Bersiwak (membersihkan mulut dengan kayu dari pohon araak) merupakan perbuatan

yang sangat disukai oleh Rasulullah n. Ada beberapa waktu yang sangat dianjurkan
oleh syariat untuk kita bersiwak. Bila kita mampu menjalankan ajaran Rasulullah ini
n, tidak hanya mulut kita yang menjadi bersih, namun pahala dan keridhaan Allah pun
insya Allah bisa kita raih.

Kata siwak bukan lagi sesuatu yang asing di tengah sebagian kaum muslimin, meskipun
sebagian orang awam tidak mengetahuinya disebabkan ketidaktahuan mereka tentang agama.
Wallahul musta’an.
Pengertian siwak sendiri bisa kembali pada dua perkara:
Pertama, bermakna alat yaitu kayu/ranting yang digunakan untuk menggosok mulut guna
membersihkannya dari kotoran. Asalnya adalah kayu dari pohon araak.
Kedua, bermakna fi’il atau perbuatan yaitu menggosok gigi dengan kayu siwak atau
semisalnya untuk menghilangkan warna kuning yang menempel pada gigi dan
menghilangkan kotoran, sehingga mulut menjadi bersih dan diperoleh pahala dengannya
(Fathul Bari 1/462, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim 3/135, Subulus Salam 1/63, Taisirul
‘Allam Syarhu ‘Umdatil Ahkam, 1/62).
Dengan demikian, disenangi bersiwak dengan kayu siwak dari araak atau dengan apa saja
yang bisa menghilangkan perubahan bau mulut, seperti membersihkan gigi dengan kain perca
atau sikat gigi. (Nailul Authar, 1/154)
Namun tentunya bersiwak dengan menggunakan kayu siwak lebih utama. Karena, hal itulah
yang dilakukan oleh Rasulullah n dan ditunjukkan dalam hadits-hadits yang berbicara tentang
siwak.
Hukum bersiwak ini sunnah –tidak wajib– dalam seluruh keadaan, baik sebelum shalat
ataupun selainnya. Dan ini merupakan pendapat yang rajih yang dipegangi oleh penulis. Ini
juga merupakan pendapat jumhur ulama, menyelisihi sebagian ulama yang memandang
wajibnya perkara ini. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi t mengatakan: “Kami tidak mengetahui ada
seorang pun yang berpendapat bersiwak itu wajib kecuali Ishaq dan Dawud Azh-Zhahiri.”
(Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, bab As-Siwak wa Sunnatul Wudhu).
Dalil tidak wajibnya bersiwak ini diisyaratkan dalam hadits:

“Seandainya aku tidak memberati umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak
setiap kali berwudhu.”
Al-Imam Asy-Syafi‘i t mengata-kan: “Dalam hadits ini ada dalil bahwa siwak tidaklah wajib.
Seseorang diberi pilihan (untuk melakukan atau meninggal-kannya, pent.). Karena, jika
hukumnya wajib niscaya Rasulullah n akan memerin-tahkan mereka, baik mereka merasa
berat ataupun tidak.” (Al-Umm, kitab Ath-Thaharah, bab As-Siwak).
Kekhawatiran memberatkan umatnya merupakan sebab yang mencegah Nabi n untuk
mewajibkan bersiwak ini. (Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, 1/195)
Bersiwak merupakan ibadah yang tidak banyak membebani, sehingga sepatutnya seorang
muslim bersemangat melakukannya dan tidak meninggalkannya. Di samping itu, banyak
faedah yang didapatkan berupa kebersihan, kesehatan, menghilangkan aroma yang tak sedap,
mewangikan mulut, memperoleh pahala dan mengikuti Nabi n. (Taisirul ‘Allam, 1/62)
Banyak sekali hadits yang berbicara tentang siwak sehingga Ibnul Mulaqqin t dalam Al-
Badrul Munir mengatakan: “Telah disebutkan dalam masalah siwak lebih dari seratus hadits.”
(Subulus Salam, 1/63)
Karena perkara bersiwak ini disenangi oleh Rasul kita yang mulia n dan tidak pernah beliau
tinggalkan sampai pun menjelang ajalnya, sementara kita diperintah dalam Al-Qur`an untuk
menjadikan beliau sebagai qudwah, suri teladan, maka pemba-hasan tentang siwak tidak
patut kita abai-kan. Ditambah lagi, bersiwak ini termasuk sunnah wudhu dan termasuk

Aku tidak pernah melihat Rasulullah n bersiwak sebagus yang kulihat kali itu. beliau mengangkat tangannya atau jarinya kemudian berkata: “Pada teman-teman yang tinggi (Ar- Rafiqil A‘la)1. 143 dengan Syarh Az-Zarqani. Selengkapnya adalah: . 4449)2 Bersiwak Membersihkan Mulut dan Diridhai Allah I ‘Aisyah x mengabarkan bahwa Nabi n bersabda: “Siwak itu membersihkan mulut.” Lalu beliau pun wafat. kemudian aku berikan pada Nabi n. 70) Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Irwa`ul Ghalil no. 5 dan selainnya. 588) juga mengeluarkan hadits di atas. Ahmad. Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib 1/225). Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih- nya secara mu‘allaq. Al-Majmu‘ 1/328.” (HR. Disebutkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu‘allaq. 6/47.” (HR. Waktu-waktu tersebut adalah sebagai berikut: 1. Al- Bukhari no.thaharah yang kita dianjurkan untuk melakukannya. Setiap akan shalat dan wudhu Abu Hurairah z mengabarkan bahwa Rasulullah n bersabda: “Seandainya aku tidak memberatkan umatku. Ahmad 2/109. Irwa`ul Ghalil no. ‘Aisyah x mengatakan: Aku melihat beliau memandangi siwak tersebut dan aku tahu beliau menyukai bersiwak. (HR. Beliau kemudian bersiwak dengannya. 890. dengan kepala beliau (mengangguk untuk mengiyakan/sebagai persetujuan). Ahmad 2/400.” (HR. Aku pun mengambil siwak tersebut lalu mematahkan ujungnya (dengan ujung gigi) serta memperbaikinya dan membersihkannya. 2517) Waktu-waktu Disunnahkannya Bersiwak Bersiwak adalah sunnah (mustahab) dalam seluruh waktu. An-Nasa`i no. lihat Ash-Shahihah no. Malik dalam Al-Muwaththa` no. Tidak berapa lama Rasulullah n selesai dari bersiwak. ‘Abdurrahman membawa siwak yang masih basah yang dipakainya untuk bersiwak. Al-Misykat no. Amin! Kesenangan Rasulullah n Bersiwak Rasulullah n demikian senang bersiwak. diridhai oleh Ar-Rabb. Al-Bukhari no. Semoga apa yang kami tuliskan ini menjadi ilmu yang bermanfaat dan mudah-mudahan dapat diamalkan oleh kita semua. Beliau tidak melupakannya sampai pun pada detik- detik menjelang beliau dijemput kembali ke sisi Allah I. Nabi n mengangkat pandangan mata beliau. ‘Aisyah x mengabarkan: ‘Abdurrahman bin Abi Bakr Ash-Shiddiq c masuk menemui Nabi n dalam keadaan dadaku menjadi tempat sandaran beliau. Namun ada lima waktu yang lebih ditekankan bagi kita untuk melakukannya (Al-Minhaj 1/135. diridhai oleh Ar-Rabb tabaraka wa ta’ala. 124. niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu. 65) Ibnu ‘Umar c juga mengabarkan hal yang senada dari Nabi n: “Seharusnya bagi kalian untuk ber-siwak. 381. 887) dan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. Maka aku katakan: “Apakah aku boleh mengambilkannya untukmu?” Beliau mengisyaratkan “iya”. hanya saja lafadz akhirnya adalah:(setiap kali hendak mengerjakan shalat). melihat siwak itu. 4438) Dalam satu lafadz. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan An-Nasa`i. Karena dengan bersiwak akan membaikkan (membersihkan) mulut.62. (HR. 238.

” (HR. (Ihkamul Ahkam. 5 dan selainnya. 124. Al-’Abbas bin Abdil Muththalib. Ibnu ‘Umar. Saat bangun tidur di waktu malam Hudzaifah ibnul Yaman z berkata: “Adalah Rasulullah n apabila bangun di waktu malam beliau menggosok mulutnya dengan siwak. Al-Imam Al-Bukhari meriwayat-kannya dalam Shahih-nya secara mu‘allaq. Setelah itu beliau berwudhu. niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali setiap kali hendak mengerjakan shalat. Ahmad 6/24.” (HR. Al- Misykat no. Sehingga disunnahkan bersiwak tatkala terjadi perubahan bau mulut. 594) Ibnu ‘Umar c mengabarkan: “Rasulullah n tidaklah tidur melainkan siwak berada di sisi beliau. adalah karena tidur menyebabkan berubahnya bau mulut. Bila terbangun dari tidur. (Ihkamul Ahkam. ‘Ali bin Abi Thalib. ‘Auf bin Malik z mengabarkan: “Aku pernah bangkit bersama Rasulullah n lalu beliau mulai bersiwak. bab As-Siwak) Dalam hal ini sama saja. kitab Ath-Thaharah.” (HR. 889. 245.62. bab As-Siwak) 2. Al-Bukhari no. Di antaranya Abu Hurairah. baik bangunnya untuk mengerjakan shalat atau tidak. dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih 1/503. dalam rangka menampakkan kemuliaan ibadah. kitab Ath-Thaharah. dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih 1/503) Alasan disenanginya bersiwak pada saat seperti ini. Ahmad 2/117. kitab Ath-Thaharah. 381. Zaid bin Khalid. Abdullah bin Hanzhalah.” (HR. Irwa`ul Ghalil no. . 238. dan selain mereka g. diridhai oleh Ar-Rabb. Muslim no. 1136 dan Muslim no. Ahmad 6/47. 65) Sementara membaca Al-Qur`an tentunya menggunakan mulut. Ketika hendak membaca Al-Qur`an Dengan dalil sabda Rasulullah n: “Siwak itu membersihkan mulut.” Permasalahan disunnahkannya bersi-wak ketika hendak shalat dan berwudhu ini diriwayatkan dari sejumlah shahabat.“Seandainya aku tidak memberatkan umatku. (Sunan At-Tirmidzi.” Ada pula yang berpendapat bahwa perkaranya berkaitan dengan malaikat. kata Al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied t. bab Maa Ja’a fis Siwak) Ibnu Daqiqil ‘Ied t berkata: “Rahasia dianjurkannya kita bersiwak saat hendak shalat adalah kita diperintahkan dalam setiap keadaan taqarrub (mendekat-kan) diri kepada Allah U untuk berada dalam kesempurnaan dan kebersihan.504) 4. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan An-Nasa`i. An-Nasa`i no. 589) 3. Karena malaikat akan terganggu dengan aroma tidak sedap yang keluar dari mulut seseorang. beliau mulai dengan bersiwak. Ketika masuk rumah Syuraih bin Hani` pernah bertanya kepada ‘Aisyah x: “Apa yang mulai Nabi n lakukan apabila beliau masuk rumah?” Aisyah menjawab: ‘Beliau mulai dengan bersiwak’. Kemudian beliau bangkit untuk mengerjakan shalat dan aku pun bangkit bersama beliau…” (HR. Sedangkan siwak merupakan alat untuk membersihkan mulut. 592.

(Al-Hawil Kabir. Apabila keadaan menuntut untuk bersiwak dengan memanjang. 1/85) Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t mengatakan tentang permasalahan cara menggunakan siwak. hendaklah ia melakukannya dengan sungguh-sungguh. apakah memanjang atau melintang: “Memungkinkan untuk dikatakan: cara penggunaannya kembali kepada apa yang dituntut oleh keadaan. menunjukkan disenanginya bersiwak menggunakan siwak yang basah sebagaimana dalam hadits Ummul Mukminin ‘Aisyah x yang telah lewat ten-tang bersiwaknya Rasulullah n menjelang wafatnya. 1/105) Bersiwak dengan Tangan Kanan atau Tangan Kiri? Manakah yang lebih utama bersiwak dengan menggunakan tangan kanan atau tangan kiri? Zainuddin Abul Fadhl Abdurrahim bin Al-Husain Al-‘Iraqi t berkata: “Sebagian orang belakangan dari kalangan Hanabilah yang pernah aku lihat menyebutkan bahwa ia bersiwak dengan tangan kanannya. ketika itu beliau sedang bersiwak dengan siwak basah. sedangkan tangan kiri beliau gunakan untuk cebok dan untuk . kitab Ath- Thaharah. sampai- sampai hendak muntah karenanya. Dan siwak dijalankan di atas ujung-ujung gigi dan pangkal gigi geraham agar semuanya bersih dari kotoran warna kuning dan perubahan bau yang ada. maka dilakukan dengan melintang. (Fathul Bari 1/463. banyak berbicara dan bisa juga karena lapar yang sangat. 1/135) Bersungguh-sungguh dalam Bersiwak Ketika seseorang bersiwak. maka disenangi menggunakan-nya dengan tangan kiri. Al-Minhaj.4 Saya sendiri pernah mendengar dari sebagian guru kami dari kalangan Syafi’iyyah bahwa perkaranya dibangun di atas permasalahan apakah siwak itu termasuk bab tath-hir (pensucian) dan tathyib (mewangi-wangikan).” (HR. (Al-Hawil Kabir 1/85. 591) Hadits di atas menunjukkan Rasulullah n bersungguh-sungguh dalam bersiwak. Namun bila kita menganggapnya termasuk bab menghilang-kan kotoran. 244 dan Muslim no. karena memakan makanan yang memiliki aroma menusuk/tidak sedap. Al-Bukhari no. bab As-Siwak) Cara Bersiwak Kata Al-Imam Al-Mawardi t. Ihkamul Ahkam. disenangi menggunakan siwak secara melintang ketika menggosok permukaan gigi dan bagian dalamnya. atau termasuk bab menghilangkan kotoran? Bila kita menganggapnya termasuk bab tath-hir dan tathyib maka disenangi menggunakan siwak dengan tangan kanan. mengenakan sandal. dan bersiwak. maka dilakukan dengan memanjang. Di samping itu. o’3″ sedangkan siwak di dalam mulut beliau. bersuci. Ujung siwak itu di atas lidah beliau dan beliau mengatakan “o’. Di antaranya: karena tidak makan dan minum. Abu Musa Al-Asy‘ari z menceritakan: “Aku pernah mendatangi Nabi n. Selain itu. Dijalankan pula di atas langit-langit dengan perlahan untuk menghilangkan bau yang ada.” (Asy-Syarhul Mumti’. Saat bau mulut berubah Perubahan bau mulut bisa terjadi karena beberapa hal. demikian pula bangun dari tidur. Apabila keadaan menuntut untuk bersiwak dengan melintang. sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah n. seakan-akan beliau hendak muntah. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah x yang menyatakan bahwa tangan Rasulullah n yang kanan beliau gunakan untuk bersuci dan untuk makan. diam yang lama/tidak membuka mulut untuk berbicara. hadits ini menunjukkan bahwa selain digunakan untuk membersihkan gigi. siwak dapat pula digunakan untuk membersihkan lidah. Karena tidak adanya sunnah yang jelas dalam hal ini. Karena terdapat dalam sebagian jalan hadits ‘Aisyah x yang masyhur bahwa Rasulullah n menyenangi mendahulukan yang kanan ketika menyisir rambutnya.5.

Sedangkan tangan kiri beliau gunakan untuk selain itu. Karena khawatir dia akan muntah atau mengeluarkan darah sehingga mengotori masjid. karena . Dengan demikian bersiwak tidak dilakukan dengan tangan kiri. Sementara sunnah merupakan ketaatan dan amalan qurbah (mendekatkan diri) kepada Allah I. (Al-Mughni. Abu Dawud no. karena siwak itu sunnah. Karena siwak itu untuk menghilangkan kotoran. hingga sampai pada tingkat hendak muntah padahal berada di masjid. niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali setiap kali hendak mengerjakan shalat. sepantasnya seseorang tidak berlebih-lebihan dalam melakukannya. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta`. Bila ia bersiwak untuk mensucikan mulut sebagaimana bila ia bangun dari tidurnya atau menghilangkan makanan yang tersisa maka dia bersiwak dengan tangan kiri. minumnya dan berpakaiannya. maka dilakukan dengan tangan kiri. memulai dengan anggota kanan dalam bersuci/wudhu. berdasarkan keumuman hadits: “Seandainya aku tidak memberatkan umatku. memulai dengan sisi yang kanan dari mulut dalam bersiwak sebagaimana telah lewat.5 Abu Dawud meriwayatkan pula dari hadits Hafshah bintu ‘Umar c: “Beliau menggunakan tangan kanan beliau untuk makannya. Sebagian Malikiyyah berkata: “Dalam hal ini dirinci. no. sehingga boleh dilakukan di dalam maupun di luar masjid bila memang diperlukan. memulai kaki kanan dalam memakai sandal. Adapun bila dinyatakan Rasulullah n menggunakan tangan kanan-nya untuk melakukan hal itu. 5/128) Ibnu Qudamah t menyatakan disenanginya tayammun (mendahulukan bagian yang kanan) dalam bersiwak dan disenangi mencuci siwak dengan air untuk menghilangkan kotoran yang mungkin menempel padanya.” (HR. Abul ‘Abbas Al-Qurthubi dari kalangan Malikiyyah secara jelas menyatakan pendapat ini.”6 Namun sebenarnya dalil yang dijadi-kan sandaran oleh kalangan Hanabilah tersebut7 tidaklah mendukung pendapatnya (yaitu bersiwak menggunakan tangan kanan).” Namun. 2432. fashl Al-Istiyak ‘alal Asnan wal Lisan) Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berkata: “Ulama berbeda pendapat.” (Tharhut Tatsrib 1/233) Namun larangan bersiwak dalam masjid ini tidak ada dalilnya. Lalu aku menggunakannya untuk bersiwak. berdasarkan kaidah bahwa tangan kiri digunakan untuk kotoran sedangkan tangan kanan untuk yang selainnya. Bila ia bersiwak untuk memperoleh amalan sunnah maka dilakukan dengan tangan kanan. Apabila siwak ini dianggap ibadah maka asalnya dilakukan dengan tangan kanan. karena tangan kiri itu digunakan untuk meng-hilangkan kotoran. Sebagaimana ‘Aisyah x mengabarkan: “Nabiyullah n pernah bersiwak. bersiwak termasuk bab menghilangkan kotoran seba-gaimana menghilangkan ingus dan semisal-nya. maka hal ini butuh penukilan (riwayat). kemudian mencucinya. Sebagian mereka menga-takan: dengan tangan kanan. lalu memberiku siwak tersebut untuk kucuci.’ Ini pendapat yang masyhur dalam madzhab ini (Hanabilah). karena berkaitan dengan menghilangkan kotoran. Haditsnya diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih. apakah bersiwak dilakukan dengan tangan kanan atau tangan kiri. setelahnya menye-rahkannya kepada beliau8. 52). sedangkan menghilangkan kotoran dilakukan dengan tangan kiri seperti halnya istinja` (cebok) dan istijmar (bersuci dengan menggunakan batu). kitab Ath-Thaharah. Wallahu a‘lam. Yang dzahir. Ulama yang lain mengatakan: ‘Bersiwak menggunakan tangan kiri lebih utama. Beliau berkata dalam Al-Mufhim menghikayatkan dari Al-Imam Malik: “Tidak boleh bersiwak dalam masjid karena bersiwak termasuk menghilangkan kotoran. Karena yang dimaukan dengan hadits tersebut adalah memulai bagian/belahan kanan dalam bersisir.perkara yang bersentuhan dengan kotoran.

Sementara Al- Imam Ahmad dan Ishaq memakruhkannya bila dilakukan di akhir siang. adalah Abu Hanifah dan Malik.ia bersiwak dengan tujuan untuk melakukan qurbah (mendekatkan diri pada Allah). kemudian ia hendak mengerjakan shalat. Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah. syuhada dan orang-orang shalih. kembali kepada dalil-dalil yang umum.Disenanginya menggunakan siwak yang basah . Karena dha’if. Abu Dawud dan lain-lainnya ini dha’if/lemah.Boleh bersiwak di hadapan orang lain.Sebelum digunakan sebaiknya siwak diperbaiki/dibaguskan terlebih dahulu . 1/105) Boleh Bersiwak saat Berpuasa Dalam hal ini ada hadits dari ‘Amir bin Rabi’ah z: “Aku melihat Rasulullah n dalam beberapa kali yang tidak bisa aku hitung. tambahan ini ada dalam riwayat Abu Dawud. karena tidak adanya nash yang jelas yang menetapkan-nya. berarti hadits ini tidak bisa dijadikan sebagai sandaran/hujjah. saat puasa ataupun tidak.) perkaranya lapang dan tidak dibatasi. Fathul Bari 1/464 ) 3 Yakni mengeluarkan suara seperti orang yang hendak muntah. karena bersungguh- sungguhnya beliau bersiwak. Al-Imam Asy-Syaukani berkata: “Yang benar adalah disunnahkan siwak bagi orang yang puasa. Al-Imam At-Tirmidzi t menyata-kan: “Al-Imam Asy-Syafi’i berpandangan bahwa tidak mengapa bagi orang yang berpuasa untuk bersiwak pada awal dan akhir siang. Sehingga permasalahan bolehnya bersiwak ketika sedang puasa. karena adanya perawi yang lemah sebagaimana dijelaskan dalam Irwa`ul Ghalil (hadits no. 4140 . kitab Ash-Shaum. (Fathul Bari. 1/159) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. Seorang pemimpin/tokoh tidaklah tercela bila melakukannya di hadapan orang yang dipimpinnya/bawahannya sebagaimana Rasulullah n sebagai seorang rasul/imam dan pimpinan umat melakukannya di hadapan ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq c (Ihkamul Ahkam. sebagaimana bila ia baru saja berwudhu dan ia bersiwak ketika wudhu. 1/463) 4 Haditsnya diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.” (Asy-Syarhul Mumti’.” Namun hadits yang diriwayatkan oleh Ar-Tirmidzi. pent. bab As-Siwak. bab Ma Ja’a fis Siwak lish-Sha`im) Di antara yang berpendapat disun-nahkannya bersiwak secara mutlak. Maka ia bersiwak untuk memperoleh pahala amalan sunnah. baik di awal siang ataupun di akhirnya.” (Nailul Authar.” (An-Nisa`: 69) 2 Hadits di atas menunjukkan beberapa hal: . (Namun yang benar. Mereka itu adalah sebaik-baik teman. kitab Thaharah. no. shiddiqin. Catatan Kaki: 1 Isyarat dari Nabi n kepada firman Allah I: “Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka itu bersama orang-orang yang Allah berikan kenikmatan kepada mereka dari kalangan para nabi. yakni bersiwak bukan perkara yang harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Dan pendapat ini yang penulis rajihkan. Seperti hadits yang berisi anjuran untuk bersiwak ketika hendak shalat dan saat berwudhu. namun tanpa penyebutan bersiwak.Boleh menggunakan siwak milik orang lain setelah dibersihkan . beliau bersiwak dalam keadaan beliau puasa. 68).” (Sunan At- Tirmidzi. Ini merupakan madzhab jumhur.

Dan barang siapa yang telah Allah sesatkan jalannya. Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan. َ‫ض ِل ْلهُ فَال‬ْ ُ‫ َم ْن يَ ْه ِد ِه هللاُ فَالَ ُم ِض َّل لَهُ َو َم ْن ي‬. yakni memakai siwak tersebut pada mulutku sebelum dicuci agar mendapatkan barakah mulut Rasulullah n”. semuanya. 1/348 6 Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ Ash-Shaghir. Semoga salawat serta keselamatan tercurahkan selalu kepada Nabi dan Rasul termulia.‫سالَ ِم‬ ْ ‫ان َواْ ِإل‬ ِ ‫ِي أ َ ْنعَ َمنَا بِنِ ْع َم ِة اْ ِإل ْي َم‬ ْ ‫ا ْل َح ْم ُد ِهللِ الَّذ‬ ‫بَ ْع ُد‬ Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah memberi sebaik-baik nikmat berupa iman dan islam. maka tiada yang bisa memberinya petunjuk.ُ‫ِي لَه‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫س‬ ‫و‬ ‫َل‬ ‫ص‬ ‫م‬ ‫ه‬ َّ ‫ل‬‫ل‬ َ ‫َهاد‬ Artinya: Kami panjatkan segala puji padaNya dan kami meminta pertolonganNya. maka tiada yang bisa menyesatkannya. kata ‘Aisyah. Salawat dan doa keselamatanku terlimpahkan selalu kepada Nabi Agung Muhammad Saw berserta keluarga dan para sahabat-sahabat Nabi semuanya ‫ع ْب ِد هللاِ أَ َّما بَ ْع َد ُه‬َ ‫سيِ ِدنَا َو َم ْوالَنَا ُم َح َّم ِد ب ِْن‬ َ ِ‫س ْو ِل هللا‬ ُ ‫ع َلى َر‬ َ ‫سالَ ُم‬ َّ ‫صالَةُ َوال‬ َّ ‫ا ْلح َْم ُد ِهللِ َوال‬ Artinya: Puji syukur kepada Allah dan doa salawaat serta doa keselamatan kepada rasulullah junjungan dan pembimbing kita. semuanya. “Aku menggunakannya”.‫ت أ َ ْع َما ِلنَا‬ ِ ‫س ِيئ َا‬ َ ‫سنَا َو ِم ْن‬ ِ ُ‫ستَ ْغ ِف ُرهُ َونَعُ ْوذُ بِاهللِ ِم ْن ش ُُر ْو ِر أ َ ْنف‬ ْ َ‫ست َ ِع ْينُهُ َون‬ ْ َ‫نَحْ َم ُدهُ َون‬ ‫ع َلى ا َ ِل ِه َوصَحْ ِب ِه أَجْ َم ِع ْينَ أ َ َّما َب ْع ُد‬ َ ‫س ِي ِدنَا ُم َح َّم ٍد َو‬َ ‫ى‬ َ ‫ل‬‫ع‬َ ْ ِ َ َ ِ َّ ُ َ ‫ ا‬. 8 Dalam ‘Aunul Ma‘bud Syarah Abi Dawud disebutkan: “Setelah beliau n menggunakan siwak untuk membersihkan mulutnya. Seraya memohon ampun dan meminta perlindunganNya dari segala keburukan jiwaku dan dari kejelekan amaliahku. yakni mencuci siwak tersebut untuk mengharumkan dan membersihkannya. 2/4912 7Yaitu hadits yang menyatakan: Rasulullah n menyenangi mendahulukan yang kanan ketika menyisir rambutnya. LAGI contoh-contoh mukaddimah CERAMAH Berikut ini adalah contoh-contoh mukaddimah (pembukaan) untuk pidato/ ceramah beserta arti yang saya susun sendiri. (Kitab Ath-Thaharah. karena keterbatasan ilmu saya.5 Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Misykatul Mashabih. ‫ع َلى اَ ِل ِه َوصَحْ بِ ِه أَجْ َم ِع ْينَ أَ َّما‬ َ ‫سيِ ِدنَا ُم َح َّم ٍد َو‬ َ ‫ع َلى َخي ِْر اْألَنَ ِام‬ َ ‫س ِل ُم‬َ ُ‫ َونُص َِل ْي َون‬. Nabi Muhammad bin Abdillah. ‘Aisyah pun menyatakan: “Aku mencucinya”. Barangsiapa yang telah Allah tunjukkan jalan baginya. mengenakan sandal. Berserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. bersucinya. Ya Allah limpahkanlah salawat dan salam bagi Muhammad saw berserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Contoh 1 : . beliau menyerahkan kepada ‘Aisyah untuk dihilangkan kotoran yang mungkin menempel pada siwak tersebut agar tabiat itu tidak merasa jijik untuk menggunakannya pada kali yang lain. bab Ghaslus Siwak) ‫علَى اَ ِل ِه َوصَحْ ِب ِه أَجْ َم ِع ْينَ أ َ َّما بَ ْع ُد‬ َ ‫س ِل ْينَ َو‬ َ ‫اء َوا ْل ُم ْر‬ ِ َ‫ف اْألَ ْن ِبي‬ ِ ‫علَى أَش َْر‬ َ ‫سالَ ُم‬ َّ ‫صالَةُ َوال‬ َّ ‫ب ا ْلعَالَ ِم ْينَ َوال‬ ِ ‫ا ْل َح ْم ُد ِهللِ َر‬ Artinya: Segala puji bagi Allah Sang Penguasa alam semesta. dan bersiwaknya.

dan begitu pula pada keluarganya yang baik. kepada para sahabat piluhan.‫الدي ِْن‬ ِ ‫ان ِإلَى يَ ْو ِم‬ ٍ ‫س‬ َ ‫َو َم ْن ت َ ِب َع ُه ْم ِبإ ِ ْح‬ Segala puji bagi Allah. dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. . penutup para nabi dan rasul. yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat hamba-hambanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. al-Malik Al-Haqq.ُ‫س ْولُه‬ َ ‫أ َ ْن الَ ِإلَهَ ِإالَّ هللا َوأ َ ْش َهد ُ أ َ َّن ُم َح َّمدًا‬ ُ ‫ع ْبدُهُ َو َر‬ ‫ص ْح ِب ِه َو َم ِن ا ْهتَدَى ِب ُهدَاهُ ِإلَى َي ْو ِم ْال ِق َيا َم ِة‬ َ ‫ ُم َح َّم ٍد َو َعلَى آ ِل ِه َو‬. Contoh 3 : ‫اء بُ ُر ْو ًجا‬ ِ ‫س َم‬ َّ ‫ِي َج َع َل فِي ال‬ ْ ‫ار َك الَّذ‬ َ َ‫ تَب‬،‫صي ًْرا‬ ْ ‫ا َ ْل َح ْمدُ ِ َّّلِلِ الَّذ‬ ِ َ‫ِي َكانَ بِ ِعبَا ِد ِه َخبِي ًْرا ب‬ ُ‫ أ َ ْش َهدُ ا َ ْن الَ ِإلَهَ ِإالَّ هللاُ وأ َ ََ ْش َهدُ ا َ َّن ُم َح َّمدًا َع ْبدُه‬. yang diutus dengan kebenaran. Al-Mubin. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya. dan petunjuk-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. kita memuji-Nya dan meminta pertolongan. dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.‫واليقين‬ ِ ‫ان‬ ِ ْ ِ‫ الَّذِي َحبَانَا ب‬،‫ق ْال ُمبِي ِْن‬ ِ ‫اْل ْي َم‬ ِ ‫ا َ ْل َح ْمدُ ِهللِ ْال َم ِل ِك ْال َح‬ ،‫ار أ َ ْج َم ِعين‬ ِ َ‫ص َحابِ ِه األ َ ْخي‬ َّ ‫ َو َعلَى آ ِل ِه‬،‫س ِلين‬ ْ َ ‫ َوأ‬،‫الطيِبِيِن‬ َ ‫اء َوال ُم ْر‬ِ َ‫ٍ خَات َ ِم األ َ ْنبِي‬،‫ُم َح َّمد‬ ُ ‫ أ َ َّما بَ ْعد‬. yang memberikan kita iman dan keyakinan. Ya Allah. limpahkan shalawat pada pemimpin kami Muhammad.ُ‫ِي لَه‬ َ ‫ض ِل ْل فَالَ هَاد‬ ْ ُ‫ض َّل لَهُ َو َم ْن ي‬ ِ ‫ َم ْن يَ ْه ِد ِه هللاُ فَالَ ُم‬،‫ت أ َ ْع َما ِلنَا‬ ِ ‫سيِئَا‬ َ ‫َو ِم ْن‬ ‫ار ْك َعلَى‬ ِ َ‫س ِل ْم َوب‬ َ ‫ص ِل َو‬ َ ‫ اَللَّ ُه َّم‬. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. dan cahaya penerang bagi umatnya. semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya. yaitu doa dan keselamatan yang berlimpah. mengajak pada kebenaran dengan izin-Nya. Ya Allah. Ya Allah. Segala puji bagi Allah. Dia-lah yang menciptakan bintang-bintang di langit.‫س ِل ْم ت َ ْس ِل ْي ًما َكثِي ًْرا‬ َ ‫ص ِل َعلَ ْي ِه َو َعلَى آ ِل ِه َو‬ َ ‫ص ْح ِب ِه َو‬ َ ‫ اَللَّ ُه َّم‬. curahkan sholawat dan salam bagi nya dan keluarganya.‫َو َج َع َل فِ ْي َها ِس َرا ًجا َوقَ َم ًرا ُمنِي ًْرا‬ ‫ق ِبإ ِ ْذنِ ِه َو ِس َرا ًجا‬ِ ‫ َودَا ِع َيا ِإلَى ْال َح‬،‫ق َب ِشي ًْرا َونَ ِذي ًْرا‬ ِ ‫ِي َب َعثَهُ ِب ْال َح‬ ْ ‫سولُهُ الَّذ‬ ُ ‫ُو َر‬ ‫ أ َ َّما َب ْعدُ؛‬. Maha suci Allah.‫ُم ِني ًْرا‬ Segala puji bagi Allah. َ ‫ص ِل َعلَى‬ ‫سيِ ِدنَا‬ َ ‫ اَللَّ ُه َّم‬. pengampunan. Contoh 2 : ‫ش ُر ْو ِر أ َ ْنفُ ِسنَا‬ُ ‫إِ َّن ْال َح ْمدَ ِ َّّلِلِ ن َْح َمدُهُ َونَ ْست َ ِع ْينُهُ َونَ ْست َ ْغ ِف ُر ْه َونَ ْست َ ْه ِد ْي ِه َونَعُوذ ُ بِاهللِ ِم ْن‬ ُ ‫ أ َ ْش َهد‬. dan dijadikan padanya penerang dan Bulan yang bercahaya. dan yang mengikuti mereka dengan penuh ihsan hingga hari kiamat.

kedua melalui keluarga dan ketiga adalah mewujudkan kebahagiaan di dalam masyarakat. Agama yang menguatkan masyarakatnya setiap saat dengan kekuatan aqidah dan pedoman dalam Alquran. Islam adalah agama yang menyelamatkan manusia dari segala macam kemungkaran.Bapak Kepala Desa yang kami hormati. maka masyarakat yang ada juga baik. Pertama secara individu. Tidak mungkin masyarakat terbentuk jika tidak ada kumpulan keluarga di dalamnya. kepada keluarganya. para sahabat dan kaum muslimin yang mengikuti ajarannya sampai hari akhir nanti. Mengapa? Sebab keluarga adalah unsur pertama pembentuk masyarakat. Untuk itu. lalu mereka berkata: Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Karena itulah Islam sejak awal memperhatikan pendidikan keluarga beserta seluruh komponennya. Agama yang menguatkan umatnya dengan persaudaraan dan tolong-menolong. jika terdapat komponen yang buruk dalam setiap keluarga. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. telah mengucapkan perkataan yang jauh dari kebenaran. Allah berfirman dalam Alquran Surat Al Kahfi ayat 13 dan 14. Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri. maka masyarakat pun juga buruk.” Hadirin sekalian yang dirahmati Allah. Jika komponen dalam setiap keluarga baik. Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia. Rasulullah senantiasa mengajak kita untuk mewujudkan kebaikan dalam hidup. Sesungguhnya jika kami demikian. . “Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. Dan sebaliknya. Ketua Organisasi Remaja Islam dan hadirin yang berbahagia. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa melimpahi kita dengan berbagai macam kenikmatan dan telah memberikan kita jalan agama yang di dalamnya terdapat kebaikan dunia dan akhirat. Para pemuda yang beriman kepada Allah.