BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau
cairandengan bantuan pelarut. Ekstraksi juga merupakan proses pemisahan satu
atau lebih komponen dari suatu campuran homogen menggunakan pelarut cair
(solven) sebagai separating agen. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut
yang berbeda dari komponen-komponen dalam campuran.Berdasarkan fase yang
terlibat, terdapat dua jenis ekstraksi, yaitu ekstraksi cair-cair dan ekstraksi padat-
cair. Ekstraksi multi-tahap memenuhi beberapa tahapan tergantung pada
kemurnian ekstrak yang diinginkan yang bertujuan untuk mengambil salah satu
komponen yang ingin dipisahkan dari bahan tersebut. Bahan yang terdapat dalam
zat yang memenuhi kelarutan tinggi dengan pelarutnya akan larut dan dibawa
dalam pelarutnya sehingga zat atau komponen ekstrak terpisahkan dari sistem
campuran tersebut. Komponen ekstrak dapat berpindah dari campuran
komponenke dalam pelarutnya disebabkan oleh adanya beda kelarutan dan juga
adanya beda konsentraasi.
Pada ekstraksi padat-cair, satu atau beberapa komponen yang dapat larut
dipisahkandari bahan padat dengan bantuan pelarut. Pada ekstraksi, yaitu ketika
bahan ekstraksi dicampur dengan pelarut, maka pelarut menembus kapiler-kapiler
dalam bahan padat dan melarutkan ekstrak. Larutan ekstrak dengan konsentrasi
yang tinggi terbentuk di bagian dalam bahan ekstraksi. Dengan cara difusi akan
terjadi kesetimbangan konsentrasi antara larutan tersebut dengan larutan di luar
bahan padat. Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu
campuran dipisahkan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi cair-cair terutama
digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara destilasi tidak mungkin
dilakukan (misalnya karena pembentukan azeotrop atau karena kepekaannya
terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padat-cair, ekstraksi cair-
cair selalu terdiri dari sedikitnya dua tahap, yaitu pencampuran secara intensif
bahan ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan kedua fase cair itu sesempurna
mungkin.

III-1

III-2

1.2. Tujuan Percobaan.
Tujuan praktikum yang akan dilakukan adalah:
1. Menentukan pengaruh jumlah tahap pencucian.
2. Menentukan pengaruh kecepatan putaran pengaduk.
3. Menentukan pengaruh lamanya waktu pengadukan terhadap konsentrasi
NaOH yang dihasilkan serta untuk mengetahui efisiensi reaktor.

b. Ekstraksi Counter Current. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Ekstraksi Gross Current . Karena proses pemisahan jenis ini dipengaruhi oleh potensial kimianya maka proses pemisahan dengan cara ekstraksi ini lebih baik daripada distilasi. (Sunkay:1962). Ekstraksi Liquid-Solid. Ekstraksi liquid-liquid yaitu memisahkan komponen dari campuran cair yang homogen berdasarkan perbedaan larutan pada solvent. III-3 . Ekstraksi berdasarkan fasa campurannya dapat dibagi menjadi 2 macam yaitu: a. c.2 Jenis-jenis Ekstraksi Ekstraksi terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya ekstraksi berdasarkan metode kontak antara solvent dan campuran yang akan diekstraksi. Ekstraksi berdasarkan metode kontak antara solven dan campuran. Berdasarkan metode kontaknya ekstraksi terbagi menjadi 3 macam: a. Ekstraksi Counter Current adalah jenis ekstraksi yang paling efisien. Ekstraksi Liquid-liquid. b. Fasa lain yang ditambahkan biasanya berupa zat cair sedangkan campuran yang dipisahkan dapat berupa zat cair atau zat padat. ekstraksi berdasarkan fasa campuran yang akan dipisahkan. (Sunkay:1967).1 Pengertian Ekstraksi Ekstraksi adalah suatu metode pemisahan komponen berdasarkan kemampuan kelarutan satu atau beberapa komponen tersebut pada fasa yang lain. Hasil pemisahan tetapi jumlah solvent yang dibutuhkan lebih banyak. 2. (Sunkay:1967). yang banyak digunakan untuk tujuan komersial apalagi memungkinkan rafinat dan ekstrak megalir berlawanan arah. Pada ekstraksi gross current pelarut ditambahkan disetiap tahap. Ekstraksi single stage Ekstraksi single stage adalah ekstraksi satu tahap dimana umpan dan pelarut dicampur hingga mencapai kesetimbangan dan diperoleh ekstrak yang diinginkan (Sunkay:1967).

Dasar proses yang terjadi pada ekstraksi dengan menggunakan pelarut adalah kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen dalam campuran. Adapun beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan pelarut diantaranya: 1. Pelarut. 2. Proses yang terjadi pada ekstraksi dengan menggunakan pengempaan adalah dengan memberikan tekanan selama proses pengempaan akan mendorong cairan terpisah dan keluar dari sistem campuran padat cair (berdasarkan beda tekanan). Ekstraksi ini sangat dipengaruhi oleh ukuran partikel padatan yang akan diekstrak karena total luas permukaan akan semakin besar dengan berkurangnya ukuran partikel sedangkan luas permukaan total sangan berpengaruh baik pada ekstraksi karena akan memudahkan kontak antara pelarut dan padatan yang akan diekstrak sehingga tingkat difusivitasnya lebih tinggi. Proses yang terjadi pada ekstraksi dengan menggunakan pemanasan ini adalah pemanasan bahan hewani akan menyebabkan protein dalam jaringan akan menggumpal. III-4 Ekstraksi liquid-solid adalah ekstraksi yang memisahkan satu atau lebih komponen dalam campuran melalui reaksi.3 Pemilihan Pelarut. Proses ekstraksi dengan menggunakan pemanasan ini disebut juga dengan rendering. Selektifitas. sehingga menyebabkan minyak akan terperas keluar. 3. ekstraksi dapat dibedakan menjadi : 1. Pemanasan. Pengkerutan tersebut akan mengakibatkan tekanan dalam jaringan lebih besar daripada tekanan dari luar jaringan. Pengempaan atau penekanan. . 2. Berdasarkan proses yang digunakan. sehingga jaringan akan mengkerut. Sebagaimana definisikan ekstraksi pelarut adalah proses pemisahan atau pengambilan solute dalam solid dengan bantuan pelarut sehingga perlu dilakukan pemilihan pelarut yang tepat agar solid yang akan diambil dapat terpisahkan dengan maksimal.

7. Pelarut yang digunakan harus memiliki viskositas rendah agar hilang tekan menjadi rendah dan laju perpindahan massanya tinggi. . III-5 Adalah kemampuan suatu pelarut untuk mengikat atau hanya satu bagian dari sistim komponen terebut maka dipilihlah pelarut dengan tingkat selektifitas tinggi terhadap solute. 3. Pelarut harus memiliki titik didih rendah atau volatilitasnya tinggi agar dapat dengan mudah dipisah dengan solute menggunakan metode distilasi. disamping itu titik didih lebih rendah akan mempermudah proses pemisahan. 6. Tidak Korosif. Tersedia dalam jumlah yang banyak (mudah didapat). 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses ekstraksi pelarut ini. 8. Artinya pelarut yang telah mengandung ekstrak tidak mudah rusak jika disimpan dalam waktu yang lama. antara lain: 1. Pelarut yang digunakan adalah pelarut organik. Stabil. 4. Volume pelarut. 5. 2. Jenis Pelarut. Pelarut yang digunakan tidak boleh bersifat racun karena dapat membahayakan kesehatan. Pelarut organik sangat cepat menguap sehingga cepat terjadi sirkulasi uap dan perolehan minyak akan semakin rendah. Tidak korosif sehingga tidak berdampak buruk bagi alat (tidak menyebabkan korosi pada alat). Viskositas . Tidak beracun. Jika viskositas suatu pelarut tinggi maka susunan molekul-molekulnya yang terkandung dalam pelarut tersebut rapat sehingga laju perpindahan massa dari zat yang akan diekstrak menjadi lebih lama dan menjadi tidak efisien waktu. Ekonomis. Titik didih.4 Faktor – FaktoryangMempengaruhi Proses Ekstraksi. 2.

Partikel yang terlalu halus akan mempersulit keluarnya minyak. 3. 2. 6. Pengadukan. kemudian aliran bawah dari tahap ini dikontakkan dengan pelarut baru padatahap berikutnya. 4. Semakin halus ukuran partikel maka akan semakin mudah dalam mendapatkan minyak tetapi akan mempengaruhi terhadap warna minyak yang dihasilkan. dan demikian seterusnya. Operasi dengan sistem bertahap banyak dengan aliran sejajar atau aliran silang Operasi ini dimulai dengan pencampuran umpan padatan dan pelarut dalam tahappertama. Fungsi pengadukan adalah untuk mempercepat terjadinya reaksi antara pelarut dengan solut. Ukuran partikel. atau ditampung secara terpisah. . Temperatur. dan kemudian disusul dengan pemisahan larutan dari padatan sisa. Metode Ekstraksi. Lama waktu. Operasi dengan Sistem Bertahap Tunggal Dengan metoda ini. karena kontak dengan pelarut kecil. 5. karena sirkulasi uap akan semakin sering kontak antara solut dengan pelarut lebih lama. Cara ini jarangditemukan dalam operasi industri karena perolehan solut yang rendah. seperti pada sistem dengan aliran silang. Dikenal 4 jenis metoda operasi ekstraksi padat-cair : 1. 2.5. Lamanya waktu ekstraksi akan menghasilkan mjinyak yang lebih banyak. Larutan yang diperoleh sebagai aliranatas dapat dikumpulkan menjadi satu seperti yang terjadi pada sistem dengan aliransejajar. Temperatur yang tinggi akan meningkatkan harga difusi massa sehingga perpindahan solute ke pelarut juga meningkatkan harga difusi massa. III-6 Volume pelarut yang kecil/sedikit akan menghasilkan minyak yang sedikit karena kontak antar uap pelerut dengan sampel sedikit sekali dan sebaliknya. pengontakan antara padatan dan pelarut dilakukan sekaligus.

Operasi berakhir pada tahap ke-n (tahap terakhir). sehingga banyak digunakan di dalam industri. III-7 3. Operasi dimulaipada tahap pertama dengan mengontakkan larutan pekat yang merupakan aliran atastahap kedua. Padatan yang hampirtidak mengandung solut meninggalkan rangkaian setelah dikontakkan dengan pelarutbaru. dan padatan baru. . aliran bawah dan atas mengalir secara berlawanan.dimana terjadi pencampuran antara pelarut baru dan padatan yang berasal dari tahapke-n (n-1). 4. padatan dibiarkan stationer dalam setiap tangki dan dikontakkandengan beberapa larutan yang konsentrasinya makin menurun. sedangkan larutan pekat sebelum keluar dari rangkaian terlebih dahuludikontakkan dengan padatan baru di dalam tangki yang lain. Operasi secara batch dengan sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan. Operasi secara kontinu dengan aliran berlawanan. Dapat dimengerti bahwa sistem ini memungkinkan didapatkannyaperolehan solut yang tinggi. Dalam sistem ini. Sistem ini terdiri dari beberapa unit pengontak batch yang disusun berderet ataudalam lingkaran yang dikenal sebagai rangkaian ekstraksi (extraction battery). Didalam sistem ini.

5. 7. Dipasang peralatan ekstraksi. 3.1. 2. Gelas piala 1000 ml berfungsi sebagai reactor.3. 12. III-8 . Larutan HCl 1 M berfungsi sebagai larutan standar dalam titrasi 4. 3. 2. CaO berfungsi sebagai reaktan. 4. Standar dan klem berfungsi sebagai alat penyangga buret. Adapun bahan-bahan yang digunakan ialah: 1.Prosedur Kerja. 3. Gelas ukur 250 ml berfungsi sebagai alat penakar cairan. Pipet takar 10 ml berfungsi untuk mengambil zat cair dengan volume tertentu. Indikator PP berfungsi sebagai indicator dalam titrasi.Bahan-Bahan Percobaan.2. Berikut ini merupakan langkah-langkah ekstraksi multi-tahap: 1. 5.3. 3. 13. Hot plate dan magnetic stirrer berfungsi sebagai sumber panas dan alat pengadukan. 11. Buret 50 ml berfungsi sebagai alat titrasi. Botol semprot berfungsi sebagai wadah aquades. Aquadest berfungsi sebagai solvent.Alat-Alat Percobaan Adapun peralatan yang digunakan adalah: 1. BAB III METODOLOGI PERCOBAAN 3. Piknometer 10 ml berfungsi sebagai alat pengukur densitas. Neraca kasar berfungsi sebagai alat pengukur massa zat. Gelas piala 250 ml berfungsi sebagai wadah zat sementara. Erlenmeyer 250 ml berfungsi sebagai wadah zat dalam titrasi. Larutan Na2CO3 1 M berfungsi sebagai reaktan. Pompa hisap berfungsi sebagai alat pngecil tekanan. 10. 9. 6. 8. 3. Batang pengaduk berfungsi sebagai alat pengadukan manual.1 Prosedur Percobaan Ekstraksi Multi-tahap.

Dilakukan pengadukan sampai bercampur sempurna lalu diamkanlah untuk waktu tertentu(sesuai dengan penugasan). 8. 4. 3.3. Langkah 2 dan 3 ini diulang beberapa kali. Ulangi langkah- langkah di atas sampai tahap ke-6. Setelah campuran tersebut diaduk dan dibiarkan selama jangka waktu tertentu. 3. Dipisah larutan dan padatan pada poin 6 (ukur volume larutan dan titrasi dengan HCl). Dipisahkan larutan dengan padatan (volume larutan diukur dan dititrasi). Ditimbang sejumlah Na2CO3 dan CaO sesuai dengan tugas yang diberikan. Kedalam gelas piala yang berisi campuran larutan jenuh Na2CO3 dan bubur Ca(OH)2 ditambahkan air dalam jumlah tertentu. 2 tahap 2. 6.2 Prosedur Percobaan pada Reaktor Kesetimbangan. 4. 3 dan seterusnya. Kedalam padatan yang tertinggal di dalam gelas piala kemudian ditambahkan air yang sama jumlahnya dengan larutan yang berhasil dipisahkan pada langkah 2. larutan yang berada di atas padatan dipisahkan dengan cara dekantasi. 7. 1. Setiap mengambil larutan harus dititrasi dengan HCl 1 M. . Larutan yang berhasil dipisahkan diukur volumenya dan ditentukan konsentrasi solute yang terkandung di dalamnya. 2. Dibuang larutan pada poin 5. 10. Sambil menunggu pemisahan (pengendapan) pada reaktor No. 9. kemudian tambahkan lagi air ke dalam reaktor (3) dan lakukan hal yang sama pada poin 4. Volume campuran ini kemudian harus diukur. Diambil larutan pada poin 7 dan masukan ke reaktor No. III-9 2. 5. Dimasukan Na2CO3 dan CaO kedalam reaktor (No.3) dan tambahkanlah sejumlah air ke dalamnya.2 yang telah diisi dengan padatan seperti pada poin 2 dan lakukan seperti pada poin 4 dan 5. . dan dihentikan bila konsentrasi solute dalam larutan mencapai suatu harga yang sukar untuk ditentukan dengan cara titrasi biasa. 3. lakukan pengadukan pada reaktor No.

III-10 5.2 Skema Proses Kesetimbangan.1 Skema Proses Ekstraksi Multi-tahap. Gambar 3. Langkah terakhir yang harus dilakukan adalah mengukur volume padatan sisa (atas dasar padatan kering).4 Skema Peralatan 3 E F A 3 2 E F 3 2 1 E F 2 1 3 E F 1 3 2 E F 3 2 1 E Gambar 3. 3. .

0151 - 2 317.1.0285 27 26 1 381.35 26.83 26.2630 34.78 26.09 26.0360 - 1 375.87 25.1.5 1 376. diperoleh data pengamatan seperti pada tabel dibawah ini.5 1 376.59 26.36 25.59 26.7300 33 33 2 320.77 26.3810 - 2 317. Data Pengamatan Dari percobaan yang telah dilakukan.0701 - 4 38.1 Data Pengamatan untuk Ekstraksi Multi-Tahap dengan Kecepatan Pengadukan 100 rpm Volume Reaktor + Stirrer + Piknometer + Tahap Reaktor Titrasi Rafinat (gram) Ekstrak (gram) (ml) 24.0170 - 6 35.95 26.3633 31 30.5 3 361.46 26. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Tabel 4.0575 - 3 354.5 2 316.22 26.5 1 1 385.3028 25 26 1 387.2871 - 3 32 3 353.0390 - 5 30.6285 - 26 2 2 314.33 26.4696 38 38 3 353.5 35 III-11 .3 26.54 26.

22 26.2500 - 3 32 3 388.5 31.1.5 2 352.2929 33 30.62 25.2821 33 32 3 385.44 25.2837 30.16 26.7 1 1 354.9312 - 1 352.90 26.23 25.5 2 2 353.5 1 352.63 26.80 26.5 25 1 353.9285 - 2 383.1.64 25.6 1 351.3431 358.3 Data Pengamatan pada Proses Kesetimbangan dengan Kecepatan Pengadukan 100 rpm Berat Volume Berat Rafinat Volume Piknometer Ekstrak + Reaktor + titrasi Tahap + Ekstrak (ml) Stirer (g) (ml) (g) 33 1 150 26.9251 - 2 353.9621 - 3 386.0017 - 28.5 2 385.78 33 33 37 2 165 26.9920 - 4 32.0460 358.40 26.7 Tabel 4.67 25.2462 31.69 26.3 29 1 383.21 38 38 .1915 24.15 25.9484 - 6 33 3 388.5949 31.8 32.12 26.9495 - 5 31.38 25. III-12 Tabel 4.2 Data Pengamatan untuk Ekstraksi Multi-Tahap dengan Kecepatan Pengadukan 200 rpm Volume Reaktor + Stirrer + Piknometer + Tahap Reaktor Titrasi Rafinat (gram) Ekstrak (gram) (ml) 26.

0208 353.5 6 150 26.10 18 18 11 4 152 26.0154 356.04 4 4 1.2 .46 13 12.9359 349.5 21 18 2 150 25.7 0.5 3 160 26.9455 350.11 1 1.5 1 1.2 4 148 25.0165 356.5 6 152 25.5 1.5 20 1 3 152 25.2637 352.91 18.9340 351. .37 19.9373 349. Hasil Pengolahan Data Berikut ditampilkan hasil pengolahan data dari percobaan yang telah dilakukan.75 5 150 25.7 0.1.05 1.9455 349.5 4 5 152 26.69 0.8 0.5 Tabel 4.45 4. III-13 Berat Volume Berat Rafinat Volume Piknometer Ekstrak + Reaktor + titrasi Tahap + Ekstrak (ml) Stirer (g) (ml) (g) 17.8 0.1 0.0081 354.59 1.4 Data Pengamatan pada Proses Kesetimbangan dengan Kecepatan Pengadukan 200 rpm Berat Volume Berat Rafinat Volume Piknometer Ekstrak + Reaktor + titrasi Tahap + Ekstrak (ml) Stirer (g) (ml) (g) 21 1 130 26.

0043 1.27 1 142 0.2.17 - 1 104 1.83 100 4 152 1.97 17.1 Pengolahan Data Ekstraksi Multi-Tahap dengan Kecepatan Pengadukan 100 rpm Volume Densitas Volume Rafinat rpm Tahap Reaktor Ekstrak Ekstrak Titrasi (gram) (ml) (gram/ml) (ml) 1 1 142 1.9843 45.31 29.9032 12.9632 13.67 1 145 1. III-14 Tabel 4.2 Pengolahan Data Kesetimbangan dengan Kecepatan Pengadukan 100 rpm Volume Densitas Rafinat Volume Titrasi rpm Tahap Ekstrak (gram/ml) (gram) (ml) (ml) 1 150 1.0024 11.17 1 148 0.33 12.17 5 152 1.0019 3.0049 17.0043 12.11 - 2 2 128 1.01 26.58 25.67 3 160 1.08 37.73 - 3 131 1.2 35 Tabel 4.67 4 2 158 0.3 Pengolahan Data Ekstraksi Multi-Tahap dengan Kecepatan Pengadukan 200 rpm Volume Volume Densitas Rafinat rpm Tahap Reaktor Ekstrak Titrasi (g/ml) (gram) (ml) (ml) 1 1 142 1.9776 41.03 - 3 148 0.99 31.0019 14.0306 12.0061 18.0021 14.0446 46.0145 11.9853 12.00 - 3 2 124 1.0012 12.0367 13.23 38.67 2 118 1.82 - 2 2 140 0.9813 10.0039 12.0101 10.36 30.63 - 3 115 1.63 - 5 1 150 1.1 - .6 - 3 100 1.09 - 100 4 3 111 1.96 32.0345 17.92 1.0734 11.65 33 2 165 1.5 Tabel 4.0020 15.86 - 3 2 124 1.05 25.2.29 - 6 2 143 1.0074 13.17 3 150 1.33 1 120 1.91 4 6 150 1.0291 14.4 1 144 0.2.0385 8.18 - 2 128 1.0473 3.0267 20.

02121 141.18 30.5 3 150 0.22 32.2926 1.39 35.49 0.3 .448 0.27 32.68 6 152 0.26 1.02224 139.26 36.08 - 3 138 1.9801 11.656 48.76 1.06 - 200 2 140 1.3817 1.96 29.00229 129.0267 134.0133 11.7940 137.4297 144.10 28.55 4.9780 9.1290 0.78 31.4568 118.3655 28.5 2 150 0.1 Hasil untuk Ekstraksi Multi-Tahap ρekstrak We Me Ws Wa ηreakto % rpm g/mL ( gram ) (M) ( gram ) ( gram ) (%) Yield 1.11 0.0420 46.04 31.41 1.1197 41.9155 37.49 21.13 28.8620 0.2540 1.92 35.3250 1.57 - 6 2 148 0.38 1.40 1.7 1 150 0.1 200 5 150 0.8132 40.3579 38.9032 126.0097 47.3067 1.1679 38.02161 142.4427 141.32 31.3.0115 10.49 100 1.0217 120.33 18.3170 1.3167 1.79 20. III-15 Tahap Volume Volume Densitas Rafinat rpm Reaktor Ekstrak Titrasi (g/ml) (gram) (ml) (ml) 4 1 140 1.25 - 5 1 148 0.17 4 148 0.9787 7.5268 105.0825 125.8340 132.34 0.5878 107.3386 0.2633 1.53 1.45 0.79 1.0144 43.4 Pengolahan Data Kesetimbangan dengan Kecepatan Pengadukan 200 rpm Volume Volume Densitas Rafinat rpm Tahap Ekstrak Titrasi (gram/ml) (gram) (ml) (ml) 1 130 1.5446 47.9788 8.9782 44.3250 1.75 .6704 38.92 0.3322 41.9797 7.0473 108.2408 46.9799 41.01 200 1.57 1.3500 1.69 0.4981 128.0306 146.2517 1.8200 140.57 1.5703 131.00024 142.37 35.0160 0.8560 0.9785 6.9046 9.2.5 Tabel 4.62 28.0734 107.0367 132.01 1.345 0.74 0.7752 140.6106 0.1933 1.83 3 152 0. Hasil Dari percobaan serta pengolahan data yang telah dilakukan maka didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 4.

2 Hasil untuk Proses Kesetimbangan ρekstrak We Me Ws Wa ηreakto % rpm g/mL ( gram ) (M) ( gram ) ( gram ) (%) Yield 1.1560 0. yang sering disebut leaching adalah proses pemisahan zat yang dapat melarut (solute) dari suatu campuran dengan padatan yang tidak dapat larut (inert) dengan mengunakan pelarut cair.0091 150.3040 0.00068 0.1130 135.129 200 1.068 4. III-16 Tabel 4.1800 0.0002 144.0178 0.9509 0. alat yang digunakan hanyalah sebuah reaktor sederhana berupa gelas piala dengan sebuah hotplate dan strirrer.0019 160.0627 6.0001 148.3. Tujuan dilakukannya pengadukan ialah untuk memperbesar tumbukan antar reaktan.0040 0.304 0.0377 0.00408 146. tekanan dan pelarut. Kemudian senyawa Ca(OH)2 bereaksi dengan Na2CO3 membentuk NaOH dan CaCO3 dengan reaksi sebagai berikut: .9384 2.63 0.48 1. Pada saat reaksi berlangsung.0345 155.8476 0.7879 0.0103 148.2906 1.2050 1.2694 0.0034 148.0195 131. Pada percobaan ini.225 0.0049 165.1084 160.0017 0.0012 150.00019 135.3767 0.0024 152.6900 0.1750 0.00014 146.1958 2. Pada ekstraksi multi tahap ini.01883 0.48 1.1950 52.081 1. Pada saat semua reaktan (solid) dan solvent telah dimasukkan ke dalam reaktor.024 152. solvent akan masuk ke dalam pori- pori solid untuk mengambil solute dengan cara bereaksi dan membentuk ikatan kimia sehingga diperoleh ekstrak yang diinginkan yaitu berupa NaOH.1078 0.9550 0. Hotplate berfungsi sebagai sumber panas dan stirrer berfungsi sebagai alat pengaduk.26 1.35 4.40 1.85 2.1.43 49.8085 0.35 1.0020 152.0897 0.8411 0.429 28. ekstraksi merupakan proses pemisahan satu atau beberapa komponen dari suatu padatan atau cairan sebagai sumber komponen dengan bantuan pemanasan.0011 0.205 1.006512 144.22602 163.17 21.0122 0.3223 65. dari reaksi ini akan menghasilkan senyawa baru berupa Ca(OH)2. diasumsikan mula- mula CaO bereaksi terlebih dahulu dengan solvent air.99933 148.4.15 1. Mekanisme Ekstraksi Multi-Tahap Secara umum. Pembahasan 4.7286 0.9800 153.0660 130.07163 152.3648 0. Ekstraksi padat cair.5770 2. solute yang ingin diambil adalah berupa NaOH dari bahan Na2CO3 dan CaO.3300 1.00055 0.4.7776 0. Solvent yang digunakan berupa air atau aquadest.4950 0.7320 0.1659 0.11 39.95 1.78 100 1.

III-17 CaO(s) + H2O(l) Ca(OH)2(aq) Ca(OH)2 (aq) + Na2CO3 (s) 2NaOH(aq) + CaCO3(s) Jika reaksi tersebut digabungkan dan dijadikan dalama satu proses reaksi. Komponen aliran tangensial akan menyebabkan timbulnya vorteks dan terjadinya suatu pusaran tetapi dapat dihilangkan dengan pemasangan buffle. pola aliran yang terbentuk bervariasi antara pola aliran aksial dan pola aliran radial. pada saat melakukan percobaan. maka reaksinya akan berlangsung sebagai berikut: CaO(s) + H2O(l) + Na2CO3 (s) 2NaOH(aq) + CaCO3(s) Dalam proses ekstraksi tersebut dilakukan proses pengadukan dengan variasi kecepatan pengadukan 100 rpm dan 200 rpm. Dinamakan ekstraksi multi tahap karena pada prosesnya. Berdasarkan pola aliran yang dihasilkan. jenis pola aliran pengadukan dapat dibagi menjadi tiga golongan. Dalam percobaan ekstraksi multi tahap ini pola aliran yang dihasilkan berupa aliran radial. Pada pola aliran aksial. vorteks ini diatasi dengan memposisikan reaktor sedikit bergeser dari tempat semestinya sehingga pengaduk stirrer tidak berada di tengah reaktor sehingga aliran vorteks terpecah. proses pengadukan akan menimbulkan pola aliran yang sejajar dengan sumbu poros pengaduk. Ekstrak yang . Dalam proses pengadukan tentunya akan menimbulkan suatu pola aliran. pengadukan berfungsi untuk menggerakkan bahan atau komponen-komponen dalam reaktor sehingga dengan adanya gerakan tersebut menimbulkan tumbukan antar reaktan sehingga reaksi akan berlangsung dengan cepat. Dalam percobaan ini untuk kecepatan 100 rpm tidak terbentuk vorteks karena kecepatan pengadukannya rendah. namun pada kecepatan putaran 200 rpm terbentuk vorteks. Sedangkan pada pola aliran campuran. Kemudian pada pola aliran radial. dilakukan berulang- ulang hingga beberapa tahap dimana rafinat masih di gunakan sebagai umpan pada reaktor berikutnya karena diduga di dalam rafinat masih mengandung solute sampai rafinat tersebut sudah berada dalam kesetimbangan. pengadukan akan menimbulkan aliran yang mempunyai arah tangensial dan radial terhadap bidang rotasi pengaduk. pola aliran radial dan pola aliran campuran. yaitu pola aliran aksial. Namun.

4.2000 1.2000 0.07163 0.024 0. maka didapatkan grafik hubungan antara perolehan NaOH dengan tahap pencucian pada proses kesetimbangan seperti gambar di bawah ini 2.4000 0.0000 1.0034 0 1 2 3 4 5 6 tahap pencucian Gambar 4.1130 0.4.0000 0.6000 0. III-18 diperoleh juga masih digunakan sebagai solvent pada tahap berikutnya sampai solvent tersebut dianggap sudah dalam keadan jenuh atau tidak dapat mengambil solute yang akan diekstrak.22602 0. Ekstraksi ini bertujuan untuk menentukan berapa banyak tahap yang dibutuhkan pada suatu ekstraksi untuk mencapai titik kesetimbangannya sehingga solute benar-benar tidak ada lagi di dalam solid.0103 0.0065120.1 Kurva Perbandingan perolehan NaOH dengan Tahap Pencucian Pada Kesetimbangan .1084 0.4000 1.0000 1.8000 1. Sedangkan ekstraksi kesetimbangan sendiri adalah ekstraksi yang tidak menambahkan umpan baru pada setiap tahapnya tetapi menambahkan pelarut baru disetiap tahapnya dan solid yang digunakan berasal dari rafinat yang terbentuk pada setiap tahap. 4. Pada percobaan ekstraksi multi-tahap dan kesetimbangan.6000 berat NaOH (gram) 1.0660 100 rpm 0.00408 0.8000 200 rpm 0. Perbandingan Perolehan NaOH Dengan Tahap Pencucian Dari percobaan yang telah dilakukan.0091 0.2. dilakukan proses titrasi untuk mengetahui konsentrasi NaOH yang berhasil diekstrak dari solid. Titrasi ini menggunakan HCl sebagai larutan penitarnya karena yang ingin dihitung adalah konsentrasi NaOH yang merupakan senyawa basa sehingga metode titrasi yang digunakan adalah titrasi asam basa dengan menggunakan indicator penolepthalein (PP).9800 1.

39 46. Perbandingan Efisiensi Reaktor Dengan Kecepatan Pengadukan Dari percobaan yang telah dilakukan. dapat dilihat bahwa semakin banyak tahap pencucian maka semakin kecil berat NaOH yang diperoleh baik pada proses dengan kecepatan pengadukan 100 rpm maupun dengan kecepatan pengadukan 200 rpm.10 40. diperoleh grafik hubungan antara efisiensi reaktor pada proses ekstraksi multi tahap dengan kecepatan 100 rpm dan 200 rpm seperti gambar di bawah ini.96 40.92 48. 4.2 Grafik Hubungan Efisiensi Reaktor multi-tahap pada Kecepatan 100 rpm dengan 200 rpm .18 38.62 38.00 41.00 efisiensi reaktor (%) 30.49 100 rpm 25.00 5. sedangkan berdasarkan teori seharusnya dengan kecepatan pengadukan yang lebih besar diperoleh berat NaOH yang lebih banya.00 200 rpm 20. Dari kurva tersebut juga dapat dilihat bahwa proses dengan kecepatan pengadukan 100rpm memiliki hasil perolehan berat NaOH yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecepatan pengadukan 200rpm.4. III-19 Dari gambar di atas.13 35.00 15.00 Gambar 4. kemungkinan penyebabnya ialah vortex yang tidak diatasi oleh praktikan sehingga walaupun kecepatan pengadukan lebih tinggi tetapi jika terjadi vortex maka antar reaktan tidak akan saling bertumbukan dengan sempurna sehingga tidak diperoleh hasil sebagaimana mestinya.78 41.3.37 45.26 47.00 46.00 28.32 38.4.00 0.00 37. Yang dimaksud dengan proses pencucian ialah penambahan solvent berupa air namun solid yang digunakan tetap solid yang pertama tanpa ada penambahan solid baru sehingga seolah-olah solid tadi dicuci atau dihilangkan komponen solute nya dengan cara penambahan solvent secara kontinyu pada setiap tahap.00 10. 50.

76 25.00 21.01 35. dapat dilihat bahwa reaktor dengan kecepatan pengadukan 200 rpm lebih baik atau lebih efisien dibandingkan dengan reaktor dengan kecepatan pengadukan 100 rpm pada suhu yang sama karena semakin cepat proses pengadukan. Namun pada grafik di atas terdapat ketidaksesuaian dari efisiensi rector. Hal ini disebabkan karena kemungkinan terbentuknya aliran vortex pada saat pengadukan dengan kecepatan 200 rpm sehingga padatan hanya mengikuti pola aliran.41 35.00 28. III-20 Dari gambar di atas.4.00 200 rpm 15.38 30. proses tumbukan antar reaktan semakin besar. terlihat bahwa persentasi yield yang didapatkan pada kecepatan pengadukan 200 rpm lebih besar dibandingkan dengan persentasi yield pada kecepatan pengadukan 100 rpm.57 35.49 100 rpm %yield 20.4.00 36. 4.00 0. Hal ini dikarenakan bahwa ekstrak yang .79 29.00 28.40 28.4.45 31.75 35.00 5.00 Gambar 4. Perbandingan %yield ekstraksi multi-tahap pada kecepatan 100 rpm vs 200 rpm Selanjutnya praktikan memperoleh hubungan antara perbandingan %yield ekstraksi multi tahap dengan kecepatan 100 rpm vs 200 rpm pada gambar di bawah ini.26 30.00 10.3 Perbandingan % Yield Ekstraksi Multi Tahap Pada Kecepatan 100 rpm Vs 200 rpm Dari gambar di atas. 40. dimana efisiensi reaktor dengan kecepatan pengadukan 100 rpm lebih besar dibandingkan dengan kecepatan pengadukan 200 rpm.57 31.

000 18. perolehan ekstrak lebih mendekati benar sesuia dengan ekstrak yang seharusnya diperoleh secara teoritis.000 200 rpm 6.000 14.200 17.940 18.4. Perbandingan berat NaOH ekstraksi multi-tahap pada kecepatan 100 rpm vs 200 rpm Dari percobaan yang telah dilakukan.4.000 berat NaOH (gram) 12.568 14. hal ini mungkin dikarenakan kesalahan dalam pengadukan dimana dalam pengadukan terbentuk vorteks pada saat pengadukan dengan kecepatan 200 rpm sehingga tumbukan antar reaktan tidak sempurna dan menyebabkan berkurangnya konversi perolehan berat NaOH tersebut.000 10.000 16. diperoleh berat NaOH bervariasi antara kecepatan pengadukan 100 rpm dengan 200 rpm. yang artinya dengan menggunakan pengadukan 200 rpm. 4. Namun terdapat dua data yang tidak sesuai yang dapat dilihat pada grafik di atas.000 0 1 2 3 4 5 6 Gambar 4.427 14. III-21 diperoleh dengan laju pengadukan 200 rpm lebih besar dibandingkan dengan ekstrak yang dihasilkan pada pengadukan 100 rpm.5 Perbandingan Berat NaOH Ekstraksi Multi Tahap Pada Kecepatan 100 rpm Vs 200 rpm Dari gambar di atas.4. Berat NaOH yang didapatkan pada kecepatan pengadukan 200 rpm lebih banyak dibandingkan dengan 100 rpm.000 100 rpm 8.000 2.752 17.981 14. .000 4. maka didapatkan grafik hubungan antara perolehan NaOH ekstraksi multi-tahap pada dengan tahap kecepatan 100 rpm vs 200 rpm seperti gambar di bawah ini: 20.

1. 2. III-22 .2. Saran Untuk percobaan selanjutnya diharapkan agar variasi dilakukan bukan hanya pada kecepatan pengadukan saja melainkan juga pada waktu pengadukan sehingga dapat diperoleh perbandingan yang jelas antara efesiensi reactor terhadap kecepatan pengadukan dan efesiensi reactor terhadap lamanya waktu pengadukan. Kesimpulan Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : 1. laju aliran pengadukan harus dijaga agar tidak terbentuk vortex yang akan menurunkan perolehan ekstrak. Semakin banyak jumlah tahap pencucian. semakin banyak ekstrak yang diperoleh. BAB V PENUTUP 5. artinya samakin lama waktu pengadukan dan semakin besar kecepatan pengadukan maka efesiensi reactor akan semakin meningkat. Namun. dimana yang dimaksud dengan tahap pencucian adalah dilakukannya penambahan solvent secara kontinyu tetapi solid yang digunakan tetap sama sehingga semakin lama solute dalam solid akan smakin sedikit. maka perolehan ekstrak akan semakin sedikit. 5. Semakin cepat laju pengadukan pada ekstraksi multi-tahap. Efisiensi reactor lebih besar pada pengadukan 200 rpm dibandingkan dengan pengadukan 100 rpm pada waktu yang sama. 3.

Related Interests