Tato Dayak Ma’anyan, Antara Ada dan Tiada?!

Oleh: Metusalakh Rizky Nayar

“tato tidak dipraktekkan” (Het tatoeëren is niet in gebruik): Letnan C. Bangert,
(Bangert, 1857 dalam Indische Taal Land-en Volkenkunde (IX) 1860: 152-153).

Munculnya gairah pencarian atas kemungkinan adanya tato Dayak Ma’anyan merupakan
akibat semangat kedaerahan dan persatuan Dayak di Kalimantan. Generalisasi Dayak, termasuk
Ma’anyan yang “dipukul rata” berarti juga membuka kemungkinan Ma’anyan dianggap memiliki
sejarah tradisi tato. Kemungkinan besar Dayak Ma’anyan tidak mempraktekkan tato sebagai
keharusan dan adat-istiadat mereka. Meskipun tidak ditemukan informasi sejarah tato Dayak
Ma’anyan, dewasa ini ada segelintir generasi muda Ma’anyan mencoba “menciptakan” motif-motif
tato tertentu yang bernuansa tradisional dengan motif-motif ukiran yang umumnya ditemukan di
Kalimantan. Motif-motif baru hasil cross culture tersebut kemudian memberikan warna kontribusi
bagi tato Dayak Ma’anyan. Di sisi lain upaya anak-anak Ma’anyan tersebut patut dihargai,
kreatifitas dan sumbangsih yang diberikan memperlihatkan bahwa mereka menaruh perhatian pada
sesuatu yang tidak ada, tetapi dapat diciptakan menjadi ada...

1. DAYAK
Kata Dayak pertama kali muncul pada tahun 1757 dalam tulisan J.D. van Hohendorff,
Radicale Beschrijving van Banjermassing yang dipakai untuk menyebut orang-orang liar di
pegunungan (1862: 188). Tampaknya, kata ini dipungutnya begitu saja dari cara orang-orang
pantai menyebut orang pedalaman. J.A.Crawfurd dalam bukunya A Decriptive Dictionary of
The Indian Islands and Adjacent Cauntries (1856: 127) menyatakan bahwa istilah Dyak
digunakan oleh orang-orang Melayu untuk menunjukan ras liar yang tinggal di Sumatra,
Sulawesi dan terutama di Kalimantan. Beberapa penulis menyatakan istilah Dayak
kemungkinan berasal dari bahasa Melayu aja yang artinya penduduk pedalaman (boven
beteekent) atau penduduk asli (native) (Adriani, 1912: 2; Schärer, 1946/1963:1; King,
1993:30).
Penamaan ini terus dipakai hingga kini seperti yang dilaporkan oleh Tania Li (2000:
25) bahwa pada masa kini, dalam administrasi resmi pemerintahan di Sulawesi, tetap
menggunakan kata Dayak untuk menyebut suku-suku terasing-terkebelakang yang ada di
wilayah pemerintahan mereka. Orang-orang Melayu pendatang menggunakan istilah Dayak
secara general untuk menyebut penduduk pulau Kalimantan yang tidak beragama Islam.
Dikemudian hari, dikotomi etnis berdasarkan paham religius yang berasal dari orang Melayu
ini dipakai begitu saja oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk kepentingan administrasi
kependudukan, yaitu penduduk non muslim (Kristen atau Kaharingan) dikategorikan sebagai
suku Dayak dan penduduk Muslim disebutnya sebagai suku Banjar (Mallinckrodt, 1928: I,
9).1
Pada awal abad 20, ketika semangat nasionalisme berhembus kuat di kepulauan
nusantara yang ditandai dengan kebangkitan rasa kebangsaan. Kelompok terdidik Dayak,
yang pada waktu itu sudah menduduki beberapa posisi di pemerintahan Belanda, tidak luput
dari semangat ini. Mereka dengan sadar mengadopsi kata Dayak dan membangun
kebanggaan diri menjadi orang Dayak. Pada tahun 1919 mereka mendirikan satu organisasi
sosial politik berbasis etnis yang bernama Pakat Dayak atau Sarekat Dayak. Sejak saat itu,
nama Dayak dipakai oleh orang Dayak sendiri sebagai nama generik untuk mempersatukan
semua suku-suku di Kalimantan yang bukan Melayu atau Banjar. Identitas Dayak dipakai
untuk memperjuangkan hak-hak sosial-politik, dibawa masuk ke pentas perjuangan politik
nasional, sejajar dengan identitas lain. Sebelum Perang Dunia Kedua, sudah tampak ada
sepuluh organisasi yang memakai nama Dayak.
Untuk membedakan diri dari suku-suku Dayak lainnya, misalnya Ngaju, Dusun,
Lawangan, atau Ot Danum maka kata Dayak dijadikan prefiks, sehingga menjadi Dayak
Ma’anyan. Begitu juga dengan suku-suku lain. Dengan demikian muncul penamaan baru
yaitu Dayak Ma’anyan. Identitas ini dipakai hingga kini. Terminologi Dayak Ma’anyan telah
diadopsi, dipakai dalam kehidupan sehari-hari oleh orang Ma’anyan.2

2. DAYAK MA’ANYAN
Sebelumnya, orang Ma’anyan tidak dikenal dengan istilah Dayak Ma’anyan atau
Ma’anyan, seperti sekarang ini, melainkan dikategorikan masuk ke dalam Dayak Ngaju.
Sekitar pertengahan abad 16, dalam literatur-literatur awal yang ditulis pada masa-masa awal
kesultanan Islam Banjarmasin, misalnya Hikajat Banjar (Ras, 1968: 196; Hall, 1995: 489),
Orang Ma’anyan juga disebut Biaju. Terminologi Biaju dipakai untuk menyebut nama
sekelompok masyarakat, sungai, wilayah dan pola hidup (Ras, 1968: 336). Terminologi Biaju
berasal dari bahasa orang Bakumpai, dengan mengacu kepada kata bi dan aju, yang artinya
dari hulu atau dari udik.
Di kemudian hari, istilah ini dipungut begitu saja oleh orang Melayu Banjar untuk
menyebut semua orang pedalaman hulu sungai yang tidak beragama Islam. Istilah ini
kemudian diperkenalkan kepada para pedagang dari Cina, Inggris, Portugis yang berlabuh di

1
Marko Mahin, Kaharingan-Dinamika Agama Dayak di Kalimantan Tengah, Depok: Disertasi Doktoral
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia, 2009, 132-137
2
Ibid, 136-138
pelabuhan Banjarmasin. Karena itu dalam catatan pelayaran para pedagang Cina, Portugis
dan Inggris dapat ditemukan kata Biaju yang merujuk pada suku di pedalaman yang bukan
orang Banjar dan tidak beragama Islam (Groeneveldt, 1880; Beckman 1718). Dalam Hikayat
Cina Dinasti Ming (1368-1643), yakni catatan pelayaran para pedagang Cina ketika berlabuh
di Banjarmasin, disebutkan tentang orang Beaju, yang dalam lafal Hokkian (Fujian) ditulis
Be-oa-jiu (Groeneveldt 1876:106-107). Daniel Beeckman, seorang pelaut Inggris, Ketika
mengunjungi Banjarmasin pada tahun 1718 (Beeckman, 1973: 43) melaporkan bahwa
penduduk Banjarmasin saat itu terdiri dari orang Melayu atau Banjar dan orang Byajo. Dari
catatan Beckman tampak bahwa pada abad ke-18 telah terjadi pembedaan antara Biaju dan
Banjar. Ciri utama yang membedakan adalah bahasa dan agama. Orang Biaju tidak berbahasa
Banjar dan tidak beragama Islam.3
Selanjutnya pada masa awal pemerintah kolonial Belanda di Banjarmasin, istilah
Biaju dipungut begitu saja dan dipakai sebagai istilah teknis dalam tata administrasi
kependudukan dan laporan-laporan. Karena itu dalam literatur-literatur dan arsip-arsip
Belanda sebelum abad 19, istilah Biaju dipakai sebagai istilah generik atau kolektif. Biaju
dipakai dalam pengertian Dayak secara umum, yang dipukul rata sebagai Ngaju, karena itu
kata Ngaju, dalam literatur-literatur tersebut, juga bisa berarti orang Ma’anyan dan Bukit
(Ave, 1972:185).4 Generalisasi semacam ini tampak dari pembagian suku yang dipakai oleh
Tjilik Riwut (1958). Karena memakai sumber-sumber sebelum Perang Dunia Kedua yang
memang cenderung pada generalisasi (1958: 190, bdk. Nila Riwut 2003: 64-65), ia
memasukkan suku Dayak Ma’anyan, Lawangan dan Dusun sebagai bagian dari Dayak Ngaju.
Bahkan orang Dayak Meratus (yang terdapat di Tapin, Amandit, Labuan Amas, Alai, Pitap
dan Balangan), Dayak Pasir yang terdapat di Kalimantan Timur, orang Dayak Tumon di
sungai Lamandau, Batang Kawa dan Bulik, juga dimasukkannya sebagai bagian dari suku
Dayak Ngaju. (1958: 184, bdk. 2003: 63).5
Hal serupa juga dapat dilihat dari laporan mengenai sketsa pulau Kalimantan pada
tahun 1812 oleh J. Hunt dalam laporan Kapten The Hon. Henry Keppel. Ia menyebut orang-
orang yang berada di Banjarmasin sebagai Biajus (Biaju).6 Kamus Hindia Belanda dan

3
Ibid, 129
4
Ibid, 131
5
Ibid, 132
6
J. Hunt, E sq. In Captain The Hon. Henry Keppel, R.N, Sketch of Borneo, or Pulo Kalamantan, - The
Expedition to Borneo of H M S Dido Vol.2, (New York: Harper & Brothers Publishing, Franklin Square, 1855),
381-382.
laporan Geografis - Statistik pada tahun 1861 juga menyebut orang-orang Dayak di bagian
Selatan dan pesisir Barat didefinisikan sebagai Beadjoe (Biaju).7
Selain istilah Biaju (Ngaju), istilah Dusun juga dipergunakan untuk merujuk orang
Ma’anyan. Di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, Sungai Barito disebut juga sungai
Dusun, meskipun nama Barito lebih tua karena telah disebutkan dalam keropak Jawa kuno,
Negarakertagama (1365).8 Istilah Dusun banyak digunakan sebagai rujukan untuk daerah
Hulu Barito, terutama daerah yang didiami oleh kelompok-kelompok etnis Dayak Ma’anyan,
Lawangan, serta Siang dan Murung, dan pada umumnya disebut dengan Dusun Timur, Dusun
Hilir, Dusun Tengah dan Dusun Hulu.9
Penggolongan dan penyebutan Dusun tersebut juga tampak dalam laporan Sersan F.
J. Hartman, mengenai deskripsi Banjarmasin (Banjareesche) dan sekitarnya pada tahun
1790. Dalam perjalanannya ke daerah Muara Teweh melalui sungai Barito ia bertemu dengan
orang Ma’anyan dan suku lainnya. Hartman mempergunakan istilah Doesonners (orang
Dusun), untuk merujuk penduduk yang mendiami daerah di sekitar sungai Patai (Pattij),
Karau (Karrouw), Siong (Siongsche), Mantellat, Benangin. Sedangkan daerahnya disebut
sebagai Doesonsche (Dusun). Istilah tersebut juga digunakan untuk menyebut penduduk
yang mendiami daerah kampung Daya (Daja), Sangarasi-Jaar (Simpar Wassie), Mangkatip,
Dayu, Balawa (Blawa), Karau (Karrauw), Poeloe Wanie, Trusan (Troessan), Buntok
(Boendoek) , Muara Teweh (Morro Tewe) dan sekitarnya.10
Penggunaan istilah Ma’anyan sebenarnya sudah mulai dikenal dan dipergunakan
pada tahun 1843-1847, tetapi agaknya istilah tersebut masih belum populer saat itu. Hal itu
tampak dalam laporan penelitian Dr. Carl Anton Ludwig Maria Schwaner di sekitar sungai
Barito dan beberapa sungai besar di Timur dan Selatan pulau Kalimantan. Schwaner juga

7
_, Aardrijkskundig en Statistisch Woordenboek van Nederlandsch Indie 1 bewerkt naar de jongste en
beste berigten. A-J (Amsterdam, P. N. Van Kampen, 1861) 253-254
8
Daerah-daerah taklukan Majapahit disebutkan: Negara-negara di pulau Tanjungnegara: Kapuas-
Katingan, Sampit, Kota Ungga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut. Kadandangan, Landa, Samadang
dan Tirem tak terlupakan. Sedu, Barune, Kalka, Saludung, Solot dan juga Pasir Barito, Sawaku, Tabalung, ikut
juga Tanjung Kutei. Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura. Di Hujung Medini, Pahang yang
disebut paling dahulu. Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan serta Trengganu Johor, Paka, Muar, Dungun,
Tumasik, Kelang serta Kedah Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun.
Lih.http://kidemang.com/index.php?option=com_content&view=section&layout=blog&id=28&Itemid
=697 5
9
Pendapat tersebut didasarkan dari tulisan H.E.D. Engelhard, De Afdeling Doessonlanden: Zuider en
Ooster-Afdeling van Borneo (Jurnal Colonial Netherland Indies, 1901). 181-222. Lih. Hadi Saputra Miter, Amirue
dan Roh Kudus – Sejarah Perjumpaan Ulun Ma’anyan Dengan Kekristenan, (Kalimantan Timur: Yayasan Rumah
Sastra Korrie Layun Rampan (YRSKLR), 2015), 1-2
10
F. J. Hartman, Journaal Van Een Tocht Naar de Banjersche Bovenlanden in 1790 (Kronijk van Het
Historisch Genootschap, Utrecht, Kemink En Zoon, 1864), 367-369
mencatat kampung-kampung penduduk yang ditemuinya di wilayah sungai Patai, Siong,
Karau dan sekitarnya. Ia menyebut Orang (atau Olo) Menja͜än, untuk merujuk penduduk
Daijaksche (Dayak) yang berada di sekitar sungai Pattai (Patai), Siong dan Karrau (Karau).
Menurutnya orang-orang di daerah sungai Patai dan Karau juga menyebut diri mereka sendiri
dengan istilah Menja-an. Schwaner melaporkan Orang (atau Olo) Menja͜än, menempati
daerah yang lebih rendah dari sungai Pattai dan Karrau menyebut diri mereka Menja-an,
sedangkan bagian yang lebih tinggi di sekitar daerah sungai ini dihuni oleh orang Lawangan
(Lewangan). Berdasarkan penampilan, bahasa, dan adat-istiadat mereka terdapat perbedaan
dengan suku-suku Dayak (Daijaksche) lainnya. Umumnya mereka dan penduduk di daerah
sungai Barito dan anak-anak sungai lainnya lebih lemah lembut dan damai-tidak suka
berperang.11
Hal serupa tampak dalam laporan Letnan C. Bangert, (Bangert, 1857 dalam Indische
Taal Land- en Volkenkunde (IX) 1860: 156, 173, 181, 216) dalam perjalannya ke daerah
Dusun Hilir (Doessoen Ilir) bagian dalam pada tahun 1857, juga menyinggung istilah Men-
jaan. Selain istilah tersebut ia juga lebih sering mempergunakan istilah Sihongers, Pattijers,
Duijoes, Karauw dan Djankongs, untuk merujuk orang-orang Ma’anyan di sekitar sungai
Telang, Siong, Patai/ Sirau, Paku Karau dan sekitarnya.12
Mengenai asal-usul istilah Ma’anyan, masih belum ditemukan kepastiannya. Sutopo
Ukit Bae dkk menyatakan ada beberapa pendapat mengenai asal kata Maanyan, yaitu:
Menurut Ma’an Wada (tokoh Ma’ayan Paju Sapuluh), kata Ma’anyan berasal dari gabungan
kata Ma yang artinya menggunakan adat, dan Anyan yang adalah nama raja terakhir dari
kerajaan Nansarunai. Dengan demikian, arti kata Maanyan itu adalah sekelompok masyarakat
yang menggunakan adat Kerajaan Nansarunai (Ethnic State?). Ada pula pendapat yang
menyatakan bahwa Maanyan merupakan gabungan kata Ma yang dapat diartikan paman atau
bapak, dan Anyan yang adalah pemimpin suku sewaktu berimigrasi dari daratan Cina,

11
Lih. C.A.L.M. Schwaner – Borneo vol. 1- Beschrijving van het stroomgebied van den Barito en reizen
langs eenige voorname rivieren van het Zuid-Oostelijk gedeelte van dat eiland. Van het Gouvernement van
Nederl: Indie gedaanin de Jaren 1843-1847. (Uitgegeven van wege het Koninklijke Instituut vor de taal-land en
volkenkunde van Nêer: Indië. Te Amsterdam, nij P.N. Van Kampen. 1853), vii, 99-102
12
C. Bangert (1857), Verslag der reis in de binnenwaarts gelegene streken van Doessoen Ilir, (Indische
Taal-, Land- en Volkenkunde (IX), 1860), 156, 173, 181, 216
C. Banggert adalah seorang pejabat pemerintah Belanda, berpengkat letnan satu, untuk wilayah
Bakumpai dan Dusun Hilir yang berkedudukan di Marabahan. C. Bangert, juga merupakan pengurus sipil dari
daerah Bakumpai yang memuat laporan perjalanan inspeksi dari Telang, Patai (atau Sirau), Dayu dan sungai
Paku Karau pada sekitar tanggal 5-6 Juli 1857. C. Bangert juga adalah seorang Letnan pertama infanteri yang
kemudian meninggal dalam suatu kerusuhan di Lontontoeor, pada tanggal 26 Desember 1859. lih. Alfred
Bacon Hudson, Padju Epat: The Ethnography And Social Structure Of A Ma'anjan Dayak Group In Southeastern
Borneo (Michigan USA: University Microfilm 1967), 553, dan W.A. VAN REES - De bandjermasinsche krijg van
1859-1863 met portretten Vol. 2, (_,1865,), 402.
sehingga arti kata Ma’anyan adalah Bapak Anyan. Sedangkan pendapat lainnya menyatakan
bahwa kata Ma’anyan itu berasal dari sebutan orang Biaju (Dayak Ngaju) ketika melihat
orang-orang di kampung Tane Karangan Anyan itu selalu membakar kemenyan dalam setiap
ritual adatnya. Karena itu mereka menyebutnya Oloh Manyan. Pendapat yang berbeda juga
dikemukakan dalam buku Proyek Penelitian Sejarah dan Kebudayaan Daerah Kalimantan
Tengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1977 – 1978. Dalam buku ini
dinyatakan bahwa pengertian Maanyan itu berasal dari kata Ma yang artinya menuju, dan
anyan yang artinya tanah datar. Jadi arti Maanyan itu adalah menuju atau pergi ke tanah
datar.13
Menurut sejumlah peneliti dan tokoh Ma’anyan yang mencoba mendekati sejarah
orang Ma’anyan bersumber dari data tanuhuien menurut sudut pandang sejarah modern,
nama-nama perkampungan dalam tanuhuien merupakan penunjukkan secara mitologis
terhadap perjalanan panjang kelompok migran dari Asia Kecil, yang merupakan cikal-bakal
orang Ma’anyan. Dalam perjalanan panjang kelompok masyarakat tersebut singgah di
berbagai tempat di Asia Tenggara, wilayah Nusantara dan akhirnya masuk ke Kalimantan
Selatan.14 Pembentukkan perkampungan Lilikumeah merupakan sejarah cikal-bakal
kelompok orang Ma’anyan yang sudah berada si Kalimantan Selatan, demikian juga
selanjutnya tempat-tempat lainnya dalam tanuhuien. Lilikumeah berada di Kayutangi,
Watang Helang Ranu adalah Babirik atau Danau Panggang, Gunung Madu Dupa adalah
Banjarbaru atau Gunung Apam, Gunung Madu Manyan adalah Gunung Keramaian,
sementara Nansarunai terletak di Amuntai atau Banua Lawas.15 Selain tempat-tempat
tersebut, ada beberapa tempat lainnya di Kalimantan Selatan yang pernah didiami oleh orang
Ma’anyan, antara lain daerah Tabalong (Waruken, Pangelak dan Dusun Deyah), daerah Hulu
Sungai Utara (Halong, Pintap, Gunung Riwut), daerah Hulu Sungai Selatan (Loksado), dan
daerah Hulu Sungai Tengah (Labuhan). Dalam perkembangan selanjutnya terjadi lagi
perpindahan penduduk ke daerah Barito Timur dan sekitarnya sekarang ini. 16

13
Rama Tulus P, Agama Sebagai Identitas Sosial - Studi Sosiologis Agama Terhadap Komunitas
Ma’anyan, Salatiga: Disertasi Doktoral Universitas Kristen Satya Wancana, 2010, 79
14
Bdk. Keloso S. Ugak, Mengembangkan Konsep Anugerah Untuk Membangun Teologi yang
Rekonsiliatif di dalam masyarakat Dayak, (disampaikan dalam orasi Dies Natalis STT GKE ke-81), Februari 2013,
23
15
Ibid
16
Ibid, 24-25
3. TIDAK ADA TATO
Salah satu laporan lawas mengenai informasi tidak adanya praktek tato di kalangan
orang Ma’anyan dapat ditemukan dalam laporan Letnan C. Bangert, dalam perjalannya ke
daerah Dusun Hilir (Doessoen Ilir) bagian dalam pada tahun 1857 (Bangert, 1857 dalam
Indische Taal Land- en Volkenkunde (IX) 1860: 156, 173, 181, 216). C. Banggert adalah
seorang pejabat pemerintah Belanda, berpengkat letnan satu untuk wilayah Bakumpai dan
Dusun Hilir yang berkedudukan di Marabahan. C. Bangert, juga merupakan pengurus sipil
dari daerah Bakumpai yang memuat laporan perjalanan inspeksi dari Telang, Patai (dan
Sirau), Dayu dan daerah di sungai Paku Karau pada sekitar tanggal 5-6 Juli 1857. C. Bangert
juga adalah seorang Letnan pertama infanteri yang kemudian meninggal dalam suatu
kerusuhan di Lontontoeor, pada tanggal 26 Desember 1859.17
Letnan C. Bangert, (Bangert, 1857 dalam Indische Taal Land- en Volkenkunde (IX)
1860: 156, 173, 181, 216) dalam perjalannya ke daerah orang-orang Ma’anyan di sekitar
sungai Siong, melaorkan bahwa orang Dayak Ma’anyan di Siong memiliki banyak perbedaan
dengan orang Dayak di Pulau Petak, baik dari penampilan, bahasa, adat dan tradisi. Orang
Siong bertubuh biasa-biasa dan merupakan pekerja keras. Perempuan juga pekerja keras,
seakan-akan mereka sebagai laki-laki, anak-anak juga demikian. Meskipun demikian
menurutnya banyak ditemui orang-orang yang bertubuh relatif gemuk. Sebagian besar juga
merupakan orang-orang tua. Sementara umumnya rupa laki-laki umumnya lebih elok dari
perempuan. Pekerjaan orang Ma’anyan di Siong adalah berladang, sebagai penghasil padi.
Mereka juga membuat jukung (perahu). Jukung-jukung tersebut konon terkenal akan
kualitasnya sehingga layak dijual di Martapura, Banjarmasin. Menurut Bangert, ratusan buah
jukung dijual setiap tahunnya.
Menurutnya tato tidak dipraktekan (Het tatoeëren is niet in gebruik)18 di kalangan
orang Siong (Ma’anyan di Siong). Para laki-laki selalu dipersenjatai dengan parang, sumpit
dan tombak dan para perempuan juga demikian, kerap terlihat membawa tombak ketika
mereka melakukan perjalanan ke ladang. Kekayaan yang dimiliki berupa gong, baki,
mangkuk dan barang pecah belah lainnya. Gong sangat banyak terlihat di sana. Bangert
pernah melihat di beberapa rumah ada sekitar 200-an gong yang disandingkan bersama-sama.
Apabila dinilai yang terbesar bernilai 100 Gulden, dan yang terkecil 6 sampai 8 Gulden.

17
lih. Alfred Bacon Hudson, Padju Epat: The Ethnography And Social Structure Of A Ma'anjan Dayak
Group In Southeastern Borneo (Michigan USA: University Microfilm 1967), 553, dan W.A. VAN REES - De
Bandjermasinsche Krijg Van 1859-1863 Vol. 2, (_,1865,), 402.
18
Bangert, 1857 dalam Indische Taal Land-en Volkenkunde (IX) 1860: 152-153
Gong dipasang dan digantung berjejer, ketika dibunyikan akan membentuk tangga nada
tertentu secara harmonik.

Orang-orang Ma’anyan di Siong menurut Bangert bukan pengayau – headhunter.
Adat mereka pada umumnya sama dengan orang-orang Dayak kebanyakan, namun menurut
Bangert lebih halus dan manusiawi. Tidak pernah ada perang yang terjadi selama beberapa
generasi. Sementara kepala suku mereka haruslah seorang yang sudah tua dan merupakan
penerus dari generasi yang dipilih sebelumnya (dinasti).19

Memang laporan Bangert hanya meliputi sekelompok kecil kelompok Ma’anyan,
yakni kelompok Paju Epat yang diwakili kampung Siong, tetapi paling tidak dari laporannya
ini memberikan secercah titik terang informasi bahwa orang Ma’anyan tidak bertato. Di sisi
lain, dari laporannya tersebut juga memberikan tantangan kepada para pencari kemungkinan
tato Ma’anyan untuk memperluas cakrawala pencariannya terlepas dari salah satu kelompok
Ma’anyan atau beberapa desa Ma’anyan saja.

Apabila orang Ma’anyan tidak mempraktekkan tradisi tato dalam adat-istiadatnya,
bagaimana dengan suku-suku Dayak lainnya yang bertetangga dan berkerabat dengan orang
Ma’anyan? Dayak Meratus di Kalimantan Selatan juga umumnya diketahui tidak
mempraktekkan tato. Salah satu informasi lawas yang mendukung pernyataan tersebut adalah
Carl Alfred Bock, dalam bukunya The Head-Huntees of Borneo: A Narrative of Travel Up
The Mahakkam and Down The Barito Also Joueneyings in Sumatra, vol. 2.20

Carl Alfred Bock, naturalis dan pelancong Norwegia kelahiran Kopenhagen,
Denmark, pernah melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan
Selatan pada 1879 selama enam bulan. Misinya di Kalimantan merupakan titah dari Gubernur
Jenderal Johan van Lansberge untuk melaporkan keberadaan suku-suku Dayak dan
menghimpun spesimen sejarah alam untuk beberapa museum di Belanda. Hasil
penjelajahannya di Samarinda-Tenggarong-Banjarmasin dan pedalaman Kalimantan, Bock
menulis buku berjudul The Head Hunters of Borneo yang terbit pada 1881, lengkap dengan
37 litografi dan ilustrasi.

19
C. Bangert (1857), Verslag der reis in de binnenwaarts gelegene streken van Doessoen Ilir, (Indische
Taal-, Land- en Volkenkunde (IX), 1860), 156, 173, 181, 216
20
Carl Bock, The Head-Huntees of Borneo: a Narrative of Travel Up The Mahakkam and Down The
Barito also Joueneyings in Sumatra, vol. 2, (London: Sampson Low, Marston, Searle, Rivington,1882), 67, 130,
139.
Bock dalam catatannya telah berjumpa Dayak Long Wai, Dayak Long Wahou, Dayak
Modang, Dayak Punan, “Orang Bukkit” dari Amontai, dan Dayak Tring. Orang Dayak
Meratus, yang disebut Bock sebagai Orang Bukkit, juga menurutnya tidak mempraktekkan
tato.21 Selain Dayak Meratus, laporan Bock juga memuat informasi mengenai Dayak
Tanjoengs (Tanjung/Tunjung ?) dan Benoa (Benuaq ?) yang juga tidak mempraktekkan tato
sebagai keharusan. Menurut Carl Bock, dalam bukunya The Head-Huntees of Borneo, orang
Tanjoengs (Tanjung/Tunjung ?) tidak mempraktekan tato sebagai suatu keharusan atau
kebiasaan, hanya ditemukan seorang dengan pola + (tanda tambah) pada bagian lengannya.
Sedangkan pada orang Benoa (Benuaq ?) kebanyakan laki-lakinya semuanya memiliki tato
dengan tanda kecil berbentuk ͡ ·͡ (berupa dua buah gundukan atau lengkungan seperti
busur dengan titik di tengahnya), baik itu di bagian kening, lengan atau kaki.22

Orang Dayak Ma’anyan tidak mempraktekkan tato sebagai keharusan dan adat-
istiadat mereka. Kemungkinan juga berkaitan dengan tidak adanya tradisi “ngayau” atau
memotong kepala, atau karena berbagai sebab lainnya. Akan tetapi tato teap dikenal oleh
orang Ma’anyan, mereka menyebutnya “tutang.” Kemungkinan hal tersebut disebabkan
mereka mendengar atau melihat tato suku-suku lain. Hal ini menjadi salah satu proses cross
culture lintas suku-daerah yang tidak terelakkan. Perjalanan hidup menuntut perjalanan
keluar-masuk daerah lain, begitupun sebaliknya.

Meskipun tidak ditemukan informasi sejarah tato Dayak Ma’anyan, dewasa ini ada
segelintir generasi muda Ma’anyan yang mencoba “menciptakan” motif-motif tato tertentu
yang bernuansa tradisional dengan motif-motif ukiran dan keperkasaan kisah mitologi yang
umumnya ditemukan di Kalimantan. Motif-motif baru hasil cross culture dan globalisasi
tersebut kemudian memberikan warna kontribusi tersendiri. Di sisi lain upaya tersebut patut
dihargai, kreatifitas dan sumbangsih yang diberikan memperlihatkan bahwa mereka menaruh
perhatian pada sesuatu yang tidak ada, tetapi dapat diciptakan menjadi ada, meskipun dengan
muatan nuansa yang berbeda dan diberi arti tersendiri serta milik sendiri sekaligus baru!

21
Carl Bock, The Head-Huntees of Borneo, 244
22
Carl Bock, The Head-Huntees of Borneo: a Narrative of Travel Up The Mahakkam and Down The
Barito also Joueneyings in Sumatra, vol. 2, (London: Sampson Low, Marston, Searle, Rivington,1882), 67, 130,
139.
Tato orang Benoa (Benuaq ?)

Tato orang Tanjoengs (Tanjung/Tunjung ?)

Tulisan C. Bangert (1857), dalam Verslag der reis in de binnenwaarts gelegene streken van
Doessoen Ilir, (Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (IX), 1860)
Tulisan C. Bangert (1857), dalam Verslag der reis in de binnenwaarts gelegene streken van
Doessoen Ilir, (Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (IX), 1860)
Informasi tentang C.Bangert dalam W.A. VAN REES - De Bandjermasinsche Krijg
Van 1859-1863 Vol. 2, (_,1865,), 402.
Cover buku Schwaner – Borneo Vol.1
C.A.L.M. Schwaner – Borneo vol. 1- Beschrijving van het stroomgebied van den
Barito en reizen langs eenige voorname rivieren van het Zuid-Oostelijk gedeelte van dat
eiland. Van het Gouvernement van Nederl: Indie gedaanin de Jaren 1843-1847. (Uitgegeven
van wege het Koninklijke Instituut vor de taal-land en volkenkunde van Nêer: Indië. Te
Amsterdam, nij P.N. Van Kampen. 1853)
Schwaner menyebut Ma’anyan sebagai Menja-an
C.A.L.M. Schwaner – Borneo vol. 1- Beschrijving van het stroomgebied van den
Barito en reizen langs eenige voorname rivieren van het Zuid-Oostelijk gedeelte van dat
eiland. Van het Gouvernement van Nederl: Indie gedaanin de Jaren 1843-1847. (Uitgegeven
van wege het Koninklijke Instituut vor de taal-land en volkenkunde van Nêer: Indië. Te
Amsterdam, nij P.N. Van Kampen. 1853), vii, 99-102
Ilustrasi Wadian dari daerah sungai Patai (salah satu kelompok Ma’anyan Kampung Sapuluh)
pada tahun 1846, dari buku C.A.L.M. Schwaner – Borneo vol. 2
Ilustrasi Wadian Dusun yang sedang mengadakan ritual penyembuhan seorang perempuan
sakit di daerah Dayak Dusun

Sumber: C.A.L.M. Shwaner, Borneo vol. 1 - Beschrijving van het stroomgebied van den
Barito en reizen langs eenige voorname rivieren van het Zuid-Oostelijk gedeelte van
dat eiland, (Koninklijke Instituut vor de taal-land en volkenkunde van Nêer: Indië. Te
Amsterdam, nij P.N. Van Kampen. 1853)
Wadian Bawo orang Dayak Dusun, yang kemudian diadopsi oleh orang Dayak Ma’anyan.
Wadian juga tidak bertato, namun umumnya membuat tanda tambah (+), tanda titik (.), atau
tanda sama dengan (=) pada tubuhnya dengan menggunakan kapur sirih. Makna tanda-tanda
tersebut patut dikaji lebih dalam lagi.

Sumber: Tropenmuseum
Wadian (imam - priest) Ma’anyan dalam ritual

Sumber: Judith Murddock Hudson, Some Observation Dance In Borneo, (Itaca: Cornel
University, 1967)
Salah seorang tetua Ma’anyan di Tamiang Layang (Albert Blantan?)

Sumber: Mission 21
Orang Ma’anyan yang baru dibaptis tahun 1930-an. Sumber: Hadi Saputra Miter, Amirue dan
Roh Kudus: Sejarah Perjumpaan Ulun Ma’anyan dengan Kekristenan, (Kalimantan Timur:
Yayasan Rumah Sastra Korrie Layun Rampan (YRSKLR), 2015), 1

Anak-anak Ma’anyan pada sebuah sekolah tua di Bamban. Sumber: M 21
Dua Perempuan muuda Ma’anyan di Tanjung (?) (Sumber: Tropenmuseum)

Ada keraguan penulis mengenai informasi ini, karena anting (lebih tepatnya pierching besar)
yang tidak umum ditemukan pada orang Ma’anyan
Gambar yang berasal dari internet yang umumnya menyatakan sebagai “Orang Ma’anyan
tempo dulu” namun tidak ada bukti atau sumber valid yang menguatkannya. Keraguan
penulis juga mengingat anting besar yang dikenakan seorang anak pada gambar tidak umum
ditemukan pada orang Ma’anyan. Sumber: Google
Gambar dari www.mytribalworld.com yang menduga sebagai orang M’anyan. Namun
aksesoris yang digunakan tidak memperkuat dugaan tersebut, malah lebih mengarah kepada
orang Dayak Ngaju. Lihat pada bagian bawah aksesoris yang digunakan.
Orang Dayak Ngaju. Sumber: Carl Lumholtz, Through Central Borneo - An Account
of Two Years Travel in The Land of The Head-Hunters Between The Years 1913 and 1917,
(New York: Charle Scribner’s Songs, 1920), Volume 2,

Orang Dayak Ngaju. Sumber: Mission 21
Orang Dayak di daerah sungai Barito sebagai pandai besi (blacksmith)
Sumber: C.A.L.M. Shwaner, Borneo vol. 1 - Beschrijving van het stroomgebied van den
Barito en reizen langs eenige voorname rivieren van het Zuid-Oostelijk gedeelte van
dat eiland, (Koninklijke Instituut vor de taal-land en volkenkunde van Nêer: Indië. Te
Amsterdam, nij P.N. Van Kampen. 1853)

Sumber: Henry Ling Roth - The Natives of Sarawak and British North Borneo, London:
Truslove & Hanson (1896), Vol. II
Cover buku Carl Bock – The Headhunter of Borneo Vol. 2.
Informasi Dayak “Bukkit” tidak bertato dari buku Carl Bock – The Headhunter of Borneo
Vol. 2.
Ilustrasi Orang “Bukkit” (Dayak Meratus) tanpa tato, dari buku Carl Bock – The Headhunter
of Borneo Vol. 2.
Catatan Carl Bock tentang kemungkinan tato Dyaks Tandjoeng dan Benoa (Tanjung/
Tunjung dan Benuaq?) Sumber: Carl Bock, The Head-Huntees of Borneo, 130, 137-139.

Related Interests