1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesejahteraan suatu bangsa salah satu indikatornya adalah angka kematian

maternal dan neonatal. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan

melakukan berbagai survei dan penelitian. Kesehatan ibu merupakan komponen

yang sangat penting dalam pembangunan bangsa karena seluruh komponen yang

lain sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu. (Makhludli dan Effendi, 2009).

Menurut WHO (2014) pemerintah indonesia dalam mencapai milennium

development goals (MDGs) atau target pembangunan adalah kesejahteraan rakyat

dan pembangunan masyarakat pada tahun 2015. Tujuan MDG’s salah satunya

adalah meningkatkan kesehatan ibu dengan menurunkan angka kematiian ibu

(AKI). Salah satu upaya strategis dalam menurunkan AKI di indonesia adalah

peningkatan akses pelayanan persalinan yang di tolong oleh tenaga kesehatan

yang berkopeten dalam memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai standar

serta fasilitas kesehatan (Depkes, 2011)

Menurut WHO (2010) standar rata-rata sectio sesarea di sebuah negara

sekitar 5-15% per 1000 kelahiran di dunia, rumah sakit pemerintah rata-rata 11%,

sementara dirumah sakit swasta bisa lebih dari 30% (Syamsul, 2012). Salah satu

indikasi sectio sesarea adalah ketuban pecah dini. Ketuban pecah dini (KPD)

merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang paling sering ditemui, dan

1

2

insidensinya sekitar 4,5% sampai 7,6% dari seluruh kehamilan (Puspasari, 2010).

Pada kasus ketuban pecah dini, ibu beresiko tinggi untuk dilakukan sectio sesarea

karena induksi yang gagal dan lamanya penegangan pada pembukaan uterus,

sehingga harus segera dilakukan pembedahan sectio sesarea untuk menghindari

bahaya dari infeksi ketuban pecah dini (Puspasari, 2010).

Perpanjangan persalinan seringkali disertai pecahnya ketuban pada

pembukaan kecil, hal ini dapat menimbulkan dehidrasi serta asidosis, dan infeksi

intrapartum (Wiknjosastro, 2005). Berdasarkan data yang diperoleh di Rumah

Sakit Muhammadiyah Palembang bahwa pada tahun 2011 sekitar 780 ibu bersalin

dengan KPD, pada tahun 2012 sekitar 872 ibu bersalin dengan KPD, sedangkan

tahun 2013 ibu bersalin dengan KPD sebanyak 738, dari data tersebut bahwa telah

terjadi peningkatan presentasi kejadian ketuban pecah dini pada tahun 2011, 2012

ke tahun 2013.

Ketuban pecah dini dapat menyebabkan tingkat kejadian asfiksia neonatus

pada bayi baru lahir. Hal ini didukung oleh penelitian Azizah (2013) di Ruang

Ponek Bapelkes RSD Jombang bahwa dari 101 bayi yang dilahirkan asfiksia 12

(11,8%) diantaranya disebabkan karena proses persalinan dengan KPD (Azizah,

2013). Ketuban pecah dini sangat mempengaruhi apgar score pada bayi baru lahir.

Hal ini didukung oleh penelitian lain yang dilakukan oleh Rahayu (2009) tentang

hubungan antara lama ketuban pecah dini terhadap nilai apgar pada kehamilan

aterm di Badan Rumah Sakit daerah Cepu, menunjukkan sebagian besar lama

KPD < 12 dengan apgar score baik, sedangkan lama KPD ≤ 12 jarn hampir

sebagian apgar score buruk, hasil terdapat hubungan antara ketuban pecah dini

3

terhadap nilai apgar dan mengatakan bahwa semakin lama masa laten pada KPD

menyebabkan nilai apgar bayi semakin rendah (Rahayu, 2009)

Kejadian KPD di dunia berkisar antara 8-10% dari semua kehamilan.

Dampak dari kejadian KPD ini dapat meningkatkan tindakan operatif obstetri

khususnya tindakan SC. Kejadian KPD di Indonesia tahun 2010 berjumlah 9368

(3,27%) dari 285.904 persalinan. Angka kematian yang disebabkan oleh ketuban

pecah dini berjumlah 23 kasus (0,25%) (Depkes RI, 2010). Ketuban pecah dini

dapat menimbulkan komplikasi yang bergantung pada usia kehamilan. Makin

lama jarak ketuban pecah dengan persalinan, makin meningkat kejadian kesakitan

dan kematian ibu dan bayi atau janin dalam rahim (Manuaba, 2010).

Berdasarkan data awal yang diperoleh di RSUD M.Yunus Bengkulu

menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kasus secsio sesaria dari 436 kasus pada

tahun 2006, menjadi 718 kasus pada tahun 2007 atau (62,65%) dari jumlah

persalinan yang ada selama tahun 2007 bulan Januari sampai Desember yaitu

1146 ibu bersalin dan meningkat lagi menjadi 913 kasus dari 1388 persalinan

(65,77%). Sedangkan berdasarkan survei di Rumah Sakit Daerah Curup

didapatkan bahwa di ruangan kebidanan terdapat 124 kasus pada tahun 2014 dan

pada tahun 2015 terdapat 78 kasus post section caesaria dengan indikasi ketuban

pecah dini.

Dampak dari persalinan SC terhadap ibu risiko infeksi pasca pembedahan

yang berkisar antara 2-15%. Infeksi terutama pada saluran kencing dan lebih

sering terjadi pada ibu yang kegemukan. Frekuensi peredarahan yang lebih tinggi.

Mengalami masalah pada plasenta, ruptur kandungan dan pertumbuhan janin di

B. riwayat seksio sesarea dan inpartu atau tanpa indikasi. PEB. imobilisasi. Berdasarkan latar belakang di atas . Penundaan pemberian ASI dan jalinan hubungan emosi ibu-anak karena adanya luka operasi dan pengaruh obat bius Bayi hasil operasi caesar biasanya langsung ditempatkan di ruang observasi . persalinan caesar memiliki dampak cukup besar terhadap daya tahan tubuh anak. Rumusan Masalah Pada tahun 2014 kasus seksio sesarea sebanyak 124 kasus dengan indikasi ketuban pecah dini. menentukan diagnosa. Berdasarkan masalah tersebut maka peneliti merumuskan masalah “bagaimana menganalisa data. Tindakan seksio sesarea ini dapat menyebabkan resiko anemia. Bahkan ketika bayi yang dilahirkan caesar tidak mengalami masalah di atas. dan evaluasi asuhan . risiko gangguan pernafasan bayi. penentuan masalah .5 kali lebih besar dibandingkan persalinan normal. resiko infeksi dan dapat menyebabkan kematian. Pada tahun 2014 jumlah kematian dengan kasus seksio sesarea sebanyak 2 kasus. Pada tahun 2015 kasus seksio sesarea dengan indikasi ketuban pecah dini sebanyak 78 kasus. implementasi. mengkaji. Sehingga di perlukan upaya untuk menangani kasus terebut dengan melaksanakan asuhan keperawatan pada ibu post SC indikasi KPD diberikan secara komprehensif melalui proses keperawatan berupa pengkajian . risiko gangguan otak bayi dan risiko trauma bayi menjadi 3. intervensi. kelainan letak. maka penulis tertarik untuk melakukan Asuhan keperawatan pada pasien Sectio Caesaria secara komprehensif. 4 luar rahim (ectopic) pada kehamilan berikutnya. Dan terhadap bayi yang dilahirkan Risiko kematian bayi.

d. e. f. Mampu melakukan pengkajian pada ibu bersalin post SC dengan indikasi KPD di ruangan teratai rumah sakit daerah Curup. Tujuan Penulisan 1. 5 keperawatan seksio sesarea pada indikasi ketuban pecah dini di rumah sakit RSUD Curup tahun 2016? C. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada ibu bersalin post SC dengan indikasi KPD di rumah sakit umum dearah Curup c. Mampu menyusun rencana tindakan keperawatan pada ibu bersalin post sc dengan indikasi KPD dirumah sakit daerah Curup. Tujuan Umum Untuk dapat memperoleh gambaran penerapan asuhan keperawatan pada ibu bersalin post sc dengan indikasi ketuban pecah dini Di Ruangan Teratai Rumah Sakit Umum Dearah Curup tahun 2016. Mampu melakukan evaluasi tindakan keperawatan yang telah diberikan pada ibu bersalin post sc dengan indikasi KPD dirumah sakit daerah Curup. Tujuan Khusus a. b. 2. Mampu melaksanakan dari rencana asuhan keperawatan pada ibu bersalin post sc dengan indikasi KPD dirumah sakit daerah Curup. Mampu menganalisis kesenjangan antara asuhan keperawatan teoritis dengan asuhan keperawatan pada pasien Post SC KPD di RSUD Curup Tahun 2016 .

6 D. Manfaat Penulisan 1. Bagi klien Klien dapat merasakan asuhan keperawatan yang berkualitas dan mendapatkan pengetahuan tentang perawatan pada pasien post sectio sesarea. 2. . Bagi institusi pendidikan Sebagai sumber bacaan atau referensi untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien post sectio sesarea. 3. Bagi perawat rumah sakit Perawat rumah sakit dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien post sectio sesarea.

(Mitayani. 2010). Gambar 2.1 Post Sectio Sesarea Indikasi KPD 7 .2011). Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban tanpa disertai tanda inpartu dan setelah satu jam tetap tidak diikuti dengan proses inpartu sebagaimana mestinya (Manuaba. 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Ketuan pecah dini (KPD) adalah pecahnya/rupturnya selaput amnion sebelum dimulainya persalinan yang sebenarnya atau pecahnya selaput amnion sebelum usia kehamilannya mencapai 37 minggu atau tanpa kontraksi. Konsep Dasar Ketuban Pecah Dini 1.

8 Ketuban pecah dini ini merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi korioamnionitis sampai sepsis yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi ibu (Prawirohardjo. antara lain : a. . Menurut Nugroho (2010) dalam penelitian Riani tahun 2012. namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. 2009). 2007). 1992). Etiologi Sebab terjadinya ketuban pecah dini belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD. menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya KPD. Hal ini dapat dijadikan pelajaran bagi ibu- ibu hamil agar selama masa kehamilan hindari/kurangi melakukan pekerjaan yang berat (Mochtar. 2. Infeksi adalah infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asendern dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban yang bisa menyebabkan KPD. Kejadian ketuban pecah dini dapat disebabkan oleh kelelahan dalam bekerja. Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput amnion sebelum dimulainya persalinan yang sebenarnya atau pecahnya selat amnion sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa kontraksi (Hossam.

g. dan gamelly. Umur ibu yang lebih tua mungkin menyebabkan ketuban kurang kuat daripada ibu muda. 4) Defisiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat (vitamin C). hubungan seksual. Trauma yang didapat misalnya. pemeriksaan dalam. merokok. Tekanan intrauterine yang terlalu tinggi atau meningkat secara berlebihan misalnya trauma. 2) Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu. dan perdarahan antepartum. akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat menimbulkan kelemahan bawaan termasuk kelemahan jaringan kulit ketuban. kanalis serviksalis yang selalu terbuka oleh kelainan pada serviks uteri yang disebabkan persalinan atau curetase. misalnya sungsang sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah. Keadaan sosial ekonomi. Faktor lain : 1) Faktor golongan darah. c. . maupun amnionsintesis menyebabkan terjadinya KPD karena biasanya terinfeksi. h. f. Serviks yang inkompetensia. d. e. Kelainan letak. 3) Faktor multi graviditis. hidramnion. 9 b.

Makin lama periode laten. Resiko ini dapat dikurangi bila ibu mengkonsumsi suplemen vitamin C pada saat memasuki usia separuh kehamilan. Faktor keturunan Adanya difisiensi vitamin C merupakan salah satu penyebab terjadinya ketuban pecah dini. bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban (Cunningham. 2006). Secara tradisi diagnosis ikompetensia serviks ditegakkan berdasarkan peristiwa yang sebelumnya terjadi. Faktor paritas Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan dari persalinan tersebut periode laten. b. Faktor Serviks Terjadinya inkompetensia os sevik intena yang lebih sering disebut inkompetensia serviks. Ketuban pecah dini beresiko menimbulkan infeksi janin maupun terjadi kelahiran yang premature. 10 Faktor predisposisi ketuban pecah dini yaitu sebagai berikut : a. Vitamin C berperan penting dalam mempertahankan keutuhan membran (lapisan) yang menyelimuti janin dan cairan ketuban (Manuaba. 2010). makin besar kemungkinan meningkatkan kejadian kesakitan dan kematian ibu dan bayi atau janin di . ditegakkan ketika serviks menipis dan membuka tanpa disertai rasa nyeri pada trimester kedua atau awal trimester ketiga kehamilan. c. takni minimal dua kali keguguran pada pertengahan terimester tanpa disertai awalan persalinan dan kelahiran.

Faktor kelainan letak Menurut Nugroho (2010). dalam penelitian Riani tahun 2012. 2006). d. Pada kelahiran kembar sebelum 37 minggu sering terjadi kelahiran preterm. 2010). Pada primigravida cenderung mempunyai periode masa laten yang lebih lama dari pada multigravida (Manuaba. Faktor overdistensi uterus Tekanan intrauterine yang meningkatkan secara berlebihan (overdistensi uterus) misalnya kehamilan gamelly dan hidramnion. e. Faktor dari luar yang melemahkan ketuban Infeksi pada genetalia yang dapat menyebabkan terjadinya proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah (Manuaba. f. Sedangkan bila lebih dari 37 minggu lebih sering mengalami ketuban pecah sebelum waktunya (Cunningham. 11 dalam rahim. Overdistensi uterus atau keadaan rahim yang terlampau meregang akibat adanya tekanan intrauterine yang meninggi atau meningkat secara berlebihan seperti hidramnion dan kehamilan ganda mengakibatkan selaput ketuban semakin tipis dan mudah pecah (Manuaba. 2010). 2010). adanya kelainan letak dalam kehamilan merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya ketuban pecah dini. Kelainan letak terjadi karena posisi janin dalam rahim yang tidak sesuai dengan jalan lahir yaitu seperti letak lintang dan letak sungsang. sebab adanya ketidakteraturan bagian .

2009). . Faktor lamanya fase laten Kala I persalinan terdiri dari 2 fase yaitu fase laten dan fase aktif. akan tetapi fase-fase tersebut terjadi lebih pendek (Prawirohardjo. sedangkan fase aktif yaitu terdiri dari akselerasi (pembukaan serviks 3-4 cm). Yang dikatakan fase laten ialah dimana pembukaan serviks berlangsung lambat 0-3 cm yang berlangsung 7-8 jam. Fase-fase tersebut dijumpai pada primigravida. 12 terendah janin untuk menutupi atau menahan pintu atas panggul (PAP). Pada multigravidarum terjadi demikian. g. sehingga mengurangi tekanan terhadap membran bagian bawah. dilatasi maksimal (pembukaan serviks 4-9 cm). deselerasi (pembukaan 9-10 cm) yang masing-masing fase berlangsung 2 jam.

WOC KPD GRAVIDA Kanalis servik selalu Kelainan letak janin Infeksi genetalia Servik inkompetent Gamely hidroamnion terbuka. 14 4. akibat kelainan (sungsang) servik uteri (abortus) dan Dilatasi berlebihan Proses biomekanik bakteri Ketegangan uterus riwayat kuretasi servik mengeluarkan enzim berlebihan Tidak adanya bagian terendah metabolik yang menutupi pintu atas Selaput ketuban Mudahnya pengeluaran panggul yang menghalangi menonjol dan mudah Servik tidak bisa menahan Selaput ketuban pecah pecah tekanan intra uterus air ketuban tekanan terhadap membran KETUBAN PECAH DINI Air ketuban terlalu banyak keluar Distosia (partus kering) Gawat janin Laserasi pada jalan lahir Kecemasan ibu terhadap Tindakan sc Tidak adanya pelindung keselamatan janin dan ibunya dunia luar dgn daerah rahim Ancaman pada diri sendiri/janin Kerusakan Ketegangan otot rahim jaringan akibat Mudahnya mikroorganisme masuk MK : ANSIETAS luka operasi secara olsenden 14 .

manuaba (2010 & Prawiro (2009) . 15 MK : NYERI Terputusnya Ruptur membrane amniotik jaringan MK : NYERI AKUT MK : RESIKO TINGGI MK : KERUSAKAAN INFEKSI INTEGRITAS KULIT Sumber : Modifikasi Nugroho (2010).

Distress janin 4. 15 Pathway SC + Post Date Insufisiensi Plasenta Sirkulasi uteroplasenta Cemas pada Janin Ins Faktor Predisposisi : Tidak timbul HIS 1. Presentsi janin 5. Preeklamsi/ekl Kelahiran terhambat amsi Post Date SC Estrogen meningkat Persalinan tidak Nifas post pembedahan normal Pe hormon prolaktin Ansietas Jar tertutup arestesi Pe Adaptasi Merangsang Jar terbuka kerja puns M’rangsang Postpartum area laktasi sensorik oksitoksin Proteksi kurang 15 . Kehamilan Tidak ada perubahan lemak kembar pada serviks 3. protein dan 2. Ketidakseimba Kadar kortisol menurun ngan sepalo Merupakan metobolisme celvic karbohidrat.

Sekitar 30% mortalitas pada bayi preterm dengan ibu yang megalami ketuban pecah dini adalah akibat infeksi. Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi. biasanya infeksi saluran . atau kecoklatan sedikit-sedikit atau sekaligus banyak. jernih. Pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada. Resiko infeksi karena ketuban yang utuh merupakan barier atau penghalang terhadap masuknya penyebab infeksi (Prawirohardjo. komplikasi selama persalinan dan kelahiran yaitu resiko resusitasi dan adanya resiko infeksi baik pada ibu maupun janin. kuning. e. 2009). Manifestasi Klinis a. 2. Komplikasi Komplikasi utama terjadi pada ketuban pecah dini yaitu peningkatan morbiditas dan mortalitas neonatal oleh karena prematuritas. Keluar air ketuban warna putih keruh. 16 Pe Gg rasa nyaman Inuasi bakteri Eseksi ASI peristaltik usus Psikologi Nyeri Resiko infeksi Tdk konstipasi efektif Tuntunan anggota baru bengkak Bayi menangis Ketidakefektifan pemberian ASI Gg Pola tidur 1. b. Janin mudah diraba. air ketuban sudah kering. hijau. c. Inspekulo: tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudah kering. d.

h. e. Tes stres kontraksi atau tes non-stres: mengkaji respons janin terhadap gerakan/stres dari pola kontraksi uterus/pola abnormal. Komplikasi pada ibu adalah terjadinya resiko infeksi dikenal dengan korioamnoinitis akibat jalan lahor yang telah terbuka. Pemeriksaan Diagnostik a. Urinalis : menentukan kadar albumin/glukosa. flora vagina normal yang ada bisa menjadi patogen yang bisa membahayakan baik pada ibu maupun janinnya. Pelvimetri : menentukan CPD. serta dry labor (Manuaba. Amniosentesis : mengkaji maturitas paru janin. g. serta tes Coombs b. peitonitis. 17 pernafasan (asfiksia). Ultrasonografi : melokalisasi plasenta menentukan pertumbuhan. 3. akan terjadi prematuritas dan prolaps tali pusat dan malpresentasi akan lebih memburuk kondisi bayi preterm dan prematuritas (Depkes RI. golongan darah (ABO) dan percocokan silang. kedudukan. 2010).000/ul bila terjadi infeksi c. infeksi puerpuralis. 2007). Hitung darah lengkap. atonia uteri dan septikimia. Selain itu. Pemeriksaan leukosit darah : >15. apalagi bila terlalu sering dilakukan pemeriksaan dalam dan dapat juga dijumpai perdarahan postpartum. Kultur : mengidentifikasi adanya virus herpes simpleks tipe II. f. dan presentasi janin. i. Tes lakmus merah berubah menjadi biru. . Marbiditas dan mortalitas neonatal meningkat dengan makin rendahnya umur kehamilan. Dengan tidak adanya selaput ketuban seperti ketuban pecah dini. d.

deksametason. diantaranya : a. leukositm dan tanda-tnada infeksi intreuterine). 4) Jika umur kehamilan 32-37 minggu. 5) Jika umur kehamilan 32-37 minggu. obeservasi tanda-tanda infeksi. tidak ada tanda-tanda infeksi. Terminasi pada umur kehamilan 37 minggu. tidak da infeksi. Penanganan ketuban pecah dini menurut Prawirohardjo (2009). Pemantauan elektronik kontinu: memastikan status janin/aktivitas uterus. belum inpartu. Konservatif 1) Rawat dirumah sakit. 3) Jika umur kehamilan 32-37 minggu. 18 j. berikan tokolitik (salbotamol). dirawat selama air ketuban masih keluar atau sampai air ketuban tidak keluar lagi. berikan antibiotik (ampisilin 4x500 mg atau eritomisin bila alergi terhadap ampisilin dan metronidazole 2x500 mg selama 7 hari. tes busa negatif beri deksametason. 4. 2) Jika umur kehamilan <32-34 minggu. adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan. ada infeksi. 6) Pada umur kehamilan 32-37 minggu berikan steroid untuk memacu kematangan paru janin dan bila memungkinkan periksa kadar . nilai tanda-tanda infeksi (suhu. segera berikan antibiotik dan lakukan induksi. dan induksi sesudah 24 jam. dan kesejahteraan janin. sudah inpartu. Penatalaksanaan Penatalaksanaan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia kehamilan.

deksametason intramuskular 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali. Aktif 1) Kehamilan >37 minggu. b) Bila skor pelvik>5. Dosis betemetason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari. Sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding depan perut (Amru sofian. kemudian induksi. 2007). dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram ( Winknjosastro dkk. dapat pula diberikan misoprostol 25μg- 50μg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali. 19 lesitin dan spingomielin tiap minggu. induksi dengan oksitosin. lakukan pematangan servikss. Jika tidak berhasil akhiri persalinan dengan sectio sesarea.2012) . Konsep Dasar Sectio Sesarea 1. B. Bila gagal lakukan sectio sesarea. Definisi Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan. 2) Bila ada tanda-tanda infeksi. a) Bila skor pelvik <5. b. berikan induksi persalinan. berikan antibiotik dosis tinggi dan persalinan diakhiri.

4) Prolapsus funikuli.2 Post Sectio Sesarea 2. 6) Infeksi intrapartum. 3) Partus lama. 2) Gawat janin. 2) Plasenta Previa sentralis (Posterior) dan totalis. 7) Ruptur uteri membakat. 5) Primi gravidda tua. 8) Stenosis servik / vagina. 6) Infeksi Intrapartum. 20 Gambar 2. 4) Solutio plasenta. . Etiologi a. 5) Preeklamsi / eklamsi. Indikasi ibu dengan Sectio Sesarea : 1) Disproporsi cepalopelvik (ketidaksesuaian antara kepala dan panggul). b. 3) Kehamilan dengan DM. Indikasi janin dengan Sectio Sesarea 1) Letak lintang / letak bokong.

21 3. Anestesi ini juga mempengaruhi saluran pencernaan dengan menurunkan mobilitas usus. Patofisiologi SC merupakan tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di atas 500 gr dengan sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. sedangkan pengaruhnya anestesi bagi ibu sendiri yaitu terhadap tonus uteri berupa atonia uteri sehingga darah banyak yang keluar. untuk ibu. Janin besar dan letak lintang setelah dilakukan SC ibu akan mengalami adaptasi post partum baik dari aspek kognitif berupa kurang pengetahuan. distorsia jaringan lunak. Sedangkan untuk janin adalah gawat janin. Akibatnya janin bisa mati. Untuk pengaruh terhadap nafas yaitu jalan nafas yang tidak efektif akibat sekret yan berlebihan karena kerja otot nafas silia yang menutup. disfungsi uterus. Oleh karena itu perlu diberikan antibiotik dan perawatan luka dengan prinsip steril. Akibat . Sebelum dilakukan operasi pasien perlu dilakukan anestesi bisa bersifat regional dan umum. Seperti yang telah diketahui setelah makanan masuk lambung akan terjadi proses penghancuran dengan bantuan peristaltik usus. Namun anestesi umum lebih banyak pengaruhnya terhadap janin maupun ibu anestesi janin sehingga kadang- kadang bayi lahir dalam keadaan upnoe yang tidak dapat diatasi dengan mudah. Nyeri adalah salah utama karena insisi yang mengakibatkan gangguan rasa nyaman. Indikasi dilakukan tindakan ini yaitu distorsi kepala panggul. Akibat kurang informasi dan dari aspek fisiologis yaitu produk oxsitosin yang tidak adekuat akan mengakibatkan ASI yang keluar hanya sedikit. luka dari insisi akan menjadi post de entris bagi kuman. Kemudian diserap untuk metabolisme sehingga tubuh memperoleh energi. placenta previa dll.

Keunggulan pembedahan ini adalah : 1) Lokasi tersebut memiliki lebih sedikit pembuluh darah sehingga kehilangan darah yang ditimbulkan hanya sedikit. Klasifikasi a. 22 dari mortilitas yang menurun maka peristaltik juga menurun. Sectio Sesaria comporal atau secsio sesarea klasik Pada sectio caesarea klasik ini dibuat kepada korpus uteri. pembedahan ini yang agak mudah dillakukan . Makanan yang ada di lambung akan menumpuk dan karena reflek untuk batuk juga menurun. 2) Mencegah pnyebaran infeksi ke rongga abdomen. 4) Penyembuhan lebih baik dengan komplikai pascaoperasi yang lebih sedikit seperti pelekatan. Sectio Sesaria transperitoneal profunda Sectio Sesaria transperitoneal profunda dengan insisi segmen bawah uterus. Selain itu motilitas yang menurun juga berakibat pada perubahan pola eliminasi yaitu konstipasi. 5) Implantasi plasenta di atas bekas luka uterus kurang cenderung terjadi pada kehamilan berikutnya. 3) Merupakan bagian unterus yang sedikit berkontraksi sehingga hanya sedikit kemungkinan terjadinya ruptur pada bekas luka di kehamilan berikutnya. Maka pasien sangat beresiko terhadap aspirasi sehingga perlu dipasang pipa endotracheal.hanya di selenggarakan . 4. b.

kultur urin . Infeksi puerperal Komplikasi yang bersifat ringan seperti kenaikan suhu tubuh selama beberapa hari dalam masa nifas yang bersifat ringan seperti peritonitis. Jumlah darah lengkap . Perdarahan Waktu Perdarahan banyak bisa timbul pada pembedahan jika cabang arteria uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri. 5.hemoglobin dan hematokrit . kurang kuatnya jaringan parut pada dinding uterus sehingga bisa terjadi ruptur uteri pada kehamilan. Komplikasi Kemungkinan komplikasi dilakukannya pembedahan SC menurut Wiknjosastro.sepsis. b. pemeriksaan tambahan didasarkan pada kebutuhan individual . Komplikasi lain seperti luka kandung kemih. : a. Penatalaksanaan . Pemeriksaan Diagnostik a. Urinalisis . 23 lokasapabila ada halangan untuk melakukan sectio caesarea transperitonealis profunda. vagina dan lockea . c. 7. Hanifa (2002).Mengkaji perubahan dari kadar pra operasi sampai dengan post operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan . b. 6. darah . Sectio Sesaria extra peritoneal Section caesarea ekstra peritoneal dahulu dilakukan untuk mengurangi bahaya infeksi purporal akan tetapi dengan kemajuan pengobatan terhadap infeksi pembedahan ini sekarang tidak banyak dilakukan.

Perdarahan dari vagina harus dipantau dengan cermat. 24 Penatalaksanaan medis dan perawatan setelah dilakukan sectio caesarea (Cuningham. c. hematokrit diukur pagi hari setelah pembedahan untuk memastikan perdarahan pasca operasi atau mengisyaratkan hipovolemia. misalnya prometazin 25 mg. 3 liter cairan biasanya memadai untuk 24 jam pertama setelah pembedahan. suku bangsa. alamat. pemberian narkotik biasanya disertai anti emetik. Eriksa aliran darah uterus palingsedikit 30 ml/jam. ampisilin 29 dosis tunggal. F Garry. a. jahitan kulit (klip) diangkat pada hari keempat setelah pembedahan. insisi diperiksa setiap hari. Fundus uteri harus sering dipalpasi untuk memastikan bahwa uterus tetap berkontraksi dengan kuat. e. status perkawinan. Perawatan luka. pendidikan. f. C. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian Berdasarkan klasifikasi Doengoes (2001) yang perlu dikaji yaitu : a. d. Identitas klien dan penanggung jawab Meliputi nama. atau penisilin spekrum luas setelahjanin lahir. agama. pekerjaan. Analgesia meperidin 75-100 mg atau morfin 10-15 mg diberikan. Ambulasi. . ruang rawat. satu hari setelahpembedahan klien dapat turun sebertar dari tempat tidur dengan bantuan orang lain. umur. Mencegah infeksi pasca operasi. sefalosporin. i. Pemberian cairan intra vaskuler. 2005. b. g. h. Pemeriksaan laboratorium. nomor medical record.

persalinan. b. perdarahan vagina mungkin ada c) Integritas Ego Pasien dapat menunjukkan prosedur yang diantisipasi sebagai tanda kegagalan atau reflaktif negatif pada kemampuan sebagai wanita. dan nifas sebelumnya bagi klien multipara. c. atau riwayat yang menyertai indikasi kejadian sekarang. a) Riwayat Kesehatan Keluarga Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga pasien ada juga mempunyai riwayat persalinan section caesarea. Keluhan utama Riwayat kehamilan. Keadaan klien meliputi : b) Sirkulasi Hipertensi. yang mengirim. d) Makanan/cairan . 25 diagnosa medik. 2) Riwayat Kesehatan Dahulu Meliputi penyakit yang lain yang menyertai yang dapat mempengaruhi riwayat operasi sekarang. Data Riwayat penyakit 1) Riwayat kesehatan sekarang Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan setelah pasien operasi. keadaan umum tanda vital. cara masuk. alasan masuk. maksudnya apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama.

1) Pemeriksaan diagnostik a) Hitung darah lengkap. (10) Tumor/neoplasma yang menghambat pelvis/jalan lahir d. 26 (1) Nyeri epigastrik (2) Gangguan penglihatan (3) Edema (4) Abdomen lunak e) Nyeri/ketidaknyamanan (1) Nyeri tekan uterus mungkin ada (2) Distosia (3) Persalinan lama/disfungsional (4) Kegagalan induksi f) Keamanan (1) Penyakit hubungan seksual aktif (misalnya : herpes (2) Inkompabilitas Rh yang berat (3) Prolaps tali pusat (4) Ancaman kelahiran bayi premature (5) Ketuban telah pecah selama 24 jam atau lebih lama (6) Seksualitas (7) Disproporsi sefalopelvis (8) Kehamilan multiple atau gestasi (9) Melahirkan saesaria sebelumnya. atau bedah uterus sebelumnya. mempengaruhi kesiapan dan pemahaman klien terhadap prosedur. golongan darah. Penyuluhan/pembelajaran Kelahiran saecarea dapat atau mungkin tidak direncanakan. dan percocokan silang .

Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan post sectio caesarea menurut Doengoes (2001) : a. 27 b) Urinalisis : Menentukan kadar albumin/glukosa c) Kultur : mengidentifikasi adanya virus herpes simpleks tipe II Pelvimetri : menentukan CPD d) Amniosentesis : mengkaji maturitas paru janin e) Ultrasonografi: yaitu melokalisasi plasenta. b. d. e. menentukan pertumbuhan. dan presentasi janin. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat . Ansietas berhubungan dengan staatus peran ibu . c. Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan terputus nya jaringan. kedudukan. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. f) Test stres kontraksi atau test nonstres : mengkaji respons janin terhadap gerakan/stress dari pola kontraksi uterus/pola abnormal g) Pemantauan elektronik kontinu: Memastikan status janin/aktivitas uterus 2. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan.

Memperlihatkan pengendalian nyeri. intensitas atau tindakan jaringan yang dibuktikan oleh indikator keparahan nyeri. penobatan yang selama aktivitas yang dilakukan lebih menimbulkan nyeri. terbimbing. mengurangi Merintih dan menangis Gelisah umpan-balik biologis. sebelum efektif. nyeri. 2. jam nyeri dengan lokasi. nyeri terjadi atau meningkat. kualitas. Lingkungan yang . ×. nyeri.. kadang-kadang. 8. 4. khususnya nyeri. dan masase) sebelum. 6. Menunjukkan tingkat nyeri. terapi bermain. perasaan rileks Gelisah atau ketegangan otot 4. yang nyeri. dan dikontrol dikendalikan 3. jika memungkinkan. Observasi isyarat nonverbal 2. kefektifan kerusakan 1. jarang. imajinasi akibat nyeri. Agar tindakan dan. 28 Intervensi Keperawatan Diagnosa Rencana Keperawatan Keperawatan Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional  Nyeri akut 1. Sebagai acuan distraksi.. relaksasi. ringan atau tidak ada): ketidaknyamanan akibat menciptakan Ekspresi nyeri pada wajah prosedur. Ajarkan penggunaan teknik yang dapat Durasi episode nyeri nonfarmakologis (misalnya. Mencegah nerve stimulation (TENS). transcutaneous electrical 5. keperawatan kompres hangat atau dingin. awitan mengevaluasi pasien berkurang dengan kriteria hasil: dan durasi. Lakukan pengkajian nyeri 1.. seperti penyebab nyeri. nyeri pada mereka yang tidak 3. Memastikan letak sering. atau selalu):Mengenali awitan ketidaknyamanan. akupresur. pernah. tindakan terapi aktivitas. 2. karakteristik. dan antisipasi otot. stelah. Berikan informasi tentang saat keluhan. terapi musik. berlangsung. Sebagai data Setelah dilakukan tindakan asuhan berhubungan yang komprehensif meliputi dasar untuk keperawatan selama. Mengurangi dibuktikan oleh indikator sebagai berapa lama akan ketegangan otot berikut (sebutkan 1-5: sangat berat. berat. komlikasi lanjut hipnosis. 7. dan faktor mengurangi sebagai berikut (sebutkan 1-5: tidak presipitasinya. sedang. frekuensi.. selanjutnya.. Supaya nyeri Menggunakan tindakan pencegahan mampu berkomunikasi dapat diantisipasi Melaporkan nyeri dapat efektif.

penanganan 6. mempengaruhi 5. Mampu melakukan aktivitas sehari mengidentifikasi aktivitas 3. Gunakan tindakan tingkat nyeri. Bantu pasien untuk aktivitas b. pencahayaan. 9. 8. 7. Observasi adanya 1. Monitor nutrisi dan sumber 2. Melatih pasien . Keseimbangan aktivitas dan istirahat 5. Sumber energi kelemahan a. Mengetahui hari (ADLs) secara mandiri yang mampu dilakukan perkembangan c. pasien pembatasan pasien dalam intervensi berhubungan bertoleransi terhadap aktivitas dapat melakukan aktivitas lanjutan dengan teratasi dengan kriteria hasil: 2. Mengetahui aktivitas keperawatan selama…x…jam. Efektifitas dalam nyeri menjadi lebih berat. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat memengaruhi respons pasien terhadap ketidaknyamanan (misalnya. nadi dan respirasi 4. Bantu pasien untuk kesehatan membuat jadwal latihan pasien diwaktu luang 4. Libatkan pasien dalam modalitas peredaan nyeri. Intoleransi Setelah dilakukaukan tindakan asuhan 1. jika memungkinkan. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik energi yang adekuat untuk fisik tanpa disertai peningkatan tekanan 3. Laporkan kepada dokter jika nyeri. 29 dan bersama penggunaan tidak nyaman tindakan peredaan nyeri yang dapat lain. pengendalian nyeri sebelum 9. Pastikan pemberian analgesia terapi atau strategis nonfarmakologis sebelum melakukan prosedur yang menimbulkan nyeri. dan kegaduhan). Monitor vital sign melakukan darah. tindakan tidak berhasil atau jika keluhan saat ini merupakan perubahan yang bermakna dari pengalaman nyeri pasien di masa lalu. suhu ruangan.

Intruksikan pada pasien peranan nya untuk menggunakan sebagai ibu dan teknik relaksasi mempercepat .bahasa tubuh dan tingkat dan mengurangi takut sesareaa yang aktifitas menunjukan berkurangnya 5.mengungkapkan prosedur dan apa yang masa lalu atau dan menunjukan teknik untuk dirasakan selama persepsi tidak mengontrol cemas prosedur realistis dari 3. Klien dapat dengan jam. Libatkan keluarga dapat merasa untuk mendampingi jenuh . 30 6. Mengindentifikasi. Klien mampu mengindentifikasi pelaku pasien memori dari ibu dan mengungkapkan gejala cemas 3. Temani pasien untuk abnormalitas 4.. Mempercepat proses pemulihan dengan adanya aktivitas 6. Vital sign dalam batas normal 4. Gunakan pendekatan berhubungan Setelah dilakukan asuhan selama 3x24 yang menenangkan 7. Bantu pasien untuk untuk mencoba mengembangkan motivasi melakukan diri dan penguatan aktivitas yang belum mampu untuk dilakukan 5.ekpresi memberikan keaamnan kelahiran wajah. Jelaskan semua melahirkan 2. Nyatakan dengan jelas mengalami perubahan kriteria hasil harapan terhadap penyimpangan status peran 1. Meningkatkan keinginan pasien dalam beraktivitas Ansietas 1. Agar klien 6. Berikan informasi akan kecemasan faktual mengenai meningkatkan diagnosis tindakan ansietas prognosis 8. klien klien memahami 7. Postur tubuh . pemberian ASI terpenuhi dengan 2.

Monitor kulit akan adanya 14. posisi pasien) setiap dua jam adanya tekanan radiasi elastisitas.. Observasi luka pada area kulit mencegah terjadinya sedera 7. Menjaga berhubungan keperawatan selama …x… jam.ketakutan. Oleskan lotion atau peradangan c. Dorong pasien untuk dengan mengungkapkan bayinya perasaan. Ajarkan pada keluarga 16. Anjurkan pasien untuk 11. pasien 20.Memberikan d. Jaga kebersihan kulit agar 12.Agar terhindar hipertermi. tetap bersih dan kering dari infeksi faktor a. Menjalin kasih kecemasan sayang klien 10. Pertahankan teknik aseptif 1. Menunjukkan pemahaman dalam yang tertekan kelembaban proses perbaikan kulit dan 6. Menunjukkan terjadinya proses luka melakukan perawatan penyembuhan luka secara mandiri 18. Batasi pengunjung bila kebersihan dan dengan tidak mengalami infeksi teratasi perlu mencegah .. Mampu melindungi kulit dan luka pemulihan luka mempertahankan kelembaban 8. Integritas kulit yang baik bisa 3. Perfusi jaringan baik minyak/baby oil pada derah 15.Mencegah mekanik.per 10. Mobilisasi pasien (ubah 13. Berikan posisi yang 17.x.Agar keluarga kulit dan perawatan alami mengurangi tekanan pada mampu f. Tidak ada luka/lesi pada kulit 5.Mengetahui pigmentasi) kemerahan adanya tanda b. jam. 31 8. Identifikasi tingkat 9. Dengarkan dengan proseds penuh perhatian penyembuhan 9. dipertahankan (sensasi.Mengetahui berulang tentang luka dan perawatan perkembangan e.Memberikan kenyamanan kepada pasien Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan asuhan 19. Kelola pemberian obat hisap baik anti cemas Kerusakan Setelah dilakukan tindakan asuhan 1. menggunakan pakaian yang tekanan pada berhubungan kerusakan integritas kulit pasien longgar luka dengan teratasi dengan kriteria hasil : 2.Mengurangi integritas kulit keperawatan selama .. temperatur.. hidrasi. Untuk melatih sepsi bayi respon 11. sekali pada luka 4.

Cuci tangan setiap sebelum infeksi invasif. Mengetahui adanya tanda- tanda inflamasi 7. Mengetahui intervensi terhadap infeksi dengan cepat . Memberikan malnutrisi. Berikan terapi antibiotik 3. Melakukan sekunder e. panas. sarung dan agar pasien pertahanan mencegah timbulnya infeksi tangan sebagai alat dapat primer c. Menunjukkan perilaku hidup sehat 23. Jumlah leukosit dalam batas normal pelindung beristirahat ataupun d. Inspeksi kulit dan membran tindakan aseptic genitourinaria dalam batas normal mukosa terhadap sesuai prosedur kemerahan. Klien bebas dari tanda dan gejala dan sesudah tindakan 2. gastrointestinal. Ajarkan pasien dan adanya infeksi keluarga tanda dan gejala nosokomial infeksi 5. Mencegah 25. Gunakan baju. infeksi keperawatan rasa nyaman tidak adekuat b. a. drainase 4. 24. Mencegah infeksi kuman dan bakteri 6. Menunjukkan kemampuan untuk 22. 32 prosedur dengan kriteria hasil: 21. Status imun.

Related Interests