STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN DAN

PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA MELAUI IFRS

Disusun
Oleh:

NURUL IKLIMA
NIM: 13120056

FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS ABULYATAMA ACEH
TAHUN 2016
KATA PENGANTAR

Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan

Rahmat serta KaruniaNya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan

makalah ini yang Alhamdulilah tepat pada waktunya yang berjudul “Standar

Akuntansi Keuangan Dan Perkembangannya Di Indonesia Melaui IFRS “

Diharapkan makalah ini dapat memberikan imformasi kepada kita

semua tentang Berbagai Konsep Standar Akuntansi Keuangan dilihat dari aspek

IFRS. kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,oleh karena

itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersipat membangun selalu kami

harap kan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampai kan terima kasih kepada semua pihak yang telah

berperan serta dalam penyusun makalah ini dari awal sampai akhir.Semoga Allah

SWT senantiasa meridhai usaha kita. Amin

Aceh Besar, 22 November 2016

Nurul Iklima

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 3
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN................................................................................. 4
2.1 Sejarah, perkembangan, dan pengadopsian Standar Akuntansi
Internasional di Indonesia .................................................................... 4
2.2 Pengadopsian Standar Akuntansi Internasional di Indonesia............... 4
2.3 Revisi terbaru PSAK yang mengacu pada IFRS.................................. 5
2.4 Perkembangan Ifrs Di Indonesia.......................................................... 7
2.5 Struktur IFRS........................................................................................ 7
2.6 Konversi Ke IFRS Di Indonesia........................................................... 8
2.7 Tujuan IFRS.......................................................................................... 11
2.8 Manfaat Dari Adanya Suatu Standard Global...................................... 11
2.9 Penerapan IFRS di Indonesia................................................................ 12

BAB III PENUTUP......................................................................................... 15
3.1 Kesimpulan........................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Adanya perubahan lingkungan global yang semakin menyatukan hampir
seluruh negara di dunia dalam komunitas tunggal, yang dijembatani
perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin murah,
menuntut adanya transparansi di segala bidang. Standar akuntansi keuangan
yang berkualitas merupakan salah satu prasarana penting untuk mewujudkan
transparasi tersebut. Standar akuntansi keuangan dapat diibaratkan sebagai
sebuah cermin, di mana cermin yang baik akan mampu menggambarkan
kondisi praktis bisnis yang sebenarnya. Oleh karena itu, pengembangan
standar akuntansi keuangan yang baik, sangat relevan dan mutlak diperlukan
pada masa sekarang ini.
Terkait hal tersebut, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai wadah
profesi akuntansi di Indonesia selalu tanggap terhadap perkembangan yang
terjadi, khususnya dalam hal-hal yang memengaruhi dunia usaha dan profesi
akuntan. Hal ini dapat dilihat dari dinamika kegiatan pengembangan standar
akuntansi sejak berdirinya IAI pada tahun 1957 hingga kini. Setidaknya,
terdapat tiga tonggak sejarah dalam pengembangan standar akuntansi
keuangan di Indonesia.
Tonggak sejarah pertama, menjelang diaktifkannya pasar modal di
Indonesia pada tahun 1973. Pada masa itu merupakan pertama kalinya IAI
melakukan kodifikasi prinsip dan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia
dalam suatu buku ”Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI).”
Kemudian, tonggak sejarah kedua terjadi pada tahun 1984. Pada masa
itu, komite PAI melakukan revisi secara mendasar PAI 1973 dan kemudian
mengkondifikasikannya dalam buku ”Prinsip Akuntansi Indonesia 1984”
dengan tujuan untuk menyesuaikan ketentuan akuntansi dengan
perkembangan dunia usaha.
Berikutnya pada tahun 1994, IAI kembali melakukan revisi total terhadap
PAI 1984 dan melakukan kodifikasi dalam buku ”Standar Akuntansi

1
Keuangan (SAK) per 1 Oktober 1994.” Sejak tahun 1994, IAI juga telah
memutuskan untuk melakukan harmonisasi dengan standar akuntansi
internasional dalam pengembangan standarnya. Dalam perkembangan
selanjutnya, terjadi perubahan dari harmonisasi ke adaptasi, kemudian menjadi
adopsi dalam rangka konvergensi dengan International Financial Reporting
Standards (IFRS). Program adopsi penuh dalam rangka mencapai konvergensi
dengan IFRS direncanakan dapat terlaksana dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam perkembangannya, standar akuntansi keuangan terus direvisi
secara berkesinambungan, baik berupa berupa penyempurnaan maupun
penambahan standar baru sejak tahun 1994. Proses revisi telah dilakukan
enam kali, yaitu pada tanggal 1 Oktober 1995, 1 Juni 1996, 1 Juni 1999, 1
April 2002, 1 Oktober 2004, dan 1 September 2007. Buku ”Standar Akuntansi
Keuangan per 1 September 2007” ini di dalamnya sudah bertambah
dibandingkan revisi sebelumnya yaitu tambahan KDPPLK Syariah, 6 PSAK
baru, dan 5 PSAK revisi. Secara garis besar, sekarang ini terdapat 2 KDPPLK,
62 PSAK, dan 7 ISAK.
Untuk dapat menghasilkan standar akuntansi keuangan yang baik, maka
badan penyusunnya terus dikembangkan dan disempurnakan sesuai dengan
kebutuhan. Awalnya, cikal bakal badan penyusun standar akuntansi adalah
Panitia Penghimpunan Bahan-bahan dan Struktur dari GAAP dan GAAS yang
dibentuk pada tahun 1973. Pada tahun 1974 dibentuk Komite Prinsip
Akuntansi Indonesia (PAI) yang bertugas menyusun dan mengembangkan
standar akuntansi keuangan. Komite PAI telah bertugas selama empat periode
kepengurusan IAI sejak tahun 1974 hingga 1994 dengan susunan personel
yang terus diperbarui. Selanjutnya, pada periode kepengurusan IAI tahun
1994-1998 nama Komite PAI diubah menjadi Komite Standar Akuntansi
Keuangan (Komite SAK).
Kemudian, pada Kongres VIII IAI tanggal 23-24 September 1998 di
Jakarta, Komite SAK diubah kembali menjadi Dewan Standar Akuntansi
Keuangan (DSAK) dengan diberikan otonomi untuk menyusun dan
mengesahkan PSAK dan ISAK. Selain itu, juga telah dibentuk Komite
Akuntansi Syariah (KAS) dan Dewan Konsultatif Standar Akuntansi

2
Keuangan (DKSAK). Komite Akuntansi Syariah (KAS) dibentuk tanggal 18
Oktober 2005 untuk menopang kelancaran kegiatan penyusunan PSAK yang
terkait dengan perlakuan akuntansi transaksi syariah yang dilakukan oleh
DSAK. Sedangkan DKSAK yang anggotanya terdiri atas profesi akuntan dan
luar profesi akuntan, yang mewakili para pengguna, merupakan mitra DSAK
dalam merumuskan arah dan pengembangan SAK di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana perkembangan Standar Akuntansi Keuangan Di indonesia
Melaui IFRS

1.3 Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui sejauh mana standar akuntansi Keuangan yang telah
menerapkan IFRS

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah, perkembangan, dan pengadopsian Standar Akuntansi
Internasional di Indonesia

Berikut adalah perkembangan standar akuntansi Indonesia mulai dari
awal sampai dengan saat ini yang menuju konvergensi dengan IFRS (Sumber:
Ikatan Akuntan Indonesia, 2008). di Indonesia selama dalam penjajahan
Belanda, tidak ada standar Akuntansi yang dipakai. Indonesia memakai
standar (Sound Business Practices) gaya Belanda. sampai Thn. 1955 :
Indonesia belum mempunyai undang – undang resmi / peraturan tentang
standar keuangan. Tahun. 1974 : Indonesia mengikuti standar Akuntansi
Amerika yang dibuat oleh IAI yang disebut dengan prinsip Akuntansi. Tahun.
1984 : Prinsip Akuntansi di Indonesia ditetapkan menjadi standar Akuntansi.
Akhir Tahun 1984 : Standar Akuntansi di Indonesia mengikuti standar
yang bersumber dari IASC (International Accounting Standart Committee)
Sejak Tahun. 1994 : IAI sudah committed mengikuti IASC / IFRS. Tahun
2008 : diharapkan perbedaan PSAK dengan IFRS akan dapat diselesaikan.
Tahun. 2012 : Ikut IFRS sepenuhnya?

2.2 Pengadopsian Standar Akuntansi Internasional di Indonesia
Saat ini standar akuntansi keuangan nasional sedang dalam proses
konvergensi secara penuh dengan International Financial Reporting Standards
(IFRS) yang dikeluarkan oleh IASB (International Accounting Standards
Board. Oleh karena itu, arah penyusunan dan pengembangan standar
akuntansi keuangan ke depan akan selalu mengacu pada standar akuntansi
internasional (IFRS) tersebut.
Untuk hal-hal yang tidak diatur standar akuntansi internasional, DSAK
akan terus mengembangkan standar akuntansi keuangan untuk memenuhi
kebutuhan nyata di Indonesia, terutama standar akuntansi keuangan untuk
transaksi syariah, dengan semakin berkembangnya usaha berbasis syariah di
tanah air. Landasan konseptual untuk akuntansi transaksi syariah telah

4
disusun oleh DSAK dalam bentuk Kerangka Dasar Penyusunan dan
Penyajian Laporan Keuangan Syariah. Hal ini diperlukan karena transaksi
syariah mempunyai karakteristik yang berbeda dengan transaksi usaha
umumnya sehingga ada beberapa prinsip akuntansi umum yang tidak dapat
diterapkan dan diperlukan suatu penambahan prinsip akuntansi yang dapat
dijadikan landasan konseptual.

2.3 Revisi terbaru PSAK yang mengacu pada IFRS
Sejak Desember 2006 sampai dengan pertengahan tahun 2007 kemarin,
Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
telah merevisi dan mengesahkan lima Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK). Revisi tersebut dilakukan dalam rangka konvergensi
dengan International Accounting Standards (IAS) dan International financial
reporting standards (IFRS). 5 butir PSAK yang telah direvisi tersebut antara
lain: PSAK No. 13, No. 16, No. 30 (ketiganya revisi tahun 2007, yang
berlaku efektif sejak 1 Januari 2008), PSAK No. 50 dan No. 55 (keduanya
revisi tahun 2006 yang berlaku efektif sejak 1 Januari 2009).
1. PSAK No. 13 (revisi 2007) tentang Properti Investasi yang menggantikan
PSAK No. 13 tentang Akuntansi untuk Investasi (disahkan 1994),
2. PSAK No. 16 (revisi 2007) tentang Aset Tetap yang menggantikan PSAK
16 (1994) : Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain dan PSAK 17 (1994)
Akuntansi Penyusutan,
3. PSAK No. 30 (revisi 2007) tentang Sewa menggantikan PSAK 30 (1994)
tentang Sewa Guna Usaha.
4. PSAK No. 50 (revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan : Penyajian dan
Pengungkapan yang menggantikan Akuntansi Investasi Efek Tertentu
5. PSAK No. 55 (revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan : Pengakuan dan
Pengukuran yang menggantikan Akuntansi Instrumen Derivatif dan
Aktivitas Lindung Nilai.
Kelima PSAK tersebut dalam revisi terakhirnya sebagian besar sudah
mengacu ke IAS/IFRS, walaupun terdapat sedikit perbedaan terkait dengan
belum diadopsinya PSAK lain yang terkait dengan kelima PSAK tersebut.

5
Dengan adanya penyempurnaan dan pengembangan PSAK secara
berkelanjutan dari tahun ke tahun, saat ini terdapat tiga PSAK yang
pengaturannya sudah disatukan dengan PSAK terkait yang terbaru sehingga
nomor PSAK tersebut tidak berlaku lagi, yaitu :
1. PSAK No. 9 (Revisi 1994) tentang Penyajian Aktiva Lancar dan
Kewajiban Jangka Pendek pengaturannya disatukan dalam PSAK No. 1
(Revisi 1998) tentang Penyajian Laporan Keuangan;
2. PSAK No. 17 (Revisi 1994) tentang Akuntansi Penyusutan pengaturannya
disatukan dalam PSAK No. 16 (Revisi 2007) tentang Aset Tetap;
3. PSAK No. 20 tentang Biaya Riset dan Pengembangan (1994)
pengaturannya disatukan dalam PSAK No. 19 (Revisi 2000) tentang Aset
Tidak Berwujud.

PSAK yang sedang dalam proses revisi
Ikatan Akuntan Indonesia merencanakan untuk konvergensi dengan IFRS
mulai tahun 2012, untuk itu Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK)
sedang dalam proses merevisi 3 PSAK berikut (Sumber: Deloitte News
Letter, 2007):
- PSAK 22 : Accounting for Business Combination, which is revised by
reference to IFRS 3 : Business Combination;
- PSAK 58 : Discontinued Operations, which is revised by reference to
IFRS 5 : Non-current Assets Held for Sale and Discontinued Operations;
- PSAK 48 : Impairment of Assets, which is revised by reference to IAS
36 : Impairment of Assets
Berikut adalah program pengembangan standar akuntansi nasional oleh
DSAK dalam rangka konvergensi dengan IFRS (Sumber: Ikatan Akuntan
Indonesia, 2008):
- Pada akhir 2010 diharapkan seluruh IFRS sudah diadopsi dalam PSAK;
- Tahun 2011 merupakan tahun penyiapan seluruh infrastruktur pendukung
untuk implementasi PSAK yang sudah mengadopsi seluruh IFRS;
- Tahun 2012 merupakan tahun implementasi dimana PSAK yang berbasis
IFRS wajib diterapkan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki

6
akuntabilitas publik. Namun IFRS tidak wajib diterapkan oleh perusahaan-
perusahaan lokal yang tidak memiliki akuntabilitas publik. Pengembangan
PSAK untuk UKM dan kebutuhan spesifik nasional didahulukan.

2.4 Perkembangan Ifrs Di Indonesia
IFRS (Internasional Financial Accounting Standard) adalah suatu upaya
untuk memperkuat arsitektur keuangan global dan mencari solusi jangka
panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan. IFRS
merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International
Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional
(International Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi
utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi
Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan
Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC).
Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB) yang dahulu bernama
Komisi Standar Akuntansi Internasional (AISC), merupakan lembaga
independen untuk menyusun standar akuntansi. Organisasi ini memiliki
tujuan mengembangkan dan mendorong penggunaan standar akuntansi global
yang berkualitas tinggi, dapat dipahami dan dapat diperbandingkan (Choi et
al., 1999 dalam Intan Immanuela, puslit2.petra.ac.id)
Natawidnyana(2008), menyatakan bahwa Sebagian besar standar yang
menjadi bagian dari IFRS sebelumnya merupakan International Accounting
Standards (IAS). IAS diterbitkan antara tahun 1973 sampai dengan 2001 oleh
International Accounting Standards Committee (IASC). Pada bulan April
2001, IASB mengadospsi seluruh IAS dan melanjutkan pengembangan
standar yang dilakukan.

2.5 Struktur IFRS
International Financial Reporting Standards mencakup:
1. International Financial Reporting Standards (IFRS) – standar yang
diterbitkan setelah tahun 2001.
2. International Accounting Standards (IAS) – standar yang diterbitkan
sebelum tahun 2001.

7
3. Interpretations yang diterbitkan oleh International Financial Reporting
Interpretations Committee (IFRIC) – setelah tahun 2001.
4. Interpretations yang diterbitkan oleh Standing Interpretations Committee
(SIC) – sebelum tahun 2001.
5. Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statement
( Kerangka Kerja persiapan dan Penyajian laporan Keuangan ).
Secara garis besar ada empat hal pokok yang diatur dalam standar
akuntansi. Yang pertama berkaitan dengan definisi elemen laporan keuangan
atau informasi lain yang berkaitan. Definisi digunakan dalam standar
akuntansi untuk menentukan apakah transaksi tertentu harus dicatat dan
dikelompokkan ke dalam aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya. Yang
kedua adalah pengukuran dan penilaian. Pedoman ini digunakan untuk
menentukan nilai dari suatu elemen laporan keuangan baik pada saat
terjadinya transaksi keuangan maupun pada saat penyajian laporan keuangan
(pada tanggal neraca).
Hal ketiga yang dimuat dalam standar adalah pengakuan, yaitu kriteria
yang digunakan untuk mengakui elemen laporan keuangan sehingga elemen
tersebut dapat disajikan dalam laporan keuangan. Yang terakhir adalah
penyajian dan pengungkapan laporan keuangan. Komponen keempat ini
digunakan untuk menentukan jenis informasi dan bagaimana informasi
tersebut disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan. Suatu informasi
dapat disajikan dalam badan laporan (Neraca, Laporan Laba/Rugi) atau
berupa penjelasan (notes) yang menyertai laporan keuangan.

2.6 Konversi Ke IFRS Di Indonesia
Indonesia saat ini belum mewajibkan bagi perusahaan-perusahaan di
Indonesia menggunakan IFRS melainkan masih mengacu kepada standar
akuntansi keuangan lokal. Dewan Pengurus Nasional IAI bersama-sama
dengan Dewan Konsultatif SAK dan Dewan SAK merencanakan tahun 2012
akan menerapkan standar akuntansi yang mendekati konvergensi penuh
kepada IFRS.
Dari data-data di atas kebutuhan Indonesia untuk turut serta melakukan
program konverjensi tampaknya sudah menjadi keharusan jika kita tidak

8
ingin tertinggal. Sehingga, dalam perkembangan penyusunan standar
akuntansi di Indonesia oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK)
tidak dapat terlepas dari perkembangan penyusunan standar akuntansi
internasional yang dilakukan oleh International Accounting Standards Board
(IASB). Standar akuntansi keuangan nasional saat ini sedang dalam proses
secara bertahap menuju konverjensi secara penuh dengan International
Financial Reporting Standards yang dikeluarkan oleh IASB. Adapun posisi
IFRS/IAS yang sudah diadopsi hingga saat ini dan akan diadopsi pada tahun
2009 dan 2010 adalah seperti yang tercantum dalam daftar- daftar berikut ini:
1. IFRS/IAS yang Telah Diadopsi ke dalam PSAK hingga 31 Desember
2008
a. IAS 2 Inventories
b. IAS 10 Events after balance sheet date
c. IAS 11 Construction contracts
d. IAS 16 Property, plant and equipment
e. IAS 17 Leases
f. IAS 18 Revenues
g. IAS 19 Employee benefit
h. IAS 23 Borrowing costs
i. IAS 32 Financial instruments: presentation
j. IAS 39 Financial instruments: recognition and measurement
k. IAS 40 Investment propert
2. IFRS/IAS yang Akan Diadopsi ke dalam PSAK pada Tahun 2009
a. IFRS 2 Share-based payment
b. IFRS 4 Insurance contracts
c. IFRS 5 Non-current assets held for sale and discontinued operations
d. IFRS 6 Exploration for and evaluation of mineral resources
e. IFRS 7 Financial instruments: disclosures
f. IAS 1 Presentation of financial statements
g. IAS 27 Consolidated and separate financial statements
h. IAS 28 Investments in associates
i. IFRS 3 Business combination

9
j. IFRS 8 Segment reporting
k. IAS 8 Accounting policies, changes in accounting estimates and errors
l. IAS 12 Income taxes
m. IAS 21 The effects of changes in foreign exchange rates
n. IAS 26 Accounting and reporting by retirement benefit plans
o. IAS 31 Interests in joint ventures
p. IAS 36 Impairment of assets
q. IAS 37 Provisions, contingent liabilities and contingent assets
r. IAS 38 Intangible assets
3. IFRS/IAS yang Akan Diadopsi ke dalam PSAK pada Tahun 2010
a. IAS 7 Cash flow statements
b. IAS 20 Accounting for government grants and disclosure of
government assistance
c. IAS 24 Related party disclosure
d. IAS 29 Financial reporting in hyperinflationary economies
e. IAS 33 Earning per share
f. IAS 34 Interim financial reporting
Indonesia harus mengadopsi standar akuntansi internasional
(International Accounting Standard/IAS) untuk memudahkan perusahaan
asing yang akan menjual saham di negara ini atau sebaliknya. Namun
demikian, untuk mengadopsi standar internasional itu bukan perkara
mudah karena memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal.
Membahas tentang IAS saat ini lembaga-lembaga yang aktif dalam usaha
harmonisasi standar akuntansi ini antara lain adalah IASC (International
Accounting Standard Committee), Perserikatan Bangsa-Bangsa dan
OECD (Organization for Economic Cooperation and Development).
Beberapa pihak yang diuntungkan dengan adanya harmonisasi ini adalah
perusahaan-perusahaan multinasional, kantor akuntan internasional,
organisasi perdagangan, serta IOSCO (International Organization of
Securities Commissions).

10
2.7 Tujuan IFRS
Tujuan IFRS adalah :memastikan bahwa laporan keungan interim
perusahaan untuk periode-periode yang dimaksukan dalam laporan keuangan
tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang :
1 Transparansi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang
peiode yang disajikan.
2 menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan
pada IFRS.
3 dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para
pengguna.

2.8 Manfaat Dari Adanya Suatu Standard Global:
1. Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di seluruh
dunia tanpa hambatan berarti. Stadart pelaporan keuangan berkualitas
tinggi yang digunakan secara konsisten di seluruh dunia akan
memperbaiki efisiensi alokasi lokal.
2. Investor dapat membuat keputusan yang lebih baik.
3. Perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan
keputusan mengenai merger dan akuisisi.
4. Gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standard dapat
disebarkan dalam mengembangkan standard global yang berkualitas
tertinggi.
Hamonisasi telah berjalan cepat dan efektif, terlihat bahwa sejumlah
besar perusahaan secara sukarela mengadopsi standard pelaporan keuangan
Internasional (IFRS). Banyak Negara yang telah mengadopsi IFRS secara
keseluruhan dan menggunakan IFRS sebagai dasar standard nasional. Hal ini
dilakukan untuk menjawab permintaan investor institusional dan pengguna
laporan keuangan lainnya. Usaha-usaha standard internasional ini dilakukan
secara sukarela.

11
2.9 Penerapan IFRS di Indonesia
1. Menurut Sri Mulyani, konvergensi akuntansi Indonesia ke IFRS perlu di
dukung agar Indonesia mendapatkan pengakuan maksimal dari komunitas
internasional yang sudah lama menganut standar ini. “kalau standar itu
dibutuhkan dan akan meningkatkan posisi indonesia sebagai negara yang
bisa dipercaya di dunia dengan tata kelola dan pertanggungjawaban
kepada rakyat dengan lebih baik dan konsisten, tentu itu perlu dilakukan”
ujarnya.
2. Menurut Rudy Suryanto, SE, M.Acc, AKT (dosen program studi
akuntansi UMY). Sebenarnya penerapan IFRS di indonesia telah di mulai
secara bertahap sejak tahun 2007, namunakan diterapkan penuh tahun
2012.
Saat standard internasional tidak berbeda dengan standard nasional,
maka tidak akan ada masalah. Yang menjadi masalah, apabila standard
internasional berbeda dengan standard nasional. Bila hal ini terjadi, maka
yang didahulukan adalah standard nasional (rujukan pertama). Banyak pro
dan kontra dalam penerapan standard internasional, namun seiring waktu
Standard internasional telah bergerak maju.
Dengan pengadopsian IFRS memang diperuntukkan sebagai contoh
bahwa dalam hidup kita memang mengalami perubahan, dan perubahan ini
terjadi akibat adanya perkembangan dari segala aspek. Namun dalam
mengadopsi IFRS , sayangnya masih terdapat pihak-pihak yang mungkin
menentangnya, contoh alasannya adalah pemahaman yang mungkin masih
dirasa kurang. Mengapa tidak, IFRS ini dalam penjelasannya masih
menggunakan bahasa Inggris yang berarti kita harus menerjemahkannya
kedalam bahasa yang sesuai dengan Negara yang akan menganutnya. Dengan
ini, permasalahannya adalah kita memerlukan banyak waktu untuk
menerjemahkan. Serta anggapan bahwa dengan pengubahan ini menimbulkan
biaya yang lumayan besar, karena inilah pengadopsian IFRS di Indonesia
belum berjalan.
1. Manfaat Dari Adanya Suatu Standard Global:

12
Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di
seluruh dunia tanpa hambatan berarti. Stadart pelaporan keuangan
berkualitas tinggi yang digunakan secara konsisten di seluruh dunia akan
memperbaiki efisiensi alokasi lokal.
Investor dapat membuat keputusan yang lebih baik.Perusahaan-
perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan mengenai
merger dan akuisisi. Gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas
pembuatan standard dapat disebarkan dalam mengembangkan standard
global yang berkualitas tertinggi.
Hamonisasi telah berjalan cepat dan efektif, terlihat bahwa sejumlah
besar perusahaan secara sukarela mengadopsi standard pelaporan
keuangan Internasional (IFRS). Banyak Negara yang telah mengadopsi
IFRS secara keseluruhan dan menggunakan IFRS sebagai dasar standard
nasional. Hal ini dilakukan untuk menjawab permintaan investor
institusional dan pengguna laporan keuangan lainnya. Usaha-usaha
standard internasional ini dilakukan secara sukarela.
Manfaat Penerapan IFRS
1. Meningkatkan kualitas standar akuntansi keuangan (SAK).
2. Mengurangi biaya SAK.
3. Meningkatkan kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan.
4. Meningkatkan komparabilitas pelaporan keuangan.
5. Meningkatkan transparasi keuangan.
6. Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang penghimpunan
dana melalui pasar modal.
7. Meningkatkan efisiensi pengyusunan laporan keuangan.

Dampak Penerapan IFRS di Indonesia Bidang Pendidikan Antara Lain :
1. Banyak menggunakan profesional judgment
2. Banyak mengunakan fair value accounting
3. IFRS selalu berubah dan konsep yang digunakan dalam suatu IFRS
dapat berbeda dengan IFRS lain
4. Semakin meningkatnya ketergantungan ke profesional lain.

13
5. Perubahan text-book dari US GAPP ke IFRS

Dampak terhadap bisnis :
1. Akses ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan
keuangan akan lebih mudah dikomunikasikan ke investor global.
2. Relevansi laporan keuangan akan meningkat karena lebih banyak
menggunakan nilai wajar
3. Disisi lain, kinerja keuangan (laporan laba rugi) akan lebih fluktuatif
apabila harga-harg fluktuatif
4. Smooting incom menjadi semakin sulit dengan menggunakan balance
sheet approach dan fair value.
5. Principle-based standars mungkin menyebabkan keterbandingan
laporan keuangan sedilit menurun yakni bila pengggunaan profesional
judgment ditumpangi dengan kepentingan untuk mengatur laba
(earning management).
6. Penggunaan off balance sheet semakin terbatas.

14
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa sejumlah besar perusahaan
secara sukarela mengadopsi standard pelaporan keuangan Internasional
(IFRS). Banyak Negara yang telah mengadopsi IFRS secara keseluruhan dan
menggunakan IFRS sebagai dasar standard nasional. Hal ini dilakukan untuk
menjawab permintaan investor institusional dan pengguna laporan keuangan
lainnya. Banyak pro dan kontra dalam penerapan standard internasional,
namun seiring waktu, Standard internasional telah bergerak maju, dan
menekan Negara-negara yang kontra.
Indonesia harus mengadopsi standar akuntansi internasional untuk
memudahkan perusahaan asing yang akan menjual saham di negara ini atau
sebaliknya. SAK Indonesia direncanakan akan mengadopsi penuh IFRS tahun
2012. Hal ini diharapkan akan semakin membawa perusahaan-perusahaan di
Indonesia dapat bersaing dengan perusahaan internasional lainnya karena
dengan melakukan adopsi ini tentunya penyajian laporan keuangan yang
dilakukan oleh perusahaan juga akan semakin akuntabel dan transparan.

15
DAFTAR PUSTAKA

http://www.slideshare.net/lisahhRj/perkembangan-standar-akuntansi-indonesia-
menuju-konvergensi-ifrs

https://www.academia.edu/9273938/SEJARAH_PERKEMBANGAN_PENGAD
OPSIAN_SAK_KONVERGENSI_IFRS

http://library.gunadarma.ac.id/epaper/detail/3764572 Today Deal $50 Off :

https://goo.gl/efW8Ef

https://edhane.wordpress.com/2010/04/01/sejarah-sak/

http://nunung-nur.blogspot.com/2011/05/harmonisasi-akuntansi internasional.html

https://estuputri.wordpress.com/tag/harmonisasi-akuntansi-internasional/

https://tsetyaernawati.wordpress.com/2012/04/05/rangkuman-isi-sak-etap/

http://syannegracetine.blogspot.com/2013/11/materi-sak-etap_14.html

http://www.wibowopajak.com/2012/06/jenis-jenis-laporan-keuangan.html

http://yangpentingberbagi.blogspot.com/2012/04/empat-pilar-standar
akuntansi.html

16
JURNAL
STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN DAN PERKEMBANGANNYA DI
INDONESIA MELAUI IFRS
DITULIS PADA JANUARI 7, 2014 OLEH MUJIHARTO_PANGA

Abstrak

Standar Akuntansi Keuangan Indonesia perlu mengadopsi IFRS , sehingga
laporan keuangan Indonesia dapat diterima secara global dan perusahaan-
perusahaan Indonesia mampu memasuki persaingan global untuk menarik
investor internasional . Saat ini , adopsi oleh PSAK Indonesia adalah dalam
bentuk harmonisasi , yang berarti adopsi parsial . Namun, Indonesia berencana
untuk sepenuhnya mengadopsi IFRS pada tahun 2012 . Adopsi tersebut akan
wajib bagi perusahaan yang terdaftar dan multinasional .
Keputusan apakah Indonesia akan sepenuhnya mengadopsi IFRS atau sebagian
mengadopsi untuk tujuan harmonisasi perlu dipertimbangkan dengan hati-hati .
Adopsi penuh IFRS akan meningkatkan keandalan dan daya banding laporan
keuangan secara internasional . Namun, mungkin bertentangan dengan sistem
pajak Indonesia dan situasi ekonomi dan politik lainnya .
Jika Indonesia adalah untuk mengadopsi sepenuhnya IFRS pada tahun 2012 ,
tantangan yang dihadapi pertama oleh sivitas akademika dan perusahaan .
Kurikulum , silabus , dan sastra perlu disesuaikan untuk mengakomodasi
perubahan . Ini akan memakan waktu yang cukup dan usaha karena banyak aspek
terkait dengan perubahan . Penyesuaian juga perlu dilakukan oleh perusahaan atau
organisasi , terutama mereka dengan transaksi internasional dan interaksi .
Adopsi penuh juga berarti perubahan prinsip akuntansi yang telah diterapkan
sebagai standar akuntansi di seluruh dunia . Hal ini mungkin tidak akan tercapai
dalam waktu singkat , karena beberapa alasan : ( 1 ) standar akuntansi sangat
berhubungan dengan sistem pajak . Adopsi IFRS internasional dapat mengubah
sistem pajak di setiap negara yang sepenuhnya mengadopsi IFRS . ( 2 ) Standar
akuntansi adalah akuntansi kebijakan dalam rangka memenuhi kebutuhan politik
dan ekonomi nasional yang berbeda-beda ineach negara . Ini mungkin menjadi
tantangan yang signifikan dalam sepenuhnya mengadopsi IFRS.
Keyword : International Financial Reporting Standards , Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan , sepenuhnya adopsi , kebijakan akuntansi , sistem pajak .
PENDAHULUAN

Adanya perubahan lingkungan global yang semakin menyatukan hampir
seluruh negara di dunia dalam komunitas tunggal, yang dijembatani
perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin murah,
menuntut adanya transparansi di segala bidang. Standar akuntansi keuangan yang
berkualitas merupakan salah satu prasarana penting untuk mewujudkan
transparasi tersebut. Standar akuntansi keuangan dapat diibaratkan sebagai sebuah
cermin, di mana cermin yang baik akan mampu menggambarkan kondisi praktis
bisnis yang sebenarnya. Oleh karena itu, pengembangan standar akuntansi
keuangan yang baik, sangat relevan dan mutlak diperlukan pada masa sekarang
ini.
Terkait hal tersebut, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai wadah profesi
akuntansi di Indonesia selalu tanggap terhadap perkembangan yang terjadi,
khususnya dalam hal-hal yang memengaruhi dunia usaha dan profesi akuntan. Hal
ini dapat dilihat dari dinamika kegiatan pengembangan standar akuntansi sejak
berdirinya IAI pada tahun 1957 hingga kini. Setidaknya, terdapat tiga tonggak
sejarah dalam pengembangan standar akuntansi keuangan di Indonesia.
Tonggak sejarah pertama, menjelang diaktifkannya pasar modal di
Indonesia pada tahun 1973. Pada masa itu merupakan pertama kalinya IAI
melakukan kodifikasi prinsip dan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia
dalam suatu buku ”Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI).”
Kemudian, tonggak sejarah kedua terjadi pada tahun 1984. Pada masa itu,
komite PAI melakukan revisi secara mendasar PAI 1973 dan kemudian
mengkondifikasikannya dalam buku ”Prinsip Akuntansi Indonesia 1984” dengan
tujuan untuk menyesuaikan ketentuan akuntansi dengan perkembangan dunia
usaha.
Berikutnya pada tahun 1994, IAI kembali melakukan revisi total terhadap
PAI 1984 dan melakukan kodifikasi dalam buku ”Standar Akuntansi Keuangan
(SAK) per 1 Oktober 1994.” Sejak tahun 1994, IAI juga telah memutuskan untuk
melakukan harmonisasi dengan standar akuntansi internasional dalam
pengembangan standarnya. Dalam perkembangan selanjutnya, terjadi perubahan
dari harmonisasi ke adaptasi, kemudian menjadi adopsi dalam rangka konvergensi
dengan International Financial Reporting Standards (IFRS). Program adopsi
penuh dalam rangka mencapai konvergensi dengan IFRS direncanakan dapat
terlaksana dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam perkembangannya, standar akuntansi keuangan terus direvisi secara
berkesinambungan, baik berupa berupa penyempurnaan maupun penambahan
standar baru sejak tahun 1994. Proses revisi telah dilakukan enam kali, yaitu pada
tanggal 1 Oktober 1995, 1 Juni 1996, 1 Juni 1999, 1 April 2002, 1 Oktober 2004,
dan 1 September 2007. Buku ”Standar Akuntansi Keuangan per 1 September
2007” ini di dalamnya sudah bertambah dibandingkan revisi sebelumnya yaitu
tambahan KDPPLK Syariah, 6 PSAK baru, dan 5 PSAK revisi. Secara garis besar,
sekarang ini terdapat 2 KDPPLK, 62 PSAK, dan 7 ISAK.
Untuk dapat menghasilkan standar akuntansi keuangan yang baik, maka
badan penyusunnya terus dikembangkan dan disempurnakan sesuai dengan
kebutuhan. Awalnya, cikal bakal badan penyusun standar akuntansi adalah Panitia
Penghimpunan Bahan-bahan dan Struktur dari GAAP dan GAAS yang dibentuk
pada tahun 1973. Pada tahun 1974 dibentuk Komite Prinsip Akuntansi Indonesia
(PAI) yang bertugas menyusun dan mengembangkan standar akuntansi keuangan.
Komite PAI telah bertugas selama empat periode kepengurusan IAI sejak tahun
1974 hingga 1994 dengan susunan personel yang terus diperbarui. Selanjutnya,
pada periode kepengurusan IAI tahun 1994-1998 nama Komite PAI diubah
menjadi Komite Standar Akuntansi Keuangan (Komite SAK).
Kemudian, pada Kongres VIII IAI tanggal 23-24 September 1998 di
Jakarta, Komite SAK diubah kembali menjadi Dewan Standar Akuntansi
Keuangan (DSAK) dengan diberikan otonomi untuk menyusun dan mengesahkan
PSAK dan ISAK. Selain itu, juga telah dibentuk Komite Akuntansi Syariah
(KAS) dan Dewan Konsultatif Standar Akuntansi Keuangan (DKSAK). Komite
Akuntansi Syariah (KAS) dibentuk tanggal 18 Oktober 2005 untuk menopang
kelancaran kegiatan penyusunan PSAK yang terkait dengan perlakuan akuntansi
transaksi syariah yang dilakukan oleh DSAK. Sedangkan DKSAK yang
anggotanya terdiri atas profesi akuntan dan luar profesi akuntan, yang mewakili
para pengguna, merupakan mitra DSAK dalam merumuskan arah dan
pengembangan SAK di Indonesia.

Rumusan Masalah
Bagaimana perkembangan Standar Akuntansi Keuangan Di indonesia Melaui
IFRS

Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui sejauh mana standar akuntansi Keuangan yang telah
menerapkan IFRS
KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A. Sejarah, perkembangan, dan pengadopsian Standar Akuntansi
Internasional di Indonesia

Berikut adalah perkembangan standar akuntansi Indonesia mulai dari awal
sampai dengan saat ini yang menuju konvergensi dengan IFRS (Sumber: Ikatan
Akuntan Indonesia, 2008). di Indonesia selama dalam penjajahan Belanda, tidak
ada standar Akuntansi yang dipakai. Indonesia memakai standar (Sound Business
Practices) gaya Belanda. sampai Thn. 1955 : Indonesia belum mempunyai undang
– undang resmi / peraturan tentang standar keuangan. Tahun. 1974 : Indonesia
mengikuti standar Akuntansi Amerika yang dibuat oleh IAI yang disebut dengan
prinsip Akuntansi. Tahun. 1984 : Prinsip Akuntansi di Indonesia ditetapkan
menjadi standar Akuntansi.
Akhir Tahun 1984 : Standar Akuntansi di Indonesia mengikuti standar yang
bersumber dari IASC (International Accounting Standart Committee) Sejak
Tahun. 1994 : IAI sudah committed mengikuti IASC / IFRS. Tahun 2008 :
diharapkan perbedaan PSAK dengan IFRS akan dapat diselesaikan. Tahun. 2012 :
Ikut IFRS sepenuhnya?

B. Pengadopsian Standar Akuntansi Internasional di Indonesia

Saat ini standar akuntansi keuangan nasional sedang dalam proses konvergensi
secara penuh dengan International Financial Reporting Standards (IFRS) yang
dikeluarkan oleh IASB (International Accounting Standards Board. Oleh karena
itu, arah penyusunan dan pengembangan standar akuntansi keuangan ke depan
akan selalu mengacu pada standar akuntansi internasional (IFRS) tersebut.
Untuk hal-hal yang tidak diatur standar akuntansi internasional, DSAK akan
terus mengembangkan standar akuntansi keuangan untuk memenuhi kebutuhan
nyata di Indonesia, terutama standar akuntansi keuangan untuk transaksi syariah,
dengan semakin berkembangnya usaha berbasis syariah di tanah air. Landasan
konseptual untuk akuntansi transaksi syariah telah disusun oleh DSAK dalam
bentuk Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
Hal ini diperlukan karena transaksi syariah mempunyai karakteristik yang berbeda
dengan transaksi usaha umumnya sehingga ada beberapa prinsip akuntansi umum
yang tidak dapat diterapkan dan diperlukan suatu penambahan prinsip akuntansi
yang dapat dijadikan landasan konseptual.

C. Revisi terbaru PSAK yang mengacu pada IFRS

Sejak Desember 2006 sampai dengan pertengahan tahun 2007 kemarin,
Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
telah merevisi dan mengesahkan lima Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK). Revisi tersebut dilakukan dalam rangka konvergensi dengan
International Accounting Standards (IAS) dan International financial reporting
standards (IFRS). 5 butir PSAK yang telah direvisi tersebut antara lain: PSAK No.
13, No. 16, No. 30 (ketiganya revisi tahun 2007, yang berlaku efektif sejak 1
Januari 2008), PSAK No. 50 dan No. 55 (keduanya revisi tahun 2006 yang
berlaku efektif sejak 1 Januari 2009).
PSAK No. 13 (revisi 2007) tentang Properti Investasi yang menggantikan PSAK
No. 13 tentang Akuntansi untuk Investasi (disahkan 1994),
PSAK No. 16 (revisi 2007) tentang Aset Tetap yang menggantikan PSAK 16
(1994) : Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain dan PSAK 17 (1994) Akuntansi
Penyusutan,
PSAK No. 30 (revisi 2007) tentang Sewa menggantikan PSAK 30 (1994) tentang
Sewa Guna Usaha.
PSAK No. 50 (revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan : Penyajian dan
Pengungkapan yang menggantikan Akuntansi Investasi Efek Tertentu
PSAK No. 55 (revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan : Pengakuan dan
Pengukuran yang menggantikan Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas
Lindung Nilai.
Kelima PSAK tersebut dalam revisi terakhirnya sebagian besar sudah mengacu
ke IAS/IFRS, walaupun terdapat sedikit perbedaan terkait dengan belum
diadopsinya PSAK lain yang terkait dengan kelima PSAK tersebut. Dengan
adanya penyempurnaan dan pengembangan PSAK secara berkelanjutan dari tahun
ke tahun, saat ini terdapat tiga PSAK yang pengaturannya sudah disatukan dengan
PSAK terkait yang terbaru sehingga nomor PSAK tersebut tidak berlaku lagi,
yaitu :
PSAK No. 9 (Revisi 1994) tentang Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban
Jangka Pendek pengaturannya disatukan dalam PSAK No. 1 (Revisi 1998)
tentang Penyajian Laporan Keuangan;
PSAK No. 17 (Revisi 1994) tentang Akuntansi Penyusutan pengaturannya
disatukan dalam PSAK No. 16 (Revisi 2007) tentang Aset Tetap;
PSAK No. 20 tentang Biaya Riset dan Pengembangan (1994) pengaturannya
disatukan dalam PSAK No. 19 (Revisi 2000) tentang Aset Tidak Berwujud.

PSAK yang sedang dalam proses revisi
Ikatan Akuntan Indonesia merencanakan untuk konvergensi dengan IFRS mulai
tahun 2012, untuk itu Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) sedang dalam
proses merevisi 3 PSAK berikut (Sumber: Deloitte News Letter, 2007):
 PSAK 22 : Accounting for Business Combination, which is revised by
reference to IFRS 3 : Business Combination;
 PSAK 58 : Discontinued Operations, which is revised by reference to
IFRS 5 : Non-current Assets Held for Sale and Discontinued Operations;
 PSAK 48 : Impairment of Assets, which is revised by reference to IAS 36 :
Impairment of Assets

Berikut adalah program pengembangan standar akuntansi nasional oleh DSAK
dalam rangka konvergensi dengan IFRS (Sumber: Ikatan Akuntan Indonesia,
2008):
Pada akhir 2010 diharapkan seluruh IFRS sudah diadopsi dalam PSAK;
Tahun 2011 merupakan tahun penyiapan seluruh infrastruktur pendukung untuk
implementasi PSAK yang sudah mengadopsi seluruh IFRS;
Tahun 2012 merupakan tahun implementasi dimana PSAK yang berbasis IFRS
wajib diterapkan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki akuntabilitas publik.
Namun IFRS tidak wajib diterapkan oleh perusahaan-perusahaan lokal yang tidak
memiliki akuntabilitas publik. Pengembangan PSAK untuk UKM dan kebutuhan
spesifik nasional didahulukan.

Efek penerapan International Accounting Standard (IAS) terhadap Laporan
Keuangan

Beberapa penelitian di luar negeri telah dilakukan untuk menganalisa dan
membuktikan efek penerapan IAS (IFRS) dalam laporan keuangan perusahaan
domestik. Penelitian itu antara lain dilakukan oleh Barth, Landsman, Lang (2005),
yang melakukan pengujian untuk membuktikan pengaruh Standar Akuntansi
Internasional (SAI) terhadap kualitas akuntansi. Penelitian lain dilakukan oleh
Marjan Petreski (2005), menguji efek adopsi SAI terhadap manajemen perusahaan
dan laporan keuangan.

Hung & Subramanyan (2004) menguji efek adopsi SAI terhadap laporan
keuangan perusahaan di Jerman. Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa
total aktiva, total kewajiban dan nilai buku ekuitas, lebih tinggi yang menerapkan
IAS dibanding standar akuntansi Jerman, dan tidak ada perbedaan yang signifikan
pada pendapatan dan laba bersih yang didasarkan atas Standar Akuntansi
Internasional dan Standar Akuntansi Jerman. Adopsi SAI juga berdampak pada
rasio keuangan, antaralain rasio ROE, RAO, ATO, rasio LEV dan PM, rasio nilai
buku terhadap nilai pasar ekuitas, rasio Earning to Price.

Pricewaterhouse Coopers (2005) menyatakan bahwa perubahan standar akuntansi
tersebut akan berdampak pada berbagai area antara lain: Product viability, Capital
Instruments, Derivatives dan hedging, Employee benefits, fair valuations, capital
allocation, leasing, segment reporting, revenue recognition, impairment reviews,
deferred taxation, cash flows, disclosures, borrowing arrangements and banking
covenants.

Peranan dan keuntungan harmonisasi atau adopsi IFRS sebagai standar akuntansi
domestik

Keuntungan harmonisasi menurut Lecturer Ph. Diaconu Paul (2002) adalah: (1)
Informasi keuangan yang dapat diperbandingkan, (2) Harmonisasi dapat
menghemat waktu dan uang, (3) Mempermudah transfer informasi kepada
karyawan serta mempermudah dalam melakukan training pada karyawan, (4)
Meningkatkan perkembangan pasar modal domestik menuju pasar modal
internasional, (5) Mempermudah dalam melakukan analisis kompetitif dan
operasional yang berguna untuk menjalankan bisnis serta mempermudah dalam
pengelolaan hubungan baik dengan pelanggan, supplier, dan pihak lain.

Pricewaterhouse Coopers (2005) dalam publikasinya “Making A change To IFRS”
mengatakan: “Financial reporting that is not easily understood by global users is
unlikely to bring new business or capital to a company. This is why so many are
either voluntarily changing to IFRS, or being required to by their governments.
Communicating in one language to global stakeholders enhances confidence in
the business and improves finance-raising capabilities. It also allows multinational
groups to apply common accounting across their subsidiaries, which can improve
internal communications, and the quality of management reporting and group
decision-making. At the same time, IFRS can ease acquisitions and divestments
through greater certainty and consistency of accounting interpretation. In
increasingly competitive markets, IFRS allows companies to benchmark
themselves against their peers worldwide, and allows investors and others to
compare the company’s performance with competitors globally. Those companies
that do not make themselves comparable (or can’t, because national laws stand in
the way) will be at a disadvantage and their ability to attract capital and create
value going forward will be undermined”

Dalam publikasi tersebut, Pricewaterhouse Coopers sebagai perusahaan jasa
professional atau kantor akuntan terbesar di dunia saat ini, menyatakan bahwa
laporan keuangan dituntut untuk dapat memberikan informasi yang lebih dapat
dipahami oleh pemakai global, dengan demikian dapat menarik modal ke dalam
perusahaan. Hal inilah yang mendorong atau menuntut perubahan peraturan
akuntansi domestik ke arah IFRS. Dengan mengadopsi IFRS berarti laporan
keuangan berbicara dengan bahasa akuntansi yang sama, hal ini akan
memudahkan perusahaan multinasional dalam berkomunikasi dengan cabang-
cabang perusahaannya yang berada dalam negara yang berbeda, meningkatkan
kualitas pelaporan manajemen dan pengambilan keputusan. Dengan mengadopsi
IFRS juga berarti meningkatkan kepastian dan konsistensi dalam interpretasi
akuntansi, sehingga memudahkan proses akuisisi dan divestasi. Dengan
mengadopsi IFRS kinerja perusahaan dapat diperbandingkan dengan pesaing
lainnya secara global, apalagi dengan semakin meningkatnya persaingan global
saat ini. Akan menjadi suatu kelemahan bagi suatu perusahaan jika tidak dapat
diperbandingkan secara global, yang berarti kurang mampu dalam menarik modal
dan menghasilkan keuntungan di masa depan.

Perlunya Harmonisasi Standar Akuntansi Internasional di Indonesia

Indonesia perlu mengadopsi standar akuntansi internasional untuk memudahkan
perusahaan asing yang akan menjual saham di negara ini atau sebaliknya. Namun
demikian, untuk mengadopsi standar internasional itu bukan perkara mudah
karena memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal. Indonesia
sudah melakukannya namun sifatnya baru harmonisasi, dan selanjutnya akan
dilakukan full adoption atas standar internasional tersebut. Adopsi standar
akuntansi internasional tersebut terutama untuk perusahaan publik. Hal ini
dikarenakan perusahaan publik merupakan perusahaan yang melakukan transaksi
bukan hanya nasional tetapi juga secara internasional. Jika ada perusahaan dari
luar negeri ingin menjual saham di Indonesia atau sebaliknya, tidak akan lagi
dipersoalkan perbedaan standar akuntansi yang dipergunakan dalam menyusun
laporan.
Ada beberapa pilihan untuk melakukan adopsi, menggunakan IAS apa adanya,
atau harmonisasi. Harmonisasi adalah, kita yang menentukan mana saja yang
harus diadopsi, sesuai dengan kebutuhan. Contohnya adalah PSAK (pernyataan
standar akuntansi keuangan) nomor 24, itu mengadopsi sepenuhnya IAS nomor
19. Standar ini berhubungan dengan imbalan kerja atau employee benefit.

Kerugian apa yang akan kita hadapi bila kita tidak melakukan harmonisasi,
kerugian kita berkaitan dengan kegiatan pasar modal baik modal yang masuk ke
Indonesia, maupun perusahaan Indonesia yang listing di bursa efek di Negara lain.
Perusahaan asing yang ingin listing di BEI akan kesulitan untuk menerjemahkan
laporan keuangannya dulu sesuai standart nasional kita, sedangkan perusahaan
Indonesia yang akan listing di Negara lain, juga cukup kesulitan untuk
menerjemahkan atau membandingkan laporan keuangan sesuai standart di negara
tersebut. Hal ini jelas akan menghambat perekonomian dunia, dan aliran modal
akan berkurang dan tidak mengglobal.

Perkembangan Standar Akuntansi di Indonesia.
Adanya perubahan lingkungan global yang semakin menyatukan hampir seluruh
negara di dunia dalam komunitas tunggal, yang dijembatani perkembangan
teknologi komunikasi dan informasi yang semakin murah, menuntut adanya
transparansi di segala bidang. Standar akuntansi keuangan yang berkualitas
merupakan salah satu prasarana penting untuk mewujudkan transparasi tersebut.
Standar akuntansi keuangan dapat diibaratkan sebagai sebuah cermin, di mana
cermin yang baik akan mampu menggambarkan kondisi praktis bisnis yang
sebenarnya. Oleh karena itu, pengembangan standar akuntansi keuangan yang
baik, sangat relevan dan mutlak diperlukan pada masa sekarang ini.

Terkait hal tersebut, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai wadah profesi
akuntansi di Indonesia selalu tanggap terhadap perkembangan yang terjadi,
khususnya dalam hal-hal yang memengaruhi dunia usaha dan profesi akuntan. Hal
ini dapat dilihat dari dinamika kegiatan pengembangan standar akuntansi sejak
berdirinya IAI pada tahun 1957 hingga kini. Setidaknya, terdapat tiga tonggak
sejarah dalam pengembangan standar akuntansi keuangan di Indonesia.

Tonggak sejarah pertama, menjelang diaktifkannya pasar modal di Indonesia pada
tahun 1973. Pada masa itu merupakan pertama kalinya IAI melakukan kodifikasi
prinsip dan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia dalam suatu buku
”Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI).”

Kemudian, tonggak sejarah kedua terjadi pada tahun 1984. Pada masa itu, komite
PAI melakukan revisi secara mendasar PAI 1973 dan kemudian
mengkondifikasikannya dalam buku ”Prinsip Akuntansi Indonesia 1984” dengan
tujuan untuk menyesuaikan ketentuan akuntansi dengan perkembangan dunia
usaha.

Berikutnya pada tahun 1994, IAI kembali melakukan revisi total terhadap PAI
1984 dan melakukan kodifikasi dalam buku ”Standar Akuntansi Keuangan (SAK)
per 1 Oktober 1994.” Sejak tahun 1994, IAI juga telah memutuskan untuk
melakukan harmonisasi dengan standar akuntansi internasional dalam
pengembangan standarnya. Dalam perkembangan selanjutnya, terjadi perubahan
dari harmonisasi ke adaptasi, kemudian menjadi adopsi dalam rangka konvergensi
dengan International Financial Reporting Standards (IFRS). Program adopsi
penuh dalam rangka mencapai konvergensi dengan IFRS direncanakan dapat
terlaksana dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam perkembangannya, standar akuntansi keuangan terus direvisi secara
berkesinambungan, baik berupa berupa penyempurnaan maupun penambahan
standar baru sejak tahun 1994. Proses revisi telah dilakukan enam kali, yaitu pada
tanggal 1 Oktober 1995, 1 Juni 1996, 1 Juni 1999, 1 April 2002, 1 Oktober 2004,
dan 1 September 2007. Buku ”Standar Akuntansi Keuangan per 1 September
2007” ini di dalamnya sudah bertambah dibandingkan revisi sebelumnya yaitu
tambahan KDPPLK Syariah, 6 PSAK baru, dan 5 PSAK revisi. Secara garis besar,
sekarang ini terdapat 2 KDPPLK, 62 PSAK, dan 7 ISAK.

Untuk dapat menghasilkan standar akuntansi keuangan yang baik, maka badan
penyusunnya terus dikembangkan dan disempurnakan sesuai dengan kebutuhan.
Awalnya, cikal bakal badan penyusun standar akuntansi adalah Panitia
Penghimpunan Bahan-bahan dan Struktur dari GAAP dan GAAS yang dibentuk
pada tahun 1973. Pada tahun 1974 dibentuk Komite Prinsip Akuntansi Indonesia
(PAI) yang bertugas menyusun dan mengembangkan standar akuntansi keuangan.
Komite PAI telah bertugas selama empat periode kepengurusan IAI sejak tahun
1974 hingga 1994 dengan susunan personel yang terus diperbarui. Selanjutnya,
pada periode kepengurusan IAI tahun 1994-1998 nama Komite PAI diubah
menjadi Komite Standar Akuntansi Keuangan (Komite SAK).

Kemudian, pada Kongres VIII IAI tanggal 23-24 September 1998 di Jakarta,
Komite SAK diubah kembali menjadi Dewan Standar Akuntansi Keuangan
(DSAK) dengan diberikan otonomi untuk menyusun dan mengesahkan PSAK dan
ISAK. Selain itu, juga telah dibentuk Komite Akuntansi Syariah (KAS) dan
Dewan Konsultatif Standar Akuntansi Keuangan (DKSAK). Komite Akuntansi
Syariah (KAS) dibentuk tanggal 18 Oktober 2005 untuk menopang kelancaran
kegiatan penyusunan PSAK yang terkait dengan perlakuan akuntansi transaksi
syariah yang dilakukan oleh DSAK. Sedangkan DKSAK yang anggotanya terdiri
atas profesi akuntan dan luar profesi akuntan, yang mewakili para pengguna,
merupakan mitra DSAK dalam merumuskan arah dan pengembangan SAK di
Indonesia.

Ada juga pendapat yang lain mengtakan bahwa perkembangan standar akuntansi
keuangan di Indonesia yang terbaru mengadopsi IFRS ke PSAK, kronologis
kejadian dari tahun ke tahun adalah sebagai berikut :

Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) telah membentuk Komite Prinsip-prinsip
Akuntansi Indonesia untuk menetapkan standar-standar akuntansi, yang kemudian
dikenal dengan Prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia (PAI). (Terjadi pada periode
1973-1984)
Komite PAI melakukan revisi secara mendasar PAI 1973 dan kemudian
menerbitkan Prinsip Akuntansi Indonesia 1984 (PAI 1984). Menjelang akhir 1994,
Komite standar akuntansi memulai suatu revisi besar atas prinsip-prinsip
akuntansi Indonesia dengan mengumumkan pernyataan-pernyataan standar
akuntansi tambahan dan menerbitkan interpretasi atas standar tersebut. Revisi
tersebut menghasilkan 35 pernyataan standar akuntansi keuangan, yang sebagian
besar harmonis dengan IAS yang dikeluarkan oleh IASB. (Terjadi pada periode
1984-1994)

Ada perubahan Kiblat dari US GAAP ke IFRS, hal ini ditunjukkan Sejak tahun
1994, telah menjadi kebijakan dari Komite Standar Akuntansi Keuangan untuk
menggunakan International Accounting Standards sebagai dasar untuk
membangun standar akuntansi keuangan Indonesia. Dan pada tahun 1995, IAI
melakukan revisi besar untuk menerapkan standar-standar akuntansi baru, yang
kebanyakan konsisten dengan IAS. Beberapa standar diadopsi dari US GAAP dan
lainnya dibuat sendiri. (Terjadi pada periode 1994-2004).

Merupakan konvergensi IFRS Tahap 1, Sejak tahun 1995 sampai tahun 2010,
buku Standar Akuntansi Keuangan (SAK) terus direvisi secara
berkesinambungan, baik berupa penyempurnaan maupun penambahan standar
baru. Proses revisi dilakukan sebanyak enam kali yakni pada tanggal 1 Oktober
1995, 1 Juni 1999, 1 April 2002, 1 Oktober 2004, 1 Juni 2006, 1 September 2007,
dan versi 1 Juli 2009. Pada tahun 2006 dalam kongres IAI (Cek Lagi nanti) X di
Jakarta ditetapkan bahwa konvergensi penuh IFRS akan diselesaikan pada tahun
2008. Target ketika itu adalah taat penuh dengan semua standar IFRS pada tahun
2008. Namun dalam perjalanannya ternyata tidak mudah. Sampai akhir tahun
2008 jumlah IFRS yang diadopsi baru mencapai 10 standar IFRS dari total 33
standar. (terjadi pada periode 2006-2008)