NAMA : NANDA REZKI MUBARAK

NIM : 341 303 409

MATA KULIAH : ANTROPOLOGI

Aceh adalah sebuah provinsi di Indonesia. Aceh terletak di ujung utara
pulau Sumatera dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Ibu kotanya
adalah Banda Aceh. Jumlah penduduk provinsi ini sekitar 4.500.000 jiwa.
Letaknya dekat dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India dan
terpisahkan oleh Laut Andaman. Aceh berbatasan dengan Teluk Benggala di
sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur,
dan Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan.

Aceh dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran Islam di
Indonesia dan memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Asia
Tenggara. Pada awal abad ke-17, Kesultanan Aceh adalah negara terkaya,
terkuat, dan termakmur di kawasan Selat Malaka. Sejarah Aceh diwarnai oleh
kebebasan politik dan penolakan keras terhadap kendali orang asing, termasuk
bekas penjajah Belanda dan pemerintah Indonesia. Jika dibandingkan dengan
dengan provinsi lainnya, Aceh adalah wilayah yang
sangat konservatif (menjunjung tinggi nilai agama). Persentase penduduk
Muslimnya adalah yang tertinggi di Indonesia dan mereka hidup
sesuai syariah Islam. Berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia,
Aceh memiliki otonomi yang diatur tersendiri karena alasan sejarah.

Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah, termasuk minyak
bumi dan gas alam. Sejumlah analis memperkirakan cadangan gas alam Aceh
adalah yang terbesar di dunia. Aceh juga terkenal dengan hutannya yang terletak
di sepanjang jajaran Bukit Barisan dari Kutacane di Aceh Tenggara sampai Ulu
Masen di Aceh Jaya. Sebuah taman nasional bernama Taman Nasional Gunung
Leuser (TNGL) didirikan di Aceh Tenggara.

Jika mengulas semua ada istiadat Aceh tidak akan mungkin muat hanya dalam tulisan ini. Aceh yang juga dikenal dengan kentalnya adat. Sedangkan pada acara resepsi pernikahan hal selama ini menghampiri masyarakat adalah budaya Catering yang menghampiri masyarakat perkotaan dengan maksud lebih mudah akan tetapi ini suatu kemerosotan dalam hal adat istiadat Aceh. tanpa disengaja budaya gotong royong yang tertanam kental di masyarakat Aceh sudah mulai terkikis. Aceh Besar merupakan Kabupaten yang terletak sangat dekat dengan Ibu kota Provinsi Aceh yaitu Banda Aceh. Budaya Catering ini baru menghampiri masyarakat perkotaan belum sampai ke perkampungan termasuk tempat kediaman saya saat ini. budaya dan agama dan kekayaan alamnya. bahasa dan lainnya tentang daerah aceh pada umumnya dan pada khususnya di daerah Gampong Lampaseh Krueng Kecamatan Montasik Aceh Besar yang menjadi tempat tinggal saya dalam 9 tahun terakhir ini. . Begitu juga dalam hal acara-acara lain seperti Maulid. Yang mana hal ini menyebabkan sedikit banyaknya mengurangi adat istiadat yang dipengruhi oleh kehidupan yang modern. Konon katanya provinsi ini dikenal sebagai provinsi yang masyarakatnya taat beribadah walaupun sekarang hanya tinggal simbolnya saja. bahasa dan lain-lainnya. Di Gampong Lampaseh Krueng apabila ingin mengadakan pesta maka terlebih dahulu mengadakan Rapat di Meunasah untuk menyusun agenda dan petugas pada acara tersebut. Kanduri orang meninggal dan lain sebagainya. Menilik Aceh yang kuat akan adat istiadatnya. Sangat jelas terlihat sejak dalam hal meulakee (Meminang) yang melibatkan antara orang tua Gampong begitu juga dalam hal Intat Lintoe dan sebagainya. agama. Yang paling terlihat adat istiadat adalah dalam hal perkawinan yang merupakan suatu kegiatan yang sangat sakral bagi masyarakat. sehingga terdapat berbagai macam acara Kanduri. Dikarenakan masyarakat Aceh ini memang sangat dekat dekat budaya Kanduri. Yang mana dalam hal ini tidak hanya menghubungkan antara dua insan manusia tetapi juga dua keluarga besar bahkan antara dua Gampong. mengingat banyaknya suku-suku di Aceh yang pastinya akan berbeda dalam adat istiadat. dalam hal ini saya ingin mengupas sedikit masalah adat.

Begitu juga bagi masyarakat Lampaseh Krueng. Begitu juga dengan rumah adat Aceh juga masih terdapat beberapa rumah jaman yang masih banyak berdiri di wilayah Lampaseh Krueng walaupun sudah ada juga yang tidak berpenghuni. kanduri blang. Kemudian dalam hal agama bagi masyarakat Aceh memang tidak bisa dipisahkan. Seperti tarian ranup lampuan ini juga masih ada pada acara-acara pernikahan. Seni untuk seluruh Aceh sudah mulai berkurang terbukti dengan banyaknya pemuda- pemuda Aceh yang tidak mengerti dengan tarian daerahnya sendiri. kanduri jeurad. kanduri 7. di sana terdapat berbagai macam Kanduri. kanduri 40 bahkan sampai ke Kanduri tulak bala. Karena sebagaian besar adat Aceh merupakan ajaran agama. Ajaran-ajaran agama masih sangat dianut erat oleh masyarakat karena hal itu sudah menjadi adak kebiasaan bagi masyarakat. Seni di Aceh hanya dilestarikan oleh sanggar-sanggar seni yang peminatnya sudah mulai berkurang sebagai bukti bahwa kesenian di Aceh sudah kurang diminati oleh Masyarakat Aceh. Peutron Aneuk. Apabila saya membandingkat dengan budaya di Meulaboh tempat kelahiran saya. Ditinjau dari seni memang Aceh ini merupakan daerah yang sangat kaya akan hal seni. Begitu juga dengan adat-adat yang lain seperti Peusijuk. . mulai dari Perkawinan. dan lainnya. Bahkan di wilayah Banda Aceh yang statusnya sebagai Ibu Kota juga masih terlihat adat istiadat ini walaupun lebih beresiko hilang yang dikarenakan pengaruh modern. adat ini masih terdapat di seluruh wilayah Aceh termasuk di Gampong Lampaseh Krueng Kecamatan Montasik Kabupaten Aceh Besar. maka saya menemukan mulai hilangnya budaya yang terjadi di Aceh Besar. Hal ini memang masih ada walaupun sudah jarang diadakan yang dikarenakan kondisi kehidupannya. yang mana di Meulaboh masih sangat banyak adat-adat terutama dalam Kanduri. berbagai seni tari yang terdapat di Aceh seperti Ranup Lampuan. Rapai Geleng. Meuseukat. Begitu juga bagi masyarakat yang melanggar agama seperti zina juga masih mendapat sanksi dari Gampong.

. Mulai dari orang tua yang tidak mengajarkan lagi bahasa daerah kepada anaknya yang ini juga terjadi di daerah Lampaseh Krueng sehingga banyak anak-anak tidak mengerti kata-kata bahasa Aceh yang jarang didengar. terbukti tidak hilangnya jenis-jenis bahasa yang terdapat di Aceh. Memang dalam konteks masyarakat umum semuanya bisa berbicara bahasa Aceh bahkan jarang terdengar seseorang yang berbicara dalam bahasa Indonesia terkecuali dalam lingkungan formal seperti sekolah dan lain-lainnya. Dalam hal bahasa memang sesuatu yang masih dilestarikan. Aceh juga kaya akan bahasanya. tidak kurang dari 13 jenis bahasa yang terdapat di Aceh dan itu belum termasuk pebedaan logat yang diucapkan oleh masyarakat Aceh. Akan tetapi untuk bahasa Aceh sendiri sudah mulai terkikis sedikit demi sedikit. Sebagai contoh lain yaitu masih banyaknya balai-balai pengajian dari skala TPA sampai ke tingkat Dayah yang menunjukkan kekentalan terhadapa Agama di Aceh.

Related Interests