RESUME 1

JUDUL : Implementasi “produksi bersih” dalam industri penyamakan kulit
guna peningkatan efisiensi dan pencegahan pencemaran lingkungan.

INSTITUSI : Universitas gajah mada

OLEH : Prof. Dr.Ir.Suharjono,M.S.

PENDAHULUAN

Penyamakan kulit menggunakan bahan kimia berbahaya dan beracun di hampir setiap
tahapan penyamakan, terutama pada tahapan pre-tanning dan tanning. Bahan-bahan kimia ini
hanya 70% saja yang terikat pada kulit dan sisanya terdapat pada limbah baik limbah cair
maupun padat. Bahan-bahan kimia ini menjadi buangan yang sangat potensial mencemari
lingkungan karena sifatnya yang sangat kompleks dan sulit untuk penanganannya.
Penanganan limbah memerlukan teknologi yang maju, peralatan yang mahal, sumber daya
manusia berkualitas dan biaya yang tinggi. Penanganan limbah juga tidak menyelesaikan
masalah, hanya mengubah dari fase satu ke fase lainnya, dan memindahkan dari suatu tempat
ke tempat lainnya.

KULIT SEBAGAI BAHAN BAKU PENYAMAKAN
Kulit merupakan organ tunggal tubuh paling berat, pada sapi sekitar 6-8%, kambing
12-15%, dan domba 8-12%, dengan demikian kulit juga merupakan hasil ikutan ternak yang
paling tinggi nilai ekonominya yaitu sekitar 59% dari nilai keseluruhan by-product yang
dihasilkan oleh seekor ternak (Ockerman dan Hansen, 2000). Pada ternak hidup, kulit
mempunyai banyak fungsi antara lain sebagai alat perasa, pelindung jaringan di bawahnya,
memberi bentuk, mengatur suhu tubuh, tempat sintesis vitamin D, alat gerak (ular), alat
pernafasan (amfibi), dan tempat menyimpan cadangan energi. Fungsi utama kulit adalah
melindungi kerusakan dan infeksi mikroba jaringan yang ada di bawahnya (Bailey, 1992;
Ockerman dan Hansen, 2000).

dan kuat dengan cara mereaksikan kolagen dengan bahan penyamak tertentu. lentur. penyerutan. perapihan. 5. pengkondisian. 4. 2004). 2. 2004). dan penyempurnaan (Sarkar. pemerasan. penggunaan sumberdaya secara efisien dan melakukan konservasi. penguraian protein non kolagen. pengapuran ulang. baik padat maupun cair (Triatmojo. penetralan.PENYAMAKAN KULIT Proses penyamakan kulit merupakan serangkaian unit operasi yang dapat dikelompokkan menjadi 3 tahap yaitu pra-penyamakan (pre-tanning). penyamakan. Penyamakan bertujuan untuk mengubah kulit yang tadinya mudah rusak atau busuk menjadi kulit samak yang stabil. Penggunaan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle) di lokasi. Unit opersi pasca penyamakan dan finishing menambah tampilan kulit menjadi lebih menarik. Penerapan Produksi Bersih Kegiatan “produksi bersih” meliputi: 1. buang kapur. buang daging. zat warna dan pigmen. pementangan.. Proses penyamakan kulit disamping menghasilkan bahan baku kerajinan kulit yang bermutu dan bernilai jual tinggi juga menghasilkan limbah padat. Secara umum tahapan proses penyamakan melibatkan proses perendaman. pensortiran. pengamplasan. pembelahan. pengasaman. dan bila tidak dikelola dan diperlakukan secara benar dapat berdampak negatif tehadap lingkungan. penyamakan ulang. . Pemeliharaan dan peningkatan usaha kebersihan. pewarnaan. 3. Formulasi kembali produk-produk. 8. Unit operasi pra-penyamakan bertujuan untuk membersihkan kulit dari substansi non kolagen secara mekanis. pengeringan. Proses penyamakan kulit menggunakan bahan kimia yang berbahaya dan beracun seperti asam anorganik. peregangan. Pelatihan. 7. 6. Penerapan tata apik kerumah-tanggaan ( good house keeping) dan 9. kimia maupun biologis. Minimasi penggunaan air. Tanikaivelan et al. peminyakan. 1995. cair dan gas yang cukup banyak. Modifikasi proses. penyamakan (tanning) dan operasi pasca penyamakan (post-tanning) dan penyempurnaan (finishing) (Thanikaivelan et al. asam organik. logam berat krom. 2002). Penggantian bahan baku dan bahan penolong. pengapuran dan buang rambut. pelarut organik. Bahan-bahan kimia ini hanya sekitar 70% saja yang berikatan dengan substansi kulit selebihnya akan dijumpai di dalam limbah.

Bila pemakaian bahan kimia melebihi kebutuhan maka menjadi tidak efisien. penggunaan air. Anonimous. Daur ulang pada tahapan soaking. 2004. Pengendalian bau dengan cara meningkatkan teknik penanganan limbah. 2009).Beberapa Isu Linkungan yang Penting bagi Industri Penyamakan Kulit Isu lingkungan yang penting dalam memproduksi kulit samak adalah pemakaian bahan kimia.  Penggunaan Air Jika pabrik menggunakan air sumur maka penggunaan air yang berlebih dapat mengakibatkan terkurasnya ketersediaan air tanah di masa mendatang atau bagi masyarakat di sekitarnya. liming. baik air permukaan maupun air tanah.  Pemakaian bahan kimia Bahan kimia ini dapat mencemari sumber air bagi masyarakat. atau mendaur-ulang limbah dapat meningatkan hubungan dengan masyarakat sekitar pabrik.  Pencemaran Penyamakan kulit sering menghasilan limbah yang menyengat baunya. Bau yang tajam dapat merusak kualitas kehidupan dan dapat mengurangi dukungan masyarakat di sekitar pabrik. unhairing. pickling dan tanning dapat menghemat pemakaian air 20-40% (IULTCS. 2004). biaya produksi meningkat dan meningkatkan pencemaran lingkungan. . kesehatan pekerja dan bau yang ditimbulkan. Pemakaian bahan kimia yang efisien menurunkan biaya produksi dan menurunkan beban cemaran. Pengurangan pemakaian air (misal dengan low float processing dan bath tipe washing) dapat menekan konsumsi air sampai 30% (IULTCS.

membuang sisa kotoran. Garam yang sudah digunakan untuk mengawet kulit dapat digunakan kembali (reuse) sebagai bahan pengawet asal dipanaskan lebih dulu di dalam tanur suhu 400 oC guna membunuh bakteri dan menguapkan bahan organiknya. Garam pengawet dapat dikurangi atau dihilangkan sebagian (sekitar 10%) dari kulit awetan dengan cara diambil dengan tangan. halofilik dan halotoleran) sehingga akan merusak kulit yang disebut dengan red heat.. 2004). Teknologi bersih yang dapat diterapkan pada tahapan ini disamping penggunaan antiseptik atau biosid adalah fleshing setelah soaking. Sekarang sudah dikembangkan perendaman dengan enzim asal mikroba untuk mempercepat proses produksi kulit samak. 1993).2004). Perendaman secara enzimatis dimaksudkan untuk mempercepat proses pembasahan kembali serta menyerang lemak dan protein non kolagen yang ada diantara serabut kolagen (Thanikaivelan et al . bisa garam kering maupun garam basah. Keuntungannya adalah hasil ikutan yang berupa daging dan lemak lebih bersih dan belum terkontaminasi bahan kimia sehingga dapat digunakan sebagai bahan pangan maupun pakan ternak. kulit mentah setelah lepas dari tubuh ternak harus segera diawetkan dengan garam atau mengeringkannya di bawah sinar matahari agar tidak cepat rusak. Garam tidak boleh digunakan lagi untuk mengawet kulit karena kandungan bakterinya sangat tinggi (terutama bakteri tahan garam. . feses dan darah yang menempel di kulit.  Soaking dan unhairing Soaking merupakan tahapan pre-tanning paling awal. Metode curing yang umum digunakan adalah penggaraman. Garam yang diambil dapat digunakan untuk proses pikel asal dilarutkan dan diambil padatannya lebih dulu sebelum digunakan.TAHAP PRODUKSI BERSIH  Pengawetan kulit (curing) Sebelum masuk proses penyamakan. Soaking diperlukan untuk melarutkan dan mengelimir garam dan protein globular yang ada di antara serabut kolagen. dikibas - kibaskan maupun diambil secara mekanis dengan sikat atau diputar di dalam drum yang sesuai (perforated drum) (IULTCS.. Cara – cara pengawetan kulit yang benar akan sangat menentukan kualitas kulit samaknya (Aloy.

karena kulit yang disamak dengan krom mempunyai kelebihan dibandingkan dengan bahan penyamak lainnya yaitu lebih lemas. Cairan bahan penyamak krom dapat digunakan kembali untuk menyamak kulit. lebih kuat. 2002). 2004) untuk menghasilkan kulit samak yang sama kualitasnya. serta kondisinya memungkinkan.5% berat kulit) diinjeksikan langsung ke dalam drum . Deliming dengan CO2 saja berjalan sangat lambat sehingga masih memerlukan penambahan garam amonium untuk mempercepat proses (White et al. IULTCS. 1993. 1997). dan lebih tahan terhadap serangan mikroba (Sarkar. Metode ini dapat menghemat pemakaian krom sampai 50% (Soelistiyah dan Waskito.  Recover. 2002. CO2 (1-1. Deliming dengan CO2 sangat cocok untuk kulit tipis. Sarkar. IULTCS. Krom yang terdapat pada cairan penyamak bekas dapat dipresipitasikan menggunakan . Buang kapur (deliming) Kapur yang tertinggal pada kulit yang telah dibuang rambutnya biasanya dibuang dengan cara dicuci dengan air selama 20-30 menit. dengan metode aset-naset dengan hasil kulit wet blue yang kualitasnya sama dengan yang menggunakan cairan penyamak baru (Miwada. Sampai saat ini belum ada bahan penyamak yang dapat menggantikan krom (Aloy. Penggunaan CO2 untuk deliming kulit tipis dapat dianggap sebagai teknologi bersih karena menghasilkan kulit samak dengan kualitas yang bagus (Aloy. Buang kapur dengan CO2 bertujuan untuk mengurangi (bukan untuk menggantikan) jumlah garam amonium yang digunakan untuk buang kapur. 1995). dan yang terikat secara kimia dihilangkan dengan asam dan garam amonium (Sarkar. Sulistiyah dan Waskito. 1995. 2002. Upaya untuk mengurangi pencemaran terus dilakukan salah satunya adalah penggunaan CO2 untuk buang kapur. 1993). ------). 2002. 1995).  Penggunaan Krom Pada saat ini pabrik penyamak kulit masih menggunakan senyawa krom sebagai bahan penyamak utama. reused dan recycling cairan penyamak krom Daur ulang langsung cairan samak krom merupakan cara paling mudah untuk memperoleh kembali (recover) dan menggunakan ulang (reuse) garam krom untuk menyamak kulit (Aloy. Meskipun demikian kita perlu waspada karena di lingkungan krom valensi III ini dapat teroksidasi menjadi krom VI bila terdapat oksidator kuat (MnO2). 2004). Soedarsono dan Prayitno. Hanya krom valensi III saja yang digunakan sebagai bahan penyamak karena krom valensi VI bersifat sangat toksik dan karsinogenik (IULTCS. 2004) ini juga berarti penghematan devisa negara yang cukup tinggi.

sedangkan penambahan polielektrolit akan mempercepat flokulasi (Aloy. 2004). 1979). agar diperoleh hasil yang maksimal pelarutan ulang ini sebaiknya dilakukan pada suhu 70oC. meningkatkan basisitas krom serta meningkatkan suhu cairan penyamak (IULTCS. 2004). . 1979. natrium karbonat. Penggunaan krom daur-ulang ini mengakibatkan warna kulit wet-blue nya sedikit pucat. dan magnesium oksida. meskipun tidak berpengaruh pada sifat fisik lainnya (IULTCS. IULTCS. 2004). Sludge atau endapan yang terbentuk dilarutkan ulang dengan asam sulfat. Peningkatan penyerapan krom dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain mengubah parameter penyamakan seperti waktu dan pH. natrium hidroksida. serta penambahan dikarboksilat pada bahan penyamak maupun cairan penyamak (Davis dan Scroggie.  Peningkatan penyerapan krom pada kulit Agar konsentrasi krom di dalam limbah cair berkurang dapat dilakukan peningkatan penyerapan krom pada kulit dengan cara pemakaian krom yang mudah bereaksi dengan protein kolagen.