JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No.

2, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) D-110

Paving Geopolimer Berbahan Dasar Bottom Ash
dan Sugar Cane Bagasse Ash (SCBA)
Achmad Freddya Eka Prasandha, Triwulan, dan Januarti Jaya Ekaputri
Jurusan S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: triwulan@ce.its.ac.id, januarti@ce.its.ac.id

Abstrak— Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan ditimbun dalam tanah juga akan mengakibatkan kandungan
bottom ash sebagai bahan dasar pembuatan paving zat kimia menyebar melalui media air dan udara sehingga
geopolimer. Diketahui bahwa bottom ash merupakan sehingga mengakibatkan permasalahan lingkungan [2].
limbah hasil pembakaran batu bara yang jarang Bottom ash memiliki ukuran partikel yang lebih besar dan
dimanfaatkan dibandingkan dengan fly ash. Selain itu lebih berat dibandingkan dengan fly ash [3], selain itu
digunakan SCBA (Sugar Cane Bagasse Ash) sebagai kandungan Si (silika) dan Al (Alumina) pada bottom ash
sumber silika aktif untuk menambah kandungan silika kurang begitu reaktif apabila dibandingkan dengan fly ash,
pada bottom ash. Agregat atau filler pada paving sehingga dalam penelitian ini digunakan sebagai bahan
geopolimer menggunakan abu batu, sedangkan untuk bangunan non struktural seperti paving [4].
binder (pengikat) menggunakan larutan alkali aktifator. Paving geopolimer sendiri dibuat dengan tanpa
Hasil pengujian menunjukkan bahwa semakin banyak menggunakan semen sama sekali. Bahan yang digunakan
penambahan berat SCBA pada paving geopolimer sebagai pengikat (binder) berupa larutan alkali aktifator
justru menurunkan kualitas dari paving tersebut. Dari yang terdiri dari larutan NaOH (Sodium hidroksida) dengan
pengujian kuat tekan paving diperoleh hasil kuat tekan Na2SiO3 (Sodium silikat). Larutan alkali aktifator dibuat
maksimal pada umur 28 hari dengan penambahan berat dengan perbandingan tertentu akan mempengaruhi sifat
SCBA 0%, yaitu sebesar 11.60 MPa. Nilai keausan mekanik dari beton geopolimer [5].
paling besar terjadi pada paving dengan penambahan Selain itu juga digunakan SCBA (Sugar Cane Bagasse
berat SCBA 35%, yaitu yaitu sebesar 3.12 mm/menit, Ash) untuk menambah sumber silika aktif dikarenakan
sedangkan keausan paling kecil terjadi pada paving material bottom ash memiliki kadar silika dan alumina yang
dengan penambahan berat SCBA 30% yaitu sebesar kurang amorf jika dibandingkan dengan fly ash. SCBA yang
0.72 mm/menit, terjadi ketimpangan nilai keausan akan dipergunakan sebagai bahan tambah dikalsinasi
paving dikarenakan benda uji terendam banjir sehingga terlebih dahulu dengan mesin furnace. SCBA (Sugarcane
menyebabkan perbedaan kualitas antar paving dalam Bagasse Ash) sendiri dihasilkan dari pembakaran ampas
pengujian keausan, sedangkan resapan air paving paling tebu pada pabrik gula maupun etanol. SCBA memiliki
kecil terjadi pada paving dengan penambahan berat kandungan utama berupa silika (SiO2) dan material karbon
SCBA 0% yaitu sebesar 10.58%. Sehingga diperoleh [6]. SCBA tersebut merupakan limbah yang dapat
kesimpulan akhir bahwa paving geopolimer tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan karena jarang
memenuhi persyaratan standar paving berdasarkan SNI dimanfaatkan [7].
03-0691-1996 namun memenuhi syarat untuk dijadikan . Sedangkan untuk filler digunakan adalah abu batu.
bata sebagai pasangan dinding kelas I berdasarkan SNI Menurut [8] Saat ini abu batu tidak begitu laku untuk dijual
03-0349-1989. karena pemakaian dalam industri konstruksi sudah sangat
sedikit mengingat konstruksi perkerasan jalan sudah banyak
Kata Kunci— alkali aktifator, bottom ash, Geopolimer, beralih ke lapisan aspal beton, sehingga perlu untuk
paving, SCBA. diupayakan pemanfaatan sebagai campuran pembuatan
paving.
I. PENDAHULUAN
aving merupakan salah satu produk bahan bangunan
P yang cukup marak dipergunakan dewasa ini., paving
juga memiliki cukup banyak kelebihan, baik dari segi
II. MATERIAL PAVING
Material yang digunakan dalam pembuatan paving
kekuatan, kemudahan pembuatan, maupun pelaksanaan. geopolimer antara lain :
Penggunaan paving sangatlah mendukung go green yang a. Bottom Ash
telah dikumandangkan secara nasional maupun Bottom ash yang dipergunakan merupakan limbah dari
internasional, karena daya serap air melalui pemasangan PT Kasmaji, digunakan sebagai bahan dasar. Sebelum
paving dapat menjaga keseimbangan air tanah [1]. digunakan bottom ash dihaluskan dengan bond mill
Pada penelitian kali ini akan dibahas tentang pembuatan untuk mendapat gradasi yang lebih halus, kemudian
paving geopolimer berbahan dasar bottom ash. Seperti telah disaring lolos ayakan no. 16.
diketahui sebelumnya bottom ash merupakan limbah hasil b. SCBA (Sugar Cane Bagasse Ash)
pembakaran batu bara yang masih jarang dimanfaatkan SCBA disebut juga abu ampas tebu, dalam konteks ini
dibandingkan dengan fly ash sehingga lebih banyak dipergunakan untuk menambah silika aktif
ditimbun. Seperti halnya pada fly ash, bottom ash yang dikarenakan unsur Si dan Al pada bottom ash. Sebelum

20 198.00 46. SCBA dikalsinasi dengan mesin furnace IV.60 0.00 CaO 3.45 150.04 cm akan ditunjukkan pada Tabel 1. 15%.00 46.00 46.39 210. Berat Volume dari gr/cm³. No. Reaktivitas. Dari Abu batu merupakan sisa dari industri pemecahan batu pengujian berat jenis bottom ash diperoleh nilai sebesar 2.00 Cr₂O₃ 0. dan Fe2O3 (Fero oksida).00 79.33 (stone crusher).80 P20-S 1716. Perbandingan antara pasta (bottom ash dan larutan Na2O 0.73 variasi adalah sebagai berikut : P0-S = Paving geopolimer dengan 0% SCBA P15-S = Paving geopolimer dengan 15% SCBA Dari hasil analisa XRF pada Tabel 3 diperoleh hasil P20-S = Paving geopolimer dengan 20% SCBA bahwa senyawa kimia didominasi SiO2 (Silikon oksida). dan 35% terhadap berat bottom B.00 Na₂O 0. HASIL DAN DISKUSI dengan suhu 850°C selama 7 jam untuk mendapatkan A. P30-S = Paving geopolimer dengan 30% SCBA Persentase dari jumlah ketiga senyawa tersebut melebihi P35-S = Paving geopolimer dengan 35% SCBA 70% serta jumlah senyawa CaO kurang dari 5%. dan berat jenis. Larutan ini merupakan dari Sodium silikat (Na2SiO3) dan larutan Sodium hidroksida (NaOH) 14 SiO2 39. uji keausan.06 Mn₂O₃ 0.20 198.42 P35-S 1716.20 2640. Abu Batu XRD. 30%. dan berat jenis.76 Kode Berat (kg) untuk 1 m³ Paving Fe₂O₃ 1.56 Fe2O3 2.01 P25-S 1716.76 P30-S 1716. 4.00 600.58 III. Oksida % SiO₂ 83. Larutan Alkali Aktifator Tabel 2.26 b. Analisa XRF SCBA buah/m³. XRF.JURNAL TEKNIK ITS Vol.00 46. Abu batu dipergunakan sebagai filler gr/cm³. SEM.67 MgO 5. d. (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) D-111 dipakai.12 79. Analisa Bottom Ash kondisi amorf. kelas F.20 198.48 120. Analisa SCBA ash.00 46. Analisa XRF Bottom Ash Larutan alkali aktifator dipakai sebagai bahan Senyawa % pengikat.5:1.09 79.00 480.94 Total (kg) Benda Uji Abu Batu Bottom Ash SCBA NaOH 14M Na2SiO3 Air TiO₂ 0. diketahui bahwa kandungan senyawa kimia yang terdapat d. c.5:1.00 510.00 K₂O 2.00 450. atau pengisi pada paving geopolimer. P25-S = Paving geopolimer dengan 25% SCBA Al2O3 (Aluminium oksida). Variabel yang dipakai adalah penambahan SCBA sebesar 0%. Perbandingan antara bottom ash dengan larutan P2O5 1. dan resapan air paving.20 2640. Perbandingan alkali berupa Na₂SiO₃ dengan Dari hasil analisa yang terdapat pada Tabel 2 larutan NaOH 14 M adalah 2.15 P0-S 1716.20 198. Penambahan air untuk pengenceran larutan NaOH pada material bottom ash didominasi oleh senyawa SiO2 14 M menjadi larutan NaOH 7.00 420. XRF.00 Tabel 1.20 198. material tersebut termasuk kedalam material pozzoland kelas N.15 79.00 46. ternyata Molaritas NaOH turun dari yang proses pembakaran sehingga berdasarkan ASTM C618 sebelumnya 14 M menjadi 7.51 90.18 79.20 198. URAIAN PENELITIAN CaO 1.00 SO₃ 0. Komposisi Kebutuhan Material Tiap 1m3 Paving Geopolimer Al₂O₃ 3. namun Dengan adanya penambahan air untuk menambah karena material tersebut bersifat alami atau berasal dari workability. Al2O3 (Aluminium oksida).00 390.20 2640. Berat jenis SCBA yang telah berbentuk balok dengan ukuran perbuah sebesar (20x10x6) dikalsinasi pada suhu 850°C selama 7 jam adalah 2. K2O 0.04 Pada penelitian ini mix design yang dipakai yaitu : a. 25%. Analisa yang dilakukan terhadap material ini berupa c.20 2640.62 P15-S 1716.73 M. senyawa tersebut melebihi 70% dan jumlah senyawa CaO kurang dari 5% sehingga berdasarkan ASTM C618 material Total benda uji yang dibuat berjumlah 90 buah untuk bottom ash tersebut termasuk kedalam material pozzoland pengujian kuat tekan.42 180.21 79.20 2640. TGA. dan Fe2O3 bagian dari jumlah larutan alkali atau 8.20 2640.Jumlah total dari persentase dari ketiga berat campuran bottom ash dengan SCBA. 2.96 M dengan perbandingan 2. 20%. Al2O3 44.00 MgO 1.16 Penjelasan kode benda uji pada masing-masing P₂O5 1. .11 alkali 65:35. Analisa yang dilakukan pada SCBA antara lain XRD. Beton Geopolimer adalah 2200 kg/m3 (berdasarkan dari analisa pembuatan benda uji) dengan total berjumlah 830 Tabel 3.33% dari (Fero oksida).34 SO3 0.73 M sebesar 5/35 (Silikon oksida).46 alkali) dengan agregat 35:65. Komposisi material tiap 1 m3 paving geopolimer SEM.

66% Pengujian kuat tekan dilakukan pada paving umur Grading Zone =2 7. Hasil kuat tekan paving D.00 SCBA 15% dicetak menggunakan alat pres paving manual. Setiap variasi terdiri dari 3 benda uji. Hasil analisa ketahanan aus paving pada Gambar 2. Curing dan Storage Paving lainnya. Kadar Lumpur (pencucian) = 9. Kuat tekan meningkat seiring peningkatan umur paving [10]. Hasil pengujian berat volume paving ditunjukkan paving mencapai 28 hari. JURNAL TEKNIK ITS Vol. Grafik Analisa Ketahanan Aus Paving .19 3 2.63 1890.04 gr/cm³.17 1857. Grafik Analisa Berat Volume Paving Variasi SCBA (%) Gambar 4. 0. Umur Paving (Hari) Gambar 3 Analisa Kuat Tekan Paving Dari pengujian kuat tekan terhadap paving geopolimer yang ditunjukkan pada grafik diketahui bahwa kuat tekan paving tertinggi terdapat pada paving dengan kandungan SCBA 0% yaitu sebesar 10.57% selama 7 jam memiliki berat jenis paling rendah yaitu Berat Volume (dengan rojokan) = 1. Data dan Analisa Paving Geopolimer ditunjukkan masing-masing pada Gambar 3.00 berbentuk balok dengan dimensi (20x10x8) cm.2558x + 0. Sampai saat waktu pengujian. Hasil Pengujian Ketahanan Aus Paving Pengujian berat volume paving dilakukan pada umur Analisa ketahanan aus paving dilakukan pada saat umur 28 hari. 3.123 1915.723 0 1 0 15 20 25 30 35 y = 0.1% 4.8% Kadar Lumpur (pengendapan) = 10.7156 0 Variasi SCBA (%) 0 15 20 25 30 35 Gambar 2. Apabila 4. 2.00 SCBA 30% umumnya atau bisa juga diletakkan dalam gudang.60 kg/lt sebesar 2.00 hindarkan benda uji dari air atau hujan apabila benda uji 7 14 21 28 diletakkan di lapangan dengan cara ditutup terpal. Benda uji SCBA 0% Kuat Tekan (MPa) 12.21 dan 28 hari pad masing-masing variasi. Hal ini Berat Jenis (SSD) = 2. Dengan demikian paving pada umur 28 hari dengan kandungan SCBA 0% termasuk kedalam paving kelas D sesuai dengan SNI 03-0691 96 tentang bata beton dan dapat dipergunakan untuk taman dan penggunaan Gambar 1.96 1842. Sehingga semakin banyak penambahan berat SCBA akan mengurangi berat volume paving Berat Volume (tanpa rojokan) = 1.050 1.00 kondisi memungkinkan paving dijemur dengan suhu SCBA 35% wilayah Kota Surabaya atau sekitar 30°C-34°C dan 2.63% geopolimer. Hasil Pengujian kuat Tekan Paving Modulus Kehalusan = 2.63 1854. Hasil Pengujian Berat Volume 5. Terjadi penurunan kuat tekan seiring penambahan berat SCBA [9].29 1848. (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) D-112 C. Curing dan Storage 10. ditunjukkan pada Gambar 4. 2. 4.41 gr/cm³ dikarenakan dari keseluruhan material pada paving Kadar air Resapan = 3.00 SCBA 25% diletakkan diluar ruangan seperti pada paving pada 6.56 kg/lt geopolimer [9].342 0. Pembuatan benda uji Hasil benda uji yang dibuat berupa paving geopolimer 14. No. Analisa Abu Batu Terjadi penurunan berat volume seiring dengan Hasil analisa fisik terhadap material abu batu antara lain : penambahan SCBA kedalam paving geopolimer. 6000 5 Berat Volume (kg/m³) Keausan (mm/menit) 4000 4 3. SCBA yang dikalsinasi dengan suhu 850° C Kelembaban = 2.416 1.14.13 MPa pada umur 28 hari. 1.00 kelembaban udara 70%-80%.00 SCBA 20% Setelah selesai dicetak benda uji disimpan atau 8.011 2000 2 1.

33 paving dengan penambahan SCBA 35% yaitu sebesar Kuat Tekan (MPa) 16.487 - P30-S 5. . bahwa bahwa semakin banyak penggantian 9.72 7. P25-S 6. Variasi SCBA (%) Gambar 5. Hasilnya ditunjukkan masing – Kasmaji.41 12. akan tetapi apa bila ditinjau hanya berdasarkan kuat Pengujian resapan air paving geopolimer dapat dilihat tekan.123 1.65 5.342 1.68 1. paving dengan penambahan berat SCBA 0% masuk pada Gambar 5. maksimum sebesar 26.589 .08 12. kuat tekan mortar berbahan fly ash paling masing pada Tabel 4 dan Tabel 5.45 8. Kesesuaian Paving Geopolimer Terhadap SNI 03- 0691-1996 dan SNI 03-0349-1989 Variasi SCBA (%) Dari keseluruhan hasil pengujian diperoleh data hasil uji Gambar 6 Perbandingan Kuat Tekan Mortar Pada umur 7 Hari mekanik paving geopolimer yang disesuaikan dengan persyaratan standar pada SNI 03-0691-1996 tentang bata Apabila dibandingkan dengan mortar geopolimer yang beton ( paving block) dan SNI 03-0349-1989 tentang bata sama dengan mortar berbahan dasar dari bottom ash PT untuk pasangan dinding.201 .13 9. (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) D-113 Dari grafik analisa ketahanan aus dapat dilihat keausan Kode Kuat Tekan Umur 28 Rata-rata Kesesuaian Mutu paling tinggi terjadi pada paving dengan penambahan Benda Uji Rata-rata Min.46 MPa pada Tabel 4.02 5.68 II analisa keausan. Kesesuaian Paving Geopolimer dengan SNI 03-0349-1989 Dilakukan percobaan terhadap mortar dan paving dengan menggunakan SCBA yang dikalsinasi dengan suhu berbeda.416 1. Hasil komparasi bisa dilihat pada Gambar 6.84 dengan Fly Ash 12. mengalami penurunan kuat tekan seiring dengan penambahan jumlah SCBA seperti yang ditunjukkan grafik P20-S 7.58 Pengujian ini dilakukan untuk memastikan hasil yang diperoleh dari pengujian paving dengan bahan dasar bottom y = 1. Komparasi dilakukan menggunakan mortar kubus 7 (5x5x5) cm pada umur 7 hari untuk masing-masing benda 0 uji. Merujuk pada 12. kedalam mutu paving kelas D.71 12.58 I keausan paling kecil terjadi pada paving dengan P15-S 7.87 BFS (Blast Furnace Slag) oleh SCBA akan meningkatkan 10 porositas dari mortar yang dibuat. SNI 03-0691-1996 reaktif jika dibandingkan dengan bottom ash PT Kasmaji. Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa paving geopolimmer masuk pada mutu 35 kelas I sesuai SNI 03-0349-1989 sebagai bata beton untuk Penyerapan Air (%) pasangan dinding.21 16.01 4.52 13. Dengan demikian paving 5 7. terjadi ketimpangan grafik P20-S 7.5639 ash.883 .22 13. Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 4 paving geopolimer tidak masuk sesuai persyaratan SNI 03-0691- 6.011 1.08 1. Komparasi Mortar dengan Bahan Dasar Bottom Ash 21 16. Sehingga dapat diperoleh 20 kesimpulan bahwa penambahan SCBA menyebabkan resapan air pada paving semakin besar. 4.08 II penambahan berat SCBA 30%.62 3.61 10. baik mortar berbahan bottom ash ataupun mortar 0 15 20 25 30 35 berbahan dasar fly ash.71 12.262 - pada Gambar 6. Karakterisasi Suhu Kalsinasi SCBA Terhadap Kuat P35-S 5. P0-S 10.64 13.21 16. No.64 13. Kesesuaian Paving Geopolimer dengan SNI03-0691-1996 umur yang sama.62 III campuran paving geopolimer. Akan tetapi dari dua penelitian tersebut sama-sama P15-S 7.61 tidak memenuhi persyaratan uji resapan air berdasarkan SNI 7.22 III Namun bisa dilihat terjadi kencenderungan peningkatan P30-S 5.13 9. 28 8.050 0.52 13. Tekan Mortar dan Paving Tabel 5. Kode Kuat Tekan Umur 28 Rata-rata Ketahanan Aus (mm/mnt) Kesesuaian Mutu Hal ini menunjukkan bahwa fly ash PT Petrokimia lebih Benda Uji Rata-rata Min. Sehingga hasil uji paving tidak memenuhi syarat berdasarkan SNI 03-0691-1996. JURNAL TEKNIK ITS Vol.65 5.68 14 10.22 2.60 03-0691-1996.72 7.99 15 penelitian [11].14 6.52 5.723 0.17 5.29 7. 9.84 III keausan paving seiring dengan penambahan SCBA dalam P35-S 5. yang dapat diaplikasikan pada taman atau penggunaan lainnya.62 13.52 5. 0 0 15 20 25 30 35 7.14 6. Resapan Air Rata-rata Min.33 MPa jauh lebih besar dari mortar berbahan dasar bottom ash yaitu sebesar 7.58 1.953 .123 mm/menit.05 6. P0-S 10.62% dan penyerapan air terendah pada paving dengan 25 penambahan SCBA 0%.02 5.05 8. P25-S 6.61 10. 2.0306x + 9. Hasil Pengujian Resapan Air Paving 1996.41 12.84 0.62 5. Grafik Resapan Air Paving Kuat Tekan Bottom Ash Kuat Tekan Fly Ash Dapat dilihat bahwa resapan air maksimum terjadi pada 30 26. Resapan Air SNI 03-0349- komposisi SCBA 35% yaitu sebesar 3.

Kuat Tekan (MPa) 15 SCBA 850 3 Jam 11.50 Sidoarjo 1. serta suhu 850° masing-masing selama 3 dan 7 jam.00 12.7 1.0 10. 10 Dari pengujian kandungan SiO2 yang dilakukan 5 terhadap beberapa jenis material.1 5. 4. Analisa Pengujian TCLP (Toxicity Characteristic (MPa) Bottom Ash Leaching Procedure) 0.0 4.2 Ca(OH)₂. Hasil dari analisa tersebut ditunjukkan pada Gambar 10.71 62.4 18.73 29. No.7 ash. . 20 SCBA 850 7 Jam Kuat Tekan (MPa) SCBA 450 6 jam 15 SCBA 850 3 Jam SCBA 600 3 Jam 10 5 Gambar 10 Reaktivitas Material Campuran Paving 0 0 15 20 25 30 35 Dari hasil analisa rektivitas terhadap campuran material paving geopolimer dapat dilihat bahwa campuran material Variasi SCBA (%) fly ash yang tidak diayak dengan SCBA yang telah dikalsinasindengan suhu 850° C selama 7 jam yang tidak Gambar 7. Pengujian reaktivitas Material Paving Fly Ash C 35.78 75. Selain pada bottom ash pengujian rektivitas juga dilakukan terhadap campuran material paving.18 Kuat Tekan 1. Hal ini telah sesuai dengan pengerjaan 20 SCBA 450 6 jam yang telah dilakukan sebelumnya.29 42. atau perlu di Kecenderungan dari seluruh percobaan pada masing. Hasil Pengujian Kadar SiO2 Reaktif SCBA yang SCBA 600 3 Jam Dikalsinasi pada Suhu 850° dalam Waktu 7 Jam.4 Pengujian reaktivitas dilakukan terhadap material bottom Fly Ash F 52. terdapat beberapa perbedaan kuat tekan. Hasil ditunjukkan pada Gambar 9.12 Fly Ash Procedure) dilakukan untuk mengetahui kandungan 0.6 6.9 kereaktivan suatu material untuk berikatan dengan senyawa SCBA 850°C 80. (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) D-114 antara lain pada suhu 450°C selama 6 jam. pengujian TCLP dapat dilihat pada Tabel 7. Lumpur 53. Hasil pengujian SiO2 tersebut dapat dilihat tekan seiring dengan penambahan jumlah SCBA. Hasil analisa ditunjukkan pada Gambar 7 untuk mortar dan Gambar 8 untuk paving.JURNAL TEKNIK ITS Vol.50 Pengujian TCLP (Toxicity Characteristic Leaching 0. Karakterisasi suhu SCBA pada Mortar Geopolim diayak juga memiliki hasil rektivitas paling tinggi yaitu SCBA 850 7 Jam sebesar 1.283 MPa.2%. pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui SCBA 500°C 69. cari alternatif sumber SCBA aktif lain seperti abu masing suhu kalsinasi SCBA adalah berkurangnya kuat sekam dll.76%.75 33. 2. sehingga perlu peninjauan ulang untuk penggunaan material SCBA ini. Gambar 9 Reaktivitas Material Dasar Paving Pengujian ini dilakukan karena bottom ash dan fly ash pengujian ini juga dilakukan pada fly ash kelas F sebagai termasuk dalam limbah padat bahan berbahaya dan beracun komparasi terhadap bottom ash Hasil pengujian reaktivitas (B3) yang memerlukan pengelolaan khusus. Karakterisasi suhu SCBA pada Paving Geopolimer hanya sebesar 3.00 ekstraksi logam berat pada limbah bottom ash dan fly ash. suhu 600°C selama 3 jam. Material Total Bebas Reaktif (%) (%) (%) 10. Meskipun pada Tabel 6. Akan tetapi dari Variasi SCBA (%) pengujian XRF sebelumnya material SCBA ini memiliki kandungan oksida Al2O3 yang rendah yaitu Gambar 8. ternyata SCBA yang telah dikalsinasi pada suhu 850°C selama 7 jam 0 memiliki SiO2 reaktif yang paling besar diantara 0 15 20 material lain yaitu sebesar 75. namun tidak cukup besar tiap masing-masing suhu kalsinasi SCBA seperti Tabel 6 Hasil Pengujian SiO2 Material Geopolimer ditunjukkan oleh grafik perbandingan kuat tekan mortar dan SiO2 SiO2 SiO2 paving pada umur 7 hari.

sehingga perlu dipertimbangkan pemadatan paving dengan mesin pres otomatis. FTIR and Microstructure Studies of Calcined Sugarcane Bagasse Ash”. 2. Engineering and 10. “Time-Dependent Botom Ash 0. uji [11] Sahmaran Castadelli.36 1. yang diaplikasikan pada No. . Jurnal Rekayasa Sipil. “XRD. Menggunakan mesin pres semi otomatis dengan material yang sama atau menggunakan fly ash tipe F sehingga diharapkan kepadatan lebih tinggi dan meningkatkan kuat tekan. Agoes. Fauna.27 2(7)2012 pp7393-7403.1.Barathan. ISSN 2301-6752 : 33-42. tentang Baku Kemampuan Resapan Air Struktur Paving. dan daya serap air yang lebih besar pada Bagasse Ash (SCBA) Blends in the Production of Alkali- Activated Materials". K. Jurnal Scaffolding Jurusan Teknik 2. Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW). 3108-3127. Oyejobi. Januarti Jaya Ekaputri. 85 Tahun 1999. Januarti J. KESIMPULAN Research. and Maekawa. misalnya abu sekam padi dengan kandungan unsur Si dan Al berimbang.25 Modeling of Boron Leaching from Fly Ash and Adsorption to Paving dengan penambahan Solid”. D. Yulia Putri. sehingga aman 134 © (2015) Trans Tech Publications. No.29 [2] Ekaputri. Melakukan karakterisasi ulang suhu bakar SCBA sehingga diperoleh waktu dan suhu bakar yang benar-benar tepat untuk memperoleh silika amorf. Paving dengan penambahan [3] Soehardjono. "Pengaruh Penambahan Berbagai Jenis Serat Material Cr Zn Pada Kuat Tekan Paving Block". Vinicius dkk "Use of Slag/Sugar Cane keausan. 85 tahun 1999. O. A. “The geopolimer berupa fly ash dan bottom ash yang digunakan Influence of Alkali Activator Concentration to Mechanical memiliki kadar Cr dan Zn dibawah baku mutu yang Properties”.. 1. Department of Physics. Sistem pemadatan atau pres paving dengan tenaga CORVINIENSIS – Bulletin of Engineering Tome VII [2014] manual menyebabkan terjadinya penurunan kualitas Fascicule 3 [July – September] ISSN: 2067 – 3809 karakteristik mekanik berupa kuat tekan. Hasil Pengujian TCLP DAFTAR PUSTAKA mg/L [1] Adibroto. Akan tetapi apabila ditinjau [9] Firmansyah. International Journal of Science. Annamalai University. Triwulan. paving geopolimer dibandingkan dengan penelitian doi:10. Materials Science Forum Vol. Journal of Basic and Applied Scientific Research SCBA 20% steam 0.Sivakumar. Lawal. Seng (Zn) = 50 mg/L [4] Wijaya. “Evaluation of yang tinggi akan tetapi perlu diimbangi dengan unsur Al Sugarcane Bagasse Ash as A Replacement for Cement in Concrete Works”. Dedy. "Paving Geopolimer dari Coal Ash limbah Pabrik". Pelagia Research Library Advances in Applied Science V." JURNAL Mutu Uji TCLP untuk : REKAYASA SIPIL Volume 7. 3 Desember 2007: 185-193. [6] D. VI. NIGERIA ACTA TEHNICA 3. Issue 10. V. Mencari sumber silika baru selain abu ampas tebu. Ikatan geopolimerisasi terjadi dengan baik tidak hanya Sipil UNNES 2012 ISSN 2252-682X :8-16. Jayalakshmi. 18 Juni 2014. Sehingga berdasarkan SNI 03 0691 96 Technology Research (IJSETR) Volume 2. 2011. textroad. pada Tabel 7 dapat disimpulkan bahwa material paving [5] Risdanareni. 3. “Preparation of kuat tekan maksimal terdapat pada benda uji dengan Bio-cement using sugarcane bagasse ash and its Hydration perbandingan 0% SCBA pada umur 28 hari yaitu sebesar behavior”.24 1.3390/ma6083108. bergantung pada kandungan unsur Si (Silika) reaktif [10] Abdulkadir. (alumina) pada material campuran paving geopolimer. paving geopolimer dengan variasi [8] Sutarno. Govindarajan and G. Volume 10 No. October 2013 ISSN: 2278 – 7798. Triwulan. sehingga proses geopolimerisasi berjalan dengan sempurna.28 Sbagai Pengganti Semen terhadap Nilai Kuat Tekan Dan PP. 2. Materials 2013. (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) D-115 Tabel 7. 803 (2015) pp 125- ditetapkan oleh PP. ISSN 2090-4304. "Pemanfaatan Sisa Pembakaran Ampas dengan peraturan SNI 03-0349-1989 memenuhi Tebu Sebagai Bahan Pengisi Dalam Proses Pembuatan Paving persyaratan mutu bata untuk pasangan dinding kelas I. Dari hasil analisa pengujian TCLP yang ditunjukkan Surabaya. RI No.34 1. Ilorin. taman dan penggunaan lain. tentang bata beton. 1-ISSN 1978-5658 (2012): Kromium (Cr) = 5 mg/L 74-80. Annamalai Nagar. ISSN 1996-1944 : 3108-3127. Fly Ash 0. ISSN:1858-2133:1-14. Dengan Semen Jenis PCC". "Pemanfaatan Abu Batu Limbah Stone Crusher Untuk SCBA 0% termasuk kedalam mutu paving kelas D jika Bahan Paving Block". Januarti Jaya Ekaputri. Department of Civil Engineering. 4. "Pengaruh Penggunaan Bottom Ash SCBA 20% non steam 0. No. Jurnal Wahana TEKNIK SIPIL Vol.Hariharan and S.13 MPa. SARAN 1. University of Ilorin. 2 (3):544-549. Switzerland untuk dipergunakan dan ramah terhadap lingkungan. A. sebelumnya dengan benda uji berupa mortar.23 0. 12 hanya ditinjau dari kuat tekan. Dari keseluruhan variasi penambahan SCBA diketahui [7] G.JURNAL TEKNIK ITS Vol. Puput. RI No. 6. Februari 2014.