ini adalah penjelasan mengenai berbagai jenis vaksin. Tetanus. jika dianggap perlu. 2. Vaksin BCG (Bacille Calmette-Guérin) Vaksin BCG diberikan ketika bayi berusia 2 . maka perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut.3 bulan agar bayi mendapat kekebalan terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). Setelah disuntik. Vaksin DTP (Difteri. Pemberian suntikan bisa diulang pada usia 10 .13 tahun. memiliki pertahanan tubuh yang kuat dan mampu melawan infeksi penyakit (IDAI. Imunisasi secara lengkap sangat diperlukan supaya anak anda tumbuh sehat. Saat ini ada berbagai macam jenis vaksin sebagai akibat dari banyaknya penyakit berbahaya bagi anak. pada tempat bekas suntikan biasanya akan timbul semacam bisul kecil yang akan mengering dengan sendirinya. 2011) : 1. Imunisasi BCG diberikan melalui suntikan di kulit lengan atau paha. manfaat yang diperoleh dan reaksi yang didapat (IDAI. Pertusis) Vaksin DTP merupakan vaksin yang dapat memberikan perlindungan kepada anak terhadap bahaya berjenis difteri (kuman yang dapat membentuk selaput abu-abu atau hitam di .agar anak tidak mudah terserang jenis penyakit tertentu.

Vaksin Campak (morbilli. Saat ini. Biasanya terjadi satu minggu setelah mendapat suntikan imunisasi. dan pertusis (penyakit menular yang menyebabkan penyakit parah. 18 sampai 24 bulan. dan umur 5 tahun. 4 bulan. DTP dengan hepatitis B dan vaksin polio pemberiannya bisa digabung. DTP dapat dikombinasikan dengan vaksinasi lain untuk mengurangi frekuensi suntikan vaksin. yang dikenal sebagai batuk rejan). 3. Vaksin ini diberikan kepada anak-anak selama 5 kali dosis masing-masing pada umur 2 bulan. Reaksi yang timbul pada tubuh anak berupa demam. Vaksin pertama diberikan saat bayi berumur 9 bulan dan vaksin ulangan diberikan pada umur 5 . tetanus (infeksi yang menyebabkan kejang otot kuat yang bisa mematahkan tulang). measles) Vaksin diberikan dengan tujuan agar tubuh anak mendapat kekebalan terhadap penyakit campak. 4. Biasanya bayi yang baru saja mendapat vaksin ini mengalami sedikit demam dan tempat bekas suntikan terasa sakit.7 tahun. batuk tak terkendali.12 tahun dan umur 18 tahun supaya terhindar dari tetanus. Vaksin Polio (IPV) . 6 bulan. Suntikan vaksin dilakukan pada lengan atau paha bayi. Diulang pada umur 10 . tenggorokan).

karena sejak adanya vaksin ini terjadi penurunan kasus polio di masyarakat. 5. Vaksin ini melindungi anak dari virus hepatitis B yang dapat menginfeksi hati. Efek samping yang paling umum dirasakan setelah vaksinasi jenis ini adalah rasa sakit di lokasi suntikan atau demam ringan. Penyakit ini cukup berbahaya dan dapat mengakibatkan kerusakan hati bahkan berkembang menjadi kanker. Vaksin Hepatitis B Bayi harus mendapatkan vaksin hepatitis B ini dalam waktu 12 jam setelah lahir. . Polio dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian. Bayi yang lahir di rumah sakit diberikan vaksin ini saat bayi dipulangkan untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain. Vaksin ini merupakan salah satu vaksin yang berhasil. Vaksin ini harus diulang agar selalu terlindung pada umur 3 dan 6 tahun. 2. Oleh karena itulah vaksin hepatitis B termasuk yang wajib diberikan. 4. Vaksin ini juga dapat diberikan kepada bayi selama proses persalinan jika ibu terbukti terinfeksi. Virus ini bisa menular ke orang lain melalui kontak darah atau cairan tubuh lain (berbagi sikat gigi dan peralatan dapat meningkatkan resiko terkena penyakit). Dilanjutkan dengan vaksin kedua pada umur 1 bulan dan vaksin ketiga diberikan pada umur 6 bulan. Vaksin diberikan pada usia 0. dan 6 bulan.

dan kehilangan nafsu makan. Vaksin ini diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap demam tifoid (tifus atau paratifus). Kekebalan yang didapat hanya bisa bertahan selama 3 sampai 5 tahun saja. Anak-anak bisa tertular penyakit ini dari berbagi makanan atau minuman dengan penderita Hepatitis A atau dengan memasukkan makanan yang terkontaminasi atau benda di mulut mereka. dua kali dengan interval 6 . sakit kuning. Vaksin Tifoid Vaksin Tifoid polisakarida diberikan pada umur 2 tahun. Penyakit ini sebenarnya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya. sakit kepala. Tetapi apabila terkena penyakit ini waktu penyembuhannya cukup lama. 7. Vaksin ini diberikan pada anak-anak yang berusia 24 bulan.6. . yakni sekitar 1 sampai 2 bulan. dan hilangnya nafsu makan. Reaksi yang bisa didapatkan dari vaksin ini adalah rasa sakit di tempat suntikan. kelelahan. Oleh karena itu perlu dilakukan vaksin ulang kembali setiap 3 tahun. Vaksin Hepatitis A Hepatitis A adalah infeksi virus yang mempengaruhi hati dan dapat menyebabkan sejumlah gejala. termasuk demam.12 bulan diantara vaksinasi.

Vaksin virus MMR ini ditujukan untuk melindungi anak terhadap tiga virus berbahaya. Sedangkan rubella atau campak Jerman dapat menyebabkan cacat pada janin dari ibu hamil yang tertular atau pernah tertular penyakit ini jika infeksi terjadi selama kehamilan. Gondok menyebabkan rasa sakit wajah. gondok dan rubella atau campak Jerman. pembengkakan kelenjar liur. yaitu campak. Campak dapat menyebabkan demam tinggi dan ruam tubuh- lebar. yaitu imunisasi oral dan suntikan. Hal ini biasanya dilakukan untuk anak yang sudah dapat menelan kapsul. Sedangkan bentuk suntikan diberikan hanya satu kali. dan kadang-kadang pembengkakan kemandulan pada laki-laki. Imunisasi oral berupa kapsul diberikan selang sehari selama 3 kali. Vaksin anak MMR ini juga kadang dikombinasikan dengan vaksin virus cacar air. 9. . 8. Vaksin MMR (Measles Mumps Rubella) Vaksinasi pertama diberikan pada umur 15 bulan dan sekali lagi pada usia antara 5 sampai 6 tahun. Vaksin influenza (flu) Vaksin ini diberikan dengan tujuan memberikan kekebalan bagi tubuh terhadap serangan virus influenza. Tidak ada efek samping yang didapat pada imunisasi ini. Imunisasi ini dapat diberikan dalam 2 jenis.

dan mudah tersinggung. 11. . infeksi darah. Pada anak umur kurang dari 9 tahun yang mendapat vaksin influenza pertama kalinya harus mendapat 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu. Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) Vaksin ini juga dikenal dengan nama PCV13 (nama merek Prevnar 13). Bertujuan melindungi 13 jenis Streptococcus pneumoniae. 10. Vaksin Varisela Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap cacar air. 6 bulan.15 bulan. tepatnya diberikan pada musim gugur. dan bahkan kematian. Vaksin diberikan kepada anak-anak selama empat kali yaitu pada umur 2 bulan. Vaksin Influenza diberikan pada anak yang memiliki umur lebih dari 6 bulan dan dilakukan setiap tahunnya. 4 bulan. infeksi telinga. demam ringan. Selain itu beberapa anak juga mengalami efek samping vaksin ini seperti demam. Vaksin ini kebanyakan diberikan di negara-negara yang memiliki empat musim. yang merupakan bakteri penyebab meningitis. dan antara 12 . nyeri serta kemerahan atau bengkak di tempat bekas suntikan. Hal umum yang terjadi setelah vaksinasi ini adalah rasa sakit. Pemberian vaksin untuk melindungi anak-anak terhadap kuman yang dikenal secara kolektif sebagai bakteri pneumokokus. pneumonia. Efek samping dari vaksinasi ini adalah rasa kantuk. bengkak di tempat bekas suntikan.

bengkak di tempat suntikan dan demam. Bila diberikan pada anak yang berusia di atas 12 tahun. Efek samping dari vaksin ini biasanya berupa demam dan pembengkakan di tempat penyuntikan. Vaksin Hib Penyakit Hib adalah penyakit serius yang disebabkan oleh Bakteri Haemophilus influenza tipe B. Efek samping yang mungkin terjadi adalah demam tinggi dan kemerahan pada bekas suntikan. . Diberikan pada anak perempuan yang berusia di atas 10 tahun sebanyak 3 kali dalam jangka waktu tertentu (bulan ke 0. 12. 13. Vaksin diberikan pada umur 2. Dapat diberikan setelah umur 12 bulan. perlu 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu. Vaksin HPV (Human Pavilloma Virus) Vaksin ini merupakan pencegahan utama yang dilakukan untuk menghindari kanker serviks. Cacar air ini ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan yang secara perlahan mengering dan membentuk koreng yang akan mengelupas. 4. 1 dan 6). Reaksi yang didapat pada umumnya rasa nyeri dan kemerahan. Penyakit ini merupakan penyebab utama radang selaput otak (meningitis) yang pada umumnya menyerang anak di bawah umur 5 tahun. 6 dan antara 5-18 bulan. terbaik pada umur sebelum masuk sekolah dasar.

Vaksin ini aman dan tidak meyebabkan efek samping yang serius. 2. dosis ke-1 diberikan pada umur 6 . Dosis ke-2 diberikan dengan interval minimal 4 minggu.18 tahun. Vaksin Rotavirus Rotavirus adalah virus yang dapat mengakibatkan diare berat pada anak. Monovalen (Rotarix) diberikan 2 kali.6 tahun dan 7 . dengan interval minimal 4 minggu. Rotarix dosis ke-1 diberikan pada umur 6-14 minggu. 14. Dosis ke-3 diberikan pada umur 2 minggu. American Academy of Pediatrics (selanjutnya disingkat AAP).12 minggu. vaksin rotavirus pentavalen (Rotateq) diberikan 3 kali. Pada vaksin Rotateq. Semua jadwal ini disetujui oleh Advisory Committee on Immunization Practices (selanjutnya disingkat ACIP). Sebaiknya vaksin Rotarix selesai diberikan sebelum umur 16 minggu dan tidak melewati batas umur 24 minggu. Imunisasi di Amerika Serikat Departemen Kesehatan Amerika Serikat dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menawarkan jadwal Imunisasi anak dan remaja untuk usia 0 . Beberapa vaksinasi telah direkomendasikan di Amerika Serikat sejak . dan American Academy of Family Physicians (selanjutnya disingkat AAFP) (Anonim A. 2014).3.1. interval dosis ke-2 dan ke-3 adalah 4 - 10 minggu. serta "jadwal catch-up" untuk anak-anak berusia 4 bulan sampai 18 tahun yang mungkin tidak melakukan vaksinasi wajib secara lengkap.

dan AAFP tidak muncul hingga tahun 1995. tetapi sekarang tidak lagi direkomendasikan. 2014). tetanus. AAP. tetapi vaksin polio masih tetap ada pada jadwal imunisasi hingga kini. Daftar vaksinasi yang direkomendasikan termasuk vaksin untuk tujuh penyakit di tahun 1970 (Anonimus A. meskipun jadwal tahunan resmi yang telah disahkan oleh ACIP. Vaksin measles. dan pertusis direkomendasikan pada 1940- an. Vaksin baru yang dikembangkan untuk penyakit polio direkomendasikan pada tahun 1950. Vaksin cacar. Vaksin khusus yang digunakan telah berubah sejak saat itu. berada di jadwal pada 1940-an.tahun 1940-an. 2014) :  Tetanus  Difteri  Pertusis ( batuk rejan )  Polio  Measles  Mumps  Rubella . 2014). mumps dan rubella telah ditambahkan ke daftar rekomendasi pada 1970-an. di sisi lain. karena cacar dinyatakan dibasmi pada tahun 1980 dan dieliminasi dari Amerika Serikat jauh lebih dulu (Anonimus A. Sebuah vaksin gabungan untuk difteri. setelah vaksin untuk ketiga penyakit tersebut dikembangkan pada tahun 1960 (Anonim A. vaksin gabungan untuk ketiga penyakit ini masih direkomendasikan hari ini.

Vaksin Hib (Haemophilus influenzae tipe b) telah ditambahkan ke dalam daftar imunisasi di akhir 1980-an. Pembaruan tahunan berisi informasi rinci tentang vaksin yang direkomendasikan. Pada awal 2014. termasuk untuk cacar air (varicella) dan hepatitis A. AAP.6 tahun meliputi rekomendasi untuk vaksinasi berikut (Anonim A. 2014). Vaksin rotavirus yang pertama kali ditambahkan ke jadwal telah dihapus karena hubungan antara vaksin dan intususepsi. (Anonim A. Tetanus. termasuk informasi mengenai usia dan dosis terkait. Pertusis dan (vaksin DTaP gabungan)  Hib (Haemophilus influenzae tipe b)  Pneumococcal  Polio . jadwal imunisasi Amerika Serikat untuk anak usia 0 . sejumlah vaksin telah ditambahkan. Sejak itu. sejenis obstruksi usus. serta informasi mengenai vaksin baru yang ditambahkan ke jadwal. dan AAFP mulai mengeluarkan pembaruan jadwal tahunan. Pada tahun 1995. Vaksin tersebut kemudian digantikan dengan vaksin rotavirus yang berbeda yang tidak memiliki hubungan dengan kondisi tersebut. ACIP. Daftar vaksin yang disarankan terus diperbarui sebagai vaksin yang dikembangkan untuk penyakit lainnya. sedangkan vaksin untuk hepatitis B telah ditambahkan di pertengahan 1990- an. sementara yang lain telah dihapus atau diganti. 2014) :  Hepatitis B  Rotavirus  Difteri.

misalnya.18 tahun merekomendasikan vaksinasi human papillomavirus (HPV) dan vaksinasi meningokokus. meskipun tidak semua vaksin berlisensi ditambahkan ke jadwal. Imunisasi Aktif  Merupakan pemberian suatu bibit penyakit yang telah dilemahkan (vaksin) agar nantinya sistem imun tubuh berespon spesifik dan memberikan suatu ingatan terhadap antigen ini. 2014). Rubella dan (vaksin MMR gabungan)  Varicella (cacar air)  Hepatitis A  Meningokokus (kelompok berisiko tinggi) Selain itu. sehingga ketika terpapar lagi tubuh dapat mengenali dan meresponnya. 2010): 1. Jenis Imunisasi Ada dua jenis kekebalan yang bekerja pada tubuh. Vaksin demam kuning. vaksin baru akan dipertimbangkan untuk ditambahkan dalam jadwal setelah mendapatkan lisensi.  Influenza  Measles. Jadwal vaksinasi ini ditinjau setiap tahun. Mumps. 2.2. yaitu (Proverawati. . karena hanya orang-orang yang bepergian ke daerah endemis terhadap demam kuning yang perlu divaksinasi (Anonim A. Contoh imunisasi aktif adalah imunisasi polio dan campak. jadwal untuk usia 7 . tidak mungkin untuk ditambahkan ke jadwal.

Cairan pelarut dapat berupa air steril atau juga berupa cairan kultur jaringan yang digunakan sebagai media tumbuh antigen. yaitu zat yang dihasilkan melalui . eksotoksin yang didetoksifikasi saja. dalam hal ini semakin tinggi perlawanan maka semakin tinggi peningkatan antibodi tubuh. atau antibiotik. yaitu : a. Adjuvan. Ketika antigen terpapar dengan antibodi tubuh. misalnya telur. terdiri dari garam aluminium yang berfungsi meningkatkan sistem imun dari antigen. bahan kultur sel. Dasarnya adalah antigen harus merupakan bagian dari organisme yang dijadikan vaksin.  Dalam imunisasi aktif terdapat beberapa unsur-unsur vaksin. d. atau endotoksin yang terikat pada protein pembawa seperti polisakarida. antigen dapat melakukan perlawanan juga. protein serum. 2. Pengawet/stabilisator. Bahan-bahan yang digunakan seperti air raksa atau antibiotik yang biasa digunakan. c. Vaksin dapat berupa organisme yang secara keseluruhan dimatikan. Merupakan zat yang digunakan agar vaksin tetap dalam keadaan lemah atau menstabilkan antigen dan mencegah tumbuhnya mikroba. Imunisasi Pasif  Merupakan suatau proses peningkatan kekebalan tubuh dengan cara memberikan zat immunoglobulin. b. dan vaksin dapat juga berasal dari ekstrak komponen-komponen organisme dari suatu antigen.

termasuk untuk wanita hamil.8 derajat Celsius. cukup disimpan dalam suhu 2 . atau pasien yang mendapat pengobatan kortiosteroid. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah plasenta selama masa kandungan. Cara menyimpan vaksin mati ini juga lebih mudah daripada vaksin hidup. misalnya antibodi terhadap campak. misalnya penderita penyakit HIV/AIDS. mereka yang mengalami kelainan sistim imunologi/sistem pertahanan tubuh. sehingga aman bagi pemakai vaksin tersebut. Pada vaksin mati memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing yaitu diantaranya (Anonim B. orang yang dicangkok organ tubuh. pasien ginjal yang melakukan dialisis (cuci) darah. 2012) : 1. . Karena hanya mengandung bakteri atau virus mati. tidak ada lagi kemungkinan mutasi genetik dari bibit penyakit kembali menjadi ganas. Keuntungan vaksin mati adalah bisa dipergunakan untuk semua orang.  Contoh imunisasi pasif adalah penyuntikan Anti Tetanus Serum (selanjutnya disingkat ATS) pada orang yang mengalami luka kecelakaan. suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia (kekebalan yang didapatkan bayi dari ibu melalui plasenta) atau binatang (bisa ular) yang digunakan untuk mengatasi mikroba sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi.

sehingga untuk mendapatkan hasil proteksi yang optimal. mereka yang mengalami kelainan sistem imunologi/sistem pertahanan tubuh. yang disebut dosis booster /dosis penguat ulangan. sehingga vaksin jenis ini tidak boleh diberikan untuk wanita hamil. sehingga kita tidak memerlukan mengulang vaksinasi atau dosis penguat (booster). Kelebihanannya yaitu karena mengandung bibit penyakit hidup yang dilemahkan. dimana bibit penyakit menjadi ganas kembali. 2. maka reaksi perangsangan terhadap sistim imunologi tubuh lebih lemah. 2012) : 1. masih ada kemungkinan terjadi mutasi genetik. pasien ginjal yang melakukan dialisis (cuci) darah dan penderita yang diobati dengan kortikosteroid. sehingga menimbulkan reaksi rangsangan yang sangat kuat terhadap sistem imunologi tubuh kita untuk memproduksi zat antibodi. Kelemahanya adalah karena ini mengandung bakteri yang hidup meski telah dilemahkan. Kelemahannya adalah karena bakteri atau virus penyebab penyakitnya telah dimatikan. orang yang dicangkok organ tubuh. dan berlangsung lama. Karena bibit penyakit masih hidup meskipun telah dilemahkan. dan reaksi ini bertahan cukup lama bahkan seumur hidup. sehinggga menimbulkan penyakit bagi penerima vaksin . Pada vaksin hidup yang dilemahkan juga memiliki kelebihan dan kelemahan yaitu diantaranya (Anonim B. diperlukan pengulangan vaksinasi. 2. misalnya penderita penyakit HIV/AIDS.

Periksa kembali persiapan untuk melakukan pelayanan secepatnya bila terjadi reaksi ikutan yang tidak diharapkan. biasanya adalah suhu minus 20 derajat Celsius. 2. Baca dengan teliti informasi tentang yang akan diberikan dan jangan lupa mendapat persetujuan orang tua. 5. Memberitahukan secara rinci tentang risiko imunisasi dan risiko apabila tidak divaksinasi. 2. 6.3. 3. 4. tersebut. dianjurkan dianjurkan mengikuti tata cara seperti berikut (IDAI. Juga dikatakan bahwa kemungkinan efek samping lebih banyak ditemukan dengan vaksin hidup yang dilemahkan daripada dengan vaksin mati. Melakukan tanya jawab dengan orang tua atau pengasuhnya sebelum melakukan imunisasi. 2011) : 1. Periksa jenis vaksin dan yakin bahwa vaksin tersebut telah disimpan dengan baik. . Periksa identitas penerima vaksin dan berikan antipiretik bila diperlukan. maka dalam penyimpanan vaksin ini diperlukan suhu rendah untuk menyimpannya. Tata Cara Penggunaan vaksin Sebelum melakukan vaksinasi. Tinjau kembali apakah ada kontraindikasi terhadap vaksin yang akan diberikan. Karena mengandung bibit penyakit yang masih hidup.

Periksa tanggal kadaluarsa dan catat hal-hal istimewa. 10. Yakin bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal dan ditawarkan pula vaksin lain untuk mengejar imunisasi yang tertinggal (catch up vaccination) bila diperlukan.  Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya dan tawarkan vaksinasi untuk mengejar ketinggalan. misalnya adanya perubahan warna yang menunjukkan adanya kerusakan. apa yang harus dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi ikutan yang lebih berat. 7. Dalam situasi vaksinasi yang dilaksanakan untuk kelompok besar. sudut arah jarum suntik.  Catatan imunisasi secara rinci harus disampaikan kepada Dinas Kesehatan bidang P2M. Lihat uraian mengenai pemilihan jarum suntik.  Catat imunisasi dalam rekam medis pribadi dan dalam catatan klinis. Berikan vaksin dengan teknik yang benar. lokasi suntikan. Periksa vaksin yang akan diberikan apakah tampak tanda-tanda perubahan. 8. 9. bila diperlukan. namun rekomendasi tetap seperti di atas yang berpegang pada prinsip-prinsip higienis. dan . surat persetujuan yang valid. Setelah pemberian vaksin. dan posisi penerima vaksin. pelaksanaannya dapat bervariasi. kerjakan hal-hal seperti berikut :  Berilah petunjuk (sebaiknya tertulis) kepada orang tua atau pengasuh.

1. 2011). dan kebutuhan hukum dalam masyarakat sehingga perlu dicabut dan diganti dengan Undang-Undang tentang Kesehatan yang baru yakni Undang-Undang . tuntutan. Salah satu upaya pemberantasan penyakit menular adalah upaya pengebalan (imunisasi) (Dinkesdki.4. Namun. Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan. yang berarti setiap upaya program pembangunan harus mempunyai kontribusi positif terhadap terbentuknya lingkungan yang sehat dan perilaku sehat. Aspek Hukum Penggunaan Imunisasi/Vaksinasi di Indonesia dan Amerika Serikat 2.4. 2014).pemeriksaan penilaian sebelum imunisasi harus dikerjakan (IDAI. 2. Sebagai acuan pembangunan kesehatan mengacu kepada konsep “Paradigma Sehat” yaitu pembangunan kesehatan yang memberikan prioritas utama pada upaya pelayanan peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) dibandingkan upaya pelayanan penyembuhan/pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) secara menyeluruh dan terpadu dan berkesinambungan. “Paradigma Sehat” dilaksanakan melalui beberapa kegiatan antara lain pemberantasan penyakit. Hukum Imunisasi di Indonesia Salah satu strategi pembangunan kesehatan nasional untuk mewujudkan “Indonesia Sehat 2010” adalah menerapkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan.

Dalam perkembangannya saat ini setiap . Pada pasal 132 ayat 3 berbunyi “Setiap anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk mencegah terjadinya penyakit yang dapat dihindari melalui imunisasi” (UU NO. Program imunisasi dijalankan sebagai kewajiban pemerintah dalam suatu negara demi kepentingan rakyatnya (dikenal sebagai : hak rakyat). 36. 2009).000. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Wabah Penyakit Menular pada Pasal 1 ayat 1 yang bunyinya “Wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka”. yakni menyangkut hubungan hukum antara pemerintah/negara dengan warga negara/penduduknya. Pasal 14 ayat 1 berbunyi “Barang siapa dengan sengaja menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. 4. diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 1 (satu) tahun dan/ataudenda setinggi- tingginya Rp 1.000. 1984). Program imunisasi massal sifat hukumnya adalah hukum publik.Nomor 36 Tahun 2009 pada pasal 130 berbunyi “Pemerintah wajib memberikan imunisasi lengkap kepada setiap bayi dan anak”.(satu juta rupiah)” (UU NO.. Pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular pada pasal 14 ayat 1 menjelaskan hukuman denda bagi yang menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah.

Dasar hukum (aspek legalitas) Program Imunisasi ada di Undang- Undang Nomor 23 Tahun1992 yang telah digantikan oleh Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Purwadianto. pengebalan. penyelidikan. Pasal 31 : Untuk penyakit karantina dan wabah. 7 dan 8 juncto pasal 30 dan pasal 31 juncto pasal 4 ayat 1 UUD 1945 yakni adanya kekuasaan pengaturan secara umum (algemene regeling) yang merupakan bagian dari kekuasaan pemerintahan negara (staatsregering) yang berada di tangan presiden. Keberadaannya : Hak pemerintah mengatur bidang kesehatan tercantum pada pasal 6. 2000) : 1. Pasal 30 : Pemberantasan penyakit menular dilaksanakan dengan upaya penyuluhan. yang ditandai adanya peran swasta (termasuk profesi dokter praktek swasta) dalam program kesehatan. menghilangkan sumber dan perantara penyakit. Karenanya sifat hukumnya adalah menyelenggarakan upaya kesehatan dalam rangka kesejahteraan umum. melalui (sistem) pemerintahan sebagai tugas administrasi negara. 1970). tindakan karantina dan upaya lain yang diperlukan. . tunduk pada ketentuan undang-undang terkait.orang wajib dan bertanggung jawab tentang kesehatan (termasuk imunisasi). sehingga kajian program imunisasi massal termasuk dalam hukum administrasi negara (Muslimin.

3. Polio. Pasal 71 ayat (1) juncto kegiatan Upaya Kesehatan Sekolah : pasal 10 ayat (1) butir l juncto peningkatan kesehatan anak (usia sekolah) : pasal 17 ayat (2) dengan tujuan peningkatan kemampuan hidup sehat dalam lingkungan sekolah sehingga proses pendidikan lancar dan optimal (pasal 45 ayat (1) melalui sekolah atau lembaga pendidikan lain (pasal 45 ayat 2) dilengkapi Peraturan Pemerintah terkait. meskipun orang tua dapat memilih untuk tidak memberikan vaksin kepada anaknya di negara -negara bagian yang mewajibkan imunisasi. 2. 5. Kaitan dengan pengadaan vaksin mengenai perbekalan tercantum dalam pasal 60. Dalam upaya untuk memberantas Pertusis. Kaitan dengan pembinaan Pembinaan oleh pemerintah terhadap semua upaya kesehatan (pasal 73).2. Kaitan dengan perlindungan masyarakat Imunisasi merupakan upaya melindungi masyarakat terhadap kemungkinan kejadian gangguan dan atau bahaya kesehatan (pasal 74 butir 3) dan Peraturan Pemerintah terkait. Difteri.4. Campak. Tetanus. Varicella. Hukum Imunisasi di Amerika Serikat Di Amerika Serikat. Rubella. Mumps. 4. 62 dan 64. imunisasi tertentu diamanatkan oleh kebijakan negara untuk persyaratan masuk sekolah. 2. dan Hepatitis B . Kaitan dengan peran serta sekolah/guru dan masyarakat lain. 61.

Sementara semua negara bagian memerlukan catatan imunisasi. Ada perdebatan etis dan penolakan terhadap imunisasi yang diperlukan karena adanya keyakinan agama atau kebiasaan adat yang berbeda dan dapat menimbulkan pelanggaran terhadap kebebasan individu (Malone.dari penduduknya. 2007). ini tidak berarti bahwa semua siswa harus divaksinasi. Pada tahun 1855. hakim telah mengeluarkan lebih dari 200. Negara-negara bagian di Amerika Serikat menyarankan atau memberikan pembebasan kepada orang tua untuk melakukan imunisasi. 2014).000 pembebasan vaksinasi (Anonimus A. . penolakan terhadap vaksinasi wajib menyebabkan terorganisirnya gerakan anti-vaksinasi aktif. Pada saat itu. Pada akhir 1898. Massachusetts menjadi negara bagian Amerika Serikat pertama yang memerlukan vaksinasi untuk anak-anak sekolah. tapi semua negara bagian membutuhkan catatan imunisasi di sekolah (bahkan jika catatan ini mengatakan anak tersebut tidak menerima vaksin). Beberapa negara bagian memungkinkan orang tua untuk memilih tidak memberikan vaksin kepada anaknya dalam berbagai alasan. Perluasan hukum pada tahun 1871 memperketat penegakan kewajiban melakukan vaksinasi. hanya saja semua siswa harus memiliki catatan yang menyatakan apakah mereka telah divaksinasi atau tidak. Namun. Beberapa negara bagian dan daerah lain mulai melewati peraturan serupa. hanya vaksin cacar yang tersedia. meskipun aturan itu sering hanya sesekali ditegakkan. sekolah di seluruh Amerika Serikat membutuhkan catatan imunisasi diperbarui untuk semua siswa yang baru mendaftar ataupun siswa lama.

kecuali Virginia Barat dan Mississippi memungkinkan pengecualian agama. 2008). telah berulang kali ditegakkan sebagai pelaksanaan kegiatan polisi negara bagian dalam memberantas kasus epidemi atau bahkan kasus tunggal. 2005). Beberapa orang tua dengan salah menganggap bahwa dengan keyakinan agama dapat mendapatkan pembebasan vaksinasi dan peningkatan jumlah wabah penyakit datang dari masyarakat di mana imunitas kelompok (herd immunity) hilang akibat vaksinasi yang tidak mencukupi (Ciolli. . Hukum imunisasi wajib di Amerika Serikat. Mereka juga telah menjadi bagian utama. bahkan untuk kasus di mana undang-undang bertentangan dengan keyakinan agama pada setiap individu (Diekema. Pembebasan imunisasi biasanya untuk anak yang sistem kekebalan tubuhnya terganggu (immuno compromised). dan dua puluh negara bagian mengizinkan orang tua untuk memberikan penolakan pribadinya.sebelum anak-anak mereka mendaftar di sekolah umum. alergi terhadap komponen yang digunakan dalam vaksinasi. Semua negara bagian.

Imunisasi pertama kali dilakukan oleh Edward Jenner. Penggunaan Imunisasi/Vaksinasi di Indonesia dan Amerika Serikat Dilihat Dari Islam Imunisasi sangat penting sebagai penunjang kesehatan bayi dan anak-anak. Nabi Muhammad SAW bersabda: ُ ‫ض َّرهُ دَ ِل َك ْال َي ْو َم‬ ‫س ٌّم َوالَ ِس ْحر‬ ُ ‫ع ْخ َوة ً لَ ْم َي‬ ٍ ‫سبْعِ تَ َم َرا‬ َ ‫ت‬ َ َ‫َم ْن ت‬ َ ‫صبَّ َح ِب‬ . seorang dokter dari Inggris. 2009). Pertama kali dibuat dalam bentuk suntikan yang digunakan untuk kekebalan tubuh. BAB III PERBANDINGAN ASPEK HUKUM PADA PENGGUNAAN IMUNISASI/VAKSINASI ANTARA INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT DITINJAU DARI ISLAM 3. 2008). Imunisasi ada yang berbentuk serum yang disuntikkan pada bagian tubuh (biasanya bagian lengan atau bokong).1. dan ada juga yang berbentuk cairan yang diteteskan ke dalam mulut. Tindakan pencegahan atas penyakit yang dikhawatirkan bisa menimpa termasuk upaya pengobatan yang disyari’atkan dalam Islam. Tujuan pemberian imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Alimul. Saat itu Jenner termotivasi adanya penyebaran virus cacar yang mematikan di Inggris (Abraham.

Imunisasi pasif (passive immunization) adalah tubuh anak tidak membuat zat antibodi sendiri tetapi kekebalan tersebut diperoleh dari luar setelah memperoleh zat penolakan. 1. (HR. Imunisasi aktif alamiah: adalah dimana kekebalan akan dibuat sendiri oleh tubuh setelah mengalami atau sembuh dari suatu penyakit. Imunisasi aktif (active immunization) adalah kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap suatu penyakit tertentu. Imunisasi aktif buatan: adalah dimana kekebalan dibuat oleh tubuh setelah mendapat vaksin yaitu hepatitis B. DPT/Hep B kombo. maka tidak akan terserang kembali. al-Bukhari dan Muslim). Ini adalah bentuk pencegahan sebelum datangnya penyakit. b. tidak juga sihir”. misalnya campak. . dan polio. jika pernah sakit campak. maka racun tidak akan membahayakannya pada hari itu.Artinya: “Barang siapa yang sarapan dengan tujuh butir kurma ‘ajwah (sejenis kurma Madinah). dan barangsiapa yang tidak melakukannya tidaklah diingkari (al-Minangkabawy. maka barangsiapa yang melakukan imunisasi maka tidak mengapa. 2013). sehingga prosesnya cepat tetapi tidak bertahan lama karena akan di metabolisme oleh tubuh. 2. 2007): a. Atas dasar ini. Ada dua jenis imunisasi yang bekerja pada tubuh bayi atau anak (Endife. BCG.

2. TT Ibu Hamil tahun 1974. Kemudian kegiatan imunisasi ini dilaksanakan secara rutin di seluruh Indonesia sejak tahun 1956. Pada tahun 1977. dan tahun Hepatitis B tahun 1997. Campak tahun 1982. Bayi mendapatkan zat antibodi dari ibu sewaktu didalam kandungan. yaitu dimana kekebalan ini diperoleh setelah mendapatkan suntikan zat penolakan. Polio tahun 1981. Pada tahun 1990 secara nasional Indonesia mencapai status Universal Child Immunization (UCI) yaitu mencakup minimal 80% (campak) sebelum anak berusia satu tahun dan cakupan untuk DPT-3 minimal 90% (Kesmas. Imunisasi pasif alamiah atau bawaan. Di Amerika Serikat. yaitu campak. dibuktikan dengan Indonesia dinyatakan bebas cacar oleh WHO pada tahun 1974 (Kesmas. pengembangan kebijakan imunisasi dicapai melalui . misalnya ATS. Kegiatan imunisasi ini telah berhasil membasmi penyakit cacar. yaitu melalui jalan darah menembus plasenta. Di Indonesia program imunisasi secara resmi dimulai di 55 Puskesmas pada tahun 1977 Beberapa antigen mulai menjadi program imunisasi nasional seperti BCG tahun 1973. Pelaksanaan Imunisasi di Indonesia telah dimulai sejak sebelum perang dunia ke dua dengan tujuan memberantas penyakit cacar. Imunisasi pasif buatan. DPT tahun 1976. WHO memulai pelaksanaan program imunisasi sebagai upaya global secara resmi dan disebut suatu Expanded Program on Immunization (EPI) yang dikenal di Indonesia sebagai Program Pengembangan Imunisasi (PPI). 1. 2013). yaitu terdapat pada bayi baru lahir sampai berumur 5 bulan. 2013).

dan karena tiga belas vaksin lain yang diperlukan untuk mencegah penyakit. Upaya koordinasi ini. kecuali Virginia barat dan Mississippi memungkinkan pengecualian agama. dan organisasi lainnya.interaksi antara pemerintah federal dan lembaga pemerintah negara. alergi terhadap komponen yang digunakan dalam vaksinasi. sebelum anak-anak mereka mendaftar di sekolah umum. ditularkan melalui jalur pernapasan yang dianggap sangat menular (Jordan. anak-anak. Bukan hanya . menghasilkan pengembangan dan pelaksanaan imunisasi yang direkomendasikan untuk bayi. 2009). 2008). masyarakat medis profesional. Pembebasan imunisasi biasanya untuk orang yang sistem kekebalan tubuhnya terganggu (immuno compromised). maka dapat dipahami bahwa istighfar dan mohon ampunan kepada-Nya adalah penangkal dan penawar berbagai wabah dan penyakit. Semua negara. Negara-negara bagian di Amerika Serikat menyarankan atau memberikan pembebasan kepada orang tua untuk melakukan imunisasi. dan dua puluh negara bagian mengizinkan orang tua untuk menyebutkan penolakan pribadinya. dan orang dewasa (Smith. Persyaratan ini telah memicu kontroversi ketika diterapkan pada vaksin HPV karena alasan biaya vaksin. remaja. Semua vaksin yang direkomendasikan oleh pemerintah Amerika Serikat bagi warganya diwajibkan untuk pemilik green card. Berbuat maksiat adalah biang datangnya berbagai musibah dan wabah penyakit. Beberapa orang tua dengan salah menganggap bahwa dengan keyakinan agama dapat mendapatkan pembebasan vaksinasi dan peningkatan jumlah wabah penyakit datang dari masyarakat di mana imunitas kelompok (herd immunity) hilang akibat vaksinasi yang tidak mencukupi (Ciolli. 2008).

Di antara tujuan syari’at Islam adalah menggapai maslahat dan manfaat serta menghilangkan mafsadat dan bahaya.menangkal penyakit. serta tidak mengandung zat-zat yang diharamkan. 2013)." (Q. Hal ini dengan alasan karena mencegah bahaya (penyakit) yang lebih baik daripada tidak menggunakannya (Bahraen. yaitu kekebalan pasif dan kekebalan aktif. sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa. keberkahan dan kemudahan dalam hidup (Badri. al-Hudd (11):3). Vaksinasi zaman sekarang tentu dibolehkan selama cara dan tujuannya benar. Pandangan Islam terhadap imunisasi/vaksinasi Imunisasi merupakan suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen.2. Vaksinasi-imunisasi yang bertujuan untuk mengusahakan kesehatan manusia itu boleh atau halal selagi belum ada bahan vaksinasi-imunisasi yang halaalan thayyiban. 2010). Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh. kebahagian. Allah Ta'ala berfirman dalam al-Quran:              Artinya: “Dan hendaknya kamu meminta ampun kepada Tuanmu dan bertaubat kepada- Nya (Jika kamu mengerjakan yang demikian) niscaya Allah akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai pada waktu yang telah ditentukan. akan tetapi istighfar juga akan mendatangkan kedamaian. Contohnya adalah kekebalan pada janin yang diperoleh dari ibu atau kekebalan yang diperoleh setelah pemberian suntikan imunogloblulin. 3. Dilihat dari cara timbulnya maka terdapat dua jenis kekebalan. tidak terjadi penyakit. bukan dibuat oleh individu itu sendiri.s. Kekebalan .

Ditambah lagi bahwa keadaan ini masuk dalam kategori darurat atau hajat yang sederajat dengan darurat. mencakup semua jenis penyakit baik jasmani dan rohani (Zuhroni. sebagaimana halnya boleh berobat tatkala terkena penyakit. Sebelum Rasulullah wafat.‫س ْكت ُ ْم بِ ِه َما‬ ِ َ ‫ت َ َر ْكتُ فِ ْي ُك ْم أ َ ْم َر ي ِْن لَ ْن ت‬ Artinya: “Aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara. haji terakhir beliau atau dikenal sebagai haji perpisahan beliau dengan umat Islam. atau terpajan secara alamiah (IDAI. sempat berwasiat: ‫سنَّةَ نَ ِب ِي ِه‬ َّ ‫اب‬ ُ ‫َّللاِ َو‬ َّ ‫ضلَّ ْوا َما ت َ َم‬ َ َ ‫ ِكت‬.aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen seperti pada imunisasi.” (HR. Segala sesuatu yang diterangkan dalam al-Quran. Dalam Islam. 2010). dalam hal ini digali dalam konsep thaharah secara holistic meliputi suci fisik serta jasmani dan rohani. Pengobatan Nabi merupakan bagian dari berobat dengan al-Quran. karena termasuk penjagaan diri dari penyakit sebelum terjadi. karena al-Quran menganjurkan pula mengikuti Rasulullah. Pengobatan yang bersifat preventif (pencegahan) yang terdapat dalam al-Quran cukup menonjol. Al-Quran berkaitan dengan al-Sunnah. Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang. Termasuk di dalamnya melakukan upaya preventif agar tidak terkena penyakit dan berobat manakala sakit. (yaitu) Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. kalian tidak akan pernah sesat selama senantiasa berpegang teguh dengan keduanya. 2008). Pada dasarnya Islam sangat mendorong umatnya untuk senantiasa menjaga kesehatan. tepatnya ketika beliau khutbah pada Haji Wada’. Imam Malik). Demikian juga jika dikhawatirkan terjadi wabah yang menimpa maka hukumnya boleh. sedangkan termasuk perkara yang dimaklumi bersama .

yang berasal dari -atau mengandung.3.” (Q. (as-Sidawi. termasuk vaksin. sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal. Oleh karena itu sebaiknya semua kembali kepada Allah dan rasul-Nya. setelah mendiskusikan masalah ini mereka menetapkan (as-Sidawi.benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram. 2008).s. khususnya vaksin polio (IPV). 3. penggunaan obat-obatan. An-Nisa (4):59). yaitu enzim tripsin babi masih digunakan dalam pembuatan vaksin. Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise. dibolehkan. Pada dasarnya. semua jalan keluar telah diberikan oleh agama islam.bahwa tujuan syari'at yang paling penting adalah menumbuhkan maslahat dan membendung mafsadat. Selama ini banyak penjelasan dari berbagai pihak. Namun . Majelis Ulama Indonesia dalam rapat pada 1 Sya’ban 1423H. Pro dan Kontra Pemberian Imunisasi/Vaksinasi dari Segi Islam Sebagai seorang muslim. pada saat ini. mengenai bahan pembuatan vaksin yang sering diragukan kehalalannya.          Artinya: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu. 2008): 1. Sesungguhnya pintu fiqih itu luas memberikan toleransi dari perkara najis. kalau kita katakan bahwa cairan (vaksin) itu najis. maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya). 2. apalagi terbukti bahwa cairan najis ini telah lebur dengan memperbanyak benda-benda lainnya.

minyak menjadi sabun. Enzim ini akan mengalami proses pencucian. Untuk sampai kepada status hukum imunisasi model di atas. dan sebagainya. enzim tripsin yang merupakan unsur turunan dari pancreas babi ini tidak terdeteksi lagi. kami memandang penting untuk memberikan jembatan terlebih dahulu dengan memahami beberapa masalah dan kaidah berikut (as-Sidawi. 2008) : a. Apakah benda najis yang telah berubah nama dan sifatnya tadi bisa menjadi suci? Masalah ini diperselisihkan ulama. Dalam proses pembuatan vaksin. air PAM dibuat dari air sungai yang mengandung berbagai macam kotoran dan najis.apabila ditelaah kembali. 2008): 1. Pada hasil akhirnya. Pendapat mayoritas ulama bahwa kulit bangkai bisa suci dengan disamak . enzim tripsin babi hanya dipakai sebagai enzim proteolitik (enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisah sel/protein). bai menjadi garam. b. dengan dalil-dalil berikut (as-Sidawi. hanya saya pendapat yang kuat menurut kami bahwa perubahan tersebut bisa menjadikannya suci. Seperti khamr berubah menjadi cuka. pemurnian dan penyaringan (Iskandar. 2008). Masalah Istihalah Maksud Istihalah di sini adalah berubahnya suatu benda yang najis atau haram menjadi benda lain yang berbeda nama dan sifatnya. Ijma’ (kesepakatan) ahli ilmu bahwa khamr apabila berubah menjadi cuka maka menjadi suci. namun menjadi bersih dan halal setelah diproses.

tidak ada yang menajiskannya sesuatu pun. tidak ada dalil yang menajiskan dan mengharamkannya. baik rasa. warna. Masalah Istihlak Maksud Istihlak di sini adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lainnya yang suci dan hal yang lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis dan keharamannya. Ad-Daruquthni). Apabila benda najis yang terkalahkan oleh benda suci tersebut bisa menjadi suci? Pendapat yang benar adalah bisa menjadi suci. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Barang siapa yang memperhatikan dalil-dalil yang disepakati dan memahami rahasia hukum syari’at. berdasarkan dalil berikut: َ ُ‫سه‬ ‫ش ْيء‬ َ ‫ِإ َّن ْال َما َء‬ ُ ‫ط ُهور الَ يُن َِج‬ artinya: “Air itu suci. 2. َ ‫َكا نَ اَ ْل َما َء قُلَّتَي ِْن لَ ْم َي ْح ِم ْل اَ ْل َخ َب‬ ‫ث‬ artinya: “Jika air telah mencapai dua qullah. sehingga najis tersebut lebur tak menyisakan warna atau baunya maka dia menjadi suci. c. dan baunya. maka tidak mungkin dipengaruhi kotoran (najis)” (HR. niscaya akan jelas baginya bahwa pendapat ini paling benar. Abu Sa’id).” (HR. . Dua hadits di atas menunjukkan bahwa benda yang najis atau haram apabila bercampur dengan air suci yang banyak. Benda-benda baru tersebut – setelah perubahan – hukum asalnya adalah suci dan halal.

3. hartanya atau kehormatannya. 2008). maka tidak . daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Dalam ayat al- Quran dikatakan:                             artinya: “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai.sebab najisnya air dan cairan tanpa bisa berubah. Demikian juga. 2008). Oleh karenanya. Darurat dalam berobat Dharurah (darurat) adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman. darah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas. sangat jauh dari logika. yaitu ketika seorang memilki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak menerjang larangan tersebut niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada badanya. seandainya ada seseorang yang meminum khamr yang bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat khamr-nya hilang maka dia tidak dihukumi minum khamr. bila ada seorang bayi diberi minum ASI (air susu ibu) yang telah bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat susunya hilang maka dia tidak dihukumi sebagai anak persusuannya (as-Sidawi.” (as-Sidawi.

ٍ‫ْس ِبدَ َواء‬ َ ‫ِإ نَّهُ لَي‬ artinya: “Sesungguhnya khamr itu bukanlah obat melainkan penyakit.al-Baqarah (2):173). 2008).” (as-Sidawi. Namun. sebab kerusakan jiwa dan anggota badan lebih besar daripada kerusakan makan barang najis. Namun hal ini harus memenuhi dua persyaratan: tidak ada pengganti lainya yang boleh (mubah/halal) dan mencukupkan sekadar untuk kebutuhan saja. apabila ada kesulitan maka akan ada tambahan kemudahan lagi.” (HR. Oleh karena itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q. Kemudahan saat kesempitan Sesungguhnya syari’at islam ini dibangun di atas kemudahan. (as-Sidawi. Hukum berobat dengan sesuatu yang haram Masalah ini terbagi menjadi dua bagian : a. 4. 2008). Muslim). al-Izzu bin Abdus Salam mengatakan : “Seandainya seorang terdesak untuk makan barang najis maka dia harus memakannya. Banyak sekali dalil-dalil yang mendasari hal ini.s. Hadist ini merupakan dalil yang jelas tentang haramnya khamr dijadikan sebagai obat. Semua syari’at itu mudah. bahkan Imam asy- Syathibi mengatakan: “Dalil-dalil tentang kemudahan bagi umat ini telah mencapai derajat yang pasti”. berdasarkan hadist nabi : ‫ َولَ ِكنَّهُ دَاء‬.ada dosa baginya. Berobat dengan khamr adalah haram sebagaimana pendapat mayoritas ulama. 5. .

” (QS. dan Ibnu Hazm. kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Tidak boleh secara mutlak. dan bolehnya orang yang sedang ihrom untuk mencukur rambutnya apabila ada penyakit di rambutnya (as- Sidawi. Nabi membolehkan emas bagi sahabat arfajah untuk menutupi aibnya. Al. Syafi’iyyah. Ini adalah madzab Malikiyyah dan Hanabillah. 2008). Masalah ini diperselisihkan ulama menjadi dua pendapat : 1. Boleh dalam kondisi darurat. Di antara dalil mereka adalah sabda Nabi: . 2. padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu. Di antara dalil mereka adalah keumuman firman Allah :                      artinya: “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang- binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Ini pendapat Hanafiyyah.b. Berobat dengan benda haram selain khamr.An’am [6]:119) Demikian juga Nabi membolehkan sutera bagi orang yang terkena penyakit kulit.

‫ َوالتَتَدَاوو‬،‫َّللاَ َخ َلقَ الدَّا َء َو الد ََّوا َء فَتَدَ َاو ْوا‬ َّ ‫ِإ َّن‬ ِِ ‫ا ِب َح َر ِام‬ artinya: “Sesungguhnya allah menciptakan penyakit dan obatnya. maka vaksin yang menggunakan enzim tripsin babi dalam proses pembuatannya itu dibolehkan (Fachrizal.4. 2007). Hanya saja yang amat disayangkan kebanyakan obat-obatan tersebut ditemukan dan dibuat oleh tangan-tangan yang tidak peduli dengan hukum syari'at Islam. 3. Ini dikarenakan babi mempunyai susunan DNA yang hampir mirip dengan DNA manusia. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengakui vaksinasi polio mengandung zat haram. Dalam proses pembuatan vaksin. MUI sendiri telah mengeluarkan fatwa yang membolehkan penggunaan vaksin tersebut. vaksin diperbolehkan. maka berobatlah dan jangan berobat dengan benda haram” (HR. Tapi. Tripsin babi sebenarnya bukanlah bahan baku vaksin. dengan alasan darurat. at-Thabrani). Tripsin babi memang digunakan dalam pembuatan vaksin polio. sedang belum ditemukan pengganti yang halal. Jadi. padahal dalam waktu yang sama kaum muslimin harus mengikuti perkembangan zaman yang ada (as-Sidawi. dikarenakan alasan darurat. . tripsin hanya dipakai sebagai enzim proteolitik (enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisah sel/protein). Perbandingan Hukum Penggunaan Imunisasi/Vaksinasi di Indonesia dan Amerika Serikat dari Segi Islam Tidak samar lagi bahwa ilmu kedokteran telah menemukan berbagai jenis obat-obatan dan alat penyembuhan yang tidak dikenal sebelumnya. 2008).

Allah SWT menganjurkan kepada hamba-Nya untuk mencegah sesuatu yang buruk. kecuali Virginia barat dan Mississippi memiliki hukum pengecualian agama. sebagai petugas kesehatan harus nenelaah terlebih dahulu. dibandingkan melakukan penolakan terhadap imunisasi seperti di Amerika Serikat. Hal tersebut lebih baik. DPT (difteri pertusis tetanus). Demikian juga jika dikhawatirkan timbulnya suatu penyakit dan dilakukan imunisasi untuk melawan penyakit yang muncul di suatu tempat atau di mana saja. maka vaksin diperbolehkan (as-Sidawi. yakni BCG (bacillus calmette-guerin). Pemerintah Indonesia sebenarnya tidak mewajibkan berbagai jenis imunisasi harus dilakukan semua. 2008). Adapun imunisasi yang bahan vaksinnya dari bahan yang haram. Dari pembahasan di atas. imunisasi termasuk tindakan mencegah penyakit sebelum terjadi. campak. dan hepatitis B (Depkes RI. namun manusia tidak bisa menolak takdir. karena hal itu termasuk tindakan pencegahan. Dengan pengecualian agama tersebut seseorang dapat tidak diwajibkan untuk melakukan imunisasi (Ciolli. MUI sendiri telah mengeluarkan fatwa apabila dengan alasan darurat. muslim di Amerika Serikat melakukan penolakan terhadap imunisasi. sebelum anak-anak mereka mendaftar di sekolah umum. 2008). 2005). Negara-negara bagian di Amerika Serikat menyarankan atau memberikan pembebasan kepada orang tua untuk melakukan imunisasi. maka hal itu tidak masalah. polio. Sehingga semua negara bagian. dalam Al-Qur’an dijelaskan: . Dalam Islam. Hanya lima jenis imunisasi pada anak di bawah satu tahun yang harus dilakukan. Dikarenakan terdapat bahan untuk imunisasi yang berasal dari bahan yang haram.

khususnya untuk pemeluk agama Islam. Dan janganlah engkau mengikuti langkah-langkah setan. namun bukan berarti harus dipandang buruk. al-Baqarah (2):168). karena merupakan tindakan pencegahan dan tindakan pencegahan memang sudah dianjurkan di Al- Quran dengan jelas. Imunisasi memang tindakan memasukkan substansi asing ke dalam tubuh. bukan hanya sekedar memasukkan substansi asing ke dalam tubuh. Kebijakan di Amerika Serikat yang membolehkan penduduknya tidak melakukan kegiatan vaksinasi/imunisasi dengan syarat memiliki surat keterangan dengan alasan agama atau alasan pribadi merupakan kebijakan yang baik untuk setiap orang yang ragu dalam melaksanakan kegiatan imunisasi/vaksinasi. karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” (Q. Karena setiap imunisasi yang diberikan memiliki tujuan untuk meningkatkan imunitas dan pencegahan terhadap penyakit tertentu. Namun pada dasarnya setiap orang memiliki hak untuk melakukan atau tidak melakukan kegiatan vaksinasi/imunisasi tersebut. Semua kembali pada .s. Melakukan vaksinasi/imunisasi sesungguhnya baik. makanlah yang halal lagi baik dari apa yang ada di bumi. Kandungan vaksin yang haram membuat sebagian orang ragu untuk melakukan kegiatan imunisasi/vaksinasi.                  artinya: “Wahai sekalian manusia.

Walaupun dalam Islam terdapat rukhshah atau keringanan. .individu masing-masing karena karena pada dasarnya tidak semua orang yang melakukan vaksinasi/imunisasi akan bebas dari penyakit. untuk menghentikan keraguan ini ada baiknya para peneliti mulai membuat vaksin dengan bahan yang halal agar para pemeluk agama Islam tidak perlu ragu dalam melaksanakan imunisasi/vaksinasi.

imunisasi tertentu diamanatkan oleh kebijakan negara untuk persyaratan masuk . anak tidak menjadi sakit karena tubuh dengan cepat membentuk antibodi dan mematikan antigen/penyakit yang masuk tersebut. Begitu pula di Amerika Serikat. terdapat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular pada pasal 14 ayat 1 menjelaskan hukuman denda bagi yang menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah. tidak terjadi penyakit. salah satu upaya pemberantasan penyakit menular adalah upaya pengebalan (imunisasi). Imunisasi merupakan suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen. Hal tersebut sejalan dengan Islam. Di Indonesia. Tujuannya adalah memberikan “infeksi ringan” yang tidak berbahaya namun cukup untuk menyiapkan respon imun sehingga apabila terjangkit penyakit yang sesungguhnya di kemudian hari. BAB IV KAITAN PANDANGAN ILMU KEDOKTERAN DAN ISLAM TENTANG PENGGUNAAN IMUNISASI/VAKSINASI ANTARA INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT Setelah kajian dari bab dua dan bab tiga dikaitkan dengan kedokteran dan agama dapat dikatakan bahwa. karena pada dasarnya Islam sangat mendorong umatnya untuk senantiasa menjaga kesehatan. Termasuk di dalamnya melakukan upaya preventif agar tidak terkena penyakit. sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa. Sehingga setiap orang wajib bertanggung jawab atas kesehatan.

Enzim ini akan mengalami proses pencucian. Sebagian dari upaya preventif agar tidak terkena penyakit. mengenai bahan pembuatan vaksin yang sering diragukan kehalalannya karena mengandung enzim tripsin babi. kecuali Virginia barat dan Mississippi memungkinkan pengecualian agama. Namun semua negara bagian. Menurut ketentuan agama Islam. enzim tripsin babi hanya dipakai sebagai enzim proteolitik (enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisah sel/protein). Upaya pencegahan seperti imunisasi adalah hal yang sejalan dengan kedokteran dan Islam karena Allah SWT menganjurkan kepada hamba-Nya untuk mencegah sesuatu dari hal yang buruk. sebagai petugas kesehatan sebaiknya dapat memilah baik dan buruknya terlebih dahulu.sekolah. dan dua puluh negara bagian lainnya mengizinkan orang tua untuk memberikan penolakan terhadap imunisasi. Namun dalam proses pembuatannya. karena termasuk penjagaan diri dari sebelum terkenanya penyakit. Adapun imunisasi yang bahan vaksinnya dari bahan yang haram. namun manusia tidak dapat menolak takdir. Memang banyak penjelasan dari berbagai pihak. karena mencegah lebih baik daripada mengobati. . imunisasi hukumnya boleh dan tidak dilarang. Pada akhirnya. enzim tripsin tersebut tidak terdeteksi lagi. pemurnian dan penyaringan.

1. Kesimpulan 5.1. 5. surat persetujuan yang valid. dan pemeriksaan penilaian sebelum imunisasi harus dikerjakan.3 Pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 pemerintah diwajibkan memberikan imunisasi lengkap kepada setiap bayi dan anak kemudian bagi yang menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah atau imunisasi akan mendapatkan hukuman denda.4. 5.1 Pembuatan vaksinasi/imunisasi yang sering diragukan .4 Agama Islam memperhatikan pembuatan dan penggunaan vaksinasi/imunisasi 5. 5.1.1. serta memiliki tata cara pelaksanaan yang bervariasi namun tetap memegang pada prinsip-prinsip higienis.1.1 Imunisasi sangat diperlukan sebagai langkah pencegahan yang dilakukan orang tua agar anak tidak mudah terserang jenis penyakit tertentu. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Amerika Serikat juga mewajibkan imunisasi sebagai salah satu persyaratan untuk masuk sekolah.2 Setiap vaksinasi/imunisasi memiliki kekurangan dan kelebihannya tersendiri namun hal tersebut didukung dengan keadaan tubuh pada masing-masing individu.1.

2 Penggunaan imunisasi sebenarnya merupakan bentuk pencegahan dari penyakit sebelum terjadi. Namun ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa bahan pembuatan vaksin yang mengandung benda najis ataupun benda terkena najis termasuk haram.1. 5. Saran 5. pemurnian dan penyaringan. pada hasil akhirnya enzim ini tidak terdeteksi lagi karena mengalami proses pencucian.4. maka Islam tidak melarang kegiatan imunisasi karena merupakan salah satu upaya preventif agar tidak terkena penyakit. 5.1 Sebaiknya pemerintah bersikap tegas terhadap pelaksanaan program imunisasi apabila ingin seluruh rakyat melaksanakan program tersebut memberitahu setiap orang tua agar selalu memperhatikan kesehatan bayinya yaitu agar selalu aktif ke posyandu atau tenaga kesehatan terdekat untuk melaksanakan imunisasi. dan Allah SWT menganjurkan kepada hamba-Nya untuk mencegah sesuatu yang buruk selain itu pengobatan yang bersifat preventif (pencegahan) yang terdapat dalam Al-Quran juga sudah cukup jelas. .2. kehalalannya karena mengandung enzim tripsin babi.2.

3 Untuk Majelis Ulama Indonesia sebaiknya membuat fatwa dan aturan yang tegas serta penjelasan yang mudah terhadap penggunaan dan kandungan vaksinasi/imunisasi agar tidak membingungkan masyarakat yang ragu apabila ingin melakukan vaksinasi/imunisasi.2. . 5.2.2 Kepada pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan perlu memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat yang sebenarnya tentang pentingnya imunisasi dan hal-hal yang berkaitan sehingga masyarakat tidak perlu takut membawa anaknya untuk imunisasi.5.

html Diakses 14 Januari 2014. Al-Minangkabawy A.id/vaksinasi-dan-imunisasi/. Tersedia di http://kesehatanmuslim.ahlussunnah. Diakses 6 Februari 2014. Tersedia di http://selukbelukvaksin. 2006. Bahraen R. . Diakses 8 Februari 2014. 2011. Diakses 3 Februari 2014. AUYM. Tersedia di http://www. History Anti Vaccination Movements. Bogor. 2013. (14. (20. 2013. Kesehatan Ibu dan Anak.id/fiqh-dan-muamalah/pro-kontra-hukum-imunisasi-dan- vaksinasi. Imunisasi Dalam Pandangan Syariat. Badri MA.25). PT. Pustaka Darul Ilmi.20).15). 2014. 2008.44).com/imunisasi-dalam-pandangan-syariat/. Bahraen R.org/content/articles/history-anti-vaccination- movements/ . 2010. Majalah Al Furqan. Vaksinasi dan Imunisasi Dalam Kajian Syar’i. Abraham. Jakarta. Departemen Agama Republik Indonesia. Ed 5 Th ke-8 hh: 37-41. As-Sidawi. Kontroversi Hukum Imunisasi Polio. (17. Tersedia di http://muslim.com/jenis-dan-macam-vaksin/. Anonim A. Pro Kontra Hukum Imunisasi dan Vaksinasi. 2008. Tersedia di http://www. Imunisasi Syariat. (15.web. DAFTAR PUSTAKA Al Qur’an dan Terjemahnya. Jenis dan Macam Vaksin. Anonim B.or. 2012.historyofvaccines. Rineka Cipta.

Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. 2011. 2007. 2011. 2010. Mandatory School Vaccinations: The Role of Tort Law. Asadi L. Yogyakarta: Kanisius. SB. Pandemi Influenza. 81(3): 129-137. IDAI.com/2013/04/prinsip-dasar-imunisasi. Iskandar. dipresentasikan di Seminar Ilmiah Bio Farma. Vaccination Mandates: The Public Health Imperative and Indivual Rights. Cohen M & Vohra S. (16. Pediatrics. Vaksinasi Haram di Sekeliling Anda. Harrison C. 155(5): 1428-1431. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. Wall Street journal Tersedia di http://online. AAA. (19.html. Prinsip Dasar Imunisasi. Diakses 17 Februari 2014. Fachrizal.com/news/articles. ed. Jordan M. Yale Journal of Biology and Medicine.35). Dinkesdki. Cahyono. Tersedia di http://majalah.20). Diekema. 2007. Depkes RI. (15. Keperawatan Maternitas. Childhood Immunization: When Physicians and Parents Disagree. Kesmas. Malone KM. 2005. Jakarta. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2008. Diakses 27 Januari 2014. Vol. Jakarta.html. 2013. Tersedia di http://www. 2008. Tersedia di http://imunisasi-dinkesdki.wsj. Diakses 27 Januari 2014. S 2007.hidayatullah. A.10). Dalam Law In Public Health Practice. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Salemba Medika. Diakses 17 Februari 2014 (14.indonesian- publichealth. 2005. 128(4): 167-174. (16. Jakarta. Program Imunisasi. Cara Ampuh Cegah Penyakit Infeksi. . Vol. Vol. Departemen Kesehatan RI. Responding to Parental Refusals of Immunization of Children. Suara Hidayatullah.net/ . Gilmour J. Vaksinasi. Diakses 19 Februari 2014. DS. Ciolli. Jakarta. 2008. Awas. Endife. EGC. Pediatrics.25). 2014. 2008. Bandung.com/. Gardasil Requirement For Immigrant Stirs Blacklash.15). Hidayat. Hinmar AR.

dipresentasikan di Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Negri Sriwijaya. Pandangan Islam Terhadap Masalah Kedokteran dan Kesehatan. 11 – 22. Pickering LK. Immunization Policy Development in the United States: The Role of Advisory Committee on Immunization Practice. . 2000. No. 1996. Aspek Hukum KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Bagian Agama Universitas YARSI. Palembang. Proverawati A & Andhini CSD. New York. tentang Wabah Penyakit Menular. 1970. 2. Imunisasi dan Vaksinasi. 2009. Jakarta. Smith JC. 1. Jakarta. tentang Kesehatan. Nuha Medika. 4 tahun 1984. Sistem. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 10 Februari. Undang-undang No 36 tahun 2009. Isi dan Beberapa Persoalan Mengenai Hukum Administrasi/ Tata Usaha Negara. Undang-undang No. Keperawatan Anak Untuk Siswa SPK. Purwokerto. Suryanah. Sari Pediatri. 2010. Zuhroni 2010. Oxford University Press. Vol. Vol. Annals of Internal Medicine. Muslimin A. Purwadianto A. Goodman. Snider DE. Richard A. 150(1):45-49. hh.

Related Interests