BLOK MEDICAL EMERGENCY

RESUME
JIGSAW SMALL GROUP DISCUSSION (JSGD)
ALERGI METIL METAKRILAT

DOSEN PEMBIMBING:

DISUSUN OLEH:
CITRA VEONY FINASTIKA
G1G012034

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO

2016

Alergen yang belum diproses atau hapten akan dipaparkan ke stratum korneum dan selanjutnya akan berpenetrasi ke lapisan bawah epidermis yang akhirnya ditangkap oleh sel langerhans kemudian akan terjadi beberapa proses. ALERGI METIL METAKRILAT A. Pada resin akrilik hal ini dapat berupa metil metakrilat (Gonçalves dkk. hapten akan berikatan dengan enzim sitosolik dan menjadi antigen lengkap yang akan diekspresikan pada permukaan sel langerhans imatur yang juga dapat berfungsi sebagai makrofag walaupun masih memiliki kemampuan terbatas untuk menstimulasi limfosit T. proses degradasi nonlisosomal dari alergen atau proses terjadinya ikatan antara peptida antigen dengan HLA-DR. yaitu fase sensitisasi dan elisitasi. Residual monomer dihasilkan oleh polimerisasi yang tidak sempurna yang selanjutnya dikenali sebagai alergen pada kontak alergi resin akrilik (Hadyaoui dkk. Kontak alergi terhadap resin akrilik biasanya merupakan reaksi hipersensitivitas tipe IV yang terjadi setelah paparan ulang terhadap alergen. 2013). Dilihat dari residual monomer yang dihasilkan berdasarkan teknik polimerisasinya. resin akrilik teraktivasi dengan panas (heat cure).. Reaksi ini secara normal disebabkan oleh molekul dengan berat rendah yang disebut hampton. 2006). Alergi terhadap metil metakrilat dilaporkan hanya sedikit kasus yang terjadi (Hashimoto dkk. Fase Sensitisasi Fase sensitisasi merupakan fase terjadi kontak pertama kali antara alergen dengan kulit atau mukosa yang selanjutnya alergen tersebut akan dikenal dan direspon oleh lomfosit T atau fase ketika sel T diubah menjadi sel T efektor atau sel T memori spesifik antigen. Tahap berikutnya adalah presentasi HLA-DR pada limfosit T helper yang akan mengekskresikan 2 . Gonçalves dkk. Hampton dapat menginisiasi respon hanya ketika dibawa oleh suatu protein. Alergen pada umumnya merupakan bahan dengan berat molekul rendah (<500 dalton). Patogenesis Alergi Alergi merupakan reaksi hipersensitif tubuh terhadap zat asing (alergen) yang pada individu lainnya tidak menyebabkan gangguan (Hadyaoui dkk. dengan kimia (self cure). larut dalam lemak dan memilik reaktivitas yang tinggi. 1. mudah mengguap dengan bau buah yang tajam (WHO. Berdasarkan polimerisasinya resin akrilik dapat dibagi menjadi tiga yaitu. resin akrilik heat cure memiliki jumlah residual monomer yang paling rendah dibandingkan self cure. Hipersensitivitas tipe IV terdiri dari dua fase. Di dalam sel. seperti proses endositosis atau pinositosis. Paparan alergen dapat menurunkan jumlah sel langerhans pada epidermis sebanyak kurang lebih 50%.. yang disebabkan karena sel langerhans tersebut beremigrasi dari epidermis. Pada bidang kedokteran gigi metil metakrilat banyak digunakan sebagai monomer untuk membuat dental protesa berbahan dasar resin akrilik. 2015). Metil metakrilat merupakan cairan yang tidak berwarna. 1998). 2004). 2015). (2006) menyebut kontak alergi yang disebabkan oleh protesa berbahan dasar resin self cure dengan stomatitis venenata... dan dengan sinar (light cure) (Anusavice.

Selain itu. molekul CD4. Sebagian akan kembali ke kulit dan ke sistem limfoid. histamin. satu-satunya sel epidermal yang mengekspresikan antigen HLA-DR klas II pada permukaannya. dimana pada fase ini sel langerhans harus berinteraksi dengan sel T CD4 dengan reseptor khusus untuk antigen klas II dan alergen. Histamin yang berasal dari sel mast dan keratinosit serta infiltrasi lekosit menimbulkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas terhadap berbagai sel dan faktor inflamasi yang terlarut. ekspresi HLA-DR dapat menyebabkan keratinosit menjadi target limfosit T. Fase elisitasi terjadi pada saat terjadi kontak ulang antara kulit atau mukosa dengan hapten yang sama atau serupa. Selanjutnya sel langerhans akan mengeluarkan sitokin. Limfosit T teraktifasi akan mensekresikan IFN-γ yang akan mengaktifkan keratinosit untuk mengekspresikan Intercellular adhesion molecule I (ICAM-I) dan Histocompatability Locus A (HLA). limfosit T yang telah tersensitisasi akan bermigrasi ke daerah parakortikal kelenjar getah bening regional untuk berdiferensiasi dan berproliferasi membentuk sel T efektor yang tersensitisasi secara spesifik dan membentuk sel memori. Keratinosit aktif juga memproduksi berbagai sitokin lain. 2. sel T dan sel-sel inflamasi lainnya di kulit. Jalur tersebut merupakan respon kulit 3 . Selanjutnya IL-1 dapat menstimulasi keratinosit untuk memproduksi eicosanoid yang akan menghasilkan sel mast dan makrofag. Pengenalan antigen yang telah diproses dalam sel langerhans oleh Limfosit T terjadi melalui kompleks reseptor limfosit T CD3 dan dapat juga dipresentasikan oleh MHC klas I yang akan dikenali oleh CD8.DR. neuropeptida seperti calcitonin generelated peptide dan α-melanocyte stimulating hormone yang dapat menurunkan regulasi dari fase elisitasi ini yang kemungkinan disebabkan karena adanya pengaruh dari sel penyaji antigen. serotonin dan prostaglandin. Fase Elisitasi Fase ini melibatkan beberapa substansi. sel mast dan makrofag yang terlibat pada patogenesis dermatitis kontak alergi ini. tersebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan keadaan sensitivitas yang sama di seluruh kulit tubuh. seperti IL-1. ekspresi dari molekul-molekul adhesi lain pada sel langerhans dan sel T dapat mempengaruhi respon sel T terhadap alergen yang masuk. yaitu interleukin-1 yang akan menstimulasi limfosit T untuk menghasilkan interleukin-2 dan mengekspresikan reseptor interleukin-2 yang akan menyebabkan proliferasi dan ekspansi populasi limfosit T pada kulit. HLA-DR pada keratinosit akan berinteraksi dengan limfosit T CD4 melalui molekul ICAM-1. IL-6 dan GMSCF yang selanjutnya akan mengaktifkan limfosit T. Selain itu. Sitokin mempunyai peranan penting pada molekul-molekul adhesi yang mengatur jalur sel langerhans. antara lain sitokin. tetapi dapat juga diproduksi oleh sel keratinosit. Selanjutnya. Hapten akan ditangkap dan kemudian dipresentasikan pada permukaan sel langerhans. Sitokin tidak hanya diproduksi oleh sel langerhans dan limfosit T.

dan kesulitan menelan saat menggunakan piranti akrilik. sehingga urethane dimethacrylate merupakan pilihan satu-satunya.. Penatalaksanaan reaksi alergi harus dievaluasi oleh dermatologist dengan tes skin patch apabila memungkinkan. 2006). ultraviolet polymerized urethane acrylate. 2006).. Alternatif Perawatan Mengatasi reaksi hipersensitivitas pada pasien gigi tiruan yang alergi terhadap metil metakrilat dapat dilakukan dengan beberapa alternatif perawatan. namun terkait dengan sensitivitas pasien ynag pada tahap lanjut dapat mengancam jiwa (Gonçalves dkk.. antara lain menutup protesa dengan light polymerized methyl methacrylate. menggunakan polycarbonate prosthesis. ultraviolet polymerized methacrylate. pasien diberi medikasi oral berupa kortikosteroid seperti triamcinolone acetonide atau hydrocortisone. Manifestasi Klinis Kasus Kontak alergi terhadap resin akrilik memiliki gejala berupa keluhan sensasi rasa terbakar pada palatum. Pasien alergi metil metakrilat biasanya juga menunjukkan tes skin patch yang positif terhadap polysulfone dan polycarbonate. Pada kasus ini perawatan yang dilakukan berupa pemberian hydrocortisone yang dapat meringankan gejala yang timbul sehingga pasien dapat melanjutkan penggunaan retainernya. 2006). Tanda kontak alergi dapat berupa adanya eritema pada permukaan palatum (Gambar 1) (Gonçalves dkk. Kondisi ini merupakan kondisi sementara waktu yang dibutuhkan untuk menjaga dimensi vertikal dan mencegah ekstrusi gigi posterior sampai protesa pendukung implan selesai dibuat. Reaksi alergi tidak tergantung dosis. vulcanite . hipersalivasi. rasa pahit pada mulut. Gambaran eritema pada palatum setelah piranti akrilik dilepas (B) C. Selain itu. destruksi seluler dan proses perbaikan. B. Retainer dari akrilik tidak dilanjutkan pemakaiannya. Gambar 1 Saat pemakaian piranti akrilik (A). Pertolongan Pertama Pertolongan pertama pada pasien yang mengalami hipersensitivitas adalah menghilangkan agen penyebab dalam hal ini adalah resin akrilik. atau mukosa pada kontak alergik yang meliputi inflamasi. Tes skin patch untuk resin akrilik dapat dilakukan menggunakan beberapa sampel dengan variasi berbagai teknik yang bertujuan untuk menentukan apakah perubahan teknik pemrosesan dapat meningkatkan biokompatibilitas bahan pada pasien (Gonçalves dkk. D. melainkan diganti dengan kawat yang diikatkan dengan resin komposit 4 . atau titan untuk gigi keramik.

D. Gonçalves. Cherif... Yamashinta.Harzallah.. Allergy to Autopolymerized Acrylic Resin in an Orthodontic Patient. C. 2014. Ikebe T. I. L. Campos. Am J Orthod Dentofacial Orthop.. Menezes.. 5 . DAFTAR PUSTAKA Anusavice. D. Dilaporkan dengan penggantian piranti ini tidak terjadi ketidaknyamanan (Gonçalves dkk. 11 (2010) 37-9. Hadyaoui.. OSR-JDMS. 129:431-5). K. EGC... Rizzato. 2006). Clinical And Histological Manifestations of Allergy to Methyl Methacrylate.. Oral Science International. T. Ozeki. S. M. Jakarta.. Khiari A. M. 14(8): 63-7. Phillips Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi . S... J. L. J.. M.bis-GMA untuk mencegah relapsnya gigi insisivus yang mengalami gangguan periodontal... M. 2004.. Y. a Case of Mucositis Due to the Allergy to Self Curing Resin. Morganti.. 2015. 2006. K. K. Saafi. S. Naganuma. Hashimoto. H..

Concise International Chemical Assessment Document 4. WHO. 6 .WHO. Geneva. 1998.

Related Interests