ASUHAN KEPERAWATAN LUKA BAKAR

Proses Keperawatan Luka Bakar

A. Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan yang bertujuan
untuk mengumpulkan data baik data subyektif maupun data obyektif. Data
subyektif diperoleh berdasarkan hasil wawancara baik dengan klien ataupun orang
lain, sedangkan data obyektif diperoleh berdasarkan hasil observasi dan
pemeriksaan fisik.

1. Data biografi

Langkah awal adalah melakukan pengkajian terhadap data biografi klien yang
meliputi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, ras, dan lain-lain. Setelah
pengkajian data biografi selanjutnya dilakukan pengkajian antara lain pada :

2. Luas luka bakar

Untuk menentukan luas luka bakar dapat digunakan salah satu metode yang ada,
yaitu metode “rule of nine” atau metode “Lund dan Browder”, seperti telah
diuraikan dimuka.

3. Kedalaman luka bakar

Kedalaman luka bakar dapat dikelompokan menjadi 4 macam, yaitu luka bakar
derajat I, derajat II, derajat III dan IV, dengan ciri-ciri seperti telah diuraikan
dimuka.

4. Lokasi/area luka

Luka bakar yang mengenai tempat-tempat tertentu memerlukan perhatian khusus,
oleh karena akibatnya yang dapat menimbulkan berbagai masalah. Seperti, jika
luka bakar mengenai derah wajah, leher dan dada dapat mengganggu jalan nafas
dan ekspansi dada yang diantaranya disebabkan karena edema pada laring .
Sedangkan jika mengenai ekstremitas maka dapat menyebabkan penurunan
sirkulasi ke daerah ekstremitas karena terbentuknya edema dan jaringan scar. Oleh
karena itu pengkajian terhadap jalan nafas (airway) dan pernafasan (breathing)
serta sirkulasi (circulation) sangat diperlukan. Luka bakar yang mengenai mata
dapat menyebabkan terjadinya laserasi kornea, kerusakan retina dan menurunnya
tajam penglihatan.

Lebih lanjut data yang akan diperoleh akan sangat tergantung pada tipe luka
bakar, beratnya luka dan permukaan atau bagian tubuh yang terkena luka bakar.
Data tersebut melipuri antara lain pada aktivitas dan istirahat mungkin terjadi

penurunan kekuatan otot, kekakuan, keterbatasan rentang gerak sendi (range of
motion / ROM) yang terkena luka bakar, kerusakan massa otot. Sedangkan pada
sirkulasi kemungkinan akan terjadi shok karena hipotensi (shok hipovolemia) atau
shock neurogenik, denyut nadai perifer pada bagian distal dari ekstremitas yang
terkena luka akan menurun dan kulit disekitarnya akan terasa dingin. Dapat pula
ditemukan tachikardia bila klien mengalami kecemasan atau nyeri yang hebat.
Gangguan irama jantung dapat terjadi pada luka bakar akibat arus listrik. Selain
itu terbentuk edema hampir pada semua luka bakar. Oleh karena itu pemantauan
terhadap tanda-tanda vital (suhu, denyut nadi, pernafasan dan tekanan darah)
penting dilakukan.

Data yang berkaitan dengan respirasi kemungkinan akan ditemukan tanda dan
gejala yang menunjukan adanya cidera inhalasi, seperti suara serak, batuk,
terdapat partikel karbon dalam sputum, dan kemerahan serta edema pada
oropharing, lring dan dapat terjadi sianosis. Jika luka mengenai daerah dada maka
pengembangan torak akan terganggu. Bunyi nafas tambahan lainnya yang dapat
didengar melalui auskultasi adalah cracles (pada edema pulmoner), stridor (pada
edema laring) dan ronhi karena akumulasi sekret di jalan nafas.

Data lain yang perlu dikaji adalah output urin. Output urin dapat menurun atau
bahkan tidak ada urin selama fase emergen. Warna urine mungkin tampak merah
kehitaman jika terdapat mioglobin yang menandakan adanya kerusakan otot yang
lebih dalam. sedangkan pada usus akan ditemukan bunyi usus yang menurun atau
bahkan tidak ada bunyi usus, terutama jika luka lebih dari 20 %. Oleh karena itu
maka dapat pula ditemukan keluhan tidak selera makan (anoreksia), mual dan
muntah.

5. Masalah kesehatan lain

Adanya masalah kesehatan yang lain yang dialami oleh klien perlu dikaji.
Masalah kesehatan tersebut mungkin masalah yang dialami oleh klien sebelum
terjadi luka bakar seperti diabetes melitus, atau penyakit pembuluh perifer dan
lainnya yang akan memperlambat penyembuhan luka. Disamping itu perlu pula
diwaspadai adanya injuri lain yang terjadi pada saat peristiwa luka bakar terjadi
seperti fraktur atau trauma lainnya. Riwayat alergi perlu diketahui baik alergi
terhadap makanan, obat-obatan ataupun yang lainnya, serta riwayat pemberian
imunisasi tetanus yang lalu.

6. Data Penunjang

1. Sel darah merah (RBC): dapat terjadi penurunan sel darah merah (Red
Blood Cell) karena kerusakan sel darah merah pada saat injuri dan juga
disebabkan oleh menurunnya produksi sel darah merah karena depresi
sumsum tulang.
2. Sel darah putih (WBC): dapat terjadi leukositosis (peningkatan sel darah
putih/White Blood Cell) sebagai respon inflamasi terhadap injuri.

3. Gas darah arteri (ABG): hal yang penting pula diketahui adalah nilai gas
darah arteri terutama jika terjadi injuri inhalasi. Penurunan PaO2 atau
peningkatan PaCO2.
4. Karboksihemoglobin (COHbg) :kadar COHbg (karboksihemoglobin)
dapat meningkat lebih dari 15 % yang mengindikasikan keracunan karbon
monoksida.
5. Serum elektrolit :

1) Potasium pada permulaan akan meningkat karena injuri jaringan atau
kerusakan sel darah merah dan menurunnya fungsi renal; hipokalemiadapat terjadi
ketika diuresis dimulai; magnesium mungkin mengalami penurunan.

2) Sodium pada tahap permulaan menurun seiring dengan kehilangan air dari
tubuh; selanjutnya dapat terjadi hipernatremia.

1. Sodium urine :jika lebih besar dari 20 mEq/L mengindikasikan kelebihan
resusitasi cairan, sedangkan jika kurang dari 10 mEq/L menunjukan tidak
adekuatnya resusitasi cairan.
2. Alkaline pospatase : meningkat akibat berpindahnya cairan
interstitial/kerusakan pompa sodium.
3. Glukosa serum : meningkat sebagai refleksi respon terhadap stres.
4. BUN/Creatinin : meningkat yang merefleksikan menurunnya
perfusi/fungsi renal, namun demikian creatinin mungkin meningkat karena
injuri jaringan.
5. Urin : adanya albumin, Hb, dan mioglobin dalam urin mengindikasikan
kerusakan jaringan yang dalam dan kehilangan/pengeluaran protein.
Warna urine merah kehitaman menunjukan adanya mioglobin
6. Rontgen dada: Untuk mengetahui gambaran paru terutama pada injuri
inhalasi.
7. Bronhoskopi: untuk mendiagnosa luasnya injuri inhalasi. Mungkin dapat
ditemukan adanya edema, perdarahan dan atau ulserasi pada saluran nafas
bagian atas
8. ECG: untuk mengetahui adanya gangguan irama jantung pada luka bakar
karena elektrik.
9. Foto Luka: sebagai dokumentasi untuk membandingkan perkembangan
penyembuhan luka bakar.

d. yang ditandai oleh : ningkatan permeabi- litas kapiler dan  · Tidak kehausan perpin-dahan cairan  · Mukosa dari ruang mulut/bibir lembab intravaskuler ke ruang  · Output urine : 30- interstitial 50 cc/jam  · Sensori baik  · Denyut nadi : <>  · Kaji terjadinya hi-povolemia tiap 1 jam selama 36 jam  · Ukur/timbang berat badan setiap hari. o · Perpindaha n cair.  · Monitor serum elektrolit dan hematokrit.an dapat menye- babkan hipovo- lemia o · Berat badan me- rupakan indek yg .Diagnosa dan Intervensi Keperawatan: Diagnosa/masalah Tujuan & criteria hasil Intervensi Rasionalisasi kolaborasi Fase Eemergensi (E) Klien akan memperli- hatkan perbaikan 1. pe.  · Monitor dan doku-mentasikan intake dan output setiap jam  · Berikan replace- ment cairan dan elektrolit melalui intra vena sesuai program. Defisit volume keseimbangan cairan. cairan b.

tiap 4 jam produksi flatus . o · Output urine me- rupakan pengu- kuran yg efektif terhadap keber- hasilan resusitasi cairan.  · Kaji fungsi usus : 2. stress Ø Auskultasi bu-nyi usus akibat injury. Lanjutan Diagnosa/masalah Tujuan & Intervensi Rasionalisasi kolaborasi criteria hasil Masalah Kolaborasi Perawat akan  · Kaji kebutuhan memoni-tor untuk pemasangan (Fase Emergensi) bunyi usus NGT. akurat keseim- bangan cairan. normal aktif. Potensial illeus adanya distensi paralitik b. abdomen. o · Cairan intravena dipergunak an un tuk memperbai ki volume cairan.d. o · Hiperkalem ia dan peningkata n hematokrit merupakan hal yang sering terjadi.

adanya adanya warna dan ada-nya hemachromagen hemachro.d. abdomen (Fase Emergensi) Perawat akan  · Monitor output 3. Potensial gagal memoni-tor gaster. jumlah.Masalah Kolaborasi dan gerakan Ø Observasi dis-tensi usus normal. darah serta pH. ginjal b. Ulkus pada gaster sering ter-jadi pada . dalam urine karena magen dalam  · Monitor dan doku- luka bakar yang urine & output mentasikan output dalam urine adekuat : urine setiap jam & 75-100 cc/hari warna urine.  · Pastikan aliran ka- teter urine dalam keadaan baik.  · Berikan cairan intravena sesuai program  · Siapkan sampel urine untuk peme- riksaan kadar myo- globin/hemoglobin sesuai program o · Illeus umumnya terjadi pada luka bakar > 20 – 25% o · Bunyi usus mengindikas ikan adanya peristal-tik. o · Distensi abdomen menunjukan ter-jadinya illeus o · Pengeluaran cair-an dari gaster memerlukan re-placement cair-an.

oleh : Ø Tachypnea. Gangguan pertukaran gas. bing-ung (Emergensi) menunjukan (confuse) perbaikan 4. Respirasi 16-24 Ø Tachicardia. yang ditandai keracunan carbonmo.  · Ø Dyspnea. Lanjutan Diagnosa/masalah Tujuan & Intervensi Rasionalisasi kolaborasi kriteria hasil (Fase Akut) & Klien akan Ø Gelisah. kali/meni t tanpa Ø Kadar PaO2 dan SaO2 upaya . noxida. pertukaran gas b. Ø Terdapat upaya nafas. kerusakan paru akibat pabas. o · Urine akan berwarna merah atau coklat gelap jika terdapat hemachroma gen o · Kateter dapat tersumbat oleh hemachroma gen. o · Hemachrom agen akan terbilas atau keluar dari tubuh.d. o · Memberikan informasi tentang resiko gagal ginjal. luka bakar berat.

respirator  · Tinggikan tempat i distres tidur bagian yang kepala. o · Memberika n data tentang efektifi-tas respirasi/ oksigenasi. · PaO2 > menurun 90 mmHg Ø Cyanosis  · PaCO2 : 35-45  · Monitor kadar mm-Hg gas darah arteri  · SaO2 > dan COHb sesuai 95% permintaan dokter  · Suara  · Monitor kadar nafas SaO2 secara kedua kontinu paru  · Berikan oksigen bersih. o · Memberika n data oksigenasi non-invasif. penggunaan tanda spirometri. seuai program  · Kaji  · Ajarkan pasien tanda. . ditandai  · Monitor oleh: kebutuhan untuk pema-sangan intubasi endotraheal. o · Gangguan pertu-karan gas dapat megakibatk an respiratori distres karena hypokse- mia.

perifer b. o · Mempermu dah ekspansi paru o · Intubasi mungkin diperlukan untuk memelihara oksi-genasi Lanjutan Diagnosa/masalah Tujuan & kriteria hasil Intervensi Rasionalisasi kolaborasi (E. o · Menurunka n hi- poksemia o · Mendorong untuk bernafas dalam.d. stridor 6. yang ditandai oleh:  · Denyut nadai dapat diraba melalui palpa-si/Dopler . A)  · Tidak ada ronchi. yang ditandai oleh: 5. edema trahea. adekuat.d. A) Bersihan jalan nafas klien akan efektif. konstriksi akibat Perfusi perifer klien akan menjadi luka bakar. whezing. Perubahan  · Tidak ada dispnea perfusi jaringan  · Tidak ada sianosis.  · Sekresi pulmoner bersih menurunnya sampai putih fungsi ciliar paru  · Monbilisasi sekreai pulmoner akibat injuri efektif inhalasi  · Respirasi tanpa upa-ya  · Respirasi rate:16-24 kali/mnt (E. Bersihan jalan nafas tidak efektif  · Suara nafas bersih b.

Warna.  · Letakan peralatan suction oral dalam jangkaun klien un- tuk digunakan sen-diri oleh klien.  · Lepaskan semua perhiasan & pakai-an yg kencang/ sempit  · Batasi penggunaan cuff tekanan darah yang dapat menye-babkan konstriksi pada ekstremitas. o · Mempermudah dalam member-sihkan saluran nafas bagian atas.  · Monitor denyut arteri melalui pal-pasi atau dengan Dopler setiap jam selama 27 jam. o · mendorong klien untuk member-sihkan sendiri sekresi oral dan sputum. kemudian se-tiap 2-4 jam. o · Dapat membaha- yakan sirkulasi sebagai . dan monitor serta doku-mentasikan karak-teristik sputumnya.  · Lakukan endotra-cheal suction jika diperlukan. bau dan banyaknya dapat mengindi-kasikan adanya infeksi.  · Kaji Capilary refill pada kulit yang tak terbakar pada bagi-an ekstremitas yg terkena. konsistensi. o · Menghilangkan sekresi dari sa-luran nafas bagi-an atas. saat terjaga. · Capilari refill pada kulit yang tidak ter-bakar <>  · Tidak ada kebal  · Tidak terjadi pening-katan rasa nyeri pada waktu melakukan latihan ROM  · Ajarkan klien un-tuk batuk dan ber-nafas dalam setiap 1-2 jam selama 24 jam.

6 – untuk melakukan 101. yang mitas yang terkena suhu udara. latihan ROM aktif  · Antisipasi & siap-kan klien untuk escharotomy  · Perawatan Post Escharotomy : Kaji keadekuatan sirkulasi : Ø Cek nadi Ø Catat warna. ditandai oleh di atas permukaan core body jantung. elek- .  · Atasi perdarahan post operasi escharotomy dgn penekanan. temperature  · Dorong klien antara 99. o · Dapat menurun-kan aliran arteri dan venous return. o · Menurnkan/menghilan gkan hipok-semia o · Capilary refil menjadi meman-jang & gangguan sirkulasi. nye-ri dengan 7.d. hankan suhu latihan ROM aktif kehi-langan jaringan tubuh yang  · Tinggikan ekstre- epitel dan fluktuasi normal. Hypotermia b. pergerakan & sensasi ekstre-mitas yang terkena. akibat terjadinya edema.0 derajat F. Lanjutan Diagnosa/masalah Tujuan & Intervensi Rasionalisasi kolaborasi kriteria hasil (E. A) Klien akan  · Kaji tingkatan memperta.

menja- hit pembuluh yang mengalami perda- rahan.  · Meningkatkan venous return dan menurunkan atropi otot.  · Monitor suhu rec- tal sesuai indikasi (setiap jam selama fase emergensi dan setelah dilakukan pembedahan  · Iskemia jaringan menyebabkan timbulnya rasa nyeri. o · Hipotermia dapat terjadi setelah kehilangan kulit karena rusaknya regulator panas. trocautery.  · Menurunkan pembentukan edema dependen.  · Jaringan yang masih hidup di- bawahnya akan berdarah.  · Data-data tsb mengindikasikan perfusi yg adek- wat. .  · Escharotomi dila- kukan untuk memperbaiki sirkulasi dan jaringan.

A) trointestin dan perawatan luka akan  · Batasi lama 8. luka.  · Berikan antacida dan/atau H2 resep- tor antagonis sesu- ai program dokter. respon stres semapai dengan 30 neurohormonal Nutrisi klien menit atau kurang akibat luka bakar adekuat. bakar. pemanas. selama melakukan (E.  · Monitor dan doku-mentasikan nilai pH gaster dan ada-nya darah setiap 2 jam pada saat NGT terpasang. ditandadi dengan suhu air oleh dapat antara 98 – 102.  · Kaji berat badan sebelum luka bakar  · Konsulkan pada ahli diet o · Bagian yang ter- buka (terekspos) dapat menyebab- .0 (A) mempertahankan derajat F pada 85-90%  · Gunakan 9. Perubahan nutrisi: berat badan pemanas luar / kurang dari sebelum luka radiasi lampu kebutuhan tubuh b. meningkatnya  · Pertahankan/peli- kebutuhan metabolik hara ruangan pro- untuk penyembuhan sedur tetap hangat.d. Resiko tinggi mempertahankan pengo-batan terjadi stres ulcer pH gaster > 5 hidroterapi b.  · Monitor feses akan adanya darah.d. Lanjutan Diagnosa/masalah Tujuan & kriteria Intervensi Rasionalisasi kolaborasi hasil Masalah Perawat akan  · Batasi bagian tu- Kolaborasi memo-nitor buh yang terpapar perdarahan gas.

dan mungkin dapat dieksresi keda-lam feses. kan hipotermia. . o · Sumber panas eksternal o · Sekresi asam gaster dapat menyebabk an perdarahan o · Menurunka n isi asam lambung o · Stres ulcer me- nyebabkan per- darahan. Panas keluar dari luka yang terbu-ka dan setelah hidroterapi mela-lui evaporasi. o · Kebutuhan kalori didasarkan pada berat badan pre luka bakar o · Untuk melakukan kajian nutrisi.

 · Catat intake kalori (jumlah kalori)  · Ukur berat badan setiap hari untuk mengikuti kecende- rungan be at badan (kecuali: jika pro- sedur operasi me- merlukan pemba-tasan pergerakan). Lanjutan Diagnosa/masalah Tujuan & kriteria Intervensi Rasionalisasi kolaborasi hasil  · Kaji pola makan.  · Atur jadwal treat- men yang diberi.  · Sediakan waktu . kesukaan.kan agar tak meng- ganggu jadwal ma- kan. alergi makanan dalam 72 jam setelah makan.  · Lakukan oral higi-ene setiap shift/jika dibutuhkan.

 · Sediakan alat bantu utk mempermud ah makan.  · Sebagai data dasar  · Data kuantitatif intake kalori  · Berat badan akan stabil jika intake kaloti terpenuhi  · Mencegah stoma-titis & meningkat kan selera . istirahat sebelum jam makan jika klien mengalami nyeri karena prose-dur atau treatmen.  · Dorong klien/kelu- arga unttk memba-wa makanan kesu-kaan dari rumah.  · Berikan nutrisi suplemen diantara jam makan.  · Berikan reinforce- men positif untuk makan.

 · Kebutuhan kalori seringkali perlu ditingkatkan . A) Klien tak akan menga. makan  · Jika jadwal ma- kan terganggu dapat menurun- kan intake kalori  · Nyeri menurun- kan selera makan  · Mempermu dah perawatan diri  · Klien akan selera dengan makanan yang disukai. .  · Klien anoreksia meyakini bahwa makan tidaklah bermanfaat Lanjutan Diagnosa/masalah Tujuan & kriteria Intervensi Rasionalisasi kolaborasi hasil (E. Resiko tinggi mikroba pada luka.lami invasi 10.

dan prosedur pembeng- invasif (pengambilan kakan. urine dan sputum negatif.  · Pertahankan tehnik untuk mengontrol infeksi  · Instruksikan kelua-rga atau lainya ten-tang tindakan-tin- dakan mengontrol infeksi. sampel darah baik arteri kemerahan.  · Berikan propilaksis tetanus jika perlu. yg ditandai oleh : hilangnya pertahanan kulit. . cateter dan intravenous  · Tidak ada cateter).  · Lakukan cuci tangan dengan baik  · Kaji tanda- tanda klinik infeksi: perubahan warna luka atau drainage.terjadinya infeksi b. adanya luka <> pemasangan kateter  · Suhu : 36- (indweling urinary 37°C.d. vena)  · Kultur darah. maupun vena dan atau sekret bronchoscopy) purulen pada tempat- tempat penusukan (kateter. ganggu-an respon  · Hasil kultur imune.

mual. paralitic ileus. halusinasi.  · Mencegah konta-minasi silang  · . menggigil. bau. perubahan tanda-tanda vital. penyembuhan yang lama. hiper- glikemia dan gliko-suria.  · Potong rambut ba- dan di sekitar tepi-an luka (kecuali bulu dan alis mata)  · Lingkungan es-char yang anae-robic memung- kinkan pertum-buhan organisme penyebab tetanus.  · Buang jaringan yg telah mati. bingung. anoreksia. nyeri kepala.  · Sebelum diberikan obat topikal ulang. gelisah. cuci dan bersihkan luka lebih dahulu.

injury oleh: mulut. Rehabilitasi/R) Klien akan lebih . .  · Jaringan tersebut medium yg baik bagi pertumbuh-an bakteri  · Rambut dapat terkontamina si & menganggu me- nempelnya krim Lanjutan Diagnosa/masalah Tujuan & kriteria Intervensi Rasionalisasi kolaborasi hasil (E.45 menit sebe- nyaman ditandai lumnya jika me-lalui 11. Nyeri b.  · Untuk membuang kotoran. Meningkatka n kesadaran/ke pa-tuhan.d.  · Menurunkan insiden kontami-nasi silang  · Luka terbuka dan klien imunokom- promi sehingga infeksi luka baik lokal maupun sis- temik adalah suatu resiko.

guided obat image-ry.  · .30 menit treatmen dan Menyatakan sebelumnya jika kecemasan. rasa melalui intra nyeri/tak muskular nyaman berkurang.  · Bicaralah dengan klien ketika mela- kukan perawatan dan melakukan prosedur. stimulasi ujung-ujung saraf. .luka bakar.5-10 menit  · Klien dapat sebelumnya jika menge-nali melalui intravena faktor-faktor yg Jangan diberikan mempengaru melalui intramus- hi nyeri kular pada klien  · Kaji respon dengan luka bakar klien berat fase emergent terhadap nyeri saat  · Ajarkan perawatan tehnik re- luka dan saat laksasi .  · Kaji kemungkina n kebutuhan untuk pemberian anxioli-tik  · Catat . istirahat. terapi mu-  · Berikan sik. penghilang distraksi dan nyeri: hypnosis  · Jelaskan semua pro sedur pada klien & sediakan waktu utk persiapan.

Lanjutan Diagnosa/masalah Tujuan & criteria Intervensi Rasionalisasi kolaborasi hasil (A.  · Injeksi i.  · Menilai efekti-vitas intervensi.m. tidak dianjurkan kare-na keterba-tasan sirkulasi meng- ganggu absorpsi  · Merupakan anal-getik nonfarma- kologik  · Untuk menurun-kan kecemasan  · Meningkatka n rasa percaya klien  · Kecemasan menurunkan ambang nyeri. respon klien terhadap medikasi dan pengobatan nonfarmakol ogik  · Sebagai data dasar  · Waktu yang adekuat bagi onset analgetik. R) Klien akan  · Kaji .

perawatan diri &  · Konsulkan deficit fungsional akibat akan dengan terapi dari injuri luka bakar. peningkatan berpartisipasi balut-an. dan pe-ningkatan tentang anjur-an immobilisasi partisipasi dalam perlunya perawatan diri.  · Berikan reinforce- ment positif apabi-la tugas-tugas klien dapat dicapai.d. memperlihatkan okupasi nyeri.d. R) alat bantu. penggunaan (E. Gangguan mobilitas mengalami klien untuk fisik b. diri. mengalami kemampuan 12. kembali secara tugas-tugas maksi-mal perawatan melakukan aktivi. Kurang mampu penurunan klien dalam merawat diri berkurang-nya pera-watan (grooming. dan ditandai dengan melakukan kontraktur luka. elimination) b. prosedur mobilits fisik dalam pembedah-an. edema. tas sehari-hari  · Yakinkan dengan kecacatan pada klien dan ganggu-an bahwa ia figur yang minimal. balutan. A. bathing.  · Kaji ROM dan kekuatan otot pada area luka yg mung-kin mengalami kontraktur setiap hari atau jika diperlukan. eating. nyeri. Klien akan  · Dorong 13. kemampuan dalam diri.  · . memerlukan waktu yang cukup untuk menyelesaika n tugas- tugasnya.

 · Sebagai data dasar  · Meningkatka n perawatan diri.  · Meningkatka n kemandirian dan motivasi. Pertahankan area luka dalam posisi fungsi fisiologis.  · Jelaskan alasan perlunya aktivitas dan pengaturan po-sisi klien dan kelu- arga.  · Meningkatka .  · Membantu memotivasi klien dan menghilang- kan rasa takut/ khawatir dan ketergantung an  · Membantu meng-ontrol dirinya.  · Sebagai data dasar  · Mencegah/m enu-runkan terjadinya kontraktur.

kehilangan fisik dengan orang dan kehilangan akan lain selain peran dan anggota tanggungjawab.  · Konsultasi untuk terapi fisik dan okupasi serta atur jadwalnya sesuai kebutuhan.  · Mengembang kan mekanisme koping yang efektiv selama tahap pemulihan. keluarga. n kepatuhan. Resiko tinggi perbaikan slef esteem gangguan harga diri b.d.  · Mengemukak an keluhannya tentang konsep diri.  · Dorong melakukan ROM aktif setiap 2-4 jam saat terjaga jika tidak ada . ditandai oleh: ancaman perubahan/actual  · Membuat perubah an pada body kontak sosial image. Lanjutan Diagnosa/masalah Tujuan & criteria Intervensi Rasionalisasi kolaborasi hasil (A. R) Klien akan mengembangkan 14.

 · Jelaskan proyeksi penampilan luka ba kar & graft selama fase-fase penyem- buhan luka  · Pastikan klien melalui perkem- bangan tahapan denial. .  · Ambulasi klien ke kursi atau berjalan (jika tidak ada kon- traindikasi oleh prosedur graf atau injuri lainnya)  · Lakukan latihan pasif jika klien tak mampu berparti-sipasi aktif.  · Tentukan gaya ko-ping sebelumnya. kon- traindikasi sebab prosedur graf yang sedang dilakukan. berduka dan menerima injuri dan recoveri  · Untuk diberikan alat yang dibu- tuhan.

 · Sebagai data da-sar tentang ko-ping sebelumnya dan mungkin kli-en akan mencoba lagi gaya koping tersebut. · Mengontrol ede-ma post- resusitasi dan mencegah atropi otot. per-lengketan tendon. persepsi terhadap . dapat menurunkan miskonsepsi.  · Memberikan informasi.  · ROM pasif mempertahan kan gerak sendi dan tonus otot.  · Perkembanga n klien bervariasi tergantung pada tingkatan injuri.  · Ambulasi meningkatkan kekuatan otot dan fungsi cardiopul- moner. kekakuan sendi dan pemendekan capsular.

sistem pe-nyokong & gaya koping sebelum-nya.  · Dorong  · Keluarga agar mung-kin berin. n rasa  · Tingkatkan takut rasa percaya . A. takut dan teraksi membutuh . harapan palsu .Dukung peran  · emosional. . yang emer-gensi dan  · . sifat haya.Beri informasi  · Jangan diri klien: yang jujur. kepercayaa mengungkap n an stres . dimulai.Bantu anggota tentang per keluarga/orang baikan lain untuk berin. dan membe- reinforcement rikan positif. fungsi jika teraksi dengan kerusakan klien. irrever sibel. Resiko tinggi akan perbaikan strategi pemberian tif adalah tidak efektifnya coping koping ditandai oleh: perawatan berba- keluar-ga b. kecemasan pendukung  · yang tersedia. Menurnka  · Memahami watan dan pengo.Sampaikan Memotivas  · Kaji infor-masi i klien.  · kritis dari luka bakar Mengungkap mua aktivitas dan Meningkat dan perpisahan/ jauh kan tujuan prosedur sebelum kan dari rumah dan teman. R) Keluarga akan . Lanjutan Diagnosa/masalah Tujuan & criteria Intervensi Rasionalisasi kolaborasi hasil (E. pengobatan.Pastikan  · Perilaku menga-lami kontinu-itas maladap 15.perkem-bangan menurunka adaptif klien.Diskusikan se.d. perilaku mal. klien dalam pera. n pelaya-nan batan. injuri.

Luasnya luka dan perubahan penam pilan klien. rumah.  ·  · Bagi Memfasilit informasi asi pada reinteraksi keluarga sosial atau orang  · Persiapan lain yang untuk berkunjun menurunka g untuk n rasa pertama takut kalinya tentang: .  · Bantu klien meng-atasi stres dengan memberikan stra- tegi koping seperti diversi dan tehnik relaksasi  · Informasikan kelu-arga tentang per- kembangan/perub ahan klien tiap . dengan kan orang lain bimbingan diluar .Prosedur dan per-alatan yang digu-nakan. . Lanjutan Diagnosa/masalah Tujuan & Intervensi Rasionalisasi kolaborasi kriteria hasil  · Tentukan bagaima-na cara klien dan keluarga mengatasi stres dimasa lalu.

hari. pekerja sosial.  · Konsulkan pada psikolog. psikiater. pe-rawat spesialis psi-kiatri jika diperlu-kan  · Sebagai data dasas  · Memberikan strategi baru pada klien  · Mempertahankan persepsi yang re- alistik tentang perkembangan klien  · Para profesional tersebut dapat membantu memperbaiki strategi koping klien .

Related Interests