KATAPENGANTAR

Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan

Rahmat serta KaruniaNya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan

makalah ini yang Alhamdulilah tepat pada waktunya yang berjudul

“MANJEMEN PEMBIAYAAN PENDIDIKAN “

Diharapkan makalah ini dapat memberikan imformasi kepada kita

semua tentang Berbagai macam pembiayaan pendidikan dilihat dari berbagai

aspek. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,oleh karena

itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersipat membangun selalu kami

harap kan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampai kan terima kasih kepada semua pihak yang telah

berperan serta dalam penyusun makalah ini dari awal sampai akhir.Semoga Allah

SWT senantiasa meridhai usaha kita. Amin

Darussalam, 08 Desember 2016

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................... 2
1.3 Tujuan............................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN................................................................................. 3
2.1 Pengertian Menejemen Pembiayaan Pendidikan...........................
2.2 Konsep Dasar Pembiayaan Pendidikan.........................................
2.3 Sumber-Sumber Pembiayaan Pendidikan......................................
2.4 Perencanaan Pembiayaan Pendidikan............................................
2.5 Pelaksanaan Anggaran Pendidikan................................................
2.6 Pengawasan Pelaksanaan Pembiayaan Pendidikan.......................

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN........................................................ 16
3.1 Kesimpulan.................................................................................... 16
3.2 Saran.............................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 17

ii
MANJEMEN PEMBIAYAAN PENDIDIKAN

Disusun
Oleh:

Syarifah Yunda Zifani (150202094)
Zulhikmah (150202091)

Dosen Pembimbing:
Safriadi, S.Pd. I., M.Pd

FAKULTAS TARBIYAH dan KEGURUAN
JURUSAN BAHASA ARAB
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
DARUSSALAM-BANDA ACEH
TAHUN 2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dari sekian sumber daya pendidikan yang dianggap penting adalah uang.
Uang dipandang ibarat darah dalam tubuh manusia yang mati hidupnya
ditentukan oleh sirkulasi darah dalam tubuh. Tetapi ada juga yang berpendapat

3
bahwa uang ini ibarat kuda dan pendidikan sebagai gerobak. Gerobak tidak
akan berjalan tanpa ditarik kuda. Pendidikan tidak akan berjalan tanpa adanya
biaya atau uang.
Uang ini termasuk sumber daya yang langka dan terbatas. Oleh karena
itu, uang perlu dikelola ddengan efektif dan efisien agar membantu pencapaian
tujuan pendidikan.
Pendidikan sebagai investasi yang akan menghasilkan manusia-manusia
yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam
pembangunan suatu bangunan. Manfaat (benefit) individu sosial atau
institusional akan diperoleh secara bervariasi. Akan tetapi, manfaat individual
tidak akan diperoleh dalam waktu seketika atau diperoleh secara cepat (quick
yielding), tetapi perlu waktu yang cukup lama, bahkan bisa saatu generasi.
Pendidikan dipandang sebagai sektor publik yang dapat melayani
masyarakat dengan berbagai pengajaran, bimbingan dan latihan yang
dibutuhkan oleh peserta didik. Manajemen Pembiayaan dalam lembaga
pendidikan berbeda dengan manajemen pembiayaan perusahaan yang
berorientasi profit atau laba. Organisasi pendidikan dikategorikan sebagai
organisasi publik yang nirlaba (non profit). Oleh karena itu, manajemen
pembiayaan memiliki keunikan sesuai dengan misi daan karakteristik
pendidikan.
Penerapan peraturan dan sistem manajemen pembiayaan yang baku
dalam lembaga pendidikan tidak dapat disangkal lagi. Permasalahan yang
terjadi didalam lembaga terkait dengan manajemen pembiayaan pendidikan
diantaranya sumber dana yang terbatas, pembiayaan program yang
serampangan, tidak mendukung visi, misi, dan kebijakan sebagaimana tertulis
didalam rencana strategis lembaga pendidikan. Disatu sisi, lembaga
pendidikan perlu dikelola dengan tata pamong yang baik (good governance),
sehingga menjadikan lembaga pendidikan yang bersih dari berbagai malfungsi
dan malpraktik pendidikan yang merugikan pendidikan.

1.2 Rumusan Masalah
Beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:

4
1. Apakah pengertian administrasi pembiayaan pendidikan?
2. Bagaimana konsep dasar pembiayaan pendidikan?
3. Bagaimanakah sumber-sumber pembiayaan pendidikan?
4. Bagaimana perencanaan pembiayaan pendidikan?
5. Bagaimana pelaksanaan anggaran pendidikan?
6. Bagaimanakah pengawasan pembiayaan pendidikan?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatab makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian administrasi pembiayaan pendidikan
2. Mengetahui konsep dasar pembiayaan pendidikan
3. Mengetahui sumber-sumber pembiayaan pendidikan
4. Mengetahui perencanaan pembiayaan pendidikan
5. Mengetahui pelaksanaan anggaran pendidikan
6. Mengetahui pengawasan pembiayaan pendidikan

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Menejemen Pembiayaan Pendidikan
Menejemen pendidikan merupakan suatu cabang ilmu yang usianya
relative masih muda sehingga tidak aneh apabila banyak yang belum
mengenalnya. Istilah lama yang sering digunakan adalah administrasi.
Manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengatur, mengurus
atau mengelola. Banyak definisi yang telah diberikan oleh para ahli terhadap
istilah manajemen ini. Namun dari sekian banyak definisi tersebut ada satu
yang kiranya dapat dijadikan pegangan dalam memahami manajemen
tersebut, yaitu: manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari rangkaian
kegiatan, seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan
pengendalian/ pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan dan mencapai
tujuan yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan
sumber daya lainnya.
Lebih lanjut menurut Mulyani A. Nurhadi (1983) manajemen
merupakan kegiatan atau rangkaian kegiatan yang dilakukan dari, oleh dan
untuk manusia. Rangkaian kegiatan itu merupakan suatu proses pengelolaan
dari suatu rangkaian kegiatan pendidikan yang sifatnya kompleks dan unik
yang berbeda dengan tujuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan yang
sebesar-besarnya. Tujuan pendidikan ini tidak terlepas dari pendidikan secara
umum dan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh suatu bangsa. Proses
pengelolaan itu dilakukan oleh sekelompok manusia yang tergabung dalam
suatu organisasi sehingga kegiatannya harus dijaga agar terciptra kondisi
kerja yang harmonis tanpa mengorbankan unsur-unsur manusia yang terlibat
dalam kegiatan pendidikan ini. Proses itu dilakukan dalam rangka mencapai
sutu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, yang dalam hal ini meliputi
tujuan yang bersifat umum dan yang diemban oleh tiap-tiap organisasi
pendidikan (skala tujuan khusus). Proses pengelolaan itu dilakukan agar
tujuannya dapat tercapai secara efektif dan efisien.1
1
Muljani A. Nurhadi. 1983. Administrasi Pendidikan Di Sekolah. Yogyakarta: Andi Offset

6
2.2 Konsep Dasar Pembiayaan Pendidikan
1. Menurut Nanang Fatah
Mengacu pada teori human capital, sumber daya manusia merupakan
modal terpenting dalam melaksanakan pembangunan di setiap Negara.
Sumber daya manusia tidak semata-mata dianggap sebagai faktor
produksi melainkan penggerak sistem produksi secara menyeluruh
(Nanang Fatah;2000:17). Investasi di bidang sumber daya manusia sangat
penting bagi laju pembangunan suatu Negara. Investasi tersebut
dikonkritkan dengan menyelenggarakan pendidikan baik formal maupun
nonformal. Untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas
maka diperlukan pula pendidikan yang mendukung. Oleh karena itu,
diperlukan anggaran atau pembiayaan untuk pendidikan tersebut karena
anggaran pendidikan merupakan salah satu elemen penting untuk
menunjang jalannya seluruh pelaksanaan pendidikan.
Di Indonesia anggaran pendidikan dan sarana pendidikan tidak
tersedia dalam jumlah dan kualitas yang memadai. Anggaran pendidikan
di Indonesia saat ini baru sebesar 1,3% GNP. Jumlah yang sangat kecil
dibandingkan dengan Negara lain seperti Malaysia yang mencapai 5,2%,
Thailand 4,4%, dan Vietnam 2,7%.2
Anggaran tersebut berpengaruh terhadap peningkatan kualitas
pendidikan apabila anggaran tersebut digunakan secara efektif dan efisien.
Satuan pendidikan beserta seluruh personelnya harus diberi kepercayaan
dan tanggung jawab yang leluasa untuk menggunakandana pendidikan
sesuai dengan ondisi lingkungan masing-masing.
Dengan anggaran pendisdikan dan sarana yang dapat menunjang
pendidikan tersebut diharapkan mampi meningkatkan kualitas sumber
daya manusia di Indonesia, sehingga meningkatkan kemajuan
pembangunan di Indonesia.

2. Kriteria Keberhasilan.
2
Subroto, Suryo, B. 2004. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta : PT Rineka Cipta

7
Disiplin ilmu yang mengkaji tentang pembiayaan pendidikan disebut
juga sebagai ekonomi pendidikan. Ekonomi pendidikan ini mengkaji
tentang bagaimana manusia baik secara perorangan maupun dalam
kelompok masyarakatnya membuat keputusan dalam rangka
mendayagunakan sumber-sumber daya yang terbatas agar dapat
menghasilkan berbagai bentuk pendidikan dan latihan pengembangan
ilmu pengetahuan, keterampilan, pendapat, sikap, dan nilai-nilai
khususnya melalui pendidikan fomal serta bagaimana mendiskusikannya
secara merata dan adil diantara berbagai kelompok masyarakat. (Chon;
1979 dalam Nanang Fatah, 2000:18)3
Pada kajian ekonomi yang dibatasi pada bidang pendidikan ini
menurut Nanang Fatah (2000:3) ada beberapa kriteria keberhasilan yaitu :
a. Nilai baik ekonomis langsung dari suatu investasi yaitu perimbangan
antara biaya kesempatan (opportunity cost) dan keuntungan masa
depan yang diharapkan melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja.
b. Nilai baik ekonomis tidak langsung yakni keuntungan eksternal yang
mempengaruhi pendapatan masyarakat-masyarakat lain.
c. Keuntungan fiskal yakni peningkatan penerimaan Negara dari sector
pajak yang diakibatkan oleh meningkatnya penghasilan tenaga kerja
terdidik.
d. Pemenuhan kebutuhan tenaga kerja terampil dan terlatih.
e. Permintaan masyarakat akan pendidikan.
f. Efisiensi internal dari lembaga itu sendiri yaitu hubungan antara input
dan output yang diukur dengan indikator-indikator pemborosan,
pengulangan, putus sekolah, dan efektivitas biaya.
g. Terciptanya distribusi kesempatan pendidikan yang semakin merata
untuk semua penduduk usia sekolah.
h. Dampak positif dari pemerataan kesempatan pendidikan terhadap
distribusi pendapatan dan kontribusi pendidikan terhadap pengurangan
angka kemiskinan.

3
Fatah, S. Nanang. 2000. Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya

8
i. Kaitan antara investasi di sektor pendidikan dan investasi di sektor
lain, diantaranya kesehatan, industri pertanian dan sektor lainnya.

2.3 Sumber-Sumber Pembiayaan Pendidikan
Untuk terselenggaranya suatu pendidikan, diperlukan pembiayaan yang
bersumer baik dari pemerintah, orang tua, murid, masyarakat, maupun
institusi-institusi lainnya seperti organisasi regional maupun internasional.
Pemerintah merupakan penanggung dana terbesar diantara yang lain (sekitar
70%), selanjutnya orangtua murid (sekitar 10-24%) masyarakat (sekitar 5%)
daan yang terakhir pihak lain baik yang berbentuk hibah maupun pinjaman.
Upaya-upaya yang dilakukan untuk menggali dana ke semua pihak
sumber pembiayaan pendidikan antara lain:
1. Pemerintah pusat dan daerah : mengusahakan agar alokasi untuk sektor
pendidikan diperbesar, pemanfaatan dana secara efektif dan efisien, dan
mengusahakan adanya alokasi bagi sektor pendidikan yang diambil dari
pajak umum.
2. Orang tua peserta didik : menyadarkan orang tua agar mau dan tertib
membayar SPP dan pendanaan lainnya yang diijinkan pemerintah,
pemanfaatan dana dari orang tua peserta didik seefektif dan seefisien
mungkin.
3. Masyarakat : mengajak dunia usaha untuk bersedia sebagai fasilitator
praktik peserta didik, menghimbau dunia usaha agar bersedia memberikan
dana yang lebih besar untuk dunia pendidikan.
4. Pihak lain (institusi) : mengusahakan bentuk kerja sama yang tidak saling
mengikat namun menguntungkan serta mempertimbangkan bentuk-
bentuk pinjaman agar tidak memberatkan di kemudian hari.
5. Dana hasil usaha sendiri yang halal : seperti penyewaan alat, koperasi,
kopma.

2.4 Perencanaan Pembiayaan Pendidikan
Dalam perencanaan pembiayaan, terlebih dahulu harus memahami jenis-
jenis biaya dalam istilah pembiayaan. Jenis-jenis biaya tersebut yaitu :

9
1. Biaya langsung (direct cost)
Merupakan biaya pendidikan yang diperoleh dan dibelanjakan oleh
sekolah sebagai suatu lembaga meliputi biaya yang dikeluarkan untuk
pelaksanaan proses belajar mengajar, sarana belajar, biaya transportasi,
gaji guru, baik yang dikeluarkan oleh pemerintah, orang tua, maupun
siswa sendiri.
2. Biaya tidak langsung (indirect cost)
Biaya tidak langsung merupakan keuntungan yang hilang (earning
forgone) dalam bentuk biaya kesempatan yang hilang yang dikorbankan
oleh siswa selama belajar.
Istilah lain yang berkenaan dengan dua sisi anggaran yakni penerimaan
dan pengeluaran. Anggaran penerimaan merupakan pendapatan yang
diperoleh rutin setiap tahun oleh sekolah dari berbagai sumber resmi.
Anggaran dasar pengeluaran Merupakan jumlah uang yang dibelanjakan
setiap akhir tahun untuk kepentingan pelaksanaan pendidikan di sekolah.
Berdasarkan sifatnya, pengeluaran dikelompokkan menjadi dua, antara
lain :
a. Pengeluaran yang bersifat rutin
Pengeluaran rutin di sekolah misalnya pengeluaran pelaksanaan pelajaran,
pengeluaran tata usaha sekolah, pemeliharaan sarana/prasarana sekolah,
kesejahteraan pegawai, administrasi, pembinaan teknis edukatif,
pendataan.
b. Pengeluaran yang bersifat tidak rutin/pembangunan
Contoh pengeluaran tidak rutin : pembangunan gedung, pengadaan
kendaraan dinas, dan lain sebagainya.
Dalam mengukur biaya pendidikan ada yang dinamakan sebagai total
cost dan unit cost. Total cost merupakan biaya pendidikan secara keseluruhan.
Sedangkan unit cost adalah biaya satuan per peserta didik. Untuk menentukan
biaya satuan terdapat dua pendekatan, yaitu pendekatan makro dan mikro.
Pendekatan makro mendasarkan perhitungan pada keseluruhan jumlah
pengeluaran pendidikan yang diterima dari berbagai sumber dana kemudian

10
dibagi jumlah murid. Sedangkan pendekatan mikro berdasar pada alokasi
pengeluaran per komponen pendidikan yang digunakan peserta didik.
Untuk menyusun suatu perencanaan pembiayaan atau yang biasa disebut
dengan rencana anggaran, hal-hal yang harus diperhatikan :
1. Mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama periode
anggaran.
2. Mengidentifikasikan sumber-sumber yang dinyatakan dalam uang, jasa,
dan barang.
3. Semua sumber dinyatakan dalam bentuk uang sebab uang pada dasarnya
merupakan pernyataan financial.
4. Memformulasikan anggaran dalam bentuk format yang telah disetujui dan
dipergunakan oleh instansi tertentu.
5. Menyusun usulan anggaran untuk memperoleh persetujuan pihak yang
berwenang.
6. Melakukan revisi usulan anggaran
7. Persetujuan revisi anggaran
8. Pengesahan anggaran
Di tingkat sekolah kita mengenal adanya Rencana Anggaran Pendapatan
Sekolah (RAPBS). Penyusunan RAPBS sebaiknya menggunakan analisa
SWOT, baik dari segi hukum, tuntutan zaman, keberadaan sekolah (visi dan
misi), stakeholder, dan output yang diharapkan. Tujuan penyusunan anggaran
ini selain sebagai pedoman pengumpulan dana dan pengeluarannya, juga
sebagai pembatasan dan pertanggungjawaban sekolah terhadap uang-uang
yang diterima. Dengan adanya RAPBS ini, maka sekolah tidak dapat
semaunya memungut sumbangan dari orangtua siswa (BP3) dan sebaliknya
BP3 menjadi puas mengetahui arah dan penggunaan dana yang mereka
berikan. Sekolah swasta tidak teriakt oleh dana pemerintah terlalu banyak.
Karena mereka lebih leluasa menyusun RAPBS-nya. PAPBS disusun dengan
melalui proses tertentu, yang besar kecilnya didasarkan atas kebutuhan
minimum setiap tahun, dan perkiraan pendapatannya berpedoman pada
penerimaan tahun yang lalu.

11
Hal-hal yang berpengaruh terhadap pembiayaan pendidikan, antara lain :
pertama, Faktor eksternal, terdiri atas berkembangnya demokrasi pendidikan,
kebijakan dan kebijaksanaan pemerintah, tuntutan akan pendidikan, dan
adanya inflasi. Kedua, faktor internal, terdiri atas tujuan pendidikan,
pendekatan yang digunakan, meteri yang disajikan, serta tingkat dan jenis
pendidikan. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah azas-azas dalam
anggaran, terdiri dari :
1. Azas plafond
Bahwa anggaran belanja yang diminta tidak melebihi jumlah tertinggi
yang telah ditentukan.
2. Azas pengeluaran berdasarkan mata anggaran
Artinya bahwa anggaran pembelanjaan harus didasarkan atas mata
anggaran yang telah ditetapkan.
3. Azas tidak langsung
Yaitu suatu ketentuan bahwa setiap penerima uang tidak boleh digunakan
secara langsung untuk sesuatu keperluan pengeluaran.

2.5 Pelaksanaan Anggaran Pendidikan
Dalam melaksanakan anggaran pendidikan, hal yang perlu dilakukan
adalah kegiatan membukukan atau accounting. Pembukuan mencakup dua hal
yaitu : pengurusan yang menyangkut kewenangan menentukan kebijakan
menerima atau mengeluarkan uang, serta tindak lanjutnya, yakni menerima,
menyimpan dan mengeluarkan uang. Jenis pengurusan ke dua disebut juga
dengan pengurusan bendaharawan.
Ada beberapa komponen yang perlu dibiayai dengan menggunakan uang
dari dana belajar. Komponen-komponen tersebut meliputi :
1. Honorium untuk pemimpin/penanggung jawab edukatif.
2. Honorium untuk sumber belajar.
3. Honorium untuk pemimpin umum lembaga diklusemas.
4. Honorium untuk pinata usaha dan pembantu-pembantunya.
5. Biaya perlengkapan dan peralatan.
6. Biaya pemeliharaan prasarana dan sarana.
7. Biaya sewa/kontrak.

12
8. Dana untuk pengembangan usaha lembaga diklusemas.
9. Biaya-biaya lain untuk pengembanagn dan biaya tak teduga.
Selain itu terdapat usaha-usaha yang bersifat pengabdian terhadap
masyarakat yang menbutuhkan dana, kegiatan itu antara lain :
a. Pemberian keringanan uang kursus bagi warga belajar yang kurang
mampu.
b. Usaha-usaha untuk meningkatkan kemampuan mengajar tenaga
sumber belajar
c. Kegiatan-kegiatan yang bersifat pengabdian bagi kepentingan
masyarakat sekitar.
d. Kesediaan mengelola kejar usaha atau magang diklusemas.

2.6 Pengawasan Pelaksanaan Pembiayaan Pendidikan
Kegiatan pengawasan pembiayaan dikenal dengan istilah auditing yaitu
kegiatan yang berkenaan dengan kegiatan pertanggungjawaban penerimaan,
penyimpanan, dn pembayaran atau penyerahan uang yang dilakukan
Bendaharawan kepada pihak-pihak yang berwenang.
Menurut Nanang Fatah pengawasan pembayaan pendidikan bertujuan
untuk mengukur, membandingkan, menilai alokasi biaya dan tingkat
penggunaannya. Secara sederhana proses pengawasan terdiri dari :
1. Memantau (monitoring)
2. Menilai
3. Malapirkan hasil temuan, baik pada kinerja aktual maupun hasilnya
Menurut Nanang Fatah, langkah atau tahapan yang harus dilakukan
dalam proses pengawasan adalah sebagai berikut:
1. Penetapan standar atau patokan, baik berupa ukuran kuantitas, kualitas,
biaya maupun waktu.
2. Mengukur dan membandingkan antara kenyataan yang sebenarnya
dengan standar yang telah ditetapkan.
3. Mnentukan tindak perbaikan atau koreksi yang kemudian menjadi materi
rekomendasi.

13
Pada pola pemerintahan, setiap unit yang ada dalam departemen
mempertanggung jawabkan pengurusan uang ini kepada BPK (Badan
Pengawasan Keuangan) melalui departemen masing-masing. Sasaran auditing
antara lain yaitu kas, yang dimasukkan untuk menguji kebenaran jumlah uang
yang ada dengan membandingkan jumlah uang yang seharusnya ada melalui
catatannya. Sasaran lain yaitu pengirisan barang, yang bukan saja
membandingkan antara jumlah barang yang ada dengan barang yang
seharusnya ada, namun juga memeriksa cara-cara penyimpannya,
pemeliharaannya dan penggunaannya. Sasaran dari diadakan auditing antara
lain menindak lanjuti jika terjadi penyimpangan, dalam hal ini guna
menentukan ganti rugi. Pemeriksaan sebenarnya tidak hanya dilakukan
setelah anggaran direalisasikan namun juga sebelumnya (pemeriksaan
anggaran pre audit). Pemeriksaan ini meliputi pada kematangan rencana atau
anggaran yang menyangkut pada kebijakan semua metode yang digunakan
dalam merealisasikan dana.

14
BAB III
KESIMPULAN

Administrasi pembiayaan pendidikan adalah segenap kegiatan yang
berkenaan dengan penataan sumber, penggunaan, dan pertanggungjawaban dana
pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikan.
Anggaran atau pembiayaan untuk pendidikan diperlukan karena anggaran
pendidikan merupakan salah satu elemen penting untuk menunjang jalannya
seluruh pelaksanaan pendidikan. Pembiayaan pendidikan berasal dari beberapa
sumber, antara lain pemerintah pusat dan daerah, orangtua peserta didik,
masyarakat, pihak lain, serta dari dana sendiri yang halal.
Hal-hal yang berpengaruh terhadap pembiayaan pendidikan, antara lain :
pertama, Faktor eksternal, terdiri atas berkembangnya demokrasi pendidikan,
kebijakan dan kebijaksanaan pemerintah, tuntutan akan pendidikan, dan adanya
inflasi. Kedua, faktor internal, terdiri atas tujuan pendidikan, pendekatan yang
digunakan, meteri yang disajikan, serta tingkat dan jenis pendidikan.
Dalam melaksanakan anggaran pendidikan, hal yang perlu dilakukan adalah
kegiatan membukukan atau accounting. Kegiatan pengawasan pembiayaan
dikenal dengan istilah auditing yaitu kegiatan yang berkenaan dengan kegiatan
pertanggungjawaban penerimaan, penyimpanan, dan pembayaran atau penyerahan
uang yang dilakukan Bendaharawan kepada pihak-pihak yang berwenang.

15
DAFTAR PUSTAKA

Fatah, S. Nanang. 2000. Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya

Muljani A. Nurhadi. 1983. Administrasi Pendidikan Di Sekolah. Yogyakarta: Andi
Offset

Mulyana, E. 2002. Managemen Berbasis Sekolah. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya

Subroto, Suryo, B. 2004. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta : PT Rineka
Cipta

Sukirman, Hartati, dkk. 2004. Administrasi dan Supervisi Pendidikan.
Yogyakarta : UNY Press

16