BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam keseharian sekolah, penggunaan barang sekolah sebagai barang milik
Negara/daerah adalah sebuah keniscayaan. Setiap hari warga sekolah baik kepala sekolah,
pendidik, tenaga kependidikan maupun peserta didik menggunakan barang milik sekolah
dan dibiayai negara. Penggunaan ini dilakukan pada kegiatan yang bersifat pembelajaran
maupun non pembelajaran. Barang yang digunakan dapat berbentuk barang inventaris
seperti meubel, barang elektronik maupun barang habis pakai seperti kertas, tinta, bola dan
lainnya.

Salah satu tujuan dalam pengadaan dan pemanfaatan barang milik negara/daerah
berupa sarana prasarana sekolah adalah untuk menunjang optimalisasi proses
pembelajaran (BPSDMPK-Kemendiknas, 2014 p. 41). Untuk membantu tercapainya tujuan
tersebut, dalam pelaksanaan penggunaan barang Negara/daerah ini diperlukan penataan
atau managemen yang baik. Kepala sekolah harus mendorong dan memberdayakan
pendidik untuk memanfaatkan barang tersebut secara optimal dan harus membuat laporan
pemanfaatan barang tersebut secara teratur dan terdokumentasi sebagai bahan rencana
tindak lanjut.

Pengelolaan barang yang baik dapat bermanfaat dalam mendukung efisiensi dan
efektifitas penggunaan barang tersebut dan terlaksananya akuntabilitas sekolah sebagai
institusi pemerintah. Kewajiban instansi pemerintah untuk menerapkan system
akuntabilitas kinerja berlandaskan pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 1999
tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dalam Inpres tersebut dinyatakan bahwa
akuntabilitas kinerja instansi pemerintah adalah perwujudan kewajiban suatu instansi
pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi

organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui
pertanggungjawaban secara periodik.

Dengan demikian, penggunaan barang sekolah ini harus mampu menjamin
akuntabilitas sekolah. Sekolah harus mampu mempertanggungjawabkan dan
mempertanggunggugatkan pengunaan barang tersebut baik kepada atasan atau instansi
terkait maupun kepada masyarakat secara luas.

Namun kenyataannya, pengelolaan barang milik sekolah Negara/daerah ini belum
terlaksana dengan optimal. Sebagai bukti, apabila seorang kepala sekolah atau wakilnya
ditanya apakah pemanfaatan barang optimal, apakah ada dokumentasi barang sudah
maksimal, berapa nilai inventaris atau barang milik Negara/ daerah yang dikuasai di
sekolahnya, kebanyakan kepala sekolah atau wakilnya akan tidak yakin dengan jawabannya.
Bahkan apabila staff atau personil sekolah yang menangani barang , bila ditanya tentang
makna tulisan yang ada pada kode barang inventaris, kebanyakan akan menjawab kurang
paham. Padahal, menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 13 tahun 2007,
salah satu fungsi kompetensi manajerial Kepala Sekolah adalah mengelola sarana dan
prasaranasekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal.

Pengelolaan barang baik inventaris maupun non inventaris akan sangat
berpengaruh pada akuntabilitas sekolah sebagai institusi public. Apabila dokumen
pengadaan atau pemanfaatan barang sekolah tidak dikelola dengan baik maka pada
akhirnya akuntabilitas sekolah akan merosot. Sekolah mungkin tak dapat memberikan
laporan atau bahkan informasi bagaimana barang sekolah yang berasal dari pemerintah
atau masyarakat dikelola dan dimanfaatkan. Dan, apabila ini terjadi terus menerus, pada
gilirannya sekolah akan ditinggalkan public atau masyarakat. Masyarakat tidak akan percaya
pada sekolah karena sekolah tidak akuntabel.

Berdasarkan paparan di atas maka penulis mencoba untuk menuliskan gagasan
untuk menjalankan sistem manajemen barang sekolah dengan harapan adanya perbaikan
dalam hal pengelolaan barang sekolah.

B. Permasalahan
Permasalahan yang akan dibahas pada tulis ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana langkah pengelolaan/manajemen barang sekolah yang baik?
2. Hal apa saja yang dapat dilakukan kepala sekolah untuk melakukan managemen
tersebut dalam mendukung akuntabilitas sekolah?

C. Tujuan Penulisan
Makalah ini akan membahas bagaimana langkah pengelolaan barang sekolah dan
hal yang dapat dilakukan kepala sekolah untuk melakukan managemen tersebut dalam
rangka mendukung akuntabilitas sekolah. Makalah ini memuat format-format dokumen
untuk pengendalian barang mulai dari pengadaan, penatausahaan, penyimpanan,
pemeliharaan penghapusan sampai pelaporan.

D. Manfaat Tulisan
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat dalam 3 hal: teori, praktis dan profesional.
Yang pertama secara teori diharapkan dapat menjadi tambahan rujukan pada pengelolaan
barang dan akuntabilitas sekolah. Secara praktisnya, makalah diharapkan menjadi masukan
untuk sekolah dalam pengelolaan atau manajemen barang inventaris dan non inventaris.
Secara profesional, diharapkan dapat menjadi bahan untuk penelitian lebih lanjut baik
tentang pengelolaan barang maupun tentang akuntabilitas sekolah.

E. Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan; yang memaparkan latar belakang permasalahan, perumusan masalah,
tujuan penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II : Landasan teori tentang pengelolaan barang dan akuntabilitas sekolah yang
mencakup langkah, prinsip dan teori pengelolaan barang dan akuntabilitas dari
berbagai sumber.
Bab III : Pembahasan masalah yang memaparkan bagaimana pengelolaan barang yang
diharapkan dan bagaimana hubungannya dengan akuntabilitas sekolah.
Bab IV : Kesimpulan dan Saran

BAB II

PENGELOLAAN BARANG DAN AKUNTABILITAS SEKOLAH

A. Pengelolaan Barang
Pengelolaan barang inventaris yang berbentuk sarana dan prasarana sekolah
mencakup semua komponen yang secara langsung maupun tidak langsung menunjang
jalannya proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri.

Pengelolaan barang inventaris ini, menurut Peraturan Pemerintah (PP) nomor 27
tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah meliputi : Perencanaan Kebutuhan
dan penganggaran; pengadaan; Penggunaan; Pemanfaatan; Pengamanan dan
pemeliharaan; Penilaian; Pemindahtanganan; Pemusnahan; Penghapusan;
Penatausahaan; dan Pembinaan, pengawasan dan pengendalian.

a. Perencanaan Kebutuhan dan penganggaran
Perencanaan Kebutuhan barang milik negara/daerah disusun dengan memperhatikan
kebutuhan pelaksanaan tugas dan fungsi satuan kerja perangkat daerah serta ketersediaan barang.
Perencanaan ini meliputi perencanaan pengadaan, pemeliharaan, Pemanfaatan, Pemindahtanganan,
dan Penghapusan.
Perencanaan kebutuhan ini, kecuali untuk penghapusan, berpedoman pada standar barang;
standar kebutuhan; dan/atau standar harga yang ditetapkan oleh pengelola barang; atau
ditetapkan Bupati/Walikota setelah berkoordinasi dengan dinas teknis terkait. Penetapan standar
kebutuhan oleh Bupati/ Walikota dilakukan berdasarkan pedoman yang ditetapkan Menteri Dalam
Negeri.
Untuk proses perencanaan pengadaan barang sekolah harus dilakukan secara sistematis,
rinci dan teliti berdasarkan rencana kegiatan sekolah jangka panjang (RKJP), rencana kegiatan jangka
menengah (RKJM) dan rencana kegiatan tahunan sekolah (RKT) serta rencana anggaran kegiatan
sekolah (RKAS). Perencanaan hendaknya didasarkan analisis kebutuhan dan skala prioritas yang
disesuaikan dengan dana dan tingkat kepentingannya.

Pengadaan barang milik Daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip efisien. efektif. 2014 p. Depdiknas. Pengadaan Pengadaan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menyediakan semua jenis barang inventaris sesuai dengan kebutuhan. Pengiriman barang tersebut. Perencanaan sekolah di atas hendaknya meliputi empat tahapan. Prosedur tersebut menurut BPSDMPK PMP. atau . 7)penukaran dan 8) perbaikan atau rekondisi (BPSDMPK PMP. 2014 p. bersaing. 1981: 23). Penggunaan Menurut Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 2014. 2002: 29). 1982: 8). Kebanyakan sekolah melakukan pengadaan barang sekolah dengan membeli dengan dana sumbangan dari masyarakat dan mendapatkan bantuan atau hibah. Peninjauan kelayakan untuk mendapat barang tersebut 5. Depdiknas. transparan dan terbuka. 2. b. 3. dan akuntabel. 4. 113). Hubungannya dengan sekolah. 3) bantuan atau hibah. 2) pembuatan/pengadaan swadaya sendiri. c. 2014 p. (2) menyusun tujuan berdasarkan priotitasnya. pengadaan ini merupakan kegiatan untuk menyediakan barang ataupun jasa berdasarkan perencanaan sekolah untuk menunjang efektifitas dan efisiensi pembelajaran (BPSDMPK PMP. Mengklasifikasi barang atau jasa yang dibutuhkan. antara lain: (1) identifikasi tujuan yang dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu. 115) adalah sebagai berikut: 1. adil. Prosedur pengadaan barang dan jasa harus mengacu kepres No 80 tahun 2003 yang telah disempurnakan dengan Permen nomor 24 tahun 2007. Depdiknas. 114-115. Membuat proposal pengadaan yang ditujukan kepada pemerintah atau pihak lain. dan 4) penyewaan. untuk barang milik negara. Menganalisis kebutuhan dan fungsi barang sekolah berbentuk sarana prasarana sekolah. (3) identifikasi permasalahan yang ada: perbedaaan antara yang diinginkan dan apa yang kenyataannya dan (4) menentukan skala prioritas (Gunawan. Gunawan. 6) pendaurulangan. 5) pinjaman. Pengadaan barang inventaris ini meliputi langkah perencanaan barang sekolah sarana prasarana sekolah (Sukirman. status penggunaan barang milik negara/daerah ditetapkan oleh pengelola barang. Pelaksanaan pengadaan Barang Milik Negara/Daerah dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pengadaan barang sekolah dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya adalah yaitu: 1) pembelian tanpa lelang atau dengan lelang.

Prinsip efektifitas berarti semua pemakaian perlengkapan pendidikan disekolah harus ditunjukkan semata-mata dalam rangka memperlancar pencapaian tujuan pendidikan sekolah baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengamanan dan Pemeliharaan Pengamanan dan pemeliharaan adalah kegiatan pengurusan dan pengaturan barang agar selalu dalam keadaan baik dan siap digunakan. untuk barang milik daerah. d. atau kerja sama penyediaan infrastruktur. Penggunaan barang sekolah mesti sesuai dengan kebutuhan agar pencapaian tujuan pengadaan barang dapat tercapai secara efektif dan efisien. atau guna dioperasikan oleh Pihak Lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tugas dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan. perbaikan ringan dan bersifat perbaikan . Untuk barang inventaris di sekolah yang berbentuk sarana prasarana harus selalu mempertimbangkan tujuan yang akan dicapai. 2000:31). 2004: 42). Pemeliharaan perlengkapan adalah suatu kegiatan pemeliharaan yang terus menerus untuk mengusahakan agar setiap jenis barang tetap berada dalam keadaan baik dan siap pakai (Wahyuningrum. Pemeliharaannya berpedoman pada daftar kebutuhan pemeliharaan barang. Pemanfaatan. e. pengguna Barang. Barang tersebut dapat ditetapkan status penggunaannya untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi satuan kerja perangkat daerah. Ada dua prinsip yang harus diperhatikan dalam menggunakan perlengkapan sekolah yaitu prinsip efektifitas dan efisiensi (Bafadal. Sedangkan prinsip efisiensi berarti pemakaian semua perlengkapan pendidikan disekolah secara hemat dan dengan hati-hati. 2014: 124). bangun guna serah atau bangun serah guna. atau Kuasa Pengguna Barang bertanggung jawab atas pemeliharaan Barang Milik Negara/Daerah yang berada di bawah penguasaannya. kerja sama pemanfaatan. tersedianya sarana penunjang dan sesuai dengan karakteristik siswa (BPSDMPK PMP. Bentuk Pemanfaatan Barang tersebut berupa sewa. Pengelola barang.Gubernur/Bupati/Walikota. kesesuaian barang dengan materi pelajaran siswa. pencegahan. Pemanfaatan Barang Milik Negara/Daerah dilaksanakan berdasarkan pertimbangan teknis dengan memperhatikan kepentingan negara/daerah dan kepentingan umum. Pemeliharaan barang milik Negara/daerah berupa perlengkapan sekolah meliputi pemeliharaan yang bersifat pengecekan. pinjam pakai.

membentuk tim pelaksana perawatan. pembersihan dan pengeringan lantai. menyiapkan lembar evaluasi dan memberikan penghargaan kepada yang berhasil meningkatkan kinerja peralatan/ barang sekolah. menyimpan. pemanfaatan. Pengamanan dan pemeliharaan barang dapat dilakukan dengan cara melakukan pencegahan kerusakan. pelapisan plesteran yang retak atau terkelupas. d) Perawatan preventif yakni perawatan yang dilakukan pada selang waktu tertentu dan pelaksanaannya rutin dengan beberapa criteria yang ditentukan sebelumnya. kursi. disimpan diruang/rak agar terhindar dari kerusakan. mengganti komponenkomponen yang rusak dan melakukan perbaikan jika terjadi kerusakan pada sarana atau prasarana pendidikan.berat. lemari dan lain-lainnya. atau pemindahtanganan. lemari dll). b) Pemeliharaan berkala seperti perbaikan atau pengecatan kusen-kusen. meja. 2004: 49). pembersihan kaca. dilakukan secara swakelola dan harus segera dilakukan perbaikan permanen. memeriksa atau mengecek kondisi sarana dan prasarana secara rutin. tembok dan komponen bangunan lainya. Hal ini dapat dilakukan melalui pemeliharaan sehari-hari dan pemeliharaan berkala (Bafadal. membersihkan dari kotoran/debu atau uap air. perbaikan genteng rusak/pecah. pembabatan rumput dan semak. Langkah perawatan preventif ini dapat dilakukan dengan menyusun program perawatan preventif. meja. Penilaian dilakukan oleh tim yang . Jenis pemeliharaan yang dapat dilakukan menurut BPSDMPK PMP (2014: 125) adalah sebagai berikut: a) Pemeliharaan terus menerus (teratur dan rutin). f. pembersihan dan penyiraman kamar mandi. pintu. jendela. perbaikan yang bersifat sementaradan harus cepat selesai. contohnya pembersihan ruangan dan halaman dari sampah. menyiapkan jadwal tahunan. perbaikan mebeler (kursi. c) Perawatan darurat seperti perbaikan pada kerusakan yang membahayakan. Penilaian Penilaian barang milik negara/daerah dilakukan dalam rangka penyusunan neraca pemerintah.

atau ada alasan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan. Pemusnahan Barang Milik Negara/Daerah dilakukan karena barang milik negara/daerah tidak dapat digunakan. seperti Gubernur/Bupati/Walikota. dan dapat melibatkan penilai yang ditetapkan oleh pengguna barang. 112). g. tidak dapat dimanfaatkan. 2000: 42-43). Penghapusan meliputi penghapusan dari daftar barang pengguna dan penghapusan dari daftar barang milik Negara/Daerah. Manfaat dari penghapusan ini adalah mencegah atau sekurang-kurangnya membatasi kerugian/pemborosan biaya pemeliharaan yang kondisinya semakin buruk. membebaskan ruangan dari penumpukan barang yang tidak dipaki dan membebaskan barang dari tanggungjawab pemeliharaannya ((BPSDMPK PMP. Penghapusan Penghapusan merupakan pembebasan barang inventaris dari pertanggungjawaban yang berlaku dengan alasan yang dipertanggungjawabkan (BPSDMPK PMP. meringankan beban kerja pelaksanaan inventaris. dan/atau tidak dapat dipindahtangankan. hibah. 2014 p. atau penyertaan modal pemerintah pusat/daerah. Depdiknas.ditetapkan oleh pengguna barang. dihancurkan. Depdiknas. tukar menukar. 2014 p. Pemusnahan atau Penghapusan adalah kegiatan yang bertujuan untuk menghapus barang-barang milik Negara/Daerah atau kekayaan Negara dari daftar inventarisasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Wahyuningrum. h. ditimbun. 112). Pemusnahan dilakukan dengan cara dibakar. Pemindahtanganan Barang milik negara/daerah yang tidak diperlukan bagi penyelenggaraan tugas pemerintahan dapat dipindahtangankan. ditenggelamkan atau cara lain sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pemindahtanganan dilakukan dengan cara penjualan. Pemusnahan dilaksanakan oleh Pengguna Barang setelah mendapat persetujuan Pengelola Barang. Langkah-langkah penghapusan barang milik Negara/daerah menurut Bafadal (2004: 63) adalah sebagai berikut .

jumlah. Dalam hal pembukuan. Apabila melalui lelang yang berhak melelang adalah kantor lelang setempat dan hasil lelang menjadi milik Negara i. c) Pengguna barang mengajukan usulan penghapusan barang dan pembentukan panitia penghapusan. d) Setelah SK penghapusan dari dari kuasa pengguna barang misalnya kantor dinas pendidikan kota/kabupaten terbit. Inventarisasi adalah pencatatan dan penyusunan daftar barang milik Negara secara sistematis. yang dilampiri dengan data barang yang rusak (yang akan dihapusnya) ke kuasa pengguna barang misalnya kantor dinas pendidikan kota atau kabupaten. biasanya perlu ada pengantar dari kepala sekolah kemudian usualan itu diteruskan ke Bupati atau walikota. biasanya dengan membuat berita acara pemeriksaan. tertib dan teratur berdasarkan . inventarisasi dan pelaporan. Penatausahaan Penatausahaan mencakup dua proses yakni pembukuan. Daftar barang disusun berdasarkan himpunan daftar barang pengguna/daftar barang kuasa pengguna dan daftar barang pengelola menurut penggolongan dan kodefikasi barang sesuai ketentuan. a) Pengguna barang misalnya Kepala sekolah (bisa dengan menunjuk seseorang) mengelompokan perlengkapan yang akan dihapus dan meletakan ditempat yang aman. f) Begitu surat penghapusan a datang. pengelola barang harus melakukan pendaftaran dan pencatatan Barang Milik Negara/Daerah yang berada di bawah penguasaannya ke dalam Daftar Barang Pengelola menurut penggolongan dan kodefikasi barang. dan tahun pembuatan perlengkapan tersebut. Proses yang kedua adalah inventarisasi. selanjutnya panitia penghapusan segera bertugas yaitu memeriksa kembali barang yang rusak berat. e) Panitia mengusulkan penghapusan barang-barang yang terdaftar dalam berita acara pemeriksaan. b) Menginventarisasi perlengkapan yang akan dihapus dengan cara mencatat jenis. bisa segera dilakukan penghapusan terhadap barang-barang tersebut dengan cara dimusnahkan dan dilelang.

2014). Klasifikasi dan kodefikasi barang iventaris dilakukan agar terdapat cara cukup mudah dan efisien untuk mencatat dan seklaigus untuk mencari dan menemukan kembali barang tertentu baik fisik maupuan daftar catatan atau pun di dalam ingatan orang (BPSDMPK PMP– Kemediknas. mempermudah pemeliharaan dan pengawasan barang tersebut. Melalui inventarisasi diharapkan tercipta ketertiban. Untuk memudahkan penatausahaan barang dan sensus barang milik daerah (BMD). menurut Permendagri nomor 7 tahun 2007 adalah sebagai berikut. Terdapat dua kategori besar kodefikasi barang ini yakni kode lokasi dan kode barang. Tujuan pemberian kodefikasi adalah untuk mengamankan dan memberikan kejelasan status kepemilikan dan status penggunaan barang pada masing-masing pengguna (Permendagri nomor 7 tahun 2007). Inventarisasi dilakukan oleh pengguna barang setiap tahun. Kegiatan inventarisasi perlengkapan pendidikan meliputi dua kegiatan yaitu: yang berhubungan dengan pencatatan dan pembuatan kodefikasi barang perlengkapan dan yang berhubungan dengan pembuatan laporan.ketentuan-ketentuan pedoman yang berlaku. Kodefikasi adalah pemberian pengkodean barang pada setiap barang inventaris milik Pemerintah Daerah yang menyatakan kode lokasi dan kode barang. Cara penulisan kode ini. yang dipisahkan oleh sebuat tanda titik. 2014). Dua angka berikutnya yang ada sebelum titik merupakan sandi pokok untuk kelompok barang menurut ketentuan formulir masing-masing (BPSDMPK – Kemediknas. a) Nomor Kode Lokasi Nomor Kode Lokasi menggambarkan/menjelaskan status kepemilikan barang. Pada umumnya. setiap barang daerah diberi nomor kode. Pengguna barang menyampaikan laporan hasil Inventarisasi kepada pengelola barang paling lama 3 (tiga) bulan setelah selesainya Inventarisasi. penghematan keuangan. nomor kode itu terdiri dari 7 (tujuh) buah angka yang tersusun menjadi tiga dan empat angka. Angka pertama dari susunan tiga di depan adalah untuk menyatakan jenis formulir yang digunakan. .

(07) Bidang Kesehatan. (19) Bidang Kepegawaian. (02) Gubernur/Bupati/Walikota. (03) Wakil GUbernur/Bupati/Walikota. Kecamatan diberi Nomor Kode mulai dari nomor urut 50 (lima puluh) dan seterusnya sesuai jumlah kecamatan pada masingmasing Kabupaten/Kota. Nomor Kode Lokasi terdiri 14 digit atau lebih sesuai kebutuhan daerah. (16) Bidang Lingkungan Hidup. (06)Bidang Perhubungan. (13) Bidang Pendapatan. bidang. SKPD dan unit kerja serta tahun pembelian barang. informasi dan dokumentasi. (08) Bidang Pendidikan dan Kebudayaan. Contoh nomor kode lokas adalah sebagai berikut: angka atau digit nomor kode lokasi ditulis secara berurutan dalam suatu garis datar. Nomor Kode SKPD dibakukan lebih lanjut oleh Kepala Daerah dengan memperhatikan pengelompokkan bidang yang terdiri dari 22 bidang. (20) Bidang Penghubung. (18) Bidang Kesatuan Bangsa. Untuk kabupaten Serang kodenya adalah 01.Provinsi. Untuk propinsi Banten kodenya adalah 28. (15) Bidang Perencanaan. (14) Bidang Pengawasan. (09) Bidang Sosial. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 14 digit Kode Komponen Pemilik Barang Kode Provinsi Kode Kab/Kota Kode Bidang Kode Unit Bidang Kode Tahun Pembelian Kode Sub Unit/ Satuan Kerja . Ke 22 bidang tersebut adalah: (01) Sekwan/DPRD. (04) Sekretariat Daerah. (12) Bidang Perindustrian. dan (22) Bidang BUMD. Kabupaten/Kota. (17) Bidang Pariwisata. (10) Bidang Kependudukan. (11) Bidang Pertanian. Nomor Kode urutan Provinsi dan nomor Kode urutan Kabupaten/Kota tercantum dalam Lampiran 39 dan 40 Permendagri tersebut. (21) Bidang Komunikasi. (05) Bidang Kimpraswil/PU.

Kode Provinsi. tahun pembelian/perolehan tahun 2002 ditulis 02 tahun 2005 ditulis 05 dan seterusnya. Untuk nomor kode Kabupaten /Kota yang baru dibentuk dibakukan oleh Gubernur dengan mengikuti urutan sesuai lahirnya undang . cc dsb dan penetapan prakiraan tahun tersebut ditetapkan oleh Pengurus barang. Digit 13 dan 14. sejenis. Provinsi diberi Nomor Kode mulai dari Nomor 01 sampai dengan 33 (dstnya). Kabupaten/Kota yang berada dalam wilayah suatu Provinsi diberi Nomor Kode mulai dari Nomor 01 dan seterusnya sampai sejumlah Kabupaten/Kota dalam wilayah Provinsi tersebut. Kode Sub Unit/Satuan Kerja untuk .undang Pembentukan Daerah Otonom baru dengan memperhatikan/mengikuti Nomor urut Kabupaten/ Kota yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri. Digit 5 dan 6. Digit 7 dan 8. merk. kode SKPD. Digit 1 dan 2. Barang milik Pemerintah Daerah Provinsi dengan Nomor Kode 11 c. Penetapan nomor urut kode unit/SKPD di masing-masing Provinsi/Kabupaten/Kota ditetapkan oleh Kepala Daerah. Barang yang tidak diketahui Tahun Pembelian/Perolehannya. bahan. Barang Milik Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dengan Nomor Kode 12. sesuai dengan jumlah Provinsi yang ada. Digit 3 dan 4. seperti yang sampaikan di atas. Kode Sub Unit/Satuan Kerja. Tahun Pembelian/Pengadaan/ Pembangunan. Kode komponen kepemilikan barang. maka ditulis Nomor Kodenya 97. Digit 9 dan 10. supaya dibandingkan dengan barang yang sama. type. Kode Unit merupakan penjabaran dari Bidang Tugas kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sesuai struktur organisasi di masing masing Daerah Provinsi/Kabupaten/ Kota. Barang milik Pemerintah Pusat dengan Nomor Kode OO b. kode bidang yang merupakan pengelompokan Bidang Tugas yang terdiri dari 22 bidang. Penulisan kode komponen kepemilikan barang sebagai berikut : a. Kode Kabupaten/Kota. Digit 11 dan 12. Nomor Kode Tahun pembelian/pengadaan barang dituliskan 2 angka terakhir (misalnya tahun pembelian/perolehan 1997.

Contoh penulisan nomor kode lokasi: Barang Milik Daerah Provinsi Banten berada pada Subdin Pengelolaan Budidaya Perikanan (Dinas Perikanan dan Kelautan).97.11.05 b) Nomor Kode Barang Nomor Kode barang diklasifikasikan ke dalam 6 (golongan) yaitu: (01) Tanah.02.00. (03) Gedung dan Bangunan. bidang. Sub Kelompok dan sub-sub Kelompok/Jenis Barang.17. 1 1 2 8 0 1 1 1 0 2 0 1 0 5 Kode Komponen Pemilik Barang (Provinsi) Kode Provinsi (Maluku) Kode Kab/Kota (Kosong) Kode Bidang (Bid. sub kelompok dan Sub-Sub Kelompok/jenis barang sebagaimana tercantum dalam lampiran 41 permendagri nomor 7 tahun 2007. kelompok. (04) Jalan. Penggolongan barang terbagi atas Bidang. dibeli/diperoleh tahun 2001.Irigasi dan Jaringan (05) Aset Tetap Lainnya dan (06) Konstruksi dalam Pengerjaan.Perikanan) Kode Unit Bidang (Dinas Perik & laut) Kode Tahun Pembelian (2001) Kode Sub Unit/Satuan Kerja (Subdin Pengel Budidaya Perikanan) Cara penulisan : 11. . Nomor kode golongan. (02) Mesin dan Peralatan.masing-masing SKPD diberi Nomor urut Kode sub unit sesuai struktur organisasi perangkat daerah mulai dari Nomor 01 dan seterusnya sampai sejumlah sub Unit/Satuan Kerja dalam SKPD tersebut dan ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah. Kelompok.

c) Nomor Register Nomor register merupakan nomor urut pencatatan dari setiap barang. pencatatan terhadap barang yang sejenis.0050. Nomor kode 01. kode barang mobil sedan. kode 03) Kode Kelompok (Kel. diikuti Nomor Kode Bidang. Kode 01) Mobil yang ke…. kelompok alat angkutan darat bermotor. (Kend. kode 02) Kode Bidang (Bidang Alat-alat Angkutan.03.01. Nomor Kode Sub Kelompok. mobil sedan bidang alat-alat angkutan.01. 0 2 0 3 0 1 0 1 0 1 0 0 000 500 kode Golongan (Peralatan dan mesin. sub-sub kelompok/jenis barang. Cara Penulisan : 02. Contoh 1. tahun pengadaan sama. (Sedan. Kode 01) Kode Sub2 Kel. Keterangan: Nomor kode 02. Nomor Kode Sub-Sub Kelompok/jenis barang dimaksud. Nomor Kode Kelompok. nomor kode golongan peralatan dan mesin. Dinas ber perorangan. besaran harganya sama seperti meja dan kursi jumlahnya 150. maka pencatatannya dapat dilakukan dalam suatu format . Alat Angkutan darat bermotor. Nomor kode Register. Nomor kode barang terdiri atas 14 (empat belas) digit yang tersusun berurutan ke belakang dibawah suatu garis lurus sebagai berikut: 2 digit (angka) paling depan adalah Nomor Kode Golongan Barangnya. Nomor kode 03. Nomor kode 01.01. sub kelompok kendaraan dinas bermotor perorangan. kode 01) Kode Sub Kel. Nomor kode 01.

diperlakukan sama dengan barang inventaris milik Pemerintah Daerah. Barang milik Departemen Kimpraswil berupa mobil sedan dibeli pada tahun 1999. 00. Barang milik negara/daerah yang dipisahkan (Perusahaan Daerah) tetap menjadi milik Pemerintah Daerah. dibeli/diperoleh Tahun 2001. Unit yang ke enam.0006 d) Lain-lain Cara pencatatan dan pemberian Nomor Kode bagi barang yang belum ada Nomor Kode jenis barangnya.01.02. Nomor urut pencatatan untuk setiap barang yang spesifikasi. maka nomor registernya dicatat tersendiri untuk masingmasing barang. Cara penulisan nomor Kode Unit dan Nomor Kode Barang : 1. .04 02. Dalam rangka tertib administrasi pengelolaan barang milik negara/daerah yang cepat dan akurat.02. merk. jenis berbeda.11. dipergunakan pada Dinas PU (Subdin Cipta Karya) mobil sedan yang ketiga. Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur.03.02.23. Pemerintah Daerah menerapkan aplikasi inventarisasi melalui Sistem Informasi Manajemen Barang Daerah (SIMBADA). type.01.04. oleh karena itu semua barang inventaris yang dipisahkan. berada pada Subdin Pengelolaan Budidaya Perikanan(Dinas Perikanan dan Kelautan).01.01.99.06. Barang milik Daerah Provinsi Maluku berupa Air Condition. 01.03. ditulis: 0001 s/d 0150.05 02.00.01.05.pencatatan dalam lajur register. supaya mempergunakan Nomor Kode jenis barang "Lain-lain" dari Sub kelompok barang yang dimaksud atau dibakukan oleh Kepala Daerah masing-masing dengan mengikuti nomor urut jenis barang lain-lain.17.0003 2.

Daftar alat inventarisas yang harus digunakan atau diisi adalah sebagai berikut (BPSDMPK-PMP. 3) Buku catatan non-inventaris Ini adalah buku tempat mencatat semua barang habis pakai. Pengguna barang harus menyusun laporan barang semesteran dan tahunan sebagai bahan untuk menyusun neraca satuan kerja untuk disampaikan kepada Pengguna Barang. Pengawasan. 2008): 1) Buku induk barang inventaris Ini adalah buku tempat mencatat semua barang inventaris milik Negara dalam lingkungan sekolah menurut urutan penerimaannya. Dan Pengendalian Pembinaan pengelolaan Barang Milik Negara dilakukan oleh menteri keuangan melalui penetapan kebijakan pengelolaan barang milik negara/daerah. Daftar ini disusun menurut jenis barang pada masing-masing golongan inventaris. Pengawasan dan Pengendalian . 4) Laporan triwulan mutasi barang inventaris Ini adalah daftar tempat mencatat jumlah bertambah atau berkurangnya barang inventaris sebagai akibat mutasi yang terjadi dalam riwulan yang bersangkutan. j. penghapus dan sejenisnya. Untuk Daftar isian barang Inventaris Daftar rekapitulasi barang inventaris harus dibuat rangkap 2. 2) Buku golongan barang inventaris Ini adalah buku pembantu tempat mencatat barang inventaris menurut golongan barang yang telah ditentukan. Ini merupakan daftar yang menunjukan jumlah barang inventarus menurut keadaan pada tanggal 1 April tahun yang lalu. seperti tinta. Pembinaan. mutasi barang yang terjadi selama setahun tersebut dan keadaan barang inventaris pada tanggal 1 April tahun anggaran berikutnya. 6) Daftar rekapitulasi barang inventaris. Kemendiknas. Hadi. kertas. 5) Daftar isian barang Inventaris Ini adalah tempat mencata semua barang inventaris menurut golongan barangnya. 2014. satu sebagai arsip dan satu lagi untuk disampaikan pada unit kerja yang membawahinya (dinas pendidikan). spidol.

Pemindahtanganan.sedangkan barang-barang bukan inventaris dicatat dalam buku induk bukan inventaris dan kartu stok barang. dan pemindahtanganan barang dalam rangka penertiban penggunaan. Baik barang inventaris maupun barang bukan inventaris yang diterima sekolah harus dicatat didalam buku penerimaan. Makna Akuntabilitas Akuntabilitas diartikan sebagai kemampuan memberi jawaban kepada otoritas yang lebih tinggi atas tindakan seseorang/sekelompok orang terhadap masyarakat luas dalam suatu organisasi (Syahrudin Rasul. meja. Sedangkan barang-barang yang bukan inventaris adalah semua barang habis pakai. Barang milik Negara/daerah yang merupakan perlengkapan sekolah dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu barang inventaris dan barang bukan inventaris. papan tulis. Pengelola barang melakukan pemantauan dan investigasi atas pelaksanaan Penggunaan. Pemanfaatan. seperti kapur tulis. Pemanfaatan. BPK atau BPKP) dan kepada masyarakat atau publik sebagai pemberi amanat atau amanat. Setelah itu. dan pengamanan barang. khusus barang-barang inventaris dicatat didalam buku induk inventaris dan buku golongan inventaris. Dalam konteks institusi pemerintah. Akuntabilitas Sekolah a. kertas. bangku. inspektorat. B. Barang inventaris adalah keseluruhan perlengkapan sekolah yang dapat digunakan secara terus menerus dalam waktu yang relatif lama seperti. dan pemindahtanganan barang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan. pemeliharaan. Pengguna Barang melakukan pemantauan dan penertiban terhadap Penggunaan. Penatausahaan. 2002:8).Barang Milik Negara/Daerah dilakukan oleh: pengguna barang melalui pemantauan dan penertiban. dan/atau oleh pengelola barang melalui pemantauan dan investigasi. . pemanfaatan. buku perpustakaan sekolah dan perabot-perabot lainnya. “seseorang” tersebut adalah pimpinan instansi pemerintah sebagai penerima amanat atau mandate yang harus memberikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan amanat atau mandat tersebut kepada atasannya (pemerintah daerah. dan barang-barang yang statusnya tidak jelas.

). Boix. akuntabilitas terdiri dua dimensi yakni pertanggungjawaban dan penegakan. dan metode kerja. inspektorat daerah. melalui suatu media berupa laporan akuntabilitas kinerja secara periodik. Sumber daya dalam hal ini merupakan sarana pendukung yang diberikan kepada seseorang atau unit organisasi dalam rangka memperlancar pelaksanaan tugas yang telah dibebankan kepadanya. Sekolah sebagai institusi pemerintah yang mempunyai akuntabilitas yang baik mampu membuat kegiatan dan pengelolaan sekolah lebih transparat dan terhindar dari korupsi. pimpinan instansi ini adalah kepala sekolah dan atasannya adalah dinas pendidikan. dalam mengelola sumber daya yang telah diberikan dan dikuasai. Akuntabilitas sekolah sebagai institusi pemerintah menjadi salah satu dimensi yang sangat penting rangka peningkatan kualitas institusi yang baik (Kaufmann. Dalam hubungan dengan sekolah. dalam rangka pencapaian tujuan. Menurut Schedler (1999). Kraay. menegakkan aturan hukum dan meningkatkan efektifitas birokrasi (Adserà. Hal ini senada dengan yang dikemukakan O’Donnell (1999) dalam Kyriacou (2008) bahwa ada dua jenis akuntabilitas yakni horizontal and vertical. Pertanggungjawaban juga meliputi hal warga masyarakat untuk meminta pejabat menjelaskan keputusan mereka dan tugasnya untuk memberikan pembenaran atas keputusan mereka. dalam hal ini sekolah. Yang kedua penegakan meliputi kemampuan warga untuk membuat pejabat public mendapatkan akibat atau konseksuensi dari keputusan mereka. penjelasan yang benar tentang kegiatan pemerintah dan bertanggung jawab atas akibat dari keputusan atau kegiatan tersebut (Mulgan 2000. Wujud dari sumber daya tersebut pada umumnya berupa sumber daya manusia. BPK atau BPKP sebagai badan pemeriksa akuntabilitas sekolah. Yang pertama merujuk pada akuntabilitas yang dilakukan pengawasannya oleh masyarakat dan yang kedua dilakukan pengawasannya oleh institusi public yang ditentukan pemerintah sesuai kewenangannya. Akuntabilitas juga dapat berarti sebagai perwujudan pertanggungjawaban seseorang atau unit organisasi. and Mastruzzi 2005. yang akuntable dipercaya mampu menyediakan informasi handal yang berhubungan dengan keputusan kebijakan. sarana prasarana. Yang pertama meliputi hak warga untuk menerima informasi yang dapat dipercaya tentang keputusan pemerintah dan kewajiban pejabat public untuk memberikan hal-hal yang rinci tentang keputusan mereka pada warga masyarakat. dana. Pemerintahan. and Payne 2003). Sanksi . Schedler 1999).

termasuk pencopotan posisi pejabat. ada 5 (lima) dimensi akuntabilitas yakni hukum dan kejujuran. b. objektif. sedangkan akuntabilitas kejujuran menjamin adanya praktik pengelolaan sekolah yang sehat 2) Akuntabilitas manajerial . Prinsip Akuntabilitas Akuntabilitas instansi pemerintah didasarkan pada beberapa prinsip. c) Menunjukkan tingkat pencapaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. b) Berdasarkan suatu sistem yang dapat menjamin penggunaan sumber-sumber daya secara konsisten dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. akuntabilitas kejujuran terkait dengan penghindaran penyalahgunaan jabatan. manajerial. e) Jujur. Akuntabilitas hukum terkait dengan dilakukannya kepatuhan terhadap hukum dan peraturan lain oleh kepala sekolah. Akuntabilitas hukum menjamin ditegakkannya supremasi hukum. korupsi dan kolusi. program. pejabat sekolah. kebijakan dan financial. Dalam hal ini tujuan dan sasaran sekolah. harus adanya komitmen dari pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah. Menurut Rasul (2003:11). dan akurat. perusakan reputasi dan hukuman resmi sebaiknya dapat dilakukan oleh warga atas kesalahan pejabat public. Sedangkan. d) Berorientasi pada pencapaian visi dan misi. Dalam hubungannya dengan sekolah. Prinsip-prinsip tersebut menurut Wakhyudi (2007) adalah sebagai sebagai berikut: a) Adanya komitmen dari pimpinan dan seluruh staf instansi yang bersangkutan. f) Melaporkan keberhasilan/kegagalan dalam pencapaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. transparan. pendidik dan tenaga kependidikan. serta hasil dan manfaat yang diperoleh. Dalam hubungannya dengan sekolah. kelima dimensi tersebut bermakna sebagai berikut: 1) Akuntabilitas hukum dan kejujuran (accuntability for probity and legality).

. Langkah-langkah Akuntabilitas Sekolah Paling tidak ada 4 (empat) langkah atau siklus dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah menurut Wakhyudi (2007). tujuan. d) Pemanfaatan informasi kinerja bagi perbaikan kinerja secara berkesinambungan. 3) Akuntabilitas program Akuntabilitas program bermakna bahwa program-program sekolah yang dilakukan merupakan program yang bermutu dan mendukung strategi dalam pencapaian visi. misi. 4) Akuntabilitas kebijakan Akuntabilitas ini berarti sekolah (kepala sekolah dan pejabat sekolah) harus mampu mempertanggungjawabkan kebijakan yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan dampaknya dimasa depan. mengapa kebijakan itu dilakukan. 5) Akuntabilitas financial Akuntabilitas ini merupakan pertanggungjawaban sekolah untuk menggunakan dana publik (public money) secara ekonomis. sebagai berikut: a) Penetapan perencanaan stratejik. Sekolah harus mempertanggungjawabkan program yang telah dibuat sampai pada pelaksanaan program. misi dan tujuan sekolah yang telah ditentukan. b) Pengukuran kinerja. c) Pelaporan kinerja. dan sasaran serta menetapkan strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Akuntabilitas manajerial adalah pertanggungjawaban untuk melakukan pengelolaan sekolah secara efektif dan efisien dengan melaksanakan prinsip-prinsip manajerial yang baik. c. Akuntabilitas financial ini sangat penting karena menjadi sorotan utama masyarakat. efisien dan efektif. Penyusunan perencanaan strategik (Renstra) yang meliputi penyusunan visi. Dalam membuat kebijakan harus dipertimbangkan apa tujuan kebijakan tersebut. Akuntabilitas ini mengharuskan sekolah untuk membuat laporan keuangan untuk menggambarkan kinerja financial organisasi kepada pihak luar secara periodik. tidak ada pemborosan dan kebocoran dana. serta korupsi.

tujuan dan sasaran sekolah baik jangka panjang maupun menengah (RKJM). Laporan ini sebaiknya dirangkum dalam laporan menyeluruh oleh kepala sekolah atau wakil kepala sekolah sebagai laporan sekolah secara keseluruhan. Dalam melaksanakan kegiatan. Pada akhir suatu periode. Penilaian ini dapat dilakukan baik kepada pendidik maupun tenaga kependidikan yang mencakup berbagai bidang. Setelah rencana kinerja ditetapkan. pengamatan sehari-hari atau wawancara. dilakukan pengumpulan dan pencatatan data kinerja. laporan kepala tata usaha dan laporan keuangan bendahara baik yang berbentuk manual maupuan virtual. Rencana kinerja ini mengungkapkan seluruh target kinerja yang ingin dicapai (output/outcome) dari seluruh sasaran strategik dalam tahun yang bersangkutan serta cara dan strategi untuk mencapainya. misi. ini menyangkut visi. laporan ini tidak banyak mendapat perhatian dari personil sekolah. Hal ini mungkin karena banyaknya kegiatan rutin yang mesti dilakukan sekolah. . Laporan ini pada akhirnya dimanfaatkan bagi perbaikan kinerja sekolah secara berkesinambungan. penilaian kinerja guru. panitia kegiatan. Di sekolah disebut dengan rencana kerja tahunan (RKT) dan rencana kerja anggaran sekolah (RKAS). instrumen. perlu mengembangkan sistem pengumpulan data kinerja. dapat berbentuk penilaian kinerja pegawai (PKPNS atau SKP). maupun penilaian melalui supervisi. Dalam hubungannya dengan sekolah. sekolah dalam hal ini. Perencanaan strategik ini kemudian dijabarkan dalam perencanaan kinerja tahunan yang dibuat setiap tahun. Data kinerja yang dapat digunakan sekolah. capaian kinerja tersebut dilaporkan kepada pihak yang berkepentingan atau yang meminta dalam bentuk laporan. Laporan kinerja sekolah dapat berbentuk laporan masing-masing pejabat fungsional sekolah. tahap selanjutnya adalah pengukuran kinerja. Dengan diperlukannya data kinerja yang akan digunakan untuk pengukuran kinerja. Namun. sesuai dengan peraturan mutakhir. maka instansi pemerintah. Data kinerja tersebut merupakan capaian kinerja yang dinyatakan dalam satuan indikator kinerja. yaitu tatanan. dan metode pengumpulan data kinerja. Rencana kinerja ini merupakan tolok ukur yang akan digunakan dalam penilaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan atau sekolah untuk suatu periode tertentu.

BAB III PEMBAHASAN A. Pejabat sekolah tidak secara rutin mengawasi dan memantau administrasi pengelolaan dan pemanfaatan barang sekolah. Seringkali. Sistem ini mampu mengiventarisir barang yang ada disekolah dan namun belum mampu mencakup penggunaannya secara detail. pengendalian dan atau pelaporan barang. kurangnya pengawasan dan pengendalian dari pejabat sekolah dan yang ketiga berhubungan dengan sarana prasarana pendukung pengelolaan barang. Yang pertama. Kebanyakan instansi pemerintah termasuk sekolah telah memiliki software seperti SIMDA. Personil tersebut akan sibuk menyusun. Masalah yang kedua: kurangnya pengawasan dan pengendalian dari pejabat sekolah. Software tersebut kebanyakan hanya menyangkut laporan secara virtual atau online saja. petugas pengelola bekerja saat ada tuntutan dari pihak lain di luar sekolahh misalnya pemeriksa barang baik dari dinas pendidikan maupuan badan kepegawaian daerah (BKD). Menurut pengamatan penulis. menyangkut kekurangpahaman dan kekurangkonsisten sumber daya pengelola barang. dan tidak mempunyai mengerakan system manajemen inventaris sekolah secara real dan menyeluruh. atau SIMBADA dan yang paling mutakhir adalah ANTI SIMBADA. pengelolaan atau manajemen barang di sekolah mengalami paling tidak 3 (tiga) kendala. Namun ketika tuntutan dari pihak luar sudah terpenuhi. Peran pengelola atau pihak manajemen dalam langkah pengendalian (controlling) dan pelaporan berlangsung kurang optimal. Masalah kekurangpahaman dan kurang konsistennya sumberdaya ini disebabkan personil yang ditunjuk sebagai pengendali barang tidak paham apa yang seharusnya dilakukan atas penatausahaan. yang kedua. Kendala dalam Pengelolaan Barang Petunjuk teknis atau peraturan bahkan software system pengelolaan atau manajemen barang telah dikeluarkan pemerintah. maka proses administrasi pengelolaan barang terabaikan lagi. Bagaimanapun baiknya petunjuk teknis atau software manajemen tidak bisa menjamin keberhasilan pengelolaan barang ini. Hal ini karena belum terciptanya system . Diperlukan konsistensi dan kontinuitas semangat dari pengelola barang ini. Ketika ada tuntutan laporan. personil tersebut menyusun laporan dadakan sesuai tuntutan.

Ketersedian barang sulit dipantau. Kendala di atas dapat menyebabkan kendala lain yang menimbulkan kesulitan lain. penggunaan/pemanfaatan. Pengelolaan Barang Milik Sekolah. ada permasalahan para pembagian kerja pada perencanaan pengelolaan barang. identifikasi dan pelaporan barang tersebut akan sulit dilakukan. Karena itu diperlukan penataan pengelolaan barang yang baik agar adminstrasi barang terselenggara dengan baik yang pada akhirnya dapat meningkatkan akuntabilitas sekolah. penghapusan dan pelaporan. Sebagai contoh apabila ada barang sekolah yang hilang. Idealnya. Hal ini disebabkan ruang lingkup sekolah yang luas atau penggunaan atas barang sekolah yang memang tinggi sehingga menimbulkan proses adminstrasi inventaris keseharian yang sering diabaikan sehingga pelaporan penggunaanya tidak tersusun. Kepala sekolah hendaknya mampu mengendalikan semua administrasi barang mulai analisis kebutuhan. B. Kebanyakan sekolah belum mempunyai ruangan khusus yang memungkinkan semua inventaris dapat dikendalikan dengan optimal.pengendalian manual yang berjalan. pengelolan barang di sekolah mencakup 18 dokumen administrasi. yaitu sebagai berikut 1) Pemetaan masalah sarana dan prasarana sekolah 2) Analisis kebutuhan sarana dan prasarana sekolah 3) Usulan revisi program pengelolaan sarana dan prasarana sekolah 4) Pengadaan sarana dan prasarana sekolah 5) Laporan pengadaan sarana dan prasarana sekolah 6) Londisi nyata inventaris sarana prasarana 7) Rencana tindak lanjut inventarisasi dan penghapusan barang 8) Usulan penghapusan barang rusak berat/hilang 9) Evaluasi diri tentang sarana prasarana 10) Jadwal pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah . Kepala sekolah memegang peranan yang penting dalam pengelolaan barang milik daerah (Milik pemerintahan Kabupaten) yang ada di sekolah. pengadaan. atau rusak. Yang ketiga. perencanaan. Mungkin. kendala yang menyangkut sarana berhubungan dengan penempatan atau penyimpanan barang.

a. kepala sekolah dapat memberikan pengarahan dan instruksi kepada pejabat fungsional sekolah dan tenaga kependidikan bidang sarpras tentang rencana besar sekolah berdasarkan analisis kebutuhan dan pemetaan sarpras. Untuk melakukan semua administrasi tersebut. . diperlukan pengelolaan barang yang efektif dan efisien. penyusunan pengelolaan atau manajemen barang yang baik dan pengawasan dan pemantauan pengelolaan. Semua kebaikan atau keburukan pengelolaan barang ini akan menjadi tanggung jawab kepala sekolah. perencana sentral. Pembagian tupoksi untuk pengelolaan barang sekolah didistribusikan kepada paling tidak 3 orang: Kepala sekolah. Pembagian tupoksi ini hendaknya jelas dan direvisi setiap tahun dan dilakukan di awal tahun pelajaran. diantaranya: optimalisasi tugas pokok dan fungsi pegawai. Kepala sekolah mempunyai peranan penting dalam penataan pengelolaan barang sekolah. Kepala sekolah berperan sebagai penanggung jawab. coordinator dan pengawas pelaksanaan administrasi barang ini. Sebagai perencana sentral. Tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) bidang sarana prasarana (sarpras) ini hendaknya didistribusikan pada pendidik pejabat sekolah dan tenaga kependidikan. pendidik pejabat fungsional sekolah bidang sarpras dan tenaga kependidikan yang menangani sarpras. Optimalisasi Tugas Pokok dan Fungsi Pegawai Bidang Sarana Prasarana Pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pegawai di sekolah baik pendidik maupun tenaga kependidikan akan menjamin keberhasilan pengelolaan sekolah yang efektif dan efisien. Kesalahan atau kekeliruan dalam pengelolaan ini akan berpengaruh pada kinerja dan akuntabilitas kepala sekolah. Langkah yang dapat dillakukan kepala sekolah. 11) Laporan pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah 12) Hasil analisis perawatan sarana dan prasarana sekolah 13) Jadwal perawatan rutin sarana dan prasarana 14) Laporan perawatan sarana dan prasarana sekolah 15) Perawatan sarana dan prasarana 16) Buku induk inventaris barang 17) Kartu inventaris barang 18) Kartu inventaris ruangan.

piñatausahaan. Pengelolaan Barang yang Baik Merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) nomor 27 tahun 2014 tentang pengelolaan barang negera. pengelolaan barang inventaris dan non inventaris pendidikan di sekolah paling tidak mencakup hal-hal berikut: perencanaan kebutuhan dan penganggaran. Rencana yang telah disusun hendaknya disosialisasikan kepada semua warga sekolah karena sarpras atau barang sekolah akan berhubungan dengan semua pihak. inventarisasi atau penatausahaan. 3) melengkapi fasilitas pembelajaran pada setiap tingkat kelas di sekolah. Rencana pengelolaan sarana dan prasarana hendaknya mengacu pada standar sarana dan prasarana dalam hal: 1) merencanakan. penyaluran dan pemindahtanganan. Rencana besar ini kemudian dirinci ke dalam rencana rinci dari pejabat fungsional bidang sarpras dan tenaga kependidikan. b. memenuhi dan mendayagunakan sarana dan prasarana pendidikan. pengamanan . Kepala sekolah hendaknya menetapkan rencana dan kebijakan tentang barang (sarpras) ini secara tertulis yang lengkap dan terintegrasi dengan perencanaan sekolah yang lain. Rencana ini sedikitnya menyangkut pengadaan. penataan. 2) mengevaluasi dan melakukan pemeliharaan sarana dan prasarana agar tetap berfungsi mendukung proses pendidikan. Kepala sekolah hendaknya membentuk tim barang (sarpras) sekolah ini agar bisa bersinerga dalam pengeloaan barang. pemeliharaan. 5) pemeliharaan semua fasilitas fisik dan peralatan dengan memperhatikan kesehatan dan keamanan lingkungan. kepala sekolah hendaknya mengkoordinasikan rencana tentang sarpras ini kepada semua pendidik dan tenaga kependidikan terutama pejabat-pejabat sekolah. pengadaan.Perencanaan ini hendaknya dilakukan secara sistematis agar selaras dengan pertumbuhan kegiatan akademik dengan mengacu Standar Sarana dan Prasarana dan dituangkan dalam rencana pokok (master plan) yang meliputi seluruh barang sarpras. 4) menyusun skala prioritas pengembangan fasilitas pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan dan kurikulum masing-masing tingkat. penyimpanan. Sebagai coordinator. pengawasan dan pengendalian. pemanfaatan dan pelaporan. penggunaan dan pemanfaatan.

dapat digunakan format berikut ini yang dapat diisi oleh kepala sekolah. PEMETAAN MASALAH SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH Nama Sekolah : ……………………………. Proses perencanaan ini hendaknya melibatkan seluruh personil sekolah. c. . Untuk memudahkan pemetaan sarpras.. Rencana ini didapat dari hasil analisis pemetaan masalah sarana dan prasarana (sarpras) sekolah dan analisis kebutuhan sarana dan prasarana sekolah yang kemudian dimasukan dalam usulan revisi program pengelolaan sarana dan prasarana sekolah. Pelibatan seluruh personil dijadikan sebagai langkah sosialisasi tentang rencana kebutuhan barang inventaris dan distribusi tugas. pemeliharan dan pengawasan barang inventaris dan non inventaris. Perencanaan Kebutuhan dan Penganggaran Perencanaan kebutuhan barang inventaris dan non inventaris sarana pendidikan dilakukan pada saat sekolah menyusun rencana kerja sekolah baik rencana jangka menengah (RKJM) maupun rencana tahunan (RKT) atau rencana kerja anggaran sekolah (RKAS). Peran kepala sekolah dalam perencanaan ini adalah sebagai direktur (pengarah).dan pemeliharaan (rehabilitasi) dan pemusnahan/penghapusan barang. wakil kepala dan atau semua pejabat fungsional sekolah berdasarkan permasalahan yang dirasakan setiap hari. Dalam proses ini pula harus terencana dengan jelas dari mana sumber anggaran yang akan dipakai untuk pengadaan barang tersebut sehingga dalam pelaksanaannya dapat dimonitor. Kepala sekolah memberikan ide besar dari rencana itu dan memberikan pengarahan cara dan rencana untuk mencapainya. tanggung jawab dan wewenang dalam pengadaan. Kepala sekolah harus mempunyai master plan tentang rencana sekolah dan perencaan pengadaan barang sekolah/sarpras. fungsi. sehingga kebutuhan setiap pendidik atau tenaga kependidikan untuk mewujudkan rencana sekolah tersebut tergambar.

dalam perencanaan dilakukan analisis kebutuhan sarpras. Meter Segera pendek Program Tempat duduk Jangka Revisi 2 Belum ada 8 Buah 8 buah Segera teras pendek Program …. belum ada Pengadaan 4 …. Penghapusan Belum ada Format Jangka Bimbingan 1 Buku rusak Diisi lengkap Segera dokumen Belum diisi pendek Personal 2 …. SNP/Kebutuh Kesenjang NO. Inventarisasi Buku induk Belum di Jangka Bimbingan 1 Belum lengkap Di isi Lengkap Segera barang isi lengkap pendek Personal 2 …... Analisis ini harus disesuaikan dengan perkiraan kenyataan yang akan dirasakan. Set Penghapusan 3 Buku ……. Terus menerus . Format yang dapat digunakan adalah sebagai berikut: ANALISIS KEBUTUHAN SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH SMPN ………. e. Aspek Kondisi Nyata Kesiapan Prioritas Tindak Lanjut an EDS an a. NO.Meter roboh …. c.. Pengadaan Jangka Revisi 1 Pagar ( … Meter ) …. Perawatan Perawatan a.. d. meter …. PERMASALAHAN TINDAK LANJUT 1 Ruang kelas rusak Rehabilitasi 2 Meja kursi peserta didik rusak …. Selanjutnya sebagai langkah proaktif atas perkembangan jaman dan teknologi.. …. b. Pemanfaatan Teguran Lapangan bulu Belum Jangka 1 Belum digunakan Digunakan Segera kepada tangkis terwujud Pendek pembina Eskul 2 ….

Berdasarkan pemetaan dan analisis kebutuh di atas. Perawatan A Berkala 14 Pintu penuh Pengecatan 14 j Kusen dan pintu 2015 coretan pintu baik …. . Jangka Revisi Segera 1. Drainase kurang rapih Drainase rapih belum rapih pendek Program …. barang yang tindak lanjutnya ‘revisi program’ dimasukan ke dalam usulan revisi program dengan format sebagai berikut: USULAN REVISI PROGRAM PENGELOLAAN SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH SMPN ……… Aspek/ Sumber NO. Berkala 1.. Pemanfaatan Lapangan bulu Belum a. Pembangunan a. Perawatan c. Komputer 53 baik 61 baik 12 rusak pendek Program 2. Kusen dan 14 Pintu Jangka Revisi Segera pintu 28 Pintu baik 42 pintu baik rusak pendek Program 2…. Pagar ( … Meter ) …. 14 pintu rusak 2015 gerbang pasang b. …. Penghapusan Buku paket Belum ada Penghapusan 200 a. Perawatan Rehab pintu Perbaikan 10 a. Inventarisasi Dilengkapi terus a. teras 2. 2015 kurikulum 1984 dokumen Eks 5.Meter roboh 2016 kembali Tempat duduk b. Buku induk barang Belum lengkap 2015 menerus 4. …. Kondisi Nyata Usulan Revisi Target Keterangan Aspek Pengadaan 1. Darurat Jangka Revisi Segera 1. Dimanfaatkan 2015 tangkis digunakan 3. ….. Perawatan b.

. Kemudian berdasarkan hasil survey ditetapkan spesifikasi dan tempat pengadaan barang yang akan dipilih untuk ditindaklanjuti . Hal ini untuk menjaga adanya pembagian wewenang dan tanggung jawab dalam pengadaan tersebut. Peran kepala sekolah dalam hal ini adalah sebagai manajer yang menjadi koordinator tim. d. Kepala harus mampu memimpin dan mengarahkan tim agar dapat bekerja sesuai dengan tugas dan wewenangnya.F Sarana 2 Komputer 2 Pembelian BOS 1 Bulan P. proses pengadaan barang dilakukan secara sistematis dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk meyakinkan hal ini maka disusun rencana pengadaan seperti contoh berikut: PENGADAAN SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH SMPN ………… Sumber NO. kepala sekolah hendaknya menunjuk tim pengadaan barang sarpras yang terdiri dari tim atau individu yang bertugas melakukan survey. Tim survey bertugas mencari dan membandingkan harga dari barang yang akan diadakan untuk dilaporkan secara tertulis dan lisan kepada kepala sekolah dan atau pejabat fungsional sarpras dalam bentuk hasil survey. Pengadaan Sesuai dengan rencana dan analisis kebutuhan di atas. tim atau individu yang bertugas melakukan proses pengadaan dan tim atau individu yang bertugas proses penerimaan barang. Perawatan n Darurat B Komputer 5 rusak Perbaikan 5 Unit 2015 …. Sebagai contoh. Jenis Sarana Jumlah Cara Pengadaan Waktu / Target Penanggung Jawab Dana 1 Infocus 10 Pembelian PDM 1 Bulan P.F Sarana 3 Meja siswa 32 Bantuan APBD 1 Semester Kepala Sekolah …. Semua tim hendaknya telah memahami tentang rencana dan target pengadaan serta penanggung jawab kegiatan.

Penyimpanan harus sesuai dengan penggunaan dan pemanfaatannya. Setiap tim atau individu hendaknya memdokumenkan pelaksanaan tugasnya dengan selalu mencantumkan hari tanggal dan tanda tangan. Selanjutnya dibuat dokumen yang berbentuk berita acara. harus adanya dokumen serah terima (lihat format-format yang dipakai) dari pemberi (yang mengadakan pembelian/pengadaan) kepada penerima (tenaga kependidikan penyimpan barang). Barang non inventaris yang habis pakai hendaknya disimpan di tempat yang mudah dijangkau dan barang inventaris lain hendaknya disesuaikan. Wakasek e. Penggunaan dan Pemanfaatan Penyimpanan barang inventaris dan non-inventaris di sekolah pendidikan harus dilakukan oleh pendidik atau tenaga kependidikan ditunjuk atau ditugaskan. . Nama Sekolah Alamat Sekolah Tahun Pelajaran Cara Tanggal / Sumber Penanggung NO Uraian Jenis Sarana Jumlah Pengadaa Pencapaian Kendala Bulan Dana Jawab n Pengeca 1 20-10-2014 Pengadaan Pagar 28x18 M Swakelola PDM 95% Wakasek tan 2 09-08-2014 Pengadaan Sound system 1 Set Swakelola PDM 100% . Penyimpanan. Prosedur penyimpanan barang harus disusun agar dapat terselenggaran dengan sistematis misalnya dalam penerimaan barang. LAPORAN PENGADAAN SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH SMPN …………. Kemudian. Dalam hal ini pejabat fungsional sarana prasana atau tata usaha bagian sarana prasarana.oleh tim pengada/pembeli. Selanjutnya barang beserta dokumennya diserahkan kepada tim penerima/penyimpan barang melalui pemeriksaan yang detil untuk kemudian diinventarisir dan disimpan/diamankan. Pemeriksaan barang secara fisik maupun administrasi kelengkapannya pun harus dilakukan keduanya. Untuk tim pemeriksa/penyimpanan barang dapat menggunakan format berikut untuk mendokumenkan barangnya. barang disimpan dan diadminstrasikan berdasarkan pengelompokkan- pengelompokkan/kategori dan kode tertentu.

Format yang dapat digunakan adalah sebagai berikut: LAPORAN PEMANFAATAN SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH SMPN …………. Walaupun hal ini mungkin terlalu rumit. Kepala harus mampu mengendalikan barang dan administrasinya dengan baik sehingga kapanpun barang itu siap digunakan berikut administrasinya. Kelas/ Sarana yang Waktu No. Format yang bisa digunakan dalam hal pemanfaatan adalah sebagai berikut: JADWAL PEMANFAATAN SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH SMPN …………. Barang yang Nomor kode Tempat Pengguna Tanda No. 8/Ganjil Kelas 100% Rabu Untuk penggunaan sarpras atau barang sekolah yang berbentuk barang elektronik seperti computer meja. harus tercatat pula kapan akan dikembalikan dengan dibubuhi tanda tangan pengguna. f. harus menuliskan administrasi atau dokumen menyangkut kapan. laptop. Yang lebih baik lagi dibuatkan surat perintah mengeluarkan atau menggunakan. kamera. Hari. sound system dan sebagainya. petugas sarpras memasukannya ke dalam buku induk inventaris atau barang . proyektor. Inventarisasi atau Penatausahaan Dalam hal inventarisasi atau penatausahaan. apabila barang telah diserahkan dari penyedia. Mata Pelajaran Target Pencapaian Semester digunakan Penggunaan 1 PAI 8/Ganjil Musholla 100% Senin 2 …. Dokumen ini hendaknya ditulis dalam buku folio besar agar bukunya lebih banyak menampung dokumen. Tanggal digunakan barang Penggunaan barang tangan 1 2 ….. Untuk menertibkan adminstrasinya. siapa. diharuskan ada dokumen yang menyatakan siapa yang menggunakan/mengambil untuk apa dan bila berbentuk barang inventaris. Peran kepala sekolah dalam hal ini adalah sebagai administrator. jam berapa. kapan kembali dan tanda tangan pengguna.. bila barang akan dipakai. siapapun dan kapanpun itu.

Hal ini untuk menertibkan administrasi barang inventaris. Nomor Pembu Harga Ket. Penyaluran dan Pemindahtanganan Penyaluran barang sekolah mesti dilakukan sesuai peruntukkan dengan pengdokumenan dan pengadministrasian yang baik.habis pakai dengan kategori dan kode tertentu sesuai dengan peraturan perundang- undangan. 3 006 OLIMPIC 5 Unit 2012 PDM Baik 2014 Kelas 2014 000 g. penyaluran atau peminjaman. Kepala sekolah harus memahami jenis dokumen yang harus tersedia. Peran kepala sekolah dalam hal inventarisasi adalah administrator. dan harus mampu membagi tugas dan wewenang siapa yang harus melakukan apa terkait inventarisasi ini. Sementara pengendaliannya bisa dilakukan secara bersama-sama antara pejabat fungsional tersebut dengan tenaga kependidikan yang ditunjuk. 3. penggunaan. Bila terjadi peminjaman atau pemindahtanganan. Kursi 10-08. 1 002 Komputer ASSER 2 Unit 2013 BOS Baik 2014 2014 000 05-08. Bara Merk. 04-08. 1. Barang titas Satuan Barang Penyer Baran t kuan ng Ukuran DSB atan ahan g 02-08. maka dokumen .000. Petugas yang bertanggung jawab atas inventarisasi adalah tenaga kependidikan karena diperlukan waktu khusus untuk menatausahakan barang ini. kodefikasi barang. Nama Asal l an Uru Pembu. h. Pendidik atau kepala sekolah cukup melakukan koordinasi saja sehubungan dengan tugas utamanya mengajar dan mendidik. 8. 2 004 CHYTOS 6 Unit 2012 PDM Baik 2014 Rapat 2014 000 07-08. Pengendalian yang dimaksud disini adalah pengadministrasion penyimpanan.500. Lemari 15-08.500. Salah satu dokumen yang harus diisi dalam penatausahaan/inventaris ini adalah buku induk inventaris barang dengan format sebagai beriku: BUKU INDUK INVENTARIS Tangga Keada No Tnggal Kode Keterangan Tahun Nama Kuan. Pengawasan dan pengendalian Pengawasan penggunaan barang inventaris atau habis pakai harus dilakukan salah satu pendidik atau paling tidak pejabar fungsional sekolah bidang sarana prasarana.

pengamanan dan pemeliharaan (rehabilitasi) Penataan dalam penyimpanan barang mesti dilakuan sedemikian rupa sehingga barang yang sering dipakai mudah diambil dan disimpan dengan cepat. Penataan. diperlukan penataan agar pengguna barang mudah menggunakannya dan indah untuk dilihat. Untuk jadwal perawatan dapat menggunakan format sebagai berikut: JADWAL PERAWATAN RUTIN SARANA DAN PRASARANA SMPN 1 CINANGKA Tahun : Yang No. televisi. PERAWATAN SARANA DAN PRASARANA SMPN 1 CINANGKA . Untuk barang yang selalu digunakan misalnya lemari. Untuk meningkatkan keamanan barang. Ruang itu harus terlindung keamanannya misalnya dengan penggunaan teralis besi bagi semua jendela dan konci dobel untuk semua pintu.SERANG Perawatan No. Di dalam ruang itu harus disediakan dokumen pendukung penggunaan barang tersebut. computer. proyektor. IPA √ 3 Perpustakaan √ Perawatan sarpras ini hendaknya dijadwalkan secara rutin dan tertulis dalam kalender kapan dan apa yang harus dilakukan. Kegiatan Target Pencapaian Waktu Bertanggung Jawab 1 Drainase Bersih dari sampah Tiap minggu Ka. TU . Sarana dan Prasarana Keterangan Rutin Berkala Preventatif 1 Ruang kelas √ 2 Lab. Penataan ini menjadi tanggung jawab tenaga kependidikan dan pejabat fungsional sarana prasana yang ditunjuk. i. Bukti peminjaman atau pemindahtangan harus tertulis jelas dan untuk barang yang bernilai tertentu harus dibubuhi materai untuk mendapatkan validasi yang lebih kuat. khususnya barang elektronik seperti laptop. keyboard dan sebagainya diperlukan satu ruang khusus sebagai pusat kendali dari barang tersebut.yang menyertainya harus dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Kegiatan Tindak Lanjut Keberhasilan Hambatan Penambahan 1 Pembersihan drainase 80 Terlalu banyak tenaga kebersihan Penambahan 2 Pembersihan ruangan 75 Terlalu banyak tenaga kebersihan Pembersihan lingkungan Kurang 3 80 Pengarahan siswa kelas peliharaan siswa j. Pemusnahan/Penghapusan Langkah pemusnahan/penghapusan memerlukan pendokumenan seperti langkah penggunaan ini. k. TU 3 (Pembersihan) Kotor Ketika perawatan telah dilaksanakan hendaknya dilaporkan dalam format dan buku khusus untuk dijadikan langkat tindak lanjut atas pemeliharaan atau perawatan barang itu. pengelolaan barang inventaris pun diharuskan mengikuti langkah-langkah manajemen dan melibatkan seluruh personil sekolah. Pelaporan Langkah ini adalah proses tambahan dalam administrasi barang. Sesungguhnya proses ini merupakan bagian dari langkah penatausahaan dimana hasilnya dilaporkan pada beberapa pihak. Hal ini untuk memastikan bahwa system pengendalian penggunaan barang tersebut dapat berjalan. pemeliharaan atau perbaikan harus benar-benar matang sehingga dihasilkan penghapusan barang yang tepat. (Pembersihan) Ruangan Bersih dari kotor Setiap hari Wali kelas 2 (Pembersihan) Halaman Bersih dari sampah dan Setiap hari Ka. Laporan ini harus tertulis dengan baik dalam format seperti berikut ini: LAPORAN PERAWATAN SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH Persentase Kendala / No. Perbandingan biaya penggunaan. Laporan ini dapat berjangka waktu triwulan. standar operasional prosedur penggunaan atau peminjaman harus disusun. Seperti pada langkah manajemen yang lain. Bila perlu. Semua . semester dan tahunan. Penjelasan tentang alasan pemusnahan atau penghapusan memerlukan pertimbangan dan pemikiran yang bijak.

000 1 1 15. Untuk mengefektifkan laporan persediaan atau penggunaan barang habis pakai dapat digunakan format berikut: BERITA ACARA PERHITUNGAN SISA PERSEDIAAN BARANG PAKAI HABIS PADA SMP ……… PER 31 DESEMBER …. pemanfaatan barang tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan dipertangunggugatkan.000 Besar Langkah pelaporan ini baik itu secara manual maupun virtual dapat menunjang terciptanya akuntabilitas sekolah di mata publik.000 15. .langkah yang dilakukan mulai perencanaan. sekolah akan dapat segera menunjukan bukti yang cukup untuk menunjukan bahwa rencana. menanyakan informasi atau bukti penggunaan barang sekolah baik inventaris maupun non inventaris.500 besar 3 Amplop besar 0 0 0 60. HASIL PEMERIKSAAN TANGGAL JANUARI PERSEDIAAN PER 31 DESEMBER URAIAN 2013 2012 SISA No RUSAK JUMLAH HARGA JUMLA KET. SAT DIDISTRIBUS BARANG FISIK /USAN PERSEDIA SATUAN(R H UAN IKAN G AN p) HARGA 1 2 3 4 5 6 7(4+5+6) 8 9 10(8X9 ) 2 Ampolp surat 0 0 0 3. pengadaan sampai dengan penghapusan termasuk nilai rupiah dari barang dicantumkan pada laporan. pelaporan harus selalu dilakukan minimal dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan. Untuk barang habis pakai.000 (dokumen 4 Amplop Surat 1 15. Dengan laporan ini siapapun yang meminta. pengadaan. Hal ini telah biasa dilakukan karena biasanya selalu ada monitoring dari pihak terkait seperti inspektorat.

penilaian. Sebagai manajer kepala sekolah mengkoordinasikan semua personil sekolah terkait pemeliharaan dan penggunaan barang sarpras sekolah. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. penatausahaan. dan pembinaan. pemusnahan. administrator dan supervisor dengan mengoptimalkan format-format dalam dokumen pengelolaan barang. pengawasan dan pengendalian. penggunaan. pendidik dan atau tenaga kependidikan dalam rangka pencapaian akuntabilitas sekolah sebagai institusi publik. pengadaan. Pada setiap langkah pengelolaan ini diperlukan komitmen dan kinerja yang baik dari pejabat sekolah. pengamanan dan pemeliharaan. Yang paling mutakhir adalah Peraturan Pemerintah (PP) nomor 27 tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah dan sebelumnya Permendagri nomor 7 tahun 2007 tentang Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah dan lampirannya. BAB IV KESIMPULAN A. Secara singkat langkah pengelolaan tersebut adalah : perencanaan kebutuhan dan penganggaran. penghapusan. KESIMPULAN Pada bab sebelumnya dikemukakan pertanyaan permasalahan yang dibahas makalah ini yakni bagaimana langkah pengelolaan/manajemen barang sekolah yang baik dan hal apa saja yang dapat dilakukan kepala sekolah untuk melakukan pengelolaan/managemen tersebut dalam rangka mendukung akuntabilitas sekolah. Langkah pengelolaan/manajemen barang yang baik hendaknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sebagai pemimpin. pemanfaatan. manajer. Sebagai administrator. kepala sekolah mengadministrasikan semua proses pengelolaan barang mulai dari perencanaan sampai dengan pelaporan dengan format dan . pemindahtanganan. 2. kepala sekolah memimpin dan mengarahkan tim pengelola barang di sekolah. Hal yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah untuk melakukan pengelolaan/managemen barang sekolah dalam rangka mendukung akuntabilitas sekolah adalah melakukan perannya sebagai pemimpin. Berdasarkan pertanyaan tersebut dan paparan di bab-bab sebelumnya.

peran dan tanggung jawab personil sekolah di luar pejabat fungsional atau tenaga kependidikan yang menangani barang atau sarpras sekolah. memberi saran atas penggunaan. bahwa akuntabilitas sekolah bukan hanya dapat dilihat dari transparansi pengelolaan keuangan sekolah namun dapat dilihat pula dari bagaimana pengelolaan barang. pemeliharan dan semua administrasi barang sekolah. SARAN Berdasarkan hal-hal yang disampaikan di atas beberapa saran dapat dikemukakan. dokumen yang memadai. dalam proses pengelolaan tersebut kepala sekolah selalu mengawasi. pemanfaatan. Dengan dokumen tersebut. pelaksanaan pengelolaan barang memerlukan komitmen dari semua warga sekolah karena penggunaan barang ini melibatkan seluruh warga sekolah di setiap waktu ketika pembelajaran berlangsung. Sekolah akan mampu menyediakan informasi dan mempertanggungjawabkan keputusan. B. Melalui pengelolaan barang yang baik. semua warga harus merasa bertanggung jawab atas keberlangsungan dan keterpeliharaan barang sekolah. Kedua. Penggunaan dan pemanfaatan barang akan sangat mendukung akuntabilitas sekolah. Pertama. mengingatkan. Optimalisasi penggunaan format dalam dokumen barang pada setiap langkah pengelolaan barang akan mempermudah pencapaian akuntabilitas sekolah. Karena itu. dan sebagai supervisor. kebijakan dan kegiatan sekolah apabila penataan dan manajemen barang ini dapat dilakukan dengan baik. Ketiga. bahwa makalah ini memerlukan penelitian lebih lanjut terutama tentang bagaimana persepsi. sekolah akan mampu mempertanggungjawabkan dan mempertanggunggugatkan pengunaan barang tersebut baik kepada atasan atau instansi terkait maupun kepada masyarakat secara luas. maka akuntabilitas sekolah khususnya dan pemerintah umumnya akan terjaga karena masyarakat atau pun instansi terkait dapat memantau dan mengawasi langsung pengelolaan itu dengan melihat dokumen yang tersedia dalam pengelolaan barang tersebut. .

Mulgan. Korea. Korea. 2005. Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori Dan Aplikasinya. “Are You Being Served? Political Accountability and Quality of Government. Ibrahim.” World Bank Policy Research Working Paper No. Mass Perceptions of Government Accountability and Trust in Government: The Case of South Korea. Doo-Rae. Ary H. 2003. 2012. . Seoul. Hartati Sukirman. Seoul. Nomor 7 Tahun 2002 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah dan lampirannya. 2002. Seoul National University. Paper prepared for the International Institute of Administrative Sciences Study Group Workshop on Trust in Public Administration and Citizen Attitudes. 2014. Paper prepared for the International Institute of Administrative Sciences Study Group Workshop on Trust in Public Administration and Citizen Attitudes. Mass Perceptions of Government Accountability and Trust in Government: The Case of South Korea. Richard. & Organization 19(2): 445-490. 3630. 2012. Jakarta: Bumi Aksara. Paper prepared for the International Institute of Administrative Sciences Study Group Workshop on Trust in Public Administration and Citizen Attitudes. Seoul National University. Korea. and Massimo Mastruzzi. Carles Boix. 1981 Manajemen Dan Organisasi Sekolah. Mass Perceptions of Government Accountability and Trust in Government: The Case of South Korea. Seoul. Bafadal. Alícia. Jakarta : Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G). 2012. Depdikbud. Seoul National University. and Mark Payne. Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah dan lampirannya.” Journal of Law. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. “Accountability: An Ever-Expanding Concept?” Public Administration 78(3): 555-573. Doo-Rae. Peraturan Menteri Dalam Negeri. Daniel. Aart Kraay. 2004. “Governance Matters IV: Governance Indicators for 1996-2004. Economics. Dalam Kim. Dalam Kim. DAFTAR PUSTAKA Adserá. Dalam Kim. Peraturan Menteri Dalam Negeri. 2000. BPSDMPK-Kemendiknas. Kaufmann. Doo-Rae. Yogyakarta: UPP IKIP Yogyakarta Gunawan. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Kepala Sekolah/ Madrasah: Bahan Pembelajaran Utama Sarana Prasarana.

Hand Out Teknik Laboraturium.Rasul. dkk. Andreas (1999). 13-28. Defining Accountability. "Conceptualizing Accountability". Paper p for Aids Accountability International (AAI) workshop.2008. in Andreas Schedler. Wirjosoemarto. 2007. D. A. 17/2003 Tentang Keuangan Negara. Plattner: The Self-Restraining State: Power and Accountability in New Democracies. Edisi Kelima (Revisi Keempat). Larry Diamond. dkk. 2004. Modul Pusat Pendidikan Dan Pelatihan Pengawasan Badan Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan. London: Lynne Rienner Publishers. Schedler. Syahrudin. UNIMA : Tondano . Wakhyudi. Akuntabilitas Instansi Pemerintah. 2003. Marc F. Dalam Kyriacou. Pengintegrasian Sistem Akuntabilitas Kinerja dan Anggaran dalam Perspektif UU NO. P. Teknik Laboratorium. pp. Jakarta: PNRI.T. IMSTEP : Jica Kaunang.K.

................... Pembinaan................ 6 f............................................................................................ 5 d....... 17 a............... 7 g.................................................................... 3 D............................................................................................................................................ 6 e.................. Pemindahtanganan .................................................................. Pemanfaatan............................................................................................................................................................................................................................ Makna Akuntabilitas ... 20 .......... 5 c.............................. 4 a.......... 3 E... Perencanaan Kebutuhan dan penganggaran ............. Penilaian......................................... Penggunaan ............................................................ Langkah-langkah Akuntabilitas Sekolah.................................................................................................................................................... Dan Pengendalian . 17 b.............................................. Penatausahaan...... iv BAB I PENDAHULUAN................................. Sistematika Penulisan ............................................... Penghapusan ............................... Prinsip Akuntabilitas ........................................ 4 A............................................................... ii Abstrak ………………………………………………………………………………………………………………………………………….......................................... iii Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………………………………………………......... 9 j.............. Tujuan Penulisan .................................. 8 h............... 16 B................................................................................................ Pengelolaan Barang ................................................................................... 4 b............................................................................ Latar Belakang................... 3 C. 1 A................. 8 i................. Manfaat Tulisan ........................................................................... 3 BAB II PENGELOLAAN BARANG DAN AKUNTABILITAS SEKOLAH .................... DAFTAR ISI Cover ……………………………………………………………………………………………………………………………………………… i Kata pengantar ………………………………………………………………………………………………………………………………................................ Pengawasan...................................................... ............................................................................................................................................................................................................................. Permasalahan........................... Akuntabilitas Sekolah .............................................................................................................................. Pengamanan dan Pemeliharaan ................................... Pengadaan.................................................. 1 B............................................................................................................................. 19 c..........

................ Kendala dalam Pengelolaan Barang ...... ...... 22 B................. 37 ......................................................... Pengelolaan Barang yang Baik ...................................... 36 A................................................................................... KESIMPULAN ........................................ 23 a................ SARAN ................................................................................. Optimalisasi Tugas Pokok dan Fungsi Pegawai Bidang Sarana Prasarana .................................................................................................................................................................................. Pengelolaan Barang Milik Sekolah........................................................................................................ 22 A.......................................... 25 BAB IV KESIMPULAN ................BAB III PEMBAHASAN ................................ 24 b..... 36 B.................................................................................

Related Interests